Cara Mengejar Kebenaran (7) Bagian Lima

Cara Memperlakukan Kualitas Diri Sendiri dengan Benar

Setelah mempersekutukan apa yang dimaksud dengan kualitas, serta bagaimana membagi tingkatan dan jenis kualitas yang orang miliki, setelah engkau semua selesai mendengarkannya, apakah engkau memperoleh manfaat apa pun? (Ya.) Apakah engkau benar-benar tahu bahwa kualitasmu sendiri buruk? (Ya.) Ada orang yang tidak berkualitas berkata: "Mengapa aku tidak memiliki kualitas? Sekalipun hanya memiliki kualitas rata-rata atau buruk, itu masih tidak apa-apa." Tak seorang pun mau termasuk dalam tingkatan orang yang tidak berkualitas, orang yang idiot, bodoh, atau tidak berguna, tetapi sayangnya, jika dinilai berdasarkan perwujudan utama mereka dan hasil dari pelaksanaan tugas mereka selama bertahun-tahun, beberapa orang memang termasuk dalam tingkatan orang yang tidak berkualitas. Apakah ini membuat beberapa orang menjadi negatif? Jika banyak hal tidak dijelaskan dengan gamblang, orang akan dengan bodohnya berpikir, "Aku memiliki kemampuan, aku memiliki kesanggupan, aku ini bijak, kualitasku tidak buruk, aku ini mulia, aku adalah seseorang di dalam kerajaan Tuhan, aku adalah sokoguru, andalan", dengan bodohnya berpaut pada angan-angan mereka, merasa cukup baik, cukup percaya diri, mengira bahwa mereka berpotensi dan ada harapan; mereka tidak negatif, dan hidup dengan memiliki tujuan. Namun, setelah mengetahui kenyataan sebenarnya, mereka kemudian menjadi sedih, berpikir, "Bukankah ini berarti tidak ada harapan bagiku untuk menerima keselamatan?" dan terjerumus ke dalam keadaan negatif. Jika hal-hal ini tidak dijelaskan dengan gamblang, orang-orang bersikap congkak dengan bodohnya; makin bodoh seseorang, makin mereka menjadi congkak, dan makin tak terbatas kecongkakan mereka. Mereka yang cerdas, setelah menerima pembekalan kebenaran selama bertahun-tahun ini, akan merenungkan dan memeriksa diri mereka sendiri, akan membandingkan kebenaran terhadap diri mereka, dan lambat laun perwujudan watak congkak mereka akan berkurang. Makin buruk kualitas seseorang, makin mereka bersikap congkak dengan bodohnya. Bukankah ada pepatah yang mengatakan: "Mereka bukan siapa-siapa, tetapi tidak tunduk kepada siapa pun"? Pepatah ini cukup tepat; mereka yang bukan siapa-siapa tidak tunduk kepada siapa pun. Mengapa? Karena kualitas mereka terlalu buruk. Seburuk apa? Seburuk sampai-sampai mereka tidak memiliki kecerdasan, tidak tahu sejauh mana kesanggupan mereka, tidak tahu setinggi apa kecerdasan mereka, tidak tahu bahwa selalu ada orang yang lebih baik daripada mereka, dan tidak tahu apa yang dimaksud dengan kualitas yang baik. Sampai sejauh mana kecongkakan mereka? Sampai-sampai orang-orang merasa jijik dan mual melihatnya—Inilah yang dimaksud dengan bersikap congkak dengan bodohnya. "Mereka bukan siapa-siapa, tetapi tidak tunduk kepada siapa pun" artinya mereka tidak dapat mencapai apa pun, urusan kehidupan mereka