17. Penyesalan Setelah Kehilangan Tugasku
Aku telah melaksanakan tugasku sebagai aktor selama bertahun-tahun. Pada bulan Mei 2022, para pemimpin memintaku untuk berlatih sebagai sutradara, dan bekerja mengecek video secara paruh waktu. Saat itu, meskipun berada di bawah tekanan, aku bersedia untuk berjuang dan berusaha sebaik mungkin agar dapat mengerjakannya dengan baik. Aku sibuk setiap hari, dan semuanya terasa sangat memuaskan.
Pada bulan Agustus 2022, kami mulai syuting film baru. Para sutradara memintaku dan Saudari Judith untuk mengikuti audisi pemeran utama, tetapi aku merasa agak enggan. Aku merasa sudah cukup sibuk dengan dua tugas. Jika aku lolos audisi dan menjadi pemeran utama, tiga tugas pasti akan membuatku kewalahan. Kemudian, Judith terpilih sebagai pemeran utama, dan aku terpilih menjadi pemeran ketiga. Aku tidak kecewa karena tidak terpilih sebagai pemeran utama, tetapi diam-diam aku justru merasa sangat senang. Karena pemeran ketiga bukanlah bagian yang begitu penting dan dialognya lebih sedikit, itu relatif lebih mudah, jadi aku senang menerima peran ini. Kemudian, para sutradara melihat bahwa Judith tampak agak murung, dan itu tidak begitu cocok dengan kepribadian tokoh utama yang positif dan kuat. Jadi, mereka menyarankan agar aku mengikuti audisi pemeran utama lagi. Saat mendengar kabar ini, yang pertama kali kupikirkan adalah: "Aku sudah cukup sibuk dengan tiga tugas ini; jika aku menjadi pemeran utama, bukankah aku akan makin sibuk? Selain itu, ada beberapa adegan menangis untuk pemeran utama, dan itu akan menjadi penampilan yang sangat sulit. Untuk menampilkannya dengan baik, aku harus menguras tenaga." Setelah berpikir matang-matang, aku berkata pada para sutradara, "Tokoh utama itu karakternya sangat tenang, tetapi aku masih muda, tidak begitu tenang, dan tidak cocok untuk peran ini. Judith sudah berusaha keras untuk peran ini. Usia dan temperamennya pun lebih cocok. Hanya ekspresinya yang kurang pas, dan itu bisa diperbaiki dengan sedikit bantuan. Jadi, sepertinya aku tidak perlu mengikuti audisi lagi." Kemudian, setelah berdiskusi, semua orang mulai merasa bahwa Judith memang lebih cocok dengan temperamen tokoh utama itu, dan dia bisa dibantu lebih banyak lagi. Meskipun masalah ini sudah berlalu, di dalam hatiku, aku sadar bahwa aku tidak ingin menjadi pemeran utama karena takut menderita. Aku merasa agak bersalah, tetapi aku tidak mencari kebenaran untuk mengatasinya.
Setelah itu, jadwalku padat setiap hari, dan aku merasa agak enggan. Terkadang, para sutradara bertemu di malam hari untuk membahas masalah pada film. Aku merasa enggan dan segan, kemudian berpikir, "Sudah cepat selesaikan diskusinya. Setelah selesai, kalian bisa istirahat, tetapi aku masih harus memeriksa video. Kapan jumlah video yang harus kuperiksa bisa lebih sedikit?" Terkadang, untuk menyelesaikan tugas-tugas ini lebih cepat, aku memeriksa video dengan memutarnya lebih cepat, jadi aku bisa selesai lebih cepat dan tidur lebih awal. Dalam melaksanakan tugasnya, sutradara harus memikirkan hal-hal seperti pengambilan gambar dan presentasi. Menurutku, semua itu terlalu menguras tenaga, jadi aku tak mau mengerahkan upaya. Saat aktris pemeran utama mengalami kesulitan dalam berakting, para sutradara lain akan membantunya menampilkan perannya dengan baik, tetapi aku hanya ingin bermalas-malasan dan tidak mendalami peran itu. Aku hanya menceritakan kepada saudari itu sedikit pengalamanku selama ini, yang tidak terlalu memenuhi tanggung jawabku sebagai sutradara. Adapun peran ketiga yang kumainkan, aku menggunakan kesibukanku sebagai alasan dan tidak berupaya untuk mendalami peran tersebut, sehingga penampilanku sangat buruk.
Suatu hari, seorang saudari bersekutu denganku, berkata bahwa dalam tugasku, aku tak mau membayar harga, menikmati kenyamanan fisik, dan aku menggunakan trik yang picik, licik serta bermalas-malasan. Aku tahu bahwa yang dia tunjukkan itu memang masalahku, tetapi aku tidak menyadari betapa parahnya masalah itu. Aku berpikir, "Bagaimanapun, aku tak sanggup melaksanakan begitu banyak tugas. Karena aku tidak berkontribusi sebagai sutradara, cepat atau lambat, aku akan diberhentikan, dan jika aku diberhentikan, biar saja. Berkurang satu tugas berarti berkurang juga penderitaan fisikku, dan waktu luangku akan lebih banyak. Melaksanakan tugas tunggal juga bagus." Karena tidak mengubah pola pikirku, aku menjadi makin pasif dalam tugasku. Selama syuting, ada banyak masalah, sehingga progresnya sangat lambat, tetapi aku hanya fokus mengurangi tugasku, jadi aku tetap mengacuhkan masalah-masalah ini. Kemudian, karena aku tak memiliki rasa terbeban dalam tugasku, para pemimpin tak lagi mengizinkanku menjadi sutradara. Sebaliknya, mereka memintaku sepenuhnya fokus pada peran yang kumainkan. Meskipun tugasku lebih sedikit, aku tetap tidak bersemangat, dan masih ada banyak masalah pada penampilanku. Akhirnya, karena masalah saat syuting, dan penampilan kami, yaitu para pemain utama, tidak memenuhi standar, produksi film itu gagal. Karena beberapa alasan khusus, aku tak bisa lagi menjadi aktor, juga tak bisa memeriksa video. Setelah kehilangan tugasku satu per satu, hatiku yang mati rasa belum juga tergugah, dan aku masih belum juga merenungkan diri dengan benar. Sebaliknya, aku merasa ada alasan-alasan objektif yang membuatku kehilangan tugasku. Kemudian, gereja menugaskanku untuk bertanggung jawab atas pekerjaan penginjilan, dan aku ingin menghargai tugas ini, tetapi beberapa waktu kemudian, aku kembali ke kebiasaan lamaku. Setelah menghadapi kesulitan yang dialami saudara-saudari dalam memberitakan Injil, masalah kerja sama di antara para pekerja penginjilan, masalah calon penerima Injil, dan lain-lain, aku merasa pekerjaan ini tak pernah ada habisnya, dan aku mulai menjadi licik dan bermalas-malasan lagi. Setiap kali melaksanakan pekerjaan, aku hanya meneruskannya. Setiap hari, aku memikirkan cara untuk menyelesaikan tugas dari para pemimpin dengan cepat supaya aku bisa istirahat lebih awal. Ketika lelah, aku bertanya-tanya, "Adakah tugas lebih ringan yang bisa kulaksanakan? Pekerjaan ini selalu sibuk sekali. Kapan aku bisa istirahat? Kapan kelelahan ini akan berakhir?" Tak kusangka, "harapan" ini segera terwujud.
