Cara Mengejar Kebenaran (8) Bagian Satu

Sebelumnya, kita mempersekutukan aspek utama yang pertama dalam cara mengejar kebenaran, yaitu melepaskan. Dalam hal melepaskan, kita bersekutu tentang aspek pertama dari penerapan, yaitu melepaskan berbagai emosi negatif. Tujuan kita dalam bersekutu dan menganalisis berbagai emosi negatif orang terutama adalah untuk meluruskan gagasan dan sudut pandang yang keliru dan menyimpang yang tersembunyi di balik emosi negatif tersebut. Bukankah benar demikian? (Ya.) Artinya, dengan membereskan emosi negatif di hati orang, kita ingin meluruskan gagasan dan sudut pandang negatif yang mereka simpan di lubuk hati mereka terhadap berbagai orang, peristiwa, dan hal-hal. Tentu saja, hanya dengan menyingkapkan dan menganalisis berbagai emosi negatif serta memberikan pemikiran, sudut pandang, dan pemahaman yang benar kepada orang, barulah berbagai emosi negatif dapat dibereskan. Emosi negatif harus dibereskan agar setiap kali ada sesuatu yang menimpa orang, baik dalam kehidupan mereka sehari-hari maupun dalam perjalanan hidup mereka, mereka tidak terganggu atau terikat oleh pemikiran dan sudut pandang yang keliru serta menyimpang, sebaliknya, mereka menghadapi setiap hari, orang, peristiwa, dan hal-hal yang menimpa mereka di sepanjang hari, dengan pemikiran serta sudut pandang yang positif dan benar yang sesuai dengan kebenaran. Jadi, ketika menghadapi orang, peristiwa, dan hal-hal dalam kehidupan nyata, mereka tidak akan meresponinya dengan sifat pemarah, melainkan akan hidup dalam lingkup hati nurani dan nalar manusia normal, dan akan mampu memperlakukan dan menangani setiap keadaan yang mereka hadapi atau alami dalam hidup dan jalan kehidupan mereka secara rasional, dengan menggunakan cara-cara yang tepat dan benar yang telah Tuhan ajarkan. Di satu sisi, ini bertujuan agar orang hidup di bawah bimbingan dan pengaruh gagasan dan sudut pandang yang benar. Di sisi lain, ini bertujuan agar mereka menangani setiap keadaan dengan benar di bawah bimbingan dan pengaruh gagasan dan sudut pandang positif tersebut. Tentu saja, kemampuan untuk menangani setiap keadaan dengan benar bukanlah tujuan akhirnya. Tujuan akhirnya adalah untuk mencapai apa yang seharusnya dicapai oleh orang yang percaya kepada Tuhan, yaitu takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan, tunduk kepada Tuhan, dan pada penataan dan pengaturan-Nya, tunduk pada setiap lingkungan yang Dia atur, dan tentu saja tunduk pada takdir yang sudah Dia tentukan dalam kedaulatan-Nya, dan hidup secara rasional di antara semua orang, peristiwa, dan hal-hal, di setiap lingkungan. Singkatnya, baik kita mempersekutukan maupun menganalisis emosi negatif atau gagasan serta sudut pandang negatif orang, semua ini berkaitan dengan jalan yang makhluk ciptaan harus tempuh, jalan kehidupan yang Tuhan tuntut terhadap manusia normal. Dan tentu saja, ini juga berkaitan dengan prinsip-prinsip yang seharusnya dimiliki oleh makhluk ciptaan, dalam hal cara mereka memandang orang dan hal-hal, cara mereka berperilaku, dan cara mereka bertindak. Melepaskan berbagai emosi negatif seolah-olah berarti membereskan emosi negatif orang dan meluruskan gagasan serta sudut pandang negatif dan keliru yang tersembunyi di balik emosi negatif tersebut. Namun sebenarnya, dapat juga dikatakan bahwa pada dasarnya ini adalah tentang membimbing orang, membekali mereka, dan membantu mereka, atau tentang mengajari orang cara berperilaku, dan bagaimana menjadi manusia normal yang sejati, orang yang berakal sehat, menjadi seperti orang yang Tuhan tuntut, menjadi orang yang Dia kasihi, dan menjadi orang yang berkenan kepada Tuhan, ketika menghadapi berbagai lingkungan, orang, peristiwa, dan hal-hal. Hal ini sama dengan aspek-aspek lain dari prinsip-prinsip kebenaran, di mana semuanya berkaitan dengan perilaku orang. Di luarnya, topik tentang melepaskan berbagai emosi negatif tampaknya membahas emosi yang sama sekali biasa, atau keadaan yang orang jalani pada saat ini. Namun sebenarnya, emosi dan keadaan yang biasa ini berkaitan dengan jalan yang orang tempuh dan prinsip-prinsip yang berdasarkannya mereka berperilaku. Dari sudut pandang manusia, hal-hal tersebut mungkin tampaknya tidak penting dan tidak perlu dibahas. Namun, karena hal-hal tersebut berkaitan dengan sudut pandang yang orang miliki dan perspektif serta sudut pandang yang mereka gunakan ketika menghadapi berbagai orang, peristiwa, dan hal-hal, jadi hal-hal tersebut ada kaitannya dengan perilaku orang. Secara lebih spesifik, hal-hal tersebut ada kaitannya dengan cara memandang orang dan hal-hal, cara berperilaku, dan cara bertindak. Karena hal-hal ini ada kaitannya dengan cara memandang orang dan hal-hal, cara berperilaku, dan cara bertindak, emosi negatif serta gagasan dan sudut pandang negatif ini harus terus-menerus diperiksa dan direnungkan dalam kehidupan orang sehari-hari. Tentu saja, penting juga bagi orang untuk dapat segera mengoreksi diri mereka sendiri setiap kali mereka mendapati selama proses perenungan bahwa mereka memiliki emosi negatif atau gagasan dan sudut pandang negatif dan keliru, dan untuk dapat segera mengganti emosi negatif dan gagasan dan sudut pandang yang keliru tersebut dengan pemikiran yang positif dan benar serta sudut pandang yang sesuai dengan prinsip kebenaran. Hal ini memampukan mereka untuk memandang orang dan hal-hal, berperilaku, dan bertindak berdasarkan firman Tuhan sebagai landasan dan dengan kebenaran sebagai standarnya. Ini juga merupakan cara untuk watak orang dapat diubah agar mereka selaras dengan Tuhan, dan mencapai rasa takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan. Hal-hal di atas yang telah kita persekutukan pada dasarnya adalah pembahasan utama dari aspek pertama, "melepaskan", dalam "Cara Mengejar Kebenaran". Tentu saja, di antara berbagai emosi manusia, ada juga hal-hal negatif tertentu yang spesifik dan kecil, atau beberapa emosi negatif tertentu yang sama sekali tidak umum, dan juga berkaitan dengan beberapa pemikiran dan sudut pandang yang negatif atau keliru. Emosi negatif atau pemikiran dan sudut pandang yang keliru ini dapat dikatakan mempunyai pengaruh yang tidak terlalu besar terhadap orang, jadi kita tidak akan membahasnya satu per satu secara lebih terperinci.

