Aplikasi Seluler mengenai Gereja Tuhan Yang Mahakuasa

Mendengarkan suara Tuhan dan menyambut kedatangan Tuhan Yesus kembali!

Kami persilakan semua pencari kebenaran untuk menghubungi kami.

Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia

Warna yang Kuat

Tema

Font

Ukuran Font

Spasi Baris

Lebar laman

% Hasil Pencarian

Hasil tidak ditemukan

Penafsiran Perkataan Keenam

Umat manusia tertegun mendengar perkataanTuhan ketika mereka menyadari bahwa Tuhan telah mengerjakan perbuatan besar di alam roh, sesuatu yang manusia tidak mampu melakukannya dan hanya Tuhan sendiri yang dapat mencapainya. Karena alasan ini, Tuhan sekali lagi mengemukakan perkataan yang memberikan keringanan kepada umat manusia. Ketika hati manusia dipenuhi dengan kontradiksi, dan bertanya-tanya: “Tuhan adalah Tuhan yang tidak memiliki kemurahan hati atau kasih, melainkan Tuhan yang mencurahkan tenaga untuk menghancurkan umat manusia; jadi mengapa Dia harus memberikan pengampunan kepada kita? Mungkinkah Tuhan telah sekali lagi beralih ke sebuah metode?” Pada saat gagasan ini, pemikiran ini terbentuk di dalam pikiran mereka, mereka berjuang melawannya dengan segenap kekuatan mereka. Namun demikian, setelah pekerjaan Tuhan mengalami kemajuan selama beberapa saat lagi, Roh Kudus telah melakukan pekerjaan yang besar di dalam gereja, dan setiap manusia telah mulai bekerja dan melaksanakan tugasnya, maka pada saat itu semua umat manusia telah mendalami metode Tuhan ini. Ini karena tidak seorang pun dapat melihat ketidaksempurnaan apa pun dalam apa yang dikatakan dan dilakukan oleh Tuhan, dan tentang apa yang sesungguhnya akan Tuhan lakukan selanjutnya, tidak seorang pun dapat mengetahui atau bahkan menebaknya. Seperti telah Tuhan katakan dengan mulut-Nya sendiri: “Dari antara semua orang yang hidup di kolong langit, adakah orang yang tidak berada di telapak tangan-Ku? Adakah orang yang tidak bertindak sesuai dengan petunjuk-Ku?” Tetapi Aku memberi engkau semua sedikit nasihat: Dalam hal-hal yang tidak sepenuhnya engkau pahami, janganlah seorang pun di antaramu berbicara atau pun bertindak. Apa yang baru saja Kukatakan tidak bermaksud memadamkan semangatmu, tetapi mendorongmu untuk mengikuti petunjuk Tuhan dalam tindakanmu. Dengan alasan apa pun juga janganlah engkau, karena apa yang Aku katakan tentang “ketidaksempurnaan,” menjadi berkecil hati atau bimbang: Tujuan utama-Ku adalah mengingatkanmu untuk memperhatikan firman Tuhan. Ketika Tuhan berkata: “Mengenai perkara-perkara di dalam roh, engkau harus sangat peka; terhadap Firman-Ku, engkau harus teliti dan penuh perhatian. Engkau harus bertujuan untuk mencapai keadaan di mana engkau melihat Roh-Ku dan tubuh daging-Ku, Firman-Ku dan tubuh daging-Ku, sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan, sehingga seluruh umat manusia akan dapat memuaskan-Ku di hadirat-Ku.” Membaca perkataan ini, umat manusia sekali lagi, tertegun. Yang mereka dengar kemarin adalah kata-kata peringatan, sebuah contoh dari pengampunan Tuhan, tetapi hari ini pembicaraan itu tiba-tiba berubah menjadi perkara-perkara di dalam roh—apa sesungguhnya maksud dari hal ini? Mengapa Tuhan terus mengubah cara bicara-Nya? Dan mengapa semua ini dianggap sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan? Mungkinkah firman Tuhan itu kurang menunjukkan kenyataan? Merenungkan firman tersebut, orang menyadari hal ini: Ketika Roh dan daging Tuhan terpisah, maka daging itu merupakan tubuh jasmani dengan sifat tubuh jasmani, dengan kata lain, apa yang disebut orang sebagai mayat hidup. Daging yang berinkarnasi berasal dari Roh: Dia adalah inkarnasi dari Roh, yakni Firman dalam rupa manusia. Dengan kata lain, Tuhan sendiri hidup dalam rupa manusia. Dari sini kita bisa melihat di mana letak kesalahan besar yang mencoba memisahkan Roh dari manusia itu. Karena alasan ini, meskipun Dia disebut “manusia,” Dia tidak termasuk ras manusia, dan tidak memiliki sifat manusia: Inilah manusia yang melaluinya Tuhan menyatakan diri-Nya, inilah manusia yang Tuhan berkenan kepada-Nya. Di dalam firman itu terkandung Roh Tuhan, dan firman Tuhan secara langsung dinyatakan dalam rupa manusia. Hal ini membuat lebih jelas lagi bahwa Tuhan hidup dalam rupa manusia dan adalah Tuhan yang lebih praktis, dan hal ini membuktikan bahwa Tuhan ada, dengan demikian mengakhiri masa pemberontakan manusia terhadap Tuhan. Kemudian, setelah memberikan petunjuk kepada umat manusia tentang pengenalan akan Tuhan, Tuhan mengubah pokok pembicaraan lagi, dan membicarakan aspek lain dari masalah tersebut.

