Aplikasi Seluler mengenai Gereja Tuhan Yang Mahakuasa

Mendengarkan suara Tuhan dan menyambut kedatangan Tuhan Yesus kembali!

Kami persilakan semua pencari kebenaran untuk menghubungi kami.

Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia

Warna yang Kuat

Tema

Font

Ukuran Font

Spasi Baris

Lebar laman

% Hasil Pencarian

Hasil tidak ditemukan

Hanya dengan Mengalami Pemurnian maka Manusia Dapat Sungguh-Sungguh Mengasihi Tuhan

Bagaimana manusia harus mengasihi Tuhan selama pemurnian? Setelah mengalami pemurnian, selama pemurnian orang mampu memuji Tuhan dengan sungguh-sungguh sekaligus melihat seberapa besar kekurangan mereka. Semakin besar pemurnianmu, semakin mampu pula engkau dapat menolak daging; semakin besar pemurnian mereka, semakin besar pula kasih orang kepada Tuhan. Inilah yang harus engkau sekalian pahami. Mengapa orang harus dimurnikan? Dampak apa yang ingin dicapai dari ini? Apa pentingnya pekerjaan Tuhan berupa pemurnian manusia? Apabila engkau sungguh-sungguh mencari Tuhan, setelah mengalami pemurnian-Nya hingga taraf tertentu engkau akan merasa bahwa itu sungguh baik, dan bahwa itu teramat sangat penting. Bagaimana manusia harus mengasihi Tuhan selama pemurnian? Dengan bertekad untuk mengasihi Tuhan untuk menerima pemurnian-Nya: selama pemurnian berlangsung engkau akan merasa tersiksa di dalam, seolah-olah sebuah pisau dipelintir di dalam hatimu, tetapi engkau siap memuaskan Tuhan dengan menggunakan hatimu, yang mengasihi-Nya, dan engkau tidak ingin merasa peduli akan daging. Inilah yang dimaksudkan dengan melakukan kasih Tuhan. Engkau merana di dalam, dan penderitaanmu telah mencapai titik tertentu, tetapi engkau tetap bersedia datang di hadapan Tuhan dan berdoa, mengucapkan: "Ya, Tuhan! Aku tidak dapat meninggalkan Engkau. Walaupun ada kegelapan dalam diriku, aku ingin memuaskan Engkau; Engkau menyelami hatiku, dan aku ingin Engkau menanamkan lebih banyak kasih Engkau dalam diriku." Ini dilakukan selama pemurnian. Apabila engkau memakai kasih Tuhan sebagai dasar, pemurnian dapat membuatmu lebih dekat kepada Tuhan dan menjadikanmu lebih akrab dengan Tuhan. Karena engkau percaya kepada Tuhan, engkau harus menyerahkan hatimu di hadapan Tuhan. Apabila engkau mempersembahkan dan meletakkan hatimu di hadapan Tuhan, selama pemurnian engkau tidak mungkin dapat menyangkal Tuhan, atau meninggalkan Tuhan. Dengan begitu, hubunganmu dengan Tuhan menjadi kian dekat, dan bahkan lebih biasa lagi, dan persekutuanmu dengan Tuhan akan menjadi kian kerap. Apabila engkau selalu melakukan ini, maka engkau akan menghabiskan lebih banyak waktu dalam cahaya Tuhan, dan lebih banyak waktu di bawah petunjuk firman-Nya, selain itu juga akan terjadi semakin banyak saja perubahan pada watakmu, dan pengetahuanmu akan bertambah setiap hari. Bila hari itu tiba dan ujian dari Tuhan tiba-tiba menimpamu, engkau bukan saja akan mampu berdiri di sisi Tuhan, tetapi juga akan memberi kesaksian akan Tuhan. Pada saat itu, engkau akan seperti Ayub, dan Petrus. Setelah memberi kesaksian akan Tuhan engkau akan sungguh-sungguh mengasihi Tuhan, dan dengan senang hati mengorbankan nyawamu untuk-Nya; engkau akan menjadi saksi Tuhan, dan seseorang yang dikasihi oleh Tuhan. Kasih yang telah mengalami pemurnian adalah kuat, dan tidak lemah. Terlepas dari kapan atau bagaimana Tuhan akan mengujimu lewat ujian-Nya, engkau mampu untuk tidak memedulikan apakah engkau akan hidup atau mati, untuk dengan senang hati menyingkirkan semuanya untuk Tuhan, dan untuk dengan semringah menjalani apa pun juga untuk Tuhan—dan dengan begitu kasihmu akan murni, dan imanmu nyata. Hanya pada saat itulah engkau akan menjadi seseorang yang sungguh-sungguh dikasihi oleh Tuhan, dan yang sungguh-sungguh telah disempurnakan oleh Tuhan.

