Lampiran Dua: Bagaimana Nuh dan Abraham Menaati Firman Tuhan dan Tunduk kepada-Nya (Bagian Satu) Pasal Satu

I. Nuh Membangun Bahtera

Hari ini, Aku akan memulai dengan menceritakan beberapa kisah. Simaklah topik yang akan Kubahas ini, dan lihat apakah topik ini ada kaitannya dengan tema-tema yang telah kita bahas sebelumnya. Ini bukanlah kisah-kisah yang mendalam, engkau semua mungkin sudah memahaminya. Kita telah menceritakan kisah-kisah ini sebelumnya, ini adalah kisah-kisah lama. Yang pertama adalah kisah tentang Nuh. Selama zaman Nuh, manusia sangat rusak: manusia menyembah berhala, menentang Tuhan, dan melakukan segala macam perbuatan jahat. Kejahatan mereka terlihat oleh mata Tuhan, perkataan yang mereka ucapkan sampai ke telinga Tuhan, dan Tuhan memutuskan bahwa Dia akan memusnahkan umat manusia ini dengan air bah, bahwa Dia akan memusnahkan bumi ini. Jadi, apakah semua manusia harus dimusnahkan, tanpa seorang pun yang tersisa? Tidak. Ada satu orang yang beruntung, dia diperkenan oleh Tuhan, dan tidak akan menjadi sasaran pemusnahan Tuhan: orang ini adalah Nuh. Nuh akan tetap hidup setelah Tuhan memusnahkan bumi dengan air bah. Setelah memutuskan bahwa Dia akan mengakhiri zaman ini dan memusnahkan umat manusia ini, Tuhan melakukan sesuatu. Apakah itu? Suatu hari, Tuhan berseru kepada Nuh dari langit. Dia berkata, "Nuh, kejahatan umat manusia ini telah sampai ke telinga-Ku, dan Aku telah memutuskan untuk memusnahkan bumi ini dengan air bah. Engkau harus membangun bahtera dari kayu gofir. Aku akan memberimu ukuran bahteranya, dan engkau harus mengumpulkan segala jenis makhluk hidup untuk ditempatkan di dalam bahtera. Setelah bahtera selesai dibangun dan seekor jantan serta seekor betina dari segala makhluk hidup yang diciptakan oleh Tuhan telah terkumpul di dalamnya, hari Tuhan akan datang. Pada saat itu, Aku akan memberimu sebuah tanda." Setelah mengucapkan firman ini, Tuhan pergi. Dan setelah mendengar firman Tuhan, Nuh mulai melaksanakan setiap tugas yang telah Tuhan firmankan, tanpa melewatkan satu pun. Apa yang dia lakukan? Dia mencari kayu gofir sesuai yang Tuhan katakan, dan berbagai bahan yang diperlukan untuk membangun bahtera. Dia juga mempersiapkan pengumpulan dan pemeliharaan segala jenis makhluk hidup. Kedua tugas besar ini terukir di hatinya. Sejak saat Tuhan memercayakan pembangunan bahtera ini kepada Nuh, dia tidak pernah berpikir, "Kapan Tuhan akan memusnahkan bumi? Kapan Dia akan memberiku tanda bahwa Dia akan melakukannya?" Alih-alih merenungkan hal-hal semacam itu, Nuh dengan sungguh-sungguh menghayati setiap hal yang telah Tuhan firmankan kepadanya, dan kemudian melaksanakan setiap hal tersebut. Setelah menerima apa yang Tuhan percayakan kepadanya, Nuh mulai melaksanakan dan menjalankan pembangunan bahtera yang Tuhan katakan sebagai hal terpenting dalam hidupnya, tanpa sedikit pun berpikir untuk mengabaikannya. Hari-hari berlalu, tahun-tahun berlalu, hari demi hari, tahun demi tahun. Tuhan tidak pernah mengawasi Nuh dan mendorongnya, tetapi di sepanjang waktu ini, Nuh bertekun dalam