Prinsip-Prinsip yang Seharusnya Menuntun Perilaku Orang (Bagian Dua)

Apa prinsip-prinsipmu dalam berperilaku? Engkau harus berperilaku sesuai dengan posisimu, menemukan tempatmu yang tepat dan melaksanakan tugas yang seharusnya kaulaksanakan; hanya orang seperti inilah yang bernalar. Sebagai contoh, jika orang mahir dalam keterampilan profesional tertentu dan memahami prinsip-prinsipnya, mereka harus memikul tanggung jawab dan melakukan pemeriksaan akhir di area tersebut; jika orang mampu memberikan gagasan dan wawasan, menginspirasi orang lain dan membantu mereka untuk melaksanakan tugas mereka dengan lebih baik—itu berarti mereka harus menyampaikan ide-ide mereka. Jika engkau mampu menemukan tempatmu yang tepat dan bekerja secara harmonis dengan saudara-saudarimu, engkau akan mampu melaksanakan tugasmu dan engkau akan berperilaku sesuai dengan posisimu. Sebelumnya, engkau mungkin hanya mampu memberikan beberapa ide, tetapi jika engkau berusaha memberikan hal lain, dan engkau akhirnya berusaha sangat keras untuk melakukannya, tetapi tetap tak mampu melakukannya; dan kemudian, ketika orang lain memberikan hal tersebut, engkau merasa tidak nyaman dan tidak ingin mendengarnya, lalu hatimu sedih dan terkekang, dan engkau mengeluh tentang Tuhan dan menganggap Tuhan tidak benar—maka ini adalah ambisi. Watak apa yang melahirkan ambisi dalam diri seseorang? Watak congkaklah yang melahirkan ambisi. Semua keadaan ini tentu saja dapat muncul dalam dirimu setiap saat, dan jika engkau semua tidak mampu mencari kebenaran untuk menyelesaikannya dan tidak memiliki jalan masuk kehidupan, serta tidak dapat berubah dalam hal ini, maka tingkat kualifikasi dan kemurnianmu dalam pelaksanaan tugasmu akan menjadi rendah, dan hasilnya pun tidak akan terlalu bagus. Ini berarti engkau tidak melaksanakan tugasmu dengan memuaskan dan berarti Tuhan belum mendapatkan kemuliaan darimu. Tuhan telah mengaruniakan kepada setiap orang bakat dan karunia yang berbeda. Ada yang berbakat dalam dua atau tiga bidang, ada yang berbakat dalam satu bidang, dan ada yang sama sekali tidak berbakat—jika engkau semua dapat memperlakukan hal-hal ini dengan benar, berarti engkau orang yang bernalar. Orang yang bernalar akan mampu menemukan tempat mereka dan melaksanakan tugas mereka dengan baik. Seseorang yang tak pernah dapat menemukan tempatnya adalah orang yang selalu memiliki ambisi. Dia selalu mengejar status dan keuntungan. Dia tak pernah puas dengan apa yang dia miliki. Untuk mendapatkan lebih banyak keuntungan, dia berusaha mengambil sebanyak mungkin; dia selalu berharap untuk memuaskan keinginannya yang berlebihan. Dia berpikir jika dia berbakat dan berkualitas baik, dia seharusnya lebih menikmati kasih karunia Tuhan, dan memiliki keinginan yang berlebihan bukanlah suatu kesalahan. Apakah orang seperti ini memiliki nalar? Bukankah tak tahu malu jika selalu memiliki keinginan yang berlebihan? Orang yang memiliki hati nurani dan nalar dapat merasakan bahwa itu tak tahu malu. Orang yang memahami kebenaran tidak akan melakukan hal-hal bodoh ini. Jika engkau berharap mampu melaksanakan tugasmu dengan setia untuk membalas kasih Tuhan, maka harapanmu ini bukanlah keinginan yang berlebihan. Ini sesuai dengan hati nurani dan nalar kemanusiaan yang normal. Ini membuat Tuhan senang. Jika engkau benar-benar ingin melaksanakan tugasmu dengan baik, pertama-tama engkau harus menempatkan dirimu pada posisi yang tepat, dan kemudian melakukan apa yang dapat kaulakukan dengan segenap