Watak yang Rusak Hanya Dapat Diselesaikan dengan Menerima Kebenaran (Bagian Dua)
Proses yang orang-orang alami dalam memperoleh kebenaran adalah seperti proses yang dialami pejuang pemberani yang melangkah ke medan perang, siap bertempur melawan segala macam musuh kapan pun. Musuh dari mereka yang mengejar kebenaran adalah berbagai watak rusak Iblis dalam diri mereka. Orang-orang ini berjuang melawan daging mereka yang rusak; pada dasarnya, mereka sedang berperang melawan Iblis. Dan senjata apa yang digunakan untuk bertempur melawan Iblis? Tentu saja, senjatanya adalah kebenaran, yaitu mengikuti firman Tuhan. Untuk mengalahkan Iblis, aspek kebenaran apa yang harus diterapkan terlebih dahulu? Orang harus terlebih dahulu tunduk kepada Tuhan, tunduk pada firman-Nya, dan tunduk pada kebenaran. Ini adalah pelajaran yang harus terlebih dahulu orang masuki ketika berperang melawan Iblis. Jika engkau tidak mampu menerima sesuatu yang menimpamu dari Tuhan, engkau tak akan mampu tunduk di hadirat Tuhan, dan karena itu engkau tak akan mampu menenangkan diri di hadirat Tuhan untuk berdoa atau mencari kebenaran. Jika engkau tidak dapat berdoa kepada Tuhan atau mencari kebenaran, engkau tidak akan memahami kebenaran, atau mengapa Tuhan akan menempatkanmu dalam berbagai situasi, dengan orang-orang, peristiwa, dan hal-hal seperti itu—engkau akan terperosok dalam kebingungan. Jika engkau tidak mampu mencari kebenaran, engkau tak akan mampu mengalahkan watak rusakmu. Hanya dengan mengalahkan watak rusak dan daging rusakmu, barulah engkau dapat mempermalukan Iblis dan setan dari alam roh. Memerangi Iblis sebagian besar bergantung pada pencarian kebenaran; jika engkau tidak memahami kebenaran, maka masalah atau gagasan apa pun yang muncul dalam dirimu bisa membuatmu menjadi lemah dan negatif. Jika penyingkapan watak rusakmu tak pernah dibereskan, kemungkinan besar engkau akan jatuh dan gagal, dan akan sulit bagimu untuk bangun kembali. Ada orang yang tersandung saat menghadapi pencobaan, ada yang menjadi negatif saat menderita penyakit parah, dan ada yang jatuh tersungkur saat menghadapi ujian. Inilah akibatnya jika orang tidak pernah mengejar kebenaran, dan tidak mencari kebenaran untuk membereskan watak rusak yang diperlihatkannya. Apa pendapatmu: Apakah watak Iblis menyebabkan banyak masalah bagi manusia? (Ya.) Berapa banyak masalah? (Watak Iblis menghalangi orang untuk datang ke hadirat Tuhan, dan membuat mereka tak mampu tunduk kepada Tuhan.) Jika orang tak mampu tunduk kepada Tuhan, berdasarkan apa mereka akan hidup? (Mereka akan hidup berdasarkan watak rusak Iblis dalam diri mereka.) Jika orang hidup berdasarkan watak rusak Iblis dalam dirinya, dia akan sering mengungkapkan gagasan tertentu dan bersikap gampang marah. Sebagai contoh, jika engkau melakukan kesalahan dan seorang saudara atau saudari menyingkapkanmu atau memangkasmu, bagaimana engkau harus tunduk kepada Tuhan dan mencari kebenaran? Ada pelajaran yang bisa dipetik di sini. Mungkin engkau mulai merenungkan hal ini dengan berpikir: "Orang itu selalu memandang rendah diriku, dan kali ini dia menemukan sesuatu yang dapat digunakannya untuk melawanku. Dia menargetkanku, jadi aku tidak akan bersikap lunak. Jangan coba cari gara-gara denganku!" Bukankah