Apabila orang masuk dalam pengaruh Iblis, mereka tidak mempunyai kasih kepada Tuhan dalam diri mereka, dan visi-visi, kasih, dan tekad mereka terdahulu telah lenyap. Dahulu orang merasa bahwa mereka harus menderita untuk Tuhan, tetapi kini mereka berpikir bahwa itu membuat malu dan mereka berkeluh kesah tiada henti. Inilah pekerjaan Iblis; ia menunjukkan bahwa manusia telah masuk dalam wilayah kekuasaan Iblis. Apabila engkau mendapati keadaan ini, engkau harus berdoa; dan berputarlah haluan secepat engkau bisa—ini akan melindungimu terhadap siasat-siasat Iblis. Selama berlangsungnya pemurnian yang pahitlah manusia menjadi paling rentan terhadap pengaruh Iblis—jadi, bagaimana engkau harus mengasihi Tuhan selama pemurnian tersebut? Engkau harus mengumpulkan kehendakmu, meletakkan hatimu di hadapan Tuhan dan mencurahkan waktu terakhirmu untuk-Nya. Tidak peduli dengan cara apa Tuhan memurnikanmu, engkau harus mampu melakukan kebenaran guna memenuhi kehendak Tuhan, dan engkau harus memikul tugas mencari Tuhan dan mencari persekutuan dengan Tuhan. Pada masa-masa ini, semakin engkau pasif semakin negatif pula engkau akan bersikap, dan semakin mudah pula bagi engkau untuk mengalami regresi. Apabila tiba saatnya engkau menunaikan fungsimu, walaupun engkau tidak menunaikannya secara baik, engkau mengerahkan seluruh daya upayamu, dan engkau melakukannya semata-mata dengan mengandalkan kasih engkau kepada Tuhan; terlepas dari apa yang dikatakan oleh orang lain—apakah bahwa engkau telah berprestasi baik atau berprestasi kurang—motivasimu sudah tepat, dan engkau tidak menganggap diri benar, karena engkau bertindak atas nama Tuhan. Bila orang lain telah salah menafsirkanmu, engkau mampu berdoa kepada Tuhan dan berkata: "Ya, Tuhan! Aku tidak meminta orang lain menoleransi saya, atau mengampuniku. Aku hanya meminta agar aku mampu mengasihi Engkau dalam hatiku, agar aku mantap dalam hati-Ku, dan agar nuraniku jernih. Aku tidak minta disanjung oleh orang, atau dihormati oleh orang; aku hanya berusaha untuk memuaskan Engkau dari hatiku, aku menjalani peranku dengan berbuat sesuai dengan kemampuan maksimalku, dan walaupun aku bodoh dan kurang pikir, dan berkaliber rendah, dan buta, aku tahu bahwa Engkau indah, dan aku rela mencurahkan segala yang saya miliki kepada Engkau." Begitu engkau berdoa seperti ini, kasihmu kepada Tuhan akan muncul, dan engkau akan merasakan kepastian yang lebih besar dalam hatimu. Inilah yang dimaksud dengan melakukan kasih Tuhan. Seiring dengan mengalaminya, engkau akan gagal dua kali dan berhasil satu kali, atau gagal lima kali dan berhasil dua kali, dan seiring engkau menjalani pengalaman ini dengan cara itu, hanya di tengah-tengah kegagalan engkau akan bisa melihat kecantikan Tuhan dan menemukan hal-hal yang kurang dalam dirimu. Bila engkau kembali mendapati keadaan-keadaan demikian, engkau mesti berhati-hati, kendalikan langkah-langkahmu, dan berdoalah lebih kerap. Engkau secara bertahap akan mengembangkan kemampuan untuk berjaya dalam keadaan-keadaan demikian. Bila itu terjadi, doa-doamu berarti manjur. Bila engkau mendapati dirimu berhasil pada saat ini, engkau akan merasa puas dalam dirimu, dan begitu engkau berdoa engkau akan bisa merasakan Tuhan, dan bahwa kehadiran Roh Kudus belum meninggalkanmu—dan hanya pada saat itulah engkau akan tahu bagaimana Tuhan bekerja dalam dirimu. Melakukannya dengan cara ini akan membuka jalur pengalaman untukmu. Apabila kebenaran tidak dilakukan olehmu, engkau tidak akan ditemani oleh kehadiran Roh Kudus dalam dirimu. Namun, apabila engkau melakukannya, walaupun engkau terluka di dalam, setelahnya Roh Kudus akan berada bersama denganmu, engkau akan mampu merasakan kehadiran Tuhan bila engkau berdoa, engkau akan memiliki kekuatan untuk melakukan firman Tuhan, dan selama persekutuan dengan saudara-saudarimu tidak ada yang membebani nuranimu, dan engkau akan merasa damai, dan dengan cara ini, engkau akan mampu mengungkap apa yang telah engkau lakukan. Terlepas dari apa kata orang, engkau akan mampu menjalin hubungan yang biasa dengan Tuhan, engkau tidak akan dikekang oleh orang lain, engkau akan bangkit di atas segalanya—dan dalam ini, engkau akan mempertunjukkan bahwa engkau melakukan firman Tuhan secara efektif.

