Cara Manusia Memasuki Zaman Baru (Bagian Dua)

Apakah engkau semua benar-benar telah memahami semua yang Kukatakan ini? Apakah engkau semua mengetahui cara untuk masuk ke zaman yang baru? Dan tahukah engkau aspek apa sajakah yang perlu kauubah, dari aspek mana engkau harus masuk? Mungkin engkau semua tidak memahami hal ini. Meskipun manusia mendapatkan jalan masuk di masa lalu, mereka masih kurang dalam banyak aspek dan tidak mampu memenuhi tuntutan Tuhan. Sekarang ini, Tuhan mengucapkan begitu banyak firman untuk memimpin manusia ke zaman yang baru. Mengapa manusia selalu memiliki gagasan tertentu tentang firman Tuhan dan pekerjaan-Nya? Ini menunjukkan bahwa mereka belum memperoleh kebenaran sebelumnya dan mereka tidak memiliki kenyataan kebenaran. Meskipun engkau mungkin mampu menerima firman Tuhan saat engkau membacanya sekarang, mengapa dalam kehidupan nyatamu engkau tidak mampu menerapkan kebenaran, malah sebaliknya, engkau selalu memberontak terhadap Tuhan dan menentang-Nya? Mengapa saat terjadi sesuatu pada dirimu, engkau selalu memiliki gagasanmu sendiri dan bertindak sesuai dengan kehendakmu sendiri, tetapi tidak mampu tunduk kepada Tuhan? Penyebabnya karena di dalam dirimu ada terlalu banyak hal-hal daging dan keinginan diri sendiri, dan engkau selalu menganggap caramu adalah cara yang benar. Engkau semua merasa hebat ketika engkau mendengarkan khotbah dan tidak menyimpan gagasan apa pun, namun ketika terjadi sesuatu padamu, engkau ingin menerapkan kebenaran tetapi engkau kehilangan kendali, dan sikapmu yang suka memberontak muncul. Menurut-Ku engkau semua sangat suka memberontak, dan jika engkau tidak percaya perkataan-Ku ini, engkau dapat membuat catatan. Setiap kali engkau mendengarkan firman Tuhan, catatlah gagasan-gagasan apa saja yang muncul dalam hatimu dan apa saja pemikiranmu, kemudian galilah hal-hal yang ada dalam dirimu, analisislah, perhadapkan dengan firman Tuhan, dan engkau akan tahu sejauh mana pemberontakanmu. Berlatih dengan cara ini bermanfaat untuk jalan masuk kehidupanmu. Engkau harus berani menghadapi fakta dan berani menyingkapkan dirimu sendiri. Jika engkau berani menyingkapkan dirimu, ini membuktikan bahwa engkau memiliki hati yang mau menerima kebenaran, hati yang melepaskan gagasanmu sendiri dan tunduk kepada Tuhan. Engkau harus memberontak terhadap dirimu; jangan terus-menerus memberontak terhadap Tuhan, karena hal itu salah. Tidak ada gunanya percaya kepada Tuhan tetapi tidak mengetahui cara untuk tunduk kepada-Nya. Pada saat engkau merasa begitu mudah bagimu untuk tunduk kepada Tuhan, pada saat itulah engkau akan memiliki damai dan sukacita dalam hatimu; engkau akan sangat menikmati membaca firman Tuhan, engkau akan mampu mengungkapkan apa yang ingin kaukatakan ketika berdoa kepada Tuhan, dan engkau akan menjadi makin dekat dengan-Nya. Orang-orang yang selalu memberontak terhadap Tuhan tidak pernah mau menerapkan kebenaran, dan ketika mereka membaca firman Tuhan, firman itu tidak meresap—jadi mungkinkah ada damai dan sukacita dalam hati mereka? Ketika orang menghadapi masalah, gagasan dan imajinasi mereka muncul, dan mereka tidak mampu untuk menghindarinya. Jadi, engkau harus merenungkan dirimu dan berpikir, "Bagaimana masalah ini bisa terjadi? Bagaimana gagasan semacam ini muncul? Di manakah dapat kutemukan sumber masalahnya?" Engkau harus berdoa kepada Tuhan, membaca firman Tuhan, memahami yang sebenarnya tentang masalah ini, dan ketika masalahnya terselesaikan engkau akan memperoleh jalan masuk kehidupan. Jika engkau tidak menyelesaikan masalahmu