Apa yang Dimaksud dengan Mengejar Kebenaran (6) Bagian Satu

Apakah engkau semua ingat apa yang kita persekutukan pada pertemuan terakhir kita? (Tuhan pertama-tama mempersekutukan perbedaan antara apa yang orang anggap sebagai perilaku yang baik dibandingkan dengan hidup dalam kemanusiaan normal sebagaimana yang Tuhan tuntut, dan kemudian mempersekutukan perilaku moral manusia dalam budaya tradisional dan merangkum dua puluh satu pernyataan tentang perilaku moral manusia.) Dalam pertemuan terakhir kita, Aku mempersekutukan dua topik. Pertama, Aku menyampaikan persekutuan tambahan mengenai topik tentang perilaku yang baik, dan kemudian Aku menyampaikan sedikit persekutuan pendahuluan yang sederhana tentang karakter, perilaku, dan perilaku moral manusia, tanpa menjelaskannya secara mendetail. Kita telah beberapa kali mempersekutukan topik tentang apa yang dimaksud dengan mengejar kebenaran, dan Aku telah selesai mempersekutukan semua perilaku baik yang berkaitan dengan mengejar kebenaran yang perlu diungkapkan dan ditelaah. Sebelumnya, Aku juga telah mempersekutukan sedikit tentang beberapa topik mendasar mengenai perilaku moral manusia. Meskipun tidak menyingkapkan atau menelaah pernyataan tentang perilaku moral ini secara mendetail, kita telah menyebutkan cukup banyak contoh pernyataan tentang perilaku moral manusia—tepatnya dua puluh satu pernyataan. Kedua puluh satu contoh ini pada dasarnya adalah berbagai pernyataan yang ditanamkan oleh budaya tradisional Tiongkok ke dalam diri orang, yang didominasi oleh gagasan tentang kebajikan, keadilan, kesopanan, kebijaksanaan, dan kepercayaan. Sebagai contoh, kita telah membahas berbagai pepatah tentang perilaku moral manusia yang berkaitan dengan kesetiaan, keadilan, kesopanan, kepercayaan, serta bagaimana pria, wanita, pejabat, dan anak-anak seharusnya berperilaku, dan sebagainya. Entah kedua puluh satu pepatah ini sudah seluruhnya atau sudah mencakup semuanya, bagaimanapun juga, semua itu pada dasarnya dapat merepresentasikan esensi dari berbagai tuntutan yang dikemukakan budaya Tiongkok tradisional dalam kaitannya dengan perilaku moral manusia, baik dari sudut pandang ideologis maupun substantif. Setelah kita menyebutkan contoh-contoh ini, apakah engkau semua merenungkan dan mempersekutukannya? (Kami mempersekutukannya sedikit selama persekutuan kami dan mendapati bahwa mudah bagi kami untuk secara keliru menganggap beberapa pernyataan ini sebagai kebenaran. Misalnya, "Tiada gunanya memenggal kepala orang yang sudah dieksekusi; bersikaplah toleran jika memungkinkan", "Aku bersedia mengorbankan diri untuk seorang teman", serta "Berupayalah sebaik mungkin untuk melakukan dengan setia tugas apa pun yang telah orang lain percayakan kepadamu", adalah beberapa di antaranya.) Pepatah lainnya termasuk: "Sedikit kebaikan harus dibalas dengan banyak kebaikan", "Perkataan seorang pria bermartabat harus dapat dipegang", "Jika engkau memukul orang lain, jangan pukul wajah mereka; jika engkau menyingkapkan orang lain, jangan singkapkan kekurangan mereka", "Bersikaplah tegas terhadap diri sendiri dan toleran terhadap orang lain", "Saat meminum air dari sumur, orang tidak boleh melupakan siapa yang telah menggalinya", dan sebagainya. Jika diamati dengan saksama, engkau akan menyadari bahwa kebanyakan orang pada dasarnya menjadikan pernyataan tentang perilaku moral ini sebagai dasar bagi cara mereka berperilaku dan menilai perilaku moral mereka sendiri dan orang lain. Hal-hal ini ada di dalam hati semua orang sampai taraf tertentu. Salah satu penyebab utamanya adalah karena lingkungan sosial di mana orang tinggal dan didikan yang mereka terima dari pemerintah mereka, penyebab lainnya adalah karena didikan yang mereka terima dari keluarga mereka dan tradisi yang diwariskan dari leluhur mereka. Ada keluarga yang mengajar anak-anak mereka agar jangan pernah mengantongi uang yang mereka temukan, ada keluarga yang mengajar anak-anak mereka bahwa mereka harus berjiwa patriotik dan bahwa "Tiap orang sama-sama bertanggung jawab atas takdir negara mereka", karena setiap keluarga bergantung pada negara mereka. Ada keluarga yang mengajar anak mereka bahwa "Orang tidak boleh dirusak oleh kekayaan, diubah oleh kemiskinan, atau ditundukkan oleh penguasa", dan bahwa mereka tidak boleh melupakan asal-usul mereka. Ada orang tua yang menggunakan pernyataan yang jelas untuk mengajar anak mereka tentang perilaku moral, ada yang tidak mampu mengungkapkan gagasan mereka tentang perilaku moral dengan jelas, tetapi menjadikan diri mereka teladan bagi anak mereka dan mengajar melalui teladan, memengaruhi dan mendidik generasi selanjutnya melalui perkataan dan tindakan mereka. Perkataan dan tindakan ini mungkin termasuk, "Sedikit kebaikan harus dibalas dengan banyak kebaikan", "Dapatkan kesenangan dari membantu orang lain", "Kebaikan yang diterima harus dibalas dengan rasa syukur", serta pernyataan yang terdengar lebih muluk seperti, "Jadilah seperti teratai, sekalipun tumbuh di air berlumpur, bunganya berwarna bersih dan cemerlang", dan sebagainya. Tema dan esensi dari apa yang orang tua ajarkan kepada anak