Penyelesaian Tugas yang Benar Membutuhkan Kerja Sama yang Harmonis (Bagian Satu)
Kerja sama yang harmonis dibutuhkan untuk pelaksanaan tugas yang benar. Karena semua orang memiliki watak yang rusak dan tak seorang pun memiliki kebenaran, hanya melalui kerja sama yang harmonis, barulah mereka mampu melaksanakan tugas mereka dengan baik. Kerja sama yang harmonis tidak hanya bermanfaat untuk jalan masuk kehidupan orang-orang, tetapi juga untuk pelaksanaan tugas mereka yang benar, dan pekerjaan gereja. Mereka yang bekerja sama secara harmonis adalah orang-orang yang memiliki kemanusiaan dan kejujuran yang relatif baik. Namun, jika kemanusiaan seseorang tidak baik, jika dia terlalu congkak dan merasa dirinya benar, atau terlalu curang dan licik, maka dia tidak mungkin dapat bekerja sama secara harmonis dengan orang lain. Ada orang-orang yang tidak bekerja dengan jujur, tidak teliti ketika melaksanakan tugas mereka, dan selalu berbuat jahat. Orang-orang semacam ini tidak mampu bekerja sama dengan orang lain, dan tidak mampu menemukan keharmonisan atau hidup rukun dengan siapa pun. Orang-orang semacam itu tidak memiliki kemanusiaan dan mereka adalah binatang buas, setan dan Iblis. Semua orang berkemanusiaan baik yang taat dan tunduk pasti akan mendapatkan hasil saat melaksanakan tugas mereka, dan dengan mudah bekerja sama dengan orang lain. Sedangkan orang yang tidak dengan tulus hati melaksanakan tugas mereka, yang berperilaku tidak taat dan sulit diatur, atau yang bahkan mengganggu pelaksanaan tugas orang lain—jika mereka tidak mau berubah setelah berkali-kali dinasihati, dan tidak pernah berniat untuk bertobat, selalu menyebabkan kekacauan dan gangguan dalam tugas mereka, dan kualitas kemanusiaan mereka buruk, maka mereka harus segera dikeluarkan, agar dapat menghindari masalah atau dampak negatif atas pekerjaan gereja. Ini adalah masalah yang harus diselesaikan oleh para pemimpin dan pekerja.
Ada orang-orang yang tidak bertanggung jawab ketika melaksanakan tugas mereka, yang menyebabkan pekerjaan harus selalu dikerjakan ulang. Hal ini sangat memengaruhi keefektifan pekerjaan. Selain kurangnya pengetahuan spesialisasi dan pengalaman orang, adakah alasan lainnya yang menyebabkan munculnya masalah ini? (Ketika seseorang agak congkak dan merasa dirinya benar, membuat keputusan sendiri, dan tidak melaksanakan tugasnya berdasarkan prinsip.) Pengetahuan spesialisasi dan pengalaman dapat dipelajari dan dikumpulkan sedikit demi sedikit, tetapi jika ada masalah dengan watak seseorang, apakah menurutmu masalah itu mudah untuk diselesaikan? (Tidak, itu tidak mudah.) Jika demikian, bagaimana cara menyelesaikannya? (Orang tersebut harus mengalami hajaran, penghakiman dan pemangkasan.) Dia harus mengalami penghakiman, hajaran dan pemangkasan—perkataan ini benar, tetapi hal itu hanya dapat dicapai oleh orang yang mengejar kebenaran. Mampukah orang yang tidak mencintai kebenaran menerima dirinya dipangkas? Tidak. Ketika pekerjaan harus selalu dikerjakan ulang saat orang melaksanakan tugas mereka, masalah terbesar bukanlah karena kurangnya pengetahuan spesialisasi atau kurangnya pengalaman mereka, melainkan karena mereka terlalu merasa diri benar dan congkak, karena mereka tidak bekerja secara harmonis, tetapi memutuskan dan bertindak sendiri—akibatnya mereka mengacaukan pekerjaan dan tidak ada yang berhasil dicapai, dan seluruh