Firman Tuhan | "Perintah-Perintah Zaman Baru"
Beberapa materi dalam video ini berasal dari: 【All Bible quotations in this video are translated freely from English...
Kami menyambut semua pencari yang merindukan penampakan Tuhan!
Mati Rasa
Mari kita membahas perwujudan lainnya, yaitu mati rasa. Masalah apakah ini? (Cacat dalam kemanusiaan.) Mati rasa adalah cacat dalam kemanusiaan. Apa perwujudan khas mati rasa dalam diri orang-orang? Lamban dalam bereaksi, bergerak dengan kecepatan yang lambat, dan tidak fleksibel saat melakukan sesuatu, dan ketika memikirkan masalah, hanya memiliki sedikit ide atau hanya mampu merenungkan relatif sedikit aspek dari masalah tersebut. Semua ini disebut mati rasa. Aspek kemanusiaan apa sajakah yang ada kaitannya dengan mati rasa? Ini berkaitan dengan kedalaman pandangan orang mengenai orang dan hal-hal, kedalaman orang dalam cara mereka berperilaku dan bertindak, serta kecerdasan atau kualitas yang orang miliki dalam hal memandang orang dan hal-hal serta dalam berperilaku dan bertindak. Secara umum, orang seperti apa yang digambarkan dengan istilah "mati rasa"? (Orang yang berkualitas relatif buruk.) Mati rasa berarti seseorang memiliki kualitas yang buruk, kecerdasan yang rendah, dan reaksi yang lamban—memiliki perwujudan ini disebut mati rasa. Mati rasa merupakan cacat utama dalam kemanusiaan. Mati rasa ini tidak berarti lengan atau kakimu mati rasa dan kehilangan sensasi—ini bukanlah jenis ketidakpekaan fisik semacam itu. Mati rasa juga tidak mengacu pada sifat kepribadian yang tumpul, tidak fleksibel, atau kaku. Sebaliknya, mati rasa merupakan reaksi mental atau perwujudan kecerdasan yang orang miliki dalam menangani masalah. Biasanya, orang semacam ini sering berada dalam keadaan mati rasa, berpikiran tumpul, dan tidak bereaksi terhadap orang, peristiwa, dan hal-hal di sekitar mereka. Itu berarti, mereka melihat sesuatu tetapi tidak dapat mengetahui yang sebenarnya tentang esensi dari hal tersebut dan tidak dapat melihat masalah di dalamnya. Ketika engkau mengingatkan mereka bahwa ada sebuah masalah di sini, mereka bahkan tidak bereaksi dan tidak tahu bahwa itu adalah sebuah masalah. Sekalipun seseorang menunjukkan masalahnya kepada mereka, mereka tetap tidak dapat mengetahui yang sebenarnya tentang keseriusan masalah itu atau esensi dari masalah tersebut. Akibatnya, mereka menangani banyak hal dengan sangat lambat. Seperti inilah mati rasa itu. Mati rasa itu sendiri merupakan cacat dalam kemanusiaan. Mengenai orang yang mati rasa, berapa pun usia mereka atau apakah ada bagian tubuh fisik mereka yang mati rasa, dalam hal perwujudan kemanusiaan mereka dalam aspek ini, mereka tidak dapat melakukan pekerjaan yang spesifik dan esensial, dan mereka juga tidak dapat memikul pekerjaan yang berkaitan dengan konten teknis atau yang sifatnya sangat khusus. Tentu saja, orang-orang semacam itu juga tidak mampu menjadi pemimpin dan pekerja. Jika seorang pemimpin atau pekerja mati rasa, akan timbul masalah dalam pekerjaan yang mereka lakukan, pekerjaan akan terhenti dan lumpuh. Mereka tidak mampu menemukan masalah, dan tidak mampu segera menyelesaikannya, sehingga ketika berbagai masalah muncul, mereka tidak dapat menemukannya, dan masalahnya tidak dapat diselesaikan. Mereka tidak dapat melihat masalah dengan mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mulai untuk menyelesaikannya, dan mereka tidak tahu pekerjaan apa yang paling penting untuk dilakukan. Setiap hari, mereka hanya dapat melakukan sedikit pekerjaan yang dangkal secara rutin. Apa pun pengaturan kerja yang dikeluarkan oleh Yang di Atas, mereka meneruskannya kepada orang lain, tetapi setelah meneruskannya, mereka tidak tahu apakah pengaturan kerja itu dapat dilaksanakan dengan baik atau tidak, hasil apa yang dapat dicapai, atau apa dampak selanjutnya. Mereka tidak dapat mengetahui yang sebenarnya tentang apa pun. Sebanyak apa pun orang di sekitar mereka yang melakukan kejahatan, atau menyebabkan gangguan atau kekacauan, mereka tidak dapat melihatnya. Mereka juga tidak tahu berapa banyak pekerjaan yang perlu ditindaklanjuti atau pekerjaan spesifik mana yang perlu dilaksanakan. Seseorang bertanya kepada mereka: "Apakah kau telah menugaskan dan mengatur pekerjaan?" Mereka berkata: "Semuanya telah diatur. Aku telah menyampaikan persekutuan kepada mereka dan membacakan pengaturan kerja dengan suara lantang—semua orang mengetahuinya." Apakah ini berarti melaksanakan pengaturan kerja? (Tidak.) Melaksanakan pengaturan kerja pertama-tama mengharuskan orang untuk menugaskan tanggung jawab pemimpin