Apa yang Dimaksud dengan Kenyataan Kebenaran? (Bagian Tiga)

Apa prioritas pertama saat ini dalam hal mengejar dan memperoleh kebenaran? Pertama-tama, engkau harus menganalisis berbagai kekeliruan dan hal-hal menyesatkan yang sebelumnya engkau anggap benar dan termasuk dalam gagasan tradisional, dan membuangnya begitu engkau benar-benar memahami esensinya. Ini adalah lapisan pertama dari belenggu yang mengikat manusia. Berapa banyak dari semua hal tersebut yang kini masih engkau simpan dalam hati? Apakah engkau sudah benar-benar membuangnya? (Belum.) Apakah mudah untuk membuang semua itu? Sebagai contoh, ada orang-orang yang ingin melaksanakan tugas mereka tetapi juga merasa bahwa mereka harus berbakti kepada orang tua, yang berkaitan dengan hubungan emosional mereka. Jika engkau hanya terus-menerus memangkas perasaanmu, berkata pada dirimu sendiri untuk tidak memikirkan orang tua dan keluargamu, dan hanya memikirkan Tuhan serta berfokus pada kebenaran, tetapi engkau tidak tahan untuk selalu memikirkan orang tuamu, ini tidak akan dapat menyelesaikan masalah yang mendasar. Untuk dapat mengatasi masalah ini, engkau harus menganalisis hal-hal yang engkau anggap benar, serta pepatah, pengetahuan, dan teori yang engkau warisi dan yang sesuai dengan gagasan manusia. Selain itu, ketika memperlakukan orang tuamu, apakah engkau memenuhi kewajibanmu sebagai anak untuk merawat mereka atau tidak, itu harus sepenuhnya didasarkan pada keadaan pribadimu dan pengaturan Tuhan. Bukankah ini menjelaskan masalahnya dengan sempurna? Ada seseorang yang ketika meninggalkan orang tuanya, merasa sangat berutang kepada mereka dan merasa tidak melakukan apa pun bagi orang tuanya. Namun, ketika dia kemudian tinggal bersama orang tuanya, dia sama sekali tidak berbakti kepada mereka, dan tidak memenuhi kewajiban apa pun. Apakah dia orang yang benar-benar berbakti? Ini hanyalah kata-kata kosong. Apa pun yang engkau lakukan, apa pun yang engkau pikirkan, atau apa pun yang engkau rencanakan, semua itu tidak penting. Hal yang penting adalah apakah engkau mampu memahami dan sungguh-sungguh percaya bahwa semua makhluk ciptaan berada di tangan Tuhan. Beberapa orang tua memiliki berkat itu dan ditakdirkan untuk dapat menikmati kebahagiaan keluarga dan kebahagiaan memiliki keluarga besar yang sejahtera. Ini adalah kedaulatan Tuhan dan berkat yang Tuhan berikan kepada mereka. Beberapa orang tua tidak ditakdirkan seperti ini; Tuhan tidak mengatur hal ini bagi mereka. Mereka tidak diberkati dengan kebahagiaan memiliki keluarga yang bahagia, atau dengan kebahagiaan memiliki anak-anak yang tinggal bersama mereka. Ini adalah pengaturan Tuhan dan manusia tidak dapat memaksakan hal ini. Apa pun yang terjadi, pada akhirnya dalam hal berbakti, setidaknya, orang harus memiliki pola pikir yang mau tunduk. Jika lingkungan mengizinkan, dan engkau memiliki sarana untuk melakukannya, engkau dapat menunjukkan baktimu kepada orang tuamu. Jika lingkungan tidak mengizinkan dan engkau tidak memiliki sarananya, jangan berusaha memaksakannya—disebut apakah sikap seperti ini? (Ketundukan.) Ini disebut ketundukan. Bagaimana engkau dapat memiliki ketundukan seperti ini? Atas dasar apa engkau harus tunduk? Engkau harus tunduk atas dasar bahwa semua hal ini diatur oleh Tuhan dan dikendalikan oleh Tuhan. Meskipun manusia mungkin ingin memilih, mereka tidak bisa, mereka tidak berhak untuk memilih, dan mereka harus tunduk. Setelah engkau merasa bahwa manusia sudah seharusnya tunduk dan bahwa segala sesuatu telah diatur oleh Tuhan, bukankah hatimu akan merasa lebih tenang? (Ya.) Lalu, akankah hati nuranimu tetap merasa tertegur? Hati nuranimu tidak akan lagi terus-menerus tertegur, dan gagasan bahwa engkau belum berbakti kepada orang tuamu tidak akan lagi menguasai dirimu. Kadang kala, engkau mungkin masih memikirkannya karena hal ini adalah pemikiran atau naluri normal dalam kemanusiaan, dan tak seorang pun mampu menghindarinya. Sebagai contoh, ketika melihat ibu mereka sakit, orang yang normal akan bersusah hati dan berharap merekalah yang menderita menggantikan ibu mereka. Beberapa orang berkata, "Seandainya saja ibuku dapat disembuhkan meskipun itu berarti memperpendek usiaku beberapa tahun!" Ini adalah sisi positif dari kemanusiaan dan naluri manusia. Jadi, ketika engkau melihat ibumu sakit dan engkau bersusah hati, apakah perasaan sedih ini menjadi masalah? Tidak, ini bukan masalah karena ini adalah sesuatu yang seharusnya dimiliki oleh sifat kemanusiaan yang normal. Merasakan kesusahan di dalam hatimu adalah hal yang baik; itu membuktikan engkau memiliki hati dan kemanusiaan. Di dunia ini, ibumu adalah orang yang sudah diatur Tuhan menjadi orang yang paling dekat denganmu. Ketika dia sakit dan menderita, tetapi engkau tidak peduli, apakah engkau masih bisa menganggap dirimu manusia? Jika engkau berkata, "Aku tidak memiliki perasaan terhadapnya dan aku tidak terpengaruh oleh rasa sakitnya, aku hanya merasakan sakit ketika Tuhan merasakan sakit!" Apakah pernyataan tersebut benar? Pernyataan tersebut tidak benar, itu keliru. Ibumu melahirkanmu, dia membesarkanmu selama bertahun-tahun, dia adalah orang yang paling dekat denganmu dan sangat mencintaimu. Ketika dia sakit dan menderita, jika engkau tidak merasakan kesusahan dalam hatimu, berarti hatimu pasti sangat keras! Ini tidak normal; jangan berusaha menjadi orang seperti itu. Bersusah hati karena hal seperti ini adalah sesuatu yang sangat normal, tetapi jika engkau berhenti melakukan tugasmu karena perasaan sedih tersebut dan mengeluh tentang Tuhan, apakah ini normal? (Tidak.) Mengapa ini tidak normal? Karena pemikiranmu tidak sesuai dengan kebenaran dan bukan sesuatu yang seharusnya dimiliki oleh sifat kemanusiaan yang normal, hal tersebut tidak normal. Manusia memiliki natur Iblis, mereka hidup dengan wataknya yang rusak sehingga mampu melanggar kebenaran dan kehilangan hati nurani serta nalarnya, seperti tiba-tiba mengalami gangguan mental. Ini tidak normal, jadi bagaimana hal tersebut bisa terjadi? Penyebabnya adalah watak manusia yang rusak. Begitu wataknya yang rusak tersingkap, mereka bisa menentang Tuhan kapan pun dan di mana pun, menghasilkan pemikiran yang tidak sejalan dengan kebenaran dan memberontak terhadap Tuhan kapan pun mereka mau. Begitulah keadaannya.

