Cara Mengejar Kebenaran (9) Bagian Dua
Ada masalah lain tentang perlunya orang melepaskan pengejaran, cita-cita, dan keinginan mereka. Ada orang-orang yang berkata, "Sekarang Engkau membahas tentang perlunya orang melepaskan pengejaran, cita-cita, dan keinginan mereka—apakah itu karena waktunya sudah dekat, akhir zaman telah tiba, dan bencana telah datang, dan karena hari Tuhan telah tiba, sehingga Engkau menuntut orang untuk melepaskan pengejaran, cita-cita, dan keinginan mereka?" Benarkah demikian? (Tidak.) Jawabannya negatif: tidak! Jadi, mari kita membahas tentang alasan spesifiknya. Karena jawabannya adalah tidak, tentu saja ada beberapa permasalahan mendetail di sini yang perlu dipersekutukan dan dipahami. Mari kita membahasnya: dua ribu, atau bahkan beberapa ratus tahun yang lalu, seluruh lingkungan sosial berbeda dari zaman sekarang; keadaan semua manusia berbeda dari zaman sekarang. Lingkungan hidup mereka sangat teratur. Dunia tidak sejahat sekarang, kehidupan bermasyarakat manusia tidak sekacau sekarang, dan tidak ada bencana. Apakah manusia tetap perlu melepaskan pengejaran, cita-cita, dan keinginan mereka? (Ya.) Mengapa? Berikan alasannya, dan sampaikanlah berdasarkan pengetahuan spesifikmu. (Setelah manusia dirusak oleh Iblis, mereka memiliki watak rusak Iblis, jadi ketika mereka mengejar cita-cita dan keinginan mereka, semuanya demi mengejar ketenaran, keuntungan, dan status. Karena mereka mengejar ketenaran dan keuntungan, mereka berjuang dan bertarung satu sama lain, berjuang untuk hidup dan mati, dan akibatnya mereka jauh lebih dirusak sedemikian dalamnya oleh Iblis, makin kehilangan keserupaan dengan manusia, makin menjauh dari Tuhan. Dengan demikian, orang dapat memahami bahwa jalan mengejar cita-cita dan keinginan adalah salah. Jadi, bukan karena hari Tuhan sudah dekat sehingga Dia menuntut orang untuk melepaskan pengejaran, cita-cita, dan keinginan mereka; melainkan, orang semestinya tidak boleh mengejar hal-hal ini dari awal. Mereka harus mengejar dengan benar, berdasarkan firman Tuhan.) Apakah menurutmu perlunya orang melepaskan pengejaran, cita-cita, dan keinginan mereka adalah sebuah prinsip penerapan? (Ya.) Apakah perlunya orang melepaskan pengejaran, cita-cita, dan keinginan mereka adalah kebenaran? Apakah ini merupakan tuntutan Tuhan terhadap manusia? (Ya.) Itu adalah kebenaran, tuntutan Tuhan terhadap manusia. Jadi, apakah ini jalan yang harus orang ikuti? (Ya.) Karena ini adalah kebenaran, tuntutan spesifik Tuhan terhadap manusia, dan jalan yang harus orang ikuti, apakah hal ini berubah sesuai dengan waktu dan latar belakang? (Tidak.) Mengapa tidak? Karena kebenaran, tuntutan Tuhan, dan jalan Tuhan tidak berubah seiring dengan perubahan waktu, tempat, atau lingkungan. Kapan pun waktunya, di mana pun tempatnya, dan di ruang apa pun, kebenaran tetaplah kebenaran, dan standar yang Tuhan tuntut terhadap manusia tidak berubah, demikian pula standar yang Dia tuntut dari para pengikut-Nya juga tidak berubah. Jadi, bagi para pengikut Tuhan, kapan pun waktunya, di mana pun tempatnya, atau apa pun latar belakangnya, jalan Tuhan yang harus mereka ikuti tidak berubah. Jadi, menuntut orang untuk melepaskan pengejaran, cita-cita, dan keinginan mereka pada zaman sekarang ini bukanlah suatu tuntutan yang diajukan terhadap manusia hanya karena waktunya sudah dekat, atau karena akhir zaman sudah tiba; bukan juga karena waktunya tinggal sedikit dan bencana yang terjadi sangat dahsyat, juga bukan karena takut manusia akan jatuh ke dalam bencana, sehingga ada tuntutan yang sangat mendesak bagi manusia, yang mengharuskan mereka untuk mengambil tindakan yang ekstrem atau radikal, agar dapat memperoleh jalan masuk tercepat ke dalam kenyataan kebenaran. Ini bukanlah alasannya. Lalu, apa alasannya? Kapan pun waktunya, entah beberapa ratus atau beberapa ribu tahun yang lalu—bahkan pada saat ini—tuntutan Tuhan terhadap manusia dalam hal ini tidak berubah. Hanya saja beberapa ribu tahun yang lalu, bahkan sampai kapan pun hingga hari ini, Tuhan belum mengumumkan firman ini secara terbuka kepada manusia secara terperinci, tetapi tuntutan-Nya terhadap manusia tidak pernah berubah sampai kapan pun. Sejak manusia pertama kali membuat catatan, tuntutan Tuhan terhadap mereka bukanlah untuk mengejar dunia dengan tekun, atau mewujudkan cita-cita dan keinginan mereka sendiri di dunia. Satu-satunya tuntutan-Nya terhadap mereka adalah mendengarkan firman-Nya, mengikuti jalan-Nya, tidak berkubang dalam dunia, dan tidak mengejar dunia. Biarkan orang-orang di dunia yang mengurusi hal-hal duniawi; biarkan mereka yang menyelesaikan hal-hal ini. Mereka tidak ada kaitannya dengan orang-orang yang memercayai dan mengikuti Tuhan. Satu-satunya hal yang perlu dilakukan oleh orang yang percaya kepada Tuhan adalah menaati jalan Tuhan dan mengikuti-Nya. Mengikuti jalan Tuhan adalah sesuatu yang wajib dilakukan oleh orang percaya dan pengikut Tuhan. Hal ini tidak tergantung pada waktu, tempat, atau latar belakang. Bahkan kelak, ketika manusia diselamatkan dan memasuki zaman selanjutnya, tuntutan ini tidak akan berubah. Mendengarkan firman Tuhan dan mengikuti jalan-Nya adalah sikap dan penerapan khusus yang harus dimiliki pengikut Tuhan terhadap-Nya. Hanya dengan mendengarkan firman Tuhan dan mengikuti jalan-Nya, barulah orang dapat dengan berhasil takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan. Jadi, Tuhan menuntut