Tuhan itu Sendiri, Tuhan yang Unik VII

Bagian Tiga

Tuhan adalah Sumber Kehidupan bagi Segala Sesuatu (I)

Sekali lagi Aku akan menggunakan metode bercerita kepada engkau sekalian, engkau sekalian bisa dengan tenang mendengarkan dan merenungkan hal yang sedang Kubicarakan. Setelah Aku menyelesaikan cerita itu, Aku akan mengajukan beberapa pertanyaan kepada engkau sekalian untuk melihat seberapa banyak yang telah engkau sekalian pelajari. Tokoh utama dalam cerita ini adalah gunung besar, anak sungai kecil, angin kencang, dan gelombang dahsyat.

Cerita 2. Gunung Besar, Anak Sungai Kecil, Angin Kencang, dan Gelombang Dahsyat

Ada anak sungai kecil yang berkelok-kelok kian kemari, akhirnya tiba di kaki gunung yang besar. Gunung itu menghalangi jalan anak sungai kecil, sehingga anak sungai itu meminta kepada gunung dengan suaranya yang lemah dan kecil: "Tolong biarkan aku lewat, engkau berdiri di jalanku dan menghalangi jalanku ke depan." Gunung kemudian bertanya: "Ke mana engkau akan pergi?" Anak sungai kecil menjawab: "Aku mencari rumahku." Gunung berkata: "Baiklah, silakan dan mengalirlah tepat di atasku!" Tetapi karena anak sungai kecil terlampau lemah dan terlalu muda, tidak mungkin mengalir di atas gunung yang begitu besar, jadi anak sungai kecil tidak punya pilihan selain terus mengalir ke kaki gunung ...

Angin kencang menyapu, membawa serta pasir dan debu ke tempat gunung itu berdiri. Angin berteriak pada gunung: "Biarkan aku lewat!" Gunung bertanya: "Ke mana engkau akan pergi?" Angin kembali menderu-deru: "Aku ingin pergi ke sisi gunung itu." Gunung berkata: "Baiklah, jika engkau dapat menembus bagian tengahku, engkau bisa pergi!" Angin kencang menderu-deru kian kemari, tapi tidak peduli seberapa kencangnya angin bertiup, tidak mampu menembus bagian tengah gunung. Angin mulai lelah, dan berhenti untuk beristirahat. Jadi hanya di sisi gunung itu, angin lemah bertiup dengan gelisah, yang menyenangkan hati orang-orang di sana. Demikianlah salam yang diberikan gunung kepada manusia ...

Di pantai, semburan lautan bergulung lembut menerpa karang. Sekonyong-konyong, gelombang dahsyat muncul dan bergemuruh menuju arah gunung. "Menyingkirlah!" teriak gelombang dahsyat. Gunung bertanya: "Ke mana engkau akan pergi?" Gelombang dahsyat tidak berhenti, dan terus melonjak saat menjawab: "Aku sedang memperluas wilayahku dan ingin meregangkan tanganku sedikit." Gunung berkata: "Baiklah, jika engkau dapat melewati puncakku, aku akan memberikan jalan." Gelombang dahsyat bergerak mundur sedikit, dan kemudian sekali lagi melonjak ke arah gunung. Tetapi tak peduli betapa kerasnya gelombang dahsyat itu mencoba, ia tidak mampu melewati gunung. Ia tidak punya pilihan selain perlahan-lahan surut kembali ke arah dari mana datangnya semula ...

Selama berabad-abad, anak sungai kecil mengalir perlahan-lahan di sekitar kaki gunung. Dengan mengikuti jalur yang telah dibuat oleh gunung, anak sungai kecil kembali ke rumahnya; bergabung dengan sungai, dan mengalir ke laut. Dengan pemeliharaan gunung, anak sungai kecil tidak pernah tersesat. Anak sungai kecil dan gunung besar saling mengandalkan, mereka menahan, dan bergantung satu sama lain.

Selama berabad-abad, angin kencang tidak mengubah kebiasaannya menderu-deru di gunung. Angin kencang mengembuskan putaran besar pasir ketika "mengunjungi" gunung seperti sebelumnya. Ia mengancam gunung, tetapi tidak pernah menembus bagian tengah gunung. Angin kencang dan gunung besar saling mengandalkan, mereka saling menahan, dan bergantung satu sama lain.