Manusia yang rusak semuanya memiliki perasaan dan sering kali terkekang oleh perasaan tersebut sehingga membuat mereka tidak mampu tunduk kepada Tuhan atau bertindak sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran. Untuk mencapai ketundukan kepada Tuhan, manusia harus menyelesaikan masalah perasaan. Perasaan seperti apa yang paling menghalangi manusia untuk menerapkan kebenaran dan harus disingkirkan? Perasaan seperti apa yang seharusnya menjadi bagian dari sifat kemanusiaan yang normal dan tidak menimbulkan masalah? Perasaan seperti apa yang termasuk dalam watak yang rusak? Semua hal ini harus dikenali dengan jelas. Misalnya, katakanlah anakmu mengalami perundungan. Sebagai ibunya, engkau melindunginya dan mencari keluarga yang merundungnya untuk membicarakan masalah tersebut—apakah ini normal? Itu adalah anakmu, sudah sepantasnya dan sewajarnya engkau melindunginya. Namun, jika anakmu merundung anak-anak lain, bahkan merundung anak-anak yang berperilaku baik, dan engkau melihat hal tersebut tetapi tidak peduli, engkau menganggap anakmu sangat hebat, bahkan secara diam-diam engkau mengajarinya untuk memukul orang lain, dan ketika orang lain datang untuk membicarakannya denganmu, engkau tetap membela anakmu, apakah perilaku ini benar? Tidak. Apa masalahnya dengan perilaku ini? Perilaku tersebut didorong oleh perasaan. Mengapa Aku mengatakan itu didorong oleh perasaan? Karena engkau tidak bisa menerima jika orang lain merundung anakmu, ketika anakmu menderita sedikit saja, engkau akan langsung pergi untuk menyelesaikan masalah itu dan meminta penjelasan, jadi mengapa engkau menutup mata jika anakmu yang merundung anak orang lain? Engkau bahkan mendorong anakmu untuk memukul orang lain, bukankah itu kejam? Orang-orang yang melakukan hal seperti itu memiliki watak yang kejam. Bagaimana hal ini dapat dijelaskan dalam kaitannya dengan perasaan? Apa yang menjadi ciri dari perasaan? Tentu saja bukan sesuatu yang positif. Perasaan adalah fokus pada hubungan fisik dan memuaskan kesukaan daging. Sikap pilih kasih, membela kekurangan orang lain, sangat menyayangi, memanjakan, dan menuruti keinginan semua termasuk dalam perasaan. Ada orang-orang sangat mementingkan perasaan, mereka bereaksi terhadap apa pun yang terjadi pada mereka berdasarkan perasaan; dalam hati, mereka tahu betul ini salah, tetapi tetap tidak mampu bersikap objektif, apalagi bertindak sesuai prinsip. Ketika manusia selalu dikekang oleh perasaan, apakah mereka mampu menerapkan kebenaran? Ini sangatlah sulit! Ketidakmampuan banyak orang untuk menerapkan kebenaran adalah disebabkan karena perasaan; mereka menganggap perasaan sebagai hal yang sangat penting, mereka menempatkannya di posisi pertama. Apakah mereka orang yang mencintai kebenaran? Tentu saja tidak. Pada dasarnya, apa arti perasaan? Perasaan adalah sejenis watak yang rusak. Perwujudan dari perasaan dapat digambarkan dengan beberapa kata: pilih kasih, perlindungan yang tidak berprinsip terhadap orang lain, menjaga hubungan fisik dan keberpihakan; inilah arti perasaan. Apa akibatnya jika orang memiliki perasaan dan hidup berdasarkan perasaan? Mengapa Tuhan paling membenci perasaan manusia? Sebagian orang selalu dikekang oleh perasaannya, mereka tidak mampu menerapkan kebenaran, meskipun mereka ingin tunduk kepada Tuhan, mereka tak mampu melakukannya sehingga mereka tersiksa dengan perasaan mereka. Ada banyak orang yang memahami kebenaran, tetapi tidak mampu menerapkannya; ini juga karena mereka dikekang oleh perasaan. Misalnya, beberapa orang meninggalkan rumah untuk melaksanakan tugasnya, tetapi mereka selalu memikirkan keluarganya siang dan malam, dan mereka tidak mampu melaksanakan tugasnya dengan baik. Bukankah ini masalah? Ada orang-orang yang memendam cinta rahasia, hanya ada tempat untuk orang tersebut di hatinya sehingga memengaruhi pelaksanaan tugas mereka. Bukankah ini masalah? Sebagian lagi ada yang mengagumi dan mengidolakan seseorang; mereka tidak mau mendengarkan siapa pun kecuali orang tersebut, sampai-sampai mereka bahkan tidak mendengarkan apa yang Tuhan katakan. Sekalipun orang lain mempersekutukan kebenaran dengannya, mereka tidak mau menerimanya; mereka hanya mendengarkan kata-kata orang tersebut, perkataan