Cara Mengejar Kebenaran (11) Bagian Tiga

Penerapan Pertama untuk Mengejar Kebenaran: Melepaskan

Melepaskan Penghalang di antara Dirinya dan Tuhan serta Permusuhannya terhadap Tuhan

I. Melepaskan Gagasan dan Imajinasi Orang tentang Tuhan: Melepaskan Gagasan dan Imajinasi Orang tentang Pekerjaan Tuhan

F. Pekerjaan Tuhan Tidak Mengubah Kondisi Bawaan Orang; Tujuannya adalah untuk Mengubah Watak Rusak Mereka
6. Berbagai Perwujudan Kondisi Bawaan, Kemanusiaan, dan Watak yang Rusak

Persekutuan kita selama periode ini adalah tentang topik spesifik yang berkaitan dengan prinsip penerapan "melepaskan" dalam cara mengejar kebenaran, yaitu kondisi bawaan, kemanusiaan, dan watak yang rusak. Setelah bersekutu tentang hal ini beberapa kali, apakah sekarang engkau semua memiliki sedikit kemampuan untuk membedakan beberapa perwujudan dan penyingkapan spesifik yang berkaitan dengan ketiga aspek ini, yaitu kondisi bawaan, kemanusiaan, dan watak yang rusak? (Kemampuanku untuk membedakan hal-hal ini sedikit lebih baik daripada sebelumnya. Sebelumnya, aku sering mencampuradukkan karakter dan watak yang rusak, tetapi melalui beberapa persekutuan Tuhan yang lalu, aku sekarang dapat membedakannya hingga taraf tertentu.) Mengapa perlu membedakan hal-hal ini? (Itu adalah agar kami tahu masalah mana di dalam diri kami yang harus diselesaikan dan masalah mana yang hanya perlu kami sikapi dengan benar.) Bagus sekali. Bersekutu dengan terperinci seperti itu membuat perbedaan antara kondisi bawaan, kemanusiaan, dan watak yang rusak menjadi lebih jelas, dan orang-orang memperoleh pemahaman yang lebih jelas tentang watak yang rusak dan perwujudan dari karakter yang sangat buruk, yang merupakan dua hal terpisah. Terutama, orang mampu membedakan antara karakter yang buruk, watak yang rusak, dan kondisi bawaan. Mereka tidak akan menganggap cacat tertentu dalam kemanusiaan sebagai watak yang rusak, dan tentu saja, mereka juga tidak akan menganggap kekurangan dan cacat tertentu dalam kondisi bawaan sebagai watak yang rusak. Ketika orang memiliki kemampuan membedakan ini, mereka menjadi makin jelas tentang berbagai perwujudan watak yang rusak, dan mereka tidak lagi membesar-besarkan masalah yang tidak ada kaitannya dengan watak yang rusak. Pada saat yang sama, mereka juga memiliki pemahaman yang lebih jelas tentang apa sebenarnya watak yang rusak itu. Jadi, dapatkah engkau semua menjelaskan dengan gamblang apa sebenarnya watak yang rusak itu? Apakah watak yang rusak ada hubungannya dengan kondisi bawaan? Apakah watak yang rusak dipengaruhi oleh kondisi bawaan? (Tidak.) Misalkan seseorang berwajah rupawan, berkulit terang, dan memiliki fitur wajah yang proporsional, dapatkah dikatakan bahwa karena dia memiliki penampilan yang baik, dia tidak memiliki watak yang rusak, bahwa kemanusiaannya sesempurna dan semurni penampilannya, bahwa dia sama sekali tidak congkak atau jahat tetapi sangat kudus? Dapatkah dikatakan demikian? (Tidak.) Setelah bersekutu seperti ini, perbedaan di antara ketiga aspek ini—watak yang rusak, kondisi bawaan, dan kemanusiaan—pada dasarnya sudah jelas sekarang, bukan? (Ya.) Hal-hal ini mudah dibedakan.

Terampil dalam Berbisnis

Terakhir kali, kita bersekutu tentang suka berbisnis. Termasuk kategori aspek apakah perwujudan suka dan senang berbisnis ini? (Kondisi bawaan.) Mengapa itu dianggap sebagai kondisi bawaan? (Itu adalah minat dan hobi, jadi itu termasuk kondisi bawaan.) Di satu sisi, itu adalah minat dan hobi; di sisi lain, jika orang suka berbisnis dan memiliki otak bisnis—mereka secara alami terampil dalam hal itu tanpa pernah mengikuti studi profesional, dan mampu memahaminya serta tahu cara menghasilkan uang, menghasilkan keuntungan, menangkap peluang bisnis, dan sebagainya tanpa bimbingan dari orang lain—berarti di dalam kondisi bawaan mereka, orang ini memiliki kelebihan dalam berbisnis. Jika orang secara bawaan memiliki kelebihan ini, itu tentunya adalah kondisi bawaan, dan kondisi bawaan tidak banyak berkaitan dengan pengaruh yang diterima setelah lahir. Engkau lihat, ada orang-orang yang mulai belajar berbisnis pada usia 15 atau 16 tahun saat masih bersekolah. Kapan pun mereka mendapatkan sesuatu yang bagus, mereka memikirkan cara untuk menjualnya. Mereka bahkan menjual hadiah ulang tahun yang diberikan orang tua mereka. Mereka tidak menghabiskan uang saku mereka sendiri, dan sebaliknya, menabung semuanya untuk berbisnis. Pada saat mereka berusia 18 atau 19 tahun, mereka sudah mampu menjalankan usaha bisnis kecil-kecilan. Nilai mereka di sekolah hanya rata-rata, tetapi mereka memiliki otak bisnis, cepat dalam mengalkulasi, dan memiliki kiat khusus dalam berbisnis; ini adalah suatu kelebihan. Suka berbisnis termasuk dalam kategori kelebihan atau minat dan hobi di dalam kondisi bawaan. Bagaimanapun juga, itu adalah salah satu aspek dari kondisi bawaan, dan di sinilah perwujudan suka berbisnis digolongkan. Ada orang-orang yang belum tentu memiliki hobi atau kelebihan yang berkaitan dengan bisnis. Mereka terutama