Firman tentang Bagaimana Mengalami Kegagalan, Kejatuhan, Ujian, dan Pemurnian (Kutipan 63)
Ada orang-orang yang sering jatuh sakit, tetapi sebanyak apa pun mereka berdoa kepada Tuhan, mereka tetap tidak sembuh. Sebesar apa pun keinginan mereka untuk terbebas dari penyakit itu, mereka tidak dapat terbebas darinya. Terkadang, mereka bahkan menghadapi kondisi yang mengancam nyawa dan terpaksa harus menghadapinya secara langsung. Sebenarnya, jika orang benar-benar percaya kepada Tuhan, pertama-tama mereka harus tahu bahwa masa hidup manusia berada di tangan Tuhan. Waktu kelahiran dan kematian orang ditentukan sejak semula oleh Tuhan. Ketika Tuhan mengizinkan orang menderita penyakit, ada alasannya—ada makna di baliknya. Meskipun itu terasa seperti penyakit bagi mereka, sebenarnya, yang telah diberikan kepada mereka adalah kasih karunia, bukan penyakit. Orang harus terlebih dahulu menyadari dan meyakini fakta ini, dan menganggapnya serius. Ketika orang menderita karena suatu penyakit, mereka bisa sering datang ke hadapan Tuhan, dan memastikan bahwa mereka akan melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan dengan bijak dan berhati-hati, dan memperlakukan tugas mereka dengan lebih peduli dan rajin dibandingkan orang lain. Bagi manusia, ini adalah perlindungan, bukan belenggu. Ini adalah cara negatif menangani sesuatu. Selain itu, masa hidup setiap orang telah ditentukan sebelumnya oleh Tuhan. Suatu penyakit mungkin di permukaan tampak mematikan dari sudut pandang medis, tetapi dari sudut pandang Tuhan, jika hidupmu masih harus terus berlanjut dan waktumu belum tiba, maka engkau tidak bisa mati sekalipun engkau menginginkannya. Jika Tuhan telah memberimu amanat dan misimu belum selesai, engkau bahkan tidak akan mati karena penyakit yang seharusnya bisa mematikan—Tuhan belum akan mengambilmu. Meskipun engkau tidak berdoa dan mencari kebenaran, atau tidak berusaha merawat penyakitmu, atau meskipun engkau menghentikan pengobatanmu, engkau tidak akan mati. Hal ini terutama berlaku bagi mereka yang telah menerima amanat dari Tuhan: jika misi mereka belum selesai, penyakit apa pun yang menimpa mereka, mereka tidak bisa langsung mati; mereka harus hidup sampai saat terakhir misi tersebut diselesaikan. Apakah engkau memiliki kepercayaan ini? Jika tidak memiliki kepercayaan ini, engkau hanya akan memanjatkan doa-doa yang dangkal kepada Tuhan dengan berkata, "Tuhan! Aku telah menyelesaikan amanat yang Kauberikan kepadaku. Aku ingin menghabiskan hari-hari terakhirku dalam kesetiaan kepada-Mu, agar aku tidak akan meninggalkan penyesalan. Engkau harus melindungiku!" Meskipun engkau berdoa seperti ini, jika engkau tidak berinisiatif untuk mencari kebenaran, engkau tidak akan memiliki kemauan dan kekuatan untuk menunjukkan kesetiaanmu. Karena engkau tidak benar-benar mau membayar harga, engkau sering menggunakan alasan semacam ini dan cara ini untuk berdoa kepada Tuhan dan bertransaksi dengan-Nya—seperti inikah orang yang mengejar kebenaran? Jika penyakitmu disembuhkan, akankah engkau benar-benar mampu melaksanakan tugasmu dengan baik? Belum tentu. Sebenarnya, entah engkau bertransaksi agar sembuh dari penyakitmu atau agar engkau bisa hidup lebih lama, atau karena engkau memiliki niat atau tujuan tertentu, dari sudut pandang Tuhan, jika engkau mampu melaksanakan tugasmu dan engkau masih berguna, jika Tuhan telah menentukan bahwa engkau masih akan digunakan, maka engkau tidak akan mati. Engkau tidak akan mati meskipun engkau menginginkannya. Namun, jika engkau menimbulkan masalah, dan melakukan segala macam perbuatan jahat, dan sangat menyinggung watak Tuhan, engkau