Iman yang Tak Terhancurkan

28 Desember 2020

Oleh Meng Yong, Tiongkok

Aku pada dasarnya adalah seorang yang menyenangkan. Di dunia yang gelap dan jahat ini, aku selalu dirundung oleh orang lain, sehingga aku telah merasakan dinginnya dunia manusia serta merasakan bahwa hidupku hampa dan tanpa makna. Setelah aku mulai percaya kepada Tuhan Yang Mahakuasa, dengan membaca firman Tuhan dan mengalami kehidupan gereja, aku menikmati kesungguhan dan sukacita di hatiku yang tidak pernah kurasakan sebelumnya. Melihat saudara-saudari Gereja Tuhan Yang Mahakuasa yang saling mengasihi seperti satu keluarga membuatku menyadari bahwa hanya Tuhanlah yang benar, dan bahwa hanya di dalam Gereja Tuhan Yang Mahakuasa-lah ada terang. Karena telah secara pribadi mengalami pekerjaan Tuhan selama beberapa tahun, aku menjadi sungguh-sungguh memahami bahwa firman Tuhan Yang Mahakuasa dapat benar-benar mengubah orang dan menyelamatkan orang. Tuhan Yang Mahakuasa adalah kasih, Dia adalah keselamatan. Agar lebih banyak orang dapat menikmati kasih Tuhan dan menerima keselamatan dari Tuhan, saudara-saudariku dan aku berusaha semampu kami untuk mengabarkan injil, tetapi kami tidak pernah menyangka akan ditangkap dan dianiaya oleh pemerintah Partai Komunis Tiongkok.

Pada Desember 2012, beberapa saudara-saudari dan aku naik mobil menuju suatu tempat untuk mengabarkan injil, dan ternyata kami dilaporkan oleh orang-orang jahat. Tidak lama kemudian, pemerintah daerah mengirimkan petugas dari bareskrim, petugas dari keamanan nasional, skuad antinarkoba, polisi bersenjata, dan polisi daerah, untuk datang dengan lebih dari 10 mobil polisi guna menangkap kami. Ketika seorang saudara dan aku baru saja hendak melarikan diri dengan mobil, empat polisi dengan cepat menghadang dan menghentikan mobil kami. Salah seorang dari mereka merebut kunci mobil tanpa memberi kami kesempatan untuk berbicara sepatah kata pun, dan memerintahkan kami untuk tetap duduk di mobil dan tidak bergerak. Pada waktu itu, aku melihat tujuh atau delapan polisi yang menggenggam pentungan sedang memukuli seorang saudara lain dengan penuh kemarahan, dan bahwa saudara itu sudah dipukuli sampai pada titik di mana dia tidak mampu bergerak. Aku tidak dapat menahan amarah yang memang sudah selayaknya kurasakan dan bergegas keluar dari mobil, berusaha menghentikan kekerasan mereka, tetapi polisi-polisi menahanku. Kemudian, mereka membawa kami ke kantor polisi, dan mobil kami juga ditahan.

