Cara Mengejar Kebenaran (1) Bagian Satu
Topik apa yang kita persekutukan pada pertemuan terakhir kita? (Mengapa manusia harus mengejar kebenaran.) Setelah kita selesai bersekutu, Aku memberimu topik untuk pekerjaan rumahmu—topik apakah itu? (Cara mengejar kebenaran.) Sudahkah engkau semua merenungkan topik ini? (Tuhan, aku telah merenungkannya sedikit. Dalam hal cara mengejar kebenaran, di satu sisi, ini adalah tentang memeriksa perwujudan kerusakan dan watak rusak kita dalam semua orang, peristiwa, dan hal-hal yang kita temui setiap hari, dan kemudian mencari kebenaran untuk menyelesaikan masalah ini. Di sisi lain, pelaksanaan suatu tugas berkaitan dengan prinsip-prinsip tertentu, jadi kita harus mencari kebenaran yang relevan agar kita mengerti bagaimana bertindak sesuai dengan prinsip-prinsip ini saat kita melaksanakan berbagai tugas—ini adalah salah satu cara mengejar kebenaran.) Jadi, di satu sisi, mencari kebenaran dalam kehidupan sehari-hari, dan di sisi lain, dengan mencari prinsip kebenaran saat melaksanakan tugas. Apakah ada aspek lain dari pengejaran ini? Ini seharusnya bukan topik yang sulit, bukan? Apakah engkau semua merenungkan tentang "Cara Mengejar Kebenaran"? Bagaimana caramu merenungkannya? Merenungkan topik ini mengharuskanmu menghabiskan sejumlah waktu tertentu untuk memikirkannya, dan kemudian mencatat pemahaman yang kauperoleh melalui perenungan tersebut. Jika engkau hanya membacanya sekilas dan memikirkannya sedikit, tetapi tidak menghabiskan waktu dan tenaga untuk merenungkannya, atau tidak memikirkannya dengan saksama, itu bukanlah perenungan. Merenungkan berarti engkau memikirkan hal ini dengan serius, engkau berusaha sungguh-sungguh untuk merenungkannya, engkau memperoleh beberapa pengetahuan nyata, dan engkau menerima pencerahan dan penerangan, dan engkau menuai beberapa hasil—semua ini adalah hasil yang dicapai melalui perenungan. Jadi, apakah engkau benar-benar merenungkan topik ini? Tak seorang pun darimu yang benar-benar merenungkannya, bukan? Terakhir kali, Aku memberimu pekerjaan rumah, sebuah topik, agar engkau dapat mempersiapkannya, tetapi tak seorang pun darimu merenungkan topik ini dan engkau tidak menganggapnya serius. Apakah engkau berharap Aku hanya akan menyuapimu? Atau apakah menurutmu, "Topik ini sangat sederhana, sama sekali tidak mendalam. Kami sudah mengetahuinya, jadi kami tak perlu merenungkannya—kami sudah memahaminya"? Atau apakah karena engkau tidak tertarik akan pertanyaan dan hal-hal yang berkaitan dengan mengejar kebenaran? Apa masalahnya? Tidak mungkin karena engkau terlalu sibuk dengan pekerjaanmu, bukan? Sebenarnya, apa alasanmu? (Setelah mendengarkan pertanyaan Tuhan dan merenungkan diriku sendiri, menurutku alasan utamanya adalah karena aku tidak mencintai kebenaran. Aku tidak menganggap serius firman Tuhan, dan aku tidak merenungkan kebenaran dengan sungguh-sungguh. Aku juga berharap disuapi jawabannya. Aku berharap setelah Tuhan selesai mempersekutukan topik ini, aku akan mampu memahaminya. Seperti itulah sikapku.) Apakah kebanyakan orang seperti ini? Tampaknya engkau semua terbiasa disuapi. Dalam hal kebenaran, engkau semua tidak terlalu teliti dan tidak berusaha keras. Engkau terutama suka melakukan sesuatu dan menyibukkan diri secara membabi buta. Yang kaulakukan hanyalah menyia-nyiakan waktumu; engkau bingung dalam hal mengejar kebenaran, dan tidak menganggapnya serius. Seperti itulah keadaanmu yang sebenarnya.
Cara mengejar kebenaran adalah salah satu topik yang paling sering dipersekutukan di rumah Tuhan. Sebagian besar orang memahami beberapa doktrin tentang cara mengejar kebenaran, dan mereka mengetahui beberapa pendekatan dan cara untuk menerapkannya. Ada orang-orang yang sudah lama percaya kepada Tuhan, yang kurang lebih telah memiliki beberapa pengalaman nyata, dan mereka juga pernah mengalami kegagalan dan kejatuhan, serta memiliki kenegatifan dan kelemahan. Selama proses mengejar kebenaran, mereka juga telah mengalami banyak pasang surut, dan dalam mengejar kebenaran, mereka telah belajar dari pengalaman mereka dan telah memperoleh beberapa hasil. Tentu saja, mereka juga telah menghadapi banyak kesulitan dan hambatan, serta berbagai masalah nyata dalam kehidupan atau lingkungan mereka. Singkatnya, kebanyakan orang memiliki tingkat pemahaman tertentu tentang mengejar kebenaran, entah hanya secara teoretis ataupun melalui beberapa masalah nyata, dan mereka juga telah memiliki beberapa pengetahuan doktrinal mengenainya. Setelah orang mulai percaya kepada Tuhan atau menempuh jalan mengejar kebenaran, entah mereka benar-benar telah membayar harga dalam menempuh jalan itu, atau entah mereka hanya mengerahkan sedikit upaya dalam cara mereka mengejar kebenaran, mereka semua kurang lebih akan memiliki sedikit pemahaman tentangnya. Bagi mereka yang mencintai kebenaran, pemahaman ini merepresentasikan hasil yang murni dan berharga, sedangkan bagi mereka yang tidak mengejar kebenaran, mereka tidak memiliki pengalaman, tidak belajar dari pengalaman mereka, atau tidak mendapatkan hasil. Singkatnya, mayoritas orang sedang bergerak maju dengan penuh keraguan dan memendam sikap yang skeptis saat mengejar kebenaran, dan sekaligus mengalami sedikit tentang bagaimana rasanya mengejar kebenaran. Dalam pemikiran, pandangan, atau kesadaran kebanyakan orang, mengejar kebenaran adalah hal yang positif dan paling penting. Mereka menganggapnya sebagai tujuan hidup yang harus orang kejar, dan bahkan lebih dari itu, sebagai jalan yang benar yang harus mereka tempuh dalam hidup ini. Entah pada taraf teoretis atau berdasarkan pengalaman nyata dan pengetahuan mereka, semua orang menganggap mengejar kebenaran sebagai hal yang baik dan hal yang paling positif. Tidak ada pengejaran atau jalan yang manusia tempuh yang dapat dibandingkan dengan mengejar kebenaran atau dengan jalan mengejar kebenaran. Mengejar kebenaran adalah satu-satunya jalan yang benar yang harus manusia tempuh. Sebagai salah satu dari umat manusia, mengejar kebenaran haruslah menjadi tujuan hidup setiap orang, dan mereka harus memandangnya sebagai jalan yang benar yang harus manusia tempuh. Jadi, bagaimana seharusnya orang mengejar kebenaran? Engkau semua baru saja menyampaikan beberapa gagasan teoretis sederhana, yang mungkin akan disetujui oleh kebanyakan orang. Semua orang menganggap bahwa pengejaran dan penerapan semacam ini berkaitan dengan mengejar kebenaran. Mereka yakin bahwa hal-hal yang secara khusus berkaitan dengan mengejar kebenaran hanyalah: memperoleh pengenalan akan diri sendiri, mengaku dosa dan bertobat, dan kemudian mencari prinsip-prinsip kebenaran dari firman Tuhan untuk diterapkan, dan pada akhirnya hidup dalam firman-Nya dalam kehidupan sehari-hari dan masuk ke dalam kenyataan kebenaran. Inilah pengertian dan pemahaman umum yang dimiliki kebanyakan orang tentang cara mengejar kebenaran. Selain cara-cara yang mampu kaukenali dan pahami, Aku telah merangkumkan beberapa jalan dan cara yang lebih spesifik tentang bagaimana cara mengejar kebenaran. Hari ini, kita akan mempersekutukan cara mengejar kebenaran secara lebih mendetail.