waktu dan upaya pun terbuang sia-sia. Dan masalah yang paling menyedihkan dalam hal ini adalah watak rusak dalam diri orang. Ketika watak rusak dalam diri orang menjadi terlalu berat, mereka bukan orang-orang yang baik, mereka adalah orang-orang yang jahat. Watak orang-orang jahat jauh lebih parah daripada watak rusak biasa. Orang-orang jahat cenderung melakukan perbuatan jahat, mereka cenderung mengacaukan dan mengganggu pekerjaan gereja. Satu-satunya yang mampu orang-orang jahat lakukan saat mereka melaksanakan tugas adalah melakukan segala sesuatu dengan buruk dan mengacaukan semuanya; jerih payah mereka lebih merepotkan daripada menguntungkan. Ada orang-orang yang tidak jahat, tetapi mereka melakukan tugas mereka menurut watak rusak mereka—dan mereka juga tidak mampu melaksanakan tugas mereka dengan benar. Singkatnya, watak rusak sangat menghalangi orang untuk melaksanakan tugas mereka dengan benar. Menurutmu, yang manakah aspek watak rusak di dalam diri orang yang paling berdampak pada efektivitas mereka ketika melaksanakan tugas mereka? (Kecongkakan dan sikap merasa diri benar.) Dan apa perwujudan utama kecongkakan dan sikap merasa diri benar? Mengambil keputusan sendiri, melakukan sesuatu dengan caramu sendiri, tidak mendengarkan saran orang lain, tidak berkonsultasi dengan orang lain, tidak bekerja sama secara harmonis, dan selalu berusaha menjadi penentu keputusan. Meskipun beberapa saudara-saudari yang baik mungkin bekerja sama untuk melaksanakan tugas tertentu, setiap mereka mengerjakan tugas mereka sendiri, pemimpin kelompok atau pengawas tertentu selalu ingin menjadi penentu keputusan; apa pun yang mereka lakukan, mereka tidak pernah bekerja sama secara harmonis dengan orang lain, dan mereka tidak terlibat dalam persekutuan, dan mereka melakukan segala sesuatu dengan terburu-buru tanpa terlebih dahulu mencapai kesepakatan dengan orang lain. Mereka membuat semua orang hanya mendengarkan mereka, dan di sinilah masalahnya. Selain itu, jika orang lain melihat masalah tersebut, tetapi tidak tampil untuk menghentikan orang yang bertanggung jawab tersebut, maka pada akhirnya mengakibatkan situasi di mana orang tidak efektif dalam tugas mereka, pekerjaan menjadi sangat berantakan, dan semua orang yang terlibat harus mengulang pekerjaan mereka, melelahkan diri mereka sendiri selama prosesnya. Siapa yang bertanggung jawab karena menyebabkan hasil yang begitu parah? (Orang yang bertanggung jawab.) Apakah orang lain yang terlibat juga bertanggung jawab? (Ya.) Orang yang bertanggung jawab membuat keputusan menurut kemauan mereka sendiri, bersikeras melakukan segala sesuatu dengan cara mereka, dan yang lainnya melihat masalah, tetapi tidak melakukan apa pun untuk menghentikan mereka, dan, yang lebih parah, mereka bahkan mengikuti; bukankah ini menjadikan mereka kaki tangan pemimpin tersebut? Jika engkau tidak membatasi, menghalangi, atau menyingkapkan orang ini, tetapi sebaliknya mengikuti mereka dan membiarkan mereka memanipulasi dirimu, bukankah itu berarti engkau sedang memberikan kebebasan kepada Iblis untuk mengganggu pekerjaan gereja? Ini tentu saja adalah masalahmu. Ketika engkau semua melihat suatu masalah tetapi tidak melakukan apa pun untuk menghentikannya, tidak mempersekutukannya, tidak berusaha untuk membatasinya, dan selain itu, engkau tidak melaporkannya kepada atasanmu, tetapi berperan sebagai