Aplikasi Seluler mengenai Gereja Tuhan Yang Mahakuasa

Mendengarkan suara Tuhan dan menyambut kedatangan Tuhan Yesus kembali!

Perkataan Tuhan Yang Mahakuasa (Cara untuk Mengenal Tuhan)

Recital-latest-expression
Perkataan Tuhan Yang Mahakuasa (Cara untuk Mengenal Tuhan)

Kategorie

Antologi Bacaan Firman Tuhan Yang Mahakuasa
Perkataan Kristus pada Akhir Zaman (Pilihan)

Tuhan Adalah Sumber Kehidupan bagi Segala Sesuatu (III) Bagian Satu

Sepanjang waktu ini, kita telah membahas banyak hal terkait mengenal Tuhan, dan kita baru-baru ini membahas sesuatu yang sangat penting tentang ini. Apakah topik tersebut? (Tuhan adalah Sumber Kehidupan bagi Segala Sesuatu.) Tampaknya hal dan topik yang Aku bicarakan memberi kesan jelas kepada setiap orang. Terakhir, kita membahas sejumlah aspek lingkungan untuk kelangsungan hidup yang Tuhan ciptakan untuk umat manusia, juga tentang Tuhan menyiapkan semua jenis makanan yang dibutuhkan bagi orang dalam kehidupan mereka. Nyatanya, yang Tuhan lakukan bukan hanya menyiapkan suatu lingkungan untuk kelangsungan hidup manusia, juga bukan hanya menyiapkan makanan sehari-hari mereka, namun melengkapi aneka aspek dari begitu banyak pekerjaan misterius dan penting demi kelangsungan hidup dan untuk kehidupan umat manusia. Semua ini adalah tindakan Tuhan. Semua tindakan Tuhan ini tidak hanya terbatas pada persiapan sebuah lingkungan oleh-Nya untuk kelangsungan hidup dan makanan sehari-hari manusia—semua itu memiliki ruang lingkup lebih luas dari itu. Di samping dua tipe pekerjaan ini, Dia juga menyiapkan banyak lingkungan dan kondisi bagi kelangsungan hidup yang penting bagi kehidupan manusia. Ini adalah topik lain yang akan kita bahas hari ini. Ini juga terkait dengan tindakan Tuhan; jika tidak, membahas hal tersebut di sini tidak akan bermakna. Jika orang ingin mengenal Tuhan namun mereka hanya memiliki pemahaman harfiah akan "Tuhan," tentang kata tersebut, atau tentang seluruh aspek apa yang dimiliki Tuhan dan siapa Tuhan itu, maka itu bukanlah pemahaman sesungguhnya. Jadi apakah jalan pengenalan akan Tuhan itu? Itu adalah mengenal-Nya, mengenal setiap aspek-Nya melalui tindakan-Nya. Jadi, kita selanjutnya harus bersekutu untuk membicarakan tindakan Tuhan ketika Dia menciptakan segala sesuatu.