Pada tanggal 9 Juni 2023, karena beberapa masalah khusus di wilayahku, aku diisolasi dan tak bisa menghubungi gereja ataupun saudara-saudari, dan aku terpaksa harus berhenti melaksanakan tugasku. Situasi ini terjadi sangat tiba-tiba, dan butuh waktu lama bagiku untuk mencerna semuanya. Sebelumnya aku sibuk, tetapi saat itu tiba-tiba tidak ada pekerjaan yang bisa kulakukan. Aku pun merasa sangat bingung, tidak tahu harus berbuat apa. Sekeras apa pun aku memikirkannya, aku benar-benar tak bisa memahaminya: Kini pekerjaan penginjilan sangat sibuk, dan semua orang yang melaksanakan tugas memiliki begitu banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Mengapa tugasku tiba-tiba terhenti? Tiba-tiba, aku teringat akan firman Tuhan: "Jika engkau penuh tipu daya dan malas, jika engkau tidak melaksanakan tugasmu dengan baik, dan selalu menempuh jalan yang salah, Tuhan tidak akan bekerja di dalam dirimu; engkau akan kehilangan kesempatan ini, dan Tuhan akan berkata, 'Tidak mungkin memakaimu. Menyingkirlah. Engkau suka bersikap licik dan bermalas-malasan, bukan? Engkau suka bermalas-malasan dan menikmati kenyamanan, bukan? Kalau begitu, nikmatilah kenyamanan untuk selamanya!' Tuhan akan memberikan anugerah dan kesempatan ini kepada orang lain. Bagaimana menurutmu: Apakah ini kerugian atau keuntungan? (Kerugian.) Ini adalah kerugian yang sangat besar!" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Bagian Tiga"). Penghakiman firman Tuhan seketika menyadarkanku. Bukankah aku selalu ingin istirahat? Bukankah aku selalu tidak suka kesukaran, bertindak secara licik, dan bermalas-malasan, hanya memedulikan dagingku? Ya, sekarang aku benar-benar istirahat, tak bisa melaksanakan tugas sama sekali! Pikiranku menjadi kosong, dan firman Tuhan terus terngiang dalam pikiranku: "Kalau begitu, nikmatilah kenyamanan untuk selamanya!" Di hatiku, ada perasaan yang tak bisa dijelaskan. Aku merasa benar-benar kosong. Setelah mengingat kembali bagaimana aku melaksanakan tugasku sebelumnya, aku sangat menyesal. Setiap hari, aku terpuruk dalam perasaan bersalah dan menuduh diriku sendiri: Mengapa selama ini aku tidak benar-benar menghargai tugasku? Mengapa aku sekadar bersikap asal-asalan?
Kemudian, aku membaca satu bagian firman Tuhan dan memperoleh beberapa pengetahuan tentang natur dan konsekuensi dari bersikap asal-asalan. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Bersikap asal-asalan ketika melaksanakan tugasmu adalah hal yang sangat dilarang. Jika engkau selalu bersikap asal-asalan ketika melaksanakan tugasmu, maka tidak mungkin engkau melaksanakan tugasmu hingga memenuhi standar. Jika engkau ingin melaksanakan tugasmu dengan penuh pengabdian, engkau harus terlebih dahulu memperbaiki masalah sikapmu yang asal-asalan. Engkau harus mengambil langkah-langkah untuk memperbaiki situasi segera setelah engkau melihat perwujudannya. Jika engkau bingung, tidak pernah mampu menyadari masalahnya, selalu bersikap asal-asalan, dan melakukan segala sesuatu sebagai formalitas belaka, maka engkau tidak akan dapat melaksanakan tugasmu dengan baik. Oleh karena itu, engkau harus mencurahkan segenap hatimu ke dalam tugasmu. Kesempatan bagi orang untuk melaksanakan tugasnya sangatlah langka! Ketika Tuhan memberi mereka kesempatan ini, tetapi mereka tidak memanfaatkannya, kesempatan itu akan hilang—dan bahkan jika kelak mereka ingin menemukan kesempatan seperti itu, itu mungkin tidak akan pernah muncul lagi. Pekerjaan Tuhan tidak menunggu siapa pun dan demikian juga kesempatan untuk melaksanakan tugas. Beberapa orang berkata, 'Aku tidak melaksanakan tugasku dengan baik sebelumnya, tetapi sekarang aku masih ingin melaksanakannya. Aku akan bangkit dan berusaha lagi.' Sungguh luar biasa memiliki tekad seperti ini, tetapi engkau harus jelas tentang bagaimana melaksanakan tugasmu dengan baik: Engkau harus berjuang mengejar kebenaran. Hanya orang yang memahami kebenaranlah yang dapat melaksanakan tugasnya dengan baik. Jika seseorang tidak memahami kebenaran, bahkan jerih payah mereka pun tidak akan memenuhi standar. Makin jelas engkau memahami kebenaran, makin efektif engkau dalam melaksanakan tugasmu. Jika engkau mampu memahami hal ini sebagaimana adanya, engkau akan mengerahkan upaya dalam kebenaran, dan akan ada harapan bagimu untuk melaksanakan tugasmu dengan baik. Sekarang ini, kesempatanmu untuk melaksanakan tugas tidak banyak, jadi engkau harus memanfaatkannya selagi bisa. Justru ketika dihadapkan pada suatu tugas, engkau harus mengerahkan upaya nyata; itulah saatnya engkau harus mempersembahkan dirimu dan mengorbankan dirimu untuk Tuhan, dan itulah saatnya engkau membayar harga. Jangan menahan apa pun, menyimpan siasat apa pun, menyisakan ruang bagi dirimu sendiri, ataupun mencadangkan jalan keluar untuk dirimu sendiri. Jika engkau menyisakan ruang bagi dirimu sendiri, melakukan tipu daya, atau bersikap licin dan malas, engkau pasti akan melakukan pekerjaan dengan buruk. Bayangkan engkau berkata, 'Tak seorang pun melihatku bersikap licin dan malas. Keren sekali!' Cara berpikir macam apa ini? Apakah menurutmu engkau telah menipu dan mengelabui orang, dan juga Tuhan? Namun, pada kenyataannya, apakah Tuhan tahu apa yang telah kaulakukan? Dia tahu. Sebenarnya, siapa pun yang berinteraksi denganmu untuk waktu yang lama akan mengetahui kerusakan dan keburukanmu; hanya saja mereka mungkin tidak mengatakannya secara langsung: Di dalam hatinya, mereka akan memiliki penilaian tentangmu. Ada banyak orang yang disingkapkan dan disingkirkan karena sebagian besar orang mampu mengetahui yang sebenarnya tentang esensi mereka dan dengan demikian menyingkapkan siapa