Aplikasi Seluler mengenai Gereja Tuhan Yang Mahakuasa

Mendengarkan suara Tuhan dan menyambut kedatangan Tuhan Yesus kembali!

Kami persilakan semua pencari kebenaran untuk menghubungi kami.

Apa pun yang Tuhan Firmankan adalah Penghakiman Besar atas Manusia

1

Xunqiu Kota Nanyang, Provinsi Henan

Aku biasanya berpikir bahwa Tuhan menghakimi dan menghajar manusia hanya ketika Dia mengungkapkan kerusakan yang melekat pada manusia atau menyampaikan teguran keras yang menghakimi berakhirnya manusia. Lama setelah itu, sebuah insiden menyadarkanku bahwa bahkan firman Tuhan yang lembut juga merupakan penghakiman dan hajaran-Nya. Aku sadar bahwa setiap kata yang Tuhan firmankan adalah penghakiman-Nya atas manusia.

Baru-baru ini, kakak perempuan dari keluarga tuan rumah terjebak dalam emosi kedagingan, dan akibatnya dia sangat menderita. Aku berkomunikasi dengannya beberapa kali, tetapi tampaknya sia-sia. Dia tetap sama. Lambat laun aku menjadi tidak sabar. Aku berpikir dalam hati, "Aku sudah berbicara denganmu beberapa kali, tetapi kamu belum berubah. Kamu mungkin tidak tertarik pada kebenaran. Aku tidak akan pernah berbicara akrab denganmu lagi." Setelah itu, aku tidak lagi merasa tertarik untuk bergaul dengannya dan jarang mempedulikannya. Suatu hari, seorang saudara perempuan lain yang bermitra denganku menyarankan agar kami harus berdoa dengan kakak perempuan itu. Saat mendengar itu, aku merasa jijik, "Mengapa? Tinggal bersamanya hanya akan membuang waktu saja, dan doa kita akan sia-sia." Sebenarnya aku tahu, hal ini mengungkapkan kesombonganku yang merupakan watak Iblis. Aku memberi sambutan yang dingin dan tidak menunjukkan kasih kepada orang lain. Namun, aku tidak bisa menghentikannya. Ketika kami berdoa bersama, aku masih merasa sulit untuk melepaskan pikiran dan perasaan batinku sedemikian rupa sehingga aku tenggelam dalam kegelapan rohani dan tidak dapat merasakan Tuhan bersamaku. Selain itu, aku merasa tercekik di dalam hati seolah-olah hatiku tersumbat dan tidak bisa dilepaskan. Kemudian, aku berdoa di hadapan Tuhan tentang kesulitanku, "Tuhan, aku sadar akan keangkuhan dan ketidakmanusiawianku. Aku tidak menunjukkan kepedulian atau simpati terhadap kakak perempuan itu. Tetapi aku gagal mengubah diriku sendiri. Tuhan, aku mohon kepada-Mu, berikanlah pencerahan sehingga aku mengetahui kebenaran dan mengenal diriku lebih baik." Sewaktu aku mengucapkan doa itu, samar-samar aku mengingat beberapa firman Tuhan. Aku segera membuka kitab firman Tuhan dan menemukan pernyataan berikut: "Mengapa dikatakan bahwa besarnya tekadmu untuk mengasihi Tuhan, dan apakah engkau sungguh mau meninggalkan daging, itu tergantung pada apakah engkau memiliki prasangka terhadap saudara-saudarimu, dan apabila jawabannya ya, engkau mampu menggeser prasangka seperti itu. Artinya, bila hubunganmu dengan saudara-saudarimu normal, keadaanmu di hadapan Tuhan juga menjadi normal. Bila salah seorang saudara atau saudarimu lemah, engkau jangan membenci, menghina, menertawai, atau menunjukkan muka masam kepada mereka. Bila engkau bisa melayani mereka, engkau akan bersekutu dengan mereka…. Apabila engkau tidak merasa mampu untuk memberi kepada mereka, engkau bisa mengunjungi mereka. Ini tidak perlu dilakukan oleh pemimpin gereja—ini adalah tanggung jawab setiap saudara-saudari untuk melakukan pekerjaan ini. Apabila engkau mendapati seorang saudara atau saudari dalam keadaan yang buruk, kunjungilah dia. Ini adalah tanggung jawab setiap orang dari antaramu" ("Pekerjaan Roh Kudus dan Pekerjaan Iblis" dalam Firman yang Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia). Setelah membaca firman Tuhan, teguran bahwa, "bila hubunganmu dengan saudara-saudarimu normal, keadaanmu di hadapan Tuhan juga menjadi normal" sangat jelas terpatri dalam pikiranku. Aku mencari sambil merenungkan pernyataan ini. Melalui pencerahan Roh Kudus, aku merasakan pernyataan yang tampaknya sederhana ini sebenarnya mengandung keagungan dan penghakiman, dan itu seperti pedang yang menusuk hatiku. Tuhan selalu mengatakan dengan jelas kepada manusia bahwa hanya berdasarkan firman Tuhan, manusia dapat menjalin hubungan yang normal di antara saudara-saudari, dan hubungan manusia dengan Tuhan akan normal selama mereka memiliki hubungan yang normal dengan saudara-saudari. Ketika aku bergaul dengan orang lain, semua yang aku wujudkan adalah watak jahat Iblis, terutama dalam bentuk penghinaan dan penolakan terhadap orang lain. Aku tidak memiliki hubungan yang normal dengan orang-orang, jadi bagaimana aku bisa menikmati hubungan yang normal dengan Tuhan? Merupakan tanggung jawab yang tak dapat diubah dari manusia untuk mengunjungi dan melayani saudara-saudarinya – yang pasif dan lemah. Itu adalah kehidupan yang harus dijalani oleh orang-orang yang berusaha mengasihi Tuhan; perilaku saudara-saudariyang saling mengasihi. Sebaliknya, aku sama sekali tidak peduli ketika aku mengetahui situasi buruk kakak perempuan itu. Meskipun aku tampak berbicara akrab dengannya, jauh di dalam lubuk hatiku, aku tidak melakukannya dengan hati yang mengasihi Tuhan. Aku tidak mencoba sebaik mungkin untuk membantu dan mendukungnya. Aku tidak sabar berbicara dengannya, dengan hati yang baik, atau dengan pemahaman terhadap seseorang yang menderita—seseorang yang telah hidup dalam kegelapan—untuk membantunya keluar dari situasi negatif. Aku bahkan memutuskan bahwa kakak perempuan itu tidak memiliki niat untuk mencari kebenaran, dan karena itu aku meremehkan dan menghindarinya. Jadi aku kehilangan hubungan yang sehat dengan Tuhan dan jatuh dalam hajaran-Nya. Aku menderita kegelapan rohani. Bukankah demikian watak Tuhan telah datang kepadaku? Semakin aku memikirkannya, semakin kuat aku merasa bahwa pernyataan ini adalah penghakiman Tuhan terhadapku muka dengan muka. Aku merasa malu dan sangat menyesal. Kemanusiaanku sangat kurang. Namun demikian, penghormatanku kepada Tuhan muncul secara spontan dan bersamaan. Aku sadar bahwa watak Tuhan adalah watak keagungan dan kemurkaan. Aku sadar bahwa Tuhan benar-benar adil dan suci. Tuhan dapat menjelajahi setiap pemikiran, sehingga tidak ada yang luput dari penghakiman-Nya.