Selama berabad-abad, gelombang dahsyat juga tidak beristirahat, dan tidak pernah berhenti memperluas wilayah. Ia akan bergemuruh dan melonjak berulang kali ke arah gunung, namun gunung tidak pernah bergerak sedikit pun. Gunung itu mengawasi lautan, dan dengan cara ini, setiap makhluk di laut berkembang biak dan berkembang. Gelombang dahsyat dan gunung besar saling mengandalkan, mereka saling menahan, dan bergantung satu sama lain.

Kisah ini usai. Pertama, apakah yang bisa engkau sekalian ceritakan kepada-Ku tentang cerita ini, apakah isi utamanya? Pertama ada gunung, lalu apa? (Anak sungai kecil, angin kencang, dan gelombang dahsyat.) Apakah yang terjadi di bagian pertama dengan anak sungai kecil dan gunung besar? Mengapa kita berbicara tentang gunung besar dan anak sungai kecil? (Karena gunung melindungi anak sungai, sehingga anak sungai tidak pernah tersesat. Mereka mengandalkan satu sama lain.) Apakah menurutmu gunung melindungi atau menghalangi anak sungai kecil? (Melindunginya.) Mungkinkah gunung menghalanginya? Gunung dan anak sungai kecil itu bersama-sama; gunung melindungi anak sungai, dan juga merupakan penghalang. Gunung melindungi anak sungai kecil sehingga ia bisa mengalir ke sungai, tetapi juga mencegahnya mengalir ke seluruh tempat di mana ia bisa menjadi air bah dan menjadi bencana bagi umat manusia. Inikah pokok utama dari bagian ini? (Ya.) Perlindungan gunung atas anak sungai dan perannya sebagai penghalang melindungi rumah orang-orang. Kemudian ada anak sungai kecil yang bergabung dengan sungai di kaki gunung dan kemudian mengalir ke laut; bukankah itu merupakan keharusan bagi anak sungai kecil? Ketika anak sungai mengalir ke sungai dan kemudian ke laut, apakah yang dia andalkan? Bukankah ia mengandalkan gunung? Anak sungai bergantung pada perlindungan gunung dan bertindak sebagai penghalang; inikah intinya? (Ya.) Apakah engkau melihat pentingnya gunung bagi air dalam hal ini? (Ya.) Apakah ini penting? (Ya.) Apakah Tuhan mempunyai tujuan-Nya dalam membuat gunung-gunung baik tinggi maupun rendah? Memang punya tujuan, kan? Ini merupakan bagian kecil dari cerita ini, dan dari sekadar anak sungai kecil dan gunung besar, kita dapat melihat nilai dan makna dari kedua hal ini dalam penciptaan Tuhan atas mereka. Kita juga dapat melihat hikmat dan tujuan-Nya dalam cara-Nya mengatur kedua hal ini. Bukankah itu benar?