Setelah jam sembilan malam itu, dua polisi reskrim datang untuk menginterogasiku. Ketika mereka melihat bahwa mereka tidak dapat mengorek informasi berguna apa pun dariku, mereka menjadi bingung dan jengkel luar biasa, menggertakkan gigi mereka dengan marah sementara mereka memaki: "Sialan, kami akan mengurusmu nanti!" Kemudian, mereka mengunciku di ruang tunggu interogasi. Pada pukul 11:30 malam, mereka membawaku ke dalam sebuah ruangan tanpa kamera pengawas. Aku punya perasaan bahwa mereka akan menggunakan kekerasan terhadapku, maka aku mulai berdoa kepada Tuhan berulang-ulang dalam hatiku, memohon kepada Tuhan untuk melindungiku. Pada waktu ini, seorang petugas polisi bernama pertama Jia datang untuk menginterogasiku: "Apakah engkau naik Volkswagen Jetta beberapa hari terakhir ini?" Aku menjawab tidak, dan dia berteriak dengan nada marah: "Orang lain telah melihatmu, dan engkau masih mengingkarinya?" Setelah mengatakan itu, dia menampar wajahku dengan sangat keras. Satu-satunya yang kurasakan adalah rasa sakit yang membara di pipiku. Kemudian, dia menggeram dengan keras: "Ayo kita lihat seberapa kuatnya dirimu!" Dia mengambil seutas sabuk lebar sementara berbicara dan terus mencambuki wajahku, aku tidak tahu berapa kali dia mencambukiku, tetapi aku tidak bisa tidak menjerit kesakitan berkali-kali. Melihat hal ini, mereka mengikatkan sabuk itu di mulutku. Beberapa polisi kemudian menutupi tubuhku dengan selembar selimut katun sebelum memukuliku tanpa ampun dengan pentung mereka, dan hanya berhenti ketika mereka menjadi terlalu lelah untuk menarik napas mereka. Aku telah dipukuli begitu rupa sehingga kepalaku terasa berputar-putar dan tubuhku kesakitan seakan-akan semua tulangku berserakan. Pada waktu itu, aku tidak tahu mengapa mereka memukuliku dengan cara demikian, tetapi kemudian aku mengetahui bahwa mereka membungkusku dengan selembar selimut agar pukulan mereka tidak membekas di tubuhku. Mereka menempatkanku di sebuah ruangan tanpa pengawasan, menyumbat mulutku, dan membungkusku dengan selembar selimut—semuanya itu karena mereka takut bahwa perbuatan-perbuatan keji mereka akan terpapar. Polisi Partai Komunis Tiongkok sangat licik dan ganas! Ketika mereka berempat lelah memukuliku, mereka beralih ke metode lain untuk menyiksaku: Dua polisi memelintir tanganku ke belakang dan dengan paksa menyentakkannya ke atas, sementara dua polisi yang lain mengangkat tanganku yang lain ke atas bahu sampai punggung dan menariknya keras-keras ke bawah. (Mereka menyebut jenis metode siksaan ini "Menyandang Sebilah Pedang di Punggung", yang orang biasa tidak akan sanggup menahannya.) Namun, kedua tanganku tidak dapat ditarik bersama-sama betapa pun kerasnya mereka berusaha, sehingga mereka menumpukan lutut dengan keras ke tanganku. Aku hanya bisa mendengar suatu "klik", dan kedua tanganku terasa seperti copot. Rasanya sakit sekali sampai aku hampir pingsan. Tidak butuh waktu lama bagiku untuk kehilangan sensasi di kedua tanganku. Hal ini masih belum membuat mereka menyerah, maka mereka memerintahkanku untuk berlutut untuk menambah penderitaanku. Aku sangat kesakitan sampai dari seluruh tubuhku keluar keringat dingin, kepalaku berdenging, dan kesadaranku mulai bertambah kabur. Aku berpikir: "Selama bertahun-tahun dalam hidupku, aku tidak pernah merasa tidak mampu mengontrol kesadaranku sendiri. Apakah aku akan mati?" Kemudian, aku benar-benar tidak dapat menanggungkannya lagi, sehingga aku berpikir bahwa kematian adalah suatu kelegaan. Pada saat itu, firman Tuhan memberiku pencerahan dari dalam batin: "Sekarang ini, sebagian besar orang tidak memiliki pengetahuan itu. Mereka percaya bahwa penderitaan tidak ada nilainya, … Penderitaan sebagian orang mencapai titik ekstrem, dan pikiran mereka mengarah kepada kematian. Ini bukanlah kasih kepada Tuhan yang sejati; orang-orang seperti itu adalah pengecut, mereka tidak memiliki ketekunan, mereka lemah dan tidak berdaya!" ("Hanya Dengan Mengalami Ujian-Ujian yang Menyakitkan Engkau Semua Bisa Mengenal Keindahan Tuhan" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"). Firman Tuhan membuatku tiba-tiba terbangun dan menyadari bahwa cara berpikirku tidak sejalan dengan kehendak Tuhan dan hanya akan membuat Tuhan sedih dan kecewa. Sebab di tengah rasa sakit dan kesusahan ini, yang Tuhan inginkan bukanlah diriku yang mendambakan kematian, tetapi bahwa aku dapat bergantung pada bimbingan Tuhan untuk melawan Iblis, untuk bersaksi bagi Tuhan, serta untuk membuat Iblis malu dan kalah. Mendambakan kematian sama saja dengan jatuh persis ke dalam rancangan jahat Iblis, dan hal itu tidak dapat dipandang bersaksi bagi Tuhan, tetapi alih-alih menjadi tanda yang memalukan. Setelah memahami maksud Tuhan, aku berdoa kepada Tuhan dengan diam-diam: "Ya, Tuhan! Realitas telah menunjukkan bahwa sifatku terlalu lemah. Aku tidak memiliki kehendak dan keberanian untuk menderita bagi-Mu dan menginginkan kematian karena sedikit saja rasa sakit yang sifatnya fisik. Kini, aku tidak ingin melarikan diri darinya dan aku harus bersaksi serta menyenangkan hati-Mu tidak peduli berapa banyak penderitaan yang harus kutanggung. Namun, saat ini, tubuhku luar biasa sakit dan lemah, dan aku tahu sangatlah sulit untuk mengatasi siksaan dari iblis-iblis ini dengan kekuatanku sendiri. Tolong karuniai aku keyakinan dan kekuatan yang lebih sehingga aku dapat mengandalkan-Mu untuk mengalahkan Iblis. Aku bersumpah atas nama hidupku bahwa aku tidak akan mengkhianati-Mu atau menjual saudara-saudariku." Setelah aku berdoa berulang kali kepada Tuhan, hatiku perlahan-lahan menjadi tenang. Polisi yang jahat itu melihat bahwa aku nyaris tidak bernapas dan takut bahwa mereka harus memikul tanggung jawab sekiranya aku mati, jadi mereka melepaskan borgolku. Namun, tanganku sudah menjadi kaku, dan belenggu itu demikian ketat sampai sulit untuk dilepaskan. Keempat polisi tersebut perlu beberapa menit untuk melepaskan borgolku sebelum menyeretku kembali ke ruang tunggu interogasi.

