Aplikasi Seluler mengenai Gereja Tuhan Yang Mahakuasa

Mendengarkan suara Tuhan dan menyambut kedatangan Tuhan Yesus kembali!

Kami persilakan semua pencari kebenaran untuk menghubungi kami.

Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia

Warna yang Kuat

Tema

Font

Ukuran Font

Spasi Baris

Lebar laman

% Hasil Pencarian

Hasil tidak ditemukan

Kasih Sejati kepada Tuhan Itu Spontan

Semua orang telah mengalami pemurnian karena firman Tuhan. Jika bukan karena Tuhan berinkarnasi, manusia benar-benar tidak akan diberkati untuk menderita seperti itu. Dengan kata lain—mereka yang dapat menerima ujian dari firman Tuhan adalah orang yang diberkati. Berdasarkan watak asli manusia, perilaku mereka, dan sikap mereka terhadap Tuhan, mereka tidak layak menerima pemurnian seperti ini. Itu karena mereka telah diangkat oleh Tuhan sehingga mereka menikmati berkat ini. Dulu manusia mengatakan bahwa mereka tidak layak melihat wajah Tuhan atau mendengar firman-Nya. Hari ini sepenuhnya karena pengangkatan Tuhan dan belas kasih-Nya manusia menerima pemurnian dari firman-Nya. Ini adalah berkat dari setiap orang yang hidup di akhir zaman - pernahkah engkau semua secara pribadi mengalami ini? Dalam hal apa manusia harus menderita dan mengalami kemunduran ditentukan oleh Tuhan, dan tidak didasarkan pada kebutuhan manusia sendiri. Ini mutlak benar. Setiap orang beriman harus memiliki kemampuan untuk menjalani ujian dari firman Tuhan dan menderita di dalam firman-Nya. Apakah ini sesuatu yang dapat engkau semua lihat dengan jelas? Jadi penderitaan yang engkau alami telah ditukar dengan berkat hari ini; jika engkau tidak menderita demi Tuhan, engkau tidak dapat memperoleh pujian-Nya. Mungkin engkau pernah mengeluh di masa lalu, tetapi tidak peduli seberapa banyak engkau mengeluh, Tuhan tidak mengingat hal itu pada dirimu. Hari ini telah datang dan tidak ada alasan untuk melihat masalah yang lalu.