Sejak Tuhan menciptakan semua itu, berdasarkan hukum yang Dia tentukan, semua hal telah bekerja dan terus berkembang secara teratur. Di bawah tatapan-Nya, di bawah kekuasaan-Nya, semua hal telah berkembang secara teratur bersama dengan kelangsungan hidup manusia. Tidak satu hal pun mampu mengubah semua hukum ini, dan tidak satu hal pun bisa menghancurkan semua hukum ini. Berkat kekuasaan Tuhan semua makhluk bisa berkembang biak, dan berkat kekuasaan serta pengelolaan-Nya, semua makhluk bisa bertahan hidup. Ini berarti dalam kekuasaan Tuhan, semua makhluk menjadi ada, berkembang, lenyap, dan bereinkarnasi secara teratur. Ketika musim semi tiba, hujan gerimis menghadirkan perasaan musim semi dan melembapkan bumi. Tanah mulai gembur, rerumputan tumbuh dan keluar dari dalam tanah dan pepohonan berangsur menjadi hijau. Semua makhluk hidup ini memberikan daya kehidupan segar bagi bumi. Ini adalah pemandangan semua makhluk yang bermunculan dan berkembang. Segala jenis hewan juga keluar dari liang mereka untuk merasakan kehangatan musim semi dan memulai tahun yang baru. Semua makhluk berjemur di bawah sinar mentari selama musim panas dan menikmati kehangatan yang dihadirkan oleh musim tersebut. Mereka tumbuh cepat; pepohonan, rumput, dan semua jenis tumbuhan tumbuh sangat cepat, lalu mereka bermekaran dan berbuah. Semua makhluk sangat sibuk selama musim panas, termasuk manusia. Di musim gugur, hujan menghadirkan kesejukan musim gugur, dan semua jenis makhluk hidup mulai merasakan musim panen. Semua makhluk menghasilkan buah, dan manusia juga mulai memanen segala macam tuaian karena hasil bumi yang diberikan semua makhluk ini di musim gugur, agar dapat menyiapkan makanan untuk musim dingin. Di musim dingin, semua makhluk berangsur mulai beristirahat dalam kedinginan, menjadi tenang, dan orang juga berehat selama musim ini. Semua transisi ini dari musim semi ke musim panas ke musim gugur dan ke musim dingin—semua perubahan ini terjadi menurut hukum yang ditetapkan oleh Tuhan. Dia menuntun seluruh makhluk dan manusia menggunakan semua hukum ini dan telah menetapkan suatu cara hidup nan kaya dan penuh warna untuk umat manusia, dengan menyiapkan sebuah lingkungan untuk kelangsungan hidup yang memiliki suhu dan musim berbeda. Dalam semua lingkungan untuk kelangsungan hidup yang tertata ini, manusia juga bisa bertahan hidup dan berkembang biak secara teratur. Manusia tidak bisa mengubah semua hukum ini, dan tidak satu orang atau makhluk pun bisa menghancurkannya. Apa pun perubahan radikal yang terjadi di dunia, semua hukum ini terus ada dan semua itu ada karena Tuhan ada. Ini disebabkan oleh kekuasaan Tuhan dan pengelolaan-Nya. Dengan tipe lingkungan tertata dan lebih besar ini, hidup orang berlanjut dalam hukum dan kekuasaan ini. Semua hukum ini memupuk manusia generasi demi generasi, dan manusia generasi demi generasi telah bertahan hidup dalam semua hukum ini. Orang telah menikmati kehidupan dan lingkungan untuk kelangsungan hidup yang tertata ini, yang diciptakan oleh Tuhan untuk manusia generasi demi generasi. Meski orang merasa bahwa tipe hukum ini alami, meski mereka sepenuhnya mengabaikannya, dan meski mereka tidak bisa merasa bahwa Tuhan mengatur semua hukum ini, bahwa Tuhan berkuasa atas semua hukum ini, apa pun yang terjadi, Tuhan senantiasa terlibat dalam pekerjaan yang tidak berubah ini. Tujuan-Nya dalam pekerjaan yang tidak berubah ini adalah demi kelangsungan hidup umat manusia, sehingga manusia dapat terus menjalani hidup.

Tuhan Menetapkan Batas untuk Semua Hal untuk Memelihara Seluruh Umat Manusia

Sekarang, Aku akan membahas topik tentang cara segala jenis hukum ini, yang telah Tuhan hadirkan untuk seluruh makhluk, memelihara seluruh umat manusia. Ini adalah topik sangat besar, jadi kita bisa membaginya ke dalam beberapa bagian dan mendiskusikannya satu per satu agar bisa digambarkan secara jelas untuk engkau semua. Dengan cara ini, akan lebih mudah bagi engkau semua untuk mengerti dan engkau semua bisa memahaminya secara bertahap.