penyenang orang, apakah ini tanda ketidaksetiaan? Apakah penyenang orang memiliki kesetiaan kepada Tuhan? Tidak sedikit pun. Orang semacam itu bukan saja tidak setia kepada Tuhan—mereka juga bertindak sebagai kaki tangan Iblis, pelayan dan pengikutnya. Mereka tidak setia dalam tugas dan tanggung jawab mereka, melainkan kepada Iblislah, mereka sangat setia. Di sinilah letak inti masalahnya. Adapun dalam hal kurangnya profesionalitas, adalah mungkin untuk terus-menerus belajar dan menyatukan pengalamanmu sementara melaksanakan tugasmu. Masalah-masalah seperti itu dapat dengan mudah diselesaikan. Hal yang paling sulit diselesaikan adalah watak manusia yang rusak. Jika engkau tidak mengejar kebenaran atau menyelesaikan watak rusakmu, tetapi selalu berperan sebagai penyenang orang, dan tidak memangkas atau membantu mereka yang kaulihat telah melanggar prinsip, ataupun menyingkapkan atau mengungkapkan mereka, tetapi selalu mundur, tidak mengambil tanggung jawab, maka pelaksanaan tugasmu yang seperti itu hanya akan merugikan dan menunda pekerjaan gereja. Menganggap pelaksanaan tugasmu sebagai hal yang sepele tanpa sedikit pun tanggung jawab tidak hanya memengaruhi keefektifan pekerjaan, tetapi juga menyebabkan pekerjaan gereja menjadi tertunda berulang kali. Jika engkau melaksanakan tugasmu dengan cara seperti ini, bukankah engkau hanya bersikap asal-asalan dan menipu Tuhan? Apakah itu memperlihatkan kesetiaan kepada Tuhan? Jika engkau terus-menerus bersikap asal-asalan ketika melaksanakan tugasmu, dan bersiteguh tidak mau bertobat, maka engkau pasti akan disingkirkan.
Bagaimana seharusnya engkau menangani kesulitan yang kauhadapi saat melaksanakan tugasmu? Cara terbaik adalah setiap orang harus mencari kebenaran bersama-sama untuk menyelesaikan masalah dan mencapai kesepakatan. Selama engkau memahami prinsip-prinsip, engkau akan tahu apa yang harus kaulakukan. Ini adalah cara terbaik untuk menyelesaikan masalah. Jika engkau tidak mencari kebenaran untuk menyelesaikan masalah, dan malah hanya bertindak berdasarkan gagasan dan imajinasimu sendiri, artinya engkau tidak sedang melaksanakan tugasmu. Apa perbedaan antara hal ini dan bekerja di tengah masyarakat yang orang tidak percaya atau di dunia Iblis? Rumah Tuhan dikuasai oleh kebenaran, dan oleh Tuhan. Apa pun masalah yang muncul, kebenaran harus dicari untuk menyelesaikannya. Sebanyak apa pun pendapat yang berbeda atau sebanyak apa pun perbedaannya, semuanya harus dikemukakan dan dipersekutukan. Kemudian, setelah kesepakatan tercapai, tindakan harus diambil berdasarkan prinsip. Dengan demikian, engkau tidak hanya mampu menyelesaikan masalah, tetapi engkau juga mampu menerapkan kebenaran dan melaksanakan tugasmu dengan benar. Engkau juga mampu mencapai kerja sama yang harmonis selama proses penyelesaian masalah. Jika semua orang yang melaksanakan tugas mereka mencintai kebenaran, akan mudah bagi mereka untuk menerima dan tunduk kepada kebenaran; tetapi jika mereka congkak dan merasa diri mereka benar, tidak mudah bagi mereka untuk menerima kebenaran, meskipun orang mempersekutukannya. Ada orang-orang yang tidak memahami kebenaran, tetapi selalu ingin orang lain mendengarkan mereka. Orang-orang semacam ini hanya mengganggu pelaksanaan tugas orang lain. Inilah sumber masalahnya, dan itu harus dibereskan sebelum orang dapat melaksanakan tugas mereka dengan benar. Jika, dalam