Firman Tuhan | "Tuhan itu Sendiri, Tuhan yang Unik I: Otoritas Tuhan (I)" (Lanjutan dari Bagian Dua)
Beberapa materi dalam video ini berasal dari: 【All Bible quotations in this video are translated freely from English Bible.】...
Kami menyambut semua pencari yang merindukan penampakan Tuhan!
Kita baru saja mempersekutukan perwujudan yang dimiliki oleh satu tipe pemimpin palsu mengenai segera melaporkan dan mencari tahu cara untuk menyelesaikan kebingungan dan kesulitan yang dihadapi dalam pekerjaan, beserta alasan mengapa orang-orang seperti ini tidak dapat memenuhi tanggung jawab sebagai pemimpin dan pekerja. Mereka ini adalah orang-orang yang memiliki kerohanian palsu; mereka tidak dapat memenuhi tanggung jawab tersebut karena tidak dapat menemukan kebingungan dan kesulitan dalam pekerjaan. Ini adalah salah satu tipe orang. Ada tipe lainnya: Mereka sama dengan orang-orang yang memiliki kerohanian palsu—tipe orang ini juga tidak mampu menemukan masalah yang ada dalam pekerjaan, dan itulah sebabnya mereka juga tidak dapat segera melaporkannya kepada Yang di Atas dan mencari solusi dari Yang di Atas. Orang-orang seperti itu juga sibuk dengan pekerjaan, mereka menyibukkan diri sepanjang hari tanpa ada waktu untuk beristirahat. Mereka sibuk berkhotbah, sibuk mengunjungi saudara-saudari di berbagai tempat, sibuk mengatur pekerjaan, dan bahkan sibuk membeli segala macam barang untuk pekerjaan gereja. Ketika ada yang sakit, mereka membantu mencari dokter; jika ada yang mengalami kesulitan di rumah, mereka membantu dengan mengatur bantuan keuangan; ketika ada yang dalam keadaan buruk, mereka berinisiatif untuk mendukungnya dan secara aktif membantu menyelesaikan masalahnya. Singkatnya, mereka selalu sibuk dengan pekerjaan-pekerjaan urusan umum. Mereka tidak peduli terhadap pekerjaan gereja yang sebenarnya, pekerjaan penginjilan, dan masalah dalam kehidupan bergereja. Setiap hari, mereka menghabiskan energi dengan sibuk ke sana kemari, menangani dan menyelesaikan urusan gereja dan persoalan-persoalan pribadi saudara-saudari. Mereka mengira bahwa sebagai pemimpin, mereka harus melaksanakan tugas-tugas tersebut, tetapi mereka tidak pernah menyadari apa pekerjaan substansial seorang pemimpin. Sekeras apa pun mereka bekerja, mereka tetap tidak dapat menemukan permasalahan yang sebenarnya dan persoalan penting yang ada di gereja. Akibatnya, ketika gangguan dan hambatan muncul dalam kehidupan bergereja, atau ketika umat pilihan Tuhan menghadapi kesulitan dalam jalan masuk kehidupan, para pemimpin ini tidak mampu segera menyelesaikan persoalan tersebut. Meskipun mereka sibuk dengan pekerjaan setiap hari tanpa ada waktu untuk beristirahat, apa yang sebenarnya dapat mereka capai dengan kesibukan tersebut? Ada banyak masalah yang muncul dalam pekerjaan gereja, tetapi mereka tidak dapat menemukannya. Di luarnya, pemimpin seperti ini terlihat tekun, teliti, dan tidak menganggur, tetapi satu per satu masalah muncul dalam pekerjaan, dan mereka sibuk menutupi celah, sibuk menyelesaikan berbagai "masalah yang rumit dan sulit" dan menangani segala macam orang jahat serta orang-orang yang menyebabkan gangguan dan kekacauan yang muncul di gereja. Mereka sibuk dengan pekerjaan seperti ini, tetapi tidak mampu mengidentifikasi bahkan masalah yang paling mendasar sekalipun. Pemimpin tersebut tidak mampu dengan jelas membedakan antara kemanusiaan yang baik dan kemanusiaan yang buruk, apa itu kualitas yang baik dan apa itu kualitas yang buruk, apa itu memiliki bakat dan pengetahuan yang sesungguhnya, dan apa itu memiliki karunia. Mereka juga tidak dapat memahami orang seperti apa yang dibina oleh rumah Tuhan dan orang seperti apa yang disingkirkan, siapa yang mengejar kebenaran dan siapa yang tidak, siapa yang dengan sukarela melaksanakan tugasnya dan siapa yang tidak melaksanakan tugasnya, siapa yang dapat disempurnakan menjadi umat Tuhan, serta siapa yang merupakan orang yang berjerih payah, dan sebagainya. Pemimpin tersebut justru memperlakukan