Keesokan siangnya, polisi secara semena-mena menyematkan tanda "pelaku kejahatan" padaku dan membawaku kembali ke rumahku untuk menggeledahnya, dan kemudian mengirimku ke sebuah rumah tahanan. Segera setelah aku masuk ke rumah tahanan itu, empat petugas lapas menyita jaket berbantalan katun, celana panjang, sepatu bot, dan jam tanganku, juga 1.300yuan uang tunai yang ada padaku. Mereka memerintahkan aku untuk berganti mengenakan seragam penjara mereka yang standar dan memaksaku untuk merogoh 200yuan demi membeli selembar selimut dari mereka. Setelah itu, petugas lapas mengurungku bersama dengan para perampok, pembunuh, pemerkosa, dan penyelundup narkoba. Ketika aku masuk ke selku, aku melihat dua belas tahanan berkepala plontos yang mengawasiku dengan tatapan memusuhi. Suasananya suram dan mengerikan, dan aku merasa nyaliku tiba-tiba menciut. Dua kepala sel itu mendatangiku dan bertanya: "Mengapa engkau masuk ke sini?" Aku menjawab: "Mengabarkan injil." Tanpa berkata-kata lagi, salah seorang dari mereka menampar wajahku dua kali, dan berkata: "Engkau sok religius, begitu?" Para tahanan yang lain mulai tertawa dengan terbahak-bahak dan mengejekku dengan mengatakan: "Mengapa kau tak meminta Tuhanmu menyelamatkanmu dari sini?" Di tengah-tengah ejekan dan olok-olok itu, sang kepala sel menampar wajahku beberapa kali lagi. Sejak saat itu, mereka menjulukiku "si sok religius" dan sering kali menghina dan mengejekku. Kepala sel yang lain melihat alas kaki yang kukenakan dan dengan arogan berteriak: "Engkau sama sekali tidak tahu diri. Apakah engkau layak mengenakan sepatu itu? Lepaskan." Setelah dia mengatakan ini, dia memaksaku untuk melepaskan sepatuku dan menggantinya dengan sandal mereka yang sudah usang. Mereka juga memberikan selimutku kepada para tahanan yang lain. Para tahanan itu saling berebut selimutku, dan pada akhirnya menyisakan bagiku selembar selimut tua yang tipis, sobek, kotor, dan berbau. Karena dihasut oleh para petugas lapas, para tahanan ini menjadikanku sasaran segala macam penderitaan dan siksaan. Lampu selalu dinyalakan di sel pada waktu malam, tetapi seorang kepala sel mengatakan kepadaku dengan seringai jahat: "Matikan lampu bagiku." Ketika aku tidak dapat melakukannya (bahkan tidak ada saklar di sana), mereka mulai menertawakan dan mengejekku lagi. Keesokan harinya, beberapa tahanan remaja memaksaku untuk berdiri di sudut dan mengingat-ingat aturan penjara, sembari mengancam: "Engkau akan dihajar jika engkau tidak dapat mengingat-ingatnya dalam dua hari!" Aku tidak dapat menahan rasa ngeri, dan semakin aku berpikir mengenai apa yang telah kulalui dalam beberapa hari terakhir, semakin takut aku jadinya. Jadi aku terus berseru kepada Tuhan dan memohon kepada-Nya untuk melindungiku supaya aku dapat mengatasinya. Saat itu, aku berpikir tentang sebuah lagu pujian firman Tuhan: "When trials come, you can still love God; Jika engkau masih bisa mengasihi Tuhan terlepas dari apakah engkau dipenjara atau sakit, apakah orang lain mengejek atau memfitnahmu, atau apakah kau mengalami jalan buntu, itu berarti hatimu telah berbalik kepada Tuhan" ("Sudahkah Hatimu Berbalik Kepada Tuhan?" dalam "Ikuti Anak Domba dan Nyanyikan Lagu Baru"). Firman Tuhan memberiku kuasa dan menunjukkan sebuah jalan untuk kulakukan—berusaha untuk mengasihi Tuhan dan mengarahkan hatiku kepada Tuhan! Pada saat itulah, tiba-tiba menjadi sangat gamblang di hatiku: Tuhan mengizinkan penderitaan ini menimpaku bukan untuk menyiksaku atau secara sengaja membuatku menderita, tetapi untuk melatihku mengarahkan hati kepada Tuhan dalam lingkungan semacam itu, sehingga aku dapat melawan kendali pengaruh gelap Iblis dan sehingga hatiku dapat tetap dekat dengan Tuhan dan mengasihi Tuhan, tidak mengeluh, senantiasa menerima dan menaati pengaturan dan penetapan Tuhan. Dengan pemahaman ini di benakku, aku tidak lagi takut. Tidak peduli bagaimana polisi dan tahanan memperlakukanku, satu-satunya yang perlu kupedulikan adalah memberikan diriku sendiri kepada Tuhan; aku tidak akan pernah menyerah kepada Iblis.

