Cara Mengejar Kebenaran (9) Bagian Satu
Penerapan Pertama untuk Mengejar Kebenaran: Melepaskan
Melepaskan Penghalang di antara Dirinya dan Tuhan serta Permusuhannya terhadap Tuhan
I. Melepaskan Gagasan dan Imajinasi Orang tentang Tuhan: Melepaskan Gagasan dan Imajinasi Orang tentang Pekerjaan Tuhan
F. Pekerjaan Tuhan Tidak Mengubah Kondisi Bawaan Orang; Tujuannya adalah untuk Mengubah Watak Rusak Mereka
Selama kurun waktu ini, topik persekutuan kita telah mencakup lingkup yang relatif luas, bukan? (Ya.) Ini telah mencakup beberapa masalah kemanusiaan yang lebih spesifik, dan juga telah mencakup beberapa masalah kehidupan manusia. Pada pertemuan terakhir, kita telah mempersekutukan topik yang berkaitan dengan kualitas, dan kemudian kita telah mempersekutukan cara mengidentifikasi kondisi bawaan, kemanusiaan, dan watak yang rusak. Persekutuan kita tentang topik kualitas pada dasarnya telah selesai; mulai sekarang, engkau dapat menilai dengan tepat bagaimana kualitas seseorang berdasarkan isi pembahasan ini. Ketika mempersekutukan ketiga aspek ini—kondisi bawaan, kemanusiaan, dan watak yang rusak—kita telah bersekutu tentang beberapa perwujudan dan hal-hal yang orang perlihatkan dalam kehidupan sehari-hari untuk menilai apakah hal-hal ini termasuk kondisi bawaan, kemanusiaan, atau watak rusak mereka. Melalui persekutuan kita tentang ketiga aspek, yakni kondisi bawaan, kemanusiaan, dan watak yang rusak ini, apakah engkau sekarang memiliki pemahaman yang konkret tentang struktur dasar manusia sebagai makhluk ciptaan? (Kami dapat memahaminya sedikit lebih banyak daripada sebelumnya.) Alasan kita mempersekutukan ketiga aspek perwujudan yang orang perlihatkan dalam kehidupan mereka adalah karena manusia ciptaan terdiri dari kondisi bawaan, kemanusiaan, dan watak yang rusak. Entah engkau pria atau wanita, entah engkau berusia muda atau lanjut usia, termasuk ras apa pun dirimu atau di negara mana pun engkau tinggal, di periode mana pun engkau hidup, atau di lingkungan sosial dan latar belakang apa pun engkau tinggal—singkatnya, seperti apa pun penampilan luarmu—selama engkau adalah manusia ciptaan, engkau terdiri dari tiga aspek ini: kondisi bawaan, kemanusiaan, dan watak yang rusak. Dengan kata lain, setiap orang, yang termasuk umat manusia yang rusak, terdiri dari kondisi bawaan, kemanusiaan, dan kehidupan watak yang rusak. Itu berarti, setiap manusia ciptaan memiliki kondisi bawaan, kemanusiaan, dan watak yang rusak. Tentu saja, kondisi bawaan yang orang miliki ditetapkan oleh Tuhan. Kemanusiaan sebagian dipengaruhi oleh kondisi bawaan, dan sebagian lagi ditanamkan serta dipengaruhi oleh didikan keluarga, lingkungan sosial, dan didikan Iblis. Sementara itu, watak rusak adalah watak Iblis dan natur Iblis seseorang yang dihasilkan oleh penyesatan dan perusakan Iblis. Natur rusak ini sebagian berasal dari keluarga seseorang, sebagian dari masyarakat, dan sebagian dari pengaruh serta pembelajaran dan pembiasaan yang orang alami di berbagai lingkungan. Dari perspektif ini, setiap orang yang diciptakan sebenarnya bukanlah semacam misteri, karena mereka terdiri dari tiga aspek ini: kondisi bawaan, kemanusiaan, dan watak yang rusak. Oleh karena itu, mengidentifikasi orang macam apa seseorang itu sebenarnya mudah. Dengan mengesampingkan kondisi bawaan yang ditetapkan dan dianugerahkan oleh Tuhan, yang tersisa adalah mengidentifikasi seperti apa kemanusiaan seseorang dan watak rusak apa yang mereka miliki—ini menentukan seperti apa esensi orang tersebut. Mengidentifikasi dengan cara ini membuat segala sesuatunya menjadi sangat jelas. Mengidentifikasi esensi seseorang berdasarkan hal-hal ini bukanlah hal yang sulit. Mengidentifikasi dengan cara seperti ini ada dasarnya dan juga ada standar pengukurannya.