hatimu, dengan segenap pikiranmu, dengan segenap kekuatanmu, melakukannya sebaik mungkin. Ini artinya memuaskan, dan pelaksanaan tugas semacam itu memiliki tingkat kemurnian. Inilah yang harus dilakukan oleh makhluk ciptaan yang sejati. Engkau harus terlebih dahulu memahami apa arti makhluk ciptaan yang sejati: makhluk ciptaan yang sejati bukanlah manusia super, melainkan orang yang hidup dengan lugas dan realistis di bumi; mereka sama sekali tidak luar biasa dan tidak sedikit pun istimewa, melainkan sama seperti orang biasa mana pun. Jika engkau selalu ingin mengungguli orang lain atau mendapat peringkat di atas orang lain, ini disebabkan oleh watak Iblismu yang congkak dan itu adalah khayalan yang disebabkan oleh ambisimu. Sebenarnya, engkau tidak bisa mencapai hal ini dan tidak mungkin bagimu untuk melakukannya. Tuhan tidak memberimu bakat atau keterampilan seperti itu, Dia juga tidak memberimu esensi seperti itu. Jangan lupa bahwa engkau adalah manusia normal dan biasa, sama sekali tidak berbeda dari yang lain meskipun penampilan, keluarga, dan caramu dibesarkan mungkin berbeda, dan mungkin ada beberapa perbedaan dalam bakat dan karuniamu. Namun, jangan lupakan ini: seunik apa pun dirimu, perbedaannya hanyalah dalam hal-hal kecil ini, dan watak rusakmu itu sama seperti watak rusak orang lain. Sikap yang harus kaumiliki dan prinsip yang harus kaupatuhi dalam pelaksanaan tugasmu sama dengan orang lain. Perbedaannya hanyalah dalam kelebihan dan karunia yang orang miliki. Di gereja, ada orang-orang yang mahir bermain gitar, ada yang mahir bermain erhu, dan ada yang mahir bermain drum. Jika engkau memiliki minat dalam salah satu bidang ini, engkau boleh mempelajarinya. Apa pun itu keterampilan atau teknologi spesifiknya, asalkan engkau senang belajar dan memiliki kecakapan, engkau boleh mempelajarinya. Setelah engkau mempelajari keterampilan baru, engkau dapat menggunakannya untuk melaksanakan tugas tambahan, yang tidak hanya untuk menyenangkan manusia, tetapi juga menyenangkan Tuhan. Merupakan hal yang paling diberkati untuk memperoleh lebih banyak keterampilan dan berkontribusi lebih banyak untuk pekerjaan rumah Tuhan. Tidak ada salahnya mempelajari hal-hal baru saat orang masih muda dan masih memiliki ingatan yang baik. Hanya ada manfaat dalam hal ini dan itu tidak ada salahnya. Itu bermanfaat untuk pelaksanaan tugas dan pekerjaan rumah Tuhan. Jika orang berfokus dalam mempelajari berbagai hal baru sambil melaksanakan tugas mereka, itu artinya mereka rajin dan bertanggung jawab; mereka jauh lebih baik daripada orang yang tidak berkomitmen pada pekerjaan mereka. Namun, jika setelah engkau mempelajari sesuatu selama beberapa waktu, engkau tetap tidak memahaminya, itu menunjukkan bahwa engkau tidak memiliki kualitas di bidang itu. Sama halnya dengan orang-orang yang mampu menari dengan baik, tetapi tak mampu bernyanyi dengan nada yang tepat atau tidak berbakat dalam musik, hal ini bersifat bawaan dan tidak dapat diubah. Situasi seperti itu harus disikapi secara benar. Jika engkau mampu menari, maka menarilah dengan baik. Jika engkau memiliki hati yang memuji Tuhan, meskipun engkau tidak mampu bernyanyi dengan nada yang tepat, Tuhan tidak akan mempersoalkannya. Asalkan engkau memiliki sukacita di dalam hatimu, itu sudah cukup. Apa pun bakat pribadimu, asalkan engkau memanfaatkannya, itu adalah hal yang baik. Laksanakan tugasmu dengan penuh tanggung jawab, dan itulah yang dimaksud dengan berperilaku sesuai dengan posisimu.