Pertama, saat Tuhan menciptakan segala sesuatu, Dia membuat batas untuk pegunungan, dataran, gurun, perbukitan, sungai, dan danau. Di bumi, ada pegunungan, dataran, gurun, perbukitan, juga berbagai perairan. Bukankah semua itu medan berbeda? Tuhan membuat batas antara seluruh jenis medan berbeda ini. Ketika kita membahas tentang menarik batas, itu berarti pegunungan memiliki garis batasnya, dataran memiliki garis batasnya sendiri, gurun memiliki ruang lingkup tertentu, dan perbukitan memiliki area tetap. Juga ada perairan dengan kuantitas tetap seperti sungai dan danau. Itu berarti, saat Tuhan menciptakan segala sesuatu, Dia membagi setiap hal secara jelas. Tuhan telah menetapkan berapa kilometer radius gunung, apa saja ruang lingkupnya. Dia juga telah menetapkan berapa kilometer radius dataran dan apa saja ruang lingkupnya. Saat menciptakan semua makhluk, Dia juga menetapkan ruang lingkup gurun, juga ruang lingkup pegunungan serta proporsinya, dan berbatasan dengan apa saja—Dia juga menetapkan semua ini. Dia menetapkan ruang lingkup sungai dan danau saat Dia menciptakannya—semua itu memiliki batasnya. Jadi apakah maksudnya saat kita mengatakan "batas"? Kita baru saja membahas betapa kekuasaan Tuhan atas semua makhluk menetapkan hukum bagi semua makhluk. Itu berarti, ruang lingkup dan batas pegunungan tidak akan bertambah atau berkurang karena rotasi bumi atau pergantian waktu. Ini adalah tetap: Hal yang "tetap" ini adalah kekuasaan Tuhan. Untuk area dataran, apa saja ruang lingkupnya, apa saja batasnya, ini telah ditetapkan oleh Tuhan. Semuanya memiliki batas, dan gundukan tidak akan muncul ke permukaan sesukanya di tengah-tengah dataran. Dataran tidak akan berubah tiba-tiba menjadi sebuah gunung—ini tidak akan terjadi. Hukum dan batas yang baru saja kita bahas mengacu pada ini. Mengenai gurun, kita tidak akan menyinggung peran dari gurun atau medan atau lokasi geografis lain di sini, hanya batasnya. Dalam kekuasaan Tuhan, ruang lingkup gurun juga tidak akan meluas. Ini karena Tuhan telah memberinya hukumnya, ruang lingkupnya. Seberapa luas areanya dan apa perannya, apa saja pembatasnya, dan di mana lokasinya—ini telah ditetapkan oleh Tuhan. Ia tidak akan melampaui ruang lingkupnya, menggeser posisinya, dan tidak memperluas wilayahnya sesukanya. Meski aliran air seperti sungai dan danau semuanya tertata dan tak berkesudahan, semua itu tidak pernah berada di luar ruang lingkupnya atau melampaui batasnya. Semuanya mengalir dalam satu arah secara teratur, mengalir ke arah semestinya. Jadi dalam hukum kekuasaan Tuhan, tidak satu pun sungai atau danau akan mengering sesukanya, atau mengubah arah atau kuantitas alirannya sesukanya karena rotasi bumi atau pergantian waktu. Semua ini dalam pengetahuan Tuhan. Yang berarti, semua makhluk yang diciptakan oleh Tuhan di tengah-tengah umat manusia ini memiliki tempat, area, dan ruang lingkupnya yang tetap. Yang berarti, ketika Tuhan menciptakan semua makhluk, batasnya ditetapkan dan ini tidak bisa diganti, diperbarui, atau diubah sesukanya. Apakah maksud "sesukanya"? Itu berarti semuanya tidak akan bergeser, meluas, atau mengubah bentuk aslinya secara acak karena cuaca, suhu, atau kecepatan rotasi bumi. Sebagai contoh, sebuah gunung memiliki ketinggian tertentu, dasarnya berada di area tertentu, memiliki ketinggian tertentu dari permukaan laut, dan memiliki jumlah tumbuhan tertentu. Semua ini direncanakan dan dihitung oleh Tuhan, dan ketinggian atau areanya tidak akan berubah begitu saja sesukanya. Mengenai dataran, sebagian besar manusia berdiam di dataran, dan pergeseran iklim tidak akan berdampak pada areanya atau nilai keberadaannya. Bahkan apa yang terkandung dalam berbagai medan dan lingkungan geografis ini yang diciptakan oleh Tuhan tidak akan berubah sesukanya. Sebagai contoh, apa saja unsur gurun, apa saja endapan mineral di bawah tanah, seberapa banyak pasir di dalamnya dan warna pasir, ketebalannya—semua ini tidak akan berubah sesukanya. Mengapa semuanya tidak akan berubah sesukanya? Ini karena kekuasaan Tuhan dan pengelolaan-Nya. Dalam semua medan dan lingkungan geografis berbeda ini yang diciptakan oleh Tuhan, Dia mengelola segalanya secara terencana dan tertata. Jadi semua lingkungan geografis ini tetap ada beberapa ribu tahun, puluhan ribu tahun setelah semuanya diciptakan oleh Tuhan. Semua itu masih memainkan peran mereka masing-masing. Meski selama periode tertentu gunung berapi meletus, selama periode tertentu gempa bumi terjadi, dan ada pergeseran besar pada tanah, Tuhan jelas tidak akan membiarkan tipe medan apa pun kehilangan fungsi hakikinya. Ini terjadi hanya berkat pengelolaan oleh Tuhan, kekuasaan dan kendali-Nya atas hukum ini, sehingga semua hal ini—semua hal ini yang dinikmati oleh umat manusia dan dilihat oleh umat manusia—bisa bertahan hidup di bumi secara teratur. Jadi mengapa Tuhan mengelola semua macam medan ini yang ada di bumi dengan cara seperti ini? Tujuannya adalah agar semua makhluk hidup yang bertahan hidup dalam berbagai lingkungan geografis akan memiliki lingkungan yang stabil, dan agar mereka mampu melanjutkan hidup dan berkembang biak dalam lingkungan stabil tersebut. Semua makhluk ini—yang bergerak dan tidak bergerak, yang bisa bernapas dan yang tidak bisa bernapas—membentuk lingkungan unik bagi kelangsungan hidup umat manusia. Hanya lingkungan semacam ini mampu memelihara manusia generasi demi generasi, dan hanya lingkungan semacam ini bisa memungkinkan manusia untuk terus bertahan hidup secara tenteram, generasi demi generasi.

