Firman Tuhan | "Tuhan itu Sendiri, Tuhan yang Unik III: Otoritas Tuhan (II)" (Bagian Enam)
Beberapa materi dalam video ini berasal dari: 【All Bible quotations in this video are translated freely from English Bible.】...
Kami menyambut semua pencari yang merindukan penampakan Tuhan!
Pada pertemuan terakhir, kita mempersekutukan tanggung jawab yang kedua belas dari para pemimpin dan pekerja: "Dengan segera dan akurat mengidentifikasi berbagai orang, peristiwa, dan hal-hal yang mengacaukan dan mengganggu pekerjaan Tuhan serta tatanan normal gereja; menghentikan dan membatasi hal-hal tersebut, serta membalikkan keadaan; selain itu, mempersekutukan kebenaran agar umat pilihan Tuhan memiliki kemampuan untuk mengidentifikasi melalui hal-hal semacam itu dan belajar darinya." Mengenai tanggung jawab ini, kita terutama mempersekutukan berbagai masalah yang berkaitan dengan kehidupan bergereja, yang kita bagi menjadi sebelas masalah. Silakan bacakan. (Pertama, sering keluar dari topik ketika mempersekutukan kebenaran; kedua, mengucapkan kata-kata dan doktrin untuk menyesatkan orang dan memperoleh penghargaan mereka; ketiga, mengoceh tentang masalah rumah tangga, membangun hubungan pribadi, dan menangani urusan pribadi; keempat, membentuk kelompok tertutup; kelima, bersaing untuk mendapatkan status; keenam, terlibat dalam hubungan yang tidak pantas; ketujuh, saling menyerang dan bertengkar; kedelapan, menyebarkan gagasan; kesembilan, melampiaskan kenegatifan; kesepuluh, menyebarkan rumor yang tidak berdasar; dan kesebelas, memanipulasi dan mengacaukan pemilihan.) Terakhir kali, kita mempersekutukan masalah kelima yaitu bersaing untuk mendapatkan status dan masalah keenam yaitu terlibat dalam hubungan yang tidak pantas. Seperti halnya keempat masalah sebelumnya, kedua jenis masalah ini juga menyebabkan gangguan dan kekacauan terhadap kehidupan bergereja dan tatanan normal gereja. Dilihat dari natur kedua jenis masalah ini, kerugian yang disebabkannya terhadap kehidupan bergereja, dan dampaknya terhadap jalan masuk kehidupan orang-orang, keduanya dapat berupa orang, peristiwa, dan hal-hal yang mengacaukan dan mengganggu pekerjaan Tuhan serta tatanan normal gereja.
Hari ini, kita akan mempersekutukan masalah ketujuh, yaitu saling menyerang dan bertengkar. Masalah seperti ini biasa terjadi dalam kehidupan bergereja dan terlihat oleh semua orang. Ketika orang-orang berkumpul untuk makan dan minum firman Tuhan, mempersekutukan pengalaman pribadi mereka, atau membahas beberapa masalah nyata, perbedaan sudut pandang atau perdebatan tentang yang benar dan yang salah sering menimbulkan pertengkaran dan perselisihan di antara orang-orang. Jika orang tidak setuju dan memiliki berbagai perspektif, tetapi ini tidak mengganggu kehidupan bergereja, apakah ini termasuk saling menyerang dan bertengkar? Tidak; ini termasuk persekutuan yang normal. Oleh karena itu, ada banyak masalah yang dari luarnya tampak berkaitan dengan masalah ketujuh, padahal sebenarnya, hanya masalah yang lebih parah dalam hal keadaan serta naturnya, dan yang merupakan kekacauan serta gangguanlah yang termasuk dalam masalah ini. Sekarang mari kita bersekutu tentang masalah dengan natur seperti apa yang termasuk dalam masalah ini.
