Hanya Orang Jujur yang Mampu Hidup dalam Keserupaan dengan Manusia Sejati (Bagian Satu)

Tuntutan Tuhan bahwa orang harus jujur adalah hal yang terpenting. Sayangnya, banyak orang tidak memahami hal ini dan mengabaikan hal tentang menjadi orang jujur ini. Jika orang benar-benar memahami pekerjaan Tuhan, mereka pasti tahu bahwa setelah Dia menyelesaikan pekerjaan penghakiman-Nya pada akhir zaman, hanya orang-orang jujur yang telah disucikan dari watak rusak mereka, dan yang telah membuang watak mereka yang licik dan suka menipu, yang akan memperoleh keselamatan-Nya dan memenuhi syarat untuk memasuki kerajaan-Nya. Jika, setelah bertahun-tahun percaya kepada Tuhan, orang masih dipenuhi dengan kebohongan dan tipu daya; jika mereka tidak mampu dengan sungguh-sungguh mengorbankan diri mereka bagi Tuhan, dan selalu melaksanakan tugas-tugas mereka secara asal-asalan, mereka pasti akan dibenci dan ditolak oleh-Nya. Akan seperti apa kesudahan mereka? Mereka pasti akan dikeluarkan dari gereja dan disingkirkan. Sekarang ini, ketika melihat bahwa pekerjaan Tuhan telah mencapai tahap ini, orang diingatkan tentang betapa gigihnya Dia menuntut manusia untuk menjadi jujur. Ini sangat penting. Ini bukan tuntutan yang dikatakan secara sambil lalu dan hanya itu saja—ini berkaitan langsung dengan apakah seseorang akan mampu memperoleh keselamatan dan bertahan hidup atau tidak, dan berkaitan dengan kesudahan dan tempat tujuan setiap orang. Jadi, dapat dikatakan secara pasti bahwa hanya dengan menyingkirkan wataknya yang licik dan suka menipu dan menjadi orang yang jujur, barulah orang mampu hidup dalam kemanusiaan yang normal dan memperoleh keselamatan. Mereka yang telah percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun tetapi masih memiliki watak yang licik pasti akan disingkirkan.

Sekarang ini, semua umat pilihan Tuhan sedang berlatih melaksanakan tugas mereka, dan Tuhan menggunakan pelaksanaan tugas orang untuk menyempurnakan sekelompok orang dan menyingkirkan orang-orang lainnya. Jadi, pelaksanaan tugaslah yang menyingkapkan setiap jenis orang, dan setiap jenis orang yang licik, pengikut yang bukan orang percaya, dan orang yang jahat disingkapkan dan disingkirkan dalam pelaksanaan tugas mereka. Mereka yang melaksanakan tugas dengan setia adalah orang yang jujur; mereka yang selalu bersikap asal-asalan adalah orang yang curang, licik, dan mereka adalah pengikut yang bukan orang percaya; dan orang yang menyebabkan kekacauan dan gangguan dalam pelaksanaan tugas mereka adalah orang yang jahat dan antikristus. Sekarang ini, berbagai macam masalah masih ada dalam diri mereka yang melaksanakan tugas. Ada orang-orang yang selalu sangat pasif dalam tugas mereka, selalu duduk, menunggu dan mengandalkan orang lain. Sikap macam apakah itu? Itu adalah sikap yang tidak bertanggung jawab. Rumah Tuhan telah mengatur agar engkau melaksanakan suatu tugas, tetapi engkau hanya memikirkannya selama berhari-hari tanpa menyelesaikan pekerjaan nyata apa pun. Engkau tidak terlihat di tempat kerja, dan orang tidak dapat menemukanmu saat ada masalah yang harus diselesaikan. Engkau tidak terbeban untuk pekerjaan ini. Jika seorang pemimpin bertanya tentang pekerjaan itu, apa yang akan kaukatakan kepadanya? Engkau tidak sedang melakukan pekerjaan apa pun saat ini. Engkau tahu betul bahwa pekerjaan ini adalah tanggung jawabmu, tetapi engkau tidak melaksanakannya. Apa sebenarnya yang sedang kaupikirkan? Apakah engkau tidak melaksanakan pekerjaan apa pun karena engkau tidak mampu melakukannya? Atau apakah engkau hanya tamak akan kenyamanan? Bagaimana sikapmu terhadap tugasmu? Engkau hanya membicarakan kata-kata dan doktrin serta hanya mengatakan hal-hal yang terdengar menyenangkan, tetapi engkau tidak melakukan pekerjaan nyata apa pun. Jika engkau tak ingin melaksanakan tugasmu, engkau harus mengundurkan diri. Jangan pertahankan kedudukanmu sembari tidak melakukan apa pun di situ. Bukankah melakukan demikian berarti merugikan umat pilihan Tuhan dan membahayakan pekerjaan gereja? Dalam caramu berbicara, tampaknya engkau memahami segala macam doktrin, tetapi ketika diminta melaksanakan suatu tugas, engkau bersikap asal-asalan, dan sama sekali tidak teliti. Seperti itukah mengorbankan diri dengan tulus untuk Tuhan? Engkau tidak tulus dalam sikapmu terhadap Tuhan, tetapi