secara nyata dengan cara ini, selalu yakin bahwa menyimpan gagasan tertentu bukanlah masalah besar, mengira gagasan itu akan lenyap dengan sendirinya setelah beberapa hari, dan begitu gagasan tersebut lenyap hal itu berarti engkau tidak lagi menyimpan gagasan apa pun, maka engkau akan selalu mengira bahwa engkau tidak memiliki gagasan, padahal sebenarnya ketika gagasan itu muncul engkau mengabaikannya dan melewatkannya. Pada saat itu engkau merasa bahwa hal tersebut tidak ada salahnya, dan setelah itu engkau sama sekali tidak mau mengakui bahwa engkau memiliki gagasan tersebut. Pada umumnya, ketika orang tidak mengalami pemangkasan, ketika mereka tidak harus menghadapi situasi yang buruk, mereka tidak memiliki gagasan tertentu dan lupa bahwa mereka pernah memiliki gagasan apa pun. Mereka menganggap diri mereka luar biasa karena mereka benar-benar tidak memiliki gagasan apa pun. Namun, ketika sesuatu terjadi, gagasan itu muncul dan mereka menentang Tuhan, dan tak lama kemudian gagasan itu lenyap dan mereka melupakannya, dan sekali lagi mereka merasa betapa luar biasanya mereka dan mereka tidak memiliki gagasan tertentu tentang Tuhan—sebenarnya apa masalah mereka? Masalahnya adalah mereka tidak sungguh-sungguh memahami kebenaran dan belum membereskan gagasan mereka sampai ke sumbernya. Itulah sebabnya gagasan semacam ini berulang kali muncul, sampai ada orang yang mempersekutukan kebenaran secara mendalam kepada mereka, dan barulah setelah itu gagasan tersebut dapat dibereskan untuk selamanya. Dalam hal menyelesaikan masalah gagasan, orang tidak akan berhasil melakukannya jika mereka tidak mencari kebenaran dengan sungguh-sungguh—hanya memahami doktrin tidak ada gunanya. Orang-orang yang tidak memahami kebenaran hanya mengenal diri mereka secara sangat terbatas dan dangkal. Terkadang ketika gagasan muncul dalam diri mereka, mereka tidak mampu mengenali gagasan itu, bahkan tidak mampu merasakannya. Gagasan kecil yang tidak dibereskan tidak akan membuat seseorang tersandung, tetapi gagasan besar yang tidak dibereskan akan langsung membuatnya tersandung. Untuk dapat mengenal dirimu sendiri, engkau harus terlebih dulu membereskan gagasan dan imajinasimu sendiri, dan membereskan pandangan-pandangan keliru yang kerap muncul dalam dirimu. Selanjutnya bereskanlah semua watak rusakmu, mulai dari yang dangkal hingga yang lebih dalam, dengan melakukan hal ini engkau akan sedikit demi sedikit masuk ke dalam kenyataan kebenaran. Mengenal dirimu sendiri dimulai dengan terlebih dahulu mengetahui gagasan dan imajinasi yang ada dalam dirimu. Ketika pemahamanmu tentang kebenaran menjadi makin dalam, engkau juga akan makin mengenal dirimu sendiri. Dalam hal mengenal diri sendiri, engkau harus sangat teliti. Jika engkau tak pernah mampu mengenal dirimu sendiri, engkau tidak akan memperoleh jalan masuk kehidupan; jalan masuk kehidupan dimulai dengan mengenal dirimu sendiri. Jika engkau ingin memperoleh jalan masuk kehidupan, engkau harus mencari kebenaran dengan sungguh-sungguh, menggunakan kesempatan untuk menyelesaikan masalahmu, dan tidak membiarkan satu pun di antaranya terlewat. Setelah engkau mencatat gagasan-gagasanmu yang keliru, engkau harus mencari kebenaran, membuka dirimu dan melibatkan diri dalam persekutuan, serta menganalisis gagasan itu berdasarkan firman Tuhan. Setelah engkau memahami kebenaran, gagasan semacam ini akan dapat diluruskan sepenuhnya. Jika engkau kembali menghadapi hal yang sama dan gagasanmu muncul sekali lagi, dan hatimu masih dikekang olehnya, ini menunjukkan bahwa engkau belum