Selain beberapa cara yang telah kausebutkan, Aku telah membahas secara lebih mendetail dan merangkumkan dua cara tentang bagaimana mengejar kebenaran. Salah satu caranya adalah "melepaskan". Apakah cara ini mudah? (Mudah.) Cara ini tidak abstrak ataupun rumit, juga mudah untuk diingat dan dipahami. Tentu saja, menerapkannya mungkin mencakup tingkat kesulitan tertentu. Engkau dapat melihat bahwa cara ini jauh lebih mudah daripada cara-cara yang kausebutkan. Yang kausebutkan itu hanyalah setumpuk teori. Semua itu terdengar muluk dan mendalam, dan tentu saja, sekalipun ada sisi konkret di dalamnya, semua itu jauh lebih rumit daripada apa yang baru saja Kuberitahukan kepadamu. Cara pertama adalah "melepaskan", dan cara kedua adalah "mengabdikan dirimu". Hanya dua cara ini, seluruhnya ada tiga kata. Orang mampu memahaminya dengan hanya membacanya, dan orang tahu cara menerapkannya tanpa perlu mempersekutukannya—keduanya juga mudah untuk diingat. Apa cara yang pertama? (Melepaskan.) Cara yang kedua? (Mengabdikan dirimu.) Jelas, bukan? Bukankah keduanya mudah? (Mudah.) Cara tersebut jauh lebih ringkas daripada yang kausebutkan. Ini disebut apa? Ini disebut tajam. Apakah menggunakan kata-kata yang lebih sedikit berarti sesuatu itu pasti tajam? (Tidak.) Entah sesuatu itu tajam atau tidak, itu tidak penting. Yang penting apakah poin kuncinya dinyatakan dengan jelas dan apakah kata-kata itu praktis untuk orang terapkan. Selain itu, penting untuk dilihat hasil apa yang dapat diperoleh dengan menerapkannya; apakah menerapkannya mampu menyelesaikan kesulitan nyata orang; apakah menerapkannya membantu orang untuk menempuh jalan mengejar kebenaran; apakah menerapkannya memampukan orang untuk membereskan watak rusak mereka hingga ke sumbernya; dan apakah menerapkannya membantu orang untuk datang ke hadapan Tuhan, dan menerima kebenaran firman-Nya, dan dengan demikian mencapai hasil dan tujuan yang seharusnya dicapai dalam mengejar kebenaran. Benarkah demikian? (Ya.) Kini engkau semua telah mendengar kedua cara ini, yakni "melepaskan" dan "mengabdikan dirimu", dan engkau telah mengetahuinya. Apa hubungan antara kedua cara ini dengan mengejar kebenaran? Apakah kedua cara ini berkaitan dengan cara-cara yang telah kausebutkan, ataukah bertentangan? Ini masih belum terlalu jelas bagimu, bukan? (Masih belum terlalu jelas.) Secara umum, cara spesifik mengejar kebenaran adalah kedua cara yang baru saja Kubahas. Dari kedua cara ini, apa isi spesifik dari cara yang pertama: melepaskan? Apa hal paling sederhana dan langsung yang terpikirkan olehmu saat mendengar kata "melepaskan"? Bagaimana orang menerapkan cara ini? Apa sajakah bagian dan isi spesifik cara ini? (Orang harus melepaskan watak rusaknya.) Apa lagi, selain watak rusaknya? (Gagasan dan imajinasi.) Gagasan dan imajinasi, perasaan, kehendak, dan kesukaan. Apa lagi? (Falsafah Iblis tentang cara berinteraksi dengan orang lain, nilai dan pandangan hidup yang keliru.) (Niat dan keinginan.) Singkatnya, ketika orang berusaha memikirkan hal-hal yang harus mereka lepaskan, selain berbagai perilaku yang berkaitan dengan watak rusak mereka, mereka juga harus memikirkan hal-hal apa sajakah yang membentuk pemikiran dan pandangan manusia. Jadi, ada dua bagian utama: bagian yang berkaitan dengan watak yang rusak dan bagian yang berkaitan dengan pemikiran dan pandangan manusia. Selain kedua hal ini, apa lagi yang dapat kaupikirkan? Engkau semua bingung, bukan? Apa penyebab kebingunganmu? Penyebabnya karena hal-hal yang langsung terlintas di pikiranmu adalah topik-topik yang, dalam kehidupanmu sehari-hari sejak engkau mulai percaya kepada Tuhan, sering kautemui dan yang sering orang bicarakan. Sedangkan mengenai masalah yang tidak disebutkan oleh siapa pun, yang bagaimanapun juga ada dalam diri manusia—engkau semua tidak mengetahuinya, engkau tidak menyadarinya, engkau tak mampu memikirkannya, dan engkau juga tak pernah menganggapnya sebagai masalah yang harus kaurenungkan. Inilah penyebab kebingunganmu. Aku membahas hal ini denganmu karena Aku ingin engkau semua merenungkannya dan memikirkan dengan saksama hal yang akan kita persekutukan selanjutnya, dan agar hal itu meninggalkan kesan mendalam dalam dirimu.
