Cara Mengejar Kebenaran (15) Bagian Empat
Ada orang-orang yang berkata, "Jika tradisi dan takhayul ini termasuk dalam pemikiran tradisional dan takhayul tertentu di luar Kekristenan, kita harus mengkritik dan melepaskannya. Sedangkan mengenai pemikiran, sudut pandang, tradisi, atau takhayul yang berasal dari agama-agama ortodoks, bukankah orang tidak perlu melepaskannya? Bukankah kita boleh menganggapnya sebagai hari raya atau gaya hidup untuk diperingati dan dipatuhi dalam kehidupan kita sehari-hari?" (Tidak, kita harus melepaskan keduanya karena semua itu bukan berasal dari Tuhan.) Sebagai contoh, hari raya terbesar yang berasal dari Kekristenan adalah Natal. Apakah engkau semua tahu mengenai hari raya ini? Sekarang ini, beberapa kota besar di dunia Timur juga merayakan Natal, merencanakan pesta Natal, dan merayakan Malam Natal. Selain Natal, juga ada Paskah dan Hari Raya Roti Tak Beragi, yang keduanya merupakan hari raya besar keagamaan. Ada hari raya yang berkaitan dengan makan daging ayam kalkun dan barbeku, ada yang berkaitan dengan makan permen berbentuk tongkat berwarna merah putih, yang melambangkan darah Tuhan Yesus yang berharga sebagai korban penghapus dosa bagi manusia, dan yang menyucikan manusia. Warna merah melambangkan darah Tuhan Yesus yang berharga, warna putih melambangkan kekudusan, dan orang memakan permen jenis ini. Ada juga tradisi memakan telur Paskah pada hari raya Paskah. Semua hari raya ini berkaitan dengan Kekristenan. Ada juga benda-benda Kristen tertentu, seperti patung Maria, patung Yesus, dan salib. Hal-hal ini berkembang dari Kekristenan, dan menurut-Ku, hal-hal ini juga merupakan semacam tradisi. Di balik tradisi-tradisi ini, tentunya terdapat beberapa hal yang ada kaitannya dengan takhayul. Apa pun isi dari perkataan takhayul ini, singkatnya, selama itu tidak ada kaitannya dengan kebenaran, dengan jalan yang orang tempuh, atau dengan tuntutan Tuhan terhadap makhluk ciptaan, semua itu tidak ada kaitannya dengan apa yang harus kaumasuki sekarang ini dan engkau semua harus melepaskannya. Hal-hal tersebut tidak boleh kauanggap suci dan tidak dapat dilanggar, dan tentu saja tidak perlu juga bagimu untuk membenci hal-hal tersebut. Perlakukan saja hal-hal tersebut dengan cara yang benar. Apakah hari-hari raya ini ada hubungannya dengan kita? (Tidak.) Semua itu tidak ada hubungannya dengan kita. Suatu hari, ada seorang asing bertanya kepada-Ku, "Apakah kalian merayakan Natal?" Kujawab, "Tidak." "Lalu, apakah kalian merayakan Tahun Baru Imlek? Festival Musim Semi?" Kujawab, "Tidak." "Lalu, hari raya apa yang kalian rayakan?" Kukatakan, "Kami tidak memiliki hari raya. Setiap hari adalah sama bagi kami. Kami makan apa pun yang kami inginkan pada hari apa pun, bukan karena hari raya. Aku tidak memiliki tradisi." Dia bertanya, "Mengapa?" Kujawab, "Tidak ada alasannya. Cara hidup seperti ini sangat bebas, tanpa ada kekangan apa pun. Kami hidup tanpa formalitas apa pun, hanya mengikuti peraturan, makan, beristirahat, bekerja, dan bergerak sesuai dengan waktu dan cara yang Tuhan berikan, secara alami dan bebas, tanpa formalitas apa pun." Tentu saja, mengenai benda keagamaan khusus, yakni salib, ada orang-orang yang yakin bahwa salib adalah benda yang sakral. Apakah salib itu sakral? Bolehkah salib dianggap sakral? Apakah gambar Maria itu sakral? (Tidak.) Apakah gambar Yesus itu sakral? Engkau semua tidak terlalu berani menjawabnya. Mengapa gambar Yesus tidak sakral? Karena itu digambar oleh manusia, bukan gambar Tuhan yang sebenarnya dan tidak ada hubungannya dengan Tuhan. Itu hanyalah lukisan. Belum lagi gambar Maria. Tak seorang pun tahu seperti apa rupa Yesus, jadi mereka membuat gambar diri-Nya secara