Kehidupan di penjara tak ada bedanya dengan neraka di bumi. Para penjaga penjara terus mencari cara baruuntuk menyiksaku: Ketika aku sedang tidur di malam hari, para tahanan lain akan menghimpitku sedemikian rupa sehingga aku tidak bisa membalikkan badan, dan mereka membuatku tidur persis di samping toilet. Setelah ditangkap, aku tidak tidur selama beberapa hari dan menjadi sangat mengantuk sehingga aku tidak tahan lagi dan jatuh tertidur. Para tahanan yang tengah bertugas jaga datang untuk menggangguku, dengan sengaja mengetuk-ngetuk kepalaku sampai aku bangun sebelum mereka beranjak. Ada seorang tahanan yang dengan sengaja membangunkan aku dan mencoba mengambil kaos lengan panjangku. Setelah sarapan keesokan harinya, kepala sel memintaku menggosok lantai setiap hari. Hari-hari ini adalah hari paling dingin di tahun itu dan tidak ada air panas, maka aku hanya bisa menggunakan air dingin untuk membasahi kain pembersihnya. Kepala sel juga memerintahkan aku untuk menggosok seperti ini setiap hari. Kemudian, beberapa tahanan perampok menyuruhku untuk mengingat-ingat aturan penjara. Jika aku tidak dapat mengingatnya, mereka akan memukuli dan menendangiku; mendapat tamparan di wajah bahkan lebih lazim lagi. Menghadapi lingkungan semacam itu, aku merasa sangat menderita. Pada waktu malam, aku menarik selimutku sampai menutupi kepalaku dan berdoa diam-diam: "Ya, Tuhan, Engkau mengizinkan keadaan seperti ini menimpaku, sehingga niat-Mu yang baik pasti terkandung di dalamnya. Tolong nyatakan niat-Mu kepadaku." Pada waktu itu, firman Tuhan memberiku pencerahan: "Aku mengagumi bunga bakung yang mekar di bukit; bunga dan rerumputan terbentang sepanjang lereng, tetapi bunga bakung menambah kilau kepada kemuliaan-Ku di bumi sebelum datangnya musim semi—bisakah manusia mencapai hal-hal semacam itu? Bisakah ia bersaksi bagi-Ku di bumi sebelum kedatangan-Ku? Bisakah ia mendedikasikan diri bagi nama-Ku di negara naga merah besar?" ("Bab 34, Firman Tuhan kepada Seluruh Alam Semesta" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"). Ya, bunga dan rumput dan aku semua adalah ciptaan Tuhan. Tuhan menciptakan kita untuk menjadi perwujudan-Nya, untuk memuliakan-Nya. Bunga bakung mampu menambah kilau bagi kemuliaan Tuhan di bumi sebelum musim semi tiba, yang artinya mereka telah menggenapi tanggung jawab mereka sebagai sebuah ciptaan Tuhan. Tugasku hari ini adalah menaati rencana Tuhan serta menjadi saksi bagi Tuhan di hadapan Iblis. Menanggung semua penderitaan dan penghinaan ini bukan berarti aku telah melakukan pelanggaran, melainkan demi nama Tuhan. Menanggung penderitaan ini adalah sesuatu yang mulia. Semakin Iblis merendahkanku, semakin aku harus teguh berpihak pada Tuhan dan mengasihi Tuhan. Dengan demikian, Tuhan dapat meraih kemuliaan, dan aku akan menggenapi tugasku yang seharusnya sudah kugenapi. Selama Tuhan bahagia dan berkenan, hatiku juga akan menerima penghiburan. Aku bersedia menanggung penderitaan terakhir untuk menyenangkan Tuhan dan tunduk pada pengaturan Tuhan dalam segalanya. Ketika aku mulai berpikir demikian, hatiku merasa sangat tergerak, dan sekali lagi aku tidak mampu mengendalikan air mataku. Aku berdoa diam-diam kepada Tuhan: "Ya, Tuhan, Engkau benar-benar layak untuk dikasihi! Aku telah mengikuti-Mu selama bertahun-tahun, tetapi aku belum pernah merasakan kasih sayang-Mu yang lembut seperti yang kurasakan hari ini, atau merasa sedekat dengan-Mu seperti pada hari ini." Aku benar-benar lupa akan penderitaanku sendiri dan menjadi larut dalam perasaan terharu ini untuk waktu yang sangat amat lama …