orang untuk melepaskan pengejaran, cita-cita, dan keinginan mereka tidak muncul karena waktu, juga bukan karena lingkungan atau latar belakang yang unik; sebaliknya, sejak awal manusia ada, sekalipun Tuhan belum memberikan firman tersebut kepada mereka dengan jelas, Dia telah selalu menuntut standar dan prinsip ini dari mereka. Sebanyak apa pun orang yang mampu mencapainya, sebanyak apa pun orang yang mampu menerapkan firman-Nya, atau sebanyak apa pun dari firman-Nya yang mampu mereka pahami, tuntutan dari Tuhan ini tidak berubah. Lihatlah di dalam Alkitab, di mana terdapat catatan tentang orang-orang unik yang Tuhan pilih di zaman yang unik—Nuh, Abraham, Ishak, Ayub, dll. Tuntutan Tuhan terhadap mereka, jalan yang mereka ikuti, tujuan dan arah hidup mereka, serta tujuan yang mereka kejar dan tindakan tertentu yang mereka ambil untuk hidup dan kelangsungan hidup, semuanya mencakup tuntutan Tuhan terhadap manusia. Apa sajakah tuntutan Tuhan terhadap manusia? Termasuk di dalamnya adalah orang harus melepaskan pengejaran, cita-cita, dan keinginan mereka, bukan? (Ya.) Baik secara rohani maupun secara jasmani, mereka harus menjauhi manusia yang liar, kacau, dan jahat, serta menjauhi tren mereka yang liar, kacau, dan jahat. Sebelumnya, ada sebuah kata yang kurang sesuai—"dikuduskan". Sebenarnya, arti dari kata ini adalah menuntutmu untuk melepaskan pengejaran, cita-cita, dan keinginanmu—untuk menghalangimu agar tidak menjadi orang tidak percaya, ataupun melakukan hal-hal yang dilakukan orang tidak percaya, atau mengejar sesuatu yang dikejar orang tidak percaya, tetapi membuatmu mengejar hal-hal yang seharusnya dikejar oleh orang percaya. Itulah maksudnya. Jadi, jika ada orang-orang yang bertanya: "Apakah karena waktunya sudah dekat, akhir zaman sudah tiba, dan bencana telah datang, sehingga Tuhan menuntut orang untuk melepaskan pengejaran, cita-cita, dan keinginan mereka?" apa yang seharusnya menjadi jawaban atas pertanyaan ini? Jawabannya seharusnya adalah bahwa semua tuntutan Tuhan terhadap manusia adalah kebenaran, dan merupakan jalan yang harus orang ikuti. Tuntutan Tuhan tidak berubah berdasarkan perubahan waktu, tempat, lingkungan, lokasi geografis, atau latar belakang sosial. Firman Tuhan adalah kebenaran, kebenaran yang tidak pernah berubah sejak dahulu kala, yang tidak berubah sepanjang masa—jadi setiap tuntutan Tuhan terhadap manusia dan setiap prinsip penerapan spesifik yang Dia berikan kepada manusia sudah ada setelah Dia menciptakan manusia, ketika mereka belum memiliki catatan waktu. Mereka hidup berdampingan dengan Tuhan. Dengan kata lain, sejak saat manusia ada, manusia telah mampu memahami tuntutan Tuhan terhadap mereka. Bidang apa pun yang tercakup dalam tuntutan tersebut, semuanya bersifat kekal dan tidak akan berubah. Secara umum, tuntutan Tuhan terhadap manusia adalah mendengarkan firman-Nya dan mengikuti jalan-Nya. Apakah engkau mengerti? (Ya.) Tuntutan Tuhan sama sekali tidak berkaitan dengan perkembangan dunia, dengan latar belakang sosial manusia, dengan waktu atau tempat, ataupun dengan lingkungan geografis dan ruang di mana manusia hidup. Setelah mendengarkan firman Tuhan, sudah sepantasnya orang menaati dan menerapkannya. Tuhan tidak mempunyai tuntutan lain terhadap manusia. Ketika mereka mendengar dan memahami firman-Nya, mereka hanya perlu menerapkan dan menaatinya; mereka akan mencapai standar sebagai makhluk ciptaan yang layak di mata-Nya. Apakah engkau mengerti? (Ya.) Jadi, kapan pun waktunya, apa pun lingkungan sosial atau latar belakangnya, atau di mana pun lokasi geografisnya, yang harus kaulakukan adalah mendengarkan firman Tuhan, memahami apa yang Dia firmankan dan apa saja tuntutan-Nya terhadapmu, dan kemudian hal selanjutnya yang harus kaulakukan adalah mendengarkan, tunduk, dan menerapkan. Jangan mengkhawatirkan dirimu dengan hal-hal seperti, "Apakah bencana yang sedang terjadi di dunia saat ini sangat dahsyat? Apakah dunia ini sedang kacau? Apakah berbahaya untuk keluar ke dunia? Apakah aku bisa jatuh sakit karena wabah? Apakah aku bisa mati karena wabah? Akankah aku ditimpa bencana? Apakah ada godaan di luar sana?" Memikirkan hal-hal seperti itu tidak ada gunanya, dan itu tidak ada kaitannya denganmu. Engkau hanya perlu memusatkan perhatianmu pada mengejar kebenaran dan mengikuti jalan Tuhan, bukan pada lingkungan di dunia. Seperti apa pun lingkungan di dunia, engkau adalah makhluk ciptaan, dan Tuhan adalah Sang Pencipta. Hubungan antara Pencipta dan makhluk ciptaan tidak akan berubah, identitasmu tidak akan berubah, dan esensi Tuhan tidak akan berubah. Engkau akan selalu menjadi orang yang harus mengikuti jalan Tuhan, yang harus mendengarkan firman-Nya dan tunduk kepada-Nya. Tuhanlah yang akan selalu memerintahmu, mengatur nasibmu, dan menuntunmu sepanjang hidup. Hubunganmu dengan-Nya tidak akan berubah, identitas-Nya tidak akan berubah, dan identitasmu tidak akan berubah. Karena semua ini, kapan pun waktunya, tanggung jawab, kewajiban, dan tugas tertinggimu adalah mendengarkan firman Tuhan, tunduk pada firman, dan menerapkannya. Ini tidak akan pernah salah, dan ini adalah standar tertinggi. Apakah masalah ini terselesaikan? (Ya.) Sudah terselesaikan. Sudahkah Aku berbicara dengan jelas? Apakah perkataan-Ku lebih benar daripada perkataanmu? (Ya.) Dalam hal apa Aku benar? (Kami baru saja berbicara secara garis besar, tetapi Tuhan telah menganalisis masalah ini