Pertama, jika dilihat dari perwujudan saling menyerang, ini tentu saja bukan tentang mempersekutukan kebenaran secara normal atau mencari kebenaran, atau tentang memiliki terang atau pemahaman yang berbeda berdasarkan persekutuan tentang kebenaran, atau tentang mencari, mempersekutukan, membahas prinsip-prinsip kebenaran dan mencari jalan penerapan yang berkaitan dengan kebenaran tertentu; sebaliknya, ini adalah tentang memperdebatkan dan berselisih tentang apa yang benar dan apa yang salah. Pada dasarnya, seperti inilah perwujudan saling menyerang itu. Apakah masalah semacam ini kadang terjadi dalam kehidupan bergereja? (Ya.) Hanya berdasarkan apa yang terlihat di luarnya, jelaslah bahwa tindakan seperti saling menyerang ini pasti bukanlah tentang mencari kebenaran, atau tentang mempersekutukan kebenaran di bawah bimbingan Roh Kudus, atau tentang bekerja sama secara harmonis, melainkan, ini berakar pada sikap yang gampang marah, dan bahasa yang digunakan di dalamnya mengandung penghakiman serta kutukan, dan bahkan kata-kata yang mengutuk; perwujudan semacam ini benar-benar merupakan perwujudan watak rusak Iblis. Ketika orang-orang saling menyerang, entah bahasa yang mereka gunakan itu tajam atau bijaksana, di dalamnya terkandung sikap yang gampang marah, kedengkian, serta kebencian, dan tidak terdapat kasih, toleransi, kesabaran, dan tentu saja, terlebih lagi, tidak terdapat kerja sama yang harmonis di dalamnya. Cara yang orang-orang gunakan untuk saling menyerang bermacam-macam. Sebagai contoh, ketika dua orang sedang membahas suatu hal, orang A berkata kepada orang B, "Ada orang-orang yang memiliki kemanusiaan yang buruk dan watak yang congkak; mereka pamer setiap kali melakukan sesuatu sekalipun hanya sedikit, dan mereka tidak mendengarkan siapa pun. Mereka persis seperti yang firman Tuhan katakan tentang orang-orang yang sama biadabnya dan tidak memiliki kemanusiaan seperti binatang buas." Setelah mendengarnya, orang B berpikir, "Bukankah apa yang barusan kaukatakan ditujukan kepadaku? Kau bahkan menggunakan firman Tuhan untuk menyingkapkanku! Karena kau telah berbicara tentang aku, aku juga tidak akan menahan diri. Jika kau bersikap jahat kepadaku, aku akan berbuat jahat kepadamu!" Lalu, orang B berkata, "Ada orang-orang yang dari luarnya mungkin terlihat sangat saleh, tetapi dari lubuk hatinya, mereka sebenarnya lebih berbahaya dari siapa pun. Mereka bahkan terlibat dalam hubungan yang tidak pantas dengan lawan jenis, sama seperti para pelacur dan orang-orang sundal yang dibicarakan dalam firman Tuhan; Tuhan benar-benar jijik terhadap orang-orang semacam itu, Dia merasa muak terhadap mereka. Apa gunanya terlihat saleh? Semua itu hanya kepura-puraan. Tuhan paling tidak suka orang yang berpura-pura; semua orang yang berpura-pura adalah orang Farisi!" Setelah mendengar perkataan ini, orang A berpikir, "Ini adalah serangan balik terhadapku! Baiklah, kau telah bersikap tidak baik terhadapku, jadi jangan salahkan aku jika tidak menahan diri!" Dengan bolak-balik seperti itu, mereka berdua sudah mulai cekcok. Apakah ini berarti mempersekutukan firman Tuhan? (Tidak.) Apa yang sedang mereka lakukan? (Saling menyerang dan saling cekcok.) Mereka bahkan mencari sesuatu untuk dijadikan pegangan dan mencari "dasar" untuk serangan mereka, menggunakan firman Tuhan sebagai dasar; ini adalah saling menyerang dan, pada saat yang sama, merupakan adu mulut. Apakah bentuk persekutuan ini terkadang terlihat dalam kehidupan bergereja? Apakah ini adalah persekutuan yang normal? Apakah ini persekutuan dalam kemanusiaan yang normal? (Tidak.) Lalu, apakah bentuk persekutuan ini menyebabkan kekacauan dan gangguan terhadap kehidupan bergereja? Kekacauan dan gangguan seperti apa yang ditimbulkannya? (Kehidupan bergereja yang normal menjadi terganggu, orang-orang terlibat dalam perselisihan tentang yang benar dan yang salah, sehingga mereka menjadi tak mampu merenungkan dan mempersekutukan firman Tuhan dengan tenang.) Ketika orang-orang terlibat dalam percekcokan dan pertengkaran tentang yang benar dan yang salah seperti itu, dan melakukan serangan pribadi selama kehidupan bergereja, apakah Roh Kudus masih bekerja? Roh Kudus tidak bekerja; persekutuan seperti ini membuat hati orang menjadi kacau. Ada beberapa perkataan dalam Alkitab, apakah engkau