Aplikasi Seluler mengenai Gereja Tuhan Yang Mahakuasa

Mendengarkan suara Tuhan dan menyambut kedatangan Tuhan Yesus kembali!

Kami persilakan semua pencari kebenaran untuk menghubungi kami.

Perkataan Kristus pada Akhir Zaman

Warna yang Kuat

Tema

Font

Ukuran Font

Spasi Baris

Lebar laman

% Hasil Pencarian

Hasil tidak ditemukan

Antologi dari Sepuluh Bagian Firman Tuhan tentang "Pekerjaan dan Jalan Masuk"

1. Semenjak orang mulai menapaki jalur kehidupan yang benar, ada banyak hal yang masih tidak jelas bagi mereka. Mereka masih betul-betul kabur mengenai pekerjaan Tuhan, dan mengenai banyak pekerjaan yang harus mereka lakukan. Di satu sisi, hal ini karena pengalaman mereka bertolak belakang dan kapasitas mereka terbatas dalam menerima. Di sisi lain, hal ini karena pekerjaan Tuhan belum membawa orang sampai ke tahap ini. Jadi, semua orang merasa tak pasti mengenai perkara-perkara yang paling rohani. Bukan hanya merasa tidak jelas mengenai perkara yang harus engkau semua masuki, engkau semua bahkan lebih tidak paham mengenai pekerjaan Tuhan. Masalah ini lebih dari sekadar masalah keterbatasan dalam dirimu: Masalah ini adalah kekurangan besar pada semua orang yang ada di kalangan keagamaan. Di sinilah terletak kunci mengapa orang tidak mengenal Tuhan, jadi kekurangan ini adalah kekurangan yang ada pada semua orang yang berusaha mencari Dia. Tak ada seorang pun yang pernah mengenal Tuhan, atau pernah melihat wajah-Nya yang sebenarnya. Karena hal inilah pekerjaan Tuhan sesukar memindahkan gunung atau mengeringkan lautan. Berapa banyak orang yang telah mengorbankan hidupnya untuk pekerjaan Tuhan? Berapa banyak yang telah diasingkan karena pekerjaan-Nya? Berapa banyak, yang demi pekerjaan-Nya, telah disiksa sampai mati? Berapa banyak yang telah mati secara tak adil dengan berlinangan air mata kasih bagi Tuhan? Berapa banyak yang harus mengalami penganiayaan yang kejam dan tidak manusiawi …? Tragedi-tragedi ini terjadi—bukankah semua ini akibat kurangnya pengenalan orang akan Tuhan? Bagaimana mungkin seseorang yang tidak mengenal Tuhan tidak merasa malu untuk datang ke hadapan-Nya? Bagaimana mungkin seseorang yang percaya kepada Tuhan, tetapi menganiaya-Nya, tidak merasa malu untuk datang ke hadapan-Nya? Hal ini bukan semata-mata kekurangan pada diri orang-orang dalam kalangan keagamaan, tetapi merupakan kekurangan pada dirimu dan juga pada diri mereka. Orang percaya kepada Tuhan tanpa mengenal-Nya. Hanya karena alasan inilah mereka tidak menghormati-Nya dalam hati mereka, dan tidak takut akan Dia dalam hati mereka. Bahkan ada orang-orang yang, dengan cara yang mencolok dan berlebih-lebihan, melakukan pekerjaan yang mereka khayalkan sendiri dalam aliran ini, dan melakukan pekerjaan Tuhan berdasarkan keinginan mereka sendiri serta hasrat yang tidak wajar. Banyak orang bertindak liar, sama sekali tidak segan kepada Tuhan, tetapi malah mengikuti kehendaknya sendiri. Bukankah ini perwujudan sempurna keegoisan hati orang? Bukankah ini mewujudkan unsur penipuan yang sangat melimpah dalam diri orang? Orang memang bisa saja memiliki kecerdasan yang sangat tinggi, tetapi bagaimana mungkin karunia mereka menggantikan posisi pekerjaan Tuhan? Orang memang bisa saja memedulikan beban Tuhan, tetapi mereka tidak boleh bertindak begitu egois. Apakah perbuatan orang benar-benar ilahi? Dapatkah seseorang benar-benar yakin? Untuk menjadi saksi bagi Tuhan, untuk mewarisi kemuliaan-Nya—untuk hal-hal inilah Tuhan membuat pengecualian dan mengangkat orang. Bagaimana mungkin mereka bisa layak? Pekerjaan Tuhan baru saja dimulai, firman-Nya baru saja mulai diucapkan. Pada titik ini, orang merasa bangga dengan dirinya. Bukankah hal itu hanya akan membuat mereka dipermalukan? Terlalu sedikit yang mereka pahami. Ahli teori paling berbakat sekalipun, pembicara paling pandai bicara, tidak dapat memaparkan semua kelimpahan Tuhan—apalagi engkau semua? Engkau semua sebaiknya tidak menilai diri lebih tinggi daripada langit, tetapi lihatlah dirimu yang lebih rendah daripada yang paling hina di antara orang-orang rasional yang berusaha mengasihi Tuhan. Inilah jalan yang harus engkau semua masuki: untuk melihat dirimu sendiri lebih rendah dibandingkan semua orang lain. Mengapa engkau semua menganggap diri begitu tinggi? Mengapa engkau semua menilai diri begitu tinggi? Dalam perjalanan hidup yang panjang ini, engkau semua baru menjalani beberapa langkah pertama saja. Hal yang engkau semua lihat baru lengan Tuhan saja, bukan keseluruhan Tuhan. Engkau semua harus lebih banyak melihat pekerjaan Tuhan, lebih banyak menemukan perkara yang harus engkau semua masuki, karena engkau semua baru berubah begitu sedikit.

dari "Pekerjaan dan Jalan Masuk (1)"

dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

2. Dalam membentuk manusia[1] dan mengubah wataknya, pekerjaan Tuhan tidak pernah berhenti, sebab mereka terlalu banyak kekurangan dan sangat tidak memenuhi standar yang ditetapkan-Nya. Jadi, dapat dikatakan bahwa, di mata Tuhan, engkau semua selama-lamanya akan menjadi bayi yang baru lahir, hanya memiliki sangat sedikit unsur yang menyenangkan-Nya, sebab engkau semua bukanlah apa-apa, hanya ciptaan di tangan Tuhan. Jika ada orang yang merasa puas diri, tidakkah ia akan dibenci Tuhan? Saat ini, engkau semua dikatakan dapat memuaskan Tuhan hanya karena dibandingkan terhadap dagingmu, tetapi dibandingkan terhadap Tuhan, engkau semua selalu kalah di gelanggang. Daging manusia belum pernah sekalipun mengenal kemenangan. Hanya melalui pekerjaan Roh Kudus, ada kemungkinan bagi manusia untuk memiliki aspek penebusan. Sebenarnya, di antara begitu banyak ciptaan Tuhan, manusialah yang terendah. Meskipun ia adalah tuan atas segalanya, hanya manusialah di antara segala ciptaan yang tunduk pada tipu daya Iblis, satu-satunya yang terus menerus dimangsa oleh kebobrokannya. Manusia belum pernah berdaulat atas dirinya sendiri. Kebanyakan orang hidup di dalam tempat Iblis yang busuk, dan menderita cemoohnya. Iblis menggoda mereka dengan cara ini dan itu sampai mereka setengah hidup setengah mati, menahankan setiap perubahan, setiap kesusahan di dunia manusia. Setelah mempermainkan mereka, Iblis mengakhiri nasib mereka. Jadi, orang melewati seluruh kehidupannya dalam keadaan linglung kebingungan, tak sekali pun menikmati segala yang baik yang telah Tuhan siapkan bagi mereka, sebaliknya malah dirusak oleh Iblis dan ditinggalkan dalam keadaan tercabik-cabik. Kini, mereka sangat rapuh dan lesu sampai-sampai mereka tak memiliki kecenderungan lagi untuk memperhatikan pekerjaan Tuhan. Jika orang tidak memiliki kecenderungan untuk memperhatikan pekerjaan Tuhan, pengalaman mereka pasti akan selamanya terpecah-pecah dan tidak lengkap, dan jalan masuk mereka akan selamanya berupa ruang kosong. Selama ribuan tahun sejak Tuhan datang ke dalam dunia, sejumlah orang dengan teladan yang sangat baik telah digunakan Tuhan untuk melakukan pekerjaan-Nya selama beberapa tahun. Akan tetapi, orang-orang yang mengetahui pekerjaan-Nya sangat sedikit bahkan hampir tidak ada. Karena alasan inilah, tak terhitung banyaknya orang yang menjadi penentang Tuhan sambil mereka melakukan pekerjaan-Nya pada saat yang sama, karena, bukannya melakukan pekerjaan-Nya, mereka malah melakukan pekerjaan manusia dalam posisi yang diberikan oleh Tuhan. Dapatkah ini disebut pekerjaan? Bagaimana mungkin mereka dapat masuk? Kemanusiaan telah mengambil kasih karunia Tuhan dan menguburnya. Oleh karena hal ini, selama generasi-generasi sebelumnya, orang-orang yang melakukan pekerjaan-Nya hanya memiliki sedikit jalan masuk. Mereka tidak pernah berbicara mengenai pengetahuan akan pekerjaan Tuhan, sebab terlalu sedikit pemahaman mereka akan hikmat Tuhan. Dapat dikatakan bahwa, meskipun ada banyak orang yang melayani Tuhan, mereka gagal melihat betapa mulianya Dia, dan inilah alasan mengapa semua orang telah menjadikan dirinya Tuhan untuk disembah orang lain.

dari "Pekerjaan dan Jalan Masuk (1)"

dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

3. Ketika membicarakan tentang pekerjaan, manusia percaya bahwa pekerjaan itu berarti pergi ke sana kemari untuk Tuhan, berkhotbah di segala tempat, dan berjerih lelah untuk Tuhan. Meskipun keyakinan ini benar, pandangan ini terlalu sepihak; yang Tuhan minta dari manusia bukanlah sekadar melakukan perjalanan ke sana kemari bagi Tuhan, tetapi lebih berkaitan dengan pelayanan dan pembekalan di dalam roh. Banyak saudara-saudari belum pernah memikirkan tentang bekerja bagi Tuhan bahkan setelah bertahun-tahun mengalaminya, sebab pekerjaan dalam gagasan manusia tidak selaras dengan pekerjaan yang diminta Tuhan. Jadi, manusia sama sekali tidak tertarik dengan masalah pekerjaan, dan inilah sesungguhnya alasan mengapa jalan masuk manusia juga sangat sepihak. Engkau semua harus mulai masuk dengan cara bekerja bagi Tuhan, sehingga engkau semua dapat mengalami semua aspeknya dengan lebih baik. Inilah yang harus engkau masuki. Pekerjaan bukan mengacu pada pergi ke sana kemari bagi Tuhan. Pekerjaan mengacu pada apakah kehidupan manusia dan perkara-perkara yang dihidupi manusia itu dimaksudkan untuk dinikmati Tuhan. Pekerjaan mengacu pada manusia yang menggunakan kesetiaan mereka kepada Tuhan dan pengenalan mereka akan Tuhan untuk bersaksi tentang Tuhan dan melayani manusia. Inilah tanggung jawab manusia dan perkara yang harus disadari semua manusia. Dengan kata lain, jalan masukmu adalah pekerjaanmu; engkau semua berusaha untuk memasukinya selama melakukan pekerjaanmu bagi Tuhan. Mengalami Tuhan bukan sekadar dapat makan dan minum firman-Nya. Yang lebih penting, engkau semua harus mampu memberi kesaksian tentang Tuhan, melayani Tuhan, serta melayani dan membekali manusia. Inilah yang dimaksud dengan pekerjaan, serta jalan masukmu. Inilah yang harus dicapai oleh setiap orang. Ada banyak orang yang hanya berfokus pada melakukan perjalanan ke sana kemari bagi Tuhan, dan berkhotbah di segala tempat, tetapi mengabaikan pengalaman pribadi mereka dan melalaikan jalan masuk mereka ke dalam kehidupan rohani. Inilah yang menyebabkan orang-orang yang melayani Tuhan menjadi orang-orang yang menentang Tuhan. Selama bertahun-tahun, mereka yang melayani Tuhan dan melayani manusia menganggap pekerjaan dan berkhotbah saja yang merupakan jalan masuk, dan tidak seorang pun memandang pengalaman rohaninya sendiri sebagai jalan masuk yang penting. Sebaliknya, mereka memanfaatkan pencerahan yang berasal dari pekerjaan Roh Kudus untuk mengajar orang lain. Ketika berkhotbah, mereka sangat terbeban dan menerima pekerjaan Roh Kudus, dan melalui hal ini, mereka memperdengarkan suara Roh Kudus. Pada waktu itu, para pengerja tersebut merasa sombong dan berpuas diri, seolah-olah pekerjaan Roh Kudus itu adalah pengalaman rohani mereka sendiri. Mereka merasa bahwa semua perkataan yang mereka ucapkan sepanjang waktu itu berasal dari keberadaaan mereka sendiri, serta seolah-olah pengalaman mereka sendiri tidak sejelas yang mereka paparkan. Selain itu, tak sedikit pun mereka terpikir apa yang akan mereka katakan sebelum berbicara, tetapi ketika Roh Kudus bekerja di dalam mereka, mereka dapat berkata-kata tanpa henti dengan perkataan yang terus mengalir. Setelah engkau berkhotbah dengan cara demikian satu kali, engkau merasa bahwa tingkat pertumbuhanmu ternyata tidak sekecil yang engkau yakini. Setelah Roh Kudus bekerja dengan cara yang sama di dalam dirimu beberapa kali, engkau pun yakin bahwa engkau sudah memiliki tingkat pertumbuhan yang baik dan secara keliru meyakini bahwa pekerjaan Roh Kudus itu adalah jalan masuk dan keberadaanmu sendiri. Ketika engkau terus menerus mengalami pengalaman ini, engkau menjadi kendur mengenai jalan masukmu sendiri. Kemudian, tanpa disadari, engkau menjadi malas, dan tidak menaruh perhatian sama sekali pada jalan masukmu sendiri. Itulah sebabnya, ketika engkau melayani orang lain, engkau harus dapat membedakan dengan jelas antara tingkat pertumbuhanmu dan pekerjaan Roh Kudus. Hal ini akan mempermudah jalan masukmu dan akan lebih menguntungkan pengalamanmu. Kemerosotan manusia dimulai ketika manusia menganggap pekerjaan Roh Kudus sebagai pengalaman mereka sendiri. Oleh karena itu, tugas apa pun yang engkau semua laksanakan, engkau semua harus memandang jalan masukmu sebagai pelajaran yang sangat penting.

dari "Pekerjaan dan Jalan Masuk (2)"

dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

4. Orang bekerja untuk memenuhi kehendak Tuhan, untuk membawa semua orang yang berkenan di hati Tuhan ke hadapan-Nya, untuk membawa manusia kepada Tuhan, dan untuk memperkenalkan pekerjaan Roh Kudus serta bimbingan Tuhan kepada manusia, dengan demikian menyempurnakan buah-buah pekerjaan Tuhan. Karena alasan inilah, merupakan suatu keharusan bagimu untuk dapat memahami hakikat dari bekerja. Sebagai orang yang dipakai Tuhan, semua manusia layak bekerja bagi Tuhan, artinya, semua orang memiliki kesempatan untuk dipakai Roh Kudus. Namun, ada satu hal yang harus engkau semua sadari: Ketika manusia melakukan pekerjaan Tuhan, manusia memiliki kesempatan untuk dipakai Tuhan, tetapi apa yang dikatakan dan diketahui manusia bukan seluruhnya merupakan tingkat pertumbuhan manusia. Engkau semua hanya bisa mengetahui kekurangan dalam pekerjaanmu dengan lebih baik, dan menerima pencerahan yang lebih besar dari Roh Kudus, sehingga membuatmu dapat meraih jalan masuk yang lebih baik dalam pekerjaanmu. Jika manusia menganggap bimbingan Tuhan sebagai jalan masuk manusia itu sendiri dan merupakan sesuatu yang melekat dalam diri manusia, tidak ada kemungkinan bagi tingkat pertumbuhan manusia itu untuk berkembang. Roh Kudus mencerahkan manusia ketika mereka berada dalam keadaan yang normal. Pada saat seperti itu, manusia sering salah memahami pencerahan yang mereka terima sebagai tingkat pertumbuhan mereka sendiri yang sebenarnya, karena Roh Kudus mencerahkan dengan cara yang sangat biasa: dengan memanfaatkan kualitas yang melekat dalam diri manusia. Ketika manusia bekerja dan berbicara, atau sewaktu manusia berdoa dalam saat teduhnya, suatu kebenaran tiba-tiba menjadi jelas bagi mereka. Meskipun demikian, sesungguhnya, hal yang dilihat manusia hanyalah pencerahan Roh Kudus (tentu saja, hal ini berkaitan dengan kerja sama dari pihak manusia) dan ini bukan merupakan tingkat pertumbuhan manusia yang sebenarnya. Setelah suatu masa manusia mengalami kesulitan yang nyata, tingkat pertumbuhan manusia yang sebenarnya menjadi jelas dalam keadaan seperti itu. Baru pada waktu itulah manusia mendapati bahwa tingkat pertumbuhannya ternyata tidak begitu besar, dan keegoisan, sifat memikirkan diri sendiri, serta keserakahan manusia semuanya muncul. Baru setelah mengalami beberapa putaran semacam itu, banyak orang yang terbangun di dalam roh mereka akhirnya menyadari bahwa apa yang terjadi di masa lalu bukanlah kenyataan mereka sendiri, melainkan penerangan sesaat dari Roh Kudus, dan manusia hanya menerima terang itu. Ketika Roh Kudus menerangi manusia agar memahami kebenaran, itu sering kali dilakukan secara jelas dan terpisah, tanpa konteks. Artinya, Dia tidak memasukkan kesulitan manusia ke dalam penyingkapan ini, sebaliknya Dia langsung menyingkapkan kebenaran. Ketika manusia menjumpai kesulitan dalam jalan masuk, manusia lalu menyertakan pencerahan Roh Kudus, dan hal ini menjadi pengalaman nyata dari manusia. ... Oleh sebab itu, ketika engkau semua menerima pekerjaan Roh kudus, pada saat yang sama, engkau semua harus lebih berfokus pada jalan masukmu, melihat dengan tepat apa pekerjaan Roh Kudus dan apa jalan masukmu. Selain itu, engkau semua juga harus menyatukan pekerjaan Roh Kudus ke dalam jalan masukmu, supaya engkau dapat lebih disempurnakan oleh-Nya dan hal ini memungkinkan hakikat pekerjaan Roh Kudus ditempa di dalam dirimu. Seraya engkau semua mengalami pekerjaan Roh Kudus, engkau pun mulai mengenal Roh Kudus, dan juga dirimu sendiri, dan di tengah begitu banyak peristiwa penderitaan yang berat, engkau menumbuhkan hubungan yang normal dengan Tuhan, dan hubungan antara engkau dengan Tuhan semakin hari semakin dekat. Setelah begitu banyak peristiwa pemangkasan dan pemurnian, engkau semua menumbuhkan kasih yang sejati bagi Tuhan. Itulah sebabnya engkau semua harus menyadari bahwa penderitaan, pukulan, dan kesengsaraan tidaklah menakutkan; yang menakutkan adalah hanya memiliki pekerjaan Roh Kudus, tetapi tidak memiliki jalan masukmu. Ketika tiba harinya pekerjaan Tuhan selesai, engkau semua telah berjerih lelah dengan sia-sia; meskipun engkau telah mengalami pekerjaan Tuhan, engkau belum mengenal Roh Kudus atau memiliki jalan masukmu sendiri. Pencerahan manusia oleh Roh Kudus bukan dimaksudkan untuk menopang semangat manusia. Pencerahan itu dimaksudkan untuk membuka jalan masuk bagi manusia, serta untuk memungkinkan manusia mulai mengenal Roh Kudus, dan kemudian menumbuhkan hati yang penuh rasa hormat dan penyembahan kepada Tuhan.