orang-orang yang pandai membuat pernyataan yang muluk-muluk dan melontarkan teori-teori yang tak bermakna, tetapi tidak mampu melakukan pekerjaan nyata sebagai target utama untuk dibina, serta menugaskan dan memercayakan orang-orang tersebut dengan pekerjaan penting. Sementara itu, mereka menunda promosi dan pembinaan orang-orang yang memiliki pemahaman yang murni, kualitas yang baik, dan kemampuan untuk memahami kebenaran hanya karena orang-orang tersebut belum lama percaya kepada Tuhan atau pernah memperlihatkan watak yang congkak. Masalah-masalah seperti ini sering muncul di gereja dan ini berdampak pada kemajuan pekerjaan gereja. Inilah permasalahan yang sebenarnya, tetapi tipe pemimpin seperti ini tidak mampu melihat atau menemukannya, dan bahkan sama sekali tidak menyadarinya. Ketika orang-orang jahat menimbulkan gangguan dan kekacauan, pemimpin tersebut memberinya kesempatan untuk menjalani pengamatan dan merenungkan diri. Sebaliknya, ketika orang lain yang bukan orang jahat sesekali melakukan kesalahan kecil karena mereka masih muda, kurang pengetahuan, dan bertindak tanpa prinsip—kesalahan yang bukan merupakan masalah prinsip—tipe pemimpin semacam ini justru menganggapnya sebagai dosa yang tidak terampuni dan menyuruh orang tersebut pulang. Pemimpin palsu semacam ini sibuk dengan pekerjaannya setiap hari, dan di luarnya, mereka terlihat sedang berusaha keras dan menghabiskan banyak waktu, tetapi bagaimanapun mereka bekerja, tak ada seorang pun yang benar-benar memperoleh perbekalan hidup dari usahanya. Apa pun masalah dan kesulitan yang dialami umat pilihan Tuhan, pemimpin palsu seperti ini tidak mampu menyelesaikannya dengan mempersekutukan kebenaran. Yang dapat mereka lakukan hanyalah menasihati dengan hati yang penuh kasih, serta mengkhotbahkan kata-kata dan doktrin untuk menyemangati umat pilihan Tuhan. Oleh karena itu, di bawah kepemimpinan orang-orang semacam itu, umat pilihan Tuhan tidak menerima perbekalan hidup, mereka hanya percaya kepada Tuhan dan melaksanakan tugasnya dengan penuh semangat, tetapi belum mencapai jalan masuk kehidupan—berapa lama mereka bisa bertahan seperti ini? Akibatnya, ada orang-orang yang sering kali bersikap negatif dan lemah, serta selalu merindukan datangnya hari Tuhan, dan visi mereka makin tidak jelas. Ketika menghadapi masalah, mereka mulai memiliki gagasan dan kesalahpahaman tentang Tuhan, lalu ada yang bahkan mulai meragukan Tuhan dan bersikap waspada terhadap-Nya. Ketika dihadapkan dengan persoalan seperti ini, pemimpin palsu sama sekali tidak mampu menyelesaikannya, dan yang mereka lakukan hanyalah menghindarinya. Mereka tidak pernah membaca firman Tuhan atau berdoa kepada-Nya bersama umat pilihan Tuhan untuk mencari kebenaran dan menyelesaikan persoalan—mereka tidak pernah melaksanakan pekerjaan ini. Setiap hari, mereka hanya disibukkan dengan pekerjaan urusan umum dan persoalan-persoalan eksternal tertentu, hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan jalan masuk kehidupan atau kebenaran. Pemimpin seperti ini beranggapan bahwa selama mereka sibuk melakukan sesuatu, itu berarti mereka sedang melaksanakan tugas dan memenuhi tanggung jawabnya, dan mereka tidak mungkin menjadi pemimpin palsu. Padahal, kesibukannya dengan urusan-urusan umum ini sama sekali tidak membantu saudara-saudari untuk mengalami perkembangan dalam hidup, apalagi memungkinkan umat pilihan Tuhan untuk masuk ke dalam kenyataan kebenaran. Katakan kepada-Ku, bukankah kualitas tipe pemimpin palsu seperti ini bermasalah? Mereka tidak dapat memahami apa pun, dan mereka beranggapan bahwa selama mereka sibuk bekerja, semua masalah akan hilang begitu saja, dan terselesaikan secara tidak langsung. Bukankah orang-orang semacam ini sangat bingung? Bukankah kualitas mereka sangat buruk? Mereka tidak dapat memahami apa pun, sama sekali tidak mampu melakukan pekerjaan nyata, dan ini menjadikannya pemimpin palsu serta pekerja palsu yang sesungguhnya. Ini adalah hal yang paling mudah untuk diidentifikasi.