Janganlah ada orang yang menganggap diri mereka sempurna, istimewa, mulia, atau berbeda dari orang lain; semua ini disebabkan oleh kebodohan dan watak congkak manusia. Selalu menganggap dirimu istimewa—ini disebabkan oleh watak yang congkak; tidak pernah bisa menerima kekuranganmu, dan tidak pernah mampu menghadapi kesalahan dan kegagalanmu—ini disebabkan oleh watak yang congkak; tidak pernah membiarkan orang lain lebih tinggi atau lebih baik daripada dirimu—ini disebabkan oleh watak yang congkak; tidak pernah membiarkan kekuatan orang lain melampaui atau melebihi kekuatan mereka sendiri—ini disebabkan oleh watak yang congkak; tidak pernah membiarkan orang lain memiliki pemikiran, saran, dan pandangan yang lebih baik daripadamu, dan, ketika engkau mendapati bahwa orang lain lebih baik daripadamu, lalu engkau menjadi negatif, tidak ingin berbicara, merasa tertekan dan sedih, serta menjadi kesal—semua ini disebabkan oleh watak yang congkak. Watak yang congkak dapat membuatmu melindungi reputasimu, tak dapat menerima koreksi orang lain, tak mampu menghadapi kekuranganmu, serta tak mampu menerima kegagalan dan kesalahanmu sendiri. Selain itu, ketika seseorang lebih baik daripadamu, hal itu dapat menyebabkan kebencian dan kecemburuan muncul di dalam hatimu, dan engkau dapat merasa terkekang, sampai-sampai engkau tak ingin melaksanakan tugasmu dan bersikap asal-asalan dalam melaksanakannya. Watak yang congkak dapat menyebabkan perilaku dan perbuatan ini muncul dalam dirimu. Jika engkau semua, sedikit demi sedikit, menggali lebih dalam mengenai hal-hal ini, mencapai terobosan, dan memperoleh pemahaman tentang semua itu; dan jika engkau kemudian mampu secara berangsur-angsur memberontak terhadap pemikiran, dan memberontak terhadap gagasan, pandangan dan bahkan perilaku yang keliru ini, serta tidak dikendalikan oleh semua itu; dan jika, dalam pelaksanaan tugasmu, engkau mampu menemukan posisi yang tepat untukmu dan bertindak berdasarkan prinsip, serta melaksanakan tugas yang dapat dan harus kaulakukan; seiring waktu, engkau akan dapat melaksanakan tugas-tugasmu dengan lebih baik. Ini merupakan jalan masuk ke dalam kenyataan kebenaran. Jika engkau dapat masuk ke dalam kenyataan kebenaran, engkau akan terlihat memiliki keserupaan dengan manusia, dan orang-orang akan berkata, "Orang ini berperilaku sesuai dengan posisinya, dan dia melakukan tugasnya dengan cara yang praktis dan realistis. Dia tidak mengandalkan sifat alami dirinya, atau sikapnya yang gampang marah, atau watak Iblisnya yang rusak saat melaksanakan tugasnya. Dia bertindak dengan pengendalian diri, memiliki hati yang takut akan Tuhan, memiliki cinta akan kebenaran, dan perilaku serta perwujudannya memperlihatkan bahwa dia telah memberontak terhadap daging dan pilihannya sendiri." Betapa indahnya berperilaku seperti itu! Terkadang, saat orang lain menyingkapkan kekuranganmu, engkau bukan saja dapat menerimanya, melainkan juga bersikap optimistis, menghadapi kelemahan dan kekuranganmu dengan ketenangan. Keadaan pikiranmu sangat normal, bebas dari sikap-sikap ekstrem dan bebas dari sikap yang gampang marah. Bukankah inilah arti memiliki keserupaan dengan manusia? Hanya orang semacam itulah yang memiliki nalar.