Sebagian orang mengatakan bahwa mereka berusaha mengasihi Tuhan tetapi tidak bisa, dan ketika mereka mendengar bahwa Tuhan akan pergi, maka mereka mengasihi Dia. Sebagian orang umumnya tidak mengamalkan kebenaran, dan ketika mereka mendengar bahwa Tuhan akan pergi dalam kemarahan mereka datang di hadapan-Nya dan berdoa: "Ya Tuhan! Tolong jangan pergi. Beri aku kesempatan! Tuhan! Aku belum memuaskan Engkau di masa lalu; Aku telah berhutang budi kepada Engkau dan menolak Engkau. Hari ini aku bersedia untuk sepenuhnya mempersembahkan tubuh dan hatiku sehingga akhirnya aku dapat memuaskan Engkau dan mengasihi Engkau. Aku tidak akan memiliki kesempatan itu lagi. " Sudahkah Engkau berdoa seperti itu? Ketika seseorang berdoa seperti ini, itu karena hati nurani mereka telah dibangkitkah oleh firman Tuhan. Semua manusia mati rasa dan bodoh. Mereka mengalami hajaran dan pemurnian namun mereka tidak tahu apa yang diinginkan Tuhan . Jika Tuhan tidak bekerja dengan cara ini, manusia akan tetap bingung; tidak ada yang bisa mengilhami perasaan spiritual di hati manusia. Hanya firman Tuhan yang menghakimi dan menelanjangi manusia yang dapat menghasilkan buah itu. Jadi, semua hal tercapai dan terpenuhi karena firman Tuhan, dan hanya karena firman-Nya kasih manusia kepada Tuhan telah dibangkitkan. Jika manusia hanya mengasihi Tuhan berdasarkan hati nurani mereka sendiri, mereka tidak akan melihat hasilnya. Bukankah manusia mendasarkan kasih mereka kepada Tuhan pada hati nurani mereka di masa lalu? Adakah satu orang yang berinisiatif untuk mengasihi Tuhan? Hanya melalui dorongan firman Tuhan mereka mengasihi Tuhan. Sebagian orang berkata: "Aku telah mengikuti Tuhan selama bertahun-tahun dan menikmati begitu banyak kasih karunia-Nya, begitu banyak berkat. Aku sudah mengalami pemurnian dan penghakiman dari firman-Nya. Jadi aku mulai memahami banyak hal, dan aku telah melihat kasih Tuhan. Aku harus bersyukur kepada-Nya, aku harus membalas kasih karunia-Nya. Aku akan memuaskan Tuhan dengan kematian, dan aku akan mendasarkan kasihku kepada Dia pada hati nuraniku. " Jika orang hanya mengandalkan perasaan hati nurani mereka, mereka tidak dapat merasakan kasih Tuhan; jika mereka hanya mengandalkan hati nurani mereka, kasih mereka kepada Tuhan akan lemah. Jika engkau hanya berbicara tentang membalas kasih karunia dan kasih Tuhan, engkau tidak akan memiliki dorongan dalam kasih engkau kepada-Nya; mengasihi Dia berdasarkan perasaan hati nurani engkau adalah pendekatan pasif. Mengapa Aku mengatakan bahwa itu adalah pendekatan pasif? Ini masalah praktis. Kasih seperti apa ini? Bukankah itu berarti berusaha menipu Tuhan dan hanya berpura-pura mengasihi Dia? Kebanyakan orang percaya bahwa mengasihi Tuhan tidak ada pahalanya, dan orang juga akan dihajar karena tidak mengasihi Dia, jadi secara keseluruhan hanya tidak berbuat dosa saja sudah cukup baik. Jadi mengasihi Tuhan dan membalas kasih-Nya berdasarkan perasaan hati nurani seseorang adalah pendekatan pasif, dan itu bukan kasih kepada Tuhan yang datang secara spontan dari hati seseorang. Kasih kepada Tuhan harus merupakan perasaan yang tulus dari dalam lubuk hati seseorang. Sebagian orang berkata: "Aku sendiri bersedia mengejar Tuhan dan mengikuti Dia. Sekarang Tuhan ingin meninggalkan aku tetapi aku masih ingin mengikuti Dia. Apakah Dia menginginkan aku atau tidak, aku akan tetap mengasihi Dia, dan pada akhirnya aku harus mendapatkan Dia. Aku menyerahkan hatiku kepada Tuhan, dan tidak peduli apa yang Dia lakukan, aku akan mengikuti Dia seumur hidupku. Bagaimanapun, aku harus mengasihi Tuhan dan aku harus mendapatkan Dia; aku tidak akan beristirahat sampai aku mendapatkan-Nya. " Apakah engkau memiliki keinginan seperti ini?

Jalan percaya kepada Tuhan adalah jalan untuk mengasihi-Nya. Jika engkau percaya kepada-Nya engkau harus mengasihi Dia; namun, mengasihi Dia tidak hanya mengacu pada membalas kasih-Nya atau mengasihi-Nya berdasarkan perasaan hati nurani—itu adalah kasih yang murni kepada Tuhan. Ada kalanya orang hanya mengandalkan hati nurani mereka dan mereka tidak dapat merasakan kasih Tuhan. Mengapa Aku selalu berkata: "Semoga Roh Tuhan menggerakkan jiwa kita"? Mengapa Aku tidak berbicara tentang menggerakkan hati nurani manusia untuk mengasihi Tuhan? Itu karena hati nurani manusia tidak bisa merasakan kasih Tuhan. Jadi jika engkau tidak yakin dengan firman itu, engkau dapat menggunakan hati nurani untuk merasakan kasih-Nya, dan engkau akan mengalami suatu dorongan pada saat itu tetapi kemudian dorongan itu akan lenyap. Jika engkau hanya menggunakan hati nurani untuk merasakan kasih Tuhan, engkau mengalami dorongan ketika engkau berdoa, tetapi setelah itu hilang begitu saja, dorongan itu menghilang. Mengapa begitu? Jika engkau hanya menggunakan hati nurani, engkau tidak akan dapat membangkitkan kasihmu kepada Tuhan; ketika engkau benar-benar merasakan kasih-Nya di dalam hati, rohmu akan digerakkan oleh-Nya, dan hanya pada saat itulah hati nuranimu akan dapat memainkan peran aslinya. Artinya ketika manusia telah digerakkan oleh Tuhan dalam roh mereka dan ketika hati mereka telah mendapatkan pengetahuan dan dorongan, yaitu, setelah mereka memperoleh pengalaman, baru kemudian mereka akan dapat secara efektif mengasihi Tuhan dengan hati nurani mereka. Mengasihi Tuhan dengan hati nuranimu tidak salah—ini adalah tingkat terendah dari mengasihi Tuhan. Cara kasih manusia yang nyaris tidak memperlakukan kasih karunia Tuhan dengan keadilan benar-benar tidak dapat mendorong jalan masuk proaktif mereka. Ketika manusia mendapatkan sebagian dari pekerjaan Roh Kudus, yaitu, ketika mereka melihat dan merasakan kasih Tuhan dalam pengalaman praktis mereka, ketika mereka memiliki pengetahuan tentang Tuhan dan benar-benar melihat bahwa Tuhan sangat layak mendapatkan kasih manusia dan betapa pengasihnya Dia, baru kemudian manusia dapat benar-benar mengasihi Tuhan.