melaksanakan tugasnya, orang selalu congkak dan keras kepala, selalu mengambil keputusan sendiri, melakukan segala sesuatu dengan sembrono dan sesuka hatinya, tanpa bekerja sama atau membahas segala sesuatu dengan orang lain, dan tanpa mencari prinsip-prinsip kebenaran—sikap seperti apakah ini terhadap tugas seseorang? Dapatkah orang melaksanakan tugasnya dengan baik dengan cara seperti ini? Jika orang semacam ini tidak pernah menerima dirinya dipangkas, sama sekali tidak menerima kebenaran, dan masih terus melakukan segala sesuatu dengan caranya sendiri, dengan gegabah dan sesuka hatinya, tidak mau bertobat atau berubah—berarti itu bukan sekadar masalah sikap, melainkan masalah dengan kemanusiaan dan karakternya. Inilah orang yang tidak memiliki kemanusiaan. Mampukah orang yang tidak memiliki kemanusiaan melaksanakan tugasnya dengan benar? Tentu saja tidak. Jika, saat melaksanakan tugasnya, orang bahkan melakukan segala macam tindakan yang memalukan dan mengganggu pekerjaan gereja, maka dia adalah orang jahat. Orang semacam itu tidak cocok untuk melaksanakan tugasnya. Pelaksanaan tugasnya hanya mengakibatkan gangguan dan kerugian, dan dia menimbulkan lebih banyak kerugian daripada kebaikan, sehingga dia harus didiskualifikasi dari pelaksanaan tugasnya dan dikeluarkan dari gereja. Itulah sebabnya kemampuan untuk melaksanakan tugas dengan baik tidak semata-mata bergantung pada kualitas seseorang, tetapi pada dasarnya bergantung pada sikapnya terhadap tugasnya, bergantung pada karakternya, apakah kemanusiaannya baik atau buruk, dan apakah dia mampu menerima kebenaran atau tidak. Inilah sumber masalahnya. Apakah hatimu terfokus pada tugasmu, apakah engkau sedang berupaya sebaik mungkin dan bertindak dengan segenap hati, apakah engkau memiliki sikap yang serius dan teliti untuk melaksanakan tugasmu, apakah engkau bersungguh-sungguh dan bekerja keras atau tidak: inilah hal-hal yang Tuhan lihat, dan Tuhan memeriksa setiap orang. Dapatkah tugas orang dilaksanakan dengan baik jika kebanyakan dari mereka tidak bertanggung jawab dan tak seorang pun bersungguh-sungguh, dan meskipun di dalam hatinya, mereka tahu apa yang benar untuk dilakukan, mereka tidak berusaha memiliki prinsip, dan tak seorang pun menganggapnya serius? Dalam situasi seperti ini, para pemimpin dan pekerja harus menindaklanjuti, memeriksa, dan memberikan bimbingan, atau mencari orang yang bertanggung jawab untuk menjadi pemimpin kelompok atau penanggung jawab. Dengan cara ini, sebagian besar orang dapat didorong untuk bertindak, dan hasil yang baik dapat dicapai saat mereka melaksanakan tugas mereka. Jika ada seseorang yang muncul dan mengganggu serta merusak, maka biarlah dia langsung dikeluarkan, karena setelah sumber masalahnya dibereskan, akan mudah bagi orang untuk melaksanakan tugasnya secara efektif. Ada orang-orang yang mungkin memiliki kualitas rendah, tetapi tidak bertanggung jawab dalam melaksanakan tugas mereka. Mereka mungkin memiliki keterampilan teknis atau pengetahuan profesional, tetapi tidak mengajarkannya kepada orang lain. Para pemimpin dan pekerja harus menyelesaikan masalah ini. Para pemimpin dan pekerja harus bersekutu dengan mereka, dan mendorong mereka untuk mengajarkan keterampilan mereka kepada orang lain, sehingga orang lain dapat mempelajari keterampilan itu secepat mungkin, dan menguasai pengetahuan profesional. Sebagai