Bab Sepuluh: Mereka Merendahkan Kebenaran, dengan Lancang Melanggar Prinsip, dan Mengabaikan Pengaturan Rumah Tuhan (Bagian Satu) Pasal Dua

A. Merendahkan Keadilan Tuhan

Orang-orang seperti antikristus selalu memperlakukan keadilan dan watak Tuhan sesuai gagasan mereka sendiri, dengan sikap yang meragukan dan menentangnya. Mereka berpikir, "Bahwa tuhan itu adil, hanyalah sebuah teori. Apa benar ada yang namanya keadilan di dunia ini? Selama bertahun-tahun aku hidup, belum pernah sekalipun aku menemukan atau melihatnya. Dunia ini sangat gelap dan jahat, orang-orang jahat dan para setan hidup makmur, hidup penuh dengan kepuasan. Aku belum pernah melihat mereka mendapatkan apa yang pantas mereka terima. Aku tak bisa melihat di mana keadilan tuhan dalam hal ini; aku bertanya-tanya, apakah keadilan tuhan itu benar-benar ada? Siapa yang pernah melihatnya? Tak seorang pun pernah melihatnya, dan tak seorang pun bisa membuktikannya." Inilah yang mereka pikirkan dalam hati mereka. Mereka tidak menerima semua pekerjaan Tuhan, semua firman-Nya, dan semua pengaturan-Nya atas dasar keyakinan bahwa Dia adalah adil, melainkan selalu meragukan dan menghakimi, selalu penuh dengan gagasan, yang berarti mereka tidak pernah mencari kebenaran untuk membereskannya. Antikristus percaya kepada Tuhan selalu dengan cara seperti ini. Apakah mereka memiliki iman yang benar kepada Tuhan? Tidak. Antikristus selalu bersikap ragu-ragu dalam hal keadilan Tuhan. Tentu saja, mereka memiliki keraguan tentang watak Tuhan, kekudusan-Nya, serta apa yang Dia miliki dan siapa Dia. Mereka tidak memercayai hal-hal tersebut, tetapi hanya memercayai apa yang dapat dilihat oleh mata. Jika mereka tidak dapat melihat sesuatu dengan mata mereka sendiri, mereka tidak akan pernah memercayainya. Mereka sama seperti Tomas, selalu meragukan Tuhan Yesus, tidak percaya bahwa Tuhan Yesus telah bangkit dari kematian, tidak percaya akan kekuatan Tuhan yang besar. Mungkinkah sampah seperti antikristus, yang tidak memiliki pemahaman rohani atau yang tidak mengejar kebenaran, percaya bahwa firman Tuhan adalah kebenaran? Mungkinkah mereka percaya akan kemahakuasaan dan hikmat-Nya? Mereka tidak memercayainya; selalu ada keraguan di hati mereka. Dinilai dari esensi antikristus, karena mereka hanya memercayai apa yang dapat dilihat oleh mata, itu berarti mereka adalah materialis. Mereka tidak mampu melihat kemahakuasaan Tuhan, dan mereka tidak percaya bahwa firman-Nya adalah kebenaran, bahwa itu adalah fakta yang telah Dia jadikan. Karena mereka tidak memiliki pemahaman rohani, dan tidak memiliki iman sejati, mereka tidak mungkin dapat melihat tindakan Tuhan. Sebenarnya, mereka memiliki motif tersembunyi dalam kepercayaan mereka kepada Tuhan. Mereka adalah pembuat onar yang sembrono, hamba-hamba Iblis. Dapatkah orang yang tidak menerima kebenaran atau yang tidak percaya akan keberadaan Tuhan, yang memandang segala sesuatu dengan mata manusia, menemukan keberadaan kebenaran? Dapatkah mereka menemukan fakta bahwa Tuhan berdaulat atas umat manusia? Tentu saja tidak. Mereka memandang segala sesuatu dengan mata yang meneliti, mata yang curiga, dan sikap yang skeptis, dan bahkan menentang semua yang Tuhan lakukan, sehingga antikristus tidak percaya akan watak adil Tuhan. Mereka meragukannya dan tidak menerimanya. Apa saja perilaku antikristus yang memperlihatkan kepada orang lain bahwa mereka tidak menerima kebenaran atau tidak mengakui esensi Tuhan? Ada banyak perilaku yang spesifik. Sebagai contoh: ketika suatu masalah muncul dalam pekerjaan gereja, separah apa pun kesalahannya, apa pun akibatnya, reaksi pertama antikristus adalah membersihkan diri mereka dari kesalahan dan melemparkan kesalahan itu. Agar tidak perlu bertanggung jawab, mereka bahkan akan mengalihkan perhatian orang dari diri mereka, mengatakan beberapa hal yang terdengar benar