Firman Tuhan | "Pekerjaan Tuhan, Watak Tuhan, dan Tuhan itu Sendiri III" (Bagian Empat)
Beberapa materi dalam video ini berasal dari: 【All Bible quotations in this video are translated freely from English Bible.】...
Kami menyambut semua pencari yang merindukan penampakan Tuhan!
Apa ciri utama pemimpin palsu yang berpura-pura sebagai orang yang rohani? Cirinya adalah mereka pandai berkhotbah. "Khotbah-khotbah" ini bukanlah khotbah yang benar. Khotbah-khotbah ini tidak mempersekutukan kebenaran, juga tidak mengandung kenyataan kebenaran. Sebaliknya, ini adalah khotbah kata-kata dan doktrin; khotbah rohani yang palsu, khotbah orang Farisi. Pemimpin palsu sangat pandai berusaha keras dalam kata-kata dan frasa-frasa firman Tuhan, mereka mencurahkan perhatian khusus untuk mengkhotbahkan kata-kata dan doktrin, tetapi mereka tidak pernah mencari kebenaran di dalam firman Tuhan dan tidak pernah merenungkan bagaimana mereka harus masuk ke dalam kenyataan kebenaran. Mereka puas hanya dengan mampu mengkhotbahkan kata-kata dan doktrin; setelah mereka mengkhotbahkan doktrin dengan jelas dan logis, mereka menganggap itu sudah cukup baik dan mereka memiliki kenyataan kebenaran, sehingga mereka dapat berdiri di hadapan orang lain dan menyuruh-nyuruh orang seenaknya, serta menguliahi orang dari posisi mereka yang tinggi. Di luarnya, yang mereka katakan dan lakukan tampaknya berkaitan dengan kebenaran, mereka tampaknya tidak menyebabkan kekacauan atau gangguan, dan tampaknya tidak menganjurkan pepatah yang keliru atau memicu praktik-praktik yang keliru. Namun, ada satu masalah, yaitu bahwa mereka tidak mampu memikul pekerjaan nyata apa pun, atau memenuhi tanggung jawab mereka sedikit pun, yang akhirnya menyebabkan mereka tidak mampu menemukan masalah apa pun dalam pekerjaan. Cara mereka bekerja seperti orang buta yang meraba-raba: Mereka selalu mengikuti perasaan dan imajinasinya untuk secara membabi buta menerapkan aturan pada masalah apa pun, sepenuhnya tidak mampu melihat esensi masalahnya dengan jelas, tetapi mereka masih berbicara omong kosong tentangnya—mereka sama sekali tidak mampu menyelesaikan masalah nyata. Jika seorang pemimpin palsu benar-benar memahami kebenaran, dia tentu saja akan mampu menemukan masalah dan mencari kebenaran untuk menyelesaikannya. Namun, para pemimpin palsu jelas-jelas tidak memahami kebenaran, tetapi mereka berpura-pura menjadi rohani, menganggap diri mereka mampu melakukan pekerjaan gereja, dengan tidak bermoral berani menikmati manfaat dari status mereka. Bukankah ini menjijikkan? Mereka mengira bahwa mereka memiliki keterampilan yang sejati—bahwa mereka bisa berkhotbah. Padahal mereka benar-benar tak mampu melakukan pekerjaan nyata. Kata-kata dan doktrin yang diketahui dan dikhotbahkan pemimpin palsu tak dapat membantu mereka melakukan pekerjaan mereka dengan baik, juga tak dapat membantu mereka menemukan masalah dalam pekerjaan, apalagi membantu mereka menyelesaikan semua masalah yang mereka hadapi. Setelah bekerja selama beberapa waktu, mereka tetap tak mampu berbicara tentang kesaksian apa pun berdasarkan pengalaman. Apakah pemimpin atau pekerja semacam itu memenuhi standar? Sangat jelas bahwa mereka tidak memenuhi syarat. Dan bagaimana seharusnya pemimpin palsu yang tidak memenuhi standar ditangani? Mereka bukan saja harus diberhentikan dan disingkirkan, tetapi jika mereka tidak bertobat, mereka tidak dapat dipilih kembali untuk melayani sebagai pemimpin atau pekerja pada saat diadakan pemilihan. Jika seseorang memilih seorang pemimpin palsu atau pekerja palsu yang telah disingkirkan, mereka sedang secara sadar mengganggu dan merusak pekerjaan gereja dan itu memperlihatkan bahwa pemilih tersebut adalah pemuja dan pengikut pemimpin palsu tersebut, dan bukan seseorang yang benar-benar percaya