dari "Pekerjaan dan Jalan Masuk (2)"

dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

5. Tuhan telah memercayakan banyak hal kepada manusia dan dengan pelbagai cara juga telah membahas tentang jalan masuk mereka. Tetapi, karena kualitas orang sangat rendah, maka banyak firman Tuhan yang gagal berakar. Ada bermacam-macam alasan menyangkut rendahnya kualitas tersebut, antara lain rusaknya pikiran dan moralitas manusia, dan kurangnya pengasuhan yang layak; takhayul feodal yang begitu menguasai hati manusia; kebobrokan dan kemerosotan gaya hidup yang telah menimbun banyak penyakit di relung-relung hati manusia; pemahaman yang dangkal tentang kemelekan budaya, dengan hampir sembilan puluh delapan persen orang kurang berpendidikan dalam kemelekan budaya dan, lebih-lebih, sangat sedikit yang mencapai jenjang pendidikan budaya yang lebih tinggi. Oleh karena itu, pada dasarnya orang tidak mengetahui apa yang dimaksud dengan Tuhan atau Roh Kudus, kecuali sekadar memiliki gambaran yang samar dan tidak jelas tentang Tuhan, yang diperoleh dari takhayul feodal. Pengaruh buruk selama ribuan tahun dari "semangat luhur nasionalisme" telah berakar di dalam hati manusia, demikian juga pemikiran feodal yang mengikat dan membelenggu manusia, tanpa sedikit pun ada kebebasan, tanpa kemauan untuk bercita-cita atau bertahan, tanpa hasrat untuk maju, malah sebaliknya, tetap pasif dan mundur, terkurung dalam mentalitas budak, dan seterusnya—faktor-faktor objektif di atas telah membubuhkan suatu corak tak terhapuskan yang kotor dan buruk pada pandangan ideologis, cita-cita, moralitas, dan watak umat manusia. Rupanya, manusia sedang hidup dalam dunia kegelapan teroris dan tidak satu pun berusaha menerobos kegelapan ini, tidak satu pun berpikir untuk beranjak ke dunia yang ideal. Sebaliknya, mereka puas dengan bagian hidupnya, menghabiskan hari-hari dengan melahirkan dan membesarkan anak, membanting tulang, berpeluh-peluh, mengerjakan pekerjaan sehari-hari, mengidamkan keluarga yang nyaman dan bahagia, kasih sayang dalam perkawinan, anak-anak yang berbakti, dan kegembiraan di usia senja ketika menjalani kehidupan dengan damai.... Selama puluhan, ribuan, bahkan puluhan ribu tahun hingga saat ini, orang menghabiskan waktu dengan cara tersebut tanpa ada yang menciptakan kehidupan yang sempurna. Semua hanya bertujuan saling membantai di dunia yang gelap ini, berlomba-lomba mengejar ketenaran, keberuntungan, dan saling menjatuhkan. Siapakah yang pernah mencari kehendak Tuhan? Adakah yang pernah mengindahkan pekerjaan Tuhan? Segala sisi kemanusiaan yang dipenuhi dengan pengaruh kegelapan telah lama menjadi sifat manusia sehingga pekerjaan Tuhan cukup sulit untuk dilaksanakan. Manusia bahkan kurang memperhatikan apa yang telah dipercayakan Tuhan kepada mereka hari ini.

dari "Pekerjaan dan Jalan Masuk (3)"

dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

6. Selama proses jalan masuknya manusia, hidup selalu membosankan, penuh dengan unsur kehidupan rohani yang monoton, seperti bersembahyang, makan dan minum firman Tuhan, atau membentuk persekutuan, sehingga orang selalu merasa bahwa mengimani Tuhan tidak membawa sukacita yang besar. Kegiatan rohani semacam itu selalu dilakukan atas dasar watak asli umat manusia yang telah dirusak Iblis. Memang terkadang orang dapat menerima pencerahan Roh Kudus, namun pemikiran, watak, gaya hidup, dan kebiasaan aslinya masih mengakar sehingga natur mereka tidak berubah. Keikutsertaan orang dalam kegiatan takhayul merupakan kegiatan yang paling dibenci Tuhan, tetapi banyak orang masih belum mampu melepaskannya, sebab mereka menganggap kegiatan itu ditetapkan oleh Tuhan, dan bahkan sampai hari ini mereka masih belum sepenuhnya melepaskannya. Banyak hal, seperti persiapan yang dibuat orang muda untuk pesta pernikahan dan gaun pengantin; kado uang, jamuan makan, dan cara-cara serupa untuk merayakan acara meriah; basa-basi kuno yang diwariskan turun temurun; semua kegiatan takhayul mubazir yang dilakukan atas nama orang mati dan pemakamannya: semuanya sangat dibenci Tuhan. Bahkan hari ibadah (termasuk hari Sabat yang diperingati oleh dunia keagamaan) pun menjijikkan bagi-Nya; dan Tuhan lebih-lebih sangat membenci dan menolak hubungan sosial dan interaksi duniawi antar-manusia. Bahkan hari raya yang populer, seperti Festival Musim Semi dan Hari Natal pun bukan ditetapkan oleh Tuhan, apalagi mainan dan dekorasi dalam hari-hari raya ini (puisi Natal, kue Tahun Baru, petasan, lampion, hadiah Natal, pesta Natal, dan Perjamuan Kudus). Bukankah semua itu berhala di benak manusia? Pemecahan roti pada hari Sabat, anggur, dan kain lenan halus bahkan jelas-jelas merupakan berhala. Semua hari raya tradisional yang populer di Tiongkok, seperti Hari Raya Kepala Naga, Festival Perahu Naga, Festival Pertengahan Musim Gugur, Festival Laba, dan Tahun Baru Imlek; hari-hari raya keagamaan, seperti Paskah, Hari Pembaptisan, dan Hari Natal; semua festival yang tidak dapat dibenarkan ini telah diatur dan diwariskan sejak dahulu sampai sekarang oleh banyak orang, dan benar-benar tidak sesuai dengan ras manusia yang diciptakan Tuhan. Imajinasi kaya dan konsep cerdas umat manusialah yang memungkinkan semua perayaan itu diwariskan turun-temurun sampai hari ini. Hari-hari raya itu kelihatannya bebas dari kekurangan, tetapi sebenarnya merupakan tipuan Iblis terhadap umat manusia. Semakin banyak Iblis memenuhi suatu tempat, semakin usang dan terbelakang tempat itu, semakin dalam pula adat istiadat feodalnya bercokol. Begitu kuatnya hal-hal ini mengikat manusia, sampai-sampai manusia tidak dapat bergerak sama sekali. Banyak perayaan keagamaan tampaknya menampilkan keaslian yang luar biasa dan sepertinya menciptakan jembatan untuk pekerjaan Tuhan, tetapi sebenarnya merupakan ikatan tak terlihat yang dengannya Iblis mengikat orang supaya tidak mengenal Tuhan. Semua ini adalah tipu muslihat Iblis yang licik. Sebenarnya, ketika Tuhan menyelesaikan suatu tahap pekerjaan-Nya, Ia telah melenyapkan semua sarana dan corak pada era itu tanpa menyisakan bekas apa pun. Namun, "orang percaya yang saleh" terus memuja benda-benda materiil itu; sementara itu, mereka membelakangi apa yang dimiliki Tuhan, tidak mempelajarinya lebih lanjut; kelihatannya penuh dengan kasih Tuhan padahal mereka mendorong-Nya keluar dari rumah sejak dulu dan menempatkan Iblis di atas meja untuk disembah. Lukisan-lukisan Yesus, Salib, Maria, Baptisan Yesus, dan Perjamuan Terakhir dipuja sebagai "Tuhan yang Surga", sambil berulang kali berseru "Bapa Surgawi." Bukankah ini semua lelucon? Sampai hari ini, banyak ucapan dan praktik serupa yang telah diwariskan di antara umat manusia merupakan kebencian bagi Tuhan; mereka sangat menghalangi jalan bagi Tuhan dan, lebih jauh lagi, menciptakan kemunduran besar untuk jalan masuknya umat manusia. Terlepas dari sejauh mana Iblis telah merusak umat manusia, hati dan pikiran manusia dipenuhi dengan pelbagai hal, seperti hukum Witness Lee, pengalaman Lawrence, survei oleh Watchman Nee, dan pekerjaan Paulus. Tiada jalan bagi Tuhan untuk bekerja di dalam diri manusia, karena di dalam diri mereka sudah ada terlalu banyak individualisme, hukum, aturan, peraturan, sistem, dan sebagainya; ditambah lagi dengan kecenderungan orang terhadap takhayul feodal, semua ini telah menawan dan melahap umat manusia. Pikiran manusia seakan sebuah film menarik yang menceritakan dongeng penuh warna, dengan makhluk-makhluk fantastis menaiki awan, begitu imajinatif hingga membuat orang terpukau, bingung, bahkan kehabisan kata. Sejujurnya, pekerjaan yang dilakukan Tuhan zaman sekarang ditujukan untuk menangani dan menghilangkan atribut takhayul manusia dan mengubah sikap mental mereka sepenuhnya. Pekerjaan Tuhan bukanlah apa yang telah diwariskan dari generasi ke generasi dan dilestarikan sampai hari ini oleh umat manusia, melainkan pekerjaan yang diprakarsai secara pribadi oleh-Nya dan diselesaikan oleh-Nya, tanpa perlu meneruskan warisan dari tokoh rohani hebat tertentu, atau mewarisi pekerjaan representatif apa pun yang dilakukan oleh Tuhan pada era lainnya. Manusia tidak perlu menyusahkan diri dengan hal-hal tersebut. Tuhan zaman sekarang memiliki gaya bicara dan cara kerja yang lain, maka mengapa manusia harus menyusahkan diri? Jika manusia meniti jalur hari ini di dalam arus saat ini sambil melanjutkan warisan "leluhur", tempat tujuan mereka tidak akan tercapai. Tuhan sangat benci akan ragam perilaku manusia yang seperti ini, sama seperti Ia membenci tahun, bulan, dan hari yang ada di dunia manusia.

dari "Pekerjaan dan Jalan Masuk (3)"

dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

7. Cara terbaik untuk mengubah watak manusia adalah dengan membalikkan bagian terdalam hati manusia yang sudah sangat keracunan, memungkinkan manusia mulai mengubah pemikiran dan moralitasnya. Pertama-tama, orang perlu melihat dengan jelas bahwa semua ritual keagamaan, kegiatan keagamaan, tahun dan bulan, dan perayaan tersebut dibenci oleh Tuhan. Mereka harus membebaskan diri dari ikatan pemikiran feodal itu dan membasmi setiap jejak dari kecenderungan yang kuat terhadap takhayul. Ini semua termasuk dalam jalan masuk umat manusia. Engkau harus memahami mengapa Tuhan menuntun umat manusia keluar dari dunia sekuler, dan mengapa Dia membawa umat manusia menjauh dari hukum dan peraturan. Inilah gerbang yang melaluinya engkau sekalian akan masuk, dan meskipun tidak ada sangkut-pautnya dengan pengalaman rohanimu, inilah rintangan terbesar yang menghalangi jalan masukmu, menghalangi pengenalanmu akan Tuhan. Rintangan-rintangan itu membentuk jaring yang menjerat orang. Banyak orang terlalu banyak membaca Alkitab dan bahkan dapat mengutip segudang ayat dari Alkitab di luar kepala. Dalam jalan masuk mereka hari ini, orang secara tidak sadar menggunakan Alkitab untuk mengukur pekerjaan Tuhan, seakan dasar dan sumber dari tahap pekerjaan Tuhan ini ialah Alkitab. Ketika pekerjaan Tuhan sejalan dengan Alkitab, orang sangat mendukungnya dan memberi penghargaan baru kepada-Nya; ketika pekerjaan Tuhan tidak sesuai dengan Alkitab, orang menjadi sangat cemas hingga berkeringat dingin, mencari-cari dalam Alkitab dasar pekerjaan Tuhan; jika pekerjaan Tuhan tidak disebutkan dalam Alkitab, orang akan mengabaikan Tuhan. Dapat dikatakan bahwa, sejauh bersangkutan dengan pekerjaan Tuhan hari ini, kebanyakan orang menerimanya dengan hati-hati, taat secara selektif, dan merasa acuh tak acuh untuk mengetahuinya; mengenai hal-hal dari masa lalu, separuhnya dipegang, separuhnya ditinggalkan. Bisakah ini disebut masuk? Dengan memegang buku orang lain sebagai harta dan memperlakukannya sebagai kunci emas pintu gerbang kerajaan, orang memang tidak menunjukkan minat terhadap apa yang dituntut Tuhan dari mereka hari ini. Selain itu, banyak "cendekiawan" memegang firman Tuhan di tangan kiri dan "pekerjaan besar" orang lain di tangan kanan, seolah-olah ingin menemukan dasar firman Tuhan dalam pekerjaan besar itu untuk membuktikan sepenuhnya bahwa firman Tuhan benar. Bahkan, mereka menjelaskan firman Tuhan kepada orang lain dengan memadukannya dengan pekerjaan besar itu, seolah-olah mereka sedang bekerja. Sejujurnya, ada banyak "peneliti ilmiah" di antara umat manusia yang tidak pernah menganggap penting pencapaian ilmiah terbaru saat ini, pencapaian ilmiah yang tanpa preseden (yaitu pekerjaan Tuhan, firman Tuhan, dan jalan masuk kehidupan), sehingga semua orang menjadi "mandiri," "berkhotbah" ke segala penjuru dengan mengandalkan kefasihan lidah, dan menjajakan "nama baik Tuhan." Sementara itu, jalan masuk mereka sendiri sedang terancam bahaya, dan mereka tampaknya jauh dari memenuhi tuntutan Tuhan, seperti jauhnya masa penciptaan dari masa kini. Semudah apa melakukan pekerjaan Tuhan? Tampaknya orang telah memutuskan untuk meninggalkan separuh dirinya di masa lalu dan membawa separuhnya ke masa kini, memberi Iblis setengahnya dan mempersembahkan setengahnya lagi bagi Tuhan, seakan ini adalah cara untuk menenangkan hati nurani mereka dan merasakan kenyamanan. Dunia batin manusia begitu berbahaya; mereka takut kehilangan bukan hanya hari esok, melainkan juga hari kemarin, sangat takut menyinggung baik Iblis maupun Tuhan zaman sekarang, yang tampaknya ada namun belum ada. Karena orang gagal mengembangkan pemikiran dan moralitasnya secara tepat, maka ketajaman berpikirnya menjadi sangat lemah, dan tidak dapat memastikan apakah pekerjaan zaman sekarang ini adalah pekerjaan Tuhan. Mungkin karena begitu mendalamnya pemikiran feodal dan takhayul, mereka sudah lama menempatkan takhayul dan kebenaran, Tuhan dan berhala, dalam kategori yang sama. Mereka tidak punya kepedulian untuk membedakan kedua hal tersebut, bahkan tampaknya tidak dapat membedakan dengan jelas, meskipun sudah memeras otak. Itulah sebabnya manusia berhenti di jalurnya dan tidak lagi bergerak maju. Semua masalah ini muncul dari kurangnya pendidikan ideologi yang tepat, yang menciptakan kesulitan besar untuk jalan masuknya mereka. Akibatnya, orang tidak pernah merasa tertarik dengan pekerjaan Tuhan yang benar, tetapi tetap ngotot[2] berpegang pada pekerjaan manusia (misalnya orang-orang yang mereka pandang sebagai tokoh besar) seolah-olah mereka sudah dicap olehnya. Bukankah umat manusia harus masuk ke dalam topik-topik terbaru ini?

dari "Pekerjaan dan Jalan Masuk (3)"

dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

8. Tuhan berinkarnasi di daratan Tiongkok, yang disebut oleh rekan-rekan sebangsa di Hong Kong dan Taiwan sebagai daerah pedalaman. Ketika Tuhan datang dari atas ke bumi, tidak seorang pun di surga dan bumi mengetahui tentang hal itu, karena inilah arti yang sesungguhnya dari Tuhan yang datang kembali secara tersembunyi. Dia telah bekerja dan hidup sebagai manusia untuk waktu yang lama, tetapi tidak ada seorang pun yang mengetahui tentang hal itu. Bahkan sampai hari ini, tidak seorang pun mengenali-Nya. Mungkin ini akan tetap menjadi teka-teki yang abadi. Kedatangan Tuhan sebagai manusia kali ini bukanlah sesuatu yang bisa disadari oleh siapa saja. Tidak peduli seberapa besar dan kuatnya pekerjaan Roh, Tuhan selalu tetap tenang, tidak pernah menunjukkan perasaan-Nya yang tersembunyi. Orang bisa saja mengatakan seolah-olah tahap pekerjaan-Nya ini sedang berlangsung di alam surgawi. Meskipun hal itu sangat jelas bagi semua orang, tidak seorang pun mengenalinya. Ketika Tuhan menyelesaikan tahap pekerjaan-Nya ini, semua orang akan terbangun dari mimpi panjang mereka dan mengubah sikap mereka di masa lalu.[3] Aku ingat Tuhan pernah berkata: "Mengambil rupa seorang manusia kali ini seperti jatuh ke dalam sarang harimau." Artinya adalah karena tahap pekerjaan Tuhan ini membuat Tuhan harus mengambil rupa seorang manusia dan dilahirkan di tempat tinggal si naga merah yang sangat besar, kedatangan-Nya ke bumi kali ini disertai dengan bahaya yang jauh lebih besar lagi. Yang dihadapi-Nya adalah pisau, senapan, dan pentungan; yang dihadapi-Nya adalah pencobaan; yang dihadapi-Nya adalah orang banyak bertampang pembunuh. Dia berisiko terbunuh kapan saja. Tuhan memang datang dengan murka. Namun, Dia datang untuk melakukan pekerjaan penyempurnaan, yang berarti melakukan bagian kedua dari pekerjaan-Nya yang merupakan kelanjutan dari pekerjaan penebusan. Demi tahap pekerjaan-Nya ini, Tuhan telah mencurahkan pikiran dan perhatian sepenuhnya dan menggunakan segala cara yang mungkin untuk menghindari serangan pencobaan, menyembunyikan diri-Nya dengan rendah hati dan tidak pernah memamerkan jati diri-Nya. Ketika menyelamatkan manusia dari salib, Yesus hanya menyelesaikan pekerjaan penebusan; Dia tidak melakukan pekerjaan penyempurnaan. Jadi hanya separuh dari pekerjaan Tuhan yang dilakukan, dan menyelesaikan pekerjaan penebusan hanyalah separuh dari seluruh rencana-Nya. Ketika zaman baru akan segera dimulai dan yang lama mulai memudar, Bapa mulai mempertimbangkan bagian kedua dari pekerjaan-Nya dan mulai mempersiapkannya. Di masa lalu, inkarnasi pada akhir zaman ini mungkin belum dinubuatkan, oleh karenanya hal itu meletakkan landasan bagi semakin besarnya kerahasiaan yang melingkupi kedatangan Tuhan dalam rupa manusia pada saat ini. Pada waktu fajar menyingsing, tanpa sepengetahuan siapa pun, Tuhan datang ke bumi dan memulai kehidupan-Nya dalam rupa manusia. Manusia tidak menyadari momen ini. Mungkin mereka semua sedang tertidur pulas, mungkin banyak yang terjaga dengan waspada sambil menunggu, dan mungkin banyak yang sedang berdoa dalam hati kepada Tuhan yang di surga. Namun di antara sekian banyak orang ini, tidak seorang pun mengetahui bahwa Tuhan telah tiba di bumi. Tuhan bekerja dengan cara ini agar lebih lancar melakukan pekerjaan-Nya dan mencapai hasil yang lebih baik, dan hal itu juga dimaksudkan untuk menghindari lebih banyak pencobaan. Ketika aktivitas tidur manusia di musim semi berakhir, pekerjaan Tuhan telah lama selesai dan Dia akan pergi, mengakhiri kehidupan pengembaraan dan masa tinggal-Nya yang singkat di bumi. Karena pekerjaan Tuhan mengharuskan agar Tuhan bertindak dan berbicara secara pribadi, dan karena tidak mungkin bagi manusia untuk membantu, Tuhan telah menanggung rasa sakit yang luar biasa untuk datang ke bumi dan melakukan pekerjaan itu sendiri. Manusia tidak mampu menggantikan pekerjaan Tuhan. Oleh karena itu, Tuhan menanggung risiko bahaya ribuan kali lebih besar daripada orang-orang di zaman Kasih Karunia untuk turun ke tempat kediaman si naga merah yang sangat besar demi melakukan pekerjaan-Nya sendiri, demi mencurahkan seluruh pemikiran dan perhatian-Nya dalam menebus sekelompok yang tidak berkualitas ini, menebus sekelompok orang yang telah terjerumus dalam kubangan kotoran ini. Meski tidak seorang pun mengetahui keberadaan Tuhan, Tuhan tidak merasa terusik karena hal itu sangat menguntungkan pekerjaan Tuhan. Semua manusia itu sangat jahat, jadi bagaimana manusia bisa menolerir keberadaan Tuhan? Itulah mengapa di bumi Tuhan selalu berdiam diri. Tidak peduli betapa pun kejamnya manusia, Tuhan tidak pernah mengambil hati, melainkan terus melakukan pekerjaan yang perlu dilakukan-Nya untuk memenuhi amanat lebih besar yang diberikan Bapa surgawi kepada-Nya. Siapakah di antara kamu sekalian yang telah mengenali keelokan Tuhan? Siapakah yang lebih menunjukkan perhatian terhadap beban Bapa selain dari Anak-Nya? Siapakah yang mampu memahami kehendak Bapa? Roh Bapa di surga sering merasa terusik, dan Anak-Nya di bumi sering berdoa tentang kehendak Bapa, yang sangat mengkhawatirkan hati-Nya. Adakah yang mengetahui kasih Bapa bagi Anak-Nya? Adakah yang mengetahui bagaimana Anak yang terkasih merindukan Bapa? Terpisah antara langit dan bumi, keduanya senantiasa saling bertatapan dari jauh, berdampingan dalam Roh. Wahai umat manusia! Kapankah kamu sekalian akan memikirkan hati Tuhan? Kapankah kamu sekalian akan memahami maksud Tuhan? Bapa dan Anak selalu bergantung satu sama lain. Lalu mengapa Mereka harus dipisahkan, satu di surga di atas dan satu lagi di bumi di bawah? Bapa mengasihi Anak-Nya sebagaimana Anak mengasihi Bapa-Nya. Lalu mengapa Bapa harus menunggu dengan penuh kerinduan dan merindukan dengan penuh kecemasan? Meskipun Mereka belum lama terpisah, adakah yang mengetahui bahwa Bapa telah dengan cemas merindukan Anak-Nya selama berhari-hari dan bermalam-malam dan telah lama menantikan kembalinya Anak-Nya dengan segera? Dia mengamati, Dia duduk dalam keheningan, Dia menunggu. Ini semua demi kembalinya Anak-Nya yang terkasih dengan segera. Kapankah Dia akan bersama lagi dengan Anak-Nya yang sedang mengembara di bumi? Meskipun pernah bersama, dan Mereka akan bersama untuk selamanya, bagaimanakah Dia dapat menanggung keterpisahan selama ribuan hari dan malam, yang satu di surga di atas dan satu lagi di bumi di bawah? Puluhan tahun di bumi itu seperti ribuan tahun di surga. Bagaimana mungkin Bapa tidak khawatir? Ketika Tuhan datang ke bumi, Dia mengalami banyak perubahan di dunia manusia sama seperti manusia. Tuhan sendiri tidak berdosa, jadi mengapa membiarkan Tuhan menderita rasa sakit yang sama seperti manusia? Tidak heran, Bapa sangat merindukan Anak-Nya; siapakah yang bisa memahami hati Tuhan? Tuhan memberi terlalu banyak kepada manusia; bagaimana manusia bisa cukup membalas kebaikan hati Tuhan? Namun manusia memberi kepada Tuhan terlalu sedikit; jadi bagaimana mungkin Tuhan tidak khawatir?