dan pekerja dengan semestinya, menentukan pemimpin mana yang harus menangani pekerjaan mana, dan memastikan setiap bagian dari pekerjaan ditugaskan kepada orang-orang tertentu. Selain itu, para pemimpin dan pekerja harus diberi tahu secara spesifik bagaimana cara melakukannya dan berdasarkan prinsip-prinsip yang mana. Semua hal ini harus dijelaskan dengan gamblang sehingga setiap orang tahu bagaimana cara melakukan pekerjaan tersebut. Hanya inilah yang dimaksud dengan mengalokasikan pekerjaan. Ketika melaksanakan pekerjaan, beberapa orang hanya membacakan pengaturan kerja kepada orang lain dan meminta setiap orang untuk membagikan pemahaman dan perasaan mereka mengenainya, dan itu saja. Selama mereka melihat setiap orang sibuk melaksanakan tugasnya, mereka menganggap pengaturan kerja itu telah dilaksanakan dengan semestinya. Pada saat ini, jika engkau bertanya kepada mereka, "Apakah saudara-saudari mengalami kesulitan dalam melaksanakan tugas mereka? Apakah masih ada masalah yang muncul? Apakah kau menyampaikan persekutuan untuk menyelesaikan masalah itu?" mereka menjawab, "Aku belum mendengar adanya masalah—aku akan memeriksanya." Sebenarnya, orang yang bertanggung jawab atas pekerjaan itu tidak mengemukakan masalah atau kesulitan apa pun, tetapi kesulitan-kesulitan itu benar-benar ada. Karena mereka terlalu mati rasa, mereka tidak dapat melihatnya. Misalnya, mereka bahkan tidak dapat melihat ketika dua orang tidak dapat saling bekerja sama dan bersaing di antara mereka sendiri untuk mendapatkan status saat melaksanakan tugas mereka, dan ini memengaruhi pekerjaan. Mereka bahkan berkata, "Hubungan mereka cukup baik—mereka mengobrol dan berkomunikasi satu sama lain. Jika mereka tidak dapat bekerja sama, mereka tidak akan saling berbicara." Orang-orang bertanya kepada mereka, "Apakah mereka saling bersaing untuk mendapatkan status? Dapatkah mereka bekerja sama secara harmonis?" Mereka menjawab, "Aku tidak tahu tentang itu." Setelah penyelidikan, barulah diketahui bahwa kedua orang itu tidak dapat bekerja sama dan bersaing satu sama lain—bersaing tentang siapa yang menyampaikan khotbah lebih tinggi, siapa yang suaranya lebih keras, dan siapa yang berbicara lebih lama. Hal-hal ini telah lama diperhatikan oleh umat pilihan Tuhan. Jika engkau bertanya kepada orang itu, "Apakah masalah-masalah ini telah diselesaikan dengan segera?" mereka akan berkata, "Tidak, masalah-masalah ini belum diselesaikan. Aku tidak tahu bahwa ini adalah pekerjaan yang harus kulakukan." Mereka bahkan tidak tahu bagaimana menyelesaikan masalah besar seperti itu—bukankah mereka orang yang bodoh? (Ya.) Mereka membacakan pengaturan kerja dengan suara lantang lalu mengharuskan semua orang membuat pernyataan dan bersumpah untuk melaksanakan tugas dengan baik, dan setelah itu, mereka menganggap pekerjaan mereka selesai. Mereka berkata kepada diri sendiri, "Aku ingat siapa pemimpin gerejanya, siapa yang secara khusus bertanggung jawab atas bagian pekerjaan apa, dan siapa yang bertanggung jawab atas pekerjaan pembuatan film," tetapi mereka benar-benar tidak dapat melihat bagaimana cara melakukan pekerjaan spesifik tersebut. Seperti inilah orang yang mati rasa dan berpikiran tumpul—mereka adalah orang-orang yang bodoh. Mereka tidak dapat menemukan masalah apa pun dan tidak tahu bagaimana cara mempersekutukan aspek apa pun dari prinsip-prinsip kebenaran. Untuk masalah yang ada kaitannya dengan prinsip-prinsip kebenaran, mereka tidak tahu bagaimana mempersekutukan kebenaran untuk menyelesaikannya. Untuk masalah yang berkaitan dengan personel atau pekerjaan administratif, mereka juga tidak dapat melihat satu pun dari masalah tersebut. Sekalipun mereka melihat bahwa seseorang tidak dapat melakukan pekerjaan itu, mereka tidak tahu bagaimana menyelesaikan hal ini. Mereka tidak dapat mengetahui yang sebenarnya tentang apa pun. Inilah yang dimaksud dengan mati rasa. Mereka hanya tahu cara mengatakan beberapa doktrin tetapi mereka tidak berkompeten dalam pekerjaan—mereka memiliki penampilan yang mati rasa dan berpikiran tumpul. Katakan kepada-Ku, apakah orang seperti ini adalah pemimpin yang memenuhi standar? (Tidak.) Jika para pemimpin dan pekerja mati rasa, ini menyusahkan—mereka tidak akan dapat melakukan pekerjaan apa pun. Jika mereka tidak melakukan pekerjaan yang seharusnya mereka lakukan, dan ketika seseorang melaporkan suatu masalah, mereka juga tidak menanganinya, maka ini bukan lagi sekadar masalah mati rasa, melainkan masalah tidak adanya kemanusiaan yang normal, dan kehilangan fungsi normal hati nurani dan nalar.