sungguh-sungguh memahami kebenaran, tetapi engkau hanya memahami doktrin, sehingga gagasanmu itu tetap ada. Hanya jika engkau sungguh-sungguh memahami kebenaran, barulah gagasanmu akan lenyap sepenuhnya, dan sekalipun gagasan itu muncul kembali di masa mendatang, gagasan itu akan mudah diluruskan dan engkau tidak akan dikekang olehnya, karena engkau memahami kebenaran. Katakan pada-Ku, sulitkah berlatih mengenal dirimu sendiri dan masuk ke dalam kebenaran dengan cara seperti ini? Apakah hal ini membutuhkan banyak upaya? Ya! Jika mengenal dirimu hanya mencakup mengetahui hal-hal dangkal secara sepintas lalu—jika engkau hanya berkata bahwa engkau congkak dan merasa diri benar, bahwa engkau memberontak dan menentang Tuhan—maka ini bukanlah mengenal dirimu dengan benar, tetapi ini adalah doktrin. Engkau harus merenungkan fakta yang terjadi dengan melakukan hal ini: kemukakanlah dalam hal apa saja engkau memiliki niat dan pandangan yang keliru atau pendapat yang menyimpang untuk kaupersekutukan dan kautelaah. Hanya inilah cara mengenal dirimu sendiri dengan benar. Engkau tidak seharusnya memperoleh pengenalan akan dirimu sendiri berdasarkan tindakanmu saja; engkau harus memahami apa poin pentingnya dan membereskan sumber masalahnya. Setelah satu periode waktu berlalu, engkau harus merenungkan dirimu dan merangkum masalah apa saja yang telah kauatasi, dan masalah apa saja yang masih tetap ada. Lalu, engkau juga harus mencari kebenaran agar dapat memecahkan masalah-masalah ini. Engkau tidak boleh pasif, engkau tidak boleh selalu bergantung pada orang lain untuk membujuk atau mendorongmu untuk melakukan sesuatu, atau bahkan mengendalikanmu; engkau harus menempuh sendiri jalan masuk kehidupan. Engkau harus sering memeriksa dirimu sendiri untuk mengetahui hal-hal apa saja yang telah kaukatakan dan lakukan yang bertentangan dengan kebenaran, niat keliru apa yang kaumiliki, dan watak rusak apa yang telah kauperlihatkan. Jika engkau selalu masuk dan berlatih dengan cara seperti ini—jika engkau menuntut dirimu dengan ketat—maka lambat laun engkau akan mampu memahami kebenaran, dan memiliki jalan masuk kehidupan. Jika engkau sungguh-sungguh memahami kebenaran, engkau akan tahu bahwa engkau sesungguhnya bukan siapa-siapa. Di satu sisi, engkau memiliki watak yang sangat rusak; di sisi lain, kekuranganmu terlalu banyak, dan engkau tidak memahami kebenaran apa pun. Jika suatu hari nanti engkau sungguh-sungguh memiliki pengenalan diri seperti itu, engkau tidak akan lagi mampu bersikap congkak, dan dalam banyak hal engkau akan memiliki akal sehat, dan mampu untuk tunduk. Apa poin pentingnya sekarang? Dengan mempersekutukan dan menganalisis esensi dari gagasan, orang akhirnya memahami alasan mengapa mereka memiliki gagasan tertentu; mereka mampu meluruskan gagasan mereka, tetapi ini bukan berarti mereka mampu memahami dengan jelas esensi dari setiap gagasan tersebut, ini hanya berarti mereka sedikit mengenal diri mereka sendiri, tetapi pengenalan diri itu belum cukup mendalam atau belum terlalu jelas. Dengan kata lain, mereka masih belum mampu memahami esensi natur mereka sendiri dengan jelas, mereka juga belum mampu memahami watak rusak apa yang telah berakar dalam hati mereka. Akan sangat terbatas tentang sejauh mana orang mampu mengenal diri mereka sendiri dengan menggunakan cara ini. Ada orang-orang yang berkata, "Aku sadar bahwa watakku sangat congkak—bukankah ini berarti aku mengenal diriku sendiri?" Pengenalan diri seperti itu terlalu dangkal; itu tidak mampu menyelesaikan masalah. Jika engkau benar-benar mengenal