mengandalkan cara mencurangi dan menipu orang saat mereka berbisnis. Mereka tidak menghasilkan uang melalui kerja keras dan upaya mereka sendiri atau dengan menggunakan cara dan metode bisnis yang sah, tetapi justru menggunakan segala bentuk kecurangan dan penipuan serta memanfaatkan celah hukum untuk mencapai tujuan mereka menghasilkan keuntungan dan mendapatkan uang. Masalah macam apa ini? Orang-orang semacam itu selalu menjalankan bisnis dengan cara seperti ini; apakah ini berkaitan dengan hakikat dari kemanusiaan mereka? (Ya.) Apakah kemanusiaan semacam itu baik atau buruk? (Buruk.) Bagaimana buruknya kemanusiaan mereka? Dalam hal kemanusiaan orang-orang semacam itu, secara umum, mereka memiliki karakter yang buruk. Tujuan orang dalam berbisnis selalu untuk menghasilkan uang. Jika engkau menghasilkan uang melalui cara berbisnis yang sah, ini adalah kemampuan yang engkau miliki, dan ini adalah manfaat yang dibawa oleh kelebihan yang telah Tuhan berikan kepadamu. Namun, jika orang tidak mendapatkan uang dan keuntungan melalui cara berbisnis yang sah, tetapi melalui segala bentuk kecurangan dan penipuan, maka orang-orang semacam itu tidak memiliki integritas dan memiliki karakter yang rendah. Apakah orang-orang semacam itu memiliki hati nurani? (Tidak.) Dalam bahasa sehari-hari, hati nurani mereka sudah sepenuhnya busuk; mereka tidak punya hati nurani. Mengapa kita mengatakan mereka tidak punya hati nurani? (Umumnya, orang yang memiliki hati nurani merasakan tuduhan dari hati nurani setelah mereka mencurangi dan menipu orang lain, dan mereka tidak lagi melakukan hal-hal tersebut. Namun, orang yang tidak memiliki hati nurani hanya peduli tentang mendapatkan keuntungan. Hati nurani mereka sama sekali tidak memiliki kesadaran, jadi mereka terus saja melakukan hal-hal tersebut.) Mereka tidak memiliki fungsi hati nurani; dapat juga dikatakan bahwa mereka tidak punya hati nurani. Jika mereka memiliki hati nurani, hati nurani mereka akan berfungsi, dan kemudian setelah menipu seseorang satu kali, mereka akan merasakan teguran dari hati nurani mereka. Meskipun mendapat keuntungan, mereka akan merasa sangat tidak nyaman di dalam hatinya. Ketika mereka membelanjakan uang itu, wajah mereka akan memerah, dan mereka akan merasa gelisah di dalam hatinya, merasa bahwa apa yang mereka lakukan itu kotor dan hina. Jadi, sejak saat itu, mereka tidak akan pernah lagi menipu siapa pun; sebesar apa pun potensi keuntungannya, mereka tidak akan pernah melakukannya. Ini adalah fungsi hati nurani. Namun, mereka yang terampil dalam mencurangi, memperdaya, dan menipu orang lain akan melakukan hal ini setiap kali mereka menginginkannya. Setelah berhasil, mereka tidak merasa bersalah di dalam hatinya ketika membelanjakan uang tersebut. Begitu uang itu ada di tangan mereka, mereka berpikir bahwa mereka pintar dan brilian, serta merasa sangat senang dan sangat bangga atas keberhasilan strategi penipuan mereka. Mereka menjual barang dengan timbangan yang kurang, mereka menjual obat palsu, ginseng palsu, daging yang disuntik air; segala sesuatu yang mereka jual telah dioplos dan bersifat menipu. Setiap usaha bisnis yang mereka jalankan melibatkan taktik penipuan dan jebakan, dan semua uang yang mereka hasilkan diperoleh melalui cara-cara curang. Apa pun bisnis yang mereka geluti, mereka tidak pernah menjalankannya dengan cara yang taat aturan dengan mematok harga yang semestinya. Engkau lihat, ada orang-orang yang secara khusus menipu pelanggan tetap saat berbisnis. Sebagai contoh, jika engkau sering membeli dari mereka dan mereka tahu engkau punya uang, mereka akan mematok harga 100 yuan kepadamu untuk barang yang mereka jual kepada orang lain seharga 10 yuan. Mereka bahkan akan berkata, "Aku tidak menjual ini kepada orang lain. Aku menyimpannya hanya untukmu. Lihat betapa kuatnya hubungan kita? Kau sangat untung membelinya, bukan?" Mereka menipu orang dan bahkan membuat orang tersebut merasa berterima kasih. Betapa terampilnya mereka sebagai penipu! Orang yang tidak memiliki rasa tertuduh dalam hati nuraninya tidak merasakan teguran atau kesadaran dalam hati nuraninya apa pun yang mereka lakukan, jadi dapat dikatakan bahwa orang-orang semacam itu tidak punya hati nurani. Seperti apa pun nalar mereka, dinilai dari hati nurani mereka saja, orang-orang ini tidak memiliki kemanusiaan dan memiliki karakter yang hina. Sehina apa? Mereka tidak memiliki hati nurani dan tidak memiliki kemanusiaan. Artinya, mereka tidak memiliki kesadaran, fungsi, dan kendali hati nurani yang dimiliki orang normal. Tanpa kendali ini, mereka mampu melakukan apa saja. Dalam berbisnis, mereka dapat terlibat dalam kecurangan dan penipuan; dalam operasi bisnis apa pun, mereka dapat merekayasa berbagai hal dan melanggar aturan. Mereka dapat melakukan tindakan tidak bermoral apa pun. Bahkan ketika membangun rumah, mereka menggunakan bahan-bahan berkualitas rendah. Engkau lihat, apa penyebab dari gedung-gedung miring dan bangunan runtuh di Tiongkok daratan itu? Itu karena, demi meraup