mereka, semua itu pada umumnya termasuk dalam lingkup perilaku moral yang dituntut oleh budaya tradisional Tiongkok. Hal pertama yang guru ajarkan kepada para siswa ketika mereka masuk sekolah adalah bahwa mereka harus bersikap baik kepada orang lain dan mendapatkan kesenangan dari membantu orang lain, bahwa mereka tidak boleh mengantongi uang yang mereka temukan dan mereka harus menghormati guru mereka dan menghormati ajaran mereka. Ketika para siswa belajar tentang pepatah Tiongkok kuno atau biografi para pahlawan dari zaman kuno, mereka diajari bahwa, "Aku bersedia mengorbankan diri untuk seorang teman", "Rakyat yang setia tidak boleh melayani dua raja, wanita yang baik tidak boleh menikahi dua suami", "Berusahalah sekuat tenaga untuk melaksanakan tugas sampai hari kematianmu", "Tiap orang sama-sama bertanggung jawab atas takdir negara mereka", "Orang tidak boleh mengambil barang yang mereka temukan di jalan", dan sebagainya. Semua ini berasal dari budaya tradisional. Bangsa-bangsa juga menganjurkan dan menyebarluaskan gagasan-gagasan ini. Sebenarnya, pendidikan nasional menganjurkan hal yang kurang lebih sama dengan didikan di keluarga—semuanya berkisar pada gagasan-gagasan dari budaya tradisional. Gagasan yang berasal dari budaya tradisional pada dasarnya meliputi semua tuntutan yang berkaitan dengan karakter, perilaku moral, perilaku manusia dan sebagainya. Di satu sisi, gagasan ini menuntut agar di luarnya orang memperlihatkan bahwa mereka beretika dan sopan, agar orang berperilaku dan bersikap dengan cara yang disetujui orang lain, dan agar orang memperlihatkan perilaku dan tindakan yang baik untuk dilihat orang lain, sembari menyembunyikan sisi gelap di lubuk hati mereka. Di sisi lain, mereka meningkatkan sikap, perilaku, dan tindakan yang berkaitan dengan cara orang berperilaku, memperlakukan orang lain, dan menangani masalah; cara orang memperlakukan teman dan keluarganya; dan cara orang memperlakukan berbagai jenis orang dan hal-hal, menjadi setingkat dengan perilaku moral, sehingga memperoleh pujian dan rasa hormat dari orang lain. Tuntutan budaya tradisional terhadap orang pada dasarnya berkisar pada hal-hal ini. Baik itu gagasan yang orang anjurkan pada skala masyarakat yang lebih besar, maupun pada skala yang lebih kecil, pemikiran tentang perilaku moral yang orang anjurkan dan junjung tinggi dalam keluarga, dan tuntutan yang dibebankan terhadap orang berkaitan dengan perilaku mereka—semua ini pada dasarnya termasuk dalam ruang lingkup ini. Jadi, di antara manusia, entah itu budaya tradisional Tiongkok, atau budaya tradisional negara lain termasuk budaya Barat, gagasan tentang perilaku moral ini semuanya terdiri dari hal-hal yang dapat orang capai dan pikirkan; semua itu adalah hal-hal yang mampu orang terapkan berdasarkan hati nurani dan nalar mereka. Setidaknya, ada orang-orang yang mampu memenuhi beberapa perilaku moral yang dituntut dari mereka. Tuntutan-tuntutan ini hanya terbatas pada ruang lingkup karakter moral, temperamen dan preferensi orang. Jika engkau tidak percaya apa yang Kukatakan ini, silakan saja kauperhatikan dan lihat adakah dari tuntutan-tuntutan yang berkaitan dengan perilaku moral manusia ini yang diarahkan pada watak rusak mereka. Adakah dari antara tuntutan-tuntutan ini yang menyatakan fakta bahwa pada dasarnya manusia menolak kebenaran, tidak menyukai kebenaran, dan menentang Tuhan? Manakah dari tuntutan-tuntutan ini yang ada kaitannya dengan kebenaran? Manakah dari tuntutan-tuntutan ini yang dapat dianggap setara dengan kebenaran? (Tak satu pun darinya.) Seperti apa pun cara orang memandang tuntutan ini, tak satu pun darinya dapat dianggap setara dengan kebenaran. Tak satu pun darinya ada kaitannya dengan kebenaran, tak satu pun darinya yang memiliki kaitan sedikit pun dengan kebenaran. Sampai saat ini, orang yang telah lama percaya kepada Tuhan, yang memiliki beberapa pengalaman, dan yang memahami sedikit kebenaran, mereka hanya memiliki sedikit pemahaman yang benar tentang hal ini; sebaliknya kebanyakan orang masih hanya memahami doktrin, dan setuju dengan gagasan ini secara teori, dan mereka gagal mencapai taraf benar-benar memahami kebenaran. Mengapa? Ini karena kebanyakan orang hanya memahami bahwa aspek-aspek dari budaya tradisional ini tidak sesuai dengan kebenaran dan tidak berkaitan dengan kebenaran dengan membandingkan peraturan dari budaya tradisional ini dengan firman dan tuntutan Tuhan. Mereka mungkin sepenuhnya mengakui dengan mulut mereka bahwa hal-hal ini tidak ada kaitannya dengan kebenaran, tetapi di lubuk hati mereka, apa yang mereka cita-citakan, setujui, yang lebih mereka sukai, dan terima dengan mudah pada dasarnya adalah gagasan-gagasan yang muncul dari budaya tradisional manusia, yang beberapa di antaranya adalah hal-hal yang dianjurkan dan dipromosikan oleh negara mereka. Orang menganggap hal-hal ini sebagai hal-hal yang positif atau memperlakukannya sebagai kebenaran. Bukankah benar demikian? (Ya.) Seperti yang dapat kaulihat, aspek-aspek budaya tradisional ini telah berakar dalam hati manusia, dan tidak dapat disingkirkan dan dicabut dalam waktu singkat.

