Tanggung Jawab Para Pemimpin dan Pekerja (4) Pasal Dua

Seorang pemimpin gereja setidaknya harus memiliki hati nurani dan nalar, serta memahami sejumlah kebenaran—hanya dengan begitu mereka dapat merasakan beban. Apa sajakah perwujudan dari perasaan terbebani? Jika mereka melihat ada yang bersikap negatif, ada yang memiliki pemahaman yang menyimpang, ada yang menghambur-hamburkan aset rumah Tuhan, ada yang melakukan pekerjaannya dengan asal-asalan, ada yang tidak melakukan pekerjaan yang seharusnya dilakukan ketika melaksanakan tugasnya, ada yang selalu melontarkan perkataan yang muluk-muluk tetapi tidak melakukan pekerjaan nyata…, lalu mendapati bahwa ada terlalu banyak masalah di dalam gereja dan perlu diselesaikan, dan melihat begitu banyak pekerjaan yang belum terselesaikan, mereka pun mulai merasa terbebani. Sejak menjadi pemimpin, rasanya seperti ada api yang terus membara di dalam hatinya; jika mereka menemukan masalah dan tidak bisa menyelesaikannya, mereka akan merasa khawatir dan cemas, sampai kehilangan selera makan atau sulit tidur. Pada saat pertemuan, ketika sebagian orang melaporkan masalah dalam pekerjaannya yang tidak dapat langsung mereka pahami dan selesaikan, pemimpin ini tidak menyerah; mereka merasa harus menyelesaikan masalah tersebut. Setelah berdoa dan mencari, serta merenungkannya selama dua hari, begitu mereka tahu bagaimana menyelesaikannya, mereka segera menyelesaikan masalah tersebut. Setelah masalah itu terselesaikan, mereka segera memeriksa pekerjaan lainnya dan menemukan ada masalah lain, yaitu terlalu banyak orang yang terlibat dalam suatu pekerjaan sehingga perlu dilakukan pengurangan personel. Mereka pun segera mengadakan pertemuan, memahami situasinya dengan jelas, mengurangi jumlah personel, dan menyusun pengaturan yang wajar. Dengan demikian, masalah itu pun terselesaikan. Apa pun pekerjaan yang sedang mereka periksa, pemimpin yang terbeban akan selalu mampu mengidentifikasi masalahnya. Untuk setiap masalah yang berkaitan dengan pengetahuan profesional, atau yang melanggar prinsip, mereka akan mampu mengidentifikasi masalah tersebut, bertanya tentangnya, dan mendapatkan pemahaman mengenainya, dan setelah mereka menemukan masalahnya, mereka segera menyelesaikannya. Para pemimpin dan pekerja yang cerdas hanya menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan pekerjaan gereja, pengetahuan profesional, dan prinsip-prinsip kebenaran. Mereka tidak memperhatikan hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari. Mereka mengurus setiap aspek dari pekerjaan penyebarluasan Injil yang Tuhan amanatkan. Mereka bertanya dan memeriksa masalah apa pun yang dapat mereka lihat atau temukan. Jika mereka sendiri tidak mampu menyelesaikan masalahnya pada saat itu, mereka berkumpul dengan para pemimpin dan pekerja lainnya, bersekutu dengan mereka, mencari prinsip-prinsip kebenaran, dan memikirkan cara untuk menyelesaikannya. Jika mereka menghadapi masalah besar yang benar-benar tak mampu mereka selesaikan, mereka segera mencari dari Yang di Atas, dan membiarkan Yang di Atas yang