Watak macam apakah ketika orang selalu menyamarkan diri, selalu menyembunyikan diri mereka yang sebenarnya, selalu berpura-pura agar orang lain menghormati mereka dan tidak dapat melihat kesalahan atau kekurangan mereka, ketika mereka selalu berusaha menampilkan sisi terbaik mereka kepada orang-orang? Ini adalah watak yang congkak, palsu, dan munafik, ini adalah watak Iblis, ini adalah sesuatu yang jahat. Sebagai contoh, lihatlah anggota rezim Iblis: sebanyak apa pun mereka bertengkar, berseteru, atau membunuh di balik layar, tak seorang pun yang diperbolehkan untuk melaporkan atau menyingkapkan mereka. Mereka takut orang akan melihat wajah Iblis mereka, dan mereka melakukan segala yang mereka bisa untuk menutupinya. Di depan umum, mereka berusaha sekuat tenaga untuk menyembunyikan diri mereka yang sebenarnya, mengatakan betapa mereka mengasihi rakyat, betapa baik, mulia dan tak bercelanya mereka. Ini adalah natur Iblis. Ciri paling menonjol dari natur Iblis adalah tipu muslihat dan tipu daya. Dan apa tujuan dari tipu muslihat dan tipu daya ini? Untuk menipu orang, untuk menghalangi orang agar tidak melihat esensi dan diri mereka yang sebenarnya, dan dengan cara demikian mencapai tujuan untuk memperlama kekuasaan mereka. Rakyat jelata mungkin tidak memiliki kekuasaan dan status semacam itu, tetapi mereka juga ingin membuat orang lain memiliki pandangan yang baik tentang diri mereka, ingin orang memiliki penilaian yang tinggi terhadap mereka, dan ingin status mereka tinggi di hati orang lain. Ini adalah watak yang rusak, dan jika orang tidak memahami kebenaran, mereka tidak mampu mengenali hal ini. Watak yang rusak adalah yang paling sulit untuk dikenali; mengenali kesalahan dan kekuranganmu sendiri itu mudah, tetapi mengenali watak rusakmu sendiri tidaklah mudah. Orang-orang yang tidak mengenal diri mereka sendiri tidak pernah membicarakan keadaan mereka yang rusak—mereka selalu berpikir bahwa mereka baik. Dan tanpa disadari, mereka mulai pamer: "Selama bertahun-tahun aku beriman, aku telah mengalami begitu banyak penganiayaan dan menderita begitu banyak kesukaran. Tahukah kalian bagaimana aku mengatasi semua itu?" Apakah ini watak yang congkak? Apa motivasi di balik upaya mereka untuk memamerkan diri? (Untuk membuat orang-orang menghormati mereka.) Apa motif mereka membuat orang-orang menghormati mereka? (Agar memiliki status di benak orang-orang ini.) Jika engkau memiliki status di benak orang lain, maka ketika mereka berada bersamamu, mereka menghormatimu, dan terutama bersikap sopan ketika mereka berbicara kepadamu. Mereka selalu mengagumimu, mereka selalu memprioritaskan dirimu dalam segala hal, mereka memberi jalan kepadamu, mereka menyanjung dan mematuhimu. Dalam segala hal, mereka mencarimu dan membiarkanmu mengambil keputusan. Dan engkau merasakan kenikmatan dari hal ini—engkau merasa dirimu lebih kuat dan lebih baik daripada orang lain. Semua orang menyukai perasaan ini. Ini adalah perasaan memiliki status di hati orang lain; orang ingin menikmati ini. Inilah sebabnya orang bersaing untuk mendapatkan status, dan semua orang ingin memiliki status di hati orang lain, ingin dihargai dan dipuja oleh orang lain. Jika mereka tidak dapat memperoleh kenikmatan seperti itu darinya, mereka tidak akan mengejar status. Sebagai contoh, jika engkau tidak memiliki status di benak seseorang, saat berinteraksi denganmu dia akan menganggapmu sejajar dengannya dan memperlakukanmu setara dengannya. Dia akan menentangmu bila perlu, dia tidak mau bersikap sopan atau hormat terhadapmu, dan bahkan mungkin pergi sebelum engkau selesai berbicara. Akankah engkau merasa diabaikan? Engkau tidak suka jika orang memperlakukanmu seperti ini; engkau suka jika, di setiap kesempatan, mereka