Sekarang kita akan mempersekutukan dua hal utama yang berkaitan dengan bagaimana orang harus mengejar kebenaran: yang pertama, melepaskan, dan yang kedua, mengabdikan dirimu. Mari kita mulai dengan mempersekutukan hal yang pertama—melepaskan. Ini bukan sekadar melepaskan perasaan, falsafah tentang cara berinteraksi dengan orang lain, keinginan diri sendiri, keinginan untuk mendapatkan berkat, dan penafsiran umum lainnya yang seperti itu. Tindakan "melepaskan" yang akan Kupersekutukan hari ini memiliki makna yang lebih spesifik dan mengharuskan orang untuk menyelidiki dan menerapkannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Hal apakah yang harus terlebih dahulu orang lepaskan? Hal pertama yang harus orang lepaskan dalam mengejar kebenaran adalah berbagai emosi manusia. Apa yang kaupikirkan saat Aku menyebutkan berbagai emosi ini? Apa sajakah yang termasuk emosi ini? (Sikap yang gampang marah, sikap keras kepala, dan sikap yang pasif.) Apakah sikap yang gampang marah adalah emosi? (Yang kupahami tentang emosi adalah ketika orang, saat melaksanakan tugasnya, melakukan sesuatu berdasarkan perasaannya. Sikapnya terhadap sesuatu tergantung pada apakah dia merasa baik atau tidak.) Apakah yang sedang Kubahas adalah emosi semacam ini? Apakah emosi dapat dijelaskan dengan cara seperti ini? (Tuhan, yang kupahami tentang emosi adalah bahwa emosi itu sebagian besar mencakup mudah tersinggung, kejengkelan, juga kesenangan, kemarahan, kesedihan, dan sukacita.) Ini penggolongan yang tepat. Jadi, yang barusan disebutkan tentang orang yang melakukan sesuatu berdasarkan perasaan mereka, apakah itu adalah emosi? (Itu hanyalah perwujudan.) Itu adalah semacam perwujudan emosi. Merasa buruk, mudah tersinggung, dan putus asa—semua ini adalah perwujudan dari emosi, tetapi itu sama sekali bukan definisi dari emosi. Jadi, bagaimana seharusnya orang memahami hal pertama—berbagai emosi—yang harus mereka lepaskan dalam mengejar kebenaran? Apa yang orang lepaskan ketika mereka melepaskan berbagai emosi? Orang melepaskan suasana hati, pemikiran dan emosi yang muncul dalam berbagai situasi dan konteks, dan ketika menghadapi berbagai orang, peristiwa, dan hal-hal. Beberapa dari emosi ini menjadi kemauan keras seseorang. Dan, meskipun beberapa darinya tidak menjadi kemauan keras seseorang, emosi-emosi ini tetap sering kali dapat memengaruhi sikap orang tersebut dalam bertindak. Jadi, apa sajakah yang termasuk emosi-emosi ini? Yang termasuk, misalnya adalah perasaan putus asa, kebencian, kemarahan, mudah tersinggung, kegelisahan, dan perasaan tertekan, perasaan rendah diri, dan tangisan kebahagiaan—semua ini dapat dianggap sebagai emosi. Apakah semua ini adalah perwujudan nyata dari emosi? (Ya.) Setelah menyebutkan hal ini, tahukah engkau apa yang dimaksud dengan emosi? Apakah emosi ada kaitannya dengan sikap pasif dan gampang marah yang kausebutkan? (Tidak.) Tidak ada kaitannya. Jadi, hal-hal apakah yang kausebutkan itu? (Watak yang rusak.) Itu adalah semacam perwujudan dari watak yang rusak. Apakah emosi yang barusan Kusebutkan, yakni perasaan tertekan, putus asa, perasaan rendah diri, dan sebagainya, ada kaitannya dengan watak yang rusak? (Emosi yang baru saja Tuhan bicarakan tidak ada kaitannya dengan watak yang rusak, bukan merupakan watak yang rusak, atau belum mencapai taraf watak yang rusak.) Jadi, apakah itu? Itu adalah kesenangan, kemarahan, kesedihan, dan sukacita manusia yang normal, dan semua itu adalah emosi yang muncul dan perwujudan yang orang perlihatkan ketika mereka menghadapi situasi tertentu. Beberapa dari emosi tersebut mungkin disebabkan oleh watak yang rusak, sementara yang lain belum mencapai taraf itu dan tidak berkaitan dengan watak yang rusak, tetapi hal-hal ini memang ada dalam pemikiran manusia. Dalam keadaan seperti itu, apa pun situasi yang orang hadapi atau apa pun konteksnya, emosi-emosi ini dengan sendirinya akan sering memengaruhi penilaian dan pandangan mereka hingga taraf tertentu, dan akan memengaruhi posisi yang harus orang ambil dan jalan yang harus mereka tempuh. Sebagian besar dari berbagai emosi yang baru saja kita bahas cukup negatif. Apakah ada di antaranya yang agak netral, tidak terlalu negatif ataupun positif? Tidak, tidak ada yang relatif positif. Depresi, perasaan putus asa, kebencian, kemarahan, perasaan rendah diri, mudah tersinggung, kegelisahan, dan perasaan tertekan—semua ini adalah emosi yang sangat negatif. Adakah dari emosi-emosi ini yang dapat memungkinkan orang untuk secara positif menghadapi kehidupan, keberadaan manusia, dan situasi yang mereka temui dalam hidup ini? Tidak adakah di antaranya yang positif? (Tidak.) Semua itu adalah emosi yang relatif negatif. Jadi, emosi manakah yang agak lebih baik? Bagaimana dengan perasaan mendambakan dan merindukan? (Itu agak netral.) Ya, itu dapat dikatakan netral. Apa lagi? Bernostalgia, merindukan dan menghargai. Mengacu kepada apakah emosi-emosi yang sedang kita bahas? Ini mengacu pada hal-hal yang sering kali tersembunyi di lubuk hati dan jiwa manusia; ini sering kali mampu menguasai hati dan pemikiran orang dan sering kali mampu memengaruhi suasana hati orang serta pandangan dan sikap mereka dalam melakukan sesuatu. Jadi, entah emosi-emosi ini didapati dalam kehidupan nyata orang, atau dalam kepercayaan mereka kepada Tuhan dan dalam pengejaran mereka akan kebenaran, emosi-emosi ini, hingga taraf tertentu, akan mengganggu dan memengaruhi kehidupan orang sehari-hari dan memengaruhi sikap mereka terhadap tugas