dirimu sendiri, lalu mengapa engkau masih mengejar kemajuan pribadi, mengapa engkau masih mendambakan kedudukan dan kehormatan? Ini artinya natur congkakmu belum diberantas. Itulah sebabnya, perubahan harus dimulai dari pemikiranmu, pandanganmu, dan niat di balik perkataan dan tindakanmu. Apakah engkau semua mengakui bahwa banyak dari apa yang orang katakan itu berduri dan berbisa, bahwa ada unsur kecongkakan dalam nada suara yang mereka gunakan? Perkataan mereka mengandung niat dan pendapat pribadi mereka. Orang-orang yang memiliki wawasan akan mampu mengenali hal ini saat mereka mendengarnya. Ada orang-orang yang sering berbicara dengan cara tertentu dan memiliki ekspresi tertentu saat kecongkakan mereka tidak tersingkap dalam diri mereka, tetapi perilaku mereka menjadi sangat berbeda saat mereka memperlihatkan kecongkakan mereka. Terkadang mereka akan berbicara panjang lebar tentang ide-ide mereka sendiri yang muluk-muluk, terkadang mereka akan menunjukkan taring dan cakar mereka serta membanggakan diri mereka tanpa rasa malu. Mereka menganggap diri mereka orang yang paling hebat dan berkuasa, dan wajah buruk Iblis pun tersingkap di sini. Ada segala macam niat dan watak rusak dalam diri setiap orang. Sama seperti cara orang licik mengedipkan mata ketika mereka berbicara, dan memandang orang lain dengan sudut mata mereka—ada watak rusak yang tersembunyi dalam tindakan ini. Ada orang-orang yang berbicara dengan kata-kata yang sulit untuk dipahami, dan orang lain tidak pernah tahu persis apa yang mereka maksudkan. Selalu ada makna tersembunyi dan tipu daya dalam perkataan mereka, tetapi di luarnya mereka terlihat sangat tenang dan mampu menguasai diri. Orang-orang seperti ini bahkan lebih licik, dan lebih sulit lagi bagi mereka untuk menerima kebenaran. Orang-orang seperti ini sangat sulit untuk diselamatkan.

Dahulu, ketika orang percaya kepada Tuhan, mereka selalu merasa puas jika mereka memiliki rumah tangga yang damai dan segala sesuatu yang mereka lakukan berjalan lancar, dan mereka yakin bahwa hal ini berarti bahwa Tuhan pasti mengasihi mereka dan berkenan akan mereka. Jika engkau merasa puas hanya dengan memiliki hal-hal ini, engkau tidak akan pernah mulai menempuh jalan mengejar kebenaran. Jangan merasa puas akan betapa baik dan lancarnya kehidupanmu secara lahiriah; hal-hal yang dangkal itu tidak penting. Penyelamatan Tuhan terhadap manusia sekarang ini mencakup mentahirkan dan mengubah hal-hal yang tertanam kuat dalam diri manusia yang ada kaitannya dengan Iblis, menggalinya sampai ke akar-akarnya, dan membongkar hal-hal tersebut dari esensi dan natur manusia. Mengapa Tuhan selalu menganalisis pandangan dan niat manusia? Itu karena natur manusia sudah tertanam sedemikian dalamnya. Tuhan tidak melihat caramu melakukan sesuatu, atau seperti apa rupamu, atau setinggi apa dirimu, Dia juga tidak melihat seperti apa keluargamu atau apakah engkau memiliki pekerjaan atau tidak—Tuhan tidak melihat hal-hal ini. Hal utama yang Tuhan lihat adalah esensimu, agar dapat menyelesaikan masalahmu dari esensimu tersebut dan menyelesaikannya hingga ke sumbernya. Jadi, jangan merasa puas hanya dengan memiliki rumah tangga yang tenteram dan segala sesuatu berjalan dengan lancar, lalu mengira bahwa ini berarti Tuhan memberkatimu—ini keliru. Jangan mengejar hal-hal lahiriah ini dan jangan biarkan dirimu terjebak di dalamnya. Jika engkau puas dengan hal-hal lahiriah ini, ini menunjukkan bahwa tujuan yang kaukejar dalam kepercayaanmu kepada Tuhan sangatlah rendah, dan engkau sangat jauh dari apa yang Tuhan