Suhu sangat rendah pada hari keenam di rumah tahanan. Karena polisi yang jahat telah menyita jaketku yang berisi kapas, aku hanya mengenakan kaos lengan panjang dan akhirnya terkena pilek. Aku terserang demam tinggi dan tidak dapat berhenti batuk. Pada waktu malam, aku menyelimuti tubuhku sendiri dengan selembar selimut yang usang, menahan siksaan dari penyakitku sembari berpikir tentang perlakuan buruk dan pelecehan yang tiada henti dari para tahanan lainnya. Aku merasa sangat sedih dan tak berdaya. Ketika kesengsaraanku menjadi tak tertahankan, aku berpikir mengenai doa Petrus yang murni dan tulus di hadapan Tuhan: "Sekalipun aku telah mengalami ratusan ujian dan kesengsaraan, dan bahkan telah mendekati ajal, semua itu telah menolongku untuk sungguh-sungguh mengenal Engkau dan memperoleh keselamatan tertinggi. Seandainya hajaran, penghakiman, dan disiplin-Mu meninggalkanku, aku akan hidup dalam kegelapan, di bawah wilayah kekuasaan Iblis. Apa faedah yang dimiliki daging manusia? Jika hajaran dan penghakiman-Mu meninggalkan aku, rasanya sama seperti Roh-Mu telah beranjak dariku, seolah-olah Engkau tidak lagi bersamaku. Jika demikian, bagaimana aku bisa terus hidup?" ("Pengalaman Petrus: Pengetahuannya tentang Hajaran dan Penghakiman" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"). Kata-kata ini memberiku iman dan kekuatan. Petrus tidak memikirkan penderitaan daging. Apa yang dia hargai, apa yang benar-benar dia pedulikan, adalah penghakiman dan hajaran Tuhan. Apa yang dia kejar adalah untuk mengalami penghakiman dan hajaran Tuhan sehingga dia bisa ditahirkan dan akhirnya mencapai ketaatan sampai mati, dan kasih tertinggi kepada Tuhan. Aku tahu bahwa aku harus melakukan pengejaran yang sama seperti Petrus, bahwa Tuhan telah mengizinkan aku untuk ditempatkan dalam situasi itu. Meskipun aku mengalami penderitaan daging, itu adalah kasih Tuhan yang datang atasku. Tuhan ingin menyempurnakan iman dan tekadku dalam menghadapi penderitaan. Aku benar-benar tersentuh setelah memahami niat tulus Tuhan, dan aku membenci betapa lemahnya, betapa egoisnya aku. Aku merasa aku berhutang banyak kepada Tuhan karena tidak memperhatikan kehendak-Nya, dan aku bersumpah bahwa betapapun beratnya penderitaanku, aku akan menjadi kesaksian dan memuaskan Tuhan. Keesokan harinya, demam tinggiku secara ajaib mereda. Aku bersyukur kepada Tuhan di dalam hatiku.