kepada Tuhan. Pernahkah engkau semua memilih seorang pemimpin palsu yang memiliki kerohanian palsu? (Pernah.) Kurasa engkau semua pernah memilih cukup banyak dari mereka. Engkau mengira siapa pun yang telah percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun, yang telah membaca banyak firman Tuhan dan mendengar banyak khotbah, yang memiliki banyak pengalaman berkhotbah dan bekerja, yang dapat berkhotbah selama berjam-jam, pasti mampu melakukan pekerjaan. Kemudian, setelah engkau memilih mereka sebagai pemimpin, engkau menemukan masalah serius: saudara-saudari tidak pernah bisa melihat mereka, dan mereka tidak pernah dapat menemukan mereka ketika ada masalah. Tak seorang pun tahu di mana mereka bersembunyi, dan mereka bersembunyi di suatu tempat serta tidak akan membiarkan siapa pun untuk mengganggu mereka. Itu adalah masalah. Mereka selalu bermain petak umpet pada saat-saat penting dalam pekerjaan dan saudara-saudari tidak pernah bisa menemukan mereka ketika mereka dibutuhkan untuk menyelesaikan suatu masalah—bukankah mereka sedang melalaikan tugas mereka yang seharusnya? Mengapa beberapa orang tidak berani menghadapi saudara-saudari setelah mereka menjadi seorang pemimpin? Mengapa mereka tidak bisa ditemukan? Apa sebenarnya yang membuat mereka sibuk? Mengapa mereka tidak menyelesaikan masalah nyata? Apa pun yang mereka lakukan untuk menyibukkan diri, tentang hal ini, engkau dapat yakin: jika mereka pergi selama beberapa waktu tanpa melakukan pekerjaan nyata, mereka adalah pemimpin palsu, dan mereka harus segera diberhentikan, dan seseorang yang lain harus dipilih. Akankah kelak engkau semua memilih pemimpin palsu semacam ini? (Tidak.) Mengapa tidak? Menurutmu, apa akibatnya jika engkau memilih orang buta sebagai pembimbingmu? Orang itu sendiri adalah buta, jadi dapatkah mereka membimbing orang lain ke jalan yang benar? Sebagaimana firman Tuhan katakan dalam Alkitab, "Jika orang buta memimpin orang buta, keduanya akan terperosok ke dalam parit" (Matius 15:14). Orang buta berjalan tanpa arah atau tujuan; bagaimana mereka bisa memimpin orang lain? Jika seseorang memilih orang buta sebagai pembimbingnya, artinya dia jauh lebih buta. Ada pepatah di antara orang tidak percaya: "menanyakan jalan kepada orang buta". Memilih seorang pemimpin palsu untuk melayani sebagai pemimpin gereja artinya menanyakan jalan kepada orang buta. Ini tidak masuk akal, bukan? Semua orang yang memilih pemimpin palsu adalah orang buta yang memilih orang buta, dan tak seorang pun dari mereka yang memahami kebenaran.
Ketika sebagian orang memilih seorang yang memiliki kerohanian palsu untuk menjadi pemimpin, mereka merasa sangat senang dengan berpikir, "Sekarang, kami punya seorang pemimpin yang hebat. Pemimpin kami sangat pandai berkhotbah, menyampaikannya dengan cara yang sangat logis dan teratur, khotbahnya pun sangat masuk akal." Orang-orang yang tidak memiliki kemampuan dalam mengenali bahkan sampai tersentuh hingga meneteskan air mata, mereka merasakan keterikatan yang mendalam dengan pemimpin itu, sampai-sampai enggan untuk pergi melaksanakan tugas. Mereka memahami segala sesuatunya dengan cukup jelas ketika mendengarkan persekutuan, tetapi ketika menemukan masalah dalam melaksanakan tugas, mereka tidak tahu bagaimana menyelesaikannya dan merasa bingung, berpikir, "Rasanya aku memahami segalanya ketika mendengarkan persekutuan pemimpin, lalu mengapa aku tidak bisa menyelesaikan kesulitan yang kuhadapi dalam pekerjaanku?" Apa masalahnya di sini? Semua yang dikhotbahkan oleh pemimpin palsu semacam ini adalah kata-kata dan doktrin, frasa-frasa yang tak bermakna, slogan, dan omong kosong. Yang mereka khotbahkan tidak menyelesaikan masalahmu yang nyata; mereka telah menipumu. Mereka memberimu ilusi, mengatakan beberapa slogan untuk membuatmu