"Aku telah menjejakkan kaki-Ku di alam semesta, membentangkan pandangan-Ku di atas seluruh hamparannya, dan Aku telah berjalan di tengah-tengah seluruh umat manusia, mengecap rasa manis, asam, pahit, dan tajamdari pengalaman manusia." Pernyataan ini, meskipun sederhana, benar-benar tidak mudah untuk dipahami. Meskipun pokok pembicaraannya telah berubah, esensinya tetap sama: Pernyataan ini tetap memungkinkan umat manusia untuk mengenal-Nya dalam daging inkarnasi-Nya. Mengapa Tuhan mengatakan bahwa Dia telah mengecap rasa manis, asam, pahit, dan tajam dari pengalaman manusia? Mengapa Dia mengatakan bahwa Dia telah berjalan di tengah-tengah seluruh umat manusia? Tuhan adalah Roh, tetapi Dia juga berinkarnasi dalam rupa manusia. Roh, tidak terikat oleh keterbatasan manusia, dapat menjejakkan kaki di seluruh alam semesta, melingkupi alam semesta dengan pandangan yang menyeluruh. Dari sini orang dapat melihat bahwa Roh Tuhan memenuhi hamparan kosmos dan menutupi bumi dari kutub ke kutub; tidak ada tempat yang belum ditata oleh tangan-Nya, tidak ada tempat yang tidak menunjukkan jejak langkah-Nya. Meskipun Roh, yang menjadi daging, dilahirkan sebagai manusia, keberadaan-Nya sebagai Roh tidak membuat-Nya berhenti membutuhkan semua hal yang dibutuhkan manusia, melainkan seperti halnya manusia biasa, Dia makan, berpakaian, tidur, dan tinggal di tempat kediaman, melakukan segala hal yang dilakukan manusia biasa. Pada saat yang bersamaan, karena esensi batinnya berbeda, Dia tidak sama dengan apa yang biasanya disebut orang sebagai manusia. Meskipun Dia menanggung semua penderitaan umat manusia, Dia tidak meninggalkan Roh karena alasan itu; meskipun Dia menikmati berkat, Dia tidak melupakan Roh karena alasan itu. Roh dan manusia itu menyatu tanpa kata dalam hubungan yang harmonis; keduanya tidak terpisahkan, dan belum pernah terpisah. Karena manusia itu adalah inkarnasi Roh, dan berasal dari Roh, dari Roh yang memiliki bentuk, maka Roh yang melekat dalam daging tidak transenden, artinya, Dia tidak dapat melakukan hal-hal yang luar biasa, hal ini berarti Roh ini tidak dapat meninggalkan tubuh jasmani, karena jika Dia melakukannya, tindakan Tuhan yang mengambil rupa sebagai manusia akan kehilangan semua maknanya. Hanya ketika Roh benar-benar dinyatakan dalam tubuh jasmani, umat manusia dapat dibuat mengenal Tuhan yang nyata itu sendiri, dan baru pada saat itulah kehendak Tuhan digenapi. Baru setelah Tuhan menghadirkan Roh dan daging secara terpisah kepada umat manusia Dia menunjukkan kebutaan dan ketidaktaatan manusia: “tetapi manusia tidak pernah benar-benar mengenal diri-Ku, begitu pula ia tidak memperhatikan-Ku saat Aku pergi ke luar negeri.” Di satu sisi, Tuhan berkata bahwa, tanpa sepengetahuan dunia, Dia menyembunyikan diri-Nya dalam tubuh daging, tidak pernah melakukan sesuatu yang