menyanjungmu, menghormatimu, dan memujamu setiap saat. Engkau suka jika dirimu menjadi pusat dari segalanya, jika semuanya mengelilingimu, dan semua orang mendengarkanmu, menghormatimu, dan tunduk pada arahanmu. Bukankah ini adalah keinginan untuk memerintah seperti raja, untuk memiliki kekuasaan? Perkataan dan tindakanmu didorong oleh keinginanmu untuk mengejar dan memperoleh status, dan engkau berjuang, merebut, dan bersaing dengan orang lain untuk mendapatkannya. Tujuanmu adalah merebut posisi, dan membuat umat pilihan Tuhan mendengarkanmu, mendukungmu, dan memujamu. Begitu engkau memegang posisi itu, engkau kemudian memperoleh kekuasaan dan dapat menikmati manfaat dari statusmu, menikmati kekaguman dari orang lain, dan menikmati semua keuntungan lain yang menyertai posisi itu. Orang selalu menyamar, memamerkan diri mereka di depan orang lain, berlagak, berpura-pura, dan memperelok diri mereka sendiri untuk membuat orang lain menganggap mereka sempurna. Tujuan mereka dalam hal ini adalah untuk mendapatkan status, sehingga mereka dapat menikmati manfaat dari status itu. Jika engkau tidak percaya, pikirkan ini dengan saksama: mengapa engkau selalu ingin membuat orang menghormatimu? Engkau ingin membuat mereka memujamu dan menghormatimu, sehingga pada akhirnya engkau dapat mengambil alih kekuasaan dan menikmati manfaat dari statusmu. Status yang sangat kaucari akan memberimu banyak manfaat, dan manfaat inilah yang sebenarnya membuat orang lain iri dan menginginkannya. Jika orang merasakan banyak manfaat dari status mereka, itu akan memabukkan mereka, dan mereka akan terbenam dalam kehidupan mewah seperti itu. Orang mengira hanya kehidupan seperti inilah yang tidak sia-sia itu. Manusia yang rusak senang terbenam dalam hal-hal seperti ini. Oleh karena itu, begitu orang memperoleh posisi tertentu dan mulai menikmati berbagai manfaat dari status mereka, mereka akan selalu bernafsu mengejar kesenangan yang berdosa ini, bahkan sampai tidak pernah melepaskannya. Pada dasarnya, mengejar ketenaran dan status didorong oleh keinginan untuk menikmati keuntungan yang menyertai posisi tertentu, untuk memerintah seperti raja, untuk mengendalikan umat pilihan Tuhan, untuk menguasai segalanya, dan untuk mendirikan kerajaan mereka sendiri di mana mereka dapat menikmati manfaat dari status mereka dan terbenam dalam kesenangan yang berdosa. Iblis menggunakan segala macam cara untuk menipu orang, memperdaya mereka, memberi mereka kesan yang salah. Iblis bahkan menggunakan intimidasi dan ancaman untuk membuat orang mengagumi dan takut kepadanya, dengan tujuan utama membuat mereka tunduk dan menyembahnya. Inilah yang menyenangkan Iblis; inilah juga tujuannya ketika dia bersaing dengan Tuhan untuk mendapatkan manusia. Jadi, ketika engkau semua berjuang untuk mendapatkan status dan reputasi di antara orang lain, apa yang sedang kauperjuangkan? Apakah benar-benar untuk mendapatkan ketenaran? Tidak. Engkau sebenarnya sedang berjuang untuk mendapatkan manfaat yang diberikan oleh ketenaran kepadamu. Jika engkau selalu ingin menikmati manfaat itu, berarti engkau pasti akan berjuang untuk mendapatkannya. Namun, jika engkau tidak menghargai manfaat itu dan berkata, "Seperti apa pun perlakuan orang terhadapku, tidak menjadi masalah bagiku. Aku hanya orang biasa. Aku tidak layak mendapatkan perlakuan yang baik seperti itu, aku juga tidak ingin memuja manusia. Tuhanlah satu-satunya yang harus benar-benar kusembah dan kutakuti. Hanya Dialah Penciptaku dan Tuhanku. Sebaik apa pun orang, sebesar apa pun kemampuan mereka, sebanyak apa pun bakat mereka, atau sehebat atau sesempurna apa pun gambar diri mereka, mereka bukanlah objek penghormatanku karena mereka bukanlah kebenaran. Mereka bukanlah Sang Pencipta; mereka