ini sikap yang gampang marah? (Ya.) Bagaimana sikap yang gampang marah itu? (Itulah ketika watak Iblis orang langsung meledak bila kepentingannya dirugikan atau ketenaran, keuntungan, dan statusnya diganggu, sehingga dia mengatakan sesuatu atau melakukan sesuatu tanpa berpikir panjang. Itulah pemahamanku tentang apa yang dimaksud dengan sikap yang gampang marah.) Pemahaman seperti itu pada dasarnya benar. Siapa yang bisa menambahkannya? (Ketika sesuatu menimpa orang, dia tidak mencari kebenaran, tetapi melampiaskan hal-hal yang secara alami ada di dalam dirinya, itu adalah sikap yang gampang marah.) Ungkapan "secara alami" yang dia gunakan sangat cocok. Setelah manusia dirusak oleh Iblis, saat wataknya yang paling alami, paling primitif yang berasal dari sumbernya tersingkap, itulah yang disebut dengan sikap yang gampang marah. Ini adalah sesuatu yang orang perlihatkan begitu saja tanpa melalui pemikiran, tanpa pemrosesan mental, perenungan, atau pengemasan, tetapi keluar begitu saja. Itulah sikap yang gampang marah. Sikap yang gampang marah adalah sifat yang diperlihatkan orang yang hidup berdasarkan watak rusaknya. Jadi, mengapa hal-hal yang secara alami tersingkap dari natur manusia tidak sejalan dengan kebenaran? Mengapa orang memperlihatkan sikap yang gampang marah? Apa alasannya? Itu disebabkan oleh natur Iblis manusia. Sikap yang gampang marah termasuk watak bawaan manusia. Ketika kepentingan, keangkuhan, atau harga diri orang dirugikan, jika dia tidak memahami kebenaran atau tidak memiliki kenyataan kebenaran, dia akan membiarkan watak rusaknya menentukan perlakuannya atas kerugian itu, sehingga dia akan bertindak tanpa berpikir panjang dan gegabah. Kemudian, yang dia wujudkan dan perlihatkan adalah sikap yang gampang marah. Apakah sikap yang gampang marah itu hal yang positif atau negatif? Jelas, sifat itu adalah hal yang negatif. Bukanlah hal yang baik bagi orang untuk hidup berdasarkan sikap yang gampang marah; sifat itu cenderung menyebabkan bencana. Jika sikap yang gampang marah dan kerusakan orang tersingkap ketika sesuatu menimpa dirinya, apakah dia adalah orang yang mencari kebenaran dan tunduk kepada Tuhan? Jelas, orang seperti itu tidak tunduk kepada Tuhan. Mengenai berbagai orang, peristiwa, hal, dan lingkungan yang Tuhan atur bagi manusia, jika orang tidak mampu menerima bahwa semua itu adalah dari Tuhan, tetapi menangani dan menyelesaikannya dengan cara manusia, apa akibatnya pada akhirnya? (Tuhan akan membenci dan menolak orang itu.) Tuhan akan muak terhadap orang tersebut, jadi apakah bersikap seperti itu akan mendidik kerohanian orang? (Tidak.) Dia tidak hanya akan merugikan kehidupannya sendiri, tetapi juga tidak akan mendidik kerohanian orang lain. Lebih dari itu, dia akan mempermalukan Tuhan dan membuat Tuhan membenci dan menolaknya. Orang seperti itu telah kehilangan kesaksiannya dan tidak diterima di mana pun dia berada. Jika engkau adalah anggota rumah Tuhan, tetapi engkau selalu pemarah dalam tindakanmu, selalu memperlihatkan apa yang secara alami ada dalam dirimu, dan selalu memperlihatkan watak rusakmu, melakukan segala sesuatu dengan cara manusia dan berdasarkan watak rusak Iblis dalam dirimu, akibatnya adalah engkau akan berbuat jahat dan menentang Tuhan—dan