Aplikasi Seluler mengenai Gereja Tuhan Yang Mahakuasa

Mendengarkan suara Tuhan dan menyambut kedatangan Tuhan Yesus kembali!

Kami persilakan semua pencari kebenaran untuk menghubungi kami.

Kesaksian bagi Kristus di Akhir Zaman

Warna yang Kuat

Tema

Font

Ukuran Font

Spasi Baris

Lebar laman

% Hasil Pencarian

Hasil tidak ditemukan

11. Apa perbedaan antara melakukan tugas kita dan memberikan pelayanan?

Firman Tuhan yang Relevan:

Tidak ada hubungan antara tugas manusia dan apakah dia diberkati atau dikutuk. Tugas adalah apa yang manusia harus lakukan; itu adalah tugas wajibnya dan tidak bergantung pada kondisi, alasan, atau kompensasi. Hanya dengan demikianlah dia melakukan tugasnya. Manusia yang diberkati menikmati kebaikan ketika disempurnakan setelah penghakiman. Manusia yang dikutuk menerima penghakiman ketika wataknya tidak berubah setelah mengalami hajaran dan penghakiman, karena dia tidak disempurnakan. Sebagai makhluk ciptaan, manusia harus memenuhi tugasnya, melakukan apa yang harus dilakukan, dan melakukan apa yang mampu dilakukannya, terlepas dari apakah dia akan diberkati atau dikutuk. Ini adalah persyaratan dasar bagi manusia, yang mencari Tuhan. Engkau tidak seharusnya melakukan kewajibanmu hanya untuk diberkati, dan engkau tidak seharusnya menolak bertindak karena takut dikutuk. Aku beritahukan satu hal: Jika manusia mampu melakukan tugasnya, itu berarti dia melakukan apa yang harus dilakukannya. Jika manusia tidak mampu melakukan kewajibannya, itu menunjukkan pemberontakannya. Manusia akan diubahkan bertahap selalu lewat proses melakukan kewajibannya, dan lewat proses ini juga dia menunjukkan kesetiaannya. Karena itu semakin banyak tugas yang bisa engkau lakukan, semakin banyak kebenaran yang engkau akan terima, dan semakin nyata pengungkapanmu. Mereka yang hanya sekadar melakukan tugas dan tidak mencari kebenaran, akan dihukum pada akhirnya, karena orang-orang seperti itu tidak melakukan tugas mereka dalam melakukan kebenaran dan tidak melakukan kebenaran dalam rangka memenuhi tugasnya. Orang-orang seperti itu tidak akan berubah dan akan dikutuk. Tidak hanya pengungkapan mereka tidak murni, tetapi yang mereka ungkapkan tidak lain adalah kejahatan.

Dikutip dari "Perbedaan Antara Pelayanan Tuhan

yang Berinkarnasi dan Tugas Manusia"

dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

Terlepas dari talenta, bakat, atau keterampilan apa pun yang dimiliki orang, mereka hanya menggunakan kekuatan mereka dalam melaksanakan tugas mereka dan melakukan segala sesuatu. Terlepas dari apa yang mereka lakukan, mereka bergantung pada imajinasi, gagasan, atau naluri mereka sendiri. Mereka tidak pernah mencari kehendak Tuhan, dan tidak memiliki konsep atau kebutuhan di dalam hati mereka, dengan mengatakan, "Aku melakukan tugasku. Aku harus mengamalkan kebenaran." Satu-satunya titik awal bagi pemikiran mereka adalah melakukan pekerjaan dengan baik dan menyelesaikan tugas. Jadi, apakah ini adalah seseorang yang hidup sepenuhnya dengan bakat, talenta, kemampuan, dan keterampilan mereka? Dalam iman orang-orang seperti ini, mereka hanya berpikir untuk menggunakan kekuatan mereka, menjual tenaga mereka sendiri, menjual keterampilan mereka sendiri. Terutama ketika rumah Tuhan memberi mereka tugas umum yang harus dilakukan, kebanyakan orang melakukan pendekatan terhadap segala sesuatu dengan sudut pandang ini. Yang mereka lakukan adalah menggunakan diri mereka sendiri. Terkadang itu berarti menggunakan mulut mereka, terkadang menggunakan tangan dan kekuatan fisik mereka, terkadang menggunakan mata mereka, dan terkadang itu berarti sibuk melakukan berbagai hal. Mengapa dikatakan bahwa hidup dengan semua hal itu berarti menggunakan kekuatan seseorang, dan bukan berarti mengamalkan kebenaran? Seseorang diberi tugas oleh rumah Tuhan, dan mereka hanya memikirkan bagaimana menyelesaikan tugas ini sesegera mungkin sehingga mereka dapat memberikan laporan kepada para pemimpin gereja dan mendapatkan pujian mereka. Mereka mungkin menyampaikan rencana yang sistematis. Mereka tampak sangat sungguh-sungguh, tetapi mereka fokus pada tidak lebih dari menyelesaikan tugas demi penampilan, atau ketika mereka melakukannya, mereka menetapkan standar mereka sendiri: bagaimana melakukannya sehingga mereka merasa bahagia dan puas, dengan mencapai tingkat kesempurnaan yang mereka perjuangkan. Terlepas dari rencana atau standar apa yang mereka tetapkan, jika tidak ada hubungan dengan kebenaran, jika mereka tidak mencari kebenaran atau berusaha untuk memahami dan mengonfirmasi apa yang Tuhan minta dari mereka sebelum mengambil tindakan, tetapi sebaliknya mereka bertindak secara membabi buta, dalam kebingungan, ini berarti hanya menggunakan diri mereka. Mereka bertindak sesuai dengan keinginan mereka sendiri, menurut otak atau bakat mereka sendiri, atau sesuai dengan kemampuan dan keterampilan mereka sendiri. Dan apa konsekuensi dari melakukan tugas mereka dengan cara seperti ini? Tugas itu mungkin telah selesai, tidak ada yang dapat melihat kesalahannya, dan engkau mungkin merasa sangat senang dengan tugas itu. Namun, dalam melakukan tugas itu, pertama: engkau tidak memahami maksud Tuhan; dan kedua: engkau tidak melakukannya dengan segenap hati, dengan segenap pikiran, dan dengan segenap kekuatanmu—engkau tidak melakukannya dengan sepenuh hati. Jika engkau telah mencari prinsip-prinsip kebenaran, jika engkau telah mencari kehendak Tuhan, engkau akan 90% efektif dalam menyelesaikan tugasmu. Engkau juga akan dapat memasuki kenyataan kebenaran, dan engkau akan secara akurat memahami bahwa apa yang sedang engkau lakukan sejalan dengan kehendak Tuhan. Namun, jika engkau ceroboh dan serampangan, meskipun tugas itu mungkin telah diselesaikan, di dalam hatimu, engkau tidak akan tahu tentang seberapa baik engkau melakukannya. Engkau tidak akan memiliki patokan. Engkau tidak akan tahu apakah itu sesuai dengan kehendak Tuhan atau tidak, atau apakah itu sesuai dengan kebenaran atau tidak. Oleh karena itu, jika tugas dilakukan dalam keadaan seperti ini, ini dapat disebut dengan dua kata—menggunakan dirimu. ...