6. Berbagai Perwujudan Kondisi Bawaan, Kemanusiaan, dan Watak yang Rusak
Sebelumnya, kita telah menyebutkan beberapa perwujudan spesifik dari kondisi bawaan, yang tidak ada kaitannya dengan watak yang rusak. Kondisi bawaan adalah landasan yang orang andalkan untuk bertahan hidup dan merupakan kondisi yang seharusnya dimiliki oleh manusia ciptaan. Entah kondisi itu berkaitan dengan kelahiran seseorang, seperti waktu, lingkungan, dan tempat lahir, atau aspek-aspek seperti penampilan, kualitas, kelebihan, naluri, minat dan hobi, serta kepribadian seseorang—semua ini merupakan bagian dari kondisi bawaan seseorang. Kondisi bawaan ini tidak merusak manusia, dan tentu saja, kondisi bawaan ini juga tidak mengandung watak yang rusak. Secara umum, kondisi bawaan adalah beberapa kondisi dasar yang harus dimiliki oleh manusia ciptaan agar dapat bertahan hidup dan hidup. Kemanusiaan mengacu pada apa yang dijalani dengan melibatkan hati nurani dan nalar kemanusiaan normal yang diperlihatkan oleh tubuh yang memiliki kondisi bawaan. Mengenai watak yang rusak, ini mudah dipahami—watak yang rusak adalah hasil dari perusakan yang Iblis lakukan terhadap kehidupan tubuh yang memiliki kondisi bawaan dan kemanusiaan. Apakah ini sedikit abstrak? Secara keseluruhan, manusia ciptaan adalah makhluk ciptaan yang didominasi oleh watak yang rusak dan memiliki hati nurani dan nalar kemanusiaan yang dasar. Makhluk ciptaan ini memiliki berbagai kondisi bawaan yang Tuhan tetapkan. Ini adalah struktur dasar manusia yang diciptakan oleh Tuhan. Dalam hal ini, kondisi bawaan dan watak yang rusak lebih mudah dipahami, tetapi kemanusiaan mungkin relatif abstrak. Sederhananya, kemanusiaan adalah atribut unik manusia ciptaan yang membedakan mereka dari makhluk hidup lainnya. Makhluk ciptaan, yang memiliki atribut unik ini, memiliki hati nurani dan nalar, karakter, dan juga kemampuan untuk membedakan yang benar dan yang salah. Atribut unik yang membedakan umat manusia dari makhluk hidup lainnya ini merupakan kemanusiaan. Kemanusiaan ini tentu saja mencakup kemampuan untuk mengungkapkan diri dengan menggunakan bahasa, kemampuan untuk membedakan yang benar dan yang salah, kemampuan untuk mengerti, kemampuan untuk menerima hal-hal baru, kemampuan untuk menerima firman Sang Pencipta, dan kemampuan untuk menerima amanat Tuhan serta menangani hal apa pun. Inilah yang dimaksud dengan kemanusiaan. Pengertian kemanusiaan yang paling sederhana adalah bahwa itu adalah atribut bawaan manusia ciptaan yang membedakannya dari makhluk hidup lainnya. Karakteristik paling dasar dari atribut ini adalah hati nurani dan nalar. Ini adalah cara paling sederhana untuk mengerti arti kemanusiaan. Ada beberapa rincian di dalamnya, seperti integritas dan karakter yang seharusnya dimiliki kemanusiaan, kemampuan untuk membedakan hal positif dan hal negatif, serta memilih dan melaksanakan hal-hal positif. Pada dasarnya, hal-hal ini adalah apa yang harus dimengerti dan diketahui orang tentang ketiga aspek, yakni kondisi bawaan, kemanusiaan, dan watak yang rusak. Apakah engkau semua pernah memikirkan hal-hal ini sebelumnya? (Kami belum pernah memikirkannya sebelumnya.) Ketika menghadapi hal-hal ini untuk pertama kalinya, dapatkah engkau mengerti tentangnya? Dapatkah engkau memahaminya? (Kami dapat mengerti sedikit.) Apakah ada yang merasa bahwa topik yang sedang kita bicarakan ini terlalu mendalam dan agak abstrak, dan seperti membahas falsafah, hal ini sedikit tidak dapat dipahami? Berdasarkan perwujudan spesifik dari ketiga aspek, yakni kondisi bawaan, kemanusiaan, dan watak yang rusak yang telah kita persekutukan selama beberapa hari ini, apa yang baru saja dibicarakan seharusnya tidak abstrak bagi engkau semua. Perwujudan spesifik dari ketiga aspek ini seharusnya dapat dipahami olehmu. Selain itu, bukankah hubungan di antara ketiga aspek ini juga seharusnya jelas? Kemanusiaan adalah integritas, karakter, hati nurani, dan nalar yang orang perlihatkan berdasarkan landasan dari memiliki kondisi bawaan dasar. Watak yang rusak adalah apa yang dijalani dalam kemanusiaan melalui kondisi bawaan, dan itu adalah berbagai watak yang orang