Apa Sebenarnya yang Orang Andalkan untuk Hidup? (Bagian Dua)
Aku baru saja membahas tentang bakat dan karunia secara khusus. Apakah bakat dan karunia ini termasuk pengetahuan? Apakah ada perbedaan antara pengetahuan dan bakat? Bakat mengacu pada keterampilan. Ini bisa berupa bidang di mana seseorang lebih menonjol daripada orang lain, bagian dari kualitasnya yang lebih menonjol, yang paling mahir mereka lakukan, atau keterampilan yang di mana mereka relatif kompeten dan berpengalaman. Semua ini disebut bakat dan karunia. Apa arti pengetahuan? Apa sebenarnya yang dimaksud dengan pengetahuan? Jika seorang cendekiawan telah belajar selama bertahun-tahun, membaca banyak karya-karya klasik, telah mempelajari suatu profesi atau bidang ilmu tertentu secara mendalam, telah memperoleh hasil, dan memiliki keahlian yang spesifik dan mendalam, apakah ini ada hubungannya dengan bakat dan karunia? Dapatkah pengetahuan dimasukkan dalam kategori bakat? (Tidak.) Jika seseorang menggunakan bakat untuk melakukan pekerjaannya, mungkin dia adalah orang kasar dan berasal dari pedesaan, tidak berpendidikan tinggi, belum pernah membaca buku-buku terkenal apa pun, atau bahkan tidak mampu memahami Alkitab, tetapi mereka mungkin masih memiliki sedikit kualitas, dan dapat berbicara dengan fasih. Apakah ini sebuah bakat? (Ya.) Orang ini memiliki bakat seperti itu. Apakah ini berarti mereka memiliki pengetahuan? (Tidak.) Jadi, apa yang dimaksud dengan pengetahuan? Bagaimana mendefinisikannya? Sebagai contoh, jika seseorang pernah menempuh pendidikan, apakah dia memiliki pengetahuan tentang profesi tersebut? Hal-hal seperti bagaimana mengajar orang, bagaimana cara menyampaikan pengetahuan kepada orang lain, pengetahuan apa yang harus disampaikan, dan sebagainya? Mereka memiliki pengetahuan di bidang ini, lalu apakah mereka seorang intelektual di bidang ini? Dapatkah mereka disebut sebagai orang berbakat yang memiliki pengetahuan di bidang ini? (Ya.) Mari kita gunakan ini sebagai contoh, jika seseorang adalah seorang intelektual yang bergelut dalam pendidikan, apa yang biasanya akan dilakukan orang seperti itu ketika mereka bekerja atau memimpin gereja? Apa tindakan yang biasa mereka lakukan? Apakah mereka berbicara kepada semua orang seperti seorang guru berbicara kepada seorang murid? Nada bicara yang mereka gunakan tidaklah penting, yang penting adalah apa yang mereka tanamkan dalam diri orang lain dan ajarkan kepada orang lain. Mereka telah hidup berdasarkan pengetahuan ini selama bertahun-tahun, dan pengetahuan ini pada dasarnya telah menjadi bagian dari kehidupan mereka, sampai-sampai dalam setiap aspek perilaku atau kehidupan mereka, engkau dapat melihat bahwa mereka memiliki pengetahuan tersebut dan menjalankan pengetahuan yang telah mereka peroleh. Ini sangat normal untuk dilihat. Lalu, apa yang sering diandalkan oleh orang-orang seperti ini untuk melakukan pekerjaan mereka? Mereka mengandalkan pengetahuan yang telah mereka peroleh. Misalnya, mereka mendengar seseorang berkata, "Aku tidak bisa membaca firman Tuhan. Aku memegangnya di tanganku, tetapi aku tidak tahu cara membacanya. Bagaimana aku akan bisa mengetahui apa yang dimaksud dengan kebenaran, jika aku tidak bisa membaca firman Tuhan? Bagaimana aku bisa memahami maksud-Nya, jika aku tidak bisa membaca firman-Nya?" Mereka berkata, "Aku tahu caranya, aku memiliki pengetahuan, jadi aku dapat membantumu. Bab ini terbagi menjadi empat paragraf. Biasanya, jika artikelnya berbentuk narasi, ada enam unsur: waktu, tempat, tokoh, penyebab peristiwa, proses pengembangan, dan kesimpulan. Waktu saat bab firman Tuhan ini diterbitkan adalah pada akhir Oktober 2011. Ini adalah unsur pertama. Mengenai tokoh-tokohnya, bab firman Tuhan ini menyebutkan 'Aku', jadi orang pertama adalah Tuhan, dan kemudian Tuhan menyebutkan 'engkau semua', yang merujuk pada kami. Kemudian firman Tuhan menganalisis keadaan beberapa orang; beberapa keadaan adalah keadaan yang memberontak dan congkak, yang mengacu pada orang-orang yang congkak dan memberontak, yang tidak melakukan pekerjaan nyata, yang melakukan kejahatan dan orang jahat. Hal yang terjadi adalah orang-orang melakukan hal-hal yang jahat. Ada juga beberapa hal lain yang berhubungan dengan aspek-aspek yang berbeda." Apa pendapatmu tentang metode kerja ini? Adalah hal yang baik bahwa mereka dengan penuh kasih membantu orang lain, tetapi apa dasar dari tindakan mereka? (Pengetahuan.) Mengapa Aku memberikan contoh ini? Untuk membantu orang memahami dengan lebih jelas apa itu pengetahuan. Ada orang-orang yang tidak tahu cara membaca firman Tuhan, tetapi mereka menerima pendidikan dan mungkin berprestasi baik dalam mata pelajaran humaniora di sekolah, sehingga mereka mungkin membuka halaman firman Tuhan, membaca, dan berkata, "Bagian firman Tuhan ini diungkapkan dengan begitu baik! Pada bagian pertama, Tuhan berbicara dengan terus terang, dan pada bagian kedua, nada bicara-Nya menunjukkan sedikit kemegahan dan murka. Pada bagian ketiga, semuanya disingkapkan secara spesifik dan jelas. Beginilah seharusnya firman Tuhan. Bagian keempat, ringkasan umum, memberikan jalan penerapan kepada orang-orang. Firman Tuhan itu sempurna!" Apakah kesimpulan dan ringkasan firman Tuhan mereka berasal dari pengetahuan? (Ya.) Meskipun contoh ini mungkin tidak terlalu tepat, apa yang Aku ingin agar engkau semua pahami dengan mengatakan ini? Aku ingin engkau semua melihat dengan jelas keburukan dari menggunakan pengetahuan untuk memperlakukan firman Tuhan. Itu menjijikkan. Orang-orang semacam itu mengandalkan pengetahuan untuk membaca firman Tuhan, jadi dapatkah mereka mengandalkan kebenaran untuk melakukan segala sesuatu? (Tidak.) Tentu saja tidak.
