Cara Mengejar Kebenaran (6) Bagian Lima

Nomor 8: Kemampuan untuk Menanggapi Berbagai Hal

Selanjutnya, kita akan membahas kemampuan kedelapan, kemampuan untuk menanggapi berbagai hal. Kemampuan untuk menanggapi berbagai hal adalah cara orang menyikapi suatu hal—entah hal ini telah terjadi, atau terjadi secara tiba-tiba, atau berbagai faktor dari hal ini telah berubah, cara orang menyikapi hal ini adalah kemampuan mereka untuk menanggapi berbagai hal. Lalu, terutama mengacu pada apakah kemampuan untuk menanggapi berbagai hal ini? Ini mengacu pada kemampuanmu untuk mengidentifikasi, menilai, memperlakukan, dan menangani suatu hal. Ketika engkau menghadapi orang, peristiwa, atau hal tertentu, apa natur dari hal-hal tersebut? Apakah itu merupakan hal yang positif atau hal yang negatif? Bagaimana seharusnya hal semacam ini dihadapi dan ditangani? Ketika hal itu terjadi secara tiba-tiba, pelajaran apa yang harus dipetik? Apa maksud baik Tuhan? Jika hal semacam ini dapat merusak pekerjaan gereja, bagaimana seharusnya hal itu ditangani dengan cara yang sesuai dengan prinsip, dan bagaimana memperbaiki kerusakan yang ditimbulkannya, sehingga tidak lagi merugikan pekerjaan gereja, serta menghentikan dampak negatifnya agar tidak terus berkembang? Jika, ketika menghadapi orang, peristiwa, atau hal tertentu, engkau dapat secara akurat menilai esensi dan akar penyebab dari hal-hal tersebut, serta prinsip dan rencana untuk menanganinya berdasarkan prinsip-prinsip tentang cara mengidentifikasi yang telah kaupahami dan prinsip-prinsip kebenaran yang kauketahui, itu berarti engkau adalah orang yang memiliki kemampuan untuk menanggapi berbagai hal, yang juga berarti engkau adalah orang yang berkualitas baik. Misalnya, ketika suatu hal tiba-tiba terjadi di depanmu, bagaimana engkau harus menghadapinya? Pertama-tama, engkau harus melihat dengan jelas ke arah mana hal itu dapat berkembang, apa akibat yang akan ditimbulkannya jika itu terus berkembang, di mana akar penyebab terjadinya hal itu, apa esensi hal itu—engkau harus dapat mengidentifikasi dan melihat semua hal ini dengan jelas. Golongkan hal ini melalui kemampuanmu untuk mengidentifikasi, dan segera temukan rencana untuk menanganinya. Bagaimana hal tersebut harus ditangani, siapa dalangnya, siapa pengikutnya, siapa pihak yang terutama harus bertanggung jawab, siapa yang harus memikul tanggung jawab utama, bagaimana menangani pihak yang bertanggung jawab tersebut—engkau harus mencari tahu semua masalah ini. Selain itu, ketika menangani masalah, engkau harus meminimalkan kerugian dan juga mengatur ulang dan melakukan penyesuaian personel. Hanya dengan cara ini, barulah kesalahan dapat segera diperbaiki, masalah dapat diselesaikan secara menyeluruh, dan situasi dapat diperbaiki, sehingga memungkinkan segala sesuatunya berkembang ke arah yang benar dan menguntungkan. Singkatnya, jika engkau dapat mempertimbangkan semua faktor-faktor yang ada kaitannya dengan hal ini, dan kemudian memiliki cara yang benar untuk mengatasinya, memiliki prinsip-prinsip yang benar dan akurat untuk menanganinya, ini disebut memiliki kemampuan untuk menanggapi berbagai hal, dan itu berarti engkau adalah orang yang berkualitas baik. Tentu saja, metode untuk menangani masalah ini dan prinsip-prinsip untuk menanganinya mungkin merupakan kesimpulan dan definisi yang kaudapatkan melalui menghubungi dan bersekutu dengan orang-orang yang mengetahui situasi tersebut atau melalui bekerja sama dan berdiskusi dengan semua orang. Jika dengan menyelidiki jalannya situasi yang sebenarnya dan kemudian meminta saran dari saudara-saudari yang