jalani yang didominasi oleh hidup yang Iblis tanamkan dalam diri mereka. Dengan demikian, apa pun kondisi bawaan yang orang miliki, itu hanyalah cangkang luar yang paling dasar, sedangkan hidup yang benar-benar dapat mendominasi esensi seseorang adalah watak rusak yang Iblis tanamkan dalam diri mereka. Dengan kata lain, untuk mengidentifikasi seperti apa esensi seseorang itu, lihatlah watak yang mereka perlihatkan. Jika watak yang mereka perlihatkan adalah watak rusak berupa kecongkakan, sikap keras kepala, kelicikan, kejahatan, atau kekejaman, entah karakter mereka baik atau jahat, orang ini pada dasarnya adalah milik Iblis, karena hidup yang mereka miliki adalah watak rusak Iblis. Oleh karena itu, atribut seseorang bergantung pada hidup yang mereka miliki di dalam dirinya, bukan bergantung pada kondisi bawaan mereka. Jika hidup yang mereka miliki adalah watak rusak Iblis, maka sekalipun di luarnya kondisi bawaan mereka terlihat sangat mulia atau hebat, mereka pada esensinya adalah milik Iblis, dan mereka adalah salah seorang dari umat manusia yang rusak. Jika kehidupan seseorang adalah kehidupan di mana kebenaran adalah hidup mereka, maka sekalipun di luarnya kondisi bawaan mereka terlihat sangat biasa, normal, atau dipandang rendah—dan sekalipun mereka memperlihatkan beberapa kelemahan, kekurangan, dan cacat dalam kemanusiaan mereka—mereka tetap merupakan bagian dari umat manusia yang telah diselamatkan. Mereka pada esensinya adalah milik Tuhan, dan bukan milik Iblis. Esensi mereka berubah. Begitu esensi mereka berubah, kepemilikan atas mereka juga berubah—mereka menjadi milik kebenaran dan milik Tuhan. Oleh karena itu, faktor penentu dalam kepemilikan atas diri seseorang, esensi, dan kesudahan akhir seseorang bukanlah kondisi bawaan mereka, dan tentu saja, juga bukan sepenuhnya kemanusiaan mereka, melainkan, hidup yang mereka miliki. Jika dari awal hingga akhir, kehidupan seseorang adalah kehidupan di mana watak-watak rusak adalah hidup yang mereka miliki, dan mereka adalah milik Iblis, maka Iblislah yang memegang kepemilikan atas diri mereka; jika mereka memiliki kebenaran sebagai hidup mereka, mereka adalah milik Tuhan, dan dengan demikian Tuhanlah yang memegang kepemilikan atas diri mereka, di tempat tujuan indah yang telah Tuhan persiapkan bagi umat manusia. Berdasarkan berbagai perwujudan dan esensi manusia dalam segala aspek, milik siapakah manusia sekarang ini? Apakah orang memiliki kehidupan di mana kebenaran adalah hidup mereka? (Tidak.) Lalu, tergantung pada apa tepatnya esensi seseorang itu? (Pada apa yang mereka miliki sebagai hidup mereka.) Tepat sekali; apa pun hidup yang kaumiliki dalam dirimu, itulah esensimu. Jika hidup di dalam dirimu berubah, dan bukan lagi watak-watak rusak yang menjadi hidupmu, melainkan kebenaran, berarti dalam hal esensimu, engkau adalah milik Tuhan dan milik kebenaran. Tentu saja, atribut kemanusiaan yang orang miliki tidak berubah—manusia tetaplah manusia, dan dalam hal atributnya, mereka tetaplah manusia ciptaan. Namun, karena hidup yang kaumiliki telah berubah, kepemilikan atas dirimu juga telah berubah. Singkatnya, kondisi bawaan adalah kondisi dasar yang membentuk manusia ciptaan. Itu berarti, selama engkau disebut manusia ciptaan, kondisi bawaan ini pasti ada dalam dirimu—kondisi tersebut adalah kondisi dasar. Kemanusiaan adalah apa yang diperlihatkan dan dijalani oleh kemanusiaan normal seseorang saat mereka hidup di bawah kondisi bawaan mereka. Watak yang rusak adalah hidup yang melekat pada manusia yang rusak, tersembunyi di bawah kondisi bawaan dan cangkang kemanusiaan. Hubungan dan perbedaan di antara ketiga aspek ini, serta peran yang dimainkan setiap aspek atau fungsi yang dijalankan setiap aspek dalam diri manusia ciptaan, adalah sebagaimana yang telah dijelaskan. Sebelumnya, kita telah bersekutu tentang beberapa perwujudan yang berkaitan dengan ketiga aspek berupa kondisi bawaan, kemanusiaan, dan watak rusak yang orang perlihatkan. Namun, isi pembahasan yang berkaitan dengan ketiga aspek ini jauh melampaui apa yang telah kita persekutukan, jadi kita harus terus mempersekutukan topik ini pada hari ini.