Meskipun kedua puluh satu tuntutan tentang perilaku moral manusia yang telah kita sebutkan hanyalah sebagian dari budaya tradisional Tiongkok, sampai taraf tertentu, kedua puluh satu tuntutan itu dapat berfungsi mewakili semua tuntutan yang diajukan oleh budaya tradisional Tiongkok berkenaan dengan perilaku moral manusia. Masing-masing dari dua puluh satu pernyataan ini dianggap oleh manusia sebagai hal yang positif, luhur, dan benar, dan orang yakin bahwa pernyataan ini memungkinkan mereka untuk hidup dengan bermartabat, dan merupakan semacam perilaku moral yang patut dikagumi dan dihargai. Untuk saat ini, kita akan mengesampingkan pepatah yang relatif dangkal seperti jangan mengantongi uang yang kautemukan atau dapatkan kesenangan dari membantu orang lain, dan sebagai gantinya, kita akan membahas tentang perilaku moral yang secara khusus sangat dihargai oleh manusia dan dianggap luhur. Misalnya, pepatah: "Orang tidak boleh dirusak oleh kekayaan, diubah oleh kemiskinan, atau ditundukkan oleh penguasa"—cara paling sederhana untuk menyimpulkan arti dari pernyataan ini adalah bahwa orang tidak boleh melupakan dari mana mereka berasal. Jika seseorang memiliki perilaku moral ini, semua orang akan menganggapnya memiliki kepribadian yang sangat luhur dan menganggapnya benar-benar telah "menjadi seperti teratai, sekalipun tumbuh di air berlumpur, bunganya berwarna bersih dan cemerlang". Orang sangat menghargai pernyataan ini. Fakta bahwa orang sangat menghargai pernyataan ini berarti mereka benar-benar menyetujui dan sependapat dengan pernyataan semacam ini. Dan tentu saja, mereka juga sangat mengagumi orang-orang yang mampu menerapkan perilaku moral ini. Ada banyak orang yang percaya kepada Tuhan, tetapi masih sangat menyetujui hal-hal yang dianjurkan oleh budaya tradisional ini, dan mereka bersedia menerapkan perilaku baik tersebut. Orang-orang ini tidak memahami kebenaran: mereka menganggap percaya kepada Tuhan berarti menjadi orang yang baik, membantu orang lain, mendapatkan kesenangan dari membantu orang lain, tidak pernah menipu atau merugikan orang lain, tidak mengejar hal-hal duniawi, dan tidak tamak akan kekayaan atau kesenangan. Dalam hatinya, mereka semua setuju bahwa pernyataan "Orang tidak boleh dirusak oleh kekayaan, diubah oleh kemiskinan, atau ditundukkan oleh penguasa" adalah benar. Beberapa orang akan berkata: "Jika, sebelum percaya kepada Tuhan, seseorang sudah mematuhi perilaku moral seperti 'Orang tidak boleh dirusak oleh kekayaan, diubah oleh kemiskinan, atau ditundukkan oleh penguasa', jika mereka adalah orang yang hebat dan baik hati yang tidak melupakan dari mana mereka berasal, maka setelah mereka percaya kepada Tuhan, mereka akan segera mampu memperkenan Tuhan. Akan mudah bagi orang-orang seperti itu untuk masuk ke dalam Kerajaan Tuhan—mereka akan dapat memperoleh berkat-berkat-Nya." Banyak orang, ketika menilai dan memandang orang lain, mereka tidak memandang esensi orang itu berdasarkan firman Tuhan dan kebenaran; melainkan menilai dan memandang orang itu berdasarkan tuntutan budaya tradisional tentang perilaku moral manusia. Dari sudut pandang ini, bukankah kemungkinan besar orang yang tidak memahami kebenaran akan secara keliru menganggap hal-hal yang manusia anggap baik dan benar sebagai kebenaran? Bukankah kemungkinan besar mereka akan menganggap orang yang manusia anggap baik sebagai orang yang Tuhan anggap baik? Orang selalu ingin memaksakan gagasan mereka sendiri kepada Tuhan—dengan melakukannya, bukankah mereka sedang melakukan kesalahan yang bersifat prinsip? Bukankah ini menyinggung watak Tuhan? (Ya.) Ini adalah masalah yang sangat serius. Jika orang benar-benar memiliki nalar, mereka harus mencari kebenaran dalam hal-hal yang tidak mampu mereka pahami, mereka harus memahami maksud-maksud Tuhan, dan mereka tidak boleh sembarangan berbicara omong kosong. Dalam standar dan prinsip yang Tuhan gunakan untuk menilai manusia, apakah terdapat kalimat yang menyatakan: "Orang yang tidak melupakan dari mana mereka berasal adalah orang yang baik dan mereka memiliki ciri orang yang baik"? Pernahkah Tuhan berkata seperti itu? (Tidak.) Dalam tuntutan-tuntutan spesifik yang telah Tuhan ajukan terhadap manusia, pernahkah Dia berkata, "Jika engkau miskin, engkau tidak boleh mencuri. Jika engkau kaya, engkau tidak boleh melakukan seks bebas. Ketika engkau dihadapkan dengan intimidasi atau ancaman, engkau tidak boleh tunduk"? Apakah firman Tuhan mengandung tuntutan seperti itu? (Tidak.) Tentu saja tidak. Sangat jelas bahwa pernyataan "Orang tidak boleh dirusak oleh kekayaan, diubah oleh kemiskinan, atau ditundukkan oleh penguasa" diucapkan oleh manusia—itu tidak sesuai dengan tuntutan Tuhan terhadap manusia, itu tidak sesuai dengan kebenaran, dan pada dasarnya itu tidak sama dengan kebenaran. Tuhan tidak pernah menuntut agar makhluk ciptaan jangan melupakan dari mana mereka berasal. Apa yang dimaksud dengan tidak melupakan dari mana engkau berasal? Aku akan memberimu sebuah contoh: jika leluhurmu adalah petani, engkau harus selalu menghargai kenangan mereka. Jika leluhurmu menekuni kerajinan tangan, engkau harus mempertahankan praktik kerajinan tangan itu dan mewariskannya dari generasi ke generasi. Bahkan setelah engkau mulai percaya kepada Tuhan, engkau tidak boleh melupakan hal-hal ini—engkau tidak boleh melupakan ajaran atau