mereka sebenarnya dan membuat mereka dikeluarkan dari gereja. Jadi, entah mereka mengejar kebenaran atau tidak, orang harus melaksanakan tugas mereka dengan baik dengan kemampuan terbaik mereka; mereka harus dipimpin oleh hati nurani mereka dan melakukan beberapa hal nyata. Engkau mungkin memiliki kekurangan, tetapi jika engkau mampu efektif dalam melaksanakan tugasmu, engkau tidak akan disingkirkan. Jika engkau selalu berpikir bahwa engkau baik-baik saja, bahwa engkau pasti tidak akan disingkirkan, jika engkau tidak pernah merenungkan atau berusaha mengenal dirimu sendiri, dan engkau tetap mengabaikan tugasmu yang semestinya dan selalu bersikap asal-asalan, maka ketika umat pilihan Tuhan benar-benar kehilangan toleransi mereka terhadapmu, mereka akan menyingkapkan siapa dirimu sebenarnya, dan engkau akan disingkirkan. Pada saat itu, sudah terlambat untuk menyesal, karena semua orang telah mengetahui yang sebenarnya tentangmu, dan engkau akan kehilangan semua martabat dan integritasmu. Jika tidak ada orang yang memercayaimu, akankah Tuhan memercayaimu? Tuhan memeriksa lubuk hati manusia: Dia sama sekali tidak akan memercayai orang semacam itu. ... orang harus selalu memeriksa diri mereka sendiri saat melaksanakan tugas mereka: 'Sudahkah aku melaksanakan tugas ini dengan memenuhi standar? Sudahkah aku bersungguh-sungguh di dalamnya? Apakah aku dalam keadaan yang bersikap asal-asalan?' Jika engkau selalu bersikap asal-asalan, engkau berada dalam bahaya. Setidaknya, itu berarti engkau tidak memiliki kredibilitas, dan orang tidak dapat memercayaimu. Lebih serius lagi, jika engkau selalu bersikap asal-asalan saat melaksanakan tugasmu, dan jika engkau selalu menipu Tuhan, engkau berada dalam bahaya besar! Apa akibatnya jika engkau secara terang-terangan melakukan penipuan? Semua orang dapat melihat bahwa engkau dengan sadar melakukan kesalahan. Engkau hidup sepenuhnya berdasarkan watak rusakmu sendiri, dan dalam tugasmu engkau hanya bersikap asal-asalan, dan tidak menerapkan kebenaran sama sekali—ini berarti engkau tidak memiliki kemanusiaan! Jika ini terus-menerus terwujud di dalam dirimu—engkau tidak membuat kesalahan besar apa pun tetapi terus-menerus melakukan kesalahan kecil, dan tidak bertobat dari awal hingga akhir, maka engkau adalah orang jahat, pengikut yang bukan orang percaya, dan harus dikeluarkan—ini adalah akibat yang sangat serius. Engkau sepenuhnya disingkapkan dan disingkirkan sebagai pengikut yang bukan orang percaya dan orang jahat" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Jalan Masuk Kehidupan Dimulai dengan Pelaksanaan Tugas"). Sebelumnya aku sudah membaca bagian firman Tuhan ini berkali-kali, tetapi baru kali ini hatiku terasa begitu tertohok. Dengan melaksanakan tugasku dengan sikap asal-asalan dan bersiasat, aku bisa menipu orang-orang, tetapi aku tak bisa menipu Tuhan, dan jika tetap tidak bertobat, aku akan disingkirkan. Aku mengingat kembali saat-saat aku melaksanakan tugasku: Ketika tugasku bertambah, membutuhkan lebih banyak waktu dan tenaga, aku mulai mengeluh, merasa seperti tak punya waktu untuk bersantai dan tak bisa istirahat tepat waktu. Aku juga merasa enggan dan segan, selalu ingin istirahat. Saat memeriksa video, aku menontonnya dengan sikap asal-asalan agar bisa istirahat lebih awal. Meski tidak menyebabkan kerugian apa pun, aku bermalas-malasan serta bersikap licik dan asal-asalan dalam tugasku, dan Tuhan melihat semua ini. Aku sama sekali tidak jujur dan sudah bersikap tak bisa dipercaya! Gereja memberiku kesempatan untuk berlatih sebagai sutradara, tetapi aku tak menghargainya. Aku tak berupaya untuk mendalami naskah atau pengambilan gambarnya, dan hanya mengeluh bahwa itu melelahkan secara mental. Ketika membantu para aktor memainkan peran mereka, aku licik dan bermalas-malasan, mengandalkan sedikit pengalaman aktingku di masa lalu untuk mengarahkan mereka, tetapi ini tidak ada gunanya. Aku hanyalah pajangan, menempati suatu posisi tanpa melakukan pekerjaan nyata. Dalam tugasku sebagai aktor, aku tahu bahwa peran utama membutuhkan tenaga, jadi aku menolak kesempatan untuk mengikuti audisi. Belum lagi soal apakah aku akan dipilih atau tidak, saat pekerjaan rumah Tuhan membutuhkanku, aku tidak menunjukkan kerja sama yang aktif. Sebaliknya, aku mempertimbangkan terlebih dulu apakah dagingku akan merasa nyaman atau tidak. Begitu melihat bahwa ini tidak akan menguntungkan bagi dagingku, aku tidak mau mengikuti audisi, dan aku bersikap licik untuk membuat alasan dan menghindari tanggung jawab. Aku sangat egois! Bahkan belakangan, saat aku memainkan peran ketiga, aku melakukannya dengan asal-asalan. Aku tidak melakukan persiapan yang memadai, dan hasil syutingnya jauh dari kata bagus. Padahal, saat itu, meskipun aku melaksanakan tiga jenis tugas, jika aku mengatur waktu dengan tepat dan melaksanakan tugasku dengan sungguh-sungguh, aku tak akan gagal melaksanakan semuanya dengan baik. Sesibuk apa pun tugasku, aku hanya perlu melaksanakannya setengah hingga satu jam lebih lama dari orang lain. Namun, aku tidak mau membayar harga sekecil itu, dan aku selalu tidak menyukai kesukaran dan takut kelelahan, dan bahkan saat kehilangan tugasku satu per satu, aku tetap tak bertobat. Pada akhirnya, saat aku bertanggung jawab atas pekerjaan penginjilan, aku terus terjerumus dalam kebiasaan lamaku. Demi kenyamanan dagingku, aku selalu bertindak secara licik dan bermalas-malasan, dan aku bersikap asal-asalan di setiap kesempatan. Aku telah menyia-nyiakan integritas serta martabatku. Aku tak bisa dipercaya dan tak layak untuk melaksanakan tugasku. Tuhan sudah membenci dan menolakku sejak lama.
