Aplikasi Seluler mengenai Gereja Tuhan Yang Mahakuasa

Mendengarkan suara Tuhan dan menyambut kedatangan Tuhan Yesus kembali!

Kami persilakan semua pencari kebenaran untuk menghubungi kami.

Pembicaraan Singkat Mengenai Sumber Kegelapan dan Kejahatan Dunia

6

Yang Le Kota Wuhai, Wilayah Otonomi Mongolia Bagian Dalam

Waktu aku masih sekolah, ayahku jatuh sakit dan meninggal dunia. Setelah beliau meninggal, paman dari kedua keluarga ibu dan ayahku, yang dulunya sering dibantu oleh ayahku, bukan hanya mengabaikan kami yaitu ibuku yang tidak memiliki sumber penghasilan, kedua saudariku dan aku sendiri—mereka justru melakukan segala upaya untuk mengeruk keuntungan dari kami—bahkan berebut sedikit harta warisan yang ditinggalkan ayah kami. Dihadapkan dengan sikap kerabatku yang acuh tak acuh dan segala hal yang mereka lakukan, yang tidak pernah aku sangka-sangka, aku merasa sangat sakit hati dan tidak berdaya membendung kebencian terhadap kurangnya hati nurani dan perasaan yang ditunjukkan oleh kerabat kami itu, dan di saat yang sama aku juga mulai memahami betapa plin-plannya sifat dasar manusia. Setelah itu, setiap kali aku melihat kejadian di masyarakat bahwa ada anggota keluarga yang saling bertengkar karena masalah uang, atau orang-orang merampok dan membunuh karena uang, aku sering meratap bahwa dunia hari-hari ini begitu penuh dengan kegelapan, bahwa hati manusia benar-benar jahat dan dunia ini sungguh berubah-ubah. Saat itu, aku memikirkan alasan mengapa dunia begitu penuh dengan kegelapan adalah karena manusia zaman sekarang telah menjadi buruk, bahwa mereka tidak lagi punya hati nurani dan terlalu banyak orang yang jahat di dunia ini. Setelah itu, hanya dengan makan dan minum Firman Tuhan barulah aku saadar bahwa apa yang telah aku pikirkan baru menggores permukaannya saja, dan bukan merupakan sumber kegelapan dan kejahatan di dunia. Dari Firman Tuhan aku melihat dengan jelas sumber kegelapan dan kejahatan di dunia yang sebenarnya.