Semakin besar pemurnian Tuhan, semakin besar pula hati orang mampu mengasihi Tuhan. Siksaan dalam hati mereka bermanfaat bagi hidup mereka, mereka lebih mampu untuk berada dalam keadaan damai di hadapan Tuhan, hubungan mereka dengan Tuhan bertambah dekat, dan mereka lebih mampu melihat kasih agung Tuhan dan keselamatan agung-Nya. Petrus mengalami pemurnian hingga ratusan kali, dan Ayub menjalani sejumlah ujian. Apabila engkau sekalian ingin disempurnakan oleh Tuhan, engkau sekalian pun harus mengalami pemurnian hingga ratusan kali banyaknya; hanya apabila engkau sekalian harus melewati proses ini, dan harus mengandalkan langkah ini, engkau sekalian akan dapat memuaskan kehendak Tuhan, dan dijadikan sempurna oleh Tuhan. Pemurnian merupakan cara terbaik Tuhan menjadikan orang sempurna; hanya pemurnian dan ujian pahit yang dapat memunculkan kasih sejati kepada Tuhan dalam hati orang. Tanpa kesukaran, orang tidak memiliki kasih sejati kepada Tuhan; apabila mereka belum diuji di dalam, dan belum sungguh-sungguh ditempa oleh pemurnian, maka hati mereka akan selalu mengambang di dunia luar. Begitu dimurnikan hingga taraf tertentu, engkau akan melihat kelemahan dan kesulitan dirimu sendiri, engkau akan melihat apa saja kekuranganmu dan bahwa engkau tidak mampu mengatasi banyaknya masalah yang engkau hadapi, dan engkau akan melihat betapa besarnya pembangkanganmu. Hanya selama ujian orang akan mengetahui keadaan mereka yang sesungguhnya, dan ujian menjadikan orang lebih mampu untuk disempurnakan.

