Aplikasi Seluler mengenai Gereja Tuhan Yang Mahakuasa

Mendengarkan suara Tuhan dan menyambut kedatangan Tuhan Yesus kembali!

Kami persilakan semua pencari kebenaran untuk menghubungi kami.

Kesaksian bagi Kristus di Akhir Zaman

Warna yang Kuat

Tema

Font

Ukuran Font

Spasi Baris

Lebar laman

% Hasil Pencarian

Hasil tidak ditemukan

Pertanyaan 31: Engkau bersaksi bahwa firman yang dinyatakan oleh Tuhan Yang Mahakuasa di dalam Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia adalah perkataan dari mulut Tuhan sendiri, tetapi kami percaya bahwa itu adalah perkataan seseorang yang telah dicerahkan oleh Roh Kudus. Oleh karena itu, apa yang ingin kuketahui adalah, apa sebenarnya perbedaan antara perkataan yang dinyatakan oleh Tuhan yang berinkarnasi dan perkataan yang diucapkan oleh orang yang telah dicerahkan oleh Roh Kudus?

Jawaban:

Semua yang diungkapkan Tuhan Yang Mahakuasa adalah kebenaran, dan Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia sebenarnya adalah perkataan Tuhan Yang Mahakuasa, yang merupakan kedatangan Tuhan Yesus yang kedua. Semua yang memiliki hati dan roh dengan sepenuh hati akan menerimanya setelah melihat firman-Nya, mengakui bahwa itu adalah suara Tuhan, dan sujud di hadapan Tuhan. Namun, masih ada sebagian orang yang percaya bahwa firman yang diungkapkan oleh Tuhan Yang Mahakuasa pada akhir zaman hanyalah perkataan yang ditulis oleh seorang manusia yang diilhami oleh Roh Kudus, dan mereka tidak percaya bahwa itu adalah firman Tuhan yang sebenarnya. Ini menunjukkan bahwa kepercayaan kita kepada Tuhan belum tentu berarti mengenal Tuhan, bahwa kita tidak dapat membedakan firman Tuhan dan perkataan manusia, dan bahwa kita juga tidak dapat membedakan dengan jelas perkataan yang sesuai dengan kebenaran dan kebenaran yang sesungguhnya. Sebenarnya, ada perbedaan yang sangat jelas antara perkataan yang sesuai dengan kebenaran dan kebenaran yang sesungguhnya. Firman Tuhan adalah kebenaran dan tidak ada yang bisa menyangkal hal itu, tetapi perkataan manusia, sebagus-bagusnya, hanya sesuai dengan kebenaran. Jika orang membandingkan perkataan manusia yang sesuai dengan kebenaran dan firman Tuhan, apakah benar-benar tidak akan ada perbedaan? Apakah orang benar-benar tidak dapat melihat perbedaannya? Dapatkah orang dikatakan memiliki kebenaran jika mereka telah mengalami firman Tuhan dan memiliki pengetahuan akan firman-Nya? Jika seseorang mengucapkan perkataan yang sesuai dengan kebenaran, apakah itu berarti dia mengungkapkan kebenaran? Orang-orang suci di masa lalu mengatakan banyak hal yang sesuai dengan kebenaran; dapatkah perkataan itu dianggap setara dengan kebenaran yang diungkapkan oleh Tuhan? Mereka yang benar-benar memahami kebenaran dan mengenali kebenaran dapat melihat bahwa ada perbedaan yang sangat signifikan antara perkataan yang sesuai dengan kebenaran dan kebenaran itu sendiri. Hanya mereka yang tidak memahami kebenaran, atau yang gagal mengenalinya, yang menyamakan keduanya. Jika kita hendak membedakan perkataan yang sesuai dengan kebenaran dan kebenaran, kita harus memahami apa sesungguhnya kebenaran itu. Kita yang memiliki iman kepada Tuhan telah membaca banyak firman-Nya, kita mengakui otoritas dan kuasa firman-Nya, dan kita juga dapat merasakan bahwa hanya firman Tuhanlah kebenaran. Kita tidak akan pernah sepenuhnya mengalami kebenaran, dan terlepas dari seberapa banyak pengalaman atau pemahaman yang kita miliki tentang kebenaran, kita tidak akan pernah berani mengatakan bahwa kita sepenuhnya memiliki kebenaran atau memiliki pemahaman yang benar tentang Tuhan. Di dalam komunitas keagamaan, ada banyak pendeta dan penatua yang berani menafsirkan Alkitab, tetapi mereka tidak berani menafsirkan firman Tuhan sesuka hati. Tidak ada di antara umat manusia yang berani mengatakan bahwa mereka memahami firman Tuhan, dan tidak ada yang berani mengatakan bahwa mereka memahami kebenaran. Ini menunjukkan bahwa substansi kebenaran sangat dalam, dan hanya bisa diungkapkan oleh Tuhan. Ketika manusia mengalami pekerjaan Tuhan, mereka hanya dapat mencapai tingkat pemahaman tertentu tentang kebenaran, memasuki sebagian dari kenyataannya, dan mengatakan beberapa hal yang sesuai dengan kebenaran, yang kira-kira sama baiknya dengan yang dapat diharapkan seseorang. Namun, mereka tidak pernah dapat memiliki atau mengungkapkan kebenaran. Ini adalah fakta. Di masa lalu, orang-orang suci mengatakan banyak hal yang sesuai dengan kebenaran, tetapi tidak ada yang berani mengatakan bahwa perkataan itu adalah kebenaran. Jadi, apa sesungguhnya kebenaran itu? Kebenaran diungkapkan oleh Tuhan, dan hanya Kristuslah kebenaran, jalan, dan kehidupan. Segala sesuatu yang Tuhan firmankan adalah kebenaran, semua yang Tuhan firmankan menunjukkan watak-Nya dan semua yang Dia miliki dan siapa Dia, serta firman-Nya penuh dengan kemahakuasaan dan hikmat-Nya. Tuhan menggunakan firman-Nya untuk menciptakan langit, bumi, dan segala sesuatu, dan Tuhan menggunakan firman-Nya untuk pekerjaan-Nya bagi keselamatan umat manusia; melalui firman Tuhan, segala sesuatu tercapai. Orang-orang yang telah mengalami pekerjaan Tuhan semuanya dapat melihat kekuatan dan kemahakuasaan dari firman Tuhan, yang membuktikan bahwa hanya Tuhan yang dapat mengungkapkan kebenaran. Kekuatan kebenaran dan sifatnya yang abadi tidak dapat dipahami oleh umat manusia. Hanya kebenaran itu yang abadi, dan kebenaran hidup berdampingan dengan Tuhan. Kebenaran itu kekal dan abadi. Jika umat manusia memperoleh kebenaran sebagai kehidupan, mereka telah mencapai kehidupan abadi. Pentingnya Tuhan menganugerahkan kebenaran kepada manusia sehingga manusia dapat memperoleh kebenaran sangatlah mendalam. Sebagaimana yang difirmankan Tuhan Yang Mahakuasa: "Kebenaran yang bisa disampaikan dalam bahasa manusia adalah pepatah manusia; umat manusia tidak akan pernah mengalaminya secara penuh, dan umat manusia harus hidup bergantung kepadanya. Secuil kebenaran bisa membuat seluruh umat manusia bertahan hidup selama ribuan tahun.

