Firman Tuhan | "Tuhan itu Sendiri, Tuhan yang Unik II: Watak Tuhan yang Benar" (Bagian Tiga)
Beberapa materi dalam video ini berasal dari: 【All Bible quotations in this video are translated freely from English Bible.】...
Kami menyambut semua pencari yang merindukan penampakan Tuhan!
Orang dipenuhi dengan segala macam gagasan dan imajinasi tentang pekerjaan Tuhan. Hal yang baru saja kita persekutukan berkaitan dengan gagasan orang tentang hari-hari pekerjaan Tuhan. Selain gagasan-gagasan ini, ada jenis gagasan dan imajinasi lainnya, yaitu setiap kali orang menghadapi beberapa kesulitan nyata, dalam keinginan subjektifnya, mereka sering berharap akan secara tiba-tiba mendapatkan inspirasi dari Tuhan dan kemudian mendapatkan ide cemerlang, tanpa perlu makan dan minum firman Tuhan, memperlengkapi diri mereka dengan kebenaran, atau memahami prinsip-prinsip kebenaran pada saat-saat biasa, dan bahwa Tuhan dapat membantu mereka untuk menyelesaikan masalah apa pun yang mereka hadapi dalam kehidupan mereka sehari-hari, sebesar atau sekecil apa pun masalah tersebut. Pemahaman dan pengertian orang tentang pekerjaan Tuhan sangat penuh dengan angan-angan dan kosong, dan orang juga penuh dengan gagasan dan imajinasi tentang metode Tuhan dalam menyelamatkan manusia. Orang tidak ingin mencari berbagai kebenaran dalam pekerjaan Tuhan dan menangani setiap hal dengan cara yang nyata berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran. Sebaliknya, mereka berharap setiap kali menghadapi jenis masalah apa pun, Tuhan akan memberi mereka terang dan pewahyuan, sama seperti Dia memberikan pewahyuan kepada para nabi, sehingga apa pun yang menimpa mereka dalam kehidupan nyata, mereka akan memiliki hikmat dan kemampuan, serta cara untuk menangani segala jenis masalah, tanpa perlu berdoa kepada Tuhan dan mencari kebenaran, ataupun makan dan minum firman Tuhan, seolah-olah mereka hidup di dunia ajaib. Berdasarkan imajinasi mereka, orang mengira begitu mereka mulai percaya kepada Tuhan, mereka akan menjadi cerdas dan pandai. Ada orang-orang yang bahkan mengira begitu mereka mulai percaya kepada Tuhan, penampilan mereka akan menjadi lebih menarik, dan tidak lagi memiliki kesulitan dan masalah kedagingan apa pun, atau hambatan karena watak rusak mereka, atau kesulitan nyata apa pun dalam kehidupan mereka sehari-hari. Mereka yakin asalkan mereka memiliki keinginan untuk memuaskan Tuhan, Dia akan memberi mereka kekuatan dan menciptakan keadaan yang baik dan unggul bagi mereka, membuat semua ini menjadi kenyataan, dan mewujudkan semua aspirasi dan keinginan mereka, dan terutama ketika menghadapi hal-hal yang berada di luar jangkauan kualitas dan naluri mereka, Tuhan akan lebih mengulurkan tangan-Nya untuk membantu sehingga mereka dapat dengan cerdik atau mudah melakukan hal-hal yang ingin mereka lakukan. Ada juga orang-orang yang kualitasnya buruk dan kurang keterampilan dalam segala macam kemampuan profesional yang menganggap bahwa Tuhan hanya perlu melakukan mukjizat atau keajaiban dan kualitas mereka akan tiba-tiba menjadi baik, dan mereka akan tiba-tiba menjadi cerdas. Mereka juga yakin bahwa tidak ada yang sulit bagi Tuhan untuk melakukan apa pun, dan bahwa Tuhan dapat membantu mereka mencapai apa pun yang tak mampu mereka sendiri capai, serta membantu mereka mengatasi masalah sulit apa pun yang tak mampu mereka sendiri atasi dan yang berada di luar kemampuan mereka. Singkatnya, dalam pekerjaan Tuhan, orang memiliki banyak gagasan dan imajinasi. Di satu sisi, mereka penuh dengan berbagai imajinasi tentang durasi pekerjaan Tuhan, dan juga telah melakukan berbagai tindakan dan membayar berbagai harga dalam hal