keuntungan yang sangat besar, para pembangun menggunakan rasio campuran beton dan teknik penggunaan tulangan baja yang di bawah standar, yang telah memengaruhi kondisi bangunan tersebut. Akibatnya, tidak lama setelah orang-orang pindah ke sana, beberapa bangunan runtuh. Jika terjadi gempa bumi berkekuatan lima atau enam magnitudo, sebagian besar bangunan itu akan runtuh, dan akibatnya tidak akan terbayangkan. Para kontraktor berhati busuk itu sama sekali tidak punya hati nurani. Saat melihat orang-orang mati, mereka segera mencari para pelindung mereka untuk mengambil tindakan penanggulangan guna mengatasi situasi tersebut. Jika para pelindung mereka cukup kuat dan memiliki tindakan penanggulangan, hal tersebut bisa berhasil ditutupi. Beberapa kematian itu dianggap sepele dengan membayar sejumlah biaya pemakaman, dan tak seorang pun akan mampu meminta pertanggungjawaban mereka sama sekali. Tidak ada kesadaran dalam hati nurani mereka; jangankan beberapa kematian, sekalipun puluhan, ratusan, atau puluhan ribu orang yang mati, itu tidak akan berarti apa pun bagi mereka. Di mata mereka, nyawa manusia tidak ada bedanya dengan nyawa semut; nyawa manusia tidak berarti apa-apa. Katakan kepada-Ku, apakah orang-orang semacam itu memiliki hati nurani? Orang-orang yang tidak memiliki hati nurani dapat dikatakan tidak memiliki kemanusiaan. Jadi, apakah tindakan mereka mencurangi dan menipu orang lain saat berbisnis merupakan penyingkapan watak yang rusak? (Ya.) Ada watak rusak yang spesifik dalam hal ini. Watak rusak apa? (Kekejaman dan kelicikan.) Watak rusak mereka yang khas dan representatif adalah kelicikan dan kejahatan. Mereka yang mampu melakukan segala bentuk kecurangan dan penipuan sangatlah licik. Terkadang, cara-cara yang mereka gunakan untuk menipu dan mencurangi orang adalah cara-cara yang tidak akan pernah engkau duga, dan engkau bahkan mungkin merasa cukup senang saat ditipu oleh mereka, berpikir bahwa mereka sedang memperlakukanmu dengan sangat baik. Setelah waktu yang lama, barulah engkau tersadar dan tiba-tiba menyadari bahwa engkau telah diperdaya. Lalu ketika engkau pergi mencari mereka, mereka sudah menghilang tanpa jejak. Betapa canggihnya cara mereka menipu orang! Pada tahun 1980-an dan 1990-an, industri dan perdagangan relatif maju di Guangdong, Tiongkok. Peralatan rumah tangga tertentu yang relatif canggih belum mencapai daerah pedalaman, jadi beberapa orang dari pedalaman bepergian ke Guangdong untuk membelinya demi mengikuti tren. Ketika para pedagang menyadari bahwa para pelanggan ini berasal dari daerah pedalaman, mereka mulai berpikir bahwa ini adalah kesempatan mereka untuk melakukan penipuan. Orang-orang dari pedalaman membeli tape recorder, televisi, dan peralatan lainnya. Setelah pembayaran dilakukan, para penjual bahkan memberi tahu mereka berapa lama masa garansinya dan berkata jika ada masalah dengan peralatan tersebut, mereka dapat kembali untuk menukarnya, yang membuat para pelanggan merasa bahwa layanan purnajualnya cukup baik. Saat mereka hendak pergi, para penjual mengatakan bahwa mereka perlu mengemas peralatan tersebut, dan kemudian mereka membawanya ke belakang untuk membungkusnya. Namun, ketika para pelanggan tiba di rumah dan membuka kemasannya, mereka tidak menemukan apa pun selain batu bata dan batu di dalamnya, bukannya peralatan rumah tangga; saat itu barulah mereka menyadari bahwa para pedagang itu telah menukar barang tersebut, dan bahwa mereka telah ditipu. Perjalanan untuk kembali mencari pedagang tersebut akan terlalu jauh, dan juga akan menghabiskan banyak biaya perjalanan, jadi mereka hanya bisa menanggung kerugian dan memetik pelajaran dari pengalaman tersebut: ketika membeli sesuatu, uang harus diserahkan bersamaan dengan diterimanya barang tersebut, dan semuanya harus diperiksa secara langsung untuk memastikan bahwa barang yang didapat sesuai dengan yang dibayar. Hal semacam ini sering terjadi pada orang yang sering melakukan perjalanan bisnis. Sekarang, insiden semacam itu bukan lagi sekadar kejadian sesekali di satu kota, melainkan telah menjadi hal yang umum. Insiden kecurangan dan penipuan dalam segala bentuk makin meningkat, dan makin banyak orang yang berbisnis melakukan penipuan. Mengapa sebelumnya tidak banyak hal seperti ini? Itu semata-mata karena, pada saat itu, beberapa orang belum menemukan taktik penipuan ini. Begitu taktik penipuan ini mulai marak di masyarakat, para pedagang mulai meniru dan mengikutinya satu demi satu, dan mereka semua mulai melakukannya. Mereka semua mulai melakukannya; apakah itu berarti hati nurani mereka menjadi rusak belakangan? Tidak, orang-orang ini pada dasarnya tidak memiliki banyak hati nurani. Hanya saja sebelumnya, karena tingkat pengalaman atau pengetahuan mereka, mereka masih belum tahu cara menipu dan mencurangi orang lain seperti ini. Kemudian, dengan rusaknya iklim sosial, mereka menjadi makin kejam dan tidak berbelas kasihan dalam melakukan hal-hal semacam itu, dan natur dari tindakan mereka menjadi makin hina.