membabi buta, dan setelah gambarnya selesai, mereka memintamu untuk menghadap dan menyembah gambar tersebut. Bukankah engkau bodoh jika menyembah gambar itu? Tuhanlah yang harus kausembah. Engkau tidak boleh dengan sikap resmi menundukkan kepalamu untuk menyembah benda, potret, atau gambar tertentu; ini bukanlah tentang menundukkan kepala di depan sebuah benda. Engkau harus menyembah Tuhan dan berharap kepada-Nya di dalam hatimu. Manusia harus bersujud di hadapan firman Tuhan dan pribadi-Nya yang sebenarnya, bukan bersujud di hadapan salib atau gambar Maria atau Yesus, yang semuanya merupakan berhala. Salib hanyalah lambang dari langkah kedua dalam pekerjaan Tuhan. Itu tidak ada kaitannya dengan watak, esensi dan tuntutan Tuhan terhadap manusia. Salib tidak merepresentasikan gambar Tuhan, apalagi esensi diri-Nya. Oleh karena itu, mengenakan kalung salib tidak merepresentasikan rasa takutmu akan Tuhan, atau bahwa engkau memiliki jimat perlindungan. Aku tidak pernah merepresentasikan salib. Aku tidak memiliki lambang salib di rumah-Ku, tidak ada benda-benda seperti ini. Jadi, mengenai tidak merayakan Natal dan Paskah, orang mungkin dengan mudahnya melepaskan hal-hal ini, tetapi jika itu berkaitan dengan aspek keagamaan seperti salib, patung Maria dan patung Yesus, atau bahkan Alkitab, jika engkau menyuruh mereka untuk membuang salib atau patung Maria atau patung Yesus, mereka akan berpikir, "Wah, itu benar-benar tidak sopan, sangat tidak sopan. Ayo cepat, minta ampun, minta ampun kepada Tuhan ...." Orang merasa akan ada akibatnya. Tentu saja, engkau tidak perlu dengan sengaja melakukan apa pun untuk merusak benda-benda ini, dan engkau juga tidak perlu menghormati benda-benda ini. Semua ini hanyalah benda dan tidak ada kaitannya dengan esensi atau identitas Tuhan. Ini adalah sesuatu yang harus kauketahui. Tentu saja, mengenai hari raya Natal dan Paskah yang ditetapkan oleh manusia, ini tidak ada kaitannya dengan identitas atau esensi Tuhan, pekerjaan-Nya, atau tuntutan-Nya terhadap manusia. Sekalipun engkau merayakan Natal seratus atau sepuluh ribu kali, sekalipun engkau sudah sering merayakan Natal atau Paskah selama berkali-kali masa hidupmu, ini bukanlah pengganti memahami kebenaran. Engkau tidak perlu mengagumi hal-hal ini dan berkata, "Aku harus melakukan perjalanan ke dunia Barat. Di dunia Barat aku dapat merayakan Natal. Natal itu sakral. Natal adalah hari untuk memperingati pekerjaan Tuhan. Natal juga merupakan hari yang harus kita peringati. Kita harus merayakannya dengan khusyuk pada hari itu. Paskah terlebih lagi adalah hari yang menarik perhatian semua orang. Itu adalah hari untuk merayakan kebangkitan Tuhan yang berinkarnasi dari kematian. Kita harus bersukacita bersama, merayakan dan saling memberi selamat pada hari itu, memperingati hari ini untuk selamanya." Semua ini adalah imajinasi manusia, Tuhan tidak membutuhkannya. Jika Tuhan membutuhkan manusia untuk memperingati hari-hari ini, Dia akan memberitahumu tahun, bulan, hari, jam, menit, dan detik yang tepat. Jika Dia tidak pernah memberitahumu tahun, bulan, dan hari yang tepat, ini menyampaikan kepadamu bahwa Tuhan tidak membutuhkan manusia untuk merayakan hari-hari ini. Jika engkau memperingati hari-hari ini, engkau akan melanggar larangan Tuhan dan Dia tidak akan menyukainya. Tuhan tidak menyukainya tetapi engkau bersikeras untuk melakukannya, dan mengeklaim bahwa engkau sedang menyembah Tuhan. Dengan demikian, Tuhan menjadi makin muak terhadapmu, dan engkau pantas mati. Mengertikah engkau? (Aku mengerti.) Jika engkau ingin merayakan hari-hari raya ini sekarang, Tuhan tidak akan memberimu perhatian, dan cepat atau lambat engkau akan menanggung akibatnya dan