keahlian atau apa pun yang diturunkan dari leluhurmu. Jika leluhurmu adalah pengemis, maka engkau harus menyimpan tongkat yang mereka gunakan untuk memukuli anjing. Jika para leluhur itu pernah harus bertahan hidup dengan memakan dedak dan tumbuhan liar, maka keturunan mereka juga harus mencoba memakan dedak dan tumbuhan liar—itu artinya mengenang duka masa lalu untuk menikmati kebahagiaan masa kini, itulah yang dimaksud dengan orang tidak melupakan dari mana dia berasal. Apa pun yang leluhurmu lakukan, engkau harus mempertahankannya. Engkau tidak boleh melupakan leluhurmu hanya karena engkau terpelajar dan memiliki status. Orang Tionghoa sangat memperhatikan hal-hal ini. Di hati mereka, tampaknya hanya orang yang tidak melupakan dari mana mereka berasal yang memiliki berhati nurani dan bernalar, dan hanya orang semacam itu yang dapat berperilaku dengan cara yang terhormat, dan hidup dengan bermartabat. Apakah pandangan ini benar? Apakah ada yang seperti ini dalam firman Tuhan? (Tidak.) Tuhan tidak pernah mengatakan hal semacam ini. Dari contoh ini, kita dapat memahami bahwa meskipun alam perilaku moral mungkin dihargai dan dicita-citakan oleh manusia, dan meskipun itu terlihat seperti hal yang positif, sesuatu yang dapat mengatur perilaku moral manusia, dan menghalangi orang agar tidak menempuh jalan kejahatan dan menjadi bejat, dan meskipun itu disebarluaskan di antara orang-orang dan diterima oleh mereka semua sebagai hal yang positif, jika engkau membandingkannya dengan firman Tuhan dan kebenaran, engkau akan memahami bahwa pernyataan dan pemikiran dari budaya tradisional ini sama sekali tidak masuk akal. Engkau akan memahami bahwa semua itu sama sekali tidak layak disebut, bahwa semua itu sama sekali tidak ada kaitannya dengan kebenaran, dan bahwa semua itu bahkan jauh dari tuntutan dan maksud Tuhan. Ketika menganjurkan gagasan dan pandangan ini, dan mengajukan berbagai pernyataan tentang perilaku moral manusia, orang tidak lebih dari menggunakan hal-hal tertentu yang melampaui alam pikiran manusia untuk memamerkan betapa orisinal dan barunya gagasan mereka, untuk memamerkan betapa hebat dan tepatnya mereka, dan untuk membuat orang memuja mereka. Entah itu di Timur atau Barat, semua orang pada dasarnya berpikiran sama. Gagasan dan titik awal dari tuntutan yang orang ajukan dan kemukakan mengenai perilaku moral manusia, dan tujuan yang ingin mereka capai melaluinya pada dasarnya adalah sama. Meskipun orang-orang dari Barat tidak memiliki gagasan dan pandangan tertentu seperti "Balaslah kejahatan dengan kebaikan" dan "Sedikit kebaikan harus dibalas dengan banyak kebaikan" yang ditekankan oleh orang-orang dari Timur dan meskipun mereka tidak memiliki pepatah yang jelas seperti pepatah yang berasal dari budaya tradisional Tiongkok, budaya tradisional mereka sendiri hanya dipenuhi dengan gagasan-gagasan ini. Meskipun hal-hal yang telah kita persekutukan dan bicarakan termasuk dalam budaya tradisional Tiongkok, sampai taraf tertentu, dan dalam esensinya, pernyataan dan tuntutan tentang perilaku moral ini merepresentasikan gagasan-gagasan dominan dari semua manusia yang rusak.

Hari ini, kita terutama telah mempersekutukan pengaruh negatif seperti apa yang diberikan budaya tradisional kepada orang melalui pernyataan dan tuntutannya yang berkaitan dengan perilaku moral manusia. Setelah memahami hal ini, hal terpenting berikutnya yang sebenarnya harus orang pahami adalah apa tuntutan Tuhan, Sang Pencipta, terhadap manusia dalam hal perilaku moral, apa yang telah Dia katakan secara khusus, dan tuntutan apa yang telah Dia kemukakan. Inilah yang harus manusia pahami. Kini kita telah memahami dengan jelas bahwa budaya tradisional tidak memberikan kesaksian sedikit pun tentang apa tuntutan Tuhan terhadap manusia atau tentang firman yang telah Dia ucapkan, dan bahwa orang belum mencari kebenaran mengenai hal ini. Jadi, budaya tradisionallah yang pertama kali manusia pelajari dan yang telah menguasai mereka, yang telah tertanam dalam hati orang, dan yang telah membimbing manusia dalam cara hidup mereka selama ribuan tahun. Inilah cara utama yang telah Iblis gunakan untuk merusak manusia. Setelah menyadari fakta ini dengan jelas, hal terpenting yang harus orang dipahami sekarang adalah apa tuntutan Tuhan Sang Pencipta terhadap manusia ciptaan dalam hal kemanusiaan dan moralitas mereka—atau, dengan kata lain, standar apa yang berkaitan dengan aspek kebenaran ini. Orang juga harus sekaligus memahami yang manakah dari hal berikut ini yang merupakan kebenaran: tuntutan yang diajukan oleh budaya tradisional ataukah apa yang Tuhan tuntut dari manusia. Mereka harus memahami yang manakah dari kedua hal ini yang mampu menyucikan dan menyelamatkan manusia, dan membimbing mereka ke jalan yang benar dalam hidup; dan yang manakah di antara kedua hal ini yang merupakan kekeliruan, yang dapat menyesatkan dan merugikan manusia, dan menjerumuskan mereka ke jalan yang salah, ke dalam kehidupan yang penuh dosa. Setelah orang mampu membedakannya, mereka akan menyadari bahwa tuntutan Tuhan Sang Pencipta terhadap manusia sepenuhnya wajar dan dapat dibenarkan, dan bahwa itu adalah prinsip kebenaran yang harus manusia terapkan. Sedangkan mengenai pernyataan tentang perilaku moral dan standar penilaian dari budaya tradisional yang memengaruhi pengejaran orang akan kebenaran, dan pandangan