jika selama itu engkau tetap tidak bertobat dan tidak mampu menempuh jalan mengejar kebenaran, engkau pasti akan disingkapkan dan disingkirkan. Bukankah hidup dengan mengandalkan watak Iblis dan tidak mencari kebenaran untuk membereskannya merupakan masalah yang serius? Di satu sisi, orang tidak bertumbuh atau berubah dalam hidupnya sendiri; di sisi lain, orang akan membawa pengaruh buruk terhadap orang lain. Dia tidak akan membawa pengaruh yang baik di dalam gereja, dan pada waktunya, dia akan menimbulkan masalah besar bagi gereja dan umat pilihan Tuhan, seperti lalat busuk yang terbang kian kemari di atas meja makan, menimbulkan rasa jijik dan muak. Apakah engkau semua ingin menjadi orang seperti ini? (Tidak.) Jika demikian, bagaimana engkau harus bertindak untuk menyenangkan Tuhan, dan mendidik kerohanian orang lain? Watak rusak apa pun yang telah kauperlihatkan, engkau harus terlebih dahulu menenangkan dirimu, bergegas ke hadapan Tuhan dalam doa, dan mencari kebenaran untuk membereskannya. Engkau sama sekali tidak boleh terus memperlihatkan kerusakan dengan mengikuti kemauanmu sendiri dan sikapmu yang gampang marah. Di setiap detik, setiap menit, dan setiap hari dalam hidupmu, apa pun yang kaulakukan dan pikirkan, Tuhan memeriksa dan memperhatikanmu. Apa yang Tuhan amati? (Apa yang orang pikirkan dan bagaimana reaksinya ketika menghadapi orang, peristiwa, atau hal-hal yang telah Tuhan atur bagi dirinya.) Benar, dan apa tujuan Tuhan dalam mengamati hal-hal ini? (Untuk melihat apakah orang ini adalah orang yang takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan.) Itu adalah sebagian alasannya. Apa alasan utamanya? Renungkan hal ini dengan saksama. (Untuk melihat apakah orang itu memiliki hati untuk mencari kebenaran dan tunduk kepada Tuhan.) Entah itu mengenai takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan, atau mencari kebenaran dan memiliki hati yang tunduk kepada Tuhan, semua ini menyangkut pertanyaan tentang jalan mana yang telah orang pilih untuk ditempuhnya. Mengapa Tuhan selalu memeriksa manusia? Ini bertujuan untuk melihat jalan seperti apa yang kautempuh, apa tujuan dan arah hidupmu, apakah engkau telah memilih jalan mengejar kebenaran atau jalan orang Farisi yang munafik. Ini bertujuan untuk melihat jalan mana yang sebenarnya sedang kautempuh. Jika engkau telah memilih jalan yang benar, Tuhan akan membimbingmu, mencerahkanmu, membekalimu, dan mendukungmu. Jika engkau telah memilih jalan yang salah, itu menunjukkan bahwa engkau telah benar-benar berpaling dari Tuhan, sehingga Dia tentu saja akan meninggalkanmu.
Ada orang-orang yang selalu mengkhotbahkan kata-kata dan doktrin dan melanggar prinsip kebenaran dalam segala hal yang mereka lakukan, bahkan melakukan hal-hal yang merugikan kepentingan rumah Tuhan, tetapi mengapa mereka tidak didisiplinkan atau ditegur? Sebagian orang tak mampu memahami masalah ini. Kuberitahukan kepada engkau semua bahwa Tuhan sudah menganggap orang-orang seperti ini tidak ada harapan. Seberapa pun lamanya orang telah percaya kepada Tuhan, jika Tuhan memutuskan untuk meninggalkan orang ini, maka itu adalah masalah yang sangat serius! Apa yang menjadi maksud dan keinginan Tuhan, tentang jenis jalan yang Dia harapkan orang-orang akan