Semua emosi negatif yang kita persekutukan sebelumnya pada dasarnya dapat merepresentasikan permasalahan yang ada dalam kehidupan nyata orang atau dalam jalan kehidupan mereka. Emosi-emosi ini ada kaitannya dengan berbagai sudut pandang tentang cara memandang orang dan hal-hal, serta cara berperilaku dan bertindak. Berbagai pemikiran dan sudut pandang negatif tentang cara memandang orang dan hal-hal, serta cara berperilaku dan bertindak ini berkaitan dengan arah yang lebih luas, prinsip-prinsip utama, dan pengejaran orang akan kebenaran. Jadi, semua ini adalah hal-hal yang orang harus lepaskan dan luruskan dalam pemikiran dan sudut pandang mereka. Ada hal-hal lainnya yang bersifat khusus, tidak umum, atau lebih bersifat pribadi—seperti makanan, pakaian, kehidupan pribadi, dan sebagainya—yang tidak ada kaitannya dengan prinsip-prinsip utama tentang cara orang memandang orang dan hal-hal, serta cara mereka berperilaku dan bertindak, dan dapat dikatakan bahwa hal-hal tersebut tidak berkaitan dengan membuat pembedaan antara hal-hal positif dan negatif. Oleh karena itu, hal-hal tersebut tidak termasuk dalam lingkup topik yang sedang kita persekutukan. Sebagai contoh, ketika seseorang berkata, "Aku suka hal-hal yang berwarna hitam," itu adalah kebebasan mereka, selera dan kesukaan pribadi mereka. Apakah ini berkaitan dengan prinsip? (Tidak.) Ini tidak ada kaitannya dengan cara orang memandang orang dan hal-hal, dan juga tidak ada kaitannya dengan cara mereka berperilaku dan bertindak. Sebagai contoh, ada orang yang mengenakan kacamata karena rabun jauh berkata, "Aku suka mengenakan kacamata berbingkai emas." Dan ada orang lain yang berkata, "Bingkai emas sudah ketinggalan zaman. Aku lebih suka kacamata tanpa bingkai." Apakah ini ada kaitannya dengan prinsip-prinsip tentang cara memandang orang dan hal-hal, serta cara berperilaku dan bertindak? (Tidak.) Ini tidak ada kaitannya dengan prinsip-prinsip tentang cara memandang orang dan hal-hal, serta cara berperilaku dan bertindak. Ada orang lain yang berkata, "Aku punya emosi negatif tentang pekerjaan rumah tangga dan bersih-bersih. Aku selalu merasa pekerjaan tersebut menyusahkan dan membuat hidupku melelahkan. Bahkan untuk makan pun merepotkan. Butuh lebih dari satu jam untuk menyiapkan makanan, dan setelah makan, aku masih harus mencuci piring, membersihkan panci, dan merapikan dapur, dan hal-hal ini juga sangat mengganggu." Ada orang lain lagi yang berkata, "Hidup ini sangat menyusahkan. Pakaian kita harus diganti setiap musim, tetapi cuaca tetap terlalu panas di musim panas betapapun tipisnya pakaian kita, dan cuacanya terlalu dingin di musim dingin setebal apa pun pakaian kita. Tubuh jasmani ini sungguh menyusahkan!" Jika rambut mereka kotor, mereka tidak mau keramas, tetapi jika tidak keramas, kepala mereka terasa gatal. Mereka memiliki kelesuan dan ketidakrapian. Mereka harus mencuci rambut, tetapi mereka menjadi kesal saat mencuci rambut, dan berpikir, "Bukankah menyenangkan jika tidak memiliki rambut? Sungguh menjengkelkan harus selalu memotong dan mencucinya!" Apakah ini emosi negatif? (Ya.) Haruskah emosi negatif ini dibereskan? Apakah semua ini termasuk dalam berbagai emosi negatif yang harus dilepaskan? (Tidak.) Mengapa hal-hal tersebut tidak termasuk emosi negatif yang harus dilepaskan? (Karena hal-hal ini hanyalah beberapa kebiasaan dan permasalahan yang berkaitan dengan kehidupan jasmani tubuh.) Para wanita, khususnya wanita dewasa, mampu menangani urusan sehari-hari yang sepele ini, seperti mencuci pakaian, bersih-bersih, dan membereskan segala sesuatu yang mereka gunakan. Para pria agak lebih buruk. Mereka cenderung menganggap pekerjaan memasak, mencuci pakaian, dan pekerjaan rumah tangga sebagai tugas yang menyusahkan. Mereka terutama mengalami kesulitan saat mencuci pakaian. Haruskah mereka mencucinya? Mereka tidak menyukainya. Bukankah seharusnya mereka mencucinya? Itu terlalu kotor, dan mereka khawatir akan diejek, jadi mereka hanya membilasnya sebentar dengan air. Pria dan wanita memiliki pendekatan dan sikap yang sedikit berbeda dalam menangani masalah sepele sehari-hari ini. Para wanita cenderung lebih teliti dan cermat, memperhatikan kebersihan dan penampilan, sedangkan para pria mungkin relatif kasar dalam menangani urusan ini. Namun, tidak ada yang salah dengan hal itu. Tidaklah baik menjadi terlalu berantakan; khususnya saat engkau tinggal bersama orang lain, engkau akan terlalu banyak memperlihatkan kekuranganmu dan ini akan membuat orang lain tidak menyukaimu. Semua kekurangan ini adalah cacat dalam kemanusiaanmu, dan engkau harus mengatasi kekurangan-kekurangan yang perlu diatasi, dan membereskan kekurangan-kekurangan yang perlu dibereskan. Jadilah orang yang lebih rajin, rapikanlah barang-barang di rumahmu, lipatlah pakaian dan selimutmu dengan benar, dan bersihkan serta rapikanlah lingkungan kerjamu setiap dua hari atau beberapa hari sekali agar tidak mengganggu orang lain—sebenarnya sesederhana itu. Engkau tidak perlu merasa tertantang, bukan? (Tidak.) Mengenai seberapa sering engkau sendiri mandi atau berganti pakaian, tidak masalah asalkan tidak memengaruhi suasana hati orang lain. Ini adalah standarnya. Jika engkau