Apa ciri orang yang hidup berdasarkan pengetahuan dalam melakukan sesuatu? Pertama-tama, apa kelebihan yang mereka pikir mereka miliki? Pengetahuan dan pengajaran mereka, fakta bahwa mereka adalah seorang intelektual, dan fakta bahwa mereka pernah bekerja di industri berbasis pengetahuan. Kaum intelektual memiliki gaya, ciri, dan pola intelektual ketika mereka melakukan segala sesuatu, sehingga mau tidak mau mereka memberikan semacam kesan intelektual pada hal-hal yang mereka lakukan, yang membuat orang lain mengagumi mereka. Begitulah cara kaum intelektual melakukan segala sesuatu; mereka selalu berfokus pada kesan intelektual itu. Betapapun lemah dan lembutnya penampilan luar mereka, hal-hal di dalam diri mereka tentu saja tidak lemah atau lembut, dan mereka selalu memiliki pandangan mereka sendiri tentang segala sesuatu. Dalam segala hal, mereka selalu ingin pamer, menggunakan kecerdasan mereka, menganalisis dan menangani segala sesuatu berdasarkan pandangan, sikap, dan pola pikir pengetahuan. Kebenaran adalah sesuatu yang asing bagi mereka, dan itu adalah sesuatu yang sangat sulit untuk mereka terima. Oleh karena itu, sikap pertama orang semacam itu terhadap kebenaran adalah menganalisisnya. Apa dasar analisis mereka? Pengetahuan. Aku akan memberimu sebuah contoh. Apakah orang yang pernah belajar penyutradaraan memiliki pengetahuan tentang penyutradaraan? Entah engkau pernah mempelajari penyutradaraan secara sistematis melalui buku-buku, atau mempelajarinya secara praktis dan melakukan pekerjaan semacam itu atau tidak, singkatnya, engkau telah menguasai pengetahuan di bidang ini. Entah engkau telah mempelajari penyutradaraan secara mendalam atau hanya secara dangkal, jika engkau menggeluti pekerjaan penyutradaraan di dunia orang-orang tidak percaya, pengetahuan yang kauperoleh di bidang ini atau pengalamanmu dalam penyutradaraan akan sangat berguna dan berharga. Namun, apakah dengan memiliki pengetahuan seperti ini berarti engkau pasti mampu mengerjakan pekerjaan pembuatan film rumah Tuhan dengan baik? Dapatkah pengetahuan yang telah kauperoleh benar-benar membantumu menggunakan film untuk bersaksi tentang Tuhan? Belum tentu. Jika engkau terus menekankan pada apa yang diajarkan buku-buku teks dan aturan serta tuntutan dari pengetahuan industri, dapatkah engkau melaksanakan tugasmu dengan baik? (Tidak.) Bukankah ada pertentangan atau konflik di sini? Ketika prinsip-prinsip kebenaran bertentangan dengan aspek pengetahuan ini, bagaimana engkau menyelesaikannya? Apakah engkau menerima pengetahuanmu sebagai penuntunmu, atau sebagai prinsip-prinsip kebenaran? Dapatkah engkau semua menjamin bahwa setiap pengambilan gambar, setiap adegan, dan setiap bagian yang kaurekam tidak dicemari dengan pengetahuan, atau bahwa itu mengandung sangat sedikit pencemaran dari pengetahuanmu, dan bahwa itu sepenuhnya sesuai dengan standar dan prinsip-prinsip yang dituntut oleh rumah Tuhan? Jika hal ini tidak memungkinkan, maka tak ada satu pun dari pengetahuan yang kauperoleh akan berguna di rumah Tuhan. Renungkanlah, apa gunanya pengetahuan? Pengetahuan apa yang berguna? Pengetahuan macam apa yang bertentangan dengan kebenaran? Apa yang diberikan oleh pengetahuan kepada manusia? Ketika manusia memperoleh lebih banyak pengetahuan, apakah mereka menjadi lebih saleh dan memiliki hati yang lebih takut akan Tuhan, atau apakah mereka menjadi lebih congkak dan merasa diri benar? Setelah memperoleh pengetahuan lebih, manusia menjadi rumit, dogmatis, congkak. Ada hal lain yang fatal yang mungkin tidak mereka sadari: Ketika mereka telah memperoleh banyak pengetahuan, manusia menjadi kacau di dalam dirinya, dan tidak memiliki prinsip, dan makin banyak pengetahuan yang mereka peroleh, makin kacau pula mereka. Dalam pengetahuan, dapatkah ditemukan jawaban atas pertanyaan mengapa manusia hidup dan nilai serta makna keberadaan manusia? Dapatkah kesimpulan ditemukan tentang dari mana manusia berasal dan ke mana mereka pergi? Dapatkah pengetahuan memberitahumu bahwa engkau berasal dari Tuhan dan diciptakan oleh Tuhan? (Tidak.) Jadi, apa tepatnya yang tercakup dalam studi pengetahuan atau yang ditanamkan dalam diri orang-orang oleh pengetahuan? Hal-hal materiel, hal-hal yang bersifat ateis, hal-hal yang dapat dilihat oleh manusia dan yang dapat dikenali oleh pikiran, banyak di antaranya muncul dari imajinasi manusia dan sama sekali tidak praktis. Pengetahuan juga menanamkan falsafah, ideologi, teori, hukum alam, dan sebagainya ke dalam diri manusia, tetapi ada banyak hal yang tidak dapat dijelaskan. Misalnya, bagaimana kilat dan guntur terbentuk, atau mengapa musim berubah. Dapatkah pengetahuan memberimu jawaban yang benar? Mengapa iklim saat ini berubah dan menjadi tidak normal? Dapatkah pengetahuan menjelaskan hal ini dengan jelas? Dapatkah pengetahuan menyelesaikan masalah ini? (Tidak.) Pengetahuan tidak dapat memberitahumu tentang masalah-masalah yang berkaitan dengan sumber segala sesuatu, jadi pengetahuan tidak dapat menyelesaikan masalah-masalah itu. Ada juga orang yang bertanya, "Mengapa seseorang bisa hidup kembali setelah mati?" Sudahkah pengetahuan memberimu jawaban untuk pertanyaan ini? (Tidak.) Jadi, apa yang diberitahukan pengetahuan itu kepadamu? Pengetahuan itu memberi tahu manusia tentang banyak kebiasaan dan aturan. Contohnya, gagasan bahwa orang-orang harus membesarkan anak mereka dan menunjukkan rasa hormat kepada orang tua mereka adalah semacam pengetahuan tentang kehidupan manusia. Dari mana asalnya pengetahuan ini? Itu diajarkan oleh budaya tradisional. Lalu, apa yang diberikan oleh semua pengetahuan ini kepada manusia? Apa inti dari pengetahuan? Di dunia ini, ada banyak orang yang telah membaca buku-buku klasik, memperoleh pendidikan tinggi, berpengetahuan luas, atau yang telah menguasai bidang pengetahuan khusus. Jadi, dalam perjalanan hidup, apakah orang-orang semacam itu memiliki arah dan tujuan yang benar? Apakah mereka memiliki dasar dan prinsip untuk perilaku mereka? Selain itu, apakah mereka tahu cara menyembah Tuhan? (Tidak.) Dan lebih lanjut, apakah mereka memahami setiap unsur kebenaran? (Tidak.) Jadi, apakah pengetahuan itu? Apa yang diberikan pengetahuan kepada manusia? Orang-orang mungkin memiliki sedikit pengalaman tentang hal ini. Dahulu, ketika orang-orang tidak memiliki pengetahuan, hubungan antara mereka masih sederhana. Apakah sekarang masih sederhana setelah orang memperoleh pengetahuan? Pengetahuan membuat manusia makin rumit dan tidak lagi murni. Pengetahuan membuat manusia makin tidak memiliki kemanusiaan yang normal dan tidak memiliki tujuan hidup. Makin banyak pengetahuan yang manusia peroleh, makin jauh mereka dari Tuhan. Makin banyak mereka memperoleh pengetahuan, makin mereka menolak kebenaran dan firman Tuhan. Makin banyak pengetahuan yang orang miliki, makin orang menjadi ekstrem, keras kepala, dan tidak masuk akal. Dan apa akibatnya? Makin lama dunia menjadi makin gelap dan makin jahat.