Apakah bagian kedua dari cerita ini? (Angin kencang dan gunung besar.) Apakah angin itu hal yang baik? (Ya.) Belum tentu, karena kadang-kadang jika angin terlalu kencang bisa menjadi bencana. Bagaimana perasaanmu jika engkau harus berada di luar saat angin kencang? Tergantung seberapa kencang angin itu, kan? Jika angin itu sepoi-sepoi, atau jika angin itu berada di level 3-4, tentu masih bisa diterima, paling tidak orang hanya akan kesulitan membuka mata mereka. Tetapi bisakah engkau mengatasinya jika angin bertiup cukup kuat hingga menjadi tornado? Engkau tidak akan sanggup menerimanya. Jadi sungguh keliru bila orang mengatakan bahwa angin itu selalu baik atau selalu buruk karena tergantung pada seberapa kuat anginnya. Jadi apa gunanya gunung di sini? Bukankah agaknya seperti filter untuk angin? Gunung menerima angin kencang dan menyusutkannya menjadi apa? (Angin sepoi-sepoi.) Kebanyakan orang dapat menyentuh dan merasakannya di lingkungan tempat mereka tinggal—apakah itu angin kencang atau angin sepoi-sepoi yang mereka rasakan? (Angin sepoi-sepoi.) Bukankah ini salah satu tujuan di balik penciptaan Tuhan atas gunung? Bukankah ini maksud-Nya? Seperti apakah rasanya bagi orang-orang yang hidup di lingkungan tempat angin kencang mengembuskan pasir tanpa apa pun yang menghalangi atau menyaringnya? Mungkinkah dengan pasir dan batu yang beterbangan di sekitar, menyebabkan orang tidak bisa hidup di tanah itu? Beberapa orang mungkin terkena benturan di kepala mereka karena batu yang beterbangan, atau yang lain mungkin kemasukan pasir di mata mereka dan tidak akan bisa melihat. Manusia bisa tersedot ke udara, atau angin bisa berembus begitu kencang sehingga mereka tidak mampu berdiri. Rumah akan hancur dan segala macam bencana akan terjadi. Apakah angin kencang memiliki nilai? (Ya.) Nilai apakah ini? Ketika Aku mengatakan bahwa angin itu buruk, orang mungkin merasa bahwa angin tidak memiliki nilai, tetapi benarkah itu? Tidakkah mengubahnya menjadi angin sepoi-sepoi memiliki nilai? Apakah yang paling dibutuhkan oleh manusia saat lembap atau gerah? Mereka membutuhkan angin sepoi-sepoi yang perlahan-lahan menerpa mereka, menyegarkan dan menjernihkan kepala mereka, mempertajam pikiran mereka, memperbaiki dan memperbarui keadaan pikiran mereka. Misalkan, engkau sekalian duduk di sebuah ruangan dengan banyak orang dan udaranya pengap, dan apakah yang paling engkau butuhkan? (Angin sepoi-sepoi.) Di tempat-tempat dengan udara keruh dan penuh dengan kotoran, keadaan tersebut bisa memperlambat pikiran seseorang, mengurangi aliran darah mereka, dan membuat mereka berpikir kurang jernih. Namun, udara akan menjadi segar jika mendapat kesempatan untuk bergerak dan bersirkulasi, dan orang-orang akan merasa jauh lebih baik. Meskipun anak sungai kecil dan angin kencang bisa menjadi bencana, selama gunung ada di sana, ia akan mengubahnya menjadi hal yang benar-benar menguntungkan manusia; benar, kan?

Bercerita tentang apakah bagian ketiga dari cerita itu? (Gunung besar dan gelombang dahsyat.) Gunung besar dan gelombang dahsyat. Pemandangannya di cerita ini adalah sebuah gunung di tepi laut tempat kita dapat melihat gunung, semburan laut, dan juga, gelombang dahsyat. Apakah makna gunung bagi gelombang dalam hal ini? (Pelindung dan penahan.) Keduanya, pelindung dan penahan. Tujuan melindunginya adalah untuk menjaga agar bagian laut ini tidak lenyap sehingga makhluk-makhluk yang hidup di dalamnya dapat berkembang. Sebagai penahan, gunung menjaga air laut—kumpulan air ini—agar tidak meluap dan menyebabkan bencana, yang akan membahayakan dan menghancurkan rumah-rumah orang. Jadi dapat dikatakan bahwa gunung adalah keduanya, sebagai penahan dan pelindung.

Ini menunjukkan makna dari saling ketergantungan antara gunung dan anak sungai, gunung dan angin kencang, serta gunung dan gelombang dahsyat dan bagaimana keduanya saling menahan dan bergantung satu sama lain, sebagaimana yang telah Kubicarakan. Ada aturan dan hukum yang memerintah kelangsungan hidup dari segala hal yang diciptakan Tuhan. Dapatkah engkau melihat hal yang Tuhan lakukan dari apa yang terjadi di dalam cerita itu? Apakah Tuhan menciptakan alam semesta dan kemudian mengabaikan apa yang terjadi sesudahnya? Apakah Dia memberi mereka aturan dan merancang cara-cara mereka berfungsi dan kemudian mengabaikannya setelah itu? Itukah yang terjadi? (Tidak.) Kalau begitu apa? (Tuhan memegang kendali.) Tuhan masih mengendalikan air, angin, dan gelombang. Dia tidak membiarkan mereka mengamuk. Dia juga tidak membiarkan mereka membahayakan atau menghancurkan rumah orang, dan karena ini orang-orang dapat terus hidup dan berkembang di tanah ini. Ini berarti bahwa Tuhan telah merencanakan aturan untuk keberadaan ketika Dia menciptakan alam semesta. Ketika Tuhan menjadikan hal-hal ini, Dia memastikan agar semua itu akan bermanfaat bagi umat manusia, dan Dia juga mengendalikan segala sesuatu sehingga semua itu tidak akan menyusahkan atau mendatangkan bencana bagi umat manusia. Jika tidak dikelola oleh Tuhan, bukankah air akan mengalir ke seluruh penjuru? Bukankah angin akan bertiup ke semua tempat? Apakah mereka mengikuti aturan? Jika Tuhan tidak mengelola, mereka tidak akan diatur oleh aturan apa pun, dan angin akan menderu-deru serta air akan pasang dan mengalir ke mana-mana. Jika gelombang dahsyat lebih tinggi dari gunung, apakah wilayah laut itu masih ada? Laut tidak akan ada. Jika gunung tidak setinggi gelombang, wilayah laut itu tidak akan ada dan gunung akan kehilangan nilai dan maknanya.