mereka. Tentu saja, emosi-emosi ini juga akan memengaruhi penilaian orang dan posisi yang mereka ambil ketika mengejar kebenaran, dan secara khusus, perasaan yang relatif pasif dan negatif ini akan berdampak luar biasa pada diri mereka. Ketika berbagai ingatan muncul dan orang mulai merasakan beragam emosi mereka sendiri, atau mulai membentuk suatu kesadaran yang membuat mereka mengenali peristiwa dan hal-hal, lingkungan, dan orang lain, berbagai emosi mereka secara berangsur mulai muncul dan terbentuk. Kemudian, setelah emosi-emosi ini terbentuk, seiring bertambahnya usia dan bertambahnya pengalaman mereka akan hal-hal duniawi, emosi-emosi ini secara berangsur menjadi makin berakar dalam diri mereka, di lubuk hati mereka, menjadi ciri dominan kemanusiaan mereka sendiri. Emosi-emosi ini secara berangsur mengarahkan kepribadian mereka, kesenangan, kemarahan, kesedihan, dan sukacita mereka, kegemaran mereka, serta pengejaran mereka akan tujuan dan arah dalam hidup mereka, dan seterusnya. Itulah sebabnya, emosi-emosi ini sangat esensial bagi setiap orang. Mengapa Kukatakan demikian? Karena begitu orang mulai memiliki kesadaran subjektif akan lingkungan di sekitar mereka, emosi-emosi ini secara berangsur akan memengaruhi kesenangan, kemarahan, kesedihan dan sukacita mereka, emosi ini akan memengaruhi penilaian dan kesadaran mereka akan orang-orang, peristiwa, dan hal-hal, dan emosi ini akan memengaruhi kepribadian mereka. Tentu saja, emosi ini juga akan memengaruhi sikap dan pandangan orang mengenai cara mereka menghadapi dan menangani orang, peristiwa, dan hal-hal di sekitar mereka. Bahkan yang jauh lebih penting, emosi-emosi negatif ini akan memengaruhi cara dan prinsip yang mengatur cara orang berperilaku, serta tujuan yang mereka kejar dan menjadi acuan mereka tentang bagaimana seharusnya manusia berperilaku. Engkau semua mungkin merasa bahwa apa yang Kukatakan ini tidak mudah untuk dipahami, bahwa ini mungkin agak abstrak. Aku akan memberimu contoh sehingga engkau mungkin dapat memahaminya dengan sedikit lebih baik. Sebagai contoh, ada seseorang yang ketika masih anak-anak, berpenampilan biasa-biasa saja, tidak fasih bicara, dan tidak terlalu cerdas, menyebabkan orang lain di keluarganya dan di lingkungan sosialnya memberikan penilaian yang kurang baik tentang dirinya, mengatakan hal-hal seperti: "Anak ini bodoh, lamban, dan kikuk dalam berbicara. Lihatlah anak orang lain, yang begitu fasih bicara sehingga membuat orang-orang di sekitarnya tertarik dan menuruti semua perkataannya. Sedangkan anak ini hanya cemberut sepanjang hari. Dia tidak tahu harus berkata apa saat bertemu orang, tidak tahu cara membela atau membenarkan dirinya sendiri setelah melakukan kesalahan, dan tak mampu menyenangkan hati orang. Anak ini sangat bodoh." Orang tuanya mengatakan hal ini, kerabat dan teman-temannya mengatakan hal ini, dan guru-gurunya pun mengatakan hal ini. Lingkungan seperti ini memberikan tekanan tertentu yang tak terlihat pada individu seperti ini. Setelah mengalami lingkungan ini, tanpa sadar orang ini mengembangkan pola pikir tertentu. Pola pikir seperti apa? Dia menganggap dirinya buruk rupa, tidak terlalu disukai, dan orang lain tak pernah merasa senang bertemu dengannya. Dia yakin bahwa dirinya tidak terlalu pandai di sekolah, lamban dalam menangkap pelajaran, dan selalu merasa malu untuk berbicara di depan orang lain. Dia terlalu malu untuk mengucapkan terima kasih ketika orang memberinya sesuatu, berpikir, "Mengapa lidahku selalu kelu? Mengapa orang lain begitu fasih bicara? Aku ini benar-benar bodoh!" Tanpa sadar, dia menganggap dirinya tidak berharga, tetapi dia masih tak mau mengakui bahwa dirinya tidak berharga, bahwa dirinya sebodoh itu. Di dalam hatinya, dia bertanya pada dirinya sendiri, "Apakah aku benar-benar sebodoh itu? Apakah aku benar-benar tidak menyenangkan?" Orang tuanya tidak menyukai dirinya, saudara-saudarinya, guru-guru atau teman sekelasnya pun tidak menyukainya. Dan terkadang, anggota keluarga, kerabat dan teman-temannya membicarakan dirinya, "Dia pendek, matanya sipit dan hidungnya pesek, dan dengan penampilan seperti itu, dia tidak akan sukses saat dewasa." Jadi, saat becermin, dia melihat matanya memang sipit. Dalam situasi seperti ini, penentangan, ketidakpuasan, ketidakrelaan, dan penolakan di lubuk hatinya secara berangsur berubah menjadi penerimaan dan pengakuan atas kekurangan, kelemahan, dan masalah dirinya tersebut. Meskipun dia dapat menerima kenyataan ini, emosi yang terus melekat muncul di lubuk hatinya. Disebut apakah emosi ini? Emosi ini disebut perasaan rendah diri. Orang yang merasa rendah diri tidak mengetahui kelebihan mereka. Mereka hanya menganggap diri mereka tidak disukai, selalu merasa bodoh, dan tidak tahu bagaimana menangani segala sesuatu. Singkatnya, mereka merasa tak mampu melakukan apa pun, merasa tidak menarik, tidak pandai, dan lambat dalam bereaksi. Mereka biasa-biasa saja dibandingkan orang lain dan tidak mendapatkan nilai bagus dalam studi mereka. Setelah bertumbuh dalam lingkungan ini, pola pikir perasaan rendah diri ini berangsur-angsur mengambil alih. Itu berubah menjadi semacam emosi yang melekat yang menguasai hatimu dan memenuhi pikiranmu. Sekalipun engkau telah bertumbuh dewasa, telah hidup di tengah masyarakat, menikah dan mapan dalam kariermu, dan apa pun status sosialmu, perasaan rendah diri yang ditanamkan dalam dirimu oleh lingkungan tempatmu dibesarkan tidak mungkin dihilangkan. Bahkan setelah engkau mulai percaya