Kita baru saja membahas bagaimana konflik atau pertentangan antara penerapan pengetahuan dan prinsip-prinsip kebenaran harus diselesaikan ketika mereka muncul. Apa yang engkau semua lakukan setiap kali berada dalam situasi seperti ini? Beberapa di antaramu akan menawarkan doktrin: "Apa sulitnya melakukan penerapan berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran? Apa yang tidak bisa dilepaskan?" Namun, ketika sesuatu terjadi padamu, engkau terus melakukan hal yang sama seperti sebelumnya, mengikuti kehendakmu sendiri, serta gagasan dan imajinasimu, dan meskipun ada kalanya ketika engkau ingin menerapkan kebenaran dan bertindak berdasarkan prinsip-prinsipnya, engkau sama sekali tidak mampu melakukannya, apa pun yang terjadi. Semua orang tahu bahwa, secara doktrin, bertindak berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran adalah hal yang benar; mereka tahu bahwa pengetahuan pasti tidak sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran, dan ketika keduanya bertentangan atau berlawanan, mereka harus mulai dengan melakukan penerapan berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran dan melepaskan pengetahuan mereka. Namun, apakah kenyataannya sesederhana itu? (Tidak.) Tidak, tidak sesederhana itu. Jadi, kesulitan apa yang ada ketika melakukan penerapan? Bagaimana seharusnya seseorang melakukan penerapan agar mampu bertindak berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran? Ini adalah masalah-masalah nyata, bukan? Bagaimana cara mengatasinya? Yang terutama dan terpenting, orang harus tunduk. Namun, manusia memiliki watak yang rusak, dan terkadang, mereka tidak mampu membuat diri mereka tunduk. Mereka berkata, "'Kita bisa menuntun kuda ke air, tetapi kita tidak bisa membuatnya minum'—berusaha membuatku tunduk adalah salah satu contohnya, bukan? Apa salahnya bertindak berdasarkan kekuatan pengetahuanku? Jika kau bersikeras agar aku bertindak berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran, aku tidak mau tunduk." Apa yang kaulakukan pada saat-saat seperti ini, jika watak yang memberontak siap untuk menimbulkan masalah? (Berdoa.) Terkadang, doa tidak dapat menyelesaikan masalah. Sikap dan pola pikirmu mungkin sedikit lebih baik setelah berdoa, dan engkau mungkin mengubah sebagian dari keadaanmu, tetapi jika engkau tidak memahami atau kurang jelas tentang prinsip-prinsip kebenaran yang relevan, ketundukanmu mungkin hanya menjadi sekadar formalitas belaka. Pada saat-saat seperti ini, engkau perlu memahami kebenaran, mencari kebenaran yang relevan, dan berusaha untuk dapat mengetahui manfaat apa yang diterima pekerjaan rumah Tuhan dari tindakanmu, dari kesaksian tentang Dia, dan dari penyebarluasan firman-Nya. Engkau harus memiliki hati yang jernih mengenai hal-hal ini. Apa pun tugasmu, apa pun yang kaulakukan, engkau harus mulai dengan memikirkan pekerjaan dan kepentingan rumah Tuhan, menyebarluaskan firman Tuhan, atau apa yang ingin kaucapai dalam pelaksanaan tugasmu. Itu menjadi prioritas pertama. Tidak pernah ada ruang untuk ambiguitas mengenai hal ini, ataupun untuk kompromi. Jika engkau berkompromi pada saat-saat seperti ini, itu berarti engkau tidak sedang melaksanakan tugasmu dengan sungguh-sungguh, dan engkau tidak sedang menerapkan kebenaran, dan yang lebih buruk lagi, dapat dikatakan bahwa engkau sedang mengurus urusanmu sendiri. Engkau sedang melakukan sesuatu untuk dirimu sendiri dan bukannya melaksanakan tugas sebagai makhluk ciptaan. Jika orang ingin menyelesaikan amanat Tuhan dan melaksanakan tugas manusia dengan baik, kebenaran yang harus mereka pahami dan terapkan terlebih dahulu adalah bahwa mereka harus memenuhi maksud Tuhan. Engkau harus memiliki visi ini. Melaksanakan tugas bukanlah tentang melaksanakan sesuatu untuk dirimu sendiri atau mengurus urusanmu sendiri, apalagi bersaksi tentang dirimu sendiri dan mempromosikan dirimu sendiri, juga bukan tentang ketenaran, keuntungan, dan statusmu. Itu bukanlah tujuanmu. Sebaliknya, ini adalah tentang melaksanakan tugasmu dengan baik dan memberi kesaksian tentang Tuhan; ini tentang memikul tanggung jawabmu dan memuaskan Tuhan; ini adalah tentang hidup dalam hati nurani dan nalar kemanusiaan yang normal, hidup dengan keserupaan dengan manusia, hidup di hadapan Tuhan. Dengan pola pikir yang benar seperti ini, orang dapat dengan mudah melewati rintangan hidup berdasarkan pengetahuannya. Sekalipun masih ada beberapa tantangan, tantangan tersebut akan perlahan-lahan berubah selama proses ini, dan keadaan akan berubah menjadi lebih baik. Jadi, seperti apa pengalamanmu saat ini? Apakah menjadi makin baik, atau malah stagnan? Jika engkau semua selalu bertindak berdasarkan pengetahuan dan otakmu, dan tidak pernah mencari prinsip-prinsip kebenaran, akankah engkau mampu bertumbuh dalam hidup? Sudahkah engkau semua sampai pada kesimpulan tentang hal itu? Tampaknya engkau semua masih cukup bingung tentang masalah jalan masuk kehidupan dan tidak memiliki prinsip-prinsip spesifik untuk itu, artinya engkau tidak memiliki pengalaman yang lebih dalam dan lebih sejati tentang prinsip-prinsip dan jalan untuk menerapkan kebenaran. Ada orang-orang yang selalu bertindak berdasarkan pengetahuan mereka, apa pun yang terjadi pada mereka. Mereka hanya mematuhi beberapa prinsip kebenaran dalam hal-hal besar dengan hal-hal sederhana, membiarkan pengetahuan mereka menjadi hal utama, sementara prinsip-prinsip kebenaran menjadi pelengkapnya. Mereka melakukan penerapan dengan cara yang dimediasi dan dikompromikan; mereka tidak secara tegas menuntut ketundukan penuh atau tindakan yang benar-benar sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran. Apakah ini benar atau salah? Apa bahayanya melakukan penerapan seperti ini? Bukankah hal ini bisa saja menyimpang dari jalurnya, serta menentang Tuhan dan menyinggung watak-Nya? Inilah hal yang paling harus dipahami oleh orang-orang. Apakah sekarang jelas bagimu, apa perbedaan antara melaksanakan tugas di rumah Tuhan dengan mendapatkan pekerjaan dan menjalani kehidupan di dunia dengan asal-asalan? Apakah engkau memiliki kesadaran yang jelas akan hal itu di dalam hatimu? Engkau semua harus memikirkan masalah ini dan sering merenungkannya. Apa perbedaan terbesar di antara keduanya? Tahukah engkau? (Melaksanakan tugas di rumah Tuhan adalah tentang memperoleh kebenaran dan membawa perubahan pada watak kami yang rusak; mendapatkan pekerjaan di dunia adalah tentang kehidupan daging.) Hampir benar, tetapi ada satu hal yang tidak kausebutkan: melaksanakan tugas di rumah Tuhan berarti hidup berdasarkan kebenaran. Apa makna penting hidup berdasarkan kebenaran? Bagi manusia, makna pentingnya adalah bahwa watak mereka bisa berubah, dan pada akhirnya mereka dapat diselamatkan; bagi Tuhan, Dia bisa mendapatkanmu, sebagai makhluk ciptaan, dan mengakui bahwa engkau adalah ciptaan-Nya. Jadi, berdasarkan apakah orang hidup ketika mereka mendapatkan pekerjaan di dunia ini? (Berdasarkan falsafah Iblis.) Berdasarkan falsafah Iblis, secara umum, ini berarti mereka hidup berdasarkan watak rusak Iblis. Sama halnya ketika engkau mencari ketenaran, keuntungan, dan status, atau kekayaan, atau untuk menjalani hari-harimu dan bertahan hidup, engkau hidup berdasarkan watak yang rusak. Ketika engkau mendapatkan pekerjaan di dunia ini, engkau harus memeras otak untuk berusaha menghasilkan uang. Untuk menaiki tangga menuju ketenaran, keuntungan, dan status, engkau harus bergantung sepenuhnya pada hal-hal seperti persaingan, pertengkaran, perjuangan, kekejaman, kedengkian, dan pembunuhan, itulah satu-satunya cara untuk tetap teguh. Untuk melaksanakan tugas di rumah Tuhan, engkau harus hidup berdasarkan firman Tuhan, dan engkau harus memahami kebenaran. Hal-hal negatif dari Iblis bukan saja tidak berguna, tetapi hal-hal itu juga harus dibuang. Tidak ada satu pun milik setan yang dapat dipertahankan. Jika seseorang hidup berdasarkan hal-hal Iblis, dia harus dihakimi dan dihajar; jika seseorang hidup berdasarkan hal-hal Iblis dan tidak mau bertobat, dia harus disingkirkan dan ditinggalkan. Itulah perbedaan terbesar antara melaksanakan tugas di rumah Tuhan dan mendapatkan pekerjaan di dunia.