ini. Pada saat yang sama, orang juga penuh dengan segala macam gagasan dan imajinasi tentang berbagai kesulitan dan masalah yang mereka hadapi, dan bahkan tentang watak rusak mereka sendiri. Sebagian besar dari gagasan dan imajinasi ini kosong, penuh angan-angan, dan tidak realistis, dan terlebih dari itu, gagasan dan imajinasi itu melampaui kualitas dan pikiran manusia, serta melampaui jangkauan naluri mereka. Orang sering berharap bahwa Tuhan tidak akan bertindak berdasarkan kesulitan nyata mereka, atau berdasarkan kualitas, pikiran, serta naluri mereka, dan bahwa Dia justru akan membuat mereka mampu untuk melampaui semua ini, melampaui kemanusiaan normal mereka, kualitas, dan naluri mereka untuk melakukan hal-hal tertentu. Orang dipenuhi dengan gagasan dan imajinasi tentang pekerjaan Tuhan, dan isi imajinasi mereka sangat supernatural. Gagasan dan imajinasi ini sepenuhnya bertentangan dan bermusuhan dengan kebenaran yang diungkapkan oleh Tuhan. Orang-orang tidak berpikir: Jika Tuhan melakukan hal-hal yang supernatural ini, mengapa Dia masih mengucapkan begitu banyak firman dan membekali orang-orang dengan begitu banyak kebenaran? Dia tentunya tidak perlu melakukan hal itu. Alasan mengapa pekerjaan Tuhan begitu nyata adalah karena Tuhan berharap untuk membekali manusia dengan semua firman dan kebenaran-Nya dan mengerjakannya ke dalam diri mereka, sehingga mereka dapat hidup berdasarkan firman dan kebenaran tersebut. Maksud-Nya bukanlah untuk membuat orang-orang menjadi mampu untuk melampaui kemanusiaan normal atau naluri mereka, tetapi untuk membuat mereka mampu, atas dasar kemanusiaan yang normal, untuk berpegang pada prinsip-prinsip kebenaran, dan memegang teguh tugas dan amanat yang telah Dia berikan kepada mereka. Namun, gagasan dan imajinasi manusia justru bertolak belakang dengan pekerjaan Tuhan, dan sama sekali tidak sesuai dengan cara Tuhan bekerja. Tuhan ingin bekerja dengan cara yang nyata, sedangkan imajinasi manusia tentang pekerjaan Tuhan berkaitan dengan hal-hal yang supernatural, kosong, dan tidak realistis. Tentu saja, ada orang-orang yang berharap bahwa Tuhan akan menggunakan beberapa metode yang bahkan lebih istimewa untuk memberi mereka pewahyuan, membekali mereka, menyokong dan membantu mereka, bahkan mengubah mereka dan membuat mereka dapat diselamatkan. Misalnya, ada orang yang setiap kali menghadapi masalah, mereka sering kali tidak mencari jawaban atau jalan penerapan dari dalam firman Tuhan, tetapi malah berlutut, memejamkan mata, dan berdoa. Mereka tidak mencari kebenaran tentang masalah tersebut ketika berdoa, dan kemudian menemukan firman Tuhan yang sesuai untuk menyelesaikannya. Sebaliknya, mereka berharap Tuhan dapat memberi tahu mereka apa yang harus dilakukan dalam hati mereka; atau mencerahkan mereka dengan sebuah kalimat, ide, atau gambaran; atau memungkinkan mereka untuk memperoleh sedikit terang dan memberi mereka sedikit motivasi—mereka ingin memahami kebenaran dengan cara ini. Tentu saja, ada orang-orang yang mengambil pendekatan yang lebih ekstrem, yaitu, setiap kali menghadapi suatu masalah, mereka berharap Tuhan dapat mewahyukan kepada mereka satu bagian dari firman-Nya dalam sebuah mimpi, memberi tahu mereka apakah mereka harus melakukan ini dan itu serta bagaimana cara melakukannya, atau apakah mereka harus pergi ke tempat ini dan itu, atau apakah mereka harus memberitakan Injil kepada si Anu atau tidak. Ada orang-orang yang, ketika dihadapkan dengan kesulitan besar, berharap untuk menerima mimpi atau mendapatkan jawaban dalam mimpi, dan bahkan berharap untuk menganalisis dan menafsirkan mimpi mereka bersama dengan saudara-saudari mereka atau para