Kami persilakan semua pencari kebenaran untuk menghubungi kami.

Penghancuran Sodom oleh Tuhan

185

(Kejadian 18:26) Lalu Yahweh berfirman: "Jika Aku mendapati lima puluh orang benar di dalam kota Sodom, Aku akan mengampuni seluruh tempat itu karena mereka."

(Kejadian 18:29) Lalu Abraham berkata kepada-Nya lagi, "Misalkan ada empat puluh orang benar didapati di sana." Dia berfirman: "Aku tidak akan melakukannya."

(Kejadian 18:30) Dan ia berkata kepada-Nya, "Misalkan ada tiga puluh orang benar ditemukan di sana." Dia berfirman: "Aku tidak akan berbuat demikian."

(Kejadian 18:31) Katanya, "Misalkan ada dua puluh orang benar didapati di sana." Dia berfirman: "Aku tidak akan menghancurkannya."

(Kejadian 18:32) Dan ia berkata Katanya, "Misalkan ada sepuluh orang benar didapati di sana." Dia berfirman: "Aku tidak akan menghancurkannya"

Ini adalah beberapa kutipan yang telah Aku pilih dari Alkitab. Kutipan ini bukan versi asli yang lengkap. Jika engkau semua ingin melihat versi lengkapnya, engkau semua dapat melihatnya sendiri di Alkitab. Untuk menghemat waktu, Aku telah menghilangkan bagian dari isi yang asli. Di sini Aku hanya memilih beberapa ayat dan kalimat yang penting, meninggalkan beberapa kalimat yang tidak ada hubungannya dengan topik persekutuan kita pada hari ini. Dalam semua ayat dan isi yang kita bahas, fokus kita akan melewatkan beberapa rincian peristiwa dan perilaku manusia dalam kisah-kisah tersebut. Sebagai gantinya, kita hanya akan membicarakan tentang pemikiran dan gagasan Tuhan pada saat itu. Dalam pemikiran dan gagasan Tuhan, kita akan melihat watak Tuhan, dan dari segala sesuatu yang Tuhan lakukan, kita akan melihat Tuhan itu sendiri yang benar─dan dalam hal ini kita akan mencapai tujuan kita.

Tuhan Hanya Memedulikan Mereka yang Mampu Menaati Firman-Nya dan Mengikuti Perintah-Nya