tuntut. Engkau harus berfokus untuk mengubah watakmu, yang dimulai dari watakmu dan kemanusiaanmu, serta niat dan pandangan yang kaupegang dalam kepercayaanmu kepada Tuhan. Dengan cara ini, ketika engkau berinteraksi dengan orang-orang yang baru mulai percaya kepada Tuhan atau yang belum menerima Dia, mereka akan dapat melihat dari apa yang kauperlihatkan bahwa engkau telah mengalami perubahan, dan bahwa apa yang kaukejar memang berbeda. Mereka berkata, "Dalam kepercayaan kami kepada Tuhan, yang kami kejar adalah menghasilkan lebih banyak uang, memiliki status, anak-anak kami bisa masuk perguruan tinggi, dan putra-putri kami menemukan pasangan yang cocok. Mengapa engkau tidak mengejar hal-hal ini? Seolah-olah engkau menganggap semua itu sampah dan sama sekali tidak berharga. Lalu, bagaimana caramu percaya kepada Tuhan?" Engkau kemudian dapat mempersekutukan seperti apa pengalamanmu kepada mereka, watak rusak apa yang kaumiliki, bagaimana Tuhan memangkasmu, menghajar dan menghakimimu, bagaimana engkau merenungkan dirimu sendiri dan memahami berbagai hal, dan bagaimana engkau bertobat dan berubah. Ketika orang bertemu denganmu, mereka merasa betapa sangat nyatanya persekutuanmu, merasa bahwa persekutuanmu cukup membekali mereka dan bermanfaat bagi mereka, dan bahwa engkau bukan sekadar menyampaikan khotbah yang dangkal untuk membujuk dan menasihati orang. Engkau akan mampu berbicara tentang jalan masuk kehidupanmu dan bagaimana engkau mengenal dirimu sendiri, dan ini akan membuktikan bahwa engkau benar-benar seseorang dari zaman baru, benar-benar manusia baru. Sekarang ini ada orang-orang yang masih membicarakan hal-hal dari zaman dahulu dengan berkata, "Dahulu aku percaya kepada Tuhan Yesus, dan ke mana pun aku pergi untuk melayani, Roh Kudus melakukan pekerjaan yang luar biasa. Ketika aku mengabarkan Injil, banyak orang mau mendengarkan aku, dan siapa pun yang kudoakan menjadi lebih baik dengan segera ...." Mereka masih membicarakan hal-hal seperti ini, dan pemikiran ini sangat terbelakang! Engkau semua harus menghabiskan lebih banyak waktu untuk mempersekutukan kebenaran, berbicara tentang hal-hal seperti jalan masuk kehidupan, perubahan dalam watak, dan pengenalan akan diri sendiri, serta hal-hal penting lainnya yang berkaitan dengan jalan masuk kehidupan. Jangan membicarakan hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan kebenaran. Jika engkau sering melakukan penerapan dengan cara ini, engkau akan mendapatkan sedikit kenyataan kebenaran. Mengingat tingkat pertumbuhanmu saat ini, engkau tidak mampu melakukan pekerjaan yang membekali kehidupan atau menggunakan kebenaran untuk menyelesaikan masalah. Yang dapat kaulakukan hanyalah membujuk dan menasihati orang, dengan berkata, "Jangan menentang atau memberontak terhadap Tuhan. Meskipun keberadaan kita sangat rusak, Tuhan tetap menyelamatkan kita, jadi kita harus memperhatikan firman-Nya dan tunduk kepada-Nya." Setelah mendengar hal ini, orang memahami doktrin, tetapi mereka tetap tidak memiliki kekuatan dan tidak tahu bagaimana menerapkan atau mengalami firman Tuhan. Ini membuktikan bahwa engkau semua, sebagai pemimpin dan pekerja, tidak memiliki kenyataan kebenaran. Jika engkau sendiri belum memperoleh jalan masuk, lalu bagaimana engkau bisa membekali orang lain? Engkau tidak bisa sampai ke sumber kesulitan dan watak rusak orang lain, engkau tidak bisa memahami apa kuncinya, karena engkau masih belum mengenal dirimu sendiri. Dengan demikian, membekali kehidupan dalam pekerjaanmu di gereja berada di luar jangkauanmu, dan hanya