Suatu malam, seorang pedagang datang ke jendela dan kepala sel membeli banyak daging babi, daging anjing, paha ayam, dan semacamnya. Pada akhirnya, dia menyuruhku untuk membayar. Aku mengatakan bahwa aku tidak punya uang, lalu dia berkata dengan jahat: "Jika engkau tidak punya uang, aku akan menyiksamu pelan-pelan!" Keesokan harinya, dia menyuruhku mencuci seprei, pakaian, dan kaos kaki. Para petugas lapas di rumah tahanan itu juga menyuruhku mencuci kaos kaki mereka. Di rumah tahanan, aku harus menanggung pukulan-pukulan mereka hampir setiap hari. Setiap kali aku tidak dapat menanggungnya lagi, aku akan memikirkan firman Tuhan: "Engkau harus melakukan tugas terakhirmu bagi Tuhan selama waktumu di bumi. Di masa lalu, Petrus disalibkan terbalik demi Tuhan; tetapi engkau harus memuaskan Tuhan pada akhirnya, dan menghabiskan seluruh tenagamu untuk kepentingan-Nya. Apa yang bisa dilakukan seorang makhluk ciptaan atas nama Tuhan? Karena itu, engkau harus menyerahkan dirimu kepada Tuhan, lebih cepat lebih baik, agar Dia memakaimu seperti yang Dia inginkan. Asalkan Tuhan bahagia dan senang, biarkan Dia melakukan apa yang Dia mau denganmu. Apa hak manusia untuk mengeluhkannya?" ("Bab 41, Penafsiran Rahasia Firman Tuhan kepada Seluruh Alam Semesta" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"). Firman Tuhan memberiku. Walaupun dari waktu ke waktu aku masih menjadi sasaran serangan, pelecehan, cercaan, dan pukulan para tahanan lain, dengan tuntunan firman Tuhan, aku dihibur di dalam dan tidak merasa sakit lagi.