kepada Tuhan dan bergabung dengan gereja, engkau tetap menganggap bahwa penampilanmu biasa-biasa saja, kualitas intelektualmu buruk, engkau tidak fasih bicara, dan tak mampu melakukan apa pun. Engkau berpikir, "Aku hanya akan melakukan apa yang mampu kulakukan. Aku tak perlu bercita-cita menjadi pemimpin, aku tak perlu mengejar kebenaran yang mendalam, aku hanya akan puas dengan menjadi orang yang paling tidak penting, dan membiarkan orang lain memperlakukanku sesuka mereka." Ketika antikristus dan pemimpin palsu muncul, engkau merasa tak mampu mengenali ataupun menyingkapkan mereka, engkau merasa tidak memadai untuk melakukan hal itu. Engkau merasa bahwa asalkan engkau sendiri bukan pemimpin palsu atau antikristus, itu sudah cukup, asalkan engkau tidak menyebabkan gangguan atau kekacauan, itu sudah cukup, dan asalkan engkau dapat bertahan di posisimu sendiri, itu sudah cukup. Di lubuk hatimu, engkau merasa tidak cukup baik dan tidak sebaik orang lain, merasa orang lain mungkin adalah objek keselamatan, sedangkan engkau sendiri paling-paling hanya pelaku pelayanan, sehingga engkau merasa tidak memiliki kemampuan untuk melakukan tugas mengejar kebenaran. Sebanyak apa pun kebenaran yang mampu kaupahami, engkau tetap merasa bahwa, karena Tuhan telah menentukanmu dari semula untuk memiliki kualitas seperti itu, untuk berpenampilan seperti itu, maka Dia mungkin telah menentukanmu dari semula untuk hanya menjadi pelaku pelayanan, merasa dirimu tidak ada kaitannya dengan mengejar kebenaran, dengan menjadi seorang pemimpin, menjadi seorang penanggung jawab, atau seorang yang diselamatkan; sebaliknya, engkau rela menjadi orang yang paling tidak penting. Perasaan rendah diri ini di satu sisi mungkin bukan bawaan lahirmu, tetapi di sisi lain, karena di lingkungan keluargamu, dan di lingkungan tempatmu dibesarkan, engkau cukup sering dihina atau dinilai secara tidak pantas, maka ini menyebabkan perasaan rendah diri itu muncul dalam dirimu. Emosi ini memengaruhi arah yang benar dari pengejaranmu, memengaruhi cita-cita yang tepat dari pengejaranmu, dan juga menghambat pengejaranmu yang tepat. Setelah pengejaranmu yang tepat dan tekadmu yang tepat yang sudah seharusnya kaumiliki dalam kemanusiaanmu itu terhambat, motivasimu untuk mengejar hal-hal positif dan untuk mengejar kebenaran akan menjadi terhambat. Hambatan ini bukan disebabkan oleh lingkungan di sekitarmu atau oleh siapa pun, dan tentu saja Tuhan tidak menentukan bahwa engkau harus mengalaminya, tetapi ini disebabkan oleh emosi negatif yang sangat kuat di lubuk hatimu. Bukankah itu yang terjadi? (Ya.)
Di luarnya, perasaan rendah diri adalah emosi yang terwujud dalam diri manusia; tetapi sebenarnya, sumber penyebabnya adalah masyarakat ini, manusia ini, dan lingkungan tempat orang tinggal. Ini juga disebabkan oleh alasan objektif orang itu sendiri. Jelaslah bahwa masyarakat dan manusia berasal dari Iblis, karena semua manusia berada di bawah kuasa si jahat, dirusak sedemikian dalamnya oleh Iblis, dan tak seorang pun mampu mengajar generasi berikutnya sesuai dengan kebenaran atau sesuai dengan ajaran Tuhan, tetapi mengajar mereka sesuai dengan hal-hal yang berasal dari Iblis. Oleh karena itu, konsekuensi mengajarkan hal-hal yang berasal dari Iblis kepada manusia dan generasi berikutnya, selain merusak watak dan esensi manusia, juga menyebabkan munculnya emosi negatif dalam diri manusia. Jika emosi negatif yang muncul bersifat sementara, itu tidak akan berpengaruh besar pada kehidupan seseorang. Namun, jika emosi negatif telah berakar begitu dalam di lubuk hati dan jiwa seseorang dan itu menjadi hal yang melekat dan tak terhapuskan di sana, jika mereka sama sekali tak mampu melupakannya atau menyingkirkannya, maka emosi negatif itu pasti akan memengaruhi setiap keputusan orang tersebut, caranya memperlakukan segala macam orang, peristiwa, dan hal-hal, apa yang dipilihnya ketika menghadapi masalah penting dalam hal prinsip, dan jalan yang akan ditempuh dalam hidupnya—inilah dampak nyata yang disebabkan kelompok masyarakat pada diri setiap orang. Aspek lainnya adalah alasan objektif orang itu sendiri. Artinya, didikan dan ajaran yang orang terima saat mereka tumbuh dewasa, semua pemikiran dan gagasan, serta cara berperilaku yang mereka terima, dan berbagai pepatah manusia, semuanya berasal dari Iblis, sampai pada taraf manusia tak punya kemampuan untuk menangani dan membereskan masalah yang mereka hadapi ini dari perspektif dan sudut pandang yang benar. Oleh karena itu, tanpa sadar, di bawah pengaruh lingkungan yang keras ini, dan di bawah tekanan dan kendalinya, manusia mau tak mau mulai memiliki berbagai emosi negatif dan menggunakan emosi negatif itu untuk berusaha melawan masalah yang tak mampu mereka selesaikan, ubah, atau singkirkan tersebut. Mari kita ambil perasaan rendah diri sebagai contoh. Orang tua, guru, seniormu, dan orang-orang di sekitarmu, semuanya memiliki penilaian yang tidak realistis terhadap kualitas, kemanusiaan, dan kepribadianmu, dan pada akhirnya apa yang mereka lakukan ini menyerang, menganiaya, menghambat, mengekang, dan mengikatmu. Akhirnya, saat engkau tidak lagi memiliki kekuatan untuk menentangnya, engkau tak punya pilihan selain memilih kehidupan yang diam-diam menerima hinaan dan cemoohan ini, diam-diam menerima kenyataan yang tidak adil dan tidak benar ini, sekalipun engkau merasa itu salah. Saat engkau menerima kenyataan ini, emosi yang pada akhirnya muncul dalam dirimu bukanlah emosi yang bahagia, puas, positif atau