dengan menasihati orang, menyuruh mereka untuk bersikap baik dan taat dengan sungguh-sungguh, engkau tidak mampu memecahkan masalah nyata. Ini cukup membuktikan bahwa engkau semua belum benar-benar memahami kebenaran atau memperoleh jalan masuk kehidupan sedikit pun. Kebanyakan darimu hanya tahu bagaimana mengkhotbahkan doktrin rohani dan teori teologis yang kosong, tetapi engkau tidak dapat membekali kehidupan; dengan kata lain, engkau semua memiliki tingkat pertumbuhan yang terlalu kecil. Belum ada perubahan dalam pandanganmu tentang iman kepada Tuhan. Pemahaman dan niatmu masih sama. Akankah engkau mengalami kemajuan dengan meminta orang lain untuk berubah sedangkan engkau sendiri belum mampu mengatasi masalahmu sendiri? Akan mampukah engkau membekali orang lain? Akan mampukah engkau memecahkan masalah mereka? Hasil apa yang dapat kaucapai dengan meminta orang lain untuk berubah sedangkan engkau tidak mampu melakukan satu pun dari hal-hal ini? Jika yang mampu untuk kaulakukan hanyalah mengkhotbahkan kata-kata dan doktrin untuk menceramahi dan menasihati orang, mampukah engkau membuat orang lain memahami kebenaran? Jika engkau sendiri tidak memiliki pemahaman yang benar tentang pekerjaan Tuhan, akan mampukah umat pilihan Tuhan memahami pekerjaan Tuhan dengan mendengarkan persekutuanmu? Bagaimana engkau dapat membuat umat pilihan Tuhan melaksanakan tugas mereka dengan baik sedangkan engkau sendiri melaksanakan tugasmu tanpa prinsip? Bagaimana mereka akan membulatkan tekad mereka untuk mengikuti Tuhan? Orang-orang yang bertindak sebagai pemimpin dan pekerja harus menguasai dan memahami kondisi dari berbagai tipe orang di gereja, siapa di antara mereka yang memiliki pengalaman dan pemahaman akan firman Tuhan dan pekerjaan Tuhan, dan siapa di antara mereka yang benar-benar mengenal diri mereka sendiri dan sungguh-sungguh bertobat. Para pemimpin dan pekerja yang mampu menguasai hal-hal ini akan mampu melaksanakan pekerjaan nyata. Jika orang-orang yang bekerja bersamamu dalam tugasmu sama seperti dirimu, yang mengajar orang lain tanpa sama sekali mengenal dirimu sendiri, hal itu membuktikan bahwa engkau juga tidak memiliki kenyataan kebenaran, bahwa engkau tidak mengenal dirimu sendiri dan engkau semua tidak ada bedanya. Pernahkah engkau semua memikirkan hal-hal ini sebelumnya? Yang kauketahui hanyalah, "Aku telah diberi kuasa di sini, aku memiliki status, aku adalah pejabat di gereja dan sekarang aku memiliki tempat untuk mengajar orang lain." Engkau hanya berfokus pada status dan prestise, berfokus pada cara mengajar orang lain dan berkhotbah, apa yang harus kaukatakan agar orang lain mendengarkanmu, agar engkau memiliki pengaruh di beberapa gereja dan menjadi orang yang sangat berprestise, dan memantapkan kedudukanmu. Berfokus hanya pada hal-hal ini membuktikan bahwa engkau telah tersesat. Untuk masuk dari zaman lama ke zaman yang baru bukan semata-mata berarti bahwa cara orang berbicara dan melakukan sesuatu berubah, tetapi hal ini juga menuntut mereka untuk masuk lebih dalam, untuk lebih banyak membayar harga, untuk mampu memberontak terhadap daging mereka selamanya, untuk melepaskan keinginan daging, untuk hanya mengejar kebenaran sebagai hidup mereka dan hidup dalam keserupaan dengan manusia sejati. Hanya dengan cara inilah mereka dapat benar-benar mengalami perubahan secara menyeluruh. Dalam melakukan pekerjaan yang baru, Tuhan tentunya harus mengajukan tuntutan-tuntutan baru terhadap manusia, dan jika manusia berpaut pada gagasan yang lama dan tradisional itu, mereka hanya akan memperlambat