"Kebenaran adalah kehidupan Tuhan itu sendiri, merepresentasikan watak-Nya, merepresentasikan hakikat-Nya sendiri, merepresentasikan semua yang ada dalam diri-Nya" ("Apakah Engkau Tahu Apa Sesungguhnya Kebenaran Itu?" dalam "Rekaman Pembicaraan Kristus").

"Kebenaran adalah pepatah kehidupan yang paling nyata, dan pepatah yang terpenting di antara semua umat manusia. Karena inilah yang dikehendaki Tuhan dari manusia, dan merupakan pekerjaan yang dilakukan sendiri oleh Tuhan, sehingga hal ini disebut pepatah kehidupan. Ini bukanlah pepatah yang dirangkum dari sesuatu, juga bukan kutipan terkenal dari tokoh besar; sebaliknya, ini adalah perkataan untuk umat manusia dari Tuhan atas langit dan bumi dan segala sesuatu, dan bukan beberapa kata yang dirangkum oleh manusia, melainkan kehidupan yang melekat dalam diri Tuhan. Dan itulah sebabnya kebenaran ini disebut sebagai yang tertinggi dari semua pepatah kehidupan" ("Hanya Orang-Orang yang Mengenal Tuhan dan Pekerjaan-Nya Dapat Memuaskan Tuhan" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia").

"Kebenaran berasal dari dunia manusia, tetapi kebenaran di antara manusia disampaikan oleh Kristus. Kebenaran itu berasal dari Kristus, yakni, dari Tuhan sendiri, dan tidak terjangkau oleh manusia" ("Keberhasilan atau Kegagalan Tergantung pada Jalan yang Dijalani Manusia" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia").

