Cara Mengejar Kebenaran (11) Bagian Tiga

Kita baru saja bersekutu tentang masalah "orang tidak boleh menjadi budak pernikahan", dengan menyuruh orang-orang untuk melepaskan pandangan mereka yang keliru tentang pernikahan. Dengan kata lain, ada orang-orang yang beranggapan bahwa mereka harus menjaga pernikahan mereka tetap berjalan dan berusaha sebaik mungkin untuk menjaga pernikahan mereka agar tidak berakhir dalam perceraian. Agar dapat mencapai tujuan ini, mereka melakukan kompromi. Mereka lebih suka mengorbankan banyak dari hal positif yang mereka miliki demi menjaga pernikahan mereka tetap berjalan, dan mereka rela menjadi budak pernikahan mereka. Orang-orang ini secara keliru menafsirkan keberadaan dan definisi pernikahan, dan sikap mereka terhadap pernikahan salah, oleh karena itu mereka harus melepaskan pemikiran dan pandangan keliru tersebut, menjauh dari keadaan pernikahan yang menyimpang seperti ini, menggunakan pendekatan yang benar terhadap pernikahan, dan menangani masalah-masalah yang muncul dalam pernikahan ini dengan benar—ini adalah masalah ketiga yang harus orang lepaskan sehubungan dengan pernikahan. Selanjutnya, kita akan mempersekutukan masalah keempat sehubungan dengan pernikahan: Pernikahan bukanlah tempat tujuanmu. Ini juga merupakan sebuah masalah. Karena ini adalah topik yang akan kita persekutukan, ini adalah masalah yang sudah lazim dalam situasi pernikahan orang saat ini. Masalah ini ada dalam segala jenis keadaan pernikahan. Ini juga merupakan sejenis sikap orang terhadap pernikahan atau sejenis keadaan hidup, jadi kita harus mempersekutukan masalah ini dan memperjelasnya. Setelah menikah, ada perempuan-perempuan yang mengira mereka telah menemukan laki-laki yang tepat. Mereka meyakini bahwa mereka dapat mengandalkan dan memercayai laki-laki ini, bahwa dia dapat menjadi pendukung yang kuat bagi mereka dalam perjalanan hidup mereka, dan bahwa laki-laki ini akan menjadi kuat dan tepercaya ketika mereka perlu mengandalkannya. Ada laki-laki yang mengira mereka telah menemukan perempuan yang tepat. Dia cantik dan murah hati, lembut dan penuh perhatian, berbudi luhur dan berpengertian. Bersama perempuan ini, mereka yakin akan memiliki kehidupan yang stabil serta rumah tangga yang damai dan penuh kehangatan. Ketika orang menikah, mereka semua menganggap diri mereka beruntung dan bahagia. Sebagian besar orang meyakini bahwa ketika mereka menikah, pasangan mereka adalah simbol dari kehidupan masa depan yang mereka pilih dan tentu saja pernikahan mereka adalah tempat tujuan yang mereka cari dalam hidup ini. Apa artinya ini? Ini berarti, semua orang yang menikah meyakini bahwa pernikahan adalah tempat tujuan mereka, dan bahwa setelah mereka memiliki pernikahan seperti itu, pernikahan tersebut adalah tempat tujuan mereka. Apa yang dimaksud dengan "tempat tujuan"? Artinya sebuah pijakan. Mereka memercayakan prospek mereka, masa depan mereka, dan kebahagiaan mereka pada pernikahan mereka serta pada pasangan yang mereka nikahi, sehingga setelah mereka menikah, mereka menganggap bahwa mereka tidak akan pernah lagi menginginkan apa pun atau memiliki kekhawatiran apa pun. Hal ini karena mereka merasa sudah menemukan tempat tujuan mereka, dan tempat tujuan tersebut adalah pasangan mereka dan juga rumah tangga yang mereka bina bersama dengan orang tersebut. Karena mereka telah menemukan tempat tujuan mereka, mereka tidak perlu lagi mengejar atau mengharapkan apa pun. Tentu saja, dari sikap dan pandangan orang terhadap pernikahan, itu bermanfaat bagi kestabilan struktur pernikahan. Setidaknya, jika seorang laki-laki atau perempuan memiliki lawan jenis yang menjadi pasangan tetap mereka sebagai pasangan nikahnya, dia tidak akan lagi menggoda atau memiliki lebih banyak hubungan asmara dengan lawan jenisnya. Ini bermanfaat bagi sebagian besar pasangan suami-istri. Setidaknya, hati mereka akan tenang dalam hal hubungan, mereka akan tertarik pada satu pasangan tetap dari lawan jenis dan akan distabilkan dalam lingkungan hidup dasar oleh pasangan tetap dari lawan jenis tersebut—ini adalah hal yang baik. Namun, ketika seseorang menikah, jika dia menganggap pernikahannya sebagai tempat tujuannya, dan menganggap semua pengejarannya, pandangannya tentang kehidupan, jalan yang dia tempuh dalam hidup, dan apa yang Tuhan tuntut darinya sebagai hal-hal yang tidak berguna untuk mengisi waktu luangnya, kemudian tanpa sadar menjadikan pernikahannya sebagai tempat tujuannya, bukanlah hal yang baik, melainkan menjadi hambatan, batu sandungan, dan penghalang baginya untuk mengejar tujuan yang benar dalam hidup, memiliki pandangan yang benar dalam hidup, dan bahkan mengejar keselamatan. Hal ini karena ketika seseorang yang menikah menganggap pasangannya sebagai tempat tujuan dan nasibnya dalam hidup ini, dia menganggap bahwa berbagai emosi pasangannya, kebahagiaan dan ketidakbahagiaan pasangannya, berkaitan dengan dirinya sendiri, dan bahwa kebahagiaan dan ketidakbahagiaan serta berbagai emosinya berkaitan dengan pasangannya, sehingga kehidupan, kematian, kebahagiaan, dan sukacita pasangannya berkaitan dengan kehidupan, kematian, kebahagiaan, dan sukacitanya sendiri. Oleh karena itu, gagasan orang-orang ini bahwa pernikahan adalah tempat tujuan hidup mereka membuat pengejaran jalan hidup mereka, hal-hal positif, dan keselamatan mereka menjadi sangat lambat dan pasif. Jika pasangan seseorang yang mengikuti Tuhan dalam pernikahannya memilih untuk tidak mengikuti Tuhan dan malah memilih untuk mengejar hal-hal duniawi, maka pasangan yang mengikuti Tuhan akan sangat dipengaruhi oleh pasangannya yang tidak mengikuti Tuhan. Sebagai contoh, sang istri meyakini bahwa dia harus percaya kepada Tuhan dan mengejar kebenaran, dan bahwa dia harus melepaskan pekerjaannya dan melaksanakan tugasnya, mengorbankan dirinya, dan mengabdikan dirinya di rumah Tuhan, sedangkan suaminya berpikir, "Percaya kepada Tuhan adalah hal yang bagus, tetapi kami masih harus menjalani kehidupan. Jika kami berdua melaksanakan tugas kami, siapa yang akan menghasilkan uang? Siapa yang akan membiayai rumah tangga kami? Siapa yang akan menopang kehidupan keluarga kami?" Dengan pandangan ini, dia memutuskan untuk tetap bekerja dan terus mengejar hal-hal duniawi; dia tidak berkata bahwa dia tidak percaya kepada Tuhan, dan dia