tidak mandi, mencuci rambutmu, atau berganti pakaian dalam waktu lama, badanmu mulai bau, dan tak seorang pun mau berada di dekatmu, itu tidak baik. Engkau harus mandi dan berpenampilan rapi, setidaknya agar tidak memengaruhi suasana hati orang lain. Mereka tidak perlu menutup hidung atau mulut mereka saat berbicara denganmu, dan merasa malu karenamu. Jika orang lain memperlakukanmu seperti ini dan engkau tidak keberatan atau peduli, maka engkau dapat terus hidup seperti itu. Tidak ada seorang pun yang menaruh tuntutan yang berlebihan terhadapmu. Asalkan engkau mampu menerimanya. Namun, jika engkau merasa malu, berusahalah sebaik mungkin untuk menjaga lingkungan hidup dan kebersihan pribadimu, agar orang lain tidak akan terganggu oleh hal ini. Tujuannya bukan untuk membebani dan menekan hidupmu sendiri dan untuk mempertimbangkan perasaan orang lain. Jangan memberikan tekanan atau memaksakan pengaruhmu kepada orang lain. Ini adalah tuntutan minimum terhadap hati nurani dan nalar manusia normal. Jika engkau bahkan tidak mampu memenuhi tuntutan minimum ini, bagaimana engkau bisa berperilaku dengan kesopanan? Oleh karena itu, hal-hal yang seharusnya mampu dicapai oleh orang yang memiliki kemanusiaan yang normal ini tidak memerlukan banyak penjelasan. Rumah Tuhan tidak perlu memberimu tugas atau perintah khusus. Engkau seharusnya mampu menanganinya sendiri. Masalah pribadi yang Kusebutkan di atas tidak ada kaitannya dengan prinsip atau standar untuk cara memandang orang dan hal-hal, cara berperilaku, dan cara bertindak. Oleh karena itu, engkau dapat mengandalkan hati nurani dan nalar manusia yang paling dasar untuk menanganinya. Orang yang memiliki hati nurani dan nalar manusia normal seharusnya memiliki tingkat kecerdasan ini. Tidak perlu terlalu dipermasalahkan, dan terlebih lagi, hal-hal sepele ini tidak perlu dianggap sebagai masalah yang memerlukan pemahaman atau dibereskan melalui mengejar kebenaran, karena ini adalah hal-hal yang mampu dicapai oleh siapa pun yang memiliki kemanusiaan yang normal. Bahkan seekor anjing kecil pun mengerti apa yang dimaksud dengan kesopanan. Jika manusia tidak memahami hal itu, mereka tidak memenuhi standar sebagai manusia, bukan? (Ya.) Aku punya anjing peliharaan. Anjing ini sangat lucu, dengan mata besar, mulut lebar, dan hidung yang bagus. Suatu kali, dia berkelahi dengan anaknya sendiri karena makanan, dan anak anjing tersebut menggigit hidungnya. Ada luka kecil di tengah hidungnya setelah itu, yang merusak penampilannya. Aku segera mengoleskan obat pada lukanya dan berkata, "Apa yang bisa kita lakukan sekarang? Jika anjing yang sangat lucu memiliki bekas luka, sungguh pemandangan yang menyedihkan!" Aku berkata kepadanya, "Mulai sekarang, jangan ikuti kami saat kami keluar rumah. Jika orang melihat bekas luka di wajahmu, mereka akan menganggapmu jelek." Setelah mendengar perkataan-Ku, dia menyalak tanda setuju, menatap kosong sejenak, dan membelalakkan matanya. Aku melanjutkan, "Kau sedang terluka. Ada luka besar di hidungmu, orang-orang mungkin akan menertawakanmu jika mereka melihatnya. Kau harus istirahat sampai sembuh. Kau tidak boleh mengikuti kami keluar rumah sampai lukamu benar-benar sembuh." Setelah mendengar perkataan-Ku, dia tidak lagi menyalak, dan tidak bersikeras untuk keluar rumah. Kupikir, bahkan seekor anjing pun tahu membedakan yang benar dan yang salah. Setelah beberapa waktu, lukanya mengelupas dan luka di hidungnya telah membaik, jadi aku mengajaknya keluar rumah. Seorang saudari melihat anjing kecil itu dan bertanya, "Hei, apa yang terjadi dengan hidungmu?" Setelah mendengar itu, dia membalikkan kepalanya dan berlari tanpa menoleh ke belakang, langsung menuju mobil, tidak mau kembali. Ketika saudari itu mulai berbicara dengannya, dia berperilaku baik, meminum air saat saudari itu memberikannya. Dia tidak berlari pergi. Namun, begitu saudari itu bertanya, "Apa yang terjadi dengan hidungmu?" dia membalikkan kepalanya dan berlari tanpa menoleh ke belakang. Sesampainya kami di rumah, aku bertanya kepadanya, "Hidungmu terluka, mengapa kau lari ketika saudari itu menanyakan tentang hidungmu? Apakah kau malu?" Dia memandang-Ku dengan ekspresi malu-malu, terus-menerus menundukkan kepalanya dan merasa terlalu malu untuk memandang-Ku. Dia meringkuk ke dalam pelukan-Ku, membiarkan-Ku mengelus dan menggendongnya. Aku berkata kepadanya, "Kau tak boleh lagi berkelahi dengan anakmu. Jika kau terluka dan ada bekas luka lagi, kau akan terlihat jelek. Orang-orang akan menertawakanmu. Di mana kau akan menyembunyikan wajahmu?" Jadi, bahkan seekor anjing kecil berumur lima tahun pun tahu apa artinya merasa malu. Dia tahu cara bersembunyi dari orang karena wajahnya terluka dan takut ditertawakan. Jika seekor anjing kecil memiliki tingkat kecerdasan seperti ini, bukankah seharusnya manusia juga memilikinya? (Ya.) Manusia seharusnya memilikinya, dengan kata lain, itu harus menjadi sesuatu yang mereka miliki dalam lingkup nalar mereka. Apa yang dimaksud dengan bersikap sopan? Apa yang dimaksud menjadi orang yang mendidik kerohanian dan tidak dibenci atau ditolak oleh orang lain? Engkau harus memiliki standar ini dalam dirimu. Ini adalah hal yang paling sederhana