Sekarang ini, pemimpin palsu dan pekerja palsu ada di gereja di mana-mana. Mereka hanya mengandalkan semangatnya untuk bekerja dan sama sekali tidak memahami kebenaran. Mereka tidak tahu apa pekerjaan seorang pemimpin atau pekerja, mereka juga tidak dapat mempersekutukan kebenaran untuk menyelesaikan masalah—mereka hanya menghabiskan sepanjang hari sibuk dengan pekerjaan urusan umum yang tidak jelas. Misalnya, katakanlah gereja perlu membeli suatu barang. Ini bukanlah tugas besar; cukup atur seseorang yang paham bidang tersebut untuk membelinya. Akan tetapi, seorang pemimpin palsu takut menghabiskan terlalu banyak uang, jadi mereka mengatur agar seseorang mengunjungi beberapa tempat untuk membeli barang yang paling murah. Hasilnya adalah mereka membeli barang murah yang langsung rusak hanya beberapa hari setelah digunakan, dan akibatnya, barang tersebut harus dibeli lagi. Pemimpin ini bukan saja tidak menghemat uang, melainkan justru mengeluarkan lebih banyak uang. Apakah ini cara yang tepat untuk menangani tugas tersebut? Ketika melakukan pembelian, tidak perlu membeli merek terkenal, tetapi hal yang tepat untuk dilakukan adalah setidaknya membeli sesuatu yang berkualitas dan dapat digunakan. Pemimpin palsu sangat memperhatikan pekerjaan urusan umum, dan tidak ada yang salah dengan itu. Akan tetapi, mereka tidak menganggap serius pekerjaan penting di rumah Tuhan, dan ini adalah kesalahan besar; ini berarti mereka tidak melakukan pekerjaan yang substansial. Pekerjaan-pekerjaan seperti penginjilan, pembuatan film, tulis-menulis, video kesaksian pengalaman, dan membuat penyesuaian terhadap personel pemimpin dan pekerja, semuanya itu sangat penting, tetapi pemimpin palsu tidak menganggapnya demikian. Mereka mengesampingkan pekerjaan-pekerjaan ini dan mengabaikannya. Mereka tidak memiliki kualitas yang cukup dan tidak tahu bagaimana melakukannya, tetapi mereka juga tidak berusaha untuk belajar, justru berpikir, "Selama ada seseorang yang bertanggung jawab atas pekerjaan ini, maka itu sudah cukup. Bukankah aku tidak perlu ikut campur juga? Aku menangani pekerjaan-pekerjaan penting. Ini hanyalah urusan kecil yang tidak perlu kupikirkan. Setelah aku memberitahukan prinsip-prinsipnya, maka pekerjaanku sudah selesai." Pemimpin palsu sepintas tampaknya sangat sibuk, tetapi jika diperhatikan, tidak satu pun dari pekerjaan yang dilakukan merupakan bagian penting dari pekerjaan gereja, tidak ada yang memberikan perbekalan hidup bagi orang-orang, dan tidak ada yang melibatkan penggunaan kebenaran untuk menyelesaikan masalah. Hal-hal yang mereka sibukkan sama sekali tidak bernilai, dan pemimpin palsu ini sebenarnya hanya sibuk tanpa arah. Mereka tidak tahu pekerjaan apa yang seharusnya dilakukan pemimpin dan pekerja agar selaras dengan maksud Tuhan; mereka hanya mengandalkan semangatnya untuk sibuk dengan tugas-tugas yang disukai. Mereka menanyakan secara mendetail hal-hal sepele yang tidak ada kaitannya dengan pekerjaan gereja, seperti pakaian yang dikenakan saudara-saudari, gaya rambutnya, bagaimana mereka berinteraksi dengan orang lain, dan bagaimana mereka berbicara dan berperilaku. Pemimpin palsu menganggap ini adalah cara untuk menunjukkan bahwa mereka ramah dan mudah didekati, serta menyelesaikan masalah dalam kehidupan nyata orang-orang adalah sesuatu yang harus dilakukan seorang pemimpin, sesuatu yang seharusnya dimiliki dalam kemanusiaan yang normal. Namun, mereka tidak menganggap serius pekerjaan penting seperti pekerjaan penginjilan, pembuatan film, lagu pujian, tulis-menulis, administrasi, pekerjaan menyirami orang percaya baru, pendirian gereja, mempromosikan dan membina orang-orang, dan sebagainya. Mereka tidak berpartisipasi dalam pekerjaan ini dan tidak menindaklanjutinya; seolah-olah pekerjaan ini tidak ada hubungannya dengan mereka. Pemimpin palsu ini tidak menyelesaikan banyak masalah yang menumpuk di gereja, mereka tidak memberhentikan pemimpin palsu yang seharusnya diberhentikan, tidak membatasi atau menangani orang jahat yang melakukan kejahatan dan bertindak semena-mena melakukan hal-hal buruk, serta mereka tidak mempersekutukan kebenaran untuk menyelesaikan masalah orang-orang yang bersikap asal-asalan, tidak terkendali, tidak disiplin, serta menunda-nunda dalam melaksanakan tugasnya. Apa masalahnya di sini? Mereka tidak mencari kebenaran untuk menyelesaikan permasalahan yang sesungguhnya—apakah