Lima Syarat yang Harus Kaupenuhi Agar Dapat Masuk ke Jalur yang Benar dalam Kepercayaanmu kepada Tuhan (Bagian Satu)
Ada masalah umum dalam watak rusak manusia, masalah umum yang ada dalam kemanusiaan semua orang, masalah yang paling parah. Masalah umum ini adalah bagian paling fatal dan terlemah dari kemanusiaan mereka, dan dalam esensi natur mereka, ini adalah hal tersulit untuk ditemukan atau diubah. Masalah apakah ini? Masalah ini adalah bahwa manusia selalu ingin menjadi orang yang luar biasa, manusia super, dan orang yang sempurna. Manusia itu sendiri adalah makhluk ciptaan. Mampukah makhluk ciptaan memperoleh kemahakuasaan? Mampukah mereka mencapai kesempurnaan dan keadaan tanpa cela? Mampukah mereka mencapai kemahiran dalam segala sesuatu, memahami segala sesuatu, dan cakap dalam segala sesuatu? Mereka tidak mampu. Namun, di dalam diri manusia, ada watak-watak yang rusak dan kelemahan yang fatal: begitu mereka mempelajari sebuah keterampilan atau profesi, manusia merasa bahwa mereka cakap, bahwa mereka adalah orang-orang yang memiliki status dan nilai, dan bahwa mereka adalah para profesional. Betapa pun tidak istimewanya mereka, mereka semua ingin mengemas diri mereka sebagai tokoh terkenal atau individu luar biasa, mengubah diri mereka menjadi selebritas kecil, dan membuat orang berpikir bahwa mereka sempurna dan tanpa cacat, tanpa kekurangan sedikit pun; di mata orang lain, mereka ingin menjadi terkenal, berkuasa, atau tokoh yang hebat, dan mereka ingin menjadi perkasa, mampu melakukan apa saja, tak satu pun yang tidak mampu mereka lakukan. Mereka merasa bahwa jika mereka mencari bantuan orang lain, mereka akan terlihat tidak mampu, lemah, dan kurang cerdas, serta orang-orang akan memandang rendah mereka. Karena alasan ini, mereka selalu ingin berpura-pura. Beberapa orang, ketika disuruh melakukan sesuatu, berkata mereka tahu bagaimana melakukannya, padahal sebenarnya mereka tidak tahu. Setelah itu, diam-diam, mereka mencari tahu tentang hal tersebut dan mencoba mempelajari bagaimana melakukannya, tetapi setelah mempelajarinya selama beberapa hari, mereka tetap tidak mengerti cara melakukannya. Ketika ditanya sudah sampai di mana mereka dalam pekerjaan itu, mereka berkata, "Segera, segera selesai!" Namun di dalam hati, mereka berpikir, "Itu masih jauh dari selesai, aku sama sekali tidak tahu kapan selesainya, aku tak tahu harus berbuat apa! Aku tak boleh membongkar rahasiaku ini, aku harus terus berpura-pura, aku tak boleh membiarkan orang melihat kekurangan dan kebodohanku, aku tak boleh membiarkan mereka memandang rendah diriku!" Masalah apa ini? Ini adalah kehidupan bagai neraka karena berusaha mempertahankan reputasi dengan segala cara. Watak macam apa ini? Kecongkakan orang semacam itu tidak mengenal batas, mereka telah menjadi sama sekali tidak bernalar. Mereka tidak ingin menjadi seperti orang lain, mereka tidak ingin menjadi orang biasa, orang normal, tetapi ingin menjadi manusia super, orang yang luar biasa, atau orang yang hebat. Ini sebuah masalah besar! Mengenai kelemahan, kekurangan, ketidaktahuan, kebodohan, dan kurangnya pemahaman dalam kemanusiaan yang normal, mereka akan menyembunyikannya rapat-rapat, dan tidak membiarkan orang lain melihatnya, dan kemudian terus menyamarkan diri. Ada orang-orang yang tidak memahami apa pun, tetapi di dalam hatinya tetap mengeklaim bahwa mereka mengerti. Ketika engkau meminta mereka untuk menjelaskannya, mereka tidak mampu. Setelah orang lain menjelaskannya, mereka kemudian mengeklaim bahwa mereka sebenarnya akan mengatakan hal yang sama tetapi tidak mampu menyampaikannya tepat pada waktunya. Mereka melakukan semua yang mereka bisa untuk menyamarkan diri mereka dan berusaha terlihat baik. Bagaimana menurutmu, bukankah orang-orang semacam itu hidup dalam angan-angan? Bukankah mereka sedang bermimpi? Mereka tidak mengenal diri mereka sendiri, mereka juga tidak tahu bagaimana hidup dalam kemanusiaan yang normal. Mereka tidak pernah sekali pun bertindak seperti manusia yang nyata. Jika engkau menjalani hari-harimu dengan hidup dalam angan-angan, bersikap asal-asalan, tidak melakukan apa pun berdasarkan kenyataan, selalu hidup berdasarkan imajinasimu sendiri, maka ini adalah masalah. Jalan dalam kehidupan yang kaupilih itu tidak benar. Jika engkau melakukan hal ini, bagaimanapun engkau percaya kepada Tuhan, engkau tidak akan memahami kebenaran. Terus terang, engkau tidak mampu memperoleh kebenaran, engkau juga tidak akan mampu mendapatkan kebenaran, karena titik awalmu salah. Engkau harus belajar bagaimana berjalan di atas tanah, dan bagaimana berjalan dengan mantap, selangkah demi selangkah. Jika engkau dapat berjalan, berjalanlah; jangan berusaha belajar cara berlari. Jika engkau dapat berjalan selangkah demi selangkah, jangan berusaha untuk berjalan