melakukan tugas penting yang Tuhan percayakan kepadanya. Setiap kata dan frasa yang Tuhan ucapkan telah terukir di hati Nuh seperti firman yang diukir di atas loh batu. Tanpa menghiraukan perubahan di dunia luar, ejekan orang-orang di sekitarnya, kesukaran yang ada, atau kesulitan yang dia hadapi, dia bertekun, dengan sepenuh hati melakukan apa yang telah Tuhan percayakan kepadanya, tidak pernah berputus asa atau berpikir untuk menyerah. Firman Tuhan terukir di hati Nuh, dan itu telah menjadi kenyataan Nuh sehari-hari. Nuh mempersiapkan setiap bahan yang dibutuhkan untuk membangun bahtera, dan bentuk serta spesifikasi bahtera yang diperintahkan oleh Tuhan secara bertahap mulai terbentuk dengan setiap pukulan palu dan pahat Nuh yang teliti. Sekalipun menghadapi angin atau hujan, dan sekalipun orang-orang mengejek atau memfitnahnya, kehidupan Nuh berjalan dengan cara ini, tahun demi tahun. Tuhan secara diam-diam mengawasi setiap tindakan Nuh, tanpa pernah mengucapkan firman lagi kepadanya, dan hati-Nya tersentuh oleh Nuh. Namun, Nuh tidak mengetahui atau merasakan hal ini; dari awal sampai akhir, dia hanya membangun bahtera dan mengumpulkan segala jenis makhluk hidup, dengan kesetiaan yang tidak tergoyahkan kepada firman Tuhan. Dalam hati Nuh, firman Tuhan adalah perintah tertinggi yang harus dia ikuti serta laksanakan, dan itu adalah arah dan tujuannya seumur hidup. Jadi, apa pun yang Tuhan katakan kepadanya, apa pun yang Tuhan minta atau perintahkan kepadanya, Nuh menerima sepenuhnya, dan menghayatinya; dia menganggapnya sebagai hal yang terpenting dalam hidupnya, dan memperlakukannya dengan benar. Dia bukan saja tidak lupa, dia bukan saja menyimpannya di dalam hatinya, tetapi dia juga mewujudkannya dalam kehidupannya sehari-hari, menggunakan hidupnya untuk menerima dan melaksanakan amanat Tuhan. Dan dengan cara ini, papan demi papan, bahtera itu dibangun. Setiap tindakan Nuh, setiap harinya, didedikasikan untuk melaksanakan firman dan perintah Tuhan. Mungkin kelihatannya, Nuh tidak sedang melakukan pekerjaan yang sangat penting, tetapi di mata Tuhan, semua yang Nuh lakukan, bahkan setiap langkah yang dia ambil untuk mencapai sesuatu, setiap pekerjaan yang dilakukan oleh tangannya—semuanya berharga, dan layak untuk dikenang, dan layak diteladani oleh umat manusia ini. Nuh mematuhi apa yang telah Tuhan percayakan kepadanya. Dia tidak tergoyahkan dalam kepercayaannya bahwa setiap firman yang Tuhan ucapkan adalah benar; akan hal ini, dia sama sekali tidak memiliki keraguan. Dan sebagai hasilnya, bahtera itu selesai dibangun, dan segala jenis makhluk hidup dapat hidup di dalamnya. Sebelum Tuhan memusnahkan bumi, Dia memberi Nuh sebuah tanda, yang memberi tahu Nuh bahwa air bah sudah dekat, dan bahwa dia harus segera masuk ke dalam bahtera. Nuh melakukan tepat seperti yang Tuhan firmankan. Ketika Nuh masuk ke dalam bahtera, saat hujan deras turun dari langit, Nuh melihat bahwa firman Tuhan telah menjadi kenyataan, bahwa firman-Nya telah digenapi: murka Tuhan telah menimpa bumi, dan tak seorang pun mampu mengubah semua ini.