mereka orang-orang yang melakukan pekerjaan nyata? Dalam hatinya, tugas-tugas sepele dan tidak relevan yang dilaksanakannya terasa krusial dan penting baginya. Pemimpin palsu tersebut disibukkan dengan hal-hal yang tidak berguna sepanjang hari, meyakini bahwa mereka sedang memenuhi tanggung jawabnya dan bersikap setia, tetapi mereka tidak melakukan satu pun pekerjaan yang substansial yang telah dipercayakan Tuhan kepadanya—bukankah orang semacam ini adalah pemimpin palsu? Mereka setara dengan kepala kantor kecamatan di masyarakat, mereka hanyalah orang yang sibuk mencampuri urusan tetangga—apakah mereka masih bisa disebut pemimpin dan pekerja di rumah Tuhan? Mereka adalah pemimpin palsu dan pekerja palsu yang sesungguhnya. Mengapa orang-orang ini digolongkan sebagai pemimpin palsu dan pekerja palsu? (Karena kualitas mereka sangat buruk, mereka tidak bisa melakukan pekerjaan nyata, dan yang bisa mereka lakukan hanyalah menangani urusan-urusan sepele.) Inilah alasan spesifiknya. Kualitas orang-orang ini sangat buruk; berapa pun banyak khotbah yang mereka dengarkan, berapa pun banyak pengaturan kerja yang dibaca, berapa pun lama mereka melaksanakan tugas di rumah Tuhan, atau berapa pun lama mereka menjadi pemimpin, mereka tidak pernah tahu apa yang mereka lakukan, apakah yang dilakukannya itu benar atau salah, atau apakah mereka memenuhi tanggung jawab yang seharusnya dipenuhi. Definisinya tentang label dan gelar pemimpin serta pekerja adalah selama mereka sibuk, itu sudah cukup. Seperti keledai yang memutar batu kilangan, mereka terus menarik sampai tidak bisa bergerak lagi, dan mereka menganggap hal ini sebagai pemenuhan tanggung jawabnya. Ke arah mana pun mereka menarik, dan terlepas dari apakah kekuatan yang dikerahkan untuk menarik itu benar atau tidak, baginya itu sudah memenuhi tanggung jawabnya. Ada banyak masalah yang tidak dapat mereka pahami, dan mereka tidak berusaha menyelesaikannya atau melaporkannya kepada Yang di Atas dan mencari solusi dari Yang di Atas. Berapa pun lama mereka bekerja atau berinteraksi dengan orang lain, mereka bahkan tidak tahu apakah perwujudan seseorang adalah perwujudan orang percaya baru yang memiliki landasan iman yang dangkal dan tidak memahami kebenaran, atau apakah itu merupakan perwujudan pengikut yang bukan orang percaya. Mereka juga tidak tahu bagaimana mereka harus mengidentifikasi atau menggolongkannya. Ketika ada dua orang yang sama-sama dalam keadaan negatif, pemimpin palsu tidak tahu mana yang layak dibina dan mana yang tidak; ketika dua orang sedikit bersikap asal-asalan dalam melaksanakan tugasnya, pemimpin palsu tidak dapat membedakan mana orang yang mengejar kebenaran dan mana yang hanya seorang yang berjerih payah, mana yang mampu masuk ke dalam kenyataan kebenaran dan mana yang tidak memiliki kenyataan kebenaran. Pemimpin palsu tidak tahu siapa yang berpotensi menempuh jalan antikristus begitu menjadi pemimpin, sekalipun mereka telah bergaul dengan orang-orang ini selama bertahun-tahun. Berapa pun banyak aktivitas tak berguna yang mereka lakukan atau pekerjaan sia-sia yang dilakukannya, atau berapa pun banyak masalah yang ada di sekitarnya, pemimpin palsu tidak menyadarinya dan tidak menganggapnya sebagai persoalan. Orang-orang seperti ini memiliki kualitas yang buruk, pikiran yang kacau, dan tidak mampu melakukan pekerjaan sehingga sangat sulit bagi mereka untuk memenuhi tanggung jawab sebagai pemimpin atau pekerja. Selain menangani pekerjaan urusan umum yang sederhana, pemimpin dan pekerja ini tidak mampu melakukan apa pun yang berkaitan dengan pekerjaan substansial gereja. Mereka juga sama sekali tidak mampu melihat maupun menyelesaikan masalah nyata dalam pekerjaan. Apakah pemimpin dengan kualitas seperti ini layak dibina? Mereka bahkan tidak tahu apa itu kebingungan atau kesulitan, apalagi menanganinya sesuai dengan prinsip. Sekalipun masalah-masalah yang dihadapi dalam pekerjaan gereja adalah persoalan yang sangat umum, mereka tetap tidak bisa menyimpulkan dan mengelompokkannya, mereka juga tidak tahu bagaimana mempersekutukan kebenaran untuk menyelesaikannya—tipe pemimpin palsu seperti ini sama sekali tidak mampu menangani atau menyelesaikan masalah-masalah yang sering muncul di gereja. Persoalan terbesar mereka bukanlah karena mereka tidak bersedia membayar harga atau takut menjadi sibuk dan merasa lelah, melainkan karena