dua langkah sekaligus. Engkau harus bertindak benar dengan menjadi seorang yang realistis. Jangan berusaha untuk menjadi manusia super, hebat, atau mulia. Semua manusia, yang dikuasai oleh watak Iblis mereka, memiliki ambisi dan hasrat tertentu di dalam diri mereka, yang tersembunyi di dalam hati mereka. Mereka tidak ingin hidup di dunia nyata, sebaliknya, mereka selalu ingin terbang ke angkasa, hidup di tengah awan dan kabut. Bukankah mereka sedang bermimpi? Apakah manusia hidup di angkasa? Itu adalah wilayah kekuasaan Iblis, bukan tempat tinggal manusia. Tuhan menciptakan manusia dari debu tanah; Dia membuat manusia hidup di tanah, hidup secara normal dan sesuai dengan aturan, belajar pengetahuan umum tentang bagaimana cara berperilaku, belajar bagaimana cara bertindak, cara hidup, dan cara beribadah kepada Tuhan. Tuhan tidak memberi manusia sayap, dan Dia tidak mengizinkan mereka hidup di angkasa. Yang berkeliaran di angkasa adalah Iblis dan semua jenis roh jahat, bukan manusia. Jika orang selalu berambisi seperti ini, selalu ingin menjadi manusia super, ingin berubah menjadi sesuatu yang lain, maka mereka hanya mencari masalah. Sangat mudah untuk menjadi sangat terobsesi! Pertama-tama, pemikiran dan gagasanmu seperti ini salah. Itu berasal dari Iblis, sepenuhnya di luar kenyataan, sama sekali tidak sesuai dengan tuntutan Tuhan, dan sepenuhnya melampaui firman Tuhan. Jadi, apa yang ada di benak mereka? Mereka selalu ingin terbebas dari kesederhanaan, ingin menjadi luar biasa, menjadi tanpa tandingan, menjadi tak ada bandingan, ingin memamerkan diri sendiri, menjadi terkenal dan hebat, menjadi idola di hati orang—inikah tujuan yang seharusnya orang kejar? Sama sekali bukan. Di antara semua firman Tuhan, tak ada satu pun firman yang menyuruh orang untuk berusaha menjadi manusia super, orang kuat, selebritas, atau orang yang hebat. Tak satu pun dari hal-hal yang orang bayangkan ini nyata, tak satu pun darinya ada. Mengejar hal-hal ini berarti menggali kuburanmu sendiri—makin engkau mengejarnya, makin cepat engkau mati. Ini adalah jalan menuju kehancuran.
Karena Tuhan telah mengucapkan begitu banyak firman, tahukah engkau semua apa tuntutan Tuhan mengenai perilaku orang? (Dia ingin mereka bertingkah laku dengan hati-hati.) (Dia ingin mereka bertingkah laku dan bertindak dengan bijaksana dan nyata, dengan tekun, dan tanpa menarik perhatian.) Meskipun beberapa kata ini sederhana, kebanyakan orang tidak mampu melakukannya; hanya orang jujur yang mampu melakukannya. Sebenarnya, bagaimanapun engkau mengungkapkannya, intinya, Tuhan menuntut orang untuk bersikap jujur. Hanya orang jujur yang mampu berperilaku dengan hati-hati, bertindak dengan bijaksana dan nyata, tidak menarik perhatian, dan tekun, jadi, menjadi orang jujur itu benar, dan Tuhan menyukai orang yang jujur. Tuhan membenci orang yang licik. Mereka yang tidak bertingkah laku dengan hati-hati, yang tidak bertindak dengan bijaksana dan nyata, adalah orang-orang yang curang. Apakah engkau memahami perkataan seperti ini? Jadi, katakan kepada-Ku sekali lagi, selain menuntut orang untuk menjadi orang yang jujur, apa lagikah yang Tuhan tuntut dari mereka? (Mereka perlu merendahkan hati mereka.) Engkau mengatakan "merendahkan hati", tetapi apakah masuk akal menggunakan kata ini untuk menggambarkan orang? (Itu tidak masuk akal.) Mengapa tidak masuk akal? Manusia, yang dirusak oleh Iblis, sejak semula tidak memiliki status; mereka sejak semula lebih kecil dari cacing, jadi bagaimana mereka lebih rendah hati lagi? Jika mereka merendahkan diri mereka lebih jauh, akan menjadi apakah mereka? Bukankah mereka akan menjadi setan-setan, atau binatang buas? Manusia diciptakan oleh Tuhan, dan semua yang Tuhan ciptakan memiliki naluri manusia. Semua orang mampu mencapai hal-hal yang seharusnya mereka miliki, yang semuanya merupakan bagian dari perilaku dan perwujudan normal mereka. Mari kita terlebih dahulu membahas tentang kebahagiaan, kemarahan, kesedihan, dan kegembiraan, beberapa emosi yang orang miliki. Ketika orang berduka atau sedih, perwujudan yang paling umum adalah menangis. Itu adalah perwujudan alami dari kemanusiaan yang normal. Ketika engkau bersedih atau menderita, engkau akan menangis, mengeluarkan air matamu. Jangan berpura-pura. Ada orang-orang yang berkata: "Aku tidak menangis, aku laki-laki yang kuat, dan laki-laki tidak boleh gampang menangis!" Orang lain berkata: "Meskipun aku perempuan, aku tegas. Aku harus kuat seperti laki-laki. Aku akan menjadi pahlawan perempuan, bukan perempuan yang lemah." Apakah pemikiran seperti ini benar? Kemanusiaan macam apakah ini? Ini berpura-pura; ini tidak benar. Kepura-puraan bukanlah perwujudan kemanusiaan yang normal. Sebaliknya, itu adalah penampilan palsu yang ditunjukkan kepada orang lain, yang sepenuhnya memutarbalikkan