Ketika merenungkan caraku dalam melaksanakan tugas, aku merasa sangat menyesal dalam hatiku, dan aku pun menangis sambil berdoa kepada Tuhan, "Tuhan, aku menyadari bahwa selama ini aku tidak melaksanakan tugasku dengan cara yang memenuhi standar. Semua ini karena aku bersikap asal-asalan dan menikmati kenyamanan fisik. Hari ini, tugasku tiba-tiba dihentikan. Ini adalah hajaran dan pendisiplinan-Mu terhadapku. Tuhan, aku ingin bertobat. Tolong cerahkan dan bimbing aku untuk merenungkan dan memahami diriku sendiri." Kemudian, aku secara sadar mencari kebenaran tentang masalahku, dan aku membaca firman Tuhan: "Orang malas tidak bisa melakukan apa pun. Untuk meringkasnya dalam empat kata, mereka adalah orang yang tidak berguna; mereka memiliki kecacatan kelas dua. Sehebat apa pun kualitas yang dimiliki oleh para pemalas, itu tidak lebih dari sekadar hiasan; meskipun mereka memiliki kualitas yang bagus, tetapi tidak ada gunanya. Mereka terlalu malas—mereka tahu apa yang harus mereka lakukan, tetapi mereka tidak melakukannya, dan bahkan sekalipun mereka tahu ada sesuatu yang menjadi masalah, mereka tidak mencari kebenaran untuk menyelesaikannya, dan meskipun mereka tahu kesulitan apa yang harus mereka tanggung agar pekerjaan menjadi efektif, mereka tidak mau menanggung kesulitan yang berharga ini, jadi mereka tidak memperoleh kebenaran apa pun, dan mereka tidak dapat melakukan pekerjaan nyata apa pun. Mereka tidak ingin menanggung kesukaran yang seharusnya orang alami; mereka hanya tahu menikmati kenyamanan, menikmati saat bersenang-senang dan bersantai, serta menikmati kehidupan yang bebas dan rileks. Bukankah mereka tidak berguna? Orang yang tidak mampu menanggung kesukaran tidak layak untuk hidup. Mereka yang selalu ingin menjalani hidup sebagai parasit adalah orang-orang yang tidak berhati nurani atau tidak bernalar; mereka adalah binatang, dan orang-orang seperti itu bahkan tidak layak untuk berjerih payah. Karena mereka tidak mampu menanggung kesukaran, bahkan ketika mereka berjerih payah, mereka tidak mampu melakukannya dengan baik, dan jika mereka ingin memperoleh kebenaran, bahkan harapan untuk itu makin kecil. Seseorang yang tidak mampu menderita dan tidak mencintai kebenaran adalah orang yang tidak berguna; mereka tidak memenuhi syarat bahkan untuk berjerih payah. Mereka adalah binatang, tanpa sedikit pun kemanusiaan. Orang-orang seperti itu harus disingkirkan; hanya ini yang sesuai dengan maksud Tuhan" (Firman, Jilid 5, Tanggung Jawab para Pemimpin dan Pekerja, "Tanggung Jawab para Pemimpin dan Pekerja (8)"). "Sejak awal, Tuhan berfirman, 'Yang Kuinginkan adalah kualitas dalam diri manusia, bukan banyaknya jumlah mereka.' Ini adalah standar yang Tuhan tuntut terhadap umat pilihan-Nya, sekaligus persyaratan dan prinsip mengenai jumlah orang di dalam gereja. 'Yang Kuinginkan adalah kualitas dalam diri manusia'—di sini, apakah 'kualitas' merujuk pada prajurit kerajaan yang baik atau para pemenang? Keduanya tidak tepat. 'Kualitas', tepatnya, merujuk pada mereka yang memiliki kemanusiaan yang normal, mereka yang benar-benar manusia. Di rumah Tuhan, jika engkau mampu melaksanakan tugas yang seharusnya manusia lakukan, jika engkau dapat digunakan sebagai manusia, dan jika engkau mampu memenuhi tanggung jawab, tugas, dan kewajiban manusia tanpa orang lain menarikmu, menyeretmu, atau mendorongmu, dan engkau bukan sampah yang tidak berguna, bukan pendompleng, bukan pemalas—engkau mampu memikul tanggung jawab dan kewajiban manusia serta memikul misi manusia—hanya inilah yang dimaksud dengan memenuhi standar sebagai manusia! Dapatkah para pemalas dan mereka yang tidak melaksanakan tugas yang semestinya memikul misi manusia? (Tidak.) Ada orang-orang yang tidak mau memikul tanggung jawab; ada yang tidak mampu memikulnya—mereka adalah sampah yang tidak berguna. Mereka yang tidak mampu memikul tanggung jawab manusia tidak dapat disebut manusia. ... Mereka yang tidak mampu memikul tugas mereka sendiri di rumah Tuhan bukanlah manusia normal, dan Tuhan tidak menginginkan mereka. Entah engkau adalah seorang pemimpin atau pekerja, atau melakukan pekerjaan spesifik yang melibatkan keterampilan profesional, engkau harus mampu memikul pekerjaan yang menjadi tanggung jawabmu. Selain mampu mengurus hidup dan kelangsungan hidupmu sendiri, keberadaanmu bukanlah sekadar tentang bernapas, bukan tentang makan, minum, dan bersenang-senang, tetapi tentang mampu memikul misi yang telah Tuhan berikan kepadamu. Hanya orang-orang semacam itulah yang layak disebut makhluk ciptaan dan layak disebut manusia. Mereka di rumah Tuhan yang selalu ingin mendompleng dan selalu mencoba bersandiwara untuk mengelabui semua orang, berharap dapat mengelabui sampai akhir dan memperoleh berkat, mereka tidak mampu memikul pekerjaan atau tanggung jawab apa pun, apalagi misi apa pun. Orang-orang semacam itu harus disingkirkan, dan itu bukanlah sesuatu yang patut disayangkan. Ini karena yang disingkirkan bukanlah manusia—mereka tidak memenuhi syarat untuk disebut manusia. Engkau dapat menyebut mereka orang yang tidak berguna, pemalas, atau pengangguran; dalam hal apa pun, mereka tidak layak disebut manusia. Ketika engkau memberi mereka pekerjaan, mereka tidak dapat menyelesaikannya secara mandiri; dan ketika engkau memberi mereka tugas, mereka tidak dapat memikul tanggung jawab atau memenuhi kewajiban yang seharusnya mereka lakukan—orang-orang semacam itu sudah tamat. Mereka tidak layak hidup; mereka