Aplikasi Seluler mengenai Gereja Tuhan Yang Mahakuasa

Mendengarkan suara Tuhan dan menyambut kedatangan Tuhan Yesus kembali!

Kami persilakan semua pencari kebenaran untuk menghubungi kami.

Mengandalkan Tuhan:saya menyingkirkan ketegangan sebelum ujian

149

Oleh Saudari Xiaohuan

Ujian masuk SMA yang kutempuh pada tahun 2012 merupakan titik balik pertama dalam hidupku. Seluruh keluargaku berharap agar aku berhasil, dan aku merasa sangat yakin akan lulus ujian dan masuk ke SMA tersebut. Tidak pernah terpikirkan sama sekali dalam benakku bahwa aku akan gagal dalam ujian tersebut. Namun ternyata hal itulah yang terjadi dan aku merasa amat terpukul, dan aku tidak bisa makan ataupun tidur. Aku menutup diri di dalam kamar dan tidak ingin bertemu dengan siapa pun. Untuk waktu yang terasa amat lama, aku merasa merana dan dihantui oleh bayang-bayang kegagalan ujianku. Melihatku larut dalam kesedihan yang mendalam setiap hari, ibuku membacakan bagiku bagian firman Tuhan: “Aku cukup mengenal pikiran dan keinginan hati manusia: Siapakah yang tidak pernah mencari jalan keluar untuk diri mereka sendiri? Siapakah yang tidak pernah memikirkan masa depan mereka sendiri? Namun, sekalipun manusia memiliki intelektual yang kaya dan bermacam-macam, siapakah yang dapat memprediksi bahwa, setelah zaman-zaman yang lalu, zaman sekarang akan menjadi seperti yang sekarang ini? Apakah ini benar-benar hasil dari usaha subjektifmu sendiri? Apakah ini upah bagi usaha kerasmu yang tanpa lelah? Apakah ini tablo indah yang dibayangkan oleh pikiranmu? Jika Aku tidak membimbing seluruh umat manusia, siapakah yang akan mampu memisahkan diri mereka dari pengaturan-Ku dan mencari jalan keluar lain? Apakah pikiran dan kehendak manusia yang telah membawanya sampai ke saat ini? Banyak orang menjalani hidup tanpa mendapatkan apa yang mereka kehendaki. Apakah ini benar-benar karena kesalahan dalam pemikiran mereka? Banyak orang hidup dengan kebahagiaan dan kepuasan tidak terduga. Apakah ini sebenarnya karena mereka mengharapkan terlalu sedikit? Siapakah dari seluruh umat manusia yang tidak diperhatikan Yang Mahakuasa? Siapakah yang tidak hidup menurut apa yang telah ditetapkan sejak semula oleh Yang Mahakuasa? Siapakah yang kelahiran dan kematiannya terjadi karena pilihan mereka sendiri? Apakah manusia mengendalikan nasibnya sendiri?” (“Bab 11, Firman Tuhan kepada Seluruh Alam Semesta”). Dari firman tersebut, aku tersadar bahwa nasib kita diatur dan direncanakan oleh tangan Tuhan. Perasaan frustrasi, kegagalan, dan kemunduran yang kita alami sepanjang hidup kita tidak dapat diprediksi─semuanya berada di tangan Tuhan. Ujianku, misalnya. Aku tadinya percaya bahwa aku akan lulus dengan nilai tinggi dan berhasil masuk ke SMA impianku, tetapi ternyata aku gagal. Dari luar seakan-akan hal ini merupakan suatu kegagalan, namun Tuhan adalah Yang Berdaulat atas segala sesuatu, dan oleh karenanya, di balik peristiwa tersebut pasti terdapat kehendak Tuhan yang baik bagiku. Di bawah bimbingan firman Tuhan, aku perlahan-lahan belajar untuk tunduk kepada-Nya dan aku berhasil meninggalkan rasa sakitku. Yang mengejutkan, tepat ketika aku menjadi rela untuk tunduk pada kedaulatan dan pengaturan Tuhan dan mempercayakan masa depan dan nasibku kepada Tuhan, aku tiba-tiba diterima di sebuah sekolah kesehatan. Ketika berita ini tiba, seluruh keluargaku merasa sangat gembira dan aku mulai menyadari bahwa Tuhan berada di sisiku, bahwa Dia telah memberikan bantuan tepat pada waktunya, dan aku berterima kasih kepada Tuhan dari lubuk hatiku.