Berapa tahun yang dibutuhkan Nuh untuk membangun bahtera? (120 tahun.) Apa arti 120 tahun bagi orang-orang zaman sekarang? Itu berarti lebih lama dari masa hidup orang normal. Bahkan mungkin lebih lama dari masa hidup dua orang. Namun, selama 120 tahun ini, Nuh melakukan satu hal, dan dia melakukan hal yang sama setiap harinya. Pada masa pra-industri saat itu, pada masa sebelum zaman komunikasi informasi, pada zaman di mana segala sesuatunya bergantung pada kedua tangan manusia dan kerja fisik, Nuh melakukan hal yang sama setiap hari. Selama 120 tahun, dia tidak menyerah atau berhenti. Seratus dua puluh tahun: bagaimana kita bisa membayangkan hal ini? Mungkinkah ada seseorang lain di antara umat manusia yang mampu tetap berkomitmen untuk melakukan satu hal selama 120 tahun? (Tidak.) Bahwa tidak ada seorang pun yang mampu tetap berkomitmen untuk melakukan satu hal selama 120 tahun bukanlah hal yang mengejutkan. Namun, ada satu orang yang, selama 120 tahun, bertekun, tanpa perubahan, melakukan apa yang telah Tuhan percayakan kepadanya, tidak pernah mengeluh atau menyerah, tahan terhadap lingkungan eksternal apa pun, dan pada akhirnya menyelesaikannya tepat seperti yang Tuhan firmankan. Hal macam apakah ini? Di antara umat manusia, ini adalah hal yang langka, tidak biasa—bahkan unik. Dalam seluruh sejarah manusia, di antara semua umat manusia yang telah mengikut Tuhan, ini sama sekali tiada bandingannya. Dalam hal besarnya tugas dan kesulitan teknis yang ada di dalamnya, tingkat fisik dan pengerahan tenaga yang diperlukan, serta lamanya waktu yang dibutuhkan, ini bukanlah tugas yang mudah. Itulah sebabnya, ketika Nuh melakukan tugas ini, peristiwa ini bersifat unik di antara umat manusia, dan dia adalah model dan teladan bagi semua orang yang mengikut Tuhan. Nuh hanya pernah mendengar sedikit firman, dan pada zaman itu, Tuhan belum mengungkapkan banyak firman, sehingga Nuh tentunya tidak memahami banyak kebenaran. Dia tidak memahami ilmu sains modern atau pengetahuan modern. Dia adalah manusia yang sangat biasa, bagian dari umat manusia yang biasa-biasa saja. Namun, di satu sisi, dia tidak seperti siapa pun: dia tahu bahwa dia harus menaati firman Tuhan, dia tahu bagaimana mengikuti dan menaati firman Tuhan, dia tahu apa posisi manusia, dan dia mampu untuk benar-benar percaya dan tunduk pada firman Tuhan—tidak lebih. Beberapa prinsip sederhana ini cukup untuk memampukan Nuh menyelesaikan semua yang telah Tuhan percayakan kepadanya, dan dia bertekun dalam tugas ini bukan hanya selama beberapa bulan, ataupun beberapa tahun, ataupun beberapa dekade, tetapi selama lebih dari satu abad. Bukankah angka ini mencengangkan? Siapa yang mampu melakukan tugas ini selain Nuh? (Tak seorang pun.) Dan mengapa tidak