Orang-orang seperti ini menggunakan cara-cara mencurangi dan menipu saat berbisnis, jadi apakah mereka juga akan mencurangi dan menipu orang saat melakukan hal-hal lain? (Ya.) Cara dan metode mereka dalam berbisnis serta sikap mereka terhadap hal-hal seperti mencurangi dan menipu merepresentasikan kemanusiaan mereka. Mereka memiliki kemanusiaan semacam ini, jadi apa pun yang mereka lakukan—sekalipun itu bukan mencurangi dan menipu orang lain—itu tidak akan lebih baik dari hal tersebut. Karena kemanusiaan semacam ini adalah dasar bagi mereka dalam melakukan hal-hal ini, apa pun yang mereka lakukan, naturnya pada dasarnya sama; mereka sama sekali tidak memiliki kesadaran hati nurani. Ketika orang-orang ini menjadi pejabat, cara mereka berbicara dan bertindak sama seperti saat mereka berbisnis. Mereka tidak memiliki fungsi hati nurani, mereka mencurangi dan menipu, mencelakai dan membunuh orang, serta melanggar hukum; mereka mampu melakukan apa pun yang bertentangan dengan kemanusiaan, moralitas, dan keadilan moral. Mereka berperilaku seperti ini dalam bisnis serta dalam politik. Jika mereka melakukan penelitian ilmiah, dapatkah kemanusiaan mereka berubah karena bidang yang mereka geluti berbeda? Tidak. Katakan kepada-Ku, apakah orang-orang semacam itu memiliki keunggulan dalam hal melaksanakan pekerjaan urusan umum di gereja? Ada orang yang berkata, "Si Anu pernah menjadi bos besar atau CEO di dunia sekuler. Caranya berbisnis sangatlah lihai, tetapi hanya agak kurang pantas; terkadang dia mencurangi dan menipu orang. Aku tidak tahu apakah mengangkat orang semacam ini untuk melakukan pekerjaan urusan umum di gereja tepat atau tidak." Katakan kepada-Ku, apakah orang semacam ini orang baik? Apakah mereka benar-benar orang berbakat? (Tidak.) Ada orang yang selalu menganggap individu-individu ini sebagai orang berbakat, dan merekomendasikan semua orang yang memiliki sedikit prestise di tengah masyarakat, dengan mengatakan bahwa si Anu adalah seorang CEO atau eksekutif senior, bahwa individu lain adalah salah satu dari sepuluh pemuda paling berprestasi di tengah masyarakat atau pekerja teladan, dan bahwa yang lainnya memegang gelar magister atau doktor, atau pernah bekerja sebagai pengacara atau jurnalis, atau sebagai pegawai negeri atau pejabat. Orang-orang yang merekomendasikan individu-individu ini sebenarnya tidak memiliki pemahaman rohani dan tidak memahami kebenaran. Mereka hanya merasa bahwa berbagai pekerjaan di rumah Tuhan perlu ditangani oleh orang-orang yang berbakat dan kaum elite dari semua lapisan masyarakat, jadi mereka merekomendasikan orang-orang ini untuk mengambil peran sebagai pengawas untuk pekerjaan-pekerjaan ini. Setelah orang-orang ini menjadi pengawas, mereka tidak hanya gagal untuk menangani pekerjaan dengan baik, tetapi mereka juga sangat mengacaukannya, yang mengakibatkan kekacauan terjadi di mana-mana dalam pekerjaan gereja. Itu benar-benar konyol! Yang bisa dilakukan orang-orang ini hanyalah berani bertindak gegabah dengan tidak bernalar, merajalela melakukan kejahatan, bersikap sembrono dan nekat, serta dengan lancang melaksanakan pekerjaan tertentu. Selain itu, tidak ada satu pun pekerjaan yang benar-benar mampu mereka lakukan sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran. Ciri terbesar dari orang-orang ini adalah mereka tidak pernah mencari kebenaran dalam apa pun yang mereka lakukan dan tidak memiliki hati yang takut akan Tuhan. Mengapa mereka bisa menjadi pengawas? Salah satu alasannya adalah mereka percaya bahwa mereka adalah kaum elite, individu yang berbakat, dan pilar dari semua lapisan masyarakat, jadi mereka yakin bahwa mereka harus menduduki posisi kunci, memikul tanggung jawab besar, dan memainkan peran penting setelah mereka datang ke rumah Tuhan, bahwa mereka harus memiliki prestise dan dihormati, dan bahwa rumah Tuhan tidak dapat berjalan tanpa mereka. Jadi, mereka mendorong diri mereka sendiri untuk menjadi pusat perhatian, berusaha menjadi pengawas dan memikul pekerjaan. Alasan lainnya adalah rumah Tuhan juga memberi mereka kesempatan. Karena mereka bersedia melaksanakan pekerjaan tersebut, mereka diizinkan untuk mencobanya. Entah mereka cakap atau tidak, mereka harus diuji kemampuannya. Namun, orang-orang ini tidak memiliki bakat sejati atau pengetahuan yang nyata. Jangankan apakah mereka memahami kebenaran dan apakah mereka mampu bertindak berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran, bahkan dalam hal kualitas, bakat, wawasan mereka sendiri, kemampuan mereka untuk memahami berbagai hal, kemampuan mereka untuk memandang berbagai hal, dan kemampuan mereka untuk menangani urusan, sebagian besar dari mereka tidak memiliki bakat sejati atau pengetahuan yang nyata. Mereka tidak memiliki bakat sejati atau pengetahuan yang nyata, lalu mengapa mereka masih begitu bersemangat dan proaktif untuk mengambil tanggung jawab besar dan memikul pekerjaan? Itu karena ambisi dan kesombongan mereka yang bekerja, dan terlebih lagi, mereka tidak tahu malu. Mereka tidak tahu kemampuan mereka yang sebenarnya tetapi selalu ingin pamer. Akibatnya, mereka gagal melakukan pekerjaan dengan baik dan hanya mempermalukan diri mereka sendiri. Mengapa Kukatakan demikian? Karena setelah orang-orang ini mengambil peran tersebut, setiap pekerjaan yang mereka lakukan berantakan dan sangat kacau. Jika digambarkan dalam satu kata, itu adalah "kekacauan". Mereka tidak berprinsip dalam memakai orang, tidak berprinsip dalam menangani hal-hal, mereka menghabiskan persembahan secara tidak masuk akal, dan tidak menindaklanjuti ataupun menangani berbagai pekerjaan dengan segera. Bahkan pekerjaan urusan umum yang paling dasar pun melampaui apa yang mampu dipikul oleh sebagian besar dari mereka; mereka membiarkan semuanya dalam keadaan sangat kacau. Bertani, beternak ayam, beternak domba—tak ada seorang pun dari mereka yang cakap untuk tugas-tugas semacam itu. Mereka tidak jelas tentang apa yang harus ditanam pada musim apa, kapan harus membajak, memupuk, dan menyiangi lahan, atau kapan harus memanen. Mereka membuat semua pekerjaan mereka menjadi kacau. Seandainya, pada