memikul tanggung jawab atas tindakanmu yang keliru. Oleh karena itu, Kuberitahukan kepadamu, adalah lebih penting bagimu untuk benar-benar memahami salah satu firman Tuhan dan mengikuti firman-Nya daripada bersujud dan menundukkan kepalamu sebanyak apa pun di depan salib. Berapa kali pun engkau melakukannya, itu tidak ada gunanya dan tidak berarti engkau sedang mengikuti jalan Tuhan, menerima firman-Nya, atau melakukan segala sesuatu berdasarkan prinsip yang Dia tuntut terhadapmu. Tuhan tidak akan mengingatnya. Jadi, jika engkau merasa bahwa salib itu sangatlah sakral, mulai hari ini dan seterusnya, engkau harus melepaskan pemikiran dan sudut pandang ini dan melemparkan salib kesayanganmu itu dari lubuk hatimu. Salib tidak merepresentasikan Tuhan, dan menyembahnya bukan berarti engkau setia. Menghargai, menyayangi, atau bahkan memikulnya di pundakmu sepanjang hari tidak berarti bahwa engkau sedang menyembah Tuhan. Salib hanyalah alat yang digunakan dalam salah satu langkah pekerjaan Tuhan, dan itu tidak ada kaitanya dengan esensi, watak, atau identitas Tuhan. Jika engkau bersikeras menyembah salib seolah-olah itu adalah Tuhan, ini adalah hal yang Tuhan benci. Engkau bukan saja tidak akan menerima peringatan Tuhan, tetapi engkau juga akan dibenci dan ditolak oleh-Nya. Jika engkau bersikeras dan berkata, "Aku tidak akan mendengarkan-Mu. Salib itu sakral dan tidak bisa diganggu gugat di mataku. Aku tidak percaya dan tidak menerima firman-Mu bahwa salib itu tidak penting dan tidak merepresentasikan Tuhan," berarti engkau sedang berbuat sekehendak hatimu dan lihat saja apa akibat yang akan kauterima pada akhirnya. Tuhan sudah sejak lama turun dari salib. Salib adalah alat yang paling menonjol yang digunakan dalam salah satu pekerjaan Tuhan. Salib hanyalah benda dan di mata Tuhan, salib tidak ada gunanya untuk disimpan. Tentu saja, tidak ada gunanya bagimu untuk menghargai, mencintai, atau bahkan berharap kepadanya atau menghormatinya. Semua ini tidak perlu. Alkitab juga sangat dihargai di hati manusia. Walaupun mereka tidak lagi membacanya, Alkitab masih memegang tempat yang pasti di hati mereka. Mereka masih belum dapat sepenuhnya melepaskan pandangan mereka mengenai Alkitab yang telah diwariskan oleh keluarga atau leluhur mereka. Sebagai contoh, terkadang saat engkau mengesampingkan Alkitab, engkau mungkin berpikir, "Oh, apa yang sedang kulakukan? Itu adalah Alkitab. Orang harus menghargainya! Alkitab itu sakral dan tidak boleh diperlakukan begitu saja seolah-olah itu hanyalah buku biasa. Alkitab itu sudah begitu berdebu dan tak seorang pun mau repot-repot membersihkannya. Sudut-sudutnya sudah penuh lipatan dan tak seorang pun merapikannya." Manusia harus melepaskan pemikiran dan sudut pandang seperti ini dalam memperlakukan Alkitab seolah-olah itu adalah sesuatu yang sakral dan tidak boleh dilanggar.
Tradisi dan takhayul dari keluarga yang baru saja kita bahas, serta berbagai pemikiran, sudut pandang, dan gaya hidup yang berkaitan dengan agama, serta benda-benda yang bersifat takhayul, atau yang orang kagumi atau hargai, semuanya mengindoktrinasikan dalam diri manusia gaya hidup, pemikiran, dan sudut pandang keliru tertentu dan secara tak kasatmata telah menyesatkan mereka dalam kehidupan, penghidupan, dan cara mereka mempertahankan kelangsungan hidup mereka. Dalam kehidupan sehari-hari, penyesatan yang diakibatkannya tanpa disadari akan mengacaukan orang dalam upaya mereka menerima hal-hal yang benar, pemikiran yang positif, dan hal-hal yang positif, dan mereka kemudian tanpa sadar akan melakukan hal-hal tertentu yang bodoh, tidak rasional dan kekanak-kanakan. Justru karena ini, sangatlah perlu bagi orang-orang untuk memiliki