seseorang yang berpengalaman dalam pengetahuan profesional, janganlah engkau berperilaku seolah-olah engkau lebih baik daripada orang lain atau memamerkan kualifikasimu; engkau harus secara proaktif mengajarkan keterampilan dan pengetahuanmu kepada para pemula, sehingga setiap orang dapat melaksanakan tugasnya dengan baik bersama-sama. Mungkin engkau adalah orang yang paling berpengetahuan tentang profesimu dan unggul dalam hal keterampilan, tetapi ini adalah karunia yang Tuhan berikan kepadamu, dan engkau harus menggunakannya untuk melaksanakan tugasmu dan memanfaatkan kekuatanmu. Betapa pun terampil atau berbakatnya dirimu, engkau tidak mampu melakukan pekerjaan itu seorang diri; suatu tugas akan dilaksanakan dengan lebih efektif jika setiap orang mampu menguasai keterampilan dan memiliki pengetahuan akan suatu profesi. Seperti kata pepatah, sebuah pagar membutuhkan tiga tiang. Secakap apa pun seseorang, tanpa bantuan orang lain, itu tidak cukup. Oleh karena itu, tak seorang pun boleh bersikap congkak dan tak seorang pun boleh bertindak atau membuat keputusan sendiri. Orang harus memberontak terhadap daging, mengesampingkan gagasan dan pendapatnya sendiri, dan bekerja secara harmonis dengan semua orang lain. Siapa pun yang memiliki pengetahuan profesional harus dengan penuh kasih membantu orang lain, sehingga mereka pun dapat menguasai keterampilan dan pengetahuan tersebut. Hal ini bermanfaat dalam pelaksanaan tugas. Jika memiliki keterampilan selalu dipandang dan dianggap sebagai sarana mencari nafkah, dan engkau takut jika mengajarkannya kepada orang lain akan membuatmu kelaparan—ini adalah pandangan orang tidak percaya. Itu adalah penerapan yang egois, tercela, dan tidak akan berkenan di rumah Tuhan. Jika engkau tidak pernah mampu menerima kebenaran, dan tidak pernah bersedia berjerih payah, engkau hanya akan disingkirkan. Jika engkau memperhatikan maksud Tuhan dan bersedia untuk setia pada pekerjaan rumah-Nya, engkau harus mempersembahkan semua kekuatan dan keterampilanmu, sehingga orang lain dapat belajar dan memahaminya, serta melaksanakan tugasnya dengan lebih baik. Inilah yang sesuai dengan maksud Tuhan; hanya orang-orang semacam itulah yang memiliki kemanusiaan, dan mereka dikasihi serta diberkati oleh Tuhan.
Apa yang harus orang lakukan agar dapat melaksanakan tugasnya dengan baik? Orang harus mulai melaksanakannya dengan segenap hati dan segenap kekuatannya. Menggunakan segenap hati dan kekuatan berarti selalu mencurahkan segenap pikiran dalam melaksanakan tugas mereka dan tidak membiarkan hal-hal lain menguasai pikiran mereka, kemudian menggunakan kekuatan yang dia miliki, mengerahkan segenap kekuatannya itu, dan memanfaatkan kualitas, karunia, kelebihan mereka, dan hal-hal yang mereka pahami untuk mengemban tugas itu. Jika engkau berkemampuan untuk mengerti dan memahami, dan memiliki gagasan yang baik, engkau harus menyampaikannya kepada orang lain. Inilah yang dimaksud dengan bekerja sama secara harmonis. Dengan cara ini engkau akan melaksanakan tugasmu dengan baik, dan engkau akan mendapatkan hasil memuaskan dalam pelaksanaan tugasmu. Jika engkau ingin menanggung semuanya sendiri, jika engkau selalu ingin melakukan hal-hal hebat sendirian, jika engkau selalu ingin dirimu yang menjadi pusat perhatian dan bukan orang lain, apakah itu berarti engkau sedang melaksanakan tugasmu? Yang sedang kaulakukan