Gagap dan Berbicara Tersendat-sendat
Sampai di mana pembahasan terakhir kita tentang berbagai perwujudan kondisi bawaan, kemanusiaan, dan watak yang rusak? Sikap yang takut dan sikap berani, bukan? (Ya.) Persekutuan tersebut telah selesai. Sekarang mari kita lihat tentang gagap dan berbicara tersendat-sendat—masalah macam apakah ini? (Kondisi bawaan.) Ini adalah kondisi bawaan dan juga sejenis cacat fisik. Tentu saja, bentuk gagap itu berbeda-beda. Ada orang gagap yang memperpanjang satu suku kata, ada yang terus mengulang satu suku kata, menghabiskan waktu seharian tanpa mampu mengucapkan kalimat lengkap. Singkatnya, ini adalah kondisi bawaan dan tentu saja, ini juga adalah sejenis cacat fisik. Apakah ini ada kaitannya dengan watak yang rusak? (Tidak.) Ini tidak ada kaitannya dengan watak yang rusak. Jika seseorang berkata, "Kau gagap saat berbicara; kau pasti licik!" atau, "Kau bahkan gagap saat berbicara; bagaimana kau bisa begitu congkak?"—apakah pernyataan seperti itu tepat? (Tidak.) Gagap, sebagai cacat atau kekurangan, tidak ada hubungannya dengan aspek apa pun dari watak rusak yang orang miliki. Oleh karena itu, gagap adalah kondisi bawaan dan sejenis cacat fisik. Jelas, itu tidak ada kaitannya dengan watak rusak seseorang dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan watak rusak mereka. Ada situasi lain yang berkaitan dengan gagap: Ada orang-orang yang biasanya tidak gagap saat berbicara, tetapi ketika engkau mengajukan sebuah pertanyaan kepada mereka, mereka ragu-ragu dan tersendat; mereka menghabiskan waktu seharian untuk mengucapkan satu kalimat, dan engkau tetap tidak dapat memahami apa yang berusaha mereka katakan. Ucapan mereka tidak pernah cukup spesifik, selalu membuatmu menebak-nebak maknanya—apa pun yang kautebak, itu menjadi maknanya. Jika tidak, mereka menggunakan senyuman sebagai ganti makna. Singkatnya, mereka tidak menjawab pertanyaanmu secara langsung. Misalnya, engkau bertanya kepada mereka, "Dari mana asalmu?" Mereka berkata, "Aku ... aku ... yah, hanya berkeliling dan ..." Setelah mendengar perkataan mereka, engkau tetap tidak tahu dari mana mereka berasal. Atau engkau bertanya kepada mereka, "Bagaimana caramu menilai kualitas orang itu?" Mereka berkata, "Kualitas orang itu ... yah ... semua orang, kau tahu ... kita semua ... eh ... tidak benar-benar ... jelas." Mengapa mereka berbicara dengan cara yang tersendat-sendat dan terputus-putus seperti itu? Apakah ini berarti gagap atau berbicara tersendat-sendat? Sepertinya bukan. Lalu mengapa mereka berbicara seperti ini? Jika bukan karena gagap atau berbicara tersendat-sendat, apa alasannya? (Mereka didominasi oleh watak yang rusak.) Ini jelas adalah perwujudan watak tertentu. Itu berarti, ketika mereka mengungkapkan sesuatu atau melakukan sesuatu, mereka dikuasai oleh watak tertentu, yang merupakan bagian dari hidup yang mereka miliki, yang mendorong mereka untuk berbicara dan bertindak demi mencapai tujuan tertentu. Apakah tujuan ini? Tujuannya adalah untuk menyembunyikan fakta yang sebenarnya, untuk menghindari memberitahumu tentang fakta yang sebenarnya; mereka tidak ingin menjelaskan sesuatu dengan begitu jelas. Mengapa mereka bertindak seperti ini? Karena mereka yakin bahwa jika mereka menjelaskan apa yang sebenarnya sedang terjadi, mereka harus menanggung akibatnya—entah itu menyinggung seseorang atau menyebabkan kerugian bagi diri mereka sendiri. Mereka tidak ingin menanggung akibat-akibat