pandangan yang akurat, pemikiran dan sudut pandang yang akurat mengenai hal-hal ini. Jika sesuatu berkaitan dengan kebenaran dan sesuai dengan kebenaran, engkau harus menerima, menerapkan, dan dengan tunduk menerimanya sebagai prinsip yang harus kauikuti untuk kehidupan dan kelangsungan hidupmu. Sedangkan, jika sesuatu tidak ada kaitannya dengan kebenaran dan hanya merupakan tradisi atau takhayul, atau hanya berasal dari agama, engkau harus melepaskannya. Terakhir, topik bahasan yang kita persekutukan hari ini memiliki keistimewaan karena hal-hal ini berkaitan dengan tradisi, takhayul, dan agama, entah engkau mengakuinya atau tidak, pernah mengalaminya atau tidak, sebesar apa pun pengakuanmu akan hal ini, singkatnya, ada pernyataan tertentu dalam tradisi dan takhayul yang berkaitan dengan fakta objektif dan, hingga taraf tertentu, memengaruhi dan mengganggu manusia dalam kehidupan mereka sehari-hari. Jadi, bagaimana seharusnya engkau semua memandang hal ini? Ada orang-orang yang berkata, "Kau harus memercayainya. Jika kau tidak mengikuti apa yang dikatakannya, akan ada akibatnya. Lalu, apa yang akan kaulakukan?" Tahukah engkau apa perbedaan terbesar antara orang percaya dan pengikut yang bukan orang percaya? (Perbedaan terbesar adalah orang percaya yakin bahwa segala sesuatu berada di tangan Tuhan, sedangkan pengikut yang bukan orang percaya selalu berusaha mengubah nasib mereka sendiri.) Perbedaan lainnya adalah orang percaya memiliki hadirat dan perlindungan Tuhan, sehingga berbagai fenomena takhayul yang ada dalam kehidupan nyata tidak akan memengaruhi mereka. Sedangkan pengikut yang bukan orang percaya, karena mereka tidak memiliki perlindungan Tuhan dan tidak percaya akan perlindungan maupun kedaulatan-Nya, mereka dikendalikan oleh berbagai setan najis dan roh-roh jahat dalam kehidupan mereka sehari-hari. Oleh karenanya, mereka merasa harus memperhatikan pantangan dalam semua yang mereka lakukan. Berasal dari manakah pantangan tersebut? Apakah berasal dari Tuhan? (Tidak.) Mengapa hal-hal ini harus menjadi pantangan bagi mereka? Bagaimana mereka tahu bahwa mereka harus menaati pantangan-pantangan tersebut? Penyebabnya adalah karena ada orang-orang tertentu yang pernah mengalami hal-hal ini, pernah memperoleh pengalaman dan pelajaran tertentu darinya, dan mereka kemudian menyebarkannya ke tengah masyarakat. Pengalaman dan pelajaran ini kemudian disebarkan secara luas, menciptakan semacam tren di kalangan masyarakat, dan semua orang mulai hidup dan bertindak sesuai dengan hal tersebut. Bagaimana tren tersebut muncul? Jika engkau tidak mengikuti aturan yang ditetapkan oleh roh-roh jahat dan setan-setan najis tersebut, semua itu akan mengganggumu, mengacaukanmu, dan merusak kehidupan normalmu, sehingga engkau terpaksa percaya akan keberadaan pantangan-pantangan ini dan merasa akan ada akibatnya jika engkau melanggarnya. Selama ribuan tahun, orang telah mengumpulkan pengalaman ini dalam kehidupan mereka sehari-hari, mewariskannya dari satu generasi ke generasi selanjutnya, dan mereka mengetahui bahwa ada kekuatan tak kasatmata yang mengendalikan mereka di balik semua itu, dan mereka harus mendengarkannya. Sebagai contoh, jika engkau tidak menyalakan petasan selama Tahun Baru Imlek, bisnismu tidak akan berjalan dengan lancar pada tahun ini. Contoh lainnya, jika engkau menyalakan dupa pertama pada Tahun Baru, segala sesuatunya akan berjalan dengan lancar sepanjang tahun. Pengalaman ini memberitahu orang-orang bahwa mereka harus memercayai takhayul dan perkataan yang berasal dari budaya masyarakat, dan dari generasi ke generasi, orang hidup berdasarkan hal ini. Apa yang fenomena ini ajarkan kepada orang-orang? Orang diajarkan bahwa