Mengapa tidak dapat dikatakan bahwa perkataan manusia yang sesuai dengan kebenaran adalah kebenaran? Karena perkataan manusia yang sesuai dengan kebenaran hanya menunjukkan pengalaman dan pengetahuan mereka tentang kebenaran, dan merupakan hasil dari pekerjaan Roh Kudus. Roh Kudus bekerja untuk mencerahkan dan menuntun manusia menuju pemahaman bertahap tentang kebenaran dan memasuki kenyataannya sesuai dengan tingkat pertumbuhan manusia yang sesungguhnya pada saat itu. Setiap kali Roh Kudus mencerahkan manusia, itu hanya memberi mereka sebagian pemahaman tentang cahaya kebenaran dan hanya sedikit pengetahuan tentang kenyataan kebenaran. Roh Kudus tidak akan pernah memberikan substansi kebenaran sepenuhnya kepada manusia seluruhnya dalam satu tahap, karena manusia tidak dapat mencapainya dan tidak akan dapat mengalaminya. Perkataan manusia yang sesuai dengan kebenaran adalah pemahaman dan pengalaman kebenaran yang sangat dangkal dan terbatas, dan jauh dari substansi kebenaran. Ini sangat jauh di bawah standar kebenaran, sehingga hal itu tidak dapat dikatakan sebagai kebenaran. Walaupun apa yang dikatakan manusia diilhami oleh pencerahan dan penerangan Roh Kudus dan sepenuhnya sesuai dengan kebenaran, itu semata-mata demi kemajuan rohani dan kepentingan manusia, tetapi itu tidak dapat menjadi kehidupan manusia, sedangkan kebenaran dapat menjadi kehidupan abadi manusia. Ini karena manusia tidak pernah dapat sepenuhnya mengalami substansi kebenaran dan tidak pernah dapat sepenuhnya hidup dalam citra kebenaran. Manusia hanya dapat hidup dalam sebagian kecil dari citra kebenaran, yang sebenarnya cukup baik. Kebenaran dapat selamanya menjadi kehidupan manusia dan dapat memberi manusia kehidupan abadi, tetapi ketika umat manusia mengucapkan perkataan yang sesuai dengan kebenaran, itu hanyalah cara sementara untuk membantu kemajuan rohani mereka, dan efeknya hanya berlangsung selama suatu jangka waktu. Oleh karena itu, perkataan seperti itu tidak dapat menjadi kehidupan abadi manusia. Inilah perbedaan mendasar antara perkataan yang sesuai dengan kebenaran dan kebenaran itu sendiri. Dari sini, kita dapat melihat bahwa meskipun ucapan manusia diterangi oleh Roh Kudus dan walaupun itu sesuai dengan kebenaran, itu tetap tidak dapat dikatakan sebagai kebenaran. Ini sesuai dengan kenyataan, dan mereka yang memiliki pengalaman hidup dapat mengetahui dan merasakan ini.

Dikutip dari "Jawaban atas Pertanyaan Skenario"

Jika kita hendak membedakan antara ucapan manusia yang sesuai dengan kebenaran dan firman yang diungkapkan oleh Tuhan dalam daging, pertama-tama kita harus paham bahwa Tuhan memiliki substansi ilahi Tuhan dan manusia memiliki substansi manusia. Firman Tuhan adalah wahyu tentang kehidupan Tuhan dan itu adalah ungkapan tentang watak Tuhan, sedangkan perkataan manusia mengungkapkan substansi manusia. Hanya ungkapan langsung dari Roh Kudus yang merupakan kebenaran, dan hanya ungkapan itu yang merupakan firman Tuhan. Ini karena substansi kehidupan Tuhan bersifat unik dan tidak dimiliki oleh manusia mana pun. Namun, orang-orang yang digunakan oleh Tuhan dan orang-orang yang mengalami pekerjaan Roh Kudus dapat mengucapkan perkataan yang sesuai dengan kebenaran dan yang dapat memajukan kerohanian orang lain. Ini berasal dari pencerahan dan penerangan Roh Kudus dan juga dari pengalaman dan pemahaman manusia akan kebenaran dalam firman Tuhan. Namun, ini bukan ungkapan langsung dari Roh Kudus. Oleh karena itu, ini bukan firman Tuhan.

Tuhan Yang Mahakuasa berkata: "Kebenaran adalah pepatah kehidupan yang paling nyata, dan pepatah yang terpenting di antara semua umat manusia. Karena inilah yang dikehendaki Tuhan dari manusia, dan merupakan pekerjaan yang dilakukan sendiri oleh Tuhan, sehingga hal ini disebut pepatah kehidupan. Ini bukanlah pepatah yang dirangkum dari sesuatu, juga bukan kutipan terkenal dari tokoh besar; sebaliknya, ini adalah perkataan untuk umat manusia dari Tuhan atas langit dan bumi dan segala sesuatu, dan bukan beberapa kata yang dirangkum oleh manusia, melainkan kehidupan yang melekat dalam diri Tuhan. Dan itulah sebabnya kebenaran ini disebut sebagai yang tertinggi dari semua pepatah kehidupan" ("Hanya Orang-Orang yang Mengenal Tuhan dan Pekerjaan-Nya Dapat Memuaskan Tuhan" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia").