semua ingat perkataan itu? ("Sekali lagi Aku berkata kepadamu, bahwa jika dua orang di antara kalian di bumi sepakat mengenai apa pun yang hendak mereka minta, itu akan dikabulkan untuk mereka oleh Bapa-Ku yang ada di surga. Karena di mana dua atau tiga orang berkumpul bersama dalam nama-Ku, di situlah Aku ada di tengah-tengah mereka" (Matius 18:19-20).) Apa maksud perkataan ini? Ketika orang berkumpul bersama di hadapan Tuhan, mereka haruslah sehati sepikir dan bersatu di hadapan Tuhan; Tuhan hanya akan mengaruniakan berkat kepada mereka, dan Roh Kudus hanya akan bekerja, ketika orang-orang sehati dan sepikir. Namun, apakah kedua orang yang berdebat yang barusan Kusebutkan itu sehati sepikir? (Tidak.) Apa yang sedang mereka lakukan? Saling menyerang, saling cekcok, dan bahkan menghakimi serta mengutuk. Meskipun dari luarnya mereka tidak menggunakan kata-kata makian yang kasar, atau tidak menyebutkan nama, motivasi di balik perkataan mereka bukanlah untuk mempersekutukan kebenaran atau mencari kebenaran, dan mereka tidak berbicara di dalam hati nurani dan nalar kemanusiaan yang normal. Setiap kata yang mereka ucapkan tidak bertanggung jawab, serta mengandung keagresifan dan kedengkian; setiap kata tidak sesuai dengan fakta, juga tidak memiliki dasar apa pun. Setiap kata bukanlah tentang menilai suatu hal berdasarkan firman Tuhan dan tuntutan Tuhan, melainkan tentang meluncurkan serangan pribadi, penghakiman, dan kutukan berdasarkan preferensi dan kehendak mereka sendiri terhadap orang yang mereka benci dan pandang rendah. Tak satu pun darinya merupakan perwujudan sehati sepikir; sebaliknya, semua ini adalah perkataan dan perwujudan yang berasal dari sikap yang gampang marah dan watak rusak Iblis, dan semua itu tidak menyenangkan hati Tuhan; oleh karena itu, tidak ada pekerjaan Roh Kudus di sana. Ini adalah perwujudan saling menyerang.
Dalam kehidupan bergereja, perselisihan dan konflik tentang hal-hal kecil atau perbedaan sudut pandang dan kepentingan sering muncul di antara orang-orang. Perselisihan juga sering terjadi karena perbedaan kepribadian, ambisi, dan preferensi. Berbagai macam perbedaan pendapat dan pertikaian juga muncul di antara orang-orang karena perbedaan status sosial dan tingkat pendidikan, atau perbedaan dalam hal kemanusiaan dan natur mereka, dan bahkan perbedaan dalam hal cara bicara dan menangani masalah, dan alasan lainnya. Jika orang tidak berusaha menyelesaikan masalah-masalah ini dengan menggunakan firman Tuhan, jika mereka tidak saling memahami, menoleransi, mendukung, serta membantu, dan jika orang-orang malah memendam prasangka dan kebencian di dalam hati mereka, serta memperlakukan satu sama lain dengan sikap yang gampang marah dalam watak rusak mereka, kemungkinan besar ini akan mengarah pada saling menyerang dan menghakimi. Ada orang-orang yang memiliki sedikit hati nurani serta nalar, dan ketika perselisihan terjadi, mereka mampu bersabar, bertindak dengan menggunakan nalar, dan membantu pihak lainnya dengan kasih. Namun, ada orang-orang yang tidak mampu mencapai hal ini, mereka bahkan tidak memiliki toleransi, kesabaran, kemanusiaan, dan nalar yang paling dasar sekalipun. Mereka sering mengembangkan berbagai prasangka, kecurigaan, dan kesalahpahaman terhadap orang lain tentang hal-hal sepele, atau tentang satu patah kata, atau ekspresi wajah, yang menyebabkan mereka memiliki berbagai macam pemikiran, keraguan, penghakiman, dan kutukan terhadap orang lain di dalam hati mereka. Fenomena ini sering muncul di dalam gereja dan sering memengaruhi hubungan normal di antara orang-orang, interaksi yang harmonis di antara saudara-saudari, dan bahkan memengaruhi persekutuan mereka tentang firman Tuhan. Perselisihan biasa terjadi ketika orang-orang saling berinteraksi, tetapi jika masalah seperti ini sering muncul dalam kehidupan bergereja, ini dapat memengaruhi, mengganggu, dan bahkan menghancurkan kehidupan bergereja yang normal. Sebagai contoh, jika seseorang memulai pertengkaran di sebuah pertemuan, pertemuan itu akan terganggu, kehidupan bergereja tidak akan membuahkan hasil, dan mereka yang menghadiri pertemuan tidak akan memperoleh apa pun; pertemuan mereka pada dasarnya akan sia-sia dan hanya membuang-buang waktu. Akibatnya, masalah-masalah ini telah memengaruhi tatanan normal kehidupan bergereja.