dan bagus dan melakukan sesuatu yang dangkal, untuk menutupi yang sebenarnya tentang masalah itu. Pada waktu-waktu biasa, orang tidak dapat melihat hal ini, tetapi ketika sesuatu menimpa mereka, keburukan antikristus pun tersingkap. Seperti seekor landak, dengan semua duri berdiri tegak, mereka melindungi diri mereka sendiri dengan sekuat tenaga, berharap tak perlu memikul tanggung jawab apa pun. Sikap macam apa ini? Bukankah ini sikap yang tidak percaya bahwa Tuhan itu adil? Mereka tidak percaya bahwa Tuhan memeriksa semuanya atau bahwa Dia itu adil; mereka ingin menggunakan cara mereka sendiri untuk melindungi diri mereka. Mereka yakin, "Jika aku tidak melindungi diriku sendiri, tak seorang pun akan melindungiku. Tuhan juga tidak bisa melindungiku. Mereka berkata bahwa dia adil, tetapi ketika orang menghadapi masalah, apakah dia benar-benar memperlakukan mereka dengan adil? Sama sekali tidak, tuhan tidak melakukan hal itu." Ketika dihadapkan dengan masalah atau penganiayaan, mereka merasa tidak dibantu, dan berpikir, "Jadi, di manakah tuhan? Manusia tidak bisa melihatnya atau menyentuhnya. Tak seorang pun bisa membantuku; tak seorang pun bisa bersikap adil terhadapku dan memastikan keadilan ditegakkan bagiku." Mereka menganggap satu-satunya cara untuk melindungi diri mereka adalah dengan cara mereka sendiri, karena kalau tidak, mereka akan dirugikan, diintimidasi, dan dianiaya—dan rumah Tuhan pun tidak terkecuali dalam hal ini. Antikristus sudah merencanakan segala sesuatunya untuk kepentingan mereka sendiri sebelum sesuatu menimpa mereka. Di satu sisi, yang mereka lakukan adalah berusaha keras menyamarkan diri mereka sebagai seseorang yang berkuasa sehingga tak seorang pun berani mengganggu mereka, mengacaukan mereka, atau menindas mereka. Di sisi lain, mereka mematuhi falsafah dan aturan kelangsungan hidup Iblis. Apa sajakah falsafah tersebut, yang terutama? "Jika orang tidak memikirkan dirinya sendiri, langit dan bumi akan menghukumnya," "Biarkan hal-hal berlalu jika tidak memengaruhi seseorang secara pribadi," "Tetaplah diam untuk melindungi diri sendiri dan berusahalah agar tidak disalahkan," jika keadaan memungkinkan, mereka bertindak licin dan licik, "Aku tidak akan menyerang kecuali aku diserang," "Keharmonisan adalah harta karun; kesabaran adalah kecerdikan," "Ucapkan kata-kata baik yang sesuai dengan perasaan dan nalar orang lain karena berkata jujur mengganggu sesama," "Orang bijak mengalah pada keadaan," dan falsafah Iblis lain semacam itu. Mereka tidak mencintai kebenaran, melainkan menerima falsafah Iblis seolah-olah semua itu adalah hal-hal positif, meyakini bahwa semua itu mampu melindungi mereka. Mereka hidup berdasarkan hal-hal ini; mereka tidak mengatakan yang sebenarnya kepada siapa pun, tetapi selalu mengatakan hal-hal yang terdengar menyenangkan, yang menyanjung, tidak menyinggung siapa pun, memikirkan cara untuk memamerkan diri mereka agar orang lain akan menghormati mereka. Mereka hanya memedulikan pengejaran mereka sendiri akan ketenaran, keuntungan, dan status, dan sama sekali tidak melakukan apa pun untuk menjunjung tinggi pekerjaan gereja. Terhadap siapa pun yang melakukan hal buruk dan merugikan kepentingan rumah Tuhan, mereka tidak menyingkapkan atau melaporkannya, melainkan bertindak seolah-olah mereka tidak melihatnya. Jika melihat prinsip mereka dalam menangani berbagai hal dan perlakuan mereka terhadap apa yang terjadi di sekitar mereka, apakah mereka memiliki pengetahuan tentang watak adil Tuhan? Apakah mereka memiliki iman dalam hal itu? Mereka tidak memilikinya. "Tidak memiliki" di sini bukan berarti mereka tidak memiliki kesadaran akan hal ini, melainkan mereka selalu memiliki keraguan akan watak adil Tuhan di dalam hati mereka. Mereka tidak menerima, juga tidak mengakui bahwa Tuhan itu adil. Ketika mereka melihat banyak orang bersaksi