Cara Mengejar Kebenaran (15) Bagian Dua

Ada orang-orang yang, selama Tahun Baru Imlek, menghabiskan hari-hari mereka melihat-lihat kalender, memulai hari raya tradisional tersebut sejak hari ke-30 bulan ke-12 kalender lunar, dengan ketatnya mematuhi gaya hidup dan pantangan yang diwariskan melalui adat istiadat tradisional ini dalam hal apa yang mereka makan, apa yang mereka kenakan, dan apa yang tidak boleh mereka lakukan setiap harinya. Apa pun yang menjadi pantangan bagi mereka untuk dilakukan dan diucapkan, mereka pasti tidak akan mengucapkan atau melakukannya, dan apa pun yang menjadi kemujuran bagi mereka untuk dimakan atau diucapkan, mereka akan memakan atau mengucapkannya. Sebagai contoh, ada orang-orang yang yakin bahwa selama Tahun Baru, mereka harus makan kue keranjang untuk memastikan diri mereka dipromosikan pada tahun berikutnya. Agar dipromosikan pada tahun berikutnya, mereka akan memastikan diri makan kue keranjang, sekalipun ada hal-hal penting yang harus mereka tangani saat itu, betapapun sibuk dan lelahnya mereka, atau sekalipun mereka sedang menghadapi keadaan khusus dalam hal pelaksanaan tugas mereka atau entah mereka punya cukup waktu untuk membuatnya atau tidak. Jika mereka tidak punya waktu untuk membuat kue keranjang di rumah, mereka akan pergi dan membelinya hanya untuk memastikan keberuntungan tersebut. Dan ada orang-orang yang harus makan ikan selama Tahun Baru, karena ikan melambangkan kelimpahan setiap tahunnya. Jika mereka tidak makan ikan dalam satu tahun, mereka yakin bahwa selama dua belas bulan mendatang, mereka akan mengalami kemiskinan. Jika mereka tidak mampu membeli ikan, mereka mungkin akan menaruh ikan kayu di meja makan sebagai perlambang. Mereka makan kue keranjang dan ikan untuk memastikan diperolehnya promosi dan kelimpahan selama tahun berikutnya. Di satu sisi, mereka melakukannya untuk menjadikan tahun ini berjalan dengan lebih lancar, menjadikan hidup mereka menjadi lebih baik dan lebih sejahtera, dan di sisi lain, mereka mengharapkan keberhasilan dalam karier mereka atau menghasilkan banyak uang dari bisnis mereka. Selain itu, selama Tahun Baru, mereka juga memastikan diri untuk menggunakan kalimat yang membawa keberuntungan. Sebagai contoh, mereka berusaha tidak mengucapkan angka empat dan lima karena "empat" terdengar seperti kata "mati", dan "lima" terdengar seperti kata "tidak ada" dalam bahasa Mandarin. Sebaliknya, mereka lebih suka mengucapkan angka enam atau delapan, di mana kata "enam" melambangkan kelancaran, dan "delapan" melambangkan mendapatkan kekayaan. Mereka bukan saja menggunakan kata dan kalimat yang membawa kemujuran, tetapi mereka juga memberikan amplop merah kepada para pegawai, anggota keluarga, kerabat, dan teman. Memberikan amplop merah melambangkan mendapatkan kekayaan, dan makin banyak amplop merah yang kauberikan, makin hal itu menandakan bahwa mereka akan mencapai kemakmuran. Mereka bukan saja memberikan amplop merah kepada manusia, tetapi juga kepada binatang peliharaan, yang melambangkan bahwa mereka akan dapat memperoleh kekayaan dari siapa pun, dan tahun berikutnya bisnis mereka akan berkembang pesat dan kekayaan mereka akan sangat berlimpah. Segala sesuatu, dari apa yang mereka makan hingga apa yang mereka lakukan, dari apa yang mereka ucapkan hingga cara mereka bertindak, semuanya itu adalah tentang meneruskan kebiasaan dan pepatah yang diwariskan dari generasi ke generasi, dan mereka menerapkannya dengan sungguh-sungguh. Sekalipun, lingkungan hidup mereka atau komunitas tempat tinggal mereka telah berubah, adat istiadat dan gaya hidup tradisional ini tidak dapat berubah. Karena tradisi-tradisi ini mengandung makna tertentu di dalamnya, baik berupa pepatah positif maupun pantangan yang diwariskan oleh para leluhur, mereka harus meneruskannya. Jika tradisi atau pantangan ini dilanggar, tahun berikutnya mungkin tidak akan berjalan dengan baik, akan ada hambatan di mana-mana, bisnis akan lesu, atau akan terjadi kebangkrutan. Itulah sebabnya, sangat penting untuk mematuhi tradisi ini. Ada tradisi yang harus diikuti selama hari raya, dan ada juga tradisi yang harus diikuti dalam kehidupan orang sehari-hari. Sebagai contoh, memotong rambut—jika orang memeriksa kalender dan melihat bahwa akan sial jika mereka memotong rambut atau keluar rumah pada hari itu, maka mereka tidak akan berani keluar rumah. Jika mereka tidak memeriksa kalender dan tetap pergi memotong rambut, berarti mereka telah melanggar pantangan meninggalkan rumah dan pantangan memotong rambut, dan mereka mungkin akan menghadapi akibat yang tidak terduga. Jadi, hal-hal ini harus dipatuhi. Hal-hal ini termasuk tradisi dan takhayul. Jika seseorang harus pergi keluar, tetapi ketika memeriksa kalender dan melihat bahwa segala sesuatunya akan sial pada hari itu, maka orang itu akan menganggap hari itu adalah hari untuk beristirahat, bersenang-senang, bersantai, dan tidak melakukan apa pun, sehingga meskipun mereka diminta untuk pergi dan memberitakan Injil pada hari itu, mereka mungkin khawatir akan terjadi sesuatu jika mereka melanggar pantangan itu dan akan terjadi sesuatu yang tidak terduga pada mereka, seperti kecelakaan mobil atau dirampok. Mereka tidak berani pergi keluar, dan berkata, "Mari kita pergi besok! Kita tidak boleh mengabaikan apa yang leluhur kita katakan. Mereka berkata kita harus selalu memeriksa kalender sebelum keluar rumah. Jika menurut kalender segala sesuatunya akan sial, maka kita tidak boleh pergi. Jika engkau tetap pergi dan terjadi sesuatu, engkau harus menanggung sendiri akibatnya. Siapa suruh engkau tidak memeriksa kalender dan menuruti apa yang tertulis?" Ini berkaitan dengan tradisi dan juga takhayul, bukan? (Ya.)