Apa yang Aku bahas merupakan topik cukup besar, jadi itu mungkin terdengar sangat asing bagi engkau semua, namun engkau semua bisa memahaminya, bukan? Yang berarti, hukum Tuhan dalam kekuasaan-Nya atas semua hal sangat penting—teramat penting! Apakah prasyarat agar semua makhluk berkembang dalam hukum ini? Ini karena kekuasaan Tuhan. Berkat kekuasaan-Nya, semua makhluk bisa menjalankan fungsi mereka masing-masing dalam kekuasaan-Nya. Sebagai contoh, pegunungan memelihara hutan, hutan kemudian memelihara dan melindungi aneka burung dan satwa liar yang hidup di dalamnya. Dataran adalah panggung yang disiapkan bagi manusia untuk bercocok tanam juga bagi berbagai burung dan satwa liar. Semuanya memungkinkan sebagian besar umat manusia untuk hidup di tanah datar dan memberikan kemudahan dalam kehidupan orang. Dan dataran juga memiliki padang rumput—hamparan padang rumput begitu luas. Padang rumput merupakan tumbuh-tumbuhan bumi. Mereka melindungi tanah dan memelihara ternak, domba, dan kuda yang hidup di padang rumput. Gurun juga menjalankan fungsinya sendiri. Ini bukan sebuah tempat untuk didiami oleh manusia; perannya adalah membuat iklim lembap menjadi lebih kering. Aliran sungai dan danau memberi orang air minum dan kebutuhan air semua makhluk. Ke mana pun mengalir, orang akan memiliki air untuk diminum. Semua ini adalah batas yang dibuat oleh Tuhan untuk berbagai medan.

Berkat semua batas ini yang telah Tuhan buat, berbagai medan telah menghasilkan berbagai lingkungan untuk kelangsungan hidup, dan lingkungan untuk kelangsungan hidup ini telah memberi kemudahan bagi berbagai jenis burung dan satwa liar, juga menghadirkan ruang untuk kelangsungan hidup. Dari sini, batas lingkungan untuk kelangsungan hidup berbagai makhluk hidup telah dikembangkan. Inilah yang akan kita bicarakan selanjutnya.