secara keliru percaya bahwa masalah telah diselesaikan, padahal sebenarnya mereka tidak mempersekutukan prinsip-prinsip kebenaran yang berkaitan dengan masalahmu. Bagaimana permasalahan dapat diselesaikan dengan cara bersekutu seperti ini? Doktrin yang mereka khotbahkan tidak ada hubungannya dengan masalah-masalah nyata; mereka hanya menghindari esensi dari semua masalah dan berbicara tentang teori dengan cara yang tak bermakna. Mereka hanya mengkhotbahkan kata-kata dan doktrin, serta teori rohani. Mereka tidak tahu apa itu kenyataan kebenaran, dan ketika masalah muncul, mereka menjadi bingung. Khotbah yang mereka sampaikan tidak dapat menyelesaikan masalah nyata, itu hanyalah semacam teori, semacam pengetahuan dan doktrin. Pemimpin palsu seperti ini mengkhotbahkan firman Tuhan dan kebenaran seolah-olah itu hanyalah kata-kata, doktrin, dan slogan. Mereka menghindari semua masalah yang sebenarnya dan hanya mengkhotbahkan kata-kata yang tak bermakna dan tidak nyata. Apa yang akan terjadi pada akhirnya? Berapa pun lama mereka berkhotbah, dampak terbesar dari khotbah mereka hanyalah menyemangati dan menasihati orang, membuat mereka sedikit lebih bersemangat dan memberikan energi sesaat, tetapi mereka sedikit pun tidak mampu menyelesaikan masalah lainnya. Kebenaran tidak terputus dari kenyataan, tetapi justru terkait dengan kenyataan dan dengan semua jenis masalah yang benar-benar ada. Jadi, apakah sekarang engkau akan mampu mengidentifikasi pemimpin palsu yang memiliki kerohanian palsu ketika engkau semua bertemu mereka lagi? Jika engkau tidak mampu mengidentifikasinya, ketika engkau semua ingin memilih seseorang untuk menjadi pemimpin, pertama-tama mintalah orang tersebut untuk menyelesaikan beberapa masalah. Jika orang itu menyelesaikannya berdasarkan prinsip, mencapai hasil yang cukup baik, dan menggunakan kenyataan kebenaran untuk menyelesaikannya, engkau semua dapat memilihnya; jika orang itu menghindar dan tidak berbicara tentang esensi masalah serta situasi yang sebenarnya, dan yang dapat dilakukannya hanyalah mengkhotbahkan doktrin dengan cara yang tak bermakna, meneriakkan slogan-slogan, serta mematuhi aturan-aturan, engkau tidak boleh memilihnya. Mengapa engkau tidak boleh memilihnya? (Karena orang tersebut tidak mampu menyelesaikan masalah nyata.) Lalu, orang macam apa yang tidak mampu menyelesaikan masalah nyata? Seseorang yang hanya dapat mengkhotbahkan kata-kata dan doktrin—mereka adalah orang Farisi yang munafik dan memiliki kerohanian palsu. Mereka tidak memiliki kualitas yang diperlukan untuk memahami kebenaran, tidak memiliki kemampuan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan, tidak mampu menyelesaikan masalah, jadi jika engkau memilihnya untuk menjadi pemimpin, mereka pasti menjadi pemimpin palsu. Mereka tidak mampu melakukan pekerjaan seorang pemimpin atau memenuhi tanggung jawab seorang pemimpin. Jadi, bukankah engkau akan merugikan orang tersebut jika engkau memilihnya? Ada yang berkata, "Bagaimana itu bisa merugikannya? Kami bermaksud baik dengan memilihnya. Orang itu memiliki kualitas tertentu, dan jika kami memilihnya, bukankah kami akan memiliki seseorang yang dapat bertanggung jawab atas pekerjaan itu?" Tentu saja memiliki seseorang yang bertanggung jawab merupakan hal yang baik, tetapi orang semacam ini tidak mampu memikul tanggung jawab tersebut. Yang dapat dilakukannya hanyalah berbicara tentang teori-teori dengan cara yang tak bermakna tanpa mempertimbangkan situasi nyata, dan orang tersebut tidak membantu dalam memecahkan masalah. Jadi, dengan memilihnya, bukankah engkau memberinya kesempatan untuk melakukan kejahatan? Bukankah engkau memaksanya untuk menempuh jalan seorang pemimpin palsu? Oleh karena itu, engkau tidak boleh memilih orang semacam itu untuk menjadi pemimpin.