progresif; hidupmu makin tidak memiliki motivasi dan arah, dan terlebih lagi, engkau tidak mengejar tujuan hidup manusia yang tepat dan benar, tetapi sebaliknya, perasaan rendah diri yang mendalamlah yang muncul dalam dirimu. Ketika emosi ini muncul dalam dirimu, engkau merasa tak punya tempat untuk berpaling. Saat menghadapi masalah yang mengharuskanmu untuk mengungkapkan pandanganmu, engkau memikirkan apa yang ingin kaukatakan dan pandangan apa yang ingin kauungkapkan entah berapa kali di lubuk hatimu, tetapi engkau tetap tak mampu memaksa dirimu untuk mengucapkannya. Ketika seseorang mengungkapkan pandangan yang sama dengan pandanganmu, engkau membiarkan dirimu merasakan penegasan dalam hatimu, penegasan bahwa engkau tidak lebih buruk daripada orang lain. Namun, ketika situasi yang sama kembali terjadi, engkau tetap berkata pada dirimu sendiri, "Aku tak boleh bicara sembarangan, tak boleh gegabah, atau menjadikan diriku bahan tertawaan. Aku ini tidak baik, aku bodoh, aku dungu, aku idiot. Aku harus belajar untuk bersembunyi dan hanya mendengarkan, bukan berbicara." Dari sini kita dapat melihat bahwa, dari saat munculnya perasaan rendah diri hingga perasaan itu tertanam sangat dalam di lubuk hatinya, bukankah orang itu kemudian kehilangan kehendak bebasnya, kehilangan hak sah yang dikaruniakan kepadanya oleh Tuhan? (Ya.) Dia telah kehilangan hal-hal ini. Siapa sebenarnya yang merampas hal-hal ini darinya? Engkau tidak tahu dengan pasti, bukan? Tak seorang pun dari antaramu yang tahu dengan pasti. Ini karena, selama seluruh proses ini, engkau bukan saja korbannya tetapi engkau juga pelakunya—engkau adalah korban orang lain, dan engkau juga adalah korban dari dirimu sendiri. Mengapa demikian? Baru saja Kukatakan bahwa salah satu alasan perasaan rendah diri muncul dalam dirimu adalah berasal dari alasan objektifmu sendiri. Sejak engkau mulai memiliki kesadaran akan dirimu, landasanmu dalam menilai peristiwa dan hal-hal bersumber dari perusakan Iblis, dan pandangan ini ditanamkan dalam dirimu oleh masyarakat dan manusia, dan tidak diajarkan kepadamu oleh Tuhan. Jadi, kapan pun atau dalam konteks apa pun perasaan rendah dirimu muncul, dan hingga sejauh mana pun perasaan rendah dirimu telah berkembang, engkau tanpa daya diikat dan dikendalikan oleh perasaan ini, dan engkau menggunakan cara-cara yang Iblis tanamkan dalam dirimu ini dalam memperlakukan orang, peristiwa, dan hal-hal di sekitarmu. Jika perasaan rendah diri telah tertanam begitu dalam di hatimu, perasaan itu bukan saja berdampak besar pada dirimu, itu juga mendominasi pandanganmu mengenai orang dan hal-hal, serta caramu dalam berperilaku dan bertindak. Jadi, bagaimana cara mereka yang didominasi oleh perasaan rendah diri memandang orang dan hal-hal? Mereka menganggap orang lain lebih baik daripada mereka, dan mereka juga memandang antikristus lebih baik daripada mereka. Sekalipun antikristus memiliki watak yang jahat dan kemanusiaan yang buruk, mereka tetap memperlakukan mereka sebagai orang-orang yang patut ditiru dan diteladani. Mereka bahkan berkata pada diri mereka sendiri, "Lihat, meskipun mereka memiliki watak yang buruk dan kemanusiaan yang jahat, mereka berbakat dan lebih cakap dalam bekerja dibandingkan diriku. Mereka dapat dengan nyaman memperlihatkan kemampuan mereka di depan orang lain dan berbicara di depan begitu banyak orang tanpa tersipu atau jantung yang berdebar kencang. Mereka benar-benar berani. Aku tak dapat menandingi mereka. Aku benar-benar tidak berani." Apa penyebab hal ini? Dapat dikatakan dengan pasti bahwa salah satu penyebabnya adalah karena perasaan rendah diri telah memengaruhi caramu dalam menilai esensi orang, serta perspektif dan sudut pandangmu dalam memandang orang lain. Bukankah benar demikian? (Ya.) Jadi, bagaimana perasaan rendah diri memengaruhi caramu berperilaku? Engkau berkata pada dirimu sendiri: "Aku terlahir bodoh, tanpa bakat atau kelebihan, dan aku lambat dalam mempelajari segala sesuatu. Lihatlah orang itu: meskipun dia terkadang menyebabkan gangguan dan kekacauan, dan bertindak semaunya dan ceroboh, setidaknya dia berbakat dan memiliki kelebihan. Di mana pun dia berada, dia adalah tipe orang yang ingin orang-orang pakai, sedangkan aku bukan orang seperti itu." Setiap kali terjadi sesuatu, hal pertama yang kaulakukan adalah menjatuhkan vonis pada dirimu sendiri dan menutup diri. Apa pun masalahnya, engkau mundur dan tak mau berinisiatif, dan engkau takut mengambil tanggung jawab. Kaukatakan pada dirimu sendiri, "Aku terlahir bodoh. Di mana pun aku berada, tak seorang pun menyukaiku. Aku tak boleh mengambil risiko, aku tak boleh memamerkan kemampuanku yang sangat kecil ini. Jika ada yang merekomendasikanku, itu membuktikan bahwa aku baik-baik saja. Namun, jika tak ada seorang pun yang merekomendasikanku, maka tidaklah baik bagiku untuk berinisiatif mengatakan bahwa aku mampu mengambil pekerjaan itu dan melaksanakannya dengan baik. Jika aku tidak yakin akan hal itu, aku tak boleh mengatakan aku yakin—bagaimana jika aku mengacaukannya, lalu apa yang harus kulakukan? Bagaimana jika aku harus dipangkas karenanya? Aku akan sangat malu! Bukankah itu akan memalukan? Aku tak dapat membiarkan hal itu terjadi padaku." Lihatlah—bukankah hal ini telah memengaruhi caramu dalam berperilaku? Hingga taraf tertentu, sikapmu terhadap caramu berperilaku dipengaruhi dan dikendalikan oleh perasaan rendah dirimu. Hingga taraf tertentu, inilah konsekuensi yang kautanggung akibat perasaan rendah dirimu.