engkau berpura-pura tulus. Apakah engkau mampu menipu Dia? Dalam caramu biasanya berbicara, tampaknya ada keyakinan yang begitu besar; engkau ingin menjadi sokoguru di gereja dan menjadi batu karangnya. Namun, ketika engkau melaksanakan tugas, engkau kurang berguna dibandingkan sebatang korek api. Bukankah engkau secara sadar sedang menipu Tuhan? Tahukah engkau apa akibatnya jika engkau mencoba menipu Tuhan? Dia akan membenci dan menolakmu serta menyingkirkanmu! Semua orang tersingkap ketika melaksanakan tugas mereka—begitu orang diberi suatu tugas, tak lama kemudian akan tersingkap apakah dia orang yang jujur atau orang yang licik dan suka menipu, dan apakah dia mencintai kebenaran atau tidak. Mereka yang mencintai kebenaran mampu melaksanakan tugas mereka dengan tulus dan menjunjung tinggi pekerjaan rumah Tuhan; mereka yang tidak mencintai kebenaran sama sekali tidak menjunjung tinggi pekerjaan rumah Tuhan dan tidak bertanggung jawab ketika melaksanakan tugas mereka. Hal ini segera terlihat dengan jelas oleh mereka yang berpandangan jernih. Siapa pun yang melaksanakan tugas mereka dengan buruk bukanlah orang yang mencintai kebenaran atau orang yang jujur; orang-orang semacam itu semuanya akan disingkapkan dan disingkirkan. Untuk dapat melaksanakan tugas mereka dengan baik, orang harus memiliki rasa tanggung jawab dan rasa terbeban. Dengan demikian, pekerjaan pasti akan dilakukan dengan baik. Satu-satunya yang mengkhawatirkan adalah jika orang tidak memiliki rasa terbeban atau tanggung jawab, jika mereka harus didorong untuk melakukan segala sesuatu, jika mereka selalu bersikap asal-asalan, dan ketika ada masalah yang muncul, mereka berusaha melemparkan kesalahan kepada orang lain, sehingga menyebabkan tertundanya penyelesaian tugas mereka. Jadi, dapatkah pekerjaan itu tetap diselesaikan dengan baik? Dapatkah pelaksanaan tugas mereka membuahkan hasil? Mereka tidak ingin melakukan tugas apa pun yang telah diatur untuk mereka, dan ketika mereka melihat orang lain membutuhkan bantuan dalam pekerjaannya, mereka mengabaikannya. Mereka hanya melakukan sedikit pekerjaan saat diperintahkan, hanya ketika ada tekanan dan mereka tidak punya pilihan. Ini bukan orang yang melaksanakan tugas—ini adalah pekerja upahan! Seorang pekerja upahan bekerja untuk majikannya, melakukan pekerjaan sehari dengan upah sehari, pekerjaan satu jam dengan upah satu jam; mereka menunggu untuk diberi upah. Mereka takut melakukan pekerjaan apa pun yang tidak dilihat oleh majikan mereka, mereka takut tidak diberi upah atas apa pun yang mereka lakukan, mereka hanya bekerja demi penampilan—yang berarti mereka tidak memiliki kesetiaan. Sering kali, engkau semua tidak mampu menjawab ketika ditanya tentang masalah pekerjaan. Beberapa orang di antaramu pernah terlibat dalam pekerjaan, tetapi engkau semua tidak pernah bertanya apakah pekerjaan berjalan dengan baik atau memikirkan dengan saksama tentang hal ini. Mengingat kualitas dan pengetahuanmu, engkau setidaknya harus memahami sesuatu, karena engkau telah mengambil bagian dalam pekerjaan ini. Jadi, mengapa kebanyakan orang tidak mengatakan apa pun? Ada kemungkinan engkau semua benar-benar tidak tahu harus berkata apa—engkau tidak tahu apakah semuanya sedang berjalan dengan baik atau tidak. Ada dua alasan untuk ini: pertama, engkau semua sama sekali tidak peduli, dan tidak pernah memedulikan hal-hal ini, dan hanya memperlakukannya sebagai tugas yang harus diselesaikan. Kedua, engkau semua tidak bertanggung jawab dan tidak mau memedulikan hal-hal ini. Jika engkau benar-benar peduli, dan benar-benar terlibat, engkau pasti memiliki pandangan dan perspektif terhadap segala sesuatunya. Tidak memiliki perspektif atau pandangan sering kali berasal dari sikap acuh tak acuh dan apatis, serta tidak bertanggung jawab. Engkau tidak tekun dalam melaksanakan tugasmu, engkau tidak memikul tanggung jawab sedikit pun, engkau tidak mau membayar harga atau membuat dirimu terlibat. Engkau juga tidak mau bersusah payah, juga tidak bersedia mengerahkan lebih banyak tenaga; engkau hanya ingin menjadi bawahan, yang berarti engkau tidak ada bedanya dengan cara orang tidak percaya bekerja untuk majikan mereka. Pelaksanaan tugas seperti ini tidak disukai oleh Tuhan dan tidak menyenangkan hati-Nya. Itu tidak mungkin mendapatkan perkenanan-Nya.