awalnya, rumah Tuhan tidak memakai orang-orang ini, mereka akan merasa bahwa rumah Tuhan tidak memberi mereka kesempatan dan memandang rendah mereka. Jadi, mereka diberi kesempatan, dan apa hasil dari memakai mereka? Mereka membiarkan pekerjaan mereka menjadi kacau balau, dan pada akhirnya rumah Tuhan tetap harus membereskan kekacauan mereka. Setiap pekerjaan yang mereka lakukan mengharuskan Yang di Atas untuk memberikan instruksi dan pemeriksaan, bahkan untuk hal-hal kecil seperti menjaga kebersihan di dalam dan di luar ruangan pun harus diinstruksikan oleh Yang di Atas. Pada akhirnya, pekerjaan tersebut sekarang ini pada dasarnya hanya dapat dianggap telah berada di jalur yang benar melalui Yang di Atas melakukan pengawasan, perencanaan, dan koordinasi yang ketat, menginstruksikan dan mengarahkan semuanya dari awal sedikit demi sedikit. Tanpa menyebutkan hal lain, berbicara tentang masalah pertanian saja, setidaknya harus ada orang yang cocok untuk mengelola kebersihan. Sebagian besar orang bagaikan hewan liar, membuang sampah sembarangan, berbicara tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan, berteriak dan menjerit; mereka sama persis dengan orang tidak percaya. Tak seorang pun dari orang-orang yang disebut berbakat ini, ketika dihadapkan pada urusan umum yang spesifik ini, dapat mengelola berbagai hal dengan baik secara sistematis. Mereka bahkan tidak dapat menangani hal-hal kecil dengan baik seperti mengelola kebersihan dan lingkungan. Hal-hal eksternal ini tidak ada kaitannya dengan kebenaran, dan siapa pun yang memiliki sedikit kualitas dan sedikit hati nurani seharusnya mampu menanganinya dengan baik. Jika seseorang bahkan tidak mampu menangani hal-hal eksternal ini dengan baik, mereka benar-benar tidak berguna. Orang-orang itu ingin menjadi pejabat dan menjadi penentu keputusan sekalipun faktanya mereka tidak memiliki hati nurani dan nalar, ataupun kualitas dan bakat. Ketika mereka tidak diizinkan untuk menjadi pejabat, mereka bersikap membangkang dan membantah, serta tidak mau tunduk kepada siapa pun. Bukankah mereka adalah setan-setan? Setelah rumah Tuhan menyingkapkan dan menyingkirkan setan-setan ini, orang-orang yang cocok dipilih untuk mengelola pertanian tersebut. Berkat bimbingan dan perencanaan dari Yang di Atas, pertanian tersebut sekarang dibangun dengan sangat baik, dan semua orang menyukainya. Penduduk setempat juga sangat mengaguminya dan sangat menyetujuinya. Beberapa dari mereka berkata, "Aku belum pernah melihat pertanian yang dikelola menjadi begitu bersih dan indah. Kami tidak bisa mengubahnya sampai ke taraf ini bahkan dalam sepuluh tahun. Bagaimana engkau semua bisa mengelolanya dengan begitu baik, begitu cepat? Berapa tahun yang engkau semua butuhkan untuk mengubahnya menjadi seperti ini?" Kenyataannya, perubahan sebesar itu hanya membutuhkan waktu satu tahun, mengubah lahan kosong menjadi apa yang dilihat oleh saudara-saudari sebagai sebuah taman, sebuah taman bunga. Ada orang-orang yang bahkan mengatakan tempat ini tampak seperti negeri dongeng, seperti sebuah lukisan. Perencanaan dan pembangunan yang tepat benar-benar membuat perbedaan. Tempat ini awalnya tertutup tanah dan lumpur, dan ada sampah serta kekacauan di mana-mana. Kemudian, melalui pembersihan dan pengaturan, tempat itu berangsur-angsur membaik. Seiring berjalannya waktu, semua orang telah terbiasa dengan lingkungan tempat tinggal semacam ini, sampai-sampai jika menjadi sedikit kotor atau berantakan, beberapa orang bahkan tidak terbiasa dengannya. Engkau lihat, melalui pengelolaan semacam ini, sebagian besar orang mendapat manfaat dan mengembangkan kebiasaan hidup yang baik. Hanya di bawah instruksi pribadi dari Yang di Ataslah pembangunan semacam ini dapat dicapai. Sebaliknya, sebenarnya tak seorang pun dari orang-orang yang disebut berbakat ini mampu melakukan sesuatu yang nyata. Mereka bahkan tidak mampu mengelola pekerjaan kebersihan dasar dengan baik. Mereka tidak tahu bagaimana menata ruangan dengan cara yang terlihat pantas, dan mereka tidak dapat memahami dengan jelas orang seperti apa yang cocok untuk melakukan tugas apa. Pekerjaan macam apa yang dapat dipikul oleh orang-orang ini? Mereka sama sekali tidak dapat melakukan pekerjaan apa pun. Mereka bahkan tidak mampu mengelola lingkungan tempat tinggal mereka sendiri; bagaimana mereka bisa dianggap sebagai orang yang berbakat? Orang-orang ini bahkan tidak memiliki kecerdasan sesedikit itu, mereka tidak dapat berbicara dengan jelas, mereka memandang berbagai hal secara tidak akurat, dan mereka tidak memiliki penilaian secara mandiri. Ini memperlihatkan bahwa mereka adalah "orang-orang berbakat" dalam tanda kutip, bukan orang-orang dengan bakat sejati dan pengetahuan yang nyata. Orang berbakat pertama-tama harus memiliki sifat tertentu dalam kemanusiaan mereka, seperti kemampuan untuk mengapresiasi berbagai hal, kemampuan untuk menilai dan mengapresiasi berbagai hal, serta wawasan. Jika mereka tidak memiliki sifat-sifat ini, mereka hanya mempermalukan diri mereka sendiri saat menangani hal-hal spesifik, dan mereka bahkan tidak dapat mengelola dan merencanakan satu taman atau tanah seluas satu atau dua hektar—juga tidak dapat memanfaatkannya secara efektif—maka tidak ada yang berbakat dari orang-orang semacam itu. Engkau tidak dituntut untuk mengelola seluruh bumi, engkau hanya diberi satu atau dua hektar tanah untuk dikelola dengan baik, yaitu, untuk dirapikan agar menjadi indah dan bersih, dan berubah menjadi lingkungan yang elegan. Betapa indahnya untuk ditinggali orang-orang, bahkan burung-burung pun tidak akan rela pergi setelah datang ke sana. Orang-orang yang disebut berbakat ini sama sekali bukan apa-apa. Mereka tidak dapat melakukan pekerjaan konkret apa pun. Sama sekali tidak ada yang berbakat dari mereka; mereka kekurangan berbagai hal dalam kemanusiaan mereka. Mereka tidak dapat melakukan apa pun dengan baik, tetapi mereka masih ingin memamerkan diri mereka sendiri dan menjadi pemimpin dan pekerja, dan masih ingin menduduki posisi kunci serta menjadi pengawas. Watak macam apa ini? Ini adalah watak yang congkak.