juga tidak berkata bahwa dia menentangnya. Sang istri yang percaya kepada Tuhan selalu berpikir, "Suamiku adalah tempat tujuanku. Aku baik-baik saja hanya jika dia baik-baik saja. Jika dia tidak baik-baik saja, maka aku juga tidak akan baik-baik saja. Kami ibarat belalang yang terikat pada tali yang sama. Kami berbagi suka dan duka bersama, dan kami sehidup semati. Aku berada di mana pun dia berada. Sekarang kami memiliki perbedaan pendapat dalam memilih jalan kami dan keretakan mulai muncul, lalu bagaimana kami bisa berdamai? Aku ingin mengikuti Tuhan, tetapi dia tidak tertarik untuk percaya kepada Tuhan. Jika dia tidak percaya kepada Tuhan, maka aku pun tidak akan melanjutkan kepercayaanku kepada Tuhan dan tidak mau lagi mengikuti Tuhan. Ini karena sejak awal, aku telah menganggap dia sebagai Surga dan nasibku. Aku tidak bisa meninggalkannya. Jika dia tidak percaya kepada Tuhan, maka kami berdua tidak akan percaya kepada Tuhan, dan jika dia percaya kepada Tuhan, maka kami berdua akan percaya kepada Tuhan. Jika dia tidak percaya kepada Tuhan, aku merasa ada yang kurang, seolah-olah jiwaku telah diambil." Dia selalu merasa cemas dan khawatir tentang masalah ini. Dia sering berdoa, berharap bahwa suaminya bisa percaya kepada Tuhan. Namun, seperti apa pun dia berdoa, suaminya tidak tergerak dan dia tidak percaya kepada Tuhan. Dia merasa tertekan—apa yang harus dia lakukan? Tidak ada yang bisa dia lakukan, jadi dia berupaya sekuat tenaga, dan selama suaminya berada di rumah, dia mengajak suaminya membaca firman Tuhan. Suaminya membaca firman Tuhan dan mendengarkan tanpa rasa benci sementara istrinya membacanya, tetapi suaminya tidak terlibat aktif dalam persekutuan. Karena mereka adalah suami-istri, suaminya tidak berdebat dengannya. Ketika diminta untuk belajar menyanyikan lagu pujian, dia pun belajar menyanyikannya, dan setelah dia mempelajarinya, dia tidak mengatakan apakah dia telah menguasai lagu-lagu pujian itu sepenuhnya atau apakah dia menyukainya atau tidak. Ketika diminta menghadiri pertemuan, terkadang jika ada waktu senggang, dia akan pergi menghadiri pertemuan bersama istrinya, tetapi biasanya dia sibuk bekerja dan menghasilkan uang. Dia tidak pernah menyinggung apa pun yang berkaitan dengan kepercayaan kepada Tuhan, dia tidak pernah berinisiatif untuk minta menghadiri pertemuan atau melaksanakan tugas. Singkatnya, dia suam-suam kuku terhadap semua itu. Dia tidak menentang kepercayaan kepada Tuhan, tetapi dia juga tidak mendukungnya, dan dia tidak memperlihatkan bagaimana sikapnya terhadap hal tersebut. Sang istri yang percaya kepada Tuhan merenungkan semua ini dan mengingatnya, lalu berkata, "Karena kami adalah pasangan suami-istri dan kami berdua adalah satu keluarga, jika aku masuk Kerajaan, maka dia juga harus masuk. Jika dia tidak mengikutiku dalam kepercayaanku, maka dia tidak akan dapat masuk Kerajaan atau memperoleh keselamatan, jadi aku pun tidak ingin hidup dan ingin mati." Meskipun dia belum mati, dalam hatinya, dia selalu merasa khawatir, sedih, dan tersiksa dengan masalah ini, dan berpikir, "Jika suatu hari bencana datang dan dia mati dalam bencana tersebut, apa yang akan kulakukan? Sekarang ada wabah yang begitu dahsyat. Jika dia terserang wabah ini, maka aku tidak mau hidup lagi. Dia tidak berkata bahwa dia menentang kepercayaanku kepada Tuhan, tetapi apa yang akan kulakukan jika suatu hari dia benar-benar berkata bahwa dia tidak lagi mengizinkanku untuk percaya kepada Tuhan?" Dia merasa khawatir bahwa, jika saatnya tiba, dia akan mengikuti suaminya dan akan memilih untuk tidak percaya kepada Tuhan dan mengkhianati Tuhan. Ini karena di dalam hatinya, suaminya adalah jiwanya, suaminya adalah hidupnya, dan terlebih lagi, dia adalah Surganya dan segala-galanya baginya. Suami di dalam hatinya paling mencintainya, dan dialah yang paling mencintai suaminya. Namun, sekarang dia menghadapi masalah: jika suaminya menentang kepercayaannya kepada Tuhan dan doanya tidak membuahkan hasil, lalu bagaimana? Dia sangat mengkhawatirkan hal ini. Ketika dia diharuskan untuk pergi melaksanakan tugasnya jauh dari rumah, meskipun dia juga ingin melaksanakan tugasnya di rumah Tuhan, ketika dia mendengar bahwa untuk melaksanakan tugasnya dia harus meninggalkan rumah dan melakukan perjalanan jauh, dan bahwa dia harus pergi dari rumah untuk waktu yang lama, dia merasakan kesedihan yang luar biasa. Mengapa demikian? Dia khawatir bahwa dengan meninggalkan rumah, suaminya akan seorang diri tanpa ada seorang pun yang mengurusnya, dia akan merindukan suaminya dan tidak akan mampu berhenti mengkhawatirkannya. Dia akan mengkhawatirkannya dan akan merindukannya serta bahkan akan merasa bahwa dia tidak bisa hidup tanpa suaminya di sisinya, bahwa dia akan kehilangan harapan dan arah dalam hidup, dan bahwa dia juga tidak akan mampu melaksanakan tugasnya dengan segenap hati. Sekarang, memikirkannya saja membuat hatinya merasa sedih, apalagi jika ini benar-benar terjadi. Jadi, di gereja, dia tidak pernah berani meminta untuk pergi melaksanakan tugasnya di tempat lain, atau jika ada pekerjaan tertentu yang mengharuskan seseorang untuk berada jauh dari rumah selama jangka waktu yang lama dan menginap semalam, dia tidak pernah berani menawarkan dirinya untuk pekerjaan itu ataupun berani menyetujui permintaan seperti itu. Dia hanya berusaha sebaik mungkin mengantarkan surat untuk saudara-saudarinya, atau terkadang mengadakan pertemuan untuk mereka di rumahnya, tetapi dia tidak pernah berani berpisah dari suaminya selama seharian penuh. Jika memang ada keadaan khusus tertentu dan suaminya harus melakukan perjalanan bisnis atau pergi selama beberapa hari, maka dia akan menangis di rumah selama dua atau tiga hari sebelum suaminya pergi, menangis sampai matanya bengkak seperti tomat. Mengapa dia menangis? Dia khawatir suaminya akan mati dalam kecelakaan pesawat dan bahkan jenazahnya tidak akan ditemukan, lalu apa yang akan dia lakukan? Bagaimana dia akan hidup dan melewati hari-harinya? Surganya akan hilang, dia akan merasa hatinya telah dicuri. Memikirkannya saja sudah membuatnya merasa takut, dan itulah sebabnya dia menangis saat memikirkannya. Suaminya bahkan belum pergi dan dia sudah menangis selama dua atau tiga hari, dan dia terus menangis sampai suaminya pulang, menangis begitu keras hingga