memahami masalah semacam ini, engkau akhirnya dapat membuat definisi, menarik kesimpulan, menentukan solusi, dan menangani masalah dengan semestinya, menyelesaikan penyesuaian personel, mengganti kerugian yang disebabkan oleh masalah ini, dan kemudian menyesuaikan pekerjaan gereja sehingga tidak lagi berkembang ke arah yang merugikan, inilah yang disebut memiliki kemampuan untuk menanggapi berbagai hal. Jika engkau mampu menangani berbagai hal pada tingkat ini, engkau dapat dianggap berkualitas baik. Tentu saja, memiliki kualitas yang baik tidak berarti bahwa ketika menghadapi suatu hal, orang dapat langsung mengetahui yang sebenarnya tentang hal itu, membuat keputusan yang cepat, dan menanganinya dengan cara yang komprehensif dan tepat—belum tentu ini yang terjadi. Diperlukan suatu proses bagi orang untuk menangani masalah; perlu bagi mereka untuk memahami berbagai aspek dari masalah tersebut agar mereka dapat mengetahui yang sebenarnya tentang esensi segala sesuatunya. Manusia terdiri dari daging dan darah, mereka melakukan hal-hal dalam lingkup kemanusiaan, dan diperlukan adanya suatu proses. Ini tidak seperti Roh Tuhan yang bekerja—Roh Tuhan memeriksa seluruh bumi secara menyeluruh; Tuhan selalu dapat melihat esensi dan akar penyebab dari segala sesuatu dan segala masalah. Ketika orang tidak mampu mengetahui yang sebenarnya tentang hal-hal tersembunyi di balik berbagai hal, mereka dapat dengan mudah tertipu dan dibutakan. Justru karena ini, orang perlu menyelidiki keadaan sebenarnya di balik berbagai hal secara mendalam. Setelah memahami situasi sebenarnya yang tersembunyi di balik suatu hal, jika engkau dapat dengan segera menangani masalah, meluruskan penyimpangan, menyesuaikan dengan tepat mereka yang menjadi penanggung jawab langsung dan personel pekerjaan, serta menjamin beroperasinya pekerjaan secara normal, ini membuktikan bahwa engkau memiliki kemampuan untuk menanggapi berbagai hal. Terutama ketika menghadapi kejadian yang tiba-tiba, jika engkau dapat menangani berbagai orang, peristiwa, dan hal-hal berdasarkan prinsip, ini membuktikan bahwa engkau adalah orang yang berkualitas baik. Orang yang memiliki kemampuan rata-rata untuk menanggapi berbagai hal, ketika menghadapi situasi yang biasa dan umum, mereka dapat melakukan beberapa hal dengan mengikuti prosedur, dan secara rutin, tetapi hasil yang mereka peroleh adalah rata-rata—mereka tidak mencapai terobosan apa pun atau membuat kemajuan yang signifikan. Begitu mereka menghadapi situasi khusus atau kejadian yang tiba-tiba, mereka bingung dan tidak dapat menanganinya. Sebagai contoh, ketika beberapa orang memberitakan Injil, mereka mampu mendapatkan beberapa orang setiap bulan dalam keadaan normal. Ini mencerminkan kualitas rata-rata, dan hasil pemberitaan Injil mereka juga rata-rata, tidak terlalu baik. Jika kejadian antikristus yang menyesatkan orang tiba-tiba muncul di gereja, para pekerja penginjilan ini menjadi bingung dan tidak tahu harus berbuat apa. Pekerjaan penginjilan terhenti, dan mereka tidak tahu apakah harus terus menginjil atau menunggu pengaturan kerja. Mereka tidak tahu bahwa mereka harus mencari prinsip tentang pekerjaan memberitakan Injil. Dalam pengaturan kerja rumah Tuhan, sering dikatakan, "Pekerjaan penginjilan tidak boleh berhenti kapan pun atau dalam keadaan apa pun." Namun, hanya karena mengalami sebuah insiden antikristus yang menyesatkan orang, mereka menghentikan pekerjaan penginjilan. Apakah mereka sedang melaksanakan tugas mereka dengan setia? Mereka tidak mencapai standar ini. Apakah mereka tunduk pada pengaturan dan penataan Tuhan? Mereka juga