akan segera mati; umurmu akan dipersingkat. Masa hidup setiap orang ditentukan oleh Tuhan sebelum penciptaan dunia ini. Jika mereka mampu menaati pengaturan dan penataan Tuhan, maka entah mereka menderita penyakit atau tidak, dan entah kesehatan mereka baik atau buruk, mereka akan hidup sesuai jumlah tahun yang ditentukan oleh Tuhan sejak semula. Apakah engkau memiliki kepercayaan seperti ini? Jika engkau hanya mengakuinya berdasarkan doktrin, berarti engkau tidak memiliki kepercayaan sejati, dan tidak ada gunanya mengucapkan perkataan yang terdengar menyenangkan; jika engkau dengan tegas mengakui dari lubuk hatimu bahwa Tuhan akan melakukan hal ini, caramu memperlakukan dan menerapkan hal ini akan berubah dengan sendirinya. Tentu saja, orang harus memiliki akal sehat dalam hal menjaga kesehatan mereka selama mereka hidup, entah mereka jatuh sakit atau tidak. Ini adalah naluri yang telah Tuhan berikan kepada manusia. Inilah nalar dan akal sehat yang harus orang miliki dalam kehendak bebas yang telah Tuhan berikan kepada mereka. Saat engkau sakit, engkau harus memiliki akal sehat mengenai bagaimana merawat kesehatanmu dan mengobati penyakitmu—inilah yang harus kaulakukan. Namun, mengobati penyakitmu dengan cara ini bukan berarti engkau memperpanjang umur yang telah Tuhan tetapkan bagimu, juga bukan untuk menjamin bahwa engkau akan hidup lebih lama daripada masa hidup yang telah Dia tetapkan bagimu. Apa maksudnya? Dapat dikatakan seperti ini: secara pasif, jika engkau tidak menganggap serius penyakitmu, jika engkau melaksanakan tugasmu sebagaimana mestinya, dan beristirahat sedikit lebih lama daripada orang lain, jika engkau tidak menunda tugasmu, penyakitmu itu tidak akan bertambah parah, dan tidak akan merenggut nyawamu. Semuanya tergantung pada apa yang Tuhan lakukan. Dengan kata lain, jika, dalam pandangan Tuhan, masa hidupmu yang ditetapkan sejak semula belum sampai pada akhirnya, maka, sekalipun engkau sakit, Dia tidak akan membiarkanmu mati. Jika penyakitmu tidak mematikan, tetapi saatmu sudah tiba, maka Tuhan akan mengambil nyawamu kapan pun Dia kehendaki. Bukankah hal ini sepenuhnya tunduk pada pemikiran Tuhan? Hal ini tunduk pada penentuan-Nya dari sejak semula! Beginilah seharusnya engkau memandang masalah ini. Engkau mungkin melakukan bagianmu dan pergi ke dokter, minum obat, menjaga kesehatanmu, dan berolahraga, tetapi engkau harus memahami dalam lubuk hatimu bahwa hidup orang berada di tangan Tuhan, dan masa hidup orang sudah ditentukan sejak semula oleh Tuhan. Tak seorang pun bisa melampaui apa yang telah Tuhan tentukan sejak semula. Jika engkau tidak sama sekali memiliki pemahaman ini, berarti engkau tidak benar-benar beriman, dan tidak benar-benar percaya kepada Tuhan.
Ada orang-orang yang melakukan segala cara, menggunakan berbagai metode untuk mengobati penyakit mereka, tetapi pengobatan apa pun yang mereka gunakan, penyakit mereka tidak dapat disembuhkan. Makin diobati, makin parah penyakit mereka. Bukannya berdoa kepada Tuhan untuk mengetahui apa sebenarnya yang terjadi dengan penyakit mereka, dan mencari sumber penyebabnya, mereka malah menanganinya dengan mengandalkan diri mereka sendiri. Pada akhirnya, mereka menggunakan banyak cara dan menghabiskan cukup banyak uang, tetapi penyakit mereka tetap tidak sembuh. Kemudian, setelah menghentikan pengobatan, penyakit itu tiba-tiba sembuh dengan sendirinya, dan mereka tidak tahu bagaimana hal itu bisa terjadi. Ada orang-orang yang mengidap penyakit yang biasa-biasa saja dan mereka tidak terlalu mengkhawatirkannya, tetapi pada suatu hari keadaannya memburuk dan mereka mendadak meninggal. Mengapa