Ada orang yang selalu suka mengoceh tentang masalah rumah tangga dan topik-topik tidak penting selama pertemuan, dan setiap kali bertemu saudara-saudari, dia membicarakan urusan sepele rumah tangganya dan bergosip, yang membuat saudara-saudari tersebut merasa tidak berdaya. Mungkin ada seseorang yang bangkit untuk menyela pembicaraannya, tetapi apa yang terjadi kemudian? Jika dia terus-menerus disela, dia menjadi tidak suka, dan itu berarti masalah. Dia berpikir: "Kau selalu menyelaku dan tidak membiarkanku bicara. Baiklah kalau begitu. Aku akan menyelamu saat kau bicara! Ketika kau mempersekutukan firman Tuhan, aku akan menyela dengan mengatakan bagian lain dari firman Tuhan. Ketika kau bersekutu tentang mengenal dirimu sendiri, aku akan bersekutu tentang firman Tuhan yang menghakimi manusia. Ketika kau bersekutu tentang memahami watak congkakmu, aku akan mempersekutukan firman Tuhan tentang menentukan kesudahan dan tempat tujuan manusia. Apa pun yang kaukatakan, aku akan mengatakan sesuatu yang berbeda!" Bukan itu saja, jika ada orang lain yang ikut menyela perkataannya, orang ini akan bangkit dan menyerang orang tersebut. Pada saat yang sama, karena orang ini memiliki dendam dan kebencian di dalam hatinya, selama pertemuan, dia sering menyingkapkan kekurangan orang yang telah menyela dirinya tersebut, berbicara tentang bagaimana orang itu pernah menipu orang lain dalam bisnis sebelum percaya kepada Tuhan, tentang betapa tidak bermoralnya orang tersebut dalam berurusan dengan orang lain, dan sebagainya; dia berkata tentang hal-hal ini setiap kali orang itu berbicara. Awalnya, orang itu mampu bersabar, tetapi seiring berjalannya waktu, dia mulai berpikir: "Aku selalu membantumu, aku selalu bertoleransi dan bersabar terhadapmu, tetapi kau sama sekali tidak bertoleransi terhadapku. Jika kau memperlakukanku dengan cara seperti ini, jangan salahkan aku jika aku tidak menahan diri! Kita sudah begitu lama tinggal di desa yang sama; kita berdua saling kenal baik. Kau telah menyerangku, jadi aku akan menyerangmu; kau telah menyingkapkan kekuranganku, padahal kau sendiri punya banyak kekurangan." Dan kemudian, dia berkata, "Kau bahkan mencuri barang-barang saat kau masih muda; pencurian kecil-kecilan yang kaulakukan itu jauh lebih memalukan! Setidaknya yang kulakukan adalah bisnis, itu semua demi mencari nafkah. Siapa yang tidak pernah melakukan sedikit kesalahan di dunia ini? Bagaimana dengan perilakumu? Perilakumu adalah perilaku pencuri, perampok!" Bukankah ini saling menyerang? Bagaimana cara mereka menyerang? Dengan saling menyingkapkan kekurangan, bukan? (Ya.) Mereka bahkan berpikir: "Kau terus menyingkapkan kekuranganku, membiarkan semua orang tahu tentang semua itu dan tentang masa laluku yang tidak terhormat, sehingga orang lain tidak akan menghormatiku lagi; baiklah kalau begitu, aku juga tidak akan menahan diri. Aku tahu betul berapa banyak pasangan yang pernah kaumiliki, berapa banyak lawan jenis yang pernah kaupacari; aku sudah menyiapkan semua amunisi ini. Jika kau menyingkapkan kekuranganku lagi dan bersikap keterlaluan terhadapku, aku akan membeberkan semua kesalahanmu!" Saling menyingkapkan kekurangan adalah masalah umum di antara mereka yang saling mengenal dan mengetahui satu sama lain dengan baik. Mungkin karena perbedaan pendapat