ada yang mampu? Ada orang-orang yang berkata bahwa ini karena mereka tidak memahami kebenaran—tetapi itu tidak sesuai dengan fakta. Berapa banyak kebenaran yang Nuh pahami? Mengapa Nuh mampu melakukan semua ini? Orang-orang percaya pada zaman sekarang telah membaca banyak firman Tuhan, mereka memahami beberapa kebenaran—lalu mengapa mereka tidak mampu melakukan hal ini? Ada orang-orang yang berkata bahwa ini karena watak manusia yang rusak—tetapi bukankah Nuh memiliki watak yang rusak? Mengapa Nuh mampu mencapai hal ini, tetapi orang-orang zaman sekarang tidak mampu mencapainya? (Karena orang-orang zaman sekarang tidak memercayai firman Tuhan, mereka tidak memperlakukan atau menaatinya sebagai kebenaran.) Dan mengapa mereka tidak mampu memperlakukan firman Tuhan sebagai kebenaran? Mengapa mereka tidak mampu menaati firman Tuhan? (Mereka tidak memiliki hati yang takut akan Tuhan.) Jadi, jika orang tidak memiliki pemahaman akan kebenaran dan belum mendengar banyak kebenaran, bagaimana agar hati yang takut akan Tuhan muncul dalam diri mereka? (Mereka harus memiliki kemanusiaan dan hati nurani.) Benar. Dalam kemanusiaan seseorang, ada dua hal paling berharga yang harus ada: yang pertama adalah hati nurani, dan yang kedua adalah nalar kemanusiaan yang normal. Memiliki hati nurani dan nalar kemanusiaan yang normal adalah standar minimum untuk menjadi manusia; itu adalah standar minimum yang paling dasar untuk mengukur seseorang. Namun ini tidak ditemukan dalam diri manusia zaman sekarang, sehingga sebanyak apa pun kebenaran yang mereka dengar dan pahami, memiliki hati yang takut akan Tuhan tidak tercapai oleh mereka. Jadi, apa perbedaan mendasar antara orang-orang zaman sekarang dengan Nuh? (Mereka tidak memiliki kemanusiaan.) Dan apa esensi orang yang tidak memiliki kemanusiaan seperti ini? (Mereka adalah binatang buas dan setan-setan.) "Binatang buas dan setan-setan" kedengarannya sangat tidak bagus, tetapi ini sesuai dengan kenyataan; cara yang lebih sopan untuk mengatakannya adalah bahwa mereka tidak memiliki kemanusiaan. Orang yang tidak memiliki kemanusiaan dan nalar bukanlah manusia, mereka bahkan lebih rendah daripada binatang buas. Bahwa Nuh mampu menyelesaikan amanat Tuhan adalah karena ketika Nuh mendengar firman Tuhan, dia mampu menyimpannya di dalam hatinya; baginya, amanat Tuhan adalah pekerjaannya seumur hidup, imannya tidak tergoyahkan, kehendaknya tidak berubah selama seratus tahun. Itu karena dia memiliki hati yang takut akan Tuhan, dia adalah manusia sejati, dan dia adalah orang yang paling bernalar sehingga Tuhan memercayakan pembangunan bahtera itu kepadanya. Orang yang memiliki kemanusiaan dan nalar seperti Nuh sangat jarang, tentunya sangat sulit menemukan seseorang yang seperti Nuh.