hal ini terjadi? Manusia tidak mampu memahaminya; sebenarnya, dari sudut pandang Tuhan, ini adalah karena misi orang-orang itu di dunia ini telah berakhir, jadi Dia mengambil nyawa mereka. Orang sering berkata, "Manusia tidak akan mati jika mereka tidak sakit." Benarkah demikian? Ada orang yang, setelah diperiksa di rumah sakit, didapati tidak mengidap penyakit apa pun. Dia sangat sehat tetapi beberapa hari kemudian dia mendadak meninggal. Ini disebut mati tanpa mengidap penyakit. Ada banyak orang yang seperti itu. Ini berarti mereka telah mencapai akhir hidup mereka, dan mereka telah dibawa kembali ke alam roh. Ada orang-orang yang sembuh dari kanker dan TBC dan masih hidup hingga berusia tujuh puluhan atau delapan puluhan. Ada cukup banyak orang yang seperti itu. Semua ini tergantung pada penetapan Tuhan. Memiliki pemahaman seperti ini merupakan iman sejati kepada Tuhan. Jika tubuhmu sakit dan engkau perlu mengonsumsi obat untuk mengatasi keadaanmu, maka engkau harus mengonsumsi obat atau berolahraga secara teratur, menenangkan dirimu dan menanganinya dengan tenang. Sikap macam apakah ini? Ini merupakan sikap dari iman yang tulen kepada Tuhan. Misalkan engkau tidak mengonsumsi obatmu, tidak disuntik, tidak berolahraga, tidak menjaga kesehatanmu, tetapi engkau sangat khawatir, sembari terus berdoa: "Ya Tuhan, aku harus melaksanakan tugasku dengan baik, misiku belum selesai, aku belum siap mati. Aku ingin melaksanakan tugasku dan menyelesaikan amanat-Mu. Jika aku mati, aku tidak akan mampu menyelesaikan amanat-Mu. Aku tidak ingin mati dengan meninggalkan penyesalan apa pun. Tuhan, kumohon dengarkanlah doaku; izinkanlah aku terus hidup agar aku dapat melaksanakan tugasku dan menyelesaikan amanat-Mu. Aku ingin memuji-Mu untuk selamanya dan menyaksikan hari kemuliaan-Mu sesegera mungkin." Di luarnya, engkau tidak mengonsumsi obat atau tidak disuntik, dan engkau tampak sangat kuat dan penuh iman kepada Tuhan. Padahal sebenarnya, imanmu lebih kecil daripada biji sesawi. Engkau sangat ketakutan, dan engkau tidak memiliki iman kepada Tuhan. Mengapa dikatakan engkau tidak memiliki iman kepada Tuhan? Bagaimana ini bisa terjadi? Manusia sama sekali tidak memahami sikap, prinsip, dan cara Sang Pencipta dalam menangani makhluk ciptaan-Nya, sehingga mereka menggunakan sudut pandang, gagasan, dan imajinasi mereka yang terbatas untuk mereka-reka apa yang akan Tuhan lakukan. Mereka ingin bertaruh dengan Tuhan untuk melihat apakah Tuhan akan menyembuhkan mereka dan membiarkan mereka berumur panjang atau tidak. Bukankah ini bodoh? Jika Tuhan mengizinkanmu untuk hidup, engkau tidak akan mati separah apa pun penyakitmu. Jika Tuhan tidak mengizinkanmu untuk hidup, meskipun engkau tidak sakit, engkau akan tetap mati jika itu yang harus terjadi. Masa hidupmu ditentukan sejak semula oleh Tuhan. Mengetahui hal ini adalah pengetahuan yang sejati dan iman yang sejati. Jadi, apakah Tuhan membuat orang jatuh sakit secara kebetulan? Ini bukan sesuatu yang kebetulan; ini adalah sebuah cara untuk memurnikan iman mereka. Ini adalah penderitaan yang harus ditanggung manusia. Jika Dia membuatmu jatuh sakit, jangan mencoba untuk menghindarinya; jika Dia tidak membuatmu jatuh sakit, maka jangan memintanya. Semuanya berada di tangan Sang Pencipta, dan manusia harus belajar untuk membiarkan alam mengambil jalannya. Apa artinya alam? Tidak ada di alam ini yang terjadi secara kebetulan; semua berasal dari Tuhan. Ini benar adanya. Di antara para penderita penyakit yang sama, sebagian mati dan yang lainnya hidup; semua ini telah ditentukan sejak semula oleh Tuhan. Jika engkau bisa hidup, itu