Aplikasi Seluler mengenai Gereja Tuhan Yang Mahakuasa

Mendengarkan suara Tuhan dan menyambut kedatangan Tuhan Yesus kembali!

Kami persilakan semua pencari kebenaran untuk menghubungi kami.

Menyingkirkan Kabut untuk Melihat Cahaya Kebenaran

Warna yang Kuat

Tema

Font

Ukuran Font

Spasi Baris

Lebar laman

% Hasil Pencarian

Hasil tidak ditemukan

Kekeliruan: Seseorang berkata, "Kitab Suci menyatakan 'karena tidak ada nama lain di bawah langit yang diberikan di antara manusia, yang olehnya kita bisa diselamatkan' dan bahwa 'Yesus Kristus adalah sama kemarin, dan hari ini, dan untuk selama-lamanya.' Nama Tuhan bersifat kekal, dan kita harus berpegang selamanya pada nama Tuhan Yesus, tetapi engkau percaya kepada Tuhan Yang Mahakuasa—bukankah itu berarti mengkhianati Tuhan Yesus? "

Tanggapan: Hanya karena Alkitab menyatakan bahwa 'karena tidak ada nama lain di bawah langit yang diberikan kepada manusia, yang olehnya kita bisa diselamatkan' dan bahwa 'Yesus Kristus adalah sama kemarin, dan hari ini, dan untuk selama-lamanya,' beberapa orang menetapkan bahwa nama Tuhan hanya bisa Yesus dan bukan Tuhan Yang Mahakuasa, dan bahwa percaya kepada Tuhan Yang Mahakuasa berarti mengkhianati Tuhan Yesus. Ini tidak lebih dari pandangan yang tak masuk akal, bodoh dan naif, dan ini menunjukkan bahwa orang-orang ini tidak mengenal Tuhan sama sekali. Kata-kata yang tertulis dalam Alkitab bahwa 'karena tidak ada nama lain di bawah langit yang diberikan kepada manusia, yang olehnya kita bisa diselamatkan' dan bahwa 'Yesus Kristus adalah sama kemarin, dan hari ini, dan untuk selama-lamanya' tidak salah, tetapi kata-kata tersebut tidak membuktikan bahwa Tuhan hanya dapat disebut Yesus dan bahwa nama-Nya tidak pernah akan berubah. Kita semua tahu bahwa nama Tuhan pada Zaman Hukum Taurat adalah Yahweh, dan bahwa nama-Nya berubah di Zaman Kasih Karunia menjadi Yesus. Apakah ini nama yang tidak pernah berubah? Sebenarnya, ini bukanlah bahwa nama Tuhan itu tidak pernah berubah. Kita akan mengerti begitu kita melihat nubuat ini dalam kitab Wahyu. Wahyu 3:12 menyatakan: "Dia yang menang akan Kujadikan pilar di dalam bait Suci Tuhan-Ku, dan ia tidak akan keluar lagi: dan Aku akan menuliskan padanya nama Tuhan-Ku, dan nama kota Tuhan-Ku, yaitu Yerusalem baru, yang turun dari sorga dari Tuhan-Ku dan Aku akan menuliskan nama-Ku yang baru padanya." Jelaslah dinubuatkan di sini bahwa Tuhan akan memiliki nama baru di akhir zaman. Bagaimana mungkin nama ini tetap Yesus? Jika nama-Nya tetap Yesus, lalu bagaimana itu disebut nama yang baru? Karena itu, kita tidak boleh menyimpulkan bahwa nama Tuhan tidak akan pernah berubah.