Poin kedua: Pertama-tama, di manakah burung dan satwa liar serta serangga hidup? Apakah mereka hidup di hutan dan belukar? (Ya.) Semua ini adalah tempat tinggal mereka. Jadi, selain menetapkan batas untuk berbagai lingkungan geografis, Tuhan juga membuat batas untuk berbagai burung dan satwa liar, ikan, serangga, dan seluruh tumbuhan. Dia juga menetapkan hukum. Karena perbedaan antara lingkungan geografis dan karena keberadaan lingkungan geografis berbeda, berbagai jenis burung dan satwa liar, ikan, serangga, dan tumbuhan memiliki lingkungan untuk kelangsungan hidup yang berbeda. Burung dan satwa liar serta serangga hidup di tengah-tengah aneka tumbuhan, ikan hidup dalam air, dan tumbuhan tumbuh di tanah. Termasuk apa sajakah tanah? Berbagai area seperti pegunungan, dataran, dan perbukitan. Jadi, setelah burung dan satwa liar memiliki tempat tinggal tetap mereka sendiri, mereka tidak akan berkeliaran ke mana-mana. Tempat tinggal mereka adalah hutan dan pegunungan. Jika, suatu hari, tempat tinggal mereka dimusnahkan, mereka akan melakukan apa? (Mereka akan berkeliaran ke mana-mana.) Tatanan akan berubah menjadi kekacauan. Segera setelah tatanan ini berubah menjadi kekacauan, apa saja konsekuensinya? Siapakah yang pertama tersakiti? (Umat manusia.) Umat manusia. Dalam hukum dan batasan yang telah Tuhan tetapkan, pernahkah engkau semua melihat fenomena aneh? Sebagai contoh, gajah berkeliaran di gurun dengan santai saja. Pernahkah engkau melihatnya? Jika memang demikian, itu merupakan sebuah fenomena sangat aneh, karena gajah hidup di hutan, dan itu adalah lingkungan untuk kelangsungan hidup yang Tuhan siapkan untuk mereka. Mereka memiliki lingkungan untuk kelangsungan hidup dan rumah tetap mereka sendiri, jadi untuk apa mereka berkeliaran? Apakah ada yang pernah melihat singa atau harimau berkeliaran di tepi laut? Tidak satu pun, bukan? Rumah singa dan harimau adalah hutan dan pegunungan. Apakah ada yang melihat paus atau ikan hiu dari lautan bersantai di gurun? Tidak seorang pun pernah melihatnya, bukan? Paus dan ikan hiu membangun rumah mereka di lautan. Dalam lingkungan hidup manusia, apakah ada orang yang hidup berdampingan dengan beruang cokelat? Adakah orang yang selalu dikelilingi oleh merak atau burung lain, di dalam dan di luar rumah mereka? Apakah ada yang pernah melihat elang atau angsa liar bermain bersama kera? (Tidak.) Semua ini akan menjadi fenomena aneh. Alasan Aku membicarakan semua hal ini yang merupakan fenomena aneh di mata engkau semua adalah agar engkau semua memahami bahwa semua makhluk yang diciptakan oleh Tuhan—tidak peduli apakah mereka menetap di satu tempat atau bisa bernapas—mereka semua memiliki hukum mereka untuk kelangsungan hidup. Jauh sebelum Tuhan menciptakan semua makhluk hidup ini, Dia telah menyiapkan bagi mereka tempat tinggal mereka, lingkungan untuk kelangsungan hidup mereka sendiri. Semua makhluk hidup ini memiliki lingkungan untuk kelangsungan hidup mereka sendiri yang tetap, makanan mereka sendiri, tempat tinggal tetap mereka sendiri, tempat tetap mereka sendiri yang sesuai untuk kelangsungan hidup mereka, tempat dengan suhu yang sesuai untuk kelangsungan hidup mereka. Dengan cara itu, mereka tidak akan berkeliaran atau merongrong kelangsungan hidup umat manusia atau memengaruhi kehidupan mereka. Ini adalah cara Tuhan mengelola semua makhluk. Yaitu untuk menyediakan bagi umat manusia lingkungan terbaik untuk kelangsungan hidup. Makhluk hidup dalam semua ciptaan masing-masing memiliki makanan penopang hidup dalam lingkungan mereka sendiri untuk kelangsungan hidup. Dengan makanan tersebut, mereka menetap dalam lingkungan asli mereka untuk kelangsungan hidup. Dalam lingkungan semacam itu, mereka terus bertahan hidup, berkembang biak, dan melanjutkan hidup seturut hukum yang telah Tuhan tetapkan untuk mereka. Berkat berbagai macam hukum ini, berkat penentuan Tuhan sejak semula, semua makhluk berinteraksi secara harmonis dengan umat manusia, dan umat manusia serta semua makhluk saling tergantung.