idolanya. Ada orang-orang yang memiliki idola di dalam hatinya dan tidak mengizinkan orang lain untuk berbicara atau menyentuh idolanya. Jika ada yang membicarakan masalah idolanya, mereka menjadi marah, berusaha keras membela idolanya, dan membalikkan perkataan orang tersebut. Mereka tidak akan membiarkan idolanya mengalami ketidakadilan tanpa pembelaan, mereka melakukan segala cara untuk melindungi reputasi idolanya; melalui perkataan mereka, kesalahan idolanya menjadi benar, mereka tidak membiarkan orang lain untuk mengatakan perkataan yang benar atau mengungkapkannya. Ini bukan keadilan; ini disebut perasaan. Apakah perasaan hanya ditujukan kepada keluarga seseorang? (Tidak.) Perasaan itu cukup luas; perasaan adalah semacam watak yang rusak, bukan hanya tentang hubungan daging di antara anggota keluarga, perasaan tidak terbatas pada ruang lingkup itu. Perasaan juga dapat melibatkan atasanmu, atau seseorang yang telah menunjukkan kebaikan atau membantumu, seseorang yang memiliki hubungan paling dekat denganmu atau yang memiliki hubungan baik denganmu, tetanggamu, temanmu, atau bahkan seseorang yang engkau kagumi—ini bukan hal yang pasti. Jadi, apakah membuang perasaan itu semudah tidak memikirkan orang tua atau keluargamu? (Tidak.) Apakah semudah itu membuang perasaan? Ketika kebanyakan orang mencapai usia 30-an dan mampu hidup mandiri, mereka tidak terlalu merindukan rumah, dan pada usia 40-an, hal ini sepenuhnya menjadi sesuatu yang normal. Ketika seseorang belum mencapai usia dewasa, mereka merasa sangat merindukan rumah dan tidak dapat meninggalkan orang tuanya karena belum memiliki kemampuan untuk hidup mandiri. Merindukan keluarga dan merindukan orang tua adalah hal yang normal. Ini bukan masalah perasaan. Ketika sikap dan cara pandangmu dalam melakukan sesuatu dipengaruhi oleh perasaan, barulah itu menjadi masalah perasaan. Adanya ikatan darah antara engkau dan orang tuamu secara daging, dan engkau telah hidup bersama selama bertahun-tahun, wajar jika engkau merindukan orang tuamu. Ada juga yang mengatakan mereka tidak merindukan orang tuanya sama sekali, mungkin mereka baru saja meninggalkan rumah, melihat hal-hal yang baru dan segar di mana-mana, merasa akhirnya bisa melepaskan diri dari omelan orang tua, dan tidak ada yang mencoba mengendalikannya sehingga mereka merasa bahagia. Namun, apakah merasa bahagia berarti mereka tidak memiliki perasaan? Tidak. Beberapa orang berkata, "Aku telah percaya kepada Tuhan selama beberapa tahun dan aku telah memahami sejumlah kebenaran. Aku melaksanakan tugasku tanpa dikekang oleh perasaan sama sekali dan aku tidak memiliki perasaan lagi." Apakah pernyataan tersebut nyata? Ini jelas merupakan perkataan seseorang yang tidak memahami kebenaran. Ketika orang-orang mendengarkan banyak khotbah, memahami beberapa kata dan doktrin, serta dapat berbicara tentang beberapa teori rohani, mereka berpikir, "Aku telah bertumbuh dalam tingkat pertumbuhanku dan memahami banyak kebenaran. Jika aku ditangkap, aku tidak akan menjadi seperti Yudas. Setidaknya, aku memiliki iman dan tekad ini. Bukankah ini tingkat pertumbuhan? Ketika aku mengingat kembali semangatku saat pertama kali percaya kepada Tuhan, aku bersedia mendedikasikan seluruh hidupku kepada Tuhan. Semangat dan janji itu tidak berubah dan tidak pudar sedikit pun. Bukankah ini kemajuan?" Apakah ini fenomena yang dangkal? (Ya.) Ini semua adalah fenomena yang dangkal. Jika manusia ingin membuat kemajuan yang nyata, mereka harus memahami kebenaran. Dapatkah kemampuan untuk berbicara tentang doktrin dan teori-teori rohani mencapai perubahan yang nyata? (Tidak bisa.) Jika engkau bahkan tidak mampu menyelesaikan masalahmu sendiri dan tidak mampu menerapkan kebenaran apa pun, bisakah engkau bermanfaat bagi orang lain? Mendengarkan khotbah dan memahami doktrin saja tidak akan ada gunanya; engkau harus menerapkan dan mengalami firman Tuhan. Ketika engkau memahami kebenaran, engkau harus menerapkannya; hanya dengan begitu engkau akan memiliki kenyataan. Engkau hanya dapat memahami kebenaran lebih dalam dengan menerapkannya, engkau hanya dapat memperoleh kebenaran ketika engkau benar-benar memahaminya, dan engkau hanya dapat bertumbuh dengan memperoleh kebenaran.