dari "Pekerjaan dan Jalan Masuk (4)"

dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

9. Nyaris tak seorang pun di antara manusia memahami hati Tuhan yang mendesak karena kualitas manusia terlalu rendah dan kepekaan rohani mereka sangat tumpul, dan karena mereka semua tidak mengamati atau memperhatikan apa yang sedang Tuhan lakukan. Jadi Tuhan terus mengkhawatirkan manusia, seolah-olah sifat kejam manusia bisa muncul kapan saja. Hal ini lebih lanjut menunjukkan bahwa kedatangan Tuhan ke bumi diiringi dengan pencobaan yang besar. Tetapi demi menyempurnakan sekelompok orang, Tuhan, yang dipenuhi dengan kemuliaan, memberitahu manusia tentang semua maksud-Nya, tidak menyembunyikan apa pun. Dia telah dengan tegas memutuskan untuk menyempurnakan sekelompok orang ini. Karena itu, ketika datang kesusahan atau pencobaan, Dia membuang muka dan mengabaikan semuanya. Dia hanya melakukan pekerjaan-Nya sendiri secara diam-diam, dengan teguh percaya bahwa suatu hari nanti ketika Tuhan telah memperoleh kemuliaan, manusia akan mengenal Tuhan, dan percaya bahwa ketika manusia telah disempurnakan oleh Tuhan, ia akan sepenuhnya memahami hati Tuhan. Saat ini mungkin ada manusia yang mencobai Tuhan atau salah memahami maksud Tuhan atau menyalahkan Tuhan; Tuhan tidak mengambil hati terhadap satu pun dari perkara itu. Ketika Tuhan turun dalam kemuliaan, semua manusia akan mengerti bahwa segala sesuatu yang Tuhan lakukan adalah demi kesejahteraan umat manusia, dan semua orang akan mengerti bahwa segala sesuatu yang Tuhan lakukan adalah agar umat manusia dapat terus hidup dengan lebih baik. Kedatangan Tuhan diiringi dengan pencobaan, namun Tuhan juga datang dalam kemegahan dan murka. Pada saat Tuhan meninggalkan manusia, Dia telah mendapatkan kemuliaan, dan Dia akan meninggalkan manusia dengan penuh kemuliaan dan dengan sukacita karena kembali. Tuhan yang bekerja di bumi tidak mendendam bagaimana pun orang menolak Dia. Dia hanya melakukan pekerjaan-Nya. Penciptaan dunia oleh Tuhan berlangsung selama ribuan tahun, Dia telah datang ke bumi untuk melakukan pekerjaan yang tak terhingga besarnya, dan Dia telah benar-benar mengalami penolakan dan fitnahan manusia. Tidak ada seorang pun yang menyambut kedatangan Tuhan; semua orang hanya memandang-Nya dengan tatapan dingin. Selama berlangsungnya kesengsaraan yang lamanya beberapa ribu tahun ini, perilaku manusia telah lama menghancurkan hati Tuhan. Dia tidak lagi memperhatikan pemberontakan orang-orang, tetapi malah membuat rencana tersendiri untuk mengubah dan menyucikan manusia. Cemoohan, fitnahan, penganiayaan, kesengsaraan, penderitaan karena penyaliban, pengucilan oleh manusia, dan lain sebagainya yang dialami oleh Tuhan dalam rupa manusia—Tuhan telah cukup merasakannya. Tuhan dalam rupa manusia telah benar-benar menderita kesengsaraan di dunia manusia. Roh Bapa di surga telah lama mendapati pemandangan yang tak tertahankan itu dan memalingkan wajah-Nya serta menutup mata-Nya, menunggu Anak-Nya yang terkasih untuk kembali. Yang diinginkan-Nya hanyalah agar semua orang mendengarkan dan taat, mampu merasakan rasa malu yang besar di hadapan daging-Nya, dan tidak memberontak melawan Dia. Yang diinginkan-Nya hanyalah agar semua orang percaya bahwa Tuhan itu ada. Dia telah lama berhenti mengajukan tuntutan yang lebih besar kepada manusia karena Tuhan telah membayar harga yang sangat mahal, tetapi manusia tenang-tenang saja,[4] sama sekali tidak memperhatikan pekerjaan Tuhan.

dari "Pekerjaan dan Jalan Masuk (4)"

dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

10. Saat ini engkau semua mengetahui bahwa Tuhan sedang memimpin manusia ke jalur kehidupan yang benar, bahwa Dia sedang memimpin manusia untuk mengambil langkah berikutnya menuju zaman yang lain, bahwa Dia sedang memimpin manusia untuk melewati zaman lama yang gelap ini, keluar dari kedagingan, menjauh dari penindasan kuasa kegelapan dan pengaruh Iblis, sehingga masing-masing orang dapat hidup dalam dunia yang penuh kebebasan. Demi hari esok yang indah, dan agar manusia dapat lebih berani dalam langkah mereka di hari esok, Roh Tuhan merencanakan segalanya bagi manusia, dan agar manusia dapat menikmati kesenangan yang lebih besar, Tuhan, dalam rupa manusia, mengerahkan semua upaya-Nya untuk mempersiapkan jalan di depan manusia, mempercepat datangnya hari yang dirindukan manusia. Maukah engkau semua menghargai momen yang indah ini; bukan pencapaian yang mudah untuk bekerja bersama dengan Tuhan. Meskipun engkau belum pernah mengenal Dia, engkau sudah lama bersama dengan-Nya. Seandainya saja semua orang dapat mengingat hari-hari yang indah namun cepat berlalu ini untuk selamanya, dan menjadikannya sebagai harta mereka yang berharga di bumi.

dari "Pekerjaan dan Jalan Masuk (5)"

dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

11. Selama ribuan tahun, bangsa Tiongkok telah menjalani kehidupan sebagai budak, dan hal ini telah begitu membatasi pikiran, konsep, kehidupan, bahasa, perilaku, dan tindakan mereka hingga mereka tidak memiliki kebebasan sedikit pun. Sejarah yang beberapa ribu tahun lamanya ini telah membuat orang-orang sangat penting dikuasai oleh roh dan itu melemahkan mereka sehingga mereka menjadi sesuatu yang mirip dengan mayat-mayat yang tidak lagi memiliki roh. Banyak dari antara mereka hidup di bawah pisau jagal Iblis, banyak dari antara mereka tinggal di rumah-rumah yang seperti sarang hewan, banyak dari antara mereka makan makanan yang sama dengan lembu atau kuda, dan banyak dari antara mereka yang terbaring, tanpa kesadaran dan dalam keadaan kacau, di "dunia orang mati." Secara lahiriah, manusia tidak berbeda dari manusia primitif, tempat istirahat mereka seperti neraka, dan di sekeliling mereka, mereka ditemani oleh segala macam setan yang cemar dan roh-roh jahat. Secara lahiriah, manusia tampak "lebih tinggi dari hewan"; pada kenyataannya, mereka hidup dan tinggal dengan setan-setan yang cemar. Tanpa seorang pun yang mengurus mereka, manusia hidup dalam sergapan Iblis, terperangkap dalam kerja keras tanpa memiliki jalan keluar. Tidaklah tepat mengatakan bahwa manusia berkumpul dengan orang-orang terkasih di rumah yang nyaman, menjalani kehidupan yang bahagia dan memuaskan, lebih tepat orang mengatakan bahwa manusia sedang hidup di dunia orang mati, berurusan dengan setan dan bergaul dengan Iblis.

dari "Pekerjaan dan Jalan Masuk (5)"

dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

12. Pekerjaan dan jalan masuk pada dasarnya bersifat praktis dan merujuk pada pekerjaan Tuhan dan jalan masuk manusia. Ketidakmengertian total manusia tentang wajah Tuhan yang sebenarnya dan pekerjaan Tuhan telah menjadikan jalan masuknya sangat sulit. Sampai hari ini, banyak orang masih tidak tahu pekerjaan yang Tuhan selesaikan di akhir zaman atau mengapa Tuhan menanggung penghinaan ekstrem dengan datang menjadi daging dan berdiri bersama manusia dalam kesukaan dan kesengsaraan. Manusia tidak tahu apa-apa tentang tujuan pekerjaan Tuhan, atau tujuan rencana Tuhan bagi akhir zaman. Karena berbagai alasan, manusia selalu suam-suam kuku dan kurang tegas[5] terhadap jalan masuk yang Tuhan minta, yang sangat menyusahkan pekerjaan Tuhan di dalam daging. Sepertinya semua manusia sudah menjadi halangan, dan sampai hari ini mereka masih belum memiliki pengertian yang jelas. Karena itu Aku akan berbicara tentang pekerjaan yang dilakukan Tuhan pada diri manusia dan maksud hati Tuhan yang mendesak, sehingga engkau semua menjadi hamba Tuhan yang setia, yang sama seperti Ayub, lebih baik mati daripada menolak Tuhan dan akan menanggung setiap penghinaan, dan yang sama seperti Petrus, akan mempersembahkan seluruh keberadaanmu kepada Tuhan dan menjadi sahabat karib yang didapat Tuhan di akhir zaman. Kiranya semua saudara dan saudari berusaha sekuat tenaga mereka untuk mempersembahkan seluruh keberadaan mereka bagi kehendak surgawi Tuhan, menjadi pelayan kudus di rumah Tuhan, dan menikmati janji kekal yang diberikan Tuhan, sehingga hati Bapa bisa segera beristirahat dalam damai. "Menyelesaikan kehendak Bapa" seharusnya menjadi moto semua orang yang mengasihi Tuhan. Kata-kata ini seharusnya menjadi panduan bagi manusia untuk menemukan jalan masuk dan menjadi kompas yang mengarahkan tindakannya. Inilah ketetapan hati yang manusia harus miliki. Untuk bisa menyelesaikan pekerjaan Tuhan di bumi secara sempurna dan bekerja sama dengan pekerjaan Tuhan dalam daging—ini adalah tugas manusia. Suatu hari, ketika pekerjaan Tuhan selesai, manusia akan mengucapkan selamat tinggal kepada-Nya karena Dia harus kembali lebih awal kepada Bapa di surga. Bukankah ini adalah tanggung jawab yang manusia harus penuhi?

dari "Pekerjaan dan Jalan Masuk (6)"

dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

13. Ketika di Zaman Kasih Karunia, Tuhan kembali ke surga tingkat ketiga, pekerjaan penebusan Tuhan terhadap seluruh umat manusia sebenarnya telah bergerak menuju ke tahap terakhir. Yang tersisa di bumi adalah salib yang Yesus pikul, kain kafan yang membungkus Yesus, dan mahkota duri dan jubah ungu yang Yesus kenakan (itu semua adalah objek yang orang Yahudi gunakan untuk mengejek-Nya). Artinya, pekerjaan penyaliban Yesus telah menyebabkan huru-hara untuk sejangka waktu tertentu dan kemudian mereda. Sejak saat itu, murid-murid Yesus mulai meneruskan pekerjaan-Nya, menggembalakan dan menyirami gereja-gereja di mana-mana. Isi pekerjaan mereka adalah ini: supaya semua orang bertobat, mengakui dosa-dosa mereka, dan dibaptis; para rasul menyebarkan kisah di balik penyaliban Yesus dan apa yang sebenarnya terjadi, semua orang tidak bisa tidak berlutut di hadapan Yesus untuk mengakui dosa-dosa mereka, dan para rasul juga menyebarkan firman yang Yesus ucapkan dan hukum dan perintah yang Dia tetapkan ke mana-mana. Sejak saat itu, dimulailah pembangunan gereja di Zaman Kasih Karunia. Apa yang Yesus sampaikan di zaman itu juga berfokus pada kehidupan manusia dan kehendak Bapa di surga. Hanya karena zamannya berbeda, maka banyak perkataan dan tindakan pada zaman itu sangat berbeda dari zaman sekarang. Namun, intinya tetap sama. Inti kedua zaman itu, tidak kurang tidak lebih, adalah pekerjaan Roh Tuhan dalam daging. Pekerjaan semacam itu dan firman yang disampaikan terus berlanjut sampai hari ini dan itu sebabnya mengapa berita itu masih dibagikan di gereja-gereja agamawi saat ini dan tidak ada yang berubah sama sekali. Ketika pekerjaan Yesus selesai, jalan yang benar dari Yesus Kristus telah menguasai bumi, tetapi Tuhan memulai sebuah rencana bagi tahap lain dalam pekerjaan-Nya, yaitu inkarnasi di akhir zaman. Bagi manusia, penyaliban Tuhan mengakhiri pekerjaan inkarnasi Tuhan, menebus seluruh umat manusia, dan membuat-Nya mampu merebut kunci ke alam maut. Semua orang berpikir pekerjaan Tuhan sudah selesai sepenuhnya. Padahal, bagi Tuhan, hanya sebagian kecil dari pekerjaan-Nya yang sudah selesai. Dia hanya menebus umat manusia; Dia belum menaklukkan umat manusia, apalagi mengubah keburukan Iblis dalam diri manusia. Itu sebabnya Tuhan berkata: "Walaupun inkarnasi daging-Ku harus melewati rasa sakit kematian, itu bukanlah seluruh tujuan inkarnasi-Ku. Yesus adalah Anak-Ku yang Kukasihi dan disalib bagi-Ku, tetapi Dia tidak menyelesaikan seluruh pekerjaan-Ku. Dia hanya melakukan sebagian darinya." Karena itu, Tuhan memulai bagian kedua dari rencana-Nya untuk meneruskan pekerjaan inkarnasi. Tujuan akhir Tuhan adalah menyempurnakan dan mendapatkan semua orang yang diselamatkan dari tangan Iblis, itu sebabnya Tuhan sekali lagi menyiapkan diri untuk menanggung risiko bahaya datang dalam wujud daging.

dari "Pekerjaan dan Jalan Masuk (6)"

dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

14. Di banyak tempat, Tuhan telah bernubuat untuk mendapatkan sekelompok pemenang di tanah Sinim. Di belahan timur dunialah para pemenang didapatkan, jadi tempat kedatangan inkarnasi kedua Tuhan tanpa ragu adalah tanah Sinim, tepat di mana naga merah yang sangat besar bergelung. Di sana Tuhan akan mendapatkan keturunan naga merah yang sangat besar sehingga ia akan dikalahkan dan dipermalukan sepenuhnya. Tuhan ingin membangkitkan orang-orang yang menderita lama sekali, membangunkan mereka sepenuhnya, dan membuat mereka berjalan keluar dari kabut dan menolak si naga merah yang sangat besar. Tuhan ingin membangunkan mereka dari mimpinya, membuat mereka tahu hakikat si naga merah yang sangat besar, memberikan hati mereka sepenuhnya kepada Tuhan, bangkit dari tekanan kekuatan kegelapan, berdiri di Timur dunia, dan menjadi bukti bagi kemenangan Tuhan. Hanya pada saat itulah Tuhan mendapatkan kemuliaan. Karena alasan ini, Tuhan membawa pekerjaan yang berakhir di Israel ke tanah di mana naga merah yang sangat besar bergelung dan hampir dua ribu tahun setelah kepergian-Nya, Dia datang lagi dalam wujud daging untuk meneruskan pekerjaan di Zaman Kasih Karunia. Bagi mata telanjang manusia, Tuhan sedang melakukan pekerjaan baru dalam daging. Tetapi bagi Tuhan, Dia sedang meneruskan pekerjaan Zaman Kasih Karunia, yang hanya terpisah beberapa ribu tahun, dan hanya berbeda tempat dan jenis pekerjaannya. Walaupun rupa daging yang Tuhan pakai dalam pekerjaan sekarang ini berbeda dengan pribadi Yesus sebagai manusia, Mereka memiliki hakikat dan akar yang sama, dan Mereka berasal dari sumber yang sama. Mungkin secara penampilan luar Mereka banyak berbeda, tetapi kebenaran hakiki dari pekerjaan Mereka sama persis. Bagaimanapun juga, kedua zaman ini jelas sangat berbeda bagaikan siang dan malam. Bagaimana bisa pekerjaan Tuhan tidak berubah? Atau bagaimana pekerjaan-Nya bisa saling mengganggu satu sama lain?

