Aplikasi Seluler mengenai Gereja Tuhan Yang Mahakuasa

Mendengarkan suara Tuhan dan menyambut kedatangan Tuhan Yesus kembali!

Kami persilakan semua pencari kebenaran untuk menghubungi kami.

Inilah Orang yang Sungguh-sungguh Baik

25

Moran Kota Linyi, Provinsi Shandong

Sejak kecil, aku selalu sangat mementingkan cara orang lain memandangku dan penilaian mereka terhadapku. Supaya bisa dipuji orang lain dalam segala hal yang aku lakukan, aku tidak pernah berdebat dengan siapa pun setiap kali timbul masalah agar tidak menghancurkan citra diriku yang baik di mata orang lain. Setelah menerima pekerjaan Tuhan pada di akhir zaman, aku masih hidup seperti ini, sebisa mungkin menjunjung citra baikku di mata saudara dan saudariku. Dahulu, ketika aku bertanggung jawab atas pekerjaan, pemimpinku sering berkata bahwa kinerjaku seperti orang dengan prinsip "asal bapak senang", bukan seperti orang yang melakukan kebenaran. Aku tidak pernah memasukkan komentar itu ke dalam hati, malah berpikir jika orang menganggapku orang baik, aku sudah merasa puas.

Suatu hari, aku membaca paragraf berikut: "Jika dalam keyakinanmu kepada Tuhan kau tidak mencari kebenaran, meskipun engkau tidak melakukan pelanggaran, engkau belum sungguh-sungguh menjadi orang baik. Mereka yang tidak mencari kebenaran jelas tidak memiliki kesadaran akan kebenaran, juga tidak bisa mencintai atau membenci apa yang Tuhan cintai atau benci. Mereka jelas tidak dapat berdiri di sisi Tuhan, apalagi layak bagi Tuhan. Jika demikian, bagaimana orang-orang yang tidak benar dapat disebut orang baik? Mereka yang oleh orang awam digambarkan berprinsip "asal bapak senang" tidak hanya tidak memiliki rasa kebenaran, tapi mereka juga tidak punya tujuan hidup. Mereka hanyalah orang-orang yang tidak pernah ingin menyinggung siapa pun, tetapi apa nilai mereka? Orang yang sungguh-sungguh baik berarti seseorang yang menyukai hal-hal positif, mencari kebenaran dan mendambakan terang, orang yang dapat membedakan baik dan jahat serta memiliki tujuan yang yang benar dalam hidup; hanya orang-orang seperti inilah yang dicintai Tuhan" ("Untuk Melayani Tuhan, Kita Harus Belajar Membedakan Berbagai Jenis Orang" dalam Catatan Tahunan Persekutuan dan Pengaturan Kerja). Setelah membaca kata-kata ini, aku mendadak melihat terang. Sekarang, aku tahu orang baik bukanlah orang yang bicara manis dengan orang kebanyakan dan tidak berdebat atau bertengkar dengan mereka, atau orang yang bisa memberikan kesan baik kepada saudara dan saudarinya serta mendapat penilaian yang baik dari mereka. Orang yang sungguh-sungguh baik adalah mereka yang menyukai hal-hal positif serta mencari kebenaran dan keadilan, memiliki tujuan nyata dalam hidup, memiliki rasa kebenaran, dapat membedakan baik dan jahat, mencintai apa yang Tuhan cintai dan membenci apa yang Tuhan benci, serta rela memberikan segalanya dalam melaksanakan tugas-tugas mereka dan memiliki tekad serta keberanian untuk mengabdikan hidup mereka pada kebenaran dan kejujuran. Sedangkan tindakanku sendiri, di mana letak keadilannya? Setiap kali saudara atau saudari kembali dari Penginjilan dan bercerita tentang kesulitannya, aku tidak bisa tidak ikut mengeluh, merasa penginjilan itu tidak mudah dan benar-benar berat, dan tanpa sadar menuruti keinginan daging dan tidak ingin bersekutu lagi. Ketika melihat masalah di gereja mengenai hal-hal seperti penyebaran konsep tentang Tuhan, jika masalah-masalah itu serius, aku akan bersekutu dengan kata-kata diplomatis untuk menyelesaikannya; jika tidak serius, aku akan mengabaikan masalah tersebut dengan pura-pura tidak tahu karena takut orang lain akan mencelaku jika tidak mengatakan hal yang tepat. Ketika melihat rekanku melakukan beberapa hal yang sama sekali tidak benar atau tidak peduli dengan sekitarnya, akuingin membahas masalah tersebut dengannya, tetapi lalu berpikir, "Bisakah dia menerimanya jika aku membahas masalah ini? Tidak sepadan rasanya merusak hubungan baik kami cuma gara-gara masalah kecil. Aku akan menunggu lain waktu saja untuk membahasnya." Dengan cara ini, aku mencari-cari alasan untuk diri sendiri agar dapat menghindarinya.