pemimpin gereja, sambil berpikir, "Apa arti mimpi yang Tuhan berikan kepadaku ini? Apa yang Dia ingin untuk aku lakukan? Apakah Dia menyuruhku pergi atau tidak?" Mereka yakin bahwa pekerjaan Tuhan adalah memberikan pewahyuan kepada orang-orang, memimpin dan membekali orang dengan menggunakan cara-cara khusus ini, dan dengan demikian membuat mereka dapat diselamatkan. Bukankah ini adalah gagasan dan imajinasi? (Ya.) Ada orang yang ketika masalah menimpa mereka, dan mereka tidak tahu harus berbuat apa dan tidak mendapatkan jawaban dari Tuhan ketika berdoa, mereka mengambil keputusan dengan melempar koin. Contohnya, ketika harus pergi ke suatu tempat untuk memberitakan Injil, mereka berdoa kepada Tuhan tentang apakah mereka harus pergi atau tidak dan tidak mendapatkan jawaban, lalu apa yang mereka lakukan? Mereka cukup melempar koin untuk memutuskan apakah akan pergi atau tidak. Mereka berpikir jika koin itu mendarat dengan sisi gambar menghadap ke atas, itu membuktikan bahwa Tuhan menghendaki mereka pergi, sedangkan jika koin itu mendarat dengan sisi angka menghadap ke atas, itu membuktikan bahwa Tuhan tidak menghendaki mereka untuk pergi. Mereka melempar koin tiga kali dan koin itu mendarat dengan sisi gambar menghadap ke atas sekali dan sisi angka menghadap ke atas dua kali, jadi mereka menyimpulkan, "Itu dua banding satu, yang berarti Tuhan tidak menghendaki aku pergi," dan mereka pun tidak pergi. Mereka bahkan merasa cukup tenang untuk tidak pergi, mengira bahwa itu adalah keinginan Tuhan, dan berkata kepada diri mereka sendiri, "Aku harus mengikuti tuntunan Tuhan. Ini adalah keputusan Tuhan, bukan keputusanku. Aku harus tunduk pada tuntunan Tuhan dan tidak pergi." Jadi, apakah mereka sebenarnya harus pergi atau tidak? Dapatkah mencari maksud Tuhan dengan cara ini mendapatkan jawaban yang akurat? Jawabannya pasti tidak akan akurat. Ketika dihadapkan dengan situasi seperti itu, engkau harus mengambil keputusan berdasarkan prinsip dan apakah keadaannya memungkinkan atau tidak—hanya inilah metode yang benar. Memberitakan Injil adalah kewajibanmu, tugasmu, dan pekerjaan yang harus kaulakukan hari ini, jadi engkau harus pergi—sudah seharusnya engkau pergi. Namun, orang sering kali tidak memahami atau menangani hal-hal seperti itu berdasarkan kenyataan ini. Sebaliknya, mereka sering kali memperlakukannya berdasarkan beberapa gagasan dan imajinasi, serta menilainya dengan menggunakan beberapa cara dan metode yang tidak biasa, dan pada akhirnya mengambil beberapa keputusan yang tidak masuk akal dan menyimpang. Bukankah ini disebabkan oleh gagasan dan imajinasi mereka? (Ya.) Dalam pekerjaan Tuhan, ketika Tuhan tidak memberikan firman yang jelas yang memberi tahu orang tentang bagaimana setiap hal harus dilakukan atau prinsip apa yang harus dipatuhi dalam menangani setiap jenis masalah, orang perlu mengikuti arahan Roh Kudus dan mengikuti tuntunan yang Tuhan berikan kepada mereka di tengah keadaan yang nyata. Tentu saja, mereka juga perlu berdiskusi atau berdoa dan mencari bersama dengan saudara-saudari mereka, dan pada akhirnya memutuskan bagaimana cara menangani masalah yang ada berdasarkan situasi yang sebenarnya. Namun, dalam pekerjaan Tuhan, ketika Tuhan memiliki firman yang jelas dan petunjuk yang jelas yang memberitahukan kepada orang-orang prinsip penerapan untuk berbagai hal, formalitas yang sebelumnya diterapkan ini dapat dihilangkan, dan orang tidak perlu lagi mematuhinya. Jika mereka terus mematuhinya, itu hanya akan menunda segala sesuatunya. Contohnya, jika setiap kali terjadi sesuatu dan mereka perlu pergi dan bertindak, orang tetap berlutut dan berdoa, bertanya, "Tuhan, aku harus