Ketika orang-orang hidup berdasarkan pengetahuan mereka, keadaan seperti apa yang mereka jalani? Apa yang paling dalam mereka alami? Segera setelah engkau mempelajari sesuatu di bidang tertentu, engkau merasa bahwa engkau cakap, bahwa engkau hebat, dan sebagai akibatnya, engkau dibelenggu oleh pengetahuanmu. Engkau telah memperlakukan pengetahuan sebagai hidupmu, dan ketika sesuatu terjadi padamu, pengetahuanmu itulah yang muncul, yang mengendalikanmu melakukan ini dan itu. Engkau ingin membuangnya, tetapi engkau tidak mampu, karena itu sudah terpatri di dalam hatimu, dan tidak ada hal lain yang dapat menggantikannya. Inilah yang dimaksud dengan "kesan yang pertama adalah kesan yang terakhir". Ada pengetahuan tertentu yang sebaiknya tidak dipelajari sama sekali. Mempelajarinya adalah sebuah beban dan masalah. Pengetahuan mencakup banyak bidang: pendidikan, hukum, sastra, matematika, kedokteran, biologi, dan sebagainya, yang semuanya berasal dari pengalaman langsung orang. Ini adalah bentuk-bentuk pengetahuan praktis; orang-orang tidak bisa hidup tanpanya, dan mereka harus mempelajarinya. Namun, ada bentuk-bentuk pengetahuan yang beracun bagi manusia, itu adalah racun Iblis, semuanya berasal dari Iblis. Contohnya, ilmu-ilmu sosial, yang ajarannya mencakup hal-hal seperti ateisme, materialisme, dan evolusionisme, serta Konfusianisme, komunisme, dan takhayul feodal: semua ini adalah bentuk negatif dari pengetahuan yang berasal dari Iblis, dan tujuan utamanya adalah untuk merasuki, merusak, dan memutarbalikkan pemikiran manusia, mengikat dan mengendalikan pemikiran manusia, hingga pada akhirnya merusak, merugikan, dan menghancurkan manusia. Sebagai contoh, mewariskan nama keluarga, bakti anak, dan membawa kehormatan bagi keluarga, serta rumus yang berbunyi, "Membina diri sendiri, mengurus keluarga, memerintah negara, membawa perdamaian bagi semua orang", semua ini adalah ajaran dari budaya tradisional. Dan selain semua ini, ada berbagai teori teologis, Buddha, Taoisme, dan agama modern di tengah masyarakat sipil. Semua ini juga termasuk dalam lingkup pengetahuan. Sebagai contoh, ada orang-orang yang pernah melayani sebagai pendeta atau pengkhotbah, atau mereka pernah belajar teologi. Apa gunanya memperoleh pengetahuan seperti itu? Apakah itu berkat atau kutukan? (Kutukan.) Bagaimana hal itu bisa menjadi sebuah kutukan? Jika orang-orang semacam itu tidak berbicara, maka biarlah, tetapi ketika mereka berbicara, doktrin agamawi yang keluar. Mereka selalu berusaha untuk mengkhotbahkan doktrin rohani; mereka menanamkan cara-cara hidup orang Farisi yang munafik dalam diri orang-orang, daripada membiarkan mereka memahami kebenaran. Pengetahuan teologis berfokus pada teori teologis. Apa ciri yang paling menonjol dari teori teologis? Itu menanamkan hal-hal dalam diri orang-orang yang mereka anggap rohani, dan setelah orang-orang menerima hal-hal rohani yang palsu tersebut, itulah kesan pertama dan terakhir mereka. Sekalipun engkau telah mendengarkan firman yang Tuhan ungkapkan, engkau tidak akan mampu memahaminya pada saat itu, dan engkau akan dibatasi oleh pengetahuan dan teori-teori orang Farisi. Ini adalah hal yang sangat berbahaya. Bukankah akan sulit bagi orang semacam itu untuk menerima kebenaran? Singkatnya, jika engkau hidup berdasarkan doktrin dan pengetahuan, dan jika engkau melaksanakan tugasmu dan bertindak dengan mengandalkan karunia-karuniamu, engkau mungkin mampu melakukan beberapa hal baik, seperti yang terlihat oleh orang lain. Namun, ketika engkau hidup dalam keadaan seperti itu, apakah engkau mengetahuinya? Dapatkah engkau menyadari bahwa engkau sedang hidup berdasarkan pengetahuanmu? Dapatkah engkau merasakan apa akibat yang dapat ditimbulkan oleh hidup berdasarkan pengetahuan? Pada akhirnya, bukankah hatimu akan merasa hampa dan merasa bahwa hidup seperti itu tidak ada artinya? Dan mengapa demikian? Pertanyaan-pertanyaan ini harus dijawab. Di situlah kita akan membahas masalah pengetahuan.
Kita baru saja membahas masalah pengetahuan dan karunia. Ada satu masalah lagi: banyak orang dari sejak percaya kepada Tuhan hingga saat ini tidak pernah mengetahui apa yang dimaksud dengan kebenaran, atau bagaimana mereka harus menerapkan dan mengejarnya. Selama ini, mereka telah hidup berdasarkan suatu keyakinan atau gagasan dan imajinasi manusia. Sederhananya, mereka hidup berdasarkan hal-hal yang mereka yakini benar. Mereka secara obsesif mematuhi hal-hal ini, dan bahkan menganggapnya sebagai kebenaran. Mereka menganggap bahwa selama mereka terus melakukan penerapan hingga akhir, mereka akan menjadi pemenang, dan mereka akan terus bertahan hidup sampai seterusnya. Mereka percaya kepada Tuhan berdasarkan gagasan kebajikan seperti itu. Mereka mampu menderita, dan meninggalkan keluarga serta karier mereka, dan melepaskan hal-hal yang mereka sukai, dan mereka merangkumnya dalam beberapa aturan, yang mereka terapkan seolah-olah itu adalah kebenaran. Sebagai contoh, ketika mereka melihat seseorang sedang mengalami kesulitan, atau keluarga seseorang sedang mengalami masa sulit, mereka akan mengulurkan tangan untuk membantu mereka. Mereka menanyakan keadaannya, merawatnya, dan menjaganya. Jika ada pekerjaan kasar atau pekerjaan yang harus segera diselesaikan, mereka akan secara proaktif melakukannya. Pekerjaan kasar dan harus segera diselesaikan tidak mengganggu mereka. Mereka tidak pilih-pilih. Mereka tidak berdebat dengan orang lain ketika menanganinya, dan mereka berupaya sebaik mungkin untuk hidup secara harmonis dengan siapa pun. Mereka tidak bertengkar dengan orang lain, dan mereka belajar bersikap baik dan toleran terhadap orang lain, sedemikian rupa sehingga setiap orang yang menghabiskan waktu bersama mereka akan berkata bahwa mereka adalah orang yang baik dan orang percaya sejati. Jika menyangkut Tuhan, mereka melakukan apa pun yang Dia perintahkan dan pergi ke mana pun yang Dia perintahkan. Mereka tidak menentang. Berdasarkan apa mereka hidup? (Semangat.) Ini bukan sekadar bentuk semangat yang sederhana, mereka hidup berdasarkan keyakinan yang mereka yakini benar. Orang-orang semacam itu tidak akan memahami kebenaran bahkan setelah bertahun-tahun percaya kepada Tuhan, mereka juga tidak tahu apa arti menerapkan kebenaran, atau apa arti tunduk kepada Tuhan, atau apa arti memuaskan Tuhan, atau apa arti mencari kebenaran, atau apa arti prinsip-prinsip kebenaran. Mereka tidak akan mengetahui hal-hal ini. Mereka bahkan tidak akan tahu apa itu orang yang jujur atau bagaimana menjadi orang yang jujur. Mereka percaya, "Yang harus kulakukan adalah hidup seperti ini dan terus mengikuti. Apa pun khotbah yang disampaikan rumah Tuhan, aku akan berteguh pada caraku melakukan segala sesuatu; seperti apa pun Tuhan memperlakukanku, aku tidak akan melepaskan kepercayaanku kepada-Nya atau meninggalkan-Nya. Aku mampu melaksanakan tugas apa pun yang diminta." Mereka meyakini bahwa mereka dapat diselamatkan dengan melakukan penerapan seperti ini. Namun sayang sekali, meskipun tidak memiliki masalah besar apa pun dengan sikap mereka, mereka tidak memahami kebenaran, bahkan setelah mendengarkan khotbah selama bertahun-tahun. Mereka tidak memahami kebenaran tentang ketundukan atau mengetahui bagaimana cara menerapkannya, mereka tidak