sendiri sepenuhnya kacau, mereka tidak dapat mengetahui yang sebenarnya tentang apa pun, mereka tidak memiliki pemikiran atau sudut pandang, dan mereka tidak dapat membedakan apakah sudut pandang orang lain benar atau apakah itu akurat atau tidak, dan mereka hanya dengan bodohnya bersikeras dalam kecongkakan mereka, berpikir, "Aku memiliki kemampuan, aku memiliki kesanggupan, aku ini bijak, aku lebih baik daripada orang lain!" Katakan kepada-Ku, apakah lebih baik membiarkan mereka menjadi orang yang bersikap congkak dengan bodohnya, yang tidak tunduk kepada siapa pun, ataukah memberi tahu mereka bahwa kualitas mereka buruk, bahwa mereka bukan siapa-siapa, hanya orang bodoh yang tidak berguna, dan memiliki keterbelakangan mental, sehingga mereka menjadi negatif? Mana yang engkau semua pilih? (Membiarkan mereka menjadi negatif, karena jika mereka adalah orang yang bersikap congkak dengan bodohnya, kemungkinan besar mereka akan melakukan hal-hal yang melanggar prinsip, dan mereka bisa saja mengacaukan dan mengganggu pekerjaan gereja.) Jika mereka menjadi negatif, mereka bisa kembali memiliki nalar kemanusiaan dan berperilaku dengan lebih baik, lebih sedikit melakukan hal yang mengacaukan dan mengganggu. Ini adalah perlindungan bagi mereka. Meskipun mereka belum melakukan banyak hal yang bermanfaat bagi orang lain, lebih sedikit melakukan hal yang mengacaukan dan mengganggu berarti mereka akan melakukan jauh lebih sedikit pelanggaran dan perbuatan jahat, dan kemungkinan mereka untuk dihukum di kemudian hari akan berkurang, bukan? (Ya.) Tanpa membahas apakah mereka dapat memperoleh keselamatan atau tidak, karena itu adalah sesuatu yang relatif jauh, apakah kemungkinan mereka untuk melanggar ketetapan administratif Tuhan dan menyinggung watak Tuhan akan berkurang? Apakah kesempatan mereka untuk bertahan hidup akan meningkat? (Ya.) Dinilai dari perspektif manfaat ini, membiarkan orang mengenali kualitas mereka sendiri dan pada akhirnya menyadari bahwa mereka tidak berkualitas dan menjadi negatif ternyata adalah hal yang baik. Jika tidak, ketika orang berkata, "Kau ini bukan siapa-siapa, tetapi kau tidak mau tunduk kepada siapa pun—ini adalah bersikap congkak dengan bodohnya!" mereka sama sekali tidak mengetahui yang sebenarnya tentang hal ini ataupun mengenalinya; mereka akan menentangnya dan tetap berpikir, "Kualitasku tidak buruk! Kau berkata aku bersikap congkak dengan bodohnya. Aku jauh lebih baik daripada orang bodoh!" Ini makin membuktikan bahwa mereka benar-benar bodoh, kecerdasan mereka terlalu rendah, dan terlebih dari itu, mereka harus menerima kenyataan bahwa mereka tidak berkualitas. Apa manfaat menerima kenyataan ini? Ini bukanlah untuk membuatmu menjadi negatif, melainkan untuk menolongmu agar engkau memperlakukan dirimu dengan benar dan menghindarkan dirimu bertindak secara bodoh. Orang bersikap congkak karena mereka memiliki watak yang rusak dan sama sekali tidak mengenal diri