Dalam sekejap mata, masa studiku selama lima tahun di sekolah kesehatan tersebut akan segera berakhir, dan aku dihadapkan dengan titik balik kedua dalam hidupku─ujian akhir agar aku berhak memperoleh kualifikasi sebagai seorang perawat. Memperoleh kualifikasi sebagai perawat tentu saja merupakan hal yang sangat penting bagiku sebagai seorang siswi jurusan keperawatan. Tanpa kualifikasi ini, aku tidak hanya akan gagal berkarier dalam bidang keperawatan, namun hal ini juga berarti bahwa seluruh kerja kerasku belajar selama lima tahun akan menjadi sia-sia. Khususnya apabila aku teringat bagaimana ayahku telah bekerja keras sejak subuh hingga senja setiap harinya agar bisa membayar uang sekolahku, maka jika aku sampai gagal memperoleh kualifikasi sebagai perawat, aku akan merasa bahwa aku benar-benar telah mengecewakan beliau. Demi prospek masa depanku, demi harga diriku sendiri, juga demi semua pengorbanan yang telah orangtuaku lakukan bagiku, aku benar-benar harus lulus ujian tersebut dengan baik dan memperoleh ijazah perawatku. Semua hal tersebut membuatku merasa berada di bawah tekanan yang luar biasa. Selain itu, semakin dekat dengan jadwal ujian tersebut semakin aku merasa cemas, dan aku mulai berspekulasi setiap hari tentang hasil ujianku nanti. Jika aku berhasil lulus ujian dengan baik, aku akan merasa sangat bangga karena akhirnya dapat mengenakan seragam putih perawat tersebut! Namun apa yang harus kulakukan jika aku gagal? Apa yang akan dipikirkan oleh keluarga dan teman-teman dekatku? Bagaimana aku bisa berkarier di masa depan tanpa ijazah tersebut?

Sebelum ujian, aku merasa sangat cemas dan sulit bernapas karena merasa tertekan. Aku merasa sangat menderita, jadi aku mencari ibuku untuk minta nasihat beliau. Ibu berkata, “Xiaohuan, ibu bisa mengerti kalau kau merasa khawatir dan cemas tentang masa depan dan prospekmu. Tetapi semua kekhawatiran kita sama sekali tidak perlu karena segala sesuatu diatur oleh tangan Tuhan. Jika kita benar-benar dapat memahami kebenaran ini, bahwa Tuhan telah mengatur nasib seluruh umat manusia, maka kita tidak akan perlu merasakan begitu banyak kesakitan. Mari kita membaca satu bagian dari firman Tuhan, oke?” Ibu kemudian membacakan bagiku: “Sejak penciptaan dunia, Aku telah mulai menentukan dan memilih kelompok orang ini, yaitu engkau semua pada zaman sekarang. Temperamen, kualitas, rupa, tingkat pertumbuhanmu, keluarga tempatmu dilahirkan, pekerjaan dan pernikahanmu, keseluruhan dirimu, bahkan warna rambut dan kulitmu, serta waktu kelahiranmu semuanya itu diatur oleh tangan-Ku. Bahkan hal-hal yang engkau lakukan dan orang-orang yang engkau jumpai setiap hari diatur oleh tangan-Ku, belum lagi fakta bahwa yang membawamu ke dalam hadirat-Ku pada hari ini sebenarnya adalah pengaturan-Ku. Jangan membuat dirimu menjadi kacau; engkau harus melanjutkan dengan tenang” (“Bab 74, Perkataan Kristus pada Awal Mulanya”). Ibuku kemudian membagikan kebenaran ini: “Tuhan adalah Tuhan atas segala ciptaan dan kita adalah ciptaan-Nya. Nasib setiap orang, termasuk kelahiran kita, penampilan kita, kualitas kita, pekerjaan apa yang akan kita miliki di masa depan dan seterusnya, semuanya telah diatur oleh Tuhan, dan Tuhan telah menentukan dan merencanakan semuanya ini bagi kita sejak lama. Kita sekarang percaya kepada Tuhan dan kita tahu kedaulatan Tuhan dari firman-Nya, dan karenanya kita harus belajar bagaimana memercayakan seluruh diri kita kepada Tuhan dan memandang kepada-Nya, dan tunduk kepada pengaturan dan rencana Tuhan. Satu-satunya yang harus kita lakukan adalah belajar dengan sungguh-sungguh dan memercayakan hasil ujian keperawatan ini ke dalam tangan Tuhan. Kita harus belajar bagaimana membiarkan segalanya berjalan secara alamiah, sehingga kita tidak akan merasa begitu tertekan dan cemas ketika menghadapi ujian.” Setelah mendengarkan firman Tuhan dan nasihat ibu, aku berpikir: “Benar sekali. Kekhawatiranku ini tidak perlu. Nasibku ada di tangan Tuhan, dan Tuhan sudah sejak lama menentukan apakah aku akan dapat lulus ujian ini dan pekerjaan apa yang akan kumiliki di masa depan. Aku hanyalah makhluk ciptaan-Nya, dan aku harus tunduk pada pengaturan dan rencana Tuhan Sang Pencipta.” Ibu kemudian memberikan banyak pengertian kepadaku, dan aku akhirnya memahami bahwa prospek masa depanku tidak akan ditentukan oleh hasil ujian ini namun ditentukan oleh rencana yang telah dirancang oleh Tuhan Sang Pencipta bagi hidupku. Aku berpikir tentang teman-teman sekolahku yang juga memiliki pengalaman seperti ini. Meskipun beberapa di antara mereka memiliki tingkat pendidikan yang lebih tinggi, pekerjaan yang mereka peroleh setelah lulus tidaklah terlalu bagus. Namun, beberapa teman lainnya tidak berpendidikan tinggi dan nilai-nilai sekolah mereka jauh dari yang diharapkan, namun mereka memiliki beberapa keterampilan khusus yang membuat mereka bisa menemukan pekerjaan yang baik dan menjalani kehidupan yang bahagia. Setelah memahami semua hal ini, hatiku merasa tenang dan aku berdoa kepada Tuhan: “Ya Tuhan! Aku akan segera menghadapi ujian untuk memperoleh kualifikasi sebagai perawat, dan aku tidak tahu apakah aku akan lulus atau tidak. Tolong lindungi hatiku, sehingga bahkan seandainya aku gagal maka aku tidak akan menyalahkan Engkau. Aku ingin tunduk pada kedaulatan-Mu.”