Tuhan Yang Mahakuasa berkata: "Beberapa orang mengatakan bahwa nama Tuhan tidak berubah. Lalu, mengapa nama Yahweh berubah menjadi Yesus? Dinubuatkan bahwa Mesias akan datang, lalu mengapa manusia bernama Yesus yang datang? Mengapa nama Tuhan berubah? Bukankah pekerjaan Tuhan seperti itu sudah lama dilakukan? Tidak bisakah Tuhan zaman ini melakukan pekerjaan baru? Pekerjaan kemarin dapat berubah, dan pekerjaan Yesus dapat berlangsung sebagai kelanjutan pekerjaan Yahweh. Tidak bisakah pekerjaan Yesus diikuti dengan pekerjaan lain? Jika nama Yahweh dapat diubah menjadi Yesus, maka tidak bisakah nama Yesus juga diubah? Hal ini bukannya tidak lazim, dan orang berpikir begitu[a] hanya karena dangkalnya pemikiran mereka. Tuhan akan tetap Tuhan. Terlepas dari perubahan pada pekerjaan-Nya dan nama-Nya, watak dan hikmat-Nya tetap tidak berubah selamanya. Jika engkau percaya bahwa Tuhan hanya dapat dipanggil dengan nama Yesus, maka sedikit sekali yang engkau ketahui" ("Bagaimana Mungkin Manusia yang Telah Mendefinisikan Tuhan dalam konsepsi-konsepsinya Dapat Menerima Penyingkapan Tuhan?" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"). "Ada orang yang mengatakan bahwa Tuhan itu tidak berubah. Memang benar, tetapi ini mengacu pada ketidakberubahan watak Tuhan dan hakikat-Nya. Perubahan nama dan pekerjaan-Nya tidak membuktikan bahwa hakikat-Nya berubah. Dengan kata lain, Tuhan selamanya adalah Tuhan dan tidak akan pernah berubah" ("Visi Pekerjaan Tuhan (3)" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"). "Di setiap zaman, Tuhan melakukan pekerjaan baru dan disebut dengan nama baru; bagaimana mungkin Dia melakukan pekerjaan yang sama pada zaman yang berbeda? Bagaimana mungkin Dia melekat erat pada sesuatu yang lama? Nama Yesus dipakai demi pekerjaan penebusan, maka apakah Dia masih akan dipanggil dengan nama yang sama ketika Dia kembali pada akhir zaman? Apakah Dia akan tetap melakukan pekerjaan penebusan? Mengapa Yahweh dan Yesus adalah satu, tetapi dipanggil dengan nama yang berbeda pada zaman yang berbeda? Bukankah karena zaman pekerjaan Mereka berbeda? Mungkinkah satu nama merepresentasikan Tuhan seutuhnya? Jika demikian, Tuhan harus dipanggil dengan nama yang berbeda pada zaman yang berbeda, dan harus pula menggunakan nama tersebut untuk mengubah dan merepresentasikan zaman tersebut. Karena tiada satu nama pun yang dapat sepenuhnya merepresentasikan Tuhan dan setiap nama hanya dapat merepresentasikan aspek temporal dari watak Tuhan pada zaman tertentu, maka tiada lain kecuali nama-Nya mewakili pekerjaan-Nya. Oleh karena itu, Tuhan dapat memilih nama apa pun yang sesuai dengan watak-Nya untuk merepresentasikan seluruh zaman" ("Visi Pekerjaan Tuhan (3)" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"). "Mungkinkah nama Yesus—"Tuhan