90. Setelah Hancurnya Keinginanku untuk Mendapat Berkat
Pada tahun 2009, seorang kerabatku memberitakan Injil kerajaan Tuhan kepadaku. Dia memberitahuku bahwa pada akhir zaman, Tuhan mengungkapkan kebenaran untuk menyucikan kerusakan kita, menyelamatkan umat manusia dari dosa, dan membebaskan kita dari kehidupan yang penuh penderitaan ini, yang pada akhirnya membawa kita ke tempat tujuan yang indah di mana tidak akan ada lagi rasa sakit atau kesedihan. Begitu mendengar ini, aku berpikir, "Bukankah ini tepatnya kehidupan yang selalu kudambakan?" Kemudian aku dengan senang hati menerima pekerjaan Tuhan pada akhir zaman dan segera mulai melaksanakan tugasku di gereja. Selama beberapa tahun berikutnya, keluarga kami semuanya baik-baik saja dan hidup kami berjalan lancar. Aku sering bersyukur kepada Tuhan, dan aku bahkan lebih termotivasi untuk meninggalkan segala sesuatu serta mengorbankan diri.
Kemudian, suatu sore di musim gugur tahun 2019, putri sulungku mendapat telepon dari kantor polisi. Telah terjadi kecelakaan di lokasi konstruksi tempat suamiku menjadi kontraktornya. Seorang pekerja migran meninggal karena kecelakaan kerja, dan suamiku telah dibawa ke pusat penahanan untuk menunggu diproses. Ketika mendengar berita itu, pikiranku menjadi kosong. Aku berpikir dalam hati, "Bagaimana ini bisa terjadi? Berapa banyak ganti rugi yang harus kami bayar? Kami sama sekali tidak punya uang; kami tidak mampu membayar ini. Dengan suamiku ditahan, bukankah keluarga kami akan hancur?" Aku bahkan tidak bisa menggambarkan apa yang kurasakan dalam batinku. Putriku mengeluh, "Bukankah Ibu percaya kepada Tuhan? Bagaimana hal seperti ini masih bisa terjadi pada keluarga kita?" Ketika kerabat kami di kampung halaman mendengar tentang hal itu, beberapa mengeluh, "Betapa malangnya mereka sampai mengalami semua ini! Semua uang yang mereka peroleh selama bertahun-tahun menjadi sia-sia!" Yang lain berkata, "Siapa yang tahu berapa banyak yang harus mereka bayar!" Mendengar mereka semua berbicara pada saat yang sama, tanpa ada yang menawarkan untuk membantuku mengumpulkan uang dan malah hanya melontarkan kata-kata yang tidak berperasaan, aku merasa sangat berkecil hati. Selain itu, aku khawatir keluarga pekerja yang meninggal itu akan datang dan membuat masalah. Selama beberapa hari itu, aku ketakutan dan cemas. Aku tidak bisa makan atau tidur dengan nyenyak. Setiap kali aku memikirkan tentang ganti rugi itu, aku diliputi kekhawatiran, "Semua uang yang diperoleh suamiku dengan bekerja keras dari pagi hingga malam selama beberapa tahun terakhir ini habis untuk melunasi utang dan membeli mesin serta peralatan. Tidak ada uang kami yang tersisa. Jika kami harus membayar ganti rugi ratusan ribu yuan, dari mana aku akan mendapatkan uang sebanyak itu?" Yang bisa kulakukan hanyalah memercayakan kesulitan-kesulitan ini kepada Tuhan dan berdoa, "Tuhan, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan mengenai pembayaran ganti rugi yang sangat besar ini. Aku tidak bisa mengandalkan kerabat atau teman-temanku. Aku menyerahkan semua ini ke dalam tangan-Mu. Tolong bantu aku melewati masa sulit ini." Beberapa bulan kemudian, setelah mediasi oleh pengadilan, pihak lawan menuntut ganti rugi sebesar 280.000 yuan. Pengacara berkata bahwa jika kami bisa membayar uang itu dan pihak lawan menandatangani surat pengampunan, suamiku tidak perlu masuk penjara. Jika kami tidak bisa membayar, dia akan dijatuhi hukuman. Angka 280.000 yuan itu selangit bagiku! Bagaimana