dengan sangat menyeluruh, dan juga telah mempersekutukan bahwa firman Tuhan adalah kebenaran, dan itulah jalan yang harus orang patuhi, dan bahwa orang harus mendengarkan firman Tuhan dan mengikuti jalan-Nya. Tuhan telah membahas semua hal ini dengan jelas.) Yang Kubahas adalah satu aspek dari kebenaran. Ungkapan "satu aspek dari kebenaran" adalah sebuah teori, jadi apa yang mendukung teori ini? Ini adalah fakta dan topik khusus yang telah dibahas sebelumnya. Ada bukti dari semua fakta ini; tak ada satu pun darinya yang dibuat-buat, tak ada satu pun yang merupakan imajinasi. Semua itu adalah fakta, atau merupakan esensi dan kenyataan fenomena lahiriah dari fakta tersebut. Jika engkau mampu mengerti dan memahaminya, itu membuktikan bahwa engkau memahami kebenaran. Alasan mengapa engkau semua tidak dapat mengatakannya dengan lantang adalah karena engkau semua belum memahami aspek kebenaran ini, juga belum memahami esensi dan kenyataan yang mendasari fenomena ini, jadi engkau semua hanya membahas sedikit tentang perasaan dan pengetahuanmu, yang jauh dari kebenaran. Bukankah itu yang terjadi? (Ya.) Masalah ini sudah terselesaikan, jadi mari kita akhiri pembahasannya di sini. Mengenai topik tentang perlunya orang melepaskan pengejaran, cita-cita, dan keinginan mereka yang muncul dari minat dan hobi, perlukah pertanyaan ini dimasukkan sebagai poin tambahan? (Ya.) Itu perlu. Setiap pertanyaan berkaitan dengan beberapa kebenaran, dengan kata lain, itu berkaitan dengan kenyataan dan esensi beberapa fakta, dan di balik kenyataan dan esensi tersebut selalu ada pengaturan, rencana, gagasan, dan kehendak Tuhan. Lalu apa lagi? Ada beberapa metode spesifik Tuhan, serta dasar, tujuan, dan latar belakang tindakan-Nya. Inilah kenyataannya.
Setelah selesai mempersekutukan topik tentang perlunya orang melepaskan pengejaran, cita-cita, dan keinginan mereka yang muncul dari minat dan hobi, sebaiknya kita mempersekutukan topik selanjutnya. Apa topik selanjutnya? Topik selanjutnya adalah tentang perlunya orang melepaskan pengejaran, cita-cita, dan keinginan mereka yang muncul dari pernikahan. Tentu saja, topik ini menyentuh berbagai permasalahan yang berkaitan dengan pernikahan. Bukankah topik ini lebih besar daripada minat dan hobi? Namun, jangan takut dengan besarnya topik ini. Kita akan menguraikannya sedikit demi sedikit, perlahan-lahan memahami dan mendalami topik ini melalui persekutuan. Jalur yang akan kita ambil dalam mempersekutukan topik ini adalah dengan menganalisis masalah pernikahan dari sudut pandang dan aspek esensi permasalahan di sini, baik positif maupun negatif; beragamnya pemahaman orang tentang pernikahan, baik yang benar maupun yang salah; kesalahan-kesalahan yang mereka lakukan dalam pernikahan, serta berbagai pemikiran dan sudut pandang yang keliru yang membuat munculnya masalah tersebut, yang pada akhirnya memungkinkan orang untuk melepaskan pengejaran, cita-cita, dan keinginan yang muncul dari pernikahan. Penerapan terbaik dan termudah untuk "melepaskan" adalah ini: pertama-tama, engkau harus melihat dengan jelas esensi permasalahannya, dan memahami yang sebenarnya mengenai, apakah masalah tersebut positif atau negatif. Kemudian engkau harus mampu menangani masalah tersebut secara tepat dan rasional. Ini adalah pada sisi aktifnya. Pada sisi pasifnya, engkau harus mampu memahami dan mengerti yang sebenarnya mengenai gagasan, sudut pandang, dan sikap keliru yang ditimbulkan oleh masalah-masalah tersebut, atau berbagai pengaruh berbahaya dan negatif yang dihasilkannya dalam kemanusiaanmu, dan kemudian dari aspek-aspek ini, engkau mampu melepaskan. Dengan kata lain, engkau harus mampu memahami dan mengerti yang sebenarnya mengenai masalah-masalah ini, tanpa terikat atau terkekang oleh gagasan-gagasan keliru yang ditimbulkan oleh masalah-masalah ini, dan tidak membiarkannya mengendalikan hidupmu dan menuntunmu ke jalan yang sesat, atau membawamu untuk membuat pilihan yang salah. Singkatnya, entah kita mempersekutukan hal positif atau hal negatif, tujuan utamanya adalah untuk memungkinkan orang menangani masalah pernikahan secara rasional, tidak menggunakan gagasan dan pandangan yang keliru untuk memahami dan memperlakukannya, juga tidak mempunyai sikap yang salah terhadapnya. Inilah pemahaman yang benar dari penerapan "melepaskan". Baiklah, mari kita lanjutkan bersekutu tentang pengejaran, cita-cita, dan keinginan yang muncul dari pernikahan. Pertama-tama, mari kita lihat pengertian pernikahan, apa konsepnya. Sebagian besar darimu belum menikah, bukan? Aku melihat bahwa sebagian besar darimu adalah orang dewasa. Apa artinya menjadi orang dewasa? Artinya engkau sudah mencapai atau melewati usia pernikahan. Apakah engkau berada pada usia pernikahan atau telah melewati usia pernikahan, setiap orang memiliki pandangan, definisi, dan konsep pernikahan yang relatif borjuis, entah benar atau salah. Jadi, mari kita membahas terlebih dahulu apa sebenarnya arti pernikahan. Pertama, dengan kata-katamu sendiri: apa sebenarnya yang dimaksud dengan pernikahan? Jika kita ingin membicarakan siapakah yang memenuhi syarat untuk membahas tentang apa arti pernikahan, kemungkinan yang memenuhi syarat adalah mereka yang sudah pernah menikah sebelumnya. Jadi, mari kita mulai terlebih dahulu dengan mereka yang sudah menikah, dan setelah mereka selesai berbicara, kita bisa beralih ke orang dewasa yang belum menikah. Engkau semua