Mati rasa adalah cacat dalam kemanusiaan. Meskipun cacat ini tidak meningkat ke tahap watak yang rusak, masalah ini sendiri sudah fatal. Seseorang yang hidup berdiri di sana, dengan indra dan anggota tubuh yang berfungsi, tetapi mereka tidak memiliki kemampuan orang normal untuk memandang orang dan hal-hal, atau untuk berperilaku dan bertindak. Ketika bekerja, mereka seperti orang tidak berguna yang tidak memiliki pemikiran—mereka tidak dapat menemukan masalah apa pun, mereka terlebih lagi, tidak mampu menyelesaikan masalah ketika orang lain mengemukakannya, dan mereka tidak dapat melihat pekerjaan apa yang harus dilakukan. Di benaknya, seolah-olah tidak ada yang menjadi perhatian mereka. Akibatnya, mereka tidak dapat melakukan pekerjaan apa pun—mereka adalah orang yang sama sekali tidak berguna. Bukankah masalah ini cukup serius? Engkau lihat, orang yang kepala batu dan orang yang sensitif setidaknya memiliki pemikiran yang aktif—mereka memiliki cara berpikir orang normal; yang berarti, pikiran mereka terus-menerus bekerja. Sedangkan pikiran orang yang mati rasa itu sederhana; seolah-olah pikiran mereka lumpuh, seakan-akan mereka mati. Meskipun mereka memiliki mata, apa pun yang mereka lihat, tidak ada reaksi dalam pikiran mereka, dan mereka tidak akan merenungkannya di benak mereka; mereka tidak memiliki pemikiran dan sepenuhnya adalah patung kayu. Apa artinya patung kayu? Mereka adalah orang-orang yang diukir dari kayu; di luarnya, mereka terlihat menyerupai orang, tetapi ketika engkau berbicara kepada mereka, mereka tidak bereaksi. Engkau meminta mereka untuk menjaga rumah, tetapi ketika rumah itu dirampok, mereka tidak melakukan apa pun. Engkau bertanya kepada mereka, "Mengapa kau tidak menjaga rumah?" dan mereka tetap tidak bereaksi. Jika seseorang tidak bereaksi terhadap apa pun, ini sangat merepotkan. Dengan kata lain, fungsi yang seharusnya dilakukan oleh naluri kemanusiaan—seperti fungsi pemikiran dan kesadaran, serta fungsi yang seharusnya dilakukan oleh mata, telinga, otak, dan hati—tidak dapat dilakukan. Mereka tidak memiliki atau kurang memiliki pemikiran yang seharusnya dimiliki oleh orang dengan kemanusiaan yang normal. Inilah yang disebut mati rasa. Orang yang mati rasa tidak jauh berbeda dengan orang yang tidak ada gunanya. Ada orang yang berkata, "Menurutmu orang-orang semacam ini mati rasa, bahwa mata, telinga, dan otak mereka tidak dapat menjalankan fungsinya. Namun, jika engkau menghina mereka, mereka bereaksi. Jika mereka menderita kerugian, mereka bereaksi. Jadi, apakah mereka masih dapat dianggap sebagai orang yang bodoh?" Bahkan beberapa binatang dapat memahami ucapan manusia—mereka dapat memahami hal baik dan hal buruk yang kaukatakan tentang mereka. Jika seseorang, sebagai manusia, tidak dapat memahami ucapan manusia, berarti mereka tidak memenuhi standar sebagai manusia. Oleh karena itu, untuk mengukur apakah seseorang itu adalah manusia atau bukan, standar bagi manusialah yang harus digunakan. Mengapa Aku menyebutkan binatang? Itu adalah untuk memberitahumu bahwa engkau adalah makhluk hidup yang termasuk dalam golongan manusia ciptaan, bukan binatang. Jika engkau, sebagai manusia, tidak memiliki pemikiran yang bahkan dimiliki oleh binatang, berarti engkau jauh lebih rendah dari binatang. Bahkan binatang pun tahu untuk bersikap baik dan dekat dengan orang-orang yang memperlakukan mereka dengan baik dan menyediakan makanan mereka sehari-hari. Jika engkau, sebagai manusia, tidak memiliki kemanusiaan seperti itu, apakah engkau masih layak disebut manusia? Mengapa Aku membuat perbandingan ini? Ini untuk memberitahumu bahwa engkau bukanlah binatang atau binatang dengan tingkat yang lebih tinggi; engkau adalah manusia, engkau adalah makhluk tingkat tertinggi di antara semua makhluk yang diciptakan oleh Tuhan—seorang manusia. Engkau memiliki kemampuan berbahasa, kemampuan berpikir, dan kemampuan untuk memahami kebenaran. Tuhan menciptakanmu untuk menjadi penguasa di antara segala sesuatu, untuk mengelola segala sesuatu dan makhluk hidup lainnya. Engkau adalah pengurus dari semua makhluk hidup di antara segala sesuatu. Untuk mengelola mereka, engkau harus melebihi mereka. Engkau harus lebih baik daripada mereka agar memiliki kemampuan untuk mengelola mereka. Oleh karena itu, menyebut