kemanusiaan yang normal. Jadi, ketika orang mengalami sesuatu yang membuat mereka sedih atau khawatir, ketika mereka mendesah, atau ketika ekspresi mereka relatif serius, atau ketika mereka tidak mau makan, semua hal ini adalah perwujudan dari kemanusiaan yang normal, yang tak seorang pun mampu menyembunyikannya. Ketika orang mengalami sesuatu yang baik, mereka tersenyum, yang juga merupakan perwujudan yang normal. Ada beberapa orang yang tidak berani tertawa terbahak-bahak ketika mereka senang. Mereka selalu menutup mulut untuk menyembunyikan senyum mereka, selalu takut dengan lelucon orang. Apakah itu normal? (Itu tidak normal.) Ini juga kepura-puraan. Mereka mengira bahwa perempuan tidak boleh tertawa di depan umum di hadapan banyak orang, dan mereka terutama tidak boleh menunjukkan gigi mereka, jika tidak, orang akan memandang rendah atau meremehkan mereka, jadi, mereka harus menahan diri mereka, dan mereka tidak boleh sembrono. Ini adalah hasil dari pendidikan budaya tradisional Tionghoa. Dalam diri orang yang merasakan kebahagiaan, kemarahan, kesedihan, dan kegembiraan yang tidak normal, orang lain tidak dapat melihat perwujudan atau kebutuhan kemanusiaan normal mereka. Normalkah orang seperti ini? (Dia tidak normal.) Bukankah ada sesuatu dalam pemikirannya yang menguasainya? Manusia telah sangat dirusak oleh Iblis. Seperti itulah keadaannya. Mereka lebih menyerupai setan-setan daripada manusia. Inilah penampakan mereka yang dikuasai oleh natur Iblis dalam diri mereka. Mereka sangat palsu, dan mereka terlalu banyak berpura-pura. Mengapa orang yang telah percaya kepada Tuhan selama beberapa tahun hampir sama sekali tidak berubah? Di satu sisi, orang tidak memiliki pengetahuan yang benar atau pandangan yang jelas tentang jalan, prinsip, arah, dan tujuan sebagai manusia normal, mereka juga tidak memiliki pandangan yang jelas tentang jalan untuk mengejar kebenaran. Di sisi lain, orang seperti ini bodoh. Meskipun mereka hidup sampai empat puluh atau lima puluh tahun, mereka tidak tahu apa-apa tentang bagaimana menjadi orang yang jujur, atau tuntutan apa yang harus mereka penuhi untuk hidup dalam kemanusiaan yang normal. Hal ini karena budaya tradisional telah mengakar terlalu dalam di hati orang, dan mereka selalu ingin berpura-pura bahwa mereka adalah orang suci dan hebat seperti yang mereka sendiri bayangkan, yang menyebabkan mereka memahami hal-hal dengan cara yang berprasangka, menggelikan, dan aneh. Adakah orang seperti itu di antara engkau semua? Ada orang-orang yang tidak pernah membuka hati mereka kepada orang lain, mereka juga tidak tahu bagaimana mengungkapkan pikiran terdalam mereka. Mereka tampak seolah-olah tidak mengalami kesulitan, seolah-olah mereka tidak pernah bersikap negatif atau lemah, seolah-olah mereka tidak pernah mengalami kesulitan apa pun dalam hal jalan masuk kehidupan mereka. Mereka tidak perlu mencari apa pun, tidak perlu bersekutu dengan orang lain, juga tidak membutuhkan persekutuan, perbekalan, bantuan, atau pertolongan orang lain. Mereka tampak seolah-olah memahami semuanya sendiri, dan mampu menyelesaikan apa pun. Ketika orang bertanya kepada mereka apakah mereka sebelumnya pernah bersikap negatif atau tidak, mereka berkata: "Terkadang aku bersikap negatif, tetapi aku hanya berdoa kepada Tuhan, membulatkan tekadku, dan berjanji, lalu aku baik-baik saja." Orang macam apakah ini? Di luarnya, mungkin tak terlihat banyak orang yang seperti itu, tetapi kenyataannya, ada banyak orang yang berada dalam keadaan seperti ini. Sampai hari ini, orang seperti ini tidak tahu apa yang dimaksud dengan percaya kepada Tuhan. Mereka mengira bahwa percaya kepada Tuhan hanya berarti mengakui Tuhan dan menjadi orang baik, dan suatu hari mereka akan "menjadi makhluk abadi dan mencapai jalan" dan masuk ke dalam kerajaan surga, seperti yang dibicarakan oleh kaum Buddhis tentang terbebas dari keinginan dan nafsu manusia, atau menjadi murni hati dan meredam keinginan. Mereka bekerja dengan tekun dan mengerahkan diri mereka ke arah ini, tetapi inikah yang dimaksud dengan percaya kepada Tuhan? Bahkan sekarang, mereka tidak tahu apa yang dimaksud dengan percaya kepada Tuhan, mereka juga tidak tahu apa yang harus mereka kejar, atau menjadi orang seperti apa mereka seharusnya. Sebanyak apa pun khotbah tentang kebenaran yang mereka dengarkan, tujuan yang mereka kejar tidak berubah, dan sudut pandang mereka tentang percaya kepada Tuhan juga tidak berubah. Ini sangat merepotkan! Jika engkau bahkan tidak memahami apa yang dimaksud dengan percaya kepada Tuhan, mampukah engkau mengenal siapa Tuhanmu? Jika engkau bahkan tidak memahami apa yang dimaksud dengan percaya kepada Tuhan, mampukah engkau mengejar kebenaran? Mampukah orang yang sama sekali tidak memahami visi tentang percaya kepada Tuhan mencintai