Bab Sembilan: Mereka Melaksanakan Tugas Mereka Hanya untuk Menonjolkan Diri dan Memuaskan Kepentingan dan Ambisi Mereka Sendiri; Mereka Tidak Pernah Mempertimbangkan Kepentingan Rumah Tuhan, dan Bahkan Mengkhianati Kepentingan Tersebut, Menukarkannya dengan Kemuliaan Pribadi (Bagian Satu) Pasal Satu
Lampiran: Apa Arti Kebenaran
Hari ini kita akan melanjutkan untuk mempersekutukan pembahasan dari persekutuan sebelumnya. Topik apa yang kita persekutukan terakhir kali? ("Tidur di atas kayu bakar dan merasakan pahitnya empedu" bukanlah kebenaran.) Jadi, apakah dahulu engkau menganggap bahwa pepatah tersebut adalah kebenaran? Orang-orang biasanya tanpa sadar menganggap bahwa pepatah tersebut adalah kebenaran, atau setidaknya, pepatah tersebut cukup positif, inspiratif, dan berpotensi mendorong orang untuk bersikap proaktif dan memiliki pandangan ke depan. Berdasarkan tingkat maknanya, orang menganggap bahwa pepatah tersebut cukup mendekati kebenaran dan cukup mendekati hal-hal positif. Oleh karena itu, banyak orang tanpa sadar menganggap bahwa pepatah "Tidur di atas kayu bakar dan merasakan pahitnya empedu" adalah ungkapan yang cukup positif, atau setidaknya, memiliki konotasi positif daripada negatif, dan berperan dalam membantu kehidupan dan cara perilaku orang. Namun, setelah mempersekutukannya, kita memahami bahwa pepatah tersebut bukanlah hal yang positif, dan ada masalah besar dengan pepatah tersebut. Pernahkah engkau semua mencari lebih lanjut ungkapan-ungkapan yang mirip atau berkaitan dengan ungkapan ini, atau yang memiliki peran serupa, dan yang tanpa sadar dianggap positif atau cukup baik oleh orang-orang, lalu engkau menelaahnya? (Tidak.) Katakan kepada-Ku, apakah ungkapan "Menarik banyak kesimpulan dari satu contoh" tepat di sini? (Ya.) Harus dikatakan bahwa ungkapan ini memiliki penerapan nyata dalam hal mencari kebenaran dan menerapkan kebenaran. Terakhir kali kita bersekutu tentang "Tidur di atas kayu bakar dan merasakan pahitnya empedu". Ungkapan serupa apa lagi yang ada? Ungkapan lain apa lagi yang kira-kira memiliki makna yang sama, atau dapat memainkan peran yang sama? Tidak ada salahnya engkau semua menelaah ungkapan seperti "Tidur di atas kayu bakar dan merasakan pahitnya empedu" berdasarkan cara-Ku, mempersekutukannya satu sama lain, dan memperoleh pemahaman baru. Ketika engkau mampu mengetahui yang sebenarnya mengenai kekeliruan ungkapan-ungkapan itu, engkau akan membuangnya dan kemudian menempuh jalan menerapkan kebenaran dan mengejar kebenaran yang didasarkan sepenuhnya pada firman Tuhan.
Mari kita lanjutkan topik yang telah kita bahas dua kali sebelumnya. Topik apakah itu? (Apa arti kebenarannya.) Benar, apa arti kebenaran. Jadi apa sebenarnya arti kebenaran? (Kebenaran adalah standar untuk perilaku, tindakan, dan penyembahan manusia kepada Tuhan.) Tampaknya engkau semua telah menghafalkan kalimat ini dari segi teori dan definisinya. Jadi, setelah dua persekutuan kita sebelumnya, apakah ada perbedaan dalam definisi, pengetahuan, dan pemahamanmu akan kebenaran yang ada di lubuk hatimu saat ini dibandingkan dengan sebelumnya? (Ya.) Apa tepatnya perbedaannya? Meskipun engkau mungkin tidak memiliki pemahaman dari pengalaman nyata dalam jangka pendek, setidaknya engkau memiliki beberapa pemahaman perseptual. Katakan perbedaannya kepada-Ku berdasarkan pengalaman, pengetahuan, dan pemahamanmu sendiri. (Sebelumnya aku tahu bahwa aku harus menerapkan berdasarkan kebenaran firman Tuhan kapan pun masalah menimpaku, tetapi aku tidak pernah mampu menerapkannya. Sepertinya, aku biasanya punya kecenderungan untuk memperlihatkan sikap yang gampang marah, dan meskipun aku tahu dari firman Tuhan bahwa memperlihatkan sikap yang gampang marah itu salah, dan aku tahu tuntutan Tuhan terhadap manusia, aku tetap memperlihatkannya, dan aku tidak pernah mampu menemukan sumber penyebabnya. Hanya setelah mendengarkan persekutuan Tuhan yang sebelumnya, barulah aku menyadari bahwa, sering kali, orang memperlihatkan kerusakan karena mereka dikendalikan oleh pemikiran Iblis, dan bahwa aku memperlihatkan sikap yang gampang marah karena dalam diriku ada logika Iblis bahwa "Aku tidak akan menyerang kecuali aku diserang; jika aku diserang, aku pasti akan menyerang balik". Kurasa pepatah ini benar, dan aku bertindak seperti ini untuk membela diri. Setelah dipengaruhi oleh pemikiran dan pandangan Iblis ini, aku tidak mampu menerapkan kebenaran. Namun sebenarnya, meskipun hal-hal Iblis ini secara lahiriah kelihatannya benar, kenyataannya, makna yang disampaikannya bertentangan dengan apa yang dituntut oleh firman Tuhan, dan semuanya salah. Firman Tuhan-lah satu-satunya kebenaran, dan hanya tindakan yang sesuai dengan firman Tuhan-lah yang sepenuhnya benar.) Bagus sekali. Siapa yang bisa menambahkan? (Aku ingin menambahkan sesuatu. Sebelumnya aku juga tahu bahwa aku harus mencari dan menerapkan kebenaran kapan pun masalah menimpaku, tetapi aku masih agak bingung tentang cara menerapkannya. Setelah mendengarkan persekutuan Tuhan, aku merasa kebenaran itu sangat nyata dan berhubungan dengan setiap aspek kehidupan. Seperti beberapa contoh yang disebutkan oleh Tuhan. Orang Tionghoa juga belajar minum kopi setelah tiba di negara-negara Barat. Ini bukanlah masalah cara orang bertindak, melainkan masalah pemikiran dan pandangan orang, dan ini berkaitan dengan kebenaran. Selain itu, setelah Tuhan menelaah beberapa