Nuh sebenarnya hanya mampu melakukan satu hal. Itu sangat sederhana: setelah mendengar firman Tuhan, dia melaksanakannya, dan melaksanakannya tanpa berkompromi. Dia tidak pernah memiliki keraguan apa pun, juga tidak pernah menyerah. Dia terus melakukan apa pun yang Tuhan perintahkan kepadanya, dia melaksanakan dan menerapkannya sesuai dengan cara yang Tuhan beritahukan kepadanya tanpa berkompromi, tanpa mempertimbangkan alasannya, atau keuntungan atau kerugiannya sendiri. Dia ingat firman Tuhan: "Tuhan akan memusnahkan bumi. Engkau harus segera membangun bahtera, dan setelah bahtera selesai dibangun dan air bah datang, engkau semua harus masuk ke dalam bahtera, dan mereka yang tidak masuk ke dalam bahtera semuanya akan binasa." Dia tidak tahu kapan apa yang Tuhan firmankan akan menjadi kenyataan, dia hanya tahu bahwa apa yang telah Tuhan firmankan pasti terlaksana, bahwa semua firman Tuhan adalah benar, tidak ada satu pun di antaranya yang salah, dan mengenai kapan itu akan terjadi, kapan itu akan terwujud, itu terserah Tuhan. Dia tahu bahwa tugasnya pada waktu itu hanyalah memegang dengan teguh semua yang telah Tuhan firmankan di dalam hatinya, dan kemudian dengan segera melaksanakannya. Seperti itulah pemikiran Nuh. Inilah yang dia pikirkan dan inilah yang dia lakukan, dan inilah faktanya. Jadi, apa perbedaan mendasar antara engkau semua dan Nuh? (Ketika kami mendengar firman Tuhan, kami tidak langsung menerapkannya.) Ini adalah perilaku, apa perbedaan mendasarnya? (Kami tidak memiliki kemanusiaan.) Nuh memiliki dua hal yang paling minimum harus manusia miliki—hati nurani dan nalar kemanusiaan yang normal. Engkau semua tidak memiliki hal-hal ini. Pantaskah mengatakan bahwa Nuh bisa disebut manusia dan engkau semua tidak pantas disebut manusia? (Ya.) Mengapa Aku mengatakan seperti ini? Fakta-faktanya ada di sana: dalam hal apa yang Nuh lakukan, jangankan setengahnya, engkau bahkan tidak mampu melakukan satu bagian kecil pun darinya. Nuh mampu bertahan selama 120 tahun. Berapa tahun engkau semua mampu bertahan? 100? 50? 10? Lima? Dua? Setengah tahun? Siapa di antaramu yang bisa bertahan selama setengah tahun? Pergi keluar dan mencari kayu yang Tuhan katakan, menebang pohonnya, mengupas kulit kayunya, mengeringkan kayunya, lalu memotongnya menjadi berbagai bentuk dan ukuran—mampukah engkau semua terus melakukan hal itu selama setengah tahun? Kebanyakan dari antaramu menggelengkan kepala—engkau bahkan tidak mampu bertahan sampai setengah tahun. Lalu bagaimana jika tiga bulan? Ada orang yang berkata, "Kupikir tiga bulan juga pasti sulit. Tubuhku kecil dan lemah. Ada banyak nyamuk dan serangga lainnya di hutan, juga ada banyak semut dan kutu. Aku tidak akan tahan jika semua itu menggigitku. Selain itu, menebang pohon setiap hari, melakukan pekerjaan yang kotor dan melelahkan, dengan sinar matahari yang terik dan angin yang bertiup kencang, belum dua hari pun aku sudah terbakar sinar matahari. Itu bukanlah jenis pekerjaan yang ingin kulakukan—apakah ada pekerjaan yang lebih mudah untuk kulakukan?" Dapatkah engkau memilih apa yang Tuhan perintahkan untuk kaulakukan? (Tidak.) Jika engkau tidak dapat terus melakukannya selama tiga bulan, apakah engkau memiliki ketundukan yang sejati? Apakah engkau memiliki realitas ketundukan? (Tidak.) Engkau tidak mampu bertahan