dari "Pekerjaan dan Jalan Masuk (6)"

dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

15. Yesus mengambil rupa seorang Yahudi, mengenakan pakaian orang Yahudi, dan tumbuh besar dengan makan makanan orang Yahudi. Ini adalah aspek manusia normal-Nya. Tetapi daging yang berinkarnasi hari ini mengambil rupa orang Asia dan tumbuh dengan makanan dari negara si naga merah yang sangat besar. Semua ini tidak bertentangan dengan tujuan inkarnasi Tuhan. Sebaliknya, malah saling melengkapi satu sama lain, semakin menyempurnakan makna sejati dari inkarnasi Tuhan. Karena daging yang berinkarnasi disebut sebagai "Anak manusia" atau "Kristus", penampilan luar Kristus masa kini tidak bisa disamakan dengan Yesus Kristus. Lagi pula, daging ini disebut "Anak manusia" dan dalam rupa daging. Setiap tahap pekerjaan Tuhan mengandung makna yang sangat dalam. Alasan Yesus dikandung oleh Roh Kudus adalah karena Dia harus menebus orang berdosa. Dia harus tanpa dosa. Tetapi hanya pada akhirnya, ketika Dia dipaksa menjadi sama dengan daging yang berdosa dan menanggung dosa orang berdosa, Dia menyelamatkan mereka dari salib terkutuk yang digunakan Tuhan untuk menghajar manusia. (Salib adalah alat Tuhan untuk mengutuk dan menghajar manusia; penyebutan kutukan dan hajaran secara khusus adalah tentang mengutuk dan menghajar orang berdosa.) Tujuannya adalah supaya semua orang berdosa bertobat dan menggunakan penyaliban supaya mereka mengakui dosa-dosanya. Karena itulah, demi menebus seluruh umat manusia, Tuhan berinkarnasi dalam daging yang dikandung oleh Roh Kudus dan menanggung dosa seluruh umat manusia. Cara umum menjelaskan hal ini adalah mempersembahkan daging yang kudus sebagai ganti semua orang berdosa, ini setara dengan Yesus menjadikan diri-Nya korban penebusan dosa yang ditempatkan di hadapan Iblis dan "memintanya" mengembalikan kepada Tuhan seluruh umat manusia yang tidak bersalah yang ada di bawah kakinya. Karena itulah untuk menyelesaikan tahap pekerjaan penebusan ini Dia harus dikandung oleh Roh Kudus. Ini adalah syarat yang diperlukan, sebuah "gencatan senjata" dalam pertempuran antara Bapa dan Iblis. Itu sebabnya mengapa Yesus diserahkan kepada Iblis dan hanya dengan begitu maka tahap pekerjaan ini selesai. Meskipun demikian, keagungan pekerjaan penebusan Tuhan saat ini belum pernah terjadi sebelumnya dan Iblis tidak punya alasan untuk membuat tuntutan, itu sebabnya inkarnasi Tuhan kali ini tidak lagi perlu dikandung Roh Kudus, karena Tuhan pada dasarnya kudus dan tidak bersalah. Jadi inkarnasi Tuhan kali ini bukanlah Yesus dari Zaman Kasih Karunia. Tetapi Dia datang tetap demi kehendak Bapa dan demi menggenapi keinginan Bapa. Bagaimana bisa hal ini dianggap perkataan yang tidak masuk akal? Haruskah inkarnasi Tuhan mengikuti aturan tertentu?

dari "Pekerjaan dan Jalan Masuk (6)"

dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

16. Dibutuhkan waktu sampai saat ini untuk manusia menyadari bahwa apa yang kurang dalam dirinya bukan hanya suplai kehidupan rohani dan pengalaman mengenal Tuhan, tetapi yang lebih penting adalah perubahan dalam watak mereka. Karena ketidaktahuan manusia akan sejarah dan budaya kuno umat manusia, mereka tidak sedikit pun memiliki pengetahuan tentang pekerjaan Tuhan. Manusia berharap bahwa di dalam hatinya, ia dapat terikat kepada Tuhan, tetapi karena kerusakan yang sangat parah dari daging manusia, dan juga mati rasa dan kebodohannya, manusia menjadi tidak memiliki pengetahuan sedikit pun tentang Tuhan. Tuhan datang di antara manusia hari ini dengan tujuan mengubah pikiran dan roh mereka dan juga gambar Tuhan di dalam hati mereka yang sudah ada selama ribuan tahun. Lewat kesempatan ini, Dia akan menjadikan manusia sempurna. Artinya, lewat pengetahuan manusia, Dia akan mengubah cara mereka datang untuk mengenal-Nya dan sikap mereka terhadap Dia, sehingga pengenalan mereka akan Tuhan bisa mulai dari awal yang bersih dan dengan demikian, hati mereka diperbarui dan diubahkan. Disiplin dan penanganan adalah sarana sementara penaklukkan dan pembaharuan adalah tujuannya. Melucuti pikiran takhayul yang manusia miliki tentang Tuhan yang samar-samar telah menjadi maksud kekal Tuhan dan akhir-akhir ini telah menjadi hal yang mendesak bagi-Nya. Aku harap semua orang mau memikirkannya lebih lanjut. Mengubah bagaimana setiap orang mengalaminya sehingga maksud Tuhan yang mendesak ini bisa segera terlaksana dan tahap terakhir dari pekerjaan Tuhan di bumi bisa dibawa kepada akhir yang berhasil. Tunjukkan kesetiaanmu seperti yang seharusnya dan hiburkan hati Tuhan satu kali lagi. Aku harap tidak ada seorang pun dari antara saudara dan saudari melalaikan tanggung jawab ini atau melakukannya asal-asalan. Tuhan datang dalam daging kali ini atas undangan dan dengan mempertimbangkan keadaan manusia. Artinya, Dia datang untuk menyediakan apa yang dibutuhkan manusia. Dia akan memampukan setiap manusia, apa pun kualitas atau latar belakang mereka, untuk melihat firman Tuhan dan dari firman-Nya, melihat keberadaan dan manifestasi Tuhan serta menerima penyempurnaan Tuhan atas diri mereka. Firman-Nya akan mengubah pikiran dan gagasan manusia sehingga rupa Tuhan yang sejati akan benar-benar berakar di kedalaman hati manusia. Inilah satu-satunya keinginan Tuhan di bumi. Tidak peduli seberapa hebat sifat manusia, seberapa hina esensi manusia atau bagaimana manusia bertindak di masa lalu, Tuhan tidak peduli semua itu. Dia hanya berharap manusia sepenuhnya memperbarui gambar Tuhan yang mereka miliki di dalam hatinya dan mulai mengenal esensi umat manusia dan dengan demikian mengubah pandangan ideologis manusia. Dia berharap manusia mampu untuk merindukan Tuhan dengan sangat dan memiliki keterikatan kasih yang kekal dengan-Nya. Hanya itulah yang Tuhan minta dari manusia.

dari "Pekerjaan dan Jalan Masuk (7)"

dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

17. Pengetahuan beberapa ribu tahun tentang budaya kuno dan sejarah telah menutup pikiran dan gagasan dan pandangan mental manusia dengan ketat sehingga sukar ditembus dan tidak dapat diubah[6]. Manusia hidup di dalam neraka tingkat ke-18 seakan mereka telah dibuang oleh Tuhan ke dalam penjara bawah tanah, tidak pernah melihat terang lagi. Pemikiran feodal menekan manusia sedemikian rupa sehingga manusia sulit bernapas dan sesak napas. Mereka tidak memiliki kekuatan sedikit pun untuk melawan dan hanya bisa dengan pasrah menanggungnya dan terus menangungnya … Tidak pernah berani untuk melawan atau berdiri bagi kebenaran dan keadilan. Mereka sekadar hidup, tidak lebih baik dari hidup binatang, dalam pelecehan, dan pembunuhan para penguasa feodal, tahun demi tahun, hari demi hari. Manusia tidak pernah berpikir untuk mencari Tuhan untuk menikmati kebahagiaan di bumi. Seakan manusia sudah kalah, sama seperti daun yang gugur di musim dingin, layu dan menjadi coklat. Manusia sudah lama kehilangan ingatan mereka dan tanpa daya hidup di alam neraka bernama dunia manusia, menunggu datangnya akhir zaman, sehingga mereka bisa binasa bersama-sama dengan neraka seakan akhir zaman yang mereka nantikan adalah hari di mana mereka akan menikmati damai dan istirahat. Etika feodal telah membawa hidup manusia ke dalam "dunia orang mati" sehingga manusia bahkan tidak memiliki kemampuan lagi untuk melawan. Berbagai macam tekanan memaksa manusia untuk secara bertahap jatuh lebih dalam ke dalam dunia orang mati dan semakin jauh dari Tuhan. Sekarang Tuhan menjadi pribadi yang sama sekali asing bagi manusia dan manusia tetap berusaha cepat-cepat menghindari-Nya saat mereka bertemu. Manusia tidak mengakui-Nya dan mengucilkan-Nya seakan manusia tidak pernah mengenal atau melihat Dia sebelumnya. Tuhan sudah menunggu sepanjang perjalanan panjang hidup manusia tetapi tidak pernah mengarahkan amarah-Nya yang tidak terkendali kepada manusia. Dia hanya menunggu dalam diam agar manusia bertobat dan memulai awal baru. Tuhan sudah sejak lama datang ke dunia manusia dan menanggung penderitaan yang sama seperti manusia. Dia sudah hidup dengan manusia selama bertahun-tahun dan tidak ada yang menyadari keberadaan-Nya. Tuhan diam-diam menanggung penderitaan dunia manusia sambil melaksanakan pekerjaan yang Dia bawa bersama diri-Nya. Oleh karena kehendak Bapa dan kebutuhan umat manusia, Dia telah menanggung, menderita rasa sakit yang belum pernah dialami oleh manusia. Di hadapan manusia, Dia diam-diam melayani mereka dan merendahkan diri-Nya, demi kehendak Bapa dan kebutuhan umat manusia. Pengetahuan tentang budaya kuno telah diam-diam mencuri manusia dari hadirat Tuhan dan menyerahkan manusia kepada raja iblis dan anak-anaknya. The Four Books dan Five Classics (buku-buku yang memuat ajaran Konfusius) telah membawa pikiran dan konsep manusia ke dalam zaman pemberontakan lain, menyebabkan manusia semakin jauh menyembah mereka yang menulis buku-buku itu, membuat gagasan mereka tentang Tuhan semakin jauh. Raja iblis dengan kejam mengusir Tuhan dari hati manusia tanpa mereka menyadarinya, dan pada saat yang sama ia dengan gembira menguasai hati manusia. Dari sejak saat itu, manusia memiliki jiwa yang jelek dan jahat dengan wajah si raja Iblis. Kebencian terhadap Tuhan memenuhi dada mereka dan kejahatan raja Iblis menyebar dalam diri manusia hari demi hari sampai manusia sepenuhnya dikuasai olehnya. Manusia tidak lagi memiliki kebebasan dan tidak mampu lepas dari jeratan raja Iblis. Oleh karena itu, manusia hanya bisa diam di tempat, tertawan, menyerah kepadanya dan diperhamba olehnya. Raja Iblis sejak lama menanamkan benih tumor ateisme dalam hati anak muda, mengajar manusia berbagai kekeliruan seperti "belajar ilmu pengetahuan dan teknologi, menyadari Empat Modernisasi, tidak ada Tuhan di dunia". Tidak hanya itu, ia berkali-kali menyatakan "Mari kita bangun tanah air yang indah melalui para buruh kita yang rajin," meminta semua orang untuk bersiap dari sejak kanak-kanak untuk melayani negara mereka. Manusia tanpa sadar dibawa ke hadapannya dan ia tanpa ragu mencuri pujian (merujuk kepada Tuhan yang memegang seluruh umat manusia di tangan-Nya). Tidak pernah sekalipun ia merasa malu atau punya rasa malu. Terlebih lagi, ia tanpa malu menawan umat Tuhan di dalam rumahnya, sementara ia melompat ke atas meja seperti seekor tikus dan menyuruh manusia untuk menyembahnya sebagai Tuhan. Benar-benar penjahat nekat! Ia meneriakkan skandal yang mengejutkan, "Tidak ada Tuhan di dunia. Angin ada karena aturan alam, hujan adalah uap air yang menguap dan turun ke bumi dalam bentuk butiran air; gempa bumi adalah goncangan permukaan bumi karena perubahan geologis; kekeringan ada karena kekeringan di udara yang disebabkan oleh gangguan nukleonik di permukaan matahari. Semua ini adalah fenomena alam. Di mana dari semua itu adalah tindakan Tuhan?" Ia bahkan meneriakkan[a] perkataan tidak tahu malu seperti ini: "Manusia berevolusi dari kera di masa lalu dan dunia pada zaman sekarang ini telah maju dari masyarakat primitif kurang lebih satu milyar tahun lalu. Entahkah sebuah negara bangkit atau jatuh, itu ditentukan oleh tangan warga negaranya." Di belakangnya, ia menggantung manusia terbalik di tembok dan menempatkannya di meja untuk diabadikan dan disembah. Sambil ia meneriakkan, "Tidak ada Tuhan," ia menganggap dirinya sendiri sebagai Tuhan, mendorong Tuhan keluar dari bumi tanpa henti. Ia berdiri di tempatnya Tuhan dan bertindak sebagai raja Iblis. Benar-benar menggelikan! Ini menyebabkan manusia dikuasai oleh kebencian yang beracun. Tampaknya Tuhan adalah musuh besarnya dan Tuhan tidak mungkin berdamai dengannya. Ia berencana licik mengusir Tuhan sementara ia sendiri tetap tidak dihukum dan berkeliaran dengan bebas[7] seperti itulah si raja Iblis! Bagaimana mungkin kita menoleransi keberadaannya? Ia tidak akan beristirahat sampai ia telah mengganggu pekerjaan Tuhan dan meninggalkannya dalam keadaan kacau dan compang-camping[8], seakan ia ingin menentang Tuhan sampai akhir, sampai ikan mati atau jala rusak. Ia menentang Tuhan secara terbuka dan bergerak semakin dekat. Wajahnya yang menjijikkan telah lama terbuka dan sekarang penuh memar dan luka[9], dalam keadaan buruk yang mengerikan, ia tidak berhenti terus mengumbar kebenciannya kepada Tuhan seakan ia berharap bisa melahap Tuhan sepenuhnya dengan satu kali suapan demi memadamkan kebencian di hatinya. Bagaimana mungkin kita menoleransinya, musuh yang sangat membenci Tuhan ini! Hanya pemusnahan dan penghukuman total dirinya yang akan membawa keinginan hidup kita pada kesudahannya. Bagaimana bisa ia dibiarkan mengamuk? Ia sudah merusak manusia sampai tahap tertentu sehingga manusia tidak lagi mengenal matahari surga dan menjadi mati rasa dan tumpul. Manusia telah kehilangan nalar manusia yang normal. Mengapa tidak mengorbankan seluruh keberadaan kita dengan menghancurkan dan membakarnya demi membinasakan rasa takut akan bahaya yang tetap tinggal dan membiarkan pekerjaan Tuhan mencapai kemuliaan seperti yang belum pernah terjadi sebelumnnya dengan lebih cepat? Gerombolan penjahat nekat ini telah datang ke antara manusia dan menyebabkan keresahan dan kekacauan total. Mereka telah membawa manusia ke tepi jurang terjal, diam-diam berencana mendorong mereka ke jurang sehingga hancur berkeping-keping dan memakan mayat mereka. Mereka dengan sia-sia berharap bisa mengganggu rencana Tuhan dan bersaing dengan Tuhan dalam pertaruhan yang sulit[10]. Sama sekali tidak mudah. Salib, biar bagaimana pun, disiapkan untuk si raja Iblis yang bersalah karena kejahatan paling kejam. Salib bukan tempat Tuhan dan Dia telah meninggalkannya untuk si Iblis. Tuhan sudah sejak lama sekali menang dan tidak lagi merasa sedih karena dosa umat manusia. Dia akan membawa keselamatan kepada seluruh umat manusia.

dari "Pekerjaan dan Jalan Masuk (7)"

dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

18. Dari atas ke bawah dan dari awal sampai akhir, itu telah menganggu pekerjaan Tuhan dan bertindak bertentangan dengan-Nya. Semua pembicaraan tentang warisan budaya kuno, pengetahuan berharga tentang budaya kuno, ajaran Taoisme dan Konfusianisme, nilai-nilai Konfusius, dan ritual feodal telah membawa manusia ke dalam neraka. Pengetahuan dan teknologi zaman modern yang maju serta industri, pertanian, dan bisnis yang sudah berkembang, tidak terlihat di mana pun. Sebaliknya, itu semua hanya menekankan pada upacara feodal yang didengung-dengungkan oleh para "kera" kuno untuk merusak, menentang, dan menghancurkan pekerjaan Tuhan dengan sengaja. Sampai hari ini, semua itu tidak saja telah merusak manusia, tetapi juga ingin memakan[11] manusia sepenuhnya. Ajaran dari kode etik feodal dan pengetahuan budaya kuno yang diturunkan dari generasi ke generasi telah lama merusak manusia dan mengubahnya menjadi iblis, besar maupun kecil. Hanya ada sedikit orang yang siap menerima Tuhan dan dengan penuh sukacita menyambut kedatangan-Nya. Wajah manusia dipenuhi pembunuhan dan di seluruh tempat, aroma kematian memenuhi udara. Mereka berusaha mengusir Tuhan dari negeri ini; dengan pisau dan pedang terhunus, mereka mengatur barisan perangnya untuk membinasakan Tuhan. Berhala-berhala disebarkan di negeri iblis, tempat manusia terus-menerus diajarkan bahwa tidak ada Tuhan. Di atas negeri ini menyebar bau kertas terbakar dan dupa yang memualkan, begitu tebal sehingga membuat sulit bernapas. Seperti bau busuk yang terbawa angin, yang timbul ketika ular bergelung, sehingga membuat manusia ingin muntah. Lagi pula, samar-samar terdengar roh jahat mengalunkan ayat-ayat kitab suci. Suara mereka terdengar seperti suara dari neraka dan manusia pasti akan merasa merinding mendengarnya. Di seluruh negeri ini tersebar berhala, dengan segala warna pelangi, yang mengubah negeri ini menjadi dunia memabukkan, dan raja Iblis terus tersenyum, seolah-olah rencana jahatnya sudah berhasil. Sementara itu, manusia sama sekali tidak menyadarinya, juga tidak menyadari bahwa Iblis sudah merusaknya sedemikian rupa sehingga ia tak sadarkan diri dan kalah. Iblis ingin menghabisi semua milik Tuhan dalam sekali pukul, kembali menghina dan membunuh-Nya, dan berusaha meruntuhkan dan mengganggu pekerjaan-Nya. Bagaimana mungkin ia membiarkan Tuhan menyamai statusnya? Bagaimana mungkin ia membiarkan Tuhan "ikut campur" dalam pekerjaan di antara manusia? Bagaimana mungkin ia membiarkan Tuhan membuka topengnya dan memperlihatkan wajahnya yang buruk? Bagaimana mungkin ia membiarkan Tuhan merusak pekerjaannya? Bagaimana mungkin si Iblis, yang penuh dengan kemarahan, membiarkan Tuhan memerintah dengan kuasa-Nya di bumi? Bagaimana mungkin ia rela mengakui kekalahannya? Wajah aslinya yang buruk sudah tersingkap sehingga manusia tidak tahu apakah harus tertawa atau menangis melihatnya, sungguh sulit dibahasakan. Bukankah seperti itulah esensi si iblis? Memiliki jiwa yang buruk, namun tetap menganggap dirinya sangat indah. Ia dan para kaki-tangan[12] nya! Mereka turun ke antara manusia fana untuk memuaskan keinginan mereka dan menciptakan kekacauan. Gangguan yang mereka timbulkan menyebabkan ketidakteraturan di dunia dan membawa kepanikan dalam hati manusia, dan semua itu telah mengganggu manusia sehingga manusia menjadi sama seperti binatang yang buruk rupa, tidak lagi memiliki sedikit pun jejak manusia kudus yang semula. Mereka bahkan ingin mendapatkan kekuasaan sebagai tiran di bumi. Mereka menginjak-injak pekerjaan Tuhan sehingga tidak bisa maju dan memblokade manusia seakan mengurungnya dalam penjara tembaga dan besi. Setelah melakukan begitu banyak dosa dan menyebabkan begitu banyak masalah, dapatkah mereka mengharapkan sesuatu yang lain selain menunggu hajaran? Iblis dan roh jahat mengamuk di bumi dan memblokade pekerjaan dan usaha Tuhan yang begitu sungguh-sungguh, membuat diri mereka tidak bisa ditembus. Dosa yang sangat berat! Bagaimana mungkin Tuhan tidak kesal? Bagaimana mungkin Tuhan tidak murka? Mereka menciptakan pertentangan dan rintangan besar terhadap pekerjaan Tuhan. Mereka begitu memberontak! Bahkan para setan itu, baik besar maupun kecil, menyombongkan kekuatan iblis yang lebih berkuasa dan mulai menciptakan kekacauan. Mereka secara sengaja menentang kebenaran sekalipun tahu akan kebenaran tersebut. Orang-orang durhaka! Seakan raja neraka telah naik ke atas takhta raja, mereka menjadi sombong dan menghinakan orang lain. Berapa banyak yang mencari kebenaran dan mengikuti kebenaran? Mereka semua binatang, seperti babi dan anjing, memimpin sekelompok lalat bau di tumpukan sampah, mengibaskan kepalanya dan menyebabkan kekacauan.[13] Mereka percaya bahwa raja neraka mereka adalah raja yang paling berkuasa, tanpa menyadari bahwa mereka tidak lebih dari lalat di tumpukan sampah. Tidak hanya itu, mereka membuat fitnahan melawan keberadaan Tuhan dengan bergantung pada anjing dan babi yang adalah induk mereka. Sekelompok kecil lalat berpikir orang tua mereka sama besarnya dengan ikan paus bergigi.[14] Apakah mereka tidak menyadari bahwa mereka sangat kecil, dan induk mereka hanyalah anjing dan babi najis yang miliaran kali lebih besar dari mereka? Tidak sadar akan posisi mereka yang rendah, mereka mengamuk oleh karena bau anjing dan babi dan berkhayal bisa melahirkan generasi yang akan datang. Sungguh tidak tahu malu! Dengan sayap hijau di punggungnya (ini merujuk pada pernyataan mereka bahwa mereka percaya kepada Tuhan), mereka mulai menjadi angkuh dan menyombongkan kecantikan dan daya tarik mereka di mana-mana, diam-diam menyebarkan ketidakmurnian mereka kepada manusia. Dan mereka begitu sombong, seakan sepasang sayap berwarna pelangi bisa menyembunyikan ketidakmurnian mereka dan dengan demikian mereka menganiaya keberadaan Tuhan yang sejati (ini merujuk pada kisah-kisah tersembunyi di dunia agamawi). Manusia sama sekali tidak tahu bahwa walaupun lalat memiliki sayap yang indah dan menarik, ia sebenarnya tidak lebih dari lalat kecil yang penuh kotoran dan kuman. Dengan kekuatan induk anjing dan babi mereka, mereka mengamuk ke seluruh negeri (ini merujuk pada pemuka agama yang menganiaya Tuhan dengan dukungan dari negara yang mengkhianati Tuhan yang sejati dan kebenaran) dengan keganasan yang meledak-ledak. Seakan hantu orang Farisi Yahudi kembali bersama dengan Tuhan kepada bangsa si naga merah yang sangat besar, kembali ke sarang lamanya. Mereka mulai lagi melakukan pekerjaan penganiayaan mereka, melanjutkan kembali pekerjaan yang mereka lakukan, yang berlangsung sejak ribuan tahun yang lalu. Sekelompok makhluk hina seperti ini pasti akan binasa di bumi pada akhirnya! Sepertinya setelah beberapa ribu tahun, roh najis menjadi semakin licik dan licin. Mereka terus-menerus memikirkan cara untuk diam-diam mengacaukan pekerjaan Tuhan. Mereka licik dan cerdik, serta ingin mengulangi tragedi yang terjadi beberapa ribu tahun lalu itu di tanah kelahirannya. Hal ini hampir mendorong Tuhan meneriakkan murka-Nya dan Dia hampir tidak bisa menahan diri untuk kembali ke surga tingkat ketiga untuk menghabisi mereka. Supaya manusia bisa mengasihi Tuhan, ia harus mengerti kehendak-Nya, sukacita-Nya, dan dukacita-Nya, dan juga apa yang dibenci-Nya. Ini akan membuat jalan masuk manusia menjadi lebih baik. Semakin cepat jalan masuk manusia, semakin hati Tuhan dipuaskan. Semakin jelas manusia bisa mengenali si raja Iblis, semakin mendekat ia kepada Tuhan, sehingga kerinduan-Nya bisa terpenuhi.