Penghakiman dari firman Tuhan itu menolongku untuk melepaskan prasangkaku terhadap akak perempuan itu. Jadi, aku menemukan kesediaan untuk bersekutu dengannya dalam semangat kasih dan kebaikan. Namun, tanpa diduga, sebelum aku bersekutu dengannya lagi, kakak perempuan itu telah menerima pencerahan dari Tuhan dan keluar dari kesulitan negatifnya dengan berdoa dan mendengarkan nyanyian firman Tuhan. Pada saat itu, aku merasa bersyukur karena situasinya telah membaik. Aku bersyukur bahwa Tuhan telah memimpin kami, seperti yang akan selalu dilakukan-Nya. Aku juga merasa malu dengan perilaku buruk yang telah aku tunjukkan.

Aku bersyukur kepada Tuhan! Walaupun aku hanya menunjukkan pemberontakan dan kerusakan sepanjang pengalaman ini, aku belajar bahwa firman Tuhan yang kurang tegas juga merupakan penghakiman dan hajaran-Nya terhadap manusia, dan bahwa setiap firman dari-Nya dimaksudkan untuk menghakimi umat manusia. Aku tidak akan pernah lagi memandang firman Tuhan dengan pemahamanku sendiri. Aku akan menerima penghakiman dan hajaran Tuhan dalam firman dengan ketundukan mutlak. Aku akan memahami dan menerima lebih banyak kebenaran untuk mengubah watakku sesegera mungkin.

media terkait