mungkin seorang wanita sepertiku mendapatkan uang sebanyak itu? Namun, jika aku tidak bisa membayar, suamiku akan dijatuhi hukuman penjara. Mau tidak mau, aku harus pergi meminjam uang dari semua kerabat kami, tetapi yang mengejutkanku, ketika aku berkeliling meminta bantuan, mereka semua menolakku dengan berbagai alasan. Menghadapi ketidakpedulian mereka, aku merasa sangat kesepian dan tidak berdaya, aku pun sangat khawatir hingga tidak bisa berhenti menangis. Aku berulang kali berseru kepada Tuhan, berharap Dia akan membantuku melewati masa sulit ini. Namun, saat batas waktu pembayaran makin dekat, aku masih belum bisa mengumpulkan jumlah yang mendekati angka itu. Aku tidak bisa menahan diri untuk mulai mengeluh di dalam hati, "Orang-orang tidak percaya hidupnya baik-baik saja. Aku percaya kepada Tuhan, aku telah meninggalkan segalanya demi imanku, dan bahkan ketika suami dan adikku mencoba menghentikanku, aku tetap bersikeras melaksanakan tugasku. Aku orang percaya sejati, jadi mengapa Tuhan tidak melindungiku? Mengapa Dia membiarkan bencana seperti itu terjadi padaku?" Makin kupikirkan, makin pedih perasaanku, dan aku berseru kepada Tuhan, "Tuhan, aku telah melaksanakan tugasku selama bertahun-tahun ini. Mengapa Engkau tidak melindungiku? Bencana ini terasa seperti gunung besar yang menindihku, dan aku hampir tidak bisa bernapas. Aku tidak tahan lagi. Apa yang harus kulakukan?" Kusadari bahwa aku salah karena mengeluh, tetapi aku benar-benar tidak punya tempat untuk berpaling, dan aku tidak bisa tunduk di dalam hatiku. Pada hari-hari itu, aku tidak bisa makan atau tidur, aku tidak punya tenaga sama sekali, aku juga tidak bersemangat membaca firman Tuhan. Aku merasa begitu jauh dari Tuhan. Kemudian, karena keluargaku sama sekali tidak bisa mengumpulkan uang ganti rugi itu, suamiku dijatuhi hukuman satu setengah tahun penjara. Aku merasa sangat tertekan menghadapi hasil ini. Dengan suamiku di penjara, tidak ada yang mencari nafkah untuk keluarga. Apa yang harus kami lakukan untuk menyambung hidup di masa depan? Saat menghadapi kesulitan-kesulitan ini, aku merasa tidak bisa mengandalkan siapa pun selain diriku sendiri. Aku mulai berpikir tidak akan bisa lagi melaksanakan tugasku secara penuh waktu, dan harus menghabiskan setengah hari untuk bekerja paruh waktu.
Setelah pengawas gereja mengetahui situasiku, dia memberikan persekutuan untuk membantuku dan berkata bahwa aku harus mencari maksud Tuhan atas yang terjadi pada keluargaku serta memetik pelajaran dari sana. Jadi, aku mulai berdoa dan mencari kepada Tuhan. Selama saat teduhku, aku membaca beberapa firman Tuhan: "Pernyataan Ayub, 'Apakah kita mau menerima yang baik dari tangan Tuhan dan tidak mau menerima kesukaran?' sudah menjelaskan mengapa Ayub mampu tunduk kepada Tuhan, dan ada kebenaran yang harus dicari dalam hal ini. Apakah Ayub mengungkapkan keluhan atau ketidakpuasan apa pun saat mengatakannya? (Tidak.) Apakah ada ambiguitas atau implikasi negatifnya? (Tidak.) Jelas tidak ada. Dengan menjalani ujian ini, Ayub akhirnya memahami bahwa bagaimana Sang Pencipta memperlakukan manusia bukanlah sesuatu yang bisa diputuskan oleh manusia. Ini mungkin terdengar agak tidak nyaman untuk didengar, tetapi inilah faktanya. Tuhan telah mengatur nasib seumur hidup setiap orang; apakah engkau menerimanya atau tidak, ini adalah fakta. Engkau tidak dapat mengubah nasibmu. Tuhan adalah Sang Pencipta, dan engkau harus tunduk pada pengaturan dan penataan-Nya. Apa pun yang Tuhan lakukan adalah benar karena Dia adalah kebenaran dan Dia adalah yang Berdaulat atas segala sesuatu—manusia harus tunduk kepada-Nya. 