tidak mencapai standar ini. Ketika menghadapi antikristus atau pemimpin palsu yang dengan gegabah melakukan perbuatan salah dan menyebabkan kekacauan dan gangguan, mereka menjadi bingung. Mereka tidak tahu bahwa mereka seharusnya bertanya kepada orang-orang yang memahami kebenaran tentang bagaimana mereka harus menangani hal yang mereka hadapi ini, dan terlebih lagi, mereka tidak tahu bahwa mereka seharusnya mencari prinsip-prinsip penerapan dan jalan penerapan di dalam firman Tuhan. Mereka tidak memiliki kemampuan untuk menanggapi berbagai hal. Ada pemimpin gereja, ketika bertemu seorang antikristus yang menyebarkan kekeliruan untuk menyesatkan orang, tidak tahu bagaimana cara mempersekutukan kebenaran untuk menyanggah kekeliruan tersebut. Mereka tidak tahu harus berbuat apa selain terus berdoa, "Ya Tuhan, kumohon ikatlah Iblis, kumohon tutuplah mulut Iblis, dan hentikan dia agar tidak menyebarkan kekeliruan untuk menyesatkan orang. Kumohon selamatkan orang-orang yang tidak tahu apa-apa dan bodoh itu, serta halangi mereka agar tidak disesatkan oleh antikristus. Ya Tuhan, kumohon bawalah mereka kembali!" Hanya berdoa dan tidak mencari kebenaran—dapatkah ini menyelesaikan masalah? Jika orang tidak bekerja sama dan tidak melaksanakan tugas mereka, itu tidak ada gunanya. Ada banyak hal yang harus orang lakukan. Pertama, mereka harus melihat latar belakang seperti apa yang dimiliki antikristus ini, ciri-ciri apa yang mereka perlihatkan, dan apa yang mereka andalkan untuk menyesatkan orang; mereka juga harus melihat apakah ada orang-orang berkualitas baik yang dapat menerima kebenaran di antara mereka yang telah disesatkan, dan bergegaslah untuk memulihkan mereka dari kesesatan mereka. Inilah pekerjaan yang harus dilakukan terlebih dahulu. Namun, para pemimpin gereja ini tidak mengetahui hal ini, dan tidak menyadari bahwa mereka seharusnya bekerja dengan cara ini. Mereka hanya menjadi bingung, menghentakkan kaki karena cemas. Beberapa orang yang tidak berguna bahkan menangis karena cemas. Apa gunanya menangis? Dapatkah menangis memulihkan mereka yang telah disesatkan? Menangis bukanlah melakukan pekerjaan, juga tidak menunjukkan bahwa engkau menanggung beban. Menangis adalah perwujudan ketidakmampuan. Orang-orang yang berkualitas, ketika menghadapi masalah seperti itu, pertama-tama menenangkan diri. Setelah berdoa, mencari, menganalisis, dan menilai, serta kemudian bersekutu, mereka akhirnya mengambil keputusan. Orang-orang yang berkualitas buruk merasa bingung ketika menghadapi masalah: Mereka tidak menyadari bahwa mereka seharusnya berdoa dan mencari, dan bahwa mereka seharusnya menemukan beberapa orang yang memahami kebenaran untuk bersekutu; mereka hanya menunggu dengan pasif. Inilah yang paling menunda hal-hal. Engkau tidak memiliki solusinya, tetapi mungkin orang lain memilikinya—mengapa tidak mencari orang lain untuk dimintai bantuan? Orang pintar, bahkan saat menunggu, tidak lupa untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawab mereka sendiri. Pelaksanaan tugas dan tanggung jawab ini bersifat proaktif, bukan pasif. Bukan menunggu Tuhan untuk mengeluarkan perintah atau menunggu Tuhan agar bertindak secara pribadi untuk mengubah situasi. Sebaliknya, berupaya keras untuk memulihkan mereka yang dapat dipulihkan selama masa menunggu. Adapun mereka yang tidak dapat dipulihkan—seperti orang-orang bodoh yang bingung, mereka yang dirasuki roh-roh jahat, dan pengikut yang bukan orang yang percaya, yang percaya kepada Tuhan hanya untuk ikut-ikutan dan mendapatkan makanan gratis—mereka tidak perlu dipikirkan. Bagi mereka yang belum