kebenaran? Mereka yang tidak memahami visi tentang percaya kepada Tuhan adalah mereka yang tidak mampu memperoleh kebenaran. Percuma bertanya kepada orang semacam ini apakah mereka mencintai kebenaran atau tidak; mereka tidak memahami apa yang dimaksud dengan percaya kepada Tuhan atau mengejar kebenaran. Mereka tidak memahami hal-hal ini. Entah mereka telah percaya kepada Tuhan selama tiga atau lima tahun, sepuluh atau delapan tahun, tak seorang pun dari mereka yang memahami kebenaran. Yang mereka ketahui hanyalah bahwa percaya kepada Tuhan berarti menjadi orang yang baik, melakukan hal-hal yang baik, bersikap baik dan murah hati, dan mereka menganggap bahwa ini adalah cara hidup yang terhormat. Bukankah sudut pandang ini terlalu dangkal dan ketinggalan zaman? Hal ini tidak sesuai dan sama sekali tidak berhubungan dengan kebenaran tentang percaya kepada Tuhan. Orang yang telah percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun, tetapi masih memandang masalah kepercayaan kepada Tuhan dari sudut pandang, pemikiran, dan metode orang-orang tidak percaya, kaum Buddhis, dan penganut Tao, yang mengandalkan gagasan dan imajinasi tradisional untuk menempuh jalan kepercayaan kepada Tuhan, yang secara keliru percaya bahwa pemahaman mereka murni, yang mengira bahwa percaya kepada Tuhan dengan cara seperti ini adalah satu-satunya cara untuk mengejar kebenaran—bukankah mereka membohongi diri mereka sendiri?
Orang-orang Tionghoa memiliki latar belakang budaya tradisional Taoisme dan Buddhisme. Karena dikuasai latar belakang sosial tradisional yang kuat ini, sangat sulit bagi orang-orang Tionghoa untuk membebaskan pemikiran mereka dari hal-hal ini, jadi, ketika orang-orang Tionghoa menyebutkan kepercayaan kepada Tuhan, hal pertama yang mereka pikirkan adalah sudut pandang Buddhis dan Tao tentang menjadi vegetarian dan berdoa kepada Buddha, tidak membunuh, memberi sedekah dan berbuat baik, membantu orang lain, tidak menyerang atau membentak orang lain, tidak membunuh atau membakar, menjadi orang baik, dll. Kemudian, berapa lamakah waktu yang dibutuhkan orang untuk menyingkirkan hal-hal ini dan memahami makna sebenarnya dari kepercayaan kepada Tuhan? Kebenaran manakah yang perlu orang kejar agar mereka dapat sepenuhnya mengubah pemikiran dan gagasan yang keliru ini, agar mereka dapat sepenuhnya membuangnya? Hanya dengan benar-benar memahami tuntutan Tuhan dan percaya kepada Tuhan sesuai dengan prinsip kebenaran, barulah orang mampu memasuki jalur yang benar dalam kepercayaan mereka kepada Tuhan; hanya setelah itulah kehidupan kepercayaan mereka kepada Tuhan secara resmi dimulai. Jika orang masih memiliki takhayul feodal di dalam hatinya, atau gagasan, imajinasi, dan peraturan agama tradisional, maka hal-hal yang mereka simpan di dalam hati mereka ini adalah hal-hal yang paling dan sangat dibenci oleh Tuhan. Mereka harus mencari kebenaran, memahami hal-hal ini, lalu sepenuhnya melepaskannya. Hanya orang seperti itulah yang mencintai kebenaran, hanya mereka yang mampu menerima pekerjaan Roh Kudus. Ini sudah pasti. Jika engkau tidak mendasarkan kepercayaanmu kepada Tuhan pada kebenaran firman-Nya, engkau tak akan pernah bisa mendapatkan berkat-berkat-Nya. Begitu orang memasuki jalur yang benar dalam kepercayaan mereka kepada Tuhan, begitu mereka melewati ambang itu, barulah ada perubahan dalam keadaan batin mereka. Pertama, pemikiran dan sudut pandang mereka bukan khayalan, melainkan nyata. Keadaan, pemikiran, dan gagasan mereka tidak hampa, tetapi sesuai dengan kebenaran, semuanya itu sepenuhnya sesuai dengan firman Tuhan. Tujuan dan arah yang mereka kejar bukanlah doktrin, juga bukan hal yang tidak terjangkau atau tidak terlihat, melainkan sesuatu yang positif, yang sesuai dengan tuntutan Tuhan, dan yang diperkenan oleh Tuhan. Seluruh keadaan, pemikiran, dan gagasan mereka semuanya praktis dan nyata. Engkau percaya kepada Tuhan sekarang, jadi di manakah pemikiranmu? Jika pemikiranmu masih melayang di angkasa, tanpa arah yang akurat, jika masih ada banyak pemikiran yang tidak sesuai dengan kenyataan, dan banyak pemikiran doktrin yang hampa, dengan segala macam ide, gagasan, dan imajinasi manusia, maka engkau masih hidup di angkasa imajinasi, dan engkau belum turun ke tanah. Hal ini sangat berbahaya, karena apa yang kaupikirkan, apa yang kaulakukan, dan tujuan yang kaukejar di dalam hatimu tidak bersangkut paut dengan kebenaran tentang kepercayaan kepada Tuhan atau dengan tuntutan Tuhan—semua itu bahkan tidak bersangkut paut sedikit pun. Jadi, atas dasar apakah engkau bertindak? Engkau bertindak berdasarkan pengalaman manusia, berdasarkan falsafah cara berinteraksi manusia, serta hal-hal yang kaupelajari dari masyarakat, dari keluargamu, dan dari segala macam keadaan, dan hal-hal yang kaubayangkan dan kauingat dalam