supranatural untuk dilihat oleh manusia; di sisi lain, Dia mengeluh karena umat manusia tidak mengenal-Nya. Namun demikian, tidak ada pertentangan dalam hal ini. Dalam kenyataannya, jika dilihat secara terperinci, tidak sulit untuk memahami bahwa ada dua sisi dalam cara Tuhan mencapai tujuan-Nya. Seandainya Tuhan mau melakukan tanda-tanda dan mukjizat yang supranatural, maka tanpa harus melakukan pekerjaan besar apa pun, Dia akan menghukum mati orang dengan mulut-Nya sendiri, orang itu pun akan serta-merta mati, dan dengan cara ini setiap manusia akan diyakinkan tetapi hal ini tidak akan mencapai tujuan Tuhan dalam mengambil rupa sebagai manusia. Jika Tuhan benar-benar melakukan hal ini, umat manusia, dengan pikiran sadar mereka, tidak akan pernah bisa percaya akan keberadaan-Nya, tidak akan pernah bisa benar-benar percaya, dan terlebih lagi akan salah mengira Tuhan sebagai Iblis. Bahkan yang lebih penting, umat manusia tidak akan pernah mengenal watak Tuhan: Bukankah ini salah satu aspek dari makna keberadaan Tuhan dalam rupa manusia? Jika umat manusia tidak mampu mengenal Tuhan, maka Tuhan akan selalu menjadi Tuhan yang samar, Tuhan yang supranatural, yang memegang kekuasaan dalam dunia manusia: Tidakkah ini akan berarti gagasan manusialah yang menguasai manusia? Atau, jika dinyatakan kembali secara lebih jelas, bukankah Iblis, si setan yang akan memegang kekuasaan? “Mengapa Aku mengatakan Aku akan mengambil kembali kekuasaan-Ku? Mengapa Aku mengatakan bahwa inkarnasi memiliki terlalu banyak makna?” Pada saat Tuhan menjadi daging, pada saat inilah Dia mengambil kembali kekuasaan-Nya; pada saat inilah juga keilahian-Nya secara langsung tampil ke depan untuk melakukan pekerjaan-Nya. Tahap demi tahap, setiap manusia mulai mengenal Tuhan yang nyata, dan karena ini maka tempat yang dikuasaioleh Iblis dalam hati manusia benar-benar terdesak sementara tempat Tuhan menjadi lebih besar. Dahulu, Tuhan yang ada dalam pikiran manusia dianggap sebagai citra Iblis, Tuhan yang tidak berwujud, tidak terlihat, namun orang percaya bahwa Tuhan ini bukan saja ada tetapi juga mampu melakukan segala macam tanda-tanda dan mukjizat supranatural serta menyingkapkan segala macam misteri, seperti keseraman orang-orang yang dirasuk Iblis. Ini cukup untuk membuktikan bahwa Tuhan dalam pikiran manusia bukanlah citra Tuhan melainkan citra dari makhluk selain Tuhan. Tuhan berkata bahwa Dia ingin mengambil tempat sebesar 0.1 persen di hati manusia, dan bahwa ini adalah standar tertinggi yang dituntut-Nya dari umat manusia. Pernyataan ini tidak hanya memiliki sisi yang dangkal; ada juga sisi realistisnya. Jika tidak dijelaskan dengan cara ini, orang akan menganggap tuntutan yang Tuhan ajukan terhadap mereka sangat rendah, seolah-olah Tuhan sedikit sekali memahami manusia. Bukankah ini psikologi manusia?