dari "Pekerjaan dan Jalan Masuk (7)"

dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

19. Aku sudah berulang kali berbicara bahwa pekerjaan Tuhan di akhir zaman bertujuan untuk mengubah roh masing-masing manusia, mengubah jiwa masing-masing manusia, sehingga hati mereka, yang telah menderita trauma berat, direformasi, dan oleh karena itu menyelamatkan jiwa mereka, yang sudah sangat parah disakiti oleh kejahatan; tujuannya adalah membangkitkan roh manusia, menyingkirkan hati mereka yang dingin dan memungkinkan mereka diperbarui kembali. Ini adalah kehendak Tuhan yang terbesar. Singkirkan dulu pembicaraan tentang seberapa tinggi atau dalamnya kehidupan dan pengalaman manusia; ketika hati manusia telah dibangkitkan, ketika mereka telah dibangunkan dari mimpinya dan mengenali dengan baik kerusakan yang disebabkan si naga merah yang sangat besar, pekerjaan pelayanan Tuhan pun akan diselesaikan. Hari di mana pekerjaan Tuhan diselesaikan juga adalah hari di mana manusia secara resmi mulai menempuh jalan kepercayaan yang benar dalam Tuhan. Saat ini, pelayanan Tuhan akan berakhir: Pekerjaan Tuhan menjadi daging akan selesai sepenuhnya, dan manusia akan mulai secara resmi melakukan tugas yang seharusnya ia lakukan—ia akan melakukan pelayanannya. Ini adalah langkah-langkah pekerjaan Tuhan. Oleh karena itu, engkau semua harus meraba-raba jalanmu menuju jalan masuk kepada fondasi pengenalan akan hal-hal ini. Semua inilah yang harus engkau pahami. Jalan masuk manusia akan meningkat ketika perubahan telah terjadi di kedalaman hatinya, karena pekerjaan Tuhan adalah keselamatan sempurna manusia—manusia yang sudah ditebus, yang masih hidup di bawah kekuatan kegelapan, dan yang tidak pernah bangun sendiri—dari tempat perkumpulan setan ini; agar manusia dapat dibebaskan dari ribuan tahun dosa, dan menjadi kesayangan Tuhan, sepenuhnya menjatuhkan naga merah yang sangat besar, menegakkan kerajaan Tuhan, dan menenangkan hati Tuhan lebih cepat, mengungkapkan seluruh rasa benci yang membengkak di dadamu, membersihkan kuman-kuman berjamur, memungkinkanmu sekalian meninggalkan kehidupan ini yang tidak ada bedanya dengan kehidupan sapi atau kuda, tidak lagi menjadi budak, tidak lagi diinjak-injak atau disuruh-suruh oleh si naga merah yang sangat besar; engkau semua tidak akan lagi menjadi bagian dari bangsa yang gagal ini, tidak akan lagi menjadi milik naga merah yang sangat besar yang jahat, engkau tidak akan lagi diperbudak olehnya. Sarang setan pasti akan dihancurkan berkeping-keping oleh Tuhan, dan engkau semua akan berdiri di samping Tuhan—engkau semua adalah milik Tuhan, dan bukan milik kerajaan budak ini. Tuhan sudah lama sangat membenci masyarakat gelap ini. Dia menggertakkan gigi-Nya, gemas ingin menginjak-injak si ular tua yang jahat dan kejam ini, sehingga ia tidak akan pernah bangkit lagi dan tidak akan pernah lagi melecehkan manusia; Dia tidak akan mengampuni tindakannya di masa lalu, Dia tidak akan menoleransi kecurangannya terhadap manusia, Dia akan membalaskan semua dosa yang dilakukannya dari zaman ke zaman; Tuhan tidak akan bermurah hati sedikit pun kepada pemimpin utama dari seluruh Iblis[15] ini, Dia akan benar-benar menghancurkannya.

dari "Pekerjaan dan Jalan Masuk (8)"

dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

20. Selama ribuan tahun, negeri ini telah menjadi negeri yang najis, tidak tertahankan kotornya, penuh derita, hantu berkeliaran di setiap pojoknya, menipu dan menyesatkan, membuat tuduhan tak berdasar,[16] buas dan kejam, menginjak-injak kota hantu ini, dan meninggalkannya penuh dengan mayat; bau busuk menyelimuti negeri ini dan memenuhi udara dengan pekatnya, dan tempat ini dijaga ketat.[17] Siapa yang bisa melihat dunia di balik langit? Iblis mengikat seluruh tubuh manusia, mencungkil kedua matanya, dan menutup mulutnya rapat-rapat. Raja Iblis telah mengamuk selama beribu-ribu tahun, sampai sekarang, terus mengawasi kota hantu ini, seakan itu adalah istana setan yang tidak bisa ditembus; sementara itu, sekumpulan anjing penjaga ini menatap dengan mata liar penuh ketakutan kalau-kalau Tuhan akan menangkap mereka saat tidak waspada, lalu memusnahkan mereka, semuanya, sehingga mereka tidak lagi memiliki tempat untuk merasakan kedamaian dan kebahagiaan. Bagaimana mungkin penduduk kota hantu seperti ini pernah melihat Tuhan? Pernahkah mereka menikmati keindahan dan kasih Tuhan? Penghargaan seperti apa yang mereka dapatkan di dunia manusia? Siapakah di antara mereka yang mampu memahami kehendak Tuhan yang penuh hasrat? Sehingga tidak mengherankan bagaimana inkarnasi Tuhan tetap tersembunyi bagi mereka: Di tengah masyarakat yang gelap seperti ini, di mana Iblis begitu kejam dan tidak manusiawi, bagaimana mungkin raja Iblis, yang menghabisi orang-orang dalam sekejap mata, menoleransi keberadaan Tuhan yang baik, penuh kasih, dan kudus? Bagaimana mungkin ia akan menyambut kedatangan Tuhan dengan gembira? Para penjilat! Mereka membayar kebaikan dengan kebencian, mereka sudah lama membenci Tuhan, mereka memperalat Tuhan, mereka berlaku kasar sekasar-kasarnya, mereka sama sekali tidak menghargai Tuhan, mereka merampas dan merampok, mereka sudah kehilangan hati nurani, dan tidak ada kebaikan yang tersisa, dan mereka menggoda orang tidak bersalah agar kehilangan hati nuraninya. Nenek moyang? Pemimpin yang dikasihi? Mereka semua melawan Tuhan! Tindakan ikut campur mereka membuat semua yang tinggal di kolong langit menjadi gelap dan kacau! Kebebasan beragama? Hak dan kepentingan yang sah bagi warga negara? Semua itu hanya tipuan untuk menutupi dosa! Siapa yang telah menerima pekerjaan Tuhan? Siapa yang bersedia menyerahkan nyawanya atau menumpahkan darahnya bagi pekerjaan Tuhan? Selama generasi ke generasi, dari orang tua hingga anak-anak, manusia yang diperbudak tanpa rasa malu telah memperbudak Tuhan—bagaimana ini tidak menimbulkan murka? Ribuan tahun kebencian berkumpul di hati, dosa ribuan tahun tertulis di hati—bagaimana ini tidak melahirkan kebencian? Tuhan yang membalas dendam, menghancurkan seluruh musuh-Nya, tidak membiarkannya mengacau lebih lama lagi, dan tidak lagi membiarkannya berulah seperti yang diinginkannya! Sekaranglah waktunya: Manusia sudah lama mengumpulkan kekuatannya, mendedikasikan usahanya, membayar harga, untuk ini, untuk menyingkapkan wajah Iblis dan membuat orang-orang, yang selama ini dibutakan dan mengalami segala penderitaan dan kesulitan agar bangkit dari rasa sakit mereka dan meninggalkan si Iblis tua yang jahat ini. Mengapa bersusah payah merintangi pekerjaan Tuhan? Mengapa menipu umat Tuhan dengan segala macam muslihat? Di manakah kebebasan sejati dan hak dan kepentingan yang sah? Di manakah keadilan? Di manakah penghiburan? Di manakah kehangatan? Mengapa menggunakan tipuan licik untuk menipu umat Tuhan? Mengapa menggunakan kekerasan untuk menekan kedatangan Tuhan? Mengapa tidak membiarkan Tuhan melangkah bebas di bumi yang Dia ciptakan? Mengapa memburu Tuhan sampai Dia tidak punya tempat untuk meletakkan kepala-Nya? Di manakah kehangatan di antara manusia? Di manakah penyambutan di antara manusia? Mengapa menyebabkan timbulnya kerinduan akan Tuhan yang tidak bisa terpuaskan? Mengapa membuat Tuhan harus memanggil hingga berulang kali? Mengapa memaksa Tuhan mengkhawatirkan Anak kesayangan-Nya? Mengapa masyarakat yang jahat ini dan anjing-anjing penjaganya tidak membiarkan Tuhan dengan bebas datang dan menjelajahi dunia yang diciptakan-Nya? Mengapa manusia yang hidup di tengah rasa sakit dan penderitaan, tidak bisa mengerti? Demi engkau semua, Tuhan telah menanggung penderitaan yang sangat berat, dengan rasa sakit yang luar biasa Dia mengaruniakan Anak kesayangan-Nya, darah dan daging-Nya, kepadamu—jadi mengapa engkau semua tetap saja pura-pura tidak tahu? Di hadapan semua orang, engkau menolak kedatangan Tuhan dan menolak persahabatan dengan Tuhan. Mengapa engkau begitu tidak berhati nurani? Bersediakah engkau menanggung ketidakadilan di tengah masyarakat yang jahat seperti ini? Mengapa, bukannya memenuhi perutmu dengan permusuhan ribuan tahun, engkau malah memenuhi dirimu sendiri dengan "kotoran" si raja Iblis?

dari "Pekerjaan dan Jalan Masuk (8)"

dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

21. Seberapa besarkah rintangan terhadap pekerjaan Tuhan? Apakah ada yang pernah mengetahuinya? Dengan manusia terperangkap dalam warna-warni takhayul yang mendarah daging, siapa yang dapat mengenali wajah Tuhan yang sebenarnya? Dengan pengetahuan budaya yang terbelakang, begitu dangkal dan tak masuk akal, bagaimana bisa mereka sungguh-sungguh memahami firman yang disampaikan Tuhan? Bahkan ketika mereka diberi firman dan diberi makan secara langsung, dari mulut ke mulut, bagaimana mereka bisa paham? Kadang, seakan firman Tuhan diperdengarkan ke telinga yang tuli: Manusia tidak sedikit pun bereaksi, mereka menggeleng-gelengkan kepala dan tidak memahami apa-apa. Bagaimana hal ini tidak mengkhawatirkan? "Sejarah budaya dan pengetahuan budaya yang kuno dan jauh[18]" ini telah memelihara sekelompok orang tidak berguna. Budaya kuno ini—warisan berharga—adalah tumpukan sampah! Itu semua menjadi noda yang abadi dan sangat jelek dari dulu sekali! Itu telah mengajari manusia tipuan dan teknik menentang Tuhan dan "bimbingan yang teratur dan lembut"[19] dari pendidikan nasional telah menjadikan manusia semakin tidak taat kepada Tuhan. Masing-masing bagian dari pekerjaan Tuhan sangat sulit, dan setiap tahap dari pekerjaan-Nya di bumi menyesakkan Tuhan. Betapa berat pekerjaan-Nya di bumi! Langkah-langkah pekerjaan Tuhan di bumi melibatkan kesulitan besar: Kelemahan, kekurangan, kekanak-kanakan, keacuhan manusia, dan semua yang dimiliki manusia—masing-masing dengan cermat dan hati-hati diperhitungkan oleh Tuhan. Manusia itu seperti macan kertas yang orang lain tidak berani ganggu atau usik; dengan satu sentuhan ringan, ia balas menggigit, atau mundur dan kabur, dan seakan jika dengan hilang konsentrasi sedikit saja, ia kumat atau lari kepada ayahnya yang adalah seekor babi dan ibunya yang adalah seekor anjing untuk memuaskan tubuh mereka dengan hal-hal najis. Benar-benar halangan besar! Secara praktis dalam setiap langkah pekerjaan-Nya, Tuhan diuji dan hampir setiap langkah mengandung bahaya besar. Firman-Nya tulus dan murni dan tanpa kebencian, tetapi siapa yang mau menerimanya? Siapa yang mau benar-benar tunduk? Ini menghancurkan hati Tuhan. Dia berusaha siang dan malam bagi manusia, Dia dilanda kecemasan karena hidup manusia dan Dia bersimpati dengan kelemahan manusia. Dia telah menanggung banyak perubahan dan perkembangan tak terduga dalam setiap tahap pekerjaan-Nya, karena setiap firman yang disampaikan-Nya; Dia pernah dihadapkan pada dua pilihan sulit dan memikirkan kelemahan, ketidaktaatan, kekanak-kanakan, dan kerapuhan manusia … setiap hari lagi dan lagi. Siapa yang tahu ini? Kepada siapa Dia bisa menceritakannya? Siapa yang bisa memahaminya? Dia selalu membenci dosa manusia, dan kurangnya keberanian, kelemahan karakter manusia, dan Dia selalu khawatir dengan kerapuhan manusia dan merenungkan jalan yang ada di hadapan manusia, selalu, sambil Dia menyelidiki perkataan dan perbuatan manusia, hal itu membuat-Nya penuh dengan belas kasih dan amarah, dan pemandangan akan hal-hal ini selalu menyakitkan hati-Nya. Orang lugu, pada akhirnya telah menjadi tak berperasaan; mengapa Tuhan harus membuat segalanya sulit bagi mereka? Manusia yang bimbang sama sekali kehilangan ketekunannya, mengapa Tuhan selalu terus menerus marah kepadanya? Orang yang lemah dan tak berdaya tidak lagi memiliki vitalitas sedikit pun, mengapa Tuhan harus selalu menghukumnya karena ketidaktaatannya? Siapa yang bisa tahan ancaman Tuhan yang di surga? Lagi pula, manusia itu rapuh dan dalam kondisi putus asa, Tuhan telah mendorong murka-Nya jauh ke dalam hati-Nya, supaya manusia pelan-pelan merenungkan dirinya sendiri. Tetapi manusia, yang ada dalam masalah besar, tidak sedikit pun memiliki penghargaan terhadap kehendak Tuhan, ia telah diinjak-injak oleh raja Iblis tua, tetapi sepenuhnya tidak sadar, ia selalu melawan Tuhan, atau tidak panas atau dingin terhadap Tuhan. Tuhan sudah berfirman berkali-kali, tetapi siapa yang menanggapinya dengan serius? Manusia tidak memahami firman Tuhan, tetapi ia tetap tidak gelisah, tidak pernah ada kerinduan, dan tidak pernah benar-benar mengenal hakikat si iblis tua. Manusia hidup dalam alam maut, neraka, tetapi percaya mereka ada di istana di dasar laut, mereka dianiaya oleh naga merah yang sangat besar, tetapi mereka berpikir mereka disayang[20] oleh negara si naga itu; mereka dipermainkan oleh Iblis tetapi berpikir mereka menikmati karya seni daging yang luar biasa. Benar-benar orang-orang yang kotor dan rendah, mereka itu! Manusia telah berhadapan dengan kemalangan, tetapi ia tidak tahu dan dalam masyarakat yang gelap ini, ia menderita kecelakaan demi kecelakaan[21], tetapi ia tidak pernah menyadarinya. Kapankah ia akan menyingkirkan watak yang seperti budak dan menyayangi diri sendiri ini? Mengapa ia begitu tidak peduli dengan hati Tuhan? Apakah diam-diam ia memaafkan tekanan dan kesulitan ini? Tidakkah ia mengharapkan datangnya hari di mana ia bisa mengubah kegelapan menjadi terang? Tidakkah ia berharap untuk sekali lagi memulihkan ketidakadilan terhadap keadilan dan kebenaran? Apakah ia mau memperhatikan dan diam saja ketika orang-orang meninggalkan kebenaran dan memutarbalikkan fakta? Apakah ia dengan senang hati terus menanggung perlakuan yang salah ini? Apakah ia mau menjadi budak? Apakah ia mau binasa di tangan Tuhan bersama dengan budak dari negara yang gagal ini? Di manakah niatmu? Di manakah ambisimu? Di manakah harga dirimu? Di manakah integritasmu? Di manakah kebebasanmu? Apakah engkau mau memberikan seluruh hidupmu[22] bagi si naga merah yang sangat besar, si raja Iblis? Apakah engkau bahagia membiarkannya menyiksamu sampai mati? Rupa palung laut itu kacau dan gelap, orang biasa, menderita penderitaan seperti itu, berseru kepada surga dan mengeluh kepada bumi. Kapankah manusia akan mampu mengangkat kepalanya tinggi-tinggi? Manusia kurus kering dan kerempeng, bagaimana bisa ia puas dengan Iblis yang kejam dan tiran ini? Mengapa ia tidak memberikan hidupnya kepada Tuhan secepat yang ia bisa? Mengapa ia masih bimbang, ketika bisa menyelesaikan pekerjaan Tuhan? Karena tanpa tujuan diganggu dan ditekan, seluruh hidupnya pada akhirnya dihabiskan dalam kesia-siaan; mengapa ia buru-buru datang dan buru-buru pergi? Mengapa ia tidak menyimpan sesuatu yang berharga untuk diberikan kepada Tuhan? Apakah ia sudah lupa akan kebencian seribu tahun?