pergi atau tidak? Jika Engkau tidak ingin aku pergi, buatlah keadaan tertentu untuk menghalangiku, atau jika Engkau ingin aku pergi, buatlah segala sesuatunya berjalan lancar bagiku." Ini artinya mematuhi formalitas secara kaku dan bukan ini yang Tuhan tuntut untuk orang lakukan. Ketika Tuhan memiliki firman yang jelas mengenai tuntutan dan kriteria-Nya, orang tidak perlu lagi melewati formalitas apa pun untuk mencari, berdoa, meraba-raba, dan sebagainya. Sebaliknya, di satu sisi, mereka harus bertindak berdasarkan situasi dan lingkungan nyata yang sebenarnya, dan di sisi lain, yang terpenting adalah mereka harus bertindak berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran—inilah yang benar. Setiap hari, tanganilah segala sesuatunya dalam urutan yang benar, lakukanlah apa pun yang seharusnya kaulakukan, dan jangan lakukan hal-hal yang tidak seharusnya kaulakukan; tanganilah apa pun yang mendesak dan perlu ditangani, tundalah apa pun yang dapat dikesampingkan untuk sementara waktu, dan tanganilah terlebih dahulu masalah-masalah yang mendesak. Bukankah ini adalah prinsipnya? (Ya, benar.) Itu memang adalah prinsipnya. Engkau harus mengingat hal ini: Ketika engkau berdoa kepada Tuhan dan berusaha memahami maksud-maksud-Nya, engkau harus melakukannya berdasarkan firman-Nya; dalam situasi khusus, yaitu ketika tidak ada firman yang jelas dari Tuhan yang memberikan petunjuk, engkau harus tetap tahu bahwa Dia memiliki firman dan prinsip penerapan yang jelas untuk segala jenis masalah, dan dalam kasus seperti itu, engkau harus bertindak berdasarkan berbagai prinsip kebenaran yang Tuhan peringatkan kepada orang-orang di masa lalu. Namun, di benaknya, orang telah mengembangkan banyak gagasan dan imajinasi tentang pekerjaan Tuhan yang menggelikan, aneh, dan berkaitan dengan hal-hal yang supernatural, yang mengubah firman Tuhan dan berbagai prinsip kebenaran menjadi hiasan dan doktrin kosong, sehingga membuat firman Tuhan tidak dapat menjadi kriteria manusia untuk menangani berbagai hal atau menjadi jalan penerapan ketika masalah menimpa mereka. Ini adalah hal yang menyedihkan, dan itu sepenuhnya disebabkan oleh kenyataan bahwa orang telah mengembangkan banyak sekali gagasan dan imajinasi tentang pekerjaan Tuhan.
Orang memiliki beberapa gagasan dan imajinasi yang menggelikan, aneh, dan ganjil tentang pekerjaan Tuhan yang meresap dalam kehidupan mereka sehari-hari. Misalnya, ketika orang hendak melaksanakan tugas yang paling harus mereka laksanakan, lalu terjadi sesuatu yang menurut mereka tidak seharusnya terjadi, seperti ponsel mereka dicuri saat dalam perjalanan untuk melaksanakan tugas, atau mobil mereka mogok atau mereka terjatuh dalam perjalanan ke sana, atau masalah-masalah lainnya. Apa artinya hal ini? Apakah itu berarti bahwa Tuhan menghalangi mereka untuk melaksanakan tugas ini? Apakah itu berarti bahwa melaksanakan tugas ini tidak sesuai dengan maksud-maksud Tuhan? Apakah itu berarti bahwa tugas ini tidak seharusnya dilaksanakan? Bolehkah itu dipahami dan dimengerti seperti ini? (Tidak boleh.) Jika ini adalah hal terpenting yang harus kaulakukan saat ini dalam pelaksanaan tugasmu, dan engkau melakukannya, maka sekalipun engkau menghadapi beberapa rintangan dan kesulitan di sepanjang jalan, atau bahkan terjadi hal-hal yang menurut orang tidak seharusnya terjadi, tidak dapat dikatakan bahwa tugas yang kaulaksanakan dan pekerjaan yang kaulakukan ini tidak diperkenan Tuhan, atau bahwa Tuhan menghalangimu agar tidak melakukan hal-hal ini—itu adalah gagasan dan imajinasi manusia. Jika Tuhan ingin menghalangimu, Dia tidak akan menggunakan metode-metode tersebut. Sebaliknya, Dia akan