menangani dan menyelesaikannya. Pemimpin dan pekerja seperti ini adalah orang-orang yang berprinsip dalam tindakan mereka. Apa pun masalah yang ada, asalkan mereka telah melihatnya, mereka tidak akan membiarkannya begitu saja; mereka bersikeras untuk memahami masalah tersebut sepenuhnya dan kemudian menyelesaikannya satu per satu. Sekalipun masalah tersebut tidak diselesaikan secara menyeluruh, dapat dipastikan bahwa masalah tersebut tidak akan muncul lagi. Ini berarti melaksanakan tugas dengan sepenuh hati, kekuatan, dan pikiran, serta sepenuhnya memenuhi tanggung jawabnya. Pemimpin dan pekerja palsu yang tidak melakukan pekerjaan nyata atau tidak berfokus pada penyelesaian masalah nyata tidak mampu menemukan masalah yang ada di depan matanya, dan tidak tahu pekerjaan apa yang seharusnya dilakukan. Asalkan mereka melihat saudara-saudari sibuk melaksanakan tugasnya, mereka sangat puas, merasa bahwa itu adalah hasil dari pekerjaan nyata mereka; pemimpin palsu dan pekerja palsu ini menganggap bahwa semua aspek pekerjaan sudah cukup baik dan tidak ada banyak hal yang perlu mereka lakukan sendiri, atau tidak banyak masalah yang perlu diselesaikan sendiri, jadi kemudian mereka berfokus untuk menikmati keuntungan dari statusnya. Mereka selalu ingin memamerkan diri dan membanggakan diri di hadapan saudara-saudari. Setiap kali bertemu saudara-saudari, mereka berkata, "Jadilah orang percaya yang baik. Laksanakan tugasmu dengan baik. Jangan hanya melakukannya sekadar formalitas. Jika engkau tidak menurut atau membuat masalah, aku akan memberhentikanmu!" Pemimpin palsu ini hanya tahu bagaimana menegaskan statusnya dan menceramahi orang lain. Dalam pertemuan, mereka selalu menanyakan masalah apa yang ada dalam pekerjaan dan apakah bawahannya mengalami kesulitan. Namun, ketika ada yang menyampaikan masalah dan kesulitannya, mereka tidak mampu menyelesaikannya. Meskipun demikian, mereka tetap bahagia dan tetap menjalani hidup dengan hati yang tenang. Jika saudara-saudari tidak mengemukakan kesulitan atau masalah apa pun, mereka merasa telah melakukan pekerjaannya dengan sangat baik dan berpuas diri. Pemimpin palsu ini mengira bahwa menanyakan pekerjaan adalah tugas yang dipercayakan kepadanya. Ketika permasalahan muncul dan Yang di Atas meminta pertanggungjawabannya, pemimpin palsu ini pun tertegun. Orang lain sudah mengemukakan kesulitan dan masalah pekerjaan di hadapannya, tetapi mereka justru mengeluh mengapa orang-orang itu tidak mencari kebenaran untuk menyelesaikannya. Bukannya menyelesaikan sendiri masalah nyata, mereka justru melemparkan tanggung jawab kepada pengawas di bawahnya dan menegur dengan keras orang-orang yang melaksanakan tugas khusus. Teguran ini bisa membuatnya melampiaskan amarah, dan bahkan merasa dengan hati nurani yang tenang bahwa dirinya sedang melakukan pekerjaan nyata. Mereka tidak pernah merasa khawatir atau cemas karena tidak mampu menemukan atau menyelesaikan masalah, atau sampai kehilangan selera makan atau sulit tidur karena hal tersebut—mereka tidak pernah mengalami penderitaan seperti ini.