'Segala sesuatu' ini termasuk dirimu, dan itu termasuk semua makhluk ciptaan lainnya. Kalau begitu, salah siapakah jika engkau selalu ingin bersikap menentang? (Itu salah kami sendiri.) Inilah masalah dengan manusia. Engkau selalu ingin mencari-cari alasan dan mencari kesalahan—apakah ini benar? Engkau selalu ingin menerima berkat dan keuntungan dari Tuhan—apakah ini benar? Tidak ada satu pun dari hal ini yang benar. Pandangan-pandangan ini adalah pengetahuan dan pemahaman yang keliru tentang Tuhan. Justru karena pandangan yang mendorong kepercayaanmu kepada Tuhan itu tidak benar, engkau pasti akan menentang, berbantah dengan, dan melawan Tuhan setiap kali sesuatu terjadi padamu, selalu berpikir, 'Salah jika Tuhan melakukan ini; aku tidak bisa memahaminya. Cara Dia melakukannya tidak sesuai dengan gagasan manusia. Bukanlah sifat Tuhan untuk melakukannya dengan cara itu!' Tidak masalah apakah apa yang Tuhan lakukan sesuai dengan gagasan dan imajinasimu atau tidak—apa pun yang Tuhan lakukan, Dia tetaplah Tuhan. Jika engkau tidak memiliki nalar ini dan pemahaman ini, selalu meneliti dan menduga-duga tentang hal-hal yang terjadi padamu setiap hari, satu-satunya hasil dari hal ini adalah engkau akan melawan dan menentang Tuhan di setiap kesempatan. Engkau tidak akan mampu membebaskan diri dari keadaan ini. Namun, jika engkau memiliki pemahaman ini dan engkau bisa menempati posisimu yang benar sebagai makhluk ciptaan, dan ketika engkau menghadapi berbagai hal engkau membandingkannya dengan aspek kebenaran ini, serta menerapkan dan masuk ke dalamnya, engkau akan menjadi makin takut akan Tuhan di dalam hatimu. Tanpa menyadarinya, engkau akan mulai merasa: 'Ternyata apa yang Tuhan lakukan tidak salah; apa yang Tuhan lakukan semuanya baik. Manusia tidak perlu meneliti dan menganalisisnya. Aku hanya akan menyerahkan diriku sepenuhnya tunduk pada pengaturan Tuhan!' Ketika engkau mendapati dirimu tidak mampu tunduk kepada Tuhan atau menerima penataan-Nya, hatimu akan merasa ditegur: 'Aku belum menjadi makhluk ciptaan yang baik. Mengapa aku tidak dapat tunduk saja? Bukankah aku sedang membuat Sang Pencipta sedih?' Makin engkau ingin menjadi makhluk ciptaan yang baik, makin jelas dan gamblang aspek kebenaran ini bagimu" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Sikap yang Seharusnya Dimiliki Manusia terhadap Tuhan"). Sebelumnya, aku sering membaca kisah Ayub, tetapi hanya menganggapnya sebagai sebuah cerita. Saat aku merenungkannya lagi hari itu, melihat bagaimana Ayub tidak berdosa dengan bibirnya bahkan ketika menghadapi ujian yang begitu besar, aku sangat kagum atas ketundukannya kepada Tuhan. Ayub kehilangan semua domba dan lembunya yang memenuhi bukit, kekayaannya yang melimpah, dan semua anak-anaknya; dia juga dipenuhi bisul busuk, tetapi dia tidak mengeluh tentang Tuhan. Dia tahu bahwa Tuhan adalah Sang Pencipta, dan apa pun yang Tuhan lakukan, manusia harus tunduk. Dia tahu bahwa ini adalah nalar yang harus dimiliki makhluk ciptaan, dan orang tidak boleh bahagia ketika Tuhan memberkati tetapi mengeluh saat Tuhan mengambilnya; itu berarti mengambil posisi yang salah. Itulah sebabnya Ayub mampu berkata, "Apakah kita mau menerima yang baik dari tangan Tuhan dan tidak mau menerima kesukaran?" (Ayub 2:10). Ayub percaya bahwa apa pun yang Tuhan lakukan itu baik, dan meskipun dia tidak mengerti, dia tetap bisa