Ayat-ayat di atas mengandung beberapa kata kunci: jumlah. Pertama, Yahweh berkata jika Dia mendapati lima puluh orang benar di dalam kota, Dia akan mengampuni seluruh tempat itu, yang artinya, Dia tidak akan menghancurkan kota tersebut. Jadi, sebenarnya, apakah ada lima puluh orang benar di kota Sodom? Tidak ada. Segera setelah itu, apakah yang Abraham katakan kepada Tuhan? Dia berkata, misalkan empat puluh didapati di sana? Tuhan berkata, Aku tidak akan melakukannya. Selanjutnya, Abraham berkata, misalkan tiga puluh didapati di sana? Tuhan berkata, Aku tidak akan melakukannya. Misalkan dua puluh? Aku tidak akan melakukannya. Sepuluh? Aku tidak akan melakukannya. Adakah, sebenarnya, sepuluh orang benar di kota itu? Tidak ada sepuluh─tetapi hanya ada satu. Dan siapakah satu orang ini? Dia adalah Lot. Pada waktu itu, hanya ada satu orang benar di Sodom, tetapi apakah Tuhan bersikap sangat ketat atau menuntut ketika berhubungan dengan jumlah ini? Tidak! Jadi, ketika manusia terus bertanya, "Bagaimana kalau empat puluh?" "Bagaimana kalau tiga puluh?" hingga ia sampai "Bagaimana kalau sepuluh?" Tuhan berkata: "Bahkan jika hanya ada sepuluh, Aku tidak akan menghancurkan kota itu; Aku akan mengampuninya, dan mengampuni orang-orang lain di samping yang sepuluh ini." Sepuluh sudah cukup menyedihkan, tetapi sebenarnya ternyata, orang benar sejumlah itu pun tidak ada di kota Sodom. Jadi, engkau melihat bahwa di mata Tuhan, dosa dan kejahatan orang-orang kota itu sudah sedemikian rupa sehingga Tuhan tidak punya pilihan lain selain menghancurkan mereka. Apakah maksud Tuhan ketika Dia mengatakan bahwa Dia tidak akan menghancurkan kota jika ada lima puluh orang benar? Jumlah ini tidak penting bagi Tuhan. Yang penting adalah apakah di kota tersebut terdapat orang benar yang Dia inginkan atau tidak. Apabila hanya ada satu orang benar di kota itu, Tuhan tidak akan membiarkan mereka datang untuk melukainya oleh karena penghancuran-Nya atas kota tersebut. Ini berarti bahwa, terlepas dari apakah Tuhan akan menghancurkan kota itu atau tidak, dan terlepas dari berapa jumlah orang benar yang ada di dalamnya, bagi Tuhan, kota yang penuh dosa ini terkutuk dan memuakkan, harus dihancurkan dan harus lenyap dari mata Tuhan, sementara orang benar harus terluput. Tanpa memandang zaman, tanpa memandang tahap perkembangan umat manusia, sikap Tuhan tidak berubah: Dia membenci kejahatan dan peduli kepada orang-orang yang benar di mata-Nya. Sikap Tuhan yang jelas ini juga merupakan penyingkapan sejati dari hakikat Tuhan. Karena hanya ada satu orang benar di dalam kota, Tuhan tidak ragu lagi. Hasil akhirnya adalah Sodom mau tidak mau harus dihancurkan. Apakah yang engkau semua lihat dalam hal ini? Pada zaman itu, Tuhan tidak akan menghancurkan kota jika terdapat lima puluh orang benar di dalamnya, atau jika terdapat sepuluh orang benar, yang artinya Tuhan memutuskan untuk mengampuni dan bersikap toleran terhadap umat manusia, atau akan melakukan pekerjaan pembimbingan, karena beberapa orang yang mampu untuk menghormati dan menyembah-Nya. Tuhan sangat mengindahkan perbuatan benar manusia, Dia sangat mengindahkan mereka yang mampu menyembah-Nya dan Dia sangat mengindahkan mereka yang mampu melakukan perbuatan baik di hadapan-Nya.

Tuhan Berlimpah dengan Belas Kasihan Terhadap Mereka yang Dia Pedulikan, dan Sangat Murka terhadap Mereka yang Dia Benci dan Tolak