Satu kali, seorang petugas lapas membawaku ke kantornya. Aku melihat lebih dari selusin orang yang memandangiku dengan tatapan aneh. Salah seorang dari mereka memegang sebuah kamera video di depanku agak ke kiri, sementara seorang yang lain berjalan ke arahku dengan mikrofon, bertanya: "Mengapa Anda percaya pada Tuhan Yang Mahakuasa?" Saat itulah, aku menyadari bahwa ini adalah sebuah wawancara media, sehingga aku menjawab dengan kerendahan hati sekaligus rasa bangga: "Sejak kecil, aku telah menjadi sasaran bagi perundungan dan sikap dingin orang lain, dan aku telah melihat bagaimana orang saling menipu dan memanfaatkan satu sama lain. Aku merasa bahwa masyarakat ini terlalu gelap, terlalu berbahaya; orang menjalani kehidupan yang hampa dan menyedihkan, tanpa ada sesuatu yang dinantikan dan tanpa tujuan hidup. Kemudian, ketika seseorang mengabarkan injil dari Tuhan Yang Mahakuasa kepadaku, aku mulai mempercayainya. Setelah percaya kepada Tuhan Yang Mahakuasa, saya merasa orang-orang percaya lainnya memperlakukan saya seperti keluarga. Tidak seorang pun di Gereja Tuhan Yang Mahakuasa merancang sesuatu yang jahat terhadap saya. Setiap orang saling mengerti dan memperhatikan. Mereka menjaga satu sama lain, dan tidak takut mengatakan apa yang ada di benak mereka. Di dalam firman Tuhan Yang Mahakuasa aku telah menemukan tujuan dan nilai kehidupan. Saya rasa percaya kepada Tuhan adalah hal yang cukup baik." Reporter itu kemudian bertanya: "Anda tahu mengapa Anda di sini sekarang?" Aku menjawab: "Sejak percaya kepada Tuhan Yang Mahakuasa, saya sudah tidak begitu memperhatikan nama dan keuntungan duniawi, dan saya merasa bahwa hal-hal ini hampa dan tak bermakna. Hanya bila saya dapat menjadi seorang yang baik dan mengambil jalan yang benar saya dapat hidup dengan cara yang benar. Hati saya semakin mengarah kepada kebaikan, dan saya semakin bersedia menjadi seorang pribadi yang baik. Melihat bagaimana firman Tuhan Yang Mahakuasa dapat benar-benar mengubah orang dan menuntun orang untuk mengambil jalan yang benar, saya berpikir bahwa jika semua umat manusia dapat percaya pada Tuhan, maka negara kita akan jauh lebih teratur dan tingkat kejahatan akan turun. Karena itu, saya telah memutuskan untuk menceritakan kabar baik ini kepada orang lain, tetapi saya tidak pernah tahu bahwa perbuatan sebaik ini akan dilarang di Tiongkok. Dan, karena itu, saya ditangkap dan dibawa ke sini." Sang reporter melihat bahwa jawaban-jawabanku tidak menguntungkan bagi mereka, sehingga dia segera menghentikan wawancara dan pergi. Pada waktu itu, wakil kepala Pasukan Keamanan Nasional begitu marah hingga dia terus-menerus menghentak-hentakkan kakinya. Dia menatapku dengan penuh kemarahan, menggertakkan giginya dan berbisik: "Tunggu dan lihat saja!" Namun, aku sama sekali tidak takut terhadap ancaman atau intimidasinya. Sebaliknya, aku merasa sangat terhormat karena telah mampu bersaksi bagi Tuhan dalam kesempatan seperti itu, dan terlebih lagi aku memberikan kemuliaan kepada Tuhan demi meninggikan nama-Nya dan mengalahkan Iblis. Suatu pagi, seorang petugas lapas secara khusus menyampaikan selembar surat kabar. Para tahanan menyeringai dengan amat jahat ketika mereka dengan nada mengejek membaca keras-keras isi surat kabar yang menghina dan menghujat Tuhan Yang Mahakuasa. Aku begitu marah sampai-sampai gigiku mulai bergertak. Para tahanan mendatangiku untuk menanyakan kepadaku tentang apakah hal itu, dan aku menjawab keras-keras: "Ini adalah pencemaran nama baik oleh Partai Komunis!" Mendengarkan para tahanan yang hanya membeo apa yang ditulis oleh surat kabar ini, mengatakan hal-hal yang tidak benar dan menghujat Tuhan dengan menggunakan bahasa yang sama seperti iblis, aku rasanya melihat datangnya ajal mereka. Karena dosa menghujat Tuhan tidak pernah akan terampuni, siapa pun yang menentang watak Tuhan akan menerima hukuman dan pembalasan dari Tuhan! Dengan melakukan ini, Partai Komunis membawa semua rakyat Tiongkok menuju kehancuran mereka, dan memaparkan sepenuhnya wajahnya yang sejati sebagai roh jahat pemangsa jiwa!

Di kemudian hari, polisi yang bertanggung jawab atas kasusku kembali menginterogasiku. Kali ini, dia tidak menggunakan siksaan untuk mencoba memaksaku mengaku, dan alih-alih berubah memakai wajah yang "baik hati" untuk menanyaiku: "Siapa pemimpinmu? Aku akan memberimu satu kesempatan lagi. Jika engkau memberitahu kami, engkau akan baik-baik saja. Aku akan memberimu kelonggaran besar. Engkau sebenarnya tidak bersalah, tetapi orang lain mengkhianatimu. Jadi, mengapa engkau melindungi mereka? Engkau kelihatannya orang yang baik. Mengapa mau mengorbankan hidupmu bagi mereka? Jika engkau memberitahu kami, engkau boleh pulang. Untuk apa tinggal di sini dan menderita?" Kaum munafik bermuka dua ini melihat bahwa cara yang keras tidak berhasil, sehingga mereka memutuskan untuk mencoba pendekatan yang lembut. Mereka benar-benar penuh dengan tipu daya yang licik dan merupakan dedengkot akal bulus dan manuver! Wajah munafiknya mengisi hatiku dengan kebencian terhadap gerombolan roh jahat ini. Aku berkata kepadanya: "Aku sudah mengatakan semua yang kutahu. Aku tidak tahu apa-apa lagi." Dia melihat pendirianku yang teguh dan bahwa dia tidak dapat mengorek apa pun dariku: dia pun pergi dengan kesal.