dalam kehidupan sehari-hari, dan dengan hati nurani dan nalar manusia normal, engkau mampu menangani segala sesuatu secara akurat tanpa perlu mempersekutukan kebenaran seperti membereskan watak rusak atau emosi negatif orang. Tentu saja, jika engkau tinggal di rumahmu sendiri, engkau boleh sedikit berantakan, standarnya tidak terlalu ketat. Namun, jika engkau tinggal bersama dengan saudara-saudari, engkau harus memastikan bahwa kemanusiaanmu yang normal tetap terpelihara dengan baik. Meskipun kita tidak memiliki tuntutan khusus atau standar ketat apa pun dalam hal ini, sebagai manusia normal, engkau seharusnya memahami hal-hal ini. Ini adalah hal-hal yang harus dilakukan dan dimiliki oleh orang-orang yang memiliki kemanusiaan yang normal. Semua ini tidak ada kaitannya dengan pemikiran, pandangan, perspektif, atau sudut pandang tentang cara memandang orang dan hal-hal, berperilaku, dan bertindak, dan hal-hal itu tentu saja tidak ada kaitannya dengan jalan, arah, atau tujuan hidup yang lebih besar. Oleh karena itu, sebaiknya engkau membereskan masalah ini sesuai dengan tuntutan hati nurani dan nalar manusia normal, agar orang lain tidak menggunjingkanmu atau merasa jijik terhadapmu karena hal-hal ini. Mengenai kebiasaan pribadi, hobi, perbedaan kepribadian, atau pilihan mengenai hal-hal yang tidak berkaitan dengan prinsip, hal-hal tersebut tidak ada kaitannya dengan pemikiran dan sudut pandang, engkau bebas memilih dan menjaga tingkah lakumu sendiri. Rumah Tuhan tidak akan ikut campur. Tuhan telah memberi manusia kehendak bebas dan hati nurani serta nalar, sehingga memungkinkan orang untuk memilih minat, hobi dan kebiasaan mereka sendiri, atau gaya hidup yang sesuai dengan kepribadian mereka. Tak seorang pun berhak mengekang, mengikat, atau menyalahkanmu. Mengenai hal-hal yang tidak ada kaitannya dengan prinsip kebenaran atau tuntutan Tuhan dalam firman-Nya, khususnya hal-hal yang tidak ada kaitannya dengan cara memandang orang dan hal-hal, berperilaku, dan bertindak, orang memiliki hak untuk dengan bebas memilih cara hidup mereka sendiri tanpa ada campur tangan dari orang lain. Jika ada pemimpin, ketua kelompok, atau pengawas yang mengkritik atau mencampuri urusan pribadimu, engkau berhak menolaknya. Singkatnya, masalah kemanusiaan yang normal ini tidak ada kaitannya dengan tuntutan firman Tuhan atau prinsip kebenaran. Asalkan engkau merasa nyaman dan pantas, serta perilakumu tidak berdampak atau mengganggu orang lain, itu tidak masalah. Sebagai contoh, jika engkau senang berdandan dan menjaga kebersihan, selama itu tidak mengganggu orang lain, hal itu tidak menjadi masalah. Namun, jika sudah larut malam dan orang lain harus tidur pada pukul sebelas, dan engkau masih mencuci pakaian atau bersih-bersih, itu tidak dapat diterima. Jika engkau berada di rumahmu sendiri dan tidak mengganggu kehidupan orang lain, engkau boleh begadang semalaman sesukamu hingga pukul empat atau lima pagi. Itu adalah kebebasanmu. Namun, karena sekarang engkau tinggal bersama saudara-saudari, tindakanmu akan memengaruhi rutinitas dan jadwal sehari-hari mereka. Itu tidak baik. Dengan melakukannya, engkau sedang tidak menggunakan hak dan kebebasanmu dengan benar; sebaliknya, engkau sedang bersikap keras kepala, yang disebut tidak memiliki kemanusiaan. Demi kebebasanmu sendiri dan untuk memuaskan kesukaan dan keinginan dagingmu sendiri, engkau mengganggu kehidupan orang lain dan bahkan mengorbankan waktu istirahat mereka. Perilaku ini tidak sejalan dengan hati nurani dan nalar manusia normal. Itu harus diubah. Hal ini berkaitan dengan prinsip berperilaku. Ini bukan tentang apakah ada yang salah atau tidak dengan gaya hidup pribadi atau kebiasaan kebersihanmu. Ini adalah mengenai masalah prinsip tentang bagaimana engkau berperilaku. Engkau tidak mempertimbangkan perasaan, suasana hati, atau kepentingan orang lain. Engkau melindungi dan menjaga kepentinganmu sendiri dengan mengorbankan kepentingan orang lain. Perilaku seperti ini tidak sejalan dengan tuntutan Tuhan dalam berperilaku atau dengan prinsip berperilaku yang dituntut Tuhan. Oleh karena itu, setiap kesukaan, minat, pilihan gaya hidup, kebiasaan, kebebasan, hak, dll., dari kemanusiaan yang normal harus tetap berada dalam lingkup hati nurani dan nalar orang agar dapat dianggap sebagai kemanusiaan yang normal. Jika hal-hal tersebut melampaui batas hati nurani dan nalar manusia normal, maka itu bukan kemanusiaan yang normal, bukan? (Ya.) Dalam lingkup hati nurani dan nalar manusia normal, engkau sedang berperilaku seperti orang normal. Jika engkau melampaui lingkup hati nurani dan nalar manusia normal dan tetap mengedepankan kebebasanmu, itu berarti engkau sedang tidak berperilaku seperti orang normal; engkau tak berperikemanusiaan. Ini adalah sesuatu yang harus diubah, dan itu harus jelas. Apa yang harus jelas? Harus jelas bahwa masalah-masalah pribadi ini harus ditangani dalam lingkup hati nurani dan nalar manusia normal, dan ini adalah prinsip berperilaku. Kebiasaan pribadimu, tuntutan, pilihan gaya hidup, dll., semuanya terserah padamu, selama semua itu tidak melampaui lingkup hati nurani dan nalar manusia normal. Tidak ada tuntutan khusus mengenai hal-hal ini.