Di bawah pengaruh perasaan rendah diri ini, bagaimana itu memengaruhimu dalam caramu memandang berbagai macam orang, apakah mereka orang yang memiliki kemanusiaan, apakah kemanusiaan mereka biasa-biasa saja, apakah mereka tidak memiliki kemanusiaan atau apakah kemanusiaan mereka jahat? Caramu memandang orang sama sekali tidak sesuai dengan kebenaran atau dengan firman Tuhan, apalagi dengan tuntutan Tuhan. Pada saat yang sama, di bawah pengaruh perasaan rendah diri ini, engkau memilih untuk berperilaku dengan hati-hati, waspada, dan takut-takut, dan engkau sering kali pasif dan sedih. Engkau tidak memiliki tekad atau motivasi yang kuat dan proaktif, dan ketika engkau memiliki sedikit kecenderungan yang positif dan aktif serta keinginan untuk melaksanakan sedikit pekerjaan, engkau berpikir, "Bukankah aku sedang bersikap congkak? Bukankah aku sedang menonjolkan diri? Bukankah aku sedang memamerkan diriku? Bukankah aku hanya pamer? Bukankah ini adalah keinginanku akan status?" Engkau tidak tahu natur sebenarnya dari tindakanmu sendiri. Mengenai kebutuhan, cita-cita, tekad dan keinginan manusia yang dapat dibenarkan, serta apa yang boleh kauperjuangkan untuk kaucapai, apa yang pantas dan seharusnya kaulakukan, engkau berulang kali memikirkan dan merenungkannya di dalam hatimu. Pada malam hari saat tak bisa tidur, engkau akan merenung berulang kali, "Haruskah aku mengambil pekerjaan itu? Oh, tetapi aku tidak cukup baik, aku tidak berani melakukannya. Aku bodoh dan dungu. Aku tidak memiliki bakat ataupun kualitas seperti yang orang itu miliki!" Saat sedang makan, engkau berpikir, "Mereka makan tiga kali sehari dan melaksanakan tugas mereka dengan baik, dan hidup mereka berharga. Aku makan tiga kali sehari, tetapi tidak melaksanakan tugasku dengan baik, dan hidupku sama sekali tidak berharga. Aku berutang kepada Tuhan, dan kepada saudara-saudariku! Aku seharusnya tidak pantas dan tidak boleh makan sepiring makanan pun." Jika orang terlalu pengecut, mereka tidak berharga dan mereka tak mampu mencapai apa pun. Apa pun yang terjadi pada mereka, ketika orang-orang pengecut menghadapi sedikit kesulitan, mereka akan mundur. Mengapa mereka melakukannya? Salah satu alasannya karena hal ini disebabkan oleh perasaan rendah diri mereka. Karena merasa rendah diri, mereka tidak berani tampil di depan orang lain, mereka bahkan tak mampu memenuhi kewajiban dan tanggung jawab yang seharusnya mereka penuhi, juga tak mampu melakukan apa yang sebenarnya mampu mereka capai dalam lingkup kemampuan dan kualitas mereka sendiri, dan dalam lingkup pengalaman kemanusiaan mereka sendiri. Perasaan rendah diri ini memengaruhi setiap aspek kemanusiaan mereka, memengaruhi kepribadian mereka, dan tentu saja, memengaruhi karakter mereka. Saat berada di sekitar orang lain, mereka jarang mengungkapkan pandangan mereka sendiri, dan engkau hampir tak pernah mendengar mereka menjelaskan sudut pandang dan pendapat mereka sendiri. Saat menghadapi suatu masalah, mereka tidak berani bicara, melainkan selalu menarik diri dan mundur. Ketika hanya ada sedikit orang, mereka merasa cukup berani untuk duduk di antara mereka, tetapi ketika ada banyak orang di sana, mereka mencari sebuah sudut dan menuju ke tempat yang penerangannya redup, tidak berani berada di antara orang lain. Setiap kali mereka merasa ingin secara positif dan aktif mengatakan sesuatu dan mengungkapkan pandangan dan pendapat mereka sendiri untuk menunjukkan bahwa apa yang mereka pikirkan itu benar, mereka bahkan tak punya keberanian untuk melakukannya. Setiap kali memiliki ide semacam itu, perasaan rendah diri mereka langsung muncul dan mengendalikan mereka, menahan mereka, mengatakan kepada mereka, "Jangan katakan apa pun, engkau tidak berguna. Jangan ungkapkan pandanganmu, simpan saja idemu untuk dirimu sendiri. Jika ada sesuatu dalam hatimu yang benar-benar ingin kaukatakan, catat saja di komputer dan renungkan sendiri hal itu. Jangan biarkan orang lain mengetahuinya. Bagaimana jika kau mengatakan sesuatu yang keliru? Itu akan sangat memalukan!" Suara ini terus memberitahumu agar tidak melakukan ini dan itu, tidak mengatakan ini dan itu, menyebabkanmu menelan kembali setiap kata yang ingin kauucapkan. Ketika ada sesuatu yang ingin kaukatakan yang telah lama dan berulang kali kaupikirkan di dalam hatimu, engkau langsung mundur dan tak berani mengatakannya, atau engkau merasa malu untuk mengatakannya, merasa yakin bahwa sudah seharusnya engkau tidak mengatakannya, dan jika engkau mengatakannya, engkau merasa seolah-olah engkau telah melanggar aturan atau hukum. Dan ketika suatu hari engkau secara aktif mengungkapkan pandanganmu sendiri, di lubuk hatimu engkau merasa sangat gelisah dan tidak tenang. Sekalipun perasaan tidak tenang yang kuat ini berangsur memudar, perasaan rendah dirimu secara perlahan memadamkan ide, niat dan rencana yang kaumiliki untuk ingin berbicara, ingin mengungkapkan pandanganmu sendiri, ingin menjadi orang normal, dan ingin menjadi sama seperti orang lain. Mereka yang tidak memahamimu menganggapmu orang yang tak banyak bicara, pendiam, pemalu, orang yang tak suka menonjolkan diri. Ketika engkau berbicara di depan banyak orang, engkau merasa malu dan wajahmu memerah; engkau agak tertutup, dan hanya engkau sendirilah yang tahu bahwa engkau sebenarnya merasa rendah diri. Hatimu dipenuhi perasaan rendah diri ini dan perasaan ini telah ada sejak lama, bukan perasaan yang sementara. Sebaliknya, perasaan ini dengan ketat mengendalikan pemikiranmu dari