memahami kebenaran tentang menjadi orang yang jujur, atau kebenaran tentang melaksanakan tugas dengan setia, atau apa arti bersikap asal-asalan. Mereka tidak tahu apakah mereka berbohong atau adalah orang yang suka menipu. Bukankah orang-orang semacam itu patut dikasihani? (Ya.) Berdasarkan apa mereka hidup? Dapatkah dikatakan bahwa mereka hidup dengan hati mereka yang murni dan polos? Mengapa dapat dikatakan demikian? Karena, sebagaimana yang mereka yakini, "Hatiku terbuka untuk dilihat semua orang. Ini tidak jelas bagi orang-orang; mereka tidak dapat melihatnya, tetapi Surga mengetahuinya." Seperti itulah "tulusnya" hati mereka: tak seorang pun dapat memahaminya, dan itu di luar jangkauan semua orang. Mengapa menyebut ini hati yang murni dan polos? Karena mereka memiliki suasana hati tertentu, suatu perasaan, dan mereka menggunakan perasaan pribadi atau angan-angan mereka untuk menafsirkan apa yang harus dilakukan orang yang percaya kepada Tuhan dan apa arti tugas. Mereka juga menggunakan perasaan seperti itu untuk menyusun tuntutan Tuhan. Mereka percaya, "Tuhan sebenarnya tidak menuntut agar manusia melakukan apa pun, atau menuntut mereka memiliki banyak keterampilan atau memahami banyak kebenaran. Sudah cukup bagi seseorang untuk memiliki hati yang murni dan polos. Sangat mudah untuk percaya kepada Tuhan, yang harus kaulakukan hanyalah terus bertindak dengan kekuatan hati yang murni dan polos". Namun, kebohongan, penentangan, pemberontakan, gagasan, atau pengkhianatan mereka tidak berhenti. Apa pun yang dia lakukan, dia tidak merasa bahwa hal itu penting, tetapi berpikir, "Aku memiliki hati yang mengasihi Tuhan. Tak seorang pun dapat merusak hubunganku dengan Tuhan, tak seorang pun dapat menyurutkan kasihku kepada Tuhan, dan tak seorang pun dapat memengaruhi kesetiaanku kepada Tuhan." Mentalitas macam apa ini? Mentalitas yang tidak masuk akal, bukan? Itu tidak masuk akal dan patut disayangkan. Ada keadaan dalam jiwa orang seperti itu, kering, miskin, dan menyedihkan. Mengapa "kering"? Karena ketika mereka dihadapkan pada sesuatu yang sederhana, misalnya, mereka telah berbohong, mereka tidak mengetahuinya atau menyadarinya. Mereka tidak merasa bersalah; mereka tidak memiliki perasaan apa pun. Mereka mengikuti Tuhan sampai sekarang tanpa standar pengukuran yang ketat dalam apa pun yang mereka lakukan. Mereka tidak tahu orang macam apa mereka, atau apakah mereka orang yang suka menipu, atau apakah mereka benar-benar mampu menjadi orang yang jujur, atau apakah mereka mampu tunduk pada tuntutan Tuhan atau tidak. Mereka tidak mengetahui satu pun dari hal-hal ini. Mereka sungguh menyedihkan, dan roh mereka kering. Mengapa dikatakan roh mereka kering? Karena mereka tidak tahu apa yang Tuhan tuntut dari mereka, atau mengapa mereka percaya kepada Tuhan, atau mereka harus berusaha menjadi orang seperti apa. Mereka tidak mengetahui tindakan apa yang tidak bernalar, atau tindakan apa yang melanggar prinsip-prinsip kebenaran. Mereka tidak tahu sikap apa yang harus diambil terhadap orang jahat dan sikap apa yang harus diambil terhadap orang baik; mereka tidak tahu dengan siapa mereka harus berinteraksi atau dengan siapa mereka harus mendekat. Ketika mereka menjadi negatif, mereka bahkan tidak tahu keadaan apa yang telah mereka alami. Itulah yang dimaksud dengan roh yang kering. Apakah engkau semua seperti ini? (Ya.) Aku tidak suka mendengar jawabanmu, tetapi keadaan seperti itulah yang engkau semua miliki. Engkau selalu bersikap emosional, dan tak seorang pun tahu kapan itu akan berubah.
Apa yang dimaksud dengan bersikap emosional? Kita akan melihat sebuah contoh. Ada orang-orang yang merasa dirinya sangat mengasihi Tuhan. Secara khusus, dia merasa sangat terhormat dan sekaligus diberkati karena telah dilahirkan pada akhir zaman, karena telah menerima tahap pekerjaan Tuhan ini, dan karena mampu mendengar firman-Nya dengan telinga mereka sendiri dan mengalami pekerjaan-Nya secara langsung. Akibatnya, dia berpikir bahwa dia harus menemukan cara untuk mengungkapkan hatinya yang murni dan polos. Dan bagaimana dia melakukannya? Emosinya muncul ke permukaan, semangatnya siap meledak, dia menjadi sedikit tidak rasional, dan emosinya makin tidak normal. Dan perilakunya yang buruk muncul dari situ. Dahulu di Tiongkok daratan, dia berada dalam lingkungan yang buruk karena kepercayaannya kepada Tuhan, dan dia menjalani kehidupan yang penuh penindasan. Dia bersemangat pada waktu itu, dan ingin berseru, "Tuhan Yang Mahakuasa, aku mengasihi-Mu!" Namun, tidak ada tempat untuk melakukan hal tersebut, dia tidak dapat melakukannya karena takut ditangkap. Sekarang dia berada di luar negeri dan bebas untuk percaya; akhirnya dia memiliki tempat untuk melampiaskan hatinya yang murni dan polos. Dia harus mengungkapkan betapa dia mengasihi Tuhan. Jadi, dia pergi ke jalan dan mencari tempat yang tidak banyak orang di sekitarnya, di mana dia akan berseru sesuka hatinya. Namun, sebelum dia bisa melakukannya, dia merasa seakan-akan tidak memiliki kepercayaan diri untuk melanjutkan. Dia melihat pemandangan di sekitarnya dan dia tidak bisa berseru. Apa yang ada dalam pikirannya? "Ini tidak akan berhasil. Tidaklah cukup hanya memiliki hati yang murni dan polos. Aku belum memiliki hati yang mengasihi Tuhan. Pantas saja aku tidak bisa menyerukan apa pun." Jadi, dengan sedih dan kesakitan, dia pulang ke rumah dan berdoa sambil menangis kepada Tuhan, "Ya Tuhan, aku tidak berani berseru 'Aku mengasihi-Mu' ketika aku berada dalam lingkungan yang tidak memungkinkan. Sekarang, aku berada dalam lingkungan yang memungkinkan, tetapi aku tetap tidak memiliki kepercayaan diri. Aku tak bisa berseru. Tampaknya tingkat pertumbuhan dan kepercayaan diriku terlalu rendah. Aku tidak memiliki kehidupan." Sejak saat itu, dia berdoa mengenai masalah ini, dan membuat persiapan, dan berupaya keras untuk masalah ini. Dia sering membaca firman Tuhan dan tersentuh hingga meneteskan air mata karenanya, dan emosi serta semangatnya muncul dan menumpuk di dalam hatinya. Hal ini berlangsung hingga suatu hari, dia merasa emosinya sudah cukup penuh sehingga dia dapat pergi ke lapangan umum yang berkapasitas beberapa ribu orang dan berseru, "Aku mengasihi-Mu, Tuhan Yang Mahakuasa" di depan orang banyak. Namun, ketika dia pergi ke lapangan tersebut dan melihat semua orang di sana, dia tidak bisa berseru. Mungkin dia tetap belum menyerukannya sampai sekarang. Namun, entah dia menyerukan atau tidak, apa artinya? Apakah berseru seperti itu berarti menerapkan kebenaran? Apakah itu kesaksian bagi Tuhan? (Tidak.) Jadi, mengapa dia ingin berseru seperti itu? Dia meyakini bahwa seruannya akan lebih kuat dan lebih efektif daripada metode lain dalam menyebarluaskan firman Tuhan dan memberi kesaksian tentang Tuhan. Itulah yang dimaksud dengan menjadi orang yang memiliki hati yang murni dan polos. Apakah itu hal yang baik atau buruk bagi seseorang untuk memiliki emosi seperti itu? Apakah itu normal atau tidak normal? Dapatkah ini digolongkan dalam lingkup kemanusiaan yang normal? (Tidak.) Mengapa tidak? Apa tujuan Tuhan membuat manusia melaksanakan tugas dan membuat mereka memahami serta menerapkan kebenaran? Apakah untuk meningkatkan emosi orang untuk mengasihi Dia atau melaksanakan tugas