Jika seseorang menerima apa yang tertulis di atas dan merangkaikannya dengan teladan dari Petrus di bawah ini, mereka akan mendapati bahwa Petrus memang adalah orang yang mengenal Tuhan dengan sangat baik, karena ia mampu berpaling dari Tuhan yang samar dan mengejar pengetahuan tentang Tuhan yang nyata. Mengapa Tuhan ingin secara khusus mencatat bahwa orangtua Petrus adalah Iblis yang menentang Tuhan? Dari sini terbukti bahwa Petrus tidak mengejar Tuhan yang ada dalam hatinya sendiri, dan bahwa orangtuanya merepresentasikan Tuhan yang samar: Inilah tujuan Tuhan dalam mengangkat contoh mengenai orangtua Petrus. Sebagian besar orang tidak memperhatikan fakta ini secara khusus, sebaliknya mereka memusatkan perhatian pada doa-doa Petrus, sampai-sampai beberapa orang bahkan menyimpan doa-doa Petrus secara terus-menerus dalam mulut dan pikiran mereka, tetapi tidak pernah mempunyai pikiran untuk mengontraskan antara Tuhan yang samar dengan pengenalan Petrus akan Tuhan. Mengapa Petrus berbalik melawan orangtuanya dan berusaha mengenal Tuhan? Mengapa ia menyatukan pelajaran-pelajaran yang didapatnya dari orang-orang yang gagal di masa lalu untuk memacu dirinya sendiri melakukan upaya yang lebih besar? Mengapa ia berupaya untuk memahami iman dan kasih dari semua orang yang telah mengasihi Tuhan sepanjang zaman? Petrus mengerti bahwa segala hal yang positif berasal dari Tuhan — hal yang positif itu datang langsung dari Tuhan tanpa melalui pemrosesan apa pun oleh Iblis. Dari hal ini dapat dilihat bahwa Pribadi yang dikenalnya adalah Tuhan yang nyata dan bukan Tuhan yang supranatural. Mengapa Tuhan mengatakan bahwa Petrus memberi perhatian khusus terhadap upayanya untuk memahami iman dan kasih dari semua orang yang mengasihi Tuhan sepanjang zaman? Dari sini dapat dilihat bahwa alasan utama mengapa manusia sepanjang zaman telah mengalami kegagalan adalah karena mereka hanya memiliki iman dan kasih tetapi tidak mengenal Tuhan yang nyata, sehingga iman mereka tetap merupakan iman yang samar. Mengapa Tuhan hanya menyebutkan iman Ayub berulang kali tanpa pernah sekali pun mengatakan bahwa ia mengenal Tuhan, terlebih lagi menyebutnya lebih rendah daripada Petrus? Dari perkataan Ayub, “Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau,” orang dapat melihat bahwa Ayub hanya memiliki iman tetapi tidak memiliki pengetahuan. Membaca pernyataan, “Dengan contoh yang berkebalikan dari orangtuanya sebagai kontras, hal ini memungkinkan dirinya untuk lebih mudah mengenali kasih dan belas kasih-Ku,” kebanyakan orang akan terdorong untuk mengajukan banyak pertanyaan: Mengapa pengenalan Petrus akan Tuhan dikemukakan dengan sebuah contoh pembanding, tetapi tidak secara langsung? Mengapa ia hanya mengetahui tentang belas kasih dan kasih, tetapi hal-hal lainnya tidak disebutkan? Hanya ketika seseorang mengenali ketidaknyataan dari Tuhan yang samar, barulah ia mampu mengejar pengetahuan akan Tuhan yang nyata. Tujuan perkataan ini adalah menuntun orang untuk menghapuskan Tuhan yang samar dari hati mereka. Jika umat manusia telah mengenal wajah Tuhan yang sesungguhnya, sejak awal penciptaan hingga hari ini, mereka tidak akan sepenuhnya familier dengan cara-cara Iblis, seperti kata pepatah, “Orang tidak memperhatikan jalan yang rata sampai ia telah berjalan melintasi gunung,” yang membuat jelas maksud Tuhan dalam mengucapkan perkataan ini. Karena Dia ingin menuntun manusia untuk memahami lebih dalam kebenaran dari contoh yang telah dikemukakan-Nya, Tuhan dengan sengaja memberikan penekanan pada belas kasih dan kasih, yang membuktikan bahwa zaman di mana Petrus hidup adalah Zaman Kasih Karunia. Dilihat dari sudut pandang yang lain, hal ini mengungkapkan secara lebih gamblang wajah Iblis yang menyeramkan, yang semata-mata menjebak dan merusak umat manusia, karena itu memunculkan, bahkan dengan perbandingan yang lebih tajam, kasih dan belas kasihTuhan.