selama tiga bulan. Jadi, adakah yang mampu bertahan selama setengah bulan? Ada orang-orang yang berkata, "Aku tidak bisa mengenali kayu gofir atau menebang pohon. Aku bahkan tidak tahu ke arah mana pohon akan tumbang ketika aku menebangnya—bagaimana jika pohon itu tumbang menimpaku? Selain itu, setelah menebang pohon itu, aku hanya mampu mengangkut satu atau dua batang kayu. Lebih dari itu akan membuat punggung dan bahuku patah, bukan?" Engkau bahkan tidak mampu bertahan selama setengah bulan. Jadi apa yang mampu kaulakukan? Apa yang mampu kaucapai jika engkau semua diminta untuk menaati firman Tuhan, untuk tunduk pada firman Tuhan, untuk menerapkan firman-Nya? Selain menggunakan komputer dan memberi perintah, apa yang mampu engkau semua lakukan? Jika ini adalah zaman Nuh, apakah engkau semua akan menjadi orang yang Tuhan panggil? Sama sekali tidak! Engkau semua tidak akan menjadi orang yang Tuhan panggil; engkau tidak akan menjadi orang yang Tuhan perkenan. Mengapa? Karena engkau bukan orang yang mampu tunduk setelah mendengar firman Tuhan. Dan jika engkau bukan jenis orang semacam itu, apakah engkau layak untuk hidup? Ketika air bah datang, apakah engkau layak untuk tetap hidup? (Tidak.) Jika tidak, maka engkau akan dimusnahkan. Orang macam apakah dirimu, jika engkau bahkan tidak mampu menerapkan firman Tuhan selama setengah bulan? Apakah engkau adalah orang yang benar-benar percaya kepada Tuhan? Jika, setelah mendengar firman Tuhan, engkau tidak mampu melaksanakannya, jika engkau tidak mampu bertahan selama setengah bulan, bahkan tidak tahan menghadapi kesukaran selama dua minggu, apa dampak dari sedikit kebenaran yang kaupahami itu terhadap dirimu? Jika itu tidak sedikit pun berdampak sehingga engkau mampu bertahan, berarti kebenaran itu hanyalah kata-kata, dan sama sekali tidak ada gunanya. Orang macam apakah dirimu jika engkau memahami semua kebenaran itu, tetapi ketika engkau diminta untuk menerapkan firman Tuhan dan diminta untuk mengalami kesukaran selama 15 hari, engkau tidak tahan? Di mata Tuhan, apakah engkau makhluk ciptaan yang memenuhi syarat? (Tidak.) Dibandingkan dengan penderitaan Nuh dan 120 tahun ketekunannya, ada jarak yang sangat besar di antaramu dan Nuh—tidak dapat dibandingkan. Alasan Tuhan memanggil Nuh dan memercayakan kepadanya apa yang Dia ingin lakukan adalah karena di mata Tuhan, Nuh mampu menaati firman-Nya, dia adalah manusia yang kepadanya dapat dipercayakan tugas yang besar, dia dapat dipercaya, dan seseorang yang mampu membuat apa yang Tuhan ingin lakukan menjadi kenyataan; di mata Tuhan, inilah manusia sejati itu. Dan engkau semua? Engkau semua tidak mampu mencapai satu pun dari hal-hal ini. Tidak sulit untuk membayangkan seperti apa engkau semua di mata Tuhan. Apakah engkau adalah manusia? Apakah engkau layak disebut manusia? Jawabannya jelas: tidak! Aku telah mempersingkat waktunya sebanyak mungkin, menjadi 15 hari, hanya dua minggu, dan tak seorang pun dari antaramu berkata bahwa engkau mampu melakukannya. Hal ini memperlihatkan apa? Ini berarti iman, kesetiaan, dan ketundukanmu, semuanya itu tidak berarti. Apa yang engkau semua yakini sebagai iman, kesetiaan, dan ketundukan, Aku menganggapnya tidak berarti! Engkau semua menyombongkan diri bahwa engkau cukup baik, tetapi dalam pandangan-Ku, engkau semua masih jauh dari itu!