Selama masa hidupnya, Petrus mengalami pemurnian hingga ratusan kali dan menjalani banyak ujian yang menyakitkan. Pemurnian ini menjadi landasan untuk kasih agung dia kepada Tuhan, dan menjadi pengalaman paling penting dalam seluruh hidupnya. Bahwasanya dia mampu memiliki kasih yang agung kepada Tuhan bisa dikatakan adalah karena tekadnya untuk mengasihi Tuhan; akan tetapi, yang lebih penting ialah karena pemurnian dan penderitaan yang dia lalui. Penderitaan tersebut menjadi petunjuknya pada jalur mengasihi Tuhan, dan menjadi hal yang paling berkesan baginya. Apabila orang tidak mengalami sakitnya pemurnian kala mengasihi Tuhan, kasih mereka sarat kealamian dan preferensi-preferensi mereka; kasih seperti ini penuh dengan gagasan-gagasan Iblis, dan pendek kata tidak dapat memuaskan kehendak Tuhan. Bertekad untuk mengasihi Tuhan tidak sama dengan sungguh-sungguh mengasihi Tuhan. Meskipun hal yang mereka pikirkan dalam hati mereka adalah demi mengasihi Tuhan, dan memuaskan Tuhan, seakan-akan pikiran mereka tanpa gagasan-gagasan manusia, seakan-akan mereka semua adalah demi Tuhan, kala pikiran-pikiran mereka dibawa di hadapan Tuhan, pikiran-pikiran tersebut tidak dipuji atau diberkati oleh Tuhan. Bahkan bila orang telah memahami seluruh kebenaran—bila mereka telah mengetahui semuanya—ini tidak dapat dikatakan sebagai pertanda mengasihi Tuhan, tidak dapat dikatakan bahwa orang-orang ini benar mengasihi Tuhan. Meskipun telah memahami banyak kebenaran tanpa menjalani pemurnian, orang tidak mampu melakukan kebenaran-kebenaran ini dalam hidup mereka; hanya selama pemurnian saja orang dapat memahami makna sesungguhnya kebenaran-kebenaran ini, hanya dengan begitu orang dapat dengan sungguh-sungguh menghargai makna batin mereka. Pada saat itu, kala mereka berusaha kembali, mereka mampu melakukan kebenaran dalam hidup mereka dengan tepat, dan sesuai dengan kehendak Tuhan; pada saat itu, gagasan-gagasan kemanusiaan mereka menyusut, kealamian kemanusiaan mereka berkurang, dan emosi-emosi kemanusiaan mereka menurun; hanya pada saat itulah praktik mereka menjadi perwujudan sejati kasih kepada Tuhan. Dampak kebenaran kasih kepada Tuhan tidak diraih lewat pengetahuan lisan atau kesediaan mental, ia juga tidak dapat diraih cukup dengan memahaminya. Ia menuntut agar orang membayar suatu harga, dan agar mereka mengalami banyak kepahitan selama pemurnian, dan hanya dengan begitu kasih mereka akan menjadi murni, dan seturut hati Tuhan sendiri. Dalam ketetapan-Nya agar manusia mengasihi-Nya, Tuhan tidak menuntut bahwa manusia mengasihi-Nya dengan gairah atau kealamian; hanya lewat kesetiaan dan penggunaan kebenaran untuk melayani-Nya manusia dapat sungguh-sungguh mengasihi-Nya. Akan tetapi, manusia hidup di tengah-tengah kealamian, dan dengan demikian ia tidak mampu memakai kebenaran dan kesetiaan untuk melayani Tuhan. Manusia kelewat bergairah akan Tuhan atau terlalu dingin dan cuek, dia mengasihi Tuhan secara fanatik atau membencinya secara fanatik pula. Mereka yang hidup di tengah-tengah kealamian senantiasa hidup di antara dua titik ekstrem tersebut, dan mereka senantiasa hidup dalam keadaan hampa kebenaran, dan meyakini bahwasanya merekalah yang benar. Meskipun Aku sudah berulang kali menyinggung hal ini, orang tidak mampu menanggapinya dengan serius, mereka tidak mampu mencerna pentingnya secara penuh, dan jadilah mereka hidup di tengah-tengah iman penipuan diri, dan dalam khayalan kasih akan Tuhan yang tidak memiliki kebenaran. Sepanjang sejarah, seiring berkembangnya umat manusia dan berlalunya zaman demi zaman, syarat Tuhan untuk manusia semakin tinggi, dan semakin kerap saja Dia menuntut agar manusia bersikap absolut terhadap-Nya. Namun, pengetahuan manusia tentang Tuhan justru telah menjadi kian samar dan abstrak, dan secara bersamaan kasih manusia akan Tuhan menjadi kian takmurni. Keadaan manusia dan segala hal yang dia lakukan semakin bertentangan saja dengan kehendak Tuhan, itu adalah karena manusia telah semakin dalam dirusak oleh Iblis. Akibatnya, Tuhan harus melakukan lebih banyak, dan lebih besar, pekerjaan penyelamatan. Manusia telah menjadi semakin rewel dalam syarat-syaratnya kepada Tuhan, dan kasihnya kepada Tuhan telah semakin berkurang saja. Orang hidup dalam pembangkangan, tanpa kebenaran, dan mereka menjalani hidup yang tampa kemanusiaan; mereka bukan saja tidak memiliki sedikit pun kasih kepada Tuhan, tetapi mereka juga penuh pembangkangan dan pertentangan. Walaupun mereka berpikir telah memiliki kasih yang paling hebat untuk Tuhan, dan telah bersikap begitu akomodatif terhadap-Nya, Tuhan tidak setuju. Bagi Dia sungguh begitu jelas betapa tercemarnya kasih manusia kepada-Nya, dan Dia tidak pernah mengubah pendirian-Nya tentang manusia karena penurutan hawa nafsu oleh manusia, Dia juga tidak pernah membalas iktikad baik manusia sebagai buah pengabdiannya. Tidak seperti manusia, Tuhan bisa melakukan pembedaan. Dia tahu siapa yang sungguh-sungguh mengasihi-Nya dan siapa yang tidak, dan alih-alih digeluti gairah dan menjadi kehilangan akal-Nya karena dorongan hati sesaat manusia, Dia memperlakukan manusia seturut hakikat dan perilaku manusia. Tuhan adalah Tuhan dan Dia bermartabat, dan berwawasan; manusia adalah manusia, dan kepala Tuhan tidak akan berpaling oleh suatu kasih kepada manusia yang bertentangan dengan kebenaran. Sebaliknya, Dia memperlakukan segala sesuatu yang manusia lakukan dengan tepat.

