Aplikasi Seluler mengenai Gereja Tuhan Yang Mahakuasa

Mendengarkan suara Tuhan dan menyambut kedatangan Tuhan Yesus kembali!

Kami persilakan semua pencari kebenaran untuk menghubungi kami.

Tidaklah Mudah Menjadi Orang Jujur

0

Oleh Zixin, Provinsi Hubei

Setelah menerima pekerjaan Tuhan Yang Mahakuasa di akhir zaman, melalui pembacaan firman Tuhan dan mendengarkan khotbah, aku mulai memahami pentingnya berupaya menjadi orang yang jujur dalam keyakinan seseorang, dan bahwa hanya dengan menjadi orang yang jujur dia dapat memperoleh keselamatan Tuhan. Demikianlah aku mulai berupaya untuk menjadi orang yang jujur dalam kehidupan nyata. Setelah beberapa waktu, aku mendapati bahwa aku memperoleh beberapa jalan masuk ke dalam hal ini. Contohnya: ketika aku sedang berdoa atau bercakap-cakap dengan seseorang, aku akan dapat mengatakan kebenaran dan itu berasal dari dalam hati; aku juga bisa menanggapi dengan serius perihal memenuhi tugasku, dan ketika aku telah menyingkapkan kerusakan, aku mampu membuka diriku kepada orang lain. Karena hal ini, aku mengira menjadi orang jujur itu cukup mudah dilakukan, dan sama sekali tidak sesulit seperti yang digambarkan oleh firman Tuhan: “Banyak orang yang lebih suka dihukum di neraka daripada berkata dan bertindak dengan jujur” (“Tiga Peringatan” dalam “Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia”). Baru belakangan inilah aku dapat memahami melalui beberapa pengalaman bahwa sungguh tidak mudah bagi kita, manusia yang rusak, untuk menjadi orang jujur. Firman Tuhan sungguh sepenuhnya benar dan sama sekali tidak dilebih-lebihkan.

Suatu hari ketika aku sedang menyusun sebuah dokumen, aku mendapati bahwa seorang saudari dari gereja lebih baik dariku dalam hal menyusun dokumen. Aku kemudian berpikir: “Aku harus menangani dokumen yang disusunnya dengan teliti, kalau-kalau para pemimpin melihat bahwa dia lebih baik dariku dan mereka mempromosikannya sehingga menempatkan posisiku dalam bahaya.” Setelah pemikiran ini muncul, aku merasa tertuduh oleh hati nuraniku. Setelah memeriksa dan menganalisisnya, aku mengenali bahwa ini adalah suatu perwujudan dari perjuangan demi ketenaran dan keuntungan serta keirian terhadap bakat sejati, jadi aku berdoa kepada Tuhan dan langsung mengabaikan diriku. Dalam sebuah pertemuan, awalnya aku ingin menyatakan kerusakanku secara terbuka, tetapi kemudian aku berpikir: “Jika aku berbagi dalam persekutuan tentang niat jahatku sendiri, akan bagaimanakah pandangan saudari rekanku dan saudari keluarga tuan rumah terhadapku? Akankah mereka berkata hatiku terlalu dengki dan sifatku terlalu jahat? Lupakan saja, lebih baik tidak kusinggung masalah ini. Itu hanyalah sebuah pemikiran, dan lagipula aku tidak benar-benar melakukannya.” Dan begitulah, aku hanya dengan santai mengatakan betapa aku sangat gelisah bahwa diriku akan digantikan ketika aku melihat orang lain menyusun dokumen dengan baik—aku menyembunyikan sisi gelapku yang sebenarnya. Setelah itu, rasa bersalah di hatiku semakin besar. Karena itu aku bersumpah di hadapan Tuhan bahwa ini hanya akan terjadi sekali ini saja, dan bahwa lain kali aku pasti akan berlaku sebagai orang jujur.

Beberapa hari kemudian selagi mengobrol dengan rekan dan saudari keluarga tuan rumahku, aku mendengar saudari keluarga tuan rumah itu berbicara tentang betapa hebatnya dua saudari yang dahulu tinggal di rumahnya (aku juga mengenal mereka), tetapi dia tidak pernah mengatakan sepatah kata pun tentang betapa baiknya aku. Aku merasa sangat sedih. Untuk membuatnya menghargaiku, aku lantas mendaftarkan kekurangan kedua saudari itu satu per satu untuk menunjukkan padanya bahwa mereka tidak sebaik diriku. Setelah mengatakan hal ini, aku menyadari bahwa apa yang kukatakan itu tidak pantas, di mana maksud dan tujuanku adalah untuk mencela orang lain dan mengangkat diriku. Namun aku terlalu malu untuk berterus terang, jadi aku berkata kepada saudari keluarga tuan rumah itu: “Ketika aku mendengarmu memuji kedua saudari itu, aku merasa kau memiliki beberapa berhala di dalam hatimu, jadi aku harus merusak citra mereka agar kau tidak akan lagi mengagumi mereka.” Begitu perkataan itu keluar dari mulutku, saudari rekanku berkata: “Ini tergantung pada apakah kau memiliki motif tersembunyi. Jika demikian, itu benar-benar menakutkan. Jika tidak, maka itu hanya dapat dikatakan sebagai pengungkapan atas kerusakan.” Mendengar dia mengatakan ini, aku menjadi sangat takut mereka akan mengembangkan kesan yang buruk terhadapku, jadi aku cepat-cepat berusaha mengklarifikasi diriku, “Aku tidak memiliki motif tersembunyi apa pun. Hanya saja aku tidak menyampaikannya secara tepat ….” Setelah mengucapkan penalaran yang sepertinya benar ini, aku menjadi sangat kecewa dan merasa sangat tertuduh di dalam batinku ketika aku berdoa: “Engkau terlalu licik. Engkau berbicara berputar-putar, mengarang kebohongan, dan menutupi kebenaran, selalu menyembunyikan dan menyamarkan niatmu yang jahat dan ambisimu yang congkak. Bukankah ini menipu Tuhan?” Meskipun demikian, aku, yang begitu keras hati, tetap tidak bertobat dan hanya memohon agar Tuhan mengampuniku.