pepatah dan ungkapan umum yang orang anggap benar, aku merasa bahwa aku harus merenungkan perilaku dan tindakanku sendiri yang tampaknya benar, dan merenungkan maksud, pemikiran, dan pandangan di balik perilaku ini, serta tentang kehidupan apa yang sebenarnya sedang kujalani dengan mengandalkan hal-hal ini. Sekarang aku merasa lebih spesifik tentang bagaimana mencari dan menerapkan kebenaran setiap kali masalah menimpaku, dan ini tidak lagi terasa begitu abstrak.) Tampaknya melalui kedua persekutuan ini, kebanyakan orang telah memperoleh pemahaman dasar tentang apa arti kebenaran dan dari beberapa topik yang berkaitan dengan kebenaran serta, dari lubuk hatinya, mereka sudah mulai merenungkan apakah perilaku dan perbuatan mereka berkaitan dengan kebenaran atau tidak, serta merenungkan mengenai hal-hal mana yang sebenarnya mereka patuhi dan dengar dalam kepercayaan mereka kepada Tuhan yang adalah kebenaran, dan mana yang bukan kebenaran, serta merenungkan apakah hal-hal yang mereka anggap benar itu sebenarnya adalah kebenaran, dan apa hubungan hal-hal tersebut dengan kebenaran. Setelah merenung, orang kemudian dapat menentukan apa sebenarnya arti kebenaran, hal-hal mana yang tepatnya adalah kebenaran, dan hal-hal mana yang bukan kebenaran. Setelah mendengarkan khotbah selama bertahun-tahun dan makan serta minum firman Tuhan selama bertahun-tahun, kebanyakan orang telah memperoleh sesuatu dan dapat dengan jelas melihat satu fakta: firman Tuhan memang adalah kebenaran, tuntutan Tuhan adalah kebenaran, dan segala sesuatu yang berasal dari firman Tuhan adalah kebenaran. Orang yang benar-benar percaya kepada Tuhan sudah mengakui dan menerima fakta ini dari hati, tetapi dalam kehidupan nyata, mereka mungkin sering tanpa sadar mengucapkan hal-hal yang tidak ada kaitannya dengan kebenaran, atau bertentangan dengan kebenaran. Beberapa orang bahkan memperlakukan hal-hal yang menurut orang lain benar dan baik sebagai kebenaran, dan khususnya belum bisa membedakan kekeliruan dan perkataan setan yang menipu yang berasal dari Iblis, yang bukan hanya telah lama mereka terima di dalam hati, melainkan juga menganggapnya sebagai hal-hal yang positif. Sebagai contoh, banyak falsafah Iblis seperti "Gigi ganti gigi, mata ganti mata", "Kuperlakukan dirimu sama seperti caramu memperlakukanku," "Tetaplah diam untuk melindungi diri sendiri dan berusahalah agar tidak disalahkan," dan "Aku tidak akan menyerang kecuali aku diserang", dan sebagainya, dianggap oleh manusia sebagai kebenaran dan moto hidup, serta manusia bahkan merasa sangat puas akan diri mereka sendiri karena mematuhi falsafah Iblis ini, dan setelah membaca firman Tuhan, barulah mereka menyadari bahwa hal-hal yang berasal dari Iblis ini sebenarnya bukanlah kebenaran, melainkan ajaran sesat dan kekeliruan yang menyesatkan manusia. Dari manakah hal-hal ini berasal? Ada yang berasal dari pendidikan sekolah dan ada yang berasal dari buku pelajaran, ada yang berasal dari didikan keluarga, dan ada pula yang berasal dari pembelajaran dan pembiasaan masyarakat. Singkatnya, semuanya berasal dari budaya tradisional dan bersumber dari didikan Iblis. Apakah hal-hal ini ada kaitannya dengan kebenaran? Semua itu sama sekali tidak ada kaitannya dengan kebenaran. Namun, manusia tidak mampu membedakan hal-hal ini, dan tetap menganggapnya sebagai kebenaran. Apakah masalah ini menjadi sangat serius? Apa konsekuensi dari menganggap hal-hal yang berasal dari Iblis ini sebagai kebenaran? Mampukah orang membuang watak rusak mereka dengan mematuhi hal-hal ini? Dapatkah orang-orang hidup dalam kemanusiaan yang normal dengan mematuhinya? Mampukah orang hidup berdasarkan hati nurani dan nalar dengan mematuhinya? Mampukah mereka memenuhi standar hati nurani dan nalar dengan mematuhinya? Dapatkah manusia memperoleh perkenan Tuhan dengan mematuhinya? Mereka tidak mampu melakukan semua ini. Jika mereka tidak mampu melakukan semua ini, apakah hal-hal yang orang-orang patuhi ini adalah kebenaran? Dapatkah hal-hal tersebut menjadi kehidupan seseorang? Apa akibatnya jika manusia menganggap hal-hal negatif ini—misalnya apa yang mereka anggap adalah falsafah yang benar dan baik tentang cara berinteraksi dengan orang lain, strategi bertahan hidup, hukum untuk bertahan hidup, dan bahkan budaya tradisional—sebagai kebenaran dan mematuhinya? Umat manusia telah mematuhi hal-hal ini selama ribuan tahun. Apakah mereka sudah berubah sama sekali? Apakah situasi umat manusia saat ini sudah berubah? Bukankah manusia yang rusak menjadi makin jahat dan makin menentang Tuhan? Tuhan mengungkapkan banyak kebenaran setiap kali Dia melakukan pekerjaan-Nya, dan manusia dapat melihat bahwa kebenaran-kebenaran ini memiliki otoritas dan kuasa, jadi mengapa manusia tetap mampu menyangkal dan menentang Tuhan? Mengapa mereka tetap tidak menerima dan tunduk kepada Tuhan? Hal ini cukup untuk memperlihatkan bahwa umat manusia telah dirusak sedemikian dalamnya oleh Iblis, bahwa manusia yang rusak penuh dengan watak Iblis, muak akan kebenaran, membencinya, dan sama sekali tidak menerimanya. Sumber masalah ini adalah umat manusia telah menerima terlalu banyak falsafah Iblis dan terlalu banyak pengetahuan Iblis. Di lubuk hati mereka, orang-orang telah dipenuhi oleh segala macam pemikiran dan pandangan Iblis, dan dengan demikian mereka telah mengembangkan watak yang muak akan kebenaran dan membenci kebenaran. Kita dapat