Firman Tuhan berkata: “Sebelum dia dirusak oleh Iblis, manusia secara alami mengikuti Tuhan dan taat kepada firman Tuhan setelah mendengarkannya. Dia secara alami memiliki akal dan hati nurani yang sehat, juga kemanusiaan yang normal. Setelah dirusak oleh Iblis, akal, hati nurani, dan kemanusiaannya yang asli menjadi tumpul dan dilemahkan oleh Iblis. Jadi, dia telah kehilangan ketaatan dan kasihnya kepada Tuhan. Akal manusia telah menyimpang, wataknya telah menjadi serupa dengan binatang, dan pemberontakannya terhadap Tuhan semakin sering dan memilukan. Namun, manusia masih tidak tahu atau mengakui hal ini, dan hanya menentang dan memberontak tanpa berpikir” (“Memiliki Watak yang Tidak Berubah Berarti Memusuhi Tuhan” dalam “Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia”). “Pengetahuan beberapa ribu tahun tentang budaya kuno dan sejarah telah menutup pikiran dan gagasan dan pandangan mental manusia dengan ketat sehingga sukar ditembus dan tidak dapat diubah[1]. … Etika feodal telah membawa hidup manusia ke dalam ‘dunia orang mati’ sehingga manusia bahkan tidak memiliki kemampuan lagi untuk melawan. Berbagai macam tekanan memaksa manusia untuk secara bertahap jatuh lebih dalam ke dalam dunia orang mati. … Pengetahuan tentang budaya kuno telah diam-diam mencuri manusia dari hadirat Tuhan dan menyerahkan manusia kepada raja iblis dan anak-anaknya. The Four Books dan Five Classics (buku-buku yang memuat ajaran Konfusius) telah membawa pikiran dan konsep manusia ke dalam zaman pemberontakan lain, menyebabkan manusia semakin jauh menyembah mereka yang menulis buku-buku itu, membuat gagasan mereka tentang Tuhan semakin jauh. Raja iblis dengan kejam mengusir Tuhan dari hati manusia tanpa mereka menyadarinya, dan pada saat yang sama ia dengan gembira menguasai hati manusia. Dari sejak saat itu, manusia memiliki jiwa yang jelek dan jahat dengan wajah si raja Iblis. Kebencian terhadap Tuhan memenuhi dada mereka dan kejahatan raja Iblis menyebar dalam diri manusia hari demi hari…. Ia dan para kaki-tangan[2] nya! Mereka turun ke antara manusia fana untuk memuaskan keinginan mereka dan menciptakan kekacauan. Gangguan yang mereka timbulkan menyebabkan ketidakteraturan di dunia dan membawa kepanikan dalam hati manusia, dan semua itu telah mengganggu manusia sehingga manusia menjadi sama seperti binatang yang buruk rupa, tidak lagi memiliki sedikit pun jejak manusia kudus yang semula” (“Pekerjaan dan Jalan Masuk (7)” dalam “Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia”). Dari firman Tuhan ini, aku paham bahwa manusia yang telah Tuhan ciptakan, pada mulanya patuh kepada Tuhan, mereka menyembah Dia, mereka memiliki hati nurani dan akal layaknya manusia biasa, dan mereka belum dinodai dan belum melakukan kejahatan apa pun. Setelah manusia dirusak Iblis, mereka terjerumus dalam wilayah kekuasaan Iblis dan mulai berbuat dosa serta menentang Tuhan. Selama ribuan tahun, Iblis terus mengganggu dan merusak manusia. Ia menanamkan pikiran-pikiran dan teori yang reaksioner dalam diri manusia, sehingga manusia hidup bergantung kepada racunnya, dan akhirnya menjadi semakin rusak dan bejat, dan dunia ini menjadi kian gelap dan jahat. Kata-kata seperti “Semua orang memikirkan dirinya sendiri dan tidak memedulikan orang lain,” “Mengapa bangun di pagi hari kalau tidak ada untungnya bagiku?” “Manusia mati demi uang, burung mati demi makanan,” “Pikiran picik tidak menjadikan orang berbudi, manusia sejati bukanlah tak berbisa,” “Bersenang-senanglah, karena hidup itu singkat,” “Tidak pernah ada Juru Selamat,” dan “Sama sekali tidak ada Tuhan di bumi ” semuanya adalah racun yang ditanamkan dalam diri manusia oleh Iblis. Semua kata-kata itu menjadi bagian hidup manusia dan aturan hidup mereka, sehingga tidak ada seorang pun yang percaya akan keberadaan Tuhan, tidak ada lagi orang yang menyembah Surga, dan tidak ada lagi orang yang mendengarkan akal sehat atau hati nurani mereka. Tidak ada lagi tempat bagi Tuhan dalam hati manusia, dan tidak ada lagi larangan menurut hukum dan peraturan yang datang dari Tuhan. Manusia semuanya telah diracuni dan dikendalikan oleh Iblis, sehingga mereka menjadi semakin berbahaya, egois, penuh kebencian, serakah, angkuh, dan bahkan semakin jahat dan tak bermoral, semaunya, tidak taat hukum, tidak ber-Tuhan, dan busuk. Mereka telah menjadi iblis berwujud manusia yang tidak memiliki hati nurani, moralitas, sifat dasar manusia, di mana kejahatan menjadi kebiasaan. Lebih khususnya, “Semua orang memikirkan dirinya sendiri dan tidak mempedulikan orang lain” adalah racun mematikan yang ditanamkan oleh Iblis dalam diri manusia. Aku mengembangkan pemahaman mendalam tentang hal ini dari paman-pamanku . Manusia hanya hidup untuk memenuhi kepentingan mereka sendiri, menempatkan laba di atas segala sesuatunya dan berpikir “Mengapa bangun di pagi hari kalau tidak ada untungnya bagiku?” Untuk memperoleh keuntungan yang lebih banyak dan lebih besar, manusia dapat melakukan kejahatan atau kekejian apa pun, membuat kesepakatan yang tidak tahu malu, patut dibenci atau tidak jujur. Tidak ada cinta sejati atau kasih sayang di antara manusia – semua orang hanya menipu, memanfaatkan dan menyakiti satu sama lain. Para anggota dari keluarga yang sama dapat kehilangan kasih sayangsatu sama lain dan saling bermusuhan, saling bertengkar memperebutkan uang dan kepentingan. Terlebih lagi, kerabat dan teman-teman dapat melupakan semua prinsip moral mereka demi keuntungan; mereka mungkin terlihat seperti manusia, tetapi mereka berhati binatang. … Manusia dapat melakukan hal-hal keji ini karena mereka telah diracuni oleh kata-kata Iblis “Semua orang memikirkan dirinya sendiri dan tidak usah peduli kepada orang lain,” dan berada di bawah kekuasaannya. Dapat dilihat bahwa sumber kelakuan jahat manusia adalah racun Iblis, dan inilah sumber segala kegelapan di dunia.