dapat menyampaikan pandanganmu tentang pernikahan, dan kita akan mendengarkan pemahaman dan definisimu tentang pernikahan. Katakan apa yang ingin kaukatakan, entah enak didengar atau tidak—keluhan tentang pernikahan atau pengharapan akan pernikahan, semuanya diperbolehkan. (Sebelum menikah, semua orang memiliki pengharapan. Ada yang menikah agar mereka bisa menjalani hidup yang berkecukupan, ada pula orang yang mengejar pernikahan yang bahagia, mencari pangeran berkuda putih, berkhayal bahwa mereka akan menjalani kehidupan yang bahagia. Ada juga orang-orang yang ingin memanfaatkan pernikahan untuk mencapai tujuan mereka sendiri.) Jadi, menurut pandanganmu, apa sebenarnya yang dimaksud dengan pernikahan? Apakah itu bersifat transaksional? Apakah itu sebuah permainan? Atau apa? Beberapa situasi yang telah kausebutkan adalah tentang hidup berkecukupan, dan itu adalah semacam transaksi. Apa lagi? (Bagiku, aku merasa, pernikahan hanyalah sesuatu yang kudambakan, sesuatu yang kurindukan.) Siapa lagi yang mau bicara? Pengetahuan apa yang dimiliki orang yang sudah menikah tentang pernikahan? Terutama mereka yang telah menikah selama sepuluh atau dua puluh tahun—apa perasaanmu mengenai pernikahan? Bukankah engkau semua biasanya penuh dengan renungan mengenai pernikahan? Di satu sisi, engkau memiliki pengalaman dengan pernikahanmu sendiri, dan di sisi lain, engkau telah melihat pernikahan orang-orang di sekitarmu; demikian juga halnya, engkau telah merasakan pernikahan orang lain yang pernah kaubaca di buku-buku, majalah, dan film-film. Jadi, dari aspek-aspek tersebut, menurutmu apa yang dimaksud dengan pernikahan? Bagaimana engkau mendefinisikannya? Apa yang kaupahami tentang pernikahan? Bagaimana engkau menjelaskan pernikahan? Orang yang sudah menikah, mereka yang sudah menikah selama beberapa tahun—khususnya di antaramu yang pernah membesarkan anak—apa perasaanmu tentang pernikahan? Ayo, bicaralah. (Aku ingin menambahkan sedikit. Aku banyak menonton acara televisi sejak kecil. Aku selalu mendambakan kehidupan pernikahan yang bahagia, tetapi setelah menikah, aku sadar bahwa itu tidak seperti yang kubayangkan. Setelah menikah, hal pertama yang harus kulakukan adalah bekerja keras untuk keluargaku, dan itu sangat melelahkan. Selain itu, karena adanya ketidakcocokan antara temperamen suami dan temperamenku, dan antara hal-hal yang kami dambakan dan kejar—terutama perbedaan antara jalan yang kami kejar—kami memiliki banyak perbedaan dalam hidup, sampai-sampai kami selalu bertengkar. Hidup terasa sulit waktu itu. Pada saat itu, aku merasa bahwa kehidupan pernikahan yang kudambakan semasa kecil sebenarnya tidak realistis. Itu hanya keinginan yang menyenangkan, tetapi kehidupan nyata tidak seperti itu. Inilah pemikiranku tentang pernikahan.) Jadi, pemahamanmu tentang pernikahan itu pahit, benarkah? (Ya.) Jadi, semua kenangan dan ingatanmu terasa pahit, melelahkan, menyakitkan, dan tak tertahankan untuk diingat kembali; engkau merasa kesal, sehingga setelah mengingatnya, engkau tidak memiliki pengharapan yang lebih baik akan pernikahan. Engkau menganggap pernikahan tidak sesuai dengan keinginanmu, bahwa pernikahan adalah sesuatu yang tidak baik atau tidak romantis. Engkau memahami pernikahan sebagai sebuah tragedi—apakah itu yang kaumaksudkan? (Ya.) Dalam pernikahanmu, baik dalam hal-hal yang mampu kaulakukan maupun dalam hal-hal yang tidak ingin kaulakukan, engkau sangat lelah dan getir tentang segalanya, benarkah? (Ya.) Pernikahan itu pahit—itu adalah sejenis perasaan, perasaan yang bisa dialami atau dirasakan sendiri oleh orang-orang. Apa pun bentuknya, mungkin ada banyak pernyataan yang berbeda tentang pernikahan dan keluarga di dunia saat ini. Ada banyak sekali pernyataan tentang pernikahan di film dan buku, dan ada pakar pernikahan dan pakar hubungan di tengah masyarakat yang menganalisis dan menyelidiki segala jenis pernikahan, yang menangani dan menyelesaikan konflik-konflik yang muncul dalam pernikahan tersebut, agar dapat mendamaikan mereka. Pada akhirnya, masyarakat telah memopulerkan beberapa pepatah tentang pernikahan. Manakah di antara pepatah populer tentang pernikahan ini yang kausetujui atau merasakan hal yang sama? (Tuhan, orang-orang di tengah masyarakat sering mengatakan bahwa menikah itu seperti masuk ke dalam kuburan. Aku merasa setelah menikah, berkeluarga, dan memiliki anak, orang mempunyai tanggung jawab, mereka harus bekerja tanpa henti untuk menafkahi keluarganya, dan selain itu, ada ketidakharmonisan yang muncul dari dua orang yang hidup bersama, dan segala macam masalah dan kesulitan muncul.) Apa ungkapan spesifiknya? "Pernikahan adalah kuburan". Apakah ada beberapa pepatah yang terkenal dan populer di Tiongkok? Bukankah ungkapan "Pernikahan adalah kuburan" cukup populer? (Ya.) Apa lagi? "Pernikahan adalah sebuah kota yang dikepung—mereka yang berada di luar ingin masuk, dan mereka yang berada di dalam ingin keluar". Apa lagi? "Pernikahan tanpa kasih adalah tidak bermoral". Mereka menganggap pernikahan adalah tanda kasih, dan pernikahan tanpa kasih adalah tidak bermoral. Mereka menggunakan kasih yang romantis untuk mengukur standar moralitas. Itukah definisi dan konsep pernikahan yang dimiliki oleh orang yang sudah menikah? (Ya.) Singkatnya, mereka yang sudah menikah penuh dengan kepahitan. Menggunakan ungkapan untuk menggambarkannya: "Pernikahan adalah kuburan". Apakah sesederhana