membuktikan bahwa engkau belum menyelesaikan misi yang Tuhan berikan kepadamu. Engkau harus bekerja keras untuk menyelesaikannya, dan menghargai waktu yang ada; jangan menyia-nyiakannya. Inilah artinya. Jika engkau sakit, jangan mencoba menghindarinya, dan, jika engkau tidak sakit, jangan memintanya. Bagaimanapun, engkau tidak bisa mendapatkan apa yang engkau inginkan hanya dengan memintanya, engkau juga tidak bisa melarikan diri dari apa pun hanya karena engkau menginginkannya. Tidak seorang pun bisa mengubah apa yang telah Tuhan putuskan untuk dilakukan-Nya.
Sebelum disalibkan, Tuhan Yesus memanjatkan doa. Bagaimanakah tepatnya Dia berdoa? ("Jikalau mungkin, biarlah cawan ini lalu daripada-Ku: tetapi bukan seperti yang Aku inginkan, melainkan seperti keinginan-Mu" (Matius 26:39).) Sebagai manusia yang diciptakan, semua orang harus menjalani proses pencarian seperti itu, karena mereka tidak memahami maksud Tuhan. Ini adalah proses yang normal. Namun, bagaimanapun caramu mencari, dan seberapapun lamanya, seberat, atau sesulit apa pun proses pencarian itu, tidak ada satu pun yang telah Tuhan tetapkan sejak semula yang pernah berubah, dan Dia juga tidak pernah memutuskan untuk mengubahnya. Orang mungkin mencari dan menanti, dan Tuhan memang mengizinkan mereka mengalami suatu proses yang melaluinya mereka mendapatkan pemahaman, pengetahuan, dan kejelasan tentang apa yang sesungguhnya benar, tetapi Dia tidak akan pernah mengubah satu keputusan pun. Oleh karena itu, engkau tidak seharusnya merasa bahwa hal-hal yang terjadi kepadamu terjadi secara kebetulan, atau ketika engkau entah bagaimana lolos dari bencana dan kematian tertentu, itu adalah keberuntungan dan kebetulan semata. Itu bukan kebetulan. Tuhan memiliki rencana yang telah ditetapkan sebelumnya dan pengaturan khusus bagi setiap makhluk ciptaan, dari yang terbesar hingga yang terkecil, dari yang makroskopis—planet dan alam semesta—hingga manusia, dan bahkan mikroorganisme. Seperti inilah kemahakuasaan Tuhan. Ada orang-orang yang jatuh sakit mengira penyakit mereka disebabkan kelelahan karena aktivitas tertentu atau karena makan sesuatu yang salah secara tidak sengaja. Jangan mencari-cari alasan seperti itu; semua itu adalah sikap yang negatif dan menentang. Engkau harus dengan positif menghadapi lingkungan, orang, peristiwa, dan hal-hal yang telah Tuhan atur untukmu. Jangan mencari alasan objektif; sebaliknya, engkau harus mencari dan memahami apa sebenarnya maksud dan sikap Tuhan dengan menghadirkan situasi ini bagimu, dan bagaimana seharusnya sikapmu sebagai makhluk ciptaan saat menghadapinya; inilah jalan yang harus kaucari. Jika seseorang bertahan hidup, itu tidak pernah terjadi secara kebetulan, dan itu juga tak dapat dihindari; selalu terdapat pengaturan, keinginan, dan kedaulatan Sang Pencipta di dalamnya. Tidak ada yang hampa. Apakah menurutmu firman Tuhan, maksud-Nya, dan kebenaran itu hampa? Tidak! Ketika orang belum memahami maksud Tuhan, mereka cenderung memiliki gagasan dan imajinasi tertentu, dan merasa seakan-akan gagasan dan imajinasi tersebut benar dan pasti sesuai dengan keinginan Tuhan. Orang tidak memahami apa keinginan Tuhan itu, sehingga mereka merasa, "Cara berpikirku ini benar. Aku memiliki iman yang tulen. Aku takut dan tunduk kepada Tuhan, aku adalah orang yang mengasihi Tuhan." Sebenarnya, Tuhan sangat membenci gagasan dan imajinasimu. Engkau menganggap dirimu benar, padahal sebenarnya, engkau sama sekali tidak memahami kebenaran, dan engkau juga belum memperoleh kebenaran. Ketika suatu hari engkau memahami semua hal ini dan menyadari bahwa semua ini pada akhirnya