dibutakan, pengaturan harus segera dibuat agar seseorang dapat mempersekutukan kebenaran dan berbicara tentang cara mengidentifikasi antikristus kepada mereka. Bukankah ini rencana untuk menangani situasi? Ini adalah tindakan menanggapi. Orang-orang yang berkualitas buruk tidak memiliki tindakan menanggapi seperti ini; mereka hanya bisa menangis dan mengeluh. Ini berarti tidak memiliki kemampuan untuk menanggapi berbagai hal. Jika dalam situasi biasa, orang mampu bekerja secara normal, tetapi begitu menghadapi situasi khusus, mereka tercengang dan bingung, berarti kemampuan untuk menanggapi berbagai hal dari orang semacam ini paling-paling hanya rata-rata. Jika orang bahkan tidak mampu menangani situasi biasa, orang semacam ini tidak memiliki kemampuan untuk menanggapi berbagai hal. Misalnya, jika mereka diutus ke gereja untuk menyelenggarakan pemilihan pemimpin gereja, mereka tidak tahu orang seperti apa yang harus dipilih atau bagaimana mengumpulkan orang-orang dan menyelenggarakan pemilihan. Mereka bahkan tidak memahami prosedur dasar pemilihan. Selain itu, ada beberapa orang di gereja yang memiliki watak rusak yang parah—mereka yang termasuk dalam kategori penindas, penjahat, dan bajingan—dan orang-orang ini mengambil kesempatan untuk mengacaukan pemilihan. Dalam situasi seperti ini, orang yang tidak memiliki kemampuan untuk menanggapi berbagai hal terlebih lagi, tidak mampu menanganinya, mereka begitu saja ditawan dan menyerah. Pada akhirnya, mereka hanya dapat berkata kepada saudara-saudari, "Kalian pilihlah sendiri. Kami akan menyetujui siapa pun yang kalian pilih." Makhluk macam apa mereka? Bukankah mereka tidak berguna? Ini berarti tidak memiliki kemampuan untuk menanggapi berbagai hal. Orang yang tidak memiliki kemampuan untuk menanggapi berbagai hal juga tidak memiliki kemampuan untuk bekerja. Baik dalam situasi normal maupun situasi khusus, ketika sesuatu terjadi, mereka akan ambruk dan mundur; ketika sesuatu terjadi, mereka akan bingung dan mulai menangis. Ketika tidak terjadi apa-apa, mereka dapat mengucapkan beberapa kata dan doktrin, tetapi ketika sesuatu terjadi dan mereka diminta untuk menangani suatu masalah, mereka tidak mampu melakukannya. Misalnya, ketika beberapa orang bersikap asal-asalan dalam melaksanakan tugas mereka, orang yang tidak memiliki kemampuan untuk menanggapi berbagai hal hanya tahu untuk membicarakannya dengan mereka, dengan berkata: "Tolong jangan bersikap asal-asalan—tolong laksanakan tugasmu dengan baik!" Dapatkah ini menyelesaikan masalah orang-orang tersebut? Mereka harus mempersekutukan masalah bersikap asal-asalan kepada orang-orang tersebut. Jika orang-orang itu tidak memahami kebenaran dan tidak dapat mengenali masalahnya, mereka harus mempersekutukan kebenaran kepada orang-orang itu. Jika orang-orang itu bertindak dengan cara seperti ini meskipun tahu bahwa itu salah, mereka harus menelaah dan memangkas orang-orang itu. Jika itu karena masalah lain, mereka harus bersekutu berdasarkan masalah tersebut. Mereka harus menentukan tindakan yang tepat berdasarkan jenis masalah yang telah muncul, dan kemudian bertindak sebagaimana mestinya. Jika engkau tidak dapat melakukan hal ini, berarti engkau tidak memiliki kemampuan untuk menanggapi berbagai hal. Apakah engkau mengerti? (Ya.) Jika, ketika menghadapi hal apa pun, engkau tidak memiliki solusi, tidak memiliki cara untuk mengatasinya, dan tidak memiliki prinsip untuk menanganinya, berarti engkau tidak memiliki kemampuan untuk menanggapi berbagai hal. Bukankah orang-orang semacam itu memiliki kemampuan terburuk dalam menanggapi berbagai hal? (Ya.)