Ada orang-orang yang berkata, "Tahun ini, usiaku 24 tahun; ini adalah tahun zodiakku." Yang lain berkata, "Tahun ini, aku berusia 36 tahun; ini adalah tahun zodiakku." Apa yang harus kaulakukan selama tahun zodiakmu? (Mengenakan pakaian dalam berwarna merah dan ikat pinggang berwarna merah.) Siapa yang pernah mengenakan pakaian dalam berwarna merah sebelumnya? Siapa yang pernah mengenakan ikat pinggang berwarna merah? Bagaimana perasaanmu mengenakan pakaian dalam dan ikat pinggang berwarna merah? Apakah engkau merasa tahunmu berjalan dengan lancar? Apakah mengenakannya mengusir ketidakberuntungan? (Ketika tiba tahun zodiakku, aku mengenakan kaus kaki berwarna merah. Namun, pada tahun itu, hasil ujianku sangat buruk. Mengenakan warna merah tidak membawa keberuntungan seperti yang orang katakan.) Mengenakannya membawa ketidakberuntungan, bukan? Mungkinkah nilaimu akan lebih baik jika engkau tidak mengenakan warna merah? (Tidak ada pengaruhnya apakah aku mengenakannya atau tidak.) Itulah pandangan yang akurat atas pertanyaan ini. Itu tidak ada pengaruhnya. Ini adalah tradisi dan juga takhayul. Entah engkau sekarang ini menerima gagasan tentang tahun zodiak atau entah engkau ingin meneruskan tradisi ini atau tidak, pemikiran dan pepatah tradisional yang berkaitan dengannya telah meninggalkan jejak di benak orang. Sebagai contoh, ketika tahun zodiakmu tiba, jika engkau mengalami peristiwa tak terduga atau keadaan khusus yang membuat tahunmu berjalan dengan berat dan bertentangan dengan keinginanmu, mau tak mau engkau berpikir, "Tahun ini sangat berat. Jika dipikir-pikir, memang tahun ini adalah tahun zodiakku, dan orang bilang selama tahun zodiak kita, kita harus berhati-hati karena akan lebih mudah bagi kita untuk melanggar pantangan. Menurut tradisi, seharusnya aku mengenakan warna merah, tetapi karena aku percaya kepada Tuhan, aku tidak mengenakannya. Aku tidak memercayai pepatah itu, tetapi saat memikirkan tantangan yang telah kuhadapi tahun ini, segala sesuatunya tidak berjalan dengan lancar. Bagaimana agar aku dapat menghindari masalah seperti ini? Mungkin tahun depan akan lebih baik." Engkau akan tanpa sadar mengaitkan peristiwa tak terduga dan tak diinginkan yang kauhadapi selama tahun tersebut dengan pepatah tradisional tentang tahun zodiak yang leluhur dan keluargamu tanamkan dalam dirimu. Engkau akan menggunakan pepatah ini untuk memvalidasi peristiwa tidak biasa yang kaualami selama tahun ini, dan dengan melakukannya, engkau mengesampingkan fakta dan esensi di balik peristiwa tersebut. Engkau juga mengesampingkan sikap yang seharusnya kaumiliki terhadap situasi ini dan pelajaran yang seharusnya kaupetik darinya. Engkau akan secara naluriah menganggap tahun ini sebagai tahun yang istimewa, tanpa sadar mengaitkan semua peristiwa yang terjadi selama tahun ini dengan tahun zodiakmu. Engkau akan merasa, "Tahun ini penuh kemalangan bagiku, atau tahun ini penuh berkat bagiku." Gagasan ini tentu saja ada kaitannya dengan pembelajaran dan pembiasaan dari keluargamu. Entah benar tahunmu itu penuh kemalangan atau tidak, apakah itu ada hubungannya dengan tahun zodiakmu? (Tidak.) Itu tidak ada hubungannya. Jadi, apakah perspektif dan sudut pandangmu mengenai hal-hal ini benar? (Tidak.) Mengapa tidak benar? Apakah karena hingga taraf tertentu engkau telah dipengaruhi oleh pemikiran tradisional yang keluargamu indoktrinasikan dalam dirimu? (Ya.) Pemikiran tradisional ini kauanggap lebih penting dan menguasai pikiranmu. Dengan demikian, ketika menghadapi hal-hal ini, reaksi spontanmu adalah memandang hal-hal ini dari perspektif pemikiran dan sudut pandang tradisional tersebut, sembari mengesampingkan perspektif yang Tuhan ingin untuk kaumiliki atau pemikiran dan sudut pandang yang seharusnya kaumiliki. Apa akibat akhir dari caramu memandang hal-hal ini? Engkau akan merasa bahwa tahun ini tidak menguntungkan, bahwa tahun ini penuh dengan ketidakberuntungan dan tidak sesuai dengan keinginanmu, dan karenanya engkau akan menggunakan depresi dan kenegatifan sebagai cara untuk menghindari, melawan, menentang, dan menolak hal-hal ini. Jadi, apakah penyebab munculnya emosi, pemikiran, dan sudut pandang ini ada kaitannya dengan pemikiran tradisional yang keluargamu indoktrinasikan dalam dirimu? (Ya.) Dalam hal-hal semacam ini, apa yang harus orang lepaskan? Mereka harus melepaskan perspektif dan pendirian yang berdasarkannya mereka menilai hal-hal tersebut. Mereka tidak boleh memandang hal-hal ini dari perspektif bahwa mereka menghadapi situasi ini karena tahun ini penuh dengan ketidakberuntungan, kemalangan, tidak sesuai dengan keinginan mereka, atau karena mereka telah melanggar pantangan tertentu atau karena tidak mengikuti aturan tradisional tertentu. Sebaliknya, engkau harus menerima hal-hal ini satu per satu, dan yang terutama dan terpenting, engkau setidaknya harus memandang hal-hal ini dari perspektif makhluk ciptaan. Menganggap hal-hal ini, entah baik atau buruk, entah sesuai ataukah bertentangan dengan keinginanmu, entah di mata manusia semua itu adalah keberuntungan atau kemalangan, sebagai hal-hal yang telah diatur oleh Tuhan, berada di bawah kedaulatan Tuhan, dan berasal dari Tuhan. Bermanfaatkah memandang hal-hal ini dengan menggunakan perspektif dan pendirian semacam ini? (Ya.) Apa manfaat yang pertama? Engkau akan mampu menerima bahwa hal-hal ini adalah dari Tuhan, yang berarti hingga taraf tertentu, engkau mampu memiliki sikap mental yang mau tunduk. Manfaat kedua, engkau akan mampu memetik pelajaran dan memperoleh sesuatu dari hal-hal yang mengecewakan tersebut. Manfaat ketiga, dari hal-hal yang mengecewakan tersebut, engkau mampu mengenali kelemahan dan kekuranganmu sendiri, serta watak rusakmu sendiri. Manfaat keempat, dalam mengalami hal-hal yang mengecewakan