Mari kita kembali ke topik suka mencurangi dan menipu orang dalam berbisnis. Masalah macam apa mencurangi dan menipu orang? Salah satu aspek dari masalah ini adalah bahwa kemanusiaan orang-orang semacam itu buruk; mereka tidak memiliki hati nurani atau nalar. Jadi, dinilai dari perilaku mereka, watak rusak apa yang mereka perlihatkan? Pertama, watak orang-orang semacam itu licik dan jahat; kedua, mereka muak akan kebenaran dan keras kepala. Ketika mereka menipu orang lain, sikap tak kenal ampun yang mereka perlihatkan adalah kekejaman. Entah target mereka kaya atau miskin, entah target mereka punya uang atau tidak, mereka tetap saja menipu orang itu, tanpa menunjukkan belas kasihan. Watak rusak orang-orang semacam itu cukup parah dalam setiap aspek. Katakan kepada-Ku, mudahkah bagi orang-orang semacam itu untuk memperoleh keselamatan? (Tidak.) Dinilai dari watak rusak mereka, tidak mudah bagi mereka untuk memperoleh keselamatan. Lalu, dalam hal kemanusiaan mereka, aspek apa yang membuat mereka sulit untuk memperoleh keselamatan? Apakah ada akar penyebabnya? (Mereka tidak memiliki hati nurani.) Benar, tidak mudah bagi orang yang tidak memiliki hati nurani untuk memperoleh keselamatan. Kemampuan hati nurani sudah hilang di dalam diri mereka, itu tidak ada lagi. Tanpa fungsi hati nurani, orang tidak memiliki kondisi dasar untuk menerima kebenaran dan menerapkan kebenaran. Jadi, sangat sulit bagi mereka untuk memperoleh keselamatan; dapat juga dikatakan bahwa mereka tidak dapat memperoleh keselamatan. Mungkin juga jenis orang ini bersedia berjerih payah dan dapat melakukannya hingga taraf tertentu, dan pada akhirnya, karena jerih payah mereka memenuhi standar dan memenuhi tuntutan Tuhan, mereka akan menjadi orang yang berjerih payah dengan setia dan akan bertahan hidup. Ini juga merupakan kasih karunia Tuhan. Meskipun orang yang berjerih payah dengan setia dapat bertahan hidup, itu tidak berarti mereka telah memperoleh keselamatan. Bertahan hidup dan memperoleh keselamatan adalah dua konsep yang berbeda. Ada kesenjangan dan perbedaan di antara keduanya. Prinsip, batasan, arah, dan tujuan dari tindakan seseorang, sebagian besar sangat berkaitan dengan baik atau buruknya kemanusiaan mereka. Jika orang menyukai hal-hal positif atau memiliki sedikit rasa keadilan, ini memperlihatkan bahwa hati nurani mereka memiliki kesadaran. Ini memperlihatkan bahwa orang tersebut memiliki sedikit hati nurani. Dalam cara mereka berperilaku, ada orang-orang yang tidak memiliki rasa keadilan, mereka juga tidak membuat pilihan positif apa pun. Mereka hanya suka melakukan hal-hal jahat dan sangat jijik akan hal-hal positif. Terutama ketika seseorang berbicara sedikit tentang cara bertindak yang positif, tentang bagaimana dalam cara mereka berperilaku, orang haruslah memiliki kemanusiaan, hati nurani, dan batasan moral serta menaati aturan, mereka menganggap ini sebagai sikap yang menggurui. Menyebutnya "menggurui" adalah cara yang halus; kenyataannya, mereka memandang rendah dan mengejekmu. Mereka percaya bahwa berperilaku dengan cara seperti ini adalah sebuah kegagalan: "Lihat betapa menyedihkannya hidupmu. Kau tidak tahu cara melakukan segala bentuk kecurangan dan penipuan, kau juga tidak tahu cara mendapatkan keuntungan melalui kelicikan. Dalam caramu berperilaku, kau selalu sangat taat aturan, sangat penakut. Di zaman sekarang ini, orang yang berani, makan sampai kenyang, sementara orang yang penakut, mati kelaparan. Jika kau penakut, kau tidak akan berhasil!" Mereka percaya bahwa berperilaku dengan cara yang berhati nurani dan berprinsip berarti engkau benar-benar penakut, dan berani melakukan segala bentuk penipuan dan kecurangan berarti mereka berani. Namun, apakah itu benar-benar karena mereka berani? Beberapa orang yang percaya kepada Tuhan di negara si naga merah yang sangat besar tidak takut menderita penganiayaan dan ditangkap, serta masih terus percaya kepada Tuhan. Apakah ini ada hubungannya dengan berani atau takut? (Tidak.) Ini berkaitan dengan pengejaran mereka. Dalam kemanusiaan mereka, mereka memiliki kebutuhan dan kerinduan untuk percaya kepada Tuhan. Ini bukan soal berani atau takut. Ada orang-orang yang melakukan segala bentuk kecurangan dan penipuan saat berbisnis. Berkali-kali, mereka menghadapi risiko diburu dan ditangkap, harta benda mereka disita, atau risiko kebangkrutan dan penutupan, tetapi mereka tetap saja menipu orang. Sekalipun penipuan mereka akan mengakibatkan hilangnya nyawa, mereka tidak peduli. Ada orang-orang yang saat berbisnis, menipu orang lain dengan mendirikan perusahaan fiktif, padahal sebenarnya, perusahaan ini sama sekali tidak ada dan tidak memiliki bisnis nyata, juga tidak menghasilkan produk apa pun. Mereka hanya mengandalkan mulut manis mereka untuk menipu orang agar membuat pesanan di mana-mana. Begitu orang lain membayar uang muka kepada mereka, mereka segera melarikan diri, tanpa meninggalkan jejak. Mereka menipu orang dengan cara seperti ini, dari satu transaksi ke transaksi lainnya, dan setelah meraup uang hasil tipuan tersebut, seluruh keluarga mereka hidup dalam kemewahan, menikmati makanan dan minuman terlezat. Sampai sejauh mana beberapa orang melakukan penipuan? Mereka bahkan menipu institusi dan lembaga tingkat tinggi. Terkadang, mereka menghadapi situasi yang bagaikan di ujung tanduk, dan mungkin saja seseorang bisa mengetahui yang sebenarnya tentang tipu daya mereka dan menyingkapkan mereka. Di dalam hatinya, mereka sebenarnya tahu bahwa tindakan mereka akan