Apakah engkau semua mampu mengidentifikasi siapa di antara orang-orang di sekitarmu—engkau sering berkomunikasi dan cukup kaukenal—yang hanya mampu berbicara tentang doktrin dengan cara yang tak bermakna dan tak mampu menyelesaikan masalah nyata? Siapa yang selalu mengkhotbahkan teori yang muluk-muluk dan mengusulkan rencana-rencana baru dan unik yang belum pernah didengar siapa pun sebelumnya, tetapi justru menjadi bingung dan tidak bisa berkata-kata ketika ditanya bagaimana menerapkan dan mengimplementasikan rencana operasionalnya secara spesifik serta perincian konkretnya? Yang mereka katakan sangat tak bermakna dan sama sekali tidak realistis, tidak relevan atau tidak sesuai dengan situasi nyata, dengan lingkungan yang sebenarnya, apa yang benar-benar dapat dicapai oleh orang-orang, tingkat pertumbuhan mereka, dan tingkat keterampilan profesionalnya. Terlebih lagi, yang mereka katakan tidak sesuai dengan tuntutan rumah Tuhan; mereka hanya berbicara omong kosong, berkhayal, dan seenaknya melontarkan apa pun yang terlintas dalam benaknya. Mereka mengira tidak perlu bertanggung jawab atas apa pun yang mereka katakan, bahkan ketika mereka membual dan menyombongkan diri. Dengan sikap seperti ini, mereka mengungkapkan pandangan dan mengemukakan ide-idenya—bukankah mereka adalah orang-orang yang memiliki kerohanian palsu? (Ya.) Sebagian orang meyakini bahwa membual, menyombongkan diri, atau melontarkan ide yang muluk-muluk tidak pernah dianggap serius, jadi mereka menggunakannya sebagai kesempatan untuk menunjukkan betapa hebatnya dirinya. Mereka mengira bahwa jika mereka melakukan kesalahan, mereka tidak perlu bertanggung jawab atas hal tersebut, dan jika mereka melakukan sesuatu dengan benar, semua orang akan menghormatinya, sehingga mereka mengatakan apa pun yang mereka inginkan dan membuat semuanya menjadi sangat mudah. Mereka memiliki banyak ide, tetapi tak satu pun dari ide-ide tersebut disertai dengan rencana penerapan yang spesifik dan dapat dilaksanakan dengan baik. Mereka tidak menganggap serius pandangan yang mereka kemukakan, baik yang murni maupun yang menyimpang. Hari ini mereka berbicara begini, besok mereka berbicara begitu, dan meskipun pandangan, teori, dan dasar yang mereka bicarakan semuanya sangat muluk-muluk, itu tak bermakna dan tidak nyata. Terkadang, mereka berbicara tentang rencana yang bermakna atau tidak menyimpang, tetapi ketika ditanya bagaimana rencana tersebut secara spesifik akan dilaksanakan, mereka tidak dapat menjelaskannya. Mereka sangat antusias dan proaktif ketika meneriakkan slogan, mengucapkan perkataan yang muluk-muluk, dan mengungkapkan pandangannya. Namun, ketika harus melakukan pekerjaan secara spesifik dan melaksanakan rencana tertentu, mereka menghilang tanpa jejak, mereka menyembunyikan diri, dan tidak lagi memiliki pandangan. Bisakah orang-orang semacam ini menjadi pemimpin? (Tidak bisa.) Jadi, apa akibatnya jika orang-orang tersebut menjadi pemimpin? Bukankah mereka akan merugikan dirinya sendiri dan orang lain? Mereka akan menyebabkan penundaan terhadap pekerjaan gereja, selain itu, mereka akan menyebabkan kerugian besar pada dirinya sendiri. Doktrin yang dikhotbahkannya hanyalah hal-hal yang terbatas, dan ketika selesai mengkhotbahkannya, mereka tidak memiliki hal lain untuk disampaikan sehingga mereka harus selalu bersembunyi dan "mengasingkan diri untuk berfokus pada pembinaan dirinya." Bukankah ini akan menyulitkan mereka? Begitu menjadi seorang pemimpin, orang-orang tersebut akan merasa seolah-olah ada tiga gunung besar yang menindih kepalanya, merasa lelah setiap hari, dan merasa sangat tertekan—apa gunanya mereka menderita seperti ini? Orang-orang tersebut tidak memiliki kualitas untuk menjadi pemimpin, dan ketika menghadapi masalah, mereka hanya menerapkan peraturan secara acak sesuai dengan imajinasinya dan tidak mampu menyelesaikan