menyertai kita"—merepresentasikan watak Tuhan secara keseluruhannya? Mungkinkah itu sepenuhnya memperjelas Tuhan? Kalau manusia mengatakan bahwa Tuhan hanya dapat disebut Yesus dan mungkin tidak memiliki nama lain karena Tuhan tidak dapat mengubah watak-Nya, maka kata-kata ini benar-benar penghujatan! Apakah engkau percaya bahwa nama Yesus yang berarti Tuhan menyertai kita, cukup untuk merepresentasikan Tuhan secara keseluruhannya? Tuhan mungkin dipanggil dengan banyak nama, tetapi di antara banyak nama ini, tidak ada satu pun yang mampu merangkum semua nama Tuhan, tidak satu pun dapat merepresentasikan Tuhan sepenuhnya. Karena itu, Tuhan memiliki banyak nama, tetapi nama yang banyak ini tidak dapat sepenuhnya memperjelas watak Tuhan karena watak Tuhan sangat kaya sehingga melebihi kemampuan manusia untuk mengenal-Nya. ... Jadi, bagi manusia, Tuhan memiliki banyak nama, bukan satu nama saja, karena Tuhan itu hakikat-Nya Maha Melimpah, sedangkan bahasa umat manusia teramat miskin. Satu kata atau nama tertentu saja tidak cukup untuk merepresentasikan Tuhan secara menyeluruh. Jadi, apakah menurutmu nama-Nya dapat ditentukan? Tuhan itu begitu agung dan begitu suci, tetapi engkau tidak mengizinkan-Nya untuk mengubah nama-Nya di setiap zaman yang baru? Oleh karena itu, di setiap zaman ketika Tuhan secara pribadi melakukan pekerjaan-Nya sendiri, Dia menggunakan nama yang cocok dengan zaman itu untuk merangkum pekerjaan yang ingin dilakukan-Nya. Dia menggunakan nama khusus yang memiliki makna temporal untuk merepresentasikan watak-Nya pada zaman tertentu. Inilah Tuhan yang menggunakan bahasa umat manusia untuk mengungkapkan watak-Nya sendiri. ... Engkau harus tahu bahwa awalnya Tuhan tidak bernama. Dia mengambil satu, dua, atau banyak nama hanya karena Dia memiliki pekerjaan yang harus dilakukan, selain harus mengelola umat manusia. Nama panggilan apa pun, tidakkah Dia bebas memilih nama bagi diri-Nya sendiri? Apakah Dia butuh salah satu makhluk-Nya seperti dirimu untuk menentukan nama-Nya? Nama panggilan Tuhan adalah nama yang sesuai dengan apa yang sanggup dipahami manusia dengan bahasa umat manusia, tetapi nama ini mustahil dijangkau (akal budi) manusia. Engkau hanya bisa berkata bahwa ada Tuhan di surga, bahwa Dia disebut Tuhan, bahwa Dia adalah Tuhan itu sendiri dengan kuasa yang teramat besar, yang terlalu bijaksana, terlalu tinggi, terlalu menakjubkan, terlalu misterius, dan terlalu mahakuasa, lalu engkau kehabisan kata; seujung kuku saja yang bisa engkau ketahui. Kalau begitu, dapatkah sekadar nama Yesus merepresentasikan Tuhan itu sendiri? Ketika akhir zaman tiba, kendati Tuhan jua yang masih melakukan pekerjaan-Nya, nama-Nya pasti berubah, karena zamannya berbeda" ("Visi Pekerjaan Tuhan (3)" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia").