Kita hidup di dalam dalam sekian banyak fenomena, kita dapat melihat kegelapan dunia dengan sangat mudah. Kita dapat berkata bahwa orang-orang yang memimpin tren dunia hari-hari ini adalah perwujudan Iblis. Khususnya mereka yang memiliki kuasa dan wewenang, adalah pangeran-pangeran Iblis, dan di antara mereka ada naga merah yang besar, yang memiliki kuasa paling gelap dan jahat. Sejak naga merah yang besar mengambil alih kekuasaan, ia telah mengerahkan segenap kekuatannya untuk merusak manusia, merusak mereka sehingga mereka menjadi iblis dalam bentuk manusia, agar manusia tidak menyerupai manusia. Naga merah yang besar itu memuja kekerasan dan menyokong revolusi. Ia menggunakan kekerasan untuk mengambil alih kekuasaan dan untuk memerintah seluruh bangsa. Mereka yang tinggal di dalam wilayah kekuasaannya juga menikmati kekerasan dan terus menggunakan kekerasan untuk menyelesaikan setiap masalah, seringkali bertengkar tentang hal yang paling kecil. Ada lebih banyak kasus perampokan dan pembunuhan yang membuat orang-orang naik darah, dan cara-cara manusia dibunuh pun semakin kejam dan menjijikkan. Ini semua adalah fakta yang dapat dilihat semua orang. Sang naga merah yang besar menuntun rakyatnya untuk “mengembangkan ekonomi,” dan memuja kata-kata seperti “Tidak penting apakah kucingnya berwarna hitam atau putih, yang penting ia bisa menangkap tikus,” “Pelacuran lebih baik daripada kemiskinan,” “Dengan uang, kamu dapat memperbudak sang Iblis,” “Kamu bisa hidup tanpa segala sesuatu, tetapi tidak bisa hidup tanpa uang” dan “Uang dapat melakukan segala hal.” Dengan pembelaan yang demikian kuat, orang-orang menjadi hormat terhadap uang dan kekuasaan, siapa pun yang memiliki banyak uang dan kekuasaan dapat hidup makmur, dan siapa pun yang tidak memiliki uang atau kekuasaan hanya akan dianiaya dan harus menelan semua kepedihan mereka, sehingga pada akhirnya hati manusia hanya dipenuhi oleh uang. Demi uang, ikatan kekeluargaan dilupakan. Demi uang dan kekuasaan orang-orang rela menerima dan melakukan suap, memperjualbelikan pejabat, merampok, menipu, membunuh orang dan merampas harta mereka, berkelahi dan saling membunuh – bisa dikatakan bahwa mereka akan menggunakan segala cara. Selain itu, pelacuran sudah mendarah daging di tengah-tengah masyarakat sekarang ini, dan tempat-tempat pelacuran dan narkoba terlihat di mana-mana. Penyuapan dan transaksi seksual menjadi mode dan orang-orang terpaut kejahatan, menghormati kejahatan, tidak berpikir bahwa hal itu memalukan, malahan menganggapnya mulia. Ini juga merupakan hasil pembangunan ekonomi, yang membuat hubungan antarmanusia sebagai hubungan uang. Naga merah yang besar menggunakan hal ini untuk merusak moral orang-orang dan membuat mereka tidak punya hati nurani. Aspek yang paling gelap dan reaksioner dari hal ini adalah bahwa naga merah yang besar tidak mengakui adanya Tuhan, melainkan terus menyebarkan ateisme agar orang-orang menyangkal Tuhan, menyangkal kedaulatan-Nya, meninggalkan Tuhan yang sejati dan menyembah Iblis. Mereka yang hidup menurut tipu daya dan kesesatan naga merah yang besar tidak percaya adanya Tuhan dan tidak menyembah Tuhan yang sejati, tetapi justru mengikuti Iblis, menghormati kejahatan dan keluar dari jalan kebenaran sehingga mereka semakin rusak dan tak bermoral. … Sekarang aku dapat melihat dengan lebih jelas bahwa akibat “model” naga merah yang besar ini, manusia menjadi begitu rusak dan jahat, tanpa hati nurani mau pun kemanusiaan. Akar semua kehancuran ini berada sepenuhnya pada naga merah yang besar. Penghulu penjahat yang menciptakan kejahatan di hati manusia, moral yang rusak dan kebimbangan dunia di masyarakat zaman sekarang adalah si naga merah yang besar; pengambilalihan kekuasaan oleh si naga merah yang besar adalah akar penyebab semua kegelapan dan kejahatan dunia. Jika si naga merah yang besar berkuasa untuk satu hari saja, jika Iblis tidak diberantas suatu hari nanti, maka umat manusia tidak akan dapat hidup dalam terang dan dunia ini tidak akan lagi mengenal damai.