masalah nyata—orang seperti ini tidak dapat menjadi pemimpin. Mereka tidak mampu melakukan pekerjaan nyata, yang menjadikannya pemimpin palsu, dan tetap merasa dirinya cukup hebat meskipun menyebabkan penundaan dalam jalan masuk kehidupan saudara-saudari. Jika engkau semua dapat menemukan dan memahami kualitas dan karakter orang-orang yang memiliki kerohanian palsu ini, apakah engkau tetap akan memilihnya menjadi pemimpin? Jika engkau sendiri adalah orang semacam ini dan ada seseorang ingin memilihmu, apa yang akan kaulakukan? (Aku memiliki kesadaran diri dan menyatakan bahwa aku tidak cocok untuk menjadi seorang pemimpin.) Setelah engkau membuat pernyataan tersebut, jika semua orang tetap menganggap bahwa engkau baik dan bersikeras untuk memilihmu, apa yang harus kaulakukan? Katakan kepada mereka, "Aku tidak dapat melaksanakan pekerjaan kepemimpinan, aku tidak dapat memikul pekerjaan itu. Di luarnya, aku terlihat memiliki kualitas tertentu, dan terkadang aku punya ide-ide yang bagus dan memberikan sedikit pencerahan, tetapi sebagian besar yang aku khotbahkan hanyalah kata-kata dan doktrin. Aku benar-benar tidak bisa menjadi seorang pemimpin atau pekerja. Aku tidak lebih baik dari engkau semua. Apa pun yang engkau semua lakukan, tolong jangan pilih aku. Sekalipun aku memperoleh suara terbanyak, aku tetap tidak bisa menjadi pemimpin. Aku tidak ingin merugikan siapa pun! Aku sudah pernah menjadi pemimpin, tetapi selalu gagal dan akhirnya diberhentikan. Setiap kali aku diberhentikan, itu karena kualitasku buruk, aku tidak memiliki kemampuan kerja dan tidak mampu melakukan pekerjaan nyata. Yang dapat kulakukan hanyalah mengkhotbahkan kata-kata dan doktrin, dan selain itu, aku tidak dapat bekerja dengan baik atau memenuhi satu pun tanggung jawab yang seharusnya dipenuhi oleh pemimpin. Aku adalah pemimpin palsu." Inilah yang disebut memiliki kesadaran diri, bukan sekadar mengatakan beberapa patah kata tentang tidak cocok menjadi pemimpin dan kemudian selesai begitu saja. Ada yang berpikir, "Aku telah melaksanakan tugasku dalam kelompok ini selama bertahun-tahun, dan bagaimanapun juga, aku seharusnya dianggap sebagai anggota senior. Walaupun aku tidak pernah memberikan kontribusi, aku telah bekerja keras, jadi mengapa tidak ada yang menemukan kelebihanku? Aku juga memiliki potensi untuk menjadi seorang pemimpin. Aku sering mengemukakan pemikiran, ide, dan saran yang cukup berharga dan yang memberikan manfaat nyata. Terlepas dari apakah pemimpin menggunakannya atau tidak, dalam hal apa pun, aku adalah seseorang yang memiliki sikap, ide, dan pandangan. Mengapa tidak ada yang memilih aku?" Jika ini adalah cara berpikirmu, engkau dapat mengevaluasi dirimu seperti ini: Apakah pemikiran, ide, dan saran yang kaumiliki sekadar pernyataan, atau apakah itu benar-benar memberikan manfaat nyata? Apakah engkau mampu menemukan dan menyelesaikan segala macam kesulitan yang dihadapi dalam pekerjaan? Apakah pemikiran dan idemu dapat digunakan? Apakah engkau mampu memikul tanggung jawab atas pekerjaan itu? Jika pemikiran dan pandanganmu hanya sebatas kata-kata dan doktrin, sama sekali tidak memberikan manfaat nyata, dan yang lebih penting, sama sekali tidak sesuai dengan prinsip-prinsip pekerjaan rumah Tuhan, seperti apakah sebenarnya kualitasmu? Ketika engkau dipilih menjadi seorang pemimpin, apakah engkau kemudian mampu memenuhi tanggung jawab sebagai pemimpin dan pekerja? Apakah engkau ingin menjadi seorang pemimpin karena ambisi, atau karena merasa memiliki beban? Jika engkau benar-benar memiliki kemampuan kerja, kemampuan untuk menyelesaikan masalah, merasa cemas ketika melihat pemimpin dan pekerja tertentu melaksanakan pekerjaan dengan sangat buruk dan tidak mampu menyelesaikan masalah apa pun, engkau memberikan saran kepadanya, tetapi tidak didengarkan, mereka tidak mampu menyelesaikan masalah, tetapi tidak