suaminya menjadi kesal dan berkata, "Ada apa dengan dia? Aku bahkan belum mati dan dia menangis. Apakah dia mengutukku untuk mati?" Tidak ada yang bisa suaminya lakukan, dia hanya terus menangis dan berkata, "Aku hanya tidak ingin kau pergi, aku tidak ingin kau hilang dari pandanganku." Dia mempertaruhkan nasib dan tempat tujuannya pada suami yang dinikahinya, dan entah cara bertindak seperti ini bodoh atau kekanak-kanakan atau tidak, tetap saja ada orang-orang yang semacam ini. Manakah yang lebih banyak bersikap seperti ini, laki-laki atau perempuan? (Perempuan.) Tampaknya lebih banyak perempuan yang bersikap seperti ini. Perempuan bisa bersikap agak lemah. Di antara laki-laki dan perempuan, entah siapa yang meninggalkan siapa, mampukah mereka tetap menjalani hidup? (Ya.) Entah siapa yang meninggalkan siapa, apakah itu sesuatu yang dapat kaupilih? Apakah itu sesuatu yang dapat kaukendalikan? (Tidak.) Tidak, itu bukan sesuatu yang dapat kaukendalikan, sehingga engkau tenggelam dalam khayalan yang bodoh, dan engkau menangis, dan merasa kesal, khawatir, dan sedih—apakah semua ini ada gunanya? (Tidak.) Orang-orang ini merasa bahwa bisa melihat pasangan mereka, berpegangan tangan, dan hidup bersama berarti mereka mendapat dukungan seumur hidup, seperti ditenangkan dan dihibur. Mereka mengira bahwa mereka tidak akan khawatir tentang makanan atau pakaian, tidak ada kekhawatiran, dan bahwa pasangan mereka adalah tempat tujuan mereka. Orang-orang tidak percaya mempunyai pepatah yang berbunyi, "Dalam hidup ini jika ada kamu, tidak ada lagi yang perlu dicari". Inilah yang dirasakan orang-orang ini terhadap pernikahan dan pasangan mereka di lubuk hati mereka; mereka akan merasa bahagia jika pasangan mereka bahagia, mereka akan cemas jika pasangan mereka cemas, dan mereka akan menderita jika pasangan mereka menderita. Jika pasangan mereka meninggal, mereka pun tidak mau hidup lagi. Dan jika pasangan mereka pergi dan jatuh cinta dengan orang lain, apa yang mereka lakukan? (Mereka tidak mau hidup.) Ada orang yang tidak mau hidup lagi sehingga mereka bunuh diri, dan ada yang kehilangan akal sehat mereka. Katakan kepada-Ku, apa yang sedang terjadi? Orang macam apa yang kehilangan akal sehatnya? Kehilangan akal sehat menunjukkan bahwa mereka kerasukan. Ada perempuan-perempuan yang meyakini bahwa suami mereka adalah tempat tujuan mereka dalam hidup, dan begitu mereka menemukan laki-laki seperti itu, mereka tidak akan pernah lagi mencintai laki-laki lain—ini adalah kasus "Dalam hidup ini jika ada dia, tidak ada lagi yang perlu dicari". Namun, suaminya mengecewakannya, pergi untuk mencintai orang lain, dan tidak lagi menginginkannya. Jadi, apa yang terjadi pada akhirnya? Kemudian dia sangat membenci semua lawan jenis. Ketika dia melihat laki-laki lain, dia ingin meludahinya, mengutuknya, dan memukulnya. Dia memiliki kecenderungan bersikap kasar, dan akal sehatnya menjadi terganggu. Ada orang-orang yang benar-benar kehilangan akal sehat mereka. Inilah akibatnya jika orang tidak memahami pernikahan dengan benar.

Orang-orang ini memandang pernikahan sebagai simbol keberhasilan mereka dalam mengejar kebahagiaan, serta tempat tujuan dan tujuan hidup yang telah lama mereka impikan dan kini tercapai. Bagi mereka, pernikahan adalah tujuan akhir hidup mereka, dan pengejaran mereka dalam pernikahan adalah menghabiskan hidup ini bersama pasangan mereka, menjadi tua bersama, dan sehidup semati. Untuk membuktikan pemikiran dan gagasan bahwa pernikahan mereka adalah tempat tujuan mereka, mereka melakukan banyak hal dalam kehidupan pernikahan yang melampaui rasionalitas dan jangkauan tanggung jawab manusia. Hal-hal yang melampaui tanggung jawab manusia tersebut antara lain termasuk hal-hal ekstrem di mana mereka kehilangan integritas, martabat, serta tujuan yang ingin mereka kejar. Sebagai contoh, mereka sering mengawasi dengan siapa pasangan mereka bertemu setiap hari, apa yang mereka lakukan saat mereka keluar, apakah mereka pernah berhubungan dengan lawan jenis lainnya, dan apakah mereka pernah berinteraksi atau berteman dengan lawan jenis yang melebihi batas persahabatan. Ada juga orang-orang yang menghabiskan banyak waktunya untuk mengamati dan menyelidiki sikap pasangan mereka terhadap diri mereka untuk melihat apakah pasangannya memikirkan mereka dan apakah pasangannya masih mencintai mereka atau tidak. Ada juga perempuan-perempuan yang mencium pakaian suaminya ketika mereka pulang, memeriksa apakah ada rambut perempuan, memeriksa bajunya untuk mencari bekas lipstik perempuan lain. Mereka juga memeriksa ponsel suami mereka untuk melihat apakah ada nomor telepon perempuan yang tidak mereka kenal, bahkan memeriksa berapa banyak ponsel yang dimiliki suaminya, dengan siapa mereka telah bergaul, dan apakah yang mereka katakan setiap hari ketika mereka menelepon adalah benar. Sebagai contoh, seorang perempuan menelepon suaminya dan bertanya, "Di mana kau sekarang? Apa yang sedang kaulakukan?" Suaminya menjawab, "Aku sedang di tempat kerja, memeriksa dokumen." Dia berkata, "Fotolah dokumen yang sedang kauperiksa dan kirimkan kepadaku." Suaminya menuruti perintahnya, lalu dia bertanya, "Siapa yang bersamamu di ruangan kantor?" Dia menjawab, "Hanya aku." Dia berkata, "Bisakah kau melakukan panggilan video denganku agar aku dapat melihat siapa lagi yang berada di ruangan kantor?" Suaminya melakukan panggilan video dan dia melihat sepertinya ada sosok perempuan yang keluar dari ruangan, jadi dia berkata, "Kau bohong, siapa perempuan itu?" Dia berkata, "Itu hanya pembantu." Dia berkata, "Oh, baiklah." Baru setelah itu dia merasa tenang. Orang-orang semacam ini memeriksa ponsel suami mereka, keberadaan mereka, apa yang mereka lakukan sepanjang hari. Mereka memiliki harapan yang sangat besar terhadap pernikahan mereka dan bahkan memiliki perasaan tidak aman yang jauh lebih besar. Tentu saja mereka memiliki keinginan yang sangat besar untuk memiliki dan mengendalikan pasangan mereka. Karena mereka yakin bahwa pasangan mereka adalah tempat tujuan mereka dan bahwa pasangan mereka adalah orang yang harus dan seharusnya bersama mereka di sepanjang hidup mereka, jadi mereka tidak mungkin membiarkan ada keretakan apa pun yang muncul dalam pernikahan, ataupun bahkan membiarkan ada cacat atau masalah sekecil apa pun—mereka