Apa yang engkau semua pahami sekarang setelah Aku bersekutu denganmu dan membantumu membedakan apa itu kebenaran dan apa itu perkataan yang benar? (Kami harus memandang segala sesuatu berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran dan tidak bisa menganggap perilaku baik lahiriah atau doktrin rohani sebagai kebenaran.) Perilaku yang baik dan perkataan yang benar tidak dapat mengubah seseorang. Betapa pun benarnya hal tersebut, bukan saja tidak termasuk kebenaran, melainkan juga tidak ada hubungannya dengan kebenaran. Jika engkau selalu berpegang teguh pada semua itu dan menganggapnya sebagai kebenaran, engkau tidak akan pernah memahami kebenaran dan tidak akan pernah memperoleh kebenaran. Ini adalah salah satu aspek. Ada aspek lainnya, yaitu: dapatkah doktrin-doktrin rohani memampukan seseorang untuk memahami kebenaran? (Tidak.) Mengapa? Meskipun doktrin-doktrin rohani dapat dianggap sebagai perkataan yang benar, doktrin-doktrin tersebut tidak dapat mencapai hasil untuk mengubah watak seseorang yang rusak. Jadi, apa sebenarnya yang dapat diandalkan untuk mengubah watak rusak seseorang? Sebagian orang mengatakan mengandalkan kebenaran, ada yang mengatakan mengandalkan pemahaman dan menerima kebenaran, dan sebagian lagi mengatakan mengandalkan penerapan kebenaran. Apakah kata-kata ini benar? Dari sudut pandang harfiah, ada sisi yang benar dari semuanya, tetapi semua itu adalah doktrin yang paling dangkal; doktrin-doktrin tersebut tidak dapat menyelamatkanmu atau menyelesaikan kesulitanmu. Ketika engkau menghadapi suatu situasi dan orang-orang memberitahumu bahwa engkau harus menerima kebenaran, engkau akan berkata, "Bagaimana aku bisa menerimanya? Aku mengalami kesulitan dan aku tidak bisa melepaskannya!" Dapatkah doktrin-doktrin ini menjadi jalan bagimu untuk menerapkan kebenaran? (Tidak bisa.) Beberapa orang mengatakan ketika engkau menghadapi suatu situasi, engkau harus lebih banyak makan dan minum firman Tuhan. Engkau telah mendengar hal ini berkali-kali, tetapi kesulitanmu yang manakah yang telah terpecahkan? Makan dan minum lebih banyak firman Tuhan memang benar, tetapi aspek firman Tuhan yang mana yang harus engkau makan dan minum? Bagaimana seharusnya engkau mengaitkannya dengan kesulitan-kesulitanmu? Setelah engkau mengaitkannya dengan kesulitan-kesulitanmu, bagaimana engkau menyelesaikannya? Apakah jalan penerapannya? Aspek kebenaran mana yang harus engkau gunakan untuk menyelesaikan kesulitan-kesulitanmu? Bukankah ini masalah-masalah yang nyata? (Ya.) Semuanya masalah nyata. Oleh karena itu, doktrin yang benar tidak dapat menyelesaikan kesulitan-kesulitan nyata manusia, apalagi menyelesaikan watak manusia yang rusak. Apa sebenarnya yang dapat menyelesaikan watak manusia yang rusak? Semua orang tahu bahwa hanya kebenaran yang dapat menyelesaikan masalah watak manusia yang rusak, tetapi jika manusia tidak memahami apa itu kebenaran, atau jika mereka tidak mencari atau menerima kebenaran, dapatkah watak mereka yang rusak diselesaikan? (Tidak.) Oleh karena itu, untuk menyelesaikan watak rusaknya, manusia harus mengalami pekerjaan Tuhan. Dengan kata lain, hanya dengan mengalami penghakiman dan hajaran Tuhanlah, watak rusak seseorang dapat disucikan. Ini mengharuskan seseorang untuk mengejar kebenaran dan bekerja sama dengan pekerjaan Tuhan untuk mencapai hasil. Jika engkau tidak mengejar kebenaran dan hanya berfokus pada pemahaman doktrin rohani, bahkan tidak mengetahui apakah itu kebenaran atau bukan, tetapi menerimanya sebagai kebenaran, dapatkah hal ini menyelesaikan watakmu yang rusak? Selain itu, jika engkau tidak memahami kebenaran, ketika engkau memperlihatkan watak yang rusak, mampukah engkau mengenalinya? Mampukah engkau memeriksanya dengan firman Tuhan sebagai perbandingan? Engkau seratus persen tidak mampu melakukannya. Engkau mungkin menerapkan peraturan secara membabi buta, yang bahkan lebih tidak bisa menyelesaikan watakmu yang rusak. Apa hal terpenting dalam menyelesaikan watak yang rusak? Hal yang paling penting adalah orang harus memahami kebenaran. Sekarang ini, kebanyakan orang menganggap doktrin sebagai kebenaran dan tidak memahami apa itu kebenaran. Seperti contoh perasaan yang baru saja Kusebutkan, pendekatan pertama yang dilakukan sang ibu adalah melindungi anaknya dari perundungan, dan itu dibenarkan. Dari sudut pandangmu, "Ini adalah perasaan; engkau tidak boleh melakukannya. Perilaku seperti ini harus dikritik dan dikecam." Engkau semua mendefinisikan sesuatu yang tidak melibatkan kebenaran, yang tidak berhubungan dengan kebenaran, dan pada kenyataannya, beberapa hal yang seharusnya dilakukan orang secara naluriah sebagai sesuatu yang melanggar kebenaran, dan kemudian engkau menolak tindakan tersebut. Engkau semua menganggap berpegang pada prinsip ini berarti menerapkan kebenaran. Adapun pendekatan kedua yang dilakukan sang ibu, yaitu menoleransi perundungan yang dilakukan anaknya terhadap anak orang lain, ketika hal itu benar-benar melibatkan penyingkapan watak yang rusak dan penerapan kebenaran, engkau berpikir, "Selama tidak berbuat jahat, itu bukanlah masalah besar." Mengapa engkau memiliki pemikiran dan pemahaman seperti itu? (Karena kami tidak memahami kebenaran.) Masalahnya terletak di sini! Jadi, karena tidak memahami kebenaran, orang-orang kerap memilih pendekatan yang mereka anggap benar, dan berpikir bahwa mereka menerapkan kebenaran. Sering kali, karena tidak memahami kebenaran, mereka hanya mampu menerapkan dan mematuhi peraturan, dan ketika dihadapkan dengan berbagai hal, mereka tidak tahu cara menanganinya sehingga menganggap mematuhi peraturan sebagai menerapkan kebenaran. Dapatkah orang-orang yang percaya kepada Tuhan seperti ini mencapai kemajuan dalam hidup? Dapatkah mereka mencapai pemahaman akan kebenaran dan masuk ke dalam kenyataan? Banyak orang meyakini bahwa mampu berbicara tentang kata-kata dan doktrin berarti memahami kebenaran dan menjadi orang yang percaya kepada Tuhan dengan memenuhi standar. Jadi, mengapa mereka masih menyingkapkan watak yang rusak dalam banyak hal? Mengapa mereka tidak mampu menyelesaikan masalah nyata yang dihadapi? Ini membuktikan bahwa mampu berbicara tentang kata-kata dan doktrin sama sekali bukanlah memahami kebenaran. Sebanyak apa pun doktrin yang mampu engkau sampaikan, itu tidak membuktikan engkau telah memperoleh kebenaran. Engkau harus mampu memecahkan masalah-masalah nyata dan menemukan prinsip-prinsip penerapannya. Hanya dengan demikianlah, engkau akan benar-benar memahami kebenaran. Banyak orang beranggapan selama mereka mampu melakukan tugasnya, mampu menderita dan membayar harga, apa