tersebut, engkau mampu bertobat dan berbalik, melepaskan pemikiran dan sudut pandangmu yang sebelumnya, melepaskan cara hidupmu yang sebelumnya, melepaskan berbagai kesalahpahamanmu tentang Tuhan, dan kembali ke hadapan Tuhan, menerima pengaturan-Nya dengan sikap yang tunduk, sekalipun itu berarti engkau harus menerima hajaran dan penghakiman Tuhan, didikan dan pendisiplinan-Nya terhadapmu, atau hukuman-Nya. Engkau akan bersedia tunduk untuk menerima semua itu dan tidak menyalahkan Surga atau orang lain, juga tidak mengaitkan kembali segala sesuatunya dengan sudut pandang dan pendirian pemikiran tradisional yang terindoktrinasi dalam dirimu, tetapi memandang setiap hal dari sudut pandang makhluk ciptaan. Ini bermanfaat bagimu dalam banyak hal. Bukankah semua hal ini bermanfaat? (Ya.) Di sisi lain, jika engkau memandang hal-hal ini berdasarkan pemikiran tradisional yang keluargamu indoktrinasikan dalam dirimu, engkau akan berusaha dengan segala cara untuk menghindari hal-hal tersebut. Apa yang dimaksud menghindari? Itu berarti mencari berbagai cara untuk menghindari kemalangan tersebut, menghindari hal-hal yang mengecewakan, malang, tidak beruntung ini. Ada orang-orang yang berkata, "Itu karena setan-setan kecil mempermainkanmu. Jika kau mengenakan pakaian berwarna merah, kau akan dapat menghindarinya. Mengenakan pakaian berwarna merah itu seperti ketika kau diberi jimat dalam agama Buddha. Jimat adalah sehelai kertas kuning bertuliskan beberapa huruf berwarna merah. Kau dapat menempelkannya di keningmu, menjahitkannya di bajumu, atau meletakkannya di bawah bantalmu, dan jimat itu akan membantumu mengusir hal-hal ini." Jika orang tidak memiliki jalan penerapan yang positif, satu-satunya jalan keluar mereka adalah mencari pertolongan dari jalan yang bengkok dan jahat ini, karena tak seorang pun ingin mengalami ketidakberuntungan atau kemalangan apa pun. Semua orang ingin segala sesuatunya berjalan dengan lancar. Seperti inilah reaksi naluriah manusia yang rusak ketika menghadapi masalah duniawi. Engkau ingin menghindari masalah ini atau menggunakan berbagai cara manusia untuk membereskannya karena engkau tidak memiliki jalan yang benar untuk menanganinya, juga tidak memiliki pemikiran dan sudut pandang yang benar untuk menghadapinya. Engkau hanya dapat memandang hal-hal ini dari perspektif orang tidak percaya, sehingga reaksi pertamamu adalah menghindarinya, tidak ingin mengalami hal-hal tersebut. Engkau berkata, "Mengapa kemalangan seperti itu menimpaku? Mengapa aku begitu tidak beruntung? Mengapa setiap hari aku mengalami diriku dipangkas? Mengapa aku selalu menemui jalan buntu dan melakukan kesalahan dalam semua yang kulakukan? Mengapa tindakan-tindakanku selalu tersingkap? Mengapa orang-orang di sekitarku selalu bertindak tidak sesuai dengan keinginanku? Mengapa mereka mengincarku, meremehkanku, dan bertindak tidak sesuai dengan keinginanku dalam segala hal?" Seperti yang dikatakan orang, "Ketika kau tidak beruntung, bahkan air dingin pun akan tersangkut di gigimu." Dapatkah air dingin tersangkut di gigimu? Apakah engkau mengunyah air dingin dengan gigimu? Bukankah ini omong kosong? Bukankah ini menyalahkan Surga dan orang lain? (Ya.) Apa yang dimaksud ketidakberuntungan? Apakah hal seperti ini benar-benar ada? (Tidak.) Itu tidak ada. Jika engkau benar-benar menyadari bahwa segala sesuatu berada di tangan Tuhan, bahwa segala sesuatu berada di bawah kedaulatan dan pengaturan Tuhan, engkau tidak akan menggunakan kata-kata, seperti "ketidakberuntungan", dan engkau tidak akan berusaha menghindari hal apa pun. Ketika orang mengalami hal-hal yang tidak sesuai dengan keinginan mereka, reaksi pertama mereka adalah menghindarinya, dan kemudian menolaknya. Jika mereka tidak mampu menolak, menghindari, atau bersembunyi dari hal-hal ini, mereka akan mulai menentangnya. Penentangan bukan sekadar dengan merenungkan atau memikirkannya di benak mereka; penentangan akan mencakup tindakan yang akan dilakukan. Secara pribadi, orang akan melakukan manuver yang picik, mengucapkan pernyataan yang provokatif, yang membenarkan, membela, meninggikan, atau menutupi dirinya sendiri agar terlihat baik, demi menghindarkan dirinya terpengaruh atau terseret ke dalam peristiwa yang tidak menguntungkan. Begitu orang mulai menentang, itu bisa menjadi berbahaya baginya, bukan? (Ya.) Katakan kepada-Ku, ketika orang mencapai titik di mana mereka mulai menentang, masih berfungsikah hati nurani dan nalar manusia normal yang tersisa dalam diri mereka? Mereka telah beralih dari pemikiran dan sudut pandang ke tindakan nyata, dan nalar serta hati nurani tidak lagi dapat menahan mereka. Apa artinya? Ini berarti tindakan dan pemikiran orang itu hanya akan berkembang menjadi penentangan terhadap Tuhan secara nyata. Mereka bukan saja menentang, tidak bersedia, atau merasa tidak senang di dalam hatinya; mereka juga sedang menggunakan tindakan dan perbuatan nyata mereka untuk menentang. Ketika orang sudah menentang melalui tindakan nyata, bukankah hidup orang ini pada dasarnya sudah berakhir? Ketika kenyataan memberontak terhadap Tuhan, menentang Tuhan, dan melawan Dia sudah terbentuk, masalahnya sudah bukan lagi jalan yang sedang ditempuh orang itu—ini sudah menghasilkan akibat tertentu. Bukankah ini sangat berbahaya? (Ya.) Jadi, bahkan gagasan budaya traditional, pemikiran tradisional, atau pepatah takhayul sekecil dan seremeh apa pun, mampu menimbulkan akibat yang sangat serius. Ini bukan sekadar kebiasaan gaya hidup yang sederhana, bukan sekadar apa yang kaumakan, apa yang kaukenakan, atau apa yang kaukatakan atau tidak kaukatakan. Ini akan menunjukkan sikap seperti apa yang orang gunakan ketika menghadapi lingkungan yang telah Tuhan atur. Oleh karena itu, hal-hal ini juga merupakan masalah yang harus orang lepaskan.