Ketika manusia menghubungi Tuhan dengan hati mereka, ketika hati mereka dapat sepenuhnya berpaling kepada-Nya, ini adalah langkah pertama dari kasih manusia kepada Tuhan. Jika engkau ingin mengasihi Tuhan, engkau harus terlebih dahulu dapat memalingkan hatimu kepada-Nya. Apa yang memalingkan hatimu kepada Tuhan? Ketika semua yang ingin engkau capai dalam hatimu adalah demi mengasihi dan mendapatkan Tuhan, maka ini menunjukkan bahwa engkau telah sepenuhnya memalingkan hatimu kepada Tuhan. Selain dari Tuhan dan firman-Nya, hampir tidak ada hal lain di dalam hatimu (keluarga, kekayaan, suami, istri, anak-anak, atau hal-hal lain). Walaupun masih ada, mereka tidak dapat memenuhi hatimu, dan engkau tidak memikirkan prospek masa depanmu tetapi engkau hanya berusaha mengasihi Tuhan. Pada saat itu engkau sepenuhnya memalingkan hatimu kepada Tuhan. Jika engkau masih membuat rencana untuk dirimu sendiri di dalam hatimu, berarti engkau selalu mengejar keuntungan pribadimu sendiri: "Kapan aku dapat membuat satu permintaan kecil dari Tuhan? Kapan keluargaku menjadi kaya? Bagaimana aku bisa mendapatkan pakaian bagus? ... " Jika engkau hidup dalam keadaan seperti itu, itu menunjukkan bahwa hatimu belum sepenuhnya berpaling kepada Tuhan. Jika di dalam hatimu hanya ada firman Tuhan dan engkau dapat berdoa kepada Tuhan dan menjadi dekat dengan-Nya sepanjang waktu, seolah-olah Dia sangat dekat denganmu, seolah-olah Tuhan ada di dalam dirimu dan engkau ada di dalam Dia, jika engkau dalam keadaan seperti itu, itu berarti hatimu sudah di hadirat Tuhan. Jika engkau berdoa kepada Tuhan dan memakan serta meminum firman-Nya setiap hari, selalu memikirkan pekerjaan gereja, jika engkau menunjukkan pertimbangan terhadap kehendak Tuhan, menggunakan hatimu untuk benar-benar mengasihi Dia dan memuaskan hati-Nya, maka hatimu akan menjadi milik Tuhan. Jika hatimu dipenuhi oleh sejumlah hal lain, maka hatimu masih dipenuhi oleh Iblis dan hatimu belum benar-benar berpaling kepada Tuhan. Ketika hati seseorang benar-benar berpaling kepada Tuhan, mereka akan memiliki kasih yang tulus dan spontan kepada Dia dan akan dapat mempertimbangkan pekerjaan Tuhan. Meskipun mereka masih akan memiliki keadaan yang bodoh dan tidak masuk akal, mereka akan dapat mempertimbangkan kepentingan rumah Tuhan, pekerjaan-Nya, dan perubahan watak mereka. Hati mereka akan sepenuhnya benar. Sebagian orang selalu mengibarkan bendera gereja tidak peduli apa yang mereka lakukan; sebenarnya, itu demi keuntungan mereka sendiri. Orang seperti itu tidak memiliki motif yang benar. Dia bengkok dan penipu dan sebagian besar hal yang dia lakukan adalah mencari keuntungan pribadinya sendiri. Orang seperti itu tidak berusaha mengasihi Tuhan; hatinya masih milik Iblis dan tidak bisa berpaling kepada Tuhan. Tuhan tidak bisa mendapatkan orang seperti itu.