bahwa kebenaran dan keadilan berkuasa di rumah Tuhan, mereka menentang dan menghakiminya di dalam hati mereka, berkata, "Lalu mengapa si naga merah yang sangat besar belum mendapatkan balasan atas penganiayaan yang telah mereka lakukan terhadap umat pilihan tuhan? Orang-orang jahat di antara orang tidak percaya menindas umat pilihan tuhan, memfitnah mereka, serta menghakimi mereka, dan orang-orang itu juga belum mendapatkan balasannya. Mereka semua sedang hidup dengan nyaman. Mengapa orang-orang yang percaya kepada tuhan selalu menjadi yang ditindas?" Sebenarnya, mereka tidak percaya akan watak adil Tuhan. Mereka tidak percaya bahwa Tuhan memperlakukan setiap orang dengan adil, juga tidak percaya pada pemikiran bahwa Tuhan akan membalas setiap orang sesuai dengan perbuatan mereka, dan bahwa hanya mereka yang mengejar kebenaranlah yang akan diberkati oleh Tuhan serta memperoleh tempat tujuan yang indah. Antikristus tidak percaya akan hal-hal ini. Mereka berkata pada diri mereka sendiri, "Jika semua ini adalah fakta, mengapa aku belum melihatnya? Kau berkata bahwa mereka yang mengejar kebenaran akan diberkati oleh tuhan. Lihatlah, si A di gereja kita mengejar kebenaran, serta mengorbankan dirinya untuk tuhan, dan dia melaksanakan tugasnya dengan cukup setia. Apa yang dia alami pada akhirnya? Dia diburu oleh si naga merah yang sangat besar sampai-sampai dia hampir tidak bisa pulang ke rumahnya; keluarganya tercerai-berai. Dia bahkan tidak dapat bertemu dengan anak-anaknya. Apakah itu keadilan tuhan? Dan ada si B, yang dijebloskan ke dalam penjara karena percaya kepada tuhan, di mana dia disiksa sampai setengah mati. Di manakah watak adil Tuhan? Dia telah memberikan kesaksiannya; dia bukanlah seorang Yudas. Mengapa tuhan tidak memberkati dan melindunginya? Dan mengapa tuhan mengizinkan si naga merah yang sangat besar memukulinya sampai dia hampir mati? Ada juga seorang pemimpin di gereja kami yang meninggalkan keluarga dan kariernya untuk bekerja di gereja. Dia telah melaksanakan tugasnya selama bertahun-tahun serta mengalami cukup banyak kesukaran, dan pada akhirnya, dia dihukum serta dikeluarkan karena telah melakukan sedikit kejahatan dan mengganggu pekerjaan gereja. Di manakah watak adil Tuhan? Dan ada beberapa saudara-saudari yang melaksanakan tugas di rumah tuhan di usia yang masih sangat muda, menanggung kesukaran dan bekerja keras, tetapi begitu mereka melakukan kesalahan dan melanggar prinsip, mereka dipangkas. Beberapa dari mereka menangis dengan sangat sedih karena takut dikeluarkan dan disingkirkan, tanpa ada seorang pun yang menghibur mereka. Mengapa aku tidak dapat melihat keadilan tuhan dalam hal ini? Tepatnya, dengan cara apakah watak adil tuhan diwujudkan dalam hal-hal ini? Mengapa aku tidak dapat melihatnya? Dan dalam kasusku sendiri, aku mungkin bersikap sedikit asal-asalan dalam melaksanakan tugasku, dan terkadang aku mungkin memperlihatkan sedikit watak yang rusak, tetapi tetap saja, aku ini orang berbakat. Mengapa rumah tuhan tidak mempromosikanku?" Dalam semua hal tersebut, antikristus tidak mampu melihat dengan jelas apa yang sedang terjadi. Mereka hanya melihat fenomena lahiriah, tetapi tidak dapat melihat apa maksud Tuhan di balik segala sesuatunya. Lubuk hati mereka dipenuhi dengan kekhawatiran dan keraguan, dengan pemikiran serta gagasan. Selain itu, ada begitu banyak simpul di hati mereka, yang tidak dapat mereka uraikan. Setiap kali memikirkan hal-hal ini, mereka dipenuhi kebencian, kutukan dan hujatan terhadap watak adil Tuhan. Dengan perasaan jengkel, mereka berkata di dalam hati: "Jika tuhan itu adil, mengapa orang jujur dipangkas? Jika dia adil, mengapa dia tidak mengampuni orang karena telah memperlihatkan sedikit kerusakan? Jika dia adil, mengapa sebagian orang, yang telah melaksanakan tugas mereka dan menanggung begitu banyak penderitaan, malah