Setiap orang yang percaya kepada Tuhan harus memahami kehendak-Nya. Hanya mereka yang memenuhi tugasnya dengan benar yang dapat memuaskan Tuhan, dan hanya dengan menyelesaikan tugas yang Dia percayakan kepada mereka, mereka akan dapat memenuhi tugas mereka sesuai standar. Ada standar untuk pelaksanaan amanat Tuhan. Tuhan Yesus berkata: "Kasihilah Tuhanmu dengan sepenuh hatimu, dan dengan segenap jiwamu, dan dengan semua kekuatanmu, dan dengan seluruh akal budimu." Mengasihi Tuhan adalah salah satu aspek dari apa yang Tuhan tuntut dari manusia. Sebenarnya, jika Tuhan memberi amanat kepada manusia, ketika mereka melakukan tugas mereka dari iman mereka, standar yang Dia tuntut dari mereka adalah ini: dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dengan segenap pikiranmu, dan dengan segenap kekuatanmu. Jika engkau hadir tetapi hatimu tidak, jika engkau memikirkan tugas dengan kepalamu dan menyimpannya dalam ingatan, tetapi engkau tidak mencurahkan hatimu ke dalamnya, dan jika engkau mencapai segala hal menggunakan kemampuanmu sendiri, apakah itu menyelesaikan amanat Tuhan? Jadi, standar apa yang harus dicapai untuk melakukan tugasmu dengan benar dan mencapai apa yang dipercayakan Tuhan kepadamu, dan untuk menjalankan tugasmu dengan setia? Standarnya adalah melakukan tugasmu dengan segenap hati, dengan segenap jiwa, dengan segenap pikiran, dengan segenap kekuatanmu. Jika engkau tidak memiliki hati yang mengasihi Tuhan, upayamu untuk memenuhi tugasmu dengan benar tidak akan berhasil. Jika kasihmu kepada Tuhan bertumbuh semakin kuat dan semakin murni, engkau tentu saja akan mampu melakukan tugasmu dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dengan segenap akal budimu, dan dengan segenap kekuatanmu.

Dikutip dari "Dengan Apa Manusia Hidup Selama Ini"

dalam "Rekaman Pembicaraan Kristus"

Bagi sebagian orang, apa pun masalah yang mereka hadapi ketika melaksanakan tugas, mereka tidak mencari kebenaran dan selalu bertindak sesuai dengan gagasan, imajinasi, dan keinginan mereka sendiri. Mereka selalu memuaskan keinginan egois mereka sendiri dan watak rusak mereka selalu mendominasi tindakan mereka. Meskipun mereka dapat menyelesaikan tugas yang dipercayakan kepada mereka, mereka tidak mendapatkan kebenaran apa pun. Jadi, bergantung pada apa orang ini dalam melaksanakan tugasnya? Mereka tidak bergantung pada kebenaran dan mereka tidak mengandalkan Tuhan. Sedikit kebenaran yang mereka pahami belum menguasai hati mereka. Mereka mengandalkan karunia dan kemampuan mereka sendiri, pengetahuan yang telah mereka peroleh dan talenta mereka, dan juga tekad mereka sendiri atau niat baik untuk menyelesaikan tugas ini. Meskipun terkadang engkau dapat mengandalkan kealamian, imajinasi, gagasan, pengetahuan, dan kepandaianmu dalam melaksanakan tugasmu, tidak ada masalah prinsip yang muncul dalam segala hal yang engkau lakukan. Secara lahiriah, tampaknya engkau tidak menempuh jalan yang salah, tetapi ada satu hal yang tidak dapat diabaikan: selama seluruh proses melaksanakan tugasmu, jika gagasan, imajinasi, dan keinginan pribadimu tidak pernah berubah dan tidak pernah diganti dengan kebenaran, jika tindakan dan perbuatanmu tidak pernah sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran, lalu apa kesudahan akhirnya? Engkau akan menjadi pelaku pelayanan, dan inilah yang dicatat dalam Alkitab: "Banyak orang akan berkata kepada-Ku di hari itu kelak, Tuhan, Tuhan, bukankah kami telah bernubuat demi nama-Mu, telah mengusir setan-setan demi nama-Mu, dan melakukan banyak pekerjaan ajaib demi nama-Mu? Saat itu Aku akan menyatakan kepada mereka, Aku tidak pernah mengenalmu: pergilah daripada-Ku, engkau yang melakukan kejahatan."