menempatkan mereka dalam bahaya, tetapi mereka tidak peduli. Jika karena kebetulan mereka lolos, mereka akan terus menipu orang pada kesempatan berikutnya. Selama menghasilkan uang melalui penipuan, mereka pikir mereka telah menang, bahwa mereka telah "mencapai ketenaran dan kesuksesan". Namun, jika engkau meminta mereka untuk percaya kepada Tuhan, mereka tidak berani. Mereka berkata, "Percaya kepada Tuhan akan membuatku dihukum dan ditangkap oleh pemerintah. Aku tidak berani percaya!" Namun, dalam hal melakukan segala bentuk kecurangan dan penipuan, mereka tidak takut ditangkap. Jika engkau pergi ke pertemuan, mereka bahkan berkata, "Kau benar-benar berani. Negara sedang menangkap dan menganiaya orang-orang percaya dengan gila-gilaan saat ini; mengapa kau masih berani pergi ke pertemuan?" Engkau berkata, "Kami yang percaya kepada Tuhan dan menempuh jalan yang benar tidak takut ditangkap. Sangat berbahaya bagi kalian untuk menjalankan perusahaan fiktif dan melakukan penipuan. Mengapa kau tidak takut?" Mereka berkata, "Kami para pebisnis tidak takut mengambil risiko. Namun, kalian sangat bernyali karena masih berani menghadiri pertemuan padahal pemerintah sedang berusaha keras untuk menangkap orang-orang percaya!" Ketika mereka melihat bahwa orang-orang yang percaya kepada Tuhan ditangkap, mereka tidak berani percaya, tetapi mereka tidak takut ditangkap karena melakukan penipuan saat berbisnis. Makhluk celaka macam apa mereka? Bukankah ini memperlihatkan perbedaan dalam kemanusiaan orang? Inilah tepatnya perbedaan yang ada di antara orang-orang. Watak rusak yang orang miliki sama—mereka semua memiliki watak rusak yang sama—tetapi dilihat dari perbedaan dalam kemanusiaan mereka, ada orang-orang yang tidak akan pernah bisa percaya kepada Tuhan; mereka tidak akan pernah bisa menjadi anggota rumah Tuhan. Sekalipun orang-orang semacam itu percaya kepada Tuhan, mereka tidak akan pernah bisa memperoleh keselamatan. Dari aspek apa hal ini dapat dilihat? Ini dapat dilihat dari kemanusiaan mereka. Ada orang-orang yang mendukung istri mereka yang percaya kepada Tuhan, tetapi ketika didesak istri mereka untuk percaya, mereka mengatakan bahwa itu terlalu berbahaya dan mereka tidak berani. Namun, dalam berbisnis, mereka melakukan segala bentuk kecurangan dan penipuan, dan mereka tidak peduli seberapa besar bahaya yang mereka hadapi. Mereka mampu melanggar hukum apa pun dan berani menggunakan taktik apa pun. Seketat apa pun pemerintah melakukan pemantauan atau hukuman dan vonis apa pun yang dijatuhkan berdasarkan hukum, mereka tidak peduli. Mereka tidak memiliki batasan dalam cara mereka berperilaku, mereka tidak memedulikan akibatnya saat mereka bertindak, dan mereka berpikir bahwa semuanya baik-baik saja selama ada keuntungan yang bisa didapatkan. Jika orang semacam itu percaya kepada Tuhan, mereka tidak dapat memperoleh kebenaran, dan mereka tidak dapat memperoleh keselamatan; ini karena mereka tidak mencintai kebenaran, hanya uang. Selama mereka berbisnis, mereka akan mencurangi dan menipu orang lain, dan mereka akan merekayasa berbagai hal. Hati mereka yang busuk terwujud dengan sendirinya. Orang dengan karakter semacam ini sudah tamat; Tuhan tidak menyelamatkan orang semacam ini. Ada orang-orang yang berkata, "Bagaimana jika orang seperti ini menghasilkan banyak uang dan mempersembahkannya ke rumah Tuhan?" Rumah Tuhan tidak menerima uang semacam itu; rumah Tuhan tidak menerima uang yang diperoleh melalui cara-cara yang tidak sah. Orang semacam itu akan melakukan segala bentuk kecurangan dan penipuan segera setelah mereka berbisnis. Mereka memiliki kemanusiaan yang sangat buruk. Seburuk apa? Jika engkau meminta mereka untuk memeriksa hati nurani mereka, mereka berkata, "Aku tidak merasakan apa-apa. Aku tidak tahu di mana hati nuraniku. Aku juga tidak tahu apa itu hati nurani, atau berapa harganya sekilo." Pada saat itu, engkau mengerti: "Pantas saja mereka menghasilkan uang lebih cepat daripada orang lain dalam bisnis yang sama. Pantas saja semua pelanggan pergi membeli dari mereka. Orang ini menggunakan taktik yang licik; mereka melakukan praktik-praktik gelap saat berbisnis, dan perilaku curang mereka benar-benar parah!" Namun, mereka bukan saja tidak menganggap ini memalukan, mereka bahkan menyombongkan diri dan pamer, dengan berkata, "Lihatlah kalian, berbisnis dengan begitu kaku dan semestinya. Kalian menipu seseorang satu kali dan menjadi begitu takut hingga jantungmu berdebar kencang. Lihat aku, aku tidak takut! Selama Biro Perindustrian dan Perdagangan serta polisi tidak mendapatkan bukti apa pun, semuanya baik-baik saja. Ingin menuntutku? Kau tidak punya bukti! Lihatlah betapa lihainya aku menipu orang! Bisakah kau melakukannya? Kau tidak bisa! Begitu kau menipu seseorang, kedokmu langsung terbongkar. Kau tidak punya taktik sepertiku. Kualitasmu buruk!" Orang macam apa ini? Mereka adalah orang jahat. Apakah masih ada harapan untuk mereka diselamatkan? Mereka sudah tidak bisa diselamatkan. Bukan karena orang-orang semacam itu memiliki watak yang rusak maka mereka tidak dapat diselamatkan, melainkan karena kemanusiaan mereka terlalu buruk. Bagaimana buruknya? Buruk dalam arti mereka tidak memiliki kemanusiaan dan tidak memiliki hati nurani; mereka telah kehilangan hati nurani mereka. Apa artinya orang telah kehilangan hati nuraninya? Itu berarti melakukan segala sesuatu tanpa batasan hati nurani. Batasan ini dibangun di atas hati nurani; hati nurani merupakan batasan tersebut. Siapa pun yang kautipu