tempuh? Ketika Tuhan menempatkan orang-orang dalam situasi tertentu, apakah Dia berharap mereka akan tunduk atau memberontak? Apakah Dia berharap bahwa mereka akan mencari dan memperoleh kebenaran, atau mengabaikannya dan berhenti sampai di situ? Bagaimana sikap Tuhan terhadap hal ini? Apa yang Dia harapkan dari orang-orang? Dia berharap agar mereka mampu tunduk dan secara aktif bekerja sama dalam pekerjaan-Nya, tanpa menjadi negatif, bermalas-malasan, atau mengabaikannya. Ada orang yang suam-suam kuku dalam tugasnya: Ketika dia diberi tugas, dia akan melakukannya sesuai keinginannya, tetapi dia tidak akan mencari kebenaran atau maksud Tuhan. Dia merasa tidak ada yang salah dengan sikap seperti ini—karena dia tidak melanggar ketetapan administratif apa pun, tidak menyinggung watak Tuhan, tidak mengacaukan atau mengganggu pekerjaan gereja, dan dia tetap melaksanakan tugasnya, dia merasa bahwa dia tidak akan dihukum. Apa pendapatmu tentang sikap seperti ini? (Sikap seperti itu tidak baik. Itu adalah sikap negatif, pasif, suam-suam kuku, yang Tuhan benci.) Apa yang dimaksud dengan sikap suam-suam kuku? Mengapa Tuhan membenci sikap tersebut? Apa esensi dari sikap seperti ini? (Aku bisa membagikan sedikit pengalamanku tentang hal ini. Ketika melaksanakan tugasku baru-baru ini, aku mengikuti keinginanku sendiri dan melanggar prinsip. Setelah dipangkas, aku tidak merenungkan diriku, dan aku salah memahami Tuhan dan bersikap waspada terhadap-Nya. Hatiku tertutup bagi Tuhan, aku tidak ingin mendekat kepada-Nya, dan aku tidak berdoa kepada-Nya. Sikapku suam-suam kuku, dan sikap itu membuatku menjadi negatif, pasif, dan sengsara selama itu. Karena setelah hatiku tertutup bagi Tuhan, seolah-olah pilar terpenting dalam hidupku telah roboh dan aku merasa sengsara. Di luarnya, aku terlihat melaksanakan tugasku tanpa terang-terangan menunjukkan perilaku yang memberontak, tetapi aku tidak menerima pencerahan dari Roh Kudus dan aku tidak memiliki pola pikir dalam bekerja sama secara aktif dengan Tuhan. Tetap bersikap suam-suam kuku, negatif, dan tak termotivasi ini sama saja dengan membunuh diriku sendiri secara perlahan. Orang yang berpaling dari Tuhan adalah seperti pohon yang akarnya sudah mati. Setelah suplai kehidupan terputus, dahan dan daun berangsur layu sampai seluruh pohon mati.) Penjelasannya sangat bagus. Mungkin sebagian besar orang berada dalam keadaan seperti ini: Mereka melakukan apa pun yang diminta dari mereka, tanpa menimbulkan masalah, atau melakukan kejahatan, ataupun mengganggu hal apa pun—mereka hanya suam-suam kuku. Mengapa Tuhan membenci sikap seperti ini? Apa esensi yang ditunjukkan oleh sikap seperti itu? Esensi sikap itu adalah negatif, menentang, dan menolak kebenaran. Apakah menurutmu, Tuhan yang terlebih dahulu meninggalkan orang-orang, atau orang-orang yang terlebih dahulu meninggalkan Tuhan? (Orang-orang yang terlebih dahulu meninggalkan Tuhan.) Jika engkau terlebih dahulu meninggalkan Tuhan, hatimu menjadi tertutup bagi Tuhan, yang merupakan masalah serius. "Tertutup" adalah salah satu cara untuk menggambarkannya. Yang sebenarnya terjadi adalah orang menutup hatinya, tidak menerima Tuhan di dalam hatinya, yang berarti: "Aku tidak lagi menginginkan-Mu. Aku memutuskan semua hubunganku