Tuhan juga menguraikan kenyataan tentang ujian yang dialami Petrus dan lebih lanjut menggambarkan keadaannya yang sebenarnya, sehingga manusia dapat lebih memahami hal berikut: bahwa Tuhan tidak hanya memiliki belas kasih dan kasih, tetapi Dia juga memiliki kemegahan dan murka, bahwa orang-orang yang hidup dalam damai belum tentu hidup di tengah-tengah berkat Tuhan. Selain itu, menceritakan kepada orang-orang tentang pengalaman Petrus setelah ujian yang dihadapinya menunjukkan secara lebih jelas lagi kebenaran perkataan Ayub ini: "Apakah kita mau menerima yang baik dari Tuhan, tetapi tidak mau menerima yang buruk?" Hal ini cukup untuk menunjukkan bahwa Petrus telah sampai pada pengenalan akan Tuhan seperti belum pernah terjadi sebelumnya, hal yang belum pernah dicapai oleh siapa pun di zaman sebelumnya: Inilah yang diperoleh Petrus ketika ia berupaya untuk memahami iman dan kasih dari semua orang yang telah mengasihi Tuhan sepanjang zaman dan menyatukan pelajaran-pelajaran yang didapatkan dari kegagalan masa lalu dalam rangka untuk menyemangati dirinya sendiri. Karena alasan inilah, siapa pun yang mencapai pengenalan sejati akan Tuhan disebut sebagai “buah,” dan Petrus merupakan salah satu di antaranya. Dalam doa-doa Petrus kepada Tuhan orang dapat melihat pengenalan sejati akan Tuhan yang didapatkannya melalui ujian yang dihadapinya, tetapi satu-satunya kekurangan yangkecil adalah Petrus tidak dapat sepenuhnya memahami kehendak Tuhan. Inilah sebabnya mengapa, atas dasar pengetahuan tentang Tuhan yang dicapai oleh Petrus, Tuhan telah mengajukan tuntutan untuk “hanya menempati 0.1 persen hati manusia.” Dengan mempertimbangkan kenyataan bahwa Petrus sekalipun, manusia yang mengenal Tuhan dengan sangat baik, tidak dapat secara tepat memahami kehendak Tuhan, dapat disimpulkan bahwa manusia tidak dilengkapi dengan instrument untuk mengenal Tuhan, karena Iblis telah merusak manusia sedemikian rupa, dan hal ini menuntun semua orang untuk mengetahui esensi dari umat manusia. Kedua kondisi awal ini─bahwa umat manusia tidak memiliki instrumen untuk mengenal Tuhan dan terlebih lagi telah dirusak oleh Iblis berulang kali—menciptakan sebuah kondisi untuk memperlihatkan kekuasaan Tuhan yang besar, karena hanya melalui penyampaian firman dan tanpa harus melakukan pekerjaan apa pun, Tuhan telah mengambil tempat tertentu di hati manusia. Mengapa mencapai 0.1 persen berarti mencapai penggenapan kehendak Tuhan? Jika hal ini dijelaskan berdasarkan kenyataan bahwa Tuhan tidak memberkati manusia dengan instrumen yang dibicarakan: Jika, tanpa adanya instrumen ini, umat manusia dapat mencapai seratus persen pengetahuan, maka setiap gerakan dan tindakan Tuhan akan menjadi kitab terbuka bagi manusia, dan mengingat sifat inheren manusia, ia akan langsung memberontak melawan Tuhan, bangkit untuk menentang-Nya secara terbuka (demikianlah cara Iblis mengalami kejatuhan). Jadi Tuhan tidak pernah meremehkan manusia. Hal ini karena Dia benar-benar telah membedah manusia, sehingga Dia tahu segalanya dengan luar biasa jelasnya, bahkan sampai seberapa banyakkah air bercampur dengan darah: maka seberapa lebih jelas lagikah Dia memahami sifat manusia yang jelas terlihat? Tuhan tidak pernah melakukan kesalahan, dan terlebih lagi, dalam mengucapkan firman-Nya, Dia memilih kata-kata-Nya dengan sangat teliti. Karena alasan ini, kenyataan bahwa Petrus tidak tepat dalam memahami kehendak Tuhan tidaklah bertentangan dengan kenyataan bahwa ia juga merupakan satu-satunya orang yang mengenal Tuhan dengan sangat baik, dan selain itu, kedua hal ini sama sekali tidak ada kaitannya. Bukan untuk mengarahkan perhatian orang kepada Petrus Tuhan mengemukakan contoh itu. Mengapa Petrus dapat mencapai pengenalan akan Tuhan jika seseorang seperti Ayub saja tidak mampu melakukannya? Mengapa Dia mengatakan bahwa manusia mampu mencapainya tetapi juga mengatakan bahwa hal itu disebabkan karena kekuasaan Tuhan yang besar? Apakah memang benar bahwa bakat bawaan manusia itu baik? Orang tidak mudah memahami hal ini—tidak seorang pun akan mengetahui makna yang terkandung di dalamnya kecuali Aku menjelaskannya. Tujuan firman ini adalah memampukan manusia mencapai bentuk persepsi tertentu, dan dari sana mereka akan memiliki rasa percaya diri untuk bekerjasama dengan Tuhan. Hanya dengan cara inilah Tuhan, didukung upaya manusia untuk bekerjasama dengan-Nya, dapat mengambil tindakan: Inilah situasi yang nyata di alam roh, sesuatu yang benar-benar tidak dapat dipahami oleh manusia. Menyingkirkan kedudukan Iblis dalam hati manusia dan memungkinkan Tuhan untuk mengambil kepemilikan sejak saat itu disebut dengan memukul mundur serangan Iblis; ketika hal ini telah dilakukan barulah dapat dikatakan bahwa Kristus telah turun ke bumi, dan baru pada saat itulah dapat dikatakan bahwa kerajaan-kerajaan di dunia telah menjadi kerajaan Kristus.