bukanlah Sang Juru Selamat, dan mereka tidak mampu mengatur atau berdaulat atas takdir manusia. Mereka bukanlah objek penyembahanku. Tidak ada manusia yang pantas untuk kusembah," bukankah ini sesuai dengan kebenaran? Sebaliknya, jika engkau tidak memuja orang lain, bagaimana seharusnya engkau memperlakukan mereka jika mereka mulai memujamu? Engkau harus menemukan cara untuk menghentikan mereka melakukannya, dan membantu mereka untuk membebaskan diri dari mentalitas seperti itu. Engkau harus menemukan cara untuk memperlihatkan dirimu yang sebenarnya kepada mereka, dan membiarkan mereka melihat keburukan dan naturmu yang sebenarnya. Yang terpenting adalah engkau harus membuat orang lain memahami bahwa sebaik apa pun kualitasmu, setinggi apa pun pendidikanmu, seluas apa pun pengetahuanmu, atau secerdas apa pun dirimu, engkau tetap saja orang biasa. Engkau bukanlah objek kekaguman atau pemujaan bagi siapa pun. Yang terpenting dan terutama adalah engkau harus teguh pada posisimu, dan tidak menyerah setelah melakukan kesalahan atau mempermalukan dirimu sendiri. Jika, setelah melakukan kesalahan atau mempermalukan dirimu sendiri, engkau tidak hanya gagal untuk mengakuinya, tetapi juga menggunakan tipu daya untuk menyembunyikan atau menutup-nutupinya, itu artinya engkau hanya akan menambah kesalahanmu dan membuat dirimu tampak makin buruk. Ambisimu bahkan menjadi makin jelas. Manusia yang rusak pandai menyamarkan diri mereka. Apa pun yang mereka lakukan atau kerusakan apa pun yang mereka singkapkan, mereka selalu harus menyamarkan diri mereka. Jika terjadi kesalahan atau mereka melakukan sesuatu yang salah, mereka ingin menyalahkan orang lain. Mereka menginginkan pujian untuk hal-hal baik bagi diri mereka sendiri, dan menyalahkan orang lain atas hal-hal buruk. Bukankah ada banyak penyamaran diri seperti ini dalam kehidupan nyata? Banyak sekali. Melakukan kesalahan atau menyamarkan diri: yang manakah dari kedua hal ini yang berkaitan dengan watak? Menyamarkan diri adalah masalah watak, itu melibatkan watak yang congkak, kejahatan, dan kelicikan; ini terutama dibenci oleh Tuhan. Sebenarnya, ketika engkau menyamarkan dirimu, semua orang mengerti apa yang sedang terjadi, tetapi engkau mengira orang lain tidak melihatnya, dan engkau berusaha sebaik mungkin untuk membantah dan membenarkan dirimu sendiri dalam upaya mempertahankan reputasi dan membuat semua orang berpikir bahwa engkau tidak melakukan kesalahan. Bukankah ini bodoh? Apa yang orang lain pikirkan tentang hal ini? Bagaimana perasaan mereka? Muak dan benci. Jika, setelah melakukan sebuah kesalahan, engkau dapat memperlakukannya dengan benar, dan dapat membiarkan orang lain membicarakannya, mengizinkan mereka memberi komentar dan pemahaman mereka tentang hal itu, dan engkau dapat membuka diri tentang itu serta menganalisisnya, akan seperti apa pendapat semua orang tentang dirimu? Mereka akan menganggapmu orang yang jujur, karena hatimu terbuka kepada Tuhan. Melalui tindakan dan perilakumu, mereka akan dapat melihat hatimu. Namun, jika engkau berusaha menyamarkan dirimu dan menipu semua orang, orang akan memandang rendah dirimu, dan menganggapmu orang yang bodoh dan tidak bijak. Jika engkau tidak berusaha berpura-pura atau membenarkan dirimu, jika engkau mampu mengakui kesalahanmu, semua orang akan berkata engkau jujur dan bijak. Dan apa yang membuatmu bijak? Semua orang melakukan kesalahan. Semua orang memiliki kelemahan dan kekurangan. Dan sebenarnya, semua orang memiliki watak rusak yang sama. Jangan menganggap dirimu lebih mulia, lebih sempurna, dan lebih baik daripada orang lain; itu berarti bersikap sama sekali tak masuk akal. Setelah engkau memahami tentang watak rusak manusia, serta esensi dan kerusakan manusia yang