"Engkau harus mengerti ruang lingkup kebenaran yang sebenarnya dan engkau juga harus memahami apa yang berada di luar lingkup kebenaran. Jika orang memperoleh wawasan dan sedikit pemahaman berdasarkan pengalamannya dari firman kebenaran, apakah itu diperhitungkan sebagai kebenaran? Setidaknya, bisa dikatakan bahwa mereka memiliki pemahaman tentang kebenaran. Semua perkataan dari pencerahan Roh Kudus tidak mewakili firman Tuhan, tidak mewakili kebenaran, dan tidak berhubungan dengan kebenaran. Hanya dapat dikatakan bahwa orang-orang itu memiliki sedikit pemahaman tentang kebenaran, dan sedikit pencerahan dari Roh Kudus. ... Semua orang bisa mengalami kebenaran, tetapi situasi pengalaman mereka akan berbeda, dan apa yang setiap orang dapatkan dari kebenaran yang sama itu berbeda. Namun, bahkan setelah menggabungkan pemahaman semua orang, engkau masih tidak akan bisa menjelaskan kebenaran yang satu ini dengan utuh; kebenaran ini sangat dalam! Mengapa Aku mengatakan bahwa semua yang telah engkau dapatkan dan semua pengertianmu tidak bisa menggantikan kebenaran? Jika engkau mempersekutukan pemahamanmu dengan orang lain, mereka mungkin akan merenungkannya dua tiga hari, lalu selesai mengalaminya, tetapi seorang manusia tidak bisa benar-benar memahami seluruh kebenaran, bahkan bila mereka diberi waktu seumur hidup sekalipun, bahkan jika semua orang berkumpul bersama, mereka tidak bisa mengalaminya secara utuh. Oleh karena itu, bisa terlihat bahwa kebenaran itu sangat dalam! Tidak mungkin menggunakan kata-kata untuk menjelaskan kebenaran secara sempurna, kebenaran yang bisa disampaikan dalam bahasa manusia adalah pepatah manusia; umat manusia tidak akan pernah mengalaminya secara penuh, dan umat manusia harus hidup bergantung kepadanya. Secuil kebenaran bisa membuat seluruh umat manusia bertahan hidup selama ribuan tahun.

"Kebenaran adalah kehidupan Tuhan itu sendiri, merepresentasikan watak-Nya, merepresentasikan hakikat-Nya sendiri, merepresentasikan semua yang ada dalam diri-Nya. Jika engkau berkata bahwa memiliki pengalaman itu berarti engkau memiliki kebenaran, maka bisakah engkau merepresentasikan watak Tuhan? Tidak bisa. Seorang manusia mungkin memiliki suatu pengalaman atau pengetahuan mengenai satu aspek atau satu sisi kebenaran, tapi mereka tidak bisa memberikan kebenaran itu kepada orang lain selamanya, jadi pengetahuan mereka bukanlah kebenaran, itu hanyalah sebuah tingkatan yang sudah dicapai seseorang. Itu hanyalah pengalaman yang harus dimiliki seseorang, pengalaman—pengalaman yang tepat, dan pengertian yang tepat, yang merupakan aspek realistis dari pengalaman akan kebenaran. Pengetahuan ini, pencerahan dan pengertian yang didasarkan pada pengalaman tidak akan pernah bisa menggantikan kebenaran; bahkan walau semua orang sudah mengalami kebenaran ini, dan mereka menyatukan semua kata-kata mereka, itu tetap tidak dapat menyamai satu kebenaran itu. ... Apa yang Aku maksud dengan ini? Maksud-Ku, kehidupan manusia akan tetap menjadi kehidupan manusia, dan tidak peduli berapa banyak pemahamanmu yang sesuai dengan kebenaran, yang sesuai dengan makna Tuhan, sesuai dengan persyaratan dari Tuhan, itu tidak akan pernah mampu menggantikan kebenaran. Mengatakan bahwa orang memiliki kebenaran berarti bahwa mereka memiliki suatu kenyataan, bahwa mereka memiliki suatu pemahaman tentang kebenaran Tuhan, bahwa mereka benar-benar memasuki firman Tuhan, bahwa mereka memiliki pengalaman nyata dengan firman Tuhan, dan bahwa mereka berada di jalur yang benar dalam iman mereka kepada Tuhan. Hanya satu pernyataan Tuhan sudah cukup untuk dialami seseorang seumur hidup; walaupun orang memiliki pengalaman beberapa masa hidup atau beberapa ribu tahun, mereka masih tidak akan dapat seutuhnya dan sepenuhnya mengalami kebenaran" ("Apakah Engkau Tahu Apa Sesungguhnya Kebenaran Itu?" dalam "Rekaman Pembicaraan Kristus").