Di sini disebutkan bahwa Petrus telah menjadi teladan dan model bagi umat manusia selama ribuan tahun. Hal ini bukan semata-mata untuk menjelaskan secara terperinci kenyataan bahwa ia adalah teladan dan model: Perkataan ini merupakan cerminan dari adegan pertempuran yang nyata di alam roh. Selama ini Iblis telah bekerja dalam diri manusia, dengan harapan yang sia-sia untuk melahap umat manusia dan dengan demikian membuat Tuhan menghancurkan dunia dan kehilangan saksi-Nya. Tetapi Tuhan berkata: “Pertama-tama Aku akan menciptakan sebuah model sehingga Aku dapat mengambil tempat terkecil dalam hati manusia. Pada tahap ini, umat manusia tidak menyenangkan hati-Ku, juga tidak mengenal Aku sepenuhnya; meskipun demikian, dengan mengandalkan kekuatan-Ku yang besar, manusia akan dapat tunduk kepada-Ku sepenuhnya dan berhenti memberontak terhadap Aku, dan Aku akan menggunakan contoh ini untuk menaklukkan Iblis, dengan perkataan lain, Aku akan menggunakan kedudukan-Ku yang sebesar 0.1 persen itu untuk menekan semua kekuatan yang telah digunakan Iblis atas manusia.” Karena itu, hari ini, Tuhan telah mengangkat contoh tentang Petrus agar ia bisa melayani seluruh umat manusia sebagai teladan untuk diikuti. Jika hal ini dirangkaikan dengan bagian pembukaan, orang bisa melihat kebenaran dari apa yang dikatakan Tuhan tentang situasi yang nyata di alam roh: “Pada masa kini, segala sesuatu tidaklah seperti dahulu: Aku akan melakukan perkara-perkara, yang sejak awal penciptaan, belum pernah dilihat oleh dunia. Aku akan mengucapkan firman yang belum pernah didengar manusia sepanjang zaman, karena Aku meminta agar semua umat manusia mengenal-Ku dalam rupa manusia.” Dari hal ini orang dapat melihat, apa yang Tuhan katakan dahulu telah dimulai-Nya hari ini. Manusia hanya bisa melihat hal-hal yang tampak di luar dan bukan situasi yang nyata dalam alam roh. Karena alasan ini, Tuhan berkata secara langsung dan lugas: “Inilah langkah-langkah dalam pengelolaan-Ku, yang mengenainyaumat manusia tidak memiliki sedikit pun firasat. Bahkan ketika Aku berbicara tentang firman itu secara terbuka, pikiran manusia masih begitu bingung sehingga tidak mungkin untuk menjelaskannya kepada merekasecara terperinci. Di sinilah terletak kehinaan manusia yang sangat parah, bukan? Ada kata-kata yang tak terucapkan dalam firman ini, yang menjelaskan bahwa telah terjadi pertempuran di alam roh, sebagaimana telah disinggung di atas.