melihat dari banyak orang yang percaya kepada Tuhan bahwa meskipun mereka mengakui bahwa firman Tuhan memiliki otoritas dan kuasa, mereka tidak menerima kebenaran. Dengan kata lain, ketika manusia makan dan minum firman Tuhan, meskipun mereka mengakui dengan mulut mereka bahwa "Firman Tuhan adalah kebenaran, tidak ada yang melebihi kebenaran, kebenaran ada di dalam hati kami, dan kami mengejar kebenaran sebagai tujuan kelangsungan hidup kami", dalam kehidupan nyata, mereka masih hidup berdasarkan pepatah dan falsafah Iblis yang terkenal, dan mengesampingkan firman Tuhan dan kebenaran, serta mematuhi dan menerapkan hal-hal seperti pengetahuan teologis manusia dan doktrin rohani, seolah-olah itu adalah kebenaran. Inikah keadaan yang sebenarnya dari kebanyakan orang yang percaya kepada Tuhan? (Ya.) Jika engkau semua terus mematuhi dengan cara seperti ini serta tidak menelaah dan memahami hal-hal yang berakar dari budaya tradisional Iblis ini berdasarkan firman Tuhan, dan jika engkau tidak mampu mengenali yang sebenarnya sampai ke sumbernya, atau memperoleh pemahaman yang menyeluruh, atau meninggalkannya, akan seperti apa akibatnya? Ada satu akibat yang pasti, yaitu orang-orang percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun, tetapi tidak tahu apa arti kebenaran atau jalan apa yang harus ditempuh, dan pada akhirnya mereka semua memiliki seperangkat doktrin rohani dan teori teologis pada lidah mereka, dan semua yang mereka katakan kedengarannya bagus dan semuanya merupakan doktrin yang sesuai dengan kebenaran. Namun sebenarnya, orang-orang ini adalah contoh orang Farisi yang munafik dalam hal apa yang mereka terapkan dan jalani. Apa akibat dari hal ini? Tidak diragukan lagi, mereka dihukum oleh Tuhan dan dikutuk oleh-Nya. Mereka yang percaya kepada Tuhan, tetapi tidak menerima kebenaran, adalah orang Farisi dan tidak akan pernah mendapatkan perkenanan Tuhan.
Sebagai contoh, dalam hal mendidik anak, ada para ayah yang melihat anak-anak mereka bersikap tidak patuh dan tidak melaksanakan tugas mereka dengan baik dan benar, dan berkata, "Orang-orang di zaman dahulu benar ketika mereka berkata, 'Memberi makan tanpa mengajar adalah kesalahan ayah.'" Ayah semacam itu tidak memperlakukan hal ini berdasarkan firman Tuhan. Mereka hanya menyimpan perkataan manusia di dalam hati mereka, bukannya perkataan Tuhan. Jadi, apakah mereka memiliki kenyataan kebenaran? Tidak, mereka tidak memilikinya. Meskipun mereka percaya kepada Tuhan dan memahami beberapa kebenaran, serta seharusnya tahu bahwa mereka harus menggunakan kebenaran untuk mendidik anak-anak mereka agar dapat memenuhi tanggung jawab mereka sebagai orang tua, mereka tidak bertindak dengan cara seperti ini. Ketika mereka melihat anak-anak mereka menempuh jalan yang salah, mereka menghela nafas dan berkata, "Memberi makan tanpa mengajar adalah kesalahan ayah." Ungkapan macam apa ini? Pepatah terkenal dari siapakah itu? (Pepatah terkenal Iblis.) Pernahkah Tuhan mengucapkan ungkapan ini? (Tidak.) Jadi, dari manakah ungkapan ini berasal? (Iblis.) Itu berasal dari Iblis, dari dunia ini. Orang-orang sangat "mengejar" kebenaran, dan sangat "mencintai" kebenaran, dan sangat "meninggikan" kebenaran, lalu mengapa mereka mengucapkan ungkapan-ungkapan Iblis seperti ini ketika hal-hal seperti itu menimpa mereka? Mereka bahkan merasa bahwa pepatah tersebut adalah hal yang adil dan bermartabat untuk diucapkan. Mereka berkata, "Lihatlah betapa besarnya rasa hormat dan penghargaanku terhadap kebenaran dan terhadap Tuhan. Wajar bagiku untuk berkata 'Memberi makan tanpa mengajar adalah kesalahan ayah'—alangkah agungnya kebenaran ini yang sangat bagus! Mungkinkah aku mengucapkan ungkapan ini jika aku tidak percaya kepada Tuhan?" Bukankah itu menyamar sebagai kebenaran? (Ya.) Jadi apakah ungkapan ini adalah kebenaran? (Tidak.) Ungkapan macam apa "Memberi makan tanpa mengajar adalah kesalahan ayah" itu? Dalam hal apa itu salah? Yang dimaksud dengan ungkapan ini adalah jika anak-anak tidak patuh atau kekanak-kanakan, itu adalah tanggung jawab sang ayah, artinya orang tua tidak mendidik mereka dengan baik. Namun, benarkah demikian? (Tidak.) Ada orang tua yang berperilaku baik, tetapi anak laki-laki mereka adalah preman dan anak perempuan mereka adalah pelacur. Sang ayah menjadi sangat marah dan berkata, "Memberi makan tanpa mengajar adalah kesalahan ayah. Aku telah memanjakan mereka!" Apakah perkataan ini benar, atau tidak? (Tidak, itu salah.) Dalam hal apa itu salah? Jika engkau mampu memahami apa yang salah dengan ungkapan ini, itu membuktikan bahwa engkau memahami kebenaran dan bahwa engkau memahami apa yang salah dengan masalah yang ada di dalam ungkapan ini. Jika engkau tidak memahami kebenaran dalam hal ini, engkau tidak akan mampu menerangkan hal ini dengan jelas. Sekarang, setelah engkau semua mendengarkan penjelasan dan definisi kebenaran, engkau dapat merasakan dan berkata bahwa: "Ungkapan ini salah, ini adalah ungkapan duniawi. Kami yang percaya kepada Tuhan tidak mengatakan hal-hal seperti itu." Engkau hanya mengubah caramu berbicara tentang masalah ini. Itu tidak berarti bahwa engkau memahami kebenaran. Sebenarnya, engkau tidak tahu apa yang salah dengan ungkapan "Memberi makan tanpa mengajar adalah kesalahan ayah". Ketika menghadapi hal-hal seperti ini, apa yang seharusnya kaukatakan agar sesuai dengan kebenaran? Bagaimana seharusnya engkau bertindak berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran? Mari kita bahas terlebih dahulu tentang caranya memahami dan menjelaskan hal-hal semacam itu dengan benar. Apa yang Tuhan katakan tentang hal ini? Apakah firman Tuhan memiliki pernyataan khusus apa pun mengenai hal-hal semacam itu? Tuhan telah mengungkapkan begitu banyak kebenaran, semuanya bertujuan agar manusia menerimanya dan menjadikannya sebagai kehidupan mereka. Jadi, ketika mendidik anak-anak mereka, bukankah orang seharusnya menggunakan firman Tuhan untuk mengajar mereka? Firman Tuhan diucapkan kepada semua manusia. Baik engkau adalah orang dewasa maupun anak-anak, pria maupun wanita, tua maupun muda, semua manusia harus menerima firman Tuhan. Firman Tuhan-lah satu-satunya kebenaran serta yang dapat menjadi kehidupan manusia. Hanya firman Tuhan yang dapat menuntun manusia ke jalan yang benar dalam hidup. Orang-orang yang percaya kepada Tuhan seharusnya mampu memperoleh pemahaman yang menyeluruh mengenai hal ini. Bagaimana engkau menjelaskan ungkapan "Memberi makan tanpa mengajar adalah kesalahan ayah"? (Jalan yang orang tempuh ditentukan oleh esensi natur mereka. Selain itu, hukuman yang akan mereka terima, atau berkat yang akan mereka terima di kehidupan ini, ada hubungannya dengan kehidupan mereka sebelumnya. Oleh karena itu, pernyataan "Jika anak-anak tidak mengikuti jalan yang benar, itu karena orang tuanya tidak mendidik mereka dengan baik" tidak terbukti keabsahannya meski diperiksa dengan cermat, dan sepenuhnya menyangkal fakta bahwa Tuhan memegang kedaulatan atas nasib umat manusia.) Berdasarkan apa yang kaukatakan, apakah anak-anak tidak menempuh jalan yang benar ada kaitannya dengan kedaulatan Tuhan? Tuhan mengizinkan manusia untuk membuat pilihan mereka sendiri dan memilih untuk menempuh jalan yang benar. Namun, manusia memiliki natur Iblis, dan semua manusia membuat pilihan mereka sendiri, dan semua manusia memilih jalan yang mereka sukai, serta tidak mau tunduk pada kedaulatan Tuhan. Jika apa yang kaukatakan sesuai dengan kebenaran, engkau harus menerangkannya dengan jelas agar orang dapat diyakinkan akan hal tersebut.
Selanjutnya, kita akan membahas ungkapan "Memberi makan tanpa mengajar adalah kesalahan ayah". Hal pertama yang harus diperjelas adalah bahwa berkata, "Kegagalan anak-anak untuk menempuh jalan yang benar adalah kesalahan orang tua mereka" adalah salah. Siapa pun itu, jika mereka adalah orang tertentu, mereka akan menempuh jalan tertentu. Bukankah ini pasti? (Ya.) Jalan yang orang tempuh menentukan siapa diri mereka. Merekalah yang memutuskan jalan yang mereka tempuh dan mereka akan menjadi orang seperti apa. Ini adalah hal-hal yang telah ditentukan dari semula, hal-hal bawaan, dan berkaitan dengan natur seseorang. Lalu apa gunanya didikan orang tua? Dapatkah itu mengatur natur seseorang? (Tidak.) Didikan orang tua tidak dapat mengatur natur manusia dan tidak dapat menyelesaikan masalah tentang jalan mana yang orang tempuh. Apakah satu-satunya didikan yang dapat orang tua berikan? Beberapa perilaku sederhana dalam kehidupan sehari-hari anak-anak mereka, beberapa pemikiran dan aturan cara berperilaku yang cukup dangkal—semua ini adalah hal-hal yang ada kaitannya dengan orang tua. Sebelum anak-anak mereka menjadi dewasa, orang tua harus memenuhi tanggung jawab mereka, yaitu mendidik anak-anak mereka untuk menempuh jalan yang benar, belajar dengan giat, dan berjuang untuk lebih unggul daripada orang lain setelah mereka dewasa, tidak melakukan hal-hal yang buruk, atau menjadi orang jahat. Orang tua juga harus mengatur perilaku anak-anak mereka, mengajari mereka untuk bersikap sopan dan menyapa orang yang lebih tua kapan pun bertemu dengan mereka, dan mengajari mereka hal-hal lain yang berkaitan dengan perilaku. Inilah tanggung jawab yang harus dipenuhi oleh orang tua. Mengurus kehidupan anak-anak mereka dan mendidik mereka dengan beberapa aturan dasar tentang cara berperilaku, itulah pengaruh orang tua. Sedangkan orang tua tidak bisa mengajarkan kepribadian anak mereka. Ada orang-orang tua yang santai dan melakukan segalanya dengan santai, sedangkan anak-anak mereka sangat tidak sabar dan tidak bisa diam meski hanya sebentar. Mereka mencari uang sendiri ketika berusia 14 atau 15 tahun, mengambil keputusan mereka sendiri dalam segala hal, tidak membutuhkan orang tua mereka, dan mereka sangat mandiri. Apakah ini diajarkan oleh orang tua mereka? Tidak. Oleh karena itu, kepribadian, watak, bahkan esensi, serta jalan yang orang pilih di masa depan, sama sekali tidak ada kaitannya dengan orang tua mereka. Ada orang-orang yang membantah hal ini dengan berkata, "Jadi, bagaimana mungkin hal itu sama sekali tidak berkaitan dengan mereka? Ada orang-orang yang berasal dari keluarga yang terpelajar atau keluarga yang memiliki keahlian dari generasi ke generasi dalam bidang tertentu. Sebagai contoh, satu generasi mempelajari seni lukis, generasi selanjutnya juga mempelajari seni lukis, begitu pula generasi selanjutnya. Hal ini menegaskan benarnya ungkapan 'Memberi makan tanpa mengajar adalah kesalahan ayah.'" Apakah benar atau salah mengatakan hal ini? (Salah.) Menggunakan contoh itu untuk mengilustrasikan masalah ini adalah salah dan tidak akurat, karena keduanya adalah hal yang berbeda. Pengaruh dari sebuah keluarga yang memiliki keahlian dari generasi ke generasi hanya meluas ke satu aspek keahlian, dan mungkin