Dari firman Tuhan Yang Mahakuasa, kita dapat mengetahui bahwa pada awalnya Tuhan tidak memiliki nama. Hanya karena umat manusia kemudian dirusak oleh Iblis,, dan karena Tuhan harus bekerja untuk menyelamatkan umat manusia dan mengelola umat manusia maka Dia mengambil sebuah nama. Selain itu, Tuhan menggunakan nama-Nya untuk mengubah zaman, untuk mewakili pekerjaan suatu zaman dan watak yang Dia nyatakan pada zaman itu. Tidak peduli bagaimana zaman dan pekerjaan-Nya berubah, dan tidak peduli bagaimana nama Tuhan berubah, substansi Tuhan bersifat kekal. Dengan kata lain, firman 'Yesus Kristus adalah sama kemarin, dan hari ini, dan untuk selama-lamanya' (Ibrani 13: 8) diucapkan sehubungan dengan kekekalan watak dan esensi asli Tuhan, dan tidak berarti bahwa nama Tuhan tidak pernah dapat berubah.

Sesuai dengan prinsip dan kebutuhan pekerjaan-Nya, Tuhan mengubah nama-Nya di setiap zaman. Nama yang dipilih-Nya mengungkapkan watak-Nya di zaman itu dan merepresentasikan pekerjaan-Nya di zaman itu. Seperti inilah bagaimana nama-nama Tuhan ditentukan. Misalnya, nama Yahweh adalah nama Tuhan pada saat Dia memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir, dan Dia hanya memakai nama ini ketika Dia akan memulai pekerjaan Zaman Hukum Taurat. Pada saat itu, Musa bertanya kepada Tuhan: "Lihat, ketika aku datang kepada anak-anak Israel dan berkata kepada mereka: Tuhan nenek moyangmu telah mengutus aku kepada engkau sekalian; dan mereka akan bertanya kepadaku, Siapakah nama-Nya? Apa yang harus aku katakan pada mereka? ... Selanjutnya Tuhan berfirman kepada Musa: Inilah yang harus engkau katakan kepada anak-anak Israel: 'Yahweh, Tuhan nenek moyangmu, Tuhan Abraham, Tuhan Ishak, dan Tuhan Yakub, telah mengutus aku kepada engkau: inilah nama-Ku untuk selama-lamanya'" (Keluaran 3:13,15). Hanya dari sinilah orang-orang disadarkan bahwa nama Tuhan adalah Yahweh, dan itulah nama yang dipakai Tuhan di Zaman Hukum Taurat sesuai dengan kebutuhan pekerjaan-Nya. Tuhan Yang Mahakuasa berkata: "'Yahweh' adalah nama yang Aku pakai selama pekerjaan-Ku di Israel, dan yang artinya Tuhan orang Israel (bangsa pilihan Tuhan) yang dapat mengasihani manusia, mengutuk manusia, dan membimbing hidup manusia. Yang artinya Tuhan yang memiliki kuasa besar dan penuh dengan hikmat. 'Yesus' adalah Imanuel, dan yang artinya korban penghapus dosa yang penuh kasih, belas kasihan, dan menebus manusia. Ia melakukan pekerjaan Zaman Kasih Karunia, dan mewakili Zaman Kasih Karunia, dan hanya dapat mewakili satu bagian rencana pengelolaan. Dengan kata lain, hanya Yahweh-lah Tuhan umat pilihan Israel, Tuhan Abraham, Tuhan Ishak, Tuhan Yakub, Tuhan Musa, dan Tuhan seluruh bangsa Israel. Begitu pula di zaman