Dalam catatan Alkitab, apakah terdapat sepuluh orang hamba Tuhan di Sodom? Tidak! Apakah kota itu layak diampuni oleh Tuhan? Hanya satu orang di kota─Lot─yang menerima utusan Tuhan. Kesimpulan hal ini adalah bahwa hanya ada satu orang hamba Tuhan di kota itu, dan dengan demikian, Tuhan tidak punya pilihan lain selain menyelamatkan Lot dan menghancurkan kota Sodom. Dialog antara Abraham dan Tuhan ini mungkin tampak sederhana, tetapi dialog itu menggambarkan sesuatu yang sangat mendalam, yaitu: ada prinsip di balik tindakan-tindakan Tuhan, dan sebelum mengambil keputusan Dia akan menghabiskan banyak waktu untuk mengamati dan mempertimbangkan. Sebelum saat yang tepat tiba, Dia pasti tidak akan mengambil keputusan atau menarik kesimpulan apa pun. Dialog antara Abraham dan Tuhan menunjukkan kepada kita bahwa keputusan Tuhan untuk menghancurkan Sodom sama sekali tidak salah, karena Tuhan sudah tahu bahwa di kota tersebut tidak terdapat empat puluh orang benar, juga tidak terdapat tiga puluh orang benar, atau dua puluh. Bahkan sepuluh pun tidak ada. Satu-satunya orang benar di kota itu adalah Lot. Semua yang terjadi di Sodom dan bagaimana keadaannya diamati oleh Tuhan, dan diketahui oleh Tuhan sejelas punggung tangan-Nya sendiri. Jadi, keputusan-Nya tidak mungkin salah. Sebaliknya, dibandingkan dengan kemahakuasaan Tuhan, manusia sangat bebal, sangat bodoh dan tidak tahu apa-apa, sangat picik. Inilah yang kita lihat dalam dialog antara Abraham dan Tuhan. Tuhan telah menyingkapkan watak-Nya dari sejak semula hingga sekarang. Demikian pula di sini, ada watak Tuhan yang seharusnya bisa kita lihat. Jumlah-jumlah tersebut adalah hal yang sederhana dan tidak menunjukkan apa pun, tetapi ada ungkapan watak Tuhan yang sangat penting di sini. Tuhan tidak akan menghancurkan kota karena lima puluh orang benar. Apakah ini dikarenakan belas kasihan Tuhan? Apakah ini karena kasih dan toleransi-Nya? Sudahkah engkau semua melihat sisi dari watak Tuhan ini? Bahkan seandainya hanya ada sepuluh orang benar, Tuhan tidak akan menghancurkan kota oleh karena kesepuluh orang benar ini. Bukankah ini adalah toleransi dan kasih Tuhan? Karena belas kasihan, toleransi dan kepedulian Tuhan terhadap orang-orang benar itu, Dia tidak akan menghancurkan kota. Inilah toleransi Tuhan. Dan pada akhirnya, hasil apakah yang kita lihat? Ketika Abraham berkata: "Misalkan ada sepuluh orang benar didapati di sana." Tuhan berkata: "Aku tidak akan menghancurkannya." Setelah itu, Abraham tidak berkata-kata lagi─karena di dalam kota Sodom tidak terdapat sepuluh orang benar yang ia sebutkan, dan tidak ada lagi yang perlu dikatakannya. Pada saat itulah ia mengerti kenapa Tuhan berketetapan untuk menghancurkan Sodom. Dalam hal ini, watak Tuhan apakah yang engkau semua lihat? Ketetapan macam apakah yang Tuhan buat? Artinya, jika di kota ini tidak terdapat sepuluh orang benar, Tuhan tidak akan mengizinkan keberadaannya, dan mau tidak mau harus menghancurkannya. Bukankah inilah murka Tuhan? Apakah murka ini merepresentasikan watak Tuhan? Apakah watak ini merupakan penyingkapan hakikat kekudusan Tuhan? Apakah ini merupakan penyingkapan hakikat kebenaran Tuhan, yang tidak boleh dilanggar manusia? Setelah memastikan bahwa tidak ada sepuluh orang benar di Sodom, Tuhan pun berkeyakinan untuk menghancurkan kota, dan menghukum berat orang-orang di dalam kota tersebut, karena mereka menentang Tuhan, dan karena mereka begitu kotor dan rusak.