Tuhan menciptakan semua makhluk dan menetapkan batas bagi mereka, dan di antara mereka memelihara semua jenis makhluk hidup. Sembari memelihara semua jenis makhluk hidup, Dia juga menyiapkan metode kelangsungan hidup berbeda untuk manusia, jadi engkau bisa melihat bahwa manusia tidak hanya memiliki satu cara untuk bertahan hidup. Mereka juga tidak hanya memiliki satu tipe lingkungan untuk bertahan hidup. Kita telah berbicara sebelumnya tentang Tuhan menyiapkan berbagai jenis sumber makanan dan air bagi manusia, yang merupakan suatu hal yang sangat penting agar kehidupan umat manusia dalam daging bisa berkesinambungan. Akan tetapi, di antara umat manusia ini, tidak semua orang hidup dari biji-bijian. Orang memiliki cara melangsungkan hidup yang berbeda-beda karena perbedaan pada lingkungan dan medan geografis. Cara melangsungkan hidup ini telah disiapkan semuanya oleh Tuhan. Jadi tidak semua manusia hanya hidup dari bertani. Yang berarti, tidak semua orang mendapatkan makanan mereka dari bercocok tanam. Ini adalah poin ketiga yang akan kita bicarakan: Batas telah dikembangkan dari berbagai gaya hidup umat manusia. Jadi apa saja jenis gaya hidup lain yang dimiliki oleh manusia? Apa saja berbagai jenis sumber makanan lain yang manusia miliki? Ada beberapa jenis utama:

Pertama gaya hidup berburu. Setiap orang mengetahui itu, bukan? Engkau semua adalah orang modern—engkau tidak mengetahui cara berburu, cara memegang senapan. Sumber makanan engkau semua dihasilkan dari bumi. Apakah makanan orang yang hidup dari berburu? (Buruan.) Mereka memakan burung dan satwa liar di hutan. "Buruan" adalah kata modern. Pemburu tidak menilai itu sebagai buruan; mereka menganggap itu sebagai makanan, sebagai makanan sehari-hari mereka. Sebagai contoh, mereka mendapatkan seekor rusa. Ketika mereka mendapatkan rusa ini, itu sama seperti petani mendapatkan hasil panen dari tanah. Seorang petani mendapatkan hasil panen dari tanah, dan ketika dia melihat hasil panennya, dia gembira dan merasa tenang. Keluarganya tidak akan kelaparan berkat hasil panen untuk dimakan. Hatinya tenang dan dia merasa puas. Dan seorang pemburu juga merasa tenang dan puas saat memperhatikan tangkapannya karena dia tidak perlu mengkhawatirkan makanan lagi. Ada sesuatu untuk dimakan sebagai santapan selanjutnya, tidak perlu kelaparan. Ini adalah seseorang yang berburu untuk hidup. Mereka biasanya berdiam dalam lingkungan seperti apa? Sebagian besar dari mereka yang hidup dari berburu berdiam di hutan pegunungan; mereka tidak bertani atau bercocok tanam. Tidaklah mudah mencari tanah subur di sana, jadi mereka bertahan hidup dengan berbagai makhluk hidup, berbagai jenis mangsa. Ini adalah jenis gaya hidup pertama yang berbeda dari orang biasa.

Jenis kedua adalah gaya hidup menggembalakan ternak. Mereka yang menggembalakan ternak untuk hidup tidak bertani, jadi apa yang mereka lakukan? Jika di sini ada yang beretnis Mongolia, engkau bisa berbicara sedikit tentang gaya hidup nomaden kalian. (Sebagian besar, kami menggembalakan sapi dan domba untuk hidup, tidak bertani, dan kami menyembelih serta memakan ternak kami di musim dingin. Makanan utama kami terdiri dari daging sapi dan domba, dan kami meminum teh susu. Meski penggembala sibuk empat musim penuh, mereka makan berkecukupan. Mereka tidak kekurangan susu, produk perahan, atau daging.) Orang Mongolia utamanya memakan daging sapi dan domba, meminum susu domba dan susu sapi, dan menunggang banteng dan kuda untuk menggembalakan ternak mereka di padang gembala dengan angin meniup rambut mereka, mentari menyinari wajah mereka. Mereka tidak merasakan stres kehidupan modern. Seharian mereka hanya melihat hamparan luas langit biru dan dataran berumput. Sebagian besar orang yang memelihara ternak untuk hidup berdiam di padang rumput dan mereka mampu melanjutkan gaya hidup nomaden mereka generasi demi generasi. Meski hidup di padang rumput sedikit kesepian, itu juga kehidupan yang begitu menyenangkan. Bukan gaya hidup yang buruk!