kualitasnya yang buruk, berpikiran tidak jernih, dan tidak mampu melakukan pekerjaan penting serta pekerjaan nyata di gereja. Sebaliknya mereka hanya melakukan pekerjaan-pekerjaan urusan umum atau senang menyibukkan diri dengan hal-hal yang tidak relevan, dan kemudian ingin berperan sebagai pemimpin dan pekerja—bukankah mereka orang-orang yang bingung dengan ambisi dan keinginan yang terlalu besar? Pemimpin yang kualitasnya buruk sama sekali tidak mampu melakukan pekerjaan utama gereja, yaitu pekerjaan yang berkaitan dengan prinsip-prinsip kebenaran, atau pekerjaan profesional yang rumit, seperti pekerjaan menyebarkan Injil, pekerjaan penyiraman orang percaya baru di gereja, pekerjaan pembuatan film, pekerjaan tulis-menulis, dan pekerjaan personel yang melibatkan pemimpin dan pekerja di berbagai tingkatan. Mengapa mereka tidak mampu melakukan pekerjaan ini? Itu karena kualitas mereka sangat buruk dan mereka tidak mampu memahami prinsip-prinsip; pemimpin tersebut secara keseluruhan tidak mampu melakukan semua pekerjaan ini dan tidak mampu belajar bagaimana melakukannya. Misalnya, katakanlah lima orang diberikan kepadanya dan pemimpin tersebut diminta untuk mendistribusikan pekerjaan kepada kelima orang ini berdasarkan tingkat pendidikan, kualitas, kelebihan, dan karakternya. Apakah ini tugas yang mudah dilakukan? Apakah ini ada hubungannya dengan kualitas pemimpin dan pekerja? (Ya.) Pemimpin dan pekerja yang memiliki kualitas rata-rata akan mendistribusikan pekerjaan dengan cukup akurat setelah menghabiskan waktu untuk mengamati, berinteraksi, dan mengenal kelima orang tersebut. Pemimpin dan pekerja yang memiliki kualitas yang buruk akan merasa jumlah lima orang itu terlalu banyak; jika ada terlalu banyak orang, pemimpin tersebut menjadi bingung dan tidak tahu bagaimana membagi pekerjaan kepada orang-orang itu. Bahkan, sekalipun mereka mendistribusikannya, di dalam hatinya mereka tidak yakin apakah itu tepat atau tidak. Ini dalam hal aspek personel. Dalam hal menangani masalah, misalnya, jika mereka perlu menangani dan menyelesaikan dua atau tiga permasalahan sekaligus, mereka tidak akan tahu bagaimana menilai dan membedakan hubungan antara masalah-masalah ini, mereka juga tidak akan mampu menimbang persoalan mana yang harus diselesaikan terlebih dahulu, dan mana yang dapat diselesaikan kemudian tanpa menimbulkan penundaan. Artinya, mereka tidak tahu bagaimana mempertimbangkan untung ruginya, tidak tahu bagaimana memprioritaskan tugas berdasarkan tingkat kepentingan dan urgensinya, dan tidak tahu bagaimana menyelesaikan masalah. Akan tetapi, karena mereka adalah pemimpin dan pekerja, meskipun mereka tidak mengerti sesuatu, mereka harus berpura-pura mengerti, meskipun mereka tidak memahami sesuatu, mereka harus berpura-pura paham, dan tidak ada yang dapat mereka lakukan selain bertahan dan mengkhotbahkan beberapa doktrin untuk mengatasinya, serta mengucapkan beberapa patah kata yang terdengar menyenangkan, lalu bergegas menyelesaikan semuanya. Mereka sangat sadar apakah yang mereka katakan akurat atau tidak, apakah itu sesuai dengan prinsip atau tidak, apakah itu dapat menyelesaikan masalah atau tidak, tetapi mereka hanya ingin menghadapinya. Pemimpin tersebut tahu betul bahwa dia tidak akan mampu menyelesaikan masalah dengan apa yang dilakukannya, tetapi tetap tidak melaporkan masalah tersebut kepada Yang di Atas, yang akhirnya menyebabkan penundaan dalam pekerjaan, dan pemimpin itu pun diberhentikan. Katakan kepada-Ku, bukankah orang-orang ini bodoh? Ketika sebagian pemimpin dan pekerja melaporkan masalah, mereka menceritakan semua kejadian lama yang tidak penting yang telah berlalu hingga saat ini, dan setelah mereka mengatakan banyak hal, engkau masih harus membantunya menganalisis dan menilai masalah apa yang ada. Mereka bahkan tidak mengerti bagaimana mengemukakan sebuah masalah, dan mereka dapat berbicara selama berjam-jam tanpa menjelaskan dengan gamblang apa fokus dan esensi dari persoalan tersebut. Semua yang mereka katakan hanyalah berhubungan dengan hal-hal yang dangkal dan omong kosong belaka! Bukankah ini menunjukkan kualitasnya yang sangat buruk dan kurangnya akal? Apakah orang-orang dengan kualitas yang baik mau mendengarkan hal-hal seperti ini? Orang yang mereka ajak bicara hanya ingin tahu seperti apa situasi dan perwujudan dari orang yang mereka laporkan saat ini, situasi apa yang