pikiranmu. Sebagai contoh, ketika sesuatu terjadi padamu, engkau bertindak sebagaimana yang kaupikir harus kaulakukan, dan engkau menganggap bahwa melakukan seperti itu sudah sesuai dengan kebenaran, dan apa yang kauanggap benar dan positif adalah kebenaran. Suatu hari, ketika engkau menghadapi masalah atau pemangkasan, barulah engkau akan menyadari bahwa tindakan, pemikiran, dan idemu semuanya adalah imajinasi dan gagasan manusia, yang pada dasarnya tidak sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran. Artinya, sebelum orang secara resmi masuk ke jalur yang benar dalam kepercayaan mereka kepada Tuhan, banyak hal yang mereka lakukan tidak ada kaitannya dengan prinsip-prinsip kebenaran. Semua itu berasal dari pikiran dan imajinasi manusia, atau pilihan, antusiasme, dan kemauan mereka, atau kehendak dan harapan baik mereka, atau bahkan keinginan mereka. Semua hal ini adalah titik awal dan sumber tindakan manusia.
Mengenai keadaan seperti apa yang memampukan orang untuk masuk ke jalur yang benar dalam kepercayaan mereka kepada Tuhan, ada sebuah standar, yaitu mereka harus berada dalam keadaan yang normal ketika mengalami firman Tuhan. Ada orang-orang yang sudah hidup dalam keadaan seperti ini, sementara yang lain belum masuk ke dalamnya, atau terkadang mengalaminya, tetapi setelah beberapa waktu, mereka kembali ke keadaan lama mereka. Keadaan seperti apakah ini? Keadaan ketika, setelah orang melewati periode waktu mengandalkan antusiasme, pilihan, gagasan, dan imajinasi mereka, mereka tiba-tiba menyadari bahwa percaya dengan cara seperti ini tampaknya tidak dapat diterima, bahwa mereka tidak mampu memperoleh kebenaran, dan bahwa percaya dengan cara seperti ini adalah hampa dan tidak nyata. Mereka sadar bahwa mereka selalu merupakan makhluk ciptaan, bahwa mereka seharusnya menjadi makhluk ciptaan yang sejati, dan dengan tulus melaksanakan tugas makhluk ciptaan dengan segenap hati dan kekuatan mereka. Kemudian mereka mulai melakukan sesuatu secara bijaksana dan nyata, dan melaksanakan tugas mereka dengan segenap kesetiaan mereka. Ketika mereka melakukan berbagai hal, mereka mulai merenungkan dan mencari cara bertindak yang sesuai dengan kebenaran, bagaimana memenuhi maksud-maksud Tuhan, dan bagaimana agar diterima oleh Tuhan. Mereka tidak bertindak berdasarkan gagasan, imajinasi, atau preferensi mereka. Hanya pada titik inilah orang memiliki keinginan untuk memuaskan Tuhan dan membalas kasih-Nya. Pada titik ini, mereka mulai mencari kebenaran, mencari maksud-maksud Tuhan, dan mulai memenuhi tuntutan-tuntutan-Nya. Ketika engkau memiliki keinginan seperti ini, ketika engkau berada dalam keadaan normal di dalam hatimu, di satu sisi, engkau berdiri di tempat yang selayaknya dan menjadi makhluk ciptaan sejati. Di sisi lain, yang merupakan hal yang utama, engkau telah benar-benar menerima dari lubuk hatimu bahwa Tuhan adalah Penguasamu dan Tuhanmu, dan engkau telah menerima semua firman Tuhan, dan telah memahami bahwa semua firman itu adalah kebenaran. Engkau juga mampu menerapkan dan mengalami firman Tuhan, dan engkau membuat firman Tuhan menjadi kenyataan hidupmu, yang memungkinkanmu untuk memperoleh kebenaran dan hidup. Ketika engkau memiliki kehendak dan keinginan seperti ini, serta kebutuhan semacam ini, dan engkau menerima firman Tuhan dan tuntutan-Nya terhadapmu, dan memiliki kemauan untuk tunduk kepada Tuhan dan memuaskan-Nya, barulah keadaan hidupmu akan mulai berubah. Mulai dari titik ini, engkau akan menempuh jalur yang benar dalam kepercayaanmu kepada Tuhan.
Firman yang baru saja Kupersekutukan, cukup mudah untuk diringkas, yaitu, begitu orang mulai menyadari bahwa mereka adalah makhluk ciptaan, mereka akan makin berharap bahwa mereka akan menjadi makhluk ciptaan sejati agar dapat memuaskan Tuhan. Pada saat yang sama, orang-orang semacam itu juga akan menerima Tuhan sebagai Penguasa dan Tuhan mereka, dan ingin tunduk kepada semua tuntutan Tuhan serta kedaulatan-Nya. Oleh karena itu, mereka tidak akan lagi bertindak dengan sembrono, dan akan mencari keinginan Tuhan dan mencari prinsip-prinsip kebenaran dalam segala sesuatu yang mereka lakukan. Mereka tidak akan lagi berbuat sesuka mereka atau melakukan segala sesuatu sesuai dengan rencana mereka sendiri. Daripada mengandalkan gagasan pribadi mereka dalam bertindak, mereka akan mulai selalu memikirkan Tuhan dan harapan subjektif mereka adalah untuk memuaskan Tuhan dalam segala aspek, sesuai dengan kebenaran dan memenuhi tuntutan Tuhan dalam tindakan mereka. Orang-orang dengan keadaan semacam itu, tanpa diragukan lagi, telah mulai belajar untuk mencari kebenaran, menerapkan kebenaran, dan masuk ke dalam kenyataan kebenaran. Jika engkau berada dalam keadaan semacam itu dan memiliki keinginan seperti ini, engkau akan secara sangat alami mulai belajar bagaimana