Sekarang, aku tahu bahwa aku hanya cocok menjadi orang baik menurut kriteria orang duniawi, yang hanya berprinsip "asal bapak senang" di mata orang kebanyakan: orang yang tidak pernah ingin menyinggung siapa pun dan sama sekali bukan orang baik dengan sukacita Tuhan yang menyukai hal-hal positif, mencari kebenaran, dan memiliki keadilan. Aku menganggap kesan orang lain terhadap diriku lebih penting daripada memperoleh kebenaran, dan merasa puas bisa membuat orang memujiku. Bagaimana mungkin aku menjadi orang yang memiliki tujuan hidup yang benar? Bisakah pujian orang lain mencerminkan kalau aku telah memperoleh kebenaran? Bisakah penilaian baik orang lain terhadap diriku mencerminkan kalau aku memiliki kehidupan? Jika aku percaya kepada Tuhan, tetapi tidak mencari kebenaran atau keadilan, tidak berupaya mengubah watak, tetapi malah selalu mengejar reputasi sendiri dan menyelamatkan muka sendiri, apa nilai dari semuanya itu ketika mengikuti Tuhan? Apa yang bisa aku dapatkan kalau aku terus mengikut cara ini sampai akhir? Aku adalah ciptaan yang benar-benar rusak. Jika aku memang memperoleh penghormatan semua orang dan memiliki status di mata mereka, aku seharusnya sudah menjadi malaikat yang ingin merebut posisi Tuhan? Bukankah aku telah menjadi musuh Tuhan? Bukankah orang seperti ini yang dulu melakukan dosa maut di mata Tuhan? Mereka yang diselamatkan dan disempurnakan Tuhan adalah orang-orang yang benar-benar baik, yang mencari kebenaran dan keadilan. Mereka bukan orang-orang tak bertanggung jawab yang tidak bisa membedakan baik dan jahat, tidak benar-benar memahami kasih dan kebencian, dan tidak memiliki keadilan, apalagi orang-orang jahat yang hanya peduli reputasi sendiri dan memusuhi Tuhan. Jika aku terus menerima persepsi orang kebanyakan tentang apa itu orang baik sebagai kriteria untuk perilakuku sendiri, aku akan dibinasakan dan dihukum oleh Tuhan.

Ya Tuhan! Aku bersyukur atas bimbingan dan pencerahan-Mu yang memberiku pengertian tentang makna menjadi orang yang benar-benar baik, dan lebih memungkinkan aku melihat anggapanku yang salah dan ketidaktahuanku sendiri, serta mengakui pemberontakan dan penolakanku sendiri. Ya Tuhan! Mulai hari ini, aku akan menjadikan "carilah kebenaran dan keadilan" sebagai kriteria untuk perilakuku, untuk menyelami kebenaran, berusaha mengubah watakku dan berjuang menjadi orang yang sungguh-sungguh baik, yang dapat dengan jelas membedakan kasih dan kebencian dan memiliki keadilan.

media terkait