binatang bukan berarti merendahkanmu, tetapi untuk mengingatkanmu dan menyadarkanmu bahwa engkau harus lebih baik daripada mereka. Engkau harus menggunakan kemampuan yang seharusnya dimiliki oleh kemanusiaanmu, serta berbagai macam akal sehat dan kemampuan yang telah kauperoleh setelah engkau lahir, untuk mengelola dan memimpin mereka, melakukan apa yang seharusnya manusia lakukan, apa yang telah Tuhan amanatkan kepadamu. Jika engkau menganggap dirimu sendiri sebagai manusia ciptaan, engkau harus menggunakan standar bagi manusia ciptaan untuk mengukur kemanusiaan dan esensi dirimu. Standar ini tidak boleh lebih rendah daripada standar yang telah Tuhan tetapkan bagi manusia. Oleh karena itu, untuk mengukur kualitas seseorang dan masalah dalam berbagai aspek kemanusiaan mereka, standar bagi manusialah yang harus digunakan. Banyak orang yang mati rasa secara mental dan lamban untuk bereaksi dalam hal kemanusiaan, yang menyebabkan mereka melakukan banyak tugas mereka dengan buruk selama pelaksanaan tugas tersebut—mereka tidak berkompeten dalam pekerjaan gereja, dan tidak mampu menerapkan berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran. Oleh karena itu, engkau harus mengenal dirimu sendiri dan mengetahui ukuranmu sendiri. Jika engkau tidak memiliki kualitas atau kemanusiaan seperti ini, atau jika engkau memiliki cacat berupa mati rasa dalam kemanusiaanmu, maka engkau tidak boleh bersaing untuk menjadi pemimpin atau pengawas. Jika engkau menjadi pemimpin atau pengawas, maka pekerjaan gereja mana pun yang menjadi tanggung jawabmu, gereja itu akan menjadi lumpuh. Bagian dari pekerjaan apa pun yang menjadi tanggung jawabmu, pekerjaan itu akan menjadi sepenuhnya kacau. Jika engkau tidak berkompeten untuk pekerjaan itu, engkau harus menyingkir dan membiarkan mereka yang mampu melakukannya untuk melaksanakannya. Apakah engkau mengerti? (Ya.) Memiliki kesadaran diri, dan kemudian belajar memberi jalan kepada mereka yang lebih mampu dan merekomendasikan orang lain—ini adalah prinsip penerapannya. Ada orang yang berkata, "Aku begitu mati rasa sampai-sampai tidak dapat membedakan siapa yang baik—bagaimana aku bisa merekomendasikan seseorang?" Jika engkau tidak dapat membedakan siapa yang berkualitas baik dan tidak dapat memberi rekomendasi, engkau perlu memetik beberapa pelajaran. Ketika bertemu dengan seseorang yang memahami kebenaran dan mampu membedakan orang lain, engkau harus belajar dari mereka. Dengan lebih banyak bersekutu dengan mereka, engkau akan dapat mempelajari beberapa hal. Karena engkau memiliki cacat berupa mati rasa dalam kemanusiaanmu, jangan pilih-pilih atau selektif tentang tugas apa yang harus kaulakukan. Engkau sendiri memiliki cacat ini, jadi tidak banyak jenis pekerjaan dan tugas yang dapat kaulakukan. Jika, dengan susah payah, posisi yang cocok ditemukan untukmu, dan engkau masih pilih-pilih dan selektif, maka ini bukan masalah mati rasa atau cacat dalam kemanusiaan, tetapi ini adalah watak yang rusak. Watak rusak apa? Itu adalah watak yang congkak, tidak tunduk, dan tidak mengetahui ukuranmu sendiri. Engkau bukan apa-apa, hanya orang yang tidak berguna, orang idiot, tetapi engkau masih ingin melaksanakan tugas yang bermartabat, yang tidak melelahkan, dan yang sangat dihormati oleh orang lain—ini menunjukkan watak yang congkak. Jika engkau sangat mati rasa, memiliki pekerjaan yang seharusnya kaulakukan dan hal-hal yang seharusnya kauurus tetapi tidak melakukannya, juga tidak memperhatikannya, jika engkau bahkan tidak mau berupaya sedikit pun ketika terjadi kesalahan, dan bahkan ketika engkau melihat sesuatu yang merugikan kepentingan rumah Tuhan, engkau mengabaikannya, berpikir, "Ini bukan masalah di rumahku sendiri, jadi aku tidak akan memedulikannya," ini bukan sekadar mati rasa tetapi ini berarti engkau tidak berhati nurani dan tidak bernalar. Jika engkau memiliki sedikit saja hati nurani dan nalar serta memperlakukan masalah rumah Tuhan sebagai masalahmu sendiri, maka engkau harus memenuhi tanggung jawabmu dan tidak membiarkan kepentingan rumah Tuhan dirugikan. Namun, jika engkau tidak memiliki niat baik ini dan tidak melakukan satu hal pun yang baik, bukankah engkau adalah orang yang berpikiran tumpul dan mati rasa? Ini mengakhiri pembahasan kita tentang perwujudan mati rasa.