Sehubungan dengan perbedaan antara perkataan manusia yang sesuai dengan kebenaran dan firman Tuhan, firman Tuhan Yang Mahakuasa memberikan penjelasan yang sangat jelas: kebenaran berasal dari Tuhan. Kebenaran diungkapkan melalui Kristus, dan itu juga merupakan ungkapan langsung dari Roh Kudus, dan semua yang Tuhan firmankan adalah kebenaran. Kebenaran adalah kehidupan Tuhan Sendiri. Kebenaran adalah ungkapan watak Tuhan yang benar. Kebenaran adalah ungkapan dari semua yang Tuhan miliki dan siapa Dia. Kebenaran adalah kenyataan dari hal-hal positif, dan kebenaran menunjukkan substansi kehidupan Tuhan sendiri. Namun, orang-orang yang digunakan oleh Tuhan dan orang-orang yang mengalami pekerjaan Roh Kudus dapat mengucapkan perkataan yang sesuai dengan kebenaran. Ini berasal dari pencerahan dan penerangan Roh Kudus, dan juga dari pengalaman dan pemahaman manusia akan kebenaran dalam firman Tuhan. Perkataan yang sesuai dengan kebenaran ini menunjukkan pengalaman dan pemahaman manusia. Perkataan itu adalah kenyataan kebenaran yang berhasil manusia masuki dan merupakan hasil dari pekerjaan Tuhan. Tidak masalah seberapa dalam atau dangkal pemahaman manusia akan kebenaran, atau seberapa baik mereka mengenal Tuhan, semua yang dikatakan oleh manusia mengungkapkan substansi kehidupan mereka sebagai manusia. Karena perkataan yang diucapkan manusia yang sesuai dengan kebenaran begitu jauh dari kedalaman substansi kebenaran, apa yang dikatakan manusia tidak dapat disebut kebenaran. Ada perbedaan yang melekat dan mendasar antara perkataan yang sesuai dengan kebenaran dan kebenaran yang sesungguhnya. Firman Tuhan adalah kebenaran. Firman itu adalah substansi kehidupan Tuhan, sehingga firman Tuhan kekal dan tidak berubah. Seperti yang Tuhan Yesus katakan: "Surga dan bumi akan berlalu: tetapi firman-Ku tidak akan berlalu'' (Lukas 21:33). Tuhan Yang Mahakuasa berkata: "Firman-Ku adalah kebenaran yang tidak pernah berubah" ("Engkau Sekalian Harus Mempertimbangkan Perbuatanmu" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"). Ini sangat mirip dengan Sepuluh Perintah yang dimaklumatkan oleh Tuhan di Zaman Hukum Taurat: meskipun ribuan tahun telah berlalu, perintah tersebut tetap ditaati oleh umat manusia saat ini. Ini karena firman Tuhan adalah kebenaran. Firman itu adalah kenyataan dari hal-hal positif. Firman tersebut mampu bertahan dalam ujian waktu, dan firman itu akan bertahan sampai selama-lamanya. Namun, karena perkataan manusia bukanlah kebenaran, perkataan itu tidak akan bertahan selamanya. Kita bisa melihat dari perkembangan sejarah manusia, apakah itu dalam bidang penelitian ilmiah dan hukum, atau dalam teori sosiologi, bahwa seiring waktu, perkataan manusia dibalikkan, atau ditinggalkan, atau bahkan menjadi ketinggalan zaman dalam sekejap mata. Walaupun perkataan yang diucapkan manusia sesuai dengan kebenaran, perkataan itu hanya dapat membantu kita, membekali kita, dan mendukung kita untuk sementara waktu. Perkataan itu tidak dapat menjadi kehidupan kita. Mengapa kita mengatakan bahwa perkataan manusia tidak dapat menjadi kehidupan manusia? Karena walaupun perkataan manusia mungkin sesuai dengan kebenaran, perkataan itu hanyalah pengalaman manusia dan pemahaman manusia akan firman Tuhan, dan perkataan itu sangat jauh dari substansi kebenaran dan sama sekali tidak dapat menunjukkan kebenaran, dan juga tidak dapat menimbulkan pengaruh menjadi kehidupan manusia sebagaimana kebenaran. Perkataan itu hanya dapat membantu kita sementara waktu dan memberikan kemajuan rohani dan dukungan. Itulah sebabnya perkataan manusia yang sesuai dengan kebenaran bukanlah kebenaran, dan perkataan itu tidak dapat menjadi kehidupan manusia. Jadi, mengapa hanya firman Tuhan yang dapat menjadi kehidupan manusia? Karena firman Tuhan adalah kebenaran dan kenyataan dari hal-hal positif. Kita manusia tidak pernah dapat sepenuhnya mengalaminya, dan setiap kebenaran tidak akan pernah habis bagi umat manusia. Walaupun kita mengalami keabadian, kita tetap tidak berani mengatakan bahwa kita memiliki kebenaran atau telah sepenuhnya memperoleh kebenaran. Ini adalah fakta. Lebih dari itu, kebenaran dapat menahirkan umat manusia, menyelamatkan umat manusia, dan menyempurnakan umat manusia. Dengan mengandalkan kebenaran untuk hidup, kita dapat hidup dalam keserupaan dengan manusia sejati, hidup dalam citra kebenaran, dan dengan demikian dapat mengenal Tuhan, tunduk kepada Tuhan, menyembah Tuhan, dan menjadi sesuai dengan Tuhan, yang merupakan niat Tuhan ketika Dia pertama kali menciptakan umat manusia. Seperti yang dikatakan Alkitab: "Hendaklah kita menjadikan manusia sesuai rupa Kita, menurut gambar Kita" (Kejadian 1:26). Tuhan berniat menciptakan umat manusia bukan hanya untuk menyediakan tubuh fisik bagi manusia, tetapi terutama adalah untuk memberikan kehidupan baru kepada manusia. Kehidupan baru ini adalah firman Tuhan, yang merupakan kebenaran. Ketika kebenaran menjadi kehidupan kita, ketika kebenaran menjadi kenyataan hidup kita, yaitu ketika kita hidup dalam citra kebenaran, dan hidup dalam keserupaan dengan manusia sejati, maka kita akan menggenapi niat Tuhan dalam menciptakan umat manusia. Karena itu, kita mengatakan bahwa hanya firman Tuhan dan hanya kebenaran yang dapat menjadi kehidupan abadi manusia. Meskipun orang-orang yang digunakan oleh Tuhan mungkin memiliki suatu pengalaman dan pemahaman akan firman Tuhan, dan mereka mungkin dapat mengatakan beberapa hal yang sesuai dengan kebenaran, ini adalah efek dari pekerjaan Roh Kudus. Itu adalah penyelamatan oleh Tuhan dan penyempurnaan manusia oleh Tuhan. Perkataan orang-orang yang digunakan oleh Tuhan yang sesuai dengan kebenaran atau pemahaman mereka yang benar tentang Tuhan tidak berarti bahwa mereka memiliki substansi kebenaran, juga tidak menunjukkan bahwa mereka memiliki kehidupan Tuhan. Sebaliknya, itu hanya menunjukkan bahwa mereka telah memperoleh kebenaran dan bahwa kebenaran telah menjadi kenyataan hidup mereka. Ini karena manusia bukanlah kebenaran dan tidak akan berani mengatakan bahwa mereka benar-benar memiliki kebenaran. Karena itu, terlepas dari seberapa banyak perkataan manusia sesuai dengan kebenaran, atau seberapa banyak perkataan itu dapat memajukan kerohanian kita, perkataan itu tidak dapat dikatakan sebagai kebenaran, dan lebih dari itu, perkataan itu bukan firman Tuhan.