Menguraikan kisah Petrus masih belum sepenuhnya mencapai kehendak Tuhan, sehingga Tuhan mengajukan tuntutan berikut dalam kaitannya dengan peristiwa-peristiwa dalam kehidupan Petrus: “Di seluruh alam semesta dan bentangan langit yang tak terbatas, tak terhitung banyaknya ciptaan, tak terhitung banyaknya benda di bumi, dan tak terhitung banyaknya benda di surga, masing-masing orang mengabdikan seluruh kekuatan mereka demi tahap pekerjaan-Ku yang terakhir. Tentunya engkau semua tidak ingin tetap menjadi penonton di luar garis, digerakkan kesana kemari oleh kekuatan Iblis?” Menyaksikan pengetahuan Petrus sangat mencerahkan bagi umat manusia, karena itu, untuk mencapai hasil yang bahkan lebih baik lagi, Tuhan mengizinkan umat manusia untuk melihat akibat dari sikap yang tak terkendali dan sewenang-wenang serta ketidaktahuan tentang Dia, dan lebih lanjutmemberitahukan kepada umat manusia—sekali lagi dan dengan ketepatan yang lebih besar—tentang keadaan sebenarnya dari pertempuran di alam roh. Hanya dengan cara inilah umat manusia dapat menjadi lebih berhati-hati dalam menjaga diri mereka sendiri agar tidak tertangkap oleh Iblis; lebih lanjut, hal itu membuat jelas bahwa, kali ini, jika mereka jatuh, mereka tidak akan menerima keselamatan dari Tuhan lagi karena perbuatan mereka kali ini. Secara bersama-sama, beberapa peringatan ini, yang memperdalam kesan umat manusia terhadap firman Tuhan, telah membuat orang lebih menghargai belas kasih-Nya dan memegang kata-kata peringatan-Nya dengan lebih teliti, sehingga dapat benar-benar mencapai tujuan Tuhan untuk menyelamatkan umat manusia.

Sebelumnya:Penafsiran dari Perkataan Kelima

Selanjutnya:Penafsiran Perkataan Kedelapan

Anda Mungkin Juga Menyukai