Orang yang memiliki kemampuan terbaik untuk menanggapi berbagai hal adalah orang yang ketika menghadapi beberapa hal khusus atau situasi mendadak, dapat segera menilai dan mengidentifikasi hal tersebut, dan kemudian membuat rencana yang relatif tepat untuk menanganinya. Orang yang memiliki kemampuan rata-rata untuk menanggapi berbagai hal dapat menangani hal-hal yang biasa dan rutin ketika mereka menghadapinya. Mereka dapat bekerja dengan mengikuti prosedur untuk menjaga dan mengelola situasi, atau menyesuaikan dan mengganti personel—mereka cukup baik dalam melakukan pekerjaan semacam ini. Namun, ketika menghadapi situasi mendadak, mereka tidak dapat menanganinya. Sekalipun prinsip-prinsip telah diberitahukan kepada mereka, mereka tidak dapat menerapkannya; sekalipun mereka diberi wewenang dan diminta untuk menangani hal tersebut, mereka tetap tidak dapat melakukannya. Ini berarti memiliki kemampuan yang rata-rata untuk menanggapi berbagai hal. Mereka yang memiliki kemampuan yang buruk untuk menanggapi berbagai hal tidak menangani bahkan masalah-masalah rutin dengan baik. Mereka hanya tahu bagaimana berbicara doktrin dan berpegang pada peraturan, dan pada akhirnya, akar penyebab masalahnya tidak terselesaikan sama sekali. Seorang antikristus yang menyebabkan gangguan dan menyesatkan orang sudah cukup untuk membuat mereka berhenti memberitakan Injil; seorang pemimpin palsu yang berbicara omong kosong juga sudah cukup untuk membuat mereka menghentikan pekerjaan penginjilan. Apakah orang-orang ini mengikuti kehendak Tuhan? Mereka tidak mencapai standar ini. Kemampuan orang-orang semacam itu untuk menanggapi berbagai hal terlalu buruk. Situasi apa pun yang muncul, orang-orang yang memiliki kemampuan yang buruk untuk menanggapi berbagai hal tidak dapat mengatasinya. Misalnya, jika terjadi kebakaran di sebuah ruangan, mereka panik dan segera mencari alat pemadam kebakaran. Setelah menemukan alat pemadam kebakaran, mereka tidak tahu cara menggunakannya dan harus mencari petunjuk penggunaannya. Akibatnya, api makin membesar. Ini terjadi karena mereka tidak tahu cara menggunakan alat pemadam kebakaran dan dengan demikian menunda segala sesuatu, dan itu juga karena mereka tidak memiliki kemampuan untuk menanggapi berbagai hal. Mereka bahkan tidak mampu mengatasi situasi yang mendesak seperti kebakaran; seperti inilah tidak memiliki kemampuan untuk menanggapi berbagai hal itu. Contoh lainnya, jika seorang anak tersedak saat makan, dan dia tidak dapat bernapas hingga matanya berputar ke belakang, orang-orang ini panik. Mereka tidak tahu apakah harus membawa anak itu ke rumah sakit atau tidak, dan mereka tidak tahu apakah harus memberi anak itu air minum atau tidak. Mereka begitu cemas hingga berkeringat dan wajah mereka menjadi merah padam, tetapi mereka tidak tahu harus berbuat apa. Setelah beberapa saat, anak itu batuk beberapa kali dan akhirnya bisa bernapas lagi. Mereka panik begitu lama tetapi tidak punya solusi untuk mengatasi masalah itu. Untungnya, anak itu beruntung; kalau tidak, anak itu pasti sudah meninggal di bawah perawatan mereka. Orang-orang yang berkualitas buruk tidak memiliki kemampuan sama sekali dan tidak dapat melakukan apa pun dengan baik. Beberapa doktrin yang mereka pahami tidak lebih dari sekadar peraturan dan slogan. Baik menghadapi situasi umum maupun situasi khusus, mereka tidak mampu menangani atau mengatasi keduanya. Oleh karena itu, dalam hal kemampuan mereka untuk menanggapi berbagai hal, orang-orang semacam itu, terlebih lagi, tidak memilikinya—mereka sama sekali tidak memilikinya. Situasi apa pun yang mereka hadapi, mereka tidak dapat menanggapi atau menanganinya—mereka tidak dapat memahami hal-hal ini. Mereka mengira bahwa mampu mengucapkan beberapa kata dan doktrin serta meneriakkan beberapa slogan saja sudah cukup, bahwa itu berarti mereka punya modal dan merasa terpenuhi dalam hidup mereka. Padahal sebenarnya, ketika sesuatu terjadi, doktrin-doktrin yang