Dalam pembahasan pertama tentang cara mengejar kebenaran, yaitu "melepaskan", dalam hal melepaskan berbagai emosi negatif, seperti perasaan rendah diri, kebencian, kemarahan, depresi, kesedihan, kekhawatiran, kecemasan, dan perasaan tertekan, semua ini pada dasarnya adalah masalah-masalah utama yang bersifat langsung dan masalah-masalah yang ada kaitannya dengan prinsip-prinsip yang perlu kita persekutukan. Sedangkan untuk masalah-masalah kecil yang sepele yang tidak ada kaitannya dengan prinsip atau arahan, kita barusan telah membahasnya secara menyeluruh. Mengenai keengganan, ketidakpuasan, rasa tidak puas, dan sebagainya, yang kaurasakan terhadap masalah pribadimu, selama hal tersebut tidak ada kaitannya dengan pemikiran dan sudut pandang yang nyata serta tidak berkaitan dengan prinsip-prinsip tentang caramu memandang orang dan hal-hal, atau cara mereka berperilaku dan bertindak, itu adalah urusan pribadimu. Engkau harus menyesuaikan dan membereskannya dalam lingkup hati nurani dan nalarmu. Sebagai contoh, engkau merasa lapar dan sedang tidak ingin memasak, tetapi tubuhmu terlalu lemas untuk bekerja dengan perut kosong, dan ketika engkau memasak, engkau merasa kesal. Engkau mungkin berpikir, "Apakah ini emosi negatif?" Ini bukanlah emosi negatif; ini adalah kemalasan dan ketidaksukaanmu terhadap memasak. Ini adalah masalah dagingmu yang rusak. Jika kondisi keuanganmu memungkinkan, engkau dapat mempekerjakan seseorang untuk membantumu memasak. Jika kondisi keuanganmu tidak memungkinkan, engkau mau tak mau harus mengerjakannya sendiri. Orang lain tidak berkewajiban menyelesaikan masalah hidup ini untukmu; itu adalah tanggung jawabmu sendiri. Tugas sehari-hari ini seperti makan, mengenakan pakaian, menggosok gigi, dan mandi merupakan bagian dari kehidupan manusia. Semua itu melekat pada hidup manusia. Manusia tidak sama dengan kucing dan anjing. Saat engkau mengadopsi anak kucing atau anak anjing, engkau bertanggung jawab atas makanan dan minumannya. Saat dia lapar, engkau harus memberinya makan. Namun, hal ini tidak berlaku bagi manusia; manusia harus mengurus dan mengerjakan sendiri aspek-aspek kehidupan ini. Ini bukanlah sebuah beban; belajar untuk menangani hal-hal ini dengan benar adalah sesuatu yang dapat dikerjakan oleh orang-orang yang memiliki kemanusiaan yang normal. Hanya saja, ada orang-orang yang mungkin merasa belum pernah melakukan hal-hal tersebut sebelumnya, terutama para pria tertentu yang dibantu orang tua atau anggota keluarga mereka agar tetap rapi dan begitu memanjakan mereka hingga tidak pernah belajar memasak, mencuci pakaian, atau mengurus segala sesuatu di rumah mereka sendiri. Hal ini disebabkan oleh lingkungan keluarga. Namun, begitu mereka meninggalkan orang tua mereka dan mulai hidup mandiri, mereka mampu mengerjakan segala sesuatunya seorang diri, termasuk mencuci pakaian dan merapikan tempat tidur mereka. Sebenarnya, tugas-tugas ini adalah hal-hal yang mampu dikerjakan oleh manusia normal. Tugas-tugas tersebut bukanlah tugas yang sulit bagi orang dewasa mana pun, dan tentu saja tidak membuat kewalahan. Masalah-masalah ini dapat dengan mudah diselesaikan. Jika engkau memiliki standar yang lebih tinggi untuk kualitas hidupmu, engkau harus mengerjakan tugas-tugas tersebut dengan lebih baik. Jika engkau tidak terlalu ketat atau memiliki ekspektasi yang lebih rendah terhadap kualitas hidupmu, engkau bisa bersikap lebih santai dalam mengerjakan tugas-tugas tersebut. Semua ini adalah hal-hal yang tidak ada kaitannya dengan prinsip.