Tebal Muka
Sekarang mari kita membahas tentang tebal muka. Masalah macam apakah tebal muka itu? (Cacat dalam kemanusiaan.) Apakah itu sebuah cacat? (Itu adalah masalah karakter yang buruk.) Karakter yang buruk berarti kemanusiaan yang buruk. Berkaitan dengan aspek kemanusiaan apa tebal muka itu? Itu berkaitan dengan hati nurani dan nalar, juga dengan integritas dan martabat. Ini berkaitan dengan aspek dari karakter yang orang miliki. Apa sajakah perwujudan spesifik orang yang tebal muka? Hal-hal apa yang menunjukkan bahwa seseorang itu tebal muka? Hal memalukan apa pun yang mereka lakukan pasti merupakan perwujudan dari sikap mereka yang tebal muka. Menyanjung dan menjilat tanpa merasa bahwa itu memalukan—bukankah seperti inilah tebal muka itu? (Ya.) Mengapa kita menganggap ini sebagai tindakan yang tebal muka? Karena melakukan hal ini menunjukkan bahwa orang itu tidak memiliki rasa malu. Mereka bisa mengucapkan beberapa perkataan yang melanggar hati nurani kemanusiaan yang normal atau yang tidak sesuai dengan fakta, betapa pun memalukan atau tidak menyenangkannya perkataan itu, mereka tidak tersipu atau jantung mereka tidak berdebar, dan mereka tidak peduli bagaimana orang lain memandang mereka setelah mendengarnya; sekalipun orang lain mentertawakannya, mereka tidak peduli. Mereka tidak memiliki rasa malu, bukan? (Ya.) Bukankah tidak memiliki rasa malu sama artinya dengan tebal muka? Selain itu, ketika seseorang jelas bukan siapa-siapa, tetapi masih secara terbuka bersaing untuk mendapatkan status dan menjadi pemimpin—bukankah ini berarti tebal muka? (Ya.) Mereka tidak hanya bersaing secara terbuka, tetapi selama pemilihan, mereka juga memalsukan surat suara. Sementara orang lain memberikan satu suara per orang, mereka memberikan dua suara untuk diri mereka sendiri—bukankah ini berarti tebal muka? (Ya.) Ketika orang lain tidak memilih mereka, mereka memilih diri mereka sendiri. Orang-orang semacam itu bersaing untuk menjadi pemimpin tanpa malu-malu dan tanpa rasa malu—betapa tebal mukanya mereka! Umumnya, orang-orang yang mencintai status dan berambisi semuanya ingin menampilkan diri dengan baik sehingga orang lain dapat memilih mereka sebagai pemimpin. Begitu mereka terpilih sebagai pemimpin, mereka merasa cukup bangga, tetapi jika mereka tidak terpilih, mereka merasa tidak bahagia dan tidak senang—ini adalah perwujudan yang normal. Namun, orang-orang yang tebal muka tidak seperti ini. Mereka akan menggunakan segala cara yang diperlukan untuk menjadi pemimpin. Mereka berkata, "Semua orang tidak menyukaiku dan tidak akan memilihku, tetapi aku akan menemukan cara untuk menjadi pemimpin. Sekalipun aku harus menipu dan menggunakan cara-cara curang, aku akan membuat semua orang memilihku sebagai pemimpin!" Yang lain berkata, "Sekalipun kau menjadi pemimpin, semua orang tetap tidak akan menyukaimu. Kami tidak memiliki pendapat yang baik tentangmu, dan reputasimu buruk. Jika kau mengatur pekerjaan apa pun, tak seorang pun akan mendengarkanmu." Mereka menjawab, "Sekalipun kalian tidak mendengarkanku, aku akan tetap berusaha menjadi pemimpin!" Betapa tebal mukanya orang-orang semacam itu! Dinilai dari sini, bukankah orang-orang semacam itu tidak memiliki kesadaran akan dirinya sendiri? (Ya.) Mereka tidak memiliki kesadaran diri dan terdapat sifat yang agak bengis dalam diri mereka. Dinilai dari pemikiran dan sudut pandang orang yang tebal muka tentang cara mereka berperilaku, mereka tidak memiliki rasa malu dalam kemanusiaan mereka, mereka tidak peduli dengan integritas atau karakter, dengan hati nurani ataupun rasa segan, mereka juga tidak peduli dengan moralitas dan standar dasar bagi cara mereka berperilaku—mereka mengabaikan semua ini. Dinilai dari pemikiran dan kesadaran mereka, mereka sangat bodoh, tidak berpengertian, dan hina. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa mereka memiliki karakter yang jelek dan buruk. Jadi, hal-hal tidak tahu malu yang mereka lakukan tentu saja didorong oleh pemikiran dan sudut pandang mereka yang keliru. Selama pemilihan gereja, mereka bersikeras untuk memilih diri mereka sendiri, memberikan suara untuk diri mereka sendiri, dan menjadi pemimpin—tidak menjadi pemimpin tidak dapat diterima oleh mereka, dan jika mereka tidak menjadi pemimpin, mereka akan membenci saudara-saudari karena tidak memilih mereka. Begitu tahu bahwa engkau tidak memilih mereka, mereka akan merasa engkau tidak menyenangkan. Apa pun yang kaukatakan, mereka menjawabmu dengan ketus. Mereka sangat kasar ketika berbicara kepadamu, seolah-olah napas mereka menyemburkan api. Mereka juga memikirkan cara untuk membalas dendam dan menyiksamu, dan bahkan mungkin menolak untuk berbicara denganmu sepanjang hidup mereka. Yang terlihat dalam tindakan spesifik orang-orang semacam itu adalah watak yang rusak. Watak rusak macam apa itu? (Watak yang kejam.) Bahasa halusnya, itu adalah watak yang congkak dan melebih-lebihkan kemampuan diri sendiri—mereka benar-benar ingin menjadi pemimpin. Namun, dinilai dari cara-cara mereka dalam melakukan segala sesuatu dan berbagai perwujudannya, mereka adalah orang-orang yang memiliki watak yang kejam. Watak rusak dari orang-orang tebal muka yang memiliki kemanusiaan yang tercela ini sangat jelas. Semua tindakan mereka dapat meningkat ke tahap watak yang rusak. Tebal muka merupakan salah satu perwujudan dari karakter mereka; dalam ucapan dan tindakannya, mereka diatur oleh aspek karakter mereka tersebut, dan akibatnya mereka melakukan banyak perbuatan yang tidak tahu malu, dan memperlihatkan berbagai watak yang rusak, seperti kecongkakan dan kekejaman. Oleh karena itu, hingga taraf tertentu, perwujudan tercela yang terlihat dari karakter seseorang termasuk dalam watak yang rusak; semua perwujudan ini berhubungan dan berkaitan erat dengan esensi natur mereka, dan perwujudan spesifik dari semua watak rusak mereka berasal dari karakter mereka yang tercela. Jadi, karakter tercela dan watak rusak saling berkaitan. Watak rusak yang orang miliki dihasilkan setelah orang dirusak oleh Iblis. Misalnya, aspek karakter tercela dalam kemanusiaan yang orang miliki, seperti kepala batu, berpikiran sempit, dan tebal muka, semuanya itu adalah hasil dari perusakan manusia oleh Iblis dan bekerjanya Iblis dalam diri mereka. Sebelum menerima kebenaran, semua orang terlebih dahulu menerima perusakan dan penyesatan dari banyak pemikiran dan sudut pandang yang keliru, jahat, dan negatif—mereka menerima hal-hal yang keliru ini ke dalam hati mereka sebagai hidup mereka, dan ini berarti watak-watak rusak itu pun menjadi hidup mereka.
Tebal muka memiliki beberapa perwujudan lainnya. Beberapa pemimpin dan pekerja melakukan tindakan yang jelas-jelas menyebabkan kekacauan dan gangguan, menipu orang-orang di atas mereka sembari menyembunyikan sesuatu dari orang-orang di bawah mereka, atau melanggar pengaturan kerja, dan tindakan mereka bahkan menyebabkan pekerjaan gereja menjadi sangat dirugikan. Namun, mereka bukan saja tidak merenungkan dan mulai menyadari masalah mereka sendiri atau mengakui fakta kejahatan mereka yang mengganggu pekerjaan gereja, melainkan mereka bahkan yakin bahwa mereka telah bertindak baik, dan ingin mencari pujian serta penghargaan, menyombongkan diri dan bersaksi di mana-mana tentang seberapa banyak pekerjaan yang telah mereka lakukan, seberapa banyak penderitaan yang telah mereka tanggung, seberapa banyak kontribusi yang telah mereka buat selama melakukan pekerjaan mereka, berapa banyak orang yang telah mereka peroleh melalui pemberitaan Injil selama bekerja, dan sebagainya. Mereka sama sekali tidak mengakui seberapa banyak kejahatan yang telah mereka lakukan atau seberapa besar mereka telah merugikan pekerjaan gereja. Tentu saja, mereka juga tidak bertobat, apalagi berbalik arah. Katakan kepada-Ku, bukankah orang-orang semacam itu tebal muka? (Ya.) Jika engkau bertanya kepada mereka, "Apakah kau melakukan pekerjaan gereja berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran? Apakah pekerjaanmu sesuai dengan pengaturan kerja rumah Tuhan?" mereka menghindari topik tersebut. Jika orang lain kemudian menyingkapkan bahwa mereka menyebabkan kerugian serius pada persembahan milik Tuhan selama pekerjaan mereka—ada yang kerugiannya mencapai beberapa ratus yuan, ada yang beberapa ribu, dan ada yang bahkan puluhan ribu—apa reaksi mereka ketika diminta untuk mengganti rugi? Orang normal yang memiliki hati nurani, nalar, dan rasa malu akan hancur hati setelah mendengarnya, di lubuk hatinya akan merasa sangat hina dan malu. Mereka akan yakin bahwa mereka tidak melakukan pekerjaan mereka dengan baik dan bahwa mereka sangat berutang kepada Tuhan, sehingga mereka tidak akan berusaha untuk membenarkan diri mereka sendiri; sekalipun mereka telah melakukan beberapa pekerjaan konkret dan menanggung banyak penderitaan, mereka tidak akan menganggap hal-hal itu layak untuk disebutkan. Jika pekerjaan mereka