pantas mati. Tuhan mengampuni nyawa mereka sudah merupakan kasih karunia-Nya, suatu anugerah yang luar biasa" (Firman, Jilid 7, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Cara Mengejar Kebenaran (5)"). Tuhan mengungkapkan bahwa ciri yang paling menonjol dari orang yang malas dan senang bermalas-malasan adalah mereka tidak melakukan pekerjaannya dengan semestinya. Jika diringkas dalam satu kata, mereka "hidup tanpa tujuan". Mereka hanya menjalani hari dengan berpikir tentang makan, bersenang-senang, dan menikmati kenyamanan fisik, tidak memikirkan hal-hal yang semestinya. Di setiap kesempatan, orang-orang ini bersikap asal-asalan dalam tugasnya, beristirahat, dan menghindari tanggung jawab. Mereka gagal melaksanakan tugas apa pun dengan baik, juga tidak bersedia atau tidak mampu memikul pekerjaan apa pun. Mereka hanya ingin bersantai dan nyaman, tetapi pada akhirnya, mereka masih mengharapkan berkat. Orang-orang seperti itu tidak layak disebut manusia, mereka tidak berguna, dan Tuhan membenci orang seperti itu. Saat merenungkan perilakuku, aku menyadari bahwa aku sama saja dengan orang-orang itu. Aku tidak mau melakukan pekerjaan yang bisa kulakukan, dan aku menghindari tanggung jawab serta beban yang seharusnya kupikul. Aku hanya mendambakan kenyamanan fisik, dan aku takut akan kesukaran serta kelelahan. Harapanku setiap harinya adalah menyelesaikan pekerjaanku dengan cepat dan istirahat lebih awal. Aku ingin hidup seperti babi, hanya makan, minum, dan tidur nyenyak. Gereja telah memercayakan tugas penting kepadaku, yaitu memeriksa video, tetapi agar bisa tidur lebih awal, aku mempercepat video saat memeriksanya. Jika, karena kelalaianku, aku membiarkan video yang tidak memenuhi standar diunggah, aku tidak hanya gagal bersaksi tentang Tuhan, tetapi itu juga akan mencemarkan nama Tuhan, dan aku tak sanggup menanggung konsekuensi itu. Selain itu, sutradara adalah pemimpin dalam pekerjaan perfilman, dan dapat berlatih melaksanakan tugas yang begitu penting adalah peninggian dari Tuhan, tetapi aku justru tidak bertanggung jawab, licik, dan bermalas-malasan. Sebagai sutradara sekaligus aktor, aku memikul tanggung jawab yang tak terelakkan atas tertundanya film untuk waktu yang begitu lama dan atas buruknya kualitas hasil syuting. Jadi, aku melakukan pelanggaran serius dalam tugasku! Gereja telah membinaku sebagai aktor selama bertahun-tahun, tetapi saat melihat belum ditemukannya aktor pemeran utama yang tepat untuk film yang baru, aku tetap acuh tak acuh, tidak merasa cemas ataupun khawatir. Aku bahkan tak mau mengikuti audisi peran utama demi kenyamanan fisikku. Aku tidak memikirkan maksud Tuhan dan tidak melindungi kepentingan rumah-Nya. Aku sama sekali tidak memiliki kemanusiaan! Jika mengingat berbagai perilakuku, dan bahaya yang kutimbulkan pada pekerjaan rumah Tuhan, aku merasa aku memang seperti yang digambarkan Tuhan saat Dia berfirman: "Mereka tidak layak hidup; mereka pantas mati. Tuhan mengampuni nyawa mereka sudah merupakan kasih karunia-Nya, suatu anugerah yang luar biasa." Rumah Tuhan telah berulang kali memberiku kesempatan untuk melaksanakan tugasku, memungkinkanku memperoleh kebenaran dan membuat lebih banyak kemajuan melalui pelaksanaan tugas-tugasku. Namun, aku selalu bersikap asal-asalan dan ala kadarnya. Aku benar-benar tak berguna. Aku tak punya hati nurani serta nalar! Aku belum melaksanakan dengan baik satu pun tugas yang dipercayakan kepadaku. Aku sungguh tak berguna. Hidupku tak bernilai, dan sekalipun mati, aku tak akan dirindukan! Kini, kesempatan yang Tuhan berikan padaku untuk merenung sudah merupakan kasih karunia-Nya bagiku.
Kemudian, aku merenungkan apa yang membuatku selalu bersikap asal-asalan. Aku membaca firman Tuhan: "Sebelum manusia mengalami pekerjaan Tuhan dan memahami kebenaran, natur Iblislah yang mengendalikan dan menguasai mereka dari dalam. Secara spesifik, apa yang terkandung dalam natur tersebut? Misalnya, mengapa engkau egois? Mengapa engkau melindungi statusmu sendiri? Mengapa engkau begitu dipengaruhi oleh perasaanmu? Mengapa engkau menyukai hal-hal yang tidak benar dan hal-hal yang jahat itu? Apa dasar bagimu menyukai hal-hal semacam itu? Dari manakah hal-hal ini berasal? Mengapa engkau menyukai dan menerimanya? Sekarang, engkau semua sudah memahami: Alasan utamanya karena racun Iblis ada di dalam diri manusia. Jadi, apa itu racun Iblis? Bagaimana itu bisa diungkapkan? Misalnya, jika engkau bertanya, 'Bagaimana seharusnya orang hidup? Untuk apa seharusnya orang hidup?' semua orang akan menjawab: 'Jika orang tidak memikirkan dirinya sendiri, langit dan bumi akan menghukumnya.' Hanya satu frasa ini mengungkapkan sumber penyebab masalahnya. Falsafah dan logika Iblis telah menjadi hidup orang. Apa pun yang orang kejar, mereka sebenarnya melakukannya untuk diri mereka sendiri—oleh karena itu, mereka semua hidup bagi diri mereka sendiri. 