dengan-Mu, dan menghentikan semua hubungan di antara kita." Jika makhluk ciptaan bersikap seperti ini terhadap Penciptanya, bagaimana Tuhan menangani hal ini? Bagaimana sikap Tuhan? Ketika Tuhan melihat orang-orang dalam keadaan seperti itu, apakah Dia merasa senang, benci, atau sedih? Pertama, Dia merasa sedih. Ketika Dia melihat orang-orang menjadi terlalu mati rasa dan sama sekali tidak mau menerima kebenaran, Tuhan merasa kecewa, lalu Dia membenci mereka. Ketika hati seseorang tertutup bagi Tuhan, apa yang akan Tuhan lakukan? (Tuhan akan mengatur beberapa situasi yang memungkinkan orang tersebut untuk memahami maksud-Nya dan membuka hatinya kepada Tuhan.) Ya, ini adalah salah satu tindakan aktif Tuhan, Dia terkadang melakukan hal-hal seperti itu, tetapi terkadang tidak. Terkadang, Dia akan menyembunyikan wajah-Nya dan menunggu waktu-Nya, menunggumu untuk membuka hatimu kepada-Nya. Setelah engkau menerima Dia ke dalam hatimu dan engkau mampu menerima kebenaran, Dia akan terus berbelas kasihan kepadamu dan mencerahkanmu. Namun, pada umumnya, jika engkau bersikap seperti ini, dengan hatimu sepenuhnya tertutup bagi Tuhan, memutuskan hubungan normalmu dengan Tuhan, menolak semua hubungan dengan-Nya, berarti engkau menolak kedaulatan Tuhan atas dirimu dan menolak bimbingan-Nya. Ini sama saja dengan menolak Dia sebagai Tuhanmu, dan tidak menginginkan Dia menjadi Tuhanmu. Jika engkau menolak Dia sebagai Sang Pencipta dan Tuhanmu, masih bisakah Dia bekerja dalam dirimu? (Tidak.) Dengan demikian, Dia hanya bisa meninggalkanmu. Hanya setelah engkau memahami apa yang telah terjadi, dan menyadari bahwa engkau telah menempuh jalan yang salah, serta menyadari dirimu untuk bertobat, barulah Tuhan mulai kembali bekerja dalam dirimu. Jadi, ketika Tuhan melihat sikap suam-suam kuku seperti ini, Dia pasti tidak akan bekerja, Dia akan mengesampingkan orang-orang seperti ini. Apakah engkau semua memiliki pengalaman seperti ini? Apakah kondisi seperti ini akan terasa damai dan menggembirakan, atau tak tertahankan dan sengsara? (Tak tertahankan dan sengsara.) Seberapa sengsara? (Kondisi itu seperti menjadi mayat berjalan. Sama seperti binatang buas yang hidup tanpa pikiran dan tanpa jiwa.) Jika Tuhan tidak berada di dalam hati seseorang, maka hatinya akan terasa hampa; itu sama seperti orang yang tidak memiliki roh. Bukankah itu berarti bahwa dia telah menjadi orang mati tanpa roh? Betapa mengerikan! Seseorang bisa mengkhianati Tuhan di mana pun dan kapan pun. Dengan sedikit kecerobohan, dia bisa saja menyangkal Tuhan di dalam hatinya, dan setelah itu kondisi orang itu pun langsung berubah: Keadaan rohnya langsung merosot, dia tidak lagi merasakan kehadiran Tuhan, dan ketergantungannya kepada Tuhan serta hubungannya dengan Tuhan sama sekali hilang, seperti jantung yang berhenti berdetak. Ini adalah situasi yang berbahaya. Apa yang bisa kaulakukan jika keadaanmu seperti itu? Engkau harus memiliki sikap yang benar dan segera berdoa kepada Tuhan lalu bertobat. Jika seseorang selalu hidup dalam keadaan negatif, keadaan menentang, keadaan di mana dia telah sama sekali ditinggalkan oleh Tuhan dan dia tak dapat menjangkau Tuhan, maka keadaan seperti itu berbahaya! Pernahkah engkau semua menyadari akibat buruk seperti apa yang