langsung mengatur suatu keadaan sehingga engkau secara alami tidak harus pergi dan melaksanakan tugas tersebut. Artinya, Tuhan akan membuatnya sangat jelas dalam pikiranmu bahwa ada sesuatu yang lebih penting yang harus kaulakukan hari ini, dan akibatnya tugas tersebut harus dipindahkan ke urutan kedua atau ketiga dalam daftarmu, dan akan dilaksanakan nanti. Seperti apa pun engkau memperhitungkannya, engkau akan mendapati bahwa tidak mungkin untuk menyelesaikan tugas tersebut hari ini berdasarkan situasi yang sebenarnya. Ini artinya Tuhan sedang menghalangimu. Namun, apa pun yang kaupikirkan, dan apa pun rintangan atau kesulitan yang timbul dalam proses pelaksanaan tugas itu, bagaimanapun juga, jika tugas itu harus dilaksanakan hari ini, engkau harus pergi dan melakukannya. Jika Tuhan menghalangimu, Dia akan menggunakan cara yang paling tepat dan sesuai untuk membuatmu dengan sendirinya melepaskan tugas itu—inilah cara Tuhan bekerja. Cara Tuhan bekerja adalah membiarkan orang melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan dalam lingkup naluri kemanusiaan. Di satu sisi, ini adalah sikap yang seharusnya orang miliki. Di sisi lain, ada juga faktor keadaan objektif—jika keadaan memungkinkan untuk tugas itu dilaksanakan, maka itu harus dilakukan; jika keadaan tidak memungkinkan, maka orang harus menunggu beberapa waktu untuk melaksanakannya. Apa tujuan menunggu? Tujuannya adalah menunggu waktu dan keadaan yang tepat yang Tuhan atur. Jika keadaan terus-menerus tidak sesuai dan segala sesuatunya terus bermasalah saat engkau berusaha melaksanakan tugas ini, itu berarti engkau tidak boleh melaksanakannya. Sudahkah engkau mengerti? (Ya.) Dalam kehidupan orang sehari-hari, tidak perlu bagi mereka untuk berusaha mengandalkan apa yang sedang mereka rasakan dalam roh mereka saat mereka melaksanakan tugas, apa pun jenis tugasnya, entah itu hal-hal besar atau kecil, atau entah itu urusan pribadi atau urusan gereja. Jika engkau merasa rohmu tertekan hari ini dan di dalam hatimu, engkau tidak ingin melaksanakan tugas, tanyakan kepada orang-orang lain yang akan melaksanakannya bersamamu apakah mereka merasa rohnya tertekan. Jika orang lain tidak merasa rohnya tertekan, dan di dalam hatinya, bersedia melaksanakan tugas tersebut, tetapi berdasarkan perasaanmu sendiri engkau menyimpulkan bahwa itu tidak seharusnya dilaksanakan, bukankah engkau sedang bersikap terlalu subjektif tentang hal itu? (Ya.) Oleh karena itu, setiap kali orang-orang melaksanakan tugas, mereka setidaknya harus memahami bahwa mereka tidak boleh berusaha mengandalkan perasaan mereka atau bertindak berdasarkan perasaan mereka. Contohnya, engkau harus melaksanakan suatu tugas, dan engkau merasa sedikit gugup, matamu terus berkedut, dan telingamu berdenging, dan engkau berkata, "Kelopak mata kananku berkedut, apakah itu pertanda buruk? Apakah aku harus melaksanakan tugas ini?" Seseorang kemudian berkata, "Kedutan di mata kiri menandakan keberuntungan sedangkan kedutan di mata kanan menandakan bencana," dan setelah mendengarnya, engkau tidak berani pergi dan melaksanakan tugas tersebut. Tidak peduli mata mana pun yang berkedut, jika ini adalah tugas yang sebelumnya telah disetujui, dan semua faktor yang diperlukan untuk melaksanakan tugas ini sudah ada, serta waktu dan tempatnya tepat, engkau harus pergi dan melaksanakannya. Jika engkau memutuskan untuk tidak pergi hanya karena satu orang berkata bahwa kedutan di mata kanan menandakan bencana, apakah keputusanmu itu tepat? (Tidak.) Mengapa tidak tepat? Jika itu adalah tanggung jawab dan tugasmu, dan saat ini keadaan objektif dan semua kondisi memungkinkan untuk tugas tersebut