ditentukan, diatur, dan ditetapkan oleh Sang Pencipta, engkau akhirnya akan memetik pelajaran dari semua orang, peristiwa, dan hal-hal yang telah kautemui, dan engkau akan memperoleh hasil yang pantas kauperoleh. Baru setelah itulah engkau akan benar-benar memahami maksud Tuhan dan menyadari bahwa semua yang Tuhan lakukan adalah untuk menyelamatkan manusia, dan bahwa kebaikan Tuhan dan upaya-Nya yang sungguh-sungguh terkandung di dalam semua perbuatan-Nya. Setelah engkau memahami ini, engkau harus bersyukur dan memuji Tuhan, jangan pernah merasa seperti ini: "Tuhan telah menetapkanku untuk melaksanakan tugas ini, jadi aku pasti sangat penting di hati Tuhan. Tuhan tidak dapat meninggalkanku dan Dia tidak akan membiarkanku mati." Ini keliru. Tuhan memiliki cara dalam semua yang Dia lakukan. Apa maksudnya? Tuhan menetapkan kapan seseorang akan dilahirkan, kapan mereka akan mati, dan berapa banyak misi yang akan mereka miliki dalam hidup ini. Tuhan telah menentukan masa hidupmu. Dia tidak akan mengakhiri masa hidupmu lebih awal karena kinerjamu yang buruk dalam hidup ini, dan Dia juga tidak akan memperpanjang hidupmu selama beberapa tahun karena kinerjamu yang baik dalam hidup ini. Inilah yang dimaksud dengan memiliki cara. Mengenai orang-orang jahat yang melakukan segala macam perbuatan jahat di dunia, yang telah menyebabkan kerugian besar bagi dunia, yang melakukan banyak perbuatan merugikan yang membahayakan orang lain selama jangka waktu tertentu, ada orang-orang yang berkata: "Tuhan itu buta. Mengapa Dia tidak memusnahkan orang-orang seperti itu?" Tahukah engkau apa penyebab hal ini? Apa sumber penyebab di balik hal ini? Sumber penyebabnya adalah: karena figur positif memainkan peran positif, dan figur negatif memainkan peran negatif. Setiap orang memiliki misi, setiap orang memiliki peran, hidup dan mati setiap orang sudah sejak lama ditentukan; Tuhan tidak pernah mengacaukan hal ini. Saat engkau dilahirkan, engkau datang ke dalam dunia ini pada waktunya, tidak meleset dari jadwal barang semenit atau sedetik pun; saat engkau mati dan jiwamu terangkat darimu, itu juga tidak akan meleset dari jadwal semenit atau sedetik pun. Tuhan tidak akan mengubah masa hidup yang pada mulanya telah ditetapkan bagi seseorang hanya karena kontribusinya yang besar bagi manusia, tidak akan membiarkannya hidup dua puluh atau tiga puluh tahun lebih lama. Tuhan tidak pernah melakukan hal ini dan tidak akan pernah melakukannya kelak. Dia juga tidak akan membuat seseorang mati sebelum waktunya hanya karena dia sangat berbahaya bagi manusia. Tuhan tidak pernah melakukan hal itu. Ini adalah aturan dan hukum surgawi, dan Tuhan tidak akan pernah melanggarnya. Apa yang telah kaupahami dari hal ini? (Tak seorang pun dapat mengubah hal-hal yang telah Tuhan tetapkan.) Tuhan sendiri tidak akan pernah mengacaukan ataupun mengubah hal-hal yang telah Dia tetapkan atau rencanakan. Ini adalah fakta; selain itu, dari hal ini, kita dapat melihat kuasa dan hikmat Tuhan. Tuhan telah sepenuhnya merencanakan asal-usul, kemunculan, masa hidup, kesudahan semua makhluk ciptaan, serta misi hidup mereka dan peran yang mereka mainkan di antara seluruh umat manusia. Tak seorang pun dapat mengubah hal-hal ini; ini adalah otoritas Sang Pencipta. Kemunculan setiap makhluk ciptaan, misi hidup mereka, kapan masa hidup mereka akan berakhir—semua tatanan ini telah ditetapkan oleh Tuhan sejak lama, sebagaimana Tuhan menetapkan orbit setiap benda angkasa; orbit mana yang diikuti benda-benda langit ini, selama berapa tahun, bagaimana mereka mengorbit, hukum-hukum apa yang mereka ikuti—semua ini telah ditetapkan oleh Tuhan