Aplikasi Seluler mengenai Gereja Tuhan Yang Mahakuasa

Mendengarkan suara Tuhan dan menyambut kedatangan Tuhan Yesus kembali!

Kami persilakan semua pencari kebenaran untuk menghubungi kami.

Falsafah Iblis itu Memikat dan Merusa

3

Wu You Kota Hechi, Provinsi Guangxi

Beberapa waktu lalu, gereja mengatur agar aku tinggal dengan satu keluarga tuan rumah untuk alasan pekerjaan. Ketika aku pertama kali bersekutu dengan saudara-saudari dari keluarga tuan rumah, mereka berkata, "Kami paling takut berdoa di persekutuan. Kami tahu apa yang harus kami katakan ketika kami berdoa sendiri, tetapi ketika berada dalam persekutuan doa, kami tidak tahu apa yang harus kami katakan." Ketika mendengar ini, aku berpikir: "Jika kita tidak berdoa selama persekutuan, kita tidak akan bisa menerima pekerjaan Roh Kudus, dan komunikasi kita tidak akan efektif. Kita harus berdoa!" Tetapi kemudian aku mempertimbangkan kembali, berpikir bahwa jika mereka benar-benar takut untuk berdoa, apakah mereka tidak akan membentuk opini tentang aku jika aku bersikeras agar mereka berdoa? Untuk memenuhi tugasku dalam mengedit artikel, aku harus tinggal dengan keluarga tuan rumah itu untuk jangka waktu yang lama. Bagaimana jika mereka membentuk opini tentang aku dan tidak ingin menjamuku karena aku tidak sejalan dengan keinginan mereka? Aku kira aku harus mengikuti keinginan mereka. Jadi, selama sebulan berikutnya, kami tidak pernah berdoa selama persekutuan. Ini membuat penyampaian firman Tuhan menjadi membosankan dan hambar, dan sangat kekurangan pencerahan Roh Kudus. Kami juga sering berbicara di luar topik. Secara bertahap, kondisi saudara-saudari itu menjadi kurang normal, dan mereka belum begitu ingin bersekutu. Bahkan ketika kami bersekutu, mereka selalu tertidur dan dalam kehidupan sehari-hari mereka gagal memahami pentingnya makan dan minum firman Tuhan. Mereka menonton TV setiap kali mereka punya waktu, dan tidak lagi bersikap hangat terhadapku, bahkan menjadi enggan berbicara denganku. Menghadapi situasi ini, aku merasa sangat sakit dan bingung: aku mengikuti keinginan mereka dalam segala hal, dan tidak menyinggung perasaan mereka. Mengapa mereka seperti ini?