mereka tentang orang dan hal-hal, serta perilaku dan tindakan mereka—jika orang mampu sedikit mengenali, dan mengetahui yang sebenarnya tentang hal-hal itu serta menyadari bahwa semua itu pada dasarnya tidak masuk akal, dan menolaknya dengan segenap hati mereka, maka beberapa dari kebingungan atau masalah yang orang miliki berkenaan dengan perilaku moral akan dapat dibereskan. Bukankah membereskan hal-hal ini akan mengurangi cukup banyak rintangan dan kesulitan yang orang hadapi pada saat mereka menempuh jalan mengejar kebenaran? (Ya.) Jika orang tidak memahami kebenaran, kemungkinan besar mereka akan menyalahartikan gagasan-gagasan umum tentang perilaku moral ini sebagai kebenaran, dan mereka akan mengejar serta mematuhinya seolah-olah semua itu adalah kebenaran. Hal ini sangat memengaruhi kemampuan orang untuk memahami dan menerapkan kebenaran, serta hasil yang mereka peroleh saat mengejar kebenaran untuk mencapai perubahan watak. Ini adalah sesuatu yang pasti tidak kauinginkan untuk terjadi; tentu saja, ini juga adalah sesuatu yang tidak Tuhan inginkan untuk terjadi. Jadi, mengenai pernyataan, gagasan, dan sudut pandang tentang perilaku moral yang orang patuhi dan anggap positif ini, orang harus terlebih dahulu memahami dan mengetahui yang sebenarnya tentang semua itu berdasarkan firman Tuhan dan kebenaran, dan memahami esensi yang sebenarnya dari hal-hal tersebut, sehingga mereka akan membentuk penilaian dan pandangan yang akurat mengenai hal-hal ini di lubuk hati mereka, di mana setelah itu mereka dapat menyelidikinya, sedikit demi sedikit, menyingkirkan dan meninggalkannya. Kelak, setiap kali orang melihat pernyataan yang dianggap positif itu bertentangan dengan kebenaran, mereka harus memilih kebenaran terlebih dahulu, dan bukan pernyataan yang dianggap positif dalam gagasan manusia, karena pernyataan yang dianggap positif ini hanyalah pandangan manusia, dan semua itu sebenarnya tidak sesuai dengan kebenaran. Dari sudut mana pun kita membahasnya, tujuan utama kita dalam mempersekutukan topik-topik ini hari ini adalah untuk menyingkirkan berbagai hambatan yang muncul selama proses orang mengejar kebenaran, terutama ketidakpastian yang muncul dalam pikiran orang berkenaan dengan firman Tuhan dan standar kebenaran. Ketidakpastian ini berarti bahwa ketika engkau sedang menerima dan menerapkan kebenaran, engkau tidak mampu membedakan manakah yang merupakan pepatah tentang perilaku moral yang manusia anjurkan, dan manakah yang merupakan tuntutan Tuhan terhadap manusia, dan manakah di antaranya yang merupakan prinsip dan standar yang benar. Orang tidak jelas tentang hal-hal ini. Mengapa? (Karena mereka tidak memahami kebenaran.) Di satu sisi, karena mereka tidak memahami kebenaran. Di sisi lain, karena mereka tidak mengetahui yang sebenarnya mengenai pernyataan tentang perilaku moral yang dibuat oleh budaya tradisional manusia dan mereka masih tidak dapat memahami esensi yang sebenarnya dari pernyataan-pernyataan ini. Akhirnya, dengan keadaan pikiran yang bingung, engkau akan menganggap hal-hal yang pertama kali kaupelajari, dan yang telah tertanam dalam pikiranmu ini, sebagai hal yang benar; engkau akan menganggap hal-hal yang secara umum semua orang anggap benar ini sebagai hal yang benar. Dan kemudian, engkau akan memilih hal-hal yang kausukai, yang dapat kaucapai, dan yang sesuai dengan selera dan gagasanmu ini; dan engkau akan memperlakukan, berpaut, dan mematuhi hal-hal ini seolah-olah semua itu adalah kebenaran. Dan sebagai akibatnya, perilaku dan tingkah laku orang, serta apa yang mereka kejar, pilih, dan pegang teguh, semuanya akan sama sekali tidak ada kaitannya dengan kebenaran—semua itu akan termasuk dalam perilaku manusia dan moralitas yang manusia perlihatkan yang berada di luar lingkup kebenaran. Orang memperlakukan dan berpaut pada aspek-aspek budaya tradisional ini seolah-olah semua itu adalah kebenaran, sembari mengesampingkan dan mengabaikan kebenaran tentang tuntutan Tuhan dalam hal perilaku manusia. Sebanyak apa pun perilaku yang manusia anggap baik yang orang miliki, semua itu tidak akan pernah mendapatkan perkenanan Tuhan. Ini adalah kasus orang yang mengerahkan banyak upaya untuk melakukan hal-hal yang ada di luar lingkup kebenaran. Terlebih dari itu, jika orang memperlakukan hal-hal yang berasal dari manusia dan yang tidak sesuai dengan kebenaran ini sebagai kebenaran, orang itu telah tersesat. Orang terlebih dahulu memahami aspek-aspek budaya tradisional ini, sehingga mereka dikuasai oleh hal-hal tersebut; hal-hal ini menimbulkan segala macam pandangan keliru dalam diri mereka, dan menyebabkan kesulitan dan gangguan besar bagi mereka ketika mereka berusaha untuk memahami dan menerapkan kebenaran. Semua orang yakin jika mereka memiliki perilaku yang baik, Tuhan akan memperkenan mereka, dan mereka akan memenuhi syarat untuk menerima berkat dan janji-Nya, tetapi mampukah mereka menerima penghakiman dan hajaran Tuhan jika mereka memiliki pandangan dan pola pikir seperti ini? Seberapa besar hambatan yang diakibatkan mentalitas semacam ini terhadap penyucian dan penyelamatan manusia? Bukankah imajinasi dan gagasan ini akan membuat orang salah paham, memberontak, dan menentang Tuhan? Bukankah ini yang akan menjadi akibatnya? (Ya.) Pada dasarnya, Aku telah secara panjang lebar mengungkapkan pentingnya mempersekutukan topik ini.