sejak dahulu kala, tidak berubah selama ribuan, puluhan ribu, ratusan ribu tahun. Ini ditetapkan oleh Tuhan, dan ini adalah otoritas-Nya. Lalu, bagaimana dengan manusia, makhluk ciptaan yang sangat kecil itu? Mari kita kesampingkan manusia dan terlebih dahulu membahas tentang anjing. Tuhan telah menetapkan bahwa anjing akan hidup sekitar sepuluh tahun, dan mereka pasti akan mati saat mencapai umur tersebut. Dapatkah jangka waktu itu diubah? (Tidak.) Kita tidak akan membahas tentang kasus-kasus khusus. Masa hidup binatang kecil saja, yang manusia tidak mampu mengubahnya, telah ditetapkan sejak semula oleh Tuhan—apalagi masa hidup manusia, bukan? Jadi, apa pun yang orang doakan, hal yang paling tidak perlu mereka doakan adalah agar masa hidup mereka diperpanjang. Berkat dan kemalangan dalam hidup seseorang, dan kapan seseorang akan mati—hal-hal ini telah ditetapkan sejak semula oleh Tuhan. Tak seorang pun dapat mengubahnya, dan doa sebanyak apa pun tidak akan berpengaruh. Engkau dapat berdoa kepada Tuhan agar Dia mencerahkanmu tentang hal-hal tertentu, misalnya tentang apa yang kaualami, apa yang kaupahami, dan apa yang dapat kauperoleh dari lingkungan tertentu. Dengan kata lain, engkau dapat mencari kebenaran dan berdoa kepada Tuhan agar engkau memiliki jalan masuk kehidupan dan mengubah watak hidupmu. Jika kesungguhanmu mampu menggerakkan Tuhan, engkau akan mampu memperoleh pekerjaan Roh Kudus. Itulah yang mau Tuhan lakukan. Namun, engkau hendaknya bersikap masuk akal. Engkau tidak boleh berdoa agar umurmu diperpanjang atau agar engkau hidup selamanya, karena masa hidupmu telah ditetapkan oleh Tuhan. Itu tidak dapat diubah oleh manusia, dan permohonan sebanyak apa pun tidak akan membuat perbedaan. Selama hal itu ditetapkan oleh Tuhan, Dia tidak akan mengubahnya. Jika engkau mengakui bahwa Tuhan adalah Sang Pencipta, bahwa Tuhan adalah Penguasamu, Tuhanmu dan Tuanmu, maka jangan pernah berdoa untuk hal-hal ini. Apa yang Tuhan katakan agar orang mendoakan? Apa yang dikatakan dalam Doa Bapa Kami? "Kerajaan-Mu datanglah, kehendak-Mu terjadilah di bumi, seperti di surga" (Matius 6:10). Apa lagi yang seharusnya kaudoakan? Tahukah engkau? Berdoalah agar engkau dapat melaksanakan tugasmu sebagai makhluk ciptaan di dalam pekerjaan pengelolaan Tuhan. Berdoalah agar engkau dapat menyelesaikan amanat yang Tuhan berikan kepadamu, agar engkau dapat melaksanakan misimu dengan baik, menghindari gagalnya misimu, menjadi layak atas kehidupan dan keberadaan yang Tuhan berikan kepadamu, dan tidak membiarkan hidupmu menjadi sia-sia. Berdoalah agar dalam kehidupan ini, engkau mengenal Sang Pencipta, hidup dalam keserupaan dengan makhluk ciptaan sebagaimana seharusnya, dan memenuhi keinginan Sang Pencipta—hal-hal seperti inilah yang harus kaudoakan. Hal apa yang boleh dan tidak boleh kaudoakan, hal-hal apa saja yang kaudoakan yang sesuai dan yang tidak sesuai dengan maksud Tuhan, apakah yang ingin kaudoakan dapat dikabulkan atau tidak—hal-hal inilah yang harus terlebih dahulu kaupahami. Jangan bertindak bodoh. Jika yang kaudoakan telah ditetapkan oleh Tuhan, maka doamu itu sia-sia. Bukankah itu berarti engkau bodoh jika mendoakannya? Bukankah ini berarti menentang Tuhan? Tuhan menghendakimu hidup selama delapan puluh tahun, tetapi engkau menuntut untuk hidup seratus tahun; Tuhan menghendakimu hidup selama tiga puluh tahun, tetapi engkau menuntut untuk mencapai umur enam puluh. Bukankah ini merupakan pemberontakan? Bukankah ini berarti menentang Tuhan? Orang hendaknya bersikap masuk akal dan tidak melakukan hal-hal yang bodoh.
Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.