tidak membiarkan semuanya itu terjadi. Jadi, mereka mengerahkan sebagian besar tenaga mereka untuk mengawasi pasangan mereka, berusaha mencari tahu pendapat pasangan mereka, menanyakan aktivitas dan keberadaan mereka, serta mengendalikan mereka. Khususnya jika pasangan mereka berselingkuh, ini adalah sesuatu yang tidak bisa mereka biarkan. Mereka membuat keributan, berguling-guling di lantai, menangis, membuat onar, dan mengancam akan melakukan bunuh diri. Ada orang-orang yang bahkan membawa masalahnya ke pertemuan dan membahas strategi dengan saudara-saudari mereka, dengan berkata, "Dia adalah orang pertama yang kucintai, laki-laki yang paling kucintai. Sepanjang hidupku, aku bahkan belum pernah memegang tangan atau menyentuh tubuh laki-laki lain. Dialah satu-satunya laki-laki bagiku, dia adalah Surgaku, dan dialah satu-satunya bagiku dalam hidup ini. Dia pergi dengan orang lain dan aku tidak bisa menerima apa yang telah dia lakukan terhadapku." Seseorang berkata kepadanya, "Kau tidak bisa menerimanya, lalu apa gunanya? Dapatkah kau mengubah apa yang sudah terjadi? Orang lain dapat melihat suamimu memiliki kecenderungan ini sejak lama." Dia menjawab, "Entah dia memiliki kecenderungan ini atau tidak, aku sama sekali tidak bisa menerima apa yang sudah terjadi. Siapa yang akan membantuku mendapatkan ide untuk menghukumnya dan berusaha menghalangi simpanannya agar tidak merebut posisiku?" Jadi, dia sangat kesal sehingga dia membawa masalahnya ke pertemuan untuk dipersekutukan. Apakah ini arti persekutuan? Ini berarti engkau melampiaskan perkataan yang tidak pantas, melampiaskan pesan-pesan negatif, dan menyebarkan informasi negatif. Itu adalah urusanmu sendiri, dan apakah engkau pulang ke rumah, menutup pintu dan memukulinya serta bertengkar atau tidak, itu adalah urusanmu, tetapi engkau tidak boleh membawa masalahmu dan membicarakannya di pertemuan. Jika engkau ingin mencari kebenaran di pertemuan, engkau mungkin berkata, "Ini telah terjadi kepadaku, jadi bagaimana aku bisa melepaskan diriku dari situasi ini dan tidak dikekang olehnya? Bagaimana caranya agar aku tidak membiarkan masalah ini memengaruhi kepercayaanku kepada Tuhan dan pelaksanaan tugasku?" Mencari kebenaran adalah hal yang baik bagimu, tetapi jika engkau pergi menghadiri pertemuan dan membicarakan perselisihanmu, itu adalah sesuatu yang tidak boleh kaulakukan. Mengapa engkau tidak boleh melakukan hal itu? Engkau telah menghadapi masalah ini dan kini mendapati dirimu sedang berada dalam keadaan hidupmu yang sekarang ini karena pemahamanmu yang salah tentang pernikahan. Lalu engkau ingin membawa perselisihan dan konsekuensi ini kepada saudara-saudarimu untuk dipersekutukan, dan hal ini tidak saja berdampak pada orang lain, tetapi itu juga tidak bermanfaat bagimu. Engkau membicarakan perselisihanmu, tetapi kebanyakan orang tidak memahami kebenaran dan tidak memiliki tingkat pertumbuhan, dan yang bisa mereka lakukan hanyalah membantumu memunculkan ide dan memeriksa perselisihanmu. Mereka tidak dapat membantumu memperoleh jalan masuk yang positif, mereka justru memperburuk keadaan dan membuat masalah menjadi lebih serius dan rumit. Kebanyakan orang bingung dan tidak memahami kebenaran atau maksud Tuhan—dapatkah orang-orang semacam itu memberimu bantuan yang bermanfaat dan berharga? Seseorang berkata, "Kau akan selalu menjadi istri sahnya. Kejahatan tidak akan pernah bisa mengalahkan keadilan." Apakah ini kebenaran? (Bukan.) Orang lain berkata, "Jangan memberikan posisimu bagi perempuan simpanannya, nanti kita lihat apakah dia bisa menggantikanmu atau tidak!" Apakah ini kebenaran? (Bukan.) Apakah engkau merasa senang jika mendengar orang mengatakan hal-hal ini, ataukah itu membuatmu marah? Apakah mereka mengatakan hal-hal ini untuk membuatmu marah atau agar engkau memahami kebenaran dan memiliki jalan penerapan? Orang lain berkata, "Aku sangat mengerti. Tidak ada laki-laki baik saat ini. Siapa pun yang memiliki uang berubah menjadi jahat." Apakah ini kebenaran? (Bukan.) Dan kemudian seseorang berkata, "Kau tidak boleh membiarkan hal ini. Kau harus memberi tahu simpanannya itu bahwa kau tidak akan mudah ditindas. Tunjukkan kepadanya siapa yang memegang kendali. Pergilah ke tempat dia bekerja dan beri tahu semua orang, buat keributan, dan katakan bahwa dia adalah perempuan simpanan suamimu. Engkau adalah istri sahnya dan semua orang pasti akan berada di pihakmu dan bukan berada di pihaknya. Suruh dia mengalah dan mundur." Apakah ini kebenaran? (Bukan.) Bukankah perkataan-perkataan ini merupakan pemahaman keliru sebagian besar orang? (Ya.) Orang lain berbicara dengan cara yang agak tertutup, berkata, "Dia sudah bersamamu sepanjang hidupmu, bukankah kau sudah muak dengannya? Jika dia ingin bersama orang lain, biarkan saja. Selama dia membawa pulang uang dan kau mempunyai makanan dan minuman, bukankah itu sudah cukup? Kau seharusnya bahagia, dan kau tidak akan selalu terganggu olehnya. Selama dia terus pulang ke rumah dan mengakui ini sebagai rumahnya, bukankah itu sudah cukup? Untuk apa kau marah? Kau sebenarnya mendapatkan keuntungan dari hal ini." Perkataan ini kedengarannya melegakan, tetapi apakah itu kebenaran? (Bukan.) Apakah orang yang baik akan mengatakan hal-hal seperti ini? (Tidak.) Jika perkataan ini tidak dimaksudkan untuk menimbulkan perselisihan atau memancing pertengkaran, perkataan ini dimaksudkan untuk menenangkan keadaan dan membuat kompromi yang tidak berprinsip. Adakah satu perkataan di sini yang mencerminkan sudut pandang yang seharusnya dimiliki sang istri mengenai masalah ini, yang merupakan sudut pandang yang benar dan sesuai dengan kebenaran? (Tidak ada.) Bukankah kebanyakan orang mengatakan hal-hal seperti ini? (Ya.) Hal ini membuktikan apa? (Kebanyakan orang sangat bingung dan pemikiran yang mereka munculkan tidak membantu.) Kebanyakan orang bingung, tidak mengejar kebenaran, dan tidak memahami kebenaran. Selain itu, mereka tidak memahami apa arti kebenaran, dan mereka juga tidak memahami apa tuntutan Tuhan terhadap manusia. Secara lebih spesifik, mengenai pernikahan, orang-orang sama sekali tidak memahami bagaimana seharusnya mereka mengatasi masalah-masalah yang muncul dalam pernikahan berdasarkan firman Tuhan dan definisi pernikahan yang sesuai dengan maksud Tuhan, dan mereka tidak lekas marah.