diberhentikan, hanya karena tidak melakukan pekerjaan yang nyata? Jika dia adil, mengapa kita, yang mengikutinya dengan kesetiaan yang teguh, dianiaya serta disiksa, dan mungkin dijebloskan ke dalam penjara, serta dalam beberapa kasus, bahkan dipukuli sampai mati?" Antikristus tidak mampu menerangkan semua fenomena ini dengan jelas. Mereka tidak tahu apa yang sedang terjadi; mereka tidak mampu memahaminya dengan jelas. Mereka sering bertanya pada diri mereka sendiri, "Apakah tuhan yang kupercaya ini adil atau tidak? Apakah tuhan yang adil itu ada atau tidak? Di manakah dia? Ketika kita menghadapi kesulitan, ketika kita dianiaya, apa yang dia lakukan saat itu? Apakah dia dapat menyelamatkan kita atau tidak? Jika dia itu adil, mengapa dia tidak menghancurkan Iblis? Mengapa dia tidak menghancurkan si naga merah yang sangat besar? Mengapa dia tidak menghukum manusia yang jahat ini? Mengapa dia tidak memberi kita keadilan dan menegakkan keadilan bagi kita, yang percaya kepadanya dan yang telah sangat menderita? Mengapa dia tidak membela kita? Kita membenci para setan serta Iblis, dan kita membenci orang-orang jahat; mengapa tuhan tidak membalaskan keluhan-keluhan kita?" Pertanyaan "mengapa" muncul satu per satu tanpa henti dari hati antikristus, bagaikan senapan mesin, tidak dapat dikendalikan dengan cara apa pun. Ketika mereka tidak mampu mengendalikan hal-hal ini, mengapa mereka tidak datang ke hadirat Tuhan untuk mencari dan berdoa, atau membaca firman-Nya serta mencari saudara-saudari untuk bersekutu? Bukankah setelah itu mereka akan mampu membereskan masalah semacam itu satu demi satu? Apakah membereskan masalah ini benar-benar hal yang sulit untuk dilakukan? Jika engkau memiliki sikap yang tunduk kepada Tuhan dan kebenaran, sikap yang menerima kebenaran, masalah seperti ini tidak akan lagi menjadi masalah. Semua ini akan dapat dibereskan. Mengapa antikristus tidak mampu melakukannya? Karena mereka tidak menerima kebenaran, atau tidak percaya bahwa firman Tuhan adalah kebenaran, atau tidak mengakui kebenaran. Mereka tidak mampu tunduk pada semua kedaulatan dan pengaturan Tuhan, apalagi menerima bahwa semua hal yang terjadi adalah dari Tuhan. Itulah sebabnya di dalam hatinya, antikristus dipenuhi dengan keraguan tentang keadilan Tuhan. Ketika mereka dihadapkan dengan ujian, keraguan yang memenuhi hati mereka akan meledak, dan di dalam hatinya, mereka akan mempertanyakan Tuhan: "Jika tuhan itu adil, mengapa dia membiarkan kita begitu menderita? Jika tuhan itu adil, mengapa dia tidak berbelas kasihan kepada orang-orang di antara kita yang telah menanggung begitu banyak penderitaan karena mengikuti kristus? Jika tuhan itu adil, mengapa dia tidak melindungi orang-orang di antara kita yang mengorbankan diri baginya dan melaksanakan tugas kita, atau mengapa dia tidak melindungi keluarga kita? Jika tuhan itu adil, mengapa dia membiarkan beberapa orang yang dengan sungguh-sungguh percaya kepadanya mati di penjara, di tangan si naga merah yang sangat besar?" Kemudian mereka mulai berteriak kepada Tuhan: "Jika tuhan itu adil, seharusnya dia tidak membiarkan kita begitu menderita; jika tuhan itu adil, seharusnya dia tidak mendisiplinkan dan menyingkapkan kita tanpa alasan yang jelas; jika tuhan itu adil, seharusnya dia menoleransi semua perbuatan jahat yang kita lakukan, dan mengampuni seluruh kenegatifan serta kelemahan kita, dan memberi kelonggaran atas semua pelanggaran kita. Jika melakukan hal-hal ini pun kau tidak bisa, berarti kau bukanlah tuhan yang adil!" Semua ini adalah hal-hal yang antikristus pikirkan di benak mereka. Mereka penuh dengan gagasan tentang Tuhan, dan mereka sama sekali tidak mencari kebenaran untuk membereskannya. Ketika tiba saatnya mereka disingkapkan, gagasan itu pasti muncul. Seperti itulah pola pikir yang buruk dan wajah antikristus yang sebenarnya.