ini; mereka tidak ingin engkau mengetahui fakta yang sebenarnya. Inilah cara dan gaya berbicara serta bertindak di bawah dominasi watak yang rusak. Hidup yang menguasai mereka untuk bertindak seperti ini merepresentasikan natur mereka, dan tindakan mereka seperti ini membuktikan bahwa mereka sama sekali tidak memiliki kebenaran. Mereka tidak berbicara berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran. Jadi, bagaimana seharusnya orang berbicara agar dapat berbicara berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran? Untuk melakukan hal ini, orang harus menjadi orang yang jujur, sebagaimana Tuhan berfirman: "Hendaknya perkataanmu demikian, Jika ya, katakan ya; Jika tidak, katakan tidak." Apakah mereka melakukan seperti ini? (Tidak.) Apa yang mereka lakukan? Mereka tidak mengatakan ya ketika itu ya atau tidak ketika itu tidak. Metode apa yang mereka gunakan? Mereka berbicara dengan ambigu, menggunakan cara-cara yang licik dan jahat untuk mengungkapkan maksud mereka demi mencapai tujuan mereka melindungi diri mereka sendiri. Mereka menggunakan metode yang Iblis instruksikan dan tanamkan dalam diri mereka untuk menangani suatu masalah atau mengungkapkan sesuatu. Ini jelas merupakan watak rusak Iblis. Ini bukanlah perwujudan kemanusiaan yang dangkal melainkan perwujudan cara bertindak di bawah dominasi watak rusak Iblis.
Menikmati Sensasi
Mari kita lanjutkan dengan perwujudan lain: menikmati sensasi dan tidak menyukai hal-hal yang hambar; melakukan segala sesuatu dan mengambil setiap pilihan gaya hidup demi merasakan sensasinya. Masalah macam apa ini? Pertama-tama, apakah ini termasuk dalam minat dan hobi yang tergolong kondisi bawaan? (Ya.) Benarkah? Pikirkan dengan saksama—apakah ini benar-benar termasuk di sana? Apakah menikmati sensasi adalah hal yang normal dalam rasionalitas seseorang? (Itu tidak normal.) Lalu, apakah tepat menggolongkannya dalam kondisi bawaan? (Tidak.) Jika melihatnya dengan cara ini, ini tidak tepat. Termasuk dalam masalah macam apakah perwujudan ini? Jika kita katakan bahwa menikmati sensasi adalah watak yang rusak, watak rusak macam apakah itu? Apakah watak congkak, watak licik, atau watak kejam? (Bukan salah satu darinya.) Ini tidak ada kaitannya dengan jenis watak rusak apa pun. Lalu, masalah macam apa ini? (Ini adalah masalah kemanusiaan.) Masalah kemanusiaan macam apa ini? Apakah ini berarti berbuat dengan cara yang kurang pantas? (Ya.) Ini berarti berperilaku dengan tidak semestinya dan dengan cara yang tidak pantas, menikmati sensasi, dan tidak bisa diam. Sikap tidak bisa diam menunjukkan kekurangan dalam kemanusiaan yang normal. Ini tidak ada kaitannya dengan hati nurani tetapi terutama mencerminkan kurangnya rasionalitas dalam kemanusiaan yang normal. Orang-orang semacam itu tidak dapat bertahan dalam satu tugas atau tidak melaksanakan tugas mereka dengan cara yang menaati aturan dan patuh. Mereka tidak dapat melakukan berbagai hal seperti orang dewasa; mereka tidak memiliki pemikiran yang dewasa, cara berperilaku pribadi yang dewasa, dan cara yang dewasa dalam melakukan sesuatu. Paling tidak, ini adalah cacat dalam kemanusiaan mereka. Tentu saja, ini tidak mencapai tingkat masalah dalam karakter mereka tetapi berhubungan dengan sikap yang mereka gunakan dalam berperilaku dan bertindak. Menikmati hal-hal baru dan sensasi, tidak konsisten dalam melakukan apa pun, tidak mampu bertekun, tidak bisa diam dan berbuat dengan tidak