Aplikasi Seluler mengenai Gereja Tuhan Yang Mahakuasa

Mendengarkan suara Tuhan dan menyambut kedatangan Tuhan Yesus kembali!

Kami persilakan semua pencari kebenaran untuk menghubungi kami.

Kemitraan Sejati

2

Fang Li Kota Anyang, Provinsi Henan

Akhir-akhir ini saya beranggapan bahwa saya telah masuk dalam sebuah kemitraan yang harmonis. Saya dan rekan saya dapat mendiskusikan apa saja. Terkadang saya bahkan memintanya untuk menunjukkan kekurangan saya, dan kami tidak pernah bertengkar. Ini membuat saya beranggapan bahwa kami telah mencapai sebuah kemitraan yang harmonis. Namun sebagaimana kemudian terungkap oleh kenyataan, sebuah kemitraan yang sungguh-sungguh harmonis tidaklah seperti yang saya asumsikan.

Satu hari dalam sebuah rapat, rekan saya menunjukkan beberapa kekurangan saya di hadapan atasan kami sambil berkata bahwa saya arogan, tidak mau menerima kebenaran, suka mengendalikan, pongah …. Mendengar apa yang ia katakan membuat saya sangat marah. Saya berpikir: "Kemarin saya bertanya kepadamu jika engkau punya pendapat tentang saya, dan engkau berkata tidak. Namun kini, di hadapan atasan kita, kau mengatakan banyak hal! Itu tindakan yang sangat tidak tulus!" Saya beranggapan saya dan rekan saya punya hubungan yang penuh damai. Namun nyatanya ia punya banyak pandangan terhadap saya, yang membuktikan bahwa masih ada kesalahpahaman di antara kami dan bahwa hubungan kami tidak penuh damai. Dihadapkan dengan kenyataan tersebut, saya mengevaluasi kembali perilaku saya di dalam kemitraan: Dalam pertemuan-pertemuan, walaupun rekan saya juga bersekutu, ia sedikit berbicara karena saya mendominasi pembicaraan dan jarang memberinya kesempatan untuk berbicara. Di tempat kerja, kami memang mendiskusikan apa pun masalah yang muncul. Namun, ketika pendapat kami berbeda, saya selalu bertahan pada pandangan saya sendiri dan menolak pandangannya; dan masalah terselesaikan ketika ia berhenti berdebat. Dari luar tampak tidak ada perselisihan atau konflik, tetapi di dalamnya selalu terasa seperti ada penghalang di antara kami, sesuatu yang menghentikan kami untuk sepenuhnya terbuka. Saat itulah saya menyadari bahwa sementara kami berdua tampak seperti mitra yang bekerja sama, saya yang sebenarnya memberi semua perintah, dan ia tidak pernah memperoleh kesempatan untuk benar-benar memenuhi tugas-tugasnya. Saya beranggapan hubungan kami adalah hubungan yang saling melengkapi dan mitra yang setara, tetapi sebenarnya adalah hubungan antara pemimpin dan yang dipimpin. Kenyataan tersebut memberi tahu saya bahwa apa yang saya anggap sebagai kemitraan yang harmonis ternyata hanyalah seperangkat praktik yang dangkal. Jadi, apakah kemitraan yang benar-benar harmonis itu? Saya mencari jawaban untuk pertanyaan saya ini di dalam firman Tuhan, dan menemukan kata-kata berikut ini, "Engkau, yang berada di level atas, mendengar banyak kebenaran dan memahami berbagai hal tentang pelayanan. Jika engkau sekalian yang berkoordinasi untuk bekerja di dalam gereja tidak saling belajar dan berkomunikasi, mengimbangi kekurangan masing-masing, dari mana engkau dapat belajar? Apabila engkau menghadapi sesuatu, engkau harus bersekutu satu sama lain, sehingga hidupmu dapat beroleh manfaat. Dan engkau harus hati-hati bersekutu tentang hal-hal apa pun sebelum mengambil keputusan. Hanya dengan berbuat demikian, engkau semua bertanggung jawab kepada gereja dan tidak bersikap acuh tak acuh. Setelah mengunjungi semua gereja, engkau harus berkumpul dan bersekutu tentang semua persoalan yang engkau temukan dan masalah yang dihadapi dalam pekerjaan, dan membicarakan pencerahan dan penerangan yang telah engkau terima. Inilah pelaksanaan pelayanan yang tak tergantikan. Engkau semua harus mencapai kerja sama yang harmonis untuk tujuan pekerjaan Tuhan, demi kepentingan gereja, dan memacu saudara-saudari terus bergerak maju. Engkau berkoordinasi dengannya dan ia berkoordinasi denganmu, masing-masing mengubah yang lain, sampai mencapai hasil kerja yang lebih baik, sehingga memperhatikan kehendak Tuhan. Hanya inilah kerja sama yang benar, dan hanya orang-orang semacam itu yang memiliki jalan masuk yang sesungguhnya" ("Layanilah seperti Orang Israel Melayani" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"). Setelah dengan saksama menimbang firman Tuhan, hati saya tiba-tiba paham. Kemitraan sejati berarti bahwa sang mitra menempatkan pekerjaan gerejawi sebagai yang utama; untuk kepentingan gereja dan kehidupan saudara-saudari seiman. Mereka dapat bersekutu satu sama lain dan saling melengkapi dalam kelemahan masing-masing sehingga hasil yang lebih baik dapat dicapai di dalam pekerjaan mereka. Mereka tidak memendam kesalahpahaman atau prasangka terhadap satu sama lain dan tidak membeda-bedakan status. Saat membandingkan perilaku saya dengan kenyataan tersebut, saya merasa sangat malu dan penuh penyesalan. Melihat kembali perilaku saya yang lampau, saya sadar bahwa saya tidak pernah mempertimbangkan kepentingan gerejawi. Saya selalu mengutamakan diri sendiri. Saya memimpin dengan bersandar pada status dan dengan cermat berupaya mempertahankan reputasi dan posisi saya sendiri. Saya hanya takut orang lain akan meremehkan atau merendahkan saya, dan persekutuan saya dengan saudara-saudari seiman tidak saling melengkapi atau berangkat dari kesetaraan. Jadi, kemitraan tersebut tidak pernah mencapai tujuan bersama, saling mendukung untuk masuk ke dalam firman Tuhan. Di permukaan saya dan rekan saya tampak mendiskusikan cara melakukan pekerjaan kami, tetapi di dalam hati, saya tidak menerima ide-idenya; dan pada akhirnya saya bekerja dengan ide saya, bukannya mempertimbangkan apa yang terbaik bagi pekerjaan gerejawi. Meskipun terkadang saya memintanya untuk menunjukkan kekurangan saya, alih-alih menerima masukannya, saya selalu berdebat, membuat pembenaran, dan membela diri. Hal ini membatasinya dan membuatnya terlalu takut untuk berbicara terbuka dengan saya dan enggan untuk membahas tentang kekurangan saya lagi. Inilah yang menuntun pada kesalahpahaman di antara kami dan berdampak pada hilangnya kemampuan kami untuk menyelesaikan pekerjaan gerejawi dengan satu kesepakatan. Saya berperilaku dengan lebih arogan dan merasa superior di antara saudara-saudari seiman. Saya selalu berasumsi bahwa sayalah pemimpin mereka, sebab pemahaman saya yang lebih baik tentang kebenaran membuat saya layak untuk memimpin mereka. Bersama mereka, saya sama sekali tidak menunjukkan sikap rendah hati atau mencari kebenaran. Sebaliknya, saya menganggap diri saya sebagai ahli kebenaran dan bersikeras agar semua orang mendengarkan saya. …. Pada saat itulah saya menyadari bahwa kemitraan dalam pelayanan saya tidak bersubstansi kemitraan sama sekali. Dalam istilah yang lebih serius, saya terlibat dalam kezaliman dan kediktatoran. Berperilaku demikian sebagai seorang pemimpin dan rekan tidak ubahnya dengan cara sang naga merah besar yang berupaya mempertahankan cengkeraman kuasanya! Sang naga merah yang besar mempraktikkan kezaliman, mendesak kekuasaan finalnya atas segala sesuatu serta takut mendengarkan suara rakyat atau memerintah lewat prinsip politik yang berbeda dari yang dimilikinya. Saya—dengan status kecil yang saya miliki saat ini—ingin berkuasa atas wilayah terbatas yang saya kendalikan. Jika satu hari kelak saya memegang kekuasaan, bagaimana saya dapat berbeda dari naga merah besar itu? Saya tiba-tiba menjadi takut saat memikirkan semua ini. Terus seperti ini akan terlalu berbahaya, dan jika saya tidak berubah, nasib saya akan berakhir sama dengan naga merah besar itu—dihukum Tuhan.