Selain mematuhi cara hidup tradisional, pemikiran dan sudut pandang tertentu selama hari raya besar, orang juga mematuhi hal-hal tersebut selama hari raya kecil tertentu. Sebagai contoh, mereka makan wedang ronde pada hari ke-15 Tahun Baru Imlek. Mengapa orang makan wedang ronde? (wedang ronde melambangkan reuni keluarga.) Reuni keluarga. Pernahkah engkau semua makan wedang ronde dalam beberapa tahun terakhir ini? (Aku memakannya di rumah, tetapi tidak pernah memakannya di gereja.) Apakah berkumpul kembali bersama keluarga adalah hal yang baik? (Tidak.) Adakah orang yang baik di keluargamu? Entah mereka meminta uang darimu atau menyuruhmu membayarkan utang; jika engkau memiliki ketenaran dan keuntungan, mereka menjilatmu dan meminta bagian, dan jika engkau tidak memilikinya, mereka akan memandang rendah dirimu. Selain makan wedang ronde pada hari ke-15 Tahun Baru Imlek, terdapat adat istiadat lain pada tanggal berbeda, seperti pada hari kedua bulan dua tahun lunar, hari ketiga bulan tiga, hari keempat bulan empat, hari kelima bulan lima .... Ada banyak hal berbeda, dan segala jenis makanan yang dikaitkan dengan tanggal-tanggal tersebut. Hal-hal yang dilakukan di dunia orang tidak percaya dan dunia para setan ini semuanya tidak masuk akal. Jika engkau ingin merayakan hari raya tertentu dan menikmati makanan lezat, katakan saja engkau akan menikmati makanan lezat dan itu saja. Selama keadaan hidupmu memungkinkan, engkau dapat makan apa pun yang kausukai. Sudahi semua tipu muslihat ini, seperti makan kue keranjang agar mendapatkan promosi setiap tahunnya, makan ikan agar memperoleh kelimpahan, atau makan wedang ronde agar keluarga berkumpul kembali. Orang-orang Tiongkok juga membuat bacang, tetapi untuk tujuan apa? Setiap tahun selama berbagai hari raya, ada orang-orang yang penuh pengabdian di gereja yang membeli berbagai barang yang disesuaikan dengan masing-masing hari raya, seperti bacang. Aku bertanya kepada salah seorang dari mereka, "Mengapa kau makan bacang?" Dia berkata, "Untuk merayakan Festival Perahu Naga pada hari kelima bulan lima tahun lunar." Bacang adalah makanan yang cukup enak, tetapi Aku tidak tahu mengapa ada hari raya yang dikaitkan dengannya atau apa hubungannya bacang dengan kehidupan dan kekayaan manusia. Aku tidak pernah melakukan penelitian atau mengadakan survei mengenai hal ini, jadi Aku tidak tahu. Tampaknya, itu dilakukan untuk mengenang seseorang. Namun, mengapa kita harus memakan makanan tersebut untuk mengenangnya? Tampaknya, bacang itu harus diberikan kepada orang tersebut. Siapa pun yang ingin mengenang orang tersebut harus menaruh bacang di depan makamnya atau fotonya. Bacang itu tidak boleh diberikan kepada orang yang masih hidup: ini bukan urusan orang yang masih hidup. Orang yang masih hidup memakannya mewakili orang tersebut. Itu tidak masuk akal. Pengetahuan tentang hari-hari raya ini serta makanan apa yang harus dimakan selama hari raya tersebut diperoleh dari orang-orang tidak percaya: Aku tidak tahu rincian spesifiknya, dan rincian tertentu kemudian diteruskan melalui orang-orang di gereja. Bacang dimakan selama Festival Perahu Naga dan kue keranjang dimakan selama Tahun Baru Imlek. Di dunia Barat, orang makan ayam kalkun pada Hari Pengucapan Syukur: mengapa mereka makan ayam kalkun? Menurut laporan berita, mereka makan ayam kalkun pada Hari Pengucapan Syukur untuk mengucap syukur. Ini adalah tradisi. Ada hari raya lain di dunia Barat yang disebut hari Natal, di mana orang memasang pohon natal dan mengenakan pakaian baru. Ini juga merupakan tradisi. Selama hari raya ini, orang Barat juga harus saling mengucapkan perkataan yang menyenangkan, saling memberi selamat, dan mengucapkan berkat. Mereka tidak boleh mengucapkan kata-kata kasar atau makian. Semua ini setara dengan pepatah kemujuran dalam budaya Timur, dan tujuannya adalah agar orang tidak melanggar pantangan, karena jika tidak, tahun berikutnya tidak akan menguntungkan. Hari raya Barat seperti Hari Pengucapan Syukur dan Natal berkaitan dengan makan makanan lezat tertentu, dan kisah-kisah yang dikarang untuk membenarkan dimakannya makanan tersebut. Pada akhirnya, kesimpulan-Ku adalah: orang mencari alasan untuk menikmati makanan lezat ini, memungkinkan mereka untuk mengambil cuti selama beberapa hari untuk berpesta di rumah, makan hingga perut mereka menjadi buncit. Ketika tiba waktunya untuk mendonorkan darah, perawat berkata, "Tingkat lipid darahmu terlalu tinggi, darahmu tidak memenuhi standar dan engkau tidak dapat mendonorkan darahmu." Inilah akibatnya jika mengonsumsi daging secara berlebihan. Tujuan utama merayakan hari raya tradisional ini adalah untuk menikmati makanan dan minuman lezat. Tradisi ini diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya, dari orang tua ke orang muda, dan menjadi sebuah tradisi. Pemikiran dan sudut pandang mendasar yang diindoktrinasikan oleh tradisi ini, serta pepatah takhayul tertentu, juga diturunkan dari generasi sebelumnya ke generasi selanjutnya.