atau karena terdapat konflik atau dendam di antara mereka, dua orang mengungkit masalah lama dan sepele untuk digunakan sebagai senjata untuk saling menyerang selama pertemuan. Kedua orang ini menyingkapkan kekurangan satu sama lain dan saling menyerang serta mengutuk, yang menyita waktu semua orang untuk makan dan minum firman Tuhan, serta memengaruhi kehidupan bergereja yang normal. Dapatkah pertemuan seperti ini membuahkan hasil? Apakah orang-orang di sekitar mereka masih merasa ingin menghadiri pertemuan? Beberapa saudara-saudari mulai berpikir: "Kedua orang ini sangat bermasalah, apa gunanya mengungkit masalah masa lalu itu! Sekarang mereka berdua percaya kepada Tuhan, mereka seharusnya melepaskan hal-hal tersebut. Siapa yang tidak punya masalah? Bukankah mereka berdua sudah datang ke hadapan Tuhan sekarang? Semua masalah ini dapat diselesaikan dengan firman Tuhan. Menyingkapkan kekurangan bukanlah menerapkan kebenaran, juga bukan belajar dari kelebihan seseorang untuk melengkapi kekurangan orang lain; ini adalah tindakan saling menyerang, ini adalah perilaku Iblis." Tindakan mereka yang saling menyerang itu mengganggu dan menghancurkan kehidupan bergereja yang normal. Tak seorang pun dapat menghentikan mereka, dan mereka tidak mau mendengarkan siapa pun yang mempersekutukan kebenaran kepada mereka. Beberapa orang menasihati mereka: "Berhentilah menyingkapkan kekurangan satu sama lain. Sebenarnya, semua hal ini bukanlah masalah besar; bukankah ini hanya perbedaan pendapat yang singkat? Tidak ada kebencian yang mendalam di antara kalian berdua. Jika kalian berdua mampu membuka diri, menceritakan yang sebenarnya tentang diri kalian, melepaskan prasangka, dendam, dan kebencian untuk berdoa serta mencari kebenaran di hadapan Tuhan, semua masalah ini dapat diselesaikan." Namun, kedua orang itu masih menghadapi jalan buntu. Salah seorang dari mereka berkata, "Jika dia meminta maaf kepadaku terlebih dahulu, dan jika dia membuka diri serta menceritakan yang sebenarnya tentang dirinya terlebih dahulu, aku akan melakukan hal yang sama. Namun, jika dia tidak mau melepaskan hal-hal ini seperti sebelumnya, aku juga tidak akan menahan diri terhadapnya! Kau memintaku untuk menerapkan kebenaran, lalu mengapa dia tidak menerapkannya? Kau memintaku untuk melepaskan semua itu, lalu mengapa dia tidak melakukannya terlebih dahulu?" Bukankah mereka bersikap tidak masuk akal? (Ya.) Mereka mulai bertindak tidak masuk akal. Nasihat siapa pun tidak memengaruhi mereka, dan mereka tidak mendengarkan persekutuan tentang kebenaran. Begitu bertemu, mereka berdebat, mereka saling menyingkapkan kekurangan dan mereka saling menyerang. Sekalipun tidak sampai memukul, ada kebencian dalam semua yang mereka lakukan terhadap satu sama lain, dan setiap kata yang mereka ucapkan mengandung isyarat menyerang dan mengutuk. Jika dalam kehidupan bergereja, ada dua orang seperti ini yang saling menyerang dan bertengkar begitu mereka bertemu, dapatkah kehidupan bergereja ini membuahkan hasil? Dapatkah orang-orang memperoleh sesuatu yang positif darinya? (Tidak.) Ketika situasi seperti ini muncul, kebanyakan orang menjadi khawatir, berkata, "Setiap kali kami berkumpul, kedua orang itu selalu bertengkar, dan mereka tidak mendengarkan nasihat siapa pun. Apa yang harus kami lakukan?" Selama