mereka sendiri. Namun, kecongkakan beberapa orang adalah kecongkakan yang normal. Sebagai contoh, ada orang-orang yang memiliki modal karena pernah dipenjarakan dan menanggung penderitaan, mereka pernah berkontribusi kepada gereja dengan cara tertentu, atau memiliki karunia yang membuat mereka menjadi lebih baik daripada orang lain; karena mereka memiliki watak yang congkak serta memiliki beberapa modal, masih dapat dimaklumi jika mereka memperlihatkan kecongkakan. Namun, jika engkau bukan siapa-siapa, jika engkau pada dasarnya tidak dapat mencapai apa pun, tidak pernah berkontribusi, dan bahkan terlebih lagi, tidak memiliki kelebihan, tetapi engkau tetap bersikap congkak, ini tidak masuk akal—ini tidak rasional. Sekarang itu sudah dijelaskan dengan gamblang kepadamu: Engkau tidak berkualitas, engkau bukan siapa-siapa, dan engkau bahkan sama sekali tidak memiliki kelebihan apa pun. Pikiranmu kosong, dan dibandingkan dengan orang-orang yang memiliki pemikiran, pikiranmu itu kurang ada isinya. Meskipun engkau adalah manusia sama seperti yang lain, engkau sangat kurang dibandingkan mereka; dalam pandangan Tuhan, engkau tidak memenuhi standar sebagai manusia. Jadi, apa yang masih kausombongkan? Diukur berdasarkan firman Tuhan, engkau tidak memenuhi standar sebagai manusia. Di mata Tuhan, engkau tidak seharusnya diperlakukan sebagai manusia. Namun, karena kasih karunia Tuhan sangat besar, Tuhan telah meninggikan dirimu, memilihmu, dan memperlakukanmu sebagai manusia, mengizinkanmu untuk melaksanakan tugas di rumah Tuhan. Apakah Tuhan memperlakukanmu sebagai manusia untuk melihatmu memperlakukan Tuhan dan kebenaran yang Dia bekali kepadamu dengan cara bersikap congkak dengan bodohnya seperti ini? Apakah untuk melihatmu memperlakukan tugasmu dan hidupmu dengan cara seperti ini? Tidak. Karena Tuhan memperlakukanmu sebagai manusia dan memberitahukan kepadamu berbagai kebenaran yang harus manusia pahami, Dia berharap engkau dapat menjadi manusia sejati, berharap engkau dapat menerima pemikiran yang seharusnya manusia miliki, dan tidak akan bersikap congkak dengan bodohnya. Oleh karena itu, bersikap negatif itu salah—engkau tidak seharusnya bersikap negatif. Karena Tuhan tidak memperlakukanmu atau mengabaikanmu berdasarkan kualitasmu, sebaliknya telah memperlakukanmu sebagai manusia normal dan memakaimu dengan cara seperti ini, engkau seharusnya tidak menyia-nyiakan kasih karunia dari Tuhan ini dan tidak mengecewakan Tuhan. Seperti apa pun kualitasmu dan apa pun pekerjaan yang mampu kaulakukan, lakukan saja pekerjaan itu dengan baik. Jangan berusaha melontarkan ide yang muluk-muluk, jangan lakukan apa yang tidak seharusnya orang lakukan, dan jangan memiliki ide atau ambisi berlebihan yang tidak seharusnya orang miliki. Lakukan apa yang seharusnya orang lakukan dan tidak menyia-nyiakan peninggian Tuhan. Bukankah ini sudah sepantasnya? Bukankah ini menyelesaikan masalah bersikap negatif? (Ya.)