tunduk. Dibandingkan dengan ujian yang dihadapi Ayub, apalah artinya hal-hal yang kualami? Meskipun demikian, aku tidak menunjukkan ketundukan sedikit pun. Aku menghabiskan hari-hariku dengan menyatakan, "Tuhan berdaulat atas segala sesuatu dan memerintah segala sesuatu; kita harus tunduk pada kedaulatan dan penataan-Nya," tetapi ketika suamiku mendapat masalah, aku tidak bisa tunduk sama sekali. Aku berulang kali menuntut Tuhan agar membantuku menyelesaikan kesulitan-kesulitan yang ada di hadapanku. Ketika Tuhan tidak memuaskan tuntutanku, aku bahkan mempertanyakan Dia, bertanya mengapa Dia membiarkan hal seperti itu terjadi padaku. Aku merasa seolah-olah Tuhan mempersulitku, bahwa apa yang Dia lakukan tidak masuk akal. Aku bahkan berpikir untuk melepaskan tugasku demi mencari jalan keluarku sendiri. Aku melihat bahwa aku sama sekali tidak memiliki pemahaman tentang kedaulatan Tuhan, dan tidak memiliki sedikit pun hati yang takut akan Tuhan. Ketika kuingat-ingat—sebelum aku percaya kepada Tuhan, keluargaku mengalami masa-masa indah dan masa-masa sulit. Orang-orang tidak percaya juga terkadang mengalami masa-masa yang mudah, sementara di lain waktu mereka menghadapi bencana alam atau bencana buatan manusia. Kenyataannya, nasib seseorang dalam hidup, termasuk berapa banyak kesulitan dan kemunduran yang akan mereka hadapi, sudah ditakdirkan Tuhan sejak lama. Namun, aku percaya bahwa mereka yang percaya kepada Tuhan seharusnya memiliki kehidupan yang lebih baik daripada orang-orang tidak percaya dan tidak seharusnya menghadapi bencana. Bukankah ini pemahaman yang menyimpang, dan kurangnya pengetahuan tentang kedaulatan Tuhan? Tuhan adalah Sang Pencipta. Dia paling tahu kebutuhan kita, dan Dia mengatur lingkungan yang sesuai untuk kita alami. Selalu ada kedaulatan serta penataan Tuhan di balik apa yang terjadi pada setiap orang dan di setiap waktu. Sekalipun segala sesuatu itu di luarnya tidak sejalan dengan gagasan kita, hal-hal itu pasti bermanfaat bagi hidup kita: Aku harus tunduk dan mencari maksud Tuhan. Namun, meskipun aku telah menikmati begitu banyak kasih karunia dan berkat Tuhan, serta penyiraman dan pembekalan firman-Nya, aku tidak menunjukkan rasa syukur sedikit pun. Begitu terjadi sesuatu yang tidak sesuai keinginanku, aku mengeluh dengan penuh kepahitan kepada Tuhan. Kusadari betapa aku tidak memiliki kemanusiaan! Aku dipenuhi penyesalan dan berdoa kepada Tuhan dalam pertobatan, bersedia tunduk pada kedaulatan serta penataan-Nya.
Setelah itu, aku merenungkan diriku sendiri: Mengapa aku mengeluh tentang Tuhan setiap kali terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan? Kemudian aku membaca beberapa firman Tuhan: "Engkau berharap imanmu kepada Tuhan tidak akan mendatangkan kesulitan atau kesengsaraan apa pun, atau penderitaan sedikit pun. Engkau selalu mengejar hal-hal yang tidak berharga, dan tidak menghargai hidup, melainkan menempatkan pikiranmu sendiri yang terlalu berlebihan di atas kebenaran. Engkau sungguh tidak berharga! Engkau hidup seperti babi—apa bedanya antara engkau, babi, dan anjing? Bukankah mereka yang tidak mengejar kebenaran, melainkan mengasihi daging, adalah binatang buas? Bukankah mereka yang mati, tanpa roh, adalah mayat berjalan? Berapa banyak firman yang telah disampaikan di antara engkau sekalian? Apakah hanya sedikit pekerjaan yang dilakukan di antaramu? Berapa banyak yang telah Kuberikan di antaramu? Lalu mengapa engkau tidak mendapatkannya? Apa yang bisa kaukeluhkan? Bukankah