Setiap kali Aku mengunjungi gereja pertanian, Aku menyelesaikan sejumlah masalah. Aku pergi ke sana bukan karena Aku menemukan sejumlah persoalan khusus yang perlu ditangani, melainkan hanya karena Aku punya waktu luang untuk berkeliling dan melihat bagaimana pekerjaan berbagai tim di gereja berjalan, serta bagaimana keadaan orang-orang di setiap tim. Aku mengumpulkan para pengawas untuk berbicara, menanyakan pekerjaan apa yang telah mereka lakukan selama periode ini, dan masalah apa saja yang ada, membiarkan mereka mengemukakan sejumlah persoalan, dan kemudian Aku bersekutu dengan mereka tentang bagaimana menyelesaikannya. Ketika bersekutu dengan mereka, Aku juga dapat menemukan beberapa masalah baru. Salah satunya berkaitan dengan bagaimana pemimpin dan pekerja melakukan pekerjaannya; yang lainnya adalah masalah dalam pekerjaan dalam lingkup tanggung jawab mereka. Selain itu, Aku juga membantu dan membimbing mereka tentang bagaimana melakukan pekerjaan khusus, bagaimana menerapkannya, pekerjaan apa yang harus dilakukan, dan kemudian menindaklanjutinya pada kunjungan berikutnya dengan menanyakan bagaimana kemajuan pekerjaan yang ditugaskan sebelumnya. Pengawasan, dorongan, dan tindak lanjut seperti itu memang diperlukan. Meskipun hal ini tidak dilakukan dengan banyak hiruk-pikuk dan teriakan, atau menggunakan pengeras suara untuk mengumumkan sesuatu, pekerjaan dan tugas khusus ini tetap dikomunikasikan dan dilaksanakan melalui sejumlah pemimpin dan pekerja yang dapat melakukan pekerjaan nyata. Dengan demikian, pekerjaan masing-masing tim menjadi teratur dan mengalami perkembangan, efisiensi kerja meningkat, dan hasilnya pun lebih baik. Pada akhirnya, setiap orang dalam setiap tim dapat berpegang teguh pada tugasnya masing-masing, mengetahui apa yang harus mereka lakukan dan bagaimana melakukannya. Setidaknya, setiap orang melaksanakan tugas yang seharusnya, mereka semua memiliki tugas yang harus dilaksanakan, dan yang mereka lakukan sesuai dengan tuntutan rumah Tuhan dan juga dapat dilakukan sesuai dengan prinsip-prinsipnya. Bukankah ini berarti sudah mencapai sejumlah hasil? Apakah pemimpin palsu tahu bagaimana bekerja dengan cara seperti ini? Pemimpin palsu akan berpikir, "Jadi, beginilah cara Yang di Atas melaksanakan pekerjaan, mengumpulkan sejumlah orang untuk berbicara, setiap orang mencatat di buku kecil, dan setelah catatan dibuat, pekerjaan Yang di Atas pun selesai. Jika begini cara Yang di Atas bekerja, kami juga akan melakukannya dengan cara yang sama." Dengan demikian, pemimpin palsu pun meniru cara tersebut. Mereka meniru tampilan luarnya, tetapi pada akhirnya, mereka sama sekali tidak melakukan pekerjaan nyata, tidak melaksanakan satu pun tugas yang telah diberikan kepadanya, dan hanya membuang-buang waktu dengan obrolan yang tidak penting. Terkadang, Aku juga pergi ke ladang sayur dan rumah kaca untuk melihat bagaimana pertumbuhan bibit, atau untuk mencari tahu tentang berapa banyak siklus tanaman yang dapat ditanam di rumah kaca selama musim dingin, dan seberapa sering tanaman perlu disiram. Tugas-tugas ini, baik besar maupun kecil, semuanya melibatkan masalah teknis yang berkaitan dengan penanaman sayur, dan selama seseorang melakukannya dengan tekun, mereka dapat menyelesaikannya. Apa kepalsuan yang paling utama dari pemimpin palsu? Yang paling mencolok adalah tidak melakukan pekerjaan nyata; mereka hanya melakukan beberapa tugas yang membuat dirinya tampak baik dan kemudian menganggapnya sudah selesai, setelah itu, mereka mulai menikmati keuntungan dari statusnya. Sebanyak apa pun pekerjaan semacam ini yang dilakukannya, apakah itu berarti mereka melaksanakan pekerjaan nyata? Sebagian besar pemimpin palsu memahami kebenaran secara tidak murni, hanya