itu disebut kediktatoran; itu artinya pamer. Itu adalah perilaku jahat, bukan pelaksanaan tugas. Tak seorang pun, apa pun kelebihan, karunia, atau bakat khusus mereka, dapat melakukan semua pekerjaan sendiri; mereka harus belajar bekerja sama secara harmonis jika ingin melaksanakan pekerjaan gereja dengan baik. Itulah sebabnya, kerja sama yang harmonis adalah prinsip penerapan untuk orang gunakan dalam melaksanakan tugasnya. Asalkan engkau mencurahkan segenap hatimu, segenap kekuatanmu, dan seluruh keloyalanmu, serta melakukan semua yang bisa kaulakukan, itu berarti engkau sedang melaksanakan tugasmu dengan baik. Jika engkau memiliki pemikiran atau gagasan tertentu, sampaikanlah itu kepada orang lain; jangan menahan atau menyembunyikannya—jika engkau memiliki saran, sampaikan itu; gagasan siapa pun yang sesuai dengan kebenaran harus diterima dan dipatuhi. Lakukan ini, dan engkau akan mencapai kerja sama yang harmonis. Inilah yang dimaksud dengan melaksanakan tugas dengan loyal. Dalam melaksanakan tugasmu, engkau tidak diharuskan untuk menanggung semuanya sendiri, juga tidak diharuskan untuk bekerja mati-matian, atau menjadi "satu-satunya bunga yang mekar" atau seorang yang mandiri; sebaliknya, engkau diharuskan untuk belajar caranya bekerja sama dengan orang lain secara harmonis, dan melakukan semua yang bisa kaulakukan, memenuhi tanggung jawabmu, mengerahkan segenap kekuatanmu. Itulah artinya melaksanakan tugas. Melaksanakan tugasmu berarti menggunakan secara maksimal kekuatan dan terang yang kau miliki untuk mencapai hasil. Itu sudah cukup. Jangan selalu berusaha untuk pamer, selalu mengatakan hal-hal yang terdengar muluk, melakukan berbagai hal sendiri. Engkau harus belajar bagaimana bekerja dengan orang lain, dan engkau harus lebih berfokus mendengarkan saran orang lain dan menemukan kelebihan mereka. Dengan cara ini, bekerja sama secara harmonis menjadi mudah. Jika engkau selalu berusaha untuk pamer dan menjadi penentu keputusan, itu artinya engkau tidak bekerja sama secara harmonis. Apa yang sedang kaulakukan? Engkau sedang menimbulkan kekacauan dan melemahkan orang lain. Menimbulkan kekacauan dan melemahkan orang lain berarti memainkan peran Iblis; itu bukan pelaksanaan tugas. Jika engkau selalu melakukan hal-hal yang menimbulkan kekacauan dan melemahkan orang lain, sebanyak apa pun upayamu atau kepedulianmu, Tuhan tidak akan mengingatnya. Engkau mungkin hanya memiliki sedikit kelebihan, tetapi jika kau mampu bekerja dengan orang lain, dan dapat menerima saran yang sesuai, dan jika engkau memiliki motivasi yang benar, dan mampu melindungi pekerjaan rumah Tuhan, engkau adalah orang yang tepat. Terkadang, dengan satu kalimat, engkau dapat memecahkan masalah dan bermanfaat bagi semua orang; terkadang, setelah engkau mempersekutukan satu pernyataan kebenaran, setiap orang memiliki jalan penerapan, dan mampu bekerja sama secara harmonis, dan semua berupaya keras menuju tujuan bersama, dan berbagi pandangan dan pendapat yang sama, sehingga pekerjaan menjadi sangat efektif. Walaupun mungkin tak seorang pun ingat bahwa engkau memainkan peran ini, dan engkau mungkin tidak merasa seolah-olah telah berusaha keras, Tuhan akan melihat bahwa engkau adalah orang yang menerapkan kebenaran, orang yang bertindak sesuai dengan prinsip. Tuhan akan mengingat bahwa engkau telah melakukannya. Inilah yang disebut melaksanakan