mencari maksud-maksud Tuhan dan mulai berusaha untuk tidak mempermalukan nama Tuhan, berusaha memuliakan Tuhan, berusaha takut akan Tuhan, dan memuaskan Tuhan; daripada memuaskan keinginan egoistismu sendiri atau memuaskan orang lain, engkau akan berusaha memuaskan Tuhan. Ketika orang memasuki keadaan seperti ini, mereka sedang hidup di hadirat Tuhan, dan mereka tidak lagi dikendalikan oleh watak rusak mereka. Ketika engkau memasuki keadaan seperti ini, hal-hal yang kaupikirkan dalam keinginan subjektifmu adalah hal-hal positif. Meskipun engkau terkadang memperlihatkan watak yang rusak, engkau akan menyadarinya, dan engkau akan mampu merenungkan dirimu, serta mencari kebenaran untuk menyelesaikannya. Dengan demikian, meskipun engkau masih memiliki watak yang rusak, watak rusakmu tak akan mampu lagi mengarahkan segalanya, dan tak akan mengendalikanmu. Pada saat ini, bukankah kebenaran firman Tuhan berdaulat dalam dirimu? Bukankah engkau sedang hidup dalam firman Tuhan? Mampukah engkau semua membiarkan kebenaran berkuasa di dalam hatimu? Hal ini tergantung pada apakah engkau memiliki keinginan untuk mengejar kebenaran atau tidak. Jika orang dengan jelas memahami banyak kebenaran, maka kebenaran dengan sendirinya akan berkuasa di dalam hati mereka. Jika mereka tidak memahami banyak tentang kebenaran, atau mereka memiliki terlalu banyak racun Iblis, maka mereka tak akan mampu menjadikan kebenaran sebagai yang berkuasa di dalam hati mereka. Ada banyak orang yang bersedia menerapkan kebenaran, tetapi ketika sesuatu menimpa mereka, mereka tanpa sadar memamerkan diri, mengejar ketenaran, keuntungan, dan status, tak mampu mengekang atau mengendalikan diri mereka, dan mereka memperlihatkan watak rusak mereka tanpa terkendali. Keadaan seperti apakah ini? Orang berada dalam keadaan ini karena mereka memahami terlalu sedikit tentang kebenaran, karena tingkat pertumbuhan mereka terlalu rendah, dan mereka tak mampu mengalahkan daging atau pengaruh Iblis. Sangat sulit bagi orang seperti ini untuk membiarkan kebenaran berkuasa di dalam hati mereka. Jadi, mengejar kebenaran bukanlah hal yang mudah, dan bahkan tanpa pengalaman beberapa tahun, sangat sulit untuk menyelesaikan masalah watak yang rusak. Sebagai contoh, ada orang-orang yang sangat licik dan suka menipu, mereka tidak pernah mengungkapkan pikiran terdalam mereka yang sebenarnya, dan mereka bahkan tak dapat mengatakan satu kata pun yang benar. Apa pun yang mereka bahas atau sebanyak apa pun perkataan yang mereka ucapkan, mereka tidak berbicara dengan jelas, selalu berputar-putar, dan mereka tak mampu mengendalikan diri mereka sendiri. Di hadapan watak rusak mereka, dan di hadapan esensi natur Iblis yang menjijikkan dalam diri mereka, orang terlihat begitu tak berarti, lemah, tak berkuasa, dan sama sekali tak berdaya, sehingga mereka sering berbuat dosa, melakukan kesalahan, dan bersikap negatif. Apa yang sedang terjadi di sini? (Mereka belum menempuh jalur yang benar dalam kepercayaan mereka kepada Tuhan.) Mereka belum menempuh jalur yang benar dalam kepercayaan mereka kepada Tuhan, dan apa yang dimaksud dengan hal itu? (Mereka belum memahami bahwa mereka adalah makhluk ciptaan, dan mereka tidak mau memuaskan Tuhan atau tunduk kepada-Nya.) Inilah akibatnya jika orang tidak mengejar kebenaran. Engkau semua berada dalam situasi seperti ini, jadi, dapatkah engkau menganggap bahwa engkau belum mulai masuk ke dalam kenyataan kebenaran? (Ya.) Dapatkah orang yang belum masuk ke dalam kenyataan kebenaran dianggap telah memperoleh kebenaran? (Tidak.) Apakah orang yang belum memperoleh kebenaran memiliki kebenaran di dalam hati mereka? (Tidak.) Tanpa memiliki kebenaran, bukankah orang akan bertindak berdasarkan watak rusak mereka? Jadi, agar dapat melakukan beberapa hal positif saat orang melaksanakan tugasnya, apa yang harus orang miliki? Bukankah mereka harus memahami kebenaran? Jika orang tak mampu menerapkan kebenaran saat mereka melaksanakan tugasnya, sebaliknya hanya tahu bagaimana bertindak sekehendak mereka sendiri, kualitas seperti apakah itu? Bukankah itu berarti berjerih payah? Ini setara dengan Tuhan mempekerjakan orang tidak percaya untuk berjerih payah bagi-Nya. Jika engkau tidak mengejar kebenaran atau masuk ke dalam kenyataan kebenaran, engkau sedang berjerih payah. Menurutmu, maukah Tuhan melihat orang yang ingin Dia selamatkan sekadar berjerih payah bagi-Nya, tanpa melakukan penerapan sesuai dengan firman-Nya untuk memperoleh keselamatan? (Dia tidak mau.) Mengapa Dia tidak mau? (Tuhan menciptakan manusia agar Dia dapat memperoleh mereka.) Benar, Tuhan menciptakan manusia untuk mewujudkan diri-Nya, dan terlebih lagi untuk memperoleh mereka. Mengapa Tuhan tidak puas jika orang hanya berjerih payah bagi-Nya? (Karena tindakan orang bukanlah yang Tuhan inginkan.) Jadi, apa