segalanya. Ada orang-orang yang percaya kepada Alkitab secara membabi buta dan tidak pernah meninggalkannya—mampukah mereka memperoleh hidup dan mengenal Tuhan dengan melakukan hal ini? Sama sekali tidak. Selama beberapa generasi, orang Farisi membaca Alkitab, sampai mereka akhirnya menyalibkan Tuhan Yesus yang menyatakan kebenaran—bagaimana mungkin hal itu terjadi? Jika mereka benar-benar memahami Alkitab, mereka seharusnya mengenal Tuhan, dan ketika Tuhan Yesus datang, mereka seharusnya menyambut Dia dan tidak mengutuk Dia. Masih banyak orang yang tidak mampu menyelami masalah ini dengan pemahaman mereka. Di dalam hatinya, mereka selalu mengira bahwa sebanyak apa pun Tuhan berfirman sekarang ini, mereka tetap harus membaca Alkitab dan tidak boleh meninggalkannya. Ini berarti mereka pada akhirnya dapat mengingat banyak hal yang tertulis di dalam Alkitab, tetapi tidak mampu memahami kebenaran yang Tuhan nyatakan sekarang ini ataupun menerapkannya. Pada akhirnya, mereka sama sekali tidak memiliki kesaksian berdasarkan pengalaman nyata mereka dan mereka pun disingkirkan. Bukankah ini memalukan? Sebenarnya, sekarang ini ada banyak orang yang masih sering membaca Alkitab tetapi yang terlalu sedikit membaca firman Tuhan—apakah mereka melakukan hal yang bijak atau hal yang bodoh? Dahulu, ketika orang percaya kepada Tuhan Yesus, mereka yakin bahwa semangat yang menyala-nyala berarti kehidupan yang hebat dan iman yang baik. Sekarang ini, ketika dikatakan bahwa dengan semangat saja dan tanpa perubahan watak, orang tidak akan diperkenan oleh Tuhan, ada orang-orang yang menganggap Tuhan bersikap tidak adil kepada orang-orang seperti itu. Aku telah memangkas orang-orang yang penuh semangat itu sebelumnya dan mereka yang menganggap Tuhan bersikap tidak adil tidak bisa menerimanya dan membela orang-orang seperti itu dengan berkata, "Orang-orang itu telah percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun. Mereka telah membayar harga dan sangat menderita, dan mereka telah bekerja keras meskipun belum memberikan kontribusi apa pun. Mengapa Engkau tega memperlakukan mereka seperti ini?" Ada orang-orang yang tidak dapat memperbaiki pandangan mereka. Apakah hal ini sulit untuk dipahami? Manusia melihat bagaimana cara orang lain melakukan sesuatu secara lahiriah, sedangkan Tuhan melihat esensi mereka, dan itu adalah cara melihat yang sangat berbeda. Yang kaulihat hanyalah betapa saleh tampaknya seseorang di luarnya, betapa baiknya kemampuan mereka dalam berbicara, dan betapa sibuknya mereka dan betapa banyaknya mereka membayar harga. Mengapa engkau tidak mengatakan apa pun tentang betapa banyaknya gagasan mereka, atau betapa congkaknya mereka dan betapa mereka merasa diri benar? Mengapa engkau tidak melihat hal-hal itu? Itu sebabnya Kukatakan bahwa pandanganmu tentang banyak hal masih terlalu kuno dan terbelakang. Sekarang Tuhan tidak melihat harga yang telah orang bayarkan secara lahiriah; Dia tidak membicarakan tentang harga yang kaubayar atau tentang kemampuan atau apa yang kaumiliki, ataupun tentang seberapa besar penderitaanmu—Dia melihat esensimu. Apa prinsip-prinsip untuk memakai manusia di zaman sebelumnya? Siapa pun yang sangat bersemangat, siapa pun yang dapat menyibukkan diri dan mengorbankan diri, siapa pun yang paling lama percaya kepada Tuhan, dan siapa pun yang paling tua dan belum menikah—makin seseorang sesuai dengan gambaran ini, makin tinggi prestise mereka dan makin mampu mereka untuk menjadi pemimpin. Hal-hal seperti itu tidak penting lagi sekarang. Esensi manusialah yang penting, karena