sebenarnya, engkau tidak akan berusaha menutupi kesalahanmu sendiri, engkau juga tidak akan memanfaatkan kesalahan orang untuk menindas mereka—engkau akan mampu memperlakukan kedua hal ini dengan tepat. Hanya setelah itulah, engkau akan berwawasan luas dan tidak melakukan hal-hal bodoh, yang akan membuatmu menjadi bijak. Orang yang tidak bijak adalah orang bodoh, dan mereka selalu berkutat dengan kesalahan kecil mereka sambil bersikap licik di balik layar. Ini menjijikkan untuk dilihat. Sebenarnya, apa yang sedang kaulakukan itu segera terlihat oleh orang lain, tetapi engkau masih terang-terangan berpura-pura. Bagi orang lain, ini terlihat seperti pertunjukan badut. Bukankah ini bodoh? Benar-benar bodoh. Orang bodoh tidak memiliki hikmat. Sebanyak apa pun khotbah yang mereka dengar, mereka tetap tidak memahami kebenaran atau melihat apa pun sebagaimana adanya. Mereka tak pernah berhenti bersikap congkak, menganggap diri mereka berbeda dari orang lain dan lebih terhormat; ini adalah sikap yang congkak dan merasa diri benar, ini adalah kebodohan. Orang bodoh tidak memiliki pemahaman rohani, bukan? Hal-hal di mana engkau bodoh dan tidak bijak adalah hal-hal di mana engkau tidak memiliki pemahaman rohani, dan tidak dapat dengan mudah memahami kebenaran. Inilah kenyataannya.

Perubahan watak yang rusak tidak terjadi dalam waktu singkat. Orang harus selalu merenungkan dan memeriksa diri mereka sendiri dalam segala hal. Mereka harus memeriksa tindakan dan perilaku mereka berdasarkan firman Tuhan, berusaha untuk memahami diri mereka sendiri, dan menemukan jalan untuk menerapkan kebenaran. Inilah cara mengatasi watak yang rusak. Orang perlu untuk merenungkan dan menyelidiki watak rusak yang menyingkapkan diri mereka dalam kehidupannya sehari-hari, perlu untuk menganalisis dan mengenali watak rusaknya berdasarkan pemahamannya akan kebenaran, dan secara bertahap menyingkirkan watak rusak tersebut, sehingga mereka mampu menerapkan kebenaran dan menyelaraskan semua tindakan mereka dengan kebenaran. Melalui pengejaran, penerapan, dan pemahaman diri seperti itu, perwujudan kerusakan ini akan mulai berkurang, dan ada harapan bahwa watak mereka pada akhirnya akan mengalami perubahan. Inilah jalannya. Perubahan watak orang menunjukkan adanya pertumbuhan dalam hidupnya. Orang harus memahami kebenaran dan menerapkannya. Hanya dengan menerapkan kebenaran, barulah mereka akan mampu mengatasi masalah watak yang rusak. Jika orang selalu memperlihatkan watak rusaknya, bahkan sampai watak rusak itu terlihat sendiri dalam setiap tindakan dan perkataannya, itu berarti watak orang tersebut belum berubah. Segala hal yang berkaitan dengan watak yang rusak harus dianalisis dan diselidiki dengan sungguh-sungguh. Orang harus mencari kebenaran untuk menggali dan mengatasi sumber penyebab dari watak yang rusak. Inilah satu-satunya cara untuk sepenuhnya membereskan masalah watak yang rusak. Setelah engkau menemukan jalan ini, ada harapan bahwa watakmu akan berubah. Ini bukanlah hal-hal yang hampa; semua itu relevan dengan kehidupan nyata. Kuncinya terletak pada apakah setiap individu mampu dengan sepenuh hati dan tekun hidup dalam kenyataan kebenaran, dan apakah mereka mampu menerapkan kebenaran. Selama mereka mampu menerapkan kebenaran, mereka secara bertahap akan mampu mulai membuang watak rusak mereka. Dengan demikian, mereka akan mampu berperilaku sesuai dengan tuntutan Tuhan dan sesuai dengan posisi mereka. Dengan menemukan posisi mereka, dengan tetap teguh dalam peran mereka sebagai makhluk ciptaan, dan menjadi orang yang benar-benar menyembah dan tunduk kepada Tuhan, mereka akan diperkenan oleh Tuhan.

20 Februari 2020

Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.

Hubungi kami via WhatsApp