Antikristus tidak mengakui ataupun tidak menerima kebenaran, dan terlebih lagi, tidak mengakui fakta bahwa Tuhan adalah Sang Pencipta, sehingga bagi mereka, watak adil Tuhan tetap menjadi pertanyaan besar yang belum terjawab. Dan seiring berjalannya waktu, seiring terjadinya berbagai peristiwa serta munculnya berbagai masalah, tanda tanya mereka menjadi makin besar, dan lambat laun berubah menjadi tanda silang. Apa arti tanda silang ini? Itu berarti bahwa mereka sepenuhnya menyangkal fakta bahwa Tuhan itu adil. Dan ketika tanda silang itu telah dibuat—ketika antikristus menyangkal bahwa Tuhan itu adil—semua khayalan dan keinginan mereka lenyap. Coba pikirkan: Apa titik awal yang menimbulkan akibat seperti ini? (Antikristus mengira bahwa dengan percaya kepada Tuhan, mereka seharusnya diberkati dan menerima perlindungan-Nya. Jadi, ketika Tuhan melakukan pekerjaan yang tidak sesuai dengan gagasan dan imajinasi mereka, mereka merasa bahwa Dia tidak adil, dan mereka tidak bisa menerima bahwa hal itu adalah dari Dia. Selain itu, mereka tidak berdoa kepada Tuhan dan tidak mencari kebenaran begitu gagasan mereka tentang Tuhan muncul, dan mereka tidak mampu membereskan gagasan itu dengan segera. Dengan demikian, gagasan mereka menjadi makin banyak dan menumpuk. Itulah yang pada akhirnya menimbulkan akibat seperti ini.) Engkau membicarakan fenomena ini pada tingkat yang dangkal; engkau belum memahami akar masalahnya. Mengapa Kukatakan demikian? Karena ada sesuatu yang menjadi akar masalah mengapa antikristus sampai mampu berperilaku seperti ini dan memiliki pandangan seperti ini, mengapa mereka sampai mampu meragukan dan menyangkal Tuhan. Tentu saja, itu ditentukan oleh esensi natur antikristus. Itulah akar masalahnya, dan kita akan tinggalkan dahulu pembahasan hal ini di sini. Jadi, sumber utama penyebabnya adalah karena sejak awal antikristus tidak mencintai kebenaran atau tidak menerimanya. Mengapa mereka tidak menerima kebenaran? Ini juga ada akar masalahnya: Mereka tidak mengakui bahwa Tuhan adalah kebenaran, bahwa firman-Nya adalah kebenaran, dan karena mereka tidak mengakuinya, mereka tidak mampu menerimanya. Mengingat bahwa mereka tidak menerima kebenaran, dapatkah mereka memandang masalah apa pun dari sudut pandang kebenaran? (Tidak.) Mereka tidak dapat melakukan hal itu. Lalu, apa akibatnya? Mereka tidak mampu mengetahui yang sebenarnya tentang hal-hal yang terjadi pada mereka, apa pun itu, baik hal besar maupun hal kecil yang terjadi di sekitar mereka, dan tentang perkataan orang lain. Mereka tidak mampu memahami yang sebenarnya tentang orang-orang atau peristiwa, tentang apa pun. Ada hal-hal yang di luarnya tampak seperti yang mereka katakan, tetapi esensi dari hal-hal tersebut bukanlah demikian. Ini ada kaitannya dengan kebenaran. Jika engkau tidak memahami kebenaran atau tidak menerimanya, dapatkah engkau memahami kebenaran yang ada kaitannya dengan hal-hal ini? Tidak, jadi satu-satunya yang dapat kaulakukan hanyalah menganalisis dan mempelajari hal-hal tersebut dengan menggunakan pandangan manusia, pengetahuan manusia, dan pikiran manusia. Apa hasil yang akan didapat dengan mempelajari dengan cara seperti itu? Akankah hasilnya sesuai dengan kebenaran? Akankah hasilnya sesuai dengan tuntutan