sekarang ini, semua orang Israel, selain suku Yehuda, menyembah Yahweh. Mereka mempersembahkan korban kepada-Nya di atas mezbah, dan melayani-Nya dengan mengenakan jubah imam di dalam Bait Suci. Yang mereka harapkan adalah penampakan kembali Yahweh. Hanya Yesus-lah Penebus umat manusia. Dialah korban penghapus dosa yang menebus umat manusia dari dosa. Dengan kata lain, nama Yesus berasal dari Zaman Kasih Karunia, dan ada karena pekerjaan penebusan pada Zaman Kasih Karunia. Nama Yesus ada agar orang-orang pada Zaman Kasih Karunia dapat lahir baru dan diselamatkan, dan merupakan nama teristimewa bagi penebusan seluruh umat manusia. Jadi, nama Yesus mewakili pekerjaan penebusan, dan menandai Zaman Kasih Karunia" ("Juruselamat Telah Datang Kembali di Atas 'Awan Putih' dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"). Tuhan dengan jelas mengungkapkan pekerjaan, watak dan makna yang direpresentasikan oleh nama-Nya di setiap zaman. Meskipun Tuhan harus mengambil nama baru di setiap zaman, esensi dan identitas Tuhan tetap abadi. Mari kita ambil contoh. Ketika seseorang awalnya mengajar di sekolah, orang-orang memanggilnya "Guru," tetapi kemudian dia pergi bekerja di rumah sakit, jadi orang memanggilnya "Dokter." Saat pekerjaannya berubah, nama sebutan orang-orang baginya juga berubah. Namun, bagaimana pun orang-orang memanggilnya, dia tetap orang yang sama. Meskipun nama Tuhan berubah di Zaman Kasih Karunia, substansi-Nya tidak berubah, dan Dia tetap bekerja sebagai Tuhan itu sendiri. Namun, yang disesalkan adalah bahwa orang Israel pada masa itu tidak menerima nama Tuhan yang baru; mereka percaya bahwa nama Tuhan hanya boleh Yahweh dan tidak boleh berubah menjadi Yesus. Jika nama-Nya adalah Yesus, Dia bukanlah Tuhan. Dalam hati mereka, hanya Yahweh yang adalah Tuhan dan Juruselamat mereka. Mereka berpegang pada ayat Kitab Suci, "Aku, Akulah Yahweh, dan selain Aku tidak ada penyelamat lain" (Yesaya 43:11), jadi ketika Tuhan datang dengan nama baru untuk mengubah zaman dan melakukan pekerjaan baru, mereka menolak dan mengutuk Tuhan Yesus. Mereka tidak pernah membayangkan bahwa Tuhan Yesus adalah penampakan dari Yahweh, dan bahwa Dia adalah Tuhan itu sendiri. Mereka berpegang teguh pada makna dan aturan Alkitab yang harfiah dan tidak mencari kebenaran atau mengetahui pekerjaan Tuhan, dan akhirnya mereka melakukan dosa yang keji, dan memakukan Tuhan Yesus, Juruselamat yang penuh kasih itu, hidup-hidup ke kayu salib. Dengan melakukan hal ini, mereka membuat marah Tuhan itu sendiri, dan pada akhirnya pembalasan yang layak mereka terima telah dilepaskan atas mereka—rasa sakit karena penaklukan bangsa! Mereka kehilangan tanah air mereka dan tersebar ke empat penjuru bumi.