melaporkannya kepada Yang di Atas, engkau merasa khawatir serta cemas terhadap pekerjaan rumah Tuhan, dan engkau merasa sangat kesal ketika melihat pemimpin palsu menyebabkan penundaan terhadap pekerjaan gereja, ini menunjukkan bahwa engkau memiliki rasa beban. Namun, jika engkau ingin mendapatkan persetujuan semua orang, mendapatkan lebih banyak pendengar, membuat lebih banyak orang mendengarkan khotbah serta ceramahmu, hanya karena engkau memiliki sejumlah ide, dan jika engkau ingin menonjol dari orang banyak, ini bukanlah merasa memiliki beban—ini adalah ambisi. Orang yang ambisius hanya dapat mengkhotbahkan kata-kata dan doktrin, dan sedikit ide yang mereka miliki pun hanyalah kata-kata dan doktrin tak bermakna. Ketika orang semacam ini menjadi pemimpin, mereka pasti akan menjadi pemimpin palsu, dan jika mereka adalah orang jahat, mereka adalah antikristus. Jika ide-idemu tetap pada level kata-kata tak bermakna, begitu menjadi seorang pemimpin, engkau pasti akan sama saja dengan semua pemimpin palsu yang memiliki kerohanian palsu. Engkau akan selalu pergi "mengasingkan diri untuk berfokus pada pembinaan dirimu," jika tidak, engkau akan merasakan krisis dan tidak memiliki apa pun untuk dikhotbahkan. Jika engkau sama seperti mereka, berdiri dengan angkuh dan berkhotbah dengan sikap superior, tetapi tidak mampu menemukan masalah yang ada dalam pekerjaan, dan tentu saja, juga tidak mampu menyelesaikan masalah apa pun, engkau pasti akan menjadi pemimpin palsu. Apa yang terjadi pada pemimpin palsu pada akhirnya? Mereka diberhentikan dari jabatannya karena tidak mampu melakukan pekerjaan nyata—pemimpin palsu pasti akan menempuh jalan ini.
Ada banyak orang yang selalu merasa geram dan siap untuk bertindak dalam hatinya, dan setiap kali tiba saatnya untuk memilih seorang pemimpin atau pengawas, mereka selalu ingin menjadi orang yang dipilih. Sebagian orang merasa dirinyalah yang paling lama percaya kepada Tuhan, paling banyak menanggung kesulitan, paling lama melaksanakan tugas, paling setia, dan paling memenuhi syarat untuk menjadi seorang pemimpin, sehingga mereka ingin orang lain memilihnya. Apa yang mampu kaulakukan jika orang lain memilihmu? Apakah engkau akan mampu menghindari mendapatkan gelar sebagai pemimpin palsu? Apakah engkau mampu memenuhi tanggung jawab sebagai pemimpin dan pekerja? Semua ini adalah masalah nyata, tetapi tidak ada yang mempertimbangkan hal-hal tersebut. Di tengah orang-orang ini, sebagiannya memiliki kualitas yang cukup baik. Mereka dapat mencari kebenaran ketika ada masalah dalam tugasnya, dan ketika memahami kebenaran dan mampu menangani masalah berdasarkan prinsip, mereka dapat memenuhi standar. Asalkan orang-orang ini memahami kebenaran, mencintai kebenaran, dan dapat mengejar kebenaran, serta memiliki kemanusiaan yang relatif baik, tidak akan ada masalah bagi mereka untuk menjadi pemimpin dan pekerja yang memenuhi standar—itu tidak akan terlalu sulit bagi mereka. Sebagian orang selalu mengeluh bahwa pekerjaan yang dilakukannya sulit, mereka tidak mau berusaha atau membayar harga ketika menyangkut kebenaran, dan mereka menggerutu ketika dipangkas. Dapatkah orang-orang semacam itu menjadi pemimpin dan pekerja yang memenuhi standar? Niat dan sikapnya sudah salah, mereka bukanlah orang yang mengejar kebenaran, dan apa pun yang Tuhan tuntut darinya, mereka tetap mempertahankan sikap negatif. Orang-orang semacam ini tidak layak menjadi pemimpin dan pekerja. Mereka tidak merasa memiliki beban di hatinya, dan sejelas atau segamblang apa pun pengaturan kerja rumah Tuhan, mereka tetap tidak mau bekerja keras untuk melakukan pekerjaan dengan baik. Sebenarnya, tidaklah sulit untuk melakukan pekerjaan dengan baik. Mengapa tidak sulit? Pertama, rumah Tuhan memiliki pengaturan kerja yang spesifik untuk semua pekerjaan gereja, dan Yang di Atas telah membuat ketentuan khusus untuk