dilaksanakan, dan selain itu, tugas itu perlu dilaksanakan dengan segera, engkau harus pergi dan melakukannya. Memangnya kenapa jika kelopak mata kananmu berkedut? Mungkin saja beberapa masalah kecil muncul dan segala sesuatunya tidak berjalan dengan lancar, tetapi tugas itu tetap diselesaikan. Hanya jika Tuhan menghalanginya dan keadaannya tidak memungkinkan, barulah engkau boleh tidak pergi dan tidak melaksanakan tugas itu. Seseorang berkata, "Pasti ada sesuatu yang salah sehingga mata kananmu berkedut," tetapi orang lain berkata, "Ini adalah tugas yang telah disetujui sebelumnya, jadi kita harus pergi dan melaksanakannya." Pada akhirnya, engkau semua berangkat untuk melaksanakannya, tetapi mobilnya tiba-tiba mogok di tengah jalan. Katakan kepada-Ku, jika mata kanan seseorang berkedut saat kelompok itu berangkat, haruskah mereka pergi dalam kasus itu? Aku ingin melihat apakah engkau semua benar-benar memahami kebenaran atau tidak. Bagaimana menurutmu, apakah hal yang benar untuk pergi dan melaksanakan tugas ini? (Ya.) Itu sudah pasti. Engkau tidak boleh menilai apakah engkau harus pergi atau tidak berdasarkan apakah kelopak mata kanan atau kirimu berkedut. Pertama-tama, melaksanakan tugas ini adalah hal yang benar. Jadi, mengapa mobilnya mogok dalam perjalanan ke sana? Apakah itu diizinkan oleh Tuhan? Sulit untuk dijelaskan, bukan? (Mogoknya mobil dalam perjalanan ke sana mungkin disebabkan oleh kelalaian manusia, seperti jika mobil tersebut tidak diperiksa terlebih dahulu untuk melihat apakah ada masalah dengannya atau tidak.) Itu salah satu kemungkinan alasannya. Jika kita mengesampingkan alasan itu, apakah normal bagi sebuah mobil untuk mogok di tengah perjalanan? (Ya.) Jika engkau membeli mobil bekas buatan Tiongkok yang kualitasnya tidak terlalu bagus, dan engkau tidak merawatnya atau memperbaikinya dengan benar dan terus mengendarainya, mobil tersebut akan mogok di tengah perjalanan. Jika mobil itu mogok di tengah perjalanan, apakah itu berarti tugas tersebut pasti tidak dapat diselesaikan? (Belum tentu.) Mobil tersebut mogok dan membutuhkan waktu satu atau dua jam untuk memperbaikinya. Ketika engkau tiba di tempat tujuan, saudara-saudari di sana berkata, "Untunglah kalian baru datang pada saat ini. Para penguntit baru saja pergi. Seandainya kalian datang dua jam lebih awal, kalian pasti telah ditangkap oleh si naga merah yang sangat besar. Itu hampir saja terjadi!" Lihatlah, hal yang buruk ternyata menjadi hal yang baik. Apakah benar untuk pergi dan melaksanakan tugas itu? (Ya.) Apakah ada maksud baik Tuhan dalam kerusakan mobil itu? (Ya.) Jadi, apakah kelopak mata kananmu yang berkedut adalah tanda kemalangan atau keberuntungan? (Tidak kedua-duanya.) Tidak ada yang terjadi sebagai akibatnya. Jika kita memotong cerita itu pada saat mobil mogok, maka klaim bahwa "kedutan di mata kanan menandakan bencana" tampaknya cukup akurat. Mobil yang mogok adalah kemalangan, bukan? Namun, melihat hasil akhirnya, mobil yang mogok ternyata menjadi hal yang baik. Seandainya mobil itu tidak mogok, engkau semua pasti telah mendapat masalah begitu sampai di tempat tujuan—engkau bukan hanya akan gagal menyelesaikan tugas, melainkan engkau juga pasti telah ditangkap. Namun ternyata, mobil itu mogok di tengah jalan dan butuh waktu dua jam untuk memperbaikinya, jadi saat engkau sampai di sana, bahaya baru saja berlalu dan engkau aman. Ini artinya Tuhan sedang melindungimu! Renungkanlah, jika dipandang dari perspektif mobil yang mogok, tampaknya seolah-olah Tuhan sedang menghalangimu untuk pergi, tetapi sebenarnya engkau baru mengetahui apa yang telah terjadi setelah mobil diperbaiki dan engkau tiba tanpa insiden