hal yang utama untuk percaya kepada Tuhan adalah seperti apa esensi orang itu, apakah mereka mampu menyembah Tuhan, dan apakah mereka mampu menerima pekerjaan baru Tuhan. Jika sekarang engkau tidak mengenal Tuhan yang telah datang dalam daging, seperti apakah esensimu? Bukankah esensimu menentang Tuhan? Ini tergantung pada apakah pandangan dan niatmu bisa selaras dengan Tuhan atau tidak. Jika engkau mampu menerima jalan yang benar serta memberontak terhadap niat dan gagasan masa lalumu, maka orang sepertimu akan dapat diterima dan diberkati oleh Tuhan. Tuhan memiliki prinsip tentang cara memakai manusia dalam pekerjaan-Nya. Dia tidak memandang kemampuan atau apa yang kaumiliki, latar belakang keluargamu, prestise, ataupun kedudukanmu. Dia tidak memakai orang-orang yang menentang diri-Nya—bukankah memakai mereka hanya akan menunda pekerjaan-Nya? Manusia selalu berbicara tentang modal yang mereka miliki, betapa congkaknya mereka—mereka benar-benar setan! Di sini kita tidak membicarakan hal-hal seperti persembahan, pengorbanan diri, modal, dan prestise—tidak ada gunanya membicarakan hal-hal itu! Siapa pun yang sangat tulus kepada Tuhan dan paling bersedia untuk tunduk kepada Tuhan akan memiliki kenyataan kebenaran, dan kita memperkenan orang-orang seperti itu. Apakah ada gunanya melihat apa yang tampak dari luar? Beberapa hal yang tampak dari luar mungkin akan berubah pada diri seseorang, tetapi banyak hal yang ada dalam naturnya tidak akan berubah, dan suatu saat ini akan muncul. Itulah sebabnya engkau harus mengetahui hal-hal ini dan menggalinya. Ada begitu banyak hal dalam natur seseorang! Tentu saja, natur manusia adalah congkak, merasa diri benar, dan suka memberontak, dan hal-hal ini adalah masalah yang terbesar dan paling berakar. Selain hal-hal ini, juga ada sejumlah watak rusak dalam diri manusia. Jadi, mengenal diri sendiri bukanlah hal yang sederhana. Mereka yang memiliki kualitas tertentu akan dengan mudah menyadari dan mengerti ketika mereka melakukan sesuatu yang salah atau berbuat dosa. Namun, hal-hal yang ada di dalam natur mereka, hal-hal yang ada dalam watak mereka, dan khususnya hal-hal yang berkaitan dengan kelemahan utama mereka, adalah hal-hal yang tersulit untuk mereka lihat dan ketahui. Jangan mengira jika engkau melakukan hal yang salah dan berdoa kepada Tuhan, atau engkau berbuat dosa dan mengakui dosa itu kepada Tuhan, itu berarti engkau mengenal dirimu sendiri—itu sama sekali bukan mengenal dirimu sendiri! Jika engkau tidak percaya perkataan-Ku ini, lanjutkan saja perbuatanmu dan lihatlah. Mungkin akan tiba saatnya engkau menghadapi suatu masalah dan jatuh, atau mungkin akan tiba saatnya engkau ditangkap dan dalam waktu semalam engkau menjadi Yudas, dan engkau akan tercengang. Jika engkau ingin memiliki jalan masuk kehidupan, engkau harus terlebih dahulu mengenal dirimu sendiri; jika engkau ingin mencapai perubahan watak, engkau harus merenungkan dirimu dan mengenal dirimu sendiri melalui firman Tuhan. Ketika engkau akhirnya mengalami kemajuan dalam mengenal dirimu sendiri, ketika pengenalan dirimu menjadi makin mendalam, dan ketika engkau tahu cara menerapkan kebenaran, engkau tentu saja akan memperoleh jalan masuk kehidupan. Perubahan watak juga dimulai pada titik ini. Jika engkau benar-benar mampu mengenal dirimu sendiri, engkau akan mengalami kemajuan dalam jalan masuk kehidupanmu dan dalam perubahan watakmu, dan hal-hal ini akan menjadi lebih mudah bagimu.

Akhir tahun 1995

Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.

Hubungi kami via WhatsApp