saja lingkungan keluarga ini yang membuat semua orang di keluarga tersebut mempelajari hal yang sama. Dari luarnya, anak tersebut juga memilih hal yang sama, tetapi sebenarnya semua ini adalah takdir Tuhan. Bagaimana orang tersebut bisa bereinkarnasi ke dalam keluarga ini? Bukankah itu juga merupakan bentuk dari kedaulatan Tuhan? Orang tua hanya bertanggung jawab untuk membesarkan anak-anak mereka hingga dewasa. Anak-anak hanya dipengaruhi oleh orang tua mereka dalam hal perilaku lahiriah dan kebiasaan gaya hidup mereka. Namun, begitu mereka menjadi dewasa, tujuan hidup yang mereka kejar dan takdir hidup mereka sama sekali tidak ada kaitannya dengan orang tua mereka. Ada orang tua yang hanya seorang petani biasa yang menjalani kehidupan berdasarkan statusnya, tetapi anak-anaknya mampu menjadi pejabat dan melakukan hal-hal besar. Lalu ada anak-anak yang orang tuanya adalah seorang pengacara dan dokter, keduanya cakap dalam bekerja, tetapi anak-anak mereka adalah orang-orang yang tidak berguna yang tidak mampu mendapatkan pekerjaan di mana pun mereka berada. Apakah ini hasil ajaran orang tua mereka? Jika sang ayah adalah seorang pengacara, apakah dia akan mengabaikan pendidikan dan pengaruhnya terhadap anak-anaknya? Sama sekali tidak. Tidak ada ayah yang berkata, "Hidupku sudah makmur, aku berharap anak-anakku tidak akan semakmur diriku di masa depan, itu akan sangat melelahkan. Mereka cukup menjadi gembala sapi saja di masa depan." Dia pasti harus mendidik anak-anaknya untuk belajar darinya dan menjadi seperti dirinya di masa depan. Apa yang akan terjadi pada anak-anaknya setelah dia selesai mendidik mereka? Anak-anak tersebut akan menjadi seperti yang telah ditetapkan, dan takdir mereka akan menjadi seperti apa yang seharusnya, serta tak ada seorang pun yang dapat mengubahnya. Fakta apa yang kauamati di sini? Jalan yang ditempuh seorang anak sama sekali tidak ada kaitannya dengan orang tuanya. Ada orang tua yang percaya kepada Tuhan dan mendidik anak-anak mereka untuk percaya kepada Tuhan, tetapi apa pun yang mereka katakan, anak-anak mereka tidak percaya, dan orang tua tidak dapat berbuat apa-apa. Ada orang tua yang tidak percaya kepada Tuhan, sedangkan anak-anak mereka percaya kepada Tuhan. Setelah anak-anak mereka mulai percaya kepada Tuhan, mereka mengikuti-Nya, mengorbankan diri mereka untuk-Nya, mampu menerima kebenaran, dan mendapatkan perkenanan Tuhan, serta takdir mereka pun berubah. Apakah ini hasil dari didikan orang tua? Sama sekali tidak, ini berkaitan dengan takdir dan seleksi Tuhan. Ada masalah dengan ungkapan "Memberi makan tanpa mengajar adalah kesalahan ayah". Meskipun orang tua memiliki tanggung jawab dalam mendidik anak-anak mereka, tetapi nasib seorang anak tidak ditentukan oleh orang tuanya, melainkan oleh natur anak tersebut. Dapatkah pendidikan menyelesaikan masalah natur anak? Itu sama sekali tidak dapat menyelesaikannya. Jalan hidup yang ditempuh seseorang tidak ditentukan oleh orang tuanya, tetapi telah ditentukan sejak semula oleh Tuhan. Dikatakan bahwa "Nasib manusia ditentukan oleh Surga", dan pepatah ini disimpulkan berdasarkan pengalaman manusia. Sebelum seseorang menjadi dewasa, engkau tidak dapat mengetahui jalan apa yang akan dia tempuh. Setelah mereka menjadi dewasa, dan memiliki pemikiran serta mampu merenungkan masalah, mereka akan memilih apa yang akan dilakukan di tengah masyarakat yang lebih luas. Ada orang-orang yang berkata mereka ingin jadi pejabat senior, ada yang berkata mereka ingin jadi pengacara, dan ada pula yang berkata mereka ingin menjadi penulis. Setiap orang memiliki pilihan dan pemikiran mereka masing-masing. Tak ada seorang pun yang berkata, "Aku hanya akan menunggu orang tuaku mendidikku. Aku akan menjadi seperti apa pun didikan orang tuaku." Tak ada seorang pun yang sebodoh ini. Setelah beranjak dewasa, pemikiran-pemikiran orang mulai bergejolak dan berangsur-angsur menjadi matang, sehingga jalan dan tujuan di depan mereka menjadi makin jelas. Pada saat ini, orang seperti apa mereka, dan di kelompok mana mereka berada, sedikit demi sedikit menjadi jelas dan terlihat. Mulai sejak saat itu, kepribadian setiap orang secara berangsur menjadi jelas, begitu pun watak mereka, jalan yang mereka tempuh, arah hidup mereka, dan kelompok di mana mereka berada. Semua ini didasarkan pada apa? Pada akhirnya, ini adalah sesuatu yang telah Tuhan tentukan dari sejak semula. Ini tidak ada hubungannya dengan orang tua. Apakah sekarang engkau telah memahaminya dengan jelas? Lalu, hal-hal apa yang ada kaitannya dengan orang tua? Penampilan, tinggi badan, kode genetik, dan beberapa penyakit keluarga tidak banyak kaitannya dengan orang tua mereka. Mengapa Kukatakan tidak banyak? Karena tidak 100% demikian. Di beberapa keluarga, setiap generasi menderita suatu penyakit, tetapi kemudian ada satu anak yang lahir tanpa penyakit tersebut. Bagaimana ini bisa terjadi? Ada orang yang berkata, "Itu karena anak ini memiliki kepribadian yang baik." Begitulah pendapat orang-orang, tetapi dari mana asal hal ini? (Takdir Tuhan.) Itulah yang terjadi. Jadi, apakah ungkapan "Memberi makan tanpa mengajar adalah kesalahan ayah" itu benar atau salah? (Salah.) Sekarang engkau sudah jelas tentang hal itu, bukan? Engkau tidak akan memahaminya dengan jelas jika engkau tidak tahu cara mengenalinya. Tanpa kebenaran, engkau tidak mampu mengetahui hal yang sebenarnya mengenai apa pun.