dalam jiwamu, perasaan ini dengan erat menutup bibirmu, sehingga seberapapun benarnya engkau memahami sesuatu, atau apa pun pandangan dan pendapatmu tentang orang, peristiwa, dan hal-hal, engkau hanya berani memikirkan dan merenungkannya berulang kali di dalam hatimu sendiri, tak pernah berani mengucapkannya. Entah orang lain mungkin menyetujui apa yang kaukatakan, atau mengoreksi dan mengkritikmu, engkau tidak akan berani menghadapi atau melihat hasil seperti itu. Mengapa demikian? Karena perasaan rendah diri yang ada dalam dirimu berkata kepadamu, "Jangan lakukan itu, engkau tak punya kemampuan untuk mengatakannya. Engkau tidak memiliki kualitas seperti itu, engkau tidak memiliki kenyataan seperti itu, engkau tak boleh melakukan itu, itu bukan dirimu. Jangan lakukan apa pun atau pikirkan apa pun sekarang. Engkau hanya akan menjadi dirimu yang sebenarnya dengan hidup dalam perasaan rendah diri. Engkau tidak memenuhi syarat untuk mengejar kebenaran atau membuka hatimu dan mengatakan apa yang kauinginkan serta terhubung dengan orang lain seperti yang orang lain lakukan. Dan ini karena engkau tidak baik, engkau tidak sebaik mereka." Perasaan rendah diri ini memandu cara pikir orang dalam pikiran mereka; itu menghalangi mereka agar tidak memenuhi kewajiban yang seharusnya orang normal lakukan, agar tidak menjalani kehidupan manusia normal yang seharusnya mereka jalani, dan perasaan ini juga mengarahkan cara dan sarana, serta arah dan tujuan dalam cara mereka memandang orang dan hal-hal, dalam cara mereka berperilaku dan bertindak. Meskipun mereka yakin bahwa mereka harus menjadi orang jujur dan mereka senang menjadi orang jujur, mereka tak pernah berani mengungkapkan keinginan mereka untuk menjadi orang yang jujur dalam perkataan atau perbuatan mereka untuk masuk ke dalam kehidupan sebagai orang yang jujur. Karena perasaan rendah diri ini, mereka bahkan tidak berani untuk menjadi orang jujur—mereka sama sekali tak punya keberanian. Ketika mereka mengatakan sesuatu yang jujur, mereka buru-buru melihat orang-orang di sekitar mereka dan berpikir, "Adakah seseorang yang berpendapat tertentu tentangku? Akankah mereka berpikir, 'Kau sedang mencoba menjadi orang jujur, bukan? Bukankah kau ingin menjadi orang jujur hanya agar engkau dapat diselamatkan? Bukankah ini hanya keinginan untuk diberkati?' Oh tidak, aku tak berani mengatakan apa pun. Mereka semua mampu berbicara jujur, hanya aku sendiri yang tak mampu. Aku tidak memenuhi syarat seperti mereka, aku orang yang statusnya paling rendah." Kita dapat melihat dari apa yang secara spesifik orang wujudkan dan perlihatkan begitu emosi negatif ini—perasaan rendah diri ini—mulai berpengaruh dan telah mengakar di lubuk hati orang, sehingga, kecuali mereka mengejar kebenaran, akan sangat sulit bagi mereka untuk mencabutnya dan melepaskan diri dari kekangannya, dan mereka akan dikekang olehnya dalam semua yang mereka lakukan. Meskipun perasaan ini tidak dapat dikatakan sebagai watak yang rusak, perasaan ini telah menimbulkan dampak yang sangat negatif; perasaan ini sangat merusak kemanusiaan mereka dan menimbulkan dampak yang sangat negatif pada berbagai emosi, ucapan, dan tindakan kemanusiaan normal mereka, dengan konsekuensi yang sangat serius. Pengaruh kecilnya adalah memengaruhi karakter, kesukaan dan cita-cita mereka; pengaruh utamanya adalah memengaruhi tujuan dan arah hidup mereka. Dari penyebab perasaan rendah diri ini, dari prosesnya dan dari konsekuensi yang ditimbulkannya terhadap manusia, dari aspek apa pun engkau memandangnya, bukankah perasaan ini adalah sesuatu yang harus orang lepaskan? (Ya.) Ada orang-orang yang berkata, "Kurasa aku tidak rendah diri dan aku tidak berada di bawah kekangan apa pun. Tak seorang pun pernah memancing kemarahanku ataupun meremehkanku, juga tak seorang pun pernah menghambatku. Aku hidup dengan sangat bebas, jadi bukankah itu berarti aku tidak memiliki perasaan rendah diri ini?" Benarkah demikian? (Tidak, terkadang kami masih memiliki perasaan rendah diri.) Engkau mungkin masih memilikinya hingga taraf tertentu. Perasaan itu mungkin tidak mendominasi lubuk hatimu, tetapi dalam keadaan tertentu, itu dapat muncul seketika. Sebagai contoh, tiba-tiba engkau bertemu seseorang yang kauidolakan, seseorang yang jauh lebih berbakat daripadamu, seseorang dengan keahlian dan bakat yang lebih istimewa daripadamu, seseorang yang lebih mendominasi dibandingkan dirimu, yang lebih sombong, lebih jahat, lebih tinggi dan lebih menarik daripadamu, seseorang yang memiliki status di tengah masyarakat, seseorang yang kaya, yang lebih berpendidikan dan berstatus lebih tinggi daripadamu, seseorang yang lebih tua dan telah percaya kepada Tuhan lebih lama, seseorang yang memiliki lebih banyak pengalaman dan kenyataan dalam kepercayaannya kepada Tuhan, dan kemudian engkau tak mampu menghentikan munculnya perasaan rendah dirimu tersebut. Saat perasaan ini muncul, "hidup dengan sangat bebas" yang kaukatakan lenyap, engkau menjadi penakut dan kehilangan keberanian, engkau berpikir bagaimana menyusun kalimatmu, ekspresi wajahmu menjadi tidak wajar, engkau merasa terkekang dalam perkataan dan gerakanmu, dan engkau mulai menyamarkan dirimu. Hal-hal ini dan perwujudan lainnya terjadi karena munculnya perasaan rendah dirimu. Tentu saja, perasaan rendah diri ini bersifat sementara, dan ketika perasaan ini muncul, engkau hanya perlu memeriksa dirimu, mengenalinya, dan tidak dikekang olehnya.
Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.