larangan dan pantangan ini semuanya adalah pengalaman yang telah orang kumpulkan selama hidup mereka dari waktu ke waktu, dan bahwa semua itu adalah hal-hal yang harus orang lakukan, hal-hal yang harus mereka lakukan karena ada kekuatan tak kasatmata tertentu yang mengendalikan segala sesuatunya di balik layar. Pada akhirnya, dari generasi ke generasi, orang mengikuti aturan-aturan ini. Orang-orang yang tidak percaya kepada Tuhan pasti mengikuti takhayul dan tradisi ini agar dapat hidup relatif lancar di tengah kelompok sosial. Mereka hidup untuk mencari kedamaian, ketenangan, dan kebahagiaan. Lalu, mengapa orang-orang yang percaya kepada Tuhan tidak perlu mengikuti takhayul dan tradisi tersebut? (Karena mereka dilindungi oleh Tuhan.) Mereka dilindungi oleh Tuhan. Orang-orang yang percaya kepada Tuhan mengikuti Dia, dan Tuhan membawa orang-orang ini ke dalam hadirat-Nya dan ke dalam rumah-Nya. Tanpa seizin Tuhan, Iblis tidak berani menyakitimu. Sekalipun engkau tidak menaati aturan Iblis, dia tidak akan berani menyentuhmu. Sedangkan, bagi mereka yang tidak percaya kepada Tuhan dan tidak mengikuti-Nya, Iblis dapat memanipulasi mereka sekehendak hatinya. Cara Iblis memanipulasi manusia adalah dengan menetapkan berbagai perkataan dan aturan aneh untuk kauikuti. Jika engkau tidak mengikutinya, dia akan menghukummu. Sebagai contoh, jika engkau tidak menyembah dewa dapur pada tanggal 23 bulan dua belas tahun lunar, bukankah akan ada akibatnya? (Ya.) Akan ada akibatnya, dan orang-orang tidak percaya tidak berani melewatkan ritual ini. Pada hari itu, mereka juga harus makan permen wijen untuk menutup mulut dewa dapur agar tidak bisa membicarakan tentang mereka di surga. Bagaimana aturan dan perkataan takhayul ini muncul? Iblislah yang telah melakukan hal-hal tertentu yang diwariskannya melalui tradisi lisan. Pada dasarnya, semua itu berasal dari Iblis dan berbagai setan najis, roh-roh jahat, dan para pemimpin setan. Mereka menetapkan aturan-aturan ini dan mengendalikan manusia dengan menggunakan perkataan dan aturan takhayul, memaksa orang untuk menuruti perkataan mereka. Jika engkau tidak menuruti perkataan mereka, mereka akan memukulmu dengan sesuatu yang keras, dan mereka akan menghukummu. Ada seseorang yang tidak percaya akan perkataan takhayul ini, dan rumahnya selalu berantakan. Ketika dia pergi ke kuil Buddha untuk meramal nasib, kepadanya dikatakan, "Ya ampun, kau telah melanggar pantangan ini dan itu. Kau harus menggali tanah di bawah rumahmu, menyesuaikan letak cerobong asapmu, mengubah perabotan di rumahmu, dan meletakkan jimat di ambang pintu rumahmu. Dengan demikian, setan-setan kecil tidak akan berani datang." Sebenarnya setan yang lebih besar telah menaklukkan setan kecil itu, sehingga setan kecil itu tidak berani lagi mengganggumu. Setelah menuruti perkataan tersebut, kehidupan orang itu menjadi jauh lebih tenang. Awalnya, orang ini tidak memercayainya, tetapi setelah kini dia melihatnya, dia berkata, "Ya ampun, ternyata ada setan kecil yang menyebabkan begitu banyak masalah!" Dia merasa tak punya pilihan selain memercayainya. Orang-orang yang tidak percaya kepada Tuhan dan berusaha untuk bertahan hidup di dunia ini, mereka sepenuhnya dikendalikan oleh si jahat, tanpa punya hak atau kesempatan untuk memilih bagi diri mereka sendiri. Mereka terpaksa harus percaya. Sebaliknya, engkau semua yang percaya kepada Tuhan, jika engkau bersikeras untuk memercayai takhayul ini atau pemikiran dan sudut pandang tradisional, atau hal-hal dari agama, jika engkau merayakan hari-hari raya mereka, memercayai perkataan mereka, dan meneruskan tradisi, cara hidup, dan sikap mereka terhadap hidup ini dan jika sumber sukacitamu dalam hidup