Dikutip dari "Pertanyaan dan Jawaban Klasik

mengenai Injil Kerajaan"

Jika kita ingin tahu mengapa perkataan yang sesuai dengan kebenaran yang diucapkan oleh orang yang Tuhan pakai bukanlah kebenaran, pertama, kita harus sangat jelas tentang apa sebenarnya "kebenaran" itu. Sepanjang sejarah, tak ada orang yang sungguh tahu apa itu kebenaran. Ketika Tuhan Yesus datang ke dunia ini pada Zaman Kasih Karunia, Dia berkata: "Akulah jalan, kebenaran, dan hidup" (Yohanes 14:6). Tetap saja, tak ada yang mengerti arti "kebenaran" sesungguhnya. Barulah ketika Kristus akhir zaman—Tuhan Yang Mahakuasa—datang, misteri "kebenaran" disingkapkan sepenuhnya kepada umat manusia.

Mari lihat yang dikatakan Tuhan Yang Mahakuasa tentang ini: "Kebenaran berasal dari dunia manusia, tetapi kebenaran di antara manusia disampaikan oleh Kristus. Kebenaran itu berasal dari Kristus, yakni, dari Tuhan sendiri, dan tidak terjangkau oleh manusia" ("Keberhasilan atau Kegagalan Tergantung pada Jalan yang Dijalani Manusia" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia").