itu. Jadi, engkau semua tidak diharuskan untuk berinovasi dalam bidang pekerjaan apa pun, atau menyelesaikannya secara mandiri. Yang di Atas telah memberimu ruang lingkup dan arahan, memberimu prinsip, dan memberimu standar minimum; dalam melakukan pekerjaanmu, engkau tidak sedang membuang garam ke laut atau tanpa arahan apa pun. Kedua, dengan setiap bidang pekerjaan, siapa pun pengawasnya, dan entah itu fokus pekerjaannya di luar negeri entah di dalam negeri, hal yang paling utama adalah saudara Yang di Atas secara khusus menindaklanjuti, membimbing, mengawasi, memeriksa, menyaring pekerjaan tersebut, dan sering menanyakannya. Seberapa spesifik tindakan-tindakan ini? Saudara Yang di Atas terlibat langsung di dalamnya dan menindaklanjuti setiap naskah, setiap film, setiap program, setiap lagu pujian, dan seterusnya. Aku juga terlibat dalam beberapa pekerjaan, memberi engkau semua arahan umum dan kerangka kerja. Ketiga, untuk setiap aspek pekerjaan yang berkaitan dengan prinsip-prinsip kebenaran, Yang di Atas juga sering bersekutu kepada engkau semua tentang prinsip-prinsip kebenaran dan membimbing pekerjaanmu; Yang di Atas juga memangkasmu, melakukan pemeriksaan untuk engkau semua, dan setiap saat, Yang di Atas akan mengoreksi penyimpanganmu. Keempat, dalam hal personel dan pekerjaan administratif penting, Yang di Atas akan langsung membantumu dengan melakukan pemeriksaan dan membuat keputusan. Faktanya adalah apa pun pekerjaan yang engkau semua lakukan, engkau tidak menyelesaikannya secara mandiri; semuanya diatur, dipimpin, diarahkan, dan disaring oleh Yang di Atas. Jadi, apa yang engkau semua lakukan? Engkau semua hanya menikmati hal-hal yang sudah jadi—engkau semua sangat diberkati! Engkau tidak perlu khawatir tentang apa pun; engkau hanya perlu mulai bekerja dengan tangan dan kakimu. Ini adalah pekerjaan yang menjadi tanggung jawab engkau semua. Apakah engkau semua pernah membayar harga tambahan? (Tidak.) Yang di Atas telah melakukan semua pekerjaan besar dan penting ini; oleh karena itu, pekerjaan yang engkau semua lakukan semuanya sangat mudah dan tidak ada kesulitan besar sama sekali. Dalam keadaan seperti itu, jika orang-orang tetap tidak melakukan pekerjaannya dengan baik, itu tidak dapat dimaafkan, dan membuktikan bahwa mereka sama sekali tidak sepenuh hati dan tidak mengerahkan upayanya dalam pekerjaannya atau memenuhi tanggung jawabnya. Sebagian orang berkata, "Siapa yang tidak memiliki kekurangan saat melakukan pekerjaan? Apakah orang tidak boleh punya masalah?" Engkau semua tidak diharuskan untuk mencapai nilai sempurna dalam pekerjaanmu; engkau semua hanya diharuskan untuk mencapai nilai lulus, dan jika demikian, engkau akan dianggap telah memenuhi tanggung jawab pemimpin dan pekerja. Apakah ini terlalu menuntut? (Tidak.) Dengan arahan dan penyaringan dari Yang di Atas, mencapai nilai lulus tersebut mudah; itu hanya tergantung apakah orang tersebut sungguh-sungguh mengejar kebenaran. Jika mereka tidak berusaha ketika menyangkut kebenaran, selalu ingin bersikap asal-asalan, merasa puas hanya dengan menjalani formalitas ketika bekerja, tidak melakukan hal buruk, tidak menimbulkan gangguan atau kekacauan, dan tidak ada yang mengganggu hati nuraninya, mereka tidak dapat mencapai nilai lulus. Sebagian besar pemimpin dan pekerja memiliki sikap seperti ini ketika bekerja; mereka melakukan sedikit pekerjaan tetapi tidak mau terlalu lelah, mereka merasa puas dengan hanya menjadi biasa-biasa saja, dan mengenai seperti apa hasil pekerjaannya, mereka menganggap bahwa itu adalah urusan Tuhan dan itu tidak ada hubungannya dengan mereka. Apakah sikap seperti ini dapat diterima? Jika engkau memiliki sikap seperti itu, pekerjaan yang dapat kaulakukan sangat terbatas dan engkau tidak mengerahkan seluruh tenagamu untuk itu, yang menunjukkan bahwa engkau tidak mampu melakukan pekerjaan nyata