ini didasarkan pada perkataan ini, berarti engkau sedang mengatakan kepada Tuhan dengan menggunakan semacam bahasa tak bersuara, "Aku tidak percaya pada pengaturan-Mu, dan aku juga tidak mau menerima pengaturan-Mu," dan engkau juga sedang mengatakan kepada roh-roh jahat, setan-setan najis, dan Iblis dengan bahasa tak bersuara, "Ayolah, aku percaya pada perkataanmu, dan aku bersedia bekerja sama denganmu." Karena dalam hal berbagai sikap yang kaupegang erat, dan dalam pemikiran, sudut pandang dan penerapanmu, engkau tidak menerima kebenaran, melainkan menyesuaikan dirimu dengan pemikiran dan sudut pandang roh-roh jahat, setan-setan najis, dan Iblis, dan engkau melaksanakan pemikiran dan sudut pandang mereka dalam caramu berperilaku dan bertindak, maka dengan demikian, engkau sedang hidup di bawah kuasa mereka. Karena engkau bersedia hidup di bawah kuasa mereka, membuat pangsit ketika meninggalkan rumah dan makan mi ketika pulang ke rumah, dan harus makan kue keranjang dan ikan selama Tahun Baru Imlek, maka silakan saja mengikuti mereka. Engkau tidak perlu percaya kepada Tuhan, dan engkau tidak perlu menyatakan bahwa engkau percaya kepada Tuhan. Di setiap tempat dan dalam setiap hal, engkau memandang orang dan segala sesuatu, berperilaku dan bertindak, serta hidup dan bertahan hidup berdasarkan cara hidup dan pemikiran serta sudut pandang yang telah Iblis tanamkan dalam dirimu, atau berdasarkan gagasan agama, dan apa yang kaulakukan tidak ada kaitannya dengan apa yang telah Tuhan ajarkan kepadamu atau kebenaran. Ini berarti engkau sesungguhnya adalah pengikut Iblis. Karena engkau mengikuti Iblis di dalam hatimu, mengapa engkau masih duduk di sini? Mengapa engkau masih mendengarkan khotbah? Bukankah ini berarti engkau sedang menipu? Bukankah ini berarti engkau sedang menghujat Tuhan? Karena engkau sangat terobsesi dengan tradisi, takhayul dan gagasan agamawi yang Iblis indoktrinasikan, terjerat di dalamnya, dan masih memiliki ikatan yang erat dengan semua itu, engkau seharusnya tidak percaya lagi kepada Tuhan. Engkau seharusnya tinggal saja di kuil Buddha, membakar dupa, membungkuk, mengambil undian, dan melantunkan kitab suci. Engkau tidak seharusnya bertahan di rumah Tuhan, engkau tidak layak mendengarkan firman Tuhan atau menerima bimbingan Tuhan. Oleh karena itu, karena engkau menyatakan bahwa engkau adalah pengikut Tuhan, engkau harus melepaskan tradisi keluarga, takhayul, dan gagasan agamawi tersebut. Bahkan dalam cara hidupmu yang dasar: selama hal-hal itu ada kaitannya dengan tradisi dan takhayul, engkau harus melepaskannya dan tidak berpaut padanya. Yang paling Tuhan benci adalah tradisi manusia, hari-hari raya, adat istiadat, dan aturan-aturan hidup tertentu yang berasal dari budaya masyarakat dan dari keluarga, yang dibaliknya terdapat penafsiran tertentu. Sebagai contoh, ada orang-orang tertentu yang meletakkan cermin di ambang pintu ketika membangun rumah, berkata cermin itu digunakannya untuk mengusir roh-roh jahat. Engkau percaya kepada Tuhan, tetapi engkau masih takut kepada setan? Engkau percaya kepada Tuhan, jadi bagaimana setan masih bisa dengan semudah itu mengganggumu? Apakah engkau sebenarnya orang yang benar-benar percaya kepada Tuhan? Selama Tahun Baru Imlek, jika ada seorang anak mengatakan sesuatu yang sial seperti "seandainya aku mati" atau "seandainya ibuku mati", mereka dengan segera menimpalinya dengan berkata, "Hus, anak kecil tidak boleh berkata seperti itu, itu tabu." Mereka takut setengah mati, takut perkataan itu akan menjadi kenyataan. Apa yang kautakuti? Sekalipun itu menjadi kenyataan, tidak dapatkah engkau menerima kenyataan ini? Dapatkah engkau menolaknya? Bukankah engkau harus menerima bahwa hal itu adalah dari Tuhan? Tidak ada pantangan di dalam Tuhan, hanya ada hal-hal yang sesuai atau tidak sesuai dengan kebenaran. Sebagai orang yang percaya kepada Tuhan, engkau tidak boleh menaati pantangan apa pun, melainkan harus menangani hal-hal ini berdasarkan firman Tuhan dan prinsip-prinsip kebenaran.