engkau tidak mendapatkan apa-apa karena engkau terlalu mencintai daging? Dan bukankah ini karena pikiranmu yang terlalu muluk-muluk? Bukankah karena engkau terlalu bodoh? Jika engkau gagal memperoleh berkat-berkat ini, dapatkah engkau menyalahkan Tuhan karena tidak menyelamatkanmu? Hal yang kaukejar hanyalah agar dapat memperoleh kedamaian setelah percaya kepada Tuhan—agar anak-anakmu bebas dari penyakit, suamimu memiliki pekerjaan yang baik, putramu menemukan istri yang baik, putrimu mendapatkan suami yang baik, lembu dan kudamu dapat membajak tanah dengan baik, cuaca bagus selama satu tahun untuk hasil panenmu. Inilah yang kaukejar. Pengejaranmu hanyalah untuk hidup dalam kenyamanan—agar tidak ada kecelakaan menimpa keluargamu, angin berlalu darimu, wajahmu tak tersentuh oleh debu pasir, hasil panen keluargamu tidak dilanda banjir—agar terhindar dari bencana apa pun, hidup dalam 'dekapan Tuhan', hidup di sarang yang nyaman. Seorang pengecut sepertimu, yang selalu mengejar daging—apa engkau punya hati, apa engkau punya roh? Bukankah engkau adalah binatang? Aku menganugerahkan jalan yang benar kepadamu tanpa meminta imbalan apa pun, tetapi engkau tidak mengejarnya. Apakah engkau masih salah satu dari mereka yang percaya kepada Tuhan? Aku menganugerahkan kehidupan manusia sejati kepadamu, tetapi engkau tidak mengejarnya. Bukankah engkau adalah sejenis babi dan anjing? Babi tidak mengejar kehidupan manusia, mereka tidak berupaya supaya dibersihkan, dan mereka tidak mengerti makna hidup. Setiap hari, setelah makan sampai kenyang, mereka hanya tidur. Aku telah menganugerahkan jalan yang benar kepadamu, tetapi engkau tidak mendapatkannya, engkau tetap bertangan kosong. Apakah engkau bersedia melanjutkan kehidupan ini, kehidupan seekor babi? Apa makna kehidupan orang-orang semacam itu? Hidupmu hina dan tercela, engkau hidup di tengah kecemaran dan kecabulan, dan engkau tidak mengejar tujuan apa pun, jadi, bukankah hidupmu adalah yang paling tercela? Apakah engkau masih berani menghadap Tuhan? Jika engkau terus mengalami dengan cara demikian, bukankah engkau tidak akan memperoleh apa-apa? Jalan yang benar telah dianugerahkan kepadamu, tetapi apakah pada akhirnya engkau dapat memperolehnya atau tidak, itu tergantung pada pengejaranmu sendiri" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Pengalaman Petrus: Pengetahuannya tentang Hajaran dan Penghakiman"). Saat kurenungkan, firman Tuhan itu menusuk hatiku. Bukankah aku persis seperti jenis orang yang Tuhan singkapkan, seseorang yang selalu mencari kenyamanan daging, dan tidak punya hati dan roh? Alasanku saat pertama kali percaya kepada Tuhan adalah karena keluargaku selalu menghadapi masalah, dan aku hanya ingin mencari sandaran. Ketika aku mendengar bahwa Tuhan dapat menyelamatkan manusia dan menganugerahkan kedamaian dan berkat, aku memperlakukan Tuhan sebagai penyelamatku yang agung. Kukira selama aku percaya kepada Tuhan dengan benar dan melaksanakan tugasku, Dia akan memberkati keluargaku dengan kedamaian dan menjauhkan kami dari bencana atau malapetaka. Ketika suamiku mendapatkan kontrak proyek konstruksi, kondisi kehidupan keluarga kami pun membaik, aku sangat berterima kasih kepada Tuhan dan menjadi lebih proaktif dalam tugasku. Namun, ketika terjadi kecelakaan di lokasi proyeknya, kami tidak mampu membayar ganti rugi, dan dia dijatuhi hukuman penjara, aku mengeluh bahwa Tuhan tidak melindungiku dan tidak ingin makan dan minum firman Tuhan maupun berdoa. Aku bahkan merasa