yang Tuhan inginkan? (Tuhan menginginkan ketulusan orang.) Bukankah berjerih payah bagi Tuhan adalah ketulusan itu sendiri? Entah jerih payah yang kaulakukan itu murni dan tulus atau tidak, jika engkau tidak mengejar kebenaran, maka meskipun engkau berjerih payah seumur hidupmu, engkau tidak akan memperoleh kebenaran. Jika engkau tidak memperoleh kebenaran, itu berarti engkau tidak memperoleh Tuhan, dan Tuhan tidak memperoleh dirimu, jadi jerih payahmu itu tidak ada nilainya atau tidak bermakna. Sekalipun engkau berjerih payah selama bertahun-tahun, jika engkau tidak mengejar kebenaran, Tuhan tidak akan memperoleh dirimu, yang berarti engkau masih menentang Tuhan. Siapa yang menyebabkan ini? Ini disebabkan karena orang itu sendiri tidak berusaha keras untuk bekerja sama, karena orang itu sendiri tidak mengejar kebenaran; itu saja yang menjadi sumber penyebabnya. Dari sisi kenyataannya, apa artinya Tuhan tidak memperoleh seseorang? Itu artinya orang tersebut selalu memiliki niat sendiri saat melaksanakan tugasnya, dan dia tidak mempersembahkan hatinya kepada Tuhan, sehingga hatinya tidak berpaling kepada-Nya, dan hatinya bukanlah untuk Tuhan. Dia tidak memikirkan maksud-maksud-Nya, apalagi berusaha memuaskan Dia dengan melaksanakan tugasnya. Penjelasan yang paling sederhana adalah orang ini tidak tulus terhadap Tuhan, sehingga sama sekali tidak ada harapan baginya. Tuhan memeriksa manusia untuk melihat apakah mereka dengan tulus percaya kepada-Nya atau tidak; Dia menginginkan ketulusan mereka. Apa yang dimaksud dengan tulus? (Memiliki hati yang berpaling kepada Tuhan, hati yang tunduk kepada Tuhan.) Benar. Jika orang tidak memiliki hati yang berpaling kepada Tuhan, hati yang tunduk kepada-Nya, dapatkah mereka disebut orang yang baik? Dapatkah Tuhan menyukai orang seperti itu? Mampukah orang yang tidak sepikiran dengan Tuhan menerapkan kebenaran? Apakah engkau semua memiliki hati yang tunduk kepada Tuhan? Mampukah engkau berpihak kepada Tuhan dalam segala hal? Apakah hatimu berpaling kepada Tuhan? Menganggapmu sama sekali tidak memiliki ketulusan tentunya tidak adil bagimu, tetapi menganggapmu benar-benar membenci Iblis, benar-benar mampu memberontak terhadap Iblis dan sepenuhnya berpaling kepada Tuhan, tentunya juga tidak benar. Ini menuntutmu untuk memiliki hati yang tunduk kepada Tuhan, menuntutmu untuk mengejar kebenaran, dan memahami lebih banyak kebenaran. Hati seperti apa yang Tuhan ingin orang miliki? Pertama-tama, hati ini harus jujur, dan orang harus mampu melaksanakan tugas mereka dengan sungguh-sungguh, dengan praktis dan realistis, mampu menjunjung tinggi pekerjaan gereja, tidak lagi memiliki apa yang disebut "ambisi besar" atau "tujuan yang muluk-muluk". Setiap langkah meninggalkan jejak ketika mereka mengikuti dan menyembah Tuhan, mereka berperilaku sebagai makhluk ciptaan; mereka tidak lagi berusaha menjadi orang yang luar biasa atau hebat, apalagi seseorang dengan kekuatan khusus, dan mereka tidak menyembah makhluk ciptaan dari planet yang asing. Selain itu, hati ini harus mencintai kebenaran. Apa yang terutama dimaksud dengan mencintai kebenaran? Itu berarti mencintai hal-hal yang positif, memiliki rasa keadilan, mampu mengorbankan dirimu dengan tulus untuk Tuhan, benar-benar mengasihi-Nya, tunduk kepada-Nya, dan bersaksi bagi-Nya. Tentu saja, engkau hanya mampu mencapai hal-hal ini setelah engkau memahami kebenaran. Orang yang memiliki hati seperti ini adalah orang yang memiliki kemanusiaan yang normal. Orang yang memiliki kemanusiaan yang normal setidaknya harus memiliki hati nurani dan nalar. Bagaimana cara mengetahui apakah seseorang itu memiliki hati nurani dan nalar? Jika ujaran dan tindakan mereka pada dasarnya sesuai dengan standar hati nurani dan nalar, maka dari sudut pandang manusia, mereka adalah orang yang baik, dan mereka adalah orang yang mencapai standar yang dapat diterima. Jika mereka juga mampu memahami kebenaran dan bertindak sesuai dengan prinsip kebenaran, maka mereka memenuhi tuntutan Tuhan, yang lebih tinggi daripada standar hati nurani dan nalar. Ada orang-orang yang berkata: "Manusia diciptakan oleh Tuhan. Tuhan memberi kita napas kehidupan, dan Tuhanlah yang membekali kita, memelihara kita, dan menuntun kita untuk bertumbuh dewasa. Orang yang berhati nurani dan bernalar tidak boleh hidup untuk dirinya sendiri atau untuk Iblis; mereka harus hidup untuk Tuhan, dan melaksanakan tugas mereka." Ini benar, tetapi ini hanyalah kerangka yang luas, hanyalah sebuah sketsa. Mengenai detail bagaimana hidup untuk Tuhan secara nyata, ini melibatkan hati nurani dan nalar. Jadi, bagaimana orang hidup bagi Tuhan? (Melaksanakan dengan baik tugas yang sudah seharusnya dilaksanakan oleh makhluk ciptaan.) Benar. Saat ini, satu-satunya yang harus kaulakukan adalah melaksanakan tugas