memahami beberapa kata dan doktrin, yang membuatnya sangat sulit untuk melakukan pekerjaan nyata dengan baik. Sebagian dari pemimpin palsu bahkan tidak mampu menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan urusan umum; mereka jelas memiliki kualitas yang buruk dan tidak memiliki pemahaman rohani. Sama sekali tidak ada gunanya dalam membina mereka. Ada pemimpin palsu yang sebenarnya sedikit berkualitas, tetapi mereka tidak melakukan pekerjaan nyata, dan mereka ingin menikmati kenyamanan daging. Orang yang ingin menikmati kenyamanan daging tidak banyak berbeda dari babi. Babi menghabiskan hari-harinya dengan tidur dan makan. Mereka tidak melakukan apa-apa. Namun, setelah bekerja keras selama setahun untuk memberi mereka makan, ketika seluruh keluarga makan daging mereka pada akhir tahun, babi-babi itu dapat dikatakan ada gunanya. Jika seorang pemimpin palsu dipelihara seperti babi, makan dan minum gratis tiga kali setiap hari, tumbuh gemuk dan kuat, tetapi mereka tidak melakukan pekerjaan nyata apa pun dan merupakan orang-orang tidak berguna, bukankah memelihara mereka adalah sia-sia? Apakah ada gunanya? Mereka hanya bisa berfungsi sebagai kontras dan harus disingkirkan. Sebenarnya, lebih baik memelihara babi daripada pemimpin palsu. Pemimpin palsu mungkin memiliki gelar "pemimpin", mereka mungkin menempati kedudukan ini, makan enak tiga kali sehari, menikmati banyak anugerah Tuhan, tumbuh gemuk dan segar karena semua yang mereka makan menjelang akhir tahun—tetapi bagaimana dengan pekerjaan? Lihatlah semua yang telah tercapai dalam pekerjaanmu tahun ini: Apakah engkau telah memperoleh hasil di bidang pekerjaan apa pun tahun ini? Pekerjaan nyata apa yang telah kaulakukan? Rumah Tuhan tidak menuntutmu untuk melakukan setiap pekerjaan dengan sempurna, tetapi engkau harus melakukan pekerjaan utama dengan baik—misalnya, pekerjaan penginjilan, atau pekerjaan pembuatan film, pekerjaan tulis-menulis, dan sebagainya. Semua ini harus membuahkan hasil. Dalam keadaan normal, kebanyakan pekerjaan harus membuahkan beberapa hasil dan pencapaian setelah tiga sampai lima bulan; jika tidak ada pencapaian setelah satu tahun, maka ini adalah masalah serius. Dalam lingkup tanggung jawabmu, pekerjaan manakah yang paling membuahkan hasil? Pekerjaan manakah yang engkau bayar harga terbesar dan paling banyak menderita sepanjang tahun? Tunjukkanlah pencapaianmu, dan renungkanlah apakah engkau telah memperoleh pencapaian yang berharga setelah setahun menikmati kasih karunia Tuhan; engkau harus memiliki kesadaran yang jelas mengenai hal ini di dalam hatimu. Apa sebenarnya yang engkau lakukan saat engkau makan makanan rumah Tuhan dan menikmati kasih karunia Tuhan selama ini? Sudahkah engkau mencapai sesuatu? Jika engkau belum mencapai apa pun, artinya engkau hanya bersikap asal-asalan; engkau benar-benar pemimpin palsu. Haruskah pemimpin seperti itu diberhentikan dan disingkirkan? (Ya.) Apakah engkau semua bisa mengenali pemimpin palsu seperti ini ketika bertemu dengan mereka? Apakah engkau dapat melihat bahwa mereka adalah pemimpin palsu, yang hanya bertindak asal-asalan demi mendapatkan makan gratis? Pemimpin itu makan sampai mulutnya berminyak, tetapi tidak pernah terlihat khawatir atau cemas tentang pekerjaan, tidak berpartisipasi dalam tugas-tugas khusus apa pun atau menanyakannya. Kalaupun menanyakannya, itu pasti ada alasannya; pemimpin palsu tersebut hanya melakukannya ketika Yang di Atas menekannya untuk meminta hasil, dan kalau Yang di Atas tidak mendesaknya, pemimpin ini pun tidak akan peduli. Mereka selalu menikmati kesenangan, sering menonton film atau acara TV. Mereka melimpahkan pekerjaan kepada orang lain, sementara semua orang sibuk melaksanakan tugasnya, mereka justru beristirahat