itu? Orang-orang yang sudah menikah sudah selesai berbicara, jadi sekarang kita bisa mendengarkan pendapat orang-orang yang belum menikah dan masih lajang. Siapa yang ingin menyampaikan pemahamannya tentang pernikahan? Sekalipun pendapat tersebut kekanak-kanakan, atau khayalan atau pengharapan yang tidak sesuai dengan kenyataan, semuanya diperbolehkan. (Tuhan, menurutku pernikahan adalah dua orang yang hidup sebagai pasangan, kehidupan yang memenuhi kebutuhan sehari-hari.) Apakah engkau pernah menikah sebelumnya? Apakah engkau punya pengalaman pribadi? (Tidak.) Kebutuhan sehari-hari, hidup sebagai pasangan—benarkah seperti itu menurutmu? Apakah serealistis itu? (Menurutku, pernikahan yang ideal tidak seperti itu, tetapi itulah yang kulihat dalam pernikahan orang tuaku sendiri.) Pernikahan orang tuamu seperti ini, tetapi pernikahan idealmu tidak. Apa pemahaman dan tujuanmu jika menyangkut pernikahan? (Saat aku masih kecil, pemahamanku tentang pernikahan hanyalah untuk menemukan seseorang yang kukagumi, lalu hidup dengan bahagia dan romantis bersamanya.) Engkau ingin hidup bersamanya, memegang tangannya, dan menghabiskan masa tua bersama, benarkah? (Ya.) Ini adalah pemahaman spesifikmu tentang pernikahan, yang melibatkan dirimu sendiri; engkau tidak mendapatkan pemahaman ini dari melihat pernikahan orang lain. Apa yang kaulihat dalam pernikahan orang lain hanyalah apa yang terlihat di luarnya, dan karena engkau sendiri belum mengalaminya, engkau tidak tahu apakah yang kaulihat itu adalah kenyataan yang sebenarnya atau hanya penampakan di luarnya; hal yang kauanggap nyata akan selamanya ada dalam gagasan dan sudut pandangmu. Satu aspek dari pemahaman kaum muda tentang pernikahan adalah hidup dengan romantis bersama kekasih mereka, berpegangan tangan dan menghabiskan masa tua bersama, dan menjalani kehidupan ini bersama-sama. Apakah engkau semua memiliki pemahaman lain tentang pernikahan? (Tidak.)
Ada orang-orang yang berkata: "Pernikahan adalah tentang menemukan seseorang yang mencintaimu. Entah dia romantis atau tidak, itu tidak menjadi masalah, engkau juga tidak perlu terlalu mencintainya. Setidaknya, dia harus mencintaimu, memilikimu di hatinya, dan memiliki tujuan, cita-cita, karakter, minat, dan hobi yang sama denganmu, sehingga engkau dapat menemukan kecocokan satu sama lain dan hidup bersama." Ada orang lain yang berkata: "Pernikahan adalah menemukan seseorang yang kaucintai dan yang mencintaimu untuk hidup bersamanya. Itu sendiri merupakan kebahagiaan." Dan ada pula orang yang pemahamannya tentang pernikahan adalah: "Engkau harus menemukan seseorang yang mapan secara ekonomi, agar engkau tidak perlu khawatir tentang sandang dan pangan hingga akhir hidupmu, sehingga kehidupan materielmu akan berkelimpahan, dan engkau tidak akan mengalami kemiskinan. Berapa pun usianya atau bagaimanapun penampilan, karakter, dan seleranya, dia boleh menjadi pasanganmu asalkan dia kaya. Selama dia mampu memberimu uang untuk dibelanjakan dan dapat memenuhi kebutuhan materielmu, dia dapat diterima. Hidup bersama orang seperti ini mendatangkan kebahagiaan, dan engkau akan merasa nyaman secara jasmani. Inilah pernikahan." Inilah beberapa persyaratan dan definisi yang orang berikan tentang pernikahan. Kebanyakan orang memahami bahwa pernikahan adalah menemukan kekasih, kekasih impian mereka, seorang pangeran tampan, dan hidup bersamanya serta menemukan kecocokan satu sama lain. Sebagai contoh, ada orang-orang yang membayangkan pangeran tampan mereka adalah seorang bintang film atau selebritas, seseorang yang memiliki uang, ketenaran, dan kekayaan. Mereka menganggap bahwa hanya hidup dengan orang semacam itulah yang merupakan pernikahan yang baik dan menyenangkan, pernikahan yang sempurna, dan hanya kehidupan seperti itulah yang bahagia. Ada orang-orang yang membayangkan pasangan mereka adalah seseorang yang memiliki status. Ada orang-orang yang membayangkan pasangan mereka adalah seseorang yang cantik dan menawan. Ada yang membayangkan pasangan mereka adalah seseorang yang memiliki banyak koneksi, berkuasa, keluarga kaya, dan orang kaya. Ada yang membayangkan pasangan mereka ambisius dan mapan dalam pekerjaannya. Ada yang membayangkan pasangan mereka memiliki bakat yang unik. Ada yang membayangkan pasangan mereka memiliki karakter yang khas. Semua ini dan masih banyak lagi adalah persyaratan yang orang miliki terhadap pernikahan, dan tentu saja, semua itu adalah imajinasi, gagasan, dan sudut pandang yang mereka miliki tentang pernikahan. Singkatnya, orang-orang yang pernah menikah mengatakan bahwa pernikahan adalah kuburan, bahwa memasuki pernikahan berarti masuk ke dalam kuburan, atau ke dalam bencana; mereka yang belum menikah membayangkan pernikahan sebagai sesuatu yang sangat menyenangkan dan romantis, serta penuh dengan kerinduan dan pengharapan. Namun, baik yang sudah menikah maupun yang belum, tak ada seorang pun yang mampu menyampaikan dengan jelas tentang pemahaman atau pengertian mereka tentang pernikahan, atau apa sebenarnya definisi dan konsep pernikahan itu, bukan? (Ya.) Mereka yang telah mengalami pernikahan berkata: "Pernikahan adalah kuburan, pernikahan itu pahit." Ada orang-orang yang belum menikah berkata: "Pemahamanmu tentang pernikahan tidak benar. Kau berkata pernikahan itu buruk, itu karena kau terlalu egois. Kau tidak mengerahkan banyak upaya dalam pernikahanmu. Karena berbagai kekurangan dan masalah dalam