manusia, tetapi pada kenyataannya, untuk siapa engkau melakukannya? (Untuk Tuhan.) Itu adalah untuk Tuhan, itu adalah kerja sama dengan Tuhan! Amanat yang telah Tuhan berikan kepadamu adalah tugasmu. Itu sudah ditakdirkan, ditentukan sebelumnya, dan diatur oleh-Nya, atau dengan kata lain, Tuhanlah yang memberikan tugas ini kepadamu, dan ingin agar engkau menyelesaikannya. Jadi, apa yang harus kaulakukan agar mampu mengandalkan hati nuranimu untuk melaksanakan dan menyelesaikan tugasmu dengan baik? (Kami harus mengerahkan segenap upaya kami.) Engkau harus mengerahkan segenap upayamu, yang merupakan perwujudanmu saat engkau mengandalkan hati nuranimu. Selain itu, engkau harus mencurahkan segenap hatimu dan memenuhi tanggung jawabmu—jangan asal-asalan. Tuhan memiliki harapan-Nya terhadap kita dan Dia telah membayar harga yang begitu mahal untuk kita. Jika kita sadar bahwa Tuhan telah menentukan sebelumnya bahwa kita harus memenuhi tanggung jawab ini dan melaksanakan tugas ini, kita tidak boleh membuat-Nya berduka, mengecewakan Dia, atau membuat Dia sedih. Kita harus melaksanakan tugas kita dengan baik, dan memberi Tuhan jawaban yang sempurna dan memuaskan. Kita harus mengandalkan Tuhan ketika menghadapi sesuatu yang tak mampu kita lakukan, kita harus belajar lebih banyak tentang profesi kita, dan mencari lebih banyak prinsip kebenaran. Tuhan menganugerahkan hidup ini kepada kita, jadi kita harus melaksanakan tugas kita dengan baik; untuk setiap hari kita hidup, kita harus melaksanakan tugas hari itu dengan baik. Kita harus menjadikan apa yang Tuhan percayakan kepada kita sebagai misi utama kita, mengutamakan pelaksanaan tugas kita dalam hidup kita agar dapat menyelesaikannya dengan baik. Meskipun kita tidak mengejar kesempurnaan, kita dapat berusaha untuk memperoleh kebenaran, dan bertindak berdasarkan firman Tuhan dan prinsip kebenaran, sehingga kita mampu memuaskan Tuhan, mempermalukan Iblis, dan tidak menyesal. Inilah sikap yang harus dimiliki oleh orang yang percaya kepada Tuhan terhadap tugas mereka. Setelah engkau hidup selama empat puluh atau lima puluh tahun—atau bahkan tujuh puluh atau delapan puluh tahun—ketika engkau menelusuri kembali hal-hal yang kaulakukan saat engkau masih muda dan belum memahami banyak hal, engkau akan melihat bahwa meskipun usiamu belum terlalu lanjut pada saat itu, engkau telah melakukan segalanya dengan segenap hati dan kekuatanmu; engkau selalu bertindak berdasarkan hati nuranimu, engkau tidak mendukakan hati Tuhan, engkau tidak mengecewakan-Nya atau membuat-Nya sedih, dan di dalam hatimu engkau menerima pengawasan dan pemeriksaan Tuhan. Ketika semua ini tercapai dan engkau menyerahkan ujianmu yang telah kauselesaikan kepada Tuhan, Tuhan akan berkata: "Meskipun engkau tidak melakukan pekerjaan dengan luar biasa, dan hasilmu biasa-biasa saja, engkau telah mengerahkan segenap kekuatanmu, dan engkau tidak mengabaikan tugasmu." Bukankah ini berarti engkau telah bertindak berdasarkan hati nuranimu? Jadi, jika orang sering memperlihatkan kerusakan, memiliki pilihan, keinginan, dan kesukaan mereka sendiri, bahkan sampai mereka benar-benar melanggar standar hati nurani mereka, dan kehilangan kemanusiaan normal mereka, apa yang harus dilakukan? Engkau harus berdoa kepada Tuhan dan memberontak terhadap dirimu sendiri, engkau tidak boleh membiarkan hal-hal itu mengekangmu atau mengendalikan hati nurani dan nalarmu. Ketika hati nuranimu mampu mengarahkan tindakanmu, penghidupanmu, dan hidupmu, maka akan mudah bagimu untuk menaklukkan keinginan daging yang egoistis, dan engkau akan mampu memperoleh aspek kebenaran ini. Inilah hal yang setidaknya harus kaumiliki. Mengenai hati manusia seperti apa yang Tuhan inginkan, berapa banyak aspek yang baru saja Kubahas? (Tiga aspek: hati yang jujur, hati yang mencintai kebenaran, dan memiliki hati nurani dan nalar.) Di dalam hati yang jujur dan hati yang mencintai kebenaran terdapat beberapa detail lagi, engkau semua harus merenungkan hal ini dan merangkumnya nanti. Setidaknya, yang harus orang miliki adalah hati nurani dan nalar yang sudah seharusnya dimiliki orang dengan kemanusiaan yang normal. Jika orang tidak memiliki hati nurani atau nalar, mereka akan kehilangan kemanusiaan normal mereka, mereka tak akan mampu melakukan apa pun dengan baik, mereka tak akan mampu mencapai apa pun, dan pada akhirnya mereka akan gagal total. Namun, jika mereka hanya memiliki hati nurani dan nalar, jika mereka hidup berdasarkan hati nurani mereka dan tidak melakukan kejahatan apa pun, apakah ini berarti mereka mampu masuk ke jalur yang benar dalam kepercayaan mereka kepada Tuhan? Mampukah mereka memperoleh perkenanan Tuhan dengan hidup berdasarkan hati nurani dan nalar mereka semata? Sama sekali tidak mampu.
Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.