dapat ditimbulkan oleh bahaya ini? Akibatnya bukan saja kerugian yang mungkin dialami oleh seseorang—apa akibat lainnya? (Orang mungkin kerasukan roh-roh jahat.) Itu salah satunya. Masih ada banyak kemungkinan lain. (Orang mungkin melakukan kejahatan besar dan disingkapkan serta disingkirkan oleh Tuhan.) Itu juga merupakan satu kemungkinan. Ada yang lain? (Hubungan orang dengan Tuhan mungkin menjadi makin renggang.) Jadi, jika kondisi seperti ini berlanjut, menurutmu, akankah orang seperti ini pada akhirnya akan berpikir untuk tidak lagi percaya kepada Tuhan? (Ya.) Bukankah itu hal yang menakutkan? (Ya.) Jika seseorang memiliki keinginan jahat seperti ini untuk meninggalkan kepercayaannya, itu adalah hal yang paling menakutkan, karena dia telah mengkhianati Tuhan di dalam hatinya, dan Tuhan tidak akan menyelamatkan orang seperti ini.
Sebagai orang percaya, orang harus menjaga hubungannya yang normal dengan Tuhan; hal ini sangat penting. Jika hubungan seseorang dengan Tuhan normal, dia akan berada dalam keadaan yang baik; jika keadaan orang itu buruk, hubungannya dengan Tuhan tidak akan normal. Hati seseorang akan berada dalam dua situasi yang sama sekali berbeda tergantung pada apakah dia berada dalam keadaan yang baik atau dalam keadaan yang buruk. Jika seseorang berada dalam keadaan yang baik, dia akan merasakan kekuatan tertentu di dalam hatinya, kekuatan yang mendorongnya untuk tidak pernah menikah, untuk mengikuti Tuhan sampai akhir sebesar apa pun penderitaan yang dia alami, dan tetap setia kepada Tuhan sampai akhir, sampai mati. Bagaimana orang bisa bertekad seperti ini? (Tekad itu berasal dari semacam semangat yang orang miliki.) Apakah Tuhan menganggap semangat ini dapat diterima? Apakah tekad seperti ini merupakan hal yang positif atau negatif? (Positif.) Apakah Tuhan menganggap hal-hal positif dapat diterima? (Ya.) Tuhan memeriksa hati orang-orang. Dia memeriksa apa yang orang pikirkan di lubuk hati mereka dan seperti apa keadaan diri mereka. Jadi, ketika engkau mengungkapkan keinginan dan tekad semacam ini di dalam hatimu, Tuhan juga memeriksanya. Dari mana datangnya tekad ini? Apakah tekad itu muncul secara alami dari dalam diri orang itu dan sikapnya yang gampang marah? (Tidak, tekad itu ditanamkan dalam diri orang melalui pekerjaan Roh Kudus.) Benar. Jika orang-orang hidup dalam keadaan yang benar, Roh Kudus akan menganugerahkan kepada mereka kuasa seperti ini, yang memungkinkan mereka untuk memiliki tekad seperti itu. Ini adalah hal yang positif, dan hal positif itu dianugerahkan kepada orang-orang oleh Roh Kudus karena kerja sama dan pengorbanan mereka. Pernahkah orang-orang secara kebetulan memiliki iman semacam ini begitu saja? Tentu tidak, bukan? Jika orang memiliki sedikit saja tekad untuk bekerja sama, Roh Kudus akan menganugerahkan kepadanya motivasi yang sangat kuat! Dari penjelasan ini, apa yang telah kaupahami sekarang? (Orang-orang harus selalu dekat dengan Tuhan. Tanpa Tuhan, hanya ada kematian.) "Orang-orang harus selalu dekat dengan Tuhan," itu benar. Ini adalah pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman. Jika engkau membuka hatimu kepada Tuhan, jika engkau memiliki tekad yang sekecil itu saja, dan mampu membuka hatimu yang sebenarnya dalam doa kepada