Sekarang, kita berada di akhir zaman dan telah sekali lagi tiba pada masa perubahan zaman. Meskipun orang-orang pada zaman ini telah ditebus oleh Tuhan Yesus dan dosa-dosa mereka telah diampuni, natur dosa manusia masih ada. Selain itu, semakin lama manusia menjadi semakin rusak, bahkan melampaui tingkat kerusakan orang-orang pada zaman Nuh; mereka hidup dalam dosa, tidak dapat membebaskan diri mereka sendiri, dan mereka tidak memiliki jalan yang dapat diikuti untuk membuang dosa dan disucikan. Untuk sepenuhnya menyelamatkan umat manusia, Tuhan mulai melakukan tahap pekerjaan baru, yaitu pekerjaan "penghakiman yang dimulai di rumah Tuhan." Sesuai dengan kebutuhan umat manusia yang rusak dan perbedaan pekerjaan ini, Tuhan mengungkapkan watak-Nya yang terutama benar, megah dan murka; Dia bukan lagi Anak Domba penebusan, tetapi lebih merupakan "Singa dari suku Yehuda" (Wahyu 5:5). Tuhan akan menggunakan watak seperti ini untuk sepenuhnya mengakhiri zaman yang sudah tua ini. Tuhan akan menggunakan watak semacam ini untuk menghakimi dan menghajar pemberontakan, kerusakan dan ketidakadilan di seluruh umat manusia untuk memisahkan setiap orang sesuai dengan jenisnya, dan Tuhan akan memimpin mereka yang menjadi milik-Nya ke dalam kerajaan-Nya dan menghancurkan mereka yang merupakan milik Iblis. Tuhan akan sangat dimuliakan di seluruh alam semesta, akan memerintah sebagai Raja atas seluruh bumi, dan bangsa-bangsa di bumi akan menjadi "kerajaan-kerajaan di dunia ini menjadi milik Tuhan kita, dan Kristus-Nya" (Wahyu 11:15). Karena itu, zaman terakhir ini disebut Zaman Kerajaan. Karena perubahan zaman, dan karena perbedaan dalam pekerjaan yang Tuhan lakukan dan dalam watak yang Dia ungkapkan, nama Tuhan juga perlu berubah. Dia tidak lagi disebut Yesus tetapi disebut Tuhan Yang Mahakuasa sesuai dengan pekerjaan yang Dia lakukan dan watak yang Dia ungkapkan. Dengan nama inilah Dia akan menuntaskan pekerjaan seluruh rencana pengelolaan 6000 tahun-Nya. Hal ini memenuhi firman dari kitab Wahyu, seperti pada Wahyu 15:3: "Maka mereka menyanyikan nyanyian Musa, hamba Tuhan, dan nyanyian Anak Domba, yang menyatakan, Betapa agung dan menakjubkan karya-Mu, Tuhan Yang Mahakuasa; sungguh adil dan benar jalan-jalan-Mu, Engkau Raja orang-orang kudus" (Wahyu 15:3). 19:6: "Lalu aku mendengar seperti suara kumpulan besar orang banyak dan seperti gemuruh air bah, dan seperti deru guntur yang keras, berkata, Haleluya: karena Tuhan yang mahakuasa memerintah"; dan 1:8: "Akulah Alfa dan Omega, Yang Pertama dan Yang Terakhir, firman Tuhan, yang ada sekarang, yang sudah ada, dan yang akan datang, Yang Mahakuasa." Meskipun nama Tuhan telah berubah di Zaman Kerajaan, pekerjaan-Nya masih tetap pekerjaan Tuhan sendiri. Dia pernah disebut Yahweh dan juga pernah disebut Yesus, dan sekarang Dia disebut Tuhan yang Mahakuasa. Namun, nama apa pun yang dipakai Tuhan, substansi-Nya tidak akan pernah berubah. Yahweh, Yesus, dan Tuhan Yang Mahakuasa adalah satu Tuhan. Hal ini mutlak benar. Tuhan Yang Mahakuasa berkata: "Hikmat dan keagungan Tuhan, kebenaran dan kemegahan Tuhan tidak akan pernah berubah. Esensi-Nya, apa yang dimiliki-Nya, dan siapa Ia tidak akan pernah berubah. Tetapi, pekerjaan-Nya selalu bergerak maju, selalu lebih mendalam, karena Dia selalu baru dan tidak pernah tua" ("Visi Pekerjaan Tuhan (3)" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"). "Di setiap zaman dan setiap tahap pekerjaan, nama-Ku bukan tanpa dasar, tetapi mengandung makna yang bersifat mewakili: Setiap nama mewakili satu zaman. 'Yahweh' mewakili Zaman Hukum Taurat, dan merupakan sebutan kehormatan bagi Tuhan yang disembah oleh bangsa Israel. 'Yesus' mewakili Zaman Kasih Karunia, dan merupakan nama Tuhan bagi semua orang yang ditebus selama Zaman Kasih Karunia. Jika manusia masih rindu akan kedatangan Yesus sang Juruselamat pada akhir zaman, dan masih berharap Ia datang dalam citra diri yang dikenakan-Nya di Yudea, maka seluruh rencana pengelolaan enam ribu tahun akan terhenti pada Zaman Penebusan, dan tidak dapat bergerak maju lagi. Selanjutnya, akhir zaman tidak akan pernah datang, dan zaman ini tidak akan pernah berakhir. Itu karena Yesus sang Juruselamat hanya dimaksudkan untuk penebusan dan penyelamatan umat manusia. Aku memakai nama Yesus demi semua orang berdosa di Zaman Kasih Karunia, tetapi itu bukan nama yang akan Aku pakai untuk membawa seluruh umat manusia kepada akhirnya. Meskipun Yahweh, Yesus, dan Mesias semua mewakili Roh-Ku, nama-nama ini hanya menandai zaman-zaman yang berbeda dalam rencana pengelolaan-Ku, dan tidak mewakili Aku seutuhnya. Nama-nama yang dipakai orang-orang di bumi untuk menyebut Aku tidak dapat mengungkapkan watak-Ku secara utuh dan seluruh keberadaan-Ku. Nama-nama itu hanyalah nama-nama panggilan-Ku dalam zaman-zaman yang berbeda. Oleh karena itu, saat zaman terakhir—akhir zaman—tiba, nama-Ku akan berubah lagi. Aku tidak akan dipanggil Yahweh, atau Yesus, apalagi Mesias, tetapi akan disebut Tuhan itu sendiri yang mahakuasa dan berkuasa, dan dengan nama inilah Aku akan membawa seluruh zaman menuju pada akhirnya" ("Juruselamat Telah Datang Kembali di Atas 'Awan Putih' dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia").