Apa pun masalah yang kauhadapi, baik besar maupun kecil, engkau harus selalu menghadapinya dengan firman Tuhan sebagai dasarmu dan dengan kebenaran sebagai standarmu. Jadi, apa dasar dalam firman Tuhan mengenai masalah yang muncul dalam pernikahan? Apa standar kebenarannya? Pasanganmu tidak setia dalam pernikahanmu, dan itu adalah masalah pasanganmu. Namun, engkau tidak boleh membiarkan masalah pasanganmu memengaruhi sikap yang benar dan rasa tanggung jawabmu terhadap pernikahan. Pasanganmu yang melakukan pelanggaran, tetapi engkau tidak boleh membiarkan pelanggarannya memengaruhi sikap yang seharusnya kaumiliki terhadap pernikahan. Engkau memercayainya sebagai tempat tujuanmu, tetapi itu hanyalah pemikiranmu sendiri, dan sebenarnya tidak seperti itu. Tuhan juga tidak pernah mengharuskan atau menetapkan bahwa pasanganmu adalah tempat tujuanmu. Hanya saja, engkau bersikeras untuk meyakini bahwa dia adalah tempat tujuanmu, belahan jiwamu, karena kasih sayang, karena keinginan manusia, dan lebih tepatnya, karena sifat manusia yang gampang marah. Adalah salah jika engkau bersikeras meyakini hal ini. Apa pun yang kauyakini sebelumnya, apa pun yang terjadi, sekarang engkau harus mengubah arah dan melihat pemikiran dan sikap benar seperti apa yang Tuhan ingin manusia miliki. Bagaimana seharusnya tindakanmu ketika pasanganmu tidak setia? Engkau tidak boleh bertengkar dan menimbulkan masalah, engkau juga tidak boleh membuat keributan dan berguling-guling di lantai. Engkau harus memahami bahwa ketika hal ini terjadi, langit tidak akan runtuh, dan impianmu mengenai tempat tujuanmu tidak akan hancur, dan tentu saja, itu bukan berarti bahwa pernikahanmu harus berakhir dalam perceraian, dan terlebih lagi, itu bukan berarti pernikahanmu telah gagal atau akan segera berakhir. Hanya saja, karena semua orang memiliki watak rusak, dan karena orang-orang dipengaruhi oleh tren jahat dan kebiasaan umum dunia serta mereka tidak memiliki kekebalan untuk melindungi diri mereka dari tren jahat, mau tidak mau orang akan melakukan kesalahan, tidak setia, berselingkuh, dan mengecewakan pasangan mereka. Jika engkau melihat masalah ini dari sudut pandang ini, maka ini bukanlah masalah besar. Semua keluarga dan pernikahan dipengaruhi oleh lingkungan umum dunia dan oleh tren jahat serta kebiasaan umum di tengah masyarakat. Selain itu, dari sudut pandang individu, orang memiliki hasrat seksual, dan juga dipengaruhi oleh fenomena seperti hubungan asmara antara laki-laki dan perempuan dalam film dan drama TV serta tren pornografi di tengah masyarakat. Sulit bagi orang untuk mematuhi prinsip-prinsip yang seharusnya mereka patuhi. Dengan kata lain, sulit bagi orang untuk mempertahankan prinsip moral. Batasan-batasan hasrat seksual mudah dilanggar; hasrat seksual itu sendiri tidaklah rusak, tetapi karena orang memiliki watak rusak, ditambah fakta bahwa orang-orang hidup di lingkungan umum seperti ini, mereka dengan mudah melakukan kesalahan jika menyangkut hubungan antara laki-laki dan perempuan, dan ini adalah sesuatu yang harus kaupahami dengan jelas. Tak ada seorang pun yang memiliki watak rusak mampu menahan pencobaan atau bujukan di lingkungan umum seperti ini. Hasrat seksual manusia dapat muncul kapan pun dan di mana pun, dan manusia akan melakukan perselingkuhan kapan saja dan di mana saja. Hal ini bukan karena ada masalah dengan hasrat seksual itu sendiri, tetapi karena ada yang salah dengan orang-orang itu sendiri. Orang akan menggunakan hawa nafsu mereka untuk melakukan hal-hal yang menyebabkan mereka kehilangan moralitas, etika, dan integritas mereka, seperti menyeleweng, berselingkuh, memiliki perempuan simpanan, dan sebagainya. Jadi, sebagai orang yang percaya kepada Tuhan, jika engkau mampu memandang hal-hal ini dengan benar, maka engkau harus menanganinya secara rasional. Engkau adalah manusia yang rusak, dan dia juga adalah manusia yang rusak, jadi engkau tidak boleh menuntut dia menjadi seperti dirimu dan tetap setia hanya karena engkau mampu untuk tetap setia pada pernikahanmu, dan menuntut agar dia harus selalu setia. Ketika hal seperti itu terjadi, engkau harus menghadapinya dengan cara yang benar. Mengapa demikian? Semua orang memiliki kesempatan untuk menghadapi lingkungan atau pencobaan seperti itu. Engkau dapat mengawasi pasanganmu seperti elang memantau mangsanya, tetapi itu tidak ada gunanya, dan makin ketat engkau mengawasi pasanganmu, makin cepat hal itu akan terjadi. Itu karena semua orang memiliki watak rusak, semua orang hidup di lingkungan umum di tengah masyarakat yang jahat ini, dan sangat sedikit orang yang tidak melakukan perzinaan. Mereka tidak melakukan perzinaan hanya karena situasi atau kondisi mereka tidak memungkinkan. Tidak banyak hal di mana manusia lebih unggul dari binatang. Setidaknya, binatang bereaksi terhadap naluri seksualnya secara alami, tetapi tidak demikian halnya dengan manusia. Manusia bisa secara sadar melakukan perzinaan dan inses—hanya manusia yang dapat melakukan perzinaan. Oleh karena itu, di lingkungan umum di tengah masyarakat yang jahat ini, yang mampu melakukan hal-hal seperti itu bukan saja mereka yang tidak percaya kepada Tuhan, tetapi juga hampir semua orang. Ini adalah fakta yang tak terbantahkan dan orang tidak mampu melepaskan diri dari masalah ini. Jadi, karena hal seperti ini bisa terjadi pada siapa pun, mengapa tidak kaubiarkan saja itu terjadi pada suamimu? Ini sebenarnya adalah hal yang sangat wajar terjadi. Hanya karena engkau terikat secara emosi dengan pasanganmu sehingga ketika dia meninggalkan dan mencampakkanmu, engkau tidak mampu mengatasi dan menanggungnya. Jika hal seperti ini terjadi pada orang lain, engkau hanya akan tersenyum masam dan berpikir, "Itu wajar saja. Bukankah semua orang seperti ini di tengah masyarakat?" Bagaimana bunyi pepatah itu? Sesuatu tentang "bergaul