pun watak rusak yang mereka perlihatkan, itu bukanlah masalah besar. Mereka merasa selama mereka melakukan tugasnya, mampu menderita, dan tidak mengeluh tentang Tuhan, itu artinya mereka mengasihi Tuhan dan menunjukkan kesetiaan. Sering kali, karena kurangnya pemahaman akan kebenaran, orang-orang yang menunjukkan niat baik, akhirnya mengacaukan dan mengganggu pekerjaan gereja, tetapi mereka merasa mereka menjaga kepentingan Tuhan dan rumah Tuhan. Apa yang sedang terjadi? Ini terjadi karena orang-orang tidak memahami kebenaran dan tidak memiliki pengetahuan nyata tentang kebenaran sehingga membuat mereka terus-menerus melakukan hal-hal yang bertentangan dengan kebenaran. Sementara itu, mereka merasa melakukan hal yang benar, merasa telah menerapkan kebenaran dan memuaskan maksud Tuhan. Ini adalah kesulitan terbesar mereka. Meskipun ini adalah kesulitan, selalu ada cara untuk menyelesaikannya. Satu-satunya cara adalah setiap kali engkau menghadapi masalah dan memperlihatkan watak yang rusak, engkau harus merenungkan dirimu dan mencari kebenaran untuk memahaminya. Selama masih ada watak rusak di dalam dirimu, berbagai macam keadaan juga akan muncul di dalam dirimu. Ketika orang hidup dalam lingkungan dan keadaan yang berbeda, mereka akan mengungkapkan sejumlah pemikiran, sudut pandang, dan niat—ini adalah keadaan batin mereka yang sebenarnya. Dengan mengamati pemikiran, sudut pandang, dan niat orang-orang, engkau akan mampu melihat wataknya dan mengetahui apa naturnya. Dengan merenungkan dirimu sendiri dan mengenali orang lain dengan cara ini, akan mudah untuk mencapai hasil. Hanya dengan mengetahui watakmu yang rusak dan memahami esensinya secara menyeluruh, barulah engkau mampu sepenuhnya mencapai hasil dalam mengenal dirimu sendiri. Selanjutnya, engkau akan dengan sendirinya memiliki jalan tentang bagaimana seharusnya mencari kebenaran untuk menyelesaikan watakmu yang rusak. Selama manusia mampu menerima kebenaran, watak rusaknya dapat disucikan dan masalah kerusakan mereka dapat dengan mudah diselesaikan. Jika manusia tidak mampu menerima kebenaran, mereka tidak akan pernah mencapai perubahan dalam watak hidupnya. Engkau semua kini bersedia mengejar kebenaran, maka berfokuslah pada kebenaran.

Untuk menyelesaikan natur manusia, kita harus menggalinya dari akar dan wataknya, bukan dari cara manusia melakukan segala sesuatu. Kita juga tidak boleh menekankan penalaran dan kondisi objektifnya, tetapi harus membandingkannya dengan kebenaran yang diungkapkan dalam firman Tuhan dan ditujukan pada watak manusia yang rusak. Perhatikan contoh sebelumnya tentang perasaan: orang berpikir bahwa terkadang merindukan orang tua atau merindukan rumah adalah perasaan. Apakah ini sama dengan apa yang Tuhan maksudkan sebagai perasaan? (Tidak.) Jadi, perasaan yang engkau pahami tidak bisa disamakan dengan perasaan yang Tuhan bicarakan. Perasaan yang engkau bicarakan termasuk dalam keadaan manusia normal, bukan termasuk dalam watak yang rusak. Jika engkau memperlakukan kerabat dagingmu sebagai idola, dan ini membuatmu tidak mengikuti atau tunduk kepada Tuhan, itu menandakan perasaanmu terlalu kuat dan termasuk watak yang rusak. Jadi, ini menyangkut masalah apakah engkau memiliki pemahaman yang murni tentang kebenaran. Ketika engkau menganggap apa yang engkau yakini sebagai kerinduan akan rumah atau bersikap lebih baik kepada orang tua sebagai perasaan, bukankah ini merupakan pemahaman yang menyimpang tentang kebenaran? Faktanya, apa yang engkau pahami bukanlah kebenaran dan tidak sejalan dengan kebenaran; itu hanyalah sebuah fenomena eksternal. Apa saja perasaan yang Tuhan bicarakan? Perasaan-perasaan itu adalah pendekatan kedua tentang bagaimana sang ibu memperlakukan anaknya yang telah disebutkan sebelumnya, yaitu sikap pilih kasih dan memberikan perlindungan yang tidak berprinsip kepada seseorang. Perasaan-perasaan inilah yang diungkapkan Tuhan—penyingkapan watak rusak sang ibu dalam hal ini. Bukankah kedua pendekatan itu sangat berbeda? Pendekatan pertama adalah fenomena yang normal, tidak perlu memangkas atau menggalinya lebih dalam, menganalisisnya, dan terlebih lagi membanding-bandingkannya dengan kebenaran. Tidak perlu juga untuk menerapkan aspek tertentu dari kebenaran atau melepaskan sesuatu. Jadi, apakah pendekatan ini tepat? Perlukah bertindak dengan cara ini? Tidak perlu; tidak ada yang benar atau salah dalam pendekatan ini. Pendekatan kedua melibatkan watak. Perwujudan perasaan seperti apa yang melibatkan watak yang rusak? (Pilih kasih, perlindungan yang tidak berprinsip terhadap orang lain, mempertahankan hubungan kedagingan, dan tidak adanya keadilan.) Inilah hal-hal yang terkandung dalam kata "perasaan" yang Tuhan bicarakan. Jika engkau mampu memahami sebanyak ini dan benar-benar mengaitkannya dengan dirimu sendiri, itu artinya engkau harus berusaha untuk menyelesaikan watak-watak yang rusak tersebut. Hanya ketika engkau tidak lagi terkekang oleh perasaan-perasaan ini, barulah tindakanmu akan menjadi penerapan kebenaran. Setelah itu, keadaan-keadaan yang engkau pahami sebagai perasaan akan sepenuhnya sesuai dengan kata "perasaan" yang diucapkan oleh Tuhan. Inilah kebenaran yang akan engkau pahami. Jika engkau diminta untuk mempersekutukan tentang apa itu perasaan, dan engkau berbicara tentang pendekatan pertama dari sang ibu, ini adalah perwujudan dari ketidaktahuanmu akan kebenaran. Jika engkau mempersekutukan tentang pendekatan kedua dari sang ibu dan menganalisis watak rusaknya, itu artinya engkau memahami kebenaran. Jika hal-hal yang engkau persekutukan, alami, dan engkau pahami sejalan dengan kebenaran firman Tuhan, dan tidak ada kontradiksi atau ketidakkonsistenan, ini membuktikan bahwa engkau memahami firman Tuhan, mengerti serta memahami maknanya, serta engkau mampu menjalankan dan menerapkannya. Dengan demikian, engkau akan memperoleh kebenaran dan kehidupan, implikasinya adalah engkau telah masuk ke dalam kenyataan kebenaran. Pada saat itu, ketika engkau melihat hal semacam ini lagi, engkau akan mampu mengenalinya, engkau akan mengetahui penyingkapan seperti apa yang normal, penyingkapan seperti apa yang berasal dari watak yang rusak, dan engkau akan sepenuhnya memahami hal tersebut dalam hatimu. Dengan cara ini, bukankah tindakanmu akan tepat? Bukankah tindakanmu akan sesuai dengan kebenaran? Bukankah engkau akan memiliki kenyataan kebenaran? Jika engkau bertindak dengan tepat dan memahami kebenaran, bukankah pemahaman dan pengalaman yang engkau persekutukan akan dapat membantu orang lain dan menyelesaikan kesulitan-kesulitan mereka? (Ya.) Ini adalah sisi nyata dari kebenaran.