'Jika orang tidak memikirkan dirinya sendiri, langit dan bumi akan menghukumnya'—ini adalah falsafah hidup manusia dan ini juga mewakili natur manusia. Perkataan ini telah menjadi natur manusia yang rusak dan perkataan ini adalah gambaran sebenarnya dari natur Iblis manusia yang rusak. Natur Iblis ini telah sepenuhnya menjadi dasar bagi keberadaan manusia yang rusak. Selama ribuan tahun, umat manusia yang rusak telah hidup berdasarkan racun Iblis ini, hingga hari ini" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Cara Menempuh Jalan Petrus"). Dari firman Tuhan, aku mulai memahami bahwa setiap kali mendapat tugas, aku selalu tak suka kesukaran dan takut akan kelelahan, juga tak mampu benar-benar mengorbankan diriku bagi Tuhan. Itu bukan hanya karena kemalasanku yang parah, melainkan juga karena racun-racun Iblis yang telah mengendalikan hatiku, seperti "Jika orang tidak memikirkan dirinya sendiri, langit dan bumi akan menghukumnya", "Hidup hanyalah tentang makan enak dan berpakaian bagus", "Nikmatilah kesenangan sekarang pada hari ini, dan khawatirkan hari esok pada hari selanjutnya", "Hiduplah di masa kini dan belajarlah memperlakukan dirimu sendiri dengan baik", dan "Kenikmatan fisik adalah kebahagiaan". Aku hidup berdasarkan pemikiran dan pandangan ini, menjadi makin egois dan hina. Aku tak mau menderita atau membayar harga sama sekali, dan aku mementingkan kenyamanan fisik di atas segalanya. Sama seperti saat aku masih kecil dan melihat beberapa teman sekelasku memasuki sekolah menengah—mereka bangun sebelum subuh untuk berangkat sekolah, dan usai sekolah, ada berbagai pekerjaan rumah yang harus mereka selesaikan—aku merasa bahwa hidup seperti itu akan sangat melelahkan. Selain itu, sekalipun mereka sangat menderita, mereka belum tentu masuk perguruan tinggi. Aku hanya ingin menikmati masa kini serta hidup nyaman, dan kurasa ini sudah cukup. Jadi, setelah lulus SD, aku pun berhenti sekolah. Setelah menikah, aku juga tak mau mengkhawatirkan semua masalah di rumah, baik yang besar maupun kecil, dan suamiku yang mengurusnya. Keluargaku berkata bahwa aku beruntung menjalani hidup tanpa beban, dan kupikir orang seharusnya hidup seperti ini, dan hidup tanpa rasa khawatir atau tekanan, menjalani hari dengan bebas dan santai, adalah kehidupan paling bahagia yang dapat dijalani manusia. Aku menyadari bahwa racun-racun Iblis ini telah menjadi naturku serta kriteriaku dalam bertindak dan berperilaku. Hidup menurut hal-hal ini membuatku semakin menuruti daging, hidup dengan cara yang sangat hina. Setelah datang ke rumah Tuhan untuk melaksanakan tugasku, aku masih mengutamakan kepentingan fisikku, hanya mau membayar sedikit harga dalam tugasku selama kenyamanan fisikku tidak terpengaruh, tetapi begitu kepentingan fisikku terpengaruh, aku memeras otak untuk memikirkan cara untuk lolos dari situasi itu, dan aku melaksanakan tugasku dengan sikap asal-asalan. Sama seperti lirik sebuah lagu pujian: "Orang-orang rela memberikan nyawa mereka untuk daging, tetapi tidak mau mengorbankan apa pun untuk kebenaran" (Ikuti Anak Domba dan Nyanyikan Lagu Baru, "Ratapan untuk Dunia yang Suram dan Tragis"). Bahkan saat aku merasa tertegur setelah bersikap asal-asalan dan tahu betul cara mencapai hasil yang baik, aku masih tidak mau menanggung penderitaan atau membayar harga. Aku selalu merasa bahwa upaya semacam itu akan merugikanku, jadi aku terus mendambakan kenyamanan, yang mengakibatkan tugasku tidak memberikan hasil. Selama menjadi sutradara dan aktor, aku menyebabkan kerugian yang begitu besar terhadap pekerjaan rumah Tuhan, tetapi aku tidak merasakan apa pun, tidak merasa tertekan sama sekali, dan bahkan berpikir bahwa ada alasan objektif di baliknya. Aku merasa agak takut saat memikirkannya. Racun-racun Iblis ini telah membuatku menjadi egois dan hina. Meskipun dagingku merasa nyaman, aku sepenuhnya kehilangan martabat dan integritasku sebagai manusia, dan kini, aku bahkan tidak punya kesempatan untuk melaksanakan tugasku. Sekarang, penyesalan dari tugasku yang sebelumnya ini telah menodai imanku kepada Tuhan. Aku memikirkan bagaimana Tuhan, demi menyelamatkan umat manusia, telah menjadi daging dan turun ke bumi, mengalami penderitaan manusia secara langsung, dan bagaimana Dia telah mengungkapkan berbagai macam kebenaran untuk menyediakan, membimbing, menghakimi, dan menyucikan manusia. Tuhan telah begitu mengorbankan diri dengan hati dan usaha-Nya demi manusia, tetapi aku bahkan tak mau melaksanakan tugas yang seharusnya dilaksanakan makhluk ciptaan. Mana mungkin aku memiliki hati nurani dan nalar? Aku benar-benar tak layak menjadi pengikut Tuhan!
Selama terisolasi, aku tak bisa menghubungi gereja. Aku hanya bisa menonton video buatan saudara-saudari di YouTube. Aku melihat bahwa jumlah film, kesaksian pengalaman hidup, lagu pujian, serta video tari dari rumah Tuhan telah meningkat, dan video baru diunggah setiap hari. Aku merasa bahwa saudara-saudari ini memiliki pekerjaan Roh Kudus, dan berkat serta bimbingan Tuhan. Aku pun merasa sangat iri. Aku merindukan hari-hari saat melaksanakan tugasku dengan saudara-saudariku. Aku teringat bahwa dulu aku adalah bagian dari mereka, tetapi karena aku tidak menghargai tugasku dan terus-menerus melaksanakannya dengan sikap asal-asalan, aku kehilangan kesempatan untuk melaksanakan tugasku. Aku merasa sangat sedih. Penyesalan dan pelanggaranku terasa seperti duri yang menusuk hatiku, benar-benar menyiksaku. Saat itulah aku sungguh menyadari bahwa kebahagiaan sejati bukan tentang seberapa banyak kenyamanan fisik yang kita nikmati, melainkan tentang seberapa banyak perbuatan baik yang kita siapkan, dan berapa banyak hal yang kita lakukan untuk memuaskan Tuhan. Jika diingat kembali, aku belum melakukan satu hal pun untuk memuaskan Tuhan, dan setiap kali memikirkannya, aku merasa sangat menyesal dan berutang. Saat itu, aku mendengarkan sebuah lagu pujian firman Tuhan, yang berjudul "Hanya dengan Melaksanakan Tugasmu dengan Baik Engkau Dapat Menjalani Hidup yang Bernilai", dan hatiku pun tercerahkan.