Tuhan tidak dapat menjadi sandaran dan berpikir untuk mencari jalan keluar sendiri dengan mendapatkan pekerjaan paruh waktu untuk mencari uang. Coba pikirkan, Tuhan menjadi daging pada akhir zaman dan datang ke bumi untuk menganugerahkan kebenaran yang berlimpah kepada manusia, memungkinkan orang untuk mengalami pekerjaan-Nya, mengejar kebenaran, dan mencapai perubahan watak, sehingga mereka pada akhirnya dapat diselamatkan dan masuk ke dalam kerajaan-Nya. Ini adalah kasih dan keselamatan Tuhan yang besar bagi umat manusia. Namun, dalam kepercayaanku kepada Tuhan, tujuan pengejaranku salah; aku hanya ingin menikmati kenyamanan daging, dan bahkan memiliki angan-angan bahwa jika satu orang percaya kepada Tuhan, seluruh keluarganya akan diberkati. Bukankah ini pandangan iman yang sama yang dimiliki orang-orang beragama? Pada akhir zaman, Tuhan melakukan pekerjaan penghakiman dan hajaran, mengungkapkan kebenaran untuk menyucikan watak rusak manusia. Tuhan berharap agar setiap orang dapat mengejar dan mendapatkan kebenaran serta menjalani hidup yang bermakna. Namun, aku hanya terus mengejar kasih karunia dan berkat, mencari kenyamanan daging seperti binatang. Ini adalah jenis kehidupan yang paling menyedihkan dan tidak berharga. Jika aku terus mengejar jalan ini, aku akan gagal mendapatkan kebenaran dan tidak mencapai perubahan apa pun dalam watakku. Bukankah aku akan berakhir dengan tangan kosong, tanpa memperoleh apa pun? Pada akhirnya, aku akan tetap disingkirkan oleh Tuhan. Aku melihat betapa bodoh dan bebalnya aku!
Kemudian, aku membaca bagian lain dari firman Tuhan, dan mendapatkan pemahaman tentang naturku sendiri. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Salah satu niat dan sikap utama antikristus terhadap tugas mereka adalah menggunakannya sebagai kesempatan untuk bertransaksi dengan Tuhan dan memperoleh keuntungan yang mereka inginkan. Mereka juga percaya, 'Ketika orang meninggalkan keluarga mereka dan melepaskan prospek duniawi mereka untuk melaksanakan tugas mereka di rumah tuhan, sudah seharusnya mereka mendapatkan sesuatu, memperoleh sesuatu sebagai imbalannya, hanya inilah yang adil dan bernalar. Jika kita melaksanakan tugas kita dan tidak menerima apa pun, sekalipun kita menerima beberapa kebenaran, itu tidak sepadan. Perubahan watak juga bukan manfaat yang nyata—sekalipun kita telah menerima keselamatan, tak seorang pun akan dapat melihatnya!' Para pengikut yang bukan orang percaya ini berpura-pura tidak melihat tuntutan apa pun yang Tuhan ajukan terhadap umat manusia. Mereka tidak mengakui ataupun memercayainya, dan mereka memiliki sikap yang menyangkal terhadapnya. Dilihat dari sikap dan niat antikristus dalam memperlakukan tugas mereka, jelaslah bahwa mereka bukanlah orang-orang yang mengejar kebenaran, melainkan pengikut yang bukan orang percaya dan para oportunis; mereka berasal dari Iblis. Pernahkah engkau semua mendengar bahwa Iblis dapat melaksanakan tugas dengan setia? (Tidak.) Jika Iblis dapat melaksanakan 'tugas'-nya di hadapan Tuhan, maka tugas ini harus diberi tanda kutip karena Iblis melakukannya secara pasif dan di bawah paksaan, Iblis sedang diarahkan oleh Tuhan, dan Tuhan sedang memanfaatkan dirinya. Jadi, karena esensi antikristus mereka, dan karena mereka tidak mencintai kebenaran, muak akan kebenaran, dan terlebih dari itu, karena natur mereka yang jahat, antikristus tidak mampu melaksanakan tugas mereka sebagai makhluk ciptaan dengan tanpa syarat atau dengan tanpa imbalan, mereka