bebas ketika di luar rumah"? (Sekalipun tahu suaminya bejat di luar rumah, istri tak berdaya selain menerimanya karena telah dinafkahi dengan baik.) Semua ini adalah pepatah populer dan hal-hal yang menjadi tren dunia yang jahat. Ini adalah sesuatu yang patut dibanggakan bagi seorang laki-laki. Jika laki-laki tak mampu membuat istrinya, sekalipun tahu suaminya bejat di luar rumah, tetapi tak berdaya selain menerimanya karena telah dinafkahi dengan baik, dan jika tak mampu bergaul bebas ketika di luar rumah, itu menunjukkan bahwa laki-laki tersebut tidak memiliki kemampuan dan orang-orang akan menertawakannya. Jadi, ketika hal seperti ini terjadi pada seorang perempuan, dia bisa membuat keributan, berguling-guling di lantai, dan melampiaskan kemarahannya, menangis, membuat onar, dan tidak mau makan karena pasangannya berselingkuh, dan ingin mati, ingin gantung diri, dan ingin bunuh diri. Ada perempuan-perempuan yang menjadi sangat marah hingga kehilangan akal sehat mereka. Hal ini tanpa disadari berkaitan dengan sikapnya terhadap pernikahan, dan tentu saja, itu juga berkaitan langsung dengan gagasannya bahwa "pasangannya adalah tempat tujuannya". Perempuan tersebut meyakini bahwa dengan menghancurkan pernikahan mereka, suaminya telah menghancurkan kepercayaan dan cita-cita indah akan tempat tujuan hidupnya. Karena suaminya yang terlebih dahulu merusak keseimbangan pernikahan mereka, dan yang terlebih dahulu melanggar aturan, karena suaminya mencampakkannya, melanggar janji pernikahan, dan mengubah mimpi indahnya menjadi mimpi buruk, ini menyebabkan dia mengekspresikan dirinya dengan cara-cara seperti ini dan bertindak dengan perilaku ekstrem ini. Jika orang menerima pemahaman yang benar tentang pernikahan dari Tuhan, mereka akan berperilaku lebih rasional. Ketika hal seperti ini terjadi pada mereka, orang yang normal akan merasa sakit hati, mereka akan menangis dan menderita. Namun, ketika mereka menenangkan diri dan merenungkan firman Tuhan, memikirkan tentang lingkungan umum di tengah masyarakat, dan kemudian memikirkan tentang situasi sebenarnya, bahwa semua orang memiliki watak rusak, mereka akan menangani masalah ini dengan rasional dan benar, dan mereka akan membiarkannya saja daripada berpaut pada masalah itu seperti anjing yang menggigit tulangnya. Apa maksud-Ku dengan "membiarkannya saja"? Maksud-Ku, karena suamimu telah melakukan hal ini dan tidak setia pada pernikahanmu, engkau seharusnya menerima kenyataan ini, duduk bersamanya dan berbicara, lalu bertanya, "Apa rencanamu? Apa yang akan kita lakukan sekarang? Apakah kita akan tetap mempertahankan pernikahan kita atau mengakhiri pernikahan dan memilih hidup terpisah?" Duduk saja berdua dan bicarakan; tidak perlu bertengkar atau menimbulkan masalah. Jika suamimu bersikeras untuk mengakhiri pernikahan, maka itu bukan masalah besar. Orang-orang tidak percaya sering berkata, "Ada banyak ikan di laut", "Laki-laki itu seperti bus—akan selalu ada bus lain yang akan segera datang", dan apa bunyi pepatah lainnya? "Jangan mengorbankan seluruh hutan demi menyelamatkan satu pohon". Dan pohon ini tidak hanya jelek, tetapi bagian dalamnya juga busuk. Apakah pepatah ini benar? Pepatah-pepatah ini digunakan oleh orang-orang tidak percaya untuk menghibur diri mereka sendiri, tetapi apakah semua pepatah itu ada hubungannya dengan kebenaran? (Tidak.) Jadi, bagaimana seharusnya pemikiran dan pandangan yang benar? Saat engkau menghadapi kejadian seperti itu, pertama-tama, jangan lekas marah, dan engkau harus menahan amarahmu dan berkata, "Mari kita tenang dan bicarakan. Apa rencanamu selanjutnya?" Suamimu berkata, "Aku berencana untuk terus berusaha mempertahankan pernikahan ini bersamamu." Dan kemudian engkau berkata, "Kalau begitu, mari kita terus berusaha. Jangan lagi ada perselingkuhan, laksanakan tanggung jawabmu sebagai suami, dan kita anggap selesai masalah ini. Jika kau tidak bisa melakukannya, maka kita akan bercerai dan menempuh jalan kita masing-masing. Tuhan mungkin telah menetapkan bahwa pernikahan kita harus berakhir di sini. Jika demikian, maka aku bersedia tunduk pada pengaturan-Nya. Kau boleh menempuh jalanmu sendiri yang luas, aku akan menempuh jalan kepercayaan kepada Tuhan, dan kita tidak akan saling memengaruhi. Aku tidak akan mengganggumu, dan engkau tidak boleh membatasiku. Nasibku tidak tergantung padamu dan engkau bukanlah tempat tujuanku. Tuhanlah yang menentukan nasib dan tempat tujuanku. Di mana pun aku berhenti dalam hidup ini, itu akan menjadi perhentian terakhirku, dan akan menjadi kedatangan tempat tujuanku—aku harus bertanya kepada Tuhan, Dia tahu, Dia berdaulat, dan aku mau tunduk pada pengaturan dan penataan-Nya. Selain itu, jika kau tidak ingin mempertahankan pernikahan ini bersamaku, maka kita akan berpisah dengan damai. Walaupun aku tidak punya keahlian khusus dan keluarga ini bergantung padamu secara finansial, aku masih bisa terus hidup tanpamu, dan aku akan menjalani hidup dengan baik. Tuhan tidak akan membiarkan seekor burung pipit pun kelaparan, jadi betapa lebih banyak lagi yang akan Dia lakukan untukku, seorang manusia. Aku punya tangan dan kaki, aku bisa menjaga diriku sendiri. Kau tidak perlu khawatir. Jika Tuhan telah menetapkan bahwa aku akan kesepian seumur hidupku tanpa kau di sisiku, maka aku bersedia tunduk, dan aku bersedia menerima kenyataan ini tanpa mengeluh." Bukankah ini tindakan yang baik? (Ya.) Bagus sekali, bukan? Tidak perlu berdebat dan bertengkar, apalagi terus mempermasalahkannya sehingga semua orang mengetahuinya—tidak perlu melakukan hal-hal seperti itu. Pernikahan bukanlah urusan siapa pun melainkan urusanmu dan suamimu. Jika konflik timbul dalam pernikahan, engkau berdua harus menyelesaikannya dan menanggung akibatnya. Sebagai orang yang percaya kepada Tuhan, engkau harus tunduk pada pengaturan dan penataan