1 Apa nilai hidup seseorang? Di satu sisi, ini adalah tentang melaksanakan tugas makhluk ciptaan dengan baik. Di sisi lain, selama masa hidupmu, engkau harus memenuhi misimu; inilah yang terpenting. Kita tidak akan berbicara tentang menyelesaikan misi, tugas, atau tanggung jawab yang besar, tetapi setidaknya, engkau harus menyelesaikan sesuatu. Dalam rentang hidup orang, setelah menemukan tempatnya, mereka tetap teguh pada posisinya dan mempertahankan posisinya, mencurahkan hati dan usaha serta seluruh tenaga mereka, dan mengerjakan dengan baik serta menyelesaikan apa yang harus mereka kerjakan dan selesaikan. Ketika akhirnya mereka berdiri di hadapan Tuhan untuk memberikan pertanggungjawaban, mereka merasa relatif puas, tanpa tuduhan atau penyesalan di hati mereka. Mereka merasa terhibur dan merasa telah memperoleh sesuatu, merasa hidup mereka bernilai.
2 Agar dapat menjalani kehidupan yang bernilai dan pada akhirnya memperoleh hasil seperti ini, layak bagi seseorang untuk mengalami sedikit penderitaan secara fisik dan membayar sedikit harga, sekalipun mereka menjadi sakit karena terlalu kelelahan atau memiliki beberapa masalah kesehatan. Ketika seseorang dilahirkan ke dunia ini, itu bukan untuk kenikmatan daging, juga bukan untuk makan, minum, dan bersenang-senang. Orang seharusnya tidak hidup untuk hal-hal itu; itu bukanlah nilai hidup manusia, juga bukan jalan yang benar. Nilai hidup manusia dan jalan yang benar untuk ditempuh terletak pada menyelesaikan sesuatu yang bernilai dan menyelesaikan satu atau beberapa bagian dari pekerjaan yang bernilai. Ini tidak dapat disebut karier; ini disebut jalan yang benar, ini juga disebut tugas yang semestinya. Layak bagi seseorang untuk membayar harga berapa pun demi menyelesaikan suatu pekerjaan yang bernilai, menjalani kehidupan yang bermakna dan bernilai, serta mengejar dan memperoleh kebenaran.
............
—Firman, Jilid 6, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Cara Mengejar Kebenaran (6)"
Lagu pujian ini membuatku memahami nilai dan makna kehidupan. Kenyamanan fisik hanya sementara, dan hidup yang benar-benar bermakna hanya bisa kita temukan saat kita melaksanakan tugas dengan baik serta menemukan kenyamanan di hati kita. Aku menyadari, jika watak rusakku tetap tidak diatasi, sifatku yang malas dan menikmati kenyamanan fisik akan selalu menghalangiku dalam melaksanakan tugas dengan baik. Jadi, aku berdoa kepada Tuhan, mencari jalan penerapan.
Kemudian, aku menemukan jalan penerapan dari satu bagian firman Tuhan. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Ketika engkau merasa ingin melakukan segala sesuatu dengan sikap asal-asalan, bersikap licik dan bermalas-malasan, serta berusaha menghindari pemeriksaan Tuhan saat melaksanakan tugasmu, engkau harus segera datang ke hadapan Tuhan untuk berdoa dan merenungkan apakah benar untuk berbuat demikian. Lalu, renungkanlah beberapa saat: 'Apa tujuanku percaya kepada Tuhan? Sikap asal-asalanku mungkin bisa menipu manusia, tetapi akankah itu menipu Tuhan? Terlebih lagi, kepercayaanku kepada Tuhan dan pelaksanaan tugasku bukanlah agar aku bisa bersikap licik dan bermalas-malasan, melainkan agar aku bisa memperoleh keselamatan. Bertindak seperti ini memperlihatkan bahwa aku tidak memiliki kemanusiaan yang normal, dan ini bukanlah sesuatu yang diperkenan Tuhan. Itu tidak boleh. Lain halnya jika aku bersikap licik, bermalas-malasan, dan mengikuti kehendakku sendiri di dunia, tetapi sekarang aku berada di rumah Tuhan, aku berada di bawah kedaulatan Tuhan, di bawah pemeriksaan mata Tuhan, dan aku adalah manusia, jadi aku harus bertindak berdasarkan hati nuraniku dan firman Tuhan, serta tidak boleh mengikuti kehendakku sendiri, bersikap asal-asalan, atau bersikap licik dan bermalas-malasan. Jadi, bagaimana seharusnya aku bertindak agar tidak bersikap licik dan bermalas-malasan, agar tidak bersikap asal-asalan? Aku harus mengerahkan beberapa upaya. Aku baru saja merasa bahwa terlalu merepotkan untuk bertindak dengan cara seperti itu, jadi aku ingin menghindari kesukaran, tetapi sekarang aku mengerti: Mungkin lebih merepotkan untuk melakukannya seperti itu, tetapi itu membuahkan hasil, jadi dengan cara seperti itulah seharusnya aku melakukannya.' Ketika engkau melakukannya dan masih tidak bersedia menanggung kesukaran, pada saat-saat seperti itu engkau harus berdoa kepada Tuhan: 'Ya Tuhan! Aku adalah orang yang malas dan licik. Kumohon disiplinkan dan tegurlah aku, agar aku dapat memperoleh kesadaran hati nurani dan memiliki rasa malu. Aku tidak ingin bersikap asal-asalan. Kumohon bimbing dan cerahkanlah aku, agar aku dapat melihat pemberontakanku dan keburukanku.' Ketika engkau berdoa seperti ini, dan merenungkan serta berusaha mengenal dirimu sendiri seperti ini, ini akan memunculkan perasaan menyesal; engkau akan mampu membenci keburukanmu, dan keadaanmu yang salah akan mulai berubah. Engkau akan mampu merenungkan: 'Mengapa aku bisa bersikap asal-asalan? Mengapa aku selalu berusaha bersikap licik dan bermalas-malasan? Bertindak seperti ini sangat tidak memiliki hati nurani dan nalar—apakah aku masih seseorang yang percaya kepada Tuhan? Mengapa aku tidak bisa melakukan segala sesuatu dengan sungguh-sungguh? Bukankah aku hanya perlu meluangkan sedikit lebih banyak waktu dan upaya? Apa susahnya hal itu? Inilah yang seharusnya kulakukan; jika aku bahkan tidak bisa melakukannya, apakah aku layak disebut manusia?' Akibatnya, engkau akan membuat tekad dan bersumpah kepada Tuhan, 'Ya Tuhan! Aku telah mengecewakan-Mu, aku benar-benar dirusak sedemikian dalamnya, aku tidak memiliki hati nurani dan nalar, serta tidak memiliki kemanusiaan. Aku bersedia bertobat. Kumohon ampunilah aku. Aku pasti akan berubah. Jika aku tidak bertobat, kiranya Engkau menghukumku.' Setelah