Mengidentifikasi berbagai perwujudan orang dengan kualitas berbeda dan memberimu contoh-contoh yang spesifik ini dimaksudkan untuk membantumu menghubungkan dirimu dengan hal-hal tersebut. Ini bertujuan agar engkau dapat secara akurat mengidentifikasi posisimu sendiri, memperlakukan kualitasmu dan berbagai keadaanmu sendiri secara rasional, serta memperlakukan penyingkapan, penghakiman, dan pemangkasan Tuhan terhadapmu, atau pekerjaan yang diatur bagimu secara rasional, dan agar engkau mampu tunduk dan merasa bersyukur di lubuk hatimu, bukannya memperlihatkan penentangan dan rasa jijik. Ketika orang dapat menyikapi kualitas mereka sendiri secara rasional, dan kemudian secara akurat mengidentifikasi posisi mereka sendiri, bertindak sebagai makhluk ciptaan yang Tuhan inginkan dengan sikap yang praktis dan realistis, melakukan apa yang harus mereka lakukan dengan semestinya berdasarkan kualitas bawaan mereka, dan mengabdikan kesetiaan dan segenap upaya mereka, mereka akan memperoleh kepuasan Tuhan. Karena Tuhan telah memberimu kualitas ini dan keadaan ini, Tuhan tidak akan memaksamu untuk melakukan hal-hal yang sulit bagimu, Dia tidak akan memaksa ikan untuk hidup di darat. Sebanyak apa pun yang telah Dia berikan kepadamu, sebanyak itulah yang Dia tuntut untuk kaupersembahkan kepada-Nya. Apa yang tidak Tuhan berikan kepadamu, Dia tidak akan menuntutnya secara berlebihan. Jika engkau selalu menetapkan tuntutan yang terlalu tinggi terhadap dirimu sendiri, berusaha menjadi orang yang kuat, manusia super, seseorang yang luar biasa, ini menunjukkan bahwa engkau memiliki watak yang rusak—ini adalah ambisi. Jika kualitasmu baik, ambillah lebih banyak pekerjaan; jika kualitasmu rata-rata, engkau hanya dapat mengambil lebih sedikit pekerjaan. Apa pun tugas yang mampu kaulakukan, kerahkanlah segenap kemampuanmu, berikanlah kesetiaanmu, dan bertindaklah berdasarkan prinsip—jangan berusaha melontarkan ide yang muluk-muluk. Selalu ingin membuktikan bahwa engkau bukan orang biasa, selalu ingin orang lain menganggap tinggi dirimu—ini salah. Ini memperlihatkan bahwa engkau sangat tidak memiliki kesadaran diri, tidak tahu ukuranmu sendiri. Jika engkau terus mengejar berdasarkan ambisi dan keinginanmu, segala sesuatunya tidak akan berakhir baik bagimu. Oleh karena itu, orang-orang yang berkualitas buruk tidak boleh selalu bercita-cita ingin menjadi pemimpin, ketua tim, atau pengawas; mereka tidak boleh bercita-cita terlalu tinggi. Jika kualitasmu buruk, lakukan saja dengan semestinya hal-hal yang mampu dilakukan oleh orang-orang yang berkualitas buruk. Jika engkau tidak memiliki pemikiran dan tak mampu menangani pekerjaan apa pun, jangan memaksa diri—karena Tuhan tidak memberimu kualitas itu, Dia tidak menetapkan tuntutan yang terlalu tinggi terhadapmu. Mengenai prinsip-prinsip kebenaran, terapkanlah sejauh yang mampu kaupahami dan terima—inilah yang terpenting. Apa yang mampu kaupahami adalah apa yang telah Tuhan berikan kepadamu. Sudahkah engkau menerapkan hal-hal ini dalam tugasmu atau dalam amanat yang telah Tuhan percayakan kepadamu? Jika engkau telah menerapkannya, berarti engkau telah mengerahkan segenap kemampuanmu dan mempersembahkan kesetiaanmu. Tuhan akan dipuaskan, dan engkau akan memenuhi standar sebagai makhluk ciptaan. Jika kualitasmu buruk, Tuhan pasti tidak akan menuntutmu berdasarkan standar bagi mereka yang berkualitas baik. Tuhan tidak akan melakukan hal seperti itu. Mereka yang tidak berkualitas tergolong orang dengan tingkat kualitas paling rendah di antara orang-orang. Jika orang-orang yang percaya kepada Tuhan tidak memiliki kualitas, bagaimana seharusnya cara mereka menerapkan? Apakah engkau mau mengikuti Tuhan? Apakah engkau mengakui bahwa Tuhan itu berdaulat atas segala sesuatu mengenai manusia? Apakah