dirimu, kau membuat pernikahanmu berantakan. Kau sendirilah yang menghancurkan dan merusak pernikahanmu." Ada juga orang-orang yang sudah menikah yang berkata kepada para lajang yang belum menikah: "Kau adalah anak yang bodoh, kau tahu apa? Tahukah kau seperti apa pernikahan itu? Pernikahan bukanlah masalah satu orang, atau dua orang—ini adalah masalah dua keluarga, atau bahkan masalah dua suku. Ada banyak masalah di dalamnya yang tidak sederhana dan tidak jelas. Sekalipun di dunia ini hanya ada dua orang, yang mana ini hanya menyangkut masalah dua orang, hal ini tidaklah sesederhana itu. Betapa pun indahnya pemahaman dan khayalanmu tentang pernikahan, seiring berjalannya waktu, itu akan diruntuhkan oleh hal-hal sepele seperti kebutuhan hidup sehari-hari, hingga warna dan rasa pernikahan itu akan memudar. Kau belum menikah, jadi kau tahu apa? Kau belum pernah menikah, belum pernah hidup dalam pernikahan, jadi kau tidak memenuhi syarat untuk mengevaluasi pernikahan atau memberikan komentar yang kritis. Pemahamanmu tentang pernikahan hanyalah imajinasi, angan-angan—tidak didasarkan pada kenyataan!" Siapa pun yang membicarakannya, ada alasan objektifnya, tetapi kesimpulannya, apa sebenarnya yang dimaksud dengan pernikahan? Manakah perspektif yang paling benar dan paling objektif dalam memandangnya? Manakah yang paling sesuai dengan kebenaran? Bagaimana seharusnya orang memandang pernikahan? Entah berbicara tentang mereka yang pernah atau belum pernah menikah, di satu sisi, pemahaman mereka tentang pernikahan dipenuhi dengan imajinasi mereka sendiri, dan di sisi lain, manusia yang rusak penuh dengan emosi mengenai peran yang mereka mainkan dalam pernikahan. Karena manusia yang rusak tidak memahami prinsip-prinsip yang seharusnya mereka anut dalam berbagai situasi, dan tidak memahami peran yang mereka mainkan dalam pernikahan atau kewajiban dan tanggung jawab yang seharusnya mereka penuhi, ada beberapa perkataan yang mereka ungkapkan tentang pernikahan pasti bersifat emosional, dan melibatkan keegoisan serta sifat pemarah mereka, dll. Tentu saja, entah orang sudah menikah atau belum, jika mereka tidak memandang pernikahan dari sudut pandang kebenaran, dan jika mereka tidak memiliki pemahaman dan pengetahuan yang murni tentang pernikahan dari Tuhan, maka selain dari pengalaman nyata mereka sendiri mengenai pernikahan, pemahaman mereka tentang pernikahan sebagian besar dipengaruhi oleh masyarakat dan manusia yang jahat. Pemahaman mereka juga dipengaruhi oleh suasana, tren, dan opini publik di tengah masyarakat, serta dipengaruhi oleh hal-hal keliru dan bias tentang pernikahan—dan yang mungkin secara lebih spesifik disebut dengan istilah tidak manusiawi—yang dikatakan oleh orang-orang di setiap tingkatan dan lapisan masyarakat. Karena hal-hal yang dikatakan orang lain ini, di satu sisi, orang tanpa sadar akan dipengaruhi dan dikendalikan oleh pemikiran dan sudut pandang ini, dan di sisi lain, mereka tanpa sadar akan menerima sikap dan cara memandang pernikahan ini, serta cara-cara dalam menangani pernikahan, dan sikap terhadap kehidupan yang dianut oleh mereka yang hidup dalam pernikahan. Pertama-tama, orang tidak memiliki pengertian yang positif tentang pernikahan, juga tidak memiliki pemahaman dan pengetahuan yang positif dan akurat tentang pernikahan. Selain itu, baik masyarakat maupun manusia yang jahat menanamkan pemikiran yang negatif dan keliru tentang pernikahan ke dalam diri mereka. Oleh karena itu, pemikiran dan sudut pandang orang tentang pernikahan menjadi menyimpang, dan bahkan jahat. Selama engkau hidup dan bertahan hidup di tengah masyarakat ini dan memiliki mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, dan pemikiran untuk merenungkan pertanyaan, pada taraf yang berbeda, engkau akan menerima pemikiran dan sudut pandang yang keliru ini, yang mengarah pada pemahaman dan pengetahuan yang salah dan bias tentang pernikahan. Sebagai contoh, seratus tahun yang lalu, orang belum memahami apa arti kasih yang romantis, dan pemahaman mereka tentang pernikahan sangat sederhana. Setelah seseorang mencapai usia pernikahan, seorang mak comblang akan memperkenalkan mereka, orang tuanya akan mengurus segala sesuatu, dan kemudian dia akan melangsungkan pernikahan dengan lawan jenisnya, memasuki pernikahan, dan mereka berdua akan hidup bersama dan menjalani hari-hari mereka. Demikianlah mereka akan saling mendampingi di sepanjang hidup ini, hingga akhir hayat mereka. Sesederhana itulah pernikahan. Ini adalah masalah dua orang—dua orang dari keluarga berbeda yang hidup bersama, saling mendampingi, saling menjaga, dan menjalani hidup bersama seumur hidup. Sesederhana itu. Namun, pada satu saat, orang-orang mulai memunculkan apa yang mereka sebut kasih yang romantis, dan kemudian kasih yang romantis ditambahkan ke dalam kepuasan pernikahan, hingga saat ini. Istilah "kasih yang romantis", atau makna dan gagasannya, bukan lagi sesuatu yang, jauh di lubuk hatinya, membuat orang merasa malu atau sulit membicarakannya. Sebaliknya, itu sangat wajar ada dalam pemikiran manusia, dan wajar jika orang membicarakannya, sampai-sampai orang yang belum dewasa pun membicarakan apa yang mereka sebut dengan kasih yang romantis. Jadi, pemikiran, sudut pandang, dan pernyataan semacam ini secara tak kasat mata memberikan pengaruh pada semua orang, pria dan wanita, tua dan muda. Pengaruh inilah yang menjadi alasan mengapa pemahaman semua orang tentang pernikahan sangat berlebihan—lebih tepatnya, mereka berprasangka buruk. Semua orang sudah mulai bermain dengan kasih dan gairah. Apa yang disebut "kasih romantis" manusia hanyalah perpaduan antara kasih dan gairah.