Langkah pertama agar benar-benar mengasihi Tuhan dan didapatkan oleh-Nya adalah dengan sepenuhnya memalingkan hatimu kepada Tuhan. Dalam setiap hal yang engkau lakukan, cari sendiri dan tanyakan: "Apakah aku melakukan ini berdasarkan hati yang mengasihi Tuhan? Apakah ada niat pribadi di dalamnya? Apa tujuanku sebenarnya dalam melakukan ini?" Jika engkau ingin menyerahkan hatimu kepada Tuhan, engkau harus terlebih dahulu menundukkan hatimu sendiri, meninggalkan semua niatmu sendiri, dan mencapai tahap menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan. Ini adalah jalan untuk melaksanakan penyerahan hatimu kepada Tuhan. Apa yang dimaksud dengan menundukkan hati sendiri? Ini berarti melepaskan hasrat berlebih-lebihan dari raga seseorang, tidak menginginkan berkah status atau menginginkan kenyamanan, melakukan segalanya untuk memuaskan Tuhan, sehingga hati seseorang dapat sepenuhnya untuk Dia, bukan untuk kepentingannya sendiri.

Kasih sejati kepada Tuhan berasal dari dalam hati; itu adalah kasih yang hanya ada atas dasar pengetahuan manusia tentang Tuhan. Ketika hati seseorang benar-benar berpaling kepada Tuhan, maka mereka memiliki kasih kepada Tuhan, tetapi kasih itu belum tentu murni dan kasih itu belum tentu penuh. Ini karena ada jarak tertentu antara hati orang yang sepenuhnya berpaling kepada Tuhan dan orang yang memiliki pemahaman sejati tentang Tuhan dan pemujaan yang tulus kepada-Nya. Jalan bagi seseorang untuk mencapai kasih sejati Tuhan dan mengenal watak Tuhan adalah dengan memalingkan hati mereka kepada Tuhan. Setelah mereka menyerahkan hati tulus mereka kepada Tuhan, mereka akan mulai memasuki pengalaman hidup, dan dengan demikian watak mereka akan mulai berubah, kasih mereka pada Tuhan akan tumbuh secara bertahap, dan pengetahuan mereka tentang Tuhan juga akan meningkat secara bertahap. Jadi memalingkan hati seseorang kepada Tuhan adalah prasyarat untuk mendapatkan jalur pengalaman hidup yang benar. Ketika manusia menempatkan hati mereka di hadapan Tuhan, mereka hanya memiliki hati yang merindukan-Nya tetapi bukan kasih untuk-Nya, karena mereka tidak memiliki pemahaman tentang Dia. Meskipun dalam keadaan ini mereka memang memiliki kasih kepada-Nya, kasih itu tidak spontan dan tidak murni. Ini karena segala sesuatu yang berasal dari raga manusia adalah efek emosional dan tidak berasal dari pemahaman sejati. Itu hanya dorongan sesaat dan tidak bisa menjadi pemujaan yang bertahan lama. Ketika orang tidak memiliki pemahaman tentang Tuhan, mereka hanya dapat mengasihi-Nya berdasarkan keinginan mereka sendiri dan gagasan pribadi mereka sendiri; kasih seperti ini tidak bisa disebut kasih spontan, juga tidak bisa disebut kasih sejati. Ketika hati seseorang benar-benar berpaling kepada Tuhan, mereka mampu memikirkan kepentingan Tuhan dalam segala hal, tetapi jika mereka tidak memiliki pemahaman itu mereka tidak mampu memiliki kasih yang benar-benar spontan. Yang bisa mereka lakukan adalah melaksanakan sebagian tugas untuk gereja dan melakukan sebagian tugas mereka, tetapi itu tanpa akar atau dasar. Orang semacam itu memiliki watak yang sulit diubah; mereka semua adalah orang-orang yang tidak mengejar kebenaran, atau tidak memahaminya. Walaupun seseorang benar-benar memalingkan hati mereka kepada Tuhan, itu tidak berarti bahwa hati kasih mereka kepada Tuhan benar-benar murni, karena mereka yang memiliki Tuhan di dalam hati mereka belum tentu memiliki kasih kepada Tuhan di dalam hati mereka. Ini menyangkut perbedaan antara seseorang yang mengejar dan tidak mengejar pemahaman tentang Tuhan. Setelah seseorang memiliki pemahaman tentang Dia, itu menunjukkan bahwa hati mereka sepenuhnya telah berpaling kepada Tuhan, itu menunjukkan bahwa kasih sejati mereka kepada Tuhan di dalam hati mereka bersifat spontan. Hanya orang seperti itu yang memiliki Tuhan di dalam hati mereka. Memalingkan hati seseorang kepada Tuhan adalah prasyarat bagi mereka untuk mendapatkan jalur yang benar, untuk memahami Tuhan, dan untuk mencapai kasih Tuhan. Itu bukan tanda selesainya kewajiban mereka untuk mengasihi Tuhan, juga bukan tanda memiliki kasih sejati kepada-Nya. Satu-satunya cara bagi seseorang untuk mencapai kasih sejati Tuhan adalah dengan memalingkan hati mereka kepada-Nya, yang juga merupakan hal pertama yang harus dilakukan oleh makhluk-Nya. Mereka yang mengasihi Tuhan adalah semua orang yang mencari kehidupan, yaitu orang yang mencari kebenaran dan orang-orang yang benar-benar menginginkan Tuhan; mereka semua mendapat pencerahan Roh Kudus dan telah digerakkan oleh-Nya. Mereka semua bisa dibimbing oleh Tuhan.