Persekutuan hari ini mencakup topik-topik yang berkaitan dengan bagaimana keluarga menanamkan tradisi, takhayul, dan agama ke dalam diri orang-orang. Meskipun kita mungkin tidak tahu banyak tentang topik-topik ini, cukuplah bahwa melalui persekutuan ini engkau diberitahu bagaimana engkau harus bersikap, dan bagaimana engkau harus memperlakukan hal-hal tersebut berdasarkan firman Tuhan dan prinsip. Setidaknya, penerapan yang harus kaulakukan adalah melepaskan hal-hal yang berkaitan dengan topik-topik ini, dan tidak berpaut padanya di dalam hatimu ataupun mempertahankannya sebagai cara hidup yang normal. Yang paling harus kaulakukan adalah melepaskan hal-hal ini dan tidak diganggu atau diikat olehnya. Engkau tidak boleh menilai hidup dan matimu, keberuntungan dan bencanamu berdasarkannya, dan tentu saja engkau tentunya tidak boleh menghadapi atau memilih jalan di depanmu berdasarkan hal-hal tersebut. Jika engkau melihat kucing hitam ketika pergi keluar dan engkau berkata, "Apakah hari ini akan sial? Apakah akan terjadi sesuatu yang buruk?" bagaimana menurutmu sudut pandang ini? (Itu tidak benar.) Apa yang dapat seekor kucing lakukan terhadapmu? Sekalipun ada perkataan takhayul mengenainya, hal ini tidak ada kaitannya dengan dirimu, jadi tidak perlu merasa takut. Engkau bahkan tidak perlu takut akan harimau hitam, apalagi kucing hitam. Segala sesuatu berada di tangan Tuhan, dan engkau tidak perlu takut kepada Iblis atau roh jahat mana pun, apalagi kepada kucing hitam. Jika tidak ada pantangan di dalam hatimu, jika yang ada hanyalah mengejar kebenaran dan percaya bahwa segala sesuatu berada di tangan Tuhan, maka sekalipun terdapat pepatah tertentu mengenai hal ini atau mungkin saja engkau akan mengalami kemalangan, engkau tidak perlu khawatir. Sebagai contoh, suatu hari tiba-tiba engkau mendengar seekor burung hantu menguak di sisi tempat tidurmu. Dalam cerita rakyat Tiongkok, dikatakan, "Jangan takut suara kuak burung hantu, takutlah akan suara tawanya." Burung hantu ini bukan saja menguak, tetapi juga tertawa, yang membuatmu ketakutan setengah mati dan itu sedikit memengaruhimu di dalam hatimu. Namun, cobalah berpikir sejenak, "Apa yang dimaksudkan untuk terjadi, pasti akan terjadi, dan apa yang dimaksudkan untuk tidak terjadi, Tuhan tidak akan mengizinkannya terjadi. Aku berada di tangan Tuhan, demikian juga segala hal lainnya. Aku tidak takut ataupun terpengaruh oleh hal ini. Aku akan hidup sebagaimana mestinya, mengejar kebenaran, menerapkan firman Tuhan, dan tunduk pada semua pengaturan Tuhan. Ini tidak pernah dapat berubah!" Ketika tidak ada hal yang dapat mengganggumu, itulah yang benar. Jika suatu hari engkau mengalami mimpi buruk, gigimu tanggal, rambutmu rontok, engkau memecahkan mangkuk, bermimpi dirimu mati, dan semua hal buruk lainnya terjadi secara bersamaan dalam satu mimpi, tak satu pun dari pemandangan ini menjadi pertanda baik untukmu, bagaimana engkau akan bereaksi? Akankah engkau merasa tertekan? Akankah engkau merasa kesal? Akankah engkau terpengaruh? Dahulu, engkau mungkin akan merasa kesal selama satu atau dua bulan, dan akhirnya ketika tidak ada sesuatu yang terjadi, engkau bisa bernapas lega. Namun kini, engkau hanya merasa sedikit terganggu, dan begitu engkau berpikir bahwa segala sesuatu berada di tangan Tuhan, hatimu segera menjadi tenang. Engkau datang ke hadapan Tuhan dengan sikap yang tunduk, dan