mereka ketahui tidak ada gunanya sama sekali. Meskipun demikian, mereka gagal menyadari bahwa ini mencerminkan kualitas yang buruk—kualitas mereka sangat buruk, tetapi mereka sendiri tidak menyadarinya. Bukankah ini kualitas yang sangat buruk? (Ya.) Bukankah orang-orang semacam itu bodoh? (Ya.) Orang yang bodoh adalah orang yang agak dungu. Apa yang dimaksud dengan "agak dungu"? Itu berarti, sebanyak apa pun doktrin yang mereka pahami atau sebanyak apa pun peraturan yang dapat mereka ikuti, ketika sesuatu terjadi, tak satu pun dari peraturan atau doktrin ini dapat menyelesaikan masalah yang sebenarnya. Namun, mereka tetap tidak dapat memahami hal ini, dan berpikir, "Mengapa doktrin dan peraturan ini tidak efektif?" Sekalipun mereka memeras otak, itu tidak ada gunanya—dengan cara apa pun mereka merenungkannya, mereka tetap tidak dapat menemukan cara untuk menangani atau menyelesaikan masalah tersebut. Beberapa orang, ketika menangani insiden antikristus, tidak terlebih dahulu menyelamatkan mereka yang disesatkan oleh antikristus, juga tidak mendukung mereka yang telah menjadi negatif dan tidak mau berkumpul karena disesatkan oleh antikristus. Apa yang terlebih dahulu mereka lakukan? Mereka mengadakan pertemuan besar untuk membicarakan tentang perwujudan apa yang antikristus perlihatkan, orang macam apa yang merupakan antikristus, perbedaan antara antikristus dan mereka yang memiliki watak antikristus, bagaimana tepatnya mengidentifikasi antikristus, bagaimana tepatnya mengidentifikasi mereka yang memiliki watak antikristus—pada saat mereka selesai mempersekutukan semua ini, beberapa orang yang disesatkan oleh antikristus telah lama meninggalkan gereja, dan beberapa yang negatif dan lemah tidak lagi menghadiri pertemuan. Mereka telah melewatkan waktu terbaik untuk menyelamatkan orang-orang ini, benar-benar telah menyebabkan mereka sangat dirugikan! Singkatnya, mereka yang berkualitas buruk juga memiliki cacat besar dalam hal kemampuan mereka untuk menanggapi berbagai hal—mereka sama sekali tidak memilikinya. Jangan melihat seberapa fasihnya seseorang atau seberapa baiknya mereka dapat mengucapkan kata-kata dan doktrin serta berbicara tentang teologi dalam situasi biasa—lihat saja apakah mereka memiliki kemampuan untuk menangani masalah ketika menghadapi situasi nyata; terutama ketika insiden tiba-tiba muncul, lihatlah apakah mereka memiliki kemampuan untuk membuat penilaian dan kemampuan untuk mengidentifikasi berbagai hal, apakah mereka memiliki rencana untuk menangani dan menyelesaikan masalah. Jika mereka memilikinya, itu membuktikan bahwa mereka adalah orang yang memiliki pendapat sendiri dan tahu bagaimana memikirkan berbagai hal. Namun, jika mereka tidak memiliki kemampuan untuk mengidentifikasi berbagai hal dan kemampuan untuk membuat penilaian, dan ketika sesuatu terjadi, mereka panik dan menjadi cemas, serta hanya mampu mengatakan doktrin yang muluk-muluk dan meneriakkan slogan, berarti orang ini tidak mampu menyelesaikan masalah dan tidak berguna. Sebanyak apa pun kesulitan, masalah, atau kekurangan yang orang lain miliki, orang ini menggunakan serangkaian teori yang sama untuk menjelaskan dan mengatasinya, serta terus bersekutu dengan mereka dengan cara ini, tetapi tidak pernah mampu menyelesaikan masalah—ini berarti sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk menanggapi berbagai hal. Tidak memiliki kemampuan untuk menangani masalah justru merupakan ketidakmampuan untuk menanggapi berbagai hal. Mereka yang tidak memiliki kemampuan untuk menanggapi berbagai hal tidak memiliki kualitas. Dalam bahasa sehari-hari, mereka adalah orang bodoh, idiot, dan keterbelakangan mental. Sebanyak apa pun doktrin yang mampu mereka sampaikan, itu tidak berguna—semua itu sama sekali tidak dapat digunakan. Ini mengakhiri persekutuan kita tentang kemampuan kedelapan, kemampuan untuk menanggapi berbagai hal.

Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.

Hubungi kami via WhatsApp