Ada orang-orang yang tidak menjalankan tugasnya dengan baik karena kualitasnya yang buruk, tetapi mereka selalu berdalih itu karena mereka tidak memiliki hati nurani. Penjelasan mana yang tepat? (Mereka memiliki kualitas yang buruk.) Terkadang, ketika seseorang melaksanakan tugas, mereka mungkin memahami dasar-dasar pengetahuan profesional tersebut, tetapi tidak memahami aspek-aspek yang lebih lanjut karena belum pernah mempelajarinya. Pemimpin mereka melabelinya sebagai orang yang asal-asalan, licik, dan malas bekerja. Padahal sebenarnya mereka hanya tidak memiliki pengetahuan profesional dan belum mempelajari hal tersebut meskipun mereka sudah berusaha sebaik mungkin. Namun, pemimpin mereka mengatakan bahwa mereka asal-asalan—ini tidak sesuai dengan situasi sebenarnya. Ini adalah penggunaan istilah yang serampangan dan pelabelan yang tidak tepat. Mengapa orang menggunakan istilah dan melabeli orang lain secara serampangan? Bukankah itu karena mereka tidak memahami kebenaran? Pasti akan ada yang mengatakan ya, ada pula yang mengatakan itu karena mereka memiliki kualitas yang buruk dan terlalu kacau, sebagian lagi akan mengatakan bahwa itu karena kemanusiaan mereka terlalu jahat dan niat yang keliru. Penjelasan mana yang benar? Faktanya, ketiga keadaan tersebut memang ada, dan penilaian harus dibuat sesuai dengan kasus spesifiknya. Jika hal tersebut disebabkan oleh ketidakpahaman mereka akan kebenaran, tetapi seseorang mengatakan bahwa itu karena mereka memiliki kualitas yang buruk dan terlalu kacau, perkataan ini tidaklah akurat. Kalau jelas-jelas disebabkan oleh kemanusiaan mereka yang jahat dan motif tersembunyi, tetapi seseorang mengatakan bahwa itu karena mereka memiliki kualitas yang buruk dan terlalu kacau, ini sama saja dengan memutarbalikkan fakta, dan kemungkinan besar akan membuat orang-orang jahat lolos dari hukuman. Ada kasus-kasus lain yang disebabkan oleh orang yang tidak memahami kebenaran, tetapi yang lain mengatakan bahwa hal itu disebabkan oleh kemanusiaannya yang jahat. Cara pandang seperti ini tidak tepat, kemungkinan besar mereka akan memperlakukan orang baik sebagai orang jahat dan akan berakibat buruk. Ada banyak orang yang tidak mampu mengenali semua hal ini dan tidak mampu memahami esensi masalah secara menyeluruh. Mereka secara membabi buta menerapkan peraturan dan menarik kesimpulan berdasarkan gagasannya sendiri, kemudian merasa memiliki kearifan, dan dapat melihat segala sesuatu dengan jelas. Bukankah ini adalah kecongkakan dan sifat membenarkan dirinya sendiri? Jika seseorang memiliki kemanusiaan yang buruk, melabeli dan mengutuk orang lain secara sembarangan berdasarkan motif tersembunyi mereka sendiri, ini adalah natur orang yang jahat. Orang-orang seperti itu adalah minoritas dan kebanyakan mereka melakukannya karena tidak memahami kebenaran. Mereka yang tidak memahami kebenaran menerapkan peraturan dan menggunakan istilah-istilah rohani secara serampangan. Misalnya, ada orang yang jelas-jelas memiliki masalah dengan kemanusiaannya, mereka selalu mencari cara untuk bermalas-malasan dan tidak berusaha keras saat melaksanakan tugasnya, tetapi mereka yang tidak memiliki kearifan mengatakan ini adalah akibat dari kualitas yang buruk. Ada juga yang jelas-jelas memiliki rasa keadilan, dan ketika mereka melihat sesuatu yang melanggar prinsip-prinsip, mereka akan bersuara dan membela kepentingan gereja. Namun, mereka sering dilabeli sebagai orang yang congkak dan merasa dirinya benar oleh orang-orang yang tidak memahami kebenaran, dan bahkan dianggap sebagai orang jahat. Perlakuan ini merupakan ketidakadilan yang serius terhadap orang-orang baik. Sebagian orang yang sungguh-sungguh memiliki tingkat pertumbuhan yang rendah, mereka sesaat menjadi lemah ketika dipengaruhi oleh perasaannya, dan orang-orang yang tidak memahami kebenaran akan mencap mereka sebagai orang yang terlalu emosional dan tidak memiliki hati yang tulus untuk Tuhan. Begitulah orang yang tidak memiliki kebenaran—tanpa mempertimbangkan latar belakang atau situasi yang sebenarnya, mereka terus menerapkan peraturan tanpa pandang bulu, membuat pernyataan yang tidak konsisten dan sering mengubah pendiriannya. Mampukah orang-orang seperti itu menggunakan kebenaran untuk menyelesaikan masalah? (Mereka tidak mampu.) Ketika orang-orang yang tidak memahami kebenaran mencoba menyelesaikan masalah, mereka tidak dapat meresepkan obat yang tepat. Ini seperti mencoba mengobati orang yang sakit perut dengan mengobati kepalanya; mereka tidak dapat menemukan akar masalahnya. Mereka tidak mengerti di mana akar masalahnya atau apa yang dikatakan dan dirujuk oleh firman Tuhan. Ini adalah ketidakpahaman akan kebenaran. Apakah sekarang engkau semua sudah memahami banyak kebenaran atau hanya sedikit? (Hanya sedikit.) Misalnya, katakanlah seseorang bertanya, "Mengapa engkau tidak bisa tunduk ketika masalah ini menimpamu?" Orang-orang mungkin akan menjawab, "Karena aku tidak mengenal Tuhan!" Apakah penjelasan ini benar? Penjelasan itu kadang-kadang benar dan terkadang tidak, tetapi seringnya tidak benar, dan ini hanyalah pelabelan yang serampangan. Orang-orang memahami sedikit istilah rohani dan kemudian menerapkan serta menggunakannya secara serampangan, dan akibatnya, banyak masalah yang muncul. Beberapa di antaranya adalah salah penafsiran atau penilaian yang merugikan dan bahkan menyebabkan kekacauan. Ketika mereka yang tidak memiliki pemahaman rohani mempelajari sesuatu, mereka menerapkan dan menggunakannya secara serampangan. Mereka adalah orang-orang yang paling rentan terhadap kesalahan dan cenderung melakukan kesalahan-kesalahan mendasar. Sebaliknya, orang-orang yang memiliki kemampuan pemahaman mungkin sesekali melakukan kesalahan, tetapi itu bukanlah masalah mendasar dan mereka mampu memetik pelajaran dari kesalahan-kesalahan tersebut. Jika seseorang memiliki pemahaman yang tidak masuk akal, salah menafsirkan firman Tuhan ketika membacanya, mengalami penyimpangan dalam pemahaman saat mendengarkan khotbah, dan jika mereka cenderung mencari-cari kesalahan dan kekurangan orang lain, ini sangat bermasalah. Bukan saja tidak mungkin bagi mereka untuk masuk ke dalam kenyataan kebenaran, melainkan juga mereka akan mulai bertindak sembrono dan menyebabkan gangguan pada pekerjaan gereja seiring berjalannya waktu. Ini adalah kesudahan yang serius.