Apakah engkau melihat hikmat Tuhan dalam dua cerita ini? (Ya.) Tuhan menciptakan alam semesta dan Dia adalah Tuhan atasnya; Dia bertanggung jawab atasnya dan Dia memeliharanya sambil mengawasi setiap kata dan tindakan. Dia juga mengawasi setiap sudut kehidupan manusia. Jadi Tuhan menciptakan alam semesta, di mana makna dan nilai dari setiap hal, serta fungsi, sifat, dan aturannya untuk kelangsungan hidup diketahui-Nya dengan jelas di luar kepala. Tuhan menciptakan alam semesta; apakah engkau sekalian berpikir bahwa Dia harus melakukan penelitian tentang aturan-aturan yang memerintah alam semesta ini? Apakah Tuhan perlu membaca tentang pengetahuan manusia atau sains untuk melakukan penelitian dan memahaminya? (Tidak.) Adakah di antara umat manusia yang memiliki pengetahuan luas dan cukup banyak hikmat untuk memahami semua hal seperti yang Tuhan lakukan? Tidak ada. Benar, kan? Adakah astronom atau ahli biologi yang benar-benar memahami bagaimana segala sesuatu hidup dan bertumbuh? Bisakah mereka benar-benar memahami nilai dari keberadaan setiap hal? (Tidak bisa.) Mengapa demikian? Segala sesuatu diciptakan oleh Tuhan, dan tidak peduli seberapa banyak dan mendalamnya umat manusia mempelajari pengetahuan ini, atau berapa lama mereka berusaha keras mempelajarinya, mereka tidak akan pernah dapat menyelami misteri dan tujuan penciptaan Tuhan atas segala sesuatu, benar, kan? (Ya.) Setelah berdiskusi sejauh ini, apakah engkau merasa bahwa engkau sekalian memiliki sebagian pemahaman dari konotasi frasa "Tuhan Adalah Sumber Kehidupan atas Segala Sesuatu"? (Ya.) Aku tahu ketika Aku membahas topik ini, banyak orang akan segera berpikir tentang bagaimana Tuhan itu adalah kebenaran dan bagaimana firman-Nya memelihara kita, tetapi mereka hanya akan memikirkannya pada tingkatan ini. Beberapa orang bahkan merasa bahwa dalam hal Tuhan memelihara kehidupan manusia, menyediakan makanan dan minuman sehari-hari dan segala kebutuhan sehari-hari tidak terhitung sebagai pemeliharaan atas manusia. Bukankah beberapa orang merasa seperti ini? Bukankah maksud Tuhan sangat jelas dalam hal bagaimana Dia menciptakan segalanya sehingga manusia bisa bertahan dan hidup normal? Tuhan memelihara lingkungan tempat manusia hidup dan Dia menyediakan segala hal yang dibutuhkan umat manusia. Terlebih lagi, Dia mengelola dan memegang kekuasaan atas segala sesuatu. Semua ini memungkinkan manusia untuk hidup normal dan berkembang dengan normal; dengan cara inilah Tuhan memelihara segala sesuatu dan umat manusia. Tidakkah orang perlu mengenali dan memahami hal-hal ini? Mungkin beberapa orang bisa berkata: "Topik ini terlampau jauh dari pengetahuan kita tentang Tuhan yang benar itu sendiri, dan kita tidak ingin mengetahui hal ini karena manusia tidak dapat hidup dari roti saja, tetapi hidup oleh firman Tuhan." Benarkah ini? (Tidak.) Apa yang salah di sini? Dapatkah engkau memiliki pemahaman yang lengkap tentang Tuhan jika engkau hanya mengetahui hal-hal yang Tuhan katakan? Jika engkau hanya menerima pekerjaan-Nya serta penghakiman dan hajaran-Nya, akankah engkau memiliki pemahaman yang lengkap tentang Tuhan? Jika engkau hanya tahu sebagian kecil dari watak Tuhan, sebagian kecil dari otoritas Tuhan, itu cukup untuk mencapai pemahaman tentang Tuhan, bukan? (Tidak.) Tindakan Tuhan dimulai dengan penciptaan-Nya atas alam semesta dan terus berlanjut hingga masa sekarang di mana tindakan-Nya nyata sepanjang waktu dan setiap saat. Jika orang percaya bahwa Tuhan itu ada hanya karena pekerjaan-Nya atas beberapa orang yang dipilih demi menyelamatkan orang-orang itu, dan jika mereka percaya bahwa hal-hal lain tidak melibatkan Tuhan, otoritas, status, dan tindakan-Nya, dapatkah itu dianggap benar-benar mengenal Tuhan? Orang yang memiliki apa yang disebut pengetahuan akan Tuhan—yang didasarkan pada pandangan sepihak