lebih lanjut. Bagaimana engkau semua memandang prinsip-prinsip dan metode tindakan Tuhan selama seluruh proses ini? Pemahaman seperti apa yang seharusnya orang miliki tentang pekerjaan Tuhan? Tinjau kembali hal-hal ini; ada kebenaran yang dapat dicari di sini, dan Aku akan melihat apakah engkau semua mampu mencarinya atau tidak. (Tuhan, pemahamanku adalah bahwa entah hal baik atau hal buruk menimpa orang-orang, ada maksud baik Tuhan dalam hal ini.) Ini adalah satu aspek. (Aspek lainnya, yaitu bahwa pekerjaan Tuhan bukanlah sesuatu yang supernatural atau khayalan, tetapi sangat nyata.) Ya, itu pemahaman yang bagus. Pekerjaan Tuhan itu nyata, dan itu bukan khayalan atau supernatural; siapa pun yang memiliki kemanusiaan yang normal dapat merasakannya dan mengetahuinya melalui pengalaman, dan itu juga sesuatu yang mampu orang pahami. Bukankah ini pemahaman yang seharusnya orang miliki tentang pekerjaan Tuhan? (Ya.) Selain pemahaman ini, apa lagi yang harus orang pahami? Mereka harus memahami bahwa Tuhan berdaulat atas segala sesuatu. Dalam pekerjaan Tuhan, setiap hal spesifik yang Dia lakukan memungkinkan orang untuk melihat bahwa tindakan-Nya sangat nyata. Pada awalnya, ketika kelompokmu berangkat, beberapa darimu mendiskusikan apakah akan pergi atau tidak. Tuhan tidak menghalangimu; Dia tidak membuatmu merasa mual, atau muntah, atau mengalami diare. Dia tidak menghalangimu, juga tidak mendesakmu untuk pergi. Bukankah ini sangat nyata? Dia mengizinkan kelompok itu untuk membicarakannya bersama-sama. Beberapa orang berkata bahwa kelopak mata kanan mereka berkedut, sementara yang lain berkata mereka merasa tidak nyaman di dalam hatinya, tetapi entah engkau mengandalkan perasaan dan suasana hatimu, atau mengandalkan imajinasi yang berkaitan dengan hal-hal supernatural, pada akhirnya engkau harus pergi ke tempat yang seharusnya kautuju, dan Tuhan tidak menghalangimu dalam keadaan apa pun. Bukankah sangat nyata bagi Tuhan untuk bekerja dengan cara seperti ini? (Ya.) Tindakan Tuhan tidak sedikit pun kosong; segala jenis perwujudan manusia diizinkan, dan ini bahkan termasuk kelopak mata beberapa orang yang berkedut. Katakan kepada-Ku, dapatkah Tuhan menghentikan atau mengendalikan berkedutnya kelopak mata orang-orang? Bukankah begitu mudah bagi Tuhan untuk mengendalikannya? Namun, apakah Dia melakukannya? (Tidak.) Tuhan tidak melakukannya. Dia tidak campur tangan, Dia memberimu kebebasan. Kelopak matamu berkedut seperti seharusnya, tetapi pada akhirnya, kelompok itu tetap berangkat—semua ini sangat nyata. Namun, ada masalah di tempat tujuan, dan Tuhan tidak menyingkirkan bahaya ini hanya karena engkau semua sedang menuju ke sana. Tuhan tidak melakukan hal itu, dan masalah tetap terjadi sebagaimana mestinya. Namun, Tuhan melakukan hal yang cerdas: Dia membuat mobilmu mogok di tengah jalan, sehingga pada saat mobil sudah diperbaiki dan engkau semua tiba di tempat tujuan, bahaya telah berlalu. Ini artinya Tuhan sedang melindungimu. Engkau dapat melihat bahwa karena jeda waktu ini, Dia dengan cerdik memungkinkanmu untuk menghindari bahaya. Segala sesuatu yang Tuhan lakukan sangat nyata, bukan? (Ya.) Jadi, ini menunjukkan kepadamu, dengan cara yang sangat nyata, bahwa apa yang Tuhan lakukan sama sekali tidak kosong atau supernatural, dan bahwa terjadinya setiap hal adalah alami dan tak terelakkan, tetapi di situlah letak kemahakuasaan Tuhan. Di sepanjang seluruh peristiwa, apa pun imajinasi orang-orang, apa pun kesulitan, kelemahan, dan masalah mereka, apakah sudut pandang yang mereka diskusikan bersama-sama itu benar atau salah, tak ada satu pun dari hal ini yang memengaruhi apa yang akhirnya