[a] Apa yang dimaksud dengan "kasih"? Kasih adalah sejenis rasa suka atau sayang. Apa yang dimaksud dengan "gairah"? Yang dimaksud dengan gairah adalah nafsu. Pernikahan tidak lagi sesederhana dua orang yang menjalani hari-hari bersama sebagai pasangan; justru, itu telah menjadi permainan kasih sayang dan nafsu. Bukankah demikian? (Ya.) Orang-orang telah memahami pernikahan sebagai perpaduan nafsu dan rasa sayang, jadi dapatkah pernikahan mereka menjadi baik? Pria dan wanita tidak hidup dengan benar, dan mereka juga tidak melaksanakan tanggung jawab mereka dengan baik, dan mereka menjalani hari-hari mereka dengan cara yang tidak praktis. Mereka sering berbicara tentang kasih, gairah, rasa sayang dan nafsu. Apakah menurutmu mereka dapat hidup dengan mulus dan stabil? (Tidak.) Siapakah orang yang mampu melewati godaan dan bujukan ini? Tak ada seorang pun yang mampu melewati godaan dan bujukan ini. Di tengah masyarakat, orang-orang dipenuhi dengan nafsu dan rasa sayang terhadap satu sama lain. Inilah yang mereka sebut kasih yang romantis, dan begitulah cara orang-orang masa kini memahami pernikahan; ini merupakan penilaian tertinggi dan cita rasa tertinggi mereka terhadap pernikahan. Jadi, keadaan pernikahan masyarakat masa kini telah berubah tanpa bisa dikenali lagi, dan berada dalam kekacauan yang sangat buruk. Pernikahan bukan lagi masalah yang sederhana antara seorang pria dan seorang wanita; justru, ini telah menjadi masalah semua orang, pria dan wanita, bermain dengan kasih sayang dan nafsu—benar-benar bejat. Di bawah bujukan tren jahat, atau melalui tertanamnya pemikiran jahat, pemahaman dan cara pandang orang terhadap pernikahan menjadi cacat, menyimpang, dan jahat. Selain itu, film-film dan program TV di tengah masyarakat, serta karya sastra dan seni, terus-menerus memberikan penafsiran dan pernyataan yang jauh lebih jahat dan tidak bermoral tentang pernikahan. Sutradara, penulis, dan aktor semuanya menggambarkan pernikahan sebagai keadaan yang buruk. Hal ini penuh dengan kejahatan dan nafsu, yang menyebabkan pernikahan yang baik menjadi kacau. Jadi, sejak adanya kasih yang romantis, perceraian menjadi makin lazim di kehidupan bermasyarakat manusia, begitu pula perselingkuhan; makin banyak anak yang terpaksa menanggung penderitaan akibat perceraian orang tuanya, terpaksa tinggal bersama ibu tunggal atau ayah tunggal, sehingga melewati masa kanak-kanak dan remajanya, atau bertumbuh di tengah situasi pernikahan buruk orang tuanya. Penyebab segala macam tragedi pernikahan ini, pernikahan yang tidak benar atau menyimpang ini, adalah karena pandangan tentang pernikahan yang dianjurkan oleh masyarakat adalah penuh prasangka buruk, jahat, dan tidak berakhlak, sampai-sampai tidak ada etika dan moralitas. Karena manusia tidak memiliki pemahaman yang akurat tentang hal-hal yang positif atau baik, orang-orang tanpa sadar akan menerima pemikiran dan sudut pandang yang dianjurkan oleh masyarakat, betapa pun buruknya pemikiran dan sudut pandang tersebut. Hal-hal ini seperti wabah, menyebar ke seluruh tubuhmu, merusak setiap pemikiran dan gagasanmu, dan mengikis aspek yang benar dari kemanusiaanmu. Hati nurani dan nalar kemanusiaanmu yang normal dengan cepat menjadi kabur, tidak jelas, atau lemah; kemudian, pemikiran dan sudut pandang yang berasal dari Iblis yang menyimpang, jahat, dan tidak beretika dan tidak bermoral ini, mengambil posisi yang lebih kuat dan berperan dominan di alam bawah sadarmu dan di lubuk hatimu, serta di dunia rohanimu. Setelah hal-hal ini mengambil posisi yang lebih kuat dan berperan dominan, sudut pandangmu tentang masalah pernikahan dengan cepat menjadi bengkok dan menyimpang, tidak beretika dan tidak bermoral, sampai-sampai menjadi jahat, tetapi engkau sendiri tidak menyadarinya, dan engkau menganggapnya sangat wajar: "Semua orang berpikir seperti ini, jadi mengapa aku tidak? Semua orang yang berpikir seperti ini adalah wajar, jadi bukankah wajar juga bagiku untuk berpikir seperti ini? Jadi, jika tidak ada orang lain yang tersipu-sipu ketika membicarakan kasih yang romantis, aku juga seharusnya tidak. Pertama kali membicarakannya, aku sedikit canggung, agak malu, dan sulit untuk berbicara. Setelah membicarakannya beberapa kali lagi, aku menjadi terbiasa. Mendengarkan lebih banyak dan membicarakannya lebih banyak menjadikannya pengalamanku." Benar, engkau berbicara dan mendengarkan, dan hal ini telah menjadi pengalamanmu, tetapi pemahaman yang asli dan sejati tentang pernikahan tidak dapat bertahan teguh di alam bawah sadarmu, jadi engkau telah kehilangan hati nurani dan nalar yang seharusnya kaumiliki sebagai manusia normal. Apa penyebab engkau kehilangan hati nurani dan nalar? Itu karena engkau telah menerima apa yang disebut pandangan "kasih yang romantis" tentang pernikahan. Apa yang disebut pandangan "kasih yang romantis" tentang pernikahan ini telah menghilangkan pemahaman asli dan rasa tanggung jawab yang dimiliki kemanusiaanmu yang normal terhadap pernikahan. Dengan sangat cepat, engkau mulai menerapkan pemahamanmu sendiri tentang kasih yang romantis. Engkau terus-menerus mencari orang yang kau anggap cocok, orang yang mencintaimu atau yang