Mengapa kita menganalisis perikop ini dengan cara seperti ini? Karena beberapa kalimat sederhana ini mengungkapkan secara penuh watak Tuhan yaitu belas kasihan yang berkelimpahan serta murka yang mendalam. Pada saat yang sama Dia menghargai orang benar, berbelas kasihan, menoleransi, dan memedulikan mereka. Di dalam hati Tuhan terdapat kebencian yang dalam terhadap semua orang di Sodom yang telah rusak. Apakah ini belas kasihan yang berkelimpahan dan murka yang mendalam atau bukan? Dengan cara apakah Tuhan menghancurkan kota? Dengan api. Mengapa Dia menghancurkannya dengan menggunakan api? Ketika engkau melihat sesuatu dibakar oleh api, atau ketika engkau akan membakar sesuatu, apa yang engkau rasakan terhadapnya? Mengapa engkau ingin membakarnya? Apakah engkau merasa bahwa engkau tidak membutuhkannya lagi, bahwa engkau tidak ingin melihatnya lagi? Apakah engkau ingin mengabaikannya? Tuhan menggunakan api berarti pengabaian dan kebencian, dan bahwa Dia tidak ingin melihat Sodom lagi. Ini adalah emosi yang membuat Tuhan membumihanguskan Sodom dengan api. Penggunaan api menggambarkan betapa marahnya Tuhan. Belas kasihan dan toleransi Tuhan memang ada, tetapi kekudusan dan kebenaran Tuhan ketika Dia melepaskan murka-Nya juga memperlihatkan kepada manusia sisi dari Tuhan yang tidak dapat menoleransi pelanggaran. Ketika manusia sepenuhnya mampu menaati perintah Tuhan dan bertindak sesuai dengan persyaratan Tuhan, Tuhan pun berlimpah dalam belas kasih-Nya terhadap manusia. Ketika manusia telah dipenuhi kerusakan, kebencian dan permusuhan terhadap-Nya, Tuhan pun sangat marah. Sampai sejauh manakah kemarahan-Nya yang sedemikian mendalam itu? Murka-Nya akan terus berlanjut sampai Tuhan tidak lagi melihat perlawanan dan perbuatan jahat manusia, sampai semua itu tidak lagi ada di depan mata-Nya. Hanya dengan demikian kemarahan Tuhan akan lenyap. Dengan kata lain, tidak peduli siapa orangnya, jika hati mereka telah menjauh dari Tuhan dan berpaling dari Tuhan, tidak pernah kembali lagi, maka, terlepas dari bagaimana, terlepas dari semua penampilan, atau dalam hal keinginan subjektif mereka, mereka ingin menyembah, mengikuti, dan menaati Tuhan dalam tubuh atau pemikiran mereka, begitu hati mereka berpaling dari Tuhan, murka Tuhan pun akan dilepaskan tanpa henti. Sedemikian rupa sehingga ketika Tuhan secara mendalam melepaskan amarah-Nya, setelah memberi begitu banyak kesempatan kepada manusia, begitu kemarahan itu dilepaskan, tidak mungkin bisa ditarik kembali, dan Dia tidak akan pernah lagi berbelas kasihan dan bersikap toleran terhadap manusia semacam itu. Inilah satu sisi dari watak Tuhan yang tidak menoleransi pelanggaran. Di sini, tampaknya normal bagi manusia bahwa Tuhan akan menghancurkan sebuah kota, karena di mata Tuhan, kota yang penuh dosa tidak bisa tetap ada dan terus ada, dan masuk akal bahwa kota itu harus dihancurkan oleh Tuhan. Namun, dalam apa yang terjadi sebelum dan sesudah penghancuran Sodom oleh-Nya, kita melihat keseluruhan watak Tuhan. Dia toleran dan penuh belas kasihan terhadap hal-hal yang baik, indah dan bagus. Terhadap hal-hal yang buruk, berdosa dan jahat, Dia sangat murka, sedemikian murkanya sampai Dia tidak berhenti dalam kemurkaan-Nya itu. Inilah dua aspek utama dan yang paling menonjol dari watak Tuhan, dan terlebih dari itu, keduanya telah diungkapkan oleh Tuhan dari awal hingga akhir, yaitu belas kasihan yang berkelimpahan dan murka yang mendalam. Kebanyakan dari antaramu di sini pernah mengalami sesuatu dari belas kasihan Tuhan, tetapi sangat sedikit di antaramu yang telah menghargai murka Tuhan. Belas kasihan dan kasih setia Tuhan dapat terlihat dalam diri setiap orang. Artinya Tuhan telah begitu melimpah dalam belas kasihan-Nya terhadap setiap orang. Namun sangat jarang─atau, bisa dikatakan, tidak pernah─Tuhan marah secara mendalam terhadap siapa pun atau bagian mana pun dari orang-orang di antaramu di sini sekarang ini. Tenang saja! Cepat atau lambat, murka Tuhan akan terlihat dan dialami oleh setiap orang, tetapi sekarang belum saatnya. Mengapa belum saatnya? Karena ketika Tuhan terus menerus marah kepada seseorang, yaitu, ketika Dia melepaskan murka-Nya yang mendalam kepada mereka, ini berarti Dia telah sejak lama membenci dan menolak orang ini, bahwa Dia membenci keberadaan mereka, dan tidak dapat lagi menahan keberadaan mereka. Begitu kemarahan-Nya dilepaskan terhadap mereka, mereka pun akan musnah. Sekarang ini, pekerjaan Tuhan belum mencapai titik itu. Tidak seorang pun di antaramu akan dapat bertahan begitu Tuhan menjadi sangat marah. Maka, engkau melihat bahwa pada saat ini Tuhan hanya berkelimpahan dalam belas kasihan-Nya terhadap engkau semua, dan engkau semua belum melihat kemarahan-Nya yang mendalam. Apabila ada mereka yang tetap tidak yakin, engkau semua dapat meminta agar murka Tuhan datang kepadamu, sehingga engkau semua akan mengalami apakah kemarahan Tuhan dan watak-Nya yang tidak dapat dilanggar terhadap manusia itu benar-benar ada atau tidak. Apakah engkau semua berani?

dari "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

MediaTerkait