"Kebenaran adalah pepatah kehidupan yang paling nyata, dan pepatah yang terpenting di antara semua umat manusia. Karena inilah yang dikehendaki Tuhan dari manusia, dan merupakan pekerjaan yang dilakukan sendiri oleh Tuhan, sehingga hal ini disebut pepatah kehidupan. Ini bukanlah pepatah yang dirangkum dari sesuatu, juga bukan kutipan terkenal dari tokoh besar; sebaliknya, ini adalah perkataan untuk umat manusia dari Tuhan atas langit dan bumi dan segala sesuatu, dan bukan beberapa kata yang dirangkum oleh manusia, melainkan kehidupan yang melekat dalam diri Tuhan. Dan itulah sebabnya kebenaran ini disebut sebagai yang tertinggi dari semua pepatah kehidupan" ("Hanya Orang-Orang yang Mengenal Tuhan dan Pekerjaan-Nya Dapat Memuaskan Tuhan" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia").

"Kebenaran yang bisa disampaikan dalam bahasa manusia adalah pepatah manusia; umat manusia tidak akan pernah mengalaminya secara penuh, dan umat manusia harus hidup bergantung kepadanya. Secuil kebenaran bisa membuat seluruh umat manusia bertahan hidup selama ribuan tahun.

"Kebenaran adalah kehidupan Tuhan itu sendiri, merepresentasikan watak-Nya, merepresentasikan hakikat-Nya sendiri, merepresentasikan semua yang ada dalam diri-Nya" ("Apakah Engkau Tahu Apa Sesungguhnya Kebenaran Itu?" dalam "Rekaman Pembicaraan Kristus").

Dari firman Tuhan Yang Mahakuasa, kita dapat melihat: kebenaran berasal dari Tuhan, dan berasal dari pengungkapan Kristus. Artinya, semua firman yang diucapkan Tuhan adalah kebenaran. Ini karena kebenaran adalah hakikat kehidupan Tuhan, watak Tuhan, apa yang dimiliki Tuhan dan siapa Tuhan itu, dan realitas dari semua hal positif. Kebenaran itu abadi dan tak akan pernah berubah. Firman Tuhan memiliki otoritas dan kekuasaan. Firman-Nya dapat menyucikan, menyelamatkan, menyempurnakan, dan menjadi sumber kehidupan abadi manusia. Jadi, semua firman yang diungkapkan oleh Tuhan adalah kebenaran. Pekerjaan Tuhan, wahyu, dan apa yang Dia tetapkan adalah kebenaran. Hal yang Tuhan tetapkan dan atur bagi manusia untuk dipelihara dan dipatuhi, dan semua yang Dia tuntut dari manusia dan perintahkan untuk manusia lakukan adalah kebenaran, realitas dari semua hal yang positif. Maka, ada kebenaran yang dapat ditemukan dalam setiap firman yang Tuhan ucapkan. Di setiap tahap pekerjaan-Nya, Tuhan telah mengungkapkan banyak kebenaran. Kehidupan berharga yang Tuhan berikan kepada kita manusia ada di dalam kebenaran ini.