dan menikmati kenyamanan. Jika ada masalah dan engkau mencoba mencarinya untuk menanganinya, pemimpin ini tidak bisa ditemukan. Namun, mereka tidak pernah terlambat untuk datang makan. Setelah makan, ketika semua orang kembali bekerja, mereka justru pergi bersantai lagi. Jika engkau bertanya, "Mengapa engkau tidak keluar dan memeriksa pekerjaan? Semua orang sedang menunggu arahan dan pengaturanmu!" Mereka menjawab, "Mengapa harus menungguku? Engkau semua bisa melakukannya, engkau semua tahu bagaimana melakukannya—bukankah hasilnya sama saja biarpun aku tidak ada? Tidak bisakah aku beristirahat sebentar?" Ketika ditanya lagi, "Apakah itu istirahat? Engkau hanya menonton film!" Pemimpin itu menjawab, "Aku sedang belajar keterampilan profesional, mempelajari bagaimana film dibuat." Mereka bahkan mencari-cari alasan. Mereka menonton film demi film, dan ketika semua orang beristirahat di malam hari, mereka juga beristirahat. Setiap hari, mereka hanya bertindak dengan asal-asalan seperti ini, tetapi sejauh mana? Semua orang merasa tidak suka dengannya, mereka membuat semua orang merasa canggung, dan akhirnya, tidak ada yang memperhatikannya. Katakan kepada-Ku, jika pemimpin semacam ini tidak menjadi penanggung jawab, apakah pekerjaan tetap dapat berjalan? Tanpa mereka, apakah bumi berhenti berputar? (Bumi terus berputar.) Jika demikian, mereka harus disingkapkan agar setiap orang dapat melihat bahwa mereka tidak melaksanakan tugas mereka dengan semestinya dan tidak seorang pun boleh dikekang oleh mereka. Pemimpin palsu yang tidak melaksanakan tugas dengan semestinya tersebut harus disingkapkan dan ditelaah agar setiap orang dapat mengenali mereka, dan kemudian mereka harus diberhentikan dan diabaikan! Ketika bertemu dengan pemimpin palsu seperti ini, apakah engkau semua bisa mengenalinya? Tanpa pemimpin palsu, apakah engkau semua akan merasa seperti pelaut tanpa kapten? Apakah engkau semua bisa menyelesaikan pekerjaan dan tugas secara mandiri? Jika tidak, berarti engkau semua berada dalam bahaya. Menghadapi pemimpin palsu semacam ini, yang tidak melaksanakan tugas mereka dengan semestinya, yang tidak memberi teladan, dan menghabiskan waktu dengan mengobrol di dunia maya—apakah engkau semua akan memiliki kemampuan untuk mengenali dalam situasi seperti ini? Apakah engkau semua akan terpengaruh oleh mereka untuk terlibat juga dalam obrolan tak bermakna dan menunda-nunda tugasmu? Apakah engkau masih bisa mengikuti pemimpin palsu seperti ini? (Tidak.)

Ada para pemimpin palsu yang rakus dan malas, lebih menyukai kenyamanan daripada kerja keras. Mereka tidak mau bekerja ataupun khawatir, tidak mau berusaha dan bertanggung jawab, hanya ingin menikmati kenyamanan. Mereka suka makan dan bermain, dan sangat malas. Ada seorang pemimpin palsu yang baru bangun di pagi hari setelah semua orang selesai makan, dan pada malam hari, dia masih menonton drama TV sementara semua orang lainnya sudah beristirahat. Seorang saudara yang bertanggung jawab untuk memasak tidak tahan lagi dan mengkritiknya. Apakah menurutmu orang itu akan mendengarkan seorang juru masak? (Tidak.) Misalkan seorang pemimpin atau pekerja menegurnya, dengan berkata, "Kau harus lebih rajin; pekerjaan yang perlu dilakukan harus dilakukan. Sebagai seorang pemimpin, kau harus memenuhi tanggung jawabmu apa pun pekerjaannya; kau harus memastikan bahwa tidak ada masalah dengan pekerjaan tersebut. Sekarang telah ditemukan masalah, dan kau tidak hadir untuk menyelesaikannya; ini memengaruhi pekerjaan. Jika kau selalu bekerja dengan cara ini, bukankah ini menunda pekerjaan gereja? Mampukah kau memikul tanggung jawab ini?" Apakah orang itu akan mendengarkannya? Belum tentu. Terhadap para pemimpin palsu semacam itu, kelompok pengambil