dari "Pekerjaan dan Jalan Masuk (8)"

dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

22. Tradisi etnis dan pandangan mental yang telah berakar sejak lama membayangi roh manusia yang murni dan seperti kanak-kanak, mereka telah menyerang jiwa manusia tanpa peri kemanusiaan sedikit pun, seolah-olah tanpa emosi atau kesadaran diri. Metode Iblis ini sangat kejam, seolah-olah "pendidikan" dan "pengasuhan" telah menjadi metode tradisional yang digunakan oleh raja Iblis untuk membunuh manusia. Dengan menggunakan "ajaran yang mendalam", Iblis menutupi jiwanya yang buruk seluruhnya, menggunakan pakaian berbulu domba untuk mendapatkan kepercayaan manusia dan kemudian memanfaatkan waktu ketika manusia sedang tidur untuk melahapnya seutuhnya. Umat manusia yang malang—bagaimana mungkin mereka tahu bahwa negeri tempat mereka dibesarkan adalah negeri Iblis, bahwa orang yang membesarkan mereka sebenarnya adalah musuh yang menyakiti mereka. Namun manusia tidak sadar sama sekali; setelah memuaskan rasa lapar dan hausnya, ia bersiap untuk membalas "kebaikan" dari "orangtua"-nya dalam membesarkannya. Seperti itulah manusia. Saat ini, ia masih tetap tidak mengetahui bahwa raja yang membesarkannya adalah musuhnya. Bumi dipenuhi dengan tulang-belulang orang mati, Iblis bersukaria dengan penuh kegilaan tanpa henti, dan terus melahap daging manusia di "dunia orang mati," berbagi kubur dengan kerangka manusia dan dengan sia-sia mencoba untuk memakan sisa-sisa terakhir tubuh manusia yang tercabik-cabik. Namun manusia tidak pernah mengetahui apa pun, dan tidak pernah memperlakukan Iblis sebagai musuhnya, melainkan melayaninya dengan sepenuh hati. Manusia yang rusak moralnya seperti itu tidak mampu untuk mengenal Tuhan. Apakah mudah bagi Tuhan untuk menjadi manusia dan datang di antara mereka, melaksanakan semua pekerjaan penyelamatan-Nya? Bagaimana mungkin manusia, yang telah tercebur ke dunia orang mati, dapat memenuhi tuntutan Tuhan? Banyak sudah malam-malam tanpa tidur yang telah diderita Tuhan demi pekerjaan umat manusia. Dari tempat yang tinggi sampai ke kedalaman yang paling rendah, Dia telah turun ke neraka hidup tempat manusia tinggal untuk melewati hari-hari-Nya bersama manusia, tidak pernah mengeluh tentang kejorokan di antara manusia, tidak pernah mencela manusia karena ketidaktaatannya, tetapi menanggung penghinaan terbesar sementara Dia melakukan pekerjaan-Nya sendiri. Bagaimana mungkin Tuhan menjadi milik neraka? Bagaimana mungkin Dia menghabiskan hidup-Nya di neraka? Tetapi demi semua umat manusia, agar seluruh umat manusia dapat menemukan istirahat lebih cepat, Dia telah menanggung penghinaan dan menderita ketidakadilan untuk datang ke bumi, dan secara pribadi masuk ke dalam "neraka" dan "dunia orang mati," ke dalam sarang harimau, untuk menyelamatkan manusia. Bagaimana mungkin manusia berhak untuk menentang Tuhan? Alasan apa yang dimilikinya untuk sekali lagi mengeluh tentang Tuhan? Bagaimana ia masih memiliki nyali untuk memandang Tuhan lagi? Tuhan dari surga telah datang ke negeri yang paling kotor dan jahat ini, tanpa pernah melampiaskan keluhan-Nya, atau berkeluh-kesah tentang manusia, tetapi sebaliknya dengan tenang menerima kerusakan[23] dan penindasan yang disebabkan manusia. Tidak pernah Dia membalas tuntutan-tuntutan manusia yang keterlaluan, tidak pernah Dia menuntut manusia secara berlebihan, dan tidak pernah Dia membuat tuntutan yang tidak masuk akal terhadap manusia. Dia hanya melakukan semua pekerjaan yang dikehendaki oleh manusia tanpa mengeluh: mengajar, mencerahkan, menegur, memurnikan lewat firman, mengingatkan, menasihati, menghibur, menghakimi, dan mengungkapkan. Manakah dari langkah-langkah-Nya yang bukan demi kehidupan manusia? Meskipun Dia telah menghapus harapan dan nasib manusia, langkah-langkah manakah yang dilakukan Tuhan yang bukan demi nasib manusia? Yang manakah dari langkah-langkah itu bukan demi kelangsungan hidup manusia? Yang manakah dari langkah-langkah itu bukan untuk membebaskan manusia dari penderitaan dan penindasan kekuatan kegelapan yang kelam bagaikan malam? Yang manakah dari langkah-langkah itu bukan demi manusia? Siapakah bisa memahami hati Tuhan, yang seperti seorang ibu yang penyayang? Siapakah bisa memahami hati Tuhan yang penuh semangat? Hati Tuhan yang penuh semangat dan pengharapan-Nya yang kuat telah dibalas dengan hati yang dingin, dengan mata yang tak berperasaan dan tak peduli, dengan teguran dan hinaan yang berulang-ulang dari manusia, dengan ucapan yang tajam, sarkasme, dan penghinaan, semua itu dibalas dengan cemoohan manusia, dengan injakan dan penolakan, dengan kesalahpahaman, rintihan, kerenggangan, dan sikap menghindar dari manusia, tidak dengan apa pun kecuali kebohongan, serangan, dan kepahitan. Kata-kata yang penuh kehangatan telah disambut dengan alis yang mengancam dan perlawanan yang dingin dari seribu jari yang bergoyang-goyang. Tuhan hanya dapat bertahan, dengan kepala tertunduk, melayani manusia seperti sapi yang menurut.[24] Sudah berapa banyak matahari dan bulan, sudah berapa kali bintang-bintang dihadapi-Nya, sudah berapa kali Dia berangkat pada waktu fajar dan kembali pada senja hari, berputar-putar dan berbalik, menanggung penderitaan yang seribu kali lebih besar daripada rasa sakit karena kepergian-Nya dari Bapa-Nya, menahan serangan dan penghancuran manusia, penanganan dan pemangkasan manusia. Kerendahan hati dan ketersembunyian Tuhan telah dibalas dengan prasangka[25] manusia, dengan pandangan dan perlakuan yang tidak adil dari manusia. Anonimitas, kesabaran, dan toleransi-Nya telah dibalas dengan tatapan serakah dari manusia. Manusia berusaha menindas Tuhan sampai mati, tanpa rasa bersalah sedikit pun, dan berusaha menginjak Tuhan masuk ke dalam tanah. Sikap manusia dalam memperlakukan Tuhan merupakan salah satu "kepandaian yang langka," dan Tuhan, yang ditindas dan dipandang rendah oleh manusia, dihancurkan sampai rata di bawah kaki puluhan ribu orang sementara manusia sendiri meninggikan diri, seolah-olah ia akan menjadi raja di istana, seolah-olah ia ingin merebut kekuasaan mutlak,[26] menjalankan kekuasaan dari balik layar, membuat Tuhan menjadi sutradara yang bertanggung jawab dan taat aturan di balik layar, yang tidak diperkenankan untuk melawan atau menimbulkan masalah. Tuhan harus memainkan peran Kaisar Terakhir, Dia harus menjadi boneka,[27] tanpa kebebasan sama sekali. Perbuatan manusia sungguh tak terkatakan, jadi bagaimana ia berhak untuk menuntut ini atau itu dari Tuhan? Bagaimana ia berhak untuk mengajukan saran-saran kepada Tuhan? Bagaimana ia berhak untuk menuntut agar Tuhan bersimpati dengan kelemahannya? Bagaimana ia pantas menerima belas kasihan Tuhan? Bagaimana ia pantas menerima kemurahan hati Tuhan berulang kali? Bagaimana ia pantas menerima pengampunan Tuhan berulang kali? Di manakah hati nuraninya? Ia telah menghancurkan hati Tuhan sejak lama, ia telah lama membiarkan hati Tuhan hancur berkeping-keping. Tuhan datang di antara manusia dengan gembira dan penuh semangat, berharap bahwa manusia akan murah hati kepada-Nya, meskipun hanya dengan sedikit kehangatan. Namun hati Tuhan tidak cepat dihibur oleh manusia, yang diterima-Nya hanyalah serangan dan siksaan yang semakin bertambah dengan cepat[28]; hati manusia terlalu rakus, keinginannya terlalu besar, ia tidak pernah bisa dipuaskan, ia selalu jahat dan membabi buta, ia tidak pernah memberi Tuhan kebebasan atau hak untuk berbicara, dan tidak memberikan pilihan apa pun kepada Tuhan selain tunduk pada penghinaan, dan membiarkan manusia untuk memanipulasi diri-Nya sesuai dengan keinginannya.

dari "Pekerjaan dan Jalan Masuk (9)"

dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

23. Sejak penciptaan hingga saat ini, Tuhan telah menanggung begitu banyak penderitaan, dan menderita begitu banyak serangan. Namun sampai saat ini pun, manusia tetap tidak mengendurkan tuntutannya terhadap Tuhan, ia tetap saja mengamati Tuhan dengan teliti, ia tetap saja tidak memiliki toleransi terhadap-Nya, dan tidak melakukan apa pun selain memberi nasihat kepada-Nya, mengkritik Dia, dan mendisiplinkan Dia, seolah-olah sangat takut bahwa Tuhan akan menempuh jalan yang salah, bahwa Tuhan bersikap kasar dan keterlaluan di dunia, atau menimbulkan kerusuhan, atau Dia tidak akan memiliki arti apa pun. Manusia selalu bersikap seperti ini terhadap Tuhan. Bagaimana mungkin hal itu tidak menyedihkan Tuhan? Dengan menjadi manusia, Tuhan telah mengalami penderitaan dan penghinaan yang luar biasa; oleh karena itu, betapa jauh lebih buruknya, membuat Tuhan menerima ajaran manusia? Kedatangan-Nya di antara manusia telah melucuti Dia dari semua kebebasan, seolah Dia dipenjarakan di dunia orang mati, dan Dia telah menerima penyelidikan dari manusia tanpa perlawanan sedikit pun. Tidakkah ini memalukan? Ketika datang di antara keluarga manusia yang normal, Yesus telah menderita ketidakadilan yang terbesar. Bahkan yang lebih memalukan adalah bahwa Dia telah datang ke dunia yang penuh debu ini dan merendahkan diri-Nya ke kedalaman yang paling rendah, dan telah menjadi tubuh daging yang sangat biasa. Ketika menjadi manusia yang sangat tak berarti, tidakkah Tuhan Yang Maha Tinggi menderita kesusahan? Dan tidakkah semua ini demi umat manusia? Pernahkah ada suatu saat ketika Dia memikirkan diri-Nya sendiri? Setelah Dia ditolak dan dihukum mati oleh orang Yahudi, dan diolok-olok dan diejek oleh manusia, Dia tidak pernah mengeluh pada Surga atau memprotes pada bumi. Saat ini, tragedi ribuan tahun ini telah muncul kembali di antara orang-orang seperti orang Yahudi ini. Tidakkah mereka melakukan dosa yang sama? Apa yang menjadikan manusia berhak untuk menerima janji-janji Tuhan? Tidakkah ia menentang Tuhan dan kemudian menerima berkat-Nya? Mengapa manusia tidak pernah menghadapi keadilan, atau mencari kebenaran? Mengapa ia tidak pernah tertarik pada apa yang Tuhan lakukan? Di manakah kebenarannya? Di manakah keadilannya? Apakah ia memiliki nyali untuk mewakili Tuhan? Di mana rasa keadilannya? Berapa banyak hal yang dikasihi manusia dikasihi oleh Tuhan? Manusia tidak bisa membedakan dua hal ini,[29] ia selalu mengacaukan antara hitam dengan putih,[30] ia menindas keadilan dan kebenaran, serta mengangkat ketidakadilan dan ketidakbenaran tinggi di udara. Ia mengusir terang, dan melompat-lompat di tengah kegelapan. Mereka yang mencari kebenaran dan keadilan malah mengusir terang itu, mereka yang mencari Tuhan menginjak-injak Dia di bawah kaki mereka, dan mengangkat diri mereka ke angkasa. Manusia tidak berbeda dengan bandit.[31] Di manakah akal sehatnya? Siapakah yang bisa membedakan antara yang benar dan yang salah? Siapakah yang bisa menegakkan keadilan? Siapakah yang bersedia menderita demi kebenaran? Manusia kejam dan sangat jahat! Setelah memaku Tuhan di kayu salib mereka bertepuk tangan dan bersorak, teriakan mereka yang liar tiada hentinya. Mereka seperti ayam dan anjing, mereka bersekongkol dan berkomplot, mereka telah mendirikan kerajaan mereka sendiri, campur tangan mereka telah membuat tak satu tempat pun tidak terganggu, mereka menutup mata mereka dan terus melolong dengan penuh kegilaan, semuanya terkurung bersama-sama, suasana yang keruh menyelimuti, hiruk-pikuk dan sibuk, dan manusia yang secara membabi-buta melekat pada orang lain terus bermunculan, semuanya mengangkat nama-nama leluhur mereka yang "termasyhur". Anjing-anjing dan ayam-ayam ini telah lama menempatkan Tuhan di bagian belakang pikiran mereka, dan tidak pernah memperhatikan keadaan hati Tuhan. Tidak terlalu mengherankan Tuhan mengatakan bahwa manusia itu seperti anjing atau ayam, anjing menggonggong yang membuat seratus anjing lainnya menggonggong; dengan cara ini, dengan banyak kehebohan ia telah membawa pekerjaan Tuhan ke masa kini, tanpa menghiraukan seperti apa pekerjaan Tuhan itu, apakah ada keadilan, apakah Tuhan memiliki tempat untuk menapakkan kaki-Nya, seperti apa esok hari, seperti apa kehinaannya sendiri, dan kenajisannya sendiri. Manusia tidak pernah memikirkan banyak perkara sejauh itu, ia tidak pernah merisaukan dirinya sendiri di hari esok, dan telah mengumpulkan segala yang menguntungkan dan berharga ke dalam pelukannya sendiri, tidak menyisakan apa pun bagi Tuhan kecuali remah-remah dan sisa-sisa makanan.[32] Betapa kejamnya umat manusia! Ia tidak meluangkan perasaan apa pun untuk Tuhan, dan setelah secara diam-diam melahap segalanya dari Tuhan, ia melemparkan Tuhan jauh di belakangnya, tidak lagi mengindahkan keberadaan-Nya. Ia mendapatkan kesenangan dari Tuhan, tetapi menentang Tuhan, dan menginjak-injak Dia di bawah kakinya, sementara di mulutnya ia bersyukur dan memuji Tuhan; ia berdoa kepada Tuhan, dan mengandalkan Tuhan, seraya menipu Tuhan; ia "mengagungkan" nama Tuhan, dan memandang wajah Tuhan, namun ia juga secara kurang ajar dan tanpa rasa malu duduk di atas takhta Tuhan dan menghakimi "ketidakbenaran" Tuhan; dari mulutnya muncul kata-kata bahwa ia berutang budi kepada Tuhan, dan ia memandang firman Tuhan, namun di dalam hatinya ia melemparkan caci-maki kepada Tuhan; ia "tenggang rasa" terhadap Tuhan namun menindas Tuhan, dan mulutnya mengatakan itu adalah demi Tuhan; di tangannya ia memegang perkara-perkara dari Tuhan, dan di mulutnya ia mengunyah makanan yang telah diberikan Tuhan kepadanya, namun matanya memancarkan tatapan dingin dan tanpa emosi kepada Tuhan, seolah ia ingin melahap-Nya sampai habis; ia melihat pada kebenaran tetapi bersikeras mengatakan bahwa itu adalah tipu daya Iblis; ia melihat pada keadilan tetapi memaksakannya menjadi penyangkalan diri; ia melihat perbuatan-perbuatan manusia, tetapi bersikeras bahwa itulah siapa Tuhan itu; ia melihat karunia alami manusia tetapi bersikeras bahwa itu adalah kebenaran; ia melihat perbuatan-perbuatan Tuhan tetapi bersikeras bahwa itu adalah keangkuhan dan kesombongan, gertakan dan sifat membenarkan diri sendiri; ketika manusia memandang Tuhan, ia bersikeras untuk menamai-Nya sebagai manusia, dan berupaya keras untuk menempatkan Dia di kursi makhluk ciptaan yang berkomplot dengan Iblis; ia tahu dengan baik bahwa itu adalah perkataan Tuhan, namun tidak akan menyebutnya lain daripada tulisan seorang manusia; ia tahu dengan baik bahwa Roh itu diwujudkan di dalam daging, Tuhan menjadi manusia, tetapi semata-mata mengatakan bahwa manusia ini adalah keturunan Iblis; ia tahu dengan baik bahwa Tuhan itu rendah hati dan tersembunyi, tetapi semata-mata mengatakan bahwa Iblis telah dipermalukan, dan Tuhan telah menang. Sungguh tidak berguna! Manusia bahkan tidak layak untuk melayani sebagai anjing penjaga! Dia tidak membedakan antara hitam dan putih, bahkan dengan sengaja memutarbalikkan hitam menjadi putih. Dapatkah kekuatan manusia dan kepungan manusia menahan hari pembebasan Tuhan? Setelah dengan sengaja menentang Tuhan, manusia sama sekali tidak peduli, bahkan melangkah lebih jauh untuk membunuh-Nya, tidak memberi Tuhan kesempatan untuk menunjukkan diri-Nya. Di manakah kebenaran? Di manakah kasih? Ia duduk di samping Tuhan, dan mendorong Tuhan ke lututnya untuk memohon pengampunan, untuk menaati semua pengaturannya, untuk menyetujui semua siasatnya tanpa membantah, dan ia membuat Tuhan meminta petunjuk darinya dalam segala yang dilakukannya, atau ia menjadi sangat marah[33] dan murka. Bagaimana mungkin Tuhan tidak dirundung duka di bawah pengaruh kegelapan seperti itu, yang memutarbalikkan hitam menjadi putih? Bagaimana mungkin Dia tidak khawatir? Mengapa dikatakan bahwa ketika Tuhan memulai pekerjaan terakhirnya, hal itu seperti fajar dari zaman baru? Perbuatan manusia begitu "kaya", "sumber air hidup yang terus mengalir" tanpa henti "mengisi kembali" hati manusia, sementara "mata air hidup" dari manusia bersaing melawan Tuhan tanpa keraguan.[34] Keduanya tidak dapat didamaikan, dan mata air itu mencukupi manusia menggantikan Tuhan tanpa mendapat hukumannya, sementara manusia bekerja sama dengannya tanpa mempertimbangkan bahaya yang ada di dalamnya. Apa akibatnya? Manusia dengan dingin mengesampingkan Tuhan, dan meletakkan-Nya di tempat yang jauh, di mana manusia tidak akan menghiraukan-Nya, sangat takut bahwa Dia akan menarik perhatian mereka, dan sangat takut bahwa sumber air hidup dari Tuhan akan memikat manusia, dan mendapatkan manusia. Dengan demikian, setelah bertahun-tahun mengalami perkara-perkara duniawi, ia berkomplot dan bersekongkol menentang Tuhan, bahkan menjadikan Tuhan sebagai sasaran dari kritikannya yang pedas. Seolah-olah Tuhan telah menjadi seperti balok di matanya, dan ia sangat ingin meraih Tuhan dan meletakkan-Nya di dalam api untuk dimurnikan dan ditahirkan. Melihat kegelisahan Tuhan, manusia memukul dadanya dan tertawa, ia menari kegirangan, dan mengatakan bahwa Tuhan juga telah diceburkan ke dalam pemurnian, dan mengatakan ia akan membakar sampai bersih ketidakmurnian yang sangat kotor dari Tuhan, seolah-olah hanya inilah yang rasional dan masuk akal, seolah-olah hanya inilah metode Surga yang adil dan masuk akal. Perilaku manusia yang sangat keras ini tampaknya disengaja dan tidak disadari. Manusia menyingkapkan wajahnya yang buruk dan jiwanya yang menyeramkan dan najis, serta rupa pengemis yang menyedihkan; setelah mengamuk di berbagai tempat, ia menunjukkan penampilan yang menyedihkan dan memohon pengampunan dari Surga, menyerupai seekor anjing yang sangat patut dikasihani. Manusia selalu bertindak dengan cara yang tidak terduga, ia selalu "mengendarai punggung harimau untuk menakut-nakuti orang lain,"[b] ia selalu berpura-pura, ia tidak memberikan sedikit pun perhatian pada hati Tuhan, juga tidak membuat perbandingan apa pun terhadap statusnya sendiri. Ia hanya menentang Tuhan secara diam-diam, seolah-olah Tuhan telah memperlakukan dirinya secara tidak adil, dan tidak seharusnya memperlakukannya seperti itu, seolah-olah Surga tidak memiliki mata dan dengan sengaja membuat segalanya menjadi sulit baginya. Demikianlah manusia selalu secara diam-diam membuat komplotan jahat, dan ia tidak mengendurkan tuntutannya terhadap Tuhan sedikit pun, melihat dengan mata pemangsa, menatap dengan marah setiap langkah Tuhan, tidak pernah berpikir bahwa ia adalah musuh Tuhan, dan berharap bahwa akan datang harinya ketika Tuhan menyibak kabut, membuat segalanya menjadi jelas, dan menyelamatkannya dari "mulut harimau" dan membalas dendam atas namanya. Bahkan sampai saat ini, manusia masih tidak mengira bahwa mereka sedang memainkan peran menentang Tuhan, yang telah dimainkan oleh banyak orang sepanjang zaman. Bagaimana mereka bisa mengetahui bahwa, dalam segala yang mereka lakukan, mereka telah lama tersesat, bahwa segala yang mereka pahami telah lama ditelan oleh lautan.