Dalam kehidupan sehari-hari, setiap orang memiliki beberapa pandangan palsu dari Iblis ini dalam pikirannya. Semua itu tetap terkumpul dan tersimpan di dalam pikirannya, serta tersingkap setiap kali sesuatu terjadi. Ada orang-orang yang berkata, "Pria yang baik tidak berdebat dengan wanita. Lihatlah betapa mulianya diriku. Aku laki-laki jantan yang maskulin, sedangkan engkau adalah seorang pemalu, jadi aku tidak akan berdebat denganmu." Mereka memperlakukan ungkapan ini sebagai apa? (Kebenaran.) Mereka memperlakukannya sebagai kebenaran dan sebagai prinsip untuk menerapkan kebenaran. Ada juga orang yang melihat seseorang yang terlihat sangat tampan dan berpenampilan seperti pria terhormat, tetapi dia licik dan selalu berpura-pura, serta sangat licik dan berbahaya saat berinteraksi dengan orang lain, dan banyak orang tidak dapat memahami dirinya, jadi dia berkata, "Aku percaya kepada Tuhan hanya agar dapat menampilkan diriku sebagai orang yang jujur dan baik hati, serta bersikap ramah terhadap orang lain, bukan bermusuhan. Sebagaimana kata pepatah, 'Lebih baik menjadi orang yang benar-benar hina daripada menjadi orang yang pura-pura bermartabat.' Beberapa firman Tuhan juga memiliki arti seperti ini." Bagaimana menurutmu tentang apa yang dikatakan orang-orang ini? "Lebih baik menjadi orang yang benar-benar hina daripada menjadi orang yang pura-pura bermartabat." Engkau dapat melihat bahwa begitu terjadi sesuatu pada manusia, semua pepatah, peribahasa, dan ungkapan umum yang ada di dalam diri mereka muncul dan diperlihatkan sekaligus, dan tidak ada sepatah kata pun yang mengandung kebenaran. Pada akhirnya, orang-orang itu justru berkata, "Terima kasih Tuhan karena telah mencerahkanku." Apakah pepatah "Lebih baik menjadi orang yang benar-benar hina daripada menjadi orang yang pura-pura bermartabat" benar, atau salah? (Salah.) Engkau semua tahu itu salah, tetapi apa yang salah dengan pepatah tersebut? Yang salah dengan orang yang pura-pura bermartabat adalah mereka itu palsu. Tak ada seorang pun yang ingin menjadi orang yang pura-pura bermartabat, mereka ingin menjadi orang yang benar-benar hina. Ada apa dengan orang yang benar-benar hina sehingga diterima orang? Mereka diterima semua orang hanya karena mereka tidak berpura-pura, meskipun mereka adalah orang yang hina. Jadi, engkau semua ingin menjadi apa, menjadi orang yang benar-benar hina atau orang yang pura-pura bermartabat? (Tidak kedua-duanya.) Mengapa bukan kedua tipe orang ini? (Tak satu pun dari keduanya yang sesuai dengan kebenaran, tak ada apa pun dalam firman Tuhan yang menyebutkan mengenai hal ini.) Dapatkah engkau menemukan dasar yang relevan untuk menyatakan bahwa Tuhan tidak pernah meminta manusia untuk menjadi orang yang pura-pura bermartabat atau orang yang benar-benar hina? (Tuhan ingin manusia menjadi orang yang jujur.) Tuhan ingin manusia menjadi orang yang jujur. Lalu, apa perbedaan antara orang yang jujur dan orang yang benar-benar hina? Frasa "orang yang hina" memang tidak bagus, tetapi mereka cukup tulus. Mengapa orang yang benar-benar hina bukan orang yang baik? Dapatkah engkau menerangkannya dengan jelas? Apa dasar untuk mengatakan bahwa baik orang yang benar-benar hina maupun orang yang pura-pura bermartabat bukanlah orang baik? Apa yang dimaksud dengan orang yang hina? Kata apa yang biasanya diasosiasikan dengan orang yang hina? (Tercela.) Benar. Bagaimana istilah "tercela" ini dijelaskan dan didefinisikan dalam firman Tuhan? Dalam firman Tuhan, apakah "tercela" didefinisikan sebagai kata yang baik, atau kata yang buruk? (Kata yang buruk.) Kata yang buruk, yang dikutuk oleh Tuhan. Orang yang memiliki perilaku tercela dan pandangan tercela adalah orang yang hina. Bagaimana lagi watak dan esensi orang yang hina didefinisikan? Egois, bukan? (Ya.) Orang semacam ini egois dan tercela. Sekalipun yang mereka perlihatkan adalah asli dan merupakan temperamen mereka yang sebenarnya, mereka tetaplah orang yang hina. Orang yang pura-pura bermartabat itu licik dan jahat, serta selalu menyamarkan dirinya dan memberikan kesan palsu kepada orang lain, membiarkan orang lain melihat sisi dirinya yang cerah, cemerlang dan ramah. Dia menyembunyikan watak, pendapat, dan pandangannya yang sebenarnya sehingga tak ada seorang pun yang dapat melihatnya, atau memahaminya. Watak apa yang dimiliki orang semacam itu? (Watak yang licik. Suka menipu, serta jahat.) Dia adalah orang yang benar-benar jahat. Jadi, baik penjahat maupun pria terhormat bukanlah orang yang baik. Yang satu buruk di dalam dan yang lainnya buruk di luar. Watak mereka sebenarnya sama, kedua-duanya sangat jahat, egois, dan licik. Apakah kedua tipe orang yang sangat jahat dan licik ini berusaha menjadi orang yang jujur? (Tidak.) Itulah sebabnya, menjadi orang yang mana pun di antara kedua tipe orang ini, engkau bukanlah orang yang baik atau jujur yang Tuhan tuntut. Engkau adalah orang yang Tuhan benci, dan engkau bukanlah orang yang Tuhan kehendaki. Jadi, katakan kepada-Ku, apakah ungkapan "Lebih baik menjadi orang yang benar-benar hina daripada menjadi orang yang pura-pura bermartabat" adalah kebenaran? (Bukan.) Berdasarkan sudut pandang ini, ungkapan ini bukanlah kebenaran. Banyak orang, dengan tujuan untuk menyerang dan mengutuk orang yang pura-pura bermartabat agar mereka sendiri dapat berpura-pura menjadi orang baik, dengan berkata "Lebih baik menjadi orang yang benar-benar hina daripada menjadi orang yang pura-pura bermartabat", seolah-olah "kejahatan" dari para orang yang hina ini menjadikan mereka sangat adil dan benar, seperti kekuatan keadilan. Bagaimana mungkin engkau yang adalah orang yang hina, mengaku bahwa engkau adil? Engkau adalah orang yang layak untuk dihukum.