Mengenai topik utama pertama tentang cara mengejar kebenaran—melepaskan berbagai emosi negatif—mari kita akhiri persekutuan kita sampai di sini, karena pada dasarnya itu sudah selesai. Selanjutnya, dalam proses mengejar kebenaran, selain melepaskan emosi negatif, orang juga harus melepaskan pengejaran, cita-cita, dan keinginan pribadi. Ini adalah aspek utama kedua dari "melepaskan" dalam penerapan cara mengejar kebenaran, yang akan kita persekutukan hari ini. Tentang perlunya orang melepaskan pengejaran, cita-cita, dan keinginan mereka, apakah engkau memahaminya? (Ya, kami memahaminya.) Aku barusan menyebutkan target-target dari penerapan "melepaskan" secara spesifik ini, dan engkau semua juga telah mencatatnya. Sekarang, mari kita meninjau topik tersebut: apa yang terlintas dalam benakmu ketika kita berbicara tentang perlunya orang melepaskan pengejaran, cita-cita, dan keinginan mereka? Contoh apa yang dapat engkau semua pikirkan? (Aku bisa memikirkan cita-cita yang orang miliki, yang telah Tuhan persekutukan sebelumnya, seperti orang-orang dengan bakat tertentu, seperti berakting, bercita-cita menjadi selebritas atau orang terkenal. Orang lain yang memiliki kemampuan di bidang tulis-menulis dan sedikit bakat kesusastraan mungkin berkeinginan untuk melaksanakan tugas tulis-menulis di rumah Tuhan dan menjadi penulis. Ini adalah beberapa cita-cita yang muncul dalam diri orang.) Ada lagi? (Orang-orang mengejar kesuksesan serta masa depan dan harapan mereka sendiri, serta berkeinginan untuk menerima berkat.) Pikirkan lebih lanjut, apa lagi? Apa yang harus ditekankan di sini? Yang harus ditekankan adalah tentang pengejaran, cita-cita, dan keinginan yang harus orang lepaskan. Selain keinginan dan harapan orang yang berlebihan terhadap masa depan dan nasib mereka, dalam konteks kehidupan nyata orang, dalam keadaan-keadaan yang diperlukan untuk kelangsungan hidup manusia, apa lagi yang termasuk dalam pengejaran, cita-cita, dan keinginan yang harus orang lepaskan? Hal-hal penting apa sajakah dalam hidup yang dapat memengaruhi imanmu kepada Tuhan dan pengejaranmu akan kebenaran? (Ketika orang telah mencapai usia ideal untuk menikah, mereka mungkin akan menghadapi kendala dalam pernikahan. Selain itu, ketika karier orang bertentangan dengan imannya kepada Tuhan, mungkin dia akan memilih untuk mengejar kariernya sendiri. Ini adalah dua aspek yang juga harus dilepaskan.) Benar. Imanmu kepada Tuhan selama beberapa tahun terakhir telah membuahkan hasil dan pengalaman untukmu. Engkau telah dengan tepat menyebutkan dua aspek penting, yaitu pernikahan dan karier. Kedua hal utama ini merupakan salah satu persoalan yang berkaitan dengan urusan seumur hidup dalam perjalanan hidup manusia. Pernikahan merupakan suatu hal yang sangat penting bagi setiap orang, dan karier orang juga menjadi suatu kekhawatiran besar yang tidak dapat dihindari. Apakah ada hal utama selain kedua hal tersebut? (Ada juga aspek dalam hal berurusan dengan keluarga, orang tua, dan anak-anak. Ketika hal-hal ini bertentangan dengan iman kepada Tuhan dan pengejaran akan kebenaran, akan sulit bagi orang untuk melepaskannya.) Ketika engkau semua membuat ringkasan, engkau tidak boleh menggunakan kalimat yang panjang seperti itu. Sebelumnya, kita menyebutkan pernikahan dan karier. Jadi, apa seharusnya topik yang tepat untuk hal-hal ini? (Keluarga.) Benar, keluarga juga merupakan aspek utama. Apakah ini melibatkan setiap orang? (Ya.) Ini melibatkan setiap orang, dan ini cukup spesifik dan representatif. Pernikahan, keluarga, dan karier merupakan topik-topik utama yang ada kaitannya dengan tema utama tentang pengejaran, cita-cita, dan keinginan orang. Seluruhnya ada empat topik utama yang berkaitan dengan perlunya orang melepaskan pengejaran, cita-cita, dan keinginan mereka. Engkau semua telah mengidentifikasi tiga di antaranya dengan benar, dan itu bagus. Tampaknya topik ini memerlukan persekutuan yang terperinci, ini adalah topik yang sudah ada dalam pikiranmu, dan ini agak erat kaitannya dengan kehidupanmu atau tingkat pertumbuhan dan pengalamanmu. Ada satu topik lagi yang sebenarnya cukup sederhana. Apakah itu? Itu adalah minat dan hobi orang. Bukankah itu sederhana? (Ya.) Mengapa Kukatakan minat dan hobi orang? Perhatikan topiknya lebih saksama dan lihatlah apakah minat dan hobi ada kaitannya dengan pengejaran, cita-cita, dan keinginan orang yang perlu kita bahas. (Ya.) Apakah pernikahan ada kaitannya dengan hal-hal tersebut? (Ya.) Apakah keluarga ada kaitannya dengan hal-hal tersebut? (Ya.) Apakah karier ada kaitannya dengan hal-hal tersebut? Karier juga. Keempat aspek tersebut masing-masing ada kaitannya dengan pengejaran, cita-cita, dan keinginan orang. Setiap aspek melibatkan imajinasi dan tuntutan spesifik tentang hal itu di lubuk hati mereka, dan hal-hal yang orang ingin peroleh dalam daging dan perasaan mereka. Setiap aspek memiliki unsur-unsur spesifik dan tujuan yang nyata, dan juga melibatkan upaya yang orang lakukan dan harga yang harus mereka bayar untuk hal-hal tersebut. Setiap aspek melibatkan dan memengaruhi pemikiran serta pandangan orang sepanjang hidup mereka dan dapat memengaruhi pengejaran mereka untuk mencapai tujuan yang benar. Tentu saja, hal ini juga memengaruhi cara mereka memandang orang dan hal-hal serta cara mereka berperilaku dan bertindak. Jika Aku berbicara secara umum, engkau semua mungkin akan merasa tidak jelas dan sulit untuk memahaminya. Jadi, mari kita persekutukan tentang setiap aspek satu per satu, memeriksanya dengan saksama, dan engkau semua mungkin secara berangsur akan memperoleh pemahaman yang jelas tentang masalahnya. Begitu aspek-aspek tersebut menjadi jelas, orang dapat mencari di sini prinsip-prinsip yang harus mereka terapkan dan patuhi.