atau tidak melakukan pekerjaan nyata sehingga engkau seharusnya didefinisikan sebagai pemimpin palsu—hal ini sepenuhnya tepat dan adil. Sebagian orang selalu berkata, "Tuntutan-Mu terhadap kami terlalu tinggi. Jika kami tidak melakukan pekerjaan ini, berarti kami adalah pemimpin palsu, dan jika kami tidak memenuhi tuntutan itu, berarti kami juga pemimpin palsu. Apa anggapan-Mu terhadap kami? Kami bukan robot, kami tidak sempurna. Kami hanya orang biasa, kami hanyalah manusia biasa. Engkau memberi tahu kami untuk menjadi orang biasa, orang pada umumnya, jadi mengapa Engkau memiliki tuntutan yang begitu tinggi terhadap kami sebagai pemimpin?" Sebenarnya, tuntutan-Ku terhadap engkau semua tidaklah tinggi. Aku hanya memintamu untuk memenuhi tanggung jawab yang seharusnya dipenuhi oleh manusia. Ini adalah sesuatu yang harus dan wajib kaulakukan, dan itu adalah sesuatu yang mampu kaucapai sebagai pemimpin dan pekerja. Namun, jika engkau tidak berusaha keras dalam kebenaran, dan selalu takut menderita kesulitan dan selalu mendambakan kenyamanan, apa pun alasan atau dalihmu, engkau pasti akan menjadi pemimpin palsu. Ini seperti hal-hal yang seharusnya dicapai oleh orang-orang dengan kemanusiaan yang normal dan yang seharusnya diperhatikan oleh orang dewasa, seperti jam berapa orang dewasa harus bangun pagi, berapa kali mereka harus makan, berapa jam mereka harus bekerja dalam sehari, kapan mereka harus mencuci pakaian kotor—semua ini harus kautangani sendiri, dan tidak perlu menanyakannya kepada orang lain. Jika engkau bertanya kepada orang lain tentang segala hal dan engkau tidak mengerti apa-apa, bukankah ini berarti engkau kurang cerdas dan orang yang bodoh? Bukankah itu berarti engkau tidak mampu mengurus dirimu sendiri? Bisakah orang-orang seperti ini menjadi pemimpin? Bukankah mereka adalah pemimpin palsu? Orang semacam itu harus diberhentikan. Orang seperti ini tetap ingin mempertahankan posisinya dan tidak mau turun dari jabatannya, serta mereka tetap ingin menjadi pemimpin! Setelah beberapa pemimpin palsu diberhentikan, mereka merasa telah diperlakukan secara tak adil dan tidak berhenti menangis karenanya. Mereka menangis sampai mata mereka bengkak. Mengapa mereka menangis? Karena mereka tidak tahu seperti apa dirinya sebenarnya. Ketika Aku berkata bahwa tuntutan-Ku terhadap orang-orang tidaklah tinggi, yang Kumaksudkan adalah apa yang diminta kepadamu adalah hal-hal yang dapat kaucapai; jalannya sudah dipersiapkan untukmu dan ruang lingkupnya telah ditetapkan, serta keputusan telah dibuat, dan engkau hanya perlu bertindak. Itu sama seperti makan: Biji-bijian, sayuran, semua jenis bumbu, dan panci juga kompor telah disiapkan untukmu, yang perlu kaulakukan hanyalah belajar cara memasak; inilah yang seharusnya dilakukan dan dicapai oleh orang dewasa. Jika engkau tak mampu mencapai hal tersebut, engkau adalah orang bodoh, dan engkau tidak bisa terhitung dalam jajaran kecerdasan orang dewasa normal. Sejumlah pemimpin tidak mampu melakukan pekerjaan nyata ini, jadi mereka harus diberhentikan. Jadi, bagaimana kita dapat mendefinisikan dan menentukan apakah seseorang mampu melakukan jenis pekerjaan ini? Jika engkau memiliki kecerdasan dan kualitas seperti orang dewasa, dan engkau memiliki kesadaran dan rasa tanggung jawab yang seharusnya dimiliki orang dewasa, engkau seharusnya mampu melakukan pekerjaan semacam ini. Jika engkau tidak mampu, atau engkau tidak melakukannya, berarti engkau adalah pemimpin palsu. Begitulah cara menentukannya, dan penentuan tersebut akurat. Ini bukanlah kutukan atau penghakiman terhadap seseorang, jadi apakah ini terlalu keras? Semua fakta telah dipaparkan, dan ini sama sekali tidak keras.
Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.
Beberapa materi dalam video ini berasal dari: 【All Bible quotations in this video are translated freely from English Bible.】...