Ketika hari ujian semakin mendekat, aku masih merasa agak cemas, jadi aku berdoa kepada Tuhan dan menceritakan semua kesulitanku kepada-Nya dan mengekspresikan semua hal yang harus kukatakan di dalam hatiku. Setelah itu, aku membaca firman Tuhan ini: “Tenanglah di dalam diri-Ku, karena Akulah Tuhanmu, satu-satunya Penebusmu. Engkau harus selalu menenangkan hatimu, hidup di dalam diri-Ku; Aku adalah batu karangmu, pendukungmu. Jangan memikirkan yang lain, tetapi dengan sepenuh hati bersandarlah pada-Ku dan Aku pasti akan datang kepadamu—Aku adalah Tuhanmu!” (“Bab 26, Perkataan Kristus pada Awal Mulanya”). “Sangat sederhana sekarang: Pandanglah diri-Ku dengan hatimu dan rohmu akan segera menjadi kuat, engkau akan mendapatkan jalan untuk berlatih dan Aku akan memandu setiap langkahmu. Firman-Ku akan diungkapkan kepadamu sepanjang waktu dan di semua tempat. Tidak peduli di mana atau kapan, atau seberapa buruk lingkungannya, Aku akan menunjukkannya kepadamu dengan jelas dan hati-Ku akan diungkapkan kepadamu jika engkau memandang-Ku dengan hatimu. Dengan cara ini engkau akan menempuh jalan ke depan dan tidak pernah kehilangan arah.” (“Bab 13, Perkataan Kristus pada Awal Mulanya”).”Ya, memang!” pikirku. “Tidak ada yang tidak dapat dilakukan oleh Tuhan, dan semuanya telah diatur oleh tangan Tuhan. Dengan Tuhan menopangku, apa yang perlu kutakutkan?” Aku berpikir bagaimana aku biasanya mengatakan bahwa aku percaya kepada Tuhan dan kedaulatan-Nya, namun ternyata aku belum bisa menerapkan firman Tuhan. Karena itulah, setiap kali menghadapi kesulitan yang nyata aku akan merasa cemas dan khawatir, dan aku menyadari betapa kecilnya imanku kepada Tuhan! Sebagai orang yang percaya kepada Tuhan, aku seharusnya belajar bagaimana mengandalkan Tuhan dan memandang kepada Tuhan dalam segala sesuatu—hal ini amatlah penting dan merupakan hikmat terbesar yang harus kupelajari. Setelah aku memahami semua hal ini, aku mengucapkan doa ketaatan kepada Tuhan setiap hari dan semakin lama hatiku menjadi semakin tenang.

Tak lama kemudian, hari ujian keperawatan tersebut tiba. Sebelum aku dan ayahku akan meninggalkan rumah pagi itu, ibu mengingatkan aku agar tidak lupa berdoa kepada Tuhan dan mengandalkan Tuhan apa pun yang terjadi. Dalam perjalanan ke tempat ujian, ketika aku mulai merasa cemas aku buru-buru berdoa kepada Tuhan dan berseru kepada-Nya: “Ya Tuhan! Aku tidak tahu apa yang akan terjadi hari ini dan aku tidak tahu apakah ujian ini akan sulit atau tidak, atau apakah ujian ini akan mencakup hal-hal yang telah kupelajari atau tidak. Ya Tuhan! Aku ingin mengandalkan Engkau dan tunduk pada pengaturan dan rencana-Mu dalam segala hal.” Ketika kami hampir tiba di tempat ujian, ayah tiba-tiba menoleh kepadaku dan berkata: “Aneh sekali! Lampu lalu lintas yang kita lalui sejak tadi semuanya berwarna hijau.” Aku menyadari bahwa hal tersebut merupakan tuntunan dan pengaturan Tuhan. Tuhan berbicara kepadaku dalam bahasa isyarat, memberi tahu aku bahwa aku tidak akan menghadapi ujian ini sendirian, bahwa Dia selalu berada di sisiku, membimbingku, dan bahwa aku harus merasa percaya diri dan berani mempercayakan ujian ini ke dalam tangan Tuhan.