Adakah pepatah takhayul lainnya? Apakah tentang kedutan mata yang baru saja Kusebutkan sering terjadi? (Ya.) Ketika engkau berkata, "Mataku terus-menerus berkedut." Seseorang berkata, "Mata sebelah mana yang berkedut?" Engkau menjawab, "Mata kiri." Dia berkata, "Tidak masalah, kedutan di mata kiri menandakan keberuntungan sedangkan kedutan di mata kanan menandakan bencana." Apakah perkataan ini dapat dibenarkan? Apakah engkau menjadi kaya ketika mata kirimu berkedut? Apakah engkau mendapatkan uang? (Tidak.) Lalu, apakah bencana terjadi ketika mata kananmu berkedut? (Juga tidak.) Pernahkah ada situasi di mana ketika mata kirimu berkedut, maka bencana, sesuatu yang buruk pun terjadi, atau ketika mata kananmu berkedut, sesuatu yang baik terjadi? Apakah engkau semua memercayai hal ini? (Tidak.) Mengapa engkau tidak memercayai hal ini? Mengapa matamu berkedut? Adakah pengobatan dalam budaya masyarakat untuk menghentikan mata yang berkedut? Apakah ada metode tertentu? (Aku pernah melihat seseorang menempelkan sepotong kertas putih di kelopak matanya.) Mereka mencari sepotong kertas putih untuk ditempelkan. Mata mana pun yang berkedut, mereka menyobek selembar kertas putih dari kalender atau buku catatan kecil dan menempelkannya di kelopak mata. Warnanya tidak boleh warna lain selain warna putih. Apa arti kertas putih? Itu berarti kedutan itu "sia-sia", yang menandakan bahwa tidak boleh ada hal buruk yang terjadi. Apakah metode ini cemerlang? Metode yang sangat cemerlang, bukan? Apa artinya kedutan itu "sia-sia"? (Itu tidak ada kaitannya apakah orang menempelkan kertas di kelopak mata mereka atau tidak.) Dapatkah engkau semua menjelaskan hal ini? "Kedutan di mata kiri menandakan keberuntungan sedangkan kedutan di mata kanan menandakan bencana". Entah itu berarti keberuntungan atau bencana, apakah ada penjelasan mengenai mata yang berkedut? Pernahkah terjadi situasi di mana ketika mata kananmu berkedut, engkau merasa seolah-olah sesuatu yang buruk akan terjadi, engkau merasakan firasat dan tak lama kemudian, matamu berhenti berkedut, engkau melupakan semua itu, lalu sesuatu yang buruk terjadi beberapa hari kemudian, dan setelah menangani masalah ini, engkau tiba-tiba ingat, "Wah, pepatah tentang mata yang berkedut itu ternyata tepat. Mengapa? Karena beberapa hari yang lalu mata kananku memang mulai berkedut, dan setelah berhenti berkedut, peristiwa ini terjadi. Setelah itu terjadi, mataku tidak lagi berkedut sejak itu." Pernahkah hal seperti ini terjadi? Ketika engkau tidak mampu memahami sesuatu, engkau tidak berani mengatakan apa pun, engkau tidak berani menyangkalnya, juga tidak berani mengakui bahwa hal itu benar; engkau tidak dapat menghindari topik ini, engkau tidak mampu mengutarakannya dengan jelas, tetapi engkau masih menganggap hal itu masuk akal. Dengan mulutmu, engkau berkata, "Itu takhayul, aku tidak boleh memercayainya, segala sesuatu berada di tangan Tuhan." Engkau tidak memercayainya, tetapi peristiwa ini menjadi kenyataan; ini sangat tepat, bagaimana engkau menjelaskannya? Engkau tidak memahami kebenaran dan esensinya di sini, jadi engkau tidak mampu mengutarakannya dengan jelas. Engkau menyangkalnya di mulutmu, menyebutnya takhayul, tetapi di lubuk hatimu, engkau masih takut karena terkadang hal ini benar-benar menjadi kenyataan. Sebagai contoh, ada seseorang yang mengalami kecelakaan mobil dan meninggal dunia. Sebelum kecelakaan itu, istri orang itu mengalami kedutan parah di mata kanannya: mata itu terus berkedut siang dan malam. Sampai seburuk apakah kedutannya? Bahkan orang lain pun dapat melihat matanya berkedut. Beberapa hari kemudian, suaminya mengalami kecelakaan mobil dan meninggal. Setelah mengurus pemakaman, istri orang itu duduk dan perlahan-lahan mulai berpikir, "Ya ampun, selama beberapa hari itu, mataku berkedut sangat parah sehingga aku bahkan tidak dapat menahannya dengan tanganku. Aku tidak menyangka hal itu menjadi kenyataan dengan cara seperti ini." Kemudian, dia mulai memercayai pepatah ini, berpikir, "Ya ampun, ternyata sesuatu memang terjadi ketika mataku berkedut. Hal yang akan terjadi belum tentu hal yang baik atau buruk, tetapi sesuatu pasti akan terjadi. Itu adalah semacam pertanda atau firasat." Pernahkah hal ini terjadi? Ada orang-orang yang berkata, "Aku tidak memercayainya, ini adalah takhayul." Namun, itu terjadi tepat pada waktu itu, dan benar-benar terjadi setepat itu. Hal-hal yang disebutkan dalam budaya masyarakat bukanlah desas-desus yang tidak berdasar; takhayul berbeda dengan tradisi. Hingga batas tertentu, hal ini ada dalam kehidupan manusia dan hal ini juga memengaruhi dan mengendalikan lingkungan hidup manusia dan peristiwa yang terjadi dalam kehidupan mereka. Ada orang-orang yang berkata, "Jika demikian, bukankah ini adalah pertanda dari Tuhan, bukan takhayul? Karena ini bukan takhayul, kita harus memperlakukan dan memahami hal ini dengan baik. Ini bukan berasal dari Iblis, ini mungkin saja berasal dari Tuhan, sebuah petunjuk dari Tuhan. Kita tidak seharusnya mengutuk hal ini." Bagaimana kita dapat memandang hal ini dengan benar? Ini menguji kemampuanmu dalam memandang segala sesuatu dan menguji pemahamanmu akan kebenaran. Jika engkau memperlakukan segala sesuatu secara seragam, yakin bahwa, "Semua ini