Semua yang Tuhan ungkapkan selama pekerjaan dari dua inkarnasi-Nya adalah kebenaran. Sebagaimana yang Tuhan Yesus firmankan di Zaman Kasih Karunia: firman-Nya membuat manusia dapat menyaksikan watak, kasih, dan hakikat kudus Tuhan. Ini semua adalah kebenaran berharga yang membantu kita mengenal Tuhan. Kasih, belas kasihan, toleransi, dan pengampunan Tuhan Yesus kepada manusia, serta ketika Tuhan Yesus meminta manusia untuk mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, dan pikiran mereka, untuk mengasihi sesama mereka seperti mengasihi diri mereka sendiri, menjadi terang dunia dan garam dunia, ini semua hal positif. Semua ini adalah kebenaran. Ini juga merupakan realitas kehidupan yang harus kita miliki. Kristus pada akhir zaman, Tuhan Yang Mahakuasa, telah datang, dan Dia mengungkapkan semua kebenaran dalam menghakimi, menyucikan, dan menyempurnakan manusia. Semua kebenaran ini adalah kenyataan hidup yang harus dimiliki manusia dalam Zaman Kerajaan. Kristus akhir zaman menyingkapkan kepada kita watak Tuhan, yaitu kebenaran, keagungan, murka, dan tak membiarkan pelanggaran. Dia menyingkapkan misteri rencana pengelolaan Tuhan untuk menyelamatkan manusia, misteri tiga tahap pekerjaan Tuhan, hakikat dan kebenaran dalam setiap tahap pekerjaan-Nya, serta misteri inkarnasi-Nya, bagaimana Tuhan melakukan pekerjaan penghakiman di akhir zaman, dan apa kerajaan Kristus itu. Dia perlihatkan bagaimana Tuhan menyingkapkan nasib setiap orang, dan bagaimana Tuhan memberi upah bagi kebaikan dan menghukum kejahatan. Dia menyingkapkan arti dari kebenaran Tuhan, arti dari kekudusan Tuhan dan arti simbolis dari watak Tuhan, sukacita, kemarahan, kesedihan, dan sukacita-Nya. Dia menyingkapkan apa yang benar dan jahat, apa yang positif dan negatif, dan esensi serta fakta dari perusakan manusia oleh Iblis. Tuhan Yang Mahakuasa menunjukkan kepada manusia cara menghormati Tuhan dan menghindari kejahatan, apa kehidupan sejati itu, dan bagaimana menjalani hidup yang bermakna, dan seterusnya. Tuhan Yang Mahakuasa telah menyingkapkan semua kebenaran dan misteri ini kepada kita agar kita dapat mengetahui dan memahami, sehingga kita akan menghormati Tuhan dan menghindari kejahatan, menaati dan menyembah Tuhan. Kebenaran Tuhan Yang Mahakuasa adalah jalan hidup kekal yang harus umat manusia miliki. Mereka yang merangkul semua kebenaran Tuhan dan hidup sesuai dengan kebenaran itu akan mendapatkan hidup yang kekal. Sedangkan mereka yang menolak menerima kebenaran apa pun pasti akan binasa. Jadi, semua kebenaran yang Tuhan Yang Mahakuasa nyatakan di akhir zaman adalah pekerjaan Tuhan untuk mengakhiri zaman lama dan mengantarkan zaman baru di akhir zaman. Orang yang dipakai Tuhan adalah mereka yang diselamatkan dan disempurnakan Tuhan. Tugas mereka dalam pekerjaan Tuhan adalah bekerja sama dengan pekerjaan Tuhan dan memimpin umat pilihan Tuhan. Maka, perkataan apa pun yang mereka ucapkan yang sejalan dengan kebenaran adalah buah pekerjaan Roh Kudus. Meskipun perkataan ini bermanfaat bagi kita, kita tak bisa menyebutnya kebenaran, tak bisa menganggapnya firman Tuhan, karena perkataan manusia hanya berasal dari pengetahuan dan pengalaman mereka tentang kebenaran, dan hanya bisa mewakili perspektif, ide, dan pemahaman manusia, dan pasti akan dipengaruhi oleh kekotoran manusia. Selain itu, pengetahuan dan pengalaman manusia tentang kebenaran itu terbatas. Tak peduli berapa banyak dia masuk ke dalam realitas kebenaran, dia masih tak bisa dikatakan mewujudkan hakikat kebenaran, atau dia tak bisa dikatakan hidup dalam kebenaran secara penuh. Jadi bahkan jika dia menyatakan beberapa realitas terbatas dari kebenaran cara hidupnya, perkataannya hanya sesuai dengan kebenaran. Perkataan itu tak boleh diposisikan setara dengan kebenaran itu sendiri. Hanya firman Tuhan yang berinkarnasi yang merupakan kebenaran. Artinya, hanya Tuhan yang memiliki hakikat kebenaran, dan hanya Tuhan yang benar. Terlepas dari sudah berapa tahun kita percaya kepada Tuhan, kita selalu menjadi bayi di hadapan Tuhan. Kita tak akan pernah bisa hidup dalam citra Tuhan. Maka, perkataan manusia yang digunakan Tuhan atau orang yang memiliki pekerjaan Roh Kudus hanya bisa dianggap sebagai perkataan yang sesuai dengan kebenaran. Kita tak bisa menganggapnya sebagai kebenaran itu sendiri. Ini fakta yang tak terbantahkan. Ketika kita menyebut perkataan manusia sebagai kebenaran, kita menentang dan menghujat Tuhan!

Dikutip dari "Pertanyaan dan Jawaban Klasik

mengenai Injil Kerajaan"

Sebelumnya:Pertanyaan 30: Engkau bersaksi bahwa Tuhan Yesus telah datang kembali sebagai Tuhan Yang Mahakuasa yang berinkarnasi, bahwa Ia menyatakan seluruh kebenaran untuk menyucikan dan menyelamatkan umat manusia, serta melakukan pekerjaan penghakiman yang dimulai di rumah Tuhan; jadi, bagaimana kami seharusnya mengenali suara Tuhan dan bagaimana kami seharusnya memastikan bahwa Tuhan Yang Mahakuasa adalah memang Tuhan Yesus yang telah datang kembali?

Selanjutnya:Pertanyaan 32: Orang-orang Farisi seringkali menguraikan Alkitab bagi orang-orang di bait suci, dan tampil dengan saleh dan penuh kasih, dan mereka tidak tampak melakukan hal apa pun yang jelas-jelas melawan hukum. Jadi, mengapa orang-orang Farisi dikutuk oleh Tuhan Yesus? Bagaimanakah kemunafikan mereka terwujud? Mengapa dikatakan bahwa para pendeta dan penatua agama mengambil jalan yang sama seperti jalan orang Farisi yang munafik?

media terkait