Selanjutnya, kita akan menelaah dan menganalisis berbagai pepatah budaya tradisional Tiongkok tentang perilaku moral satu per satu, dan kemudian menarik kesimpulan darinya. Dengan cara ini, setiap orang akan memiliki konfirmasi dan jawaban mendasar tentang pepatah-pepatah ini, dan semua orang setidaknya akan memiliki pemahaman dan pandangan yang relatif akurat tentang pepatah-pepatah ini. Mari kita mulai dengan pepatah pertama: "Jangan mengantongi uang yang kautemukan". Apa penjelasan yang akurat tentang pepatah ini? (Jika engkau menemukan sesuatu, engkau tidak boleh menyimpannya dan menganggapnya sebagai milikmu. Ini mengacu pada semacam moralitas dan adat istiadat sosial yang baik.) Mudahkah melakukan hal ini? (Cukup mudah.) Bagi kebanyakan orang, melakukan hal ini mudah—jika engkau menemukan sesuatu, apa pun itu, engkau tidak boleh menganggapnya sebagai milikmu, karena barang itu adalah milik orang lain. Engkau tidak pantas memilikinya, dan engkau harus mengembalikannya pada pemiliknya yang sah. Jika engkau tidak dapat menemukan pemiliknya yang sah, engkau harus menyerahkannya kepada pihak berwenang—bagaimanapun juga, engkau tidak boleh menganggapnya sebagai milikmu. Pepatah ini ada kaitannya dengan tidak mengingini milik orang lain dan tidak mengambil keuntungan dari orang lain. Ini adalah tuntutan dalam hal perilaku moral manusia. Apa tujuan menanamkan tuntutan semacam ini sebagai perilaku moral manusia? Jika orang memiliki perilaku moral seperti ini, itu akan menciptakan iklim sosial yang baik dan positif. Tujuan menanamkan gagasan seperti itu ke dalam diri orang adalah untuk menghalangi mereka agar tidak mengambil keuntungan dari orang lain, sehingga mereka akan selalu memiliki perilaku moral yang baik. Jika semua orang memiliki perilaku moral yang baik seperti ini, iklim sosial akan membaik, dan akan mencapai taraf di mana tak seorang pun mengambil barang yang mereka temukan di jalan, dan tak seorang pun perlu mengunci pintu rumah mereka di malam hari. Dengan iklim sosial seperti ini, ketertiban umum akan membaik, dan orang dapat hidup lebih damai. Pencurian dan perampokan akan makin berkurang, perkelahian dan pembunuhan untuk membalas dendam makin berkurang; orang yang hidup di tengah masyarakat semacam ini akan memiliki rasa aman, dan kesejahteraan secara menyeluruh yang lebih besar. "Jangan mengantongi uang yang kautemukan" adalah tuntutan yang diajukan dalam hal perilaku moral masyarakat di tengah lingkungan sosial dan lingkungan hidup mereka. Tuntutan ini bertujuan untuk melindungi iklim sosial dan lingkungan hidup orang. Mudahkah mencapai tujuan ini? Entah orang mampu mencapainya atau tidak, mereka yang mengemukakan gagasan dan tuntutan tentang perilaku moral manusia ini bertujuan untuk mewujudkan lingkungan sosial dan lingkungan hidup yang ideal yang didambakan orang. Pepatah "Jangan mengantongi uang yang kautemukan" tidak ada kaitannya dengan standar bagi cara orang berperilaku—itu hanyalah tuntutan dalam hal perilaku moral orang setiap kali mereka menemukan sesuatu di jalan. Pepatah ini hampir tidak ada kaitannya dengan esensi manusia. Manusia telah mengajukan tuntutan tentang perilaku moral manusia ini selama ribuan tahun. Tentu saja, ketika orang memenuhi tuntutan ini, suatu negara atau masyarakat mungkin akan mengalami suatu masa di mana kejahatan berkurang, dan bahkan mungkin mencapai titik di mana orang tidak perlu mengunci pintu rumah mereka di malam hari, di mana tak seorang pun mengambil barang yang mereka temukan di jalan, dan di mana mayoritas orang tidak mengantongi uang yang mereka temukan. Pada saat-saat seperti ini, iklim sosial, ketertiban umum, dan lingkungan hidup semuanya akan relatif stabil dan harmonis, tetapi iklim dan lingkungan masyarakat ini hanya mampu dipertahankan untuk sementara waktu, atau selama periode tertentu, atau selama jangka waktu tertentu. Dengan kata lain, orang hanya mampu mencapai atau mematuhi perilaku moral semacam ini di tengah lingkungan masyarakat tertentu. Begitu lingkungan hidup mereka berubah, dan iklim sosial yang lama rusak, sangatlah mungkin perilaku moral seperti "jangan mengantongi uang yang kautemukan" akan berubah, seiring dengan berubahnya lingkungan sosial, iklim sosial, dan tren sosial. Lihatlah bagaimana, setelah si naga merah yang sangat besar berkuasa, mereka menyesatkan orang dengan menganjurkan segala macam pepatah untuk memastikan stabilitas masyarakat. Pada tahun 80-an, bahkan ada sebuah lagu populer dengan lirik sebagai berikut: "Di pinggir jalan, aku memungut satu sen dari tanah, dan menyerahkannya kepada polisi. Polisi tersebut mengambil satu sen itu, dan mengangguk kepadaku. Aku dengan senang hati berkata, 'Sampai jumpa lagi, Pak!'" Bahkan masalah sepele seperti menyerahkan satu sen pun tampaknya layak untuk disebutkan dan dinyanyikan—sungguh suatu moral sosial dan perilaku yang "luhur"! Namun, apakah kenyataannya akan seperti itu? Orang bisa saja menyerahkan satu sen yang mereka temukan kepada polisi, tetapi akankah mereka menyerahkan seratus yuan atau seribu yuan? Sulit untuk dikatakan. Jika seseorang menemukan emas, perak, atau barang berharga atau sesuatu yang bahkan lebih berharga di jalan, dia tidak akan mampu mengendalikan keserakahannya, monster di dalam dirinya akan dilepaskan, dan dia akan mampu menyakiti dan merugikan orang, menjebak dan menipu orang lain—dia akan mampu secara aktif merampok uang seseorang, dan bahkan membunuh seseorang. Pada saat seperti itu, masih berfungsikah budaya tradisional dan moral tradisional manusia yang luhur tersebut? Ke mana perginya standar moral "Jangan mengantongi uang yang kautemukan" tersebut? Apa yang diperlihatkan hal ini kepada kita? Entah orang memiliki semangat dan perilaku moral ini atau tidak, tuntutan dan pepatah ini hanyalah sesuatu yang orang bayangkan, inginkan, dan harapkan untuk dapat mereka wujudkan dan capai. Dalam konteks sosial tertentu, dan di lingkungan yang sesuai, orang-orang yang memiliki hati nurani dan nalar tertentu mampu menerapkan perilaku moral tidak mengantongi uang yang mereka temukan, tetapi ini hanyalah perilaku baik yang sementara, ini tidak dapat menjadi standar bagi cara mereka berperilaku, atau bagi cara mereka hidup. Segera setelah lingkungan masyarakat dan konteks di mana orang-orang itu hidup berubah, prinsip dan perilaku moral yang ideal berdasarkan gagasan manusia ini akan sangat jauh dari orang. Itu tidak akan mampu memuaskan keinginan dan ambisi mereka, dan, terlebih lagi, itu tentu saja tidak akan mampu membatasi perbuatan jahat mereka. Itu hanyalah perilaku baik yang sementara, dan merupakan kualitas moral yang relatif luhur berdasarkan apa yang manusia cita-citakan. Ketika berbenturan dengan kenyataan dan kepentingan pribadi, ketika itu bertentangan dengan apa yang orang cita-citakan, moral semacam ini tidak akan dapat membatasi perilaku orang, atau menuntun perilaku dan pemikiran mereka. Pada akhirnya, orang akan memutuskan untuk melanggarnya, mereka akan melanggar gagasan moralitas tradisional ini, dan memilih kepentingan mereka sendiri. Jadi, mengenai moral "jangan mengantongi uang yang kautemukan", orang mampu menyerahkan satu sen yang mereka temukan kepada polisi. Namun, jika mereka menemukan seribu yuan, sepuluh ribu yuan, atau koin emas, akankah mereka tetap menyerahkannya kepada polisi? Mereka tidak akan mampu melakukannya. Ketika keuntungan dari mengambil uang itu melampaui jangkauan yang dapat dicapai oleh moralitas manusia, mereka tidak akan mampu menyerahkannya kepada polisi. Mereka tidak akan mampu mewujudkan moral dari pepatah "Jangan mengantongi uang yang kautemukan". Jadi, apakah "jangan mengantongi uang yang kautemukan" merepresentasikan esensi kemanusiaan seseorang? Itu sama sekali tidak dapat merepresentasikan esensi kemanusiaan mereka. Sangat jelas bahwa tuntutan tentang perilaku moral manusia ini tidak dapat digunakan sebagai dasar untuk menilai apakah seseorang memiliki kemanusiaan atau tidak, dan itu tidak dapat berfungsi sebagai standar bagi cara manusia berperilaku.