Tuhan, apa pun kesudahannya. Tentu saja, jika menyangkut pernikahan, keretakan apa pun yang muncul atau akibat apa pun yang timbul, entah pernikahan itu berlanjut atau tidak, entah engkau memulai kehidupan yang baru dalam pernikahanmu atau tidak, atau apakah pernikahanmu berakhir saat itu juga atau tidak, pernikahanmu bukan tempat tujuanmu, dan begitu pula pasanganmu. Dia hanya ditakdirkan oleh Tuhan untuk muncul dalam kehidupan dan hidupmu untuk memainkan peran mendampingimu di jalan hidupmu. Jika dia mampu mendampingimu sampai akhir, maka tidak ada yang lebih baik daripada itu, dan engkau harus bersyukur kepada Tuhan atas kasih karunia-Nya. Jika ada masalah dalam pernikahan, entah muncul keretakan atau terjadi sesuatu yang tidak kaukehendaki, dan pada akhirnya pernikahanmu berakhir, itu bukan berarti engkau tidak lagi punya tempat tujuan, bahwa hidupmu sekarang dilemparkan ke dalam kegelapan, atau tidak ada terang, dan masa depan. Bisa jadi berakhirnya pernikahanmu adalah awal dari kehidupan yang lebih indah. Semua ini berada di tangan Tuhan, dan Tuhanlah yang mengatur dan menatanya. Bisa jadi berakhirnya pernikahanmu memberimu pemahaman yang makin dalam tentang pernikahan, penghargaan yang lebih dalam terhadap pernikahan, dan pengertian yang lebih dalam. Tentu saja, mungkin bagimu, berakhirnya pernikahanmu merupakan titik balik yang penting dalam tujuan dan arah hidupmu serta jalan yang kautempuh. Akibat yang ditimbulkan perpisahan bagimu bukanlah kenangan yang suram, apalagi kenangan yang menyakitkan, juga bukan pengalaman dan hasil yang negatif, justru itu akan memberimu pengalaman positif dan aktif yang tidak mungkin kaudapatkan jika engkau masih menikah. Jika pernikahanmu terus berlanjut, mungkin engkau akan selalu menjalani kehidupan yang biasa dan membosankan ini hingga akhir hayatmu. Namun, jika pernikahanmu berakhir dalam perceraian, hal tersebut belum tentu merupakan hal yang buruk. Sebelumnya engkau dikekang oleh kebahagiaan dan tanggung jawab pernikahanmu, serta oleh emosi atau cara hidupmu yang selalu mengkhawatirkan pasanganmu, selalu ingin mengurusnya, memperhatikannya, memedulikannya, dan mencemaskan dirinya. Namun, mulai dari saat pernikahanmu berakhir, semua keadaan hidupmu, tujuan hidupmu, dan pengejaran hidupmu mengalami perubahan yang menyeluruh, dan harus diakui bahwa perubahan ini terjadi padamu dengan berakhirnya pernikahanmu. Bisa jadi bahwa hasil, perubahan, dan transisi inilah yang Tuhan kehendaki untuk kauperoleh dari pernikahan yang telah Dia tetapkan bagimu, dan itulah yang Tuhan kehendaki untuk kauperoleh dengan membimbingmu untuk mengakhiri pernikahanmu. Meskipun engkau telah terluka dan telah menempuh jalan yang berliku-liku, dan meskipun engkau telah melakukan beberapa pengorbanan dan kompromi yang tidak perlu di dalam kerangka pernikahan, apa yang kauterima pada akhirnya tidak dapat diperoleh di dalam kehidupan pernikahan. Oleh karena itu, apa pun masalahnya, melepaskan pemikiran dan pandangan bahwa "pernikahan adalah tempat tujuanmu" adalah hal yang benar. Entah pernikahanmu terus berlanjut atau sedang menghadapi krisis, atau pernikahanmu sedang di ambang perceraian atau sudah berakhir, apa pun situasinya, pernikahan itu sendiri bukanlah tempat tujuanmu. Ini adalah sesuatu yang harus orang pahami.

Orang tidak boleh memiliki pemikiran dan pandangan bahwa "pernikahan adalah tempat tujuan manusia". Pemikiran dan pandangan ini merupakan ancaman yang sangat besar terhadap kebebasanmu dan hakmu untuk memilih jalan hidupmu. Apa maksud-Ku dengan "ancaman"? Mengapa Aku menggunakan kata ini? Maksud-Ku, setiap kali engkau mengambil pilihan apa pun, atau setiap kali engkau mengatakan sesuatu atau menerima pandangan apa pun, jika itu berkaitan dengan kebahagiaan pernikahanmu atau keutuhan pernikahanmu, atau bahkan berkaitan dengan pemikiran bahwa pasanganmu adalah tempat tujuanmu dan penyokong utamamu, maka engkau akan ditelikung, dan engkau bahkan akan sangat waspada dan berhati-hati. Dengan cara seperti ini, tanpa sadar kehendak bebasmu, hakmu untuk memilih jalan hidupmu, serta hakmu untuk mengejar hal-hal positif dan mengejar kebenaran, semuanya akan dibatasi dan bahkan dilucuti oleh pemikiran dan pandangan ini, sehingga perlahan-lahan engkau akan makin jarang datang ke hadapan Tuhan. Apa maksudnya engkau makin jarang datang ke hadapan Tuhan? Harapanmu untuk memperoleh keselamatan lambat laun akan menurun dan keadaan hidupmu akan menjadi malang, menyedihkan, gelap, dan kotor. Mengapa demikian? Itu karena engkau telah menetapkan semua harapan, ekspektasi, dan tujuan serta arah hidupmu terhadap pasangan yang kaunikahi, dan engkau menganggap bahwa dia adalah segalanya bagimu. Justru karena engkau menganggap bahwa pasanganmu adalah segala-galanya, dia merampas semua hakmu, dia membingungkan dan menghalangi visimu, dia merampas integritas dan martabatmu, pemikiran normal dan rasionalitasmu, dan dia merampas hakmu untuk percaya kepada Tuhan dan menempuh jalan yang benar dalam hidup, serta merampas hak untuk memiliki pandangan yang benar, dan hak untuk mengejar keselamatan. Demikian juga halnya, semua hakmu dikuasai dan dikendalikan oleh pasanganmu, dan itulah sebabnya Aku berkata bahwa orang-orang semacam itu hidup dengan menyedihkan, kotor, dan hina. Saat pasangan dari orang semacam ini merasa sedikit tidak senang terhadap sesuatu atau tidak nyaman dalam hal tertentu, bahkan mengatakan hatinya merasa terganggu, dia menjadi sangat takut sehingga selera makannya hilang atau tidak bisa tidur selama berhari-hari dan dia bahkan datang ke hadapan Tuhan untuk berdoa sambil berlinang air mata—dia belum pernah merasa begitu sedih dan cemas tentang apa pun dalam hidupnya sebelumnya, dia benar-benar khawatir—saat sesuatu seperti ini terjadi, dia seolah-olah akan mati. Mengapa demikian? Dia meyakini bahwa langit