bahwa Tuhan itu terbatas hanya pada sekelompok orang. Apakah ini pengetahuan sejati tentang Tuhan? Bukankah orang-orang dengan pengetahuan akan Tuhan semacam ini menyangkal penciptaan-Nya atas segala sesuatu dan kekuasaan-Nya atas semua hal tersebut? Beberapa orang tidak ingin mengakui ini, dan mereka mungkin berpikir sendiri: "Aku tidak melihat kekuasaan Tuhan atas segala sesuatu, menurutku itu adalah sesuatu yang terlampau jauh dan aku tidak ingin memahaminya. Tuhan melakukan apa pun yang Dia inginkan dan itu tidak ada hubungannya denganku. Aku hanya peduli pada diriku sendiri dengan menerima pimpinan Tuhan dan firman-Nya dan aku akan disempurnakan serta diselamatkan oleh Tuhan. Aku hanya akan memperhatikan hal-hal ini, tetapi tidak akan mencoba memahami hal lain atau merenungkannya. Apa pun aturan yang Tuhan buat ketika Dia menciptakan segala sesuatu atau apa pun yang Tuhan lakukan untuk memelihara semua itu dan manusia tidak ada hubungannya denganku." Perkataan macam apakah ini? Bukankah ini benar-benar tercela? Adakah di antara engkau sekalian yang berpikir seperti ini? Aku tahu ada sebagian besar orang yang berpikir seperti ini bahkan jika engkau sekalian tidak akan mengatakannya. Jenis orang ini, yang mengikuti aturan dapat menggunakan sudut pandang rohani mereka sendiri dalam cara mereka memandang segala sesuatunya. Mereka ingin membatasi Tuhan pada Alkitab, membatasi Tuhan dengan firman yang telah Dia sampaikan, dan membatasi Tuhan hanya pada kata yang tertulis secara harfiah. Mereka tidak ingin tahu lebih banyak tentang Tuhan dan mereka tidak ingin Tuhan menaruh perhatian lebih besar dalam melakukan hal-hal lain. Pemikiran seperti ini kekanak-kanakan dan sangat agamawi. Dapatkah orang-orang yang memiliki pandangan ini mengenal Tuhan? Mereka akan kesulitan mengenal Tuhan. Sekarang Aku telah menceritakan dua cerita ini dan berbicara tentang dua aspek ini. Setelah mendengarnya dan baru saja bersinggungan dengannya, engkau sekalian mungkin merasa bahwa cerita ini begitu mendalam atau bahkan sedikit abstrak dan sulit dipahami dan dimengerti. Mungkin sulit untuk menghubungkannya dengan tindakan Tuhan dan Tuhan sendiri. Namun, semua tindakan Tuhan dan semua yang telah Dia lakukan di antara segala sesuatu dan di antara seluruh umat manusia harus secara jelas dan akurat diketahui oleh masing-masing orang dan oleh setiap orang yang berusaha mengenal Tuhan. Pengetahuan ini akan memberi engkau penegasan dan iman pada keberadaan Tuhan yang sejati. Hal ini juga akan memberi engkau pengetahuan akurat tentang hikmat Tuhan, kuasa-Nya, dan bagaimana Dia memelihara segala sesuatu. Pengetahuan ini akan memungkinkan engkau secara jelas memahami keberadaan Tuhan yang sejati dan melihat bahwa hal itu tidak fiktif, dan bukan mitos. Hal ini memungkinkan engkau melihat bahwa pengetahuan ini tidak samar-samar, dan bukan hanya sebuah teori, dan Tuhan tentu bukan sekadar makanan rohani, tetapi Dia benar-benar ada. Terlebih lagi, pengetahuan ini memungkinkan engkau mengenal-Nya sebagai Tuhan dengan cara Dia memelihara segala sesuatu dan umat manusia; Dia melakukan hal ini dengan cara-Nya sendiri dan sesuai dengan ritme-Nya sendiri. Jadi seseorang dapat mengatakan bahwa karena Tuhan menciptakan segala sesuatu dan Dia memberi mereka aturan maka dengan perintah-Nya mereka masing-masing melaksanakan tugas yang diberikan, memenuhi tanggung jawab mereka, dan memainkan peran yang diberikan kepada mereka masing-masing. Segala sesuatu memenuhi peran mereka sendiri bagi umat manusia, dan melakukan hal ini di lingkungan tempat manusia tinggal. Jika Tuhan tidak melakukan hal-hal dengan cara seperti ini dan lingkungan manusia tidak sebagaimana adanya, kepercayaan orang pada Tuhan atau tindakan mereka mengikut Dia—semua itu tidak mungkin terjadi; cuma omong kosong, bukankah ini benar?