inilah sikap yang benar. Sekalipun pertanda buruk ini benar-benar mengarah pada terjadinya sesuatu yang buruk, ada cara untuk mengatasinya. Bagaimana engkau dapat mengatasinya? Bukankah hal-hal buruk juga berada di tangan Tuhan? Tanpa seizin Tuhan, Iblis dan setan tidak dapat menyakiti bahkan sehelai rambut pun di kepalamu. Terutama dalam hal-hal yang berkaitan dengan hidup dan mati, bukan Iblis yang menentukan hal itu. Tanpa seizin Tuhan, hal-hal besar dan kecil ini tidak akan terjadi. Jadi, fenomena buruk apa pun yang kausaksikan dalam mimpi pada suatu malam, atau hal tidak biasa apa pun yang mungkin kaurasakan di tubuhmu, jangan khawatir, jangan merasa gelisah, dan tentu saja jangan berpikir untuk menghindar, menolak atau menentangnya. Jangan berusaha menggunakan cara-cara manusia seperti boneka voodoo, melakukan pemanggilan arwah, mengundi, meramal nasib, atau mencari informasi di internet untuk menghindari risiko-risiko ini. Tidak perlu melakukan hal-hal ini. Mungkin saja mimpimu menandakan sesuatu yang buruk memang akan terjadi, misalnya engkau akan bangkrut, sahammu akan jatuh, bisnismu akan diambil alih oleh orang lain, engkau akan ditangkap pemerintah selama pertemuan, engkau dilaporkan selagi memberitakan Injil, dan sebagainya. Lalu memangnya kenapa jika itu terjadi? Segala sesuatu berada di tangan Tuhan; jangan takut. Jangan khawatir, jangan sedih, dan jangan takut akan hal-hal buruk yang belum terjadi, dan tentu saja, jangan menentang atau melawan terjadinya hal-hal buruk apa pun. Lakukan apa yang sudah seharusnya dilakukan oleh makhluk ciptaan, penuhi tanggung jawab dan kewajibanmu sebagai makhluk ciptaan, serta miliki pendirian dan sudut pandang yang seharusnya dimiliki makhluk ciptaan. Inilah sikap yang harus dimiliki semua orang ketika menghadapi segala sesuatu; yakni, menerima dan taat, menyerahkan segala sesuatunya pada pengaturan-Nya tanpa mengeluh. Dengan demikian, perkataan dan apa pun yang diakibatkan oleh agama, tradisi atau takhayul tidak akan menjadi masalah bagimu, dan tidak akan menyebabkan gangguan apa pun terhadapmu; engkau akan benar-benar keluar dari kuasa Iblis dan dari pengaruh kegelapan, tidak dikendalikan oleh pengaruh kegelapan atau oleh pemikiran Iblis apa pun. Pemikiranmu, jiwamu, seluruh keberadaanmu akan ditaklukkan dan didapatkan oleh firman Tuhan. Bukankah ini adalah kebebasan? (Ya.) Ini adalah kebebasan penuh, hidup dalam kelepasan dan kebebasan, serta memiliki keserupaan dengan manusia. Betapa luar biasanya hal itu!
Isi persekutuan hari ini pada dasarnya mencakup hal ini. Sedangkan mengenai pantangan tertentu dalam kebiasaan hidup sehari-hari, misalnya, makanan apa yang tidak boleh dimakan ketika sedang menderita penyakit tertentu, dan ada orang-orang yang tidak boleh memakan makanan pedas karena cenderung menderita panas dalam yang berlebihan, hal-hal ini tidak ada kaitannya dengan cara orang berperilaku ataupun dengan pemikiran dan sudut pandang apa pun, apalagi dengan jalan yang orang tempuh. Hal-hal ini tidak termasuk dalam lingkup persekutuan kita. Pokok bahasan persekutuan kita mencakup pembelajaran dan pembiasaan keluarga yang berkaitan dengan pemikiran dan sudut pandang orang, cara hidup dan aturan hidup normal mereka, serta pemikiran, sudut pandang, pendirian, dan perspektif mereka terhadap berbagai hal. Dengan membereskan pemikiran, sudut pandang dan sikap yang salah ini dalam segala hal, hal berikutnya yang harus orang masuki adalah mencari dan menerima pemikiran, sudut pandang, sikap, dan perspektif yang benar terhadap segala sesuatu. Baiklah, sampai di sini persekutuan kita hari ini. Sampai jumpa!
25 Maret 2023
Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.