dengan melakukan segala bentuk kecurangan dan penipuan saat berbisnis, entah itu orang jahat atau orang baik, bagaimanapun juga, tindakan itu sendiri bertentangan dengan moralitas, hati nurani, dan kemanusiaan. Begitu hal semacam itu dilakukan, engkau akan merasa tertuduh dalam hati nuranimu selamanya. Itu akan menjadi noda seumur hidup. Jika engkau benar-benar manusia, engkau seharusnya tidak pernah melakukan hal semacam itu. Siapa pun target penipuanmu, dan berapa pun jumlah uang yang kautipu—sekalipun engkau menipu orang jahat dan orang yang tidak baik—itu tetaplah penipuan. Itulah sebabnya, seperti apa pun kondisinya atau dengan siapa pun engkau berurusan, engkau seharusnya tidak pernah menipu orang. Inilah yang dimaksud dengan memiliki batasan hati nurani dalam caramu berperilaku, dan ini adalah daya pengendali yang berasal dari fungsi hati nurani. Jika engkau memiliki fungsi hati nurani, engkau akan memiliki batasan dalam apa yang kaulakukan. Jika engkau tidak memiliki fungsi hati nurani, engkau akan melewati batasan tersebut dan mampu melakukan apa saja. Dapat dikatakan bahwa individu-individu seperti ini tidak memiliki sedikit pun hati nurani dan nalar, dan bahwa mereka lebih buruk daripada binatang. Jika menurut beberapa orang pernyataan ini terlalu ekstrem, mari kita katakan dengan cara lain: Orang yang tidak sedikit pun bernalar adalah seperti binatang. Bukankah orang yang tidak memiliki kemanusiaan adalah binatang? Jika orang adalah manusia tetapi tidak memiliki kemanusiaan, lalu apa esensi mereka? Bukankah esensi mereka adalah binatang? Perbedaan antara mereka dan binatang adalah mereka dapat berjalan tegak, dan mereka memiliki bahasa, sedangkan binatang tidak memiliki kemampuan berbahasa manusia. Demi mendapatkan keuntungan, engkau mampu menggunakan segala macam cara dan metode untuk melakukan segala bentuk kecurangan dan penipuan, sedangkan binatang tidak memiliki cara-cara semacam itu. Jadi, mengatakan bahwa orang-orang semacam ini setara dengan binatang sebenarnya adalah pernyataan yang terlalu halus bagi mereka. Kenyataannya, orang-orang semacam itu benar-benar lebih buruk daripada binatang. Dapatkah mereka yang lebih buruk daripada binatang memperoleh keselamatan? Mereka sama sekali tidak menerima kebenaran; mereka hanya mencintai uang. Ini adalah masalah natur mereka, dan tak seorang pun bisa mengubahnya. Mengharapkan orang-orang semacam itu untuk menerima kebenaran sama seperti mengharapkan ayam jantan bertelur; itu tidak akan pernah terjadi. Oleh karena itu, di antara umat manusia yang rusak, selain mereka yang melakukan pembunuhan demi keuntungan atau terlibat dalam tindakan kriminal dan melanggar hukum, orang-orang yang melakukan segala bentuk kecurangan dan penipuan ini dapat dianggap memiliki kemanusiaan yang paling buruk. Mereka adalah sampah umat manusia, orang-orang bejat di antara umat manusia. Di era kemakmuran ekonomi yang luar biasa saat ini, ada sangat banyak orang seperti ini yang melakukan segala bentuk kecurangan dan penipuan saat berbisnis. Namun, sebanyak apa pun orang semacam ini, bagaimanapun juga, perwujudan semacam itu cukup untuk menggambarkan suatu masalah kemanusiaan. Bagaimana hati nurani seseorang, serta apakah mereka memiliki batasan hati nurani, ini adalah indikator untuk mengukur kemanusiaan mereka. Bagaimana mungkin orang yang bahkan tidak memiliki kemanusiaan bisa diselamatkan? Setidaknya, kemanusiaan seseorang haruslah memiliki kondisi untuk menerima kebenaran. Mereka yang melakukan segala bentuk kecurangan dan penipuan pada dasarnya tidak memiliki kondisi untuk menerima kebenaran di dalam kemanusiaan mereka. Jadi, jika engkau meminta mereka untuk menerima kebenaran guna membuang watak rusak mereka, mustahil bagi mereka untuk mencapainya. Hanya mereka yang memiliki hati nurani dan nalar yang dapat menerima kebenaran dan membuang watak rusak mereka dan dengan demikian memperoleh keselamatan, karena hati nurani mereka memiliki tingkat kesadaran tertentu, dan ketika mereka berperilaku dan bertindak, hati nurani mereka dapat menjalankan fungsi tertentu. Ketika engkau mempersekutukan kebenaran kepada orang-orang seperti itu, dan berbicara tentang cara masuk ke dalam kebenaran, cara membuang watak yang rusak, hal apa saja yang sesuai dengan maksud-maksud Tuhan dan apa yang tidak, dan bagaimana orang seharusnya bertindak, mereka dapat menerima dan tunduk. Mempersekutukan kebenaran kepada orang-orang semacam itu adalah hal yang tepat; mereka adalah penerima yang tepat. Jika engkau mempersekutukan kebenaran kepada mereka yang cara utamanya dalam berbisnis adalah mencurangi dan menipu orang lain, engkau sama saja dengan berbicara pada tembok. Jadi, mengenai orang-orang semacam itu yang sedang berbisnis, amati saja apakah mereka menggunakan cara-cara yang sah dalam berbisnis dan dalam bertransaksi serta dalam berurusan dengan orang lain, apakah mereka memiliki pengendalian dan batasan hati nurani, dan apakah hati nurani mereka dapat berfungsi ketika mereka bertransaksi dan berurusan dengan orang lain. Jika hati nurani seseorang dapat berfungsi dan memberikan daya pengendali dalam diri mereka, maka mereka dapat diterima dan layak untuk diajak bergaul. Injil dapat diberitakan dan kebenaran dapat dipersekutukan kepada orang-orang semacam itu. Jika mereka mampu menerima kebenaran, ada harapan bagi mereka untuk memperoleh keselamatan. Sekian pembahasan kita tentang suka berbisnis.

Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.

Hubungi kami via WhatsApp