Akuratkah menilai perilaku moral dan karakter dengan cara melihat terlebih dahulu apakah dia mengantongi uang yang dia temukan? (Tidak.) Mengapa tidak? (Karena orang tidak mampu untuk benar-benar mematuhi tuntutan itu. Jika mereka menemukan sedikit uang atau sesuatu yang tidak terlalu berharga, mereka akan mampu menyerahkannya, tetapi jika itu adalah sesuatu yang berharga, kemungkinan besar mereka tidak akan menyerahkannya. Jika itu adalah barang yang sangat berharga, kemungkinannya jauh lebih besar bahwa mereka tidak akan menyerahkannya—mereka bahkan mungkin akan menyimpannya dengan segala cara.) Maksudmu, tuntutan "Jangan mengantongi uang yang kautemukan" tidak dapat berfungsi sebagai standar untuk menilai kemanusiaan orang karena orang tidak mampu mematuhinya. Lalu, jika orang mampu memenuhi tuntutan ini, dapatkah tuntutan ini dianggap sebagai standar untuk menilai kemanusiaan mereka? (Tidak.) Mengapa itu tidak dapat dianggap sebagai standar untuk menilai kemanusiaan orang, meskipun orang mampu mematuhinya? (Mampu atau tidak mampunya orang untuk mematuhi tuntutan "Jangan mengantongi uang yang kautemukan" sebenarnya tidak mencerminkan kualitas kemanusiaannya. Ini tidak ada kaitannya dengan seberapa baik atau seberapa buruk kemanusiaannya, dan ini bukan standar untuk menilai kemanusiaan orang.) Ini adalah salah satu cara untuk memahami masalah ini. Hanya ada sedikit kaitan antara seseorang tidak mengantongi uang yang ditemukannya dan kualitas kemanusiaannya. Jadi, jika engkau bertemu seseorang yang benar-benar mampu untuk tidak mengantongi uang yang ditemukannya, bagaimana engkau akan memandang dirinya? Dapatkah engkau menganggapnya sebagai orang yang memiliki kemanusiaan, orang yang jujur, dan orang yang tunduk kepada Tuhan? Dapatkah engkau menggolongkan orang yang tidak mengantongi uang yang ditemukannya sebagai standar bahwa orang itu memiliki kemanusiaan? Kita harus mempersekutukan masalah ini. Siapa yang mau menyampaikan pendapatnya? (Kemampuan seseorang untuk tidak mengantongi uang yang ditemukannya tidak relevan untuk menentukan esensi kemanusiaan orang itu. Esensi dirinya haruslah dinilai berdasarkan kebenaran.) Apa lagi? (Ada orang yang mampu untuk tidak mengantongi uang yang mereka temukan, meskipun uang yang mereka temukan itu banyak, atau mereka melakukan banyak perbuatan baik yang seperti itu, tetapi mereka memiliki tujuan dan niat mereka sendiri. Mereka ingin dihargai atas perbuatan baik mereka dan mendapatkan reputasi yang baik, jadi perilaku baik lahiriah mereka tidak dapat menentukan kualitas kemanusiaan mereka.) Ada lagi? (Misalkan seseorang mampu untuk tidak mengantongi uang yang ditemukannya, tetapi orang itu memperlakukan kebenaran dengan sikap yang menentang, dengan sikap yang muak akan kebenaran. Jika kita menilai dirinya berdasarkan firman Tuhan, dia adalah orang yang tidak memiliki kemanusiaan. Jadi, tidaklah akurat menggunakan standar ini untuk menilai apakah seseorang memiliki kemanusiaan atau tidak.) Beberapa darimu telah menyadari bahwa menggunakan pepatah "Jangan mengantongi uang yang kautemukan" untuk menilai apakah seseorang memiliki kemanusiaan atau tidak adalah keliru—engkau tidak setuju menggunakan pepatah itu sebagai standar untuk menilai apakah seseorang memiliki kemanusiaan atau tidak. Sudut pandang ini benar. Mampu atau tidaknya orang untuk tidak mengantongi uang yang ditemukannya, tidak ada kaitannya dengan prinsip bagi caranya berperilaku dan jalan yang dia pilih. Mengapa Kukatakan demikian? Pertama-tama, ketika seseorang tidak mengantongi uang yang ditemukannya, ini hanya merepresentasikan perilaku yang sesaat. Sulit untuk mengatakan apakah dia tidak mengantongi uang tersebut karena uang yang ditemukannya itu nilainya kecil, atau karena orang lain sedang memperhatikan dirinya, dan dia ingin mendapatkan pujian dan penghargaan dari mereka. Meskipun tindakannya murni, itu hanyalah semacam perilaku baik, dan itu tidak ada kaitannya dengan pengejaran dan perilakunya. Paling-paling, hanya dapat dikatakan bahwa orang ini memiliki sedikit perilaku baik dan karakter yang luhur. Meskipun perilaku ini tidak dapat disebut sebagai hal yang negatif, tetapi itu juga tidak dapat digolongkan sebagai hal yang positif, dan seseorang tentu saja tidak dapat dianggap positif hanya karena dia tidak mengantongi uang yang ditemukannya. Ini karena hal tersebut tidak ada kaitannya dengan kebenaran, dan tidak ada kaitannya dengan tuntutan Tuhan terhadap manusia. Ada orang-orang yang berkata: "Bagaimana mungkin itu bukan hal yang positif? Bagaimana mungkin perilaku luhur seperti itu tidak dianggap positif? Jika seseorang tidak bermoral dan tidak memiliki kemanusiaan, akankah dia mampu untuk tidak mengantongi uang yang ditemukannya?" Itu bukanlah cara yang akurat untuk menjelaskan hal ini. Setan mampu melakukan beberapa hal baik—jadi dapatkah engkau menganggapnya bukan setan? Ada raja-raja setan yang melakukan satu atau dua perbuatan baik agar menjadi