akan runtuh, bahwa sokongan utamanya akan tersingkir darinya, dan ini berarti dia pun akan tamat riwayatnya. Dia tidak percaya bahwa hidup dan mati seseorang berada di tangan Sang Pencipta, dan dia sangat takut bahwa Tuhan akan mengambil pasangannya, membuatnya kehilangan pasangannya, kehilangan sokongan, kehilangan Surganya, dan kehilangan jiwanya—ini adalah jalan pemberontakan. Tuhan memberimu pernikahan, dan setelah engkau mendapatkan sokongan dan pasanganmu, engkau melupakan segalanya tentang Tuhan, engkau tidak lagi menginginkan Tuhan. Pasanganmu telah menjadi Tuhanmu, tuanmu, dan juga menjadi penyokongmu. Ini adalah pengkhianatan dan merupakan tindakan paling memberontak yang dapat orang lakukan terhadap Tuhan, bahkan ada orang-orang yang, ketika pasangan mereka sedikit marah atau sakit, menjadi sangat takut sehingga mereka tidak menghadiri pertemuan selama berhari-hari. Mereka tidak memberi tahu siapa pun, juga tidak menyerahkan tugas mereka kepada orang lain untuk dilaksanakan, mereka lenyap begitu saja seperti air yang menguap. Hidup dan mati pasangan mereka adalah hal yang paling mereka khawatirkan dan yang paling mereka pedulikan dalam hidup, dan tidak ada yang lebih penting daripada hal ini—bagi mereka, hal ini lebih penting daripada Tuhan, amanat Tuhan, dan tugas mereka. Orang-orang semacam ini kehilangan identitas, keberhargaan, dan makna yang seharusnya mereka miliki sebagai makhluk ciptaan di hadapan Tuhan, dan Tuhan membenci mereka. Tuhan telah memberimu kehidupan yang stabil dan pasangan hidup hanya agar engkau dapat hidup lebih baik dan memiliki seseorang untuk menjagamu, memiliki seseorang di sisimu, bukan agar engkau dapat melupakan Tuhan dan melupakan firman-Nya atau meninggalkan kewajibanmu untuk melaksanakan tugasmu dan meninggalkan tujuan hidupmu untuk mengejar keselamatan setelah engkau memiliki pasangan, dan kemudian hidup bagi pasanganmu. Jika engkau benar-benar bertindak seperti ini, jika engkau benar-benar hidup dengan cara seperti ini, Kuharap engkau akan mengubah arah sesegera mungkin. Sepenting apa pun seseorang bagimu, atau sepenting apa pun dia bagi hidupmu, penghidupanmu, atau jalan hidupmu, dia bukanlah tempat tujuanmu karena dia hanyalah manusia yang rusak. Tuhan telah mengatur pasanganmu yang sekarang untukmu, dan engkau dapat hidup bersama dengannya. Jika Tuhan mengubah suasana hati-Nya dan mengatur orang lain untukmu, engkau tetap bisa menjalani hidup dengan baik. Jadi, pasanganmu saat ini bukanlah satu-satunya milikmu, juga bukan tempat tujuanmu. Hanya Tuhanlah yang kepada-Nya kaupercayakan tempat tujuanmu, dan hanya Tuhanlah yang kepada-Nya tempat tujuan manusia dipercayakan. Engkau tetap mampu bertahan dan hidup jika engkau meninggalkan orang tuamu, dan tentu saja engkau tetap mampu menjalani hidup dengan baik jika engkau meninggalkan pasanganmu. Orang tuamu bukanlah tempat tujuanmu, demikian pula pasanganmu. Hanya karena engkau memiliki pasangan, seseorang yang kepadanya kaupercayakan roh, jiwa, dan tubuhmu, engkau tidak boleh melupakan hal terpenting dalam hidup. Jika engkau melupakan Tuhan, melupakan apa yang telah Dia percayakan kepadamu, melupakan tugas yang harus dilaksanakan oleh makhluk ciptaan, dan melupakan identitasmu, maka engkau akan sepenuhnya kehilangan hati nurani dan nalar. Seperti apa pun keadaan hidupmu saat ini, apakah engkau sudah menikah atau belum, identitasmu di hadapan Sang Pencipta tidak akan pernah berubah. Tak ada seorang pun yang bisa menjadi tempat tujuanmu, dan engkau tidak boleh memercayakan dirimu kepada siapa pun. Hanya Tuhan yang dapat memberimu tempat tujuan yang sesuai, hanya kepada Tuhanlah kelangsungan hidup manusia dipercayakan, dan ini tidak akan pernah berubah. Apakah sudah jelas? (Ya.)

Kita akan mengakhiri persekutuan kita tentang pernikahan di sini. Jika engkau semua ingin mengutarakan gagasan, pandangan, atau mengungkapkan perasaanmu, silakan lakukan sekarang. (Dahulu aku memiliki pandangan dan pemikiran bahwa pernikahan adalah tempat tujuan seseorang. Jika pasanganku berselingkuh, aku akan merasa putus asa dan tidak dapat melanjutkan hidup. Aku mendengar dari beberapa saudara-saudari bahwa mereka pun punya pengalaman seperti ini, dan mengalami hal seperti ini sangat menyakitkan. Namun, hari ini, setelah mendengarkan persekutuan Tuhan, aku bisa menyikapi masalah ini secara benar. Pertama, Tuhan menyebutkan bahwa di tengah masyarakat yang jahat ini, orang bisa tergoda oleh orang, peristiwa, dan hal-hal di dunia luar dan sangat mudah bagi mereka untuk melakukan kesalahan, jadi kini aku dapat memahami hal semacam ini. Kedua, kami juga harus memiliki sikap yang benar terhadap pasangan kami. Pasangan nikah kami bukan tempat tujuan hidup kami. Hanya Tuhanlah yang menjadi tempat tujuan kami, dan hanya dengan mengandalkan Tuhan, barulah kami mampu benar-benar melanjutkan hidup. Aku merasa memiliki sedikit pemahaman baru tentang ini sekarang.) Bagus sekali. Semua pandangan dan sikap mengenai kebenaran yang kita persekutukan dimaksudkan untuk memungkinkan orang membuang segala macam pemikiran dan pandangan yang keliru, salah, dan negatif; kemudian, semua itu dipersekutukan agar, ketika orang menghadapi hal semacam itu, mereka dapat dibentengi dengan pemikiran dan pandangan yang benar, mereka dapat memiliki jalan penerapan yang benar, sehingga mereka akan tidak tersesat, dan tidak lagi disesatkan dan dikendalikan oleh Iblis; semua itu dipersekutukan agar orang tidak melakukan hal-hal ekstrem, agar mereka dapat menerima bahwa segala sesuatu adalah dari Tuhan, menaati pengaturan Tuhan dalam segala hal, dan menjadi makhluk ciptaan yang sejati. Inilah jalan yang benar. Baiklah, mari kita akhiri persekutuan kita di sini untuk hari ini. Selamat tinggal!

4 Februari 2023

Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.

Hubungi kami via WhatsApp