mereka? (Tidak.) Apakah engkau semua terkadang memiliki emosi seperti itu, atau mungkin sering? (Ya.) Ketika engkau memilikinya, apakah engkau merasa emosi-emosi tersebut muncul secara tiba-tiba dan tidak normal, atau bahwa mereka sulit untuk ditahan? Engkau harus mengendalikannya, betapapun sulitnya untuk menahannya. Bagaimanapun juga, semua ini hanyalah emosi, bukan pencapaian yang diperoleh setelah orang-orang memahami dan menerapkan kebenaran, atau setelah mereka mengikuti jalan Tuhan. Semua itu adalah keadaan yang tidak normal. Dapatkah keadaan yang tidak normal ini digolongkan ke dalam sikap keras kepala yang radikal? Itu tergantung pada situasi dan tingkatnya. Ada tingkatan yang berbeda-beda; ada yang dapat digolongkan ke dalam sikap keras kepala yang radikal, dan ada yang sampai ke tingkat yang tidak masuk akal. Adalah hal yang normal jika seseorang memperlihatkan sedikit suasana hati ini sewaktu-waktu. Lalu, perwujudan seperti apa yang tidak normal? Melakukan sesuatu karena emosi yang tidak dapat dikendalikan. Ketika seseorang menjalani kesehariannya dan berusaha keras demi hal itu, membaca firman Tuhan dan memberitakan Injil demi hal itu juga, dan melakukan setiap dan semua tugas demi hal itu. Ketika segala sesuatu berkisar pada hal itu, dan itu menjadi nilai dan makna penting dari keberadaan dan kehidupan mereka, itu adalah masalah. Tujuan dan arah orang tersebut menjadi menyimpang. Orang-orang yang hidup dengan hati yang murni dan polos memiliki perilaku yang buruk. Ada sesuatu yang keras kepala dalam dirinya, dan dia memiliki emosi yang tidak normal. Jika seseorang hidup berdasarkan hal-hal ini dan sering kali hidup dalam keadaan seperti itu, dapatkah dia memahami kebenaran? (Tidak.) Jika dia tidak mampu memahami kebenaran, bagaimana mentalitasnya ketika mendengarkan khotbah? Apa niat yang dimilikinya ketika membaca firman Tuhan? Dapatkah seseorang yang selalu percaya kepada Tuhan dengan hati yang murni dan polos serta ritual keagamaan memahami dan memperoleh kebenaran? (Tidak.) Mengapa tidak? Semua yang dia lakukan tidak didasarkan pada kebenaran, tetapi pada teori agamawi serta gagasan dan khayalan. Ini juga bukan tentang mengejar dan menerapkan kebenaran. Dia sama sekali tidak peduli tentang apa sebenarnya kebenaran itu atau apa yang firman Tuhan katakan. Dia tidak memedulikan hal itu, seolah-olah yang dia butuhkan untuk percaya kepada Tuhan hanyalah hati yang murni dan polos, seolah-olah yang perlu dia lakukan hanyalah menangani berbagai hal dan mengerahkan upaya di gereja. Sesederhana itulah baginya. Dia tidak mengerti apa artinya memahami dan menerapkan kebenaran, atau apa yang harus dikejar agar dapat diselamatkan. Terkadang dia mungkin memikirkan hal-hal ini, tetapi dia sama sekali tidak mampu memahaminya. Sepanjang waktu, dia berpikir, "Selama aku memiliki semangat, mencapai tingkat emosi yang tinggi, dan mampu bertahan hingga akhir, aku mungkin dapat diselamatkan," dan akibatnya, terbawa oleh emosinya yang meningkat, dia hanya melakukan hal-hal yang bodoh, hal-hal yang bertentangan dengan prinsip-prinsip kebenaran. Pada akhirnya, dia disingkapkan dan disingkirkan. Tampaknya emosi yang meningkat bukanlah hal yang baik.
Ada keadaan lain yang cukup mengerikan jika hidup berdasarkan hati yang murni dan polos, yaitu ada orang-orang yang selalu mengandalkan semangat untuk percaya kepada Tuhan. Api di dalam hatinya tidak pernah padam; dia menganggap bahwa yang dia perlukan untuk percaya kepada Tuhan hanyalah hati yang murni dan polos. Dia berpikir, "Aku tidak perlu memahami kebenaran, aku tidak perlu memeriksa diriku sendiri, dan aku tidak perlu datang ke hadapan Tuhan untuk mengakui dosa-dosaku dan bertobat, dan tentu saja, aku tidak perlu menerima penghakiman, hajaran, pemangkasan, atau kecaman dan kritik dari siapa pun. Aku tidak membutuhkan hal-hal itu. Yang kubutuhkan hanyalah hati yang murni dan polos." Inilah prinsip kepercayaannya kepada Tuhan. Dia berpikir, "Aku tidak harus menerima penghakiman dan hajaran. Cukup bagiku untuk merasa bangga akan diriku sendiri. Aku percaya Tuhan pasti senang dengan perbuatanku itu. Jika aku bahagia, maka Tuhan pun bahagia, itu saja yang penting. Aku akan diselamatkan jika aku percaya kepada Tuhan dengan cara seperti itu." Bukankah ini cara berpikir yang sangat naif? Dahulu engkau semua berada dalam keadaan seperti itu, bukan? (Ya.) Jika engkau semua hidup sampai akhir dalam keadaan seperti itu, tidak mampu melakukan reformasi apa pun, maka dapat dikatakan bahwa engkau semua tidak memahami kebenaran sedikit pun. Kebenaran tidak ada hubungannya dengan engkau semua. Engkau semua tidak mengetahui tujuan atau makna penting penyelamatan manusia oleh Tuhan, dan engkau tidak memahami apa arti kepercayaan kepada Tuhan. Apa perbedaan antara iman kepada Tuhan dan kepercayaan pada agama? Dalam pandangan semua orang, orang menaruh kepercayaan pada agama karena orang itu tidak punya mata pencaharian, bahwa mereka mungkin mengalami kesulitan dalam keluarga. Jika tidak, alasan lainnya adalah karena mereka ingin menemukan sesuatu untuk dijadikan sandaran, untuk menemukan perbekalan rohani. Kepercayaan pada agama sering kali tidak lebih dari sekadar membuat orang-orang menjadi baik, membantu orang lain, bersikap baik kepada orang lain, melakukan lebih banyak perbuatan baik untuk mengumpulkan kebajikan, tidak melakukan pembunuhan atau pembakaran, tidak melanggar hukum atau melakukan kejahatan, tidak melakukan hal-hal buruk, tidak memukul orang atau memaki mereka, tidak mencuri atau merampok, dan tidak curang atau menipu. Inilah gagasan "kepercayaan pada agama" yang ada di benak setiap orang. Seberapa banyak gagasan kepercayaan pada agama yang ada di dalam hatimu semua saat ini? Apakah hal-hal yang berkaitan dengan kepercayaan pada agama sesuai dengan kebenaran? Berasal dari manakah sebenarnya kepercayaan itu? Tahukah engkau? Jika engkau percaya kepada Tuhan dengan hati yang memiliki kepercayaan pada agama, apa akibatnya? Apakah ini cara yang benar untuk percaya kepada Tuhan? Apakah ada perbedaan antara keadaan percaya pada agama dan keadaan beriman kepada Tuhan? Apa perbedaan antara kepercayaan pada agama dan iman kepada Tuhan? Ketika engkau baru mulai percaya kepada Tuhan, engkau mungkin merasa bahwa kepercayaan pada agama dan beriman kepada Tuhan adalah hal yang sama. Namun hari ini, setelah percaya kepada Tuhan selama beberapa tahun, menurutmu, apa sebenarnya yang dimaksud dengan kepercayaan kepada Tuhan? Apakah ada perbedaan dengan kepercayaan pada agama? Kepercayaan pada agama berarti mengikuti beberapa ritual tertentu untuk membawa kebahagiaan dan kenyamanan kepada jiwa seseorang. Ini tidak terkait dengan pertanyaan tentang jalan apa yang ditempuh orang-orang, atau bagaimana mereka menjalani hidup mereka. Tidak ada perubahan di dalam batinmu; engkau tetaplah dirimu sendiri, serta esensi naturmu tetap sama. Engkau belum menerima kebenaran yang berasal dari Tuhan dan menjadikannya hidupmu, tetapi hanya melakukan beberapa perbuatan baik atau mengikuti ritual dan aturan. Engkau hanya terlibat dalam beberapa aktivitas yang berkaitan dengan kepercayaan pada agama—hanya ini, itu saja. Jadi, apa yang dimaksud dengan iman kepada Tuhan? Itu berarti perubahan dalam cara hidupmu, artinya