engkau mau tunduk pada pengaturan dan penataan Tuhan bagimu? Jika engkau bersedia menerima dan tunduk, maka tenangkanlah hatimu dan terimalah semua pengaturan Tuhan bagimu. Berdasarkan kualitasmu, engkau hanya dapat melakukan beberapa pekerjaan yang membutuhkan upaya fisik, pekerjaan yang tidak terlihat, yang dipandang rendah dan tidak diingat orang—jika seperti inilah situasimu, engkau harus menerima bahwa hal ini adalah dari Tuhan dan tidak memendam keluhan, dan terlebih lagi, engkau tidak seharusnya memilih tugasmu berdasarkan keinginanmu sendiri. Lakukan apa pun yang rumah Tuhan atur bagimu, dan asalkan itu berada dalam kualitasmu, engkau harus melakukannya dengan baik. Sebagai contoh, jika engkau ditugaskan untuk memelihara babi, engkau harus memberi mereka makan dengan baik agar saudara-saudari dapat makan daging babi yang baik. Jika engkau ditugaskan untuk memelihara ayam, engkau harus memberi makan dan mengurus mereka dengan baik agar mereka bertelur secara normal selama musim bertelur, dan engkau juga harus melindungi mereka dari binatang lainnya, sehingga semua orang yang melihat ayam-ayam yang kaupelihara akan berkata bahwa ayam-ayam itu telah dipelihara dengan baik. Ini membuktikan bahwa engkau menghargai segala sesuatu yang Tuhan ciptakan, dan engkau mampu mengelola mereka dengan baik; ini membuktikan bahwa jenis makhluk atau binatang apa pun itu, engkau mampu menghargainya dan mengelolanya dengan baik, menjadikannya sebagai tanggung jawab dan tugas yang harus kaulaksanakan. Sekalipun engkau tidak dapat melakukan pekerjaan lain, sekalipun engkau tidak dapat memegang peranan yang penting dan menentukan dalam pekerjaan gereja, serta tidak memiliki kontribusi yang signifikan, jika engkau dapat mengerahkan segenap upaya dan kesetiaanmu dalam beberapa pekerjaan yang biasa-biasa saja dan hanya berusaha untuk memuaskan Tuhan, itu sudah cukup. Ini berarti tidak mengecewakan peninggian Tuhan terhadapmu. Jangan bersikap pilih-pilih terhadap tugas berdasarkan apakah tugas itu kotor atau melelahkan, apakah orang lain melihatmu melakukannya atau tidak, apakah orang lain memujimu atau apakah mereka merendahkanmu karena melakukannya. Jangan memikirkan hal-hal ini; berusaha sajalah untuk menerima bahwa hal ini adalah dari Tuhan, tunduk dan laksanakan tugas yang seharusnya kaulakukan. Ketika Aku mempersekutukan perwujudan orang-orang yang tidak berkualitas, Aku mungkin mengatakan bahwa engkau adalah orang bodoh, orang tidak berguna, dan keterbelakangan mental. Namun, jika engkau mampu memikul pekerjaan yang dipercayakan kepadamu, dan pada akhirnya engkau tidak mengecewakan peninggian Tuhan terhadapmu, atau napas hidup yang telah Tuhan karuniakan kepadamu, engkau tidak hidup atau makan dengan sia-sia, engkau tidak menikmati semua hal materi yang Tuhan sediakan bagi manusia dengan sia-sia, dan engkau tidak menyia-nyiakan firman yang keluar dari mulut Tuhan, itu sudah cukup. Sekalipun dalam hal kualitas, engkau tidak memenuhi standar sebagai orang yang utuh, jika engkau mampu melaksanakan tugas dan pekerjaanmu dengan kesetiaan dan ketulusan seperti ini, setidaknya di dalam hati Tuhan, engkau memenuhi standar sebagai makhluk ciptaan. Yang Tuhan inginkan adalah kesetiaan dan ketulusan ini; Dia menginginkan makhluk ciptaan yang memenuhi standar. Apa pun tugas yang rumah Tuhan atur bagimu, engkau menerima bahwa ini adalah dari Tuhan, serta dapat menerimanya dan tunduk. Inilah hal yang paling berharga. Jika engkau telah melakukan apa yang Tuhan tuntut darimu, dan engkau telah mempersembahkan semua yang mampu kaupersembahkan, akankah Tuhan masih memiliki tuntutan yang lebih tinggi terhadapmu? Jika ketulusan dan kesetiaanmu dianggap berharga di mata Tuhan, berarti hidupmu bernilai. Apakah pemahaman ini baik? (Ya.)