Setelah ditahan di rumah tahanan selama setengah bulan, aku dibebaskan hanya setelah polisi meminta keluargaku membayar 8.000yuan sebagai uang jaminan. Namun, mereka memperingatkanku untuk tidak pergi ke mana-mana dan bahwa aku harus tinggal di rumah dan menyatakan siap untuk dipanggil sewaktu-waktu. Pada hari aku dibebaskan, para tahanan berkata: "Tuhanmu sungguh mengagumkan. Kami bukan orang sakit, tetapi kami semua menjadi orang yang sakit di sini. Engkau datang ke sini penuh dengan penyakit, tetapi kini engkau pergi tanpa sakit apa pun. Selamat untukmu!" Pada saat ini, hatiku menjadi semakin bersyukur dan penuh pujian terhadap Tuhan! Pamanku adalah seorang penjaga penjara. Dia terus-menerus curiga bahwa aku dibebaskan karena ayahku punya koneksi khusus dengan seorang yang berkuasa, sebab jika tidak, mustahil aku dibebaskan dari penjara keamanan tingkat tinggi dalam waktu setengah bulan—setidak-tidaknya mestinya tiga bulan. Segenap keluargaku tahu betul bahwa ini ditentukan oleh kemahakuasaan Tuhan dan bahwa Tuhan menunjukkan pekerjaan-Nya yang ajaib atasku. Aku melihat dengan jelas bahwa ini adalah persaingan antara Tuhan dan Iblis. Tidak peduli betapa biadab dan jahatnya Iblis, dia akan selalu dikalahkan oleh Tuhan. Sejak saat itu, aku menjadi yakin bahwa segala sesuatu yang saya jumpai adalah bagian dari penetapan Tuhan. Kemudian, dengan tuduhan tidak berdasar yaitu "mengganggu ketertiban sosial," Partai Komunis Tiongkok menghukumku dengan hukuman penjara satu tahun, diskors selama dua tahun.

Setelah mengalami penganiayaan dan kesusahan ini, aku memiliki sebuah pemahaman dan dapat mengenali wajah iblis dan hakikat jahat Partai Komunis Tiongkok, serta mengembangkan rasa benci yang mendalam terhadapnya. Partai Komunis memakai kekerasan dan kebohongan untuk melindungi posisinya sebagai penguasa; Mereka dengan membabi-buta menekan dan menganiaya orang-orang yang percaya kepada Tuhan. Mereka memakai setiap tipu daya yang ada untuk menghalangi dan mengganggu pekerjaan Tuhan di bumi, dan membenci kebenaran sampai ke akarnya. Mereka adalah musuh terbesar Tuhan dan juga musuh orang-orang di antara kita yang adalah orang percaya. Setelah melewati kesusahan ini, aku dapat melihat bahwa hanya firman Tuhanlah yang dapat memberiku iman dan kekuatan, serta memungkinkanku untuk dengan terus berpegang erat pada hidup. Terima kasih Tuhan karena telah melindungiku melewati hari-hari tergelap dan tersulit itu. Kasih-Nya terhadapku terlalu besar!"

Sekarang bencana terjadi di mana-mana, dan Tuhan Yesus telah datang kembali! Inginkah saudara-saudari menyambut Tuhan dan dilindungi oleh Tuhan di tengah-tengah bencana? Bergabung dalam pertemuan online. Membawa saudara-saudari menemukan cara-cara untuk menyambut Tuhan Yesus. Selamat datang untuk menghubungi kami.

Konten Terkait

Melaporkan atau Tidak

Tuhan Yang Mahakuasa berkata: "Demi nasibmu, engkau semua harus mencari perkenanan Tuhan. Dengan kata lain, karena engkau semua mengakui...

Cara Hidup yang Luar Biasa

Saat kecil, aku diajari untuk tidak berterus terang kepada orang lain, dan jangan pernah "membuat masalah". Itulah pendekatanku dalam...