juga tidak mampu mengejar kebenaran atau memperoleh kebenaran saat melaksanakan tugas mereka atau tidak mampu melaksanakannya berdasarkan tuntutan firman Tuhan" (Firman, Jilid 4, Menyingkapkan Antikristus, Bab Sembilan (Bagian Tujuh)). Tuhan menyingkapkan bahwa antikristus memiliki natur yang egois dan tercela serta muak akan kebenaran. Dalam melaksanakan tugas, mereka hanya berusaha tawar-menawar dengan Tuhan. Mereka percaya bahwa karena mereka telah membayar harga dengan meninggalkan segala sesuatu dan mengorbankan diri dalam tugas mereka, Tuhan harus menganugerahkan mereka kasih karunia dan berkat sesuai dengan yang mereka minta, dan bahwa ini adalah satu-satunya cara yang adil dan masuk akal; jika tidak, Tuhan tidak adil. Esensi naturku sama buruk dan jahatnya dengan esensi natur antikristus. Selama bertahun-tahun itu, aku mampu bertahan dalam tugasku meskipun suamiku menghalangiku dan kerabatku mencemoohku, sepenuhnya demi menerima berkat yang lebih besar dari Tuhan. Aku selalu percaya bahwa jika aku mengorbankan diri untuk Tuhan dan melaksanakan tugasku, Dia akan memberkati dan melindungiku, memberiku kehidupan yang bebas dari kekhawatiran, kehidupan yang damai di mana segala sesuatunya berjalan lancar. Aku tidak pernah membayangkan bahwa kecelakaan akan terjadi di lokasi konstruksi suamiku, dan bahwa dia akan dijatuhi hukuman penjara karena kami tidak mampu membayar ganti rugi. Aku merasa tak mampu menanggung ini, jadi kugunakan tindakanku yang telah meninggalkan dan mengorbankan diri sebagai alat untuk berdebat dengan Tuhan, mempertanyakan mengapa Dia tidak melindungiku, dan mengapa Dia membiarkan bencana sebesar itu terjadi padaku. Aku hidup berdasarkan aturan bertahan hidup Iblis seperti, "Jangan pernah bangun pagi kecuali ada untungnya," "Bertempur untuk setiap bagian sekecil apa pun," dan "Jika orang tidak memikirkan dirinya sendiri, langit dan bumi akan menghukumnya." Dalam berinteraksi dengan siapa pun, jika ada harga yang kubayar, aku mengharapkan imbalan. Setelah aku mulai percaya kepada Tuhan, secara alami aku mencoba untuk tawar-menawar dengan-Nya juga. Aku percaya bahwa selama aku menderita dan mengorbankan diri untuk Tuhan, Dia harus memberkatiku; jika tidak, Dia tidak adil. Orang percaya sejati melaksanakan tugasnya tanpa melakukan tawar-menawar atau tuntutan. Persis seperti Nuh, yang memberikan segalanya untuk membangun bahtera, bertahan selama seratus dua puluh tahun, hari demi hari. Dia menderita dan membayar harga semata-mata untuk menyelesaikan amanat Tuhan, tidak pernah mempertimbangkan keuntungan atau kerugian pribadinya. Namun, dari awal hingga akhir, kepercayaanku kepada Tuhan hanyalah tentang memanfaatkan Dia untuk mencapai tujuanku sendiri, yaitu diberkati. Aku sama sekali bukan orang percaya sejati; aku mencoba menipu dan memanfaatkan Tuhan. Naturku sama jahat dan liciknya dengan natur antikristus. Aku persis seperti jenis pengikut yang bukan orang percaya dan oportunis yang Tuhan singkapkan. Menyadari tindakanku yang begitu memberontak dan telah sangat menyakiti hati Tuhan, aku sangat merasakan penyesalan dan mencela diri sendiri. Kemudian aku berdoa lagi kepada Tuhan, "Tuhan, aku sangat tidak memiliki kemanusiaan dan nalar. Kepercayaanku kepada-Mu dan pelaksanaan tugasku semuanya merupakan upaya untuk tawar-menawar dengan-Mu dan menipu-Mu. Aku telah sangat mengecewakan-Mu! Aku bersedia bertobat. Aku akan tunduk pada situasi yang Engkau atur dan tidak lagi memberontak atau menyakiti hati-Mu."