terjadi, juga tidak memengaruhi hasil yang tak terelakkan dari peristiwa tersebut. Setiap hal yang seharusnya terjadi memang terjadi, masalah yang seharusnya terjadi memang terjadi, mobil yang seharusnya mogok memang mogok, dan sudut pandang orang-orang juga tersingkap, tetapi hasil akhir dari peristiwa itu tetap terjadi berdasarkan cara yang telah Tuhan tentukan, dan berdasarkan apa yang telah Tuhan tetapkan sebelumnya dan bagaimana Tuhan berdaulat atas peristiwa itu. Inilah kemahakuasaan Tuhan, bukan? (Ya.) Semua ini terjadi begitu nyata dan normal, sama seperti segala sesuatu yang terjadi pada orang-orang setiap hari dalam kehidupan mereka sehari-hari; itu terjadi secara alami dan itu tidak bersifat supernatural, khayalan, atau kosong. Oleh karena itu, dalam hal ini orang haruslah memahami bahwa pekerjaan Tuhan itu nyata dan bahwa Dia berdaulat atas segala sesuatu. Bagaimana seharusnya orang bertindak? Pertama-tama, mereka harus memahami prinsip-prinsip apa yang harus mereka patuhi apa pun yang menimpa mereka. Jika mereka hanya mengikuti perasaan manusia, itu tidak dapat diandalkan. Mereka seharusnya tidak mengikuti perasaan supernatural, atau menebak-nebak berdasarkan imajinasi yang kosong. Sebaliknya, mereka harus melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan berdasarkan keadaan yang sebenarnya dan tugas yang seharusnya mereka laksanakan. Selain itu, yang penting adalah mereka harus melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran. Bukankah ini jauh lebih mudah? (Ya.) Oleh karena itu, masalah apa pun yang kauhadapi, dan tahap apa pun yang telah dicapai oleh pekerjaan Tuhan, engkau tidak perlu mengikuti perasaanmu, engkau tidak perlu memeriksa apakah tanggal tertentu itu membawa keberuntungan atau tidak, dan tentu saja engkau terutama tidak perlu melihat fenomena astronomi atau mendengarkan ramalan apa pun—lakukan saja apa yang seharusnya kaulakukan. Ada orang-orang yang suka melihat fenomena astronomi atau memeriksa apakah tanggal tertentu membawa keberuntungan atau tidak, dengan berkata, "Besok bukanlah hari yang baik, apakah semuanya akan tidak mulus jika aku pergi keluar? Apakah si naga merah yang sangat besar akan melakukan penangkapan? Mengapa ada burung gagak yang berkoak di depan pintu ketika aku bangun pagi dan pergi keluar pagi ini? Aku mendengar bahwa beberapa orang melihat kucing hitam ketika mereka keluar tadi malam. Semua ini adalah pertanda buruk! Apa yang harus kulakukan? Apakah akan terjadi bahaya?" Jika engkau memiliki kemanusiaan yang normal dan pemikiran manusia normal, engkau seharusnya mampu menilai keadaan seperti apa yang berbahaya dan keadaan seperti apa yang relatif aman, serta tahu bagaimana cara menghadapinya dan menanganinya berdasarkan situasi yang sebenarnya—engkau tidak perlu melihat hal-hal lainnya tersebut. Mengenai apa yang boleh kaulakukan dan tidak boleh kaulakukan setiap hari, di satu sisi, ada firman Tuhan yang jelas sebagai prinsip-prinsip kebenaran, dan di sisi lain, engkau memiliki kemanusiaan yang normal, hati nurani, dan nalar. Asalkan engkau melakukan apa yang seharusnya kaulakukan setiap hari berdasarkan pengaturan keadaan yang sebenarnya dan arahan yang keadaan itu berikan, serta berdasarkan kebutuhan yang sebenarnya dari kemanusiaan yang normal dan tanggung jawab serta kewajibanmu sendiri, itu tidak menjadi masalah. Jika orang-orang memperlakukan kehidupan sehari-hari mereka seperti ini, bukankah segalanya akan jauh lebih sederhana? (Ya.)
Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.
Beberapa materi dalam video ini berasal dari: 【All Bible quotations in this video are translated freely from English Bible.】...