telah terjadi perubahan dalam nilai keberadaan dan tujuan hidupmu. Engkau awalnya hidup untuk hal-hal seperti menghormati leluhurmu, ingin lebih baik daripada orang lain, memiliki kehidupan yang baik, dan berjuang untuk mendapatkan ketenaran dan kekayaan. Sekarang, engkau telah meninggalkan hal-hal tersebut. Engkau tidak lagi mengikut Iblis, tetapi engkau ingin meninggalkannya, meninggalkan kecenderungan yang jahat ini. Engkau mengikut Tuhan, yang kauterima adalah kebenaran dan jalan yang kautempuh adalah pengejaran akan kebenaran. Arah hidupmu telah berubah total. Setelah percaya kepada Tuhan, engkau memperlakukan kehidupan secara berbeda, memiliki cara hidup yang berbeda, mengikut Sang Pencipta, menerima dan tunduk pada kedaulatan dan pengaturan Sang Pencipta, menerima penyelamatan Sang Pencipta, dan pada akhirnya menjadi makhluk ciptaan sejati. Bukankah ini mengubah cara hidupmu? Ini sama sekali berkebalikan dari pengejaran, cara hidupmu yang sebelumnya, dan motivasi serta makna penting di balik semua yang kaulakukan—semuanya sama sekali bertentangan, bahkan tidak memiliki natur dan ciri yang sama secara keseluruhan. Kita akan mengakhiri pembahasan tentang perbedaan antara iman kepada Tuhan dan percaya pada agama. Dapatkah engkau semua melihat dalam dirimu sendiri keadaan memiliki "hati yang murni dan polos" yang telah kita bahas? (Ya.) Jadi, apakah engkau semua sering hidup berdasarkan hati yang murni dan polos, atau apakah engkau hanya mengalami keadaan seperti itu sesekali saja? Jika terjadi sesekali, itu membuktikan bahwa engkau telah menyingkirkan keadaan tersebut dan mulai mengejar kebenaran, bahwa engkau sudah mulai keluar dari keadaan tersebut; jika engkau masih sering hidup dengan hati yang murni dan polos, dan tidak tahu bagaimana cara hidup berdasarkan firman Tuhan, berdasarkan kebenaran, atau bagaimana melepaskan diri dari kekangan hati yang murni dan polos, dan keluar dari keadaan itu, itu membuktikan bahwa engkau tidak hidup di hadapan Tuhan, bahwa engkau belum mengetahui apa itu kebenaran atau bagaimana mencari kebenaran. Apakah itu perbedaan yang besar? (Ya.) Jika engkau terus hidup seperti itu, tanpa memahami kebenaran sedikit pun, engkau berada dalam bahaya. Cepat atau lambat, engkau akan harus disingkirkan. Mengenai bagaimana hati yang murni dan polos itu muncul, engkau semua harus mencari kebenaran, menelaah keadaannya, dan mengubah keadaannya. Mengapa orang memiliki hati yang murni dan polos; apa akibat yang akan timbul dari mengandalkan semangat untuk percaya kepada Tuhan; apakah engkau dapat memperoleh kebenaran dengan percaya kepada Tuhan seperti itu atau tidak; apakah hal ini akan meningkatkan imanmu kepada Tuhan atau tidak, engkau harus memahami dengan jelas pertanyaan-pertanyaan ini di dalam hatimu. Hal ini mengharuskanmu untuk memeriksa dirimu sendiri, merenungkan, dan mencari solusi.
Ada sejenis orang yang hatinya antusias dalam kepercayaannya kepada Tuhan. Tugas apa pun tidak masalah baginya, begitu pun dengan sedikit kesukaran, tetapi temperamennya tidak stabil, dia emosional dan berubah-ubah, tidak konsisten. Dia bertindak berdasarkan suasana hatinya sendiri. Ketika dia senang, dia melakukan pekerjaan yang ditugaskan kepadanya dengan baik, dan dia rukun dengan siapa pun yang bermitra dengannya dan dengan siapa pun dia bergaul. Dia juga bersedia memikul lebih banyak tugas, apa pun tugas yang dia laksanakan, dia memiliki rasa tanggung jawab terhadapnya. Begitulah cara dia bertindak saat keadaannya sedang baik. Mungkin ada alasan mengapa dia berada dalam keadaan yang baik: mungkin dia dipuji karena melaksanakan tugasnya dengan baik dan mendapatkan penghargaan serta persetujuan kelompok. Atau, mungkin banyak orang yang mengapresiasi karya yang dihasilkannya, sehingga dia mengembang seperti balon yang makin penuh setiap kali mendapat pujian. Jadi, dia terus melaksanakan tugas yang sama setiap hari, tetapi pada saat yang sama, dia tidak pernah memahami maksud Tuhan atau mencari prinsip-prinsip kebenaran. Dia selalu bertindak berdasarkan kekuatan pengalamannya. Apakah pengalaman adalah kebenaran? Apakah bertindak berdasarkan pengalaman dapat diandalkan? Apakah itu sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran? Bertindak berdasarkan pengalaman tidak sesuai dengan prinsip; pasti akan ada kalanya itu gagal. Jadi, akan tiba waktunya ketika dia tidak melaksanakan tugasnya dengan baik. Banyak hal yang salah dan dia dipangkas. Kelompok ini tidak puas dengannya. Dia kemudian menjadi negatif: "Aku tidak akan melaksanakan tugas ini lagi. Aku melaksanakannya dengan buruk. Kalian semua lebih baik daripadaku. Akulah yang tidak baik. Siapa pun yang ingin melaksanakannya, silakan saja!" Ada orang yang mempersekutukan kebenaran kepadanya, tetapi dia tidak memahaminya, dan dia tidak mengerti, lalu berkata: "Apa gunanya mempersekutukan hal ini? Aku tidak peduli apakah itu benar atau tidak; aku akan melaksanakan tugasku saat aku senang dan tidak melaksanakannya saat aku tidak senang. Mengapa membuatnya begitu rumit? Aku tidak akan melaksanakannya sekarang; aku akan menunggu hari saat aku senang." Dia memang selalu seperti ini, tidak konsisten. Entah sedang melaksanakan tugasnya; membaca firman Tuhan, atau mendengarkan khotbah dan menghadiri pertemuan; atau dalam interaksinya dengan orang lain, dalam segala aspek kehidupannya, yang dia perlihatkan adalah mendung pada satu saat dan cerah pada saat berikutnya, bersemangat pada satu saat dan tertekan pada saat berikutnya, dingin pada satu saat dan panas pada saat berikutnya, negatif pada satu saat dan positif pada saat berikutnya. Singkatnya, keadaannya, baik atau buruk, selalu jelas terlihat. Engkau dapat melihatnya dalam sekilas. Dia tidak konsisten dalam segala hal yang dia lakukan, hanya mengikuti temperamennya sendiri. Ketika dia senang, dia melakukan pekerjaan dengan lebih baik, dan ketika dia tidak senang, dia melakukan pekerjaan dengan buruk, dia bahkan mungkin berhenti melakukan pekerjaan tersebut dan menyerah. Apa pun yang dia lakukan, dia harus melakukannya berdasarkan suasana hatinya, berdasarkan lingkungan, berdasarkan tuntutannya. Dia sama sekali tidak memiliki keinginan untuk mengalami kesukaran; dia dimanja, histeris, tidak bernalar, dan dia tidak melakukan apa pun untuk mengekangnya. Tak seorang pun boleh menyinggungnya; siapa pun yang melakukannya akan menjadi sasaran amarahnya, yang datang seperti badai dan segera setelah badai itu berlalu, dia menjadi negatif dan putus asa secara emosi. Selain itu, dia melakukan segalanya berdasarkan kesukaannya. "Jika aku menyukai pekerjaan ini, aku akan mengerjakannya; jika tidak, aku tidak akan mengerjakannya, dan tidak akan pernah. Siapa pun di antaramu yang bersedia mengerjakannya, silakan mengerjakannya. Itu tidak ada hubungannya denganku." Orang macam apa ini? Ketika dia senang dan keadaannya baik, dia sangat bersemangat dan berkata dia ingin mengasihi Tuhan. Dia begitu bersemangat hingga dia menangis, air mata berlinang di wajahnya, dan menangis tersedu-sedu. Apakah hatinya benar-benar mengasihi Tuhan? Keadaan mengasihi Tuhan di dalam hati adalah hal yang normal, tetapi jika melihat watak, perilaku, dan penyingkapannya, engkau akan mengira dia adalah seorang anak berusia kira-kira