Jenis ketiga adalah gaya hidup menangkap ikan. Ada sejumlah kecil manusia yang hidup di tepi laut atau di pulau kecil. Mereka dikelilingi oleh air, menghadap lautan. Dan ada beberapa yang hidup di perahu. Semua orang ini menangkap ikan untuk hidup. Apakah sumber makanan bagi mereka yang menangkap ikan untuk hidup? Semua jenis ikan, sari laut, dan produk bahari, bukan? Ketika Hong Kong masih sebuah desa nelayan kecil, orang yang hidup di sana menangkap ikan untuk hidup. Mereka tidak bertani—mereka pergi menangkap ikan setiap hari. Makanan utama mereka berbagai jenis ikan dan sari laut. Mereka terkadang menukar ini dengan beras, tepung, dan kebutuhan sehari-hari. Ini adalah gaya hidup berbeda orang yang hidup di dekat perairan. Mereka yang hidup di dekat perairan bergantung pada hal itu untuk makanan mereka, dan menangkap ikan adalah pencaharian mereka. Itu adalah sumber pencaharian mereka juga sumber makanan mereka.

Selain mereka yang bertani untuk hidup, utamanya ada tiga gaya hidup berbeda yang disebutkan di atas. Selain mereka yang hidup dari menggembalakan ternak, menangkap ikan, dan berburu, sebagian besar orang bertani untuk hidup. Dan apakah kebutuhan orang yang bertani untuk hidup? Mereka membutuhkan tanah. Mereka hidup dari bercocok tanam turun-temurun dan mendapatkan makanan mereka dari bumi. Entah mereka menanam sayur, buah-buahan, atau biji-bijian, mereka semua mendapatkan kebutuhan sehari-hari dari bumi.

Apakah syarat dasar bagi semua gaya hidup manusia yang berbeda ini? Tidakkah mereka memerlukan pemeliharaan dasar dari lingkungan kelangsungan hidup mereka? Yang berarti, jika pemburu kehilangan hutan pegunungan atau burung dan satwa liar, mereka tidak lagi memiliki pencaharian. Jadi jika orang yang hidup dari berburu kehilangan hutan pegunungan dan tidak lagi memiliki burung dan satwa liar, jika mereka tidak lagi memiliki sumber pencaharian, maka ke mana arah tujuan etnis seperti itu dan ke mana jenis orang seperti itu akan pergi tidak akan diketahui, dan mereka bahkan bisa saja menghilang. Dan bergantung pada apakah mereka yang menggembalakan ternak sebagai pencaharian mereka? Mereka tidak sepenuhnya mengandalkan ternak mereka, namun lingkungan tempat ternak mereka bertahan hidup—padang rumput. Jika tiada padang rumput, di mana mereka akan memberi makan rumput untuk ternak mereka? Apa yang akan dimakan oleh sapi dan domba? Tanpa ternak, apakah pencaharian semua orang nomaden ini? Mereka tidak akan memiliki apa pun. Tanpa sumber bagi pencaharian mereka, ke manakah orang tersebut akan pergi? Kelangsungan hidup berkesinambungan akan menjadi sangat sulit; mereka tidak akan memiliki masa depan. Tanpa sumber air, sungai dan danau akan mengering. Apakah semua ikan yang mengandalkan air untuk kehidupan mereka akan tetap ada? Semua ikan tersebut tidak akan ada. Akankah orang yang mengandalkan air dan ikan sebagai pencaharian mereka terus bertahan hidup? Jika mereka tidak memiliki makanan, jika mereka tidak memiliki sumber pencaharian mereka, semua orang tersebut tidak akan dapat terus bertahan hidup. Yang berarti, jika ada suatu masalah dengan pencaharian mereka atau kelangsungan hidup mereka, ras tersebut tidak akan lagi melanjutkan hidup, dan mereka bisa menghilang, lenyap dari bumi. Dan jika mereka yang bertani sebagai pencaharian kehilangan tanah mereka, jika mereka tidak bisa menanam dan mendapatkan makanan dari aneka tumbuhan, akan seperti apa hasil akhirnya? Tanpa makanan, bukankah orang akan mati kelaparan? Jika orang mati kelaparan, bukankah jenis orang seperti itu akan binasa? Jadi, inilah tujuan Tuhan dalam mempertahankan berbagai lingkungan. Tuhan hanya memiliki satu tujuan dalam mempertahankan berbagai lingkungan dan ekosistem, mempertahankan berbagai makhluk hidup dalam setiap lingkungan—itu untuk memelihara semua jenis orang, memelihara orang dengan kehidupan dalam lingkungan geografis berbeda.

Perkataan Tuhan Yang Mahakuasa (Cara untuk Mengenal Tuhan)

0Hasil Pencarian