tugasmu dengan setia. Kesulitan apa pun yang kaualami dalam melaksanakan tugasmu, sebenarnya semuanya dapat diatasi dengan mudah. Selama engkau adalah orang yang tulus dengan hati yang condong kepada Tuhan, dan mampu mencari kebenaran, tidak ada masalah yang tidak dapat diselesaikan. Jika engkau tidak memahami kebenaran, maka engkau harus belajar untuk taat. Jika ada orang yang memahami kebenaran atau berbicara sesuai dengan kebenaran, engkau harus menerimanya dan menaatinya. Engkau tidak boleh melakukan hal apa pun yang mengganggu atau merusak, dan tidak bertindak atau mengambil keputusan sendiri. Dengan demikian, engkau tidak akan melakukan kejahatan. Engkau harus ingat: melaksanakan tugasmu bukanlah masalah mengurus perusahaanmu sendiri atau pengelolaanmu sendiri. Ini bukanlah pekerjaan pribadimu, ini adalah pekerjaan gereja, dan engkau hanya menyumbangkan kekuatan yang kaumiliki. Apa yang kaulakukan dalam pekerjaan pengelolaan Tuhan hanyalah sebagian kecil dari kerja sama manusia. Peranmu hanyalah peran yang kecil dari sudut tertentu. Itu adalah tanggung jawab yang kaupikul. Di dalam hatimu, engkau harus memiliki nalar ini. Jadi, sebanyak apa pun orang yang sedang melaksanakan tugas mereka bersama, atau kesulitan apa pun yang mereka hadapi, hal pertama yang harus semua orang lakukan adalah berdoa kepada Tuhan dan bersekutu bersama-sama, mencari kebenaran, lalu menentukan apa prinsip penerapannya. Ketika mereka melaksanakan tugas mereka dalam cara seperti ini, mereka akan memiliki jalan penerapannya. Ada orang yang selalu berusaha pamer, dan ketika diberi tanggung jawab atas suatu pekerjaan, mereka selalu ingin menjadi penentu keputusan. Perilaku macam apa ini? Ini berarti menjadikan dirinya hukum yang harus ditaati. Mereka merencanakan sendiri apa yang akan mereka lakukan, tanpa memberi tahu orang lain, dan tidak mendiskusikan pendapat mereka dengan siapa pun; mereka tidak membagikan pendapat mereka kepada siapa pun atau menyampaikannya tetapi menyembunyikannya di dalam hati mereka. Ketika saatnya tiba untuk bertindak, mereka selalu ingin memukau orang lain dengan prestasi mereka yang brilian, untuk memberikan kejutan besar kepada semua orang sehingga semua orang akan menghormati mereka. Apakah ini berarti mereka melaksanakan tugas mereka? Mereka sedang berusaha untuk pamer; dan ketika mereka memiliki status dan ketenaran, mereka akan mulai menjalankan rencana mereka sendiri. Bukankah orang-orang seperti itu dikuasai oleh ambisi liar mereka? Mengapa engkau tidak mau memberi tahu siapa pun apa yang sedang kaulakukan? Karena pekerjaan ini bukan milikmu sendiri, mengapa engkau bertindak tanpa mendiskusikannya dengan siapa pun dan membuat keputusanmu sendiri? Mengapa engkau bertindak secara rahasia, beroperasi di dalam kegelapan sehingga tak seorang pun yang tahu mengenai hal tersebut? Mengapa engkau selalu berusaha membuat orang hanya mendengarkanmu? Jelas engkau memandang pekerjaan ini sebagai pekerjaan pribadimu sendiri. Engkau adalah pimpinannya, dan semua orang lainnya adalah pegawaimu—mereka semua bekerja untukmu. Jika engkau selalu memiliki pola pikir ini, bukankah ini masalah? Bukankah yang disingkapkan oleh orang semacam ini sebenarnya adalah watak Iblis? Ketika orang-orang seperti ini melaksanakan tugas, cepat atau lambat mereka akan disingkirkan.
Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.