Pertama, mari kita membahas tentang minat dan hobi. Minat dan hobi tentu saja tidak ada kaitannya dengan apa yang terkadang orang lakukan untuk bersenang-senang, ataupun berkaitan dengan hobi sesaat atau minat belajar mereka. Minat dan hobi tidak ada kaitannya dengan hal-hal yang bersifat sesaat. Di sini, minat dan hobi mengacu pada kerinduan dan pengejaran sejati yang ada dalam hati orang dan di kedalaman jiwa mereka. Mereka bahkan akan mengambil tindakan dan membuat rencana untuk hal-hal tersebut, dan terlebih lagi, mereka akan melakukan upaya nyata dan berusaha untuk memuaskan atau mengembangkan lebih lanjut minat dan hobi tersebut, atau agar dapat melakukan pekerjaan yang selaras dengan minat dan hobi mereka sendiri. Dalam konteks ini, minat dan hobi menyiratkan bahwa orang telah menetapkan tujuan dan cita-cita, bahkan telah membayar harga, mengerahkan tenaga, atau mengambil tindakan tertentu. Sebagai contoh, mereka telah mempelajari ilmu yang relevan demi minat dan hobi mereka, menghabiskan sebagian besar kehidupan sehari-hari mereka untuk mempelajari ilmu tersebut, dan memperoleh pengalaman nyata serta pengetahuan langsung atas ilmu tersebut. Sebagai contoh, ada orang-orang yang mempunyai minat dan hobi melukis, dan lukisan-lukisan tersebut tidak sesederhana menggambar wajah orang atau pemandangan. Ini melebihi minat dan hobi sederhana seperti itu. Mereka mempelajari berbagai teknik melukis, seperti membuat sketsa, melukis pemandangan alam dan wajah orang, bahkan ada yang belajar cara melukis dengan cat minyak dan tinta. Alasan mereka belajar seperti ini bukan semata-mata timbul dari minat dan hobi mereka, melainkan dari cita-cita yang telah mereka miliki dan tetapkan, serta keinginan yang mereka miliki, karena minat mereka dalam seni lukis. Mereka bahkan ingin mencurahkan seluruh tenaga mereka untuk melukis, menjadi pelukis ulung, dan menekuni seni lukis sebagai sebuah profesi. Sebelum menekuni profesi ini, orang memerlukan persiapan dan perencanaan yang matang, misalnya antara lain, mengikuti sekolah khusus untuk pendidikan dan pelatihan lebih lanjut, mempelajari berbagai aspek seni lukis, membuat sketsa di tempat, mencari bimbingan dari para ahli dan seniman ulung, serta mengikuti lomba. Semua aktivitas ini berkisar pada pengejaran, cita-cita, dan keinginan mereka. Tentu saja, semua pengejaran, cita-cita, dan keinginan tersebut didasarkan pada minat dan hobi mereka. Karena minat dan hobi inilah mereka telah memiliki pengejaran, cita-cita, dan keinginan hidup mereka. Ada orang-orang yang memiliki minat yang kuat untuk mempelajari sejarah, termasuk sejarah kuno dan modern, sejarah dalam negeri dan luar negeri. Ketika minat mereka makin kuat, mereka mulai memandang diri mereka sebagai orang dengan bakat di bidang tersebut, dan mereka merasa terdorong untuk mengejar karier yang berkaitan dengan bidang tersebut. Mereka terus belajar dan melanjutkan pendidikan mereka. Selama proses tersebut, tentu saja pengejaran, cita-cita, dan keinginan mereka terus terbentuk dan menguat, dan pada akhirnya mereka bercita-cita untuk menjadi sejarawan. Sebelum menjadi sejarawan, sebagian besar waktu dan tenaga mereka berkisar pada minat dan hobi tersebut. Ada juga orang-orang yang memiliki ketertarikan khusus pada bidang ekonomi, dan senang bekerja dengan angka-angka serta mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan bidang ekonomi. Mereka berharap bahwa suatu hari mereka dapat menjadi tokoh yang terkenal atau sukses di industri keuangan. Singkatnya, mereka juga mengembangkan suatu pengejaran berdasarkan minat dan hobi mereka, serta mengembangkan cita-cita dan keinginan yang berkaitan dengan minat dan hobi tersebut. Pada saat yang sama, mereka juga menginvestasikan waktu mereka, mengambil tindakan, membayar harga, dan mengerahkan tenaga untuk belajar, meneliti, melanjutkan pendidikan, dan memperoleh pengetahuan yang menyeluruh terkait minat dan hobi mereka. Ada orang-orang lainnya yang memiliki minat terhadap seni, seperti seni pertunjukan, seni tari, menyanyi, atau penyutradaraan. Setelah mengembangkan minat dan hobi seperti itu, di bawah dorongan minat dan hobi tersebut, cita-cita dan keinginan mereka secara berangsur mulai terbentuk dan menguat. Saat cita-cita dan keinginan mereka secara berangsur menjadi tujuan hidup mereka, mereka juga mencurahkan upaya, jerih payah, dan tindakan mereka untuk mengejar tujuan tersebut. Ada orang-orang yang gemar bekerja di bidang pendidikan. Mereka mempelajari berbagai aspek pendidikan, seperti psikologi dan ilmu terkait lainnya, untuk mengejar karier yang sesuai dengan minat dan hobi mereka. Ada orang-orang yang menyukai ilmu desain, ilmu teknik, bidang teknologi, elektronik, atau meneliti serangga, mikroorganisme, dan berbagai perilaku dan pola kelangsungan hidup berbagai binatang, serta asal-usul mereka, dan masih banyak lagi. Ada orang-orang yang menyukai pekerjaan yang berhubungan dengan media dan bercita-cita untuk bekerja di industri media sebagai pembawa acara, pembaca berita, reporter, dan sebagainya. Didorong oleh beragam minat dan hobi mereka, orang-orang terus belajar serta mengeksplorasi secara mendalam, dan secara berangsur mendapatkan pemahaman. Pengejaran, cita-cita, dan keinginan mereka makin dalam di hati mereka dan terus terbentuk. Tentu saja, selama proses pengejaran, cita-cita, dan keinginan mereka secara berangsur mulai terbentuk, orang juga berusaha dan bergerak maju menuju cita-cita dan keinginan mereka. Dalam setiap tindakan spesifik yang mereka ambil, mereka menginvestasikan tenaga, waktu, masa muda, dan bahkan emosi serta upaya mereka ke dalam hal-hal ini.