Tuhan Yesus pernah berkata: "Karena barang siapa yang memiliki, kepada dia akan diberikan, dan dia akan memilikinya lebih melimpah; tetapi barang siapa yang tidak memiliki, apa pun yang dia miliki akan diambil darinya" (Matius 13:12). Apa maksud dari perkataan ini? Maksudnya adalah jika engkau bahkan tidak melaksanakan atau mendedikasikan dirimu untuk tugas atau pekerjaanmu sendiri, Tuhan akan mengambil apa yang pernah menjadi milikmu. Apa maksudnya "mengambil"? Apa yang akan orang rasakan jika Tuhan melakukannya? Mungkin ketika engkau gagal mencapai apa yang bisa kaucapai dengan kualitas dan karuniamu, dan engkau tidak merasakan apa pun, dan menjadi sama seperti orang tidak percaya. Itu berarti engkau mengalami segalanya diambil oleh Tuhan. Jika dalam tugasmu, engkau lalai, tidak membayar harga, dan engkau tidak tulus, Tuhan akan mengambil apa yang pernah menjadi milikmu, Dia akan mengambil kembali hakmu untuk melaksanakan tugasmu, Dia tidak akan memberimu hak ini. Karena Tuhan memberimu karunia dan kualitas, tetapi engkau tidak melaksanakan tugasmu dengan benar, tidak mengorbankan dirimu bagi Tuhan, atau membayar harga, dan engkau tidak mengerahkan segenap hatimu untuk tugasmu, Tuhan bukan saja tidak akan memberkatimu, tetapi Dia juga akan mengambil apa yang pernah kaumiliki. Tuhan menganugerahkan karunia-karunia kepada manusia, memberikan kepada mereka keterampilan khusus serta kecerdasan dan hikmat. Bagaimana seharusnya manusia menggunakan karunia-karunia ini? Engkau harus mendedikasikan keterampilan khususmu, karunia-karuniamu, kecerdasan dan hikmatmu dalam melaksanakan tugasmu. Engkau harus menggunakan hatimu dan menerapkan semua yang kauketahui, semua yang kaupahami, dan semua yang mampu kaucapai dalam tugasmu. Dengan melakukan itu, engkau akan diberkati. Apa arti diberkati Tuhan? Apa yang orang rasakan akan hal ini? Artinya mereka telah dicerahkan dan dibimbing oleh Tuhan, dan itu berarti mereka memiliki jalan saat mereka melaksanakan tugas mereka. Bagi orang lain, mungkin kualitasmu dan segala sesuatu yang telah kaupelajari tampaknya tidak cukup untuk memampukanmu menyelesaikan segala sesuatu—tetapi jika Tuhan bekerja dan mencerahkanmu, engkau bukan saja akan mampu memahami dan melakukan hal-hal itu, tetapi engkau juga akan melakukannya dengan baik. Pada akhirnya, engkau bahkan akan bertanya-tanya dalam hatimu, "Biasanya aku tidak secakap ini, tetapi sekarang ada jauh lebih banyak hal baik dalam diriku—semuanya itu positif. Aku tidak pernah mempelajari hal-hal tersebut, tetapi sekarang aku tiba-tiba memahaminya. Bagaimana aku tiba-tiba menjadi begitu pintar? Mengapa ada begitu banyak hal yang mampu kulakukan sekarang?" Engkau tidak akan dapat menjelaskannya. Ini adalah pencerahan dan berkat Tuhan; seperti inilah cara Tuhan memberkati orang. Jika engkau tidak merasakan hal ini saat melaksanakan tugasmu atau melakukan pekerjaanmu, itu berarti engkau belum diberkati oleh Tuhan. Jika melakukan tugasmu selalu terasa tidak bermakna bagimu, jika engkau merasa sepertinya tidak ada yang harus dilakukan, dan engkau tidak mampu membuat dirimu berkontribusi, jika engkau tidak pernah menerima pencerahan, dan merasa dirimu tidak memiliki kecerdasan ataupun hikmat yang dapat kaugunakan, ini berarti masalah. Ini memperlihatkan bahwa engkau tidak memiliki motif yang benar atau jalan yang benar dalam melaksanakan tugasmu, dan Tuhan tidak berkenan, dan keadaanmu tidak normal. Engkau harus memeriksa dirimu: "Mengapa tidak ada jalan bagiku dalam melaksanakan tugasku? Aku telah mempelajari bidang ini, dan tugas ini berada dalam lingkup keahlianku—aku bahkan ahli dalam melakukannya. Mengapa ketika mencoba menerapkan pengetahuanku, aku tidak