membingungkan dan tidak dapat diselesaikannya. Namun, orang-orang ini selalu berbicara tentang pekerjaan yang dilakukan orang tersebut di masa lalu, dan mereka tidak membicarakan situasi orang tersebut saat ini, atau mengatakan kebingungan dan masalah apa yang mereka sendiri hadapi. Pemimpin tersebut mengatakan banyak hal, tetapi tidak ada yang bisa mengerti dengan jelas apa yang dibicarakannya. Bahkan, jika ingin mengajukan pertanyaan, mereka tidak tahu harus mulai dari mana, mereka tidak tahu bagaimana mengungkapkannya dengan cara yang efektif agar orang bisa memahaminya—mereka bahkan tidak memiliki kemampuan untuk mengatur bahasanya. Bukankah ini perwujudan dari kualitas yang sangat buruk? Sejumlah pemimpin palsu memiliki kualitas yang buruk, dan ketika melaporkan suatu masalah, mereka mengatakan banyak hal yang tidak masuk akal dan tidak dapat dipahami, lalu berpikir, "Aku telah memberimu cukup banyak informasi, bukan? Aku bahkan telah memberitahumu segala hal tentang masalah ini, baik yang lalu maupun yang sekarang, jadi bukankah saat ini engkau tahu pertanyaan yang ingin kuajukan?" Apa pun yang kautanyakan, atau bagaimanapun engkau membimbingnya, pemimpin tersebut tidak tahu harus berkata apa dan tidak pernah mampu mengungkapkan inti dari masalah tersebut. Ini bukan karena mereka kekurangan kata-kata untuk mengekspresikan dirinya, atau karena tingkat pendidikannya yang rendah, melainkan karena kualitasnya yang buruk dan otaknya yang kosong. Jadi, mereka tidak tahu bagaimana mengungkapkan semua hal ini, pikirannya kacau, dan mereka tidak mampu mengekspresikan dirinya dengan jelas agar orang lain dapat memahaminya. Mereka merasa memiliki beban, dan seiring berjalannya waktu, mereka mulai memiliki kesadaran akan masalah tertentu, tetapi mereka tidak tahu bagaimana mengungkapkannya, mereka tidak mampu memahami apa esensi dari masalah tersebut, apalagi menyimpulkannya. Apakah orang-orang yang kualitasnya buruk ini bisa bekerja? Apakah mereka bisa memenuhi tanggung jawab sebagai pemimpin dan pekerja? Tidak, mereka tidak bisa. Sekalipun engkau memberinya waktu dan kesempatan serta mengizinkannya untuk melaporkan dan menjelaskan masalah tersebut, mereka tidak mampu melakukannya, jadi apakah engkau masih dapat berbicara dengan orang-orang seperti itu? Apakah mereka masih bisa dipakai? (Tidak bisa.) Mengapa mereka tidak bisa dipakai? Mereka bahkan tidak mampu berbicara dengan jelas, dan mereka bahkan tidak memiliki naluri dasar sebagai manusia untuk menggunakan bahasa dalam mengungkapkan pemikiran, gagasan, dan sikapnya, jadi pekerjaan apa yang bisa mereka lakukan? Meskipun mereka mungkin memiliki sedikit kekuatan, semangat yang tulus, sedikit rasa tanggung jawab, dan hati yang lurus, kualitasnya sangat buruk, bagaimanapun engkau mengajarinya, mereka tetap tidak bisa mempelajarinya, dan sekalipun engkau mengajari mereka bagaimana berbicara, mereka tak akan mampu menguasainya, dan itu akan membuatmu kesal dan marah. Ketika mereka berbicara, mereka mengacaukannya, membuatmu bingung; mereka tak bisa mengatakan apa pun dengan jelas, dan apa yang mereka katakan hanyalah omong kosong. Hal yang paling menyedihkan tentang pemimpin tersebut adalah mereka tidak memahami perkataan orang lain, tetapi tetap bertindak semaunya sendiri, mereka tetap menganggap dirinya mampu, dan mereka menantang ketika engkau memangkasnya. Bagaimana mereka dapat melaksanakan pekerjaan kepemimpinan dengan baik? Ketika kualitas seorang pemimpin atau pekerja begitu buruk sehingga mereka tidak memiliki kemampuan untuk mengekspresikan dirinya melalui bahasa, apakah mereka tetap bisa kompeten dalam pekerjaan tersebut? (Tidak.) Apa yang dimaksud dengan tidak kompeten dalam pekerjaan mereka? Itu berarti mereka tidak mampu segera menemukan kesulitan dan masalah yang dihadapi dalam pekerjaan. Tentu saja, itu juga berarti bahwa apa pun masalah yang muncul dalam pekerjaan, pemimpin itu tak akan pernah mampu menyelesaikannya dengan segera, mereka juga tidak mampu segera melaporkannya kepada Yang di Atas dan mencari solusi dari Yang di Atas—ini terlalu sulit bagi pemimpin tersebut, dan mereka tidak mampu melakukannya. Bagi orang-orang yang memiliki kualitas buruk semacam ini, pekerjaan ini sangat sulit; itu bagaikan ikan yang dipaksa untuk hidup di daratan atau babi yang dipaksa untuk terbang—melaksanakan pekerjaan ini sangat melelahkan bagi mereka.