Ketika memasuki tempat ujian, aku merasa sangat tenang karena tahu bahwa Tuhanlah yang memegang keputusan akhir tentang apakah aku akan lulus ujian atau tidak. Satu-satunya yang harus kulakukan adalah melakukan yang terbaik dan memercayakan hasil ujianku ke dalam tangan Tuhan. Ketika aku merasa cemas, aku berdoa kepada Tuhan dan bersandar kepada-Nya, meminta-Nya untuk menenangkanku. Sementara menunggu ujian dimulai aku berseru kepada Tuhan, dan semakin aku berdoa semakin aku merasa nyaman dan tenang. Saat aku mengerjakan ujian tersebut, setiap kali aku menemukan pertanyaan yang tidak dapat kujawab, aku akan berseru kepada Tuhan dan meminta-Nya untuk menjaga hatiku agar tidak bingung. Sepanjang ujian tersebut, Tuhan terus melindungi dan menenangkan hatiku sehingga aku dapat merenungkan setiap soal ujian dengan sungguh-sungguh, dan aku sama sekali tidak merasa cemas. Setelah ujian selesai, teman-teman sekelasku semuanya berkomentar tentang betapa sulitnya soal-soal ujian tersebut, sedangkan aku sendiri merasa bahwa semua soal ujian itu tidak begitu sulit. Aku tahu bahwa ini semua hanya bisa terjadi karena bimbingan Tuhan.

Setelah itu, sementara aku menunggu hasil ujian diumumkan aku masih sering merasa cemas dan gelisah. Setiap kali hal ini terjadi, aku akan berdoa kepada Tuhan di dalam hatiku, dan aku mengingatkan diriku setiap saat bahwa hikmat Tuhanlah yang telah mengatur apakah aku akan berhasil lulus ujian tersebut dengan baik atau tidak. Setiap kali aku memikirkan ini, maka hatiku menjadi tenang kembali. Dalam sekejap, dua bulan telah berlalu dan hasil ujian akan dipublikasikan secara online. Sebelum memeriksa hasil ujianku, aku kembali mengucapkan doa ketaatan kepada Tuhan, dan tidak peduli apa pun hasilnya aku berdoa agar Tuhan membimbingku. agar bisa belajar tunduk kepada-Nya.

Ketika tiba saatnya untuk memeriksa hasil ujianku, aku mengumpulkan keberanian dan melihat hasil ujian tersebut dengan saksama. Dua nilaiku adalah 351 dan 331, masing-masing 51 dan 31 poin lebih tinggi dari ambang batas nilai yang disyaratkan untuk lulus ujian! Aku sangat bersyukur kepada Tuhan! Aku telah lulus! Aku bisa memperoleh ijazah keperawatanku! Pada saat itu, aku merasa dilimpahi dengan kebahagiaan! Aku terus mengucapkan rasa terima kasih dan pujian kepada Tuhan. Aku tahu bahwa semuanya ini tidak akan bisa aku capai sendiri, melainkan hanya oleh bimbingan, rahmat, dan berkat Tuhan!

Pengalaman pribadi ini membuat aku benar-benar menghargai kenyataan bahwa ketika aku dengan tulus mengandalkan Tuhan dan memandang Tuhan, Tuhan berada tepat di sampingku, membimbing dan memimpinku dan membukakan jalan bagiku. Pada saat yang sama, aku juga memahami bahwa jika kita ingin melepaskan diri dari kegelisahan pra-ujian, maka pertama-tama janganlah menetapkan tujuan kita terlalu tinggi. Kita haruslah memiliki hati yang mencari Tuhan dan tunduk pada rencana yang Tuhan telah atur bagi kita; kedua, kita harus berdoa dengan tulus kepada Tuhan dan menjaga agar firman Tuhan tetap ada di dalam hati kita, sehingga kita akan dapat memiliki rasa damai dan nyaman, dan kita akan dapat menghadapi apa pun dengan tenang.

Tuhan telah membantuku melepaskan diri dari kegelisahan sebelum menghadapi ujian dan membuatku lulus ujian dengan nilai-nilai yang tinggi. Terima kasih Tuhan!

media terkait