itu, pola pikirmu akan berbalik, dan engkau akan mulai berubah. Saat engkau melaksanakan tugasmu berikutnya, engkau akan mampu bertindak dengan sungguh-sungguh, dengan sikap asal-asalan yang lebih sedikit, dan engkau akan mampu menderita dan membayar harga. Engkau akan merasa bahwa melaksanakan tugasmu dengan cara seperti ini sungguh luar biasa, dan engkau akan memiliki damai sejahtera dan sukacita di dalam hatimu. Jika orang mampu menerima pemeriksaan Tuhan, jika mereka mampu berdoa kepada-Nya dan mengandalkan-Nya, keadaan mereka akan segera berubah. Setelah keadaan negatifmu berbalik, dan setelah engkau memberontak terhadap niatmu sendiri dan keinginan daging yang egois, jika engkau mampu melepaskan kenyamanan dan kesenangan daging, dan bertindak sesuai dengan tuntutan Tuhan, dan tidak lagi bertindak semaunya atau sembrono, engkau akan memiliki damai sejahtera di dalam hatimu dan dibebaskan dari teguran hati nuranimu. Apakah mudah memberontak terhadap daging dan bertindak sesuai dengan tuntutan Tuhan dengan cara seperti ini? Selama engkau memiliki aspirasi yang sangat besar untuk Tuhan, engkau mampu memberontak terhadap daging dan menerapkan kebenaran. Asalkan engkau mampu menerapkan dengan cara seperti ini, bahkan tanpa menyadarinya, engkau akan masuk ke dalam kenyataan kebenaran. Itu sama sekali tidak sulit" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Menghargai Firman Tuhan adalah Landasan Kepercayaan kepada Tuhan"). Setelah membaca firman Tuhan, aku memahami bahwa ketika percaya kepada Tuhan dan melaksanakan tugasku, aku harus memiliki keinginan yang luar biasa akan Tuhan dan mengutamakan tugasku. Ketika aku ingin bersikap asal-asalan dalam tugasku, aku harus segera berdoa kepada Tuhan, meminta-Nya memberiku tekad untuk menanggung penderitaan, dan aku juga harus menerima pemeriksaan-Nya. Dengan tekun menerapkan ini, masalah sikapku yang asal-asalan perlahan-lahan akan mulai membaik. Aku menyadari bahwa aku kehilangan tugasku karena Tuhan bermaksud agar aku merenungkan masalahku, dan ini adalah titik balik di jalan imanku. Aku harus mengejar kebenaran, memberontak terhadap dagingku, melaksanakan tugasku dengan baik, dan hidup dalam keserupaan dengan manusia. Aku berlutut dan berdoa, "Tuhan, kini aku memahami akar kegagalanku dengan jelas. Aku tak mau hidup berdasarkan watak Iblis lagi. Aku ingin berjuang untuk terus maju, dan jika ada kesempatan untuk melaksanakan tugasku lagi, aku akan mengutamakan tugasku, serta berusaha sebaik mungkin untuk memuaskan-Mu."
Pada bulan Agustus 2024, akhirnya aku berhasil menghubungi gereja, dan aku bisa melaksanakan tugasku lagi. Rasanya sangat senang hingga tak bisa kuungkapkan. Untuk sesaat, aku merasakan campuran rasa gembira, syukur, dan rasa bersalah. Aku tahu bahwa ini adalah kesempatan yang Tuhan berikan kepadaku untuk bertobat, dan aku bertekad dalam hati bahwa aku tak akan pernah lagi menikmati kenyamanan fisik dalam tugasku seperti dulu, dan aku harus selalu ingat untuk mengutamakan tugasku serta menerima pemeriksaan Tuhan.
Kemudian, gereja mengaturku untuk menjadi aktor, dan aku berlatih untuk berakting dalam video kesaksian pengalaman. Aku juga melaksanakan tugas lain secara paruh waktu. Kali ini, aku tak lagi merasa bahwa tugas-tugas paruh waktuku tidak penting, dan aku melaksanakannya setiap ada waktu. Aku melihat bahwa saudara-saudari yang sebelumnya sudah kukenali, dalam waktu sekitar setahun ini, semuanya telah membuat kemajuan besar dalam tugas mereka. Kemajuan dalam pembuatan film video kesaksian pengalaman sangat cepat, dan tidak banyak waktu latihan. Aku menyadari bahwa aku memiliki begitu banyak kekurangan, dan agak tertinggal. Aku ingat bahwa waktu persiapan untuk video kesaksian pengalaman pertama di mana aku menjadi aktor itu sangat singkat, dan aku berpikir, "Aku baru mulai berlatih, tak bisakah mereka lebih pengertian? Beri aku waktu persiapan yang lebih panjang. Apa kita harus terburu-buru begini?" Aku menyampaikan pemikiranku kepada sutradara, dan dia berkata, "Tidak apa-apa, kita akan mengandalkan Tuhan dan hanya perlu melakukan yang terbaik." Saat itu, aku menyadari bahwa aku kembali berusaha memuaskan dagingku dengan ingin melaksanakan tugasku dengan mudah dan nyaman. Setelah memikirkan kegagalanku di masa lalu, aku memperingatkan diriku untuk tak bisa lagi memikirkan dagingku, dan sekalipun waktunya singkat, aku akan melakukan yang terbaik untuk bekerja sama. Setelah itu, aku segera bersiap-siap. Tak lama, video pengalamanku yang pertama telah berhasil dibuat. Setelah itu, saat berakting pada video kesaksian pengalaman yang lebih panjang, terkadang aku masih merasa sangat tertekan. Ketika waktunya sudah sangat dekat, aku mulai tidak menyukai kesukaran dan takut kelelahan, tetapi setelah pemikiran itu muncul, aku dapat menyadarinya tepat waktu, dan aku segera berdoa, memohon agar Tuhan melindungi hatiku dan menjagaku agar tidak memikirkan dagingku lagi. Aku berlatih keras secara terus-menerus dan berusaha sebaik mungkin untuk bekerja sama. Meski penampilanku di video yang kukerjakan sekarang tidak senatural dan sesantai orang lain, hatiku tak lagi merasa tertuduh, tetapi aku justru merasa tenang dan damai.
Dari memiliki beberapa tugas tetapi tidak menghargainya, hingga kehilangannya, dan kemudian mendapatkannya kembali, aku benar-benar merasakan niat Tuhan yang tekun, dan aku menyadari bahwa apa pun yang Tuhan lakukan, itu adalah supaya memungkinkan aku membuang watak rusakku serta menjadi orang yang memiliki hati nurani dan kemanusiaan. Syukur kepada Tuhan karena memberiku kesempatan seperti itu untuk mengenal diriku sendiri dan memperoleh kebenaran. Aku bersedia menghargai waktu mendatang, melaksanakan tugasku dengan sungguh-sungguh, dan tidak mengecewakan harapan Tuhan.