Kemudian, aku membaca beberapa firman Tuhan, dan menemukan jalan penerapan di dalamnya. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Dia menganggap memperoleh berkat sebagai tujuan yang dapat dibenarkan untuk dikejar. Mengapa ini salah? Ini sepenuhnya bertentangan dengan kebenaran, dan tidak sesuai dengan maksud Tuhan untuk menyelamatkan manusia. Karena memperoleh berkat bukanlah tujuan yang dapat dibenarkan untuk dikejar orang, lalu apa seharusnya tujuan yang dapat dibenarkan itu? Mengejar kebenaran dan perubahan watak agar mampu tunduk pada semua pengaturan dan penataan Tuhan—inilah tujuan yang seharusnya orang kejar. ... Ketika engkau melepaskan keinginan untuk memperoleh berkat dan engkau menempuh jalan mengejar kebenaran, beban akan terangkat dari pundakmu. Apakah engkau masih akan merasa negatif saat itu? Meskipun masih akan ada kalanya ketika engkau merasa negatif, engkau tidak akan dikekang oleh hal ini. Di dalam hatimu, engkau akan terus berdoa dan berjuang, mengubah tujuan pengejaranmu dari pengejaran untuk memperoleh berkat dan memiliki tempat tujuan tertentu, menjadi mengejar kebenaran. Engkau akan berpikir dalam hati, 'Mengejar kebenaran adalah tugas makhluk ciptaan. Aku telah memahami beberapa kebenaran, dan itu adalah tuaian terbesar, berkat terbesar dari semuanya. Sekalipun Tuhan tidak menginginkanku, aku tidak mendapatkan tempat tujuan yang baik, dan harapanku untuk memperoleh berkat hancur, aku akan tetap melaksanakan tugasku dengan baik. Ini adalah tanggung jawab yang tidak boleh kuhindari. Apa pun alasannya, aku sama sekali tidak boleh membiarkannya memengaruhi pelaksanaan tugasku, dan aku tidak boleh membiarkannya memengaruhiku dalam menyelesaikan amanat Tuhan. Inilah prinsip yang kugunakan dalam caraku berperilaku.' Bukankah ini melampaui kekangan daging?" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Menerapkan Kebenaran adalah Satu-satunya Cara untuk Memperoleh Jalan Masuk Kehidupan"). Setelah membaca firman Tuhan, aku mengerti bahwa untuk percaya kepada Tuhan, orang harus mengejar kebenaran dan perubahan watak, serta mencari kebenaran dan tunduk pada pengaturan dan penataan Tuhan dalam lingkungan yang Dia atur. Entahkah kita menerima berkat atau menghadapi kesukaran, kita harus melaksanakan tugas kita. Inilah jalan yang benar untuk ditempuh orang percaya. Dahulu, hatiku dipenuhi dengan keinginan untuk mendapat berkat. Ketika bencana melanda, aku selalu ingin melarikan diri darinya. Aku hidup dalam keadaan memberontak terhadap Tuhan, yang terlalu menyiksa dan menyakitkan. Hari ini, aku telah memahami kebenaran. Terlepas dari apakah aku menerima berkat di masa depan atau tidak, aku hanya ingin berpegang teguh pada tugasku dan mengejar kebenaran serta perubahan watakku dengan benar. Setelah itu, keadaanku menjadi normal, dan aku bisa melaksanakan tugasku dengan hati yang damai. Meskipun kesulitan keluargaku masih ada, aku bersedia mengandalkan Tuhan untuk mengalaminya. Aku tidak lagi mengajukan tuntutan yang tidak masuk akal kepada Tuhan, juga tidak lagi berpikir untuk berusaha keluar dari kesulitan dengan kemampuanku sendiri. Tanpa sadar, aku mulai melihat bimbingan Tuhan. Selama kurang lebih satu tahun suamiku di penjara, putri sulungku mengurus kebutuhan sehari-hari dan sekolah adiknya, jadi aku tidak perlu khawatir. Mengenai ganti rugi, keluarga korban melihat bahwa kami benar-benar tidak mampu membayar dan tidak lagi menuntut ganti rugi. Aku benar-benar merasa bahwa Tuhan diam-diam membantuku selama ini, menuntunku melewati masa paling sulit dalam hidupku.
Meskipun aku mengalami kepedihan dan siksaan selama setahun lebih saat itu, aku akhirnya mengenal naturku yang egois dan tercela serta jalan yang salah yang telah kutempuh dalam imanku. Aku juga mendapatkan pemahaman yang tepat tentang watak Tuhan yang benar. Aku melihat bahwa segala sesuatu yang Tuhan atur dan tata itu baik dan bermanfaat bagi hidupku. Aku akhirnya benar-benar mengerti bahwa menghadapi kesukaran bukanlah hal yang buruk. Apa pun penderitaan yang kaualami, jika engkau bisa memahami kebenaran dan hidupmu bisa bertumbuh, itu berarti menerima berkat Tuhan. Syukur kepada Tuhan!