Ada orang-orang yang berkata, "Rasanya aku masih belum mengerti. Mengapa Tuhan menetapkan bahwa orang memiliki berbagai macam kualitas? Karena Tuhan ingin agar orang memberi kesaksian bagi-Nya, menerapkan kebenaran, dan membuang watak rusak mereka, mengapa Dia tidak dapat memberi orang kualitas yang baik? Apakah sangat sulit bagi Tuhan untuk memberi orang kualitas yang baik? Jika Tuhan membuat orang memiliki kemampuan di segala bidang—kemampuan kognitif, kemampuan untuk membuat penilaian, kemampuan untuk mengidentifikasi berbagai hal, kemampuan untuk menanggapi berbagai hal, kemampuan untuk mengambil keputusan, kemampuan untuk berinovasi, dan bahkan terlebih lagi, kemampuan untuk menilai dan mengapresiasi berbagai hal—memberi orang kemampuan di segala bidang, bukankah orang akan memiliki kualitas yang baik? Sekalipun Dia memberi orang kualitas rata-rata, bukankah mereka akan mampu memahami kebenaran pada tingkat rata-rata? Jika orang mampu memahami kebenaran, bukankah mereka akan mampu menerapkan kebenaran? Bukankah mereka akan mampu membuang watak rusak mereka dan memperoleh keselamatan?" Apa masalahnya jika orang memiliki pemikiran semacam ini? Orang tidak mengerti mengapa Tuhan memberi mereka kualitas yang sangat rata-rata. Sulit untuk menemukan pemimpin yang berkualitas baik, dan sangat sulit untuk melakukan pekerjaan gereja dengan baik. Orang-orang berpikir, "Jika Tuhan memberi orang kualitas yang baik, bukankah akan lebih mudah untuk menemukan pemimpin? Bukankah pekerjaan gereja akan lebih mudah untuk dilakukan? Mengapa Tuhan tidak memberi orang kualitas yang baik?" Jika memandangnya dari perspektif pekerjaan rumah Tuhan secara keseluruhan, tentu saja, jika ada lebih banyak orang yang berkualitas baik, pekerjaan gereja memang akan menjadi lebih mudah. Namun, ada satu premis: Di rumah Tuhan, Tuhanlah yang sedang melakukan pekerjaan-Nya sendiri, dan manusia tidak memainkan peran yang menentukan. Oleh karena itu, entah kualitas yang orang miliki itu baik, rata-rata, atau buruk, itu tidak menentukan hasil dari pekerjaan Tuhan. Hasil akhir yang ingin dicapai, itulah yang dicapai oleh Tuhan. Segala sesuatu dipimpin oleh Tuhan; segala sesuatu adalah pekerjaan Roh Kudus. Dari perspektif pekerjaan Tuhan, hal ini harus dijelaskan dengan cara seperti ini—ini adalah salah satu alasannya. Ada alasan lainnya: Setelah dirusak Iblis, orang memiliki watak-watak rusak Iblis sebagai esensi dari hidup mereka; ini berarti mereka semua hidup berdasarkan watak rusak mereka, dan hidup mereka dikendalikan oleh watak rusak mereka. Jika, selain ini, orang juga memiliki kualitas yang baik, atau luar biasa, dan kemampuan mereka di segala bidang lengkap, sempurna, dan tidak bercela, itu akan memperkuat watak rusak mereka. Itu akan membuat watak rusak mereka makin menjadi-jadi, membuatnya tidak dapat dikendalikan dan membuat orang itu menjadi makin congkak, keras kepala, licik, dan jahat. Kesulitan mereka untuk menerima kebenaran