keputusan harus segera memberhentikan mereka dan membuat pengaturan kerja yang lain untuk mereka, membiarkan mereka melakukan apa pun yang mampu mereka lakukan. Jika mereka tidak berguna, ingin menumpang hidup di mana pun mereka berada, tidak mampu melakukan apa pun, suruhlah mereka pergi tanpa membiarkan mereka melaksanakan tugas apa pun. Mereka tidak layak melaksanakan tugas; mereka bukan manusia, mereka tidak memiliki hati nurani dan nalar kemanusiaan yang normal, mereka tidak tahu malu. Terhadap para pemimpin palsu semacam itu, yang sama saja dengan pengangguran, setelah diri mereka yang sebenarnya dikenali, mereka harus langsung diberhentikan; tidak perlu berusaha menasihati mereka, dan mereka tidak boleh diberi kesempatan sedikit pun untuk mengamati, juga tidak perlu mempersekutukan kebenaran kepada mereka. Bukankah mereka sudah cukup mendengar kebenaran? Seandainya mereka dipangkas, dapatkah mereka berubah? Tidak. Jika seseorang memiliki kualitas yang buruk, terkadang memiliki pandangan yang tidak masuk akal, atau tidak mampu melihat gambaran yang utuh karena ketidaktahuan, tetapi dia rajin, memikul beban, dan tidak malas, maka meskipun ada penyimpangan ketika melaksanakan tugasnya, orang semacam itu dapat bertobat ketika menghadapi dirinya dipangkas. Setidaknya, dia mengetahui tanggung jawab seorang pemimpin dan tahu apa yang harus dia lakukan, dia memiliki hati nurani dan rasa tanggung jawab, serta memiliki hati. Namun, orang-orang yang malas, yang lebih menyukai kenyamanan daripada kerja keras, dan tidak memiliki beban, tidak dapat berubah. Tidak ada beban di hati mereka; siapa pun yang memangkas mereka, itu tidak ada gunanya. Ada yang berkata, "Jika demikian, apabila penghakiman, hajaran, ujian, dan pemurnian Tuhan menimpa mereka, apakah itu akan mengubah persoalan mereka yang tidak terbebani?" Hal ini tidak dapat diubah; itu ditentukan oleh natur seseorang, seperti anjing yang tidak dapat mengubah kebiasaannya memakan kotoran. Setiap kali engkau melihat seseorang yang malas dan tidak terbebani serta menjabat sebagai pemimpin, sudah pasti orang itu adalah pemimpin palsu. Ada yang mungkin berkata, "Bagaimana engkau bisa menyebutnya pemimpin palsu? Orang itu berkualitas baik, cerdas, dapat memahami berbagai hal, dan mampu menyusun rencana. Di dunia, mereka pernah mengelola bisnis, menjabat sebagai direktur utama; mereka berpengetahuan luas, berpengalaman, dan memiliki wawasan yang luas!" Apakah sifat-sifat ini bisa menyelesaikan masalah mereka yang malas dan tidak terbebani? (Tidak.)

Perwujudan dan ciri seperti apa yang diperlihatkan oleh mereka yang terlalu malas? Pertama, dalam apa pun yang mereka lakukan, mereka bertindak acuh tak acuh, berlambat-lambat, bekerja dengan santai, dan sebisa mungkin beristirahat serta menunda-nunda. Kedua, mereka tidak memedulikan pekerjaan gereja. Bagi mereka, siapa pun yang suka mengkhawatirkan hal-hal tersebut silakan saja mengkhawatirkannya. Mereka tidak akan melakukannya. Ketika mereka benar-benar mengkhawatirkan sesuatu, itu adalah demi ketenaran, keuntungan, dan status mereka sendiri—yang terpenting bagi mereka adalah mereka dapat menikmati manfaat dari status mereka. Ketiga, mereka menghindari kesukaran dalam pekerjaan mereka; mereka tidak bisa terima jika pekerjaan mereka sedikit saja melelahkan, menjadi sangat kesal jika demikian, dan mereka tidak mampu menanggung kesukaran ataupun membayar harga. Keempat, mereka tidak mampu bertekun dalam pekerjaan apa pun yang mereka lakukan, selalu menyerah di tengah jalan dan tidak mampu terus melakukan pekerjaan sampai selesai. Jika untuk sesaat mereka berada dalam suasana hati yang baik, mereka mungkin melakukan beberapa pekerjaan untuk bersenang-senang, tetapi jika hal itu membutuhkan