Ketika aku benar-benar dibuat bingung oleh situasi ini, firman Tuhan mencerahkanku: "Jika engkau tidak memiliki hubungan yang benar dengan Tuhan, tidak peduli apa pun yang engkau lakukan untuk mempertahankan hubunganmu dengan orang lain, sekeras apa pun engkau bekerja, atau sebanyak apa pun energi yang engkau kerahkan, ini masih sekadar bagian dari falsafah hidup manusia saja. Engkau mempertahankan posisimu di tengah khalayak melalui perspektif dan falsafah manusia sehingga mereka akan memujimu. Engkau tidak membangun hubungan yang benar dengan orang lain sesuai dengan firman Tuhan. Jika engkau tidak memusatkan perhatian pada hubunganmu dengan orang lain, tetapi lebih mempertahankan hubungan yang tepat dengan Tuhan, jika engkau bersedia memberi hatimu kepada Tuhan dan belajar mematuhi-Nya, secara sangat alami, engkau akan memiliki hubungan yang benar dengan semua orang. … Hubungan yang benar antara manusia dibangun berdasarkan penyerahan hati kepada Tuhan; tidak dicapai melalui usaha manusia" ("Membangun Hubungan yang Benar Dengan Tuhan Sangatlah Penting" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"). Melalui firman Tuhan, aku tiba-tiba melihat terang itu. Ternyata, situasi ini muncul karena aku secara buta berfokus pada mempertahankan hubungan kedagingan antara orang-orang, dan tidak berfokus pada membangun hubungan normal dengan Tuhan. Memikirkan kembali bagaimana aku bergaul dengan keluarga tuan rumahku, menciptakan kesan yang baik terhadapku, dan bersedia menjadi tuan rumahku, aku menuruti mereka dalam segala hal dan melakukan apa pun untuk menerima mereka, tanpa mempertimbangkan prinsip kebenaran atau apakah tindakanku akan menguntungkan mereka. Ketika aku mengetahui ketakutan mereka untuk berdoa selama persekutuan, aku tidak berkomunikasi dengan mereka tentang kebenaran yang relevan untuk membantu mereka memahami arti dan pentingnya berdoa; sebaliknya, untuk melindungi kepentinganku sendiri, aku mematuhi mereka dan mempertimbangkan keinginan mereka untuk tidak berdoa selama persekutuan. Mengingat bahwa tidak ada doa, tidak ada pencarian, atau penyerahan, maka tidak ada cara untuk mencapai pencerahan Roh Kudus dan bimbingan-Nya selama persekutuan, atau cara untuk memperoleh makanan rohani melalui makan dan minum firman Tuhan. Akibatnya, situasi kami menjadi kurang normal, dan kami tidak dapat mempertahankan hubungan normal. Aku sangat sadar akan pentingnya doa. Doa membantu orang untuk digerakkan oleh Roh Tuhan, dan merupakan cara Roh Kudus bekerja. Doa dapat membantu kami memperoleh lebih banyak pencerahan dari Roh Kudus agar kami lebih memahami kebenaran. Selain itu, berdoa sebelum persekutuan selalu menjadi suatu cara untuk menunjukkan tempat Tuhan dalam hati manusia, menunjukkan bahwa manusia menghormati Tuhan di atas segalanya. Tetapi aku masih mengikuti falsafah kehidupan Iblis—"Jadilah bijaksana secara duniawi demi kelangsungan hidup pribadi"—dengan membatalkan doa untuk mempertahankan hubunganku. Hal ini menunjukkan bahwa aku sama sekali tidak memiliki tempat bagi Tuhan di dalam hatiku , dan aku benar-benar didominasi oleh falsafah Iblis di dalam hatiku. Aku selalu berusaha untuk mempertahankan hubungan lahiriah dengan orang-orang—perilaku ini berasal dari penerimaanku yang utuh terhadap falsafah Iblis "Jadilah bijaksana secara duniawi demi kelangsungan hidup pribadi." Hal ini merusak hati dan jiwaku, membuatku jadi pengecut, egois, dan tercela, menjadikanku tidak adil, dan tidak dapat melakukan kebenaran. Aku dapat mengingat berkali-kali di masa lalu ketika aku telah bersikap menentang Tuhan yang dimotivasi oleh pertahanan diri: Ketika aku memimpin gereja, aku melihat orang-orang menyebarkan gagasan tertentu, menyiarkan hal-hal yang bersifat negatif, mengganggu kehidupan gereja, tetapi aku tidak berani menghentikan mereka, karena takut jika aku mengatakan sesuatu, hal itu akan membahayakan kepentinganku. Dalam mengurus pekerjaan Injil, aku mundur pada saat saudara-saudariku mengeluh bahwa keadaannya terlalu sulit, dan aku tidak berani meminta lebih banyak dari mereka, karena takut aku akan menyinggung mereka dan kehilangan tempatku di dalam hati mereka. Dengan berbuat seperti itu, aku menyebabkan pekerjaan Injil kami menjadi tidak efektif. Saat bekerja dengan kelompok yang bertanggung jawab mengedit artikel, aku memperhatikan bahwa saudari yang menjadi rekanku itu tidak serius dengan pekerjaannya, tetapi aku takut menyatakan hal ini kepadanya, takut kalau dia tidak akan senang dan menimbulkan prasangka terhadap aku yang akan memengaruhi keharmonisan kami. … Pada saat ini, aku melihat dengan jelas bahwa dalam semua hal yang aku lakukan, fokusku selalu pada sikap dan penilaian orang lain terhadap aku. Aku menjaga tempat dan citraku di hati orang lain, dan mempertimbangkan keuntungan dan kerugianku sendiri. Dapat dikatakan bahwa aku benar-benar hidup menurut falsafah Iblis "Jadilah bijaksana secara duniawi demi kelangsungan hidup pribadi." Hal itu telah menjadi prinsip dari tindakan-tindakanku, suatu dasar bagaimana aku berfungsi sebagai seorang pribadi. Akibatnya, aku tidak mempertimbangkan prinsip atau posisi dalam segala hal yang kulakukan, melainkan hanya mau memperhatikan hal-hal yang menguntungkan diriku secara pribadi. Falsafah Iblis "Jadilah bijak secara duniawi demi kepentingan kelangsungan hidup pribadi" ini adalah prinsip negatif yang sama sekali menentang kebenaran—alat yang digunakan Iblis untuk merusak manusia. Dalam menjalani prinsip ini, orang hanya menjadi lebih curang, licik, egois, dan tercela. Mereka berangsur-angsur kehilangan ciri-ciri yang menjadikan mereka manusia sejati. Falsafah Iblis itu memikat dan merusak. Aku tidak pernah ingin hidup dengan falsafah ini lagi! Begitu aku mengenali semua ini, aku berkomunikasi dengan saudara-saudariku di keluarga tuan rumah itu tentang kebenaran doa. Begitu mereka mengerti makna dan pentingnya doa, mereka bersedia untuk berlatih berdoa selama persekutuan dan, dengan demikian situasi mereka berubah.

Menghadapi realitas situasi ini, aku belajar bahwa hidup dengan falsafah Iblis itu berbahaya dalam segala hal. Mulai sekarang, aku bersumpah untuk mengejar kebenaran dengan sepenuh hati, memperhatikan semua cara falsafah Iblis yang telah aku anut, dan berhenti hidup sesuai dengan falsafah tersebut. Aku ingin membiarkan Tuhan dan firman-Nya berkuasa di dalam hatiku dan mengambil kendali. Biarlah kebenaran berkuasa dalam hatiku sehingga aku boleh hidup dengan firman Tuhan dalam segala hal.

media terkait