Tuhan, Dia akan menganugerahkan kuasa ini kepadamu. Kuasa ini akan bertahan sepanjang hidupmu dan memungkinkanmu memiliki tekad yang dalam seperti itu, dan berkata, "Aku mempersembahkan seluruh hidupku bagi Tuhan, aku akan mempersembahkan semuanya dengan mengorbankan diriku demi Tuhan dan hidup demi Dia!" Itu adalah fakta; seperti itulah cara orang berpikir, dan apa yang ingin dia lakukan. Namun, jika seseorang mengikuti Tuhan dan melaksanakan tugasnya dengan mengandalkan pikirannya sendiri, gagasannya sendiri, dan kualitas serta karunianya sendiri, seberapa besarkah kekuatan yang akan dia miliki? Jika engkau tidak berkeinginan untuk mengejar kebenaran, sebanyak apa pun kerja kerasmu, itu tidak akan bisa berhasil. Manusia tidak mampu memperoleh kekuatan batin ini; hanya Tuhan yang menganugerahkannya. Bagaimana orang kehilangan kekuatan ini? Apa yang menjadi penyebabnya? Jika Tuhan tidak lagi berada di dalam hati orang itu, dia akan kehilangan kekuatan itu. Ketika orang memiliki kekuatan ini, itu merupakan pekerjaan Roh Kudus, itulah kuasa yang dianugerahkan Tuhan kepadanya—semua itu adalah pekerjaan Tuhan. Jika hatimu tertutup bagi Tuhan, jika engkau berkata "tidak" kepada Tuhan, dan engkau menolak kedaulatan dan pengaturan-Nya atas hidupmu, serta semua lingkungan, orang, peristiwa, dan hal-hal yang telah Dia atur di sekitarmu, maka engkau bahkan tidak akan punya hati untuk mengejar kebenaran. Jika orang kehilangan Tuhan, itu sungguh mengerikan; ini adalah fakta. Orang yang telah kehilangan Tuhan tak berarti apa-apa. Jika seseorang menutup hatinya bagi Tuhan, dia bahkan mungkin berubah pikiran untuk tidak lagi percaya kepada Tuhan, yang dapat dia perlihatkan kapan pun dan di mana pun. Yang paling mengerikan dari hal ini adalah bahwa dia akan makin terbenam dalam pikirannya ini, sampai-sampai dia bahkan menyesali semua yang dia tinggalkan dan korbankan, dan menyesali tekad yang pernah dia miliki dan penderitaan yang pernah dia alami. Kondisi orang seperti ini akan sama sekali berbeda dengan keadaan semula, seolah-olah dia adalah orang yang sama sekali berbeda. Bagaimana ini bisa terjadi? Jika seseorang mampu tunduk pada orang, peristiwa, hal, dan lingkungan yang telah Tuhan tetapkan baginya, dia mampu menjalani kehidupan yang damai dan bahagia. Jika dia selalu berusaha menghindarkan diri dari orang, peristiwa, dan hal-hal yang telah Tuhan tetapkan, dan tidak mau tunduk pada lingkungan tempat dia berada, di mana Tuhan berdaulat, kondisi seperti apakah yang akan diakibatkan oleh hal ini? (Kesengsaraan dan kegelapan.) Dia akan mengalami kegelapan, kesengsaraan, mudah terprovokasi, kecemasan yang terus-menerus, dan kesedihan. Bukankah ini perbedaan yang sangat mencolok? (Ya.) Jika orang hidup dalam keadaan yang baik, dia akan merasa seperti hidup di surga, tepat di hadapan Tuhan. Jika dia berada dalam keadaan yang buruk, keadaan orang itu akan menjadi makin gelap, dan Tuhan tetap berada di luar jangkauannya. Hidup dalam keadaan yang gelap tidak ada bedanya dengan hidup di neraka. Pernahkah engkau semua merasakan penderitaan neraka? Apakah penderitaan neraka itu menyenangkan ataukah tak tertahankan? (Tak tertahankan.) Cobalah gambarkan penderitaan itu dalam satu kalimat. (Penderitaan itu lebih buruk daripada kematian.) Benar, memang lebih buruk daripada kematian. Mati akan jauh lebih menyenangkan daripada hidup, sungguh menyiksa. Engkau menjawabnya dengan sangat baik; begitulah adanya.