Salah satu hal dalam kisah Nuh yang paling luar biasa, paling mengagumkan, paling layak untuk diteladani, adalah 120 tahun ketekunannya, 120 tahun ketundukan dan kesetiaannya. Jadi, apakah Tuhan salah dalam memilih orang? (Tidak.) Tuhan adalah Tuhan yang mengamati lubuk hati manusia. Di tengah lautan luas manusia, Dia memilih Nuh, Dia memanggil Nuh, dan Tuhan tidak salah dalam pilihan-Nya: Nuh memenuhi harapan-Nya, dia berhasil menyelesaikan apa yang telah Tuhan percayakan kepadanya. Ini adalah kesaksian! Inilah yang Tuhan inginkan, ini adalah kesaksian. Namun, apakah ada tanda atau kesan semacam ini di dalam dirimu? Tidak ada. Jelas, kesaksian seperti itu tidak ada di dalam dirimu. Apa yang tersingkap di dalam dirimu, apa yang Tuhan lihat, adalah aib; tidak ada satu hal pun di dalam dirimu yang, ketika dibicarakan, mampu menggugah hati hingga orang meneteskan air mata. Dalam hal berbagai perwujudan Nuh, terutama keyakinannya yang teguh akan firman Tuhan yang tanpa sedikit pun keraguan atau yang tidak berubah selama seratus tahun, dan dalam hal ketekunannya untuk membangun bahtera yang tidak tergoyahkan selama seratus tahun, dan dalam hal iman dan tekadnya, tak seorang pun pada zaman modern ini yang dapat menandinginya, tak seorang pun sebanding dengannya. Namun, tak seorang pun menganggap penting kesetiaan dan ketundukan Nuh, tak seorang pun percaya bahwa ada sesuatu dalam hal ini yang layak untuk dihargai dan diteladani orang. Sebaliknya, apa yang lebih penting bagi orang-orang zaman sekarang? Mengulang-ulang slogan dan mengkhotbahkan doktrin. Di luarnya mereka tampak memahami banyak kebenaran, dan telah memperoleh banyak kebenaran—tetapi dibandingkan dengan Nuh, mereka belum mencapai seperseratus, seperseribu, dari apa yang dia lakukan. Betapa kurangnya mereka! Ada perbedaan yang sangat besar. Dari pembangunan bahtera oleh Nuh, sudahkah engkau mendapati orang seperti apakah yang Tuhan kasihi? Kualitas, hati, dan integritas seperti apakah yang terdapat dalam diri orang-orang yang Tuhan kasihi? Apakah engkau semua memiliki semua hal yang Nuh miliki? Jika engkau merasa bahwa engkau memiliki iman dan karakter Nuh, maka dapat sedikit dimaafkan jika engkau mengajukan persyaratan kepada Tuhan, dan berusaha bertransaksi dengan-Nya. Jika engkau merasa bahwa semua itu sama sekali tidak ada di dalam dirimu, maka akan Kukatakan kepadamu yang sebenarnya: jangan menyanjung dirimu sendiri—engkau bukan siapa-siapa. Di mata Tuhan, engkau tidak lebih daripada belatung. Namun, engkau masih berani-beraninya mencoba mengajukan persyaratan dan bertransaksi dengan Tuhan? Ada orang-orang yang berkata, "Jika aku tidak lebih daripada belatung, bagaimana jika aku melayani sebagai anjing di rumah Tuhan?" Tidak, engkau tidak layak untuk ini. Mengapa? Engkau bahkan tidak bisa menjaga pintu rumah Tuhan dengan baik, jadi di mata-Ku, engkau bahkan tidak setara dengan anjing peliharaan. Apakah perkataan ini menyakitkan bagimu? Apakah mendengar ini tidak menyenangkan bagimu? Perkataan ini tidak dimaksudkan untuk melukai harga dirimu; ini adalah pernyataan yang didasarkan pada fakta, pernyataan yang didasarkan pada bukti, dan tidak sedikit pun salah. Inilah tepatnya caramu bertindak, inilah tepatnya yang terlihat dari dalam dirimu; inilah tepatnya caramu memperlakukan Tuhan, dan juga caramu memperlakukan semua yang Tuhan percayakan kepadamu. Semua yang Kukatakan ini benar dan berasal dari hati. Kita akan akhiri pembahasan kisah tentang Nuh di sini.

Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.

Hubungi kami via WhatsApp