adalah takhayul, tidak ada hal yang seperti ini dan aku tidak memercayai satu pun darinya," apakah ini cara yang benar dalam memandang segala sesuatu? Sebagai contoh, ketika seseorang yang tidak percaya ingin pindah rumah, dia melihat di kalender tertulis, "Hari ini adalah hari yang sial untuk pindah", sehingga dia mengikuti pantangan ini dan tidak berani pindah pada hari itu. Dia memeriksa hari di mana itu tertulis, "Hari ini hari yang mujur untuk pindah" atau "Segala sesuatu akan mujur" sebelum pindah. Setelah pindah, tidak ada hal buruk yang terjadi, dan kepindahan itu tidak memengaruhi kekayaannya di masa depan. Apakah hal seperti ini terjadi? Ada seseorang yang membaca "hari yang sial untuk pindah" tetapi tidak memercayainya; dia tetap pindah. Hasilnya, setelah pindah, sesuatu yang buruk terjadi; keluarganya mengalami musibah, kekayaannya menurun, ada anggota keluarga yang meninggal dan ada yang jatuh sakit. Segala sesuatunya, mulai dari bertani, bekerja, berbisnis hingga sekolah anak-anaknya, menjadi sulit. Dia tidak tahu apa yang sedang terjadi. Dia pun berkonsultasi dengan peramal, yang berkata, "Kau telah melanggar pantangan selama waktu itu. Hari kepindahanmu adalah hari yang sial untuk pindah, dan dengan tetap pindah, berarti kau telah menyinggung Tai Sui."[a] Apa yang sedang terjadi di sini? Tahukah engkau? Jika engkau semua tidak mampu memahami hal ini, engkau tidak akan tahu bagaimana cara menangani situasi seperti ini ketika itu terjadi. Ketika ada orang tidak percaya berkata, "Biar kuberitahukan kepadamu, aku pindah pada hari yang sial untuk pindah, dan setelah pindah, keluargaku terus-menerus mengalami masalah hari demi hari, menjadi makin tidak beruntung, dan kami belum mengalami hari yang baik setelah itu," hatimu mungkin berdegup kencang mendengarnya. Engkau menjadi takut, lalu berpikir, "Ya ampun, jika aku tidak mengikuti pantangan itu, apakah hal yang sama akan terjadi padaku?" Engkau memikirkannya di benakmu, "Aku percaya kepada Tuhan, aku tidak takut!" Namun, keraguan masih melekat di benakmu, dan engkau tidak berani melanggar pantangan tersebut.

Bagaimana seharusnya kita memandang pepatah takhayul ini? Mari kita mulai dengan masalah mata yang berkedut. Apakah kita semua tahu apa arti kedutan di mata? Pemahaman paling dasar yang orang miliki adalah bahwa hal itu menandakan apa yang mungkin akan terjadi di masa depan, entah itu hal yang baik atau hal yang buruk. Namun, apakah itu takhayul atau bukan? Silakan menjawab. (Itu adalah takhayul.) Itu adalah takhayul. Pertanyaan selanjutnya, bolehkah orang yang percaya kepada Tuhan memercayai pepatah ini? (Tidak.) Mengapa mereka tidak boleh memercayainya? (Karena keberuntungan dan kemalangan ditata dan diatur dalam tangan Tuhan dan tidak ada kaitannya dengan apakah mata kita berkedut atau tidak. Segala sesuatu yang kita hadapi berada di bawah kedaulatan dan pengaturan Tuhan, dan kita harus menerimanya dengan sikap tunduk.) Seandainya suatu hari matamu berkedut parah sepanjang hari, dan terus berkedut hingga keesokan paginya. Setelah itu, sesuatu terjadi, dan engkau pun dipangkas. Setelah dipangkas, matamu berhenti berkedut. Apa yang akan kaupikirkan? "Kedutan di mataku menandakan bahwa aku akan dipangkas." Apakah ini hanya kebetulan? Apakah ini takhayul? Terkadang ini hanyalah kebetulan; terkadang hal-hal seperti ini terjadi. Apa yang sebenarnya terjadi? (Tuhan, kurasa mata yang berkedut mungkin merupakan bagian dari ritme tubuh yang normal, dan tidak boleh dikaitkan dengan dipangkas.) Mata yang berkedut harus dipahami sebagai berikut: entah manusia meyakini bahwa kedutan di satu mata menandakan keberuntungan dan kedutan di mata lainnya menandakan bencana, Tuhan menciptakan tubuh manusia dengan banyak misteri. Seberapa dalam misteri ini, rincian spesifik apa yang tercakup di dalamnya, naluri, kemampuan, dan potensi seperti apa yang dimiliki tubuh manusia, manusia sendiri tidak memiliki pengetahuan ini. Apakah tubuh manusia mampu merasakan alam roh, apakah tubuh manusia memiliki apa yang disebut orang indra keenam, orang tidak mengetahuinya. Perlukah manusia berusaha memahami aspek dari tubuh manusia yang tidak diketahui ini? (Tidak perlu.) Tidak perlu. Orang tidak perlu memahami misteri yang ada dalam tubuh manusia. Sekalipun mereka tidak perlu memahaminya, mereka harus memiliki pemahaman dasar bahwa tubuh manusia itu tidaklah sederhana. Tubuh manusia pada dasarnya berbeda dengan barang atau benda apa pun yang tidak diciptakan oleh Tuhan, seperti meja, kursi, atau komputer. Natur benda-benda ini sepenuhnya berbeda dengan natur tubuh manusia: benda-benda tidak bernyawa ini tidak memiliki pemahaman akan alam roh, sedangkan tubuh manusia, makhluk hidup yang berasal dari Tuhan, yang diciptakan oleh Tuhan ini, melalui panca indranya, mampu memahami lingkungan terdekat, suasana, dan objek khusus tertentu, serta cara bereaksi terhadap lingkungan sekitar dan peristiwa yang akan terjadi. Hal ini tidaklah sederhana, semua ini adalah misteri. Tubuh manusia bukan saja mampu merasakan hal-hal yang dingin, panas, menyenangkan atau tidak menyenangkan untuk dicium, yang manis, asam, pedas, tetapi juga terdapat misteri tertentu yang tidak disadari oleh kesadaran subjektif manusia. Manusia tidak tahu tentang