Dikutip dari "Cara Mengalami Firman Tuhan Dalam Tugas Seseorang"

dalam "Rekaman Pembicaraan Kristus"

Petrus disempurnakan setelah melewati penanganan dan pemurnian. Ia berkata, "Aku harus memuaskan keinginan Tuhan setiap saat. Dalam segala yang kulakukan, aku hanya ingin memuaskan keinginan Tuhan, dan entah aku dihajar, atau dihakimi, aku akan tetap senang melakukannya." Petrus memberikan segala yang ada padanya kepada Tuhan, dan pekerjaannya, perkataannya, serta seluruh hidupnya, semua demi mengasihi Tuhan. Ia adalah seorang yang mencari kekudusan, dan semakin banyak yang dialaminya, semakin besar kasihnya kepada Tuhan jauh di dalam lubuk hatinya. Sementara itu, Paulus hanya melakukan pekerjaan di luar saja, dan meskipun ia juga bekerja keras, jerih lelahnya sekadar untuk dapat bekerja dengan baik dan dengan demikian mendapat upah. Seandainya ia tahu bahwa ia tak akan mendapat upah, ia pasti sudah menyerah dalam pekerjaannya itu. Perkara yang dihiraukan Petrus hanyalah kasih sejati dalam hatinya, dan hal yang praktis serta dapat dicapai. Ia tidak menghiraukan apakah ia akan menerima upah, melainkan apakah wataknya dapat diubahkan. Paulus menghiraukan soal bekerja lebih keras lagi, ia menghiraukan soal pekerjaan dan pengabdian lahiriah, dan doktrin-doktrin yang tidak dialami oleh orang biasa. Ia sama sekali tidak menghiraukan soal perubahan jauh dalam lubuk hatinya dan kasih sejati kepada Tuhan. Pengalaman Petrus bertujuan untuk mencapai kasih sejati dan pengenalan yang benar tentang Tuhan. Pengalamannya bertujuan agar hubungannya lebih dekat dengan Tuhan, dan untuk mendapatkan cara hidup yang praktis. Pekerjaan Paulus dilakukan karena pekerjaan itu dipercayakan kepadanya oleh Yesus, dan untuk mendapatkan hal-hal yang didambakannya, tetapi hal-hal ini tidak berkaitan dengan pengenalan akan dirinya sendiri dan akan Tuhan. Pekerjaannya semata-mata demi meloloskan diri dari hajaran dan penghakiman. Perkara yang dicari Petrus adalah kasih yang murni, dan perkara yang dicari Paulus adalah mahkota kebenaran. Petrus mengalami pekerjaan Roh Kudus selama bertahun-tahun, dan memiliki pengenalan yang praktis tentang Kristus, serta pengenalan yang mendalam akan dirinya sendiri. Jadi, kasihnya kepada Tuhan murni. Bertahun-tahun pemurnian telah meningkatkan pengenalannya akan Yesus dan kehidupan, dan kasihnya adalah kasih yang tak bersyarat, kasih yang spontan, dan ia tak menuntut apa-apa sebagai balasan, tak pula ia berharap mendapat keuntungan apa pun. Paulus bekerja selama bertahun-tahun, tetapi ia tidak memiliki pengenalan yang mendalam akan Kristus, dan pengenalannya akan dirinya sendiri pun sangat sedikit. Ia tak memiliki kasih sama sekali kepada Kristus, dan pekerjaannya serta perjalanan yang dilaluinya bertujuan agar ia mendapatkan penghargaan pada akhirnya. Perkara yang dicarinya adalah mahkota yang paling cemerlang, bukan kasih yang termurni. Ia tidak berusaha secara aktif, tetapi melakukannya secara pasif. Ia tidak melakukan tugasnya, tetapi dipaksa dalam pengejarannya, setelah dicengkram oleh pekerjaan Roh Kudus. Jadi, pengejarannya bukanlah bukti bahwa ia ciptaan Tuhan yang layak. Petruslah ciptaan Tuhan yang layak dan melakukan tugasnya.