Semua kesulitan yang orang hadapi, dan semua kenegatifan dan kelemahannya, berhubungan langsung dengan watak rusak dalam dirinya. Jika watak rusak dalam dirinya dapat dibereskan, boleh dikatakan bahwa semua kesulitan dalam imannya sedikit banyak akan dibereskan: Tidak akan ada sesuatu pun yang menghalanginya untuk mencari kebenaran, dia tak akan menghadapi kesulitan dalam menerapkan kebenaran, dan tak ada yang akan menghalanginya untuk tunduk kepada Tuhan. Jadi, membereskan watak rusak seseorang sangatlah penting. Tuhan meminta orang untuk mengejar kebenaran dan menjadi orang yang jujur berkaitan dengan orang membereskan watak rusaknya dan mengubah wataknya. Tujuan mencari kebenaran adalah untuk menyelesaikan masalah watak yang rusak, dan mengejar kebenaran dilakukan untuk mengalami perubahan watak. Jadi, bagaimana seseorang mencari kebenaran? Bagaimana seseorang mampu memperoleh kebenaran? Apa yang Kukatakan beberapa saat yang lalu? (Percayalah bahwa Tuhan berdaulat atas segalanya, dan tunduklah pada lingkungan yang telah Dia tetapkan.) Ya, percaya, tunduk, berusaha untuk memetik pelajaran, mencari kebenaran, dan setia pada tugasmu di lingkungan yang telah Tuhan atur. Jika engkau mampu memetik pelajaran dari lingkungan yang telah Tuhan atur, bukankah akan mudah bagimu untuk tunduk? (Ya.) Jika engkau mencari kebenaran dan memetik pelajaranmu, bukankah benar bahwa engkau tak akan memperlihatkan watak rusakmu dan mencegah dirimu dari menyingkapkan sikapmu yang gampang marah? Selama proses ini, bukankah engkau akan menghindari cara manusia dan pemikiran manusia untuk berurusan dengan orang, peristiwa, dan hal-hal yang telah Tuhan tetapkan bagimu? Dengan cara ini, bukankah engkau akan berada dalam keadaan yang normal? Dan jika engkau berada dalam keadaan yang normal, bukankah engkau akan mampu selalu hidup di hadirat Tuhan? Dengan demikian, engkau akan aman. Jika engkau mampu sering datang ke hadirat Tuhan, terus hidup di hadirat-Nya, sering mencari maksud-Nya di lingkungan yang telah Dia atur bagimu, dan tunduk pada semua orang, peristiwa, dan hal-hal yang telah Dia atur, maka bukankah engkau akan selalu hidup di bawah pengawasan Tuhan, dan dalam pemeliharaan-Nya? (Ya.) Jika takdirmu berada di bawah kedaulatan Tuhan, dan diawasi serta diatur oleh-Nya, jika engkau menikmati perlindungan Tuhan setiap hari, bukankah engkau akan menjadi orang yang terbahagia? (Benar.) Itulah akhir dari persekutuan kita tentang topik ini. Selanjutnya, engkau semua dapat mempersekutukannya bersama-sama, dan merangkum serta membagikan pemahamanmu tentang topik tersebut. Pikirkanlah bagaimana menjalani hidup yang bahagia dan bagaimana mendapatkan penerimaan Tuhan, seperti yang Ayub lakukan, sehingga Tuhan akan mendekapmu di dalam hati-Nya dan berkata bahwa engkau adalah orang yang Dia kasihi; ketahuilah bagaimana agar engkau dapat menempuh jalan yang benar dalam hidupmu, seperti yang Ayub lakukan, yaitu jalan takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan.
25 Januari 2017
Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.