bisa? Mengapa aku tidak mampu menggunakan keahlian tersebut? Apa yang terjadi?" Apakah ini hanya kebetulan? Ada masalah di sini. Ketika Tuhan memberkati seseorang, orang itu akan menjadi cerdas dan bijaksana, berpandangan jernih dalam segala hal, serta tajam, waspada dan terutama terampil; orang itu akan memiliki kemampuan untuk melakukan sesuatu dengan mudah dan baik dan terinspirasi dengan semua yang dilakukannya, dan dia akan menganggap semua yang dilakukannya begitu mudah dan tidak ada kesulitan yang dapat menghalanginya—dia diberkati oleh Tuhan. Jika seseorang mendapati segalanya terasa sangat sulit, dan dia merasa canggung, rentan terhadap penyimpangan, dan tidak mengerti apa pun yang sedang dilakukannya, jika dia tidak memahami apa pun yang dikatakan kepadanya, lalu apa artinya ini? Artinya orang itu tidak memiliki bimbingan Tuhan dan tidak memiliki berkat Tuhan. Ada orang-orang yang berkata, "Aku telah berupaya sebaik mungkin, jadi mengapa aku tidak melihat berkat Tuhan?" Jika engkau hanya berusaha keras dan mengerahkan segenap kemampuanmu tetapi tidak berusaha untuk bertindak berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran, berarti engkau sedang asal-asalan dalam tugasmu. Bagaimana mungkin engkau dapat melihat berkat Tuhan? Jika engkau selalu ceroboh dalam melaksanakan tugasmu dan tidak pernah teliti, engkau tidak akan dicerahkan atau diterangi oleh Roh Kudus, dan engkau tidak akan mendapatkan bimbingan Tuhan ataupun pekerjaan-Nya, dan pekerjaanmu itu tidak akan membuahkan hasil. Sangat sulit untuk melaksanakan tugas dengan baik atau menangani masalah dengan baik dengan mengandalkan kekuatan dan pengetahuan manusia. Semua orang mengira mereka memiliki beberapa pengetahuan, mengira mereka memiliki beberapa keterampilan, tetapi mereka melakukan segala sesuatu dengan buruk, dan segala sesuatunya selalu serba salah, menimbulkan komentar dan ditertawakan. Ini adalah masalah. Seseorang mungkin jelas tidak bisa apa-apa, tetapi menganggap dirinya memiliki keterampilan, dan tidak mau tunduk kepada siapa pun. Masalah seperti ini ada kaitannya dengan natur manusia. Orang yang tidak mengenal dirinya sendiri semuanya menganggap diri mereka seperti ini. Dapatkah orang-orang semacam itu melaksanakan tugas mereka dengan baik? Mereka bukan saja tidak mampu melaksanakan tugas mereka dengan baik, kemungkinan besar mereka juga akan mengalami kegagalan. Ada orang-orang yang tidak mampu melaksanakan tugas mereka dengan baik, tetapi mereka masih selalu berusaha mengambil peran pemimpin dan main perintah kepada orang lain. Orang-orang semacam itu tidak mencapai apa pun—mereka bahkan tidak mampu memberitakan Injil atau bersaksi kepada orang lain dan mereka bahkan tidak mampu menyampaikan sepatah kata pun ketika mempersekutukan kebenaran. Orang-orang semacam itu telanjang, miskin dan menyedihkan! Semua orang yang tidak mengejar kebenaran melaksanakan tugas mereka dengan pola pikir yang tidak bertanggung jawab. "Jika ada yang memimpin, aku akan ikut; ke mana pun mereka memimpinku, ke sanalah aku pergi. Aku akan melakukan apa pun yang mereka perintahkan. Sedangkan jika aku diminta untuk mengambil tanggung jawab dan memedulikan orang, atau menanggung lebih banyak kesulitan untuk melakukan sesuatu, atau melakukan sesuatu dengan segenap hati dan kekuatanku—aku tidak mau melakukannya." Orang-orang ini tidak mau membayar harganya. Mereka hanya bersedia mengerahkan kemampuan mereka, tetapi tidak mau mengambil tanggung jawab. Ini bukanlah sikap orang yang benar-benar melaksanakan tugasnya. Orang harus belajar mengerahkan segenap hati mereka untuk melaksanakan tugas mereka, dan orang yang memiliki hati nurani mampu melakukannya. Jika orang tak pernah mengerahkan segenap hati mereka untuk melaksanakan tugas mereka, itu artinya mereka tidak memiliki hati nurani, dan orang yang tidak berhati nurani tidak mampu memperoleh kebenaran. Mengapa Kukatakan mereka tidak mampu memperoleh kebenaran? Karena mereka tidak tahu cara berdoa kepada Tuhan dan mencari pencerahan Roh Kudus, juga tidak tahu bagaimana memperhatikan maksud Tuhan, tidak tahu bagaimana mengerahkan segenap hati mereka untuk merenungkan firman Tuhan, juga tidak tahu bagaimana mencari kebenaran, bagaimana berusaha untuk memahami tuntutan Tuhan dan keinginan-Nya. Inilah yang dimaksud dengan tidak mampu mencari kebenaran. Apakah engkau semua mengalami keadaan ketika, apa pun yang terjadi, atau tugas seperti apa pun yang kaulaksanakan, engkau mampu untuk sering kali menenangkan dirimu di hadapan Tuhan, dan mengerahkan segenap hatimu untuk merenungkan firman-Nya, dan mencari kebenaran, dan memikirkan bagaimana engkau harus melaksanakan tugas itu agar sesuai dengan maksud Tuhan dan memikirkan kebenaran mana yang harus kaumiliki agar dapat melaksanakan tugas itu dengan memuaskan? Apakah engkau sering kali mencari kebenaran dengan cara seperti ini? (Tidak.) Mengerahkan segenap hati untuk melaksanakan tugasmu dan mampu mengambil tanggung jawab mengharuskanmu untuk menderita dan membayar harga—tidaklah cukup untuk hanya membicarakan tentang hal-hal ini. Jika engkau tidak mengerahkan segenap hatimu untuk tugasmu, sebaliknya, selalu ingin bekerja keras, maka tugasmu tentu tidak akan terlaksana dengan baik. Engkau hanya akan melaksanakan tugasmu dengan asal-asalan, dan tidak lebih dari itu, dan engkau tidak akan tahu apakah engkau telah melaksanakan tugasmu dengan baik atau tidak. Jika engkau mengerahkan segenap hatimu untuk melaksanakan tugasmu, engkau akan secara berangsur memahami kebenaran; jika tidak, engkau tidak akan memahami kebenaran. Ketika engkau mengerahkan segenap hatimu untuk melaksanakan tugasmu dan mengejar kebenaran, engkau akan secara berangsur mampu memahami maksud Tuhan, mengetahui kerusakan dan kekuranganmu sendiri, dan menguasai semua keadaanmu yang beraneka ragam. Jika engkau hanya berfokus mengerahkan upayamu, tetapi engkau tidak mengerahkan segenap hatimu untuk merenungkan dirimu sendiri, engkau tidak akan mampu mengenali keadaan batinmu yang sebenarnya serta berbagai reaksi dan perwujudan kerusakan yang kauperlihatkan di berbagai lingkungan. Jika engkau tidak tahu apa akibatnya jika masalah tidak diselesaikan, engkau akan berada dalam banyak masalah. Inilah sebabnya, tidak baik percaya kepada Tuhan dengan cara yang bingung seperti itu. Engkau harus hidup di hadapan Tuhan kapan pun dan di mana pun; apa pun yang menimpamu, engkau harus selalu mencari kebenaran, dan sementara mencari kebenaran, engkau juga harus merenungkan dirimu sendiri dan mengetahui masalah apa yang ada di dalam keadaanmu, segeralah mencari kebenaran untuk menyelesaikannya. Hanya dengan cara demikianlah, engkau dapat melaksanakan tugasmu dengan baik dan tidak menunda pekerjaan. Engkau bukan saja akan mampu melaksanakan tugasmu dengan baik, tetapi yang terpenting adalah engkau juga akan memiliki jalan masuk kehidupan dan mampu membereskan watak rusakmu. Hanya dengan cara demikianlah, engkau dapat masuk ke dalam kenyataan kebenaran. Jika yang sering kaurenungkan dalam hatimu bukanlah hal-hal yang berkaitan dengan tugasmu, atau hal-hal yang berkaitan dengan kebenaran, dan engkau malah terjerat dalam hal-hal lahiriah, merenungkan hal-hal yang berkaitan dengan daging, maka akan mampukah engkau memahami kebenaran? Akan mampukah engkau melaksanakan tugasmu dengan baik dan hidup di hadapan Tuhan? Tentu saja tidak. Orang semacam ini tidak dapat diselamatkan.

Percaya kepada Tuhan berarti menempuh jalan yang benar dalam hidup, dan orang harus mengejar kebenaran. Ini adalah hal tentang roh dan hidup, dan ini adalah hal yang berbeda dengan pengejaran akan kekayaan, kemuliaan, dan ketenaran yang dilakukan orang-orang tidak percaya. Keduanya adalah jalan yang sama sekali berbeda. Dalam pekerjaan mereka, orang tidak percaya memikirkan bagaimana mereka dapat melakukan lebih sedikit pekerjaan dan menghasilkan lebih banyak uang, memikirkan tipu muslihat untuk menghasilkan lebih banyak. Mereka berpikir sepanjang hari tentang bagaimana menjadi kaya dan mengumpulkan kekayaan, dan mereka bahkan merencanakan cara-cara tidak bermoral untuk mencapai tujuan mereka. Ini adalah jalan kejahatan, jalan Iblis, dan ini adalah jalan yang ditempuh orang tidak percaya. Jalan yang ditempuh oleh orang yang percaya kepada Tuhan adalah jalan mengejar kebenaran dan memperoleh hidup; ini adalah jalan mengikuti Tuhan dan memperoleh kebenaran. Bagaimana sebaiknya engkau bertindak untuk memperoleh kebenaran? Engkau harus rajin membaca, menerapkan, dan mengalami firman Tuhan—hanya setelah melakukan hal-hal itu, barulah engkau akan memahami kebenaran. Dan ketika memahami kebenaran, engkau harus memikirkan cara melaksanakan tugasmu dengan baik agar dapat melakukan berbagai hal berdasarkan prinsip-prinsip, serta cara agar engkau bersedia tunduk kepada Tuhan. Untuk melakukannya, engkau harus menerapkan kebenaran. Menerapkan kebenaran bukanlah hal mudah: Engkau tidak hanya harus mencari kebenaran, tetapi juga merenungkan dan mengenali adakah gagasan dan pemahaman yang keliru dalam dirimu. Lalu, jika timbul masalah, engkau harus bersekutu tentang kebenaran untuk memperbaiki kekeliruan itu. Ketika engkau memahami prinsip-prinsip penerapan kebenaran, barulah engkau dapat menerapkan kebenaran. Dan hanya dengan menerapkan kebenaran, barulah engkau dapat masuk ke dalam kenyataan kebenaran dan menjadi orang yang tunduk kepada Tuhan. Dengan menerapkan dan mengalami kebenaran melalui cara ini, engkau akan mengubah watakmu dan memperoleh kebenaran, bahkan tanpa kausadari. Orang tidak percaya selalu mengejar ketenaran, keuntungan, dan status. Akibatnya, mereka menempuh jalan kejahatan dan menjadi makin bejat, makin cerdik dan licik, perhitungan, serta suka bersekongkol. Hati mereka menjadi makin jahat, dan mereka menjadi makin membingungkan dan tidak terselami—itulah jalan orang yang tidak percaya. Jalan orang-orang yang percaya kepada Tuhan benar-benar berlawanan dengan jalan itu. Orang yang percaya kepada Tuhan ingin memisahkan diri mereka dari dunia yang jahat ini dan dari orang-orang jahat, mereka ingin mengejar kebenaran dan menyucikan kerusakan mereka. Hati mereka hanya akan mantap dan damai ketika mereka hidup dalam keserupaan dengan manusia. Mereka ingin mengenal Tuhan, takut akan Tuhan, menjauhi kejahatan, serta memperoleh perkenanan dan berkat-Nya. Itulah yang dicari oleh mereka yang percaya kepada Tuhan. Jika engkau telah percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun, benar-benar memahami kebenaran, dan telah berubah, makin sering orang-orang berinteraksi denganmu, mereka akan makin merasa bahwa engkau jujur—jujur dalam perkataan dan jujur dalam pelaksanaan tugas-tugasmu—seseorang yang sepenuhnya terbuka tanpa ada yang disembunyikan serta selalu berkata-kata dan bertindak dengan transparan. Melalui hal-hal yang kaukatakan, pandangan-pandangan yang kauungkapkan, hal-hal yang kaulakukan, tugas-tugas yang kaulaksanakan, dan sikap jujurmu ketika berbicara dengan orang lain, orang-orang dapat mengetahui isi hatimu dan melihat perilakumu, pilihan-pilihanmu, dan tujuan-tujuan yang ingin engkau capai. Mereka dapat melihat dengan jelas bahwa engkau adalah orang yang baik dan jujur, dan bahwa engkau menempuh jalan yang benar. Itu menunjukkan bahwa engkau telah berubah. Jika engkau telah percaya kepada Tuhan dan melaksanakan tugas untuk waktu yang lama, tetapi orang-orang yang berinteraksi denganmu selalu merasa bahwa perkataanmu tidak transparan, bahwa pandangan-pandanganmu tidak jelas, dan bahwa mereka tidak dapat mengetahui isi hatimu dengan jelas melalui perbuatanmu, jika mereka terus merasa bahwa ada banyak hal yang engkau sembunyikan jauh di dalam hatimu, itu menunjukkan bahwa engkau adalah orang tertutup yang tahu caranya menyembunyikan, menyamarkan, dan menutup-nutupi dirimu sendiri. Jika, bahkan setelah beberapa tahun berinteraksi denganmu, orang lain tidak mampu sepenuhnya memahami isi hatimu, dan mereka hanya dapat melihat tabiat dan karaktermu, bukannya watak atau esensimu, itu menunjukkan bahwa engkau masih hidup menurut watak Iblismu. Makin licik engkau, makin tampak bahwa engkau bukanlah orang baik, tidak memiliki kemanusiaan, dan adalah milik Iblis dan setan. Jika engkau tidak memperoleh sedikit pun kebenaran, dan watak rusakmu tidak disucikan, tidak peduli sudah seberapa lama pun engkau percaya kepada Tuhan, akan sulit bagi orang sepertimu untuk memperoleh keselamatan. Dan meskipun engkau lihai berbicara dengan berbelit-belit, pandai berkata-kata, cerdas, cepat bertindak, dan terampil dalam menangani banyak hal, jika orang-orang yang berinteraksi denganmu selalu merasa tidak tenang dan dapat merasakan bahwa engkau tidak bisa diandalkan, tidak bisa dipercaya, dan tidak bisa dipahami, engkau berada dalam masalah. Itu menunjukkan bahwa engkau belum berubah sama sekali meskipun percaya kepada Tuhan, dan bahwa engkau tidak benar-benar percaya kepada-Nya. Apakah hingga sekarang engkau semua telah mengalami perubahan nyata dalam kepercayaanmu kepada Tuhan? Apakah engkau bersikap jujur saat berinteraksi dengan orang lain? Apakah orang lain merasakan ketulusanmu? (Ketika itu menyangkut hal-hal yang langsung bermanfaat bagiku, aku dapat berbohong dan menipu, tetapi ketika itu tidak langsung bermanfaat bagiku, aku dapat mengatakan yang sebenarnya dan sedikit membuka hatiku.) (Aku memilih-milih hal yang kukatakan. Ada beberapa hal yang dapat kukatakan secara terbuka, tetapi hal-hal yang tersembunyi jauh dalam hatiku tetap kurahasiakan. Ketika berinteraksi dengan orang lain, aku masih cenderung menutup-nutupi dan menyamarkan diriku sendiri.) Itu adalah contoh orang yang hidup dalam watak rusaknya. Jika seseorang tidak mengejar kebenaran dan memperbaiki watak rusaknya, bagaimana mungkin dia dapat berubah? Engkau semua adalah orang-orang yang melaksanakan tugas. Setidaknya, engkau harus berhati jujur dan membiarkan Tuhan melihat bahwa engkau tulus—hanya dengan begitulah engkau dapat memperoleh pencerahan, penerangan, dan bimbingan Tuhan. Hal yang terpenting adalah bahwa engkau harus menerima pemeriksaan Tuhan. Apa pun penghalang di antara dirimu dan orang lain, seberapa penting harga diri dan reputasimu bagimu, dan maksud apa pun yang engkau pendam yang tak mampu kauungkapkan secara sederhana, semua itu harus diubah secara bertahap. Selangkah demi selangkah, setiap orang harus membebaskan diri dari watak-watak rusak dan kesulitan itu serta mengatasi berbagai hambatan yang ditimbulkan oleh watak-watak rusak itu. Sebelum engkau melewati segala hambatan itu, apakah hatimu benar-benar jujur terhadap Tuhan? Apakah engkau menyembunyikan dan menutupi berbagai hal dari-Nya, atau mengenakan topeng dan mengelabui-Nya? Engkau harus memahami hal ini dengan jelas di dalam hatimu. Jika engkau memiliki hal-hal itu di dalam hatimu, engkau harus menerima pemeriksaan Tuhan. Jangan biarkan segalanya begitu saja dan berkata, "Aku tidak mau mengorbankan seluruh hidupku untuk Tuhan. Aku mau membangun keluarga dan menjalani kehidupanku sendiri. Semoga Tuhan akan tidak memeriksaku dan menghukumku." Jika engkau menyembunyikan hal-hal itu dari Tuhan—yaitu maksud, niat, rencana, dan tujuan hidup yang kaupendam jauh di lubuk hatimu—dan jika engkau menyembunyikan pandanganmu tentang banyak hal dan kepercayaan tentang iman kepada Tuhan, engkau akan mendapat masalah. Jika engkau menyembunyikan hal-hal yang tidak berharga itu dan tidak mencari kebenaran untuk membereskannya, itu menunjukkan bahwa engkau tidak mencintai kebenaran, dan bahwa engkau sulit menerima dan memperoleh kebenaran itu. Engkau dapat menyembunyikan banyak hal dari orang lain, tetapi tidak dari Tuhan. Jika engkau tidak yakin terhadap Tuhan, mengapa engkau percaya kepada-Nya? Jika engkau memiliki sejumlah rahasia, dan engkau khawatir bahwa orang-orang akan merendahkanmu jika engkau terbuka tentang hal itu dan engkau tidak berani membicarakannya, maka engkau dapat membuka diri kepada Tuhan. Engkau harus berdoa kepada Tuhan, mengakui maksud jahat yang engkau pendam dalam kepercayaanmu kepada-Nya, hal-hal yang telah kaulakukan demi masa depan dan nasibmu sendiri, dan caramu mengejar ketenaran dan keuntungan pribadi. Serahkanlah semua itu ke hadapan Tuhan dan perlihatkanlah itu kepada-Nya; jangan sembunyikan hal-hal itu dari-Nya. Engkau bisa saja menutup hatimu dari banyak orang, tetapi jangan tutup hatimu dari Tuhan—engkau harus membuka hatimu kepada-Nya. Setidaknya seperti itulah kadar ketulusan yang harus dimiliki oleh orang yang percaya kepada-Nya. Jika engkau memiliki hati yang terbuka kepada Tuhan dan tidak tertutup kepada-Nya serta dapat menerima pemeriksaan-Nya, bagaimana Dia akan memandangmu? Meskipun engkau tidak terbuka kepada orang lain, jika engkau dapat terbuka kepada Tuhan, Dia akan memandangmu sebagai orang yang jujur dengan hati yang jujur. Jika hatimu yang jujur dapat menerima pemeriksaan-Nya, maka hatimu berharga di mata-Nya, dan pastilah Dia memiliki pekerjaan untuk dilakukan dalam dirimu. Sebagai contoh, jika engkau pernah melakukan sesuatu yang licik terhadap Tuhan, Dia akan mendisiplinmu. Lalu, engkau harus menerima pendisiplinan-Nya, segera bertobat, dan mengaku di hadapan-Nya, serta mengakui kesalahan-kesalahanmu. Engkau harus mengakui pemberontakan dan kerusakanmu, menerima hajaran dan penghakiman Tuhan, menyadari watak-watakmu yang rusak, menerapkan firman-Nya, dan bertobat dengan sungguh-sungguh. Itulah bukti dari kepercayaanmu yang tulus kepada Tuhan, dan imanmu yang sejati kepada-Nya.

Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.

Hubungi kami via WhatsApp