Setelah menyadari semua ini, saya tidak lagi menentang saudara saya. Sebaliknya, saya bersyukur kepada Tuhan yang menolong saya mengenal diri sendiri melalui keadaan ini dan menunjukkan bahaya yang ada di dalam diri saya. Setelah itu, ketika bermitra dengan saudara dan saudari seiman, saya belajar untuk merendahkan diri, memiliki hati yang peduli dengan kehendak Tuhan, dan bertanggung jawab dalam pekerjaan saya, serta lebih banyak mendengar pendapat orang lain. Setelah beberapa waktu, saya menyadari bahwa praktik ini tidak hanya memberi saya pemahaman yang utuh dan menyeluruh tentang kebenaran tetapi juga membawa saya lebih dekat kepada saudara-saudari seiman dan memampukan kami saling berbagi dengan lebih terbuka. Dengan buah-buah yang tampak nyata ini, saya akhirnya memahami betapa indahnya melakukan pelayanan-kemitraan sesuai dengan tuntutan Tuhan!

Saya bersyukur untuk pencerahan dari Tuhan ini, yang bukan hanya menolong saya memahami kemitraan harmonis yang sejati, tetapi lebih lagi menolong saya melihat watak kesombongan saya yang rusak tersingkap dalam pelayanan saya bersama rekan, serta menunjukkan bahwa ketika umat manusia yang berdosa memegang kendali, hasilnya akan serupa dengan sang naga merah besar. Saya berharap dapat menghilangkan racun sang naga merah besar dari dalam diri saya, masuk ke dalam pelayanan-kemitraan yang sejati, serta pada akhirnya menjadi pribadi yang melayani Tuhan selaras dengan hati Tuhan.

media terkait