Ketika seseorang dapat merasakan bahwa mereka berhutang budi kepada Tuhan itu karena mereka telah digerakkan oleh Roh Kudus; jika mereka merasakan itu, maka mereka cenderung memiliki hati yang rindu dan akan mampu mencapai jalan masuk ke dalam kehidupan. Tetapi jika engkau berhenti pada tahap tertentu, engkau tidak akan bisa masuk lebih dalam; masih ada bahaya terjebak di jaring Iblis, dan setelah mencapai tahap tertentu engkau akan ditawan oleh Iblis. Penerangan Tuhan memungkinkan manusia mengenal diri mereka sendiri, dan setelah itu memungkinkan mereka merasakan hutang budi mereka kepada Tuhan, dan merasa bersedia bekerja sama dengan-Nya dan membuang hal-hal yang tidak menyenangkan Dia. Ini adalah prinsip kerja Tuhan. Engkau semua bersedia untuk tumbuh dewasa dalam kehidupan engkau semua dan mengasihi Tuhan, jadi apakah engkau telah membuang cara-cara yang dangkal dari dirimu? Jika engkau hanya membuang cara-cara itu dari dirimu dan engkau tidak menyebabkan gangguan atau memamerkan dirimu sendiri, apakah itu benar-benar mengejar pertumbuhan dalam hidupmu? Jika engkau tidak melakukan perilaku dangkal sama sekali tetapi engkau tidak memasuki firman Tuhan. Itu berarti engkau adalah orang yang tidak mengalami kemajuan proaktif. Apa penyebab perilaku yang dangkal? Apakah tindakanmu demi pertumbuhan dalam hidupmu? Apakah engkau berusaha agar memenuhi syarat untuk menjadi salah satu umat Tuhan? Apa pun yang engkau fokuskan adalah apa yang engkau menghidupi; jika engkau berfokus pada cara-cara yang dangkal, maka hatimu terfokus secara eksternal, dan engkau tidak akan dapat untuk mengejar pertumbuhan dalam hidupmu. Tuhan menuntut perubahan watak, tetapi engkau selalu mengejar hal-hal jasmani; orang seperti ini tidak akan dapat mengubah watak mereka! Setiap orang menempuh jalan tertentu sebelum mereka menjadi dewasa dalam hidup mereka, yaitu bahwa mereka harus menerima penghakiman, hajaran, dan penyempurnaan firman Tuhan. Kalau engkau tidak punya firman Tuhan tetapi engkau hanya mengandalkan kepercayaan dan kemauanmu sendiri, semua yang engkau lakukan hanya didasarkan pada semangat. Artinya, jika engkau menginginkan pertumbuhan dalam hidupmu, engkau harus makan dan minum, dan lebih memahami firman Tuhan. Semua orang yang disempurnakan oleh firman-Nya dapat menghidupi firman itu; mereka yang tidak menjalani pemurnian firman-Nya, yang tidak menjalani penghakiman firman-Nya tidak cocok untuk digunakan-Nya. Jadi sejauh mana engkau semua menghidupi firman-Nya? Hanya jika engkau semua memakan dan meminum firman Tuhan dan dapat membandingkannya dengan keadaan hidupmu sendiri, dan menemukan jalan pelaksanaan sehubungan dengan masalah yang aku bahas, baru kemudian perbuatanmu menjadi benar. Itu juga akan sesuai dengan hati Tuhan. Hanya orang yang melakukan perbuatan seperti ini yang memiliki keinginan untuk mengasihi Tuhan.

Sebelumnya:Hanya Mereka yang Mengenal Pekerjaan Tuhan Saat Ini yang Dapat Melayani Tuhan

Selanjutnya:Kenali Pekerjaan Tuhan yang Terbaru dan Ikuti Jejak-Nya

Anda Mungkin Juga Menyukai