Setelah melihat kegelapan dan kejahatan naga merah yang besar dan bagaimana ia merusak dan menginjak-injak orang-orang di bawah kakinya, aku semakin merasakan kekudusan dan keindahan Kristus. Hanya Kristus yang dapat menyelamatkan manusia dan membantu mereka keluar dari tempat yang gelap dan jahat ini, dan hanya saat Kristus mengambil alih kekuasaan-lah maka terang dapat dibawa kepada umat manusia. Karena hanya Tuhan saja memiliki hakikat yang indah dan baik, hanya Tuhan-lah sumber kebenaran dan terang, Tuhan adalah satu-satunya lambang yang tidak dapat dikalahkan atau dicemari oleh semua kegelapan dan kejahatan, hanya Tuhan yang dapat mengubah wajah lama seluruh dunia dan membawa terang bagi bumi, dan hanya Tuhan yang dapat membawa manusia ke tempat tujuan yang mengangumkan. Tidak ada seorang pun selain Tuhan yang dapat melakukan pekerjaan ini dan tidak ada yang dapat mengalahkan atau membinasakan Iblis. Sama seperti yang dikatakan dalam firman Tuhan: “Dalam bentangan dunia yang luas ini, tak terhitung perubahan yang telah terjadi, lautan mengendap menjadi dataran, dataran membanjir menjadi lautan, terus-menerus. Selain Ia yang memerintah atas segalanya di alam semesta, tak seorang pun dapat memimpin dan menuntun umat manusia. Tidak ada orang perkasa yang dapat mengupayakan atau melakukan persiapan bagi umat manusia ini, apalagi ada orang yang dapat memimpin umat manusia ini menuju tempat tujuan terang dan membebaskan mereka dari ketidakadilan dunia” (“Tuhan adalah Sumber Kehidupan Manusia” dalam “Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia”). “Aku akan memperbaiki ketidakadilan dalam dunia manusia. Aku akan melakukan pekerjaan dengan tangan-Ku sendiri di seluruh dunia, melarang Iblis menyakiti umat-Ku lagi, melarang musuh kembali melakukan apa yang mereka suka. Aku akan menjadi Raja atas bumi dan memindahkan takhta-Ku ke sana, membuat semua musuh-Ku jatuh ke tanah dan mengakui kejahatan mereka di hadapan-Ku” (“Bab 27, Firman Tuhan kepada Seluruh Alam Semesta” dalam “Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia”). Aku melihat dalam firman Tuhan segala kemahakuasaan dan otoritas-Nya, dan hanya Tuhan yang dapat menyelamatkan kita semua yang hidup di dalam wilayah kekuasaan naga merah yang besar, dan yang selama ini selalu diinjak-injak olehnya. Karena inilah hatiku semakin rindu agar Kristus mengambil alih kekuasaan, dan agar naga merah yang besar segera binasa.

Aku bersyukur atas pencerahan firman Tuhan yang memungkinkan aku melihat sumber kegelapan dan kejahatan di dunia, yang menimbulkan kebencian yang sesungguhnya di dalam hatiku terhadap naga merah yang besar, dan yang memungkinkanaku memahami bahwa hanya Kristus yang dapat memimpin manusia keluar dari tempat gelap ini, untuk masuk ke dalam terang. Hanya dengan mengikuti Kristus dan menyembah Kristus-lah manusia dapat keluar dari penderitaan akibat Iblis. Mulai hari ini dan seterusnya, aku ingin terus mencari kebenaran dan mengikuti tuntunan Kristus, menerima firman Tuhan dan menjadikannya sebagai hidupku , membuang semua racun naga merah yang besar , menyingkirkan kendali dari pengaruh naga merah yang besar, sepenuhnya memberontak terhadap naga merah yang besar, serta meraih keselamatan dari Tuhan dan disempurnakan oleh-Nya.

Catatan kaki:

[1]. “Tidak dapat diubah” dimaksudkan sebagai sindiran di sini, yang artinya manusia itu kaku dalam pengetahuan, budaya dan pandangan spiritual mereka.

[2]. “Kaki tangan” setingkat dengan “segerombolan penjahat”.

media terkait