Begitu diperhadapkan dengan keadaan manusia dan sikapnya terhadap Tuhan, Tuhan telah melakukan pekerjaan baru, yang memungkinan manusia untuk memiliki pengetahuan tentang maupun ketaatan kepada-Nya, dan kasih dan kesaksian. Jadi, manusia harus menjalani pengalaman pemurniannya dari Tuhan, selain penghakiman, penanganan, dan pemangkasan Dia terhadap manusia, yang tanpa itu manusia tidak akan pernah dapat mengetahui Tuhan, dan tidak pernah akan mampu mengasihi dan memberi kesaksian akan diri-Nya. Pemurnian manusia oleh Tuhan bukanlah semata-mata demi suatu dampak yang satu belah, tetapi adalah demi suatu dampak multifaset. Hanya lewat cara ini Tuhan melakukan pekerjaan pemurnian dalam mereka yang bersedia mencari kebenaran, yaitu agar tekad dan kasih manusia disempurnakan oleh Tuhan. Bagi mereka yang bersedia mencari kebenaran, dan yang mendambakan Tuhan, tidak ada hal lain yang lebih bermakna, atau lebih membantu, daripada pemurnian seperti ini. Watak Tuhan tidak mudah diketahui atau dipahami oleh manusia, karena bagaimanapun juga Tuhan adalah Tuhan. Pada akhirnya, Tuhan tidak mungkin berwatak sama dengan manusia, dan oleh karena itu tidaklah mudah bagi manusia untuk mengetahui watak-Nya. Kebenaran tidak dimiliki oleh manusia secara inheren, dan ia tidak mudah dipahami oleh mereka-mereka yang telah dirusak oleh Iblis; manusia hampa kebenaran, dan tanpa tekad untuk melakukan kebenaran dalam hidupnya, dan apabila dia tidak menderita, dan apabila dia tidak dimurnikan atau dihakimi, tekad tersebut tidak pernah akan dijadikan sempurna. Bagi semua orang, pemurnian sungguh menyiksa, dan sangat sulit untuk diterima—namun, selama pemurnianlah Tuhan menjadikan watak-Nya yang adil dapat dipahami dengan jelas oleh manusia, dan mengumumkan syarat-syarat-Nya untuk manusia, dan memberikan lebih banyak pencerahan, dan lebih banyak pemangkasan dan penanganan aktual; lewat pembandingan fakta dan kebenaran, Dia memberikan manusia pengetahuan yang lebih besar tentang diri-Nya dan kebenaran, dan memberikan manusia pemahaman yang lebih besar akan kehendak Tuhan, sehingga manusia dapat memiliki kasih akan Tuhan yang lebih benar dan lebih murni. Itulah tujuan-tujuan Tuhan dalam menjalankan pemurnian. Segala pekerjaan yang dilakukan oleh Tuhan dalam manusia memiliki tujuan dan pentingnya tersendiri; Tuhan tidak melakukan pekerjaan yang tidak berarti atau yang tidak bermanfaat bagi manusia. Pemurnian bukan berarti menyingkirkan manusia dari hadapan Tuhan, juga bukan berarti menghancurkannya di neraka. Arti pemurnian adalah mengubah watak manusia selama pemurnian, mengubah motivasinya, pandangan-pandangan lamanya, mengubah kasihnya terhadap Tuhan, dan mengubah seluruh hidupnya. Pemurnian merupakan ujian nyata manusia, dan suatu bentuk pelatihan yang nyata, dan hanya selama pemurnianlah kasih manusia dapat memenuhi fungsinya yang inheren.

Sebelumnya:Cara Petrus Mengenal Yesus

Selanjutnya:Mereka yang Mengasihi Tuhan Selamanya Hidup dalam Terang-Nya

Anda Mungkin Juga Menyukai