komitmen jangka panjang, dan selalu membuat mereka sibuk, membutuhkan banyak pemikiran, dan melelahkan tubuh mereka, lama kelamaan mereka akan mulai menggerutu. Sebagai contoh, ada pemimpin yang menjadi penanggung jawab atas pekerjaan gereja, dan pada mulanya mendapati pekerjaan itu baru dan segar. Mereka sangat termotivasi dalam mempersekutukan kebenaran dan ketika mereka melihat saudara-saudari memiliki masalah, mereka mampu membantu dan menyelesaikannya. Namun, setelah bertahan selama beberapa waktu, mereka mulai mendapati bahwa pekerjaan kepemimpinan itu terlalu melelahkan, dan mereka menjadi negatif—mereka ingin beralih ke pekerjaan yang lebih mudah, dan tidak mau menanggung kesukaran. Orang-orang seperti itu kurang memiliki ketekunan. Kelima, ciri lain dari orang yang malas adalah mereka tidak mau melakukan pekerjaan nyata. Begitu daging mereka menderita, mereka mencari alasan untuk mengelak dan mengabaikan pekerjaan mereka, atau menyerahkannya kepada orang lain. Dan setelah orang itu menyelesaikan pekerjaan tersebut, mereka sendiri yang tanpa malu menuai hasilnya. Inilah lima ciri utama orang yang malas. Engkau semua harus memeriksa apakah ada orang malas seperti itu di antara para pemimpin dan pekerja di gereja. Jika engkau menemukannya, mereka harus segera diberhentikan. Dapatkah orang yang malas melakukan pekerjaan yang baik sebagai pemimpin? Seperti apa pun kualitas mereka atau sebaik apa pun kemanusiaan mereka, jika mereka malas, mereka tidak akan mampu melaksanakan pekerjaan mereka dengan baik, dan mereka akan menunda pekerjaan dan hal-hal yang penting. Pekerjaan gereja itu beraneka ragam; setiap aspeknya mencakup banyak tugas terperinci dan kebenaran harus dipersekutukan untuk menyelesaikan masalah agar pekerjaan dapat dilaksanakan dengan baik. Oleh karena itu, para pemimpin dan pekerja harus rajin—mereka harus banyak bicara dan banyak melakukan pekerjaan setiap hari untuk memastikan efektivitas pekerjaan. Jika mereka berbicara atau berbuat terlalu sedikit, tidak akan ada hasil. Jadi, jika seorang pemimpin atau pekerja adalah orang yang malas, mereka pasti adalah pemimpin palsu dan tidak mampu melakukan pekerjaan nyata. Orang yang malas tidak melakukan pekerjaan nyata, apalagi pergi ke tempat kerja, dan mereka tidak mau menyelesaikan masalah atau melibatkan diri dalam pekerjaan spesifik. Mereka sama sekali tidak memahami atau mengerti masalah dalam pekerjaan apa pun. Mereka hanya memiliki ide yang dangkal dan samar di benak mereka dari mendengarkan apa yang orang lain katakan, dan mereka bersikap asal-asalan dengan hanya mengkhotbahkan sedikit doktrin. Dapatkah engkau semua mengenali pemimpin seperti ini? Mampukah engkau mengenali bahwa mereka adalah pemimpin palsu? (Sampai taraf tertentu.) Orang yang malas bersikap asal-asalan dalam tugas apa pun yang mereka lakukan. Apa pun tugasnya, mereka tidak memiliki ketekunan, bekerja hanya sesekali, dan mengeluh setiap kali mengalami sedikit kesukaran, tidak habis-habisnya berkeluh-kesah. Mereka mencaci siapa pun yang mengkritik atau memangkas mereka, seperti perempuan cerewet yang menghina orang di jalanan, selalu ingin melampiaskan kemarahan mereka kepada orang lain, dan tidak ingin melaksanakan tugas mereka. Memperlihatkan apa bahwa mereka tidak mau melaksanakan tugas mereka? Itu memperlihatkan bahwa mereka tidak terbeban, tidak mau memikul tanggung jawab, dan bahwa mereka adalah orang yang malas. Mereka tidak mau mengalami kesukaran ataupun membayar harga. Ini terutama berlaku bagi para pemimpin dan pekerja: Jika mereka tidak terbeban, dapatkah mereka memenuhi tanggung jawab mereka sebagai pemimpin atau pekerja? Sama sekali tidak.

Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.

Hubungi kami via WhatsApp