Dalam pikiran setiap orang, ada cukup banyak ungkapan dan hal-hal semacam ini, serta ada begitu banyak orang yang menganut pandangan semacam ini. Baik itu budaya tradisional, peribahasa, moto keluarga, aturan keluarga, maupun sistem hukum suatu negara, sering kali orang menggunakan hal-hal yang sudah lama beredar dan tersebar luas di tengah masyarakat ini, bahkan yang telah dicanangkan dan dianjurkan sebagai hal yang positif di tengah masyarakat dan di antara umat manusia untuk waktu yang lama, untuk mendidik manusia, generasi demi generasi. Ada ungkapan-ungkapan di lubuk hati manusia yang dianggap sebagai prinsip penerapan dan prinsip kelangsungan hidup manusia. Beberapa di antaranya merupakan ungkapan yang menyampaikan sudut pandang yang hanya disetujui oleh orang, tetapi belum tentu ingin diterapkan. Entah engkau ingin menerapkannya atau tidak, di lubuk hatimu, engkau sebenarnya menganggap ungkapan-ungkapan ini sebagai prinsip penerapan untuk caramu dalam berperilaku. Singkatnya, hal-hal ini merupakan penghalang besar bagi kepercayaan manusia kepada Tuhan dan pengejaran akan kebenaran. Semua itu hanya merugikan, bukan memberi manfaat bagi manusia. Sebagai contoh, topik yang sering dibahas oleh orang-orang modern adalah "Hidup itu berharga, kasih lebih berharga lagi. Namun, demi kebebasan, aku akan melepaskan keduanya". Ungkapan ini adalah pepatah terkenal yang dianjurkan dan dihormati oleh orang-orang di daerah Timur dan Barat yang memiliki cita-cita luhur dan yang mengejar kebebasan serta ingin menyingkirkan sistem feodal tradisional. Apa fokus dari pengejaran orang-orang di sini? Apakah hidup? Ataukah kasih? (Tidak, yang dikejar adalah kebebasan.) Benar, kebebasan. Jadi, apakah ungkapan ini adalah kebenaran? Makna dari ungkapan tersebut adalah bahwa agar dapat mengejar kebebasan, hidup bisa dibuang dan kasih pun bisa ditinggalkan. Dengan kata lain, orang yang kaukasihi juga bisa ditinggalkan agar engkau dapat berlari menuju kebebasan yang indah itu. Seperti apa rupanya kebebasan ini bagi orang-orang duniawi? Bagaimana cara menjelaskan hal yang mereka anggap sebagai kebebasan ini? Menerobos tradisi adalah suatu kebebasan, menerobos adat istiadat lama adalah suatu kebebasan, dan menerobos monarki feodal juga merupakan suatu kebebasan. Apa lagi? (Tidak dikendalikan oleh rezim politik tertentu.) Jenis lainnya adalah tidak dikendalikan oleh kekuasaan atau politik. Yang mereka kejar adalah kebebasan seperti ini. Jadi, apakah kebebasan yang mereka bicarakan merupakan kebebasan sejati? (Tidak.) Apakah kebebasan ini memiliki kesamaan dengan kebebasan yang dibicarakan oleh orang-orang yang percaya kepada Tuhan? (Tidak.) Ada orang-orang yang percaya kepada Tuhan mungkin juga memiliki pandangan ini di dalam hati mereka, "Percaya kepada Tuhan itu sangat bagus, itu membebaskan dan memerdekakanmu. Engkau tidak harus mengikuti adat istiadat atau formalitas tradisional apa pun, engkau tidak perlu khawatir tentang mengatur atau menghadiri pernikahan dan pemakaman, engkau melepaskan semua hal duniawi. Engkau benar-benar sangat bebas!" Benarkah demikian? (Tidak.) Jadi, apa sebenarnya yang dimaksud dengan kebebasan? Apakah engkau semua bebas sekarang? (Sedikit.) Jadi, bagaimana engkau semua bisa mendapatkan sedikit kebebasan ini? Apa yang dimaksud dengan kebebasan ini? (Memahami kebenaran dan menerobos pengaruh gelap Iblis.) Setelah menerobos pengaruh gelap Iblis, engkau merasakan sedikit kelepasan dan kebebasan tertentu. Namun, jika Aku tidak menelaahnya, engkau akan menganggap bahwa engkau benar-benar bebas, padahal sebenarnya tidak. Kebebasan sejati bukanlah kebebasan dan kelepasan tubuh secara ruang dan materi seperti yang orang kira. Melainkan, kebebasan sejati adalah bahwa setelah orang memahami kebenaran, mereka akan memiliki pandangan yang benar tentang berbagai orang, peristiwa, hal-hal, dan tentang dunia, serta mampu mengejar tujuan dan arah hidup yang benar, dan ketika manusia tidak tunduk pada pengaruh Iblis dan pemikiran serta pandangan Iblis, hati mereka dilepaskan. Inilah kebebasan sejati.