dari "Pekerjaan dan Jalan Masuk (9)"

dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

24. Bagi umat manusia, telah berkembang sejauh ini merupakan sebuah situasi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Pekerjaan Tuhan dan jalan masuk manusia maju secara berdampingan, dengan demikian pekerjaan Tuhan juga merupakan sebuah peristiwa besar yang tidak ada bandingannya. Jalan masuk manusia hingga saat ini adalah keajaiban yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya oleh manusia. Pekerjaan Tuhan telah mencapai puncaknya—dengan demikian, "jalan masuk" manusia[35] juga telah mencapai puncaknya. Tuhan telah merendahkan diri-Nya serendah mungkin, dan tidak pernah Dia memprotes umat manusia atau segala sesuatu di alam semesta. Sementara itu, manusia berdiri di atas kepala Tuhan, menindas Dia sampai pada puncaknya; semua telah mencapai puncaknya, tiba harinya ketika kebenaran muncul. Mengapa terus membiarkan kesuraman menutupi negeri, dan kegelapan menyelubungi seluruh bangsa? Tuhan telah mengamati selama beberapa ribu tahun—bahkan selama puluhan ribu tahun, dan toleransi-Nya telah sejak lama mencapai batasnya. Dia telah mengamati setiap gerakan umat manusia, Dia telah mengamati seberapa lama ketidakbenaran manusia menimbulkan kerusuhan, namun manusia, yang telah sejak lama mati rasa, tidak merasakan apa pun. Siapakah yang pernah mengamati perbuatan Tuhan? Siapakah yang pernah mengangkat mata mereka dan melihat ke kejauhan? Siapakah yang pernah mendengarkan dengan saksama? Siapakah yang pernah ada di tangan Yang Mahakuasa? Semua orang dilanda bayangan ketakutan.[36] Apa gunanya tumpukan sekam dan jerami? Satu-satunya hal yang bisa mereka lakukan adalah menyiksa Tuhan yang berinkarnasi yang hidup itu sampai mati. Meskipun mereka hanyalah setumpukan sekam dan jerami, masih ada satu hal yang mereka anggap "hal terbaik"[37] yang bisa mereka lakukan yaitu menyiksa Tuhan hidup-hidup sampai mati, kemudian berteriak bahwa "yang mereka lakukan itu menyenangkan hati manusia." Sungguh segerombolan manusia tidak berguna! Hebatnya, di tengah-tengah arus manusia yang tiada hentinya, mereka memusatkan perhatian mereka kepada Tuhan, mengepung-Nya dengan blokade yang tak dapat ditembus. Semangat mereka semakin membara,[38] mereka telah mengepung Tuhan secara bergerombol, sehingga Dia tidak bisa bergerak sedikit pun. Di tangannya, mereka memegang segala macam senjata, dan memandang Tuhan seolah melihat musuh, mata mereka penuh amarah; mereka sangat ingin segera "mencabik-cabik Tuhan." Sungguh membingungkan: Mengapa manusia dan Tuhan menjadi musuh yang tak dapat didamaikan kembali? Mungkinkah ada dendam di antara Tuhan yang sangat indah itu dan manusia? Mungkinkah tindakan Tuhan tidak ada manfaatnya bagi manusia? Apakah tindakan Tuhan menyakiti manusia? Manusia tanpa goyah menatap tajam Tuhan, sangat takut bahwa Dia akan menerobos blokade manusia, kembali ke tingkat yang ketiga dari surga, dan sekali lagi melemparkan manusia ke ruang gelap bawah tanah. Manusia bersikap waspada terhadap Tuhan, ia gelisah, dan menggeliat di tanah di kejauhan, memegang "senapan mesin" yang diarahkan kepada Tuhan di antara manusia. Seolah-olah, jika Tuhan bergerak sedikit saja, manusia akan melenyapkan segala sesuatu pada diri-Nya—seluruh tubuh-Nya dan segala yang dikenakan-Nya—tidak menyisakan apa pun. Hubungan antara Tuhan dan manusia tidak dapat diperbaiki. Tuhan tidak terpahami oleh manusia; sementara itu, manusia dengan sengaja menutup matanya dan bersikap bodoh, sama sekali tidak mau melihat keberadaan-Ku, dan bersikap keras hati terhadap penghakiman-Ku. Jadi, ketika manusia tidak menduganya, Aku diam-diam melayang jauh, dan tidak lagi Aku akan membandingkan siapa yang tinggi dan siapa yang rendah dengan manusia. Manusia adalah "hewan" yang paling rendah dari semuanya dan Aku tidak ingin lagi memperhatikannya. Aku telah lama mengambil kembali seluruh kasih karunia-Ku ke tempat di mana Aku tinggal dengan damai; karena manusia sangat tidak taat, alasan apakah yang dimilikinya untuk menikmati lagi kasih karunia-Ku yang berharga? Aku tidak rela menganugerahkan kasih karunia-Ku secara sia-sia kepada kekuatan-kekuatan yang memusuhi-Ku. Aku akan menganugerahkan buah-buah-Ku yang berharga kepada para petani Kanaan yang penuh semangat, dan dengan sungguh-sungguh menyambut kedatangan-Ku kembali. Aku hanya berharap agar langit kekal untuk selama-lamanya, dan lebih daripada itu, agar manusia tidak pernah menjadi tua, agar langit dan manusia akan mengalami perhentian untuk selamanya, dan pohon-pohon "pinus dan cemara" abadi untuk selamanya menemani Tuhan, dan untuk selamanya menemani langit dalam memasuki zaman yang ideal secara bersama-sama.

dari "Pekerjaan dan Jalan Masuk (10)"

dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

25. Meskipun pekerjaan Tuhan kaya dan berlimpah, jalan masuk manusia sangat kurang. Mengenai "usaha" bersama antara manusia dan Tuhan, hampir semua dari hal itu merupakan pekerjaan Tuhan; sedangkan mengenai sejauh mana manusia telah masuk, ia nyaris tidak memiliki apa pun untuk diperlihatkan. Manusia, yang begitu miskin dan buta, bahkan mengukur kekuatannya terhadap Tuhan zaman sekarang dengan "senjata-senjata kuno" di tangannya. "Kera-kera primitif" ini nyaris tidak bisa berjalan tegak, dan tidak merasa malu dengan tubuh "telanjang" mereka. Apa yang membuat mereka berhak untuk mengevaluasi pekerjaan Tuhan? Mata dari banyak kera berkaki empat ini menjadi penuh dengan kemarahan, dan mereka mengadu diri mereka melawan Tuhan dengan senjata batu kuno di tangan mereka, mencoba untuk memulai pertarungan manusia kera yang belum pernah dilihat oleh dunia sebelumnya, untuk mengadakan pertarungan akhir zaman antara manusia kera melawan Tuhan yang akan menjadi terkenal di seluruh negeri. Terlebih lagi, banyak dari manusia kera kuno yang setengah tegak ini terlalu puas akan diri sendiri. Wajah mereka tertutup oleh rambut yang kusut, mereka penuh dengan niat membunuh dan mengangkat kaki depan mereka. Mereka belum sepenuhnya berkembang menjadi manusia modern, jadi terkadang mereka berdiri tegak, dan terkadang mereka merangkak, butiran-butiran keringat menutupi dahi mereka laksana tetesan embun yang sangat padat, keinginan mereka jelas, tak perlu dibuktikan lagi. Melihat manusia kera purba yang masih asli itu, rekan mereka, berdiri dengan keempat kakinya, keempat anggota badannya besar dan lambat, nyaris tak bisa menangkis pukulan dan tanpa kekuatan untuk berbalik melawan, mereka nyaris tidak dapat mengendalikan diri. Dalam sekejap mata—sebelum ada kesempatan untuk melihat apa yang terjadi—"pahlawan" di dalam arena itu roboh ke tanah, kaki-kakinya di udara. Kaki-kaki itu, yang secara salah tertanam di atas tanah selama bertahun-tahun, mendadak terbalik, dan manusia kera itu tidak lagi memiliki keinginan untuk melawan. Mulai saat ini dan seterusnya, manusia kera purba yang paling tua itu dilenyapkan dari muka bumi—hal yang benar-benar "menyedihkan." Manusia kera purba ini lenyap seketika. Mengapa manusia purba itu harus begitu cepat pergi dari dunia manusia yang luar biasa? Mengapa ia tidak membahas langkah strategi selanjutnya dengan para sahabatnya? Alangkah sayangnya ia mengucapkan selamat tinggal kepada dunia tanpa meninggalkan rahasia mengukur kekuatan manusia terhadap Tuhan! Sungguh tak punya pengertian bagi manusia kera purba seperti itu untuk mati tanpa membisikkan apa pun, pergi tanpa mewariskan "budaya dan seni kuno" pada keturunannya. Tidak ada waktu baginya untuk memanggil mereka yang paling dekat dengannya ke sisinya untuk memberi tahu mereka tentang cintanya, manusia kera purba itu tidak meninggalkan pesan apa pun di atas lempengan batu, ia tidak melihat matahari surga, dan tidak mengucapkan apa pun mengenai kesulitannya yang tak terkatakan. Ketika menghembuskan napasnya yang terakhir, ia tidak memanggil anak cucunya ke sisi tubuhnya yang sedang sekarat untuk memberi tahu mereka agar "tidak naik ke dalam arena untuk menantang Tuhan" sebelum ia menutup matanya, keempat kakinya yang kaku terus menjulur ke atas seperti ranting pohon yang menunjuk ke angkasa. Sepertinya kematiannya adalah kematian yang pahit … Tiba-tiba, terdengar ledakan tawa yang menggelegar dari bawah arena; salah satu manusia kera setengah tegak berdiri di sampingnya; memegang "gada batu" untuk berburu rusa atau mangsa buas lainnya yang lebih maju daripada milik manusia kera purba itu, ia melompat ke dalam arena, penuh dengan amarah, rencana yang telah dipikirkan matang-matang ada dalam pikirannya.[39] Seolah-olah ia telah melakukan sesuatu yang patut dipuji. Menggunakan "kekuatan" gada batu itu, ia berhasil berdiri tegak selama "tiga menit." Betapa hebatnya "kekuatan" dari "kaki" ketiga ini! Kaki itu menahan tubuh manusia kera besar setengah tegak yang kaku dan bodoh itu untuk berdiri tegak selama "tiga menit"—tidak mengherankan manusia kera purba yang patut disegani[40] ini begitu mendominasi. Benar saja, perkakas batu kuno itu "sesuai dengan reputasinya": Ada pegangan pisau, mata pisau, dan ujungnya, satu-satunya kekurangan adalah tidak adanya kilauan di mata pisau—betapa menyedihkannya hal itu. Lihatlah lagi "pahlawan kecil" zaman kuno, berdiri memandang mereka yang ada di bawahnya dengan tatapan menghina, seolah-olah mereka adalah bawahan yang tak berdaya, dan ia adalah pahlawan yang gagah berani. Dalam hatinya, ia diam-diam membenci mereka yang ada di depan arena. "Negara sedang dalam kesulitan dan kita masing-masing bertanggung jawab, mengapa engkau menghindar? Mungkinkah engkau mengetahui negara menghadapi bencana, tetapi tidak mau terlibat dalam pertempuran berdarah? Negara ini berada di ambang malapetaka—mengapa engkau tidak menjadi yang pertama menunjukkan kepedulian, dan yang terakhir bersenang-senang? Bagaimana engkau bisa tahan menyaksikan negara runtuh dan rakyatnya jatuh ke dalam kebusukan? Apakah engkau bersedia menanggung malu ditaklukkan sebagai bangsa? Sungguh gerombolan yang tidak berguna!" Ketika ia berpikir seperti ini, perkelahian pun terjadi di depan arena dan matanya menjadi semakin pekat, seolah-olah hendak menyemburkan[41] lidah api. Ia sangat ingin membuat Tuhan kalah sebelum bertempur, sangat berharap untuk membunuh Tuhan agar membuat manusia bahagia. Ia nyaris tidak mengetahui bahwa, meskipun perkakas batunya mungkin pantas untuk dikenal, itu tidak pernah dapat menangkis Tuhan. Sebelum ia sempat membela diri, sebelum ia sempat berbaring dan berdiri, ia bergoyang ke depan dan ke belakang, kedua pandangan matanya hilang. Ia ambruk menimpa leluhurnya yang sudah tua dan tidak bangkit lagi; memeluk erat kera purba itu, ia tidak lagi berteriak, dan menyadari betapa rendah dirinya, tidak lagi memiliki keinginan untuk melawan. Kedua manusia kera yang malang itu mati di depan arena itu. Sungguh patut disayangkan bahwa nenek moyang manusia itu, yang telah bertahan hidup sampai saat itu, mati dalam kebodohan pada hari ketika Matahari kebenaran muncul! Betapa bodohnya bahwa mereka telah membiarkan berkat yang begitu besar melewati mereka—bahwa, pada hari berkat mereka, manusia kera yang telah menunggu selama ribuan tahun telah membawa berkat itu ke dunia orang mati untuk "menikmati" nya bersama si raja Iblis! Mengapa tidak menyimpan berkat-berkat itu di dunia orang hidup untuk dinikmati bersama putra dan putri mereka? Mereka hanya mencari-cari masalah! Betapa sia-sianya bahwa, demi sedikit status, reputasi, dan kesombongan, mereka menderita kemalangan karena dibantai, berebut menjadi yang pertama kali membuka gerbang neraka dan menjadi anak-anaknya. Pengorbanan semacam itu sangat tidak perlu. Sungguh sayang bahwa leluhur yang sangat tua itu, yang begitu "penuh dengan semangat kebangsaan", bisa sangat "ketat pada diri mereka sendiri tetapi sangat tenggang rasa terhadap orang lain," mengurung diri mereka sendiri di neraka, dan membiarkan bawahan-bawahan yang tidak berdaya di luar. Di manakah "para utusan bangsa" seperti ini bisa ditemukan? Demi "kesejahteraan keturunan mereka" dan "kehidupan yang damai dari generasi masa depan," mereka tidak memperkenankan Tuhan untuk ikut campur, karena itu mereka tidak memperhatikan kehidupan mereka sendiri. Tanpa batasan, mereka mengabdikan diri mereka sendiri pada "tujuan bangsa," memasuki dunia orang mati tanpa sepatah kata pun. Di manakah nasionalisme seperti itu dapat ditemukan? Bertempur melawan Tuhan, mereka tidak takut mati, tidak takut pertumpahan darah, apalagi khawatir tentang hari esok. Mereka semata-mata turun ke medan perang. Sungguh disayangkan bahwa satu-satunya hal yang mereka dapatkan dari "semangat pengabdian" mereka adalah penyesalan yang kekal, dan dikuasai oleh api neraka yang terus membara!