sepuluh tahun. Wataknya, cara hidupnya, adalah hidup seenaknya. Dia tidak konsisten, tidak setia, tidak bertanggung jawab, dan tidak berguna dalam segala hal yang dia lakukan. Dia tidak pernah mengalami kesukaran dan tidak ingin memikul tanggung jawab. Saat dia senang, dia dapat melakukan apa pun tanpa masalah; sedikit kesukaran tidak menjadi masalah, dan jika kepentingannya terganggu, itu juga tidak masalah. Namun, jika dia tidak senang, dia tidak ingin melakukan apa pun. Orang macam apa dia? Apakah keadaan seperti itu normal? (Tidak.) Masalah ini lebih dari sekadar keadaan tidak normal, ini adalah perwujudan dari sikap sangat seenaknya, sangat bodoh dan bebal, sangat kekanak-kanakan. Apa masalahnya dengan sikap seenaknya? Ada orang yang mungkin berkata, "Ini adalah ketidakstabilan temperamen. Dia masih terlalu muda dan baru melewati sedikit kesukaran, dan kepribadiannya belum terbentuk, jadi sering kali perilakunya seenaknya." Sebenarnya, sikap seenaknya itu tidak memandang usia: usia empat puluhan dan usia tujuh puluhan terkadang juga bersikap seenaknya. Bagaimana menjelaskan hal ini? Sikap seenaknya sebenarnya merupakan masalah dalam watak orang, dan masalah yang sangat serius! Jika dia sedang melaksanakan tugas penting, sikap seenaknya itu dapat menunda tugas tersebut dan kemajuan pekerjaan, sehingga menimbulkan kerugian bagi kepentingan rumah Tuhan; dan ketika mereka sedang melaksanakan tugas-tugas biasa, sikap seenaknya itu pun terkadang memengaruhi tugas-tugas tersebut, dan menghambat banyak hal. Sikap seenaknya sama sekali tidak bermanfaat bagi orang lain, dirinya sendiri, ataupun pekerjaan gereja. Tugas-tugas kecil yang dia lakukan dan harga yang dia bayar menimbulkan kerugian. Orang-orang yang sangat seenaknya tidak layak melaksanakan tugas-tugas di rumah Tuhan, dan ada banyak orang semacam itu. Sikap seenaknya adalah perwujudan paling lazim di antara watak-watak yang rusak. Hampir semua orang memiliki watak seperti itu. Dan apakah watak itu? Tentu saja, setiap watak yang rusak adalah salah satu jenis watak Iblis, dan sikap seenaknya adalah watak yang rusak. Bahasa halusnya, ini bukanlah mencintai atau menerima kebenaran; bahasa kasarnya, ini berarti menolak kebenaran dan membencinya. Dapatkah orang yang seenaknya tunduk kepada Tuhan? Tentu saja tidak. Dia mampu tunduk untuk sesaat, ketika dia senang dan memperoleh keuntungan, tetapi ketika dia tidak senang dan tidak memperoleh keuntungan, dia menjadi marah dan berani menentang dan mengkhianati-Nya. Dia akan berkata pada dirinya sendiri, "Aku tidak peduli apakah itu adalah kebenaran atau bukan, yang penting adalah aku senang, aku puas. Jika aku tidak senang, aku tidak peduli apa pun yang orang lain katakan! Apa pentingnya kebenaran? Apa pentingnya Tuhan? Akulah bosnya!" Watak rusak macam apa ini? (Membenci kebenaran.) Itu adalah watak yang membenci kebenaran, watak yang menolak kebenaran. Apakah ada unsur kecongkakan dan kesombongan di dalamnya? Unsur keras kepala? (Ya.) Ada keadaan yang mengerikan lainnya di sini. Ketika suasana hatinya sedang baik, dia bersikap baik kepada semua orang dan bertanggung jawab ketika melaksanakan tugasnya; orang-orang mengira dia adalah orang yang baik, tunduk, bersedia membayar harga, yang sangat mencintai kebenaran. Namun, begitu dia menjadi negatif, dia akan meninggalkan tugasnya, mengeluh, dan bahkan tidak bernalar. Di sinilah sisi jahatnya muncul. Tak seorang pun boleh menegurnya. Dia bahkan akan berkata, "Aku memahami setiap kebenaran, aku hanya tidak menerapkannya. Cukup bagiku untuk merasa nyaman dengan diriku sendiri!" Watak apa ini? (Kekejaman.) Orang-orang jahat ini tidak hanya siap melawan siapa pun yang mungkin memangkasnya, dia bahkan akan melukai dan menyakiti mereka, seperti setan jahat. Tak seorang pun berani mencari masalah dengannya. Bukankah dia ini sangat seenaknya dan kejam? Apakah ini masalah yang berhubungan dengan usia muda? Bukankah dia tidak akan bersikap seenaknya jika usianya lebih tua? Akankah dia menjadi lebih bijaksana dan rasional jika usianya lebih tua? Tidak. Ini bukan masalah kepribadian atau usianya. Ada watak rusak yang telah berakar begitu dalam yang bersembunyi di sana. Dia dikendalikan oleh watak yang rusak dan dia hidup berdasarkan watak yang rusak. Apakah ada ketundukan dalam diri seseorang yang hidup dengan watak yang rusak? Mampukah dia mencari kebenaran? Adakah bagian dari dirinya yang mencintai kebenaran? (Tidak.) Tidak, tidak ada satu pun dari dirinya. Apakah engkau semua memiliki keadaan di mana engkau bersikap seenaknya? (Ya.) Akankah engkau semua merasa itu menjadi masalah jika kita tidak mempersekutukannya? (Tidak.) Sekarang, setelah mempersekutukannya, apakah engkau semua merasa ini adalah masalah yang cukup serius? (Ya.) Terkadang sikap seenaknya ini muncul karena sebab-sebab objektif. Itu bukanlah masalah watak. Semua masalah watak, dan semua penyingkapan watak yang rusak dalam tindakan seseorang, akan menghasilkan konsekuensi negatif. Berikut ini contoh penyebab objektif: katakanlah seseorang menderita sakit perut yang parah hari ini. Dia sangat kesakitan sehingga dia hampir tidak memiliki kekuatan untuk berbicara. Dia hanya ingin berbaring sebentar. Tepat pada saat itu, seseorang datang dan berbicara sebentar dengannya, dan nada bicaranya saat menanggapi agak kasar. Apakah ini masalah dengan wataknya? Tidak. Dia hanya bersikap seperti itu karena dia sedang sakit dan dalam kesakitan. Jika dia biasanya adalah orang seperti ini dan berbicara dengan cara seperti itu, maka itu adalah masalah wataknya. Dalam hal ini, nada bicaranya terdengar kasar karena rasa sakitnya telah melewati ambang batas tertentu. Itu adalah hal yang normal terjadi. Jika ada alasan objektif, dan semua orang mengakui bahwa berbicara atau bertindak seperti itu adalah hal yang dapat dimaklumi dan masuk akal, mengingat keadaannya, dan bahwa itu hanyalah natur manusia, maka itu adalah perilaku dan penyingkapan dari kemanusiaan yang normal. Ambillah contoh seseorang yang kehilangan kerabatnya dan mulai menangis dalam kesedihan. Itu sangat normal. Namun, ada orang yang menghakiminya dan berkata, "Orang ini sentimental. Dia sudah percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun tetapi masih tidak mampu melepaskan kasih sayangnya terhadap keluarganya. Dia bahkan menangis ketika salah satu kerabatnya meninggal. Betapa Bodohnya!" Kemudian, ketika ibu dari orang yang menghakimi itu meninggal, dia menangis lebih keras daripada siapa pun. Bagaimana seharusnya orang memandang hal ini? Engkau tidak bisa menerapkan aturan dengan sembarangan atau menyeragamkan hal tersebut. Ada hal-hal yang memiliki alasan objektif, dan hal-hal tersebut merupakan perilaku serta penyingkapan dari kemanusiaan yang normal. Apa yang merupakan perilaku dan penyingkapan dari kemanusiaan yang normal, dan apa yang bukan, itu bervariasi sesuai keadaan. Ketika berbicara tentang berdasarkan apa orang hidup, yang dibicarakan, di satu sisi, menyentuh masalah watak manusia, dan di sisi lain, menyentuh masalah sudut pandang manusia, cara pengejarannya, dan jalan pengejarannya. Ini sama sekali bukan masalah temperamen atau kepribadiannya, atau caranya melakukan segala sesuatu.
Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.