Dikutip dari "Keberhasilan atau Kegagalan Tergantung pada

Jalan yang Dijalani Manusia"

dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

Pekerjaan Paulus berkaitan dengan pembekalan jemaat, dan dukungan bagi jemaat. Perkara yang dialami Petrus adalah perubahan dalam watak hidupnya. Ia mengalami kasih akan Tuhan. Sekarang, setelah engkau mengetahui perbedaan dalam hakikat mereka, engkau dapat melihat, pada akhirnya, siapa yang benar-benar percaya kepada Tuhan, dan siapa yang tidak benar-benar percaya kepada Tuhan. Salah seorang dari mereka benar-benar mengasihi Tuhan, dan yang seorang lagi tidak benar-benar mengasihi Tuhan. Salah seorang mengalami perubahan dalam wataknya, dan yang seorang lagi tidak. Salah seorang melayani dengan rendah hati, dan tak mudah dilihat orang, dan yang lain dipuja orang dan memiliki citra yang hebat; salah seorang mengejar kekudusan, dan yang seorang lagi tidak, dan meskipun ia tidak cemar, ia tidak memiliki kasih yang murni. Salah seorang memiliki kemanusiaan sejati, dan yang seorang lagi tidak. Salah seorang menyadari dirinya ciptaan Tuhan, dan yang seorang lagi tidak. Demikianlah perbedaan hakikat antara Paulus dan Petrus. Jalan yang dilalui Petrus adalah jalan keberhasilan, serta jalan untuk mencapai pemulihan kemanusiaan yang normal dan tugas sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Petrus mewakili semua orang yang berhasil. Jalan yang dilalui Paulus adalah jalan kegagalan, dan ia mewakili semua orang yang hanya menundukkan diri serta mengorbankan diri di permukaan saja, dan tidak benar-benar tulus mengasihi Tuhan. Paulus mewakili semua orang yang tidak memiliki kebenaran.

Dikutip dari "Keberhasilan atau Kegagalan Tergantung pada

Jalan yang Dijalani Manusia"

dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

Kutipan Khotbah dan Persekutuan untuk Referensi:

Semua orang yang belum memasuki jalan iman yang benar kepada Tuhan, yang watak hidupnya belum mengalami perubahan apa pun dan yang tidak memahami sedikit pun kebenaran, sejauh mereka bergantung pada antusiasme dan motivasi mereka untuk memperoleh berkat, dan sejauh mereka bersedia mengerahkan sedikit upaya, maka mereka bisa memberikan pelayanan. Begitu seseorang memahami sedikit kebenaran, memiliki iman yang benar kepada Tuhan, tidak lagi meragukan Tuhan sama sekali, memiliki pemahaman tentang pekerjaan Tuhan, melihat bahwa tujuan pekerjaan Tuhan sepenuhnya adalah menyelamatkan dan menyempurnakan manusia dan dapat melihat bahwa kasih Tuhan kepada manusia sungguh besar, dan telah menumbuhkan hati yang mengasihi Tuhan dan hati yang membalas kasih yang Tuhan berikan kepada kita, maka tugas-tugas yang diselesaikan oleh orang seperti ini dapat dikatakan sebagai perbuatan yang baik. Tugas-tugas yang dipenuhi oleh orang ini dapat secara resmi dianggap sebagai tugas-tugas yang dipenuhi oleh salah seorang ciptaan Tuhan, dan bukan sekadar memberikan pelayanan. Menunaikan tugas berarti bahwa engkau bersedia menunaikan tugas-tugasmu sebagai caramu membalas kasih Tuhan. Ini adalah perbedaan antara menunaikan tugas dan memberikan pelayanan. Motifnya tidak sama. Keadaan dan kondisi batinnya tidak sama. Memberikan pelayanan adalah melakukan tugas dengan didominasi oleh motivasi seseorang untuk memperoleh berkat dan antusiasme seseorang. Sesungguhnya, orang menunaikan tugas berdasarkan suatu pemahaman akan kebenaran. Orang menunaikan tugas berdasarkan pemahaman bahwa mahkluk ciptaan menunaikan tugas mereka adalah sesuai dengan hukum surga, dan berdasarkan pengenalan akan kasih Tuhan dan keinginan untuk membalas kasih ini kepada Tuhanlah keinginan orang untuk menunaikan tugas muncul. Inilah arti sebenarnya dari menunaikan tugas dengan sesungguhnya dan dengan benar.