Keesokan harinya, aku mendadak demam tinggi, dan setiap sendi di tubuhku nyeri. Awalnya aku mengira semalam aku masuk angin dan akan sembuh jika minum obat saja. Namun ternyata—minum obat tidak menolong, dan dua hari kemudian aku bahkan tidak sanggup bangun dari tempat tidur. Ditambah lagi, lidahku membengkak dan semakin kaku, dan tenggorokanku juga membengkak serta nyeri, begitu nyerinya sampai bicara pun aku tidak sanggup. Menelan saja sudah cukup sulit, apalagi makan. Menghadapi penyakit yang mendadak ini, aku menjadi takut, dan berdoa berulang kali di dalam hati kepada Tuhan. Pada saat itu, aku menyadari bahwa penyakit ini tidak terjadi secara kebetulan; jadi aku datang ke hadapan Tuhan untuk merenungkan semua hal yang telah kukatakan dan lakukan selama masa ini. Sementara merenung, aku memahami bahwa ada beberapa kejadian di mana aku telah bersikap mengelak ketika berbicara dan telah menyembunyikan motifku yang tercela. Aku tahu betul bahwa selama ini aku hanya mengatakan kebohongan dan telah menipu saudari-saudariku, dan aku merasakan adanya penyesalan, namun aku tetap belum memiliki keberanian untuk mengatakan yang sebenarnya. Aku hampir tidak menyadari bahwa cara-caraku yang licik itu sudah menjadi kebiasaanku, dan aku tidak mampu lagi menahannya. Demi reputasi dan statusku sendiri, kesombongan dan gengsiku, aku telah dengan lancang mencoba menipu Tuhan dan menipu saudari-saudariku berulang kali. Aku tidak dengan rela bersikap terbuka tentang kerusakanku dan tidak mencari kebenaran untuk menyelesaikan masalah-masalahku; jika aku terus seperti itu, bukankah pada akhirnya aku yang akan rugi? Tuhan menyelidiki dengan cermat hati manusia yang terdalam, dan bagaimana pun aku berusaha menyembunyikan diriku, aku tidak mampu menutupi keburukanku yang tercela. Begitu mencapai beberapa pemahaman tentang diriku sendiri, aku berlutut di hadapan Tuhan dan berdoa: “Ya Tuhan! Baru sekarang aku melihat betapa rusaknya diriku. Dikendalikan oleh naturku yang curang, aku merasa sangat sulit mengucapkan satu patah kata pun yang jujur. Ya Tuhan! Aku mohon Engkau membimbingku untuk bersikap terbuka dan menyingkapkan kesalahanku, dan untuk menjadi orang yang jujur di hadapan-Mu.” Di bawah bimbingan Tuhan, akhirnya aku mengumpulkan keberanianku dan memberitahukan kepada saudari-saudariku kebenaran tentang semuanya, dari awal hingga akhir. Baru pada saat itulah hatiku terasa agak damai dan tenang.

Hanya melalui pengalaman inilah aku memahami firman Tuhan secara mendalam bahwa “Banyak orang yang lebih suka dihukum di neraka daripada berkata dan bertindak dengan jujur” memang benar. Setelah dirusak oleh Iblis, berbohong, menipu, dan terlibat dalam tipu daya sudah menjadi natur manusia dan tertanam sangat dalam di hati umat manusia. Selain itu, manusia sangat menghargai reputasi, status, dan segala macam keuntungan; mereka yang dibatasi oleh hal-hal ini merasa sangat sulit untuk berbicara dengan jujur. Sehingga bagi manusia, menjadi orang jujur lebih sulit daripada mendaki ke langit. Dahulu aku berpikir bahwa menjadi orang jujur itu mudah. Itu karena apa yang kuungkapkan hanyalah kerusakan-kerusakan sepele yang sering kali dibagikan semua orang dalam persekutuan. Itu tidak ada hubungannya dengan hal-hal terdalam di dalam jiwaku; sehingga tak seorang pun yang akan memandang rendah diriku karena membicarakan tentang hal-hal itu. Penerapan semacam itu berada di bawah prasyarat bahwa itu adalah tindakan yang dangkal dan tidak akan menyentuh kepentingan pribadiku. Jika itu memengaruhi kepentingan vital, status, dan harga diriku, maka naturku akan menyatakan dirinya dan aku tidak bisa lagi mempertahankan penyamaranku. Dengan hadirnya kebenaran di hadapanku, aku mulai sangat memahami bahwa sungguh tidak mudah menjadi orang jujur. Terutama bagi orang sepertiku yang menganggap reputasi dan status sebagai hal yang sangat penting, jika aku tidak mengesampingkan semua pertimbangan akan harga diri, jika hajaran dan penghakiman Tuhan tidak menyertaiku, aku akan sama sekali tidak mampu menghadapi kenyataan dari kebenaran tentang berlaku sebagai orang jujur. Mulai sekarang, aku akan dengan sungguh-sungguh mengejar kebenaran, menerima semua firman Tuhan, dan memahami natur diriku yang curang secara lebih mendalam lagi. Aku akan mengesampingkan harga diri dan statusku dan menjadi orang yang benar-benar jujur; aku akan hidup dalam keserupaan dengan manusia sejati untuk membalas kasih Tuhan.

media terkait