Mari kita perhatikan lagi kisah yang baru saja kita dengar—gunung besar dan anak sungai kecil. Apakah gunanya gunung itu? Makhluk hidup bertambah banyak di gunung sehingga ada nilai atas keberadaannya dengan sendirinya. Sementara itu, gunung menghalangi anak sungai kecil, memastikan agar anak sungai itu tidak mengalir ke mana saja yang diinginkannya sehingga mendatangkan bencana bagi manusia. Bukankah itu benar? Berdasarkan keberadaan gunung ini memungkinkan makhluk hidup seperti pohon dan rumput dan semua tumbuhan dan hewan lain di gunung dapat bertambah banyak serta mengarahkan ke mana anak sungai kecil mengalir; gunung mengumpulkan air dari anak sungai dan memandunya secara alami di sekitar kakinya ke tempat air itu dapat mengalir ke sungai dan akhirnya ke laut. Segala aturan yang ada di sini tidak dibuat oleh alam, tetapi sebaliknya diatur oleh Tuhan pada saat penciptaan. Adapun untuk gunung besar dan angin kencang, gunung juga membutuhkan angin. Gunung membutuhkan angin untuk membelai makhluk hidup yang tinggal di atasnya, dan selain itu gunung membatasi seberapa keras angin yang kencang dapat bertiup sehingga tidak melanda dan menghancurkan. Aturan ini, sedikit banyak, memuat tugas gunung besar, jadi apakah aturan tentang tugas gunung besar ini terbentuk dengan sendirinya? (Tidak.) Sebaliknya aturan ini dibuat oleh Tuhan. Gunung besar memiliki tugasnya sendiri dan angin kencang juga memiliki tugasnya. Sekarang, tentang gunung besar dan gelombang dahsyat, tanpa adanya gunung di sana akankah air menemukan arah alirannya sendiri? (Tidak.) Air juga akan membanjiri dan menghancurkan. Gunung memiliki nilai tersendiri sebagai gunung, dan laut memiliki nilai tersendiri sebagai laut. Dengan cara demikian, dalam keadaan ini di mana mereka dapat hidup bersama secara normal dan masing-masing tidak saling mengganggu, mereka juga membatasi satu sama lain. Gunung besar membatasi laut sehingga tidak membanjiri dan dengan demikian melindungi rumah orang-orang, dan juga memungkinkan laut memelihara makhluk hidup yang tinggal di dalamnya. Apakah bentang darat ini terbentuk dengan sendirinya? (Tidak.) Bentang darat ini juga diciptakan oleh Tuhan. Dari gambaran-gambaran ini kita melihat bahwa ketika Tuhan menciptakan alam semesta, Dia telah menentukan sebelumnya di mana gunung akan berdiri, ke mana anak sungai akan mengalir, dari arah mana angin kencang akan mulai bertiup dan ke mana perginya, serta seberapa tingginya gelombang dahsyat. Maksud dan tujuan Tuhan dilaksanakan dalam semua hal ini dan semuanya adalah perbuatan-Nya. Sekarang, dapatkah engkau melihat bahwa perbuatan Tuhan hadir dalam segala hal? (Iya.)

Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.

Hubungi kami via WhatsApp