Ada seorang anak muda, seorang tidak percaya yang menganggap bahwa dia menyukai kebebasan, terbang ke mana-mana bagaikan burung, dan menjalani kehidupan yang tak dibatasi, jadi dia menghina aturan dan pepatah yang buruk di keluarganya. Dia sering berkata kepada teman-temannya, "Meskipun aku dilahirkan dalam keluarga yang paling tradisional, dan keluarga yang sangat besar, dengan banyaknya aturan dan tradisi, serta bahkan sekarang masih memiliki tempat penyembahan leluhur dengan papan-papan arwah yang tersusun di dalamnya untuk setiap generasi berikutnya, aku sendiri telah menerobos tradisi-tradisi ini dan tidak dipengaruhi oleh aturan keluarga, kebiasaan keluarga, dan adat istiadat umum ini. Tidakkah kalian lihat bahwa aku adalah orang yang sangat tidak tradisional?" Teman-temannya berkata, "Kami sadar kau sangat tidak tradisional." Bagaimana mereka bisa menyadarinya? Ada tindikan di lidahnya, anting di hidungnya, empat atau lima tindikan di kedua telinganya, tindik di pusar, dan tato ular di lengannya. Orang Tionghoa menganggap ular sebagai pembawa sial, tetapi dia bersikeras untuk memiliki tato ular di tubuhnya, dan orang-orang takut ketika mereka melihatnya. Ini tidak tradisional, bukan? (Ya.) Ini sangat tidak tradisional, dan terlebih lagi, dia juga berbicara dengan aura orang yang avant-garde. Semua orang yang melihatnya berkata, "Orang ini luar biasa! Dia tidak tradisional, benar-benar tidak tradisional!" Dia yakin bahwa dia tidak bisa hanya mengekspresikan ketidaktradisionalannya dengan cara seperti ini, tetapi harus membuatnya sedikit lebih nyata dan membuat orang lebih bisa melihat tanda-tanda tentang betapa tidak tradisionalnya dirinya. Dia melihat bahwa orang lain pada umumnya memiliki pacar orang Tionghoa berkulit kuning langsat, dan dia dengan sengaja mencari pacar orang berkulit putih agar semua orang makin yakin bahwa dia memang tidak tradisional. Setelah itu, dia meniru pacarnya dalam segala situasi, melakukan apa pun yang dikatakan pacarnya, dengan cara apa pun yang diminta pacarnya. Ketika ulang tahunnya tiba, pacarnya membelikannya sebuah hadiah misteri yang dikemas dalam sebuah kotak besar, dan dia dengan senang hati mulai membuka bungkusan hadiah tersebut. Setelah merobek semua kertas pembungkus kotak itu, dia melihat sebuah topi hijau di dalamnya. Semua orang Tionghoa tahu kiasan tentang "topi hijau", bukan? Ini tentu saja merupakan hal yang sangat tradisional. Begitu dia melihatnya, dia menjadi marah dan berkata, "Hadiah macam apa ini? Untuk siapa kau membeli hadiah ini?" Pacarnya mengira dia akan senang, mengapa dia begitu marah karenanya? Pacarnya tidak bisa memikirkan alasannya dan tidak bisa memahaminya, jadi dia berkata, "Topi hijau ini tidak mudah ditemukan. Kujamin itu akan terlihat bagus saat kaukenakan." Dia berkata, "Tahukah kau apa yang dilambangkan oleh topi ini?" Pacarnya berkata, "Bukankah itu hanyalah sebuah topi? Topi hijau terlihat sangat bagus." Dan pacarnya bersikeras memaksanya mengenakan topi tersebut. Dia tidak akan mengenakannya apa pun yang terjadi. Apakah orang Barat mengetahui kiasan tentang "topi hijau"? (Tidak, mereka tidak tahu.) Jadi, bukankah hal ini harus dijelaskan secara gamblang dan disingkapkan? Tak seorang pun dari antaramu yang bisa menjawabnya. Mengapa engkau tidak berani menjelaskannya secara gamblang? Ini bukan masalah besar, bukan? Engkau semua sama seperti orang ini, berkoar-koar menyatakan dirinya tidak tradisional, dan melepaskan tradisi serta membuang gagasan budaya tradisional Iblis untuk mengejar kebenaran dan kebebasan, tetapi engkau tetap terjebak sedemikian dalamnya dengan topi hijau ini. Pacar anak muda itu memintanya untuk mengenakannya, dan dia tidak akan mengenakannya apa pun yang terjadi, dan pada akhirnya berkata, "Kau bersikeras memaksaku mengenakannya. Jika aku mengenakannya, aku pasti akan dihina orang lain!" Inilah inti masalah dan letak masalahnya—ini adalah tradisi. Tradisi ini bukanlah tentang apa warna suatu benda atau benda seperti apa itu, melainkan tentang simbol dan pandangan yang ditimbulkan oleh benda tersebut pada orang. Apa sebenarnya yang dilambangkan oleh benda ini, topi hijau ini? Apa yang diwakili olehnya? Orang-orang menyebut topi berwarna hijau itu buruk, sehingga mereka menolak topi berwarna hijau. Mengapa orang menolaknya? Mengapa mereka tidak bisa menerima benda semacam itu? Karena ada semacam pemikiran tradisional di dalamnya. Pemikiran tradisional ini sendiri bukanlah kebenaran; itu seperti benda materi, tetapi masyarakat dan ras orang ini telah tanpa sadar telah mengubahnya menjadi sesuatu yang negatif. Sebagai contoh, orang mengubah warna putih menjadi lambang kekudusan, hitam menjadi simbol kegelapan dan kejahatan, serta merah menjadi lambang perayaan, kekejaman, dan gairah. Di masa lalu, orang Tionghoa mengenakan pakaian berwarna merah ketika mereka menikah karena meyakini bahwa itu meriah. Saat orang Barat menikah, mereka mengenakan pakaian berwarna putih yang indah dan bersih, melambangkan kekudusan. Pemahaman kedua budaya tersebut tentang pernikahan berbeda. Yang satu dengan warna merah dan yang lainnya diwakili dengan warna putih. Kedua warna ini melambangkan sikap mengenai berkat terhadap pernikahan. Berbagai kelompok etnis dan ras menggunakan benda-benda yang sama untuk tujuan yang berbeda, dan dengan cara seperti inilah latar belakang budaya mereka muncul. Setelah latar belakang budaya tersebut muncul, maka lahirlah pula tradisi budaya. Dengan cara seperti ini, masyarakat yang berbeda dan ras yang berbeda memiliki adat istiadat yang berbeda, dan adat istiadat tersebut memengaruhi orang dari masing-masing ras tersebut. Oleh karena itu, orang Tionghoa dipengaruhi oleh kiasan tentang topi hijau ini. Hasil seperti apa yang dihasilkan dari hal ini yang ditanamkan ke dalam diri mereka? Laki-laki tidak boleh mengenakan topi berwarna hijau, dan perempuan juga tidak boleh mengenakannya. Apakah engkau melihat ada perempuan yang mengenakannya? Sebenarnya, tradisi budaya ini hanya ditujukan untuk laki-laki, artinya bahwa laki-laki yang mengenakan topi berwarna hijau adalah pertanda buruk dan itu tidak ada kaitannya dengan perempuan. Namun, setelah tradisi budaya ini muncul, dalam konteks apa pun kemunculannya, itu menimbulkan semacam diskriminasi terhadap hal tersebut oleh setiap orang dari ras ini. Setelah diskriminasi tersebut terjadi, tanpa sadar hal ini berubah dari hal yang sangat tidak ada salahnya dan bersifat materi menjadi hal yang negatif. Sebenarnya, hal itu tidak ada salahnya dan sama sekali tidak bersifat positif atau negatif. Itu hanyalah sebuah benda materi, sebuah warna, dan sebuah benda yang memiliki bentuk. Namun, setelah ditafsirkan dan dipengaruhi oleh budaya tradisional dengan cara seperti ini, apa hasil akhirnya? (Negatif.) Itu menjadi negatif. Setelah itu menjadi negatif, orang tidak dapat memperlakukan atau menggunakan benda tersebut dengan baik dan benar. Coba pikirkan, ada topi dengan berbagai warna di pasar Tiongkok, seperti warna merah, merah muda, kuning, dan sebagainya, tetapi tidak ada yang berwarna hijau. Manusia dikekang dan dipengaruhi oleh pemikiran tradisional ini. Inilah efek salah satu hal tertentu dari budaya tradisional terhadap manusia.
Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.