hal-hal ini. Jadi, secara spesifik, apakah kedutan di mata berkaitan dengan saraf orang, dengan indra keenam mereka, atau dengan sesuatu yang berkaitan dengan alam roh, kita tidak akan mendalami hal ini. Bagaimanapun juga, fenomena ini ada, dan kita tidak akan menyelidiki tujuan dan makna keberadaannya. Jadi, terdapat pepatah tertentu tentang kedutan mata baik di tengah keluarga maupun dalam budaya masyarakat. Entah pepatah ini mengandung takhayul atau tidak, pada akhirnya, itu adalah pertanda yang terwujud dalam tubuh manusia sebelum terjadinya peristiwa tertentu di lingkungan hidup tertentu. Jadi, apakah perwujudan seperti ini termasuk takhayul, tradisi, atau sains? Ini adalah sesuatu yang tidak dapat diselidiki. Ini adalah sebuah misteri. Singkatnya, dalam kehidupan nyata, selama ribuan tahun dari sejak zaman purbakala hingga zaman sekarang, manusia telah menyimpulkan bahwa kedutan di mata seseorang ada hubungannya dengan peristiwa yang akan terjadi di sekitar mereka. Apakah hubungan ini ada kaitannya dengan kekayaan, keberuntungan, atau aspek lain dalam kehidupan seseorang, hal ini tidak mungkin untuk diselidiki. Ini juga merupakan misteri. Mengapa hal ini dianggap misteri? Banyak hal yang berkaitan dengan alam roh berada di luar dunia materiel, yang tidak mampu kaulihat, atau kaurasakan sekalipun hal-hal tersebut diberitahukan kepadamu. Itulah sebabnya hal ini dianggap sebagai misteri. Karena hal-hal ini adalah misteri dan manusia tidak dapat melihat atau merasakannya, tetapi karena perasaan tertentu yang memberi firasat dan perasaan akan terjadi sesuatu masih ada dalam diri manusia, bagaimana seharusnya orang menghadapinya? Aturan paling sederhana adalah mengabaikannya. Jangan percaya bahwa hal itu ada kaitannya dengan kekayaan atau keberuntunganmu. Jangan khawatir bahwa hal-hal buruk mungkin akan terjadi ketika mata kananmu berkedut, dan tentu saja jangan bersukacita ketika mata kirimu berkedut, karena mengira engkau akan menjadi kaya. Jangan biarkan hal-hal ini memengaruhimu. Alasan utamanya adalah karena engkau tidak memiliki kemampuan untuk meramalkan masa depan. Segala sesuatu diatur dan dikendalikan oleh Tuhan; entah yang akan terjadi itu baik atau buruk, semua itu berada di tangan Tuhan. Satu-satunya sikap yang harus kaumiliki adalah tunduk pada pengaturan dan penataan Tuhan. Jangan membuat prediksi atau melakukan pengorbanan, persiapan, atau perjuangan yang tidak perlu. Apa pun yang terjadi, akan terjadi, karena semuanya itu berada di tangan Tuhan. Tak seorang pun mampu mengubah pemikiran Tuhan, rencana-Nya, atau apa yang telah Dia tetapkan untuk terjadi. Entah engkau menempelkan kertas putih di kelopak matamu, menekankannya di kelopak mata dengan tanganmu, atau engkau mengandalkan sains atau takhayul, tak satu pun dari hal-hal ini akan menciptakan perbedaan. Apa yang akan terjadi, akan terjadi, akan menjadi kenyataan, dan engkau tidak dapat mengubahnya karena semua itu berada di tangan Tuhan. Upaya apa pun untuk menghindarinya adalah bodoh, pengorbanan yang sia-sia, dan tidak perlu. Melakukannya hanya memperlihatkan bahwa engkau memberontak dan keras kepala, tidak memiliki sikap yang tunduk kepada Tuhan. Apakah engkau mengerti? (Ya.) Jadi, apakah kedutan di mata dapat dianggap sebagai takhayul atau sains, sikapmu haruslah seperti ini: jangan merasa senang ketika mata kirimu berkedut, dan jangan merasa takut, gentar, khawatir, menolak, atau menentang ketika mata kananmu berkedut. Sekalipun memang terjadi sesuatu setelah matamu berkedut, engkau harus menghadapinya dengan tenang karena segala sesuatu berada di tangan Tuhan. Engkau tidak perlu takut atau khawatir. Jika sesuatu yang baik terjadi, bersyukurlah kepada Tuhan atas berkat-Nya. Ini adalah kasih karunia Tuhan; jika sesuatu yang buruk terjadi, berdoalah agar Tuhan menuntunmu, melindungimu, dan tidak membiarkanmu jatuh ke dalam pencobaan. Di lingkungan seperti apa pun setelah hal itu terjadi, mampukanlah dirimu untuk tunduk pada pengaturan dan penataan Tuhan. Jangan meninggalkan Tuhan, jangan mengeluh kepada-Nya, sebesar apa pun bencana yang menimpamu, atau separah apa pun kemalangan yang kaualami, jangan menyalahkan Tuhan. Bersedialah untuk tunduk pada pengaturan Tuhan. Bukankah dengan demikian, masalah ini akan terselesaikan? (Ya.) Mengenai hal-hal seperti ini, orang harus memiliki pemikiran dan sudut pandang berikut: "Apa pun yang terjadi di masa depan, aku siap, dan aku memiliki sikap yang tunduk terhadap Tuhan. Entah mata kiriku yang berkedut, entah mata kananku yang berkedut, atau kedua mata berkedut sekaligus, aku tidak takut. Aku tahu sesuatu mungkin akan terjadi di masa depan, tetapi aku percaya bahwa segala sesuatu berada di tangan Tuhan. Mungkin saja, ini adalah cara Tuhan memberitahuku tentang sesuatu yang akan terjadi, atau mungkin saja ini merupakan reaksi naluriah dari tubuh jasmaniahku. Apa pun yang terjadi, aku siap, dan aku memiliki sikap yang tunduk kepada Tuhan. Sebesar apa pun kerugian dan kehilangan yang kualami setelah ini terjadi, aku tidak akan menyalahkan Tuhan. Aku bersedia untuk tunduk." Inilah sikap yang harus manusia miliki. Setelah mereka memiliki sikap ini, mereka tidak akan lagi peduli apakah pepatah tentang mata berkedut yang keluarga tanamkan dalam diri