Sekarang, engkau semua harus merenungkan: apakah kata-kata, doktrin, dan teori-teori rohani yang sering engkau semua bicarakan adalah kebenaran? Apakah engkau semua memahami kebenaran atau hanya memahami doktrin? Berapa banyak kenyataan kebenaran yang ada dalam pemahamanmu? Begitu engkau memahami semua hal tersebut, engkau akan benar-benar mengenal dan mampu mengukur dirimu sendiri. Misalnya, engkau semua telah banyak mempersekutukan kebenaran tentang bagaimana menjadi orang yang jujur, tetapi apakah engkau benar-benar telah memahaminya? Mungkin engkau semua mampu mempersekutukan beberapa kata dan berbicara tentang sejumlah pemahaman, tetapi berapa banyak dari kenyataan ini yang telah engkau semua masuki? Apakah engkau semua benar-benar orang yang jujur sekarang? Dapatkah engkau berbicara dengan jelas tentang hal tersebut? Ada yang berkata, "Menjadi orang yang jujur berarti tidak berbohong, mengatakan apa adanya dari hati, serta tidak menyembunyikan dan menghindari apa pun. Ini adalah standar untuk menjadi orang yang jujur." Apa pendapatmu tentang pernyataan ini? Apakah itu sesuai dengan kebenaran? (Tidak.) Engkau mampu berbicara tentang kata-kata dan doktrin, tetapi ketika berbicara mengenai detail penerapan atau masalah tertentu, engkau kehilangan kata-kata. Ini bukanlah pemahaman akan kebenaran. Orang-orang yang tidak memahami kebenaran selalu berpikir, "Aku sudah memahami banyak hal, tetapi Tuhan tidak memakaiku. Jika Tuhan memakaiku dan aku menjadi pemimpin gereja, aku bisa memastikan bahwa setiap saudara-saudari memahami kebenaran." Bukankah ini adalah pernyataan yang berlebihan? Apakah engkau benar-benar memiliki kemampuan tersebut? Apakah orang-orang yang membanggakan dan menyombongkan dirinya adalah orang yang jujur? Mereka ini tidak memahami kebenaran, tetapi tetap membanggakan dan menyombongkan diri—bukankah mereka menyedihkan? (Ya, memang.) Engkau semua kini telah mendengarkan banyak khotbah, tetapi jika tidak pernah memahami kebenaran, cepat atau lambat, engkau semua akan menempuh jalan yang sama seperti orang Farisi dan kemudian menjadi orang Farisi zaman sekarang. Bukankah ini sebuah kemungkinan? (Ya.) Ini sangat mungkin terjadi. Natur Iblis manusia sudah tertanam dalam-dalam. Jika mereka memperoleh sejumlah pengetahuan atau pendidikan, dan dapat mengkhotbahkan beberapa teori yang benar dan khotbah yang mulia, sangat mungkin mereka akan menjadi orang Farisi. Jika engkau tidak ingin menjadi orang Farisi atau menempuh jalan orang Farisi, satu-satunya cara untuk menghindarinya adalah dengan berusaha memahami kebenaran dan masuk ke dalam kenyataan, serta mengubah doktrin-doktrin yang engkau pahami menjadi kenyataan kebenaran. Jadi, apa yang dimaksud dengan benar-benar memahami kebenaran akan menjadi orang yang jujur? Engkau semua harus merenungkannya sendiri dan mempersekutukannya saat memiliki waktu luang. Apa sebenarnya definisi orang yang jujur? Apa standar yang dituntut dalam firman Tuhan untuk orang yang jujur yang Dia maksudkan? Manakah dari standar yang Tuhan tuntut ini yang dapat diterapkan oleh manusia? Seperti apakah orang jujur yang Tuhan maksudkan? Aspek mana dari watak manusia yang rusak yang harus dituju orang yang jujur? Bukankah pertanyaan-pertanyaan ini layak untuk ditelaah secara mendalam? Firman dan kebenaran yang Tuhan tuntut untuk diterapkan manusia tidak ditujukan pada cara manusia melakukan segala sesuatu atau berperilaku. Firman dan kebenaran itu ditujukan pada natur dan watak Iblis manusia. Itulah mengapa firman ini dikatakan sebagai kebenaran. Jika tujuannya hanya untuk mengubah perilaku manusia dan mengajarkan cara berpikir, hal tersebut tidak akan menjadi kebenaran, melainkan hanya teori. Dapat dikatakan bahwa setiap pendidik memiliki sedikit pengaruh pada orang-orang dan mengubah perilaku mereka. Dengan menerapkan dan merangkum ajaran-ajaran ini, perilaku manusia secara bertahap dapat diatur. Ada banyak pengetahuan semacam ini, tetapi semua itu bukanlah kebenaran karena tidak dapat menyelesaikan watak manusia yang rusak atau menyelesaikan akar permasalahan dosa-dosa mereka. Hanya firman Tuhan yang dapat menyucikan dan menyelesaikan kerusakan manusia, hanya firman Tuhan yang dapat menyelesaikan natur Iblis manusia secara menyeluruh, dan oleh karena itu, hanya firman Tuhan yang merupakan kebenaran. Apa arti penting sebenarnya dari kebenaran firman Tuhan? Hal ini patut direnungkan, dipikirkan, dan sering dipersekutukan bersama. Jangan pernah lupakan ini: hal-hal yang dapat mengubah perilaku manusia bukanlah kebenaran; itu hanyalah pengetahuan dan hukum. Kebenaran tidak hanya dapat mengubah perilaku manusia tetapi