Sungguh menarik! Mengapa inkarnasi Tuhan selalu ditolak dan dicerca oleh manusia? Mengapa manusia tidak pernah memahami inkarnasi Tuhan? Mungkinkah Tuhan telah datang pada waktu yang salah? Mungkinkah Tuhan telah datang ke tempat yang salah? Mungkinkah hal ini terjadi karena Tuhan telah bertindak sendiri, tanpa "tanda tangan" manusia? Mungkinkah hal ini karena Tuhan membuat keputusan-Nya sendiri tanpa izin manusia? Kenyataan menunjukkan bahwa Tuhan sudah memberitahukan terlebih dahulu. Tuhan tidak melakukan kesalahan dalam hal menjadi manusia—apakah Dia harus meminta persetujuan manusia? Lagi pula, Tuhan sudah mengingatkan manusia sejak lama, mungkin manusia sudah lupa. Mereka tidak seharusnya disalahkan, karena manusia telah lama dirusak oleh Iblis sehingga ia tidak dapat memahami apa pun yang terjadi di bawah langit, apalagi peristiwa-peristiwa di dunia roh! Sungguh memalukan bahwa leluhur manusia, para manusia kera, mati di dalam arena, tetapi ini tidak mengherankan: Langit dan bumi tidak pernah selaras, bagaimana mungkin manusia kera, yang pikirannya terbuat dari batu, memahami bahwa Tuhan dapat menjadi manusia lagi? Sungguh menyedihkan bahwa manusia tua seperti ini yang berada di "usianya yang ke-60" mati pada hari penampakan Tuhan, meninggalkan dunia ini tanpa berkat di tengah kedatangan berkat yang begitu besar—tidakkah itu mengherankan?

dari "Pekerjaan dan Jalan Masuk (10)"

dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

26. Inkarnasi Tuhan telah menimbulkan gejolak yang mengejutkan melalui semua agama dan sektor, hal itu telah "mengacaubalaukan" tatanan semula dari lingkup agamawi, dan telah mengguncang hati semua orang yang merindukan penampakan Tuhan. Siapakah yang tidak memuja-Nya? Siapakah yang tidak rindu melihat Tuhan? Tuhan secara pribadi telah berada di antara manusia selama bertahun-tahun, namun manusia tidak pernah menyadarinya. Hari ini, Tuhan sendiri telah menampakkan diri, dan menunjukkan identitas-Nya kepada orang banyak—bagaimana mungkin hal ini tidak membawa kesenangan pada hati manusia? Tuhan pernah berbagi suka dan duka dengan manusia, dan sekarang ini Dia telah bersatu kembali dengan umat manusia, dan berbagi kisah tentang masa-masa yang telah lewat bersamanya. Setelah Dia berjalan keluar dari Yudea, manusia tidak dapat menemukan jejak-Nya. Mereka rindu untuk sekali lagi bertemu dengan Tuhan, nyaris tidak mengetahui bahwa saat ini mereka telah bertemu lagi dengan-Nya, dan telah bersatu kembali dengan-Nya. Bagaimana mungkin hal ini tidak membangkitkan pikiran tentang masa yang telah lewat? Hari ini dua ribu tahun yang lalu, Simon bin Yunus, keturunan orang Yahudi, melihat Yesus Sang Juruselamat, ia makan di meja yang sama dengan-Nya, dan setelah mengikuti-Nya selama bertahun-tahun merasakan kasih sayang yang lebih dalam bagi-Nya: Simon mengasihi-Nya dari lubuk hatinya, ia sangat mengasihi Tuhan Yesus. Bangsa Yahudi tidak mengetahui apa pun tentang betapa bayi berambut emas ini, yang lahir di palungan yang dingin, adalah gambar pertama dari inkarnasi Tuhan. Mereka semua mengira bahwa Dia sama dengan mereka, tidak seorang pun menganggap-Nya berbeda—bagaimana mungkin manusia mengenali Yesus yang normal dan biasa ini? Orang Yahudi menganggap-Nya sebagai anak Yahudi dari zaman itu. Tidak ada yang memandang-Nya sebagai Tuhan yang indah, dan manusia tidak melakukan apa pun selain secara membabi buta mengajukan tuntutan terhadap-Nya, meminta agar Dia memberi kepada mereka kasih karunia yang kaya dan berlimpah, kedamaian, dan sukacita. Mereka hanya tahu bahwa, seperti seorang miliuner, Dia memiliki apa saja yang mungkin diinginkan orang. Tetapi manusia tidak pernah memperlakukan Dia sebagai seorang yang terkasih; manusia pada waktu itu tidak mengasihi-Nya, hanya memprotes-Nya, dan mengajukan tuntutan-tuntutan yang tak masuk akal kepada-Nya, dan Dia tidak pernah melawan, terus-menerus memberikan kasih karunia kepada manusia, meskipun manusia tidak mengenal-Nya. Dia tidak melakukan apa pun kecuali secara diam-diam memberikan kehangatan, kasih, dan belas kasihan, bahkan terlebih lagi, Dia memberi kepada manusia cara-cara penerapan yang baru, memimpin manusia keluar dari ikatan hukum Taurat. Manusia tidak mengasihi-Nya, ia semata-mata iri kepada-Nya dan mengenali talenta-talenta-Nya yang luar biasa. Bagaimana mungkin umat manusia yang buta mengetahui betapa besar penghinaan yang diderita oleh Yesus Juruselamat yang indah ketika Dia datang di antara umat manusia? Tidak seorang pun mempertimbangkan kesusahan-Nya, tidak seorang pun mengetahui tentang kasih-Nya kepada Bapa, dan tidak seorang pun bisa mengetahui kesepian-Nya. Meskipun Maria adalah ibu yang melahirkan-Nya, bagaimana mungkin ia mengetahui pikiran-pikiran di dalam hati Tuhan Yesus yang penyayang? Siapakah yang mengetahui penderitaan tak terkatakan yang ditanggung Anak Manusia? Setelah mengajukan permintaan-permintaan kepada-Nya, manusia pada zaman itu dengan sikap dingin menempatkan Dia di bagian belakang dari pikiran mereka, dan membuang-Nya ke luar. Jadi Dia mengembara di jalan-jalan, hari demi hari, tahun demi tahun, berkelana selama bertahun-tahun hingga Dia hidup selama tiga puluh tiga tahun yang sulit, tahun-tahun yang panjang dan sekaligus singkat. Ketika manusia membutuhkan-Nya, mereka mengundang-Nya ke dalam rumah mereka dengan wajah penuh senyuman, mencoba untuk mengajukan tuntutan kepada-Nya—dan setelah Dia memberikan sumbangsih-Nya kepada mereka, mereka segera mendorong-Nya ke luar dari pintu. Manusia memakan apa yang disediakan dari mulut-Nya, mereka meminum darah-Nya, mereka menikmati kasih karunia yang dilimpahkan-Nya kepada mereka, namun mereka juga menentang Dia, karena mereka tidak pernah mengetahui siapa yang telah memberi mereka kehidupan. Pada akhirnya, mereka memakukan-Nya di atas kayu salib, namun tetap saja Dia tidak bersuara. Bahkan hingga saat ini, Dia tetap bungkam. Manusia memakan daging-Nya, mereka memakan makanan yang dibuat-Nya bagi mereka, mereka menempuh jalan yang telah dibukakan-Nya bagi mereka, dan mereka minum darah-Nya, namun mereka tetap berniat untuk menolak-Nya, mereka sesungguhnya memperlakukan Tuhan yang telah memberi mereka kehidupan sebagai musuh, dan sebaliknya memperlakukan orang-orang yang adalah budak sama seperti mereka sebagai Bapa Surgawi. Dalam hal ini, bukankah mereka dengan sengaja menentang Dia? Bagaimana Yesus mati di kayu salib? Apakah engkau tahu? Bukankah Dia dikhianati oleh Yudas, yang paling dekat dengan-Nya dan yang telah memakan-Nya, meminum-Nya, dan menikmati-Nya? Bukankah alasan pengkhianatan Yudas adalah karena Yesus tidaklah lebih dari seorang guru biasa yang tidak penting? Jika manusia benar-benar memahami bahwa Yesus itu luar biasa, dan Pribadi yang berasal dari surga, bagaimana mungkin mereka memakukan-Nya hidup-hidup di kayu salib selama dua puluh empat jam, hingga tidak ada napas yang tersisa di dalam tubuh-Nya? Siapakah yang bisa mengenal Tuhan? Manusia tidak melakukan apa pun selain menikmati Tuhan dengan keserakahan yang tak terpuaskan, tetapi mereka tidak pernah mengenal Dia. Mereka diberi sedikit tetapi telah mengambil sangat banyak, dan mereka membuat Yesus sepenuhnya taat pada perintah mereka, kepada instruksi mereka. Siapakah yang pernah menunjukkan jalan belas kasih terhadap Anak Manusia ini, yang tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepala-Nya? Siapakah yang pernah berpikir untuk menggabungkan kekuatan dengan-Nya demi menggenapi perintah Bapa? Siapakah yang pernah memikirkan diri-Nya? Siapakah yang pernah bertenggang rasa terhadap kesulitan-kesulitan-Nya? Tanpa kasih sedikit pun, manusia menghempaskan Dia ke depan dan ke belakang. Manusia tidak tahu dari mana asalnya terang dan kehidupannya, dan tidak melakukan apa pun kecuali secara diam-diam merencanakan untuk bagaimana sekali lagi menyalibkan Yesus dari dua ribu tahun yang lalu, yang telah mengalami penderitaan di antara manusia. Apakah Yesus benar-benar membangkitkan kebencian semacam itu? Apakah segala sesuatu yang dilakukan-Nya telah lama dilupakan? Kebencian selama ribuan tahun yang melebur menjadi satu akhirnya tersembur keluar. Engkau semua, yang serumpun dengan orang Yahudi! Kapankah Yesus pernah memusuhimu, sehingga engkau harus begitu membenci-Nya? Dia telah berbuat begitu banyak, dan berbicara begitu banyak—bukankah itu demi kebaikanmu? Dia telah menyerahkan nyawa-Nya bagimu tanpa meminta imbalan apa pun, Dia telah memberikan kepadamu seluruh diri-Nya—apakah engkau benar-benar masih ingin memakan-Nya hidup-hidup? Dia telah memberikan seluruh diri-Nya kepadamu tanpa menahan apa pun, tanpa pernah menikmati kemuliaan duniawi, kehangatan di antara manusia, kasih di antara manusia, atau semua berkat di antara manusia. Manusia sangat jahat kepada-Nya, Dia tidak pernah menikmati semua kekayaan di bumi, Dia mengabdikan seluruh hati-Nya yang tulus dan penuh gairah kepada manusia, Dia telah mengabdikan seluruh diri-Nya kepada umat manusia—tapi siapakah yang pernah memberi Dia kehangatan? Siapakah yang pernah memberi Dia kenyamanan? Manusia telah memberikan tekanan yang sangat besar kepada-Nya, ia telah memberikan semua kemalangan kepada-Nya, ia telah memaksakan pengalaman yang paling nahas di antara manusia bagi-Nya, ia menyalahkan Dia atas semua ketidakadilan, dan Dia menerimanya tanpa sepatah kata pun. Pernahkah Dia memprotes siapa pun? Pernahkah Dia meminta sedikit balasan dari siapa pun? Siapakah yang pernah menunjukkan simpati kepada-Nya? Sebagai manusia normal, siapakah dari antaramu yang tidak memiliki masa kecil yang romantis? Siapakah yang tidak memiliki masa muda yang penuh warna? Siapakah yang tidak memiliki kehangatan dari orang-orang terkasih? Siapakah yang tanpa kasih dari kerabat dan teman? Siapakah yang tidak mendapatkan rasa hormat dari orang lain? Siapakah yang tanpa keluarga yang penuh kehangatan? Siapakah yang tidak mendapatkan kenyamanan dari orang kepercayaan mereka? Lalu apakah Dia pernah menikmati semua ini? Siapakah yang pernah memberi-Nya sedikit kehangatan? Siapakah yang pernah memberi-Nya sedikit kenyamanan? Siapakah yang pernah menunjukkan sedikit moralitas manusia kepada-Nya? Siapakah yang pernah bertenggang rasa terhadap-Nya? Siapakah yang pernah bersama-Nya selama masa-masa yang sulit? Siapakah yang pernah melewati kehidupan yang sulit bersama-Nya? Manusia tidak pernah mengendurkan tuntutan mereka kepada-Nya; ia semata-mata mengajukan tuntutan kepada-Nya tanpa keraguan, seolah-olah, setelah datang ke dunia manusia, Dia harus menjadi lembu atau kudanya manusia, tawanan manusia, dan harus memberikan seluruh diri-Nya kepada manusia; jika tidak, manusia tidak akan pernah mengampuni-Nya, tidak akan bersikap lemah lembut kepada-Nya, tidak akan pernah menyebut-Nya Tuhan, dan tidak akan pernah memberikan penghargaan yang tinggi kepada-Nya. Manusia terlalu keras dalam sikapnya terhadap Tuhan, seolah-olah ia berniat menyiksa Tuhan sampai mati, baru setelah itu ia akan mengendurkan tuntutannya kepada Tuhan; jika tidak, manusia tidak akan pernah menurunkan standar tuntutannya kepada Tuhan. Bagaimana mungkin manusia seperti ini tidak dibenci oleh Tuhan? Bukankah itu tragedi pada zaman sekarang? Hati nurani manusia tak tampak di mana pun. Ia terus mengatakan bahwa ia akan membalas kasih Tuhan, tetapi ia "membedah" Tuhan dan menyiksa-Nya hingga mati. Bukankah ini adalah "resep rahasia" imannya kepada Tuhan, yang diwariskan dari leluhurnya? Tidak ada tempat di mana "orang Yahudi" tidak ditemukan, dan pada masa kini mereka masih berbuat hal yang sama, mereka masih melakukan pekerjaan yang sama menentang Tuhan, namun yakin bahwa mereka sangat meninggikan Tuhan. Bagaimana mungkin mata manusia sendiri mengenal Tuhan? Bagaimana mungkin manusia, yang hidup dalam daging, memperlakukan Tuhan yang berinkarnasi dan berasal dari Roh sebagai Tuhan? Siapakah di antara manusia yang bisa mengenal Dia? Di manakah kebenaran di antara manusia? Di manakah kebenaran yang sejati? Siapakah yang bisa mengetahui watak Tuhan? Siapakah yang mampu bersaing dengan Tuhan yang di surga? Tidak mengherankan bahwa, ketika Dia datang di antara manusia, tidak ada yang mengenal Tuhan, dan Dia ditolak. Bagaimana manusia dapat menerima keberadaan Tuhan? Bagaimana ia bisa membiarkan terang mengusir kegelapan dunia? Bukankah ini semua adalah tentang pengabdian manusia yang terhormat? Bukankah ini adalah jalan masuk manusia yang lurus? Tidakkah pekerjaan Tuhan terpusat di sekitar jalan masuk manusia? Aku ingin agar engkau menyatukan pekerjaan Tuhan dengan jalan masuk manusia, dan membangun hubungan yang baik antara manusia dan Tuhan, serta melakukan tugas yang seharusnya dilakukan oleh manusia dengan sebaik-baiknya. Dengan cara ini, pekerjaan Tuhan kemudian akan selesai, diakhiri dengan pemuliaan diri-Nya!

dari "Pekerjaan dan Jalan Masuk (10)"

dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

Catatan kaki:

1. "Membentuk manusia" artinya "menyelamatkan manusia."

2. "Tetap ngotot" digunakan sebagai olok-olokan. Frase ini menunjukkan bahwa orang keras kepala dan bersikeras, memegang teguh hal yang ketinggalan zaman dan tidak mau melepaskannya.

3. "Mengubah sikap mereka di masa lalu" mengacu pada bagaimana konsep dan pandangan manusia tentang Tuhan berubah setelah mereka mengenal Tuhan.

4. "Tenang-tenang saja" menunjukkan bahwa manusia tidak peduli dengan pekerjaan Tuhan dan tidak menganggapnya penting.

5. "Kurang tegas" mengindikasikan bahwa manusia tidak memiliki wawasan yang jelas tentang pekerjaan Tuhan.

6. "Tidak dapat diubah" dimaksudkan sebagai sindiran di sini, yang artinya manusia itu kaku dalam pengetahuan, budaya dan pandangan spiritual mereka.

7. "Tidak dihukum dan berkeliaran dengan bebas" mengindikasikan bahwa Iblis lepas kendali dan mengamuk.

8. "Keadaan kacau dan compang-camping" merujuk kepada bagaimana sikap jahat Iblis tidak tertahankan untuk dilihat.

9. "Memar dan luka" merujuk kepada wajah buruk raja Iblis.

10. "Pertaruhan yang sulit" adalah metafora bagi rencana Iblis yang berbahaya, jahat. Digunakan untuk mengejek.

11. "Memakan" merujuk kepada sikap kejam raja Iblis yang menjarah manusia seluruhnya.

12. "Kaki-tangan" setingkat dengan "segerombolan penjahat".

13. "Menyebabkan kekacauan" merujuk pada bagaimana manusia yang dikuasai Iblis membuat kekacauan, menghancurkan dan melawan pekerjaan Tuhan.

14. "Ikan paus bergigi" digunakan untuk mengejek. Ini adalah metafora di mana lalat begitu kecil sehingga babi dan anjing tampak sebesar paus bagi mereka.

15. "Pemimpin utama dari seluruh Iblis" merujuk kepada si iblis tua. Frasa ini menunjukkan ketidaksukaan yang amat sangat.

16. "Membuat tuduhan tak berdasar" merujuk kepada metode yang digunakan Iblis untuk menyakiti manusia.

17. "Dijaga ketat" mengindikasikan bahwa metode yang digunakan Iblis untuk menyakiti manusia terutama kejam dan sangat mengendalikan manusia sehingga mereka tidak memiliki ruang untuk bergerak.

18. "Jauh" digunakan sebagai ejekan.

19. "Bimbingan yang teratur dan lembut" digunakan sebagai ejekan.

20. "Disayang" digunakan untuk mengejek orang yang seperti kayu dan tidak punya kesadaran diri.

21. "Menderita kecelakaan demi kecelakaan" mengindikasikan bahwa manusia dilahirkan di tanah si naga merah yang sangat besar dan mereka tidak mampu mengangkat kepala mereka tinggi-tinggi.

22. "Memberikan seluruh hidupmu" dimaksudkan dalam artian merendahkan.

23. "Kerusakan" digunakan untuk menyingkapkan ketidaktaatan umat manusia.

24. "Disambut dengan alis yang mengancam dan perlawanan yang dingin dari seribu jari yang bergoyang-goyang, dengan kepala tertunduk, melayani manusia seperti sapi yang menurut" pada mulanya adalah kalimat tunggal, tetapi di sini dibagi menjadi dua untuk membuatnya menjadi lebih jelas. Kalimat pertama menunjukkan tindakan manusia, sementara yang kedua menunjukkan penderitaan yang dialami oleh Tuhan, dan bahwa Tuhan itu rendah hati dan tersembunyi.

25. "Prasangka" menunjukkan perilaku manusia yang tidak taat.

26. "Merebut kekuasaan mutlak" menunjukkan perilaku manusia yang tidak taat. Mereka meninggikan diri, membelenggu orang lain, membuatnya mengikuti mereka dan menderita bagi mereka. Mereka adalah kekuatan yang memusuhi Tuhan.

27. "Boneka" digunakan untuk mengolok-olok mereka yang tidak mengenal Tuhan.

28. "Semakin bertambah dengan cepat" digunakan untuk menyoroti perilaku yang hina dari manusia.

29. "Tidak bisa membedakan dua hal ini" menunjukkan ketika manusia memutarbalikkan kehendak Tuhan menjadi sesuatu yang jahat, secara umum menunjukkan perilaku manusia yang menentang Tuhan.

30. "Mengacaukan antara hitam dengan putih" mengacu pada mencampurkan kebenaran dengan ilusi, dan kebenaran dengan kejahatan.

31. "Bandit" digunakan untuk menunjukkan bahwa manusia tidak memiliki akal sehat dan kurang wawasan.

32. "Remah-remah dan sisa-sisa makanan" digunakan untuk menunjukkan perilaku manusia yang menindas Tuhan.

33. "Marah" menunjukkan wajah buruk manusia yang berang dan gusar.

34. "Tanpa keraguan" menunjukkan saat manusia gegabah, dan tidak memiliki penghormatan sedikit pun terhadap Tuhan.

35. "'Jalan masuk' manusia" di sini menunjukkan perilaku manusia yang tidak taat. Bukannya menunjukkan masuknya manusia ke dalam kehidupan—yang bersifat positif—hal ini menunjukkan perilaku dan tindakan negatif mereka. Hal ini secara luas menunjukkan semua perbuatan manusia yang bertentangan dengan Tuhan.

36. "Dilanda bayangan ketakutan" digunakan untuk mencemooh kehidupan umat manusia yang salah arah. Hal ini menunjukkan keadaan kehidupan umat manusia yang buruk, di mana manusia hidup bersama dengan Iblis.

37. "Hal terbaik" diucapkan secara mengejek.

38. "Semangat mereka semakin membara" diucapkan secara mengejek, dan ini menunjukkan keadaan manusia yang buruk.

39. "Rencana yang telah dipikirkan matang-matang ada dalam pikirannya" dikatakan secara mengejek, dan hal ini menunjukkan betapa manusia tidak mengenal diri mereka sendiri dan tidak mengetahui tingkat pertumbuhan mereka yang sebenarnya. Ini adalah pernyataan yang merendahkan.

40. "Yang patut disegani" diucapkan secara mengejek.

41. "Menyemburkan" menunjukkan keadaan manusia yang buruk dan meluap kemarahannya ketika mereka dikalahkan oleh Tuhan. Hal ini menunjukkan sejauh mana perlawanan mereka terhadap Tuhan.

a. Dalam naskah aslinya tertulis "sebagian bahkan berseru".

b. Ini adalah idiom Tiongkok.

Sebelumnya:Semua Orang yang Tidak Mengenal Tuhan adalah Orang-Orang yang Menentang Tuhan

Selanjutnya:Antologi dari Tiga Bagian Firman Tuhan tentang "Visi Pekerjaan Tuhan"

media terkait