mereka merupakan takhayul ataukah sains. Mereka berkata, "Tidak masalah apakah itu takhayul atau sains. Apa yang kauyakini adalah urusanmu. Jika engkau semua memintaku untuk menempelkan sepotong kertas di kelopak mataku, aku tidak akan melakukannya. Jika kedutannya mulai terasa tidak nyaman, aku hanya akan memejamkannya sebentar." Jika ada orang yang memberitahumu, "Matamu sering sekali berkedut, berhati-hatilah selama beberapa hari ke depan!" Dapatkah berhati-hati membantumu menghindari sesuatu? (Tidak, kita tidak dapat menghindari apa yang harus terjadi.) Jika bukan berkat, maka itu adalah bencana, jika itu adalah bencana, engkau tidak dapat menghindarinya; entah itu berkat atau bencana, bagaimanapun juga engkau harus menerimanya. Ini berarti memiliki sikap seperti Ayub. Jika engkau hanya mau menerima selama itu adalah berkat, dan engkau senang ketika mata kirimu berkedut, sebaliknya, engkau marah ketika mata kananmu berkedut, dengan berkata, "Mengapa mataku berkedut? Mataku terus saja berkedut, tidak pernah berhenti! Aku akan berdoa dan aku akan mengutuk agar mata kananku tidak lagi berkedut dan agar kemalangan menjauh dariku." Ini bukanlah sikap yang seharusnya dimiliki oleh orang yang percaya kepada Tuhan dan mengikuti-Nya. Tanpa seizin Tuhan, jika Tuhan tidak menentukan hal itu terjadi, apakah kemalangan atau setan akan berani mendekatimu? (Tidak.) Baik dunia materiel maupun alam roh, semua itu berada di bawah kendali, kedaulatan, dan pengaturan Tuhan. Apa pun yang ingin dilakukan setan kecil itu, tanpa seizin Tuhan, akan beranikah dia mencelakakan bahkan sehelai rambut di kepalamu? Dia tidak akan berani, bukan? (Tidak.) Dia ingin menyentuhmu dan mencelakakanmu, tetapi jika Tuhan tidak mengizinkannya, dia tidak akan berani. Jika Tuhan mengizinkannya, dengan berkata, "Kacaukan sedikit keadaan di sekitarnya dan datangkan kemalangan dan masalah," maka setan kecil itu akan senang dan mulai bertindak terhadapmu. Jika engkau beriman kepada Tuhan dan engkau mengatasinya, tetap teguh dalam kesaksianmu, tidak menyangkal ataupun mengkhianati Tuhan, tidak membiarkan setan itu berhasil, maka ketika setan kecil itu datang ke hadapan Tuhan, dia tidak akan mampu lagi menuduhmu, Tuhan akan memperoleh kemuliaan darimu, dan Dia akan mengurung setan kecil itu. Dia tidak akan berani lagi mencelakakanmu, dan engkau akan aman. Inilah iman sejati yang harus kaumiliki, percaya bahwa segala sesuatu berada di tangan Tuhan. Tanpa seizin Tuhan, tidak ada kemalangan atau hal buruk yang akan menimpamu. Tuhan mampu melakukan lebih dari sekadar memberkati manusia; Dia mampu mengatur berbagai keadaan untuk mengujimu dan menempamu, mengajarimu pelajaran dari keadaan tersebut, dan Dia mampu mengatur berbagai keadaan untuk menghajar dan menghakimimu. Terkadang lingkungan yang Tuhan atur mungkin tidak sesuai dengan gagasanmu dan tentu saja tidak sesuai dengan yang kaubayangkan. Namun, jangan lupa apa yang Ayub katakan, "Apakah kita mau menerima yang baik dari tangan Tuhan dan tidak mau menerima yang jahat?" (Ayub 2:10). Ini harus menjadi sumber imanmu yang sejati kepada Tuhan. Jika engkau percaya bahwa Tuhan mengendalikan segala sesuatu, sekadar mata yang berkedut tidak akan membuatmu takut, bukan? (Ya.)

Kita baru saja mempersekutukan cara mengatasi mata yang kedutan. Mata yang kedutan—peristiwa yang biasa terjadi dalam kehidupan sehari-hari—adalah sesuatu yang orang sering berusaha atasi dengan cara-cara manusia. Namun, cara-cara ini biasanya tidak mencapai hasil yang diinginkan, dan pada akhirnya, hal yang dimaksudkan untuk terjadi, akan terjadi, dan tak seorang pun dapat menghindarinya. Entah yang terjadi itu hal yang baik atau buruk, entah itu adalah sesuatu yang orang inginkan untuk terjadi atau tidak, apa yang dimaksudkan untuk terjadi, pasti akan terjadi. Hal ini makin menegaskan bahwa baik itu nasib seseorang maupun hal-hal kecil dalam kehidupan orang sehari-hari, semua itu diatur dan dikendalikan oleh Tuhan, dan tak seorang pun dapat menghindarinya. Oleh karena itu, orang yang bijak haruslah memperlakukan hal-hal ini dengan sikap yang benar dan positif, memandang dan mengatasi hal-hal seperti ini berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran dan firman Tuhan, bukannya menggunakan cara-cara manusia dengan melakukan pengorbanan atau perjuangan yang sia-sia, karena pada akhirnya, merekalah yang akan mengalami kerugian. Ini karena dalam hal kedaulatan Sang Pencipta, tidak ada jalan kedua yang dapat dipilih oleh manusia. Ini adalah satu-satunya jalan yang harus dipilih dan ditempuh. Tunduk pada pengaturan dan penataan Tuhan, memetik pelajaran di lingkungan yang Tuhan atur, belajar tunduk kepada Tuhan, agar memahami perbuatan Tuhan, mengenal diri sendiri, dan memahami jalan apa yang harus dipilih dan ditempuh makhluk ciptaan, dan belajar cara menempuh jalan hidup yang sudah seharusnya orang tempuh dengan baik, bukannya menentang pengaturan dan penataan Tuhan dengan menggunakan takhayul atau cara-cara manusia.

Catatan kaki:

a. Tai Sui adalah kependekan dari Dewa Tai Sui. Dalam astrologi Tiongkok, Tai Sui berarti Dewa Penjaga Tahun. Tai Sui mengatur semua peruntungan pada tahun tertentu.

Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.

Hubungi kami via WhatsApp