kaucintai, dan engkau mengejar kasih yang romantis dengan cara yang baik atau jahat, dengan bersusah payah dan bersikap sangat tidak tahu malu, sampai-sampai mengorbankan kekuatan sepanjang hidupmu demi kasih yang romantis—kemudian engkau merasa kelelahan. Selama proses mengejar kasih yang romantis, katakanlah seorang wanita menemukan seseorang yang dia kagumi, dan dia berpikir: "Kita sedang jatuh cinta, jadi ayo kita menikah." Setelah dia menikah, dia hidup bersama orang tersebut selama beberapa waktu, kemudian menyadari bahwa suaminya memiliki beberapa kekurangan, dan dia berpikir: "Dia tidak menyukaiku, dan aku tidak terlalu menyukainya. Kami berdua tidak cocok, jadi kasih romantis kami adalah sebuah kesalahan. Baiklah, kami bercerai saja." Setelah perceraian, dia memiliki tanggungan seorang anak berusia dua atau tiga tahun dan bersiap untuk mencari orang lain, dan berpikir: "Karena pernikahanku yang sebelumnya tanpa kasih, aku harus pastikan pernikahan berikutnya memiliki kasih sejati yang romantis. Kali ini aku harus yakin, jadi aku harus meluangkan waktu untuk menyelidiki." Setelah beberapa waktu, dia bertemu dengan orang lain, "Ah, inilah kekasih impianku, orang yang kubayangkan akan kusukai. Dia menyukaiku, dan aku menyukainya. Dia tak tahan berpisah dariku dan aku tak tahan berpisah darinya; kami ibarat dua magnet yang saling menarik, selalu ingin bersama. Kami sedang jatuh cinta, baiklah kami menikah saja." Jadi dia pun menikah lagi. Setelah menikah, dia melahirkan seorang anak lagi, dan setelah dua atau tiga tahun menikah, dia berpikir: "Orang ini memiliki banyak kekurangan; dia malas dan rakus. Dia suka membual dan menyombongkan diri, serta berbicara omong kosong. Dia tidak memenuhi tanggung jawabnya, dia tidak memberikan uang yang dia hasilkan kepada keluarga, dan dia mabuk-mabukan dan berjudi sepanjang hari. Ini bukan orang yang ingin kucintai, orang yang kucintai tidak seperti ini. Bercerai!" Setelah memiliki dua anak, dia kembali bercerai. Setelah bercerai, dia mulai berpikir: apa yang dimaksud dengan kasih yang romantis? Dia tak mampu menjawabnya. Ada orang-orang yang mengalami kegagalan dalam pernikahan dua atau tiga kali, dan apa yang mereka katakan pada akhirnya? "Aku tidak percaya pada kasih yang romantis, aku percaya pada kemanusiaan." Jadi, mereka merasa tidak yakin, dan mereka tidak tahu apa yang seharusnya mereka yakini. Mereka tidak tahu apa arti pernikahan; mereka menerima pemikiran dan perspektif yang keliru, dan menggunakan pemikiran dan perspektif tersebut sebagai standar mereka. Mereka secara pribadi menerapkan pemikiran dan perspektif ini, dan pada saat yang sama, mereka juga merusak pernikahan dan diri mereka sendiri, serta merugikan orang lain; pada taraf yang berbeda, mereka merugikan generasi selanjutnya dan diri mereka sendiri, baik secara jasmani maupun rohani. Hal-hal ini adalah bagian dari penyebab mengapa orang merasa sedih dan tidak berdaya sehubungan dengan pernikahan, mengapa mereka tidak memiliki perasaan yang baik terhadap pernikahan. Aku baru saja bersekutu tentang berbagai perspektif dan definisi orang tentang pernikahan, serta keadaan pernikahan manusia saat ini sebagai akibat dari sudut pandang keliru yang dianut orang-orang modern mengenai pernikahan; singkatnya, apakah situasi pernikahan manusia modern baik atau buruk? (Buruk.) Tidak ada masa depan, tidak ada optimisme, dan menjadi jauh lebih kacau. Dari Timur hingga Barat, dari Utara hingga Selatan, pernikahan manusia berada dalam keadaan yang sangat mengerikan dan buruk. Orang-orang dari generasi saat ini—orang-orang yang berusia di bawah empat puluh atau lima puluh tahun—semuanya menyaksikan kemalangan pernikahan generasi sebelumnya dan generasi berikutnya, mereka juga menyaksikan pandangan generasi ini tentang pernikahan, dan pengalaman pernikahan mereka yang gagal. Tentu saja, banyak orang yang berusia di bawah empat puluh tahun menjadi korban dari segala jenis pernikahan yang gagal; beberapa dari mereka adalah ibu tunggal, yang lainnya adalah ayah tunggal, walaupun tentu saja, secara relatif, jumlah ayah tunggal tidak sebanyak ibu tunggal. Ada orang-orang yang bertumbuh bersama ibu kandung dan ayah tirinya, ada yang bertumbuh bersama ayah kandung dan ibu tirinya, dan ada pula yang bertumbuh bersama kakak atau adik dari ibu dan ayah yang berbeda. Yang lain orang tuanya bercerai lalu menikah lagi, dan kedua orang tuanya tidak menginginkan mereka, sehingga mereka menjadi yatim piatu, yang bertumbuh dewasa setelah beberapa tahun berada di tengah masyarakat; kemudian mereka menjadi ayah tiri atau ibu tiri, atau mereka menjadi ibu tunggal atau ayah tunggal. Inilah situasi pernikahan modern. Bukankah pengelolaan pernikahan yang dilakukan manusia sampai pada taraf ini merupakan akibat dari perusakan Iblis terhadap pernikahan? (Ya.) Bentuk penting dari kelangsungan hidup dan reproduksi manusia yang paling mendasar telah sama sekali dirusak dan dikacaukan. Menurutmu, kehidupan seperti apa yang manusia jalani? Melihat kehidupan setiap keluarga sungguh menjengkelkan, bahkan terlalu mengerikan untuk dilihat. Mari kita akhiri pembahasan mengenai hal ini; makin orang membahasnya, makin jengkel perasaannya, bukan?
Catatan kaki:
a. Teks aslinya tidak memuat kalimat "Apa yang disebut 'cinta yang romantis' manusia hanyalah perpaduan antara cinta dan gairah".
Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.