terkenal dan memperkuat posisi mereka dalam sejarah—jadi akankah engkau menyebut mereka orang baik? Engkau tidak dapat menentukan apakah seseorang memiliki kemanusiaan atau tidak, atau apakah karakternya baik atau buruk, hanya berdasarkan satu hal baik atau buruk yang dilakukannya. Agar suatu penilaian menjadi akurat, engkau harus mendasarkannya pada perilakunya secara keseluruhan, dan dengan melihat apakah dia memiliki gagasan dan pandangan yang benar atau tidak. Jika seseorang mampu mengembalikan barang yang sangat berharga yang ditemukannya kepada pemiliknya yang sah, ini hanya memperlihatkan bahwa dia tidak serakah, dan bahwa dia tidak mengingini milik orang lain. Dia memiliki aspek perilaku moral yang baik ini, tetapi apakah ini ada kaitannya dengan caranya berperilaku dan sikapnya terhadap hal-hal yang positif? (Tidak.) Sangatlah mungkin ada orang-orang yang tidak akan setuju dengan hal ini, mereka akan menganggap pernyataan ini sedikit subjektif dan tidak akurat. Namun, mempertimbangkan hal ini dari sudut pandang yang berbeda, jika seseorang kehilangan sesuatu yang berguna, bukankah dia akan sangat mengkhawatirkannya? Jadi, bagi orang yang menemukan barang tersebut, apa pun yang temukannya, itu bukan miliknya, oleh karena itu dia tidak boleh menyimpannya. Entah itu adalah barang atau uang, entah itu berharga atau tidak, itu bukanlah miliknya—jadi bukankah adalah kewajiban mereka untuk mengembalikan barang itu kepada pemiliknya yang sah? Bukankah ini yang seharusnya orang lakukan? Apakah nilai dari menganjurkan hal ini? Bukankah ini membesar-besarkan masalah sepele? Bukankah terlalu berlebihan memperlakukan pepatah jangan mengantongi uang yang ditemukan sebagai semacam kualitas moral yang luhur dan mengangkatnya ke dalam konteks rohani yang luhur? Apakah perilaku baik yang satu ini bahkan layak disebutkan di antara orang baik? Ada begitu banyak perilaku yang lebih baik dan lebih luhur dibandingkan dengan perilaku ini, jadi pepatah jangan mengantongi uang yang ditemukan tidak layak disebutkan. Namun, jika engkau dengan penuh semangat menyebarluaskan dan menganjurkan perilaku baik ini di antara para pengemis dan pencuri, itu barulah tepat, dan mungkin ada gunanya. Jika suatu negara dengan gencar menganjurkan pepatah "Jangan mengantongi uang yang kautemukan", itu memperlihatkan bahwa orang-orang di sana sudah sangat jahat, bahwa negara itu dikuasai oleh para perampok dan pencuri, dan negara tidak mampu melindungi dirinya dari mereka. Jadi, satu-satunya jalan keluar mereka adalah dengan menganjurkan dan menyebarluaskan perilaku semacam ini untuk menyelesaikan masalah tersebut. Sebenarnya, perilaku ini sudah seharusnya menjadi kewajiban manusia. Misalnya, jika seseorang menemukan lima puluh yuan di jalan dan dengan mudah mengembalikannya ke pemiliknya yang sah, bukankah itu tidak terlalu penting sehingga itu bahkan tidak layak untuk disebutkan? Apakah itu benar-benar perlu dipuji? Apakah perlu untuk membesar-besarkan sesuatu yang sepele, dan memuji orang ini, dan bahkan memujinya karena perilaku moralnya yang luhur dan terhormat, hanya karena dia mengembalikan uang yang hilang kepada pemiliknya? Bukankah mengembalikan uang yang hilang kepada pemiliknya yang sah hanyalah hal yang normal dan wajar untuk dilakukan? Bukankah ini adalah sesuatu yang seharusnya dilakukan oleh orang yang memiliki nalar yang normal? Bahkan seorang anak kecil yang tidak memahami moral sosial pun akan mampu melakukan hal ini, jadi perlukah sebenarnya membesar-besarkan hal ini? Apakah perilaku ini benar-benar layak untuk dianggap setara dengan moralitas manusia? Menurut pendapat-Ku, itu tidak dapat dianggap setara dengan moralitas manusia, dan tidak layak dipuji. Itu hanyalah perilaku baik sementara dan tidak ada kaitannya dengan benar-benar menjadi orang yang baik pada tingkat dasar. Tidak mengantongi uang yang ditemukan adalah masalah yang sangat sepele. Itu adalah sesuatu yang seharusnya mampu dilakukan oleh orang normal mana pun, dan oleh siapa pun yang adalah manusia atau berbicara dalam bahasa manusia. Ini adalah sesuatu yang mampu orang lakukan jika mereka berusaha keras, mereka tidak memerlukan seorang guru atau cendekiawan untuk mengajari mereka melakukan hal itu. Seorang anak berusia tiga tahun mampu melakukan ini, tetapi para cendekiawan dan guru telah memperlakukannya sebagai persyaratan penting dari perilaku moral manusia, dan dengan melakukannya, mereka telah membesar-besarkan sesuatu yang sepele. Meskipun pepatah "Jangan mengantongi uang yang kautemukan" adalah pernyataan yang menilai perilaku moral manusia, pernyataan tersebut pada dasarnya tidak dapat dijadikan cara untuk mengukur apakah seseorang memiliki kemanusiaan atau moralitas yang luhur. Oleh karena itu, tidaklah tepat dan pantas menggunakan pepatah "Jangan mengantongi uang yang kautemukan" untuk menilai kualitas kemanusiaan seseorang.

Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.

Hubungi kami via WhatsApp