juga mengubah watak mereka yang rusak. Selain itu, kebenaran dapat mengubah ide dan gagasan mereka, serta menjadi kehidupan seseorang. Itulah kebenaran. Sekarang, hanya sedikit orang yang mampu melihat permasalahan ini dengan jelas. Banyak yang tidak pernah menyadari bahwa hal-hal yang mengatur perilaku dan memungkinkan seseorang untuk menjalani kehidupan yang layak secara lahiriah bukanlah kebenaran, semua itu hanyalah pengetahuan, doktrin, dan falsafah Iblis. Ketika manusia menerima hal-hal tersebut, meskipun perilaku lahiriah mereka menjadi makin mulia, bermartabat, dan beradab, hati mereka dipenuhi dengan kemunafikan dan kejahatan, serta menjadi makin gelap. Semua hal ini adalah racun dan teori Iblis, sesuatu yang digunakan Iblis untuk menyesatkan dan merusak manusia. Semua itu sama sekali bukan kebenaran dan tidak berasal dari Tuhan. Hanya hal-hal yang memungkinkan manusia menjadi jujur, bebas, dan lepas, yang memampukan mereka mengenal Sang Pencipta, memiliki hati yang takut akan Tuhan, dan tunduk pada penataan dan pengaturan-Nya, itulah kebenaran. Terlepas dari sudut pandang yang engkau ambil dan jalan yang engkau ikuti, jika perilakumu membaik dan engkau mendapatkan popularitas, tetapi engkau memiliki hati yang kurang takut akan Tuhan, kurang beriman kepada-Nya, dan hubunganmu dengan Tuhan sangat buruk, serta hatimu makin menjauh dari-Nya, hal-hal yang engkau pegang teguh bukanlah sesuatu yang positif dan jelas bukan kebenaran. Jika engkau memilih suatu jalan atau cara hidup, dan engkau menerima beberapa hal yang membuatmu menjadi nyata dan jujur, membuatmu mencintai hal-hal yang positif, membenci hal-hal yang jahat dan negatif, serta membuatmu memiliki hati yang takut akan Tuhan, dengan sukarela menerima kedaulatan dan pengaturan Sang Pencipta, semua hal tersebut adalah kebenaran dan benar-benar berasal dari Tuhan. Engkau semua dapat mengukur segala sesuatu menurut standar ini. Ada beberapa doktrin yang mampu diucapkan oleh banyak orang dan telah diucapkan selama bertahun-tahun. Namun, setelah mengucapkannya berkali-kali, watak batinnya tidak berubah, keadaan mereka tidak berubah sedikit pun, dan sudut pandang, cara berpikir, motivasi dan niat di balik tindakan mereka sama sekali tidak berubah. Jadi, engkau harus segera meninggalkannya dan berhenti berpegang teguh pada hal-hal tersebut; semua itu pastinya bukanlah kebenaran. Ketika seseorang pertama kali mulai menerapkan beberapa firman, melakukan hal tersebut tampaknya berat dan sulit, dan mereka tidak mampu memahami prinsip-prinsipnya. Namun, setelah mengalami dan menerapkannya selama beberapa waktu, mereka merasa keadaan batin mereka telah membaik, hati mereka makin dekat kepada-Nya, mereka memiliki hati yang takut dan hormat akan Tuhan, tidak terlalu keras kepala atau memberontak ketika berbagai hal menimpa mereka, niat dan keinginan pribadi mereka tidak begitu kuat, dan mereka mampu tunduk kepada Tuhan. Keadaan ini adalah positif; firman ini merupakan kebenaran, dan ini adalah jalan yang benar. Engkau semua mampu mengenali berbagai hal berdasarkan prinsip-prinsip ini. Tidaklah mudah untuk mendefinisikan kebenaran dalam satu kalimat. Jika Aku mendefinisikannya dalam satu kalimat, dan engkau semua mampu memahami kebenaran setelah mendengarnya, itu bagus. Namun, jika engkau memperlakukannya sebagai peraturan dan doktrin yang harus diikuti, ini akan bermasalah—itu berarti tidak memiliki pemahaman rohani. Jadi, Aku telah memberimu prinsip-prinsip ini, engkau semua harus membuat perbandingan, mengalami, menerapkan, dan memperoleh pengetahuan pengalaman berdasarkan prinsip-prinsip ini. Jangan hanya bertindak dan berperilaku sesuai dengan prinsip-prinsip ini, engkau juga harus memandang orang dan segala sesuatu, serta mengevaluasi orang-orang sesuai dengan prinsip-prinsip ini. Dengan mengalami dan menerapkan cara ini, engkau akan mengetahui apa itu kebenaran. Jika seseorang tidak memahami apa itu kebenaran, dan jika mereka tidak tahu bahwa firman Tuhan adalah kebenaran, dapatkah mereka memperoleh kehidupan? Dapatkah mereka mencapai perubahan dalam watak hidup? Meskipun secara lahiriah tuntutan yang Tuhan ajukan bagi manusia dalam firman-Nya bukanlah standar yang tinggi dan cukup sederhana, jika engkau tidak memahami makna tersirat dari kebenaran, atau seberapa banyak kandungan nyata yang tercakup dalam kebenaran, dan engkau hanya memahami kebenaran dalam bentuk kata-kata dan doktrin, engkau tidak akan pernah bisa masuk ke dalam kenyataan kebenaran yang dituntut Tuhan untuk dimasuki oleh manusia.

26 Mei 2017

Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.

Hubungi kami via WhatsApp