Apa pun bidang, industri, atau kategori minat dan hobi orang, begitu mereka memulai pengejaran dan menetapkan cita-cita serta keinginan yang sesuai, tujuan dan arah hidup mereka juga menjadi jelas. Ketika cita-cita dan keinginan orang menjadi tujuan hidup mereka, jalan masa depan mereka di dunia ini pada dasarnya sudah ditentukan. Mengapa Kukatakan sudah ditentukan? Masalah apa yang sedang dibahas di sini? Artinya, ketika engkau sudah menentukan cita-cita dan keinginan yang timbul dari minat dan hobimu, engkau juga harus berusaha keras dan berjuang ke arah itu, bahkan sampai memiliki semangat dan pola pikir yang kukuh dan teguh, bersedia mengerahkan tenaga, mencurahkan waktu, dan membayar harga seumur hidup. Hidup, nasib, masa depan, dan bahkan tempat tujuan akhirmu pasti akan dipengaruhi oleh, atau terikat dengan, tujuan hidup yang telah kautetapkan. Apa hal utama yang ingin Kutekankan di sini? Begitu seseorang menetapkan pengejaran, cita-cita, dan keinginan mereka berdasarkan minat atau hobi tertentu, mereka tidak akan lagi bermalas-malasan dan tidak melakukan apa pun. Karena minat dan hobi yang spesifik ini, mereka akan mulai mengambil tindakan yang nyata. Demikian juga halnya, di bawah bimbingan tindakan spesifik ini, engkau akan menetapkan cita-cita dan keinginanmu. Sejak saat itu, engkau akan terus bergerak, dan kakimu tidak akan diam saja. Engkau ditakdirkan untuk menjalani hidupmu untuk cita-cita dan keinginanmu. Engkau tidak akan pernah puas hanya dengan memperoleh sedikit pengetahuan dan selesai sampai di situ. Karena engkau memiliki bakat seperti itu, dan memiliki potensi serta karunia seperti itu, engkau pasti akan mencari jabatan yang cocok untukmu, atau engkau akan melakukan upaya tanpa henti untuk terlihat menonjol dan menjadi luar biasa di dunia ini dan di tengah orang banyak, tanpa penyesalan sedikit pun. Engkau akan mengejar cita-cita dan keinginanmu dengan keyakinan yang teguh bahwa engkau akan berhasil, bahkan engkau bersedia membayar berapa pun harganya, dan menghadapi kesulitan, bahaya, serta penderitaan apa pun agar dapat mewujudkannya. Mengapa orang mampu melakukan hal ini? Mengapa mereka bisa berperilaku seperti itu setelah memiliki cita-cita dan keinginan berdasarkan minat dan hobi mereka? (Mereka berperilaku seperti itu untuk mewujudkan cita-cita mereka, untuk mengejar hal-hal yang lebih tinggi, dan untuk menjadi lebih baik daripada orang lain. Karena itu, mereka tidak mundur ketika menghadapi kesulitan apa pun, tetapi terus mengejar cita-cita dan keinginan mereka.) Ada naluri bawaan dalam diri orang. Jika mereka tidak pernah mengetahui apa kelebihan mereka, apa minat dan hobi mereka, mereka merasa tidak mempunyai tempat di tengah masyarakat, tidak mampu mewujudkan nilai diri mereka sendiri, dan merasa tidak berharga. Mereka tidak mampu menunjukkan nilai diri mereka. Namun, begitu orang menemukan minat dan hobi mereka, mereka akan mengubah minat dan hobi mereka tersebut menjadi jembatan atau batu loncatan untuk mewujudkan keberhargaan diri mereka. Mereka bersedia membayar harga untuk mengejar cita-cita mereka, untuk menjalani kehidupan yang lebih berharga, untuk menjadi orang yang berguna, untuk menjadi yang paling menonjol dan dilihat orang, untuk dikagumi dan diakui, dan untuk menjadi orang yang luar biasa. Dengan cara seperti ini, mereka dapat menjalani kehidupan yang memuaskan, memiliki karier yang sukses di dunia ini, dan cita-cita serta keinginan mereka terpenuhi, dan dengan demikian menjalani kehidupan yang berharga. Jika melihat sekeliling di antara orang banyak, hanya ada sedikit orang yang terlahir dengan bakat seperti mereka, yang telah menetapkan cita-cita serta keinginan yang tinggi, dan yang pada akhirnya mewujudkan cita-cita dan keinginan ini melalui upaya tanpa henti. Mereka telah membangun karier dengan melakukan apa yang mereka sukai, memperoleh ketenaran, keuntungan, dan gengsi yang mereka inginkan, menunjukkan nilai diri mereka, dan mewujudkan keberhargaan diri mereka. Inilah pengejaran orang. Setiap orang, didorong oleh minat dan hobi mereka yang unik, memiliki pengejaran, cita-cita, dan keinginan mereka masing-masing. Tentu saja, setelah menetapkan pengejaran, cita-cita, dan keinginan mereka sendiri, mereka mungkin tidak mampu mewujudkan cita-cita dan keinginan tersebut. Namun, setelah orang menetapkan cita-cita dan keinginan mereka, setelah mereka memiliki pengejaran tersebut, mereka pasti tidak akan membiarkan diri mereka tetap menjadi orang biasa. Sebagaimana kata pepatah, semua orang suka memamerkan keahlian mereka, mereka ingin orang lain menganggap diri mereka unik. Tak seorang pun mau menjadi orang biasa yang berkata, "Seperti inilah hidupku kelak. Aku bisa menjadi penggembala ternak, petani, tukang batu biasa, atau petugas kebersihan. Aku bahkan bisa menjadi kurir atau pengantar makanan." Tak seorang pun memiliki cita-cita seperti itu. Misalnya engkau berkata, "Apakah menjadi kurir yang bahagia itu adalah sejenis cita-cita?" Semua orang akan menjawab, "Tidak, itu sama sekali bukan cita-cita! Menjadi pemilik perusahaan pengiriman, bos yang terkenal di dunia, itulah cita-cita dan keinginan!" Tak seorang pun mau menerima perannya sebagai orang biasa. Begitu orang memiliki sedikit saja minat atau hobi, jika ada peluang satu berbanding sejuta untuk menjadi tokoh terkemuka di tengah masyarakat atau menjadi orang yang cukup sukses, mereka tidak akan menyerah. Mereka akan mengerahkan upaya 120 persen dan membayar berapa pun harganya, bukan? (Ya.) Orang tidak pernah menyerah.

Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.

Hubungi kami via WhatsApp