dan maksud Tuhan? Tidak, tidak akan pernah. Ini seperti kisah Ayub, yang dikenal oleh semua orang yang percaya kepada Tuhan. Semua orang yang mengakui serta menerima kebenaran dan yang mampu percaya kepada Tuhan serta tunduk kepada-Nya sebenarnya memuji dan mengagumi Ayub; mereka semua ingin menjadi orang seperti Ayub. Mereka juga memuji dan mengagumi ungkapan pujian Ayub kepada Tuhan dan pengenalannya akan Dia di tengah ujiannya. Di dalam hatinya, orang mampu memahami bahwa berbagai kesengsaraan dan penderitaan yang menimpa Ayub adalah pekerjaan Tuhan. Secara keseluruhan, sebagai manusia, Ayub telah menjadi teladan yang dicita-citakan oleh semua orang yang mengejar kebenaran. Mereka semua ingin mengikuti teladannya dan menjadi orang seperti itu. Lalu, bagaimana cara memperoleh hasil yang positif seperti itu? Apa landasannya? Keyakinan dan pengakuan sepenuh hati bahwa ini adalah kebenaran, bahwa semua ini adalah pekerjaan Tuhan. Di atas landasan inilah, selangkah demi selangkah, orang-orang ingin menjadi seperti Ayub, ingin menjadi orang yang takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan. Mereka meyakini semua ini dan benar-benar mengakuinya, dan pada akhirnya, mereka bercita-cita untuk menjadi orang seperti itu, cita-cita yang terus mereka kejar dalam hidup mereka. Untuk mencapai hasil seperti ini, yang paling mendasar adalah orang mengakui semua ini dan benar-benar meyakininya. Jadi, apakah antikristus memiliki pengakuan dan keyakinan seperti ini? Tidak. Bagaimana antikristus memandang semua yang telah Ayub alami? Apakah menurut mereka ada makna penting dalam semua yang Tuhan lakukan? Dapatkah mereka melihat bahwa semua itu telah diatur oleh-Nya? Mereka tidak dapat melihatnya, juga tidak dapat melihat bahwa ada makna penting dalam semua yang telah Tuhan lakukan. Apa yang mereka lihat dalam hal itu? Ayub memiliki kekayaan yang banyak, memiliki domba dan lembu yang memenuhi gunung, serta putra-putri terelok di negeri itu. Inilah yang mereka lihat. Dan kemudian, setelah semua penderitaan yang dia alami, Tuhan kembali memberkatinya. Apa yang mereka lihat dalam hal itu? Mereka berkata, "Orang tersebut dibayar dengan berkat-berkat itu. Dia pantas mendapatkannya. Wajar bagi tuhan untuk menganugerahkan semua itu." Dalam keseluruhan pemahaman mereka tentang hal itu, apakah sudut pandang antikristus adalah sudut pandang orang yang menerima kebenaran dan tunduk kepada Tuhan? (Bukan.) Lalu, sudut pandang apa yang mereka gunakan? Hanya ada satu sudut pandang yang antikristus gunakan dalam memandang seluruh masalah ini, dan itu adalah sudut pandang pengikut yang bukan orang percaya. Pengikut yang bukan orang percaya melihat apakah ada keuntungan atau manfaat yang bisa didapatkan, atau adakah kerugian yang akan diderita; bagaimana cara memanfaatkannya, dan sebaliknya; apa yang akan menyebabkan kerugian serta penderitaan; dan apa yang tidak layak dilakukan, dan apa yang layak. Ini adalah sudut pandang pengikut yang bukan orang percaya. Pengikut yang bukan orang percaya memandang, memperlakukan, dan melakukan segala sesuatu dengan cara ini, dengan esensi semacam ini. Ini adalah sikap antikristus terhadap watak adil Tuhan.

Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.

Hubungi kami via WhatsApp