semestinya, serta selalu ingin mencari sensasi dan mencoba hal-hal baru yang menarik—masalah sejenis ini termasuk cacat dalam kemanusiaan. Orang yang menikmati sensasi tidak memiliki rasionalitas kemanusiaan yang normal; tidak mudah bagi mereka untuk memikul tanggung jawab dan pekerjaan yang seharusnya dipikul orang dewasa. Pekerjaan apa pun yang mereka lakukan, selama mereka melakukannya dalam waktu lama dan kehilangan perasaan baru dari hal itu, mereka menganggapnya membosankan, kehilangan minat untuk melakukannya, dan ingin mencari rasa baru dan sensasi. Tanpa sensasi, mereka merasa segala sesuatunya hambar dan bahkan mungkin mengalami perasaan kekosongan rohani. Ketika mereka merasa seperti ini, hati mereka menjadi tidak bisa diam, dan mereka ingin mencari sensasi atau hal-hal yang menarik bagi mereka. Mereka terus-menerus ingin melakukan sesuatu yang tidak konvensional. Setiap kali mereka merasa pekerjaan yang sedang mereka lakukan atau urusan yang sedang mereka tangani membosankan atau tidak menarik, mereka kehilangan keinginan untuk melanjutkannya. Sekalipun itu adalah pekerjaan yang seharusnya mereka lakukan atau pekerjaan yang bermakna dan berharga, mereka tidak dapat bertekun. Lihatlah bagaimana, di antara orang-orang tidak percaya, ada banyak orang yang sering menggunakan narkoba. Apa pun alasan di baliknya, mereka senang menggunakan narkoba untuk mencari sensasi dan mencari sensasi yang tidak rasional yang melampaui apa yang dimiliki orang normal. Orang yang menikmati sensasi mirip dengan mereka yang mengandalkan narkoba untuk stimulasi. Mereka tidak memiliki rasionalitas orang normal dalam cara mereka berperilaku dan selalu suka mengejar sensasi yang tidak realistis dan supernatural ketika memilih gaya hidup mereka. Ini sangat berbahaya. Jenis orang seperti ini di luarnya sering terlihat tidak memiliki masalah besar. Jika engkau tidak mengenali orang-orang semacam itu atau tidak mengetahui yang sebenarnya tentang esensi mereka atau esensi dari masalah semacam ini, engkau mungkin berpikir, "Orang-orang ini hanya memiliki watak yang tidak stabil; mereka berusia tiga puluhan atau empat puluhan tetapi masih belum dewasa, masih seperti anak-anak." Sebenarnya, di lubuk hatinya, jenis orang ini terus-menerus mencari sensasi. Apa pun yang mereka lakukan, mereka tidak memiliki pemikiran dan kesadaran orang dewasa, serta tidak memiliki pendekatan dan sikap yang orang dewasa gunakan dalam menangani berbagai hal. Oleh karena itu, orang-orang semacam itu sangat bermasalah. Mungkin kemanusiaan mereka tidak buruk dan karakter mereka tidak terlalu keji, tetapi karena cacat dalam kemanusiaan mereka ini, sangat sulit bagi mereka untuk berkompeten dalam pekerjaan yang signifikan, terutama jenis pekerjaan penting tertentu. Ketika engkau mempersekutukan kebenaran kepada mereka, mereka berkata, "Aku mengerti segalanya; aku hanya tidak bisa melakukannya." Mereka tidak dapat hidup atau bekerja dengan semestinya dan patuh dengan pemikiran dan sikap orang normal. Hati mereka selalu tidak bisa diam. Orang dengan perwujudan seperti itu juga sangat bermasalah. Ini mengakhiri pembahasan kita tentang perwujudan menikmati sensasi.
Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.
Konten Terkait
Firman Tuhan | "Pekerjaan Tuhan, Watak Tuhan, dan Tuhan itu Sendiri III" (Bagian Dua)
Beberapa materi dalam video ini berasal dari: 【All Bible quotations in this video are translated freely from English Bible.】...