Lalu bagaimanakah sikap orang-orang terhadap kedatangan Tuhan kembali dan perubahan nama Tuhan di akhir zaman? Dari pengamatan umum terhadap seluruh dunia keagamaan, tampaknya banyak orang masih berpegang pada "karena tidak ada nama lain di bawah langit yang diberikan di antara manusia, yang olehnya kita bisa diselamatkan" dan melakukan semua yang mereka bisa untuk melawan dan mengutuk Tuhan Yesus yang berinkarnasi—Tuhan Yang Mahakuasa. Mereka mengatakan bahwa orang-orang yang percaya kepada Tuhan Yang Mahakuasa percaya kepada Tuhan yang lain dan mengkhianati Tuhan Yesus. Jika orang-orang memiliki pemahaman ini, bukankah kepercayaan mereka kepada Tuhan Yesus adalah seperti kepercayaan kepada Tuhan selain Yahweh? Bukankah ini terlalu mustahil dan konyol? Bukankah mereka sedang membatasi Tuhan? Bukankah mereka sama persis dengan orang-orang Farisi Yahudi yang menentang Tuhan Yesus pada waktu itu? Jika ini masalahnya, tragedi sejarah akan terjadi sekali lagi pada kita! Karena itu, kita harus belajar dari kasus orang-orang Farisi dan tidak membatasi Tuhan. Kita harus memiliki kerendahan hati dan benar-benar mencari dan mempelajari misteri yang Tuhan tunjukkan dan kebenaran yang Dia ungkapkan, dan kita akan melihat bahwa Tuhan Yang Mahakuasa adalah Yahweh yang pernah membimbing kehidupan umat manusia di bumi, bahwa Dialah Tuhan Yesus yang pernah menebus umat manusia, dan bahwa lebih dari itu Dia adalah Tuhan Yesus yang sudah datang kembali, yang telah lama dinanti-nantikan oleh manusia. Tuhan Yang Mahakuasa memberi tahu kita: "Aku pernah dikenal sebagai Yahweh. Aku juga pernah dipanggil Mesias, dan orang-orang pernah memanggil-Ku Yesus sang Juruselamat karena mereka mengasihi dan menghormati-Ku. Namun saat ini, Aku bukan Yahweh ataupun Yesus yang dikenal orang di masa lampau itu—Aku adalah Tuhan yang datang kembali pada akhir zaman, Tuhan yang akan membawa zaman ini menuju akhir. Aku-lah Tuhan itu sendiri yang bangkit di ujung-ujung bumi, sarat dengan keseluruhan watak-Ku, dan penuh dengan otoritas, hormat, serta kemuliaan. Orang-orang tidak pernah menjalin hubungan dengan-Ku, tidak pernah mengenal-Ku, dan tidak tahu tentang watak-Ku. Sejak penciptaan dunia hingga saat ini, tidak seorang pun pernah melihat-Ku. Inilah Tuhan yang menampakkan diri kepada manusia pada akhir zaman, tetapi tersembunyi di antara manusia. Ia berdiam di antara manusia, benar dan nyata, seperti matahari yang menyala-nyala dan lidah api, penuh dengan kuasa dan sarat akan otoritas. Tidak ada satu orang atau perkara pun yang tidak akan dihakimi oleh firman-Ku, dan tidak satu orang atau perkara pun yang akan luput dari pemurnian melalui nyala api. Pada akhirnya, segala bangsa akan diberkati karena firman-Ku, dan juga dihancurkan berkeping-keping karena firman-Ku. Dengan demikian, semua orang pada akhir zaman melihat bahwa Akulah Juruselamat yang datang kembali, Akulah Tuhan Yang Mahakuasa yang menaklukkan semua umat manusia. Aku pernah menjadi korban penghapus dosa manusia, tapi di akhir zaman, Aku juga menjadi terik matahari yang membakar segala sesuatu, dan juga Matahari kebenaran yang menyingkapkan segala sesuatu. Demikianlah pekerjaan-Ku di akhir zaman. Aku memakai nama ini dan Aku penuh dengan watak demikian supaya semua orang dapat melihat bahwa Akulah Tuhan yang benar, dan matahari yang menyala-nyala, dan lidah api. Supaya semua dapat menyembah-Ku, satu-satunya Tuhan yang benar, dan supaya mereka dapat melihat rupa-Ku yang sejati: Aku bukan hanya Tuhan orang Israel, dan bukan hanya Sang Penebus—Aku adalah Tuhan atas segala ciptaan di seluruh langit dan di seluruh bumi dan di lautan" ("Juruselamat Telah Datang Kembali di Atas 'Awan Putih' dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia").

Catatan kaki:

a. Dalam teks asli tertulis "yang."

Sebelumnya:Kekeliruan: Seseorang berkata, "Alkitab diilhami oleh Tuhan. Alkitab sama sekali tidak dinodai oleh kehendak manusia dan sepenuhnya merupakan firman Tuhan. Semua kata dalam Alkitab memiliki banyak aspek dan memberi pertanda tentang masa depan, Alkitab secara mutlak berotoritas, tidak ada buku lain yang dapat dibandingkan dengannya, dan semua orang harus mengakui bahwa Alkitab itu tidak salah. Siapa pun yang mengatakan Alkitab dinodai oleh kehendak manusia atau mengandung kesalahan berarti menyerang dan menyangkal Alkitab, dan semua orang seperti itu akan dikutuk."