Dikutip dari "Makna Penting di Balik Mempersiapkan Perbuatan Baik"

dalam "Khotbah dan Persekutuan

tentang Jalan Masuk ke Dalam Kehidupan II"

Semua orang yang berfokus pada hidup dan berupaya menjadi umat Tuhan dapat menganggap pelaksanaan tugas mereka sebagai tanggung jawab yang tidak dapat dipungkiri; mereka melakukan hal ini untuk membalas kasih Tuhan. Mereka tidak menawar imbalan untuk pelaksanaan tugas mereka dan mereka tidak memiliki tuntutan apa pun. Segala sesuatu yang mereka lakukan dapat disebut melaksanakan tugas mereka. Kategori orang-orang yang disebut sebagai pelaku pelayanan paling-paling hanya mengerahkan sedikit upaya untuk menyenangkan Tuhan agar mereka dapat diberkati. Iman mereka ternoda. Mereka tidak memiliki hati nurani atau nalar, apalagi mengejar kebenaran atau hidup. Karena mereka dapat melihat bagaimana buruknya natur mereka, sehingga mereka tidak mungkin dapat menjadi umat Tuhan, mereka meninggalkan pencarian mereka untuk menjadi umat Tuhan, dan selalu hidup dalam keadaan yang negatif. Oleh karena itu, segala sesuatu yang mereka lakukan hanyalah memberikan pelayanan, karena mereka terikat oleh konsep mereka sendiri yang menyimpang mengenai kehendak Tuhan. Jalan yang diambil oleh seseorang menentukan apakah yang ia lakukan itu melaksanakan tugasnya atau memberikan pelayanan. Jika ia mengejar kebenaran dan berfokus kepada kehidupan, melakukan tugasnya dengan baik untuk membalas kasih Tuhan dan memuaskan Tuhan, dan bekerja keras untuk menjadi salah seorang umat Tuhan, jika visi seperti ini adalah dukungannya, apa yang ia lakukan pasti adalah melaksanakan tugasnya. Semua orang yang tidak memiliki kebenaran, yang putus asa dan hidup dalam keadaan yang negatif, hanya mengerahkan sedikit upaya untuk menyenangkan Tuhan dan memperdaya Tuhan, adalah jenis orang yang hanya memberikan pelayanan. Jelas bahwa semua pelaku pelayanan adalah orang-orang yang benar-benar tanpa hati nurani atau nalar, dan bahwa mereka adalah orang-orang yang tidak mengejar kebenaran dan tidak memiliki hidup. Berdasarkan hal ini, jelas bahwa mereka yang tidak memiliki tekad, yang tidak mengejar kebenaran, dan tidak berfokus pada hidup mungkin bahkan tidak layak menjadi pelaku pelayanan. Mereka memiliki natur yang sangat buruk; mereka tidak bersedia menerima kebenaran dan tidak percaya kepada Tuhan. Mereka bahkan memendam keraguan terhadap firman Tuhan. Ini tepatnya adalah tipu daya mereka yang membuat mereka sendiri lelah. Jika seseorang benar-benar adalah pelaku pelayanan, ia tetap harus memberikan pelayanan dengan baik dan tidak boleh acuh tak acuh dan sembarangan. Hanya hal ini yang bisa membuatnya memenuhi syarat sebagai pelaku pelayanan yang tetap tinggal; dengan demikian ia menjadi sangat beruntung. Benar-benar menjadi seorang pelaku pelayanan bukanlah hal yang sepele.

Dikutip dari "Persekutuan dari Atas"

Sebelumnya:Apa yang dimaksud dengan melakukan tugas kita?

Selanjutnya:Apa arti dari "meninggalkan segala sesuatu dan mengikuti Tuhan"?

media terkait