benar-benar dilakukan dengan baik, mungkinkah itu menyebabkan pekerjaan rumah Tuhan menjadi sangat dirugikan? Tidak mungkin. Hanya dengan menilai dari kerugian yang mereka sebabkan, dapat dibuktikan bahwa pekerjaan mereka dilakukan dengan buruk, sehingga mereka harus mengakui kesalahan dan bertobat. Entah kerugian yang mereka sebabkan itu mengharuskan mereka membayar ganti rugi atau tidak, setidaknya, mereka harus mengakui fakta bahwa pekerjaan mereka menyebabkan kekacauan dan gangguan terhadap pekerjaan gereja. Hanya orang yang benar-benar tak tahu malu yang akan menolak untuk mengakui fakta ini. Mereka akan berkata, "Sekalipun aku mengganti kerugian tersebut, aku tidak akan mengakui bahwa aku telah berbuat salah atau melakukan kesalahan apa pun dalam pekerjaanku. Sekalipun aku membayar utang, aku tetap orang yang berjasa, yang lebih baik daripada rata-rata orang di rumah Tuhan. Aku memiliki sejarah yang gemilang!" Kemanusiaan macam apa ini? Katakan kepada-Ku, apakah orang-orang semacam ini memiliki rasa malu? Dapatkah mereka bahkan mengeja kata "rasa malu"? Jika mereka benar-benar tidak memiliki rasa malu, itu adalah masalah. Jika di dalam hatinya mereka tahu dengan jelas bahwa mereka telah melakukan kejahatan tetapi tetap bersikukuh menolak untuk mengakuinya secara lisan, bukankah orang-orang semacam itu sangat keras kepala? Jika di dalam hatinya, mereka menyadari bahwa mereka telah berbuat jahat dan juga dapat mengakuinya secara lisan, mereka masih terhitung memiliki hati nurani—mereka masih memiliki rasa malu dalam diri mereka. Jika mereka tidak hanya menolak untuk mengakuinya secara lisan, tetapi di dalam hatinya, mereka juga melawan, terus-menerus menentang dan bahkan menyebarkan klaim di mana-mana bahwa rumah Tuhan sedang memperlakukan mereka dengan tidak adil dan bahwa mereka adalah korban dari nasib buruk, maka masalah mereka serius. Seberapa serius? Mereka sama sekali tidak berhati nurani atau tidak bernalar. Hati nurani haruslah mencakup rasa keadilan dan kebaikan. Salah satu aspek dari rasa keadilan adalah bahwa orang haruslah memiliki rasa malu. Hanya jika orang tahu malu, barulah mereka dapat bersikap jujur, memiliki rasa keadilan, dan mencintai hal-hal yang positif serta berpegang teguh pada hal-hal tersebut. Namun, jika tidak ada rasa malu dalam hati nuranimu dan dalam rasa keadilanmu, serta engkau tidak mengenal rasa malu—dan bahkan setelah melakukan kesalahan, jika engkau tidak merasa malu karenanya, dan tidak tahu bahwa engkau harus merenungkan dirimu sendiri atau membenci dirimu sendiri, tidak merasa menyesal, dan dengan cara apa pun orang lain menyingkapkanmu, engkau tidak peduli, tidak tersipu dan tidak merasa malu—berarti hati nuranimu sebagai manusia bermasalah, dan dapat juga dikatakan bahwa engkau tidak memiliki hati nurani. Kalau begitu, sulit untuk mengatakan apakah hatimu buruk ataukah jahat—mungkin hatimu jahat, mungkin hatimu seperti hati serigala; bukan positif tetapi negatif. Orang yang tidak berhati nurani dan tidak memiliki kemanusiaan adalah para setan. Jika engkau berbuat salah dan sama sekali tidak merasa malu, tidak merasa menyesal atau tidak merasa bersalah, dan engkau tidak mau merenungkan dirimu sendiri tetapi malah membantah, melawan, dan berusaha untuk membela serta membenarkan dirimu sendiri, mendandani dirimu dengan topeng yang indah, maka jika diukur berdasarkan standar kemanusiaan, kemanusiaanmu itu bermasalah. Seperti apa pun nalarmu, jika engkau tidak memenuhi standar hati nurani, sulit untuk mengatakan apakah engkau sebenarnya memiliki kemanusiaan atau tidak. Kita tidak akan membahas seperti apa roh di dalam dirimu, dari mana engkau berasal, atau kejahatan apa yang telah kaulakukan di masa lalu; kita tidak akan membicarakan kehidupanmu yang sebelumnya. Hanya membahas tentang hati nurani yang seharusnya kaumiliki dalam kehidupan ini, jika engkau tidak memiliki rasa malu, berarti engkau tidak memenuhi standar sebagai manusia. Ada orang yang berkata, "Aku memang tebal muka jadi kuambil saja apa pun yang aku mau." Namun, itu tergantung di mana engkau melakukannya—melakukan hal itu di rumah Tuhan tidak akan berhasil. Rumah Tuhan bukanlah tempat yang dapat kaumanfaatkan untuk memperoleh penghidupan. Jika engkau bersikeras untuk memperoleh penghidupan darinya, engkau pasti akan mendatangkan malapetaka bagi dirimu sendiri. Ada orang yang berpikir, "Aku ini tebal muka seperti buaya. Di mana pun aku berada, aku selalu bertingkah seperti ini, berlagak seolah-olah aku pemilik tempat itu! Aku tidak peduli apa kata orang lain tentangku—siapa yang bisa berbuat sesuatu terhadapku?" Orang mungkin tidak bisa berbuat apa pun terhadapmu, tetapi karena engkau percaya kepada Tuhan, engkau harus memperhatikan bagaimana Tuhan mengukur dan menilai semua yang kaulakukan, bagaimana Tuhan mendefinisikan dirimu, dan ketetapan apa yang Dia berikan kepadamu. Jika engkau tidak memperhatikan hal ini, apakah engkau masih orang yang percaya kepada Tuhan? Jika engkau bahkan tidak peduli tentang hal ini, berarti engkau adalah pengikut yang bukan orang percaya. Engkau mungkin mengabaikan apa yang orang lain katakan tentangmu, tetapi bukankah engkau seharusnya peduli tentang penilaian Tuhan terhadapmu, pandangan-Nya terhadapmu, dan ketetapan yang Dia berikan kepadamu? Jika penilaian Tuhan terhadapmu adalah bahwa engkau tebal muka, mati terhadap rasa malu, dan tidak tahu malu, bahwa kemanusiaanmu tidak memiliki banyak hal, dan bahwa ada beberapa hal sangat penting yang tidak ada dalam dirimu, berarti engkau harus mulai memperbarui caramu dalam berperilaku—engkau harus bertobat dan berhenti membuat alasanmu sendiri. Sekalipun engkau memiliki ribuan alasan, satu fakta saja bahwa engkau tebal muka sudah cukup untuk menentukan bahwa ada masalah besar dengan kemanusiaan dan hati nuranimu. Diukur dari hal ini saja, masalahmu itu sangat serius. Jika engkau dapat memahami apa yang Kukatakan ini, engkau harus bertobat dan berhenti membuat alasanmu sendiri di dalam hatimu. Alasanmu itu berasal dari sikapmu yang gampang marah, dari emosi, dari Iblis—sekalipun engkau yakin bahwa alasanmu itu tidak salah, itu bukanlah kebenaran. Penilaian Tuhan terhadapmu tidak sepenuhnya didasarkan pada watak rusakmu. Sebelum mempertimbangkan watak rusakmu, Tuhan terlebih dahulu melihat kemanusiaanmu. Seperti apa kemanusiaanmu dan seperti apa sikapmu terhadap setiap hal ditentukan oleh karaktermu. Apa yang Tuhan amati pasti akurat, dan standar yang Dia gunakan untuk mengukurmu juga sesuai dengan kebenaran. Siapa pun yang Dia ukur, itu tidak pernah didasarkan pada penampilan luar mereka, tetapi pada apa yang sebenarnya mereka lakukan, pada hal yang mereka perlihatkan dan wujudkan dalam kehidupan sehari-hari, pada pemikiran, sudut pandang, dan sikap mereka ketika menangani setiap hal, serta sikap mereka terhadap hal-hal positif, terhadap kebenaran, dan terhadap Tuhan. Dengan cara apa pun Tuhan pada akhirnya mendefinisikan atau menilaimu, engkau tidak akan diperlakukan secara tidak adil. Penilaian itu tidak didasarkan pada perwujudan sementara atau pelanggaran sesekali yang kaulakukan; itu adalah penilaian yang didasarkan pada perwujudanmu secara keseluruhan. Oleh karena itu, penilaian Tuhan terhadap setiap orang adalah akurat dan objektif. Bukankah benar demikian? (Ya.) Perwujudan tebal muka ada kaitannya dengan karakter yang orang miliki. Tentu saja, hingga taraf tertentu, hal itu juga dapat meningkat ke tahap watak yang rusak. Karena orang-orang semacam itu memiliki aspek kemanusiaan ini, itu menuntun mereka untuk melakukan hal-hal tertentu, dan saat mereka melakukan hal-hal ini, mereka memperlihatkan watak rusak mereka. Watak rusak macam apa pun yang diperlihatkan, watak rusak yang diperlihatkan dan tindakan yang dilakukan oleh orang-orang yang tebal muka tidak dapat dipisahkan dari kemanusiaan mereka. Jadi, apakah watak rusak seseorang dapat berubah dan dibuang atau tidak, itu tergantung pada seperti apa karakter mereka. Jika karakter mereka jahat, jika mereka menentang kebenaran, jijik dan muak akan kebenaran, serta menolak untuk menerima kebenaran, maka watak rusak mereka akan sulit untuk dibuang, dan mereka tidak akan dapat memperoleh keselamatan. Namun, jika dilihat dari karakternya, mereka bukanlah orang jahat, dan mereka mampu memahami serta menerima kebenaran, tidak kepala batu, dan tidak memiliki masalah berupa karakter yang tercela, maka watak rusak mereka dapat dibuang. Semua orang memiliki watak yang rusak, tetapi hal apa yang menentukan apakah seseorang mampu membuang watak rusak mereka dan memperoleh keselamatan? (Itu tergantung pada seperti apa karakter yang mereka miliki.) Tepat sekali—itu tergantung pada apakah kemanusiaan yang orang miliki baik atau buruk.
Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.
Beberapa materi dalam video ini berasal dari: 【All Bible quotations in this video are translated freely from English...