akan meningkat, dan tidak ada cara bagi mereka untuk membereskan watak rusak mereka. Ini adalah alasan lainnya. Selain itu, Tuhan memberi orang kualitas seperti itu karena manusia yang ingin Tuhan selamatkan adalah manusia yang secara bawaan tidak utuh, yang kemampuannya di segala aspek adalah rata-rata dan memiliki kekurangan. Selain itu, memahami firman Tuhan dan kebenaran tidak dicapai hanya dengan menggunakan berbagai kemampuan; ini membutuhkan suatu proses. Apa sajakah yang termasuk dalam proses ini? Proses ini meliputi perubahan lingkungan, pertambahan usia seseorang, bertambahnya pengalaman hidup dan pengetahuan, serta pengalaman yang diperoleh melalui berbagai lingkungan, yang memungkinkan orang, di atas landasan kualitas dan naluri bawaan mereka, untuk berangsur-angsur mulai memahami dan mengetahui apa sebenarnya yang dimaksud dengan kebenaran firman Tuhan; kemudian, mereka menerima dan menerapkan firman Tuhan. Melalui proses seperti itu, kebenaran firman Tuhan ditanamkan dalam diri seseorang untuk menjadi hidup mereka—kebenaran firman Tuhan tidak menjadi semacam teori kehidupan atau semacam falsafah dan cara hidup; sebaliknya firman Tuhan itu menjadi landasan bagi kelangsungan hidup mereka. Orang-orang semacam itu adalah manusia baru, kehidupan yang baru dilahirkan. Ini adalah proses yang esensial. Sekalipun kualitas dan kemampuanmu di segala aspek luar biasa baik dan tinggi, proses-proses ini tidak dapat dihilangkan. Sebagai manusia ciptaan, untuk pada akhirnya engkau menjadikan firman Tuhan itu sebagai hidupmu, tak seorang pun dapat melewatkan satu langkah pun dari keseluruhan proses yang harus dialami. Itu berarti, semua orang akan mengembangkan gagasan, imajinasi, penentangan, perlawanan, dan pemberontakan terhadap Tuhan. Mereka semua akan mengalami kemunduran, kegagalan, tersandung, diberhentikan, dipangkas, dihakimi, dan dihajar, mengalami berbagai lingkungan, bertemu dengan berbagai jenis orang, dan proses-proses lain semacam itu. Sebaik atau setinggi apa pun kualitasmu, atau sekuat apa pun kemampuanmu di segala aspek, tak satu pun dari proses atau langkah ini yang dapat dihilangkan. Oleh karena itu, sekalipun Tuhan memberimu kualitas dan kemampuan yang luar biasa tinggi, itu tetap sia-sia. Lebih baik bagimu untuk menjadi orang biasa, orang yang rata-rata. Meskipun engkau mungkin memiliki beberapa kekurangan dalam kemanusiaanmu, engkau dapat mengalami pekerjaan Tuhan, memahami firman Tuhan setelah mendengarnya, dan mengenali kelemahan dan kekuranganmu. Dengan cara ini, di satu sisi, hal yang kauperoleh menjadi lebih nyata, dan engkau menerima lebih banyak dari Tuhan; di sisi lain, engkau mulai mengetahui kemampuan alamimu secara lebih akurat, dan engkau menjadi lebih rasional. Itulah sebabnya Tuhan tidak bermaksud untuk memberi semua orang kualitas yang baik—Dia memberi orang kualitas yang rata-rata.

Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.

Hubungi kami via WhatsApp