mereka ada di sana, pertemuan tidak akan berlangsung dengan damai, dan semua orang akan terganggu oleh mereka. Dalam kasus-kasus seperti itu; pemimpin gereja harus turun tangan untuk menyelesaikan masalah itu; mereka tidak boleh mengizinkan orang-orang tersebut terus mengganggu kehidupan bergereja. Jika setelah berulang kali diberi nasihat, persekutuan, dan bimbingan positif, tidak ada hasil yang diperoleh, dan kedua belah pihak terus berpaut pada prasangka mereka, tidak mau saling memaafkan, dan terus-menerus saling menyerang serta mengganggu kehidupan bergereja, maka masalah ini harus ditangani berdasarkan prinsip. Mereka harus diberi tahu: "Kalian berdua telah lama berada dalam keadaan seperti ini, dan ini telah menyebabkan gangguan yang serius terhadap kehidupan bergereja dan semua saudara-saudari. Sebagian besar orang merasa marah dengan perilaku kalian ini, tetapi mereka takut mengatakan apa pun mengenai hal ini. Mengingat sikap dan perwujudan kalian saat ini, berdasarkan prinsip, gereja harus menangguhkan partisipasi kalian dalam kehidupan bergereja dan meminta kalian mengisolasi diri untuk merenungkan diri. Setelah kalian mampu hidup rukun secara harmonis, bersekutu secara normal, dan memiliki hubungan antarpribadi yang normal, kalian boleh kembali ke kehidupan bergereja." Entah mereka menyetujuinya atau tidak, gereja harus membuat keputusan ini; ini berarti menangani masalah berdasarkan prinsip. Masalah ini harus ditangani dengan cara seperti ini. Di satu sisi, ini bermanfaat bagi kedua orang itu; ini dapat mendorong mereka untuk merenungkan dan mengenal diri mereka sendiri. Di sisi lain, ini terutama melindungi lebih banyak saudara-saudari agar mereka tidak diganggu oleh orang-orang jahat. Ada orang-orang yang berkata, "Mereka tidak melakukan kejahatan apa pun; dalam hal esensinya, mereka juga bukan orang jahat. Mereka hanya memiliki kekurangan kecil dalam kemanusiaannya, mereka hanya suka berbuat semaunya, cenderung bersikap tidak masuk akal, dan cenderung merasa iri dan berselisih. Mengapa mengisolasi mereka hanya karena hal ini?" Seperti apa pun kemanusiaan mereka, selama mereka menyebabkan gangguan terhadap kehidupan bergereja, pemimpin gereja harus turun tangan untuk menangani dan menyelesaikan masalah tersebut. Jika kedua orang ini adalah orang jahat, begitu hal ini teridentifikasi, tanggapan terhadap mereka tidak boleh sesederhana mengisolasi mereka; harus segera diambil keputusan untuk langsung mengeluarkan mereka. Jika tindakan mereka hanya sebatas saling menyerang dan memperdebatkan yang benar dan yang salah tanpa menyebabkan kerugian terhadap orang lain atau tanpa melakukan perbuatan buruk lainnya yang akan menyebabkan kepentingan rumah Tuhan dirugikan, dan mereka tidak jahat, maka mereka tidak perlu dikeluarkan. Sebaliknya, kehidupan bergereja mereka harus ditangguhkan, dan mereka harus diisolasi untuk merenungkan diri. Pendekatan ini adalah yang paling tepat. Tujuan menangani masalah dengan cara seperti ini adalah untuk memastikan tatanan normal kehidupan bergereja dan menjamin bahwa pekerjaan gereja dapat berlangsung dengan normal.
Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.
Beberapa materi dalam video ini berasal dari: 【All Bible quotations in this video are translated freely from English Bible.】...