Ada yang berkata, "Aku merasa kasihan kepada orang-orang itu. Mereka sangat sibuk menangani segala macam tugas, tetapi akhirnya justru digolongkan sebagai pemimpin palsu karena kualitasnya yang buruk. Jadi, apakah itu berarti penderitaan yang mereka tanggung selama ini sia-sia? Bukankah itu sama saja dengan memperlakukan orang-orang dengan tak adil?" Memberhentikan pemimpin palsu berarti bertanggung jawab atas umat pilihan Tuhan dan atas pekerjaan gereja, jadi bagaimana mungkin itu dianggap memperlakukan orang dengan tidak adil? Jika engkau bersikeras membiarkan pemimpin palsu melanjutkan perannya sebagai pemimpin, bukankah itu justru merugikan umat pilihan Tuhan? Apakah engkau bermaksud mengatakan bahwa merugikan umat pilihan Tuhan bukanlah memperlakukan orang dengan tidak adil? Dengan memberhentikan seorang pemimpin palsu, rumah Tuhan bukan sedang mengutuknya atau mengirimnya ke neraka, melainkan memberi orang tersebut kesempatan untuk memperoleh keselamatan. Dapatkah mereka memperoleh keselamatan jika mereka terus menjadi pemimpin palsu? Apa hasil akhir mereka kelak? Mengapa engkau tidak mempertimbangkan masalah ini dengan sudut pandang tersebut? Selain itu, apa tujuan percaya kepada Tuhan? Apakah menjadi pemimpin adalah satu-satunya jalan untuk maju? Apakah tidak ada tugas lain yang harus dilaksanakan jika seseorang bukan pemimpin? Apakah tidak ada jalan untuk bertahan hidup bagi mereka yang bukan pemimpin dan memiliki kualitas yang buruk? (Tidak, itu tidak benar.) Jadi, apa jalan penerapannya? Yang sedang kita analisis sekarang adalah perwujudan dan masalah yang ada dalam diri pemimpin palsu yang memiliki kualitas yang buruk ini; kita bukan sedang mengutuk atau menghakiminya, kita hanya menganalisis mereka. Tujuan menganalisis mereka adalah orang-orang semacam ini mengenal dan menempatkan dirinya dengan tepat, mengetahui batas kemampuannya, dan memahami dengan tepat apa itu pemimpin dan pekerja, pekerjaan apa yang seharusnya dilakukan oleh pemimpin dan pekerja, dan kemudian membandingkan semua hal ini dengan dirinya sendiri untuk melihat apakah mereka pantas menjadi pemimpin atau pekerja. Jika kualitasmu memang sangat buruk, begitu buruknya sehingga engkau tidak mampu mengungkapkan diri dalam bahasa, tidak mampu mengungkapkan pemikiran dan pandanganmu, atau tidak mampu menemukan masalah, engkau tidak pantas menjadi seorang pemimpin atau pekerja, dan engkau tidak kompeten untuk melaksanakan tugas seorang pemimpin atau pekerja, serta tidak mampu melakukan pekerjaan seorang pemimpin atau pekerja. Engkau memiliki kualitas yang buruk, maka engkau harus memiliki kesadaran diri seperti ini. Ada yang berkata, "Kualitasku buruk—lalu apa masalahnya? Aku memiliki kemanusiaan yang baik, jadi aku harus menjadi seorang pemimpin." Apakah ini prinsipnya? Ada juga yang berkata, "Selain memiliki kemanusiaan yang baik, aku juga bersedia menanggung penderitaan dan membayar harga, aku dapat berkhotbah, aku memiliki dasar dalam imanku, dan aku pernah dipenjara karena kepercayaanku kepada Tuhan. Bukankah semua ini merupakan modal bagiku untuk menjadi seorang pemimpin atau pekerja?" Apakah merupakan kebenaran bahwa seseorang harus memiliki modal untuk menjadi seorang pemimpin atau pekerja? (Bukan.) Yang sedang kita bahas sekarang adalah tanggung jawab pemimpin dan pekerja, serta dalam topik ini, kita membahas masalah kualitas. Jika kualitasmu buruk dan engkau tidak dapat memenuhi tanggung jawab ini, kesadaran diri yang harus kaumiliki adalah: "Aku tidak memiliki kualitas ini dan aku tidak bisa menjadi pemimpin atau pekerja. Apa pun modal yang kumiliki, itu tidak ada gunanya." Engkau mengatakan bahwa engkau memiliki kemanusiaan yang baik, engkau dapat diandalkan, engkau memiliki tekad untuk menanggung penderitaan, dan engkau bersedia membayar harga—apakah rumah Tuhan pernah memperlakukanmu dengan tidak adil? Rumah Tuhan memakai orang dengan cara yang memastikan setiap orang dapat dipakai sebaik mungkin, menyesuaikan peran sesuai dengan kemampuan masing-masing, dan melakukannya dengan cara yang sangat tepat. Jika engkau memiliki kemanusiaan yang baik tetapi kualitasmu buruk, engkau harus melaksanakan tugasmu dengan baik dengan segenap hati dan kekuatanmu; itu bukan berarti engkau harus menjadi pemimpin atau pekerja agar diperkenan oleh Tuhan. Sekalipun engkau bersedia untuk merepotkan diri, jika engkau tidak mampu merepotkan diri sebagaimana seharusnya seorang pemimpin, dan engkau tidak memiliki kualitas yang seharusnya untuk menjadi seorang pemimpin, dan engkau tidak mampu melakukannya, apa yang dapat kaulakukan? Jangan memaksakan diri atau mempersulit diri sendiri; jika engkau bisa mengangkat beban 25 kilo, angkatlah 25 kilo tersebut. Jangan mencoba pamer dengan memaksakan diri melampaui batasmu, dengan berkata, "25 kilo tidak cukup. Aku ingin mengangkat beban yang lebih berat lagi. Aku ingin mengangkat 50 kilo. Aku siap melakukannya sekalipun aku mati karena kelelahan!" Engkau tidak mampu menjadi pemimpin atau pekerja, tetapi jika engkau tetap memaksakan diri melampaui batas untuk pamer, meskipun engkau tidak akan kelelahan, engkau akan menyebabkan penundaan pada pekerjaan gereja, memengaruhi kemajuan dan efisiensi pekerjaan, serta menghambat kemajuan hidup banyak orang—ini bukanlah tanggung jawab yang dapat kaupikul. Mengingat kualitasmu yang tidak memadai, jika engkau memiliki kesadaran diri, engkau seharusnya mengambil inisiatif untuk mengundurkan diri dan merekomendasikan seseorang yang memiliki kualitas yang baik, yang mencintai kebenaran, dan yang lebih bertanggung jawab dari dirimu untuk menjadi pemimpin atau pekerja. Ini adalah tindakan yang bijaksana, dan hanya dengan melakukan ini engkau akan menjadi orang yang benar-benar memiliki kemanusiaan dan nalar, serta orang yang sungguh-sungguh memahami dan menerapkan kebenaran. Jika engkau mengundurkan diri dari jabatanmu karena tidak mampu melaksanakan pekerjaan kepemimpinan, dan kemudian engkau memilih tugas yang sesuai denganmu dan mempersembahkan kesetiaanmu agar mendapatkan perkenanan Tuhan, engkau adalah orang yang sangat cerdas. Engkau selalu berpikir, "Meskipun aku memiliki kualitas yang buruk, aku memiliki kemanusiaan yang baik, aku bersedia merepotkan diri, menanggung penderitaan, dan membayar harga, aku memiliki tekad, aku lebih tangguh daripada engkau semua dalam segala hal yang kulakukan, dan aku berpikiran luas dan tidak takut dipangkas atau diuji. Meskipun kualitasku sedikit buruk, aku tetap bisa menjadi seorang pemimpin." Memiliki kualitas yang buruk bukanlah sebuah masalah. Ini bukan dimaksudkan untuk mengutukmu, melainkan hanya untuk mengelompokkan dan membantumu memahami dengan jelas apa sesungguhnya yang dapat kaulakukan dan jenis tugas apa yang sesuai untukmu. Namun, masalahnya sekarang adalah kualitasmu buruk dan engkau tidak mampu menjadi seorang pemimpin atau pekerja. Meskipun engkau telah dipilih menjadi pemimpin atau pekerja, engkau tidak dapat melakukan pekerjaan ini dengan baik, dan yang dapat kaulakukan hanyalah mengacaukan pekerjaan. Jika engkau memiliki kemanusiaan yang baik, jika engkau memiliki hati nurani dan nalar, serta engkau bersedia merepotkan diri dan membayar harga, akan ada pekerjaan yang cocok untukmu dan tugas yang seharusnya kaulaksanakan, serta rumah Tuhan akan membuat pengaturan yang wajar untukmu. Tidak mengizinkanmu menjadi pemimpin didasarkan pada peraturan dan prinsip rumah Tuhan. Akan tetapi, rumah Tuhan sama sekali tidak akan mengingkari hakmu untuk melaksanakan tugas atau hakmu untuk percaya dan mengikuti Tuhan hanya karena engkau memiliki kualitas yang buruk. Bukankah ini sudah tepat? (Ya, sudah tepat.) Apakah kita perlu mempersekutukan masalah ini lebih rinci? Orang-orang yang memiliki kualitas yang buruk mendengar ini dan merenung, "Jangan persekutukan hal ini lagi. Aku merasa terlalu malu untuk menghadapi siapa pun. Aku tahu aku memiliki kualitas yang buruk, dan aku tidak akan lagi menjadi pemimpin gereja atau pekerja. Aku hanya akan menjadi ketua tim atau pengawas, atau aku akan mengerjakan pekerjaan serabutan, memasak atau membersihkan. Apa pun itu tidak menjadi masalah. Aku akan menanggung kesulitan dalam tugasku tanpa mengeluh, tunduk pada pengaturan rumah Tuhan, dan tunduk pada penataan-Nya. Kualitasku yang buruk adalah karena kasih karunia Tuhan, dan di dalamnya terkandung maksud baik-Nya. Segala sesuatu yang Tuhan lakukan adalah benar." Jika engkau dapat melihat segala sesuatu dengan cara seperti ini, itu bagus, dan itu berarti engkau memiliki sedikit kesadaran diri. Aku tidak akan mempersekutukan masalah ini panjang lebar. Singkatnya, terkait dengan orang-orang yang memiliki kualitas yang buruk ini, kita hanya sedang menganalisis masalah dan mengungkapkan kebenaran dari fakta-fakta tersebut agar lebih banyak orang memiliki sikap dan pandangan yang benar mengenai orang-orang ini, dan agar orang-orang ini memiliki sikap dan pandangan yang benar mengenai masalah kualitas buruknya sendiri, dan kemudian dapat dengan tepat menempatkan dirinya, menemukan posisi dan tugas yang sesuai dengan dirinya, yang memungkinkan ketekunannya dalam membayar harga dan tekadnya untuk menanggung penderitaan dapat dipakai dan diterapkan secara wajar. Ini tidak akan memengaruhi pemahamanmu akan kebenaran dan penerapan kebenaran, juga tidak akan memengaruhi citramu di rumah Tuhan.
Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.
Beberapa materi dalam video ini berasal dari: 【All Bible quotations in this video are translated freely from English Bible.】...