Pekerjaan Tuhan, Watak Tuhan, dan Tuhan itu Sendiri III

Bagian Dua

Kita baru saja membahas tentang semua pekerjaan yang telah dirampungkan Tuhan, serangkaian hal yang Ia lakukan untuk pertama kalinya. Masing-masing dari hal tersebut relevan dengan rencana pengelolaan Tuhan dan kehendak Tuhan. Semua itu juga relevan dengan watak Tuhan itu sendiri dan esensi-Nya. Jika kita ingin memahami lebih jauh lagi apa yang dimiliki Tuhan dan siapa Tuhan itu, kita tidak boleh berhenti pada Perjanjian Lama atau pada Zaman Hukum Taurat, melainkan perlu terus maju bersama dengan langkah-langkah yang Tuhan ambil dalam pekerjaan-Nya. Jadi, ketika Tuhan mengakhiri Zaman Hukum Taurat dan memulai Zaman Kasih Karunia, langkah-langkah kita sendiri telah sampai ke Zaman Kasih Karunia—sebuah zaman yang penuh dengan kasih karunia dan penebusan. Pada zaman ini, Tuhan sekali lagi melakukan hal yang sangat penting untuk pertama kalinya. Pekerjaan pada zaman baru ini baik bagi Tuhan dan manusia merupakan titik permulaan. Titik permulaan baru ini sekali lagi adalah pekerjaan baru yang Tuhan lakukan untuk pertama kalinya. Pekerjaan baru ini adalah hal yang belum pernah terjadi sebelumnya yang dilakukan Tuhan dan tidak bisa dibayangkan oleh manusia maupun segala makhluk lain. Ini adalah sesuatu yang pada saat ini telah dikenal baik oleh semua orang—inilah kali pertama Tuhan menjadi manusia, kali pertama Ia memulai pekerjaan baru dalam wujud manusia, dengan identitas seorang manusia. Pekerjaan baru ini menandakan bahwa Tuhan telah menggenapi pekerjaan-Nya pada Zaman Hukum Taurat, bahwa Ia tidak lagi melakukan atau mengatakan apa pun di bawah suatu hukum Taurat. Ia juga tidak mengatakan atau melakukan apa-apa dalam bentuk hukum Taurat, atau sesuai prinsip, atau aturan hukum Taurat. Artinya, semua pekerjaan-Nya yang berdasarkan hukum Taurat telah berhenti selama-lamanya dan tidak akan berlanjut, karena Tuhan ingin memulai pekerjaan yang baru dan mengerjakan hal-hal baru, dan rencana-Nya sekali lagi memiliki titik permulaan yang baru. Dengan demikian, Tuhan telah memimpin umat manusia ke zaman selanjutnya.

Apakah ini merupakan kabar sukacita atau kabar buruk bagi manusia, itu bergantung pada apa esensi mereka. Dapat dikatakan bahwa ini bukan merupakan kabar sukacita, melainkan kabar buruk bagi sebagian orang, karena ketika Tuhan memulai pekerjaan baru-Nya, orang-orang yang hanya mengikuti hukum Taurat dan peraturan, yang hanya mengikuti doktrin tapi tidak takut akan Tuhan cenderung akan menggunakan pekerjaan Tuhan yang lama untuk mengecam pekerjaan-Nya yang baru. Bagi orang-orang tersebut, ini merupakan kabar buruk; tapi bagi setiap orang yang bersih dan terbuka, yang tulus kepada Tuhan dan mau menerima penebusan-Nya, inkarnasi pertama Tuhan adalah kabar penuh sukacita. Karena sejak adanya manusia, ini adalah pertama kalinya Tuhan menampakkan diri dan hidup di tengah umat manusia dalam wujud yang bukan Roh. Sebaliknya, Ia dilahirkan sebagai manusia dan hidup di tengah orang banyak sebagai Anak Manusia, dan bekerja di tengah mereka. Pekerjaan "kali pertama" ini meruntuhkan konsepsi orang-orang dan merupakan hal yang di luar semua imajinasi mereka. Selain itu, semua pengikut Tuhan mendapatkan keuntungan yang nyata. Tuhan tidak hanya mengakhiri zaman yang lama, Ia juga mengakhiri metode dan gaya kerja-Nya yang lama. Ia tidak lagi memperbolehkan utusan-Nya untuk menyampaikan kehendak-Nya, dan Ia tidak lagi bersembunyi di balik awan, dan Ia tidak lagi menampakkan diri atau berbicara kepada manusia dengan keras melalui petir. Berbeda dengan yang sudah-sudah, melalui cara yang tidak bisa dibayangkan manusia dan yang sulit dipahami dan diterima oleh mereka—dengan menjadi daging—Ia menjadi Anak Manusia untuk mengembangkan pekerjaan pada zaman itu. Tindakan Tuhan ini tak disangka-sangka oleh umat manusia; ini membuat mereka merasa malu, karena Tuhan sekali lagi memulai pekerjaan baru yang belum pernah Ia lakukan sebelumnya. Di zaman sekarang ini, kita akan melihat pekerjaan baru seperti apa yang akan dicapai Tuhan di zaman yang baru, dan dalam semua pekerjaan baru ini, watak Tuhan mana, dan apa yang dimiliki-Nya serta siapa diri-Nya, yang dapat kita pahami?

Berikut adalah firman yang dicatat dalam Alkitab Perjanjian Baru.

1. Matius 12:1 Pada saat itu Yesus berjalan melewati ladang jagung pada hari Sabat. Karena murid-murid-Nya lapar, mereka pun mulai memetik jagung dan memakannya.

2. Matius 12:6-8 Tetapi Aku berkata kepadamu, bahwa di tempat ini ada yang lebih besar daripada Bait Suci. Tetapi jika engkau mengerti apa artinya ini, Aku menghendaki belas kasihan dan bukan korban persembahan, tentu engkau tidak akan menghukum orang yang tidak bersalah. Karena Anak Manusia adalah Tuhan bahkan atas hari Sabat.

Mari kita perhatikan ayat ini: "Pada saat itu Yesus berjalan melewati ladang jagung pada hari Sabat. Karena murid-murid-Nya lapar, mereka pun mulai memetik jagung dan memakannya."

Mengapa kita memilih perikop ini? Apa hubungannya dengan watak Tuhan? Dalam teks ini, yang pertama kita ketahui adalah bahwa saat itu adalah hari Sabat, tetapi Tuhan Yesus bepergian dan memimpin murid-muridnya berjalan melewati ladang jagung. Yang bahkan lebih "keterlaluan" adalah bahwa mereka "mulai memetik jagung dan memakannya." Pada Zaman Hukum Taurat, menurut hukum Taurat dari Yahweh orang-orang tidak boleh begitu saja bepergian dan melakukan aktivitas pada hari Sabat—ada banyak hal yang tidak bisa dilakukan pada hari Sabat. Tindakan yang dilakukan oleh Yesus ini merupakan hal yang mengherankan bagi orang-orang yang telah lama hidup di bawah hukum Taurat, dan ini bahkan mendatangkan kritik. Terkait kebingungan yang mereka rasakan dan bagaimana pendapat mereka tentang apa yang Yesus lakukan, kita akan mengesampingkannya untuk sementara dan terlebih dahulu membahas tentang mengapa Tuhan Yesus memilih melakukan ini tepat pada hari Sabat, bukannya hari-hari lain, dan apa yang sebenarnya ingin Ia sampaikan kepada orang-orang yang telah lama hidup di bawah hukum Taurat melalui tindakan tersebut. Inilah hubungan antara ayat ini serta watak Tuhan yang ingin Kubicarakan.

Ketika Tuhan Yesus datang, Ia menggunakan tindakan nyata-Nya untuk menyampaikan kepada orang-orang: Tuhan telah meninggalkan Zaman Hukum Taurat dan telah memulai pekerjaan baru, dan pekerjaan baru ini tidak memerlukan peringatan hari Sabat; ketika Tuhan keluar dari batasan hari Sabat, ini hanya merupakan pendahuluan dari pekerjaan baru-Nya kelak, pekerjaan besar-Nya yang sesungguhnya masih akan datang. Ketika Tuhan Yesus memulai pekerjaan-Nya, Ia telah meninggalkan belenggu Zaman Hukum Taurat, dan telah mendobrak peraturan dan prinsip-prinsip pada zaman tersebut. Di dalam Dia, tidak lagi tersisa apa pun yang terkait dengan hukum Taurat; Ia telah menanggalkannya sepenuhnya dan tidak lagi memperingatinya, dan Ia tidak lagi memerlukan umat manusia untuk memperingatinya. Jadi di sini engkau melihat bahwa Tuhan Yesus berjalan melewati ladang jagung pada hari Sabat; Tuhan tidak beristirahat, tapi berada di luar melakukan pekerjaan. Tindakan-Nya ini menggoncang konsepsi orang-orang pada waktu itu dan menyampaikan kepada mereka bahwa Ia tidak lagi hidup di bawah hukum Taurat, dan bahwa Ia telah meninggalkan batasan hari Sabat dan menampakkan diri di hadapan umat manusia, dalam wujud yang baru di tengah mereka, dengan cara kerja yang baru pula. Tindakan-Nya ini menyampaikan kepada orang-orang bahwa Ia telah membawa beserta-Nya pekerjaan baru yang dimulai dengan meninggalkan hukum Taurat dan hari Sabat. Ketika Tuhan melaksanakan pekerjaan baru-Nya, Ia tidak lagi berpaut pada masa lampau, dan Ia tidak lagi peduli dengan peraturan dari Zaman Hukum Taurat. Ia juga tidak terpengaruh oleh pekerjaan-Nya dari zaman sebelumnya, tetapi Ia bekerja seperti biasa pada hari Sabat dan ketika murid-muridnya lapar, mereka dapat mengambil jagung untuk dimakan. Semua ini adalah hal yang biasa di mata Tuhan. Tuhan dapat mengadakan permulaan yang baru untuk banyak dari pekerjaan yang ingin Ia lakukan dan untuk hal-hal yang ingin Ia katakan. Setelah Ia mengadakan permulaan yang baru, Ia tidak lagi menyebutkan pekerjaan-Nya yang sebelumnya dan Ia tidak lagi melanjutkannya. Karena Tuhan memegang prinsip-Nya dalam pekerjaan-Nya. Saat Ia ingin memulai pekerjaan baru, itu adalah saat Ia ingin membawa umat manusia ke tahap yang baru dari pekerjaan-Nya, dan saat ketika pekerjaan-Nya telah memasuki fase yang lebih tinggi. Apabila orang-orang terus berbuat sesuai perkataan atau peraturan yang lama atau terus berpegang teguh pada hal-hal tersebut, Ia tidak akan memperingati atau memujinya. Ini karena Ia telah membawa pekerjaan yang baru, dan telah memasuki fase yang baru dari pekerjaan-Nya. Ketika Ia memulai pekerjaan baru, Ia menampakkan diri kepada umat manusia dalam wujud yang benar-benar baru, dari sudut yang benar-benar baru, dan dalam cara yang benar-benar berbeda sehingga orang-orang dapat melihat berbagai aspek berbeda dari watak-Nya dan melihat apa yang Ia miliki dan siapa Ia. Ini adalah salah satu tujuan-Nya dalam pekerjaan baru-Nya. Tuhan tidak berpegang pada yang lama atau mengambil jalan yang sudah sering ditapaki; Dalam bekerja dan berfirman, Ia sebenarnya tidak suka melarang seperti yang dibayangkan orang. Di dalam Tuhan, semuanya bebas dan merdeka, tidak ada larangan dan ketidakleluasaan—yang Ia bawa kepada umat manusia adalah kebebasan dan kemerdekaan. Ia adalah Tuhan yang hidup, Tuhan yang sungguh-sungguh dan benar-benar ada. Ia bukanlah boneka ataupun patung tanah liat, dan Ia benar-benar berbeda dari berhala yang orang-orang dirikan dan sembah. Ia hidup penuh gairah dan semua perkataan dan pekerjaan-Nya membawa segala kehidupan dan terang, segala kebebasan dan kemerdekaan kepada manusia, karena Ia memegang kebenaran, kehidupan, dan jalan—Ia tidak dibatasi oleh apa pun dari pekerjaan-Nya sendiri. Tidak peduli apa yang dikatakan orang dan tidak peduli bagaimana mereka memandang atau menilai pekerjaan baru-Nya, Ia akan mengerjakan pekerjaan-Nya itu tanpa ragu. Ia tidak akan khawatir akan konsepsi orang-orang, atau tuduhan-tuduhan yang terarah pada pekerjaan dan firman-Nya, atau bahkan penolakan dan perlawanan mereka yang kuat terhadap pekerjaan baru-Nya. Tak ada satu pun di antara semua ciptaan yang dengan menggunakan nalar manusia, atau imajinasi manusia, pengetahuan, ataupun moralitas manusia, mampu mengukur atau mendefinisikan apa yang dilakukan Tuhan, atau mampu mencela, atau mengacaukan atau menyabotase pekerjaan-Nya. Tidak ada ketidakleluasaan dalam pekerjaan-Nya dan apa yang Ia perbuat, dan pekerjaan-Nya itu tidak akan dibatasi oleh manusia, hal, atau benda apa pun, dan tidak akan dikacaukan oleh kekuatan musuh mana pun. Sejauh menyangkut pekerjaan baru-Nya, Ia adalah Raja yang maha menang; segala kekuatan musuh dan segala hujatan dan kesesatan dari umat manusia akan terinjak di bawah tumpuan kaki-Nya. Tidak peduli tahapan baru mana dari pekerjaan-Nya yang Ia sedang kerjakan, itu pasti akan dikembangkan dan diperluas di tengah umat manusia, dan pasti akan dikerjakan tanpa halangan di dalam seluruh alam semesta sampai pekerjaan besar-Nya ini telah selesai. Inilah kemahakuasaan dan hikmat Tuhan; inilah otoritas dan kuasa-Nya. Dengan demikian, Tuhan Yesus dapat secara terbuka bepergian dan bekerja pada hari Sabat karena di dalam hati-Nya tidak ada peraturan, dan tidak ada pengetahuan atau doktrin yang asalnya dari manusia. Yang Ia bawa adalah pekerjaan baru Tuhan dan jalan-Nya, dan pekerjaan-Nya adalah jalan untuk membebaskan umat manusia, untuk melepaskan mereka, untuk memperkenankan mereka berada dalam terang, dan untuk memperkenankan mereka hidup. Dan mereka yang menyembah berhala atau ilah-ilah palsu hidup setiap harinya diikat oleh Iblis, terikat oleh berbagai jenis peraturan dan tabu—larangan untuk satu hal pada hari ini, larangan lain lagi untuk esok hari—tidak ada kebebasan dalam hidup mereka. Mereka layaknya tahanan yang terbelenggu, tanpa sukacita sama sekali. Apakah yang "larangan" representasikan? Ini merepresentasikan ketidakleluasaan, keterikatan, dan kejahatan. Pada saat seseorang menyembah berhala, ia sedang menyembah ilah palsu, menyembah roh jahat. Larangan datang bersama dengan hal itu. Engkau tidak bisa makan ini atau itu, hari ini engkau tidak bisa bepergian, besok engkau tidak bisa menyalakan tungku, lusa engkau tidak bisa pindah ke rumah baru, hari-hari tertentu harus dipilih untuk pernikahan dan perkabungan, dan bahkan untuk melahirkan bayi. Disebut apakah ini? Ini disebut larangan; inilah perbudakan umat manusia, oleh belenggu Iblis dan roh jahat yang mengendalikan mereka, dan mengikat hati serta tubuh mereka. Apakah larangan-larangan demikian ada pada Tuhan? Ketika membahas tentang kekudusan Tuhan, engkau harus terlebih dahulu memikirkan ini: Bersama Tuhan tidak ada larangan. Tuhan mempunyai prinsip dalam firman dan pekerjaan-Nya, tapi tidak ada larangan, karena Tuhan itu sendiri adalah kebenaran, jalan, dan kehidupan.

Sekarang mari kita perhatikan perikop berikut: "Tetapi Aku berkata kepadamu, bahwa di tempat ini ada yang lebih besar daripada Bait Suci. Tetapi jika engkau mengerti apa artinya ini, Aku menghendaki belas kasihan dan bukan korban persembahan, tentu engkau tidak akan menghukum orang yang tidak bersalah. Karena Anak Manusia adalah Tuhan bahkan atas hari Sabat" (Matius 12:6-8). Apakah arti dari "Bait Suci" di sini? Sederhananya, "Bait Suci" di sini merujuk kepada sebuah bangunan megah, tinggi, dan pada Zaman Hukum Taurat, digunakan oleh para imam sebagai tempat menyembah Tuhan. Ketika Tuhan Yesus berkata "di tempat ini ada yang lebih besar daripada Bait Suci," siapakah yang Ia maksud dengan "ada yang lebih besar"? Jelas bahwa yang dimaksud adalah Tuhan Yesus dalam daging, karena hanya Dia yang lebih besar daripada Bait Suci. Apa yang firman itu sampaikan kepada orang-orang? Yang disampaikan adalah agar orang-orang keluar dari Bait Suci—karena Tuhan telah keluar dan tidak lagi bekerja di dalamnya, sehingga orang-orang harus mencari jejak kaki Tuhan di luar Bait Suci dan mengikuti jejak-Nya dalam pekerjaan baru-Nya. Latar belakang perkataan Tuhan Yesus adalah bahwa di bawah hukum Taurat, orang-orang telah memandang Bait Suci sebagai sesuatu yang lebih besar dari Tuhan itu sendiri. Dengan kata lain, orang-orang lebih menyembah Bait Suci ketimbang menyembah Tuhan, sehingga Tuhan Yesus memperingatkan mereka untuk tidak menyembah berhala, melainkan menyembah Tuhan karena Dia-lah yang terutama. Karena itu Ia berkata: "Aku menghendaki belas kasihan dan bukan korban persembahan." Jelas bahwa di mata Yesus, kebanyakan orang di bawah hukum Taurat tidak lagi menyembah Tuhan Yahweh, melainkan hanya melakukan proses pemberian persembahan, dan Tuhan Yesus menganggap bahwa proses ini tak lain adalah penyembahan berhala. Para penyembah berhala ini memandang Bait Suci sebagai sesuatu yang lebih besar, lebih tinggi daripada Tuhan. Di dalam hati mereka hanya ada Bait Suci, bukannya Tuhan, dan jika mereka kehilangan Bait Suci itu, mereka pun kehilangan tempat berdiam. Tanpa Bait Suci tidak ada lagi tempat bagi mereka untuk beribadah dan melakukan pengorbanan. Yang disebut kediaman bagi mereka adalah tempat mereka bekerja di bawah panji penyembahan kepada Tuhan Yahweh, yang memungkinkan mereka untuk berdiam di dalam Bait Suci dan melakukan urusan mereka sendiri. Yang mereka sebut melakukan pengorbanan tidak lain hanyalah mengerjakan urusan pribadi mereka yang memalukan dengan kedok pelayanan di dalam Bait Suci. Inilah alasan orang-orang pada zaman itu memandang Bait Suci sebagai sesuatu yang lebih besar dari Tuhan. Karena mereka menggunakan Bait Suci sebagai kedok, dan pengorbanan sebagai samaran untuk mencurangi orang lain dan mencurangi Tuhan, Tuhan Yesus mengatakan hal ini untuk memperingatkan orang-orang. Apabila engkau semua menerapkan firman ini pada zaman sekarang, firman ini masih sama sahnya dan sama berlakunya. Walaupun orang-orang pada zaman sekarang telah mengalami pekerjaan Tuhan yang berbeda dari yang dialami orang-orang pada Zaman Hukum Taurat, esensi dari natur mereka masih tetap sama. Dalam konteks pekerjaan pada zaman sekarang, orang-orang masih akan melakukan hal yang sama jenisnya dengan menganggap "Bait Suci lebih besar daripada Tuhan." Sebagai contoh, orang-orang memandang pelaksanaan tugas mereka sebagai mata pencaharian; mereka memandang tindakan bersaksi bagi Tuhan dan bertarung melawan si naga merah yang sangat besar sebagai gerakan politik demi membela hak asasi manusia, demi demokrasi dan kebebasan; mereka mengubah tugas untuk menggunakan keterampilan mereka menjadi karier, tapi mereka memperlakukan takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan tidak lebih dari sekadar doktrin keagamaan untuk ditaati; dan lain sebagainya. Bukankah ungkapan-ungkapan manusia ini pada intinya sama saja dengan menganggap "Bait Suci lebih besar daripada Tuhan?" Yang berbeda hanyalah bahwa dua ribu tahun lalu, orang-orang melakukan urusan pribadi mereka di dalam bangunan fisik Bait Suci, sedangkan di zaman sekarang, orang-orang sibuk dengan urusan masing-masing dalam Bait Suci yang wujudnya abstrak. Orang-orang demikian yang mencintai peraturan melihat peraturan-peraturan tersebut sebagai hal yang lebih besar daripada Tuhan, orang-orang demikian yang mencintai status memandang status sebagai hal yang lebih besar daripada Tuhan, mereka yang mencintai karier melihat karier sebagai hal yang lebih besar daripada Tuhan, dan lain sebagainya—semua pernyataan mereka membuat-Ku mengatakan: "Orang-orang memuji Tuhan sebagai yang terbesar lewat kata-kata mereka, tetapi dalam pandangan mereka segala hal lain lebih besar daripada Tuhan." Ini karena begitu mereka menemukan peluang dalam perjalanan mereka mengikuti Tuhan untuk memamerkan bakat mereka, atau untuk mengerjakan urusan atau karier mereka, mereka menjauhkan diri daripada Tuhan dan terjun ke dalam karier yang mereka cintai. Sedangkan untuk hal yang telah dipercayakan Tuhan kepada mereka, dan kehendak-Nya, hal-hal tersebut telah lama mereka tanggalkan. Dari skenario ini, apakah perbedaan orang-orang ini dengan mereka yang sibuk dengan urusan mereka sendiri di Bait Suci pada dua ribu tahun yang lalu?

Selanjutnya, mari kita perhatikan kalimat terakhir dari perikop kitab suci ini: "Karena Anak Manusia adalah Tuhan bahkan atas hari Sabat." Apakah ada sisi praktis dari kalimat ini? Dapatkah engkau semua melihat sisi praktisnya? Setiap hal yang Tuhan katakan berasal dari hati-Nya, jadi mengapa Ia mengatakan ini? Bagaimana engkau semua memahaminya? Engkau semua mungkin mengerti arti dari kalimat ini sekarang, tapi dulunya tidak banyak orang mengerti apa artinya karena umat manusia baru saja keluar dari Zaman Hukum Taurat. Bagi mereka, keluar dari hari Sabat adalah hal yang sangat sulit dilakukan, apalagi untuk memahami apa arti Sabat yang sejati.

Kalimat "Anak Manusia adalah Tuhan bahkan atas hari Sabat" menyampaikan kepada orang-orang bahwa semuanya tentang Tuhan tidak bersifat materiel, dan meskipun Tuhan dapat menyediakan segala kebutuhan materielmu, setelah semua kebutuhan materielmu terpenuhi, dapatkah kepuasan dari hal-hal materiel ini menggantikan pengejaranmu akan kebenaran? Sudah jelas tidak mungkin! Watak Tuhan, apa yang Ia punya dan siapa Ia, hal-hal yang sudah kita bahas sebelumnya, semuanya adalah kebenaran. Semua itu tidak bisa diukur oleh harga yang mahal dari sebuah objek materiel; nilainya juga tidak bisa ditakar oleh nilai uang, karena itu bukanlah objek materiel, dan karena semua itu membekali kebutuhan hati setiap orang. Bagi masing-masing orang, nilai dari kebenaran yang tak berwujud ini haruslah lebih besar dari nilai segala benda materiel yang menurutmu baik, bukankah demikian? Perkataan-perkataan ini adalah sesuatu yang perlu engkau semua renungkan baik-baik. Poin penting dari apa yang telah Aku katakan adalah bahwa apa yang Tuhan punya dan siapa Tuhan itu dan segalanya tentang Tuhan adalah hal terpenting bagi setiap orang dan tidak bisa digantikan oleh benda materiel apa pun. Aku akan memberimu sebuah contoh: Ketika engkau lapar, engkau memerlukan makanan. Makanan ini bisa secara relatif baik atau secara relatif kurang, tetapi asalkan engkau merasa kenyang, perasaan tidak enak karena lapar tidak akan terasa lagi—itu akan menghilang. Engkau bisa duduk dalam kedamaian, dan tubuhmu akan menjadi tenang. Rasa lapar manusia bisa dipuaskan oleh makanan, tetapi ketika engkau mengikuti Tuhan dan merasa bahwa engkau tidak punya pemahaman akan Dia, bagaimanakah engkau mengisi kekosongan di dalam hatimu? Bisakah itu dipuaskan oleh makanan? Atau ketika engkau mengikuti Tuhan dan tidak memahami kehendak-Nya, apakah yang bisa engkau gunakan untuk memuaskan kelaparan di hatimu? Dalam proses engkau mengalami keselamatan melalui Tuhan, seraya mengejar perubahan watakmu, jika engkau tidak memahami kehendak-Nya atau tidak mengenal kebenaran, apabila engkau tidak mengerti akan watak Tuhan, bukankah engkau akan merasa tidak tenang? Tidakkah engkau merasakan kelaparan dan kehausan yang amat sangat di dalam hatimu? Tidakkah perasaan-perasaan tersebut menghalangi perasaan tenang di dalam hatimu? Jadi bagaimanakah engkau dapat memuaskan kelaparan di hatimu—adakah cara untuk mengisinya? Sebagian orang pergi berbelanja, sebagian lagi mencari teman untuk berbagi, ada yang tidur untuk mengisi hal itu, ada juga yang membaca lebih banyak firman Tuhan, atau bekerja lebih keras dan mengerahkan upaya lebih besar dalam memenuhi tugas mereka. Dapatkah hal-hal tersebut menyelesaikan kesukaranmu yang sebenarnya? Engkau semua sepenuhnya memahami tindakan-tindakan seperti ini. Ketika engkau merasa tidak berdaya, ketika engkau merasakan hasrat yang kuat untuk mendapatkan pencerahan dari Tuhan demi membuatmu mengenal realitas kebenaran dan kehendak-Nya, apakah yang paling engkau butuhkan? Yang engkau butuhkan bukanlah santapan, dan juga bukan serangkaian ucapan murah hati. Lebih dari semua itu, bukan ketenangan sementara maupun kepuasan lahiriah—yang engkau butuhkan adalah agar Tuhan secara langsung, secara jelas memberitahukan kepadamu apa yang harus engkau lakukan dan bagaimana melakukannya, memberitahukan kepadamu dengan jelas apa itu kebenaran. Setelah engkau telah memahami ini, meskipun jika hanya sedikit, tidakkah engkau merasa hatimu lebih puas dibandingkan setelah menikmati santapan yang baik? Ketika hatimu dipuaskan, bukankah hatimu, bukankah keseluruhan pribadimu, mendapatkan ketenangan yang sejati? Melalui analogi dan analisis ini, apakah engkau semua sekarang paham mengapa Aku ingin membagikan kalimat ini, "Anak Manusia adalah Tuhan bahkan atas hari Sabat," kepadamu? Artinya adalah bahwa apa yang datang dari Tuhan, apa yang Ia punya dan siapa Ia, dan segala sesuatu yang berkenaan dengan-Nya adalah lebih besar dibandingkan apa pun, termasuk hal atau orang yang sebelumnya engkau anggap sebagai yang paling engkau cintai. Dengan kata lain, apabila seseorang tidak memiliki firman dari mulut Tuhan atau mereka tidak mengerti kehendak-Nya, mereka tidak dapat memperoleh ketenangan. Dalam pengalamanmu di masa depan, engkau semua akan mengerti mengapa Aku menginginkan engkau semua pada saat ini untuk menelaah ayat tersebut—ini sangatlah penting. Semuanya yang dilakukan Tuhan adalah kebenaran dan hidup. Kebenaran bagi umat manusia adalah sesuatu yang tidak boleh kurang dalam hidup mereka; hal yang tanpanya mereka tidak akan bisa berbuat apa-apa; dan juga dapat dikatakan itu adalah hal yang terbesar. Meskipun engkau tidak bisa melihatnya atau menyentuhnya, nilainya tidak bisa engkau abaikan. Inilah satu-satunya hal yang dapat membawa kedamaian di dalam hatimu.

Apakah pengertianmu akan kebenaran berintegrasi dengan keadaanmu sendiri? Dalam kehidupan nyata, engkau pertama-tama harus memikirkan kebenaran mana yang berkaitan dengan orang-orang, hal-hal, atau benda-benda yang pernah engkau temui. Di antara kebenaran-kebenaran inilah engkau dapat menemukan kehendak Tuhan dan menghubungkan apa yang telah engkau temui dengan kehendak-Nya. Apabila engkau tidak tahu aspek-aspek mana saja dari kebenaran yang berkaitan dengan hal-hal yang telah engkau temui, tetapi engkau langsung begitu saja mencari kehendak Tuhan, ini pendekatan yang buta yang tidak akan mendatangkan hasil. Apabila engkau ingin mencari kebenaran dan memahami kehendak Tuhan, pertama-tama engkau perlu melihat hal-hal seperti apa yang telah datang kepadamu, lalu aspek-aspek kebenaran yang mana saja yang terkait dengan mereka, dan carilah kebenaran dalam firman Tuhan yang terkait dengan pengalamanmu. Kemudian carilah jalan tindakan nyata yang tepat bagimu di dalam kebenaran itu; dengan cara ini engkau akan memperoleh pengertian tidak langsung akan kehendak Tuhan. Mencari dan melakukan kebenaran bukanlah menerapkan sebuah doktrin secara mekanis ataupun mengikuti sebuah rumus. Kebenaran bukanlah hal yang bersifat terumuskan, juga bukan sebuah hukum. Kebenaran tidak mati—tetapi hidup. Itu adalah sesuatu yang hidup, dan merupakan aturan yang harus diikuti makhluk ciptaan dan aturan yang harus dimiliki seorang manusia dalam hidupnya. Ini merupakan hal yang harus lebih engkau pahami melalui pengalaman. Tidak peduli berada pada tahapan mana pengalamanmu, engkau tidak bisa dipisahkan dari firman Tuhan atau kebenaran, dan apa yang engkau pahami akan watak Tuhan dan apa yang engkau ketahui tentang apa yang Ia punya dan siapa Ia, semuanya itu dinyatakan dalam firman Tuhan. Semua itu terkait erat dengan kebenaran. dan terhubung dengan kebenaran. Watak Tuhan, lalu apa yang Ia punya dan siapa Ia dengan sendirinya adalah kebenaran. Kebenaran merupakan perwujudan yang autentik dari watak Tuhan juga apa yang Ia punya dan siapa Ia. Ini menjadikan apa yang Tuhan punya dan siapa Tuhan itu suatu hal yang konkret dan secara terbuka menyatakannya. Secara langsung hal itu memberitahukan kepadamu tentang apa yang Tuhan sukai, apa yang tidak Ia sukai, apa yang Ia ingin engkau lakukan dan apa yang tidak Ia izinkan untuk engkau lakukan, orang-orang seperti apa yang Ia benci dan orang-orang seperti apa yang Ia kasihi. Di balik kebenaran yang Tuhan ungkapkan orang dapat melihat kesenangan-Nya, kemarahan-Nya, kesedihan-Nya, dan kebahagiaan-Nya, juga esensi-Nya—ini adalah pengungkapan dari watak-Nya. Selain mengetahui apa yang Tuhan miliki dan siapa Tuhan itu, dan selain memahami watak-Nya dari firman-Nya, yang paling penting adalah perlunya mencapai pemahaman ini melalui pengalaman nyata. Jika seseorang menjauhkan diri mereka dari kehidupan nyata supaya mengenal Tuhan, mereka tidak akan bisa mencapai hal itu. Bahkan jika ada orang-orang yang dapat memperoleh sebagian pemahaman dari firman Tuhan, pengertian ini terbatas pada teori dan ucapan, dan akan berbeda dengan seperti apakah Tuhan itu sebenarnya.

Apa yang sedang kami sampaikan sekarang semuanya berada dalam cakupan kisah-kisah yang tercatat dalam Alkitab. Melalui kisah-kisah ini, dan dengan menganalisis hal-hal yang terjadi, orang dapat mengerti watak-Nya, dan apa yang Ia punya dan siapa Ia yang telah Ia ungkapkan, memungkinkan mereka untuk mengenal setiap aspek dari Tuhan dengan lebih luas, lebih mendalam, lebih lengkap, dan lebih menyeluruh. Jadi, apakah jalan satu-satunya untuk mengenal setiap aspek Tuhan adalah melalui kisah-kisah ini? Tidak, tentu saja tidak! Karena apa yang Tuhan katakan dan pekerjaan Tuhan pada Zaman Kerajaan dapat membantu orang mengenal watak-Nya dan mengetahui tentang hal itu secara lebih menyeluruh. Akan tetapi, menurut-Ku lebih mudah untuk mengenal watak Tuhan dan memahami apa yang Ia punya dan siapa Ia melalui contoh-contoh atau kisah-kisah yang tercatat dalam Alkitab yang sudah dikenal orang-orang. Apabila Aku mengambil kata-kata penghakiman dan hajaran dan kebenaran yang dinyatakan Tuhan di masa sekarang untuk membuatmu mengenal-Nya kata demi kata, engkau akan merasa itu terlalu membosankan dan bertele-tele, dan sebagian orang bahkan akan merasa bahwa perkataan Tuhan nampak terlalu terumuskan. Akan tetapi, apabila kita mengambil kisah-kisah Alkitab ini sebagai contoh agar orang lebih mudah mengenal watak Tuhan, mereka tidak akan menganggapnya membosankan. Dapat dikatakan bahwa sepanjang menjelaskan contoh-contoh ini, rincian-rincian mengenai apa yang ada di hati Tuhan pada saat itu—suasana hati dan perasaan, atau pemikiran dan gagasan-Nya—telah disampaikan kepada manusia dalam bahasa manusia, dan tujuan dari semua ini adalah agar mereka menghargai, merasakan bahwa apa yang Tuhan punya dan siapa Tuhan itu bukanlah sebuah rumusan. Itu bukanlah sebuah legenda, atau suatu hal yang tidak dapat dilihat dan disentuh orang-orang. Itu merupakan hal yang benar-benar ada, yang bisa orang rasakan dan hargai. Inilah tujuan utamanya. Engkau dapat mengatakan bahwa orang-orang yang tinggal di zaman ini adalah orang-orang yang diberkati. Mereka dapat belajar dari kisah-kisah Alkitab untuk memperoleh pengertian yang lebih luas tentang pekerjaan Tuhan sebelumnya. Mereka dapat melihat watak-Nya melalui pekerjaan yang telah Ia lakukan. Mereka dapat memahami kehendak Tuhan bagi umat manusia melalui watak-watak yang telah Ia ungkapkan ini, lalu memahami manifestasi nyata dari kekudusan dan kepedulian-Nya terhadap umat manusia demi mencapai pengenalan yang lebih mendetail dan lebih mendalam akan watak Tuhan. Aku pecaya bahwa engkau semua dapat merasakan hal ini!

Dalam lingkup pekerjaan yang diselesaikan Tuhan Yesus pada Zaman Kasih Karunia, engkau dapat melihat aspek lain dari apa yang dimiliki Tuhan dan siapa Tuhan itu. Ini diungkapkan melalui daging-Nya, dan melalui aspek ini menjadi mungkin bagi orang-orang untuk melihat dan menghargainya melalui kemanusiaan-Nya. Dalam diri Anak Manusia, orang-orang melihat bagaimana Tuhan dalam daging menghidupi kemanusiaan-Nya, dan mereka melihat keilahian Tuhan yang diungkapkan melalui daging. Dua jenis pengungkapan ini memungkinkan orang untuk melihat Tuhan yang sangat nyata, dan memungkinkan mereka untuk merumuskan sebuah konsep yang berbeda tentang Tuhan. Akan tetapi, pada periode waktu antara penciptaan dunia dan akhir Zaman Hukum Taurat, atau sebelum Zaman Kasih Karunia, apa yang terlihat, didengar, dan dialami oleh orang-orang hanyalah aspek keilahian Tuhan. Yakni apa yang diperbuat dan difirmankan Tuhan dalam alam tak berwujud, juga hal-hal yang Ia nyatakan dari pribadi-Nya yang nyata yang tidak bisa dilihat maupun disentuh. Seringkali, hal-hal ini membuat orang merasa bahwa Tuhan sangatlah besar, dan bahwa mereka tidak akan bisa mendekat kepada-Nya. Kesan yang biasanya diberikan Tuhan kepada manusia adalah bahwa Ia muncul dan menghilang, dan orang-orang bahkan merasakan bahwa setiap pemikiran dan gagasan-Nya begitu misterius dan sulit dipahami sehingga tidak ada cara untuk mencapai pemikiran dan gagasan-Nya, apalagi untuk memahami dan menghargai hal-hal tersebut. Bagi orang-orang, segala sesuatu mengenai Tuhan sangatlah jauh—sedemikian jauhnya sehingga tidak dapat dilihat, tidak dapat disentuh oleh mereka. Tuhan tampaknya berada di langit, dan Ia tampaknya tidak ada sama sekali. Jadi, bagi orang-orang, memahami hati dan pikiran Tuhan ataupun pemikiran-Nya adalah hal yang tak dapat diraih, dan tak mungkin tercapai. Walaupun Tuhan melakukan sejumlah pekerjaan konkret pada Zaman Hukum Taurat, dan Ia juga mengeluarkan sejumlah kata-kata khusus dan mengungkapkan sejumlah watak khusus agar orang-orang bisa menghargai dan melihat sejumlah pengenalan nyata akan Dia, namun pada akhirnya, itu merupakan pernyataan apa yang Ia punya dan siapa Ia dalam alam tak berwujud, dan apa yang dipahami orang-orang, yang mereka ketahui masihlah aspek keilahian dari apa yang Ia punya dan siapa Ia. Umat manusia tidak mampu memperoleh konsep konkret dari pengungkapan tentang apa yang Ia punya dan siapa Ia, dan kesan mereka akan Tuhan masih terpaku dalam lingkup "suatu tubuh Rohaniah yang tidak bisa didekati, yang muncul dan menghilang dari pandangan." Karena Tuhan tidak menggunakan objek atau wujud yang spesifik pada alam materiel untuk muncul di hadapan orang-orang, mereka masih tidak bisa mendefinisikan-Nya dengan menggunakan bahasa manusia. Dalam hati dan pikiran orang-orang, mereka selalu ingin menggunakan bahasa mereka sendiri untuk mengadakan suatu standar untuk Tuhan, untuk membuat-Nya berwujud dan memanusiakan diri-Nya, seperti seberapa tinggi Ia, seberapa besar Ia, bagaimana penampilan-Nya, apa yang secara khusus Ia sukai dan bagaimana kepribadian-Nya secara khusus. Sebenarnya, dalam hati-Nya Tuhan mengetahui bahwa orang-orang berpikir demikian. Ia mengetahui dengan jelas apa yang mereka perlukan, dan tentu saja Ia juga tahu apa yang mesti Ia lakukan, maka Ia melakukan pekerjaan-Nya dengan cara yang berbeda pada Zaman Kasih Karunia. Cara ini adalah ilahi sekaligus manusiawi. Dalam jangka waktu selama Tuhan Yesus bekerja, orang-orang dapat melihat bahwa Tuhan memiliki berbagai ungkapan manusia. Sebagai contoh, Ia dapat menari, Ia mengunjungi acara pernikahan, Ia dapat bercakap dengan orang-orang, berbicara kepada mereka, dan membahas berbagai hal bersama mereka. Selain itu, Tuhan Yesus juga menyelesaikan banyak pekerjaan yang merepresentasikan keilahian-Nya, dan tentunya semua pekerjaan ini adalah pernyataan dan pengungkapan dari watak Tuhan. Selama waktu tersebut, ketika keilahian Tuhan dinyatakan dalam wujud manusia biasa yang dapat dilihat dan disentuh orang-orang, mereka tidak lagi merasa bahwa Ia adalah pribadi yang muncul dan menghilang, tidak lagi merasa bahwa mereka tidak bisa mendekat kepada-Nya. Sebaliknya, mereka dapat berusaha mengerti kehendak Tuhan atau memahami keilahian-Nya melalui setiap pergerakan, setiap firman, dan setiap pekerjaan dari sang Anak Manusia. Inkarnasi Anak Manusia mengungkapkan keilahian Tuhan melalui kemanusiaan-Nya dan menyampaikan kehendak Tuhan kepada umat manusia. Dan melalui pengungkapan kehendak dan watak Tuhan, Ia juga mengungkapkan kepada orang-orang wujud Tuhan yang tidak bisa dilihat atau disentuh di alam rohani. Apa yang orang-orang lihat adalah Tuhan itu sendiri, yang nyata dan memiliki daging dan tulang. Jadi, inkarnasi Anak Manusia membuat hal-hal seperti identitas, status, gambar, dan watak Tuhan, dan apa yang Tuhan punya dan siapa Tuhan itu menjadi konkret dan dimanusiakan. Meskipun penampakan luar dari Anak Manusia memiliki batasan mengenai gambar diri Tuhan, esensi-Nya dan apa yang Ia punya dan siapa Ia semuanya mampu merepresentasikan identitas dan status Tuhan itu sendiri—hanya ada sejumlah perbedaan dalam bentuk pengungkapannya. Tidak peduli apakah itu sifat manusiawi dari Anak Manusia atau keilahian-Nya, kita tidak dapat menyangkal bahwa Ia merepresentasikan identitas dan status Tuhan itu sendiri. Akan tetapi, pada masa tersebut, Tuhan bekerja melalui daging, berbicara melalui perspektif daging, dan berdiri di hadapan umat manusia dengan identitas dan status Anak Manusia, dan ini memberikan kesempatan bagi orang-orang untuk menemui dan mengalami firman dan pekerjaan Tuhan yang nyata di tengah manusia. Hal ini juga memberikan kepada orang-orang wawasan terhadap keilahian dan kebesaran-Nya di tengah kerendahhatian, sekaligus memungkinkan mereka beroleh pemahaman dan definisi pendahuluan akan autentisitas dan kenyataan Tuhan. Meskipun pekerjaan yang diselesaikan Tuhan Yesus, cara Ia bekerja, dan sudut pandang di mana Ia berbicara berbeda dari pribadi nyata Tuhan dalam alam rohani, segala hal tentang-Nya benar-benar merepresentasikan Tuhan itu sendiri yang sebelumnya belum pernah dilihat manusia—hal ini tidak dapat dibantah! Dengan kata lain, tidak peduli dalam bentuk apa Tuhan menampakkan diri, tidak peduli dari sudut pandang mana Ia